Tag Archives: ESAI

Catatan Mingguan Men Coblong: Penonton

Bukannya malu, tahanan KPK malah tersenyum manis dan sedikit bergaya. Foto Tirto.

MEN COBLONG terdiam dan syok.

Dia mendengar pembicaraan lima orang anak lelaki kelas dua belas yang sedang mengerjakan tugas kelompok di rumahnya. Anak-anak tujuh belas tahun itu sesekali terdengar bercanda dan saling menggoda. Sayup-sayup suara-suara itu menghajar pikiran Men Coblong.

“Aku besok kalu sudah besar ingin jadi koruptor saja. Tidak perlu kuliah dengan IP tinggi, kayaknya menjadi kaya dan populis itu gampang,” suara seorang anak lelaki meluncur ringan dan riang dari kamar anak Men Coblong.

Tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan. Tidak ada juga “wagu” dari kalimat yang meluncur dari salah seorang anak itu. Teman-temannya yang lain ikut menimpali dengan gurauan-gurauan yang bagi men Coblong sesungguhnya “miris”, bahkan ada yang menimpali.

“Aku ingin jadi polisi,” sahut suara yang lain. Men Coblong hafal dengan suara anak yang bicara ingin jadi polisi, karena sudah sejak kelas sebelas anak lelaki bertubuh atletis itu mempersiapkan fisiknya untuk bisa lolos menjadi polisi.

“Akademiknya sih tidak bagus, tapi dia baik, Mi. Seluruh anak-anak di sekolah takut padanya. Tapi dengan teman-teman selelasnya dia baik sekali. Jadi kita semua merasa aman. Anak-anak perempuan juga dilindungi. Tidak ada yang berani menganggu anak-anak perempuan di kelas. Pokoknya kelas kita kan terkenal “tukang belajar” adanya si Z ini, kelas jadi terlindungi. Mau ke kantin kalau bersama si Z, kita dilayani terlebih dulu, anak-anak lain menghindar. Jadi kita tidak pernah kehabisan makanan. Dulu sebelum si Z, masuk kelas kita, kelas kita suka dibully. Makanya anak-anak di kelasku jarang keluar, bawa bekal dari rumah,” suatu hari anak Men Coblong bercerita tentang seorang anak lelaki bernama Z (sebut saja demikian), pindahan dari sebuah sekolah menengah swasta di Denpasar.

Aslinya Men Coblong kaget juga dengan informasi dari anak semata wayangnya tentang murid baru di kelasnya, pindahan dari sekolah swasta. Bagaimana caranya? Kok dari sekolah swasta bisa pindah ke sekolah negeri?

Men Coblong tahu persis sekolah anaknya biasanya tidak jadi pilihan siswa menengah pertama. Karena sekolah yang dipilih anak Men Coblong isinya dari pagi-menjelang sore belajar. Dan masuk sekolah menengah atas itu minimal rata-rata nilai hasil ujian sembilan.

Dalam waktu sekejap di kelas sebelas, isi cerita anak Men Coblong. Terus si Z, menurut anak Men Coblong, teman-teman sekelas juga hormat padanya walaupun gaya dan lagak si Z masih bergaya semaunya. Dia masih sering bolos. Bisa dibayangkan nilai akademiknya? Solidaritas yang tinggi di kelas, membuat si Z, minimal bisa mengikuti pelajaran.

“Si Z itu baik, kadang mau juga kok belajar. Tapi fokusnya ingin jadi polisi,” papar anak Men Coblong berkali-kali.

Di tengah suasana serius mengerjakan tugas Fisika pembicaraan anak-anak itu terus berlanjut. Ringan, santai tanpa beban. Seolah negara tidak ada. Seolah “drama” Pilpres yang seperti sinetron dan telenovela itu tidak jadi pembicaraan, juga tidak jadi minat mereka.

Padahal, bagi Men Coblong “drama” menjelang Pilpres justru menarik karena tarik-ulur Cawapres yang kadang buat geli juga. Sebetulnya sadar mereka para pemain “drama” itu sadar tidak ya? Hal penting yang harus mereka sudahi adalah solusi untuk menggerus korupsi.

