Tag Archives: ESAI

Puisi untuk Melawan Kuatnya Patriarki

Sebagai perempuan dari pulau di tengah Danau Toba, saya paham betul rasanya menjadi penonton.

Sewaktu itu, sebagai anak perempuan berusia tiga tahun saya tidak terlalu menaruh perhatian tentang perempuan dan perannya. Anak-anak tumbuh, bermain dan seolah-olah tidak ikut memikirkan dunia. Namun, sebenarnya anak-anak adalah saksi abadi nan kritis dari dunia yang mengalir gila.

Usia tiga tahun, apa yang bisa kita ingat dengan masa-masa itu? Orang dewasa sering meremehkan ingatan mahluk mungil. Namun, sebuah adegan, saya mengingatnya betul, mengakar kuat dan membentuk tubuh dan jiwa.

Di tempat asal saya, nama keluarga diturunkan dari garis lelaki. Lelaki sungguh harus maskulin. Mereka adalah mahluk yang nyaris tanpa disfungsi jika itu mengenai tugas dan peran. Dalam keluarga besar saya, laki-laki harus segera keluar rumah pada pagi hari, mengais rezeki dan pulang membawa apa-apa yang akan membesarkan nama keluarga dan membanggakan siapa pun.

Ini tidak masalah. Tentu saja ini membawa hal-hal baik kepada ketahanan pangan. Segalanya seolah berporos pada dua peran yaitu laki-laki yang berfungsi menggelembungkan pundi dan perempuan yang tunduk menunggu perintah di rumah. Benar-benar sempit dan menyesakkan.

Pada sebuah malam yang dingin dan gelap, suara ayam mulai terdengar dari pengujung malam. Gadis kecil terbangun karena mendengar isak tangis tersedu-sedu dari ujung ranjang. Gadis kecil itu melihat ibunya, menangis dan membalikkan tubuhnya, membelakangi ia dan saudari perempuannya. Sementara suara sekumpulan lelaki tertawa dengan gagah terdengar di halaman depan rumah mereka.

Si gadis kecil mengangkat langkahnya pelan agar ibunya tidak malu, ia melangkah menuju jendela. Ia menaruh pelupuk matanya di sela-sela jendela, menyaksikan ayahnya dan saudara-saudara lelaki ayahnya tertawa, berkumpul dan memberi perintah kepada beberapa pekerja untuk mengikat beberapa ternak dan memasukkan ke mobil truk keluarga.

Para pekerja yang menghalau dingin dengan jaket dan topi mengangkat ternak-ternak itu, menaruhnya ke dalam truk. Sementara ayah dan paman-paman gadis tersebut mengendarai mobil lainnya dan memimpin perjalanan.

Rumah gadis kecil itu kembali sepi, angin malam berhembus sayup-sayup, suara ayam semakin sering terdengar, pagi sebentar lagi tiba. Si gadis kecil mencoba bertanya kepada ibunya, apa yang membuat ia terisak pilu.

“Kenapa, Ma?’’ tanya gadis kecil itu berdiri kaku di depan ibunya.

“Ayah dan paman-pamanmu mengambil semua peliharaan milik Mama. Hanya itu hiburan Mama. Mereka mengambil bahkan tanpa bertanya, tanpa aba-aba, mengambil tanpa sisa. Mama merasa tidak ada, tidak berwujud,’’ jawab sang Mama sambil mengais air matanya dengan selimut berwarna kuning.

Sesi diskusi bertajuk “Perempuan Indonesia dalam Sinema” menjadi penutup rangkaian peeayaan Hari Film Nasional 2017 di Taman Baca Kesiman, Denpasar beberapa waktu yang lalu. Pembicara Oka Rusmini dan Rhoda Graurer, bersama Moderator, Ayu Diah Cempaka.

Puisi untuk Ibu

Gadis itu masih berusia tiga tahun. Samar-samar ia ketahui hidup ibunya tak seberuntung yang ia pikirkan. Ia melangkah ke jendela melihat malam gelap dan rasa sepi serta seribu tanda tanya tentang mengapa Ayah dan paman-pamannya tidak meminta izin kepada ibunya, tentang apakah ibunya memang mahluk tak berwujud di tengah keluarga itu.

Hari berlalu, siang menjadi malam, tawa dan tangis berganti seolah dunia hanya punya itu. Para lelaki datang dan pergi bercerita tentang keberhasilan di rantau, di perkebunan, di sawah- sawah, tentang penaklukan.

Gadis cilik itu tumbuh dengan ingatan bahwa suatu malam yang dingin, ia menemukan ibunya menangis karena merasa tak berwujud. Ibunya memberi perintah bahwa gadis itu harus bisa membaca, menulis, bersuara dan menemukan diri. Ia membawa gadis cilik itu ke sebuah gudang. Di sana ibunya menyimpan tiga kotak kardus berisi buku-buku. Ibunya membaca puisi, cerita dan prosa milik banyak pengarang.

Gadis itu ingin bisa membaca dan menulis. Ia ingin seperti ibunya. Ia mengambil pensil dari meja kerja ayahnya, mencoret semua dinding dapur. Sementara ibunya memasak, melayani perut seisi rumah agar kenyang dan seperti itu sepanjang hari.

Hingga suatu hari, saat gadis itu belum genap berusia lima tahun, ia membaca sebuah puisi untuk ibunya di dapur. Saat ibunya tengah menanak nasi. Ibunya terkejut, terharu dan mereka berpelukan. Gadis itu berkata, “Aku tahu, kau ingin jadi penulis kan? Tapi kau terlalu takut menuntut kan? Kau takut melawan kan? Kau takut dianggap durhaka bukan?”

“Tapi, kau tidak perlu khawatir, aku akan menjadi lebih baik. Kau harus melawan. Kau tidak perlu memasak jika kau bosan. Kau perlu keluar rumah dan bersuara. Kau jangan hanya menghabiskan hidupmu di balik asap dapur. Kau kan pernah berkuliah dan membaca buku-buku, kau harus segera bertindak karena kau tidak akan muda lagi,’’ ujar gadis cilik tersebut.

