Tag Archives: festival

KELAS ILUSTRASI DIGITAL BERSAMA RICKY BILLY

SOBER (Sore Berkarya)⁣⁣⁣⁣⁠⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁠⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣Jangan lewatkan kesempatan untuk berkarya & belajar pada Kelas Ilustrasi Digital bersama Ricky Billy.⁠⁣⁣ Kali ini temanya tentang merayakan keberagaman (kasih sayang pada sesama tanpa pandang suku, agama, ras antar golongan; cinta pada Nusantara, bangsa Indonesia adalah bangsa yang bineka, dsb).
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁠⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣Illustrasi yang paling menarik dan dipilih oleh Ricky Billy berkesempatan untuk mengikuti pameran pada IT’S SHOWCASE di tanggal 18 Agustus 2019, dan ada pula hadiah seru lain dari Rumah Sanur⁣⁣!
⁣⁣⁣⁣
⁣⁣Para peserta juga akan memperoleh sertifikat resmi dari Ricky Billy & Rumah Sanur setelah selesai mengikuti lokakarya. ⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁠Acara ini terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya alias gratis! ⠀⁣⁣⁣⁣⁠⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⠀⁣⁣⁣⁣⁠⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣Sabtu, 27 Juli 2019⁣⁣⁣⁠⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣15.00-18.00 WITA⠀⁣⁣⁣⁣⁠⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣di Rumah Sanur Creative Hub⠀⁣⁣⁣⁣⁠⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁠⁣⁣
⁣⁣Daftar di sini:⁠⁣⁣
⁣⁣bit.ly/kelasilustrasidigital
⁣⁣⁠⁣⁣

The post KELAS ILUSTRASI DIGITAL BERSAMA RICKY BILLY appeared first on RUDOLF DETHU.

SOBER: KELAS MENULIS LIRIK BERSAMA POHON TUA

SOBER (Sore Berkarya)⁣⁣
⁣⁣⁣⁣
⁣⁣Jangan lewatkan kesempatan untuk berkarya & berkolaborasi bersama Pohon Tua pada lokakarya Menulis Lirik. Peserta lokakarya yang berhasil membuat syair bertemakan keberagaman paling cihuy (tentang kasih sayang pada sesama, cinta keindahan tanah air, harmonisnya warna-warni Nusantara, dsb) nantinya akan berkesempatan untuk berkolaborasi dengan sang Pohon Tua:⁣⁣
⁣⁣⁣
⁣• lirik tersebut akan dibuatkan lagu⁣⁣
⁣⁣• direkam di studio dan diurusi oleh Pohon Tua⁣⁣
⁣⁣• dinyanyikan saat konser oleh Pohon Tua pada ajang It’s Showcase di tanggal 18 Agustus 2019 di Rumah Sanur⁣⁣
⁣⁣• diedarkan secara digital agar bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas⁣⁣
⁣⁣
⁣Bagi peserta yang ciptaannya menarik dan disukai Pohon Tua—juara kedua, piala perunggu, pemenang favourit, honourable mention—karya-karya tersebut akan dipamerkan saat acara It’s Showcase.⁣
⁣⁣⁣⁣
⁣⁣Ada pula hadiah seru lain dari Rumah Sanur!⠀⁣⁣
⁣⁣⠀⁣⁣
⁣⁣Acara ini terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya alias gratis! ⠀⁣⁣
⁣⁣⠀⁣⁣
⁣⁣Sabtu, 20, Juli 2019⁣
⁣15.00-18.00 WITA⠀⁣⁣
⁣⁣di Rumah Sanur Creative Hub⠀⁣⁣
⁣⁣⠀⁣⁣
⁣⁣Daftarkan dirimu disini: ⠀⁣⁣
⁣⁣http://bit.ly/kelasnulislirik

Bawa alat-alat musikmu sendiri ya teman-teman!

⠀ ⁣
⁣⁣

The post SOBER: KELAS MENULIS LIRIK BERSAMA POHON TUA appeared first on RUDOLF DETHU.

Sparkling dan Momen Spiritual Hari Pertama

Diskusi Sekelebat Festival di Folk Music Festival 2018. Foto Andy Putera.

