Tag Archives: ESAI

Hari Pers Nasional untuk Siapa?

Salah satu tuntutan buruh Bali dalam aksi May Day dengan meminta dimasukkannya biaya upacara. Foto Metro Bali.

Makin banyak tuntutan pada jurnalis ketika pendapatan pas-pasan.

Marty Baron, editor baru di Boston Globe bertemu dengan seorang kardinal. Pertemuan itu merupakan undangan dari sang pemimpin gereja. Salah satu percakapan menarik dari pertemuan ini adalah keduanya berbicang soal kegiatan jurnalistik.

Kardinal mengajak Marty Baron menjalin kerja sama untuk mengembangkan Kota Boston. Namun, sayangnya, permintaan itu bertepuk sebelah tangan.

Marty mengatakan, akan lebih baik jika pers menjalankan fungsinya secara independen. Plot ini merupakan bagian dari film Spotlight.

Tayangan tadi rasanya mewakili persitiwa wajib dari seorang wartawan. Dunia pers banyak berubah sejak era sebelum kemerdekaan hingga kini pada era milenial.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi pembicara dalam diklat jurnalistik yang diselenggarakan oleh kawan-kawan dari Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia (KMHDI) di Mataram, Lombok.

Saya memberikan materi jurnalistik dasar. Isinya membahas seputar membuat judul, membuat lead atau kepala berita dan elemen berita. Sederhana.

Namun, sebelum memberikan materi ini, saya menanyakan pada peserta siapa yang memiliki keinginan menjadi seorang jurnalis. Ternyata dari 40 orang peserta diklat, hanya 17 orang yang memiliki hasrat menjadi kuli tinta.

Lantas, saya bertanya lagi. Apa yang membuat peserta yang masih berstatus mahasiswa ini berminat menjadi jurnalis. Jawabnnya beragam. Ada yang mengatakan tertarik pada dunia kewartawanan. Ada yang penasaran dengan pekerjaan wartawan. Paling banyak karena pekerjaan wartawan dinilai bebas dan bisa berjalan pada rel idealisme mereka.

Alasan terakhir ini juga saya alami ketika baru mencoba-coba menjadi wartawan. Apalagi saat masih kuliah saya kerap nongkrong bareng dengan rekan pers mahasiswa. Kumpul untuk diskusi lebih tepatnya.

Singkat cerita, saya sampaikan kepada para mahasiwa ini bayangan mereka tentang dunia jurnalistik tidak sepenuhnya benar.

Hampir tujuh tahun menjadi seorang wartawan, hal pertama yang harus disadari menjadi pekerja pers adalah buruh. Iya, kami ini buruh.

Tiap tahun pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day. Tiap 1 Mei, jurnalis turun ke jalan bersama buruh pabrik berteriak meminta kenaikan upah.

Walaupun wartawan bisa mewawancarai presiden, menteri, gubernur, bupati hingga pemulung, status buruh ini tidak berubah.

Namun, mungkin masih ada jurnalis yang menganggap pekerjaan ini bisa mengangkat derajatnya karena bisa dekat dengan pejabat.

Saya tekankan pada para mahasiswa ini agar menghindari sikap yang demikian. Karena kelak ketika benar mereka menjadi jurnalis, akan muncul sikap sombong.

Sombong, karena merasa bangga dekat dengan pejabat tapi, isi dompet pas-pasan.

Selain persoalan upah, hal lain yang menjadi tantangan seorang wartawan saat ini adalah harus cepat. Kecepatan diperlukan untuk mengimbangi media sosial.

Pengalaman saya bekerja dengan sistem model ini adalah kelelahan secara fisik dan pikiran. Secara fisik karena harus menatap layar gawai yang kecil, lelah pikiran yang harus mengimbangi kecepatan media sosial.

Politik Redaksi

Saya juga menyampaikan jika ada ruang redaksi dengan kebijakannya. Saya menyebut ini politik redaksi.

Politik redaksi bisa menjadi sangat kejam bagi para wartawan muda, apalagi yang mengusung semangat idealis dan kebebasan.

Saya menceritakan pengalaman saat mulai menjadi wartawan. Ada kebijakan di tempat saya bekerja tidak boleh membuat berita yang menyinggung pemerintah.

Kebijakan ini lantaran, akan ada acara dari kantor tempat saya bekerja dan sepenuhnya dibantu oleh pemerintah daerah ini. Saya cukup syok mengetahui hal ini. Meski akhirnya tidak begitu lama bekerja di tempat tersebut.

Belum lagi ada cerita dari seorang teman wartawan. Ia menyebutkan, harus rajin mengunggah berita yang dihasilkan dari tempatnya bekerja ke media sosial pribadinya.

Menurut kawan saya ini, hal tersebut tidak masuk akal. Ia menilai media sosialnya mutlak adalah miliknya sendiri. Saya juga menilai seperti itu.

Unggahan di media sosial secara masif dilakukan oleh perusahaan media agar memancing orang untuk membuka (clickbait) sehingga menaikkan peringkat di Google sehingga mendapatkan uang lebih banyak. Singkatnya, lebih banyak klik, lebih banyak uang.

Selain cerita dari saya, para peserta juga ada yang mengungkapkan unek-uneknya melihat dunia jurnalistik. Ada yang menarik, lebih tepatnya saya ingat.

Ada yang mengeluh dengan perilaku wartawan yang melakukan tindak pemerasan. Cerita ini saya dapat dari mahasiswi dari Lampung.

Ia menyebutkan, ada segerombolan wartawan atau lebih tepatnya mengaku wartawan merusak jalan desa yang baru diaspal. Lantas kerusakan tersebut mereka foto.

Para pengaku wartawan ini kemudian mendatangi rumah warga atau pengurus desa dan mengancam akan menayangkan foto tersebut jika mereka tidak diberikan uang.

Ini kriminal, kata saya. Saya menyarankan agar warga mendapatkan pengetahuan yang benar tentang pekerjaan wartawan. Ajak organisasi wartawan semisal, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) atau Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Saya berpesan kepada peserta diklat jurnalistik ini agar lebih menimbang-nimbang lebih dalam keinginan berkarier sebagai wartawan. Pilihlah tempat bekerja yang bisa memberikan penghasilan memadai dan bisa membuat berkembang secara karya jurnalistik.