Ibunya melepas pelukan tersebut dan menulis di dinding dapur sambil menjawab, “Jika aku anggap kau anak kecil, maka aku salah. Tapi kau akan menulis dan bersuara dan lebih baik dariku. Itu pasti. Aku menganggap semua ini tak sia-sia, karena kau akan menjadi gadis pemberani yang menolak norma-norma membosankan ini.’’

Setiap hari hari milik gadis cilik itu. Dia habiskan dengan membaca puisi milik ibunya. Dan setiap hari, ibunya mengabdi menjadi menantu dalam keluarga besar yang mengedepankan laki-laki. Bangun dini hari, memasak, menyiapkan hari. Meski ada pekerja, tetap saja entah kenapa tampak begitu salah jika ibu santai, tampak tabu jika ia memerintah.

Dua puluh tahun kemudian, gadis tersebut belajar tentang ilmu kedokteran. Dalam ilmu kedokteran jiwa, disebutkan dua indikasi utama pernikahan yang sehat yakni tidak adanya disfungsi peran dalam fungsi ekonomi dan biologis sebagai dua faktor utama berlangsungnya pernikahan. Dalam hal tersebut tidak dijelaskan bahwa laki-laki harus menjadi pemeran utama fungsi ekonomi dan sebaliknya. Tak ada cerita tentang jender mana yang unggul.

Membekas

Sepenggal cerita di atas menyampaikan bahwa ketidaksetaraan dan ketidakpekaan akan membekas pada saksi-saksi. Sekelompok orang bisa menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk lebih adil dan baik, sebagian mungkin belum berhasil.

Gadis itu tidak membenci siapapun dalam keluarga besarnya. Dia mencintai mereka. Ia tumbuh beruntung tak kekurangan apapun. Hanya saja, di sini kita tidak hanya sekadar tumbuh tapi meresapi diri dan sekitar. Keadilan sejatinya harus dipertontonkan dalam hal sekecil apapun. Wajah-wajah perempuan yang tunduk, mengubur impian, kalah dalam menemukan diri karena nilai pernikahan dan keluarga harus dirombak.

Tidak banyak anak-anak tumbuh yang menyadari bahwa peran dalam masyarakat kita terlalu kaku, bahwa perempuan harus meninggalkan mimpi untuk pulang dan menjaga keutuhan rumah. Rumah seolah-olah adalah tanggung jawab perempuan semata. Paradigma ini tidak banyak berubah meski jaman kian melaju ke depan tanpa jeda. Perempuan kerap dianggap mahluk nomor dua, baik dalam pernikahan maupun pekerjaan.

Anak-anak menyaksikan ini, meniru dan menganggap itu adalah normal. Tidak banyak kita yang meresapi wajah-wajah kecewa, garis-garis halus tanda menahan asa, senyum-senyum kecut tanda berpura-pura. Sampai kapan kita akan hidup dalam tatanan masyarakat begini?

Gadis itu dan saudara-saudara perempuannya melawan, menghentak nilai keluarganya. Mereka pergi pagi hari dan pulang menggelembungkan diri seperti yang para lelaki di keluarga besarnya lakukan. Keterkejutan lahir, perlawanan dianggap abnormal. Segala lecutan yang para gadis ini lakukan dianggap sebagai keterbelakangan dan pelanggaran pada asal usul. Hingga suatu ketika, nilai-nilai adat ini melahirkan sekelompok generasi laki-laki yang cacat keberanian, pengecut yang bangga dengan nama keluarga dan nilai, tapi getir terhadap dunia.

Gadis-gadis ini muncul sebagai antitesis terhadap gambaran kemaskulinan. Dan lelaki-lelaki dalam tatanan ini merunduk malu, berkerut dan bersembunyi di balik peninggalan-peninggalan yang mereka banggakan. Sebagian melanjutkan nilai itu dan mengagungkannya dan sebagian menertawakan kelawasan tatanan tersebut.

Pertanyaannya, sampai kapan kita membiarkan segala yang sempit ini hidup? Segala yang tak adil ini beranak pinak? Bahwa perempuan adalah pemeran nomor dua yang menjaga rumah, memastikan sayur hangat dan pakaian anak-anak bersih gemilang sementara laki-laki dapat mengaktualisasikan diri hingga ujung dunia.

Sampai kapan generasi selanjutnya melihat bahwa ibu mereka adalah perempuan-perempuan yang menelan pil pahit pernikahan? Bahwa ibu mereka adalah perempuan yang ingin jadi penulis, yang ingin jadi pramugari, yang ingin jadi ahli bedah, yang ingin jadi pianis namun bersembunyi dibalik kasur, dapur dan arisan keluarga yang hingar bingar menceritakan segala dominasi laki-laki dalam bidang ekonomi dan sosial.

Jangan pernah berpikir bahwa anak-anak tak menilai ini semua, mereka melihat, menelan, mengingat, yang entah akan mereka kalahkan atau mereka tiru. Dan sebagai orang dewasa yang memiliki fungsi sudah seharusnya kita menciptakan dunia ebih adil dan manusiawi. Bahwa perempuan juga boleh berlari, menggandakan diri dan fungsi. Bahwa lelaki juga boleh menangis, kelelahan dan beristirahat di rumah.

Memberontak

Sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan dalam nilai patriarki kental. Saya dan saudari- saudari perempuan saya memberontak, membikin ayah kami mengakui bahwa norma asalnya tak lagi pantas untuk manusia. Sampai suatu ketika, dia mengizinkan ibu mengaktulisasikan diri dan membiarkan kami menemukan kepercayaan kami masing-masing.

Perjalanan kita menciptakan masyarakat yang adil dan bermartabat tidak akan terwujud jika para lelaki tak mengganggap perempuan adalah sepadan. Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa dunia lebih baik, jika kau sebagai lelaki saja lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada ibu, kekasih, istri dan saudarimu untuk nasi putih hangat di kotak nasimu? Bagaimana kau yakin bahwa anak lelaki mu akan mengasihimu jika kau saja lupa mempraktikkan kasih pada pendamping hidupmu? Bagaimana kau percaya bahwa kita bisa memiliki pemimpin yang baik jika setiap laki-laki di rumah menganggap suara perempuan dalam bermasyarakat hanya lagu pemanis?

