Tag Archives: External Article

PANGKUPARA TERANYAR SENI DAN SOSIAL SANG FLAMBOYAN PULAU SERIBU PURA, RUDOLF DETHU

Rudolf Dethu bak Sasangkala dari pulau Dewata, yang secara berkala menyerukan ide-ide kreatif maupun positif, agar yang terjadi di sekitarnya selalu berjalan seimbang. Beberapa tahun lalu dia berteriak keras, sekaligus berdiri paling depan, untuk menentang reklamasi Teluk Benoa Bali melalui jurnal-jurnal ofensifnya. Mundur lagi ke belakang, pria ini sempat menyibak waktu demi berterimanya warga Nusantara terhadap populasi LGBT. Untuk perihal kesenian, terutama seni suara, dia turut berjasa dalam membenihi invasi band serta musisi Bali demi keluar dari kandang. Salah tiganya Superman is Dead (SID), Navicula, serta The Hydrant. Berikut tanya jawab mengenai kesibukan terbaru sang flamboyan, yang tak pernah berhenti berinovasi.

Kegiatan Anda sekarang lebih banyak di Bali, ya? Dan masih bergelut di seputar showbiz?
Ya, sekarang saya sepenuhnya tinggal di Bali. Sudah 2 tahunan lebih. Masih bergelut di showbiz, juga aktif bergerak di gerakan sosial kemasyarakatan, utamanya Drink Responsibly dan Designated Smoking Area.

Ini menarik! Boleh tolong dijelaskan sedikit, mengenai gerakan Drink Responsibly & Designated Smoking Area?
Drink Responsibly dan Designated Smoking Area ini merupakan gerakan pengurangan risiko, penyadaran lewat pendekatan pragmatis. Tidak melarang atau frontal menolak apa yang mereka (peminum dan perokok) lakukan. Namun memberi pemahaman, ngasih opsi, dan melokalisir. Drink Responsibly ini berupa menjadi talk show tentang bagaimana minum yang bertanggung jawab. Silahkan minum-minuman beralkohol, jika itu memang bentuk rekreasi kamu, tapi jangan mengendarai kendaraan bermotor setelah menenggak minuman beralkohol dalam kadar tertentu. Gampangnya: 2 botol bir kecil atau 1 gelas/single spirit.

Talk show tersebut melibatkan pemilik bar, polisi, Gojek/Grab/taksi, pihak Banjar setempat (Banjar adalah pembagian wilayah administratif di Provinsi Bali, di bawah Kelurahan atau Desa, setingkat dengan Rukun Warga). Kami juga mengecek silang apa yang mereka lakukan, ketika ada aktivitas minum miras.
Designated Smoking Area juga mirip-mirip. Kami memasang beberapa asbak besar di sepanjang pantai Sanur. Memasangnya pun serius, tampak indah, tidak asal-asalan. Agar orang-orang tidak membuang puntung rokok sembarangan di pantai. Juga mereka terlokalisir saat merokok, tak berdampak pada perokok pasif. Setelah di Sanur, saya juga sudah pasang di Besakih, masing-masing 5 asbak besar. Bulan depan lanjut ke Tabanan, dipasangnya di taman kota.

Cerkas! Bagaimana Anda bisa ber-ide sebagus dan se-visioner ini? Apa penyebab awalnya yang membuat Anda serius dengan pergerakan tersebut? Ada peristiwa-peristiwa yang menginspirasi-kah?
Drink Responsibly terinspirasi saat saya tinggal di Sydney beberapa tahun. Masyarakat di sana tertib sekali mengenai miras. Mereka memang hobi menenggak miras, tapi miras itu tidak mudah untuk didapatkan, hanya dapat dibeli di bottle shop, tidak dijual di supermarket, dan aturannya ketat banget! Anak-anak di bawah umur bisa dipastikan sulit mendapatkannya. Dan, mereka takut banget berkendara saat sedang berada di bawah pengaruh miras. Hukumannya super berat! Lalu yang kedua karena salah satu sohib saya, anak band, meninggal akibat drink driving.
Kalau Designated Smoking Area ini karena dulu saya kan perokok berat. Saya lebih memilih pendekatan pragmatis dalam berhadapan dengan perokok. Biar saja Dinas Kesehatan dan siapa gitu yang bergerak menghentikan orang merokok. Saya tahu, bagaimana sulitnya untuk berhenti merokok. Jadi ya sudah, saya sediakan asbak saja, melokalisir perokok, agar sampah puntung rokok tak berserakan, perokok pasif bisa diminimalisir. Tagarnya #KurangiResiko.

Ini sempat Anda terapkan ketika membuat komunitas kecil Ragunan Whiskey Warrior (RGNWW) di Jakarta beberapa tahun lalu? Atau ketika Anda menjadi kontributor Beergembira? (Beergembira adalah online media mengenai bir serta budaya yang berkaitan dengannya)
Saya terapkan itu saat di RGNWW. Sebelumnya ya disiplin sendiri saja. Tidak mudah, karena di Indonesia Anda mudah tergoda untuk tetap memaksakan diri mengemudi, karena kebanyakan orang merasa mampu. Dan, di sini pun peraturannya tidak ketat. Di Beergembira kebetulan mereka sudah punya program mirip, namanya #TahuBatasnya.

Kan Anda minum dari dulu ya, nah, Anda sendiri pernah mengalami masa-masa terliar nggak? Minum hingga teler berat, berantakan di club, berantem dengan sesama pengunjung, atau hal-hal sejenis
Haha, pernahlah. Kita semua pasti sempat melewati masa-masa itu. Yang paling bodoh sih mabok dan berkendara. Kalau mati sendiri ya nggak apa-apa, resiko. Parahnya itu kalo bikin orang lain juga ikut mati. Itu yang mesti kita segera sadari. Mati ya mati saja sendiri. Jangan ngajak-ngajak. Kian tambah usia kesadaran pun semakin tumbuh. Silahkan minum sampai dead drunk, asal jangan membahayakan orang lain. Itu bentuk tanggung jawab kita, wujud kedewasaan.

