Tag Archives: ESAI

Catatan Mingguan Men Coblong: Lokomotif

Nadiem Makarim. Foto Antara.

Menarik juga nama kabinet Presiden saat ini, “Kabinet Indonesia Maju”.

MEN COBLONG senang sekali jika anak-anak muda bangsa ini yang nyata-nyata sudah mampu memberi wujud nyata dan mampu menerjemahkn hasil kerjanya untuk bangsa dan negara ini masuk di dalam kabinet.

Susunan kabinet ini berasal dari kalangan profesional, usulan partai politik pengusung pasangan Jokowi-Amin pada Pilpres 2019 yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja ditambah Partai Gerindra yang bergabung setelahnya, serta tim sukses pasangan Jokowi-Amin pada Pilpres 2019.

Susunan kabinet diumumkan oleh Presiden Jokowi pada 23 Oktober 2019 dan resmi dilantik pada hari yang sama. Presiden Jokowi dan Wapres Ma’ruf Amin membacakan susunan kabinetnya di pelataran tangga Istana Negara. Dalam kesempatan itu, Jokowi menghadirkan para menterinya yang mengenakan kemeja batik. Kabinet Indonesia Maju terdiri dari 4 menteri koordinator dan 30 menteri.

Melihat kondisi para menteri yang rata-rata memiliki pemikiran untuk memajukan Indonesia memang membuat hati dan perasaan Men Coblong bungah. Maklum sebagai seorang ibu dari seorang anak lelaki Men Coblong tentu memiliki harapan yang besar pada kabinet ini. Selain namanya yang bagi Men Coblong seperti fakta yang sesungguhnya, Indonesia Maju.

“Memangnya selama ini Indonesia belum maju?” Suatu hari sahabat Men Coblong bertanya dengan pandangan serius ke arah mata Men Coblong.

Pertanyaan yang sangat mengusik. Sudahkah Indonesia maju?

“Menurutku belum!” jawab sahabat Men Coblong yang lain.

“Ya, aku pikir Indonesia belum maju, karena negara yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi ini selalu memiliki problem dengan kondisi pangannya. Harga beras yang tidak stabil. Kebutuhan pokok juga belum tertata dengan baik. Bawang putih bisa raib di pasar. Memangnya kita tidak memiliki petani? Padahal sudah ada menteri yang mengurus pertanian. Sayangnya dari tahun ke tahun, problemnya tetap sama. Masih ingat ketika cabe juga harganya menggila?” tanya sahabat Men Coblong serius.

“Aku setuju dengan nama kabinet Indonesia Maju, kita ini kan orang Indonesia. Jika memberi nama anak kita menitipkan berlembar-lembar doa untuk anak kita. Jadi menurutku nama itu sangat kekinian. Aslinya Indonesia memang belum maju,” jawab sahabat yang satu lagi dan menatap mata Men Coblong serius.

Sudahkah Indonesia maju?

Men Coblong setuju juga dengan pikiran-pikiran sahabat-sahabatnya. Perempuan-perempuan yang rajin berkumpul di sebuah cafe kecil untuk mendiskusikan segala sesuatu yang sedang hangat dan jadi beban di seluruh pundak Men Coblong sebagai Ibu.

Semakin desawa anak semata wayang Men Coblong semakin banyak beban menggelayut di sulur-sulur otaknya. Kadang-kadang beban itu melaburi seluruh tulang-tulang di dalam tubuhnya, menimbulkan efek nyeri dan tidak nyaman.

Memang Men Coblong sering dinasehati teman-temannya, karena Men Coblong selalu menganggap seluruh hidupnya itu serius. Setelah melangkah ke tangga nomer seratus, harus dipikirkan juga trik untuk melangkah ke tangga nomer seratus satu.

Begitulah Men Coblong menjalani hidup. Bagi orang mungkin sangat serius, bagi Men Coblong, tidak. Karena hidup itu harus ditata, harus disusun, juga diukur skala prioritasnya.