Dan untuk Ibu, perempuan penuh kecerdasan yang lembut hati terima kasih membiarkan kami meresap gelisah dan cemasmu. Segala puisi takkan cukup menggantikan setiap kasihmu. Untukmu, yang hidup menahan mimpi dan asa, untukmu yang terisak satu dua kali di masa kecilku, karena suaramu hilang.

Ibu, semua baik-baik saja, kau sekarang boleh berbangga diri, diri ini takkan diam.

Suara Ibu,
Menusuk lembut suaranya dari balik bilik,
Hamba yang ruhnya tipis dan melayang-layang nyata
Sabda nadi dirinya menggerutu namun suara hilang dari kerongkongannya
Di setiap sungai dan persimpangan, suaranya pecah dalam bulir air mata
Tapi wajahnya, hanya itu yang pantas kau pandang, wajah dunia tanpa muslihat

Tanyaku tersisa, menyesakkan sanubari
Kapan dan di mana Ibu hilang?
Siapa yang menghamburkan rasa dan wujudnya?
Segala terka lahir, tumbuh, tinggal dalam setiap indera tentang senyum kecut ibu
Tenteram hati dibalik peluknya, tapi siapa yang memeluk ibu?

Sudahlah, kata ibu
Kita ada dalam tengkuk kekalahan, terkadang.
Lain hari, kau harus berlari dari palung gelap ini, katanya.
Dalam peluknya dan selimut berwarna kuning malam tak serupa lagi
Suara ibu bagai takdir dan nyawa,

Lalu segala sempit dan gelap kuterjang,
Bijakmu ku genggam dan taruh di kantong hari
Ibu menjelma nadi darah ku, denyut jantung ku, mata langkah ku,
Suara ibu menjadi lagu diantara simbol- simbol niscaya
Suara ibu tak lagi bersembunyi di balik bilik.

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian II

Ekspresi tari Calon Arang/id.wikipedia.org

Ayah, biarkan hamba tinggal di sini. Sampai mati hamba ingin tetap di sini.”

Demikian kata Wedawati kepada Mpu Baradah, setelah ia merasa tidak dipedulikan di rumahnya sendiri. Saat itu juga ia memutuskan akan tinggal di kuburan, di mana ibunya diupacarai dahulu. Mpu Baradah hanya bisa mengikuti kemauan anaknya. Mulai saat itu, Mpu Baradah memutuskan untuk membangun Pasraman di kuburan itu.

Tanah diratakan, juga diupacarai agar layak ditinggali. Nama upacaranya Bumi Suddha. Setelahnya didirikanlah balai-balai Patani, Patamuan, Pakulem-kuleman, juga Bukur. Gerbang masuk juga dibangun. Bunga-bunga mulai ditanam, seperti bunga Angsoka, Andul, Surabi, Tanjung, Kamuning, Campaka Gondok, Warsiki, Asana, Jering, dan Bujaga Puspa.

Tidak kurang lagi bunga Cabol Atuwa, Gambir, Malati Puspa, Caparnuja, Kuranta, Tari Naka, Cina, Teleng, Wari Dadu, Wari Petak, Wari Jingga, Wari Bang, Padma, dan Lungid Sabrang. Banyak jenis-jenis bunga di Pasraman itu, dan jenis bunga yang sudah tidak kita kenali lagi. Setelah Pasraman itu selesai, di sana Mpu Baradah mengajarkan banyak hal kepada murid-muridnya siang dan malam.

Sampai di sana, cerita tentang Mpu Baradah dan Wedawati berhenti. Atau lebih tepatnya dihentikan. Yang memiliki otoritas untuk menghentikan dan melanjutkan cerita adalah pencerita. Pencerita menjadi maha kuasa di dunia yang ia ciptakan sendiri. Tokoh-tokoh di dalamnya, bergerak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan pembaca hanya bisa pasrah mengikuti aliran pikiran pencerita, sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Maharaja Erlanggya namanya, raja dari kerajaan Daha. Ia disebut Tilingeng Karesyan. Kata Tiling bisa berarti pilihan. Karesyan tampaknya sangat dekat hubungannya dengan suatu tempat para Resi. Barangkali maksudnya, bahwa Erlanggya adalah raja yang dipilih dari salah satu tempat para Resi. Dengan demikian, sangat besar kemungkinan Erlanggya adalah salah satu pelajar di Karesyan itu.

Ada seorang Randa diceritakan kemudian. Randa ini bertempat di Girah. Ia dikenal dengan sebutan Calwan Arang. Anaknya satu bernama Ratna Manggali, cantik sekali. Sayangnya tidak ada yang melamarnya, entah orang-orang Girah, Daha atau orang dari negara pinggiran. Semuanya takut karena terdengar berita Adyan Ing Girah [Calon Arang] mempraktikkan Laku Geleh. Laku Geleh kita terjemahkan sebagai tindakan jahat. Kata Geleh berarti kotoran, noda, kejahatan. Entah kejahatan jenis apa yang konon dilakukan oleh Calwan Arang, belum dijelaskan pada bagian ini.

Calwan Arang merasa tidak terima dengan situasi yang harus diahadapi putrinya. “Apa kurangnya anakku? Kurang cantik? Tidak mungkin!” Karena itu, ia memutuskan untuk Manggangsala Pustaka. Manggangsala Pustaka berarti menurunkan atau mengambil Pustaka. Pustaka dalam hal ini berarti ajaran. Ajaran apakah yang hendak diturunkan? Menurut teks, yang diturunkan adalah Lipyakara. Tidak ada penjelasan yang cukup menjanjikan untuk memahami, apa yang dimaksud dengan Lipyakara. Tapi teks menunjukkan bahwa Lipyakara itu dilakukan dengan menghadap kepada Sri Bagawati. Sri Bagawati adalah nama lain dari Durga. Tujuannya hanya satu: tumpura nikang wwang sanagara [agar semua orang di negara itu terkena penyakit].