Selain itu, pekerjaan wartawan bisa dilakoni dengan baik dan mumpuni, jika Anda memiliki latar belakang ekonomi keluarga yang bagus. Dalam artian bisa menunjang pekerjaan Anda.

Sehingga saat melakoni pekerjaan wartawan, ada tidak akan tergoda oleh bujuk rayu imbalan di luar hak Anda. Simpelnya saya menyebut amplop, atau ajakan untuk kompromi seperti yang dialami oleh Marty Baron.

Soal amplop ini, saya kira aliansi atau perkumpulan pers hingga pemerintah di Indonesia belum memiliki solusinya. Percayalah.

Jadi, untuk siapa sebenarnya peringatan Hari Pers Nasional ketika persoalan menjadi jurnalis mulai dari upah hingga beban kerja yang tidak selesai dibahas, atau itu-itu saja.

Kapan basa-basi ini berakhir? [b]

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap [4]

Ekspresi tari Calon Arang/id.wikipedia.org

Mpu Baradah bersama tiga orang muridnya berangkat dari asrama.

Di sebuah desa ia bertemu dengan orang-orang yang hendak membakar mayat. Mayat itu dibakar karena begitu cara menghormati tubuh yang sudah mati.

Ada banyak aturan untuk melakukan upacara pembakaran ini. Tidak sekadar membakar, apalagi seperti jagung bakar. Ada hal-hal yang mesti dipenuhi oleh orang yang menggelar ritual pembakaran. Ritual itu bisa dicari sumbernya dalam berbagai naskah lontar, di antaranya: Yama Purwa Tattwa, Yama Purwana Tattwa, Yama Purana Tattwa, Pratekaning Wong Pejah, Siwa Tattwa Purana.

Nama-nama lontar itu hanya beberapa yang sempat diperiksa. Selain itu ada banyak lagi seperti lontar Putru Sangaskara. Pada lontar-lontar itulah orang-orang mestinya mencari tahu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dalam ritual pembakaran mayat.

Di dalam teks Calon Arang, upacara pembakaran itu tidak dijelaskan prosesinya. Namun, disebutkan, bahwa mayat itu ditutupi kain putih, dipeluk dan dielus-elus oleh istrinya. Sepasang kekasih ini dipisahkan oleh kematian yang tidak bisa ditolaknya.

Mpu Baradah konon merasa kasihan melihat hal itu. Maka atas nama kebaikan budi, Mpu Baradah berkenan menolong mereka. Caranya adalah dengan membangkitkan lagi mayat itu dari kematian.

Tidak dijelaskan pula bagaimana orang itu dihidupkan kembali oleh Mpu Baradah. Teks hanya menyebut ketika Mpu Baradah menyuruh wanita itu membuka kain penutup mayat suaminya, saat itu pula jantungnya kembali berdenyut. Kain itu dibuka-tutup sebanyak dua kali. Pada bukaan kedua, napas kembali ke dalam tubuh itu dan memberi kehidupan.

Lalu dalam jangka waktu kurang lebih rwang sepah, orang mati yang sudah hidup itu bisa duduk kembali dan menghaturkan terimakasih kepada Mpu Baradah.

Rwang sepah berarti dua kali mengunyah sirih pinang. Berapa lama kira-kira tepatnya, barangkali bisa dihitung dengan mencoba sirih pinang [nginang] terlebih dahulu. Memakan sirih yang telah dicampur kapur, gambir, pinang adalah tradisi yang sekarang sulit ditemukan. Hanya beberapa orang yang masih melakukannya.

Jika kini kita melihat ada orang yang makan sirih, bagaimana? Apakah ada asumsi-asumsi mistik pada pikiran kita yang lugu ini? Praktik makan sirih pinang memang bermuatan mistik. Sebab, ada lontar menyebutkan beberapa mantra yang biasa diucapkan saat akan mulai mencampur, mengunyah, hingga menelan.

Ada juga catatan-catatan pendek yang menyebutkan sirih pinang bisa dipersembahkan untuk menjadi bekal kepada orang-orang mati yang akan melalui ritual pembakaran. Namun, sirih pinang dalam kakawin malah bernuansa erotik. Sebab dimakan sepasang kekasih yang menikmati persenggamaan malam pertama.

Sirih pinang memang layak dikenang.

Mpu Baradah melanjutkan perjalanan dan menemukan tiga mayat berjajar. Di antara ketiganya, ada dua mayat yang tubuhnya masih utuh. Ketiganya diperciki Tirtha Gangga Merta. Hanya dua yang hidup kembali. Karena hanya tubuhnya masih utuh saja yang bisa dihidupkan oleh Mpu Baradah.

Di tempat lain, Mpu Baradah melihat dua mayat lagi. Mayat itu juga diperciki Tirtha Gangga Merta, lalu hidup kembali. Setelah hidup, keduanya berterimakasih dan menghormat pada Mpu Baradah. Caranya dengan menjilati debu di telapak kaki sang Mpu [mandilati lebu kang haneng talampakan ing pada Sang Jatiwara].

Sampai di sana, kita diberitahu oleh teks bahwa Mpu Baradah jelas bisa menghidupkan orang mati. Syaratnya adalah dengan memercikkan Tirtha Gangga Merta. Kondisi fisik tubuh seseorang yang sudah mati, juga menjadi salah satu syarat penting agar bisa dihidupkan kembali. Syaratnya ialah agar tubuh orang mati itu masih utuh.

Syarat yang kedua ini, diperjelas pada adegan selanjutnya ketika Mpu Baradah bertemu seorang wanita yang kehilangan suaminya. Dengan perasaan sedih, wanita itu memohon pertolongan kepada Mpu Baradah agar suaminya bisa dihidupkan. Namun, Mpu Baradah berkata, “Tan kawasa yan mangkana. Yan durung rusaka si laywane lakinteka, bilih kita katemwa malih dening nghulun [Tidak bisa jika demikian. Jika belum rusak mayat suamimu, berangkali kalian akan bertemu lagi olehku].