Men Coblong tidak suka dengan istilah, biarkan saja hidup itu mengalir. Bagaimana mau mengalir kalau kita tidak memiliki mimpi untuk meraih hidup yang lebih baik. Bagaimana mau mengalir kalau kita kerjanya hanya duduk-duduk manis dan ngobrol dari pagi sampai malam membicarakan masa depan hanya dengan berdiskusi. Tanpa pernah menemukan jalan keluar, juga tidak menemukan cara eksekusi yang tepat.

Bagaimana bisa hidup seperti air mengalir? Kadang-kadang Men Coblong juga melihat air mengalir itu tidak tenang karena ada sampah yang menghambatnya. Atau racun dari pabrik yang mencemari air.

Hidup orang satu berbeda dengan orang yang lain, karena bagi Men Coblong kabinet Indonesia Maju ini benar-benar semacam doa. Apalagi ada anak-anak muda yang dipercaya untuk mengelola dunia pendidikan, Nadiem Makarim. Men Coblong sangat percaya kelak anak-anak mudalah yang akan menentukan kemana sesungguhnya arah Indonesia. Ibarat angin di tangan anak-anak muda inilah Indonesia memutar takdir dan nasibnya.

Kenapa masih saja ada orang-orang tua yang bergenit-genit ria, kerja belum dilaksanakan sudah bermanuver politik. Katanya anak mudalah api bagi kelanjutan masa depan Indonesia. Kenapa masih ada-ada saja orang-orang tua yang lapar kekuasaan dan haus diperhatikan. Kenapa tidak sabar untuk menunggu sekian bulan untuk melihat kerja kabinet Indonesia maju ini.

Anak-anak muda itulah harapan Men Coblong, kelak menjadi lokomotif yang bisa membangun Inonesia, seperti sebuah nama Indonesia Maju. Di tengah gempuran persaingan dan beban berat yang ditinggalkan orang-orang tua itu harusnya sabar sedikit saja dan membiarkan anak-anak muda ini menciptakan dunianya. Dunia dengan cara-cara yang mereka ciptakan sendiri.

Biarkan Nadiem bekerja, karena tidak mudah mengelola dunia pendidikan di Indonesia. Waktunya para tetua itu ihklas membuka jalan lebar untuk anak muda, mulailah berkaca di dalam cermin jiwa sendiri seperti apa sesungguhnya jejak yang telah mereka tinggalkan.

“Cocok namanya kabinet Indonesia maju. Kita memang belum maju.” Sahut sahabat Men Coblong lagi sambil tertawa. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Lokomotif appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Panggung

Pelantikan Kabinet Indonesia Maju. Foto Setkab.

MEN COBLONG lega melihat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden berjalan lancar.

Semua terlihat riang. Semua terlihat lapang dada. Men Coblong tidak ingin berpikiran buruk mencoba membaca bahasa tubuh para petinggi negeri yang ikut merayakan pesta pelantikan pemimpin negeri ini. Sebab, dari layar TV terpapar jelas aroma persahabatan.

Soal tulus dan tidak, Men Coblong tidak ingin ambil pusing. Sudah terlalu lelah Men Coblong berseteru dengan teman-teman SD, SMP, SMA dan teman kuliah.

Aneh sekali. Yang bertarung Jokowi dan Prabowo, tetapi yang babak belur justru pertemanan, persahabatan, persaudaraan. Bahkan masa-masa panas itu masih terasa hawanya sampai saat ini.

Syukurlah tahap pelantikan adem, karena cuaca sudah terlalu panas. Apa salahnya para pemimpin juga tidak ikut menambah panas negeri dengan tingkah dan polahnya. Agaknya sebagai presiden Jokowi paham sesekali rakyat juga perlu dihibur.

Pagi-pagi Men Coblong sudah bersiap melirik pesawat TV sambil menyiapkan menu makan pagi. Wah, lucu sekali para calon menteri itu berdatangan satu persatu. Semua rata-rata berpakaian seragam, bawah hitam, atas putih. Wajah mereka juga rata-rata semringah tidak ada yang merengut.

Yang tampil agak beda justru Prabowo Subianto dan Eddy Prabowo. Mereka berdua mengenakan celana krim. Men Coblong sedikit terganggu juga, tapi sekali lagi harus berpikiran positif. Karena toh dua tokoh yang dulu berseberangan sangat keras itu mau juga masuk ke dalam kubu pemenang. Lega rasanya setelah keluar dua tokoh Gerindra itu juga tersenyum manis.