Tidak ada yang harus ditunggu lagi, Calwan Arang bersama dengan murid-muridnya menghadap Sri Bagawati di kuburan. Agar tidak ada yang tertinggal, murid-murid itu diabsen terlebih dahulu. Si Weksirsa, Mahisawadana, Si Lendya, Si Lende, Si Lendi, Si Guyang, Si Larung dan Si Gandi. Semuanya menari di kuburan!

Maka yang disembah merasa senang dan mewujudkan diri bersama dengan para pasukannya. Pasukan-pasukan itu datang dan menari di kuburan. Kuburan menjadi sebuah panggung tarian bagi pemuja dan pujaan. Bayangkan, jika drama tari Calwan Arang diadakan di kuburan. Tarian kembali kepada esensinya sebagai ritus pemujaan yang dilakukan dengan gerakan ritmis-mistis. Dengan demikian, penonton tidak perlu lagi menunggu-nunggu saat mayat-mayatan dibawa ke kuburan. Sebab panggung tarian sudah menyajikan kemistisan dari awal pertunjukan dimulai. Juga mereka tidak menjaga jarak sebagai penikmat, tapi juga sebagai pelaku yang dinikmati oleh dirinya sendiri.

Sri Bagawati merasa senang, dan mengabulkan permintaan Calwan Arang. Namun dengan syarat, jangan membunuh sampai ke tengah [kerajaan?], dan jangan sampai kematian itu menyebabkan duka yang teramat sangat. Calwan Arang senang bukan kepalang, lalu melanjutkan tariannya di tempat itu. Ketika tengah malam, berbunyilah Kamanak dan Kangsi. Keduanya dalam seni Gambuh adalah alat musik. Kedua instrument ini tampaknya juga sangat penting dihadirkan pada drama tari Calwan Arang. Jadi ada beberapa hal yang dapat kita ketahui dari cerita Calon Arang yang kita baca. Begini:

  1. Calon Arang menari bersama delapan orang muridnya di Kuburan. Tujuannya adalah memuja Sri Bagawati;

  2. Waktunya adalah tengah malam [madya ratri];

  3. Instrumen musik yang disebut mengiringi tarian itu adalah Kamanak dan Kangsi.

Jadi beberapa point penting itu perlu dicatat oleh kita yang mengaku gemar pada drama tari Calwan Arang. Teks menyajikan sesuatu yang lain dari pada pertunjukan yang sering dipentaskan. Di tingkat ini, kita mesti memikirkan kembali hal-hal lain yang mungkin masih tersimpan dalam teks dan membandingkannya dengan seni pertunjukan. Barangkali di antaranya ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk mengeksplorasi lebih jauh seni pertunjukkan Calon Arang.

Permohonan Calwan Arang benar-benar terkabul. Banyak orang di negara itu mati. Kematian banyak orang membuat Negara serasa mencekam. Rakryan Apatih menghadap kepada raja Erlanggya, melaporkan kejadian yang menimpa negara. “Penyebab semua ini adalah Randeng Girah, dialah Calwan Arang!”, demikian isi laporan sang Patih.

Tidak ada ampun untuk Calwan Arang, pergilah kalian semua punggawa, serang si Calwan Arang”, dengan geram raja Erlanggya memerintahkan semua punggawanya menuju Girah. Sang Bretya sampai di kediaman Calwan Arang, yang dicari masih tertidur pulas. Moment itu dimanfaatkan dengan baik, Sang Bretya menyerang Calwan Arang. Rambutnya dijambak lalu bersiap menusuknya. Saat itu, entah kenapa kaki Sang Bretya terasa berat dan gemetar. Calwan Arang sadar, seketika itu keluar api dari mata, telinga dan mulutnya. Api itu makin lama makin besar dan membakar Sang Bretya. Maka matilah dua orang Bretya yang menyerang Calwan Arang.

Ada beberapa teks yang mendukung kejadian yang menimpa punggawa Daha itu. Api konon memang bisa dikeluarkan dari lubang-lubang yang disebutkan dalam teks Calwan Arang. Masing-masing lubang itu mengeluarkan api yang berbeda warna. Api dari mata berwarna putih, sebab api ini berasal dari jantung. Jantung dalam peta mistis, terletak di timur tubuh. Telinga mengeluarkan api kuning. Menurut teks yang sama, dari ginjal ada saluran berupa urat yang tembus ke telinga. Ginjal dalam tubuh, ada di barat. Dari mulut keluar api merah. Api itu konon bersumber dari hati. Hati dalam peta mistis berada di selatan berwarna merah.

Selain beberapa lubang yang sudah disebutkan tadi, menurut teks Calwan Arang ada lagi satu lubang tubuh Calwan Arang yang mengeluarkan api. Lubang itu disebut Garba. Garba adalah sebutan untuk Rahim. Jadi dari lubang Rahim itulah api keluar berkobar dan membakar Bretya dari Daha. Bretya barangkali sebutan untuk punggawa kerajaan Daha. Semua kejadian itu dilaporkan kepada raja Erlanggya.

Calwan Arang yang sudah marah, menjadi makin marah setelah kejadian itu. Maka sekali lagi ia pergi ke kuburan dan menurunkan Lipyakara. Di kuburan, Calwan Arang duduk di bawah pohon Kepuh. Murid-muridnya mendekat. Si Lendya memberanikan diri bicara, “Maafkan hamba guru, untuk apa kita melakukan semua ini? Tidakkah sebaiknya kita berbuat baik dan menyerahkan diri kepada Sang Mahamuni?”.

Larung, muridnya yang lain berkata, “Apa yang mesti kita takutkan guru? Kemarahan raja? Jangan ragu guru, kita serang saja kerajaan itu!”. Dihadapkan pada dua pilihan, Calwan Arang memilih menyerang.

Cepat, bunyikan Kamanak dan Kangsi! Menarilah! Menari! Menari!”.