Jelaslah bahwa keutuhan mayat adalah syarat penting agar bisa dihidupkan kembali.

Mpu Baradah berjanji, bahwa wanita itu akan bertemu lagi dengan suaminya setelah mati. Pertemuan itu akan tercapai jika wanita tadi mengingat ajaran yang diberikan oleh Mpu Baradah. Mpu Baradah menyebutnya sebagai paranti.

Paranti itulah yang disebutnya juga sebagai warah. Warah jika diterjemahkan, berarti ucapan. Dalam konteks ini, ucapan adalah istilah untuk menyatakan ajaran. Ajaran-ajaran itu kebanyakan diucapkan dengan berbisik, istilahnya Pawisik.

Pawisik pada dasarnya memang ajaran yang sangat rahasia. Rahasia itu dijaga oleh garis perguruan tertentu. Karena sangat rahasia, maka ada lontar yang berjudul Wisik Parama Rahasya. Namun, mempelajari ajaran Mpu Baradah, bukannya tanpa jalan lain selain mencari-cari Pawisik itu. Barangkali jika kita rajin mencari-cari catatan, kita akan menemukan catatan khusus tentang ajaran-ajaran Mpu Baradah. Ajaran-ajaran khusus itu sering diistilahkan dengan Kaputusan.

Mpu Baradah melanjutkan lagi perjalanannya setelah urusan dengan wanita tadi selesai. Pergilah Mpu Baradah ke tengah-tengah kuburan. Di sana ia bertemu dengan Weksirsa dan Mahisawadana. Keduanya adalah murid Calon Arang yang pada cerita sebelumnya juga berhasil menghidupkan orang mati dengan menggelar binayu-bayuan.

Karena keduanya adalah murid Calon Arang, sangat besar kemungkinan kalau ilmu binayu-bayuan itu adalah milik gurunya.

Kedua murid yang berbakti ini, menyatakan kebosanannya berbuat tidak baik. Maka keduanya memohon kepada Mpu Baradah agar dapat disucikan [diruwat]. Sayangnya, permohonan itu tidak dapat ditindaklanjuti sebelum Calon Arang disucikan lebih dahulu. Keduanya lalu diberikan mandat untuk menjumpai Calon Arang dan menyampaikan pesan Mpu Baradah.

Calon Arang ketika itu sedang menghadap Bhatari Bagawati. Dalam percakapan rahasia di antara keduanya, Bhatari Bagawati telah memperingatkan Calon Arang. Isi peringatannya, “Jangan tidak waspada, maut dekat dengan dirimu”. Calon Arang merasa was-was dengan peringatan Bhatari Bagawati. Saat itulah Weksirsa dan Mahisawadana datang memberitahu kedatangan Mpu Baradah. Calon Arang lalu menemui besannya.

Saat bertemu, Calon Arang bertanya kepada Mpu Baradah dan meminta ajaran utama. Mpu Baradah dengan senang hati menjelaskan ajaran kebaikan dan menerangkan perbuatan Calon Arang yang membunuh banyak orang adalah salah.

Katanya dosa Calon Arang itu tidak bisa dilukat dengan cara biasa, hanya kematian satu-satunya jalan [tan kawasa yang kita lukata, yan tan mahawan pati kalinganika]. Kematian pun tidak sembarang kematian, tapi Calon Arang juga harus memahami ajaran Pasuk Wetuning Lumukat. Jika tidak, Calon Arang tidak akan bisa disucikan lagi.

Calon Arang menyadari hal itu, maka dengan rendah hati ia meminta agar dilukat oleh Mpu Baradah. Tapi Mpu Baradah berkata lain, “Aku tidak bisa melukatmu sekarang”. Ucapan itu membuat Calon Arang kecewa dan sangat marah. Kemarahannya lebih hebat dari marahnya orang diselingkuhi. Bahkan lebih dahsyat dari marahnya Ibu karena kita durhaka.

Calon Arang memang tidak bisa mengutuk Mpu Baradah jadi batu. Namun, Calon Arang bisa menunjukkan kesaktiannya. Segera ia menari dan menggerai rambut ke depat wajahnya. Matanya mendelik dan melirik ke segala arah. “Mati kau sekarang Baradah!!!”. [b]

Puisi untuk Melawan Kuatnya Patriarki

Sebagai perempuan dari pulau di tengah Danau Toba, saya paham betul rasanya menjadi penonton.

Sewaktu itu, sebagai anak perempuan berusia tiga tahun saya tidak terlalu menaruh perhatian tentang perempuan dan perannya. Anak-anak tumbuh, bermain dan seolah-olah tidak ikut memikirkan dunia. Namun, sebenarnya anak-anak adalah saksi abadi nan kritis dari dunia yang mengalir gila.

Usia tiga tahun, apa yang bisa kita ingat dengan masa-masa itu? Orang dewasa sering meremehkan ingatan mahluk mungil. Namun, sebuah adegan, saya mengingatnya betul, mengakar kuat dan membentuk tubuh dan jiwa.

Di tempat asal saya, nama keluarga diturunkan dari garis lelaki. Lelaki sungguh harus maskulin. Mereka adalah mahluk yang nyaris tanpa disfungsi jika itu mengenai tugas dan peran. Dalam keluarga besar saya, laki-laki harus segera keluar rumah pada pagi hari, mengais rezeki dan pulang membawa apa-apa yang akan membesarkan nama keluarga dan membanggakan siapa pun.

Ini tidak masalah. Tentu saja ini membawa hal-hal baik kepada ketahanan pangan. Segalanya seolah berporos pada dua peran yaitu laki-laki yang berfungsi menggelembungkan pundi dan perempuan yang tunduk menunggu perintah di rumah. Benar-benar sempit dan menyesakkan.

Pada sebuah malam yang dingin dan gelap, suara ayam mulai terdengar dari pengujung malam. Gadis kecil terbangun karena mendengar isak tangis tersedu-sedu dari ujung ranjang. Gadis kecil itu melihat ibunya, menangis dan membalikkan tubuhnya, membelakangi ia dan saudari perempuannya. Sementara suara sekumpulan lelaki tertawa dengan gagah terdengar di halaman depan rumah mereka.