Ok. Kita bicara soal Rudolf Dethu Showbiz, sekarang siapa saja musisi dan band yang tergabung?
Karena kesibukan yang kayak setan ini, saya lebih fokus ngurus satu band saja: The Hydrant. Selebihnya, saya lebih sekadar membantu saja. Ada Manja dan Truedy, juga Rebecca Reijman. Selebihnya, untuk urusan yang berkaitan dengan musik, saya ngurusin acara, bikin program di Rumah Sanur, di mana di sini saya menjabat sebagai Co-Director. Oh, saya belum sebut juga bahwa saya ikut di komunitas creative hub Ruangtuju. Yang cita-citanya ambisius: mengintegrasikan creative hub yang ada di seluruh Nusantara. Cikal Bakal Lokal. Ruangtuju ini ikut di Soundrenaline. Menyodorkan bakat-bakat lokal hasil kurasi dari beberapa creative hub di beberapa kota di Indonesia. Creative hub adalah wadah baru bagi anak-anak muda untuk bertemu, bergaul, saling bertukar pikiran serta berbagi ilmu. Ruangtuju Ini merupakan kolaborasi tiga creative hub: Rumah Sanur, Earhouse (Tangerang), Kedubes Bekasi. Sekarang banyak bertebaran creative hub di pelosok Nusantara. Kami bertiga yang paling solid. Dan, sepakat mencoba mengumpulkan satu demi satu creative hub itu agar kita semua bisa bekerjasama, membantu mendorong talenta-talenta lokal, sesuai dengan rekomendasi dari masing-masing creative hub. Bukan hanya soal musik, ya, tapi segala rupa berkesenian. Di mana saat seniman-seniman itu hendak pergi ke daerah baru, mereka tinggal kontak creative hub yang ada di daerah tersebut, dan bisa bertanya, misalnya, apakah bisa memfasilitasi konser, pameran, atau sejenisnya. Di website-nya sudah ada beberapa paparan, di mana saja ada creative hub.

Keren! Sekarang saya mau bertanya mengenai perbedaan nightlife di Bali dan Jakarta, versi Anda, karena Anda terbiasa bolak balik berkegiatan di kedua provinsi tersebut
Nightlife di Bali lebih variatif. Karena sekarang ada banyak opsi beach club, open airNggak melulu di tempat tertutup. Nightlife juga teramat variatif, ada beach club (outdoor, semi outdoor — live music, DJs), night club (indoor, DJs), bar (live music, DJs), creative hub (indie bands). Untuk daerah sekecil Bali, Denpasar dan Badung, utamanya, ada banyak sekali opsi. Dan, kantong-kantong keramaian itu terus melebar. Canggu, Seminyak, Kuta, Jimbaran, Ungasan, Nusa Dua. Itu pun baru Bali Selatan saja. Belum lagi Sanur. Masing-masing daerah, gaya serta jenis audiens-nya berbeda.
Untuk Jakarta, Tetap berkesan. Terutama jenis-jenis orang yang datang. Metropolitan banget! Cenderung formal.Terutama yang ke klub-klub malam. Kalau semisal beerhouse seperti Beer Garden mungkin lebih santai ya, meski kesan kurang rileks tetap ada. Nggak kayak di Bali, beda banget sama Bali. Kehidupan malam di Jakarta salah satu yang saya suka adalah banyak ketemu yang sadar busana dan enak dipandang. Kesan metropolitannya dapet. Sebagai orang Bali, enak sesekali dapet pemandangan seperti itu.

Hahaha. Ok, Dethu. Thank you! Saya memang hanya mau memberi tahu kesibukan terbaru Anda saja ke pembaca Vantage, sekaligus seperti apa nightlife Bali serta Jakarta di mata Anda, sebagai dua kota tempat Anda biasa bolak balik beraktivitas. Thank you so much brother!
Senang bisa ngobrol lagi, Nicko! Likewise, brother. Have a good one!

• Artikel di atas dipinjampakai dari Vantage.

The post PANGKUPARA TERANYAR SENI DAN SOSIAL SANG FLAMBOYAN PULAU SERIBU PURA, RUDOLF DETHU appeared first on RUDOLF DETHU.

MENYIKAPI TREN K-POP

BTS — Sumber Foto: trendingallday

Saya tidak suka dan bukan penggemar K-pop. Sejak awal kemunculan hingga kini. Menurut saya K-pop itu biasa saja.

Sejak dahulu kala, saya memang cenderung males melihat fenomena boyband dan girlband—yang notabene adalah elemen dasar K-pop. Ketika New Kids On The Block menyeruak lalu menjadi populer, saya adalah satu dari super sedikit yang menunjukkan penolakan di kala remaja. Sampai-sampai banyak sahabat, kaum kerabat, yang memusuhi. Utamanya perempuan. Alhasil, dari sikap mengambil jarak, memusuhi boybandgirlband tersebut sulit bagi saya untuk mendapat pacar. *uhuk*

Apa sih yang istimewa dari NKOTB, Backstreet Boys, Westlife, dan kawan-kawannya itu? Musiknya amat sederhana. Liriknya picisan. Dansa-dansinya (zaman itu) juga standar. Pun formatnya klise: ada yang “bad boy”, satunya lagi “shy boy”, lalu “the baby”, dan dua lagi yang di-plot menjadi sosok tertentu. Bukan tak mungkin nanti ada yang diciptakan figur yang rajin beribadah mengingat, terutama di Indonesia, kini sedang ngetren untuk merangkul agama. Ha.

Namun, bagi saya yang paling mengesalkan: semuanya rekayasa, buatan “pabrik”, semacam produk kemasan siap pakai. Sebab yang bersenandung sambil jingkrak-jingkrak di panggung itu tak lebih dari boneka. Atau wayang. Ada yang menggerakkan. Ada dalangnya. Bisa satu, bisa dua, bisa sebuah tim berjumlah beberapa orang. Yang di depan kita itu, para pemuda ganteng dan pemudi cantik yang berdendang seraya salto/koprol/kayang tersebut disetir oleh pawang. Mulai dari lagu, dandanan, gaya menari, peran di grup (kamu jadi cowok bandel, kau si pemalu, ente pasang tampang imut, dsb), band pengiring, jadwal manggung, memilih manajer, segala tetek bengek serinci-rincinya, semua diatur oleh aktor intelektual.

NKOTB — Sumber Foto: Gangster Report

Lalu tugas—sekadar menyebut nama—NKOTB apa dong? Ya modal wajah saja. Soal kemampuan menyanyi belakangan. Jika bisa menyanyi ya bagus, syukur, itu bonus. Kalau tidak juga tak masalah. Kan ada auto-tune. Suara sumbang bisa tersamarkan. Yang penting secara visual nyaman di mata, ganteng. Pula saat bergoyang badan bisa cukup dinamis serta kompak.