Men Coblong sesungguhnya salut dengan langkah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendiskualifikasi bakal calon legislator mantan narapidana korupsi. Kebijakan ini semakin terbuka setelah Mahkamah Agung menghentikan sementara sidang perkara gugatan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 20 Tahun 2018. PKPU tersebut melarang mantan narapidana korupsi menjadi bakal calon legislator.

Kekerasan hati KPU sungguh membuat Men Coblong takjub, minimal ada harapan di tengah “drama-drama” yang dipentaskan partai dan petinggi negeri.

“Komunitas nasionalis dan religius. Kau jangan terpeleset lidah, nanti kau diperkarakan,” kata sahabat Men Coblong dingin dan prihatin.

Men Coblong terdiam. Tercenung lama dan sesungguhnya tidak tahu lagi harus berkata apa. Kontestasi Pilpres sebentar lagi akan berjalan. Pasti membuat panas-dingin. Cuaca pasti tidak enak, belum lagi jika ada yang “menjual dagangan” agama.

“Huss, jangan berisik. Nanti kau bisa dibui.” Berkali-kali sahabat Men Coblong berbisik sangat pelan dan lirih. Seringkali telinga Men Coblong tidak bisa menangkap suara sahabatnya itu. Maklum usia sesungguhnya tidak bisa menipu. Dan Men Coblong sering marah dengan suara sahabatnya itu yang terlalu lirih.

Men Coblong tidak mengerti, kenapa dia yang tadinya begitu berisik jadi berubah karakter, lebih santun jika bicara tentang beragam kebobrokan negeri. Juga tokoh-tokoh politik yang berseliweran dan sering membuat Men Coblong pegal dan lelah melihat beragam gaya dan peran yang mereka mainkan.

“Diamlah kau. Rakyat sesungguhnya tidak bodoh. Kau ingat, bukankah kotak kosong bisa menang dalam Pilkada, itu artinya sekarang ini rakyat juga bisa main-main. Sabarlah sedikit, jangan grasa-grusu. Makanya sering-seringlah kau nonton sinetron Indonesia. Biar kau belajar sabar dengan alur cerita yang melilit dan membelit. Jika rating naik, makin panjanglah adegan-adegan yang tidak masuk akal. Begitulah kondisi negeri kita saat ini. Sabar. Mbok sabar,” kata sahabat Men Coblong dengan dialek yang dibuat-buat.

Sebagai penonton setia, Men Coblong harus sabar. Biarkan KPU memasuki lembar kerja baru. Mulai akhir pekan lalu sampai Jumat, 10 Agustus 2018, KPU akan menerima pendaftaran calon presiden dan wakil presiden.

Mari menjadi penonton yang “sopan” dan memiliki mimpi. Semoga siapa pun yang terpilih “ingat” tugas penting dan di depan mata adalah perangi korupsi. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Penonton appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Gawai

Anak-anak main gawai di salah satu SD di Denpasar. Foto Men Coblong.

MEN COBLONG belakangan ini sungguh prihatin dan jujur saja nelangsa. Juga migren akut.

Masalah di negeri ini makin hari bukannya makin berkurang tapi justru makin bertambah dan makin tidak masuk akal. Padahal di setiap acara berisi pidato-pidato suara-suara para petinggi negeri terdengar begitu indah dan membuai.

Seolah semua kata-kata indah itu mampu membuat para “umat” di negara ini akan ketiban kesejahteraan yang berlimpah. Gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.

Mimpi menjadi sejahtera di Indonesia memang harapan yang paling dalam tumbuh dan menjalar di tubuh Men Coblong. Rasanya impian-impian semasa muda ketika berumur 20-an mengambang setelah usia Men Coblong menginjak setengah abad.

“Kau bermimpi apa lagi tentang negeri ini?” suara sahabatnya membuat Men Coblong merengut. Mimpi? Apakah layak memiliki mimpi lagi di tengah beragam onak yang makin hari makin aneh.