Si gadis kecil mengangkat langkahnya pelan agar ibunya tidak malu, ia melangkah menuju jendela. Ia menaruh pelupuk matanya di sela-sela jendela, menyaksikan ayahnya dan saudara-saudara lelaki ayahnya tertawa, berkumpul dan memberi perintah kepada beberapa pekerja untuk mengikat beberapa ternak dan memasukkan ke mobil truk keluarga.

Para pekerja yang menghalau dingin dengan jaket dan topi mengangkat ternak-ternak itu, menaruhnya ke dalam truk. Sementara ayah dan paman-paman gadis tersebut mengendarai mobil lainnya dan memimpin perjalanan.

Rumah gadis kecil itu kembali sepi, angin malam berhembus sayup-sayup, suara ayam semakin sering terdengar, pagi sebentar lagi tiba. Si gadis kecil mencoba bertanya kepada ibunya, apa yang membuat ia terisak pilu.

“Kenapa, Ma?’’ tanya gadis kecil itu berdiri kaku di depan ibunya.

“Ayah dan paman-pamanmu mengambil semua peliharaan milik Mama. Hanya itu hiburan Mama. Mereka mengambil bahkan tanpa bertanya, tanpa aba-aba, mengambil tanpa sisa. Mama merasa tidak ada, tidak berwujud,’’ jawab sang Mama sambil mengais air matanya dengan selimut berwarna kuning.

Sesi diskusi bertajuk “Perempuan Indonesia dalam Sinema” menjadi penutup rangkaian peeayaan Hari Film Nasional 2017 di Taman Baca Kesiman, Denpasar beberapa waktu yang lalu. Pembicara Oka Rusmini dan Rhoda Graurer, bersama Moderator, Ayu Diah Cempaka.

Puisi untuk Ibu

Gadis itu masih berusia tiga tahun. Samar-samar ia ketahui hidup ibunya tak seberuntung yang ia pikirkan. Ia melangkah ke jendela melihat malam gelap dan rasa sepi serta seribu tanda tanya tentang mengapa Ayah dan paman-pamannya tidak meminta izin kepada ibunya, tentang apakah ibunya memang mahluk tak berwujud di tengah keluarga itu.

Hari berlalu, siang menjadi malam, tawa dan tangis berganti seolah dunia hanya punya itu. Para lelaki datang dan pergi bercerita tentang keberhasilan di rantau, di perkebunan, di sawah- sawah, tentang penaklukan.

Gadis cilik itu tumbuh dengan ingatan bahwa suatu malam yang dingin, ia menemukan ibunya menangis karena merasa tak berwujud. Ibunya memberi perintah bahwa gadis itu harus bisa membaca, menulis, bersuara dan menemukan diri. Ia membawa gadis cilik itu ke sebuah gudang. Di sana ibunya menyimpan tiga kotak kardus berisi buku-buku. Ibunya membaca puisi, cerita dan prosa milik banyak pengarang.

Gadis itu ingin bisa membaca dan menulis. Ia ingin seperti ibunya. Ia mengambil pensil dari meja kerja ayahnya, mencoret semua dinding dapur. Sementara ibunya memasak, melayani perut seisi rumah agar kenyang dan seperti itu sepanjang hari.

Hingga suatu hari, saat gadis itu belum genap berusia lima tahun, ia membaca sebuah puisi untuk ibunya di dapur. Saat ibunya tengah menanak nasi. Ibunya terkejut, terharu dan mereka berpelukan. Gadis itu berkata, “Aku tahu, kau ingin jadi penulis kan? Tapi kau terlalu takut menuntut kan? Kau takut melawan kan? Kau takut dianggap durhaka bukan?”

“Tapi, kau tidak perlu khawatir, aku akan menjadi lebih baik. Kau harus melawan. Kau tidak perlu memasak jika kau bosan. Kau perlu keluar rumah dan bersuara. Kau jangan hanya menghabiskan hidupmu di balik asap dapur. Kau kan pernah berkuliah dan membaca buku-buku, kau harus segera bertindak karena kau tidak akan muda lagi,’’ ujar gadis cilik tersebut.

Ibunya melepas pelukan tersebut dan menulis di dinding dapur sambil menjawab, “Jika aku anggap kau anak kecil, maka aku salah. Tapi kau akan menulis dan bersuara dan lebih baik dariku. Itu pasti. Aku menganggap semua ini tak sia-sia, karena kau akan menjadi gadis pemberani yang menolak norma-norma membosankan ini.’’

Setiap hari hari milik gadis cilik itu. Dia habiskan dengan membaca puisi milik ibunya. Dan setiap hari, ibunya mengabdi menjadi menantu dalam keluarga besar yang mengedepankan laki-laki. Bangun dini hari, memasak, menyiapkan hari. Meski ada pekerja, tetap saja entah kenapa tampak begitu salah jika ibu santai, tampak tabu jika ia memerintah.

Dua puluh tahun kemudian, gadis tersebut belajar tentang ilmu kedokteran. Dalam ilmu kedokteran jiwa, disebutkan dua indikasi utama pernikahan yang sehat yakni tidak adanya disfungsi peran dalam fungsi ekonomi dan biologis sebagai dua faktor utama berlangsungnya pernikahan. Dalam hal tersebut tidak dijelaskan bahwa laki-laki harus menjadi pemeran utama fungsi ekonomi dan sebaliknya. Tak ada cerita tentang jender mana yang unggul.

Membekas

Sepenggal cerita di atas menyampaikan bahwa ketidaksetaraan dan ketidakpekaan akan membekas pada saksi-saksi. Sekelompok orang bisa menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk lebih adil dan baik, sebagian mungkin belum berhasil.

Gadis itu tidak membenci siapapun dalam keluarga besarnya. Dia mencintai mereka. Ia tumbuh beruntung tak kekurangan apapun. Hanya saja, di sini kita tidak hanya sekadar tumbuh tapi meresapi diri dan sekitar. Keadilan sejatinya harus dipertontonkan dalam hal sekecil apapun. Wajah-wajah perempuan yang tunduk, mengubur impian, kalah dalam menemukan diri karena nilai pernikahan dan keluarga harus dirombak.