Panggung-panggung itu bagi Men Coblong memang pertunjukan sangat manis. Syukurlah mereka mau juga menjadi pembantu presiden. Karena kalau dicermati Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Negara menegaskan, menteri bertugas membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Menteri harus dipastikan membantu Presiden bukan membebani.

Men Coblong sangat berharap terutama bagi menteri-menteri yang dari partai politik sadar, bahwa panggung yang dipertontonkan dengan sangat baik dan menghibur bagi rakyat adalah pangggung para pembantu presiden.

Hal sama juga berlalu bagi wakil menteri. Bahkan Presiden duduk di tangga depan Istana Merdeka. “Saya kira memang duduk itu memfilosofikan rendah hati, merakyat, tetapi tetap harus bekerja keras karena diumumkan dalam kondisi yang panas luar biasa. Bisa saja dikenalkan di dalam ruangan yang ber-AC sejuk, tapi kita ingin keterbukaan sehingga di tempat terbuka,” tutur Jokowi rileks.

Panggung para pembantu itu akhirnya selesai. Sekarang rakyat tinggal menunggu, apakah para pembantu presiden itu bisa bekerja.

Hawa pelantikan masih meninggalkan aroma. Beberapa tokoh politik sudah grasa-grusu membuat beragam pernyataan dengan kalimat seperti biasa, berputar-putar. Padahal intinya tidak puas karena jagoan mereka tidak mendapat tempat sesuai tempat yang diinginkan.

Men Coblong menarik napas ketika teringat Presiden mengungkap dapur di balik seleksi menteri-wakil menteri Kabinet Indonesia Maju. Beliau menerima lebih dari 300 nama calon.

“Dalam seminggu ini, saya dan Pak Wakil Presiden sibuk membentuk kabinet mengangkat menteri dan wakil menteri. Pekerjaan yang sangat berat. Ini pekerjaan yang sangat berat,” kata Presiden di Jakarta, Sabtu (26/10/2019).

Presiden pun mengaku dalam penyusunan kabinet, sudah mempertimbangkan dari segala arah. Mulai dari suku, agama, hingga parpol juga menentukan kalangan profesional. Nama yang masuk lebih dari 300 orang, padahal jumlah menterinya hanya 34,” katanya. Men Coblong terbelalak. Dan paham berat menyusun kabinet yang harus beragam karena memang Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika.

“Oleh sebab itu, saya sadar mungkin yang senang atau yang gembira karena terwakili dalam kabinet itu hanya 34 orang yang dilantik. Yang kecewa berarti berarti lebih dari 266 orang pasti kecewa. Artinya, yang kecewa pasti lebih banyak dari yang senang dan mungkin juga sebagian dari yang hadir ada yang kecewa. Jadi saya mohon maaf tidak bisa mengakomodir semuanya karena ruangnya hanya 34,” lanjutnya.

Men Coblong hanya bisa menarik napas. Semoga riak-riak ketidakpuasan itu tidak lagi menjadi bahan perseteruan yang menguras energi.

Senin besok, 28 Oktober rakyat Indonesia merayakan hari besar dalam hidup berbangsa, Sumpah Pemuda. Inilah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap “perkumpulan kebangsaan Indonesia” dan agar “disiarkan dalam berbagai surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan”.

Pada 28 Oktober tahun 1928 itu para pemuda dari berbagai suku dan daerah di Indonesia mengikrarkan sumpah yang baru. Pertama, Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua, kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga, kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Jadi berhentilah ribut. Mari bekerja membuat membangun Indonesia agar maju. Panggung sudah disediakan rakyat, ayo mainkan pementasan baik yang mampu membuat rakyat bahagia. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Panggung appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Indonesia

MEN COBLONG akhirnya memiliki waktu berkumpul dengan keluarga.

Formasinya lengkap: ibu, bapak, dan anak. Khusus untuk satu hari rasanya perlu juga sesekali berkumpul dengan keluarga. Menikmati hari-hari, karena kantong pas-pasan apa salahnya.