Salah satunya adalah persoalan gawai yang menyita fokus dan perhatian generasi muda Indonesia. Masalah gawai yang terhubung dengan sistem daring dengan berbagai fitur, menurut sebuah harian pagi ternama di Indonesia, ibarat pisau bermata dua, yang bisa bermanfaat, tetapi juga bisa membahayakan kehidupan anak-anak. Sejumlah anak mengalami “gangguan jiwa” akibat kecanduan gawai.

Men Coblong jujur saja prihatin, tetapi apakah cukup prihatin saja? Pengalaman Men Coblong yang memiliki anak dari generasi Z, justru memiliki beragam pengalaman menarik. Ketika Men Coblong berkunjung ke SDN 21 Desa Dauh Puri Kauh Denpasar, yang diisi anak-anak dengan ekonomi terbatas dengan fasilitas terbatas juga. Banyak anak di sekolah yang terletak di pinggir kali Badung ini sehabis pulang sekolah justru membantu orangtua mereka mempersiapkan dagangan. Mereka membantu menyokong ekonomi keluarga.

Di SD yang tentu saja tidak terjamah pers ini, guru-guru dengan segala keterbatasan dan ruang kelas yang juga tidak begitu lengkap harus memiliki ide-ide gemilang untuk mengejar beragam trik dan teknik untuk membuat anak-anak di siini memiliki mimpi tinggi dan merasa nyaman di sekolah.

“Dengan segala keterbatasan secara ekonomi yang dimiliki anak-anak di SD ini, para guru justru merasa ilmu yang selama ini hanya dipelajari dalam teks-teks baku di bangku sekolah guru justru teruji. Jadi ilmu mereka berguna di sekolah ini, karena guru-guru di sini harus memiliki beragam ide-ide untuk membuat anak-anak di selah ini betah berlama-lama berada di sekolah. Sekolah kan bukan hanya tempat belajar saja tetapi juga bermain. Bermain sambil belajar.”

Kesadaran para guru di SD ini memang teruji, karena guru-guru di SD ini sadar betul, banyak anak-anak yang ikut bekerja membantu orangtua mereka. Karena banyak orangtua di sekolah ini bekerja di sektor informal.

Dengan ekonomi yang serba terbatas itu, para guru juga tidak bisa mengharapkan sumbangan dana yang agak lebih untuk fasilitas sekolah. Boro-boro mau jadi donatur, untuk hidup sehari-hari saja mereka harus lintang pukang memiikirkan beragam cara untuk menghidupi keluarga mereka.

Kelelahan, fasilitas yang minim kondisi seperti ini ada di sekolah-sekolah yang berada di kota besar. Sekolah-sekolah yang jarang dilirik, jarang dibidik. Karena memang sekolah dasar seperti ini tidak memiliki “dana” untuk ongkos para “pengunjung” yang datang.

Yang membuat Men Coblong takjub, ada saja ide-ide cemerlang para guru.

“Di SD ini jarang anak memiliki gawai. Bisa dihitung dengan jari,” papar seorang guru. Makanya para guru pun harus ikhlas dipinjam gawainya untuk menelpon orangtua jika anak-anak belum dijemput, atau ada insiden yang tidak diinginkan seperti, anak sakit.

Pengalaman mengunjungi sebuah SD di pinggir kali Badung itu membuat Men Coblong berpikir dan mendapat ide. “Bagaimana kalau pemerintah memasukkan pelajaran IT di sekolah-sekolah.” Men Coblong berkata pada sahabatnya.

“Dulu juga sekolah menengah di pusat kota Denpasar ada laboratorium komputer. Hasilnya? Tidak efektif juga, wong kurikulum selalu berubah, selalu menyesatkan. Ada-ada saja aturan-aturan baru,” Sahut sahabat Men Coblong gemas.

Ya, Men Coblong ingat dulu di sekolah menengah di pusat kota Denpasar ada ekstrakulikuler komputer. Begitu anak Men Coblong masuk sekolah menengah top ini, beragam ekskul raib. Masalahnya bukan pada guru — karena di sekolah ini para orangtua mau menyumbangkan uang berapa saja asal fasilitas mumpuni. Yang menghajar beragam kebijakan yang telah dibuat sekolah ini jadi berantakan adalah usulan-usulan “maha cerdas” — kurikulum selalu diotak-atik. Padahal sederhana saja, masukkan pelajaran informasi teknologi dalam kurikulum — dijamin anak-anak di tingkat dasar dan menengah akan paham dan khatam.