Sebut saya kuno, kolot, bangkotan, silakan. Senjindang—seni jingkrak dan dendang—macam NKOTB itu bagi saya khianat pada esensi seni pertunjukan yang adiluhung. Saya lebih melihatnya sekadar seperti orang berjualan pada umumnya: barang dipoles agar terlihat bagus, dipermanis, dieksploitasi agar lekas laku, gincu belaka. Lebih banyak urusan berdagangnya dibanding urusan berkesenian. Musik cuma kosmetik. Intinya perniagaan saja, sedangkal itu.

Super Junior — Sumber Gambar: ABS-CBN

Saya malah lebih doyan dengan, katakanlah, kelompok akil balik memainkan musik bising tiga jurus yang sederhana. Walau membikin kuping mendengung, tapi bagi saya lebih luhur karena membawakan karyanya sendiri, menjadi dirinya sendiri. Karya-karya di awal mungkin masih belum bisa dibilang masuk standar estetika. Maklum masih belajar, proses transisi. Semoga di kemudian hari kian matang lalu mampu menghasilkan karya yang mumpuni. Perjalanan menuju kedewasaan macam demikian yang menurut saya jauh lebih baik dibanding instan seperti NKOTB dan boy/girlband lainnya.

Begitu pula K-pop ini, saya melihatnya tidak ada bedanya. Formulanya yang digunakan relatif masih sama. Walau mutunya telah jauh membaik—biduan/biduanitanya beneran mengerti harmoni, gerak dan tarinya kian eksplosif dan kompleks. Tapi, prinsip dasarnya tak berubah: rekayasa, ada dalangnya, yang senjindang di panggung hanya wayang, kumpulan boneka. Memang, telah mulai satu-dua anggota boy/girlband yang mencipta lagunya sendiri. Namun, belum bisa dibilang jumlahnya signifikan. Plus, aroma berdagangnya masih terlalu kuat, sangat mengecilkan sisi berkeseniannya. Pendeknya, bagi saya fenomena boy/girlband, K-pop ini fenomena garing. Dandanan bling, jejingkrakan, menyanyi sahut-sahutan dengan lirik picisan, serta dikawal oleh cukong kesenian sang malaikat penentu. Saya lebih menyukai bandband indie dengan karya sendiri, yang berdiri di atas kakinya sendiri, menjadi tuan atas dirinya sendiri.

Dari segala ketidaksukaan saya pribadi tersebut, bagaimana pun juga, harus diakui meroketnya pamor K-pop di skena musik dunia, gilang-gemilangnya mereka mensejajarkan diri dengan pelaku musik global lainnya, ini pantas diacungi jempol. Sungguh sebuah usaha yang tak mudah untuk mencapai posisi seberingas itu. J-pop, fenomena budaya pop asal Jepang, saja cuma bisa bertahan sebentar. Belakangan, trennya menurun meredup. K-pop pelan tapi pasti terus merangkak naik. Hingga kini benar-benar mendunia, dengan legiun penggemar nan fanatik.

Apa yang bisa kita petik dari jayawijayanya K-pop ini? Bukan formula penggunaan dalangnya. Bukan pula seketika menjiplak mentah-mentah resep dandan, jejingkrakan serta lirik picisan boy/girlband mereka. Popularitas gila dari K-pop ini tak terjadi tiba-tiba, bukan keajaiban yang jatuh begitu saja ke bumi. Ini adalah hasil kerja keras, spartan dan komprehensif, melibatkan semua aspek mulai dari pegiat sektor kreatif, para pemangku kepentingan, hingga pemerintah, semua kompak bergerak bersama. Cetak birunya ada, gamblang. Pula programnya jelas, sistematik, dibarengi disiplin tinggi dan keras, khas orang Korea Selatan. Seperti kita masuk sekolah dengan kurikulum tepat guna, sebut saja, CBKA—Cara Belajar K-pop Aktif.

Jika kita googling sudah banyak dibahas rinci soal pembekalan sistematis dengan disiplin tinggi di isu K-pop ini. Sekarang kita di Indonesia ini seyogianya mulai menentukan genre musik apa dengan keindonesiaan yang kuat yang hendak didorong go-international. Sepakati itu dulu. Baru kemudian jiplak sekolah kejuruan K-pop tersebut. Dengan serius dan spartan. Ayo kita mulai!

• Artikel yang saya tulis ini pertama kali tayang di DCDC pada 22 Januari 2019

GELIAT MUSIK BALI: KECIL, KUAT, BERBAHAYA

The Hydrant | Foto: Forceweb

Tanpa terasa, tiada dinyana, sebentar lagi kita bakal masuk ke tahun baru 2019. Jika seksama diperhatikan, di skena musik, ada fenomena menarik yang terjadi. Kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja yang tadinya seolah menggiring selera anak muda Nusantara, belakangan tampak berkurang. Terjadi pergeseran kekuatan.

Metropolitan yang selama beberapa dasawarsa berposisi dominan kini pengaruhnya agak melemah. Bali, pulau kecil yang bersebelahan dengan Jawa, mulai angkat bicara. Makin banyak musisi-musisi asal Pulau Dewata yang wira-wiri di konser-konser kelas nasional, kian melimpah paguyuban-paguyuban artis dari Pulau Seribu Pura yang menjadi perbincangan hangat di kancah musik Nusantara.

Jika ditarik sedikit ke belakang, pihak yang pantas “dituduh” paling bertanggung jawab menorehkan nama Bali ke peta musik nasional, tentu saja Superman Is Dead (SID). Bergabungnya trio punk rock ini dengan Sony Music Indonesia serta merilis album fenomenal Kuta Rock City membuat popularitasnya terdongkrak masif, menjangkau penjuru-penjuru Indonesia. Status cult mereka di jagat bawah tanah dalam jangka waktu cukup cepat berubah menjadi “artis nasional”, merangsek masuk ke pusaran arus utama. 