Tidak banyak anak-anak tumbuh yang menyadari bahwa peran dalam masyarakat kita terlalu kaku, bahwa perempuan harus meninggalkan mimpi untuk pulang dan menjaga keutuhan rumah. Rumah seolah-olah adalah tanggung jawab perempuan semata. Paradigma ini tidak banyak berubah meski jaman kian melaju ke depan tanpa jeda. Perempuan kerap dianggap mahluk nomor dua, baik dalam pernikahan maupun pekerjaan.

Anak-anak menyaksikan ini, meniru dan menganggap itu adalah normal. Tidak banyak kita yang meresapi wajah-wajah kecewa, garis-garis halus tanda menahan asa, senyum-senyum kecut tanda berpura-pura. Sampai kapan kita akan hidup dalam tatanan masyarakat begini?

Gadis itu dan saudara-saudara perempuannya melawan, menghentak nilai keluarganya. Mereka pergi pagi hari dan pulang menggelembungkan diri seperti yang para lelaki di keluarga besarnya lakukan. Keterkejutan lahir, perlawanan dianggap abnormal. Segala lecutan yang para gadis ini lakukan dianggap sebagai keterbelakangan dan pelanggaran pada asal usul. Hingga suatu ketika, nilai-nilai adat ini melahirkan sekelompok generasi laki-laki yang cacat keberanian, pengecut yang bangga dengan nama keluarga dan nilai, tapi getir terhadap dunia.

Gadis-gadis ini muncul sebagai antitesis terhadap gambaran kemaskulinan. Dan lelaki-lelaki dalam tatanan ini merunduk malu, berkerut dan bersembunyi di balik peninggalan-peninggalan yang mereka banggakan. Sebagian melanjutkan nilai itu dan mengagungkannya dan sebagian menertawakan kelawasan tatanan tersebut.

Pertanyaannya, sampai kapan kita membiarkan segala yang sempit ini hidup? Segala yang tak adil ini beranak pinak? Bahwa perempuan adalah pemeran nomor dua yang menjaga rumah, memastikan sayur hangat dan pakaian anak-anak bersih gemilang sementara laki-laki dapat mengaktualisasikan diri hingga ujung dunia.

Sampai kapan generasi selanjutnya melihat bahwa ibu mereka adalah perempuan-perempuan yang menelan pil pahit pernikahan? Bahwa ibu mereka adalah perempuan yang ingin jadi penulis, yang ingin jadi pramugari, yang ingin jadi ahli bedah, yang ingin jadi pianis namun bersembunyi dibalik kasur, dapur dan arisan keluarga yang hingar bingar menceritakan segala dominasi laki-laki dalam bidang ekonomi dan sosial.

Jangan pernah berpikir bahwa anak-anak tak menilai ini semua, mereka melihat, menelan, mengingat, yang entah akan mereka kalahkan atau mereka tiru. Dan sebagai orang dewasa yang memiliki fungsi sudah seharusnya kita menciptakan dunia ebih adil dan manusiawi. Bahwa perempuan juga boleh berlari, menggandakan diri dan fungsi. Bahwa lelaki juga boleh menangis, kelelahan dan beristirahat di rumah.

Memberontak

Sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan dalam nilai patriarki kental. Saya dan saudari- saudari perempuan saya memberontak, membikin ayah kami mengakui bahwa norma asalnya tak lagi pantas untuk manusia. Sampai suatu ketika, dia mengizinkan ibu mengaktulisasikan diri dan membiarkan kami menemukan kepercayaan kami masing-masing.

Perjalanan kita menciptakan masyarakat yang adil dan bermartabat tidak akan terwujud jika para lelaki tak mengganggap perempuan adalah sepadan. Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa dunia lebih baik, jika kau sebagai lelaki saja lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada ibu, kekasih, istri dan saudarimu untuk nasi putih hangat di kotak nasimu? Bagaimana kau yakin bahwa anak lelaki mu akan mengasihimu jika kau saja lupa mempraktikkan kasih pada pendamping hidupmu? Bagaimana kau percaya bahwa kita bisa memiliki pemimpin yang baik jika setiap laki-laki di rumah menganggap suara perempuan dalam bermasyarakat hanya lagu pemanis?

Dan untuk Ibu, perempuan penuh kecerdasan yang lembut hati terima kasih membiarkan kami meresap gelisah dan cemasmu. Segala puisi takkan cukup menggantikan setiap kasihmu. Untukmu, yang hidup menahan mimpi dan asa, untukmu yang terisak satu dua kali di masa kecilku, karena suaramu hilang.

Ibu, semua baik-baik saja, kau sekarang boleh berbangga diri, diri ini takkan diam.

Suara Ibu,
Menusuk lembut suaranya dari balik bilik,
Hamba yang ruhnya tipis dan melayang-layang nyata
Sabda nadi dirinya menggerutu namun suara hilang dari kerongkongannya
Di setiap sungai dan persimpangan, suaranya pecah dalam bulir air mata
Tapi wajahnya, hanya itu yang pantas kau pandang, wajah dunia tanpa muslihat

Tanyaku tersisa, menyesakkan sanubari
Kapan dan di mana Ibu hilang?
Siapa yang menghamburkan rasa dan wujudnya?
Segala terka lahir, tumbuh, tinggal dalam setiap indera tentang senyum kecut ibu
Tenteram hati dibalik peluknya, tapi siapa yang memeluk ibu?

Sudahlah, kata ibu
Kita ada dalam tengkuk kekalahan, terkadang.
Lain hari, kau harus berlari dari palung gelap ini, katanya.
Dalam peluknya dan selimut berwarna kuning malam tak serupa lagi
Suara ibu bagai takdir dan nyawa,

Lalu segala sempit dan gelap kuterjang,
Bijakmu ku genggam dan taruh di kantong hari
Ibu menjelma nadi darah ku, denyut jantung ku, mata langkah ku,
Suara ibu menjadi lagu diantara simbol- simbol niscaya
Suara ibu tak lagi bersembunyi di balik bilik.