“Itu ‘kan maumu? Memangnya kamu menterinya?” suara sahabat Men Coblong terdengar sinis. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Gawai appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Lancung

Masa kanak-kanak dikenal sebagai masa bermain.

SEKOLAH bagi Men Coblong adalah tempat untuk bersosialisasi yang paling nyaman.

Sekolah ketika kanak-kanak merupakan tempat bermain sekaligus belajar yang membuat girang dan senang. Rasanya pada masa itu, setahu Men Coblong, anak-anak justru merasa sedih jika libur terlalu panjang. Rasanya bosan di rumah. Rindu bertengkar dengan teman.

Pokoknya pada masa tahun 70-an sekolah adalah tempat “piknik” paling menyenangkan. Anak-anak pada masa itu selalu aktif dan tidak pernah merasa jenuh. Setahu Men Coblong tidak ada temannya semasa SD yang menjadi penyendiri. Waktu paling ditunggu adalah jam istirahat.

Wah, suasana pada masa itu benar- benar lebih heboh dari Pasar Badung. Semua bicara, semua teriak, semua ingin dapat tempat. Pokoknya semua ingin eksis.

Jenis permainannya juga beragam. Ada lompat tali menggunakan tali karet yang dijalin dengan sangat kuat sehingga berbentuk tali lentur dan kokoh. Ada bola gebok. Ini biasanya dimainkan anak lelaki. Bola dibuat dari kertas bekas bisa juga kertas koran. Ada gatrik, permainan dari bilah bambu. Ada bola bekel. Ini permainan favorit anak perempuan. Men Coblong lebih suka main congklak, berisi biji-biji kerang yang lucu.

Pokoknya, pada jam istirahat semua anak-anak turun ke halaman atau bermain di lantai kelas. Susana hiruk-pikuk dan gaduh itu justru membuat Men Coblong rindu masa kanak-kanak semasa hidup dan tumbuh besar di Jakarta.

Jauh sekali berbeda masa kanak-kanak yang dijalani anak-anak pada masa kini. Anak semata wayang Men Coblong justru sibuk dengan iPad ketika duduk di kelas tiga SD. Apa pun bisa didapatkan anak-anak itu dari alat berbentuk kotak yang sangat canggih, dengan harga juga “canggih” itu.

Melihat permainan anak-anak masa kini Men Coblong merasa seolah masa lalunya tercerabut.
“Jangan pernah membandingkan anak-anak pada masa kini dengan zamanmu yang jadul dan kuno itu. Harus punya cara pandang berbeda melihat hidup anak-anak pada masa kini. Jangan juga pernah mencocokkan.”

Men Coblong terdiam mendengar “ceramah budaya” sahabatnya itu dengan memoyongkan bibirnya sambil menarik napas pelan-pelan. Ada yang tidak bisa diterima Men Coblong pada proses pertumbuhan anak-anak masa kini atau yang disebut generasi milineal.

Anak-anak yang tumbuh senyap dengan alat-alat yang seringkali tidak bisa mereka tinggalkan. Anak-anak itu seperti sibuk dengan dirinya. Hidupnya kadang-kadang disita dan diperas oleh ponsel (HP) yang tidak bisa lepas dari hidup mereka.

Bahkan, ketika acara keluarga untuk sekadar makan siang, atau merayakan hari-hari penting keluarga Men Coblong merasa sudah seperti “petugas keamanan” yang ceriwis dan menyebalkan. Biasanya Men coblong selalu berkata begini, “Selama acara keluarga dan makan, teman kalian yang bernama HP harus disingkirkan dulu. Minimal silent.“ Itu kalimat yang terus berulang-ulang dikatakan Men Coblong.