Kiprah mencengangkan dari SID ini sontak menginspirasi dinamika kesenian setempat. Mendadak, kehidupan bermusik di Bali menjadi begitu bergairah. Bejibun artis-artis baru muncul. Seniman-seniman era lama juga ada beberapa yang mencoba peruntungannya, turut memeriahkan belantika Dewata. Dua nama yang paling menonjol di skala lokal kala itu adalah Navicula dan Lolot. Dalam skala lokal mereka tergolong veteran, telah bermusik sejak pertengahan ’90an, hampir sepantaran dengan SID, dan cukup disegani di daerah sendiri.

Superman Is Dead | Foto: Instagram SID

Navicula mengikuti jejak SID lalu bekerja sama dengan Sony Music Indonesia, menjadi band kedua yang “go national” dalam makna sesungguhnya. Sementara Lolot—ia adalah pemain bas pertama SID, saat masih bernama Superman Silvergun—sukses besar menghentak atensi publik muda lokal. Ia menerbitkan album bergenre punk rock dengan menggunakan Bahasa Bali sebagai ujaran pengantar. Ini tergolong revolusioner bagi Bali. Belum pernah ada yang melakukannya sebelumnya. Sontak disambut gila-gilaan. Albumnya terjual hingga, kabarnya, 60 ribu kopi. Ditambah dengan jadwal manggung yang duhai padat. 

Navicula | Foto: Pica Magz

Meledak-ledaknya kancah musik di Bali ini sayangnya tak dibarengi dengan mutu produk, pengalaman, serta kesiapan sumber daya manusia yang memadai. Memang berlimpah artis yang eksis namun kebanyakan memilih jalan generik dan memainkan musik yang mirip dengan SID yaitu melodic punk. Sementara itu, di daerah-daerah lain di Nusantara juga bejibun band-band yang mengusung melodic punk, dengan mutu yang relatif lebih baik. Pun jika bicara soal pemasaran dan sisi manajerial, rata-rata masih kebingungan, apa strategi terbaik dalam menarik perhatian publik nasional. Belum lagi, stok manajer atau orang yang mau menjadi manajer—posisi vital agar fondasi nge-band lebih kuat—sangatlah terbatas, bahkan hampir nihil. 

Gejolak eksplosif ini berangsur meredup. Kerjasama Navicula dengan Sony Music Indonesia hanya menghasilkan letupan kecil, kurang signifikan. The Hydrant yang bergabung dengan EMI juga nasibnya segendang sepenarian. Lolot yang sempat meraih penghargaan di SCTV Music Award, sayup-sayup memudar. Ketiga “sinar harapan” Pulau Dewata tersebut bisa dibilang sekadar ribut sebentar lalu beringsut sirna. Navicula, The Hydrant, dan Lolot balik lagi jadi jago kandang.

Berakhir hingga di situ saja? Syukurnya tidak. Mereka konsolidasi ke dalam, mempersiapkan amunisi yang lebih canggih, menambahkan pengalaman agar lebih kaya. Hanya SID yang justru makin jaya wijaya menaklukkan percaturan musik nasional.

Sampai akhirnya sejak sekitar empat tahun lalu Bali kembali menyeruak ke permukaan. Balik dari masa meditasi dan penggemblengan diri yang lumayan lama, dengan kekuatan penuh. Back in full effect. Navicula dan The Hydrant, misalnya, beredar pesat lagi di skena musik nasional. Dibarengi dengan rangkaian tur luar negeri yang konstan. Minimum setahun dua kali—utamanya The Hydrant—terhitung sejak 2015.

Yang menarik, yang menampakkan diri bukan cuma wajah-wajah lama, tapi dibarengi muka-muka baru. Atau mungkin lebih tepat disebut sebagai “gelombang baru”. Sebut saja misalnya Zat Kimia, Nosstress, Rollfast, Jangar, Scared of Bums, Joni Agung & Double T, Leanna Rachel, Sandrayati Fay, dsb. Secara nasional nama-nama itu mampu menancapkan cakarnya dengan tajam. Lagu-lagu mereka dikenal dengan baik, sanggup mengundang sing along kala mereka manggung. Ajakan tampil bukan lagi sekadar dalam rangka promosi, dibayar sekadarnya. Tapi sudah secara profesional, diganjar dengan jumlah dana yang layak.

Zat Kimia | Foto: Teddy Drew

Mengapa bisa seperti tiba-tiba legiun musisi Bali keras menghentak belantika musik Indonesia? Dari sepengamatan saya terpapar beberapa faktor penting:

1. Bali Tolak Reklamasi.

Bisa dibilang nyaris semua musisi-musisi yang diidolakan di Bali turut berpartisipasi aktif di gerakan sosial ini. Mulai dari yang generasi lawas hingga milennial. Barangkali karena merasa senasib sepenanggungan, sama-sama berjuang untuk keselamatan Bali, dan kompak melawan kekuatan besar serta menakutkan, respek satu sama lain antar musisi tumbuh secara alami dan mempererat hubungan pertemanan. Berdampak kemudian menjadi saling mendukung dalam soal berkesenian. Yang namanya gontok-gontokan, saling sikut, apalagi permusuhan antar musisi, hampir tidak ada, nyaris nihil. Sangat harmonis. Situasi sehat macam begini menjadi dasar kuat dalam mencapai kemaslahatan skena musik.

2. Berlimpah Ruang Ekspresi

Tempat-tempat untuk unjuk gigi ada banyak bertebaran di Bali serta cenderung mudah diajak bekerjasama. Di sekitar Sanur ada Rumah Sanur, Taman Baca Kesiman, serta baru saja selesai direnovasi: Antida Sound Garden. Di seputaran Denpasar ada Two Fat Monks, Rumahan Bistro, serta CushCush Gallery yang sesekali menyelenggarakan sesi akustik. Jauh di Selatan, Uluwatu, Single Fin cukup sering menampilkan musisi-musisi lokal Bali. Di Kuta ada Twice Bar dan Hard Rock Cafe. Di Canggu terdapat Gimme Shelter, Sunny Cafe, Deus Ex Machina, Old Man’s, juga yang baru saja buka: Backyards. Setiap tempat yang disebut barusan semuanya amat terbuka dan nyaris tanpa birokrasi ribet kalau mau menggunakan tempat tersebut untuk, misalnya, pesta peluncuran album. Tinggal kontak dan cocokkan jadwal serta urusan penjualan tiket, bagaimana pola pembagian keuntungan. Gampang, ringan, lancar.

Konser musik di Rumah Sanur.