Tanpa cang-cing-cong lagi, Calwan Arang dan murid-muridnya menari lagi di kuburan. Tujuannya agar kerajaan Daha diserang penyakit. Tidak lagi syarat Sri Bagawati diperhatikan oleh Calwan Arang. Negeri Daha diserang sampai ke tengah kerajaannya.Mereka menari dengan caranya masing-masing. Si Guyang menari dengan tangan terlentang lalu menepuk-nepuk. Jalannya terbalik [nyungsang]. Juga memakai kain [sinjang]. Matanya mendelik, melihat ke kanan dan ke kiri.

Si Larung menari, lagaknya seperti macan akan menerkam buruan. Matanya mendelik seperti permata merah. Rambutnya terurai panjang. Si Gandi menari melompat-lompat. Rambutnya terurai dan berjuntai. Si Lendi menari berjinjit-jinjit memakai kain. Matanya bersinar terang seperti api berkobar. Si Weksirsa beda lagi, dia menari menunduk-nunduk. Matanya mendelik tanpa berkedip. Mahisawadana menari dengan satu kaki. Setelahnya ia berbalik, kepalanya di bawah. Lidahnya menjulur-julur. Calwan Arang merasa senang.

Tarian itu belum selesai. Mereka membagi tugas melingkar. Lenda bertugas di Selatan. Larung di Utara. Guyang di Timur. Gandi di Barat. Calwan Arang di tengah. Begitu juga Weksirsa dan Mahisawadana, di tengah bersama Calwan Arang. Formasi itu mirip bunga teratai dengan empat kelopak. Masing-masing kelopak menunjuk satu arah. Calwan Arang dan dua muridnya menjadi sari bunga teratai.

Konsep ini tidak asing bagi mereka yang menekuni teks-teks lontar. Bahkan, konsep itu tidak asing pula bagi orang-orang yang peduli pada ritual. Salah satu ritual yang menggunakan konsep teratai empat kelopak adalah upacara caru. Masing-masing arah diwakilkan oleh satu ayam. Ayamnya bukan ayam sembarangan. Tapi ayam yang bulu-bulunya diseleksi.

Formasi yang dibangun sudah siap. Saat itu mereka melihat satu mayat. Tampaknya mati saat Tumpek Kaliwon. Tumpek Kaliwon artinya Sabtu Kaliwon. Mayat itu diletakkan pada batang pohon Kepuh. Apa yang dilakukan dengan mayat itu? Dimakan? Dicincang? Tidak. Mayat itu lalu dihidupkan! Teknik menghidupkan ini disebut binaywan-baywan. Artinya memberikan sumber tenaga [bayu]. Dalam banyak sumber lontar, kita diberi tahu bahwa yang disebut bayu ada sepuluh. Bahkan menurut sumber lainnya, jumlah bayu ada dua puluh. Keduapuluh bayu itu bernama bayu rwang puluh.

Teks menyajikan sesuatu untuk dibaca. Pembaca bertugas memahami. Pergulatan antara teks dan pembaca terjadi terus menerus. Hadiah dari pergulatan itu adalah pemahaman yang terkesan selalu baru, selalu segar. Calwan Arang dituduh melakukan kejahatan, bahkan pencerita sendiri tidak menjelaskan kejahatan macam apa yang dilakukannya.

Melalui teks, kita tahu kalau Lipyakara dilakukan oleh Calwan Arang karena dua hal. Pertama karena putrinya tidak ada yang berani melamar, sebab tuduhan yang ditusukkan pada dirinya. Kedua, karena ia diserang oleh punggawa Erlanggya. Keduanya berpusat pada dendam. Dendam karena dituduh, dan dendam karena diserang.

The post Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian II appeared first on BaleBengong.

Garuda dan Citra orang Bali

Ari Ashkara Bekas Dirut Garuda yang dipecat gara-gara menyelundupkan motor mewah. Ilustrasi Kompas TV.

Sadarlah, sanjungan pada orang Bali hanyalah jargon politisi.

Sebagai orang yang lahir dan besar serta hingga sekarang berada di Bali, menurut saya, orang Bali akrab dengan garuda. Secara teologi, garuda merupakan kendaraan atau tunggangan Dewa Wisnu dalam konsep Tri Murti. Pemahaman ini diajarkan sejak sekolah dasar.

Saat pelajaran agama, siswa akan diminta oleh guru untuk menghafalkan tiga dewa yang menjadi bagian dari Tri Murti.

Pada pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) diajarkan pula garuda (burung) merupakan lambang negara. Di dada burung garuda juga tertera beberapa simbol yang menerangkan tentang konsep Pancasila.

Dalam bidang seni ukir, garuda menjadi salah satu bentuk ornamen. Bentuk garuda bisa dilihat dari ukiran di Pura serta hiasan pada pintu masuknya.

Bahkan ada pematung spesialis garuda asal Tegalalang, Gianyar yang karyanya sudah mendunia, I Made Ada Astawa atau yang akrab disapa Made Ada.

Selain beberapa hal tadi, salah satu lambang garuda yang bisa dilihat yakni, Garuda Wisnu Kencana atau GWK. Patung yang berada di kawasan Jimbaran ini merupakan karya dari seniman asal Kabupaten Tabanan, I Nyoman Nuarta.

Meski sempat mandek selama 28 tahun, pembangunan patung yang konon katanya lebih tinggi dari patung Liberty di Amerika ini bisa terwujud.

Tersandung Harley

Saya kira orang Bali sudah sangat akrab dengan garuda, termasuk saya. Terakhir saya menggunakan pesawat terbang dengan maskapai Garuda saat pergi ke Lombok.

Kedekatan orang Bali dengan garuda semakin nyata ketika ada petinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terkait dengan garuda tersandung kasus motor Harley selundupan dari Perancis. Saya tidak mengerti, apakah semuanya ini kebetulan?

Yang pasti, perbincangan tentang orang Bali dan Garuda menjadi ramai.

Bahkan, saya amati di media sosial ada yang mengungkapkan citra orang Bali yang baik, ramah, sopan, jujur dan ulet tergerus karena ulah dari petinggi BUMN yang dikabarkan dipecat ini.

Pada titik ini saya berpikir, apakah benar seperti itu? Citra baik yang melekat pada orang Bali menurut saya adalah bagian dari promosi pariwisata.