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian II

Ekspresi tari Calon Arang/id.wikipedia.org

Ayah, biarkan hamba tinggal di sini. Sampai mati hamba ingin tetap di sini.”

Demikian kata Wedawati kepada Mpu Baradah, setelah ia merasa tidak dipedulikan di rumahnya sendiri. Saat itu juga ia memutuskan akan tinggal di kuburan, di mana ibunya diupacarai dahulu. Mpu Baradah hanya bisa mengikuti kemauan anaknya. Mulai saat itu, Mpu Baradah memutuskan untuk membangun Pasraman di kuburan itu.

Tanah diratakan, juga diupacarai agar layak ditinggali. Nama upacaranya Bumi Suddha. Setelahnya didirikanlah balai-balai Patani, Patamuan, Pakulem-kuleman, juga Bukur. Gerbang masuk juga dibangun. Bunga-bunga mulai ditanam, seperti bunga Angsoka, Andul, Surabi, Tanjung, Kamuning, Campaka Gondok, Warsiki, Asana, Jering, dan Bujaga Puspa.

Tidak kurang lagi bunga Cabol Atuwa, Gambir, Malati Puspa, Caparnuja, Kuranta, Tari Naka, Cina, Teleng, Wari Dadu, Wari Petak, Wari Jingga, Wari Bang, Padma, dan Lungid Sabrang. Banyak jenis-jenis bunga di Pasraman itu, dan jenis bunga yang sudah tidak kita kenali lagi. Setelah Pasraman itu selesai, di sana Mpu Baradah mengajarkan banyak hal kepada murid-muridnya siang dan malam.

Sampai di sana, cerita tentang Mpu Baradah dan Wedawati berhenti. Atau lebih tepatnya dihentikan. Yang memiliki otoritas untuk menghentikan dan melanjutkan cerita adalah pencerita. Pencerita menjadi maha kuasa di dunia yang ia ciptakan sendiri. Tokoh-tokoh di dalamnya, bergerak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan pembaca hanya bisa pasrah mengikuti aliran pikiran pencerita, sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Maharaja Erlanggya namanya, raja dari kerajaan Daha. Ia disebut Tilingeng Karesyan. Kata Tiling bisa berarti pilihan. Karesyan tampaknya sangat dekat hubungannya dengan suatu tempat para Resi. Barangkali maksudnya, bahwa Erlanggya adalah raja yang dipilih dari salah satu tempat para Resi. Dengan demikian, sangat besar kemungkinan Erlanggya adalah salah satu pelajar di Karesyan itu.

Ada seorang Randa diceritakan kemudian. Randa ini bertempat di Girah. Ia dikenal dengan sebutan Calwan Arang. Anaknya satu bernama Ratna Manggali, cantik sekali. Sayangnya tidak ada yang melamarnya, entah orang-orang Girah, Daha atau orang dari negara pinggiran. Semuanya takut karena terdengar berita Adyan Ing Girah [Calon Arang] mempraktikkan Laku Geleh. Laku Geleh kita terjemahkan sebagai tindakan jahat. Kata Geleh berarti kotoran, noda, kejahatan. Entah kejahatan jenis apa yang konon dilakukan oleh Calwan Arang, belum dijelaskan pada bagian ini.

Calwan Arang merasa tidak terima dengan situasi yang harus diahadapi putrinya. “Apa kurangnya anakku? Kurang cantik? Tidak mungkin!” Karena itu, ia memutuskan untuk Manggangsala Pustaka. Manggangsala Pustaka berarti menurunkan atau mengambil Pustaka. Pustaka dalam hal ini berarti ajaran. Ajaran apakah yang hendak diturunkan? Menurut teks, yang diturunkan adalah Lipyakara. Tidak ada penjelasan yang cukup menjanjikan untuk memahami, apa yang dimaksud dengan Lipyakara. Tapi teks menunjukkan bahwa Lipyakara itu dilakukan dengan menghadap kepada Sri Bagawati. Sri Bagawati adalah nama lain dari Durga. Tujuannya hanya satu: tumpura nikang wwang sanagara [agar semua orang di negara itu terkena penyakit].

Tidak ada yang harus ditunggu lagi, Calwan Arang bersama dengan murid-muridnya menghadap Sri Bagawati di kuburan. Agar tidak ada yang tertinggal, murid-murid itu diabsen terlebih dahulu. Si Weksirsa, Mahisawadana, Si Lendya, Si Lende, Si Lendi, Si Guyang, Si Larung dan Si Gandi. Semuanya menari di kuburan!

Maka yang disembah merasa senang dan mewujudkan diri bersama dengan para pasukannya. Pasukan-pasukan itu datang dan menari di kuburan. Kuburan menjadi sebuah panggung tarian bagi pemuja dan pujaan. Bayangkan, jika drama tari Calwan Arang diadakan di kuburan. Tarian kembali kepada esensinya sebagai ritus pemujaan yang dilakukan dengan gerakan ritmis-mistis. Dengan demikian, penonton tidak perlu lagi menunggu-nunggu saat mayat-mayatan dibawa ke kuburan. Sebab panggung tarian sudah menyajikan kemistisan dari awal pertunjukan dimulai. Juga mereka tidak menjaga jarak sebagai penikmat, tapi juga sebagai pelaku yang dinikmati oleh dirinya sendiri.