3. Intensitas Konser yang Frekuentif

Bisa dibilang selain di klub dan kafe yang membuat pertunjukan musik secara reguler, acara-acara konser lainnya (korporat, pensi, ulang tahun banjar, dll) hampir pasti ada di setiap akhir pekan. Entah di jantung kota Denpasar, di Sanur, Nusa Dua, Ubud, Kuta, di banyak penjuru di Bali. Ada terus. Sampai sering bingung memutuskan bagusnya pergi ke pertunjukan yang mana.

4. Fenomena Hijrah

Bejibunnya anak-anak muda yang hijrah di kantong-kantong kreatif macam Jakarta, Bandung, dan Jogja, membuat gairah bermusik di kota-kota tersebut terkesan agak menurun. Anak-anak mudanya lebih sibuk mengurusi agama. Malah, sebagian lagi, memusuhi musik, mencapnya haram. Ini sedikit “membantu” Bali mengisi kekosongan kreativitas di skena musik anak muda. Bali adem saja menjunjung tinggi rock and rolltanpa lupa pada kewajiban beragama/sisi kultural sebab sedari dulu telah terbiasa menjalankan dua hal tersebut secara beriringan. Pergi ke tempat ibadah jalan terus, aktivitas rock and roll pun berlangsung biasa. 

Nah, jika pulau sekecil Bali saja bisa lantang bersuara di belantika musik Indonesia, bagaimana dengan daerah kamu?

Selamat Tahun Baru 2019!

________

*Artikel yang saya tulis ini pertama kali tayang di situs web DCDC minggu lalu.

KETAHUAN LIP SYNC, ANJINC!

Photo: PopMatters.

Ada paling tidak dua sosok yang gemar lari dari tanggung jawab, memilih mencuci tangan, ketika diminta bersikap tegas, menolak menjawab lugas. Yang pertama orang Indonesia: Ebiet G Ade. Yang kedua duo berkebangsaan Jerman: Milli Vanilli.

Coba rangsek mas Ebiet. Mintai dia pendapat tentang sesuatu, responsnya pasti ngambang: tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Sementara Milli Vanilli malah menghindar seraya menyalahkan hujan: blame it on the rain.

Padahal yang pantas didakwa ya mereka sendiri, Fab Morvan dan Rob Pilatus, pasangan ganda Milli Vanilli.

Oh. Aduh. Pantas divonis bersalah? Kenapa?

Itu akibat “tindak kriminal” yang mereka lakukan. Milli Vanilli tertangkap basah menipu, berlagak bersenandung padahal hanya menggerak-gerakkan bibir menyesuaikan dengan lirik, pada 21 Juli 1989. Fab dan Rob sedang tampil live di acara MTV di Danau Compounce, Connecticut, Amerika Serikat. Saat membawakan tembang “Girl You Know It’s True” akal bulus itu terungkap. Entah pita kaset entah cakram digital yang digunakan, namun yang pasti di pertengahan ngadat, mengulang-ulang bagian “Girl you know it’s, girl you know it’s…”. Milli Vanilli berusaha tenang, terus “menyanyi” dan berdansa. Karena repetisi tak kunjung berhenti, Milli Vanilli jelas malu kolosal, langsung lari ke belakang panggung.

Downtown Julie Brown dari MTV meminta mereka kembali ke panggung. Tapi Milli Vanilli ogah menyanggupinya. Malah memutuskan menutup lembaran Milli Vanilli. “I quit,” kata Rob.

Ada lagi perbuatan tercela sejenis yang ke-gap publik.

Ashlee Simpson pada 2004 di acara tv SNL. Ia dan musisi pengiringnya berlagak hendak tampil live. Tapi ternyata operatornya agak grasa-grusu. Lagu yang dinyalakan salah, bukan yang hendak didendangkan Ashlee.

Whitney Housten di ajang Superbowl, 1991. Ia hanya menggerak-gerakkan bibir, tidak benar-benar bernyanyi. Almarhumah memang telah merekam suaranya sebelumnya. Barangkali ia mencoba menghindari kemungkinan buruk terjadinya kekeliruan teknis dalam acara semegah Superbowl.

Manuver bibir maju/mundur/manyun/monyong/memble yang seolah-olah menyanyi itu disebut dengan “lip synchronization” atau lebih populer dengan “lip sync” saja. Sinkronisasi bibir.

Tindakan lip sync ini merupakan hal yang lumrah terjadi di bisnis musik. Terutama dalam video klip serta konser musik di televisi. Atau film musikal seperti Bohemian Rhapsody. Sink bibir sengaja dipraktikkan kerap sebagai langkah antisipasi agar pertunjukan berjalan sempurna, sengkarut suara bisa ditekan minimal. Sebisanya hingga titik nol.

Nah, di sinilah mulai munculnya masalah. Sering kali pementasan musik di televisi mengundang debat panas antara produser acara dengan artis penampil. Sang produser meminta (baca: bersikeras) lip sync saja. Alasannya kuat: agar tayangan kesenian tanpa cela. Sementara para penampil merespons negatif (gestur: mendesis bengis atau mengaum setengah mengancam). Dalihnya solid: kami bukan boneka. Yang lebih idealis bakal bilang bahwa lip sync haram, menyalahi nilai dasar berkesenian.

Faktanya, banyak musisi yang mengalah dan mengangguk mengiyakan untuk lip sync. Rata-rata karena sudah pipis di celana duluan dengan institusi yang dihadapi seperti BBC yang mengharuskan praktik lip sync di salah satu acara paling terkenalnya, TOTP — Top of the Pops.

The Police, misalnya, rela bersandiwara menembangkan “Roxanne”. Simak videonya, gamblang terlacak Sting sekadar membuka mulut. Barangkali The Police lebih memprioritaskan gita tentang pelacur tersebut disimak jutaan orang—yang semoga berujung pada terdongkraknya ketenaran The Police—daripada sibuk saling cakar soal mereka boneka atau bukan.

Nirvana? Mereka setuju pada BBC – TOTP untuk minus one. Semua instrumen tidak dimainkan live, seluruhnya rekaman, kecuali vokal. Ya, seperti karaoke. Dan kebandelan Kurt Cobain & Rekan bukan isapan jempol belaka, lirik paling awal “Smells Like Teen Spirits” diubah menjadi “load up on drugs, kill your friends…”. Belum lagi polah Kurt mencoba menelan mikrofon, Kurt Novoselic jumpalitan memainkan bas yang jelas tak seirama dengan apa yang terdengar di speakers, pula Dave Grohl yang menggebuk drum lucu-lucuan. Saya yakin yang pipis di celana bukan Nirvana tapi BBC. Ha.

Lihat juga Travis di TOTP. Menjalankan minus one …dan nyaris menghentikan pertunjukan karena aksi saling tampol kue ke wajah masing-masing personel band.

Di film “Bohemian Rhapsody” terdapat juga adegan yang menyorot soal lip sync. BBC sedikit arogan memunculkan gestur semacam “kalian jangan main-main dengan media segigantik BBC”.

Bagaimana di negeri ini? Hampir sama sebangun, agak segendang sepenarian. Lip sync digemari produser acara, dinajisi (sebagian) pengisi acara. Bisa dibilang dominan acara-acara musik di televisi Indonesia di pagi hari mensyaratkan lip sync. Saat saya masih memanajeri Superman Is Dead, trio Pulau Dewata ini sangat jarang muncul di acara-acara musik televisi. Salah satu faktor utamanya adalah karena SID menolak beraksi lip sync. Sementara tayangan musik di televisi baik pagi mau pun petang di era itu, pertengahan 2000an, sedikit sekali yang bebas dari praktik lip sync. Ogah lip sync sama dengan minim kemunculan di televisi.

Tapi bukan SID saja yang ogah lip sync kala itu. Setahu saya Padi dan Slank pun menafikannya.

Paling mutakhir adalah ribut-ribut Via Vallen pura-pura berdendang di acara pembukaan Asian Games. Akibat serbuan blitzkrieg-frontal diare verbal dari netijen, mencak-mencak menuduhnya macam-macam, tidak profesional, merendahkan profesi biduan, bahkan dicap melecehkan bendera Tauhid (ini ngarang, biar sensasional saja). Mungkin karena Via doyan bukan tipe konfrontatif akhirnya ia meminta maaf. Tapi Wishnutama—petinggi acara, bukan bapaknya—tak setuju Via minta maaf. Menurut Wishnutama—Creative Director Opening Ceremony Asian Games, bukan ayah Via Vallen, ia memanggil ayahnya “papa” dan ke Wishnutama mungkin “om”—ada standar pertunjukan yang bisa terkorbankan jika nekat dipaksakan live. Berhubungan dengan sinyal dan bisa mengacaukan frekuensi jika terjadi apa-apa.

Saya sendiri tidak anti lip sync. Tergantung situasi. Kasuistis. Tapi saya bukan penyanyi. Anak band juga bukan. Tidak pantas, terlalu sok asik, sebaiknya bungkam, di isu ini. Mungkin Ellyas Pical punya pendapat mencerahkan soal lip sync? Silakan, bung. Monggo!

PROPAGANDA, MUSIK, DAN AKTIVISME

Rudolf Dethu adalah sosok di balik panggung dalam kesuksesan band-band asal Bali. Mulai dari Superman Is Dead sampai The Hydrant merasakan tangan dinginnya.

Ia tak genah memainkan instrumen musik, betapapun semesta irama adalah cinta sekaligus jalan hidup yang membesarkan namanya. Selera dan pengetahuan jadi senjatanya mengarungi blantika musik.

“Sejak akhir 1980-an, aku bergaul dengan anak-anak musik di Denpasar. Aku orang yang enggak bisa main musik, tapi sering diminta berpendapat tentang musik,” kata Rudolf Dethu, yang namanya dikenal sebagai eks manajer Superman Is Dead (SID)–trio punk rock asal Bali.

Pria ini kerap disebut sebagai propagandis musik. Propaganda Dethu–terutama lewat tulisan–adalah pintu gerbang yang mempertemukan skena (scene) musik Bali dengan pendengarnya.

Hal itulah yang membuat namanya berada satu level bersama para pesohor skena musik Bali, macam SID, Navicula, dan The Hydrant. Tiada berlebihan, sebab Dethu adalah figur di balik panggung dalam kisah sukses band-band di muka.

Belakangan, Dethu terlibat pula dalam dunia aktivisme. Ia berdiri di baris depan dalam puputan melawan reklamasi Teluk Benoa di Bali. Ia juga aktif mengampanyekan semangat kebinekaan dan antikorupsi.

“Aku lebih suka disebut storyteller (pencerita). Wendi Putranto (eks Rolling Stone Indonesia) orang pertama yang menyebutku propagandis,” ujar pemilik nama resmi Putu Wirata Wismaya itu.

Perbincangan kami berlangsung saat matahari Bali sedang panas-panasnya. Angin laut membawa aroma asin dari Pantai Sanur, yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat kami mengobrol: Rumah Sanur Creative Hub.

Tempat itu merupakan satu titik pertemuan para seniman, pelaku industri kreatif, dan aktivis di Bali. Di sana ada kedai kopi, restoran, panggung musik, toko konsep, dan ruang kerja bersama.

Siang itu (8/12/2017), Rumah Sanur sedang sibuk. Beberapa anak muda tengah menata panggung, mengatur instrumen musik, dan mengecek sistem pengeras suara.

“Kami dipercaya jadi tuan rumah Festival Anti Korupsi oleh KPK. Ini sedang persiapan buat acaranya, sore nanti,” kata Dethu, yang bertanggung jawab mengurusi perihal musik dan konten di Rumah Sanur.

Sebelum memulai percakapan, pria yang lahir 47 tahun silam itu memesan Gurita Bumbu Bali dan Jus Melon.

Hari itu, ia mengenakan setelan sepatu bot, celana jin, kemeja berwarna merah, plus suspender yang melingkar dari pinggang ke bahu. Sesekali, ia membenarkan letak topi fedora di kepalanya, seolah memastikan penampilannya senantiasa klimis.

Berewok dan kumis membuatnya terlihat sangar. Kesan itu hilang bila melihat senyum atau gelak yang kerap menutup perkataannya. Agaknya, gaya serta gestur Dethu adalah cerminan karakter skena musik Bali: sangar tanpa kehilangan keramahan dan kegembiraan.

“Street punk susah berkembang di Bali yang punya beach culture–dengan suasana kegembiraan dan santai. Musik yang pas rockabilly, californian punk, atau surf punk,” katanya.

Rudolf Dethu saat ditemui Beritagar.id di Rumah Sanur – Creative Hub, Sanur, Bali; Senin (8/12/2017) | Syafiudin Vifick / Beritagar.id

Menanam pengaruh dari kapal pesiar

Ketertarikan Dethu pada musik dimulai sejak dini. Kebetulan, orang tuanya bekerja di industri pariwisata dan kerap melawat. Billboard, majalah hiburan kenamaan asal Amerika Serikat, jadi buah tangan saban orang tuanya pulang lawatan.

Bacaan itulah yang memperkaya referensi musiknya. “Sejak SD, aku jadi semacam ensiklopedia di antara teman-temanku, terutama soal musik,” ujar Dethu.

Hal itu berlaku hingga dirinya berkuliah di Politeknik Pariwisata Udayana. Semasa kuliah, ia sempat pula membentuk band sebelum sadar kemampuannya dalam bermusik terbatas adanya.

Dethu menambal kelemahan itu dengan pengetahuan, yang memberinya tempat khusus dalam skena musik Bali. Ia juga mulai mengasah kemampuan menulis lewat catatan musik di koran lokal.

Lembar baru petualangan Dethu terbuka saat dirinya menjadi pramusaji di kapal pesiar milik perusahaan pelayaran asal AS.

“Saat itu, aku punya duit lebih dan bisa mengoleksi apa-apa yang kusuka. Rilisan musik jadi item koleksiku,” katanya. “Aku jadi sering membuat album kompilasi–semacam mixtape–dari lagu atau album yang kudengarkan. Kompilasi itu kukirim ke teman-teman di Bali.”

Kumpulan lagu itu menjadi kanal propaganda Dethu. Ia memuat tembang pilihannya dalam cakram padat (CD). Tiap lagu pilihan juga diberi catatan yang memuat sejarah atau sekadar alasan personalnya memilih tembang termaksud. Bila punya waktu luang, Dethu akan membuat sampul kompilasi yang digambarnya sendiri.

Ia mengenang masa-masa itu sambil tersenyum, “Tiap kompilasi kubikin dua hingga tiga kopi. Teman-teman di Bali menggandakannya. Akhirnya, di Bali–terutama Denpasar–orang-orang mendengarkan lagu yang sama.”

Pada 1998, Dethu turun kapal pesiar. Hanya sebulan dirinya menganggur, tawaran pekerjaan datang.

“Ada teman yang kerja di Radio Cassanova, Bali. Ia minta aku jadi penyiar dan bikin program sendiri. Padahal, aku enggak punya pengalaman broadcasting,” kata Dethu.

Dengan naluri seorang propagandis, Dethu tak menyiakan-nyiakan tawaran itu. Ia membuat program mingguan bertajuk “Alternative Airplay” di Radio Cassanova.

“Program itu membahas musik alternatif secara mendalam. Misalnya, pekan ini bikin edisi khusus punk rock, aku akan membahas sejarahnya, pengaruhnya di Indonesia, hingga mewawancarai band lokal,” ujar Dethu

Kelak, karena kepopuleran program itu, Radio Cassanova jadi titik kumpul bagi band-band di Bali.

Pekerjaan cuap-cuap lewat frekuensi dilakoninya selama 14 tahun (1998-2012), dengan tiga kali ganti pemancar: Radio Cassanova, The Beat Radio Plus, dan OZ Radio.

Salah satu program radio Dethu nan legendaris adalah “The Block Rockin’ Beats” (The Beat Radio Plus), yang menyajikan daftar putar–berikut catatan singkat–dari orang-orang pilihannya.

Nama-nama kesohor pernah memutar lagu dalam program itu, macam Andre Opa (eks Pemimpin Redaksi Trax), Adib Hidayat (eks Pemimpin Redaksi Rolling Stone Indonesia), Philip Vermonte (peneliti), Jimi Multhazam (The Upstairs), dan Kill The DJ (Jogja Hip Hop Foundation).

“Publik ingin tahu, musik macam apa yang membentuk orang-orang keren itu,” kata Dethu perihal program termaksud.

“Hal-hal yang kulakukan selalu personal. Musik membuat kita mengenal seseorang lebih intim.”

Rudolf Dethu saat memperkenalkan salah satu band binaannya, Leonardo & His Impeccable Six, dalam sebuah pentas di Rumah Sanur – Creative Hub, Bali; pada medio 2015 | Syafudin Vifick / Beritagar.id

Propagandis musik

Radio membuka jalan bagi Dethu untuk menekuni bisnis musik. Tawaran menjadi manajer band pertama kali datang dari SID, yang memang sering menyambangi tempat Dethu bekerja.

“JRX (penabuh drum SID) yang menawarkan pertama kali. Aku belum mengiyakan, tapi merasa terhormat karena suka dengan mereka,” kenang Dethu. “Waktu itu, aku sedang merintis clothing, Suicide Glam. JRX juga bantu kasih tempat untuk toko.”

Petualangannya bersama SID dimulai pada 2001. Itu adalah era awal penetrasi internet di Indonesia, yang ditandai demam milis–grup diskusi berbasis surel.

Lewat milis–terutama Yahoo Groups, Suicide Glam–Dethu melancarkan propaganda guna memperkenalkan band binaannya. Pun, ketika blog mengetren, Dethu menyalakan laman pribadinya sebagai kanal propaganda: RudolfDethu.com.

Gaya promosi Dethu tak lazim, misal menyematkan kalimat frasa “beer drinker” pada tiap personel SID atau menyebut mereka tak pandai bermain musik.

“Secara administrasi, aku enggak cukup baik. Aku bahkan enggak pernah bikin proposal untuk menawarkan band. Hal yang paling aku tahu adalah mempropagandakan sesuatu dengan sudut pandang berbeda,” katanya.

Puncak sukses SID terjadi saat merilis album mayor label pertama, Kuta Rock City (2003) lewat Sony Music Entertainment Indonesia.

Semula, kata Dethu, tawaran merilis album mayor label jadi kontroversi di internal SID dan skena punk rock. “Waktu itu ada semacam anggapan band punk rock enggak boleh rekaman dengan mayor label. Di sisi lain, SID merasa mentok di jalur indie, sejak 1995.”

Menurut Dethu, SID tak pernah meminta belas kasih mayor label. “Kami ‘ditawarkan’ bukan ‘menawarkan’, jadi lebih setara, penuh kebebasan.”