Sesekali bolehlah menjadi turis domestik di negeri sendiri. Tepatnya orang yang tinggal di Bali sesekali menikmati wisata yang disodorkan pariwisata Bali.

“Kita tidak kelihatan, kok, seperti orang yang tinggal di Bali?” kata anak lelaki semata wayang Men Coblong serius. Men Coblong tersenyum.

“Waktu beli makanan siap saji dan mengantre, ada cewek cantik bertanya padaku, sedang berlibur ya? Aku mengangguk saja,” lanjut anak lelaki Men Coblong sambil menggelar makanannya di karpet hotel di kawasan Sanur.

“Sesekali piknik gratisan begini enak juga ya. Minimal kita bisa menikmati Bali. Memang enak jadi turis, bayarnya yang tidak enak.” Anak lelaki Men coblong berkata sambil mengernyitkan alis kepada Men Coblong.

Men Coblong terdiam sambil menikmati suasana kamar hotel setinggi sembilan lantai itu. Kebetulan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menggelar Seminar Internasional Sastra Indonesia 2019 di Bali. Temanya Sastra, Lingkungan, dan Kita (Words, Earth, and Us). Acara yang juga berbahasa Inggris Bali International Literary Symposium 2019) itu berlangsung pada 10 – 13 Oktober 2019.

Men Coblong pun bisa sedikit bermewah-mewah. Menikmati fasilitas yang diberikan pemerintah Bali. Menginap di hotel, makan pagi, makan siang, dan makan malam berkumpul dengan para seniman-seniman hebat dari Bali juga pemerhati bahasa Indonesia dari Australia Prof. Pam Allen dan pecinta bahasa Indonesia dari Korea Prof. Koh Young Hun.

Acara seminar itu terasa guyub. Men Coblong merasa senang berada di tengah teman-teman di Bali yang selama ini makin dikenalnya lewat status-status mereka di media sosial. Status-status yang membuat Men Coblong merasa untuk bermain dan berjuang di wilayah literasi memang harus banyak belajar. Belajar apa saja untuk memperkaya karya-karya yang diciptakan.

Men Coblong takjub dan menjadi pendengar yang baik. Karena, jujur saja sebagai penulis yang masih perlu belajar banyak modal, Men Coblong hanya mendengarkan. Karena menyimak untuk masa-masa kini adalah persoalan yang rumit. Orang lebih banyak bicara. Jika sudah banyak orang bicara apa salahnya Men Coblong menjadi pendengar.

Yang membuat Men Coblong terharu bagaimana para profesor-profesor dalam diskusi itu benar-benar memperjuangkan agar bahasa Indonesia bisa dikenal lebih luas lagi. Lalu bagaimana faktanya?

Kadang-kadang Men Coblong berada di Indonesia juga merasa bukan berada di Indonesia. Karena semua hal, terutama di Bali ini “dijual”, sehingga kebutuhan turis yang dinomorsatukan dibanding kebutuhan penduduk lokalnya. Bahkan kadang-kadang suami Men Coblong tersenyum geli melihat Baliho besar-besar dipasang dalam bahasa Inggris yang menurut suami Men Coblong yang sedikit khatam bahasa Inggris maklum magister jurusan Sastra Inggris.

“Banyak bahasa yang terpajang di baliho itu ada kok padanannya dalam bahasa Indonesia,” sahut suami Men Coblong, “kenapa harus pakai bahasa Inggris sih?”

Bukan hanya di tempat umum, bahkan di dunia literasi juga terjadi hal-hal ajaib. Editor baru buku Men Coblong saat ini adalah seorang perempuan muda, tamatan universitas ternama. Ketika penerbit menawarkan editor baru untuk Men Coblong, Men Coblong sempat menolak, dan memilih editor sendiri dengan risiko harus mengeluarkan uang sendiri.

Men Coblong ragu dengan editor baru yang ditawarkan penerbit bukunya. Karena sebagai perempuan yang sudah berumur Men Coblong merasa sulit sekali berkomunikasi dengan anak-anak muda. Men Coblong merasa kadang-kadang anak-anak muda itu memiliki inovasi-inovasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi Men Coblong.

