Tag Archives: ESAI

Catatan Mingguan Men Coblong: Teror

Poster oleh @Nobodycorp.

Belakangan ini hati dan perasaan Men Coblong terasa “rusuh”.

Sepertinya hari-hari yang dijalani terasa berat dan “wagu”. Seolah ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang sangat mengganggu tetapi sulit diurai. Sesuatu yang mengusik tetapi tidak bisa diusik.

Setiap membaca berita-berita daring Men coblong tercekat. Peristiwa teror di Surabaya, kota yang sangat dikenal Men Coblong. Seluruh liuk dan liku jalannya, juga harum pohon-pohon yang disebar Tri Rismaharini, wali kota yang membuat wajah Surabaya kering dan gersang berubah lebih “manusiawi” dan memikat. Taman-taman ditata, beragam masalah-masalah “kebangsawanan” yang selama ini dikuasai para pejabat tumbang di tangan seorang perempuan bernama Tri Rismaharini.

Namun, di suatu pagi yang redup, kota itu berubah jadi kota “teror”. Begitu mengejutkan dan melukai perasaan siapa saja, terutama perasaan seorang ibu. Bagaimana mungkin ibu itu tega menggiring anak-anak mereka menuju jalan kematian yang belum tentu menjadi pilihan si anak.

Bagaimana kita bisa tahu kalau anak-anak itu ikhlas menuju “jalan surga” ala pemikiran orang tuanya?

Sebagai seorang anak, Men Coblong juga merasakannya sulitnya menebang dan memangkas beragam argumen kebenaran yang disodorkan orang tua jika kita berdebat dengan mereka. Budaya Timur memang mendidik anak sejak Balita bahwa hormat pada orang tua berarti jalan menuju surga. Juga bisa meramu hidup lebih gemilang. Membangkang orang tua berarti jalan menuju neraka. Juga mitos nasib buruk terbentang luas di depan mata.

Men Coblong paham, menjadi anak itu sulit. Men Coblong juga paham, menjadi orang tua di saat ini juga tidak mudah. Jika Men Coblong disodorkan pilihan, lebih baik menulis novel, terasa mudah dibanding menjadi orang tua, apalagi anak-anak saat ini terasa sulit diatur.

Mungkin “rasa hormat” yang tinggi pada orang tua itulah yang membuat anak-anak pelaku bom itu tidak memiliki pilihan jalan sendiri. Bahkan cara berpikir pun sudah ditata. Konsep mati yang benar pun sudah dirumuskan, tanpa memberi kesempatan untuk mempertimbangkan kembali. Surga apa sesungguhnya yang diciptakan para orang tua yang tega menyematkan bom di tubuh anak-anak mereka?

Kasus Surabaya benar-benar membuat Men Coblong terkapar dan luka parah. Terutama pikiran, rasa dan hati. Apalagi menyaksikan peristiwa ini: prosesi Misa Penutupan Peti dua anak korban peledakan bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, yang dilakukan di rumah duka Adi Jasa yang dipimpin langsung oleh sejumlah Pastor, Rabu sore (16/5).

Perasaan duka mendalam dari keluarga dan sahabat, tidak dapat disembunyikan selama berlangsungnya misa tersebut. Ratusan orang melantunkan doa-doa dipandu sejumlah pastor yang memimpin jalannya Misa Penutupan Peti jenazah Nathan dan Evan, dua anak korban peledakan bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Minggu lalu (13/5).

Tidak sedikit para jemaat yang hadir tidak kuasa menahan kesedihan dan duka mendalam atas tragedi kemanusiaan ini. Terutama ketika Weni, ibu kedua anak yang meninggal itu, hadir untuk melihat wajah kedua buah hatinya untuk terakhir kali. Weni, yang juga menjadi korban luka-luka dalam serangan bom bunuh diri itu, memaksakan diri datang ke rumah persemayaman jenazah Adi Jasa dengan menggunakan kursi roda dan selang infus di tangan.

Sehari sebelumnya (15/5) Weni, yang masih menggunakan tempat tidur darurat, juga datang melihat jenazah kedua anaknya, membelai wajah mereka dan membisikkan kata-kata ke telinga mereka. Apakah yang dibisikkan perempuan itu kepada dua orang anaknnya? Mampukah perempuan itu memilih huruf-huruf yang dironce jadi kalung-kalung indah untuk dibisikkan ke telinga dua orang anaknya?

Men Coblong tersekat, membayangkan pikiran perempuan yang tubuhnya juga terluka berat. Tubuh yang masih bisa dilihat beragam goresan dan luka-luka yang akan abadi dibawanya sepanjang hidupnya. Lalu siapa yang bisa mengeja dan merangkai luka hatinya? Kehilangan dua orang anak lelaki yang dikandung dan dibesarkannya dengan susah payah.