Perihal kesetaraan dan kebebasan itu, Dethu mengenang momen ketika SID berkukuh memasukkan 70 persen lagu berlirik Bahasa Inggris dalam album pertama mereka.

“Waktu itu, Pak Jan Djuhana (Artist and Repertoire Sony Music Entertainment Indonesia) telepon aku dan memastikan permintaan kami diterima. Itu jadi titik balik, kami menerima tawaran Sony.”

Sebagai manajer, Dethu pula yang mengawal eksponen grunge Bali, Navicula saat merilis album dengan Sony-BMG (Alkemis, 2004). Ia juga ikut menginisiasi kelahiran Suicidal Sinatra, band psychobilly pertama di Indonesia.

Pengujung 2007, ketika SID berstatus band punk rock nomor wahid Indonesia, Dethu malah mengambil rehat dari aktivitas manajemen band. Konon, ia mundur karena ingin fokus pada bisnis clothing, Suicide Glam.

“Ada juga rasa jenuh. Awalnya, aku nonton band dengan fun, tapi ada satu titik lihat konser malah stres,” katanya.

Ia baru kembali ke dunia manajemen artis pada 2015, dengan mengusung bendera Rudolf Dethu Showbiz. Saat ini, bendera bisnis termaksud membawahi tujuh artis–termasuk gerombolan rockabilly andalan Bali, The Hydrant.

“Sekarang, kalau bandku main, aku bisa minum dan ngobrol sama orang-orang. Aku bilang sama road manager, ‘Kalau Megawati wafat, atau Gus Dur hidup lagi, baru panggil aku. Kalau enggak gawat, jangan panggil.’ Aku merasa fun lagi.”

Rudolf Dethu dalam acara peluncuran buku biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! di Rumah Sanur – Creative Hub, Sanur, Bali; Agustus 2015 | Syafudin Vifick / Beritagar.id

Kelindan budaya pop dalam aktivisme

Nyaris satu dekade terakhir, Dethu menaruh minat dan tenaga ke dunia aktivisme.

Saat gelombang reformasi 1998 menerpa Indonesia, Dethu sebenarnya sudah tertarik pada isu-isu sosial politik dan sesekali terlibat dalam demonstrasi menuntut pergantian rezim.

Namun, ia baru aktif benar dalam dunia aktivisme antara 2007-2008, ketika terlibat gerakan menentang Undang-Undang Pornografi. “Aku merasa UU Pornografi mengancam budaya Nusantara. Aku mulai mengajak musisi terlibat memberi solidaritas,” katanya.

Perlawanan itu kandas. UU Pornografi disahkan. Namun, Dethu belajar banyak dari kegagalan.

Tatkala isu reklamasi Teluk Benoa berdengung, Dethu terlibat dalam Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI).

Gerakan sipil itu adalah garda depan aksi-aksi anti-reklamasi Teluk Benoa. Mereka menganggap reklamasi Teluk Benoa mengancam lingkungan dan kebudayaan di Pulau Dewata.

“Saat melawan UU Pornografi, musisi hanya bersolidaritas di atas panggung. Sekarang, di ForBALI, musisi ikut demonstrasi, diskusi, dan mengorganisir,” kata pria yang kebagian tugas mengurusi Divisi Media sosial di ForBALI itu.

Dethu memberi kredit khusus kepada I Wayan Suardana alias Gendo, Koordinator ForBALI. Ia menyebut Gendo sebagai tokoh yang bisa memimpin dan menyuntikkan kesadaran anak-anak muda Bali perihal isu-isu sosial, politik, dan lingkungan.

“Sekarang, kalau demo ForBALI, ada SID, Navicula, The Hydrant, Nosstress, dan seterusnya. Anak-anak muda ramai ikut demo. Mereka sering selfie, enggak masalah, yang penting melawan dan fun,” ujar Dethu beriring gelak.

Sejak medio 2016, Dethu menjadi Koordinator Aliansi Kebinekaan. Aliansi itu dibentuk 23 organisasi non-pemerintah. Mereka kerap membuat forum-forum berbasis kampus guna menangkal radikalisme dan mengampanyekan kebinekaan.

Dalam dunia aktivisme, Dethu senantiasa membawa unsur-unsur budaya populer. Baginya, budaya populer merupakan pintu masuk untuk mendekati anak-anak muda.

“Kita sering berprasangka bahwa anak muda tak tertarik dengan isu berat, seperti social justice. Padahal, kalau ambil contoh ForBALI, yang banyak terlibat justru anak muda. Itu karena kampanye kami menjangkau mereka,” katanya.

Pendidikan:

  • Fakultas Ilmu Komunikasi Politik – Universitas Terbuka (semester akhir)
  • Community Development Komisi Pemberantasan Korupsi – The Hague Academy, Den Haag, Belanda (2017)
  • Diploma Perpustakaan – Sydney Institute, Sydney, Australia (2012-2013)
  • Front Office Departement – BPLP Bali (1990-1992)
  • Departemen Pariwisata – Politeknik Udayana (1988-1990)

Karier:

  • Koordinator Forum MBB (Muda Berbuat Bertanggung Jawab) & Aliansi Kebinekaan (2015-sekarang)
  • Rudolf Dethu Showbiz, memanajeri The Hydrant, Leanna Rachel, Athron, Rebecca Reijman, Leonardo & His Impeccable Six, dan Negative Lovers (2015-sekarang)
  • Penulis biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! (2015)
  • Communication Specialist – IMACS/USAID, Jakarta (2014-2015)
  • Publisis – film dokumenter JALANAN, Jakarta (2014)
  • Kolumnis, The Beat (2007-2014)
  • Night fill – Woolworths Ltd, Sydney, Australia
  • Penyiar dan produser program musik alternatif – Radio Cassanova, The Beat Radio Plus, OZ Radio (1998-2012)
  • Marketing Director & Co-founder – Suicide Glam clothing (1999-2010)
  • Glampunkabilly Inferno Band Management, memanajeri SID, Navicula, Postmen; menginisiasi Suicidal Sinatra (2001-2008)
  • Personal Assistant to Head Designers – CV Kecak, Denpasar, Bali (2000-2002)
  • Dining Room Steward – Holland America Line (kapal pesiar), Seattle, Amerika Serikat (1993-1997)

________

Artikel di atas dipinjampakai dari Beritagar.id bertajuk Rudolf Dethu: Propaganda, Musik, dan Aktivisme.