Pariwisata adalah bisnis jasa. Jasa memerlukan servis yang membuat wisatawan nyaman.

Jika, orang Bali memang memiliki sikap-sikap yang mulia, lantas kasus pembantaian 65 itu bagaimana?

Wajah beringas manusia Bali saat membunuh saudaranya sendiri menyisakan kepedihan, tangis, kehilangan, dendam, dan ingatan yang terlupakan. Sejarah kelam manusia Bali itu hadir dalam bilik-bilik ingatan para saksi sejarah yang puluhan tahun terbungkam (Suryawan, 2010: 40).

Sekali lagi, pariwisata Bali dibentuk oleh tangan kolonial. Berawal dari dua perang puputan, Badung pada 1906 dan Klungkung 1908 pemerintah kolonial Belanda merasa malu di Eropa karena korban yang timbul begitu besar. Anggota parlemen Belanda mengkritik pemerintah kolonial karena menyebabkan korban yang besar padahal kerajaan di Bali selatan tidak bersatu. Untuk menutupi aib, pemerintah kolonial memberlakukan politik etis di Bali. Salah satunya dengan memulai promosi pariwisata (Dharma Putra, 2008: 6).

Kembali lagi ke citra orang Bali yang konon sedang rusak akibat kasus penyelundupan motor Harley, saya tidak sepakat. Sebelum kasus itu terbongkar, sudah banyak orang Bali yang menjadi pejabat di Jakarta tersangkut kasus hukum hingga vonis pengadilan.

Sadarlah, sanjungan yang mengatakan sikap orang Bali itu mulia hanya jargon politisi. Serta, sekali lagi saya ingatkan, itu hanyalah omong kosong untuk menarik simpati.

Mungkin pemikiran bahwa orang Bali itu sama dengan penduduk dari luar pulaunya harus mulai ditumbuhkan. Karena sama, makanya orang Bali harus berjuang secara sama untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. [b]

The post Garuda dan Citra orang Bali appeared first on BaleBengong.

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap

Ada dua sumber teks yang bisa dibaca untuk mengetahui cerita Calon Arang. Sumber pertama adalah prosa, sumber kedua berupa geguritan (puisi).

Keduanya bisa dibaca sebagai hasil study dari I Made Suastika yang diterbitkan oleh Duta Wacana University Press pada tahun 1997. Dalam tulisan ini, yang digunakan sebagai sumber bacaan adalah teks Calon Arang Prosa. Begini isinya.

Mpu Baradah berasrama di Lemah Tulis. Konon dia adalah Mpu yang sangat sakti dan telah berhasil merasakan rasa Dharma. Entah bagaimana rasa Dharma itu, kita tidak tahu. Barangkali rasanya lebih nikmat dari ayam betutu. Saya curiga, yang dimaksud Dharma dalam teks Calonarang bukanlah ‘kebaikan’, bukan pula ‘kewajiban’ sebagaimana kata itu diterjemahkan kini. Lalu apa? Mari kita baca pelan-pelan.

Dharma konon tidak pernah mati. Contohnya dalam cerita setelah perang Bharata, hanya Dharma Wangsa yang berhasil mencapai surga dengan tubuh kasarnya. Artinya, Dharma itu tidak mati, dia abadi. Dharma tidak mati, karena Dharma selalu menang. Mati dalam bahasa Jawa Kuno adalah M?rta. Yang tidak mati disebut Am?rta. Am?rta adalah salah satu jenis air suci (tirtha) yang diperebutkan oleh Raksasa dan Dewa karena bisa membuat abadi. Dalam teks-teks kuna, Am?rta sering dianalogikan seperti air yang turun dari atas. Air itu turun setelah seseorang mempraktikkan Yoga Dhyatmika.

Ada banyak teks yang bisa dibaca untuk mendapatkan penjelasan tentang Yoga Dhyatmika ini. Semua teks-teks itu bertebaran seperti bunga-bunga jepun yang berserakan. Hanya pemungut yang sabar bisa mendapatkan jepun spesial. Contoh spesialnya ajaran dalam teks-teks itu adalah perihal penjelasan tentang Amerta. Barangkali, karena telah berhasil mendapatkan sari-sari ajaran Yoga dan Amerta itulah, Mpu Baradah disebut telah merasakan rasa Dharma. Dharma dalam konteks ini adalah Amerta. Rasa Dharma berarti rasa Amerta. Merasakan Amerta berarti merasakan sari-sari Yoga.

Spesialnya Mpu Baradah tidak hanya sampai disana. Menurut ceritanya, Mpu Baradah juga menguasai cara-cara untuk keluar-masuk dunia (pasuk w?tu bhuwanatah). Apa maksudnya? Ada dua Bhuwana (baca: dunia) yang dikenal secara kolektif dalam tradisi Bali. Dua dunia itu adalah dunia kecil dan dunia besar. Dunia besar adalah semesta, dunia kecil adalah tubuh. Dari dan ke dua dunia itulah Mpu Baradah keluar masuk. Bagaimana caranya untuk keluar masuk ke kedua dunia itu? Dimana gerbang tempat keluar masuknya? Kita belum tahu jawabannya, karena belum dijelaskan oleh teks Calon Arang. Mari kita bersabar dulu, siapa tahu pada bagian-bagian tertentu, ada petunjuk yang bisa kita manfaatkan.

Putri satu-satunya Mpu Baradah bernama Wedawati. Wati berarti mahir, terampil, mampu. Wedawati berarti ia yang mahir dalam Weda. Sebagaimana kebanyakan cerita, Wedawati konon sangat cantik. Sayangnya, Wedawati harus menerima kenyataan pilu, ibunya meninggal karena sakit. Sakit yang diderita oleh ibunya tidak dijelaskan oleh pengarang Calon Arang. Wedawati sangat sedih, dia memeluk tubuh ibunya. Tubuh itu juga yang diupacarai dan dibakar di S?ma. S?ma berarti kuburan. Singkat cerita, semua upacara pembakaran selesai. Entah apa alasannya, Mpu Baradah yang kehilangan istri, menikah lagi. Dari perkawinan itu, lahirlah satu orang anak laki-laki. Jadi, Wedawati punya adik tiri laki-laki.