Bahkan, ketika ada acara keluarga menemani ayah Men coblong yang sudah sepuh, biasanya kalimat itu diulang kembali. Bahkan, jika anak Men Coblong bergabung dengan para sepupu untuk mengunjungi ayah Men Coblong, kalimat itu diulang-ulang seperti kaset rusak yang sebetulnya menyebalkan juga. Yang mengucapkan bosan, yang mendengar dijamin super bosan juga! Karena kalimat-kalimat yang disampaikan itu-itu saja. Tidak ada peningkatan. Juga tidak memiliki estetika bahasa.

Parahnya belakangan ini kalimat jauhkan diri dari ponsel sudah seperti mantra yang harus diucapkan setiap menit. Biasanya menimbulkan efek pertengkaran dengan anak.

“Handphone tidak hanya dipakai untuk main. Bisa juga dipakai untuk belajar,” papar anak semata wayang Men Coblong bersungut-sungut dan berbisik dan mengeluh sambil mendengus dengan suara tidak jelas. Biasanya jika anak semata wayangnya mulai mendengus seperti itu, omelan Men Coblong akan muncrat seperti hujan yang kalap dan tidak bisa berhenti.

“Aku sudah capek bertengkar dengan anak soal itu,” suatu hari sahabat Men Coblong semasa SMA berkata lirih dan putus asa.

Men Coblong terdiam. Teringat kata-kata anak semata wayangnya yang berkata bahwa permainan di beragam peralatan canggihnya (handphone, laptop, dan iPad) adalah cara generasinya belajar banyak hal. Belajar bahasa Inggris juga menyusun puzzle pergaulan.

“Kalau menghidupkan laptop, bukan berarti main saja. Bisa juga berkomunikasi dengan orang-orang yang berada puluhan mil jauhnya. Bisa berdialog, dialog tidak dengan bahasa Bali atau bahasa Indonesia. Kita semua bermain bersama dengan orang-orang di seluruh dunia. Bahasa yang digunakan bahasa Inggris. Ini kan sama juga belajar bahasa Inggris,” papar anak Men Coblong serius.

Memang sih, bahasa Inggris anak Men Coblong lumayan secara akademik prestasinya juga “lumayan” karena selama ini bisa masuk sekolah-sekolah favorit dengan nilai murni hasil kerja kerasnya sendiri. Jadi Men Coblong tidak perlu mengeluarkan ID (Identitas Diri) — atau mencari beragam cara bahkan dengan tega para orangtua mencari surat miskin untuk bisa dapat kursi di sekolah favorit.

Tapi, tapi apakah anak-anak itu tidak ingin bermain di luar? Berteriak, berlumuran debu dan lumpur?

“Ah, kita harus jadi orangtua yang fleksibel. Jaman sudah jauh berubah. Biar puzzle-puzzle hidup disusun dengan cara mereka. Yang penting jauh dari narkoba,” suara lirih sahabat Men Coblong belum juga bisa mengusir kepandiran Men Coblong tentang gaya hidup anak-anak masa kini.

Yang pasti selamat Hari Anak Nasional 23 Juli. Jadilah generasi terbaik untuk membangun bangsa ini. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Lancung appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Miskin

MEN COBLONG menggigit bibirnya, pikirannya benar-benar melambung tinggi.

Apakah yang salah dengan karakter orang-orang yang tinggal di negerinya ini? Negeri yang konon, konon lho ya, beradab, berbudaya, santun dan sekian deretan pujian tentang karakter adi luhung muncrat dari mulut-mulut para “pengempu” negeri (baca: pemilik kekuasaan).

Seolah-olah Men Coblong berada di negeri yang penghuninya memiliki karakter kuat sbagai mahluk manusia di antara bejibun manusia di Bumi ini. Faktanya?

Apa yang Anda pikirkan ketika terjegal jalur zona untuk mencari sekolah anak-anak mereka di sekolah-sekolah favorit, banyak orang-orang “mampu” dan “kaya” berbondong-bondong mengaku miskin?

Hyang Jagat, Men Coblong tidak habis pikir. Apa karena minat baca di negeri ini yang “lumpuh” sehingga wawasan dan diksi kata-kata mereka juga “minus”? Sehingga banyak orang tidak paham arti kata miskin. Padahal kalau mau sedikit berselancar di Google tentu akan mudah didapatkan makna, dan esensi arti kata miskin itu.

Tindakan Kapolsek Galang AKP Marhalam Napitupulu, yang memasukkan anaknya melalui jalur rawan melanjutkan pendidikan (RMP) atau harus memiliki surat miskin ke SMA Negeri 1 Medan, dianggap kurang pantas. Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan, institusinya sangat menyayangkan langkah yang ditempuh Marhalam. Ia menilai tidak semestinya seorang anggota Polri memalsukan status ekonominya hanya untuk kepentingan tertentu.

Ini baru satu yang terdeteksi bahkan masuk media massa lokal. Kalau kita mau jujur, tentu banyak juga yang melakukan hal ini untuk mendapatkan kursi-kursi di sekolah-sekolah favorit di negeri ini. Aturan-aturan yang dibuat sesungguhnya bagus, jalur miskin dibuat agar anak-anak miskin juga bisa mengenyam pendidikan yang baik, dengan mutu yang juga baik.

Namun, masalahnya apa sesederhana itu?

Di kota tempat Men Coblong tinggal, justru banyak sekolah-sekolah favorit justru gering dengan siswa miskin.

“Mana berani masuk sekolah itu, saya hanya jualan canang. Takut nanti biaya ini-itunya mahal. Saya juga takut anak saya dikucilkan. Maklum orang miskin. Kalau tidak bisa bayar ini-itu saya susah juga, anak saya tentu tidak bisa bersekolah dengan nyaman,” papar Ni Luh Kemprit dagang canang yang memilih anaknya bersekolah di sekolah swasta dibanding masuk sekolah negeri yang banyak dikuasai orang-orang mapan.

Masalah pendidikan di Indonesia sejak dahulu memang belum pernah tuntas. Sebagai umat bangsa Indonesia Men Coblong paham sekali alangkah rumitnya sistem yang dikelola pemerintah. Beragam aturan-aturan baru justru membuat beragam sistem yang belum matang justru makin rumit melilit. Makanya ada anekdot, ganti menteri ganti aturan.

Adanya tempat untuk warga miskin bersekolah di sekolah favorit memang sebuah solusi untuk membuat tujuan pemerataan bagi para siswa miskin untuk bisa menikmati pendidikan di sekolah-sekolah favorit dengan menu-menu yang teruji tentu jadi impian. Masalahnya SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) justru jadi solusi bagi siswa “mampu” bahkan ada juga siswa “kaya” yang menggunakan SKTM untuk lolos masuk sekolah favorit.

Ini sebuah hal yang mengerikan, karena orangtua justru menggiring anaknya melalukan tindakan yang “merusak” karakter. Apakah hal ini dipahami dan disadari orangtua?

Tindakan tegas dilakukan, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil akan menelusuri adanya penggunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2018 di Kota Bandung. Ridwan Kamil mengatakan, langkah itu dilakukan untuk mencegah praktik kecurangan dalam penerimaan siswa baru.

Anak sang Wali Kota dan kelak jadi Gubernur Jawa Barat ini juga tidak diterima di sekolah favorit karena alasan zonasi. Ridwan pun oke-oke saja. Hal ini sesungguhnya wajib dicontoh oleh para “pengempu” dan “penentu” beragam kebijakan di negeri ini.

PPDB 2018 memaksa sekolah untuk lebih cermat. Sekolah harus benar-benar memastikan bahwa pengguna SKTM berasal dari keluarga tidak mampu. Sekolah seharusnya membentuk tim verifikasi yang bertugas mengecek data SKTM yang dilampirkan calon siswa dengan kondisi riil di tempat tinggal masing-masing.

Verifikasi faktual ini juga diinstruksikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. “PPDB tahun ini memang butuh kecermatan, terutama soal SKTM. Kami bentuk lima tim verifikasi, masing-masing beranggotakan dua orang guru. Tugas mereka mengecek keakuratan data SKTM yang dilampirkan calon siswa baru,” jelas Kepala SMA Negeri 2 Agung Mahmudi Ariyanto.