Festival dengan esensi yang tepat itu sangat sulit.

Alek Kowalski dengan santun dan rendah hati menyapa kami. Sapaan itu meneduhkan hati yang sempat cemas karena kelas literasi molor 30 menitan lebih dari jadwal. Doi mewakili Tim Folk Music Festival 2018 menjawab kesilapan teknis acara.

Panel pertama menghadirkan topik soal Sekelebat Festival menghadirkan Direktur Eksekutif Jogja NETPAC Asian Film Festival Ifa Isfansyah, Project Director Rock In Celebes Herdinansyah Putra Siji dan Kurator Makasar International Writers Festival Shinta Febriany.

Shinta datang terlambat lantaran jadwal pesawat yang tertunda. Mereka bertiga bicara soal cikal festival yang mereka bangun, jatuh bangun, soal-soal teknis mempertahankan dan mengembangkan festival itu, branding hingga relevansi dan nilai festival dengan sebuah kota tempat festival itu dihelat.

Di sesi diskusi, Alex Kowalski kemudian diundang Nuran Wibisono – penulis di Tirto.id untuk menjawab pertanyaan soal Folk Music Festival 2018 ini. FMF ini dimulai di tahun 2014 di satu mall besar di Surabaya di mana saat itu sedang berlangsung gelaran Piala Dunia. Lalu di tahun berikutnya diadakan di Lembah Dieng dan sejak tahun 2017 hingga di 2018 ini diadakan di Kusuma Agrowisata Batu Malang.

“Membuat festival dengan esensi yang tepat itu sulit,” katanya.

Dengan datang, bertemu banyak orang ketemu banyak hal esensinya bukan sekadar huru hara euforia, enggak kayak gitu. Seperti hal yang sparkling. Kita pulang diam dan memikirkan, bisa jadi sparkling itu adalah hal kecil semisal jadi puisi, jadi lagu bareng.

Itu yang kurang lebih saya sarikan dari penjelasan Alex.

Kusuma Agrowisata yang dinginnya 17 derajat di sore ini serasa hangat di dada. Hehe. Dan obrolan selanjutnya semakin hangat dengan kehadiran idola M Istiqomah alias Is (Pusakata) dan Fuad Abdulgani (Antropolog).

Doi berdua bicara macam dua orang pemain badminton yang enggak pernah missed satu bola pun – berkesinambungan, mengalir, ditunggu dan asyik banget! Doi berdua bicara soal Folk Indonesia Timur. Bincang topik itu terinspirasi dari tugas akhir Fuad, begitu sang moderator – Ivan Makshara penulis di pophariini, membawa nama Pulang Aleyo di awal obrolan.

Pulang Aleyo ini adalah sebuah judul lagu yang bercerita tentang seruan pulang ke Ambon. Lalu disambung soal ketertarikan Fuad mendengarkan lagu-lagu lawas bertema nostalgia, penyesalan dan aspirasi kampung halaman.

Doi dulu suka dengerin lagu-lagu Ambon yang dinyanyiin Yoppie Latul. Is lalu dapat kesempatan dan langsung nyeroscos soal akulturasi budaya mulai dari pendudukan kaum Mestizo – orang orang berdarah campuran salah satunya ia sebut di Maluku, jejak alat musik Mandolin dan khasanah musik folk.

Ketika Ivan bertanya soal tema kerinduan yang banyak ditulis Is dalam lirik-lirik lagunya, Is pun mengafirmasi. Is kemudian menjawab seperti yang kurang lebih saya simpulkan begini.

Yang membuat folk itu adalah lirik-liriknya yang mengandung nilai-nilai tradisional, yang bertemu kerinduan-kerinduan. Musik yang bercerita tentang hal-hal sekitar. Misalnya kita yang negara maritim ini, tentang ikannya yang kaya, tentang pengetahuan nelayannya.

“Nelayan itu tahu kapan angin timur bertiup, melihat pertanda dari langit. Memang sih ada teknologi, tapi romantisme kurang”, katanya.

Fuad lalu menambahkan, folk yang besar di kota pun mereka menyerap tema tema yang lebih global. Ivan kemudian mengambil contoh duo folk Silampukau yang lirik-lirik lagunya bercerita hal-hal sekitar.

Selain panel kedua di atas, favorit saya lainnya adalah panel ketiga. Managing Editor Vice Indonesia Ardyan M Erlangga, CEO Tirto.Id Sapto Anggoro dan admin BaleBengong Putu Hendra Brawijaya alias Saylow bicara soal Semesta Online Media. Malam boleh semakin dingin, tapi topik panas jadi makin panas karena dimoderasi penulis idaman Felix Dass.

Saya ingin sarikan topik ini dalam beberapa kalimat yang saya kutip dari narsum. Jurnalisme itu adalah disiplin verifikasi. Di tengah banjir informasi yang bikin media bukan lagi sebagai gatekeeper, Trust adalah sesuatu yang mahal di lanskap media. Pentingnya fact checking. Sesi yang berjalan hampir sejam ditutup Felix dengan: enggak ada media yang netral jaman sekarang.

Panel keempat menghadirkan Mafmud Ikhwan dan Aan Mansyur yang bicara tentang proses, kerja-kerja menulis mereka, dan lingkungan mereka. Obrolan yang menarik, tapi kami meninggalkan venue duluan karena gigil yang tak tertahankan.

Dalam perjalanan turun dari Batu menuju Malang, saya mengkhidmatkan bincang pertemuan tadi. Meminjam kata Is, momen tadi barangkali adalah momen spiritual saya. Saya yang penikmat ini duduk diam mendengarkan perihal-perihal yang bermutu. Lalu setelahnya sparkling-sparkling itu barangkali akan jadi ya semacam puisi pendek atau remah seperti catatan ini.

Pagi ini, di tempat tidur kami bercakap-cakap dan mendengarkan lagu-lagu dari line up yang akan main di hari pertama. Tigapagi, Aray Daulay, dll. Akan ada Secret Guest. “Mungkin itu Banda Naira,” kata seorang teman. Semoga ada sparkling lainnya di hari kedua, ya. :)) [b]

The post Sparkling dan Momen Spiritual Hari Pertama appeared first on BaleBengong.

Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional

Remaja berusia 13 sampai 16 tahun dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek ini.

Youth Jury Board Minikino Film Week 4

Minikino Film Week (MFW) di bawah naungan yayasan Kino Media tahun ini masuk usia keempat. Sejak awal festival film pendek internasional ini dirancang sebagai festival yang masuk dalam keseharian masyarakat, membuka kesempatan pada semua orang mengalami suasana menonton bersama dan sekaligus mengajak untuk bersikap lebih kritis terhadap apa yang ditonton.

Tahun ini Minikino mengawali rangkaian kegiatan pra-festival dengan mengadakan pelatihan selama tiga hari penuh di Omah Apik, Pejeng, Gianyar. Pelatihan bertajuk ‘MFW 4 Youth Jury Camp 2018’ telah dilangsungkan pada tanggal 6-8 Juli 2018. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi remaja berusia 13 sampai 16 tahun untuk dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek berskala internasional ini.

Jalur pendaftaran MFW4 Youth Jury Camp 2018 dibagi dua yaitu, jalur pendaftaran umum dan jalur beasiswa. Untuk jalur umum, pendaftaran dipromosikan di Indonesia dan Asia Tenggara melalui website dan media sosial, dengan persyaratan biaya pendaftaran. Sedangkan jalur beasiswa hanya dibatasi untuk 2 (dua) remaja yang memiliki Nomor Induk Siswa Nasional dari wilayah Bali. Penerima beasiswa mendapatkan fasilitas bebas biaya sepenuhnya, namun melalui proses wawancara dan proses seleksi yang ketat.

“Ini merupakan kesempatan yang istimewa dan bergengsi untuk para remaja. Mereka mendapat pelatihan khusus dan diberikan peran yang penting secara aktif menilai film-film pendek kategori anak, remaja dan keluarga. Film-film pendek yang dinilai oleh para juri remaja adalah yang sudah lolos resmi dari tim seleksi Minikino. Di dalam pelatihan ini mereka menentukan 5 nominasi internasional untuk Youth Jury Award 2018,” kata direktur festival Minikino Film Week 4, Edo Wulia.

Sebanyak 6 (enam) remaja dari Bali, Jakarta, dan Tangerang berhasil menyelesaikan rangkaian pelatihan intensif tersebut dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari festival sebagai MFW 4 Youth Jury Board. Mereka adalah Sophie Louisa (15) dan Keane Levia Koenathallah (16) dari Tangerang Selatan, Natasya Arya Pusparani (15) dari Jakarta Selatan, Seika Cintanya Sanger (15) dari Tabanan, serta Ni Ketut Manis (15) dan I Putu Purnama Putra (15) dari Karangasem.

Di hari pertama MFW4 Youth Jury Camp 2018, peserta dibekali dengan sejumlah materi tentang sejarah film dunia termasuk pengaruhnya di Indonesia, tata-cara mendengarkan dan mengemukakan pendapat, mengenal elemen gambar dan suara dalam film, serta kreatifitas tutur visual. Pelatihan ini langsung disampaikan oleh dewan komite Minikino Film Week 2018, yaitu Direktur Festival Edo Wulia, Direktur Program Fransiska Prihadi, Direktur Eksekutif I Made Suarbawa, serta fotografer resmi untuk festival, Syafiudin Vifick ‘Bolang’ yang secara profesional telah dikenal luas di Indonesia.

Modul-modul yang disiapkan dan diberikan para pengajar dalam pelatihan ini memiliki peran besar. Membantu para juri remaja menyaring puluhan film pendek internasional yang ditonton dan dibahas secara mendalam menjadi 5 (lima) nominasi 2018 Youth Jury Award. Keputusan ini dihasilkan melalui metode diskusi yang serius, proses mempertanggungjawabkan pendapat dan berujung pada mufakat.

Proses ini menciptakan tidak hanya sebuah proses penjurian yang kritis, namun juga generasi muda yang memiliki kualitas kepemimpinan yang sekaligus memiliki kepekaan untuk melihat, mendengarkan, mengemukakan pendapat, dan kemampuan mencari titik temu untuk kepentingan bersama.

I Putu Purnama Putra, salah satu peserta dari Karangasem yang mengikuti MFW4 Youth Jury Camp lewat jalur beasiswa berkata bahwa ia digembleng banyak hal selama 3 hari tersebut. “Awalnya saya kaget, ternyata lolos seleksi beasiswa. Saya agak jarang nonton film, dan kalau pun menonton hanya menikmati saja. Tapi sekarang saya juga ikut menilai apakah tontonan itu bagus atau tidak.”

Natasya Arya Pusparani yang berasal dari Jakarta Selatan juga menyatakan bahwa MFW4 Youth Jury Camp ini merupakan sebuah pengalaman baru baginya. “Sebenarnya saya tipe orang yang lebih suka mendengarkan (pendapat orang lain). Tapi di MFW4 Youth Jury Camp ini saya dibimbing para mentor untuk berani mengemukakan pendapat. Pengalaman yang sangat bagus buat saya. Suasananya juga sangat bersahabat.” Ungkapnya.

Proses penjurian dalam Youth Jury Camp 2018 berlangsung lancar dan mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Namun semuanya masih akan berlanjut. Pada saat festival MFW 4 di Bali, tanggal 6 sampai 13 Oktober 2018 mendatang, para juri remaja tingkat internasional ini akan melanjutkan kembali diskusi mereka untuk menentukan 1(satu) peraih penghargaan prestisius 2018 MFW Youth Jury Award. Bahkan seluruh komite festival ikut penasaran menunggu keputusan mereka. Untuk info lebih lanjut bisa diikuti di tautan link minikino.org/filmweek

Levia (16) dalam sesi review MFW4 Youth Jury Camp 2018
Levia (16) mengemukakan pendapatnya tentang film yang baru saja ditonton.(foto: Vifick Bolang)
Hari kedua MFW4 Youth Jury Camp 2018
Para peserta menonton film pendek calon nominasi Youth Jury Award Minikino Film Week 4. (foto: Vifick Bolang)
Edo Wulia (Direktur Festival Minikino Film Week) menjelaskan materi sejarah film dunia. (foto: Vifick Bolang)
Diskusi bersama, saling mendengarkan dan berpendapat untuk mencapai mufakat.(foto: minikino)

The post Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional appeared first on BaleBengong.