Suatu hari, konon Mpu Baradah berada di pertapaan bernama Wisyamuka. Di sana Mpu Baradah mengadakan ritual yadnya. Tidak jelas yadnya jenis apa yang dilakukan seorang Mpu sekaliber itu di pertapaannya. Tapi menurut pencerita Calon Arang, di sanalah Mpu Baradah dilayani oleh para muridnya. Di Wisyamuka itu pula, hubungan guru-murid benar-benar terjadi. Sebab di tempat itu segala ajaran diberikan oleh Mpu Baradah, diterima oleh para murid. Memberi dan menerima ajaran adalah ciri hubungan guru-murid. Apa saja ajaran Mpu Baradah yang terkenal sakti itu? Salah satu kesaktiannya yang terkenal adalah bisa menghidupkan orang mati.

Di dalam teks Calon Arang, adegan menghidupkan orang mati ditunjukkan pada saat Mpu Baradah akan bertemu dengan Calon Arang. Manusia yang sudah mati bisa dihidupkan oleh Mpu Baradah dengan syarat tubuh orang itu masih utuh. Tentang adegan ini, kita lanjutkan nanti.

Sekarang kita lanjutkan lagi pembacaan teks Calon Arang. Suatu ketika, dengan perasaan yang remuk redam, Wedawati pergi ke kuburan. Ia dihina oleh adik tirinya. Entah apa yang sudah dikatakan oleh anak laki-laki itu, kita tidak diberitahu oleh teks. Kita boleh menduga-duga, ucapan apa yang bisa menyakiti hati Wedawati. Tapi sebagai pembaca, kita juga harus sabar menunggu jawaban yang mungkin diselipkan di suatu tempat di pusaran teks Calon Arang. Untuk saat ini, kita lihat saja dulu, apa yang dilakukan seorang Wedawati di kuburan?

Wedawati sampai di bawah pohon beringin yang rindang. Batangnya sangat besar dan terlihat menakutkan. Di bawah pohon beringin itu, Wedawati melihat ada empat mayat yang tergeletak. Konon keempatnya mati karena terkena t?luh. Dalam banyak teks yang diwarisi di Bali kini, kata t?luh biasanya bersanding dengan kata desti dan t?rangjana. Ketiganya berkonotasi negatif karena berkenaan dengan ilmu menyakiti orang. Tidak hanya sekadar menyakiti, dalam cerita Calon Arang konon t?luh bisa digunakan untuk membunuh orang.

Di samping salah satu mayat yang diceritakan tadi, seorang bayi terlihat masih menyusu pada mayat seorang wanita. Wanita itu adalah salah satu korban t?luh. Keadannya sudah sangat buruk, mayat itu dikerubungi semut. Wedawati dengan perasaan sedih segera pergi dari tempat itu. Bayi tadi mungkin dibiarkannya di sana. Saya tidak tahu, apa yang terjadi kemudian pada bayi tadi. Juga saya tidak paham, mengapa dalam cerita, Wedawati tidak menolong bayi itu.

Wedawati menuju tempat jasad ibunya lenyap dibasmi api. Dekat tempat itu, ia duduk di bawah pohon Kepuh sambil memanggil-manggil ibunya, “Ibu, jemputlah aku sekarang. Tidak ada lagi yang mencintaiku sepertimu Ibu.”

Sampai di sana, saya sama sekali belum menemukan sebuah nama yang menunjukkan siapa Ibu kandung Wedawati. Tidak juga saya berhasil membaca satu petunjuk apapun tentang nama Ibu dan adik tirinya. Tampaknya nama-nama itu memang tidak disebutkan sepanjang cerita Calon Arang. Kenapa? Saya belum tahu kenapa. Tapi saya meyakini, nama-nama itu penting untuk diketahui, agar kita tahu peta cerita Calon Arang secara lebih jelas. Barangkali di antara nama-nama itu, ada satu nama yang kita kenal dengan baik.

Sementara Wedawati berada di kuburan, Mpu Baradah pulang ke Lemah Tulis setelah menyelesaikan yadnya di Wisyamuka. Di rumah, Wedawati tidak dilihatnya. Istrinya menceritakan apa yang sudah terjadi, sampai tragedi menghilangnya Wedawati. Dengan sigap, Mpu Baradah pergi mencari Wedawati.

Berkat bantuan seorang pengembala, Mpu Baradah tahu kalau anak perempuan satu-satunya sedang berada di kuburan. Kesanalah Mpu Baradah menuju. Saat bertemu, Mpu Baradah meminta Wedawati untuk pulang ke Lemah Tulis.

Anakku, pulanglah. Untuk apa kau tangisi lagi kepergian ibumu? Sebab memang segala yang hidup, akan mati nanti. Pulanglah sayang.”

Biar aku disini Ayah. Di bawah pohon Kepuh ini, aku ingin diam. Aku ingin bertemu ibu,” kata Wedawati.

Mari Nak, dengarkan ucapan ayahmu ini. Pulanglah, pulang. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada pulang.”

Wedawati mau pulang ke Lemah Tulis. Di sana ia mendapat banyak ajaran kebenaran dari sang Ayah yang sekaligus gurunya. Disinilah pentingnya, kita tahu kemana aliran cerita kehidupan Wedawati mengalir dan bermuara. Sebab Wedawati adalah penerima ajaran Mpu Baradah yang bisa kita lacak dalam teks Calon Arang. Mengetahui kemana Wedawati mengalirkan dirinya, berarti mengetahui ke mana ajaran Mpu Baradah mengalir selanjutnya. Mengetahui aliran ini penting, agar kita tidak kehilangan jejak ajaran. Jejak ajaran itu selalu ada, sayangnya jejak itu seperti jejak ikan dalam air.

Mpu Baradah kembali menggelar yadnya di Wisyamuka. Di sana Mpu Baradah mengajarkan tentang Dharma dan Putusing Angaji. Ajaran Dharma dalam hal ini bisa ditafsir sebagai ajaran kebenaran dan sekaligus ajaran kehidupan. Ajaran tentang Putusing Angaji barangkali tidak jauh-jauh dari kata putus. Putus dalam hal ini berarti sebagaimana dalam bahasa Indonesia, atau p?gat dalam bahasa Bali. Angaji bisa diterjemahkan belajar. Putusing Angaji bisa berarti selesainya tahapan belajar.

