Tag Archives: External Article

GELIAT MUSIK BALI: KECIL, KUAT, BERBAHAYA

The Hydrant | Foto: Forceweb

Tanpa terasa, tiada dinyana, sebentar lagi kita bakal masuk ke tahun baru 2019. Jika seksama diperhatikan, di skena musik, ada fenomena menarik yang terjadi. Kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja yang tadinya seolah menggiring selera anak muda Nusantara, belakangan tampak berkurang. Terjadi pergeseran kekuatan.

Metropolitan yang selama beberapa dasawarsa berposisi dominan kini pengaruhnya agak melemah. Bali, pulau kecil yang bersebelahan dengan Jawa, mulai angkat bicara. Makin banyak musisi-musisi asal Pulau Dewata yang wira-wiri di konser-konser kelas nasional, kian melimpah paguyuban-paguyuban artis dari Pulau Seribu Pura yang menjadi perbincangan hangat di kancah musik Nusantara.

Jika ditarik sedikit ke belakang, pihak yang pantas “dituduh” paling bertanggung jawab menorehkan nama Bali ke peta musik nasional, tentu saja Superman Is Dead (SID). Bergabungnya trio punk rock ini dengan Sony Music Indonesia serta merilis album fenomenal Kuta Rock City membuat popularitasnya terdongkrak masif, menjangkau penjuru-penjuru Indonesia. Status cult mereka di jagat bawah tanah dalam jangka waktu cukup cepat berubah menjadi “artis nasional”, merangsek masuk ke pusaran arus utama. 

Kiprah mencengangkan dari SID ini sontak menginspirasi dinamika kesenian setempat. Mendadak, kehidupan bermusik di Bali menjadi begitu bergairah. Bejibun artis-artis baru muncul. Seniman-seniman era lama juga ada beberapa yang mencoba peruntungannya, turut memeriahkan belantika Dewata. Dua nama yang paling menonjol di skala lokal kala itu adalah Navicula dan Lolot. Dalam skala lokal mereka tergolong veteran, telah bermusik sejak pertengahan ’90an, hampir sepantaran dengan SID, dan cukup disegani di daerah sendiri.

Superman Is Dead | Foto: Instagram SID

Navicula mengikuti jejak SID lalu bekerja sama dengan Sony Music Indonesia, menjadi band kedua yang “go national” dalam makna sesungguhnya. Sementara Lolot—ia adalah pemain bas pertama SID, saat masih bernama Superman Silvergun—sukses besar menghentak atensi publik muda lokal. Ia menerbitkan album bergenre punk rock dengan menggunakan Bahasa Bali sebagai ujaran pengantar. Ini tergolong revolusioner bagi Bali. Belum pernah ada yang melakukannya sebelumnya. Sontak disambut gila-gilaan. Albumnya terjual hingga, kabarnya, 60 ribu kopi. Ditambah dengan jadwal manggung yang duhai padat. 

Navicula | Foto: Pica Magz

Meledak-ledaknya kancah musik di Bali ini sayangnya tak dibarengi dengan mutu produk, pengalaman, serta kesiapan sumber daya manusia yang memadai. Memang berlimpah artis yang eksis namun kebanyakan memilih jalan generik dan memainkan musik yang mirip dengan SID yaitu melodic punk. Sementara itu, di daerah-daerah lain di Nusantara juga bejibun band-band yang mengusung melodic punk, dengan mutu yang relatif lebih baik. Pun jika bicara soal pemasaran dan sisi manajerial, rata-rata masih kebingungan, apa strategi terbaik dalam menarik perhatian publik nasional. Belum lagi, stok manajer atau orang yang mau menjadi manajer—posisi vital agar fondasi nge-band lebih kuat—sangatlah terbatas, bahkan hampir nihil. 

Gejolak eksplosif ini berangsur meredup. Kerjasama Navicula dengan Sony Music Indonesia hanya menghasilkan letupan kecil, kurang signifikan. The Hydrant yang bergabung dengan EMI juga nasibnya segendang sepenarian. Lolot yang sempat meraih penghargaan di SCTV Music Award, sayup-sayup memudar. Ketiga “sinar harapan” Pulau Dewata tersebut bisa dibilang sekadar ribut sebentar lalu beringsut sirna. Navicula, The Hydrant, dan Lolot balik lagi jadi jago kandang.

Berakhir hingga di situ saja? Syukurnya tidak. Mereka konsolidasi ke dalam, mempersiapkan amunisi yang lebih canggih, menambahkan pengalaman agar lebih kaya. Hanya SID yang justru makin jaya wijaya menaklukkan percaturan musik nasional.

Sampai akhirnya sejak sekitar empat tahun lalu Bali kembali menyeruak ke permukaan. Balik dari masa meditasi dan penggemblengan diri yang lumayan lama, dengan kekuatan penuh. Back in full effect. Navicula dan The Hydrant, misalnya, beredar pesat lagi di skena musik nasional. Dibarengi dengan rangkaian tur luar negeri yang konstan. Minimum setahun dua kali—utamanya The Hydrant—terhitung sejak 2015.

Yang menarik, yang menampakkan diri bukan cuma wajah-wajah lama, tapi dibarengi muka-muka baru. Atau mungkin lebih tepat disebut sebagai “gelombang baru”. Sebut saja misalnya Zat Kimia, Nosstress, Rollfast, Jangar, Scared of Bums, Joni Agung & Double T, Leanna Rachel, Sandrayati Fay, dsb. Secara nasional nama-nama itu mampu menancapkan cakarnya dengan tajam. Lagu-lagu mereka dikenal dengan baik, sanggup mengundang sing along kala mereka manggung. Ajakan tampil bukan lagi sekadar dalam rangka promosi, dibayar sekadarnya. Tapi sudah secara profesional, diganjar dengan jumlah dana yang layak.

Zat Kimia | Foto: Teddy Drew

Mengapa bisa seperti tiba-tiba legiun musisi Bali keras menghentak belantika musik Indonesia? Dari sepengamatan saya terpapar beberapa faktor penting:

1. Bali Tolak Reklamasi.

Bisa dibilang nyaris semua musisi-musisi yang diidolakan di Bali turut berpartisipasi aktif di gerakan sosial ini. Mulai dari yang generasi lawas hingga milennial. Barangkali karena merasa senasib sepenanggungan, sama-sama berjuang untuk keselamatan Bali, dan kompak melawan kekuatan besar serta menakutkan, respek satu sama lain antar musisi tumbuh secara alami dan mempererat hubungan pertemanan. Berdampak kemudian menjadi saling mendukung dalam soal berkesenian. Yang namanya gontok-gontokan, saling sikut, apalagi permusuhan antar musisi, hampir tidak ada, nyaris nihil. Sangat harmonis. Situasi sehat macam begini menjadi dasar kuat dalam mencapai kemaslahatan skena musik.

2. Berlimpah Ruang Ekspresi

Tempat-tempat untuk unjuk gigi ada banyak bertebaran di Bali serta cenderung mudah diajak bekerjasama. Di sekitar Sanur ada Rumah Sanur, Taman Baca Kesiman, serta baru saja selesai direnovasi: Antida Sound Garden. Di seputaran Denpasar ada Two Fat Monks, Rumahan Bistro, serta CushCush Gallery yang sesekali menyelenggarakan sesi akustik. Jauh di Selatan, Uluwatu, Single Fin cukup sering menampilkan musisi-musisi lokal Bali. Di Kuta ada Twice Bar dan Hard Rock Cafe. Di Canggu terdapat Gimme Shelter, Sunny Cafe, Deus Ex Machina, Old Man’s, juga yang baru saja buka: Backyards. Setiap tempat yang disebut barusan semuanya amat terbuka dan nyaris tanpa birokrasi ribet kalau mau menggunakan tempat tersebut untuk, misalnya, pesta peluncuran album. Tinggal kontak dan cocokkan jadwal serta urusan penjualan tiket, bagaimana pola pembagian keuntungan. Gampang, ringan, lancar.