Maklum jika urusan editor buku, Men Coblong memiliki komitmen yang tidak bisa diganggu gugat. Bahasa harus rapi dan mudah dipahami. Itulah kesetiaan Men Coblong pada bahasa Indonesia.

Membuat sebuah buku itu perlu perjuangan panjang. Sebagai penulis perempuan di Indonesia, Men Coblong harus pandai-pandai mengelabui waktu, agar waktu 24 jam bisa terisi dengan semaksimal mungkin. Keluarga pun tidak morat-marit. Karena sebagai buruh pers, ibu, dan istri Men Coblong memiliki tanggungjawab domestik dan sosial yang tinggi. Semua harus beres, semua harus lancar.

“Editor baru ini bagus, Mbak. Minimal bisa regenerasi untuk masa depan,” itu kata-kata editor senior.

Men Coblong mengakui bahwa generasinya kadang-kadang memang agak sulit berbaur dengan anak muda. Padahal anak-anak muda tidak semuanya memiliki gaya hidup semaunya tanpa memimirkan masa depan.

Mau contoh? Demo yang dilakukan kalangan mahasiswa beberapa waktu lalu itu menunjukkan, betapa para anak muda itu peduli pada negara. Bahkan mereka sedang mempersiapkan unjuk rasa lanjutan jika tuntutan utama mereka ke Presiden Joko Widodo, yaitu penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi atau Perppu KPK tidak dilaksanakan. 

Ini menunjukkan generasi muda tidak hanya bisanya main games dan hura-hura. Mereka sudah sadar berpolitik dan benci dengan beragam gaya koruptor. Dengan melihat ketulusan dan gaya mahasiswa berdemo itu pun Men Coblong sadar, alangkah pentingnya komunikasi dilakukan dengan baik tanpa ada sekat yang satu lebih tinggi dari yang lain.

Dan yang membuat Men Coblong makin jatuh hati pada editor barunya yang baru saja menyelesaikan gelar S1nya adalah, “Saya heran banyak sekali penulis muda menggunakan bahasa Inggris untuk judul buku mereka. Padahal, ketika saya tanya apa mereka membuat buku berbahasa Inggris? Jawaban mereka, mereka menulis bahasa Indonesia juga untuk publik Indonesia. Ketika judul mau saya ganti bahasa Indonesia. Mereka tidak terima. Bahkan, mengatakan saya tidak tahu gaya, bahasa dan selera anak muda. Pemikiran yang aneh.”

Begitu gerutu editor Men Coblong yang rendah hati. Selain masih muda, lulus dengan nilai memuaskan, editor itu pun menguasai dua bahasa asing.

Lalu kalau bukan kita yang mencintai bahasa Indonesia, siapa lagi yang harus merawat dan mencintai bahasa? Masih malu menggunakan bahasa Indonesia? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Indonesia appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas

Pengguna lalulintas di Kerobokan, Bali menerobos trotoar merampas hak pejalan kaki. Foto Anton Muhajir.

MEN COBLONG selalu harus fokus berlebihan jika memasuki tikungan menuju rumah.

Tikungan yang harusnya bisa dilalui ketika penghuni perumahan hendak masuk ke perumahan. Sayangnya hampir seluruh penghuni memilih jalan tikungan itu untuk keluar perumahan. Jadi seolah-olah tikungan bisa dilalui untuk dua arah.

Rambu-rambu sudah dipasang. Berkali-kali diubah dari gambar tikungan dengan tanpa silang yang kecil. Sampai hari ini rambu dipasang juga bergambar tikungan yang disilang, berisi penjelasan dengan huruf besar-besar dilarang belok. Bahkan ada tambahan rambu arah menuju keluar yang juga besar.

Hanya seminggu Men Coblong bisa merasa sedikit sejahtera warga perumahan tidak melalui tikungan masuk perumahan untuk keluar. Selanjutnya beragam rambu yang dipasang itu pun jadi tidak memiliki arti lagi.

Bahkan adik perempuan Men Coblong pun ikut berkata dengan wajah sedikit nelangsa.

“Berapa liter sih bensin harus habis jika kita tertib dan tidak menganggu orang lain. Apa mereka tidak bisa membaca?” katanya.