Sri Bagawati merasa senang, dan mengabulkan permintaan Calwan Arang. Namun dengan syarat, jangan membunuh sampai ke tengah [kerajaan?], dan jangan sampai kematian itu menyebabkan duka yang teramat sangat. Calwan Arang senang bukan kepalang, lalu melanjutkan tariannya di tempat itu. Ketika tengah malam, berbunyilah Kamanak dan Kangsi. Keduanya dalam seni Gambuh adalah alat musik. Kedua instrument ini tampaknya juga sangat penting dihadirkan pada drama tari Calwan Arang. Jadi ada beberapa hal yang dapat kita ketahui dari cerita Calon Arang yang kita baca. Begini:

  1. Calon Arang menari bersama delapan orang muridnya di Kuburan. Tujuannya adalah memuja Sri Bagawati;

  2. Waktunya adalah tengah malam [madya ratri];

  3. Instrumen musik yang disebut mengiringi tarian itu adalah Kamanak dan Kangsi.

Jadi beberapa point penting itu perlu dicatat oleh kita yang mengaku gemar pada drama tari Calwan Arang. Teks menyajikan sesuatu yang lain dari pada pertunjukan yang sering dipentaskan. Di tingkat ini, kita mesti memikirkan kembali hal-hal lain yang mungkin masih tersimpan dalam teks dan membandingkannya dengan seni pertunjukan. Barangkali di antaranya ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk mengeksplorasi lebih jauh seni pertunjukkan Calon Arang.

Permohonan Calwan Arang benar-benar terkabul. Banyak orang di negara itu mati. Kematian banyak orang membuat Negara serasa mencekam. Rakryan Apatih menghadap kepada raja Erlanggya, melaporkan kejadian yang menimpa negara. “Penyebab semua ini adalah Randeng Girah, dialah Calwan Arang!”, demikian isi laporan sang Patih.

Tidak ada ampun untuk Calwan Arang, pergilah kalian semua punggawa, serang si Calwan Arang”, dengan geram raja Erlanggya memerintahkan semua punggawanya menuju Girah. Sang Bretya sampai di kediaman Calwan Arang, yang dicari masih tertidur pulas. Moment itu dimanfaatkan dengan baik, Sang Bretya menyerang Calwan Arang. Rambutnya dijambak lalu bersiap menusuknya. Saat itu, entah kenapa kaki Sang Bretya terasa berat dan gemetar. Calwan Arang sadar, seketika itu keluar api dari mata, telinga dan mulutnya. Api itu makin lama makin besar dan membakar Sang Bretya. Maka matilah dua orang Bretya yang menyerang Calwan Arang.

Ada beberapa teks yang mendukung kejadian yang menimpa punggawa Daha itu. Api konon memang bisa dikeluarkan dari lubang-lubang yang disebutkan dalam teks Calwan Arang. Masing-masing lubang itu mengeluarkan api yang berbeda warna. Api dari mata berwarna putih, sebab api ini berasal dari jantung. Jantung dalam peta mistis, terletak di timur tubuh. Telinga mengeluarkan api kuning. Menurut teks yang sama, dari ginjal ada saluran berupa urat yang tembus ke telinga. Ginjal dalam tubuh, ada di barat. Dari mulut keluar api merah. Api itu konon bersumber dari hati. Hati dalam peta mistis berada di selatan berwarna merah.

Selain beberapa lubang yang sudah disebutkan tadi, menurut teks Calwan Arang ada lagi satu lubang tubuh Calwan Arang yang mengeluarkan api. Lubang itu disebut Garba. Garba adalah sebutan untuk Rahim. Jadi dari lubang Rahim itulah api keluar berkobar dan membakar Bretya dari Daha. Bretya barangkali sebutan untuk punggawa kerajaan Daha. Semua kejadian itu dilaporkan kepada raja Erlanggya.

Calwan Arang yang sudah marah, menjadi makin marah setelah kejadian itu. Maka sekali lagi ia pergi ke kuburan dan menurunkan Lipyakara. Di kuburan, Calwan Arang duduk di bawah pohon Kepuh. Murid-muridnya mendekat. Si Lendya memberanikan diri bicara, “Maafkan hamba guru, untuk apa kita melakukan semua ini? Tidakkah sebaiknya kita berbuat baik dan menyerahkan diri kepada Sang Mahamuni?”.

Larung, muridnya yang lain berkata, “Apa yang mesti kita takutkan guru? Kemarahan raja? Jangan ragu guru, kita serang saja kerajaan itu!”. Dihadapkan pada dua pilihan, Calwan Arang memilih menyerang.

Cepat, bunyikan Kamanak dan Kangsi! Menarilah! Menari! Menari!”.

Tanpa cang-cing-cong lagi, Calwan Arang dan murid-muridnya menari lagi di kuburan. Tujuannya agar kerajaan Daha diserang penyakit. Tidak lagi syarat Sri Bagawati diperhatikan oleh Calwan Arang. Negeri Daha diserang sampai ke tengah kerajaannya.Mereka menari dengan caranya masing-masing. Si Guyang menari dengan tangan terlentang lalu menepuk-nepuk. Jalannya terbalik [nyungsang]. Juga memakai kain [sinjang]. Matanya mendelik, melihat ke kanan dan ke kiri.

Si Larung menari, lagaknya seperti macan akan menerkam buruan. Matanya mendelik seperti permata merah. Rambutnya terurai panjang. Si Gandi menari melompat-lompat. Rambutnya terurai dan berjuntai. Si Lendi menari berjinjit-jinjit memakai kain. Matanya bersinar terang seperti api berkobar. Si Weksirsa beda lagi, dia menari menunduk-nunduk. Matanya mendelik tanpa berkedip. Mahisawadana menari dengan satu kaki. Setelahnya ia berbalik, kepalanya di bawah. Lidahnya menjulur-julur. Calwan Arang merasa senang.

Tarian itu belum selesai. Mereka membagi tugas melingkar. Lenda bertugas di Selatan. Larung di Utara. Guyang di Timur. Gandi di Barat. Calwan Arang di tengah. Begitu juga Weksirsa dan Mahisawadana, di tengah bersama Calwan Arang. Formasi itu mirip bunga teratai dengan empat kelopak. Masing-masing kelopak menunjuk satu arah. Calwan Arang dan dua muridnya menjadi sari bunga teratai.

Konsep ini tidak asing bagi mereka yang menekuni teks-teks lontar. Bahkan, konsep itu tidak asing pula bagi orang-orang yang peduli pada ritual. Salah satu ritual yang menggunakan konsep teratai empat kelopak adalah upacara caru. Masing-masing arah diwakilkan oleh satu ayam. Ayamnya bukan ayam sembarangan. Tapi ayam yang bulu-bulunya diseleksi.