Dua orang anak lelaki yang diajarkannya untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Diajarkannya tata krama beragama ala konsepnya sebagai ibu. Agar kelak dua orang anak lelakinya memahami bahwa jika hidup makin sulit, datanglah ke rumah Tuhan. Di rumah Tuhan juga dua orang anak lelakinya direngggut oleh sebuah keluarga yang sama persis dengan tujuan Weni, mencari Tuhan. Mencari surga.

Men Coblong menatik napas. Bagai mana mungkin sebuah keluarga di negeri ini menggiring anak-anaknya menuju kematian dengan cara meledakkan diri? Dengan cari merakit benda-benda yang membahayakan di rumah sendiri.

Hidup saat ini terasa sangat tidak masuk akal. Rumah sebagai tempat berteduh berubah jadi tempat merakit bom. Bagai mana mungkin keluarga dibentuk untuk melahirkan serdadu? Perang apakah sesungguhnya yang sedang dihadapi keluarga-keluarga pengebom itu? Perang kehidupan mereka sendiri? Atau perang yang lain. Perang yang tidak diketahui dan tidak terdeteksi pemikiran Men Coblong.

Langit terasa selalu gelap dan muram di bulan Mei ini. Semoga di bulan Juni, matahari dan hujan mungkin bisa menghapus beragam gundah yang menyebar di dalam pikiran Men Coblong. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Teror appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Awas

Ungkapan duka cita dan dukungan untuk polisi korban serangan teroris. Foto Anton Muhajir.

MEN COBLONG terdiam begitu lama.

Kerusuhan di Rumah Tahanan Markas Komando Brigade Mobil (Rutan Mako Brimob) yang terjadi pada Selasa (8/5) sore masih mengepung dan menusuk pikirannya sampai ke palung ujung akar-akar otaknya. Rasa sedih yang begitu dalam mengepung pikirannya merembes ke hati dan jantungnya. Menimbulkan rasa luka yang begitu dalam.

Bagaimana mungkin peristiwa itu bisa terjadi? Seperti kolase film-film yang bertebaran terus mencengkram dan melumat pikiran. Operasi penanggulangan kerusuhan itu baru dinyatakan selesai pada Kamis (10/5) pukul 07.15.

Para napi teroris itu menyandera sejumlah polisi. Polisi terakhir yang bisa dibebaskan dalam penyanderaan adalah Bripka Iwan Sarjana. Tiga polisi, termasuk Sulastri, mengalami luka dalam peristiwa itu. Sedangkan lima polisi gugur, yaitu Briptu Luar Biasa Anumerta Fandy Nugroho, Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.

Iptu Sulastri merupakan satu-satunya polwan yang selamat dari kerusuhan napi teroris di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Sulastri mengalami luka cukup parah di bagian wajah akibat dianiaya para napi teroris. Sulastri dirawat di RS Bhayangkara Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang baru tiba di Tanah Air dari Yordania, menyempatkan diri membesuk Sulastri di RS Bhayangkara. Kepada Tito, Sulastri menceritakan detik-detik kekejaman para napi teroris. Sulastri dianiaya menggunakan tabung pemadam kebakaran.

“Ributnya bukan di ruang pemeriksaan?” tanya Tito dalam sebuah video yang tersebar di media sosial. Sulastri melanjutkan, dia bersama sejumlah petugas yang berjaga lainnya dikejar para napi teroris itu. Para napi teroris menyerang dengan peralatan yang ada.

“Setelah itu kita keluar, anggota semua (keluar). Anggota yang turun itu yang saya lihat Iwan (Bripka Iwan Sarjana) juga. Saya turun, mereka ke bawah bawa kayu, pakai helm,” kata Sulastri.

Begitu berita yang dibagikan di media sosial, di beragam pesan singkat. Pokoknya hiruk-pikuk. Simpang-siur, juga memiliki banyak penafsiran. Kita bisa saja melihat peristiwa ini dengan cara berpikir masing-masing yang berbeda-beda. Pikiran dengan beragam wasangka dan beragam cara. Begitulah adab dan prilaku masyarakat modern saat ini.

Lalu di mana sesungguhnya hati dan pikiran kita bermuara?

Men Coblong hanya bisa diam, sambil membayangkan bagaimana rasanya menjadi Iptu Sulastri, seorang perempuan muda terjebak di tengah suasana yang tentu saja dibayangkan pun tidak memungkinkan. Seperti apa perasaannya pada saat itu? Apa yang dipikirkannya? Apakah dia membayangkan maut? Atau tangan-tangan asing yang merenggutnya tiba-tiba tanpa bisa dikendalikan.

Peristiwa itu bagi Men Coblong harusnya segera diselesaikan. Kuncinya adalah tindakan tegas. Stop berwacana, stop berjanji. Stop mengurai ide-ide mengawang-awangan dengan realisasi yang cenderung minus.

Sudah menjadi kebiasan bagi pengempu negeri ini, jika terjadi peristiwa besar yang mendapat sorotan tajam dari masyarakat luas juga pers, sesungguhnya banyak juga orang-orang yang tidