Tag Archives: festival

Sparkling dan Momen Spiritual Hari Pertama

Diskusi Sekelebat Festival di Folk Music Festival 2018. Foto Andy Putera.

Festival dengan esensi yang tepat itu sangat sulit.

Alek Kowalski dengan santun dan rendah hati menyapa kami. Sapaan itu meneduhkan hati yang sempat cemas karena kelas literasi molor 30 menitan lebih dari jadwal. Doi mewakili Tim Folk Music Festival 2018 menjawab kesilapan teknis acara.

Panel pertama menghadirkan topik soal Sekelebat Festival menghadirkan Direktur Eksekutif Jogja NETPAC Asian Film Festival Ifa Isfansyah, Project Director Rock In Celebes Herdinansyah Putra Siji dan Kurator Makasar International Writers Festival Shinta Febriany.

Shinta datang terlambat lantaran jadwal pesawat yang tertunda. Mereka bertiga bicara soal cikal festival yang mereka bangun, jatuh bangun, soal-soal teknis mempertahankan dan mengembangkan festival itu, branding hingga relevansi dan nilai festival dengan sebuah kota tempat festival itu dihelat.

Di sesi diskusi, Alex Kowalski kemudian diundang Nuran Wibisono – penulis di Tirto.id untuk menjawab pertanyaan soal Folk Music Festival 2018 ini. FMF ini dimulai di tahun 2014 di satu mall besar di Surabaya di mana saat itu sedang berlangsung gelaran Piala Dunia. Lalu di tahun berikutnya diadakan di Lembah Dieng dan sejak tahun 2017 hingga di 2018 ini diadakan di Kusuma Agrowisata Batu Malang.

“Membuat festival dengan esensi yang tepat itu sulit,” katanya.

Dengan datang, bertemu banyak orang ketemu banyak hal esensinya bukan sekadar huru hara euforia, enggak kayak gitu. Seperti hal yang sparkling. Kita pulang diam dan memikirkan, bisa jadi sparkling itu adalah hal kecil semisal jadi puisi, jadi lagu bareng.

Itu yang kurang lebih saya sarikan dari penjelasan Alex.

Kusuma Agrowisata yang dinginnya 17 derajat di sore ini serasa hangat di dada. Hehe. Dan obrolan selanjutnya semakin hangat dengan kehadiran idola M Istiqomah alias Is (Pusakata) dan Fuad Abdulgani (Antropolog).

Doi berdua bicara macam dua orang pemain badminton yang enggak pernah missed satu bola pun – berkesinambungan, mengalir, ditunggu dan asyik banget! Doi berdua bicara soal Folk Indonesia Timur. Bincang topik itu terinspirasi dari tugas akhir Fuad, begitu sang moderator – Ivan Makshara penulis di pophariini, membawa nama Pulang Aleyo di awal obrolan.

Pulang Aleyo ini adalah sebuah judul lagu yang bercerita tentang seruan pulang ke Ambon. Lalu disambung soal ketertarikan Fuad mendengarkan lagu-lagu lawas bertema nostalgia, penyesalan dan aspirasi kampung halaman.

Doi dulu suka dengerin lagu-lagu Ambon yang dinyanyiin Yoppie Latul. Is lalu dapat kesempatan dan langsung nyeroscos soal akulturasi budaya mulai dari pendudukan kaum Mestizo – orang orang berdarah campuran salah satunya ia sebut di Maluku, jejak alat musik Mandolin dan khasanah musik folk.

Ketika Ivan bertanya soal tema kerinduan yang banyak ditulis Is dalam lirik-lirik lagunya, Is pun mengafirmasi. Is kemudian menjawab seperti yang kurang lebih saya simpulkan begini.

Yang membuat folk itu adalah lirik-liriknya yang mengandung nilai-nilai tradisional, yang bertemu kerinduan-kerinduan. Musik yang bercerita tentang hal-hal sekitar. Misalnya kita yang negara maritim ini, tentang ikannya yang kaya, tentang pengetahuan nelayannya.

“Nelayan itu tahu kapan angin timur bertiup, melihat pertanda dari langit. Memang sih ada teknologi, tapi romantisme kurang”, katanya.

Fuad lalu menambahkan, folk yang besar di kota pun mereka menyerap tema tema yang lebih global. Ivan kemudian mengambil contoh duo folk Silampukau yang lirik-lirik lagunya bercerita hal-hal sekitar.

Selain panel kedua di atas, favorit saya lainnya adalah panel ketiga. Managing Editor Vice Indonesia Ardyan M Erlangga, CEO Tirto.Id Sapto Anggoro dan admin BaleBengong Putu Hendra Brawijaya alias Saylow bicara soal Semesta Online Media. Malam boleh semakin dingin, tapi topik panas jadi makin panas karena dimoderasi penulis idaman Felix Dass.

Saya ingin sarikan topik ini dalam beberapa kalimat yang saya kutip dari narsum. Jurnalisme itu adalah disiplin verifikasi. Di tengah banjir informasi yang bikin media bukan lagi sebagai gatekeeper, Trust adalah sesuatu yang mahal di lanskap media. Pentingnya fact checking. Sesi yang berjalan hampir sejam ditutup Felix dengan: enggak ada media yang netral jaman sekarang.

Panel keempat menghadirkan Mafmud Ikhwan dan Aan Mansyur yang bicara tentang proses, kerja-kerja menulis mereka, dan lingkungan mereka. Obrolan yang menarik, tapi kami meninggalkan venue duluan karena gigil yang tak tertahankan.

Dalam perjalanan turun dari Batu menuju Malang, saya mengkhidmatkan bincang pertemuan tadi. Meminjam kata Is, momen tadi barangkali adalah momen spiritual saya. Saya yang penikmat ini duduk diam mendengarkan perihal-perihal yang bermutu. Lalu setelahnya sparkling-sparkling itu barangkali akan jadi ya semacam puisi pendek atau remah seperti catatan ini.

Pagi ini, di tempat tidur kami bercakap-cakap dan mendengarkan lagu-lagu dari line up yang akan main di hari pertama. Tigapagi, Aray Daulay, dll. Akan ada Secret Guest. “Mungkin itu Banda Naira,” kata seorang teman. Semoga ada sparkling lainnya di hari kedua, ya. :)) [b]

The post Sparkling dan Momen Spiritual Hari Pertama appeared first on BaleBengong.

Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional

Remaja berusia 13 sampai 16 tahun dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek ini.

Youth Jury Board Minikino Film Week 4

Minikino Film Week (MFW) di bawah naungan yayasan Kino Media tahun ini masuk usia keempat. Sejak awal festival film pendek internasional ini dirancang sebagai festival yang masuk dalam keseharian masyarakat, membuka kesempatan pada semua orang mengalami suasana menonton bersama dan sekaligus mengajak untuk bersikap lebih kritis terhadap apa yang ditonton.

Tahun ini Minikino mengawali rangkaian kegiatan pra-festival dengan mengadakan pelatihan selama tiga hari penuh di Omah Apik, Pejeng, Gianyar. Pelatihan bertajuk ‘MFW 4 Youth Jury Camp 2018’ telah dilangsungkan pada tanggal 6-8 Juli 2018. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi remaja berusia 13 sampai 16 tahun untuk dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek berskala internasional ini.

Jalur pendaftaran MFW4 Youth Jury Camp 2018 dibagi dua yaitu, jalur pendaftaran umum dan jalur beasiswa. Untuk jalur umum, pendaftaran dipromosikan di Indonesia dan Asia Tenggara melalui website dan media sosial, dengan persyaratan biaya pendaftaran. Sedangkan jalur beasiswa hanya dibatasi untuk 2 (dua) remaja yang memiliki Nomor Induk Siswa Nasional dari wilayah Bali. Penerima beasiswa mendapatkan fasilitas bebas biaya sepenuhnya, namun melalui proses wawancara dan proses seleksi yang ketat.

“Ini merupakan kesempatan yang istimewa dan bergengsi untuk para remaja. Mereka mendapat pelatihan khusus dan diberikan peran yang penting secara aktif menilai film-film pendek kategori anak, remaja dan keluarga. Film-film pendek yang dinilai oleh para juri remaja adalah yang sudah lolos resmi dari tim seleksi Minikino. Di dalam pelatihan ini mereka menentukan 5 nominasi internasional untuk Youth Jury Award 2018,” kata direktur festival Minikino Film Week 4, Edo Wulia.

Sebanyak 6 (enam) remaja dari Bali, Jakarta, dan Tangerang berhasil menyelesaikan rangkaian pelatihan intensif tersebut dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari festival sebagai MFW 4 Youth Jury Board. Mereka adalah Sophie Louisa (15) dan Keane Levia Koenathallah (16) dari Tangerang Selatan, Natasya Arya Pusparani (15) dari Jakarta Selatan, Seika Cintanya Sanger (15) dari Tabanan, serta Ni Ketut Manis (15) dan I Putu Purnama Putra (15) dari Karangasem.

Di hari pertama MFW4 Youth Jury Camp 2018, peserta dibekali dengan sejumlah materi tentang sejarah film dunia termasuk pengaruhnya di Indonesia, tata-cara mendengarkan dan mengemukakan pendapat, mengenal elemen gambar dan suara dalam film, serta kreatifitas tutur visual. Pelatihan ini langsung disampaikan oleh dewan komite Minikino Film Week 2018, yaitu Direktur Festival Edo Wulia, Direktur Program Fransiska Prihadi, Direktur Eksekutif I Made Suarbawa, serta fotografer resmi untuk festival, Syafiudin Vifick ‘Bolang’ yang secara profesional telah dikenal luas di Indonesia.

Modul-modul yang disiapkan dan diberikan para pengajar dalam pelatihan ini memiliki peran besar. Membantu para juri remaja menyaring puluhan film pendek internasional yang ditonton dan dibahas secara mendalam menjadi 5 (lima) nominasi 2018 Youth Jury Award. Keputusan ini dihasilkan melalui metode diskusi yang serius, proses mempertanggungjawabkan pendapat dan berujung pada mufakat.

Proses ini menciptakan tidak hanya sebuah proses penjurian yang kritis, namun juga generasi muda yang memiliki kualitas kepemimpinan yang sekaligus memiliki kepekaan untuk melihat, mendengarkan, mengemukakan pendapat, dan kemampuan mencari titik temu untuk kepentingan bersama.

I Putu Purnama Putra, salah satu peserta dari Karangasem yang mengikuti MFW4 Youth Jury Camp lewat jalur beasiswa berkata bahwa ia digembleng banyak hal selama 3 hari tersebut. “Awalnya saya kaget, ternyata lolos seleksi beasiswa. Saya agak jarang nonton film, dan kalau pun menonton hanya menikmati saja. Tapi sekarang saya juga ikut menilai apakah tontonan itu bagus atau tidak.”

Natasya Arya Pusparani yang berasal dari Jakarta Selatan juga menyatakan bahwa MFW4 Youth Jury Camp ini merupakan sebuah pengalaman baru baginya. “Sebenarnya saya tipe orang yang lebih suka mendengarkan (pendapat orang lain). Tapi di MFW4 Youth Jury Camp ini saya dibimbing para mentor untuk berani mengemukakan pendapat. Pengalaman yang sangat bagus buat saya. Suasananya juga sangat bersahabat.” Ungkapnya.

Proses penjurian dalam Youth Jury Camp 2018 berlangsung lancar dan mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Namun semuanya masih akan berlanjut. Pada saat festival MFW 4 di Bali, tanggal 6 sampai 13 Oktober 2018 mendatang, para juri remaja tingkat internasional ini akan melanjutkan kembali diskusi mereka untuk menentukan 1(satu) peraih penghargaan prestisius 2018 MFW Youth Jury Award. Bahkan seluruh komite festival ikut penasaran menunggu keputusan mereka. Untuk info lebih lanjut bisa diikuti di tautan link minikino.org/filmweek

Levia (16) dalam sesi review MFW4 Youth Jury Camp 2018
Levia (16) mengemukakan pendapatnya tentang film yang baru saja ditonton.(foto: Vifick Bolang)
Hari kedua MFW4 Youth Jury Camp 2018
Para peserta menonton film pendek calon nominasi Youth Jury Award Minikino Film Week 4. (foto: Vifick Bolang)
Edo Wulia (Direktur Festival Minikino Film Week) menjelaskan materi sejarah film dunia. (foto: Vifick Bolang)
Diskusi bersama, saling mendengarkan dan berpendapat untuk mencapai mufakat.(foto: minikino)

The post Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional appeared first on BaleBengong.

Indonesia Raja Memanggil Para Filmmaker Indonesia

Catat tenggat pengiriman karyanya: 21 April 2018.

Indonesia Raja, kolaborasi antar-wilayah di Indonesia dalam bentuk pertukaran program film pendek yang diinisiasi Minikino, siap digelar kembali menyongsong tahun 2018 ini.

Setelah melalui proses seleksi programmer sejak 4 Maret 2018 lalu, akhirnya telah dilantik 9 programmer mewakili 9 daerah di Indonesia. Saat ini para programmer telah mulai bertugas untuk mengumpulkan dan nantinya akan melakukan kurasi atas film-film pendek dari daerahnya masing-masing. Hasilnya akan disusun menjadi sebuah program film pendek utuh, lengkap dengan tema dan tulisan pengantar.

Mereka yang terpilih, antara lain: Rickdy Vanduwin S untuk wilayah Bali, Aldino Kamaruddin Santoso (Balikpapan), Gerry Fairus Irsan (Bandung), Arlinka Larissa (Jabodetabek), Kemala Astika (Jawa Barat), Canggih Setyawan (Jawa Tengah), Nofita Sari (Jember), Mohammad Ifdhal (Palu), dan Nur Ulfati (Surabaya).

Selanjutnya, para filmmaker Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam Indonesia Raja 2018 sudah bisa menyerahkan karyanya ke para programmer sesuai daerah masing-masing. Penyerahan karya film pendek dibuka sejak 1 April hingga 21 April 2018. Proses kurasi dan programming film pendek di masing-masing wilayah akan dimulai 22 April 2018.

Untuk itu, diimbau agar para filmmaker Indonesia tidak melewatkan tanggal submisi film pendek untuk Indonesia Raja 2018.

Proses mengundang dan memilih programmer di tahun ke-4 ini Minikino berusaha semakin selektif. Pengalaman dalam mengatasi berbagai kendala di tahun-tahun sebelumnya membuahkan berbagai catatan penting untuk diuji kembali tahun ini.

Selain menegaskan kesamaan visi, Minikino juga berusaha mencari calon programmer yang memiliki wawasan serta pemahaman teknis, serta mampu berkomunikasi dengan baik. Yang juga berbeda pada edisi kali ini adalah persyaratan rentang usia produksi cukup panjang, yaitu semua film pendek yang diproduksi sejak 2010 bisa diikutsertakan.

Sembilan programmer mewakili 9 daerah di Indonesia yang akan mengkurasi karya-karya dalam Indonesia Raja 2018. Foto Minikino.

Sekadar informasi, proses programming film pendek diperlukan untuk menyusun suatu tema yang dapat menghubungkan film-film pendek itu agar lebih nyaman ditonton. Selanjutnya diharapkan dapat merangsang diskusi produktif di antara penonton. Untuk tujuan ini, programmer juga perlu memikirkan urutan filmnya, mana yang lebih tepat sebagai pembuka, dan mana yang lebih tepat untuk mengakhiri.

Demikianlah tugas kesembilan programmer Indonesia Raja 2018 yang terpilih.

Para programmer dapat dihubungi langsung melalui informasi resmi Minikino untuk Indonesia Raja, juga berbagai persyaratan untuk mendaftarkan film pendeknya.

Pengumuman final untuk program Indonesia Raja 2018 akan diumumkan secara terbuka kepada masyarakat pada 3 Juni 2018 mendatang melalui berbagai kanal pemberitaan. Setelah itu, program-program tersebut siap untuk disebar pada acara-acara screening di seluruh wilayah di Indonesia. [b]

The post Indonesia Raja Memanggil Para Filmmaker Indonesia appeared first on BaleBengong.

Soundrenaline 2017, Pesta Musik dan Wisata Baru

Soundrenaline 2017 awalnya hanya sebatas kemungkinan.

Keputusan untuk akhirnya mendatangi even yang digadang-gadang sebagai festival musik terbesar dalam tingkat nasional Indonesia ini pun baru tercetus di H-1. Kali ini yang menguatkan keinginan saya adalah menonton Float dan Homogenic.

Float tampil untuk pertama kali di Bali sekaligus membuka Soundrenaline hari pertama. Homogenic di hari kedua. Sesungguhnya menonton Float secara langsung bukan sesuatu yang baru bagi saya. Tidak bisa dikatakan sering juga, mungkin ini kali kelima saya menonton mereka secara langsung.

Menonton Float dengan masa teramai pun ternyata saya alami tahun lalu di Folk Music Festival (FMF) Malang. Lalu bagaimana di Soundrenaline?

Suasana area amphiteater atau yang dinamai Refine Slim Stage selama dua hari perhelatan Soundrenaline 2017 cukup ramai dan terus bertambah hingga pengujung penampilan mereka. Namun, tidak penuh sesak seperti saat saya menonton mereka di Malang.

Bisa jadi karena Float hadir di jam awal, 16.00 Wita, bersamaan dengan Efek Rumah Kaca yang tampil di Burst Stage. Tampil di panggung amphiteater dengan, dua gitar, bass dan drum menjadi set sederhana band yang digadang-gadang sebagai raksasa folknya Indonesia.

Total 10 lagu yang mereka bawakan. Lagu-lagu dari soundtrack film 3 Hari Untuk Selamanya, album “10”, hingga single paling baru mereka Keruh (2016) Indah Hari Ini (I.H.I) menjadi penutup band yang sudah 13 tahun malang melintang di industri musik indie tanah air pun berhasil mengobati rindu. Saya dan seisi amphiteater semakin kompak bernyanyi bersama Meng pada lagu Pulang.

Namun, perlu diakui bahwa repertoar dari band yang kini hadir dengan formasi baru, setelah Bontel hengkang yang kemudian disusul oleh Raymond, Float Reborn, begitu mereka menyebutnya pun masih menampilkan lagu-lagu lama. Memang kerap menjadi pertanyaan apa yang menjadi materi band yang kini diperkuat Timur Segara, Binsar H. Tobing dan David Lintang, menemani vokal dan gitar Meng. Apalagi tahun ini sudah menjadi tahun ke-13 bagi Float.

Hingga ada celetukan, “Benar-benar lewat sudah nih 3 Hari untuk Selamanya…”

Is “Payung Teduh” sempat berseloroh bahwa musisi dan karyanya adalah sebuah KTP yang memiliki batas waktu berlaku. Karena itu, saat lewat masa berlaku dan tidak diperpanjang, maka bukan tidak mungkin kena razia. Semacam simbol eksistensi. Jika lewat dari batas tersebut maka tidak diakui, yang kemudian mau tak mau mendorong mereka kembali mengumbar janji akan kelahiran album anyar mereka di November mendatang.

Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, langsung pada Float juga. Tadinya.

Hingga kemudian, jadwal jumpa pers band ini batal. Dan pertanyaan tersebut kembali mengapung atau mungkin Float memilih menggunakan KTP seumur hidup.

Kolaborasi Stars and Rabbit dan Bottle Smoker (SRXBS) di Soundrenaline 2017.

Dimensi Lain

Namun, patah hati sedikit terobati dengan penampilan kolaborasi Stars and Rabbit dengan Bottle Smoker. Kolaborasi yang mereka namai dengan SRXBS ini menurut saya adalah yang paling berhasil di antara total 9 kolaborasi yang dihadirkan di Soundrenaline 2017.

Menyaksikan Stars and Rabbit sendiri saja sudah mampu menghipnotis para audiensnya. Setidaknya itu yang tampak pada Soundrenaline 2016 yang lalu di tempat yang sama yang disesaki penonton. Itu yang kembali terjadi tahun ini.

Bukan lagi suasana magis yang kerap saya rasakan saat menonton perform Elda dan Adi, sebagai Stars and Rabbit. Kali ini lewat kolaborasi SRXBS, saya seperti dibawa ke dimensi lain.

Lagu-lagu milik Stars and Rabbit hadir berbeda. Begitu juga Bottle Smoker, dengan karya-karya nir lirik, yang kemudian diisi vokal dan lirik oleh Elda, pada lagu Frozen Scratch Cerulean. Tak hanya itu, sebagai bentuk kolaborasi seutuhnya, mereka pun menelurkan dua lagu baru dalam penampilannya tersebut.

Kali ini dua lagu milik proyek SRxBS, yang sesungguhnya sudah digagas bahkan sejak 2013 yang lalu, bukan lagi secara pribadi Stars and Rabbit ataupun Bottle Smoker.

Di sini, baik Stars and Rabbit dan Bottle Smoker melepaskan atribut mereka masing-masing dan mencoba melebur bersama. Tidak hanya di antara keduanya. Bahkan dalam penampilannya malam itu, seluruh penonton bangkit dari tempat duduknya menyanyi bersama menutup penampilan mereka lewat lagu Man Upon The Hill.

Kematangan ini mungkin lahir dari kebersamaan SRxBS yang akhirnya sudah dimulai sejak akhir tahun 2016 yang lalu. Panggung Soundrenaline 2017 ini pun sesungguhnya menjadi yang kesekian, namun untuk kedua lagu barunya, penonton di Bali mendapatkan kesempatan pertama mendengarkannya secara langsung.

“Di sini kami berusaha melepaskan atribut kami masing-masing. And its quite refreshing, di saat saya tengah jenuh mengerjakan album kedua Stars and Rabbit, di sini saya justru seperti menemukan jalan,” kata Elda di kesempatan berbeda.

Sayangnya, hal tersebut tak saya rasakan ketika menyaksikan Homogenic X Neonomora pada hari kedua. Di tempat yang sama, amphitheater, seluruh seat memang terisi penuh. Set panggung sendiri bahkan menghadirkan 3 synthesizer untuk mengiringi kolaborasi.

Saya sendiri awalnya sangat penasaran, segawat apa kolaborasi mereka. Pertunjukkan ini dibuka oleh HMGNC, trio elektronik ini hadir dengan lagu-lagu baru mereka. Secara bergiliran dengan Neonomora. Setelah itu barulah keduanya tampil bersama.

Neonomora identik dengan karakter vokal kuatnya, mengingatkan saya pada Adele. Dan yang saya rasakan dalam kolaborasi ini justru Amandia Syachridar ikut tertarik ke sana. Secara pribadi, saya tidak mendapatkan “blend” keduanya.

Namun kembali, musik adalah masalah selera. Walaupun saya kurang menikmatinya, bukan berarti itu jelek. Nyatanya penonton tetap bertahan hingga akhir dan memberikan applause untuk kolaborasi kental elektronik ini.

Lebih Rapi

Secara keseluruhan Soundrenaline tahun ini tampak dan terasa lebih rapi dibandingkan sebelumnya. Walau permasalahan teknis tetap terjadi namun dengan tanggap segera diatasi. Antrean berdesak-desakan yang terjadi di tahun lalu, tidak terjadi lagi sekarang.

Relaxing area atau tempat bersantai pun tampak lebih banyak di tahun ini. Sehingga penonton bisa melipir sejenak, untuk sekadar rehat atau melakukan fun activity yang disediakan pihak penyelenggara.

Untuk konten pengisi acara, kembali lagi pada selera. Pandangan akan band-band jalur mainstream yang absen tahun ini menjadi sorotan. Walau sebenarnya nama-nama seperti Sheila on 7, NAIF, /RIF, Andra and The Backbone masih bertahan. Namun bagi penikmat band indie, nama besar seperti ERK, Float, Payung Teduh, Stars and Rabbit hingga pendatang baru, Barasuara yang memiliki massa tersendiri, tentu menjadi magnet.

HMGNCXNEONOMORA

Dan untuk musisi internasional, kali ini Soundrenaline menggaet 4 musisi, JET, MEW, Cults, Dashboard Confessional.

Kimokal

Yang cukup menarik, musisi dengan balutan elektronik cukup meramaikan line up Soundrenaline 2017. Sebut saja Bottle Smoker, Goodnight Electric, Diskopantera, HMGNC, Kimokal hingga Dipha Barus yang kerap hadir di berbagai panggung electronic dance musik (EDM) Indonesia.

Namun pihak Soundrenaline sendiri membantah bahwa mereka mengikuti pasar EDM yang memang tengah naik daun. Mengembalikan pada tema United We Loud yang diusung untuk Soundrenaline 2017, di mana event ini sebagai bentuk perayaan keberagaman musik di Indonesia.

“Kalau melihat pasar EDM, tidak ada arah ke sana. Jadi seperti tema, Soundrenaline ini benar-benar sebagai showcase musik Indonesia dengan beragam genre di dalamnya,” kata Novrial Rustam, Managing Director KILAU Indonesia.

Sesungguhnya, perubahan konsep secara signifikan sendiri sudah terasa sejak tahun 2015 yang lalu. Dengan tema “Change The Ordinary”, Soundrenaline hadir dengan suguhan musik multi-genre termasuk musisi internasional sebagai headliner, selama dua hari di GWK. Jika di tahun-tahun sebelumnya Soundrenaline digelar di beberapa kota, sejak tahun 2015 lalu secara tetap, puncak acara dihelat di Bali.

Adapun Road to Soundrenaline, pra-event yang menjadi rangkaiannya yang digelar sebelumnya di beberapa kota. Road to Soundrenaline 2017 sendiri hadir di 50 titik di berbagai kota di Indonesia.

“Di tahun 2017 ini musisi multi genre semakin bermunculan. Ini sebagai pesan untuk menyuarakan keberagaman lewat musik dan ruang kreatif,” ujar Rustam.

Gaet Pariwisata

Festival musik sesungguhnya menjadi bagian tersendiri dalam perkembangan skena musik di satu daerah dan seiring perkembangannya menjadi gaya hidup bagi masyarakat urban.

Di Bali setiap tahunnya, festival musik seolah menjadi satu kalender event yang tak hanya ditargetkan untuk memberikan wadah bagi musisi, seniman dan penikmatnya dalam hal ini audiens, namun juga menjadi gaya hidup hingga gaet pariwisata yang memang diamini oleh beberapa penggagasnya.

Untuk tahun 2017 ini, berdasarkan data yang diberikan panitia Soundrenaline 2017, ada sekitar 83.151 penikmat musik yang hadir di Soundrenaline 2017. Tidak hanya dari lokal Bali, namun penonton yang hadir dalam dua hari perhelatannya tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga para turis dari luar negeri yang ingin menikmati sajian musik di tanah eksotis dengan branding pariwisatanya ini.

Soundrenaline pun hanya satu di antaranya. Masih banyak deretan festival yang hadir dari awal hingga penghujung tahun. Tidak hanya yang digelar oleh lokal Bali sendiri, festival musik bertaraf nasional hingga internasional hadir. Sebut saja Jazz Market By The Sea, Bali Blues Festival, Sanur Mostly Jazz, Pacha Festival, Ubud Village Jazz Festival, Ultra Beach Bali, Bestival, Bali Reggae Festival dan pelbagai festival lainnya, belum termasuk yang digelar oleh kalangan pelajar maupun mahasiswa. [b]

The post Soundrenaline 2017, Pesta Musik dan Wisata Baru appeared first on BaleBengong.