“Aku paling sebal melihat motor-motor seenaknya naik di trotoar jika kondisi jalan macet. Bayangin, bagaimana trotoar bisa menanggung berat motor? Trotoar dibuat kan untuk pejalan kaki. Makanya sekarang banyak trotoar yang bolong-bolong. Hancur,” dia terus nyerocos.

“Kenapa orang-orang senang sekali melakukan hal-hal seperti itu, ya? Apa mereka merasa hebat? Aku nggak pernah bisa mengerti jalan pikiran mereka?”

Belum selesai kalimat adik Men Coblong, mobil Men Coblong berhadapan dengan sebuah sepeda motor berisi seorang bapak dengan dua orang anak balita. Satu di depan, satu di belakang. Men Coblong pun menginjak rem mendadak, sehingga membuat bamper Men Coblong pun ditabrak motor dari belakang.

Serunya lagi motor itu pun langsung meliuk-liuk. Hilang di tengah kemacetan. Sementara Bapak yang salah jalan itu hanya senyum-senyum simpul dan menganggung-angguk tanpa ada rasa bersalah langsung kabur juga. Men Coblong terdiam.

“Hyang Jagat!” Adik Men Coblong hanya bisa berkata seperti itu sambil membelalakkan mata.

Bagi Men Coblong, bapak dan dua anak balita pengendara motor itu tidak jatuh, sudah bersyukur. Bayangkan kalau mereka jatuh. Yang disalahkan pasti si Pemilik Mobil. Bayangkan dengan dua anak TK di atas motor.

Semua memang ingin cepat sampai. Semua orang juga benci kelambatan termasuk Men Coblong. Membawa mobil di jalan-jalan kota di Denpasar memang menggelisahkan. Tidak nyaman. Kita bisa berlama-lama berada di dalam mobil. Bagi Men Coblong itu tidak menyenangkan. Itu merepotkan. Itu membuat stres!

“Naik mobil kan enak, tidak kepanasan. Macet nggak masalah,” suatu hari teman Men Coblong berkata dengan ringan pada Men Coblong. Men Coblong terdiam. Percuma juga membantah atau beragumentasi dengan teman satu itu. Selain teman itu tidak punya mobil, dia juga tidak bisa menyetir. Jadi tidak tahu “cuaca” lalu lintas di kota Denpasar yang selalu bikin naik darah.

“Mungkinkah Denpasar memiliki transportasi publik seperti di Seoul?” tanya sahabat Men Coblong, seorang guru besar di sebuh universitas ternama di Seoul, Korea Selatan.

Men Coblong terdiam, ketika diundang seminar di kota Seoul, Men Coblong memang merasakan betapa kota kosmopolit itu benar-benar memiliki transportasi publik rapi. Bahkan anak-anak muda dengan dandanan bak majalah-majalah mode berjalan dengan santai menaiki bus-bus di seputar kota Seoul.

Men Coblong hanya bisa mengkhayal. Andaikata di jalan Tangkuban Perahu Denpasar ada bus nyaman, tentu Men Coblong memilih naik bus itu. Bus-bus milik umum yang bisa mengantar Men Coblong ke kantor tempatnya bekerja. Atau nongkrong di mal-mal terkemuka di kota Denpasar tanpa harus memikirkan parkir.

Namun, adakah orang-orang yang memiliki tangan untuk memutuskan kebijakan itu berpikir untuk serius menata kota Denpasar? Menata jalan-jalan utama jadi lebih menarik lagi? Bukankah kalau jalan-jalan ke kota ditata, kita jadi tidak lagi memerlukan kendaraan pribadi.

Biasanya di jalan banyak sekali mobil-mobil besar yang parkir serampangan. Memang duluuu, pernah ada aturan jika mobil parkir sembarangan maka kendaraan akan dikunci. Faktanya aturan itu hanya sebatas aturan tertulis tanpa eksekusi yang jelas dan tegas.

Cobalah Anda keluar rumah pasti banyak orang-orang yang bisa membeli mobil tetapi tidak bisa menyiapkan garasi. Walaupun banyak ada penyewaan garasi, biasanya orang-orang lebih memilih parkir di jalan, tanpa memiliki rasa malu. Tanpa merasa membuat tetangga terganggu.