Bagaimana dengan kondisi di Bali? Semoga para “penentu” kebijakan juga mampu arif bijaksana, memberi ruang untuk anak-anak tidak mampu bersekolah di sekolah favorit di Kota Denpasar. Tanpa didikte dengan beragam aturan administrasi yang membuat nyali mereka ciut mendaftarkan anaknya ke sekolah favorit. Karena semua anak memiliki peluang yang sama untuk “mencicipi” bangku pendidikan dengan fasilitas sekolah yang memadai.

Orangtua tentu menginginkan anaknya mendapatkan hak atas pendidikan bermutu sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 Ayat (1) bahwa “ Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”.

Bagi Men Coblong alangkah mengerikan menggunakan SKTM untuk tujuan yang tidak baik. Bagaimana kalau kena karmaphala? Benar-benar dikutuk untuk jatuh miskin! Apa Anda mau? Makanya jangan coba-coba mengaku miskin ya, kalau Anda tidak miskin! [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Miskin appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Lebaran

Umat Muslim bermaaf-maafan setelah sholat Idul Fitri 2018.

MEN Coblong merasa girang, riang.

Bertumpuk perayaan keagamaan yang jatuh bulan Juni ini membuat liku-laku hidupnya menjadi terasa lebih “lurus” dan sedikit “mulus”. Apalagi di bulan Juni ini “umat” Indonesia juga akan memiliki sebuah perayaan “Pilkada”.

Semoga “perayaan” Pilkada seramah perayaan beragam agama yang numplek jatuh bulan Juni.

Membayangkan Lebaran yang kalau ditelisik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata lebaran diartikan sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Pendapat berbeda juga terdengar lebih menarik dan erotik bagi Men Coblong. Sebagian orang Jawa mempunyai pendapat berbeda mengenai kata lebaran. Kata lebaran berasal dari bahasa Jawa yaitu kata “wis bar” yang berarti sudah selesai. Sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang dimaksud. “bar” sendiri adalah bentuk pendek dari kata “lebar” dalam bahasa jawa yang artinya selesai.

Saat ini, Pusat Bahasa hanya bisa memastikan bahwa kata “lebaran” merupakan sebuah kata dasar yang terdiri dari tiga suku kata, yaitu le + ba + ran.

Sungguh sebuah kata pun bisa memiliki beragam tafsir. Tafsir-tafsir yang indah, tentu masih bisa diperdebatkan tentu dengan cara-cara yang lebih masuk akal, logis, dan tidak nyerempet ke sana ke mari sehingga memunculkan kebenaran “tunggal” ala sebuah suku, agama, atau kelompok tertentu.

Men Coblong sendiri lebih menyukai kata “Lebaran” karena kesannya lebih Indonesia. Lebih merakyat dan lebih mistis mendarat di hati, pikiran dan perasaan Men Coblong di tengah “amuk” beragam argumentasi tentang mempertanyakan kembali menjadi “umat” Indonesia.

Men Coblong teringat ketika masih kanak-kanak. Tumbuh dan besar di sebuah lingkungan yang tidak pernah mengajarinya arti “berbeda”. Lingkungan yang dulu jika orang menyebut daerah “Cijantung” tentu pikiran orang-orang akan identik dengan beragam hal-hal berbau “kekerasan”. Kesannya “seram” karena sebagai seorang anak perempuan yang tumbuh-besar di lingkungan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), kemudian lebih dikenal sebagai Kopassus, Men coblong tumbuh sederhana.

Ketika bulan puasa, Men coblong juga ikut berpuasa, sekali pun tidak harus sampai tuntas. Rasanya ikut girang jika saat berbuka tiba, Men coblong juga ikut berbuka. Minimal ikut menikmati kesegaran buah kurma yang rasanya manis dan lucu bagi Men Coblong. Apalagi kalau bisa ikut berbuka puasa bersama dengan keluarga muslim.

Nikmatnya kolak kolang-kaling masih terasa sampai hari ini mengapung di palung tenggorokan Men Coblong. Menimbulkan muncratan-muncratan kenangan yang begitu indah mengalir deras ke dalam hati dan pikiran Men Coblong. Ibarat hujan deras yang jatuh mengguyur seluruh tanaman yang menjelang mati di dalam tubuh Men Coblong.

Kenangan Lebaran semasa kanak-kanak itu menimbulkan juga gelombang getir yang menghantam pikiran dan tubuh Men Coblong masa kini. Dulu, ketika kanak-kanak Men coblong tidak pernah merasa ada “kasta-kasta” dalam tubuh anak-anak yang tumbuh di lingkungan militer di Jakarta Timur itu, sekali pun Men Coblong tahu, untuk masuk ke lingkungan perumahan di Cijantung III, harus melewati beragam pos-pos keamanan.

Waktu SD Men Coblong bersama keluarga tinggal di Jalan Pualaka, nama-nama jalan di komplek perumahan itu mengambil nama jalan yang identik dengan daerah di Timor-Timur.

Tidak ada sekat, tidak ada hal-hal yang mengerat anak-anak masa itu untuk untuk merasa berbeda satu sama lain. Bahkan urusan jender juga tidak diingat anak-anak masa itu. Kenapa? Karena sebagai anak tentara, anak-anak di lingkungan Men Coblong juga biasa bermain perang-perangan. Biasanya siapa pun bisa memimpin sebagai komandan pasukan.

Biasanya jika komandan pasukan itu anak lelaki, anak-anak lain memetik daun nangka yang dijahit dengan lidi menyerupai mahkota, yang menunjukkan anak lelaki itu berbeda dari anak lain, karena anak-anak lain sepakat: anak yang dipilih jadi komandan pasukan harus berbeda. Perbedaan itu dari “mahkota” daun nangka yang bertengger di atas kepala.

Jika yang jadi komandan pasukan anak perempuan, maka anak yang lain akan membuat rangkaian mahkota dari bunga-bunga rumput.

Untuk senjata, biasanya anak-anak itu membuatnya dari pelepah daun pisang. Pokoknya semua ikut berperang dan berang melawan kelompok berbeda. Setelah main perang-perangan usai, biasanya pasukan yang tadinya berperang kembali rukun dan mulailah petualangan baru, mencari buah-buahan yang bisa mereka makan.

Anak-anak itu sering naik ke pohon jambu klutuk, jambu air, pohon mangga, dan pohon rambutan yang banyak tumbuh di sekitar area di Cijantung. Tidak ada batas lelaki dan perempuan. Anak perempuan pun bebas bergelantungan seperti kera di atas pohon.

Masalah baru muncul, ketika para orang tua menganggap anak perempuan tidak pantas bergelantungan di pohon. Anak perempuan tidak pantas bermain perang-perangan. Anak perempuan cocoknya main boneka dan main masak-masakan.

Tak ada yang menatuhi aturan itu. Ketika itu anak-anak itu tumbuh-besar dengan cara mereka. Yang satu berpuasa yang lain juga ikut berpuasa. Kesadaran itu muncul karena “cinta-kasih ” yang menetes tanpa dipaksakan, juga tanpa teori rumit tentang “Indonesia”. Bahkan ketika yang muslim ikut merayakan hari raya Waisak, dan ikut makan di rumah teman beragama Budha, tidak ada larangan dari orang tua. Tidak ada pertanyaan apakah menu makanan berupa ayam guling itu dipotong oleh orang seiman?

Ah, masa kecil yang indah. Tak ada kecurigaan. Tak ada “kasta-kasta” yang mengunci mulut, hati, pikiran dan perasaan kanak-kanak ketika itu. Perayaan keagamaan adalah “pesta” hati untuk mencintai satu sama lain.

Selamat Lebaran, mohon maaf lahir dan batin. Semoga hati dan pikiran kita dibersihkan untuk kembali “sadar” menjadi manusia “Indonesia” dengan beragam bentuknya. Yang satu sama lain tidak sama! [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Lebaran appeared first on BaleBengong.