Konser musik di Rumah Sanur.

3. Intensitas Konser yang Frekuentif

Bisa dibilang selain di klub dan kafe yang membuat pertunjukan musik secara reguler, acara-acara konser lainnya (korporat, pensi, ulang tahun banjar, dll) hampir pasti ada di setiap akhir pekan. Entah di jantung kota Denpasar, di Sanur, Nusa Dua, Ubud, Kuta, di banyak penjuru di Bali. Ada terus. Sampai sering bingung memutuskan bagusnya pergi ke pertunjukan yang mana.

4. Fenomena Hijrah

Bejibunnya anak-anak muda yang hijrah di kantong-kantong kreatif macam Jakarta, Bandung, dan Jogja, membuat gairah bermusik di kota-kota tersebut terkesan agak menurun. Anak-anak mudanya lebih sibuk mengurusi agama. Malah, sebagian lagi, memusuhi musik, mencapnya haram. Ini sedikit “membantu” Bali mengisi kekosongan kreativitas di skena musik anak muda. Bali adem saja menjunjung tinggi rock and rolltanpa lupa pada kewajiban beragama/sisi kultural sebab sedari dulu telah terbiasa menjalankan dua hal tersebut secara beriringan. Pergi ke tempat ibadah jalan terus, aktivitas rock and roll pun berlangsung biasa. 

Nah, jika pulau sekecil Bali saja bisa lantang bersuara di belantika musik Indonesia, bagaimana dengan daerah kamu?

Selamat Tahun Baru 2019!

________

*Artikel yang saya tulis ini pertama kali tayang di situs web DCDC minggu lalu.

KETAHUAN LIP SYNC, ANJINC!

Photo: PopMatters.

Ada paling tidak dua sosok yang gemar lari dari tanggung jawab, memilih mencuci tangan, ketika diminta bersikap tegas, menolak menjawab lugas. Yang pertama orang Indonesia: Ebiet G Ade. Yang kedua duo berkebangsaan Jerman: Milli Vanilli.

Coba rangsek mas Ebiet. Mintai dia pendapat tentang sesuatu, responsnya pasti ngambang: tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Sementara Milli Vanilli malah menghindar seraya menyalahkan hujan: blame it on the rain.

Padahal yang pantas didakwa ya mereka sendiri, Fab Morvan dan Rob Pilatus, pasangan ganda Milli Vanilli.

Oh. Aduh. Pantas divonis bersalah? Kenapa?

Itu akibat “tindak kriminal” yang mereka lakukan. Milli Vanilli tertangkap basah menipu, berlagak bersenandung padahal hanya menggerak-gerakkan bibir menyesuaikan dengan lirik, pada 21 Juli 1989. Fab dan Rob sedang tampil live di acara MTV di Danau Compounce, Connecticut, Amerika Serikat. Saat membawakan tembang “Girl You Know It’s True” akal bulus itu terungkap. Entah pita kaset entah cakram digital yang digunakan, namun yang pasti di pertengahan ngadat, mengulang-ulang bagian “Girl you know it’s, girl you know it’s…”. Milli Vanilli berusaha tenang, terus “menyanyi” dan berdansa. Karena repetisi tak kunjung berhenti, Milli Vanilli jelas malu kolosal, langsung lari ke belakang panggung.

Downtown Julie Brown dari MTV meminta mereka kembali ke panggung. Tapi Milli Vanilli ogah menyanggupinya. Malah memutuskan menutup lembaran Milli Vanilli. “I quit,” kata Rob.

Ada lagi perbuatan tercela sejenis yang ke-gap publik.

Ashlee Simpson pada 2004 di acara tv SNL. Ia dan musisi pengiringnya berlagak hendak tampil live. Tapi ternyata operatornya agak grasa-grusu. Lagu yang dinyalakan salah, bukan yang hendak didendangkan Ashlee.

Whitney Housten di ajang Superbowl, 1991. Ia hanya menggerak-gerakkan bibir, tidak benar-benar bernyanyi. Almarhumah memang telah merekam suaranya sebelumnya. Barangkali ia mencoba menghindari kemungkinan buruk terjadinya kekeliruan teknis dalam acara semegah Superbowl.

Manuver bibir maju/mundur/manyun/monyong/memble yang seolah-olah menyanyi itu disebut dengan “lip synchronization” atau lebih populer dengan “lip sync” saja. Sinkronisasi bibir.

Tindakan lip sync ini merupakan hal yang lumrah terjadi di bisnis musik. Terutama dalam video klip serta konser musik di televisi. Atau film musikal seperti Bohemian Rhapsody. Sink bibir sengaja dipraktikkan kerap sebagai langkah antisipasi agar pertunjukan berjalan sempurna, sengkarut suara bisa ditekan minimal. Sebisanya hingga titik nol.

Nah, di sinilah mulai munculnya masalah. Sering kali pementasan musik di televisi mengundang debat panas antara produser acara dengan artis penampil. Sang produser meminta (baca: bersikeras) lip sync saja. Alasannya kuat: agar tayangan kesenian tanpa cela. Sementara para penampil merespons negatif (gestur: mendesis bengis atau mengaum setengah mengancam). Dalihnya solid: kami bukan boneka. Yang lebih idealis bakal bilang bahwa lip sync haram, menyalahi nilai dasar berkesenian.

Faktanya, banyak musisi yang mengalah dan mengangguk mengiyakan untuk lip sync. Rata-rata karena sudah pipis di celana duluan dengan institusi yang dihadapi seperti BBC yang mengharuskan praktik lip sync di salah satu acara paling terkenalnya, TOTP — Top of the Pops.

The Police, misalnya, rela bersandiwara menembangkan “Roxanne”. Simak videonya, gamblang terlacak Sting sekadar membuka mulut. Barangkali The Police lebih memprioritaskan gita tentang pelacur tersebut disimak jutaan orang—yang semoga berujung pada terdongkraknya ketenaran The Police—daripada sibuk saling cakar soal mereka boneka atau bukan.

Nirvana? Mereka setuju pada BBC – TOTP untuk minus one. Semua instrumen tidak dimainkan live, seluruhnya rekaman, kecuali vokal. Ya, seperti karaoke. Dan kebandelan Kurt Cobain & Rekan bukan isapan jempol belaka, lirik paling awal “Smells Like Teen Spirits” diubah menjadi “load up on drugs, kill your friends…”. Belum lagi polah Kurt mencoba menelan mikrofon, Kurt Novoselic jumpalitan memainkan bas yang jelas tak seirama dengan apa yang terdengar di speakers, pula Dave Grohl yang menggebuk drum lucu-lucuan. Saya yakin yang pipis di celana bukan Nirvana tapi BBC. Ha.

Lihat juga Travis di TOTP. Menjalankan minus one …dan nyaris menghentikan pertunjukan karena aksi saling tampol kue ke wajah masing-masing personel band.

Di film “Bohemian Rhapsody” terdapat juga adegan yang menyorot soal lip sync. BBC sedikit arogan memunculkan gestur semacam “kalian jangan main-main dengan media segigantik BBC”.

Bagaimana di negeri ini? Hampir sama sebangun, agak segendang sepenarian. Lip sync digemari produser acara, dinajisi (sebagian) pengisi acara. Bisa dibilang dominan acara-acara musik di televisi Indonesia di pagi hari mensyaratkan lip sync. Saat saya masih memanajeri Superman Is Dead, trio Pulau Dewata ini sangat jarang muncul di acara-acara musik televisi. Salah satu faktor utamanya adalah karena SID menolak beraksi lip sync. Sementara tayangan musik di televisi baik pagi mau pun petang di era itu, pertengahan 2000an, sedikit sekali yang bebas dari praktik lip sync. Ogah lip sync sama dengan minim kemunculan di televisi.

Tapi bukan SID saja yang ogah lip sync kala itu. Setahu saya Padi dan Slank pun menafikannya.

Paling mutakhir adalah ribut-ribut Via Vallen pura-pura berdendang di acara pembukaan Asian Games. Akibat serbuan blitzkrieg-frontal diare verbal dari netijen, mencak-mencak menuduhnya macam-macam, tidak profesional, merendahkan profesi biduan, bahkan dicap melecehkan bendera Tauhid (ini ngarang, biar sensasional saja). Mungkin karena Via doyan bukan tipe konfrontatif akhirnya ia meminta maaf. Tapi Wishnutama—petinggi acara, bukan bapaknya—tak setuju Via minta maaf. Menurut Wishnutama—Creative Director Opening Ceremony Asian Games, bukan ayah Via Vallen, ia memanggil ayahnya “papa” dan ke Wishnutama mungkin “om”—ada standar pertunjukan yang bisa terkorbankan jika nekat dipaksakan live. Berhubungan dengan sinyal dan bisa mengacaukan frekuensi jika terjadi apa-apa.

Saya sendiri tidak anti lip sync. Tergantung situasi. Kasuistis. Tapi saya bukan penyanyi. Anak band juga bukan. Tidak pantas, terlalu sok asik, sebaiknya bungkam, di isu ini. Mungkin Ellyas Pical punya pendapat mencerahkan soal lip sync? Silakan, bung. Monggo!

PROPAGANDA, MUSIK, DAN AKTIVISME

Rudolf Dethu adalah sosok di balik panggung dalam kesuksesan band-band asal Bali. Mulai dari Superman Is Dead sampai The Hydrant merasakan tangan dinginnya.

Ia tak genah memainkan instrumen musik, betapapun semesta irama adalah cinta sekaligus jalan hidup yang membesarkan namanya. Selera dan pengetahuan jadi senjatanya mengarungi blantika musik.

“Sejak akhir 1980-an, aku bergaul dengan anak-anak musik di Denpasar. Aku orang yang enggak bisa main musik, tapi sering diminta berpendapat tentang musik,” kata Rudolf Dethu, yang namanya dikenal sebagai eks manajer Superman Is Dead (SID)–trio punk rock asal Bali.

Pria ini kerap disebut sebagai propagandis musik. Propaganda Dethu–terutama lewat tulisan–adalah pintu gerbang yang mempertemukan skena (scene) musik Bali dengan pendengarnya.

Hal itulah yang membuat namanya berada satu level bersama para pesohor skena musik Bali, macam SID, Navicula, dan The Hydrant. Tiada berlebihan, sebab Dethu adalah figur di balik panggung dalam kisah sukses band-band di muka.

Belakangan, Dethu terlibat pula dalam dunia aktivisme. Ia berdiri di baris depan dalam puputan melawan reklamasi Teluk Benoa di Bali. Ia juga aktif mengampanyekan semangat kebinekaan dan antikorupsi.

“Aku lebih suka disebut storyteller (pencerita). Wendi Putranto (eks Rolling Stone Indonesia) orang pertama yang menyebutku propagandis,” ujar pemilik nama resmi Putu Wirata Wismaya itu.

Perbincangan kami berlangsung saat matahari Bali sedang panas-panasnya. Angin laut membawa aroma asin dari Pantai Sanur, yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat kami mengobrol: Rumah Sanur Creative Hub.

Tempat itu merupakan satu titik pertemuan para seniman, pelaku industri kreatif, dan aktivis di Bali. Di sana ada kedai kopi, restoran, panggung musik, toko konsep, dan ruang kerja bersama.

Siang itu (8/12/2017), Rumah Sanur sedang sibuk. Beberapa anak muda tengah menata panggung, mengatur instrumen musik, dan mengecek sistem pengeras suara.

“Kami dipercaya jadi tuan rumah Festival Anti Korupsi oleh KPK. Ini sedang persiapan buat acaranya, sore nanti,” kata Dethu, yang bertanggung jawab mengurusi perihal musik dan konten di Rumah Sanur.

Sebelum memulai percakapan, pria yang lahir 47 tahun silam itu memesan Gurita Bumbu Bali dan Jus Melon.

Hari itu, ia mengenakan setelan sepatu bot, celana jin, kemeja berwarna merah, plus suspender yang melingkar dari pinggang ke bahu. Sesekali, ia membenarkan letak topi fedora di kepalanya, seolah memastikan penampilannya senantiasa klimis.

Berewok dan kumis membuatnya terlihat sangar. Kesan itu hilang bila melihat senyum atau gelak yang kerap menutup perkataannya. Agaknya, gaya serta gestur Dethu adalah cerminan karakter skena musik Bali: sangar tanpa kehilangan keramahan dan kegembiraan.

“Street punk susah berkembang di Bali yang punya beach culture–dengan suasana kegembiraan dan santai. Musik yang pas rockabilly, californian punk, atau surf punk,” katanya.

Rudolf Dethu saat ditemui Beritagar.id di Rumah Sanur – Creative Hub, Sanur, Bali; Senin (8/12/2017) | Syafiudin Vifick / Beritagar.id

Menanam pengaruh dari kapal pesiar

Ketertarikan Dethu pada musik dimulai sejak dini. Kebetulan, orang tuanya bekerja di industri pariwisata dan kerap melawat. Billboard, majalah hiburan kenamaan asal Amerika Serikat, jadi buah tangan saban orang tuanya pulang lawatan.

Bacaan itulah yang memperkaya referensi musiknya. “Sejak SD, aku jadi semacam ensiklopedia di antara teman-temanku, terutama soal musik,” ujar Dethu.

Hal itu berlaku hingga dirinya berkuliah di Politeknik Pariwisata Udayana. Semasa kuliah, ia sempat pula membentuk band sebelum sadar kemampuannya dalam bermusik terbatas adanya.

Dethu menambal kelemahan itu dengan pengetahuan, yang memberinya tempat khusus dalam skena musik Bali. Ia juga mulai mengasah kemampuan menulis lewat catatan musik di koran lokal.

Lembar baru petualangan Dethu terbuka saat dirinya menjadi pramusaji di kapal pesiar milik perusahaan pelayaran asal AS.

“Saat itu, aku punya duit lebih dan bisa mengoleksi apa-apa yang kusuka. Rilisan musik jadi item koleksiku,” katanya. “Aku jadi sering membuat album kompilasi–semacam mixtape–dari lagu atau album yang kudengarkan. Kompilasi itu kukirim ke teman-teman di Bali.”

Kumpulan lagu itu menjadi kanal propaganda Dethu. Ia memuat tembang pilihannya dalam cakram padat (CD). Tiap lagu pilihan juga diberi catatan yang memuat sejarah atau sekadar alasan personalnya memilih tembang termaksud. Bila punya waktu luang, Dethu akan membuat sampul kompilasi yang digambarnya sendiri.

Ia mengenang masa-masa itu sambil tersenyum, “Tiap kompilasi kubikin dua hingga tiga kopi. Teman-teman di Bali menggandakannya. Akhirnya, di Bali–terutama Denpasar–orang-orang mendengarkan lagu yang sama.”

Pada 1998, Dethu turun kapal pesiar. Hanya sebulan dirinya menganggur, tawaran pekerjaan datang.

“Ada teman yang kerja di Radio Cassanova, Bali. Ia minta aku jadi penyiar dan bikin program sendiri. Padahal, aku enggak punya pengalaman broadcasting,” kata Dethu.

Dengan naluri seorang propagandis, Dethu tak menyiakan-nyiakan tawaran itu. Ia membuat program mingguan bertajuk “Alternative Airplay” di Radio Cassanova.

“Program itu membahas musik alternatif secara mendalam. Misalnya, pekan ini bikin edisi khusus punk rock, aku akan membahas sejarahnya, pengaruhnya di Indonesia, hingga mewawancarai band lokal,” ujar Dethu

Kelak, karena kepopuleran program itu, Radio Cassanova jadi titik kumpul bagi band-band di Bali.

Pekerjaan cuap-cuap lewat frekuensi dilakoninya selama 14 tahun (1998-2012), dengan tiga kali ganti pemancar: Radio Cassanova, The Beat Radio Plus, dan OZ Radio.

Salah satu program radio Dethu nan legendaris adalah “The Block Rockin’ Beats” (The Beat Radio Plus), yang menyajikan daftar putar–berikut catatan singkat–dari orang-orang pilihannya.

Nama-nama kesohor pernah memutar lagu dalam program itu, macam Andre Opa (eks Pemimpin Redaksi Trax), Adib Hidayat (eks Pemimpin Redaksi Rolling Stone Indonesia), Philip Vermonte (peneliti), Jimi Multhazam (The Upstairs), dan Kill The DJ (Jogja Hip Hop Foundation).

“Publik ingin tahu, musik macam apa yang membentuk orang-orang keren itu,” kata Dethu perihal program termaksud.

“Hal-hal yang kulakukan selalu personal. Musik membuat kita mengenal seseorang lebih intim.”

Rudolf Dethu saat memperkenalkan salah satu band binaannya, Leonardo & His Impeccable Six, dalam sebuah pentas di Rumah Sanur – Creative Hub, Bali; pada medio 2015 | Syafudin Vifick / Beritagar.id

Propagandis musik

Radio membuka jalan bagi Dethu untuk menekuni bisnis musik. Tawaran menjadi manajer band pertama kali datang dari SID, yang memang sering menyambangi tempat Dethu bekerja.

“JRX (penabuh drum SID) yang menawarkan pertama kali. Aku belum mengiyakan, tapi merasa terhormat karena suka dengan mereka,” kenang Dethu. “Waktu itu, aku sedang merintis clothing, Suicide Glam. JRX juga bantu kasih tempat untuk toko.”

Petualangannya bersama SID dimulai pada 2001. Itu adalah era awal penetrasi internet di Indonesia, yang ditandai demam milis–grup diskusi berbasis surel.

Lewat milis–terutama Yahoo Groups, Suicide Glam–Dethu melancarkan propaganda guna memperkenalkan band binaannya. Pun, ketika blog mengetren, Dethu menyalakan laman pribadinya sebagai kanal propaganda: RudolfDethu.com.

Gaya promosi Dethu tak lazim, misal menyematkan kalimat frasa “beer drinker” pada tiap personel SID atau menyebut mereka tak pandai bermain musik.

“Secara administrasi, aku enggak cukup baik. Aku bahkan enggak pernah bikin proposal untuk menawarkan band. Hal yang paling aku tahu adalah mempropagandakan sesuatu dengan sudut pandang berbeda,” katanya.

Puncak sukses SID terjadi saat merilis album mayor label pertama, Kuta Rock City (2003) lewat Sony Music Entertainment Indonesia.

Semula, kata Dethu, tawaran merilis album mayor label jadi kontroversi di internal SID dan skena punk rock. “Waktu itu ada semacam anggapan band punk rock enggak boleh rekaman dengan mayor label. Di sisi lain, SID merasa mentok di jalur indie, sejak 1995.”

Menurut Dethu, SID tak pernah meminta belas kasih mayor label. “Kami ‘ditawarkan’ bukan ‘menawarkan’, jadi lebih setara, penuh kebebasan.”

Perihal kesetaraan dan kebebasan itu, Dethu mengenang momen ketika SID berkukuh memasukkan 70 persen lagu berlirik Bahasa Inggris dalam album pertama mereka.

“Waktu itu, Pak Jan Djuhana (Artist and Repertoire Sony Music Entertainment Indonesia) telepon aku dan memastikan permintaan kami diterima. Itu jadi titik balik, kami menerima tawaran Sony.”

Sebagai manajer, Dethu pula yang mengawal eksponen grunge Bali, Navicula saat merilis album dengan Sony-BMG (Alkemis, 2004). Ia juga ikut menginisiasi kelahiran Suicidal Sinatra, band psychobilly pertama di Indonesia.

Pengujung 2007, ketika SID berstatus band punk rock nomor wahid Indonesia, Dethu malah mengambil rehat dari aktivitas manajemen band. Konon, ia mundur karena ingin fokus pada bisnis clothing, Suicide Glam.

“Ada juga rasa jenuh. Awalnya, aku nonton band dengan fun, tapi ada satu titik lihat konser malah stres,” katanya.

Ia baru kembali ke dunia manajemen artis pada 2015, dengan mengusung bendera Rudolf Dethu Showbiz. Saat ini, bendera bisnis termaksud membawahi tujuh artis–termasuk gerombolan rockabilly andalan Bali, The Hydrant.

“Sekarang, kalau bandku main, aku bisa minum dan ngobrol sama orang-orang. Aku bilang sama road manager, ‘Kalau Megawati wafat, atau Gus Dur hidup lagi, baru panggil aku. Kalau enggak gawat, jangan panggil.’ Aku merasa fun lagi.”

Rudolf Dethu dalam acara peluncuran buku biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! di Rumah Sanur – Creative Hub, Sanur, Bali; Agustus 2015 | Syafudin Vifick / Beritagar.id

Kelindan budaya pop dalam aktivisme

Nyaris satu dekade terakhir, Dethu menaruh minat dan tenaga ke dunia aktivisme.

Saat gelombang reformasi 1998 menerpa Indonesia, Dethu sebenarnya sudah tertarik pada isu-isu sosial politik dan sesekali terlibat dalam demonstrasi menuntut pergantian rezim.

Namun, ia baru aktif benar dalam dunia aktivisme antara 2007-2008, ketika terlibat gerakan menentang Undang-Undang Pornografi. “Aku merasa UU Pornografi mengancam budaya Nusantara. Aku mulai mengajak musisi terlibat memberi solidaritas,” katanya.

Perlawanan itu kandas. UU Pornografi disahkan. Namun, Dethu belajar banyak dari kegagalan.

Tatkala isu reklamasi Teluk Benoa berdengung, Dethu terlibat dalam Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI).

Gerakan sipil itu adalah garda depan aksi-aksi anti-reklamasi Teluk Benoa. Mereka menganggap reklamasi Teluk Benoa mengancam lingkungan dan kebudayaan di Pulau Dewata.

“Saat melawan UU Pornografi, musisi hanya bersolidaritas di atas panggung. Sekarang, di ForBALI, musisi ikut demonstrasi, diskusi, dan mengorganisir,” kata pria yang kebagian tugas mengurusi Divisi Media sosial di ForBALI itu.

Dethu memberi kredit khusus kepada I Wayan Suardana alias Gendo, Koordinator ForBALI. Ia menyebut Gendo sebagai tokoh yang bisa memimpin dan menyuntikkan kesadaran anak-anak muda Bali perihal isu-isu sosial, politik, dan lingkungan.

“Sekarang, kalau demo ForBALI, ada SID, Navicula, The Hydrant, Nosstress, dan seterusnya. Anak-anak muda ramai ikut demo. Mereka sering selfie, enggak masalah, yang penting melawan dan fun,” ujar Dethu beriring gelak.

Sejak medio 2016, Dethu menjadi Koordinator Aliansi Kebinekaan. Aliansi itu dibentuk 23 organisasi non-pemerintah. Mereka kerap membuat forum-forum berbasis kampus guna menangkal radikalisme dan mengampanyekan kebinekaan.

Dalam dunia aktivisme, Dethu senantiasa membawa unsur-unsur budaya populer. Baginya, budaya populer merupakan pintu masuk untuk mendekati anak-anak muda.

“Kita sering berprasangka bahwa anak muda tak tertarik dengan isu berat, seperti social justice. Padahal, kalau ambil contoh ForBALI, yang banyak terlibat justru anak muda. Itu karena kampanye kami menjangkau mereka,” katanya.

Pendidikan:

  • Fakultas Ilmu Komunikasi Politik – Universitas Terbuka (semester akhir)
  • Community Development Komisi Pemberantasan Korupsi – The Hague Academy, Den Haag, Belanda (2017)
  • Diploma Perpustakaan – Sydney Institute, Sydney, Australia (2012-2013)
  • Front Office Departement – BPLP Bali (1990-1992)
  • Departemen Pariwisata – Politeknik Udayana (1988-1990)

Karier:

  • Koordinator Forum MBB (Muda Berbuat Bertanggung Jawab) & Aliansi Kebinekaan (2015-sekarang)
  • Rudolf Dethu Showbiz, memanajeri The Hydrant, Leanna Rachel, Athron, Rebecca Reijman, Leonardo & His Impeccable Six, dan Negative Lovers (2015-sekarang)
  • Penulis biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! (2015)
  • Communication Specialist – IMACS/USAID, Jakarta (2014-2015)
  • Publisis – film dokumenter JALANAN, Jakarta (2014)
  • Kolumnis, The Beat (2007-2014)
  • Night fill – Woolworths Ltd, Sydney, Australia
  • Penyiar dan produser program musik alternatif – Radio Cassanova, The Beat Radio Plus, OZ Radio (1998-2012)
  • Marketing Director & Co-founder – Suicide Glam clothing (1999-2010)
  • Glampunkabilly Inferno Band Management, memanajeri SID, Navicula, Postmen; menginisiasi Suicidal Sinatra (2001-2008)
  • Personal Assistant to Head Designers – CV Kecak, Denpasar, Bali (2000-2002)
  • Dining Room Steward – Holland America Line (kapal pesiar), Seattle, Amerika Serikat (1993-1997)

________

Artikel di atas dipinjampakai dari Beritagar.id bertajuk Rudolf Dethu: Propaganda, Musik, dan Aktivisme.

MUSIK DAN PERGERAKAN BERSAMA RUDOLF DETHU

Bisa dibilang, melalui kata dan tulisan Rudolf Dethu, scene musik Bali kemudian didengar dan dibaca. Tak hanya oleh penduduk Indonesia, tetapi juga warga dunia. Belakangan, Dethu juga aktif dalam beberapa movement yang aktif dalam melawan ketidakadilan. Di sela-sela aktivitasnya, whiteboardjournal berbincang dengan Dethu mengenai musik, rockabilly dan pergerakan yang ia mulai melalui nada dan bahasa.

Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan aktivis Rudolf Dethu (R).

H: Mas Dethu aktif di berbagai aktivitas, tapi sepertinya musik merupakan salah satu katalis utama diantaranya, ada alasan tertentu?

R: Saya mengawali segalanya sebagai penikmat musik. Dulu saya sempat bekerja di kapal pesiar, mengikuti keluarga saya yang berprofesi di bidang pariwisata. Hampir lima tahun saya bekerja di kapal pesiar, ternyata saya tidak terlalu menikmatinya. Tapi di saat yang sama, saya mendapat banyak musik dari luar negeri yang saya suka. Saat itu saya mengumpulkan CD, dan vinyl dari kunjungan saya bersama kapal pesiar ini. Dari musik yang saya kumpulkan, saya lalu membuat materi siaran radio saya sendiri. Dan dari situ saya baru merasa bahwa musik adalah jiwa saya. Dari situ saya lantas mencoba lebih dalam dengan menjadi manajer band, dan berbagai aktivitas lainnya.

Sekian tahun mendalami musik, saya lalu sadar bahwa musik memiliki kekuatan besar yang bisa jadi inti pergerakan. Ketika kami menghadapi berbagai isu sosial dan alam yang harus dilawan, kami kemudian melihat bahwa musik bisa jadi salah satu corong suara. Akhirnya sampai sekarang kalau kami bikin movement, selalu ada divisi musik untuk menggalang massa. Karena musik adalah bahasa yang universal, bisa menembus segala macam segmen. Inilah kenapa musik selalu kuat posisinya dalam setiap pergerakan yang kami mulai. Tapi positifnya, band yang kami ajak dalam pergerakan tak hanya berperan melalui musiknya. Ketika harus turun ke jalan, mereka juga ikut disana. Jadi keterlibatan mereka nyata, bukan cuma tempelan.

H: Salah satu pencapaian besar dari Dethu adalah menjadi manajer dari Superman Is Dead. Membawa sebuah band yang relatif tak dikenal dari Bali menjadi salah satu yang terdepan di Indonesia, kenapa justru meninggalkan band ketika band sedang di puncak?

R: Saya sempat “meninggalkan musik”, dalam artian saya pernah dalam masa tak memegang band selama beberapa tahun. Ketika itu saya mulai merasa jenuh, karena setiap kali ada pentas untuk band yang saya manajeri, saya jatuhnya jadi selalu stress karena harus mempersiapkan berbagai hal. Saya merasa bahwa saya tak bisa lagi menikmati musik ketika ada panggung. Saya merasa bahwa kekuatan utama saya ada pada berbincang-bincang, menulis dan mengabarkan berita kepada semua, dan hal ini hilang ketika saya berperan sebagai manajer band.

Saya lantas memutuskan untuk berhenti jadi lalu berfokus pada usaha clothing yang saya miliki saat itu. Ketika itu saya juga ingin mendalami dunia tulis menulis. Maka jadilah satu buku biografi Superman Is Dead yang berjudul Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! itu. Selain itu saya juga sempat menulis buku yang berjudul Blantika Linimasa yang mendokumentasikan scene musik Bali.

H: Apa yang kemudian menjadi trigger untuk kembali menjadi manajer band sekarang ini?

R: Yang membuat saya kembali ke dunia music showbiz adalah Leonardo and His Impeccable Six. Saya sangat mencintai band itu. Baik di panggung, maupun di luar panggung. Leonardo Ringo adalah sahabat saya.

Suatu saat ia datang kepada saya dan meminta saya memanajeri mereka. Saya tak mungkin menolak permintaannya, karena saya sangat menggemari musik mereka. Tak lama setelah itu, The Hydrant menghubungi saya dan meminta hal yang sama. Yang saya pikir saat itu adalah sepertinya pas dua band ini, kuat secara attitude, slick tampilannya dan sama-sama klimis (tertawa).

Prinsip saya dalam menjadi manajer sangat sederhana sebenarnya. Saya tidak akan memanajeri band yang saya tidak suka musiknya. Sebesar apapun bandnya, kalau tidak suka, saya tidak akan mengambilnya. Toh ketika menjadi manajer saya juga tak pernah menggaungkan nama saya di atas nama band-nya. Posisi yang saya ambil cenderung lebih ke ghostwriter dalam menjadi manajer band. Band yang saya pegang juga semuanya memiliki kedekatan secara personal dengan saya pribadi, ini penting bagi saya. Karena saya sebenarnya tak memiliki strategi khusus dalam menjadi manajer. Saya tidak seprofesional itu. Kalau boleh jujur, I’m not very good at being a manager. Yang biasa saya lakukan adalah menceritakan band saya melalui foto dan cerita. Dengan dekat dengan setiap personelnya, maka cerita yang keluar natural adanya. Tidak dibuat-buat. Kalaupun ada gimmick dalam hal tulisan misalnya, yang harusnya pakai tanda seru satu, saya tambah jadi tiga (tertawa).

H: Bagaimana perjalanan Mas Dethu ketika itu dan bagaimana jika dibandingkan dengan kondisi sekarang?

R: Kalau dibandingkan, kondisi sekarang jelas lebih mudah. Teman-teman saya yang masih sama-sama berjuang ketika awal saya membangun jaringan dan skena di Bali, sekarang sudah menjadi tokoh di bidangnya masing-masing. Jadi ketika saya memiliki progam sekarang, mereka akan dengan senang hati ikut memberitakan, atau bahkan mengajak band saya ikut bermain di acara mereka. Jauh lebih mudah dibanding ketika dahulu.

H: Kalau pergulatan di scene bagaimana? Terutama mungkin ketika dahulu?

R: Pergulatan skena di jaman dahulu jelas lebih berat. Dulu itu ngeri banget. Terutama di skena punk rock-nya ya. Mereka bukan cuma memaki, tapi juga menggunakan kekerasan fisik. Di jaman awal SID, kami adalah band punk rock yang datang dari Bali untuk bersenang-senang, tapi ketika kami keluar dari Bali, ternyata keadaan yang ada sangat berbeda. Contohnya, kami biasa mengkonsumsi alkohol sebagai bagian dari rutinitas panggung, tapi ketika kami keluar, hal yang menurut kami sederhana, ternyata jadi masalah tersendiri (tertawa). Dan dari situ, banyak yang kemudian nge-judge kami dengan tuduhan imoral, miskin moral dan semacamnya. Bahwa kami berusaha menyebarkan budaya negatif. Padahal minum alkohol adalah hal yang sangat normal di Bali. Yang disayangkan adalah ketika ada yang tidak sepakat dengan kebiasaan kami, mereka menggunakan kekerasan fisik untuk melawannya. Untungnya SID itu mampu membuktikan bahwa meski mereka kena berbagai macam stigma, mereka mampu bertahan. Sekarang saya rasa keadaannya lebih mudah. Scene jaman sekarang lebih open-minded terhadap berbagai budaya yang ada.

H: Ada karakter yang cukup menonjol dari musik yang muncul dari Bali, terutama mungkin tampilan rockabilly yang kuat, darimana karakter ini muncul?

R: Sebenarnya mungkin karakter ini muncul secara tidak sengaja. Di banyak aspek, Jakarta adalah tempat pertama yang menerima budaya dari luar negeri. Termasuk dalam musik punk, jadi anak punk dengan spike pertama ada mungkin di Jakarta. Hal yang sama juga berlaku pada subkultur lain, semua sudah berkembang lebih dahulu di kota-kota besar. Sementara di Bali, ada satu tempat dimana kami masih bisa steal the show, yakni melalui punk rock ala Amerika dan rockabilly. Dan ini pas dengan kondisi kota Bali yang penuh kegembiraan dan suasana santainya. Budaya street-punk kurang laku di Bali, agak susah untuk jadi depresi di alam yang sejahtera seperti di Bali. Se-street punk apapun orang yang ada di Bali, kalau pulang ke rumah juga akan tunduk pada ibunya dan tidur di rumah, tak akan di jalanan juga. Rockabilly dalam hal ini pas untuk menggambarkan nuansa gembira dari Pulau Bali.

Tapi dari kondisi yang demikian juga ada dilema tersendiri. Awalnya ketika mengajak anak-anak ini untuk ikut bergerak, mereka kebanyakan tak mau. Mereka tidak biasa diajak protes, karena keadaan yang nyaman. Tapi pelan-pelan mereka akhirnya mau untuk ikut turun karena mereka melihat keadaan di sekitar mereka berbeda. Yang menarik adalah ketika anak-anak ini turun, pendekatan yang mereka gunakan juga asik. Dimana mereka turun ke jalan sembari menyanyi, dan bersenang-senang. Mereka memperjuangkan aspirasi dengan rasa gembira di dada. Tak pernah ada kerusuhan di dalamnya.

H: Dethu aktif dalam mengkampanyekan semangat keberagaman melalui musik. Bagaimana sejauh ini peran musik sebagai motor utama pergerakan?

R: Bagi saya, keberhasilan utama kami dalam berkampanye adalah mengumpulkan ribuan nama baru untuk bergabung dalam pergerakan dan turun ke jalan bersama. Musik sekali lagi menjadi alat bagi kami untuk mengundang orang untuk ikutan. Dalam beberapa kali aksi yang kami gelar, banyak orang bergabung hanya karena melihat ada personil Navicula, Dialog Dini Hari atau Superman Is Dead di situ, tanpa tahu isu apa sebenarnya yang kami angkat.

Kami memang menerapkan strategi dimana kami tidak pilih-pilih siapa orang yang bisa bergabung dengan kami. Kalaupun ada yang cuma ingin ikut keren-kerenan saja, kami akan menerima dengan tangan terbuka. Seiring waktu, mereka akan belajar bersama kami tentang masalah apa yang kami lawan bersama. Semangat inilah yang menjadi dasar tumbuh kembang pergerakan kami. Dengan ini pula, kami semakin percaya bahwa musik adalah senjata, ini mungkin terdengar klise, tapi kami merasakan sendiri buktinya. Kampanye kami selalu berjalan tanpa uang, atau modal tertentu, hidupnya mungkin hanya dari jual kaos, tapi musiklah yang membuat suara pergerakan kami lebih lantang untuk melawan penindasan dengan modal uang trilyunan.

Sekarang, kalau SID main, akan ada ratusan bahkan ribuan orang yang memakai kaos Bali Tolak Reklamasi. Dan ini terjadi bahkan di luar Bali, rasanya seperti ribuan orang tersebut tahu dan menghadapi masalah reklamasi bersama kami.

Semangat ini powerful sekali. Mereka juga sangat militan dalam mendukung dan menyuarakan kegelisahan kami. Tak hanya di musik punk rock, musik folk juga sama pergerakannya. Mungkin hampir sama dengan musik era 50 atau 60’an jaman dahulu dimana musik folk dan budaya hippies menjadi katalis perlawanan.

H: Belakangan, Mas Dethu cukup aktif dalam mengkampanyekan keberagaman. Apakah ini ada hubungannya dengan latar belakang Mas Dethu sebagai warga Bali yang lekat dengan bermacam budaya? Dan kenapa keberagaman penting bagi Mas Dethu?

R: Saya memiliki pengalaman yang tak mengenakkan dalam hal ini. Ketika menjadi manajer SID, salah satu tuduhan yang sering menghampiri kami adalah tuduhan bahwa kami adalah band rasis yang anti orang Jawa. Ini sebuah tuduhan omong kosong yang entah darimana datangnya. Ada yang bilang bahwa tembok latihan kami bertuliskan “Anti Jawa”, atau bahwa ada tato “Fuck Java” di tubuh personil SID, dan semua tuduhan tersebut bohong besar. Padahal pacarnya Bobby (gitaris/vokalis SID) orang Surabaya dan kru kami ada yang dari Tegal. Sayangnya, banyak orang yang percaya dan isu ini menjadi semakin besar. Karena meski isunya sangat dangkal, ternyata banyak anak muda yang terpengaruh dan dari situ timbul kebencian yang tak berdasar.