Jangankan di jalan umum, di perumahan juga banyak kita temui orang-orang yang memiliki mobil-mobil bagus tentu mampu membelinya tanpa memikirkan garasi. Mereka tetap merasa nyaman, karena ya itu hanya himbauan. Begini bunyinya; dilarang parkir di jalan raya. Titik.

Makanya jangan heran, makin hari lalu lintas di kota Denpasar makin krodit. Padat dan menyesakkan. Bahkan saking padatnya, membuat beberapa orang jadi mager, malas bergerak.

“Kalau ke Bali itu repot ya cari kendaraan umum model bus-bus atau kereta, harus pesan kendaraan daring. Padahal jika ada bus-bus makin keren juga. Ke Kuta tidak perlu macet, karena kendaraan jadi sedikit,” suatu hari sahabat Men Coblong berkata dengan nelangsa.

Walaupun kendaraan daring mudah didapat, percuma saja. Toh tetap terjebak macet parah jika berada di jam-jam sibuk. Kapan ya Denpasar punya transportasi publik sehingga tidak perlu lagi ada pemandangan motor-motor yang naik ke trotoar. Motor-motor yang bak laron. Juga klakson mobil yang berteriak-teriak tidak sabar.

“Nggak mungkin. Masyarakat kita ini masih “barbar”. Baca aturan rambu di perumahan saja tidak bisa mau buat bus untuk umum yang nyaman. Masih belum terpikir itu. Sudah jangan terlalu banyak bermimpi. Saat ini yang benar itu pikirkan urusanmu, beres! Orang lain mau terganggu juga nggak peduli. Yang penting urusan kita beres,” sahut adik Men Coblong dengan tegangan tinggi.

Men Coblong terdiam, sulit sekali mengajak orang-orang tertib.

“Sudah jangan salahkan masyarakat, para penguasa saja tingkahnya tidak ada yang bisa dicontoh. Mereka hanya bisa buat aturan lalu dilanggar sendiri. Pelanggarannya justru lebih ganas daripada pelanggaran rakyat kecil seperti kita!” lanjut adik Men Coblong lebih keras.

Men Coblong terdiam. Sambil tetap berharap Denpasar kelak memiliki transportasi publik yang nyaman, minimal seperti Singapura. Masyarakat tertib, pejabat juga kudu wajib bercermin.

“Ah, kamu itu seperti punguk merindukan bulan,” sahabat Men Coblong tertawa. Sambil menepuk bahu Men Coblong. Men Coblong memonyongkan bibir, sambil meneguk kopi yang sudah pahit terasa makin pahit. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Jemawa

Pengambilan sumpah Ketua dan Wakil Ketua DPR Periode 2019-2024 di Senayan (1/10/19). Foto DPR RI.

MEN COBLONG tergagap-gagap menyaksikan pelantikan anggota DPR.

Sebanyak 575 orang anggota DPR, wakil rakyat, suara rakyat periode 2019-2024 itu dilantik pada Selasa (1/10/2019) lalu di Senayan. Bahkan yang didapuk jadi ketua DPR juga perempuan.

Sebagai rakyat biasa yang hanya diingat para penguasa menjelang pemilihan, Men Coblong hanya bisa bermimpi dan berharap. Sesekali bolehlah rakyat jemawa dan berharap menjadi pemenang karena suara rakyat untuk kali ini diharapkan Men Coblong didengar oleh para anggota DPR periode 2019-2024.

Di layar TV Men Coblong berkali-kali mengerutkan kening melihat eforia pelantikan itu. Begitu mewah, megah, bahkan ibarat catwalk. Semua anggota semringah. Semua anggota juga selalu mesem-mesem centil ke arah wartawan senyum mereka ibarat mau dipotret untuk cover majalah. Hawa baru, suasana baru, semoga mimpi-mimpi Men Coblong dan rakyat yang lain juga mau di dengar.

Men Coblong juga mencoba berpikiran positif, bahwa DPR baru ini mampu memperbaiki citra dan kepercayaan publik yang sangat rendah terhadap mereka. Komitemen kerja yang kurang pada masa lalu semoga tidak terjadi pada masa ini.