Indonesia Raja Memanggil Para Filmmaker Indonesia

Catat tenggat pengiriman karyanya: 21 April 2018.

Indonesia Raja, kolaborasi antar-wilayah di Indonesia dalam bentuk pertukaran program film pendek yang diinisiasi Minikino, siap digelar kembali menyongsong tahun 2018 ini.

Setelah melalui proses seleksi programmer sejak 4 Maret 2018 lalu, akhirnya telah dilantik 9 programmer mewakili 9 daerah di Indonesia. Saat ini para programmer telah mulai bertugas untuk mengumpulkan dan nantinya akan melakukan kurasi atas film-film pendek dari daerahnya masing-masing. Hasilnya akan disusun menjadi sebuah program film pendek utuh, lengkap dengan tema dan tulisan pengantar.

Mereka yang terpilih, antara lain: Rickdy Vanduwin S untuk wilayah Bali, Aldino Kamaruddin Santoso (Balikpapan), Gerry Fairus Irsan (Bandung), Arlinka Larissa (Jabodetabek), Kemala Astika (Jawa Barat), Canggih Setyawan (Jawa Tengah), Nofita Sari (Jember), Mohammad Ifdhal (Palu), dan Nur Ulfati (Surabaya).

Selanjutnya, para filmmaker Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam Indonesia Raja 2018 sudah bisa menyerahkan karyanya ke para programmer sesuai daerah masing-masing. Penyerahan karya film pendek dibuka sejak 1 April hingga 21 April 2018. Proses kurasi dan programming film pendek di masing-masing wilayah akan dimulai 22 April 2018.

Untuk itu, diimbau agar para filmmaker Indonesia tidak melewatkan tanggal submisi film pendek untuk Indonesia Raja 2018.

Proses mengundang dan memilih programmer di tahun ke-4 ini Minikino berusaha semakin selektif. Pengalaman dalam mengatasi berbagai kendala di tahun-tahun sebelumnya membuahkan berbagai catatan penting untuk diuji kembali tahun ini.

Selain menegaskan kesamaan visi, Minikino juga berusaha mencari calon programmer yang memiliki wawasan serta pemahaman teknis, serta mampu berkomunikasi dengan baik. Yang juga berbeda pada edisi kali ini adalah persyaratan rentang usia produksi cukup panjang, yaitu semua film pendek yang diproduksi sejak 2010 bisa diikutsertakan.

Sembilan programmer mewakili 9 daerah di Indonesia yang akan mengkurasi karya-karya dalam Indonesia Raja 2018. Foto Minikino.

Sekadar informasi, proses programming film pendek diperlukan untuk menyusun suatu tema yang dapat menghubungkan film-film pendek itu agar lebih nyaman ditonton. Selanjutnya diharapkan dapat merangsang diskusi produktif di antara penonton. Untuk tujuan ini, programmer juga perlu memikirkan urutan filmnya, mana yang lebih tepat sebagai pembuka, dan mana yang lebih tepat untuk mengakhiri.

Demikianlah tugas kesembilan programmer Indonesia Raja 2018 yang terpilih.

Para programmer dapat dihubungi langsung melalui informasi resmi Minikino untuk Indonesia Raja, juga berbagai persyaratan untuk mendaftarkan film pendeknya.

Pengumuman final untuk program Indonesia Raja 2018 akan diumumkan secara terbuka kepada masyarakat pada 3 Juni 2018 mendatang melalui berbagai kanal pemberitaan. Setelah itu, program-program tersebut siap untuk disebar pada acara-acara screening di seluruh wilayah di Indonesia. [b]

The post Indonesia Raja Memanggil Para Filmmaker Indonesia appeared first on BaleBengong.