Ketika saya masih kesal dengan isu tadi, muncul lagi isu besar mengenai pornografi yang jelas-jelas mengoyak semangat pluralisme di Indonesia. Digerakkan hanya oleh sekelompok kecil orang yang anti keberagaman, tiba-tiba muncul undang-undang yang memojokkan orang Bali karena budaya kami akan terganggu dengan undang-undang itu. Trus ada lagi peraturan tentang pelarangan minuman beralkohol, ini semakin menunjukkan bahwa keberagaman sedang terancam di sini. Padahal, minuman beralkohol sebenarnya adalah bagian dari kebudayaan lokal – hampir semua daerah memiliki minuman alkohol khas masing-masing. Juga bahwa seharusnya negara tidak ikut campur pada keseharian orang-orangnya. Toh, minuman tersebut kami dapatkan secara legal, orang lain tidak memiliki hak untuk mengatur apa yang kami konsumsi. Sekarang ada kekerasan seksual dikaitkan dengan minuman beralkohol, ini omong kosong. Ini pandangan sempit yang cenderung menyederhanakan masalah. Yang salah orangnya, bukan minumannya.

Di Bali, yang saya lihat adalah kami adalah daerah yang menjunjung tinggi keberagaman, dan terbukti bahwa keberagaman berpengaruh pada perilaku masyarakatnya, Bali adalah salah satu tempat yang tingkat kriminalitasnya paling rendah.

Dari yang saya lihat, ketika paham keberagaman itu telah dipegang dan dihidupi pada sebauh masyarakat, maka jadinya masyarakatnya akan lebih ramah dan humanis. Ini terbukti pada peristiwa Bom Bali, ketika bom meledak, tak ada yang kemudian menjarah toko, merampas uang turis atau vandalisme lain. Kearifan seperti ini akan terganggu bila keberagaman diusik.

H: Bagaimana Dethu melihat intoleransi yang semakin meningkat beberapa tahun terakhir?

R: Saya jelas sedih. Hal ini menggerakkan saya bersama beberapa teman untuk keliling kampus dan menyurakan semangat toleransi pada mahasiswa sebagai representasi generasi muda. Dan yang membuat saya semakin sedih adalah ketika menjalankan itu, kami sering mendapat ancaman. Saya yakin bahwa intoleransi ini tumbuh karena generasi kita miskin ilmu pengetahuan, karena kalau mereka tahu, mereka harusnya semakin toleran terhadap budaya lain. Ini sangat berbahaya. Jadi meski capek, saya akan terus melawan gerakan intoleran. Di titik tertentu, gerakan seperti ini juga merupakan food for the soul bagi saya.

H: Beberapa tahun terakhir, kalangan di Bali cukup aktif dalam mengkampanyekan “Tolak Reklamasi Teluk Benoa”, apa sebenarnya masalah yang dihadapi dan bagaimana perkembangannya hingga sejauh ini?

R: Jadi begini, ada sedikitnya tiga masalah utama dalam proyek reklamasi Teluk Benoa. Satu adalah isu sosial dan lingkungan. Bali sudah memiliki ribuan kamar hotel yang surplus, jadi buat apa membuat hotel baru kalau yang ada sekarang saja masih sisa? Kalau alasannya untuk menampung tenaga kerja – ini alasan klise yang selalu dijadikan excuse dari pengembang, yang ada adalah orang-orang pun tak akan mau bekerja kalau nantinya hotel mereka sepi dan tak laku. Kalaupun nantinya kamar-kamar tersebut laku, maka Bali yang sekarang sudah macet, bisa semakin penuh lagi jalanannya. Kalau macet dan semakin penuh, apakah kita akan bisa menikmati hiburan alam di sana? Tentu tidak.

Yang kedua adalah masalah di Teluk Benoa sendiri. Teluk Benoa itu adalah muara dari 6-7 sungai besar di Bali. Jika nantinya di tengah Teluk Benoa akan diisi sebuah pulau buatan, maka pasti air sungai tersebut akan meluap ke daerah sekitar. Tak perlu jadi Einstein untuk tahu bahwa kalau nanti ada pulau baru di tengah Teluk Benoa, akan jadi banjir di sana. Ini logika sederhana saja. Kalau pengembang bisa dapat izin AMDAL, maka izin tersebut patut untuk dipertanyakan kebenarannya.

Belum lagi mengenai fungsi kawasan tersebut yang merupakan kawasan konservasi yang harus dilindungi. Sayangnya, beberapa bulan sebelum lengser dari jabatan presiden, Susilo Bambang Yudhoyono mengubah fungsi kawasan Teluk Benoa menjadi kawasan pariwisata yang memungkinkan area tersebut untuk direklamasi. Dan yang mencurigakan adalah izin dari SBY yang membuka izin bagi pengembang persis sesuai luas wilayah yang diinginkan oleh penggerak reklamasi.

Pihak pengembang juga selama ini berkata bahwa seolah-olah proyek ini dibuat demi “kemaslahatan” penduduk Bali. Kalau memang benar mereka membuat proyek ini untuk orang Bali, harusnya mereka melakukan pengembangan di luar daerah Selatan yang sudah overload. Padahal kalau mereka benar-benar setulus itu, ada daerah utara Bali yang lebih butuh pengembangan lebih lanjut. Ini menjadi bukti kesekian tentang tipu daya mereka.

Awalnya rakyat tidak tahu menahu, kami yang sedari awal curiga tentang motif dari proyek ini lantas semakin khawatir ketika kekuatan besar seperti mantan Presiden SBY ikut campur didalamnya. Ketika kami telusuri lebih jauh, hampir semua aparat pemerintah juga sudah dibeli oleh pengembang. Rakyat Bali disini jadi yatim piatu yang tak dipedulikan. Setelah kami giat mensosialisasikan, rakyat kemudian sadar bahwa pengembang tak memperhatikan mereka sama sekali, dan hanya memikirkan berkembangnya bisnis real estate mereka di proyek ini. Bahwa proyek reklamasi adalah murni bisnis real estate semata, tak ada urusannya dengan pengembangan masyarakat dan semacamnya.

Sekarang, rakyat sudah sangat marah. Jika dulu campaign kami masih bernama “Tolak Reklamasi Berkedok Revitalisasi Teluk Benoa”, sekarang ada tambahan “Puputan Teluk Benoa”, yang berarti bahwa rakyat Bali telah siap berperang untuk mempertahankan keberlangsungan hidup ekosistem Teluk Benoa. Ketika Presiden Jokowi akan mengunjungi Bali, oknum keamanan menyebar ke jalanan untuk mencopot poster, baliho atau atribut di jalanan yang dibuat sendiri oleh rakyat untuk menolak proyek reklamasi ini. Untungnya, rakyat tidak takut untuk mempertahankannya.

Terakhir, ada kabar dari orang dalam istana yang menyatakan bahwa proyek reklamasi akan tetap dijalankan. Saya lalu berkata beliau ini bahwa kalau istana memberi lampu hijau untuk proyek ini, maka istana juga harus siap melihat rakyat Bali berjuang hingga tetes darah terakhir untuk mencegah proyek ini berjalan. Ini bukan omong kosong, rakyat sudah siap mati untuk ini. Karena pergerakan rakyat ini juga bukan pergerakan yang instan, telah 4 tahun lebih kami berjuang dan ini bukan gerakan main-main.

Dan tampaknya, sebenarnya pengembang juga telah menyadari kekuatan yang kami miliki. Tapi entah kenapa mereka enggan menyerah. Hingga suatu ketika, pemimpin pengembang ini menggelar press conference dan memimpin sendiri sesi itu sembari menyatakan bahwa beliau telah mengeluarkan uang 1 trilyun untuk melancarkan jalan proyek ini, jadi kalau proyek ini dihentikan, orang-orang yang menerima uang 1 T dari saya juga harus dikuak. Kami lantas agak bertanya-tanya siapa saja yang telah menerima uang tersebut. Tapi di sisi lain kami juga merasa bahwa kalau si pemimpin ini sudah turun tangan sendiri untuk ngomong kepada publik tentang modusnya, ini berarti pergerakan yang kami mulai ada dampaknya. Setelah kami nonton bareng sesi press conference itu, saya bersama teman-teman bertepuk tangan, karena at some point itu pencapaian bagi kami (tertawa). Mungkin dalam hal ini kami kalah secara materi, tapi selama masih punya dukungan dari masyarakat dan KPK saya masih optimis. Kalau dulu kita bisa menurunkan Suharto dari kursi presiden, maka harusnya kita juga bisa menggagalkan usaha developer ini. Ini jadi semangat kami.

RD2

H: Apa visi dari gerakan MBB yang Mas Dethu inisiasi ini?

R: Belakangan saya aktif dalam membuat gerakan pluralisme yang saya namai Forum MBB − Muda, Berbuat dan Bertanggung jawab. Disitu saya berusaha untuk menyebarkan semangat keberagaman. Pergerakan ini merupakan perpanjangan dari movement yang saya mulai ketika kami melawan UU Pornografi di tahun 2008. Meski saat itu saya dan kawan-kawan gagal untuk melawan disahkannya UU Pornografi, ada pencapaian tersendiri disitu. Dari pergerakan saya tersebut, terbentuk jaringan yang berisi individu-individu yang mau bergerak untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Ini menjadi modal besar bagi saya ketika saya bergabung di gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa.

Awalnya saya sendirian di MBB ini, tapi sekarang saya bergerak bersama Arman Dhani untuk mengkampanyekan semangat pluralisme dan hak-hak sipil. Masih dengan metode dan semangat yang dulu saya pelajari di pegerakan yang telah lalu, saya ingin MBB bisa hidup dan berkembang sembari terus mengkampanyekan semangat pluralisme di Indonesia. Tetap dengan pendekatan pop yang kuat. MBB memiliki website dengan konten yang kuat, facebook page dengan jumlah like ribuan dan terus berkembang hingga sekarang dengan isi yang selalu berfokus pada movement dalam menolak ketidakadilan.

Awal dari MBB ini mungkin ada pada saat dimana saya berperang dengan eks vokalis Rocket Rockers yang dulunya merupakan rekan yang saya hormati di scene punk lokal. Ketika dia tiba-tiba berubah menjadi sosok yang anti keberagaman, saya lalu bertanya, kenapa dia bisa begitu, padahal dia anak punk yang harusnya semangat utamanya adalah liberation. Momen transisi yang drastis ini membuat saya bertanya-tanya, lantas ngapain dia selama ini jadi vokalis band punk, mending bikin lagu religi saja (tertawa). Tapi di satu sisi saya khawatir juga, karena semangat anti keberagaman ini mulai bergerak di area yang saya hidupi. Ini bibit-bibit anti pluralitas yang harus dibasmi, bayangkan, ada dari mereka yang bilang bahwa bersalaman dengan orang yang merayakan Natal itu haram, ini kan absurd. Saya lantas memutuskan untuk melawan. Karena mereka yang anti pluralitas ini lebih militan dan aktif dari kita, maka kita juga harus memulai pergerakan.

Program yang kami persiapkan adalah menyebarkan semangat toleransi, tentang alkohol dan hak publik. Saya sedang membuat proposal tentang acara mengenai kekerasan seksual, di dalamnya kami juga akan mengajarkan mengenai fenomena ini. Aksi ini juga merupakan respon pada pemerintah yang dengan sembrononya mengkambinghitamkan minuman beralkohol sebagai tersangka utama dalam kekerasan seksual ini. Padahal ini juga ada hubungannya dengan ketidakbecusan pemerintah dalam masalah edukasi seksual. Dengan hanya mengkambinghitamkan minuman beralkohol, ini bukan tindakan yang menyelesaikan masalah.

H: Selama ini masyarakat umum hanya mengenal Bali dengan pantai, Kuta, tari Kecak atau baju Bali. Jatuhnya cenderung jadi eksotisme saja. Sebagai salah satu representasi Bali, mungkin bisa diceritakan tentang apa yang sedang terjadi di kultur kreatif di sana?

R: Pantai, hingga Tari Kecak mungkin masih menjadi jualan utamanya. Tapi di scene anak muda, mereka sudah memiliki cara tersendiri dalam berkarya. Masyarakat Bali cukup terbuka dengan budaya urban, dan ini mereka kombinasikan dengan budaya yang ada disana. Seperti tempat yang saya kelola misalnya, Rumah Sanur secara arsitektur menggabungkan budaya Bali dengan gaya urban. Eksotisme masih ada, namun budaya urban juga berkembang di sana, anak muda Bali sudah paham bahwa kalau kami tetap tak berkembang, hasilnya akan membosankan juga, jadi mereka membuat bentuk karya baru yang berbeda dengan apa yang orang tua mereka lakukan dahulu.

H: Bagaimana Mas Dethu melihat pola yang demikian, karena bisa jadi dengan kebudayaan lokal yang semakin tersisihkan, anak-anak mudanya akan lupa dan kehilangan identitas kebudayaannya?

R: Kalau saya pribadi melihat bahwa langkah anak-anak muda Bali yang menggabungkan budaya lokal dengan gaya urban adalah hal yang tepat untuk dikembangkan sekarang ini. Saya rasa, budaya lokal Bali tak akan hilang, karena budaya kami dicintai oleh banyak orang dan selalu ada yang menjaganya. Para millenial ini harus dibiarkan untuk berkreasi, biar ada kebudayaan Bali jadi lebih ekletik. Ini hal yang positif yang harus dikembangkan.

H: Apa rencana Dethu di masa yang akan datang? Ada proyek tertentu mungkin?

R: Untuk proyek pribadi, saya ingin mengembangkan Rudolf Dethu Showbiz yang akan menjadi tempat bagi band atau musisi lokal yang memiliki semangat untuk menampilkan musik yang membawa kebahagiaan, dan berkualitas. Di luar itu, saya ingin membesarkan MBB. Dua proyek ini ingin saya kembangkan bersama, jadi dengan berkembangnya showbiz, saya bisa meningkatkan appeal MBB juga. Inginnya Rudolf Dethu Showbiz bisa jadi industry of cool yang mengingatkan bahwa rock ‘n’ roll bisa juga menjadi agen perubahan.

Artikel ini saya pinjampakai dari Whiteboard Journal

A Place to Bury Strangers: New Video ‘We’ve Come So Far’

I’ve discovered this shoegazin’ noise rockers not that long ago. First song I heard was “Onwards to the Wall”. From that point on, I started digging deeper. I’m now a huge fan. Below is the latest update about this New York City-based group, taken from spin.com.

All good things must come to an end. This even includes sweaty DIY venue Death By Audio, a Brooklyn indie landmark. But before A Place to Bury Strangers said their last goodbyes to the familial ground — literally the place where lead singer Oliver Ackermann lived — the trio decided to film their music video for new single “We’ve Come So Far” at the space. The clip begins with lead vocalist and DBA founder Ackermann wading through the crowded venue, being acknowledged by fans and colleagues alike. Strobes and shadows fill the space while the camera follows Ackermann as he embarks on stage. Director Matt Conboy creates an experience that allows the viewer to be a part of DIY history and simultaneously showcases fans having the time of their life.

Director Matt Conboy shares his intial vision of the film: “I wanted to make a video that gave the viewer the visceral experience of seeing the band. The fact that we were losing our home, that it was the last show and APTBS were playing seemed like too good of an opportunity to turn down. We filmed their set and I felt like we were able to capture the spirit of that moment: this weird, dark form of celebration and catharsis. By the end of the night I think everybody felt like they really got something out of their system.”

APTBS’s fourth album Transfixiation is available today.

_____________

Featured photo belongs to heretoday.dk