Putusing Angaji juga bisa diterjemahkan dengan cara lain semisal “putus dalam belajar”. Pelajaran apa yang mesti putus atau p?gat? Dalam konteks ini barangkali yang dimaksud adalah pelajaran tentang Dharma. Dharma yang konon abadi itu, bukan berarti tidak bisa diakhiri. Dharma dalam pengertiannya sebagai cara, bisa diakhiri: Dharma P?gat, Dharma Putus!

Dharma Putus adalah salah satu teks kakawin yang isinya tidak jauh-jauh dari Kasunyatan. Di dalamnya disajikan cara untuk mengadakan Sunya. Tentang cara mengadakan Sunya ini, tidak akan kita bahas sekarang.

Jadi, siapa sesungguhnya Mpu Baradah yang dimaksud oleh cerita Calon Arang? Baradah adalah Ayah Wedawati. Dia juga seorang guru. Sebagai ayah, ia seperti langit yang menaungi. Sebagai guru, ia seperti bumi yang menjaga. Menjadi Ayah dan menjadi guru, pastilah sama susahnya.

Sampai di sini, kita menemukan sesuatu yang jarang dipikirkan orang saat mendengar kata Calon Arang. Sesuatu itu adalah Mpu Baradah dan Wedawati. Padahal dalam teks yang dibaca sebagai sumber tulisan ini menyebutkan: Iti katattwanira sira Sri Mpu Baradah (ini cerita Mpu Baradah). Artinya, cerita ini adalah cerita Mpu Baradah. Yang kita ingat adalah Calon Arang. Apalagi yang kita lupakan dari cerita ini? Kita cari tahu lagi nanti.

The post Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Perawan

Men Coblong terdiam dan marah besar membaca berita itu.

ATLET senam artistik dari Jawa Timur, Shalfa Avrila Siani, gagal masuk Skuat Merah Putih di SEA Games karena dugaan tidak perawan. Posisinya digantikan oleh pesenam lainnya, Yogi Novia Ramadhani.

Berita itu membuat Men Coblong marah. Sebagai perempuan dan pernah mengalami masa-masa “pecicilan”. Sebagai anak perempuan yang tumbuh dengan penuh kesadaran mencintai tubuh dan pertumbuhannya sebagai perempuan. Merasa paling cantik, merasa paling indah.

Kesadaran dan kebanggaan menjadi anak perempuan telah dipupuk ketika usia Men Coblong lima tahun. Guru Taman Kanak-Kanak (TK) selalu menjelaskan dengan tegas bahwa menjadi anak perempuan itu harus bangga, karena bisa bersolek dan tampil cantik jika menari.

Makanya pada masa itu, sekitar tahun 70-an, para orang tua terutama ibu-ibu yang memiliki anak perempuan biasanya selalu memasukkan anak-anak perempuannya kursus menari. Seolah menari adalah cara dan tempat satu-satunya untuk membuat anak perempuan benar-benar jadi anak perempuan seutuhnya, dalam arti cantik, luwes, anggun dan memiliki tubuh ideal bak seorang putri dari negeri dongeng.

Jarang sekali orang tua pada masa itu mengajukan pilihan untuk menekuni olah raga. Apalagi senam, olah raga yang benar-benar menuntut konsentrasi dan keseimbangan.

Tumbuh sebagai anak perempuan yang mandiri dan memiliki kesadaran mencintai tubuh tidak mudah, karena di luar tubuh perempuan ada beragam aturan-aturan sosial yang berat diikuti anak perempuan. Terlebih jika perempuan kecil sudah menjelma jadi gadis minimal sudah ditandai dengan tumbuhnya payudara dan menstruasi.

Menjelma menjadi seorang gadis bukan persoalan mudah, karena biasanya orang tua (baca: Ibu) — mulai mengajar doktrin, untuk waspada dengan lawan jenis (baca: Lelaki). Bisa dibayangkan alangkah sulitnya tumbuh dan besar sebagai anak perempuan.

Makanya Men Coblong merasa miris dengan kasus Shalfa, yang sudah masuk long list atau daftar atlet ke SEA Games, tetapi belum mendapatkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan. Shalfa dan Yogi merupakan atlet cadangan. Mereka bisa menjadi tim inti andai ada atlet dengan urutan di atasnya mengalami cedera.

Shalfa menyadari dirinya mungkin melakukan kesalahan yang dianggap tindakan indisipliner sebagai seorang atlet. Namun, ia tidak terima jika harus dihukum, bahkan dikeluarkan dari tim dengan isu tidak lagi perawan. Pesenam putri asal Kota Kediri, Shalfa Avrila Siani, tak kuasa menahan tangis ketika mencurahkan isi hatinya.

Siswi kelas 12 SMU Kebomas Gresik ini bisa menerima jika sang pelatih menilainya indisipliner, karena pernah keluar malam. Namun, Shalfa Avrila Siani sangat keberatan bila pencoretan saat Pelatnas Senam di Gresik lalu, karena alasan keperawanan.

Pihak keluarga Shalfa langsung memeriksakan anaknya ke Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Hasil tes menyimpulkan selaput dara Shalfa masih utuh. “Namun, pelatih meragukan hasil itu. Katanya harus dites lagi di Rumah Sakit Petro,” katanya.

Sebagai Ibu, sebagai anak perempuan apa yang Anda bayangkan jika Anda mengalami kasus seperti Shalfa ini? Apakah cukup menangis?

Tugas kementerian Pemberdayaan Perempuan harusnya mulai menelisik kasus ini dengan tuntas. Marwah menjadi perempuan itu harus dijaga. Semoga ada jalan keluar dari beragam institusi perempuan untuk membongkar kasus ini sejelas-jelasnya. Kita tunggu. Tapi jangan kelamaan ya? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Perawan appeared first on BaleBengong.