Formasi yang dibangun sudah siap. Saat itu mereka melihat satu mayat. Tampaknya mati saat Tumpek Kaliwon. Tumpek Kaliwon artinya Sabtu Kaliwon. Mayat itu diletakkan pada batang pohon Kepuh. Apa yang dilakukan dengan mayat itu? Dimakan? Dicincang? Tidak. Mayat itu lalu dihidupkan! Teknik menghidupkan ini disebut binaywan-baywan. Artinya memberikan sumber tenaga [bayu]. Dalam banyak sumber lontar, kita diberi tahu bahwa yang disebut bayu ada sepuluh. Bahkan menurut sumber lainnya, jumlah bayu ada dua puluh. Keduapuluh bayu itu bernama bayu rwang puluh.

Teks menyajikan sesuatu untuk dibaca. Pembaca bertugas memahami. Pergulatan antara teks dan pembaca terjadi terus menerus. Hadiah dari pergulatan itu adalah pemahaman yang terkesan selalu baru, selalu segar. Calwan Arang dituduh melakukan kejahatan, bahkan pencerita sendiri tidak menjelaskan kejahatan macam apa yang dilakukannya.

Melalui teks, kita tahu kalau Lipyakara dilakukan oleh Calwan Arang karena dua hal. Pertama karena putrinya tidak ada yang berani melamar, sebab tuduhan yang ditusukkan pada dirinya. Kedua, karena ia diserang oleh punggawa Erlanggya. Keduanya berpusat pada dendam. Dendam karena dituduh, dan dendam karena diserang.

The post Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian II appeared first on BaleBengong.

Garuda dan Citra orang Bali

Ari Ashkara Bekas Dirut Garuda yang dipecat gara-gara menyelundupkan motor mewah. Ilustrasi Kompas TV.

Sadarlah, sanjungan pada orang Bali hanyalah jargon politisi.

Sebagai orang yang lahir dan besar serta hingga sekarang berada di Bali, menurut saya, orang Bali akrab dengan garuda. Secara teologi, garuda merupakan kendaraan atau tunggangan Dewa Wisnu dalam konsep Tri Murti. Pemahaman ini diajarkan sejak sekolah dasar.

Saat pelajaran agama, siswa akan diminta oleh guru untuk menghafalkan tiga dewa yang menjadi bagian dari Tri Murti.

Pada pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) diajarkan pula garuda (burung) merupakan lambang negara. Di dada burung garuda juga tertera beberapa simbol yang menerangkan tentang konsep Pancasila.

Dalam bidang seni ukir, garuda menjadi salah satu bentuk ornamen. Bentuk garuda bisa dilihat dari ukiran di Pura serta hiasan pada pintu masuknya.

Bahkan ada pematung spesialis garuda asal Tegalalang, Gianyar yang karyanya sudah mendunia, I Made Ada Astawa atau yang akrab disapa Made Ada.

Selain beberapa hal tadi, salah satu lambang garuda yang bisa dilihat yakni, Garuda Wisnu Kencana atau GWK. Patung yang berada di kawasan Jimbaran ini merupakan karya dari seniman asal Kabupaten Tabanan, I Nyoman Nuarta.

Meski sempat mandek selama 28 tahun, pembangunan patung yang konon katanya lebih tinggi dari patung Liberty di Amerika ini bisa terwujud.

Tersandung Harley

Saya kira orang Bali sudah sangat akrab dengan garuda, termasuk saya. Terakhir saya menggunakan pesawat terbang dengan maskapai Garuda saat pergi ke Lombok.

Kedekatan orang Bali dengan garuda semakin nyata ketika ada petinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terkait dengan garuda tersandung kasus motor Harley selundupan dari Perancis. Saya tidak mengerti, apakah semuanya ini kebetulan?

Yang pasti, perbincangan tentang orang Bali dan Garuda menjadi ramai.

Bahkan, saya amati di media sosial ada yang mengungkapkan citra orang Bali yang baik, ramah, sopan, jujur dan ulet tergerus karena ulah dari petinggi BUMN yang dikabarkan dipecat ini.

Pada titik ini saya berpikir, apakah benar seperti itu? Citra baik yang melekat pada orang Bali menurut saya adalah bagian dari promosi pariwisata.

Pariwisata adalah bisnis jasa. Jasa memerlukan servis yang membuat wisatawan nyaman.

Jika, orang Bali memang memiliki sikap-sikap yang mulia, lantas kasus pembantaian 65 itu bagaimana?

Wajah beringas manusia Bali saat membunuh saudaranya sendiri menyisakan kepedihan, tangis, kehilangan, dendam, dan ingatan yang terlupakan. Sejarah kelam manusia Bali itu hadir dalam bilik-bilik ingatan para saksi sejarah yang puluhan tahun terbungkam (Suryawan, 2010: 40).

Sekali lagi, pariwisata Bali dibentuk oleh tangan kolonial. Berawal dari dua perang puputan, Badung pada 1906 dan Klungkung 1908 pemerintah kolonial Belanda merasa malu di Eropa karena korban yang timbul begitu besar. Anggota parlemen Belanda mengkritik pemerintah kolonial karena menyebabkan korban yang besar padahal kerajaan di Bali selatan tidak bersatu. Untuk menutupi aib, pemerintah kolonial memberlakukan politik etis di Bali. Salah satunya dengan memulai promosi pariwisata (Dharma Putra, 2008: 6).

Kembali lagi ke citra orang Bali yang konon sedang rusak akibat kasus penyelundupan motor Harley, saya tidak sepakat. Sebelum kasus itu terbongkar, sudah banyak orang Bali yang menjadi pejabat di Jakarta tersangkut kasus hukum hingga vonis pengadilan.

Sadarlah, sanjungan yang mengatakan sikap orang Bali itu mulia hanya jargon politisi. Serta, sekali lagi saya ingatkan, itu hanyalah omong kosong untuk menarik simpati.

Mungkin pemikiran bahwa orang Bali itu sama dengan penduduk dari luar pulaunya harus mulai ditumbuhkan. Karena sama, makanya orang Bali harus berjuang secara sama untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. [b]

The post Garuda dan Citra orang Bali appeared first on BaleBengong.