DPR terdahulu juga dinilai masyarakat minim produktivitas. Kali ini semoga produktifitas mereka sedikit menggelembung. Minimal ada hal-hal positif bisa dinikmati rakyat yang sudah bersusah payah memilih mereka.

Men Coblong juga berharap komunikasi para anggota DPR baru ini transparan. Terbuka selebar-lebarnya dan wajib diketahui publik. Karena seluruh anggota DPR ini adalah wakil rakyat. Jika jadi wakil rakyat, ya, minimal mereka juga wajib dan harus mematuhi suara-suara rakyat yang memilih mereka. Apalagi sudah terlacak para pimpinan DPR baru ini banyak memiliki pelbagai perusahaan, entah bergerak dibidang apa, Men Coblong hanya mendengar sama-samar.

Memang sih punya anggota DPR kaya tentu membuat rakyat nyaman, karena mereka duduk sebagai anggota DPR benar-benar mengabdi, itu idealnya. Karena mereka sudah bersumpah, pengambilan sumpah pada 575 Anggota DPR RI periode 2019-2024 telah dilakukan.

Salah satunya, mereka berjanji akan mengedepankan kepentingan bangsa di atas pribadinya. Pengambilan sumpah itu dipimpin Ketua Mahkamah Agung (MA) Muhammad Hatta Ali di Gedung DPR RI, Selasa (1/10/2019). Sebelum pengambilan sumpah, Hatta Ali mengingatkan kepada sumpah atau janji ini harus ditepati dengan segala keikhlasan dan kejujuran.

Mau tahu isi sumpahnya? Begini:

Bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945.

Bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh, demi tegaknya kehidupan demokrasi serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi, seseorang, dan golongan.

Bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Men Coblong manggut-manggut. Sebagai perempuan dia juga bangga yang terpilih jadi ketua DPR perempuan, minimal Men Coblong masih boleh bermimpi untuk nasib perempuan lebih baik lagi. Dengan kebaya merah yang diisi pernik-pernik keemasan menghias kebayanya, baru kali ini Men Coblong melihat Puan Maharani terlihat sedikit berwibawa.

Puan Maharani resmi menjabat sebagai Ketua DPR periode 2019-2024 bersama empat wakil ketua melalui rapat paripurna. Mereka resmi dilantik setelah diambil sumpah ooleh Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali. Dalam pidato perdananya, Puan mengatakan ingin menghadirkan kepemimpinan yang bersifat kolektif dengan semangat gotong royong dalam memimpin parlemen lima tahun ke depan.Puan menilai semangat itu dapat mengoptimalkan kinerja DPR, dengan menerima masukan hingga dukungan dari seluruh anggota yang telah dilantik.

“Hanya dengan semangat gotong royong dan niat pengabdian yang tulus dari semua anggota DPR, maka kita akan dapat menjalankan amanah sebagai wakil rakyat. Tugas ini merupakan sebuah amanah mulia yang menuntut tanggung jawab yang harus kita tunaikan bersama,” kata Puan di Gedung DPR.

Terlihat menyakinkan juga.

“Mau berharap apalagi?” tanya sahabat Men Coblong serius.

”Mimpi boleh tetapi jangan berlebihan. Lelaki dan perempuan itu tidak ada bedanya saat ini. Lihat saja koruptor juga banyak yang perempuan, padahal mereka menjabat sebagai Bupati. Jangan jemawa, nanti kau sendiri yang kecemplung got stres.”

Suara sahabat Men Coblong membuat Men Coblong beringsut dan menciut. Apalagi ada info banyak anggota DPR ternyata tidak datang pada sidang pertama. Bahkan ada anggota yang tertidur! Men Coblong menarik napas dalam-dalam. Sambil mengambil kipas tiba-tiba saja tubuhnya berkeringat sampai membuatnya harus ganti baju, padahal cuaca tidak terlalu panas.

Lalu sebagai rakyat Men Coblong harus bagaimana? Kalau berharap saja tidak memiliki tempat. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Jemawa appeared first on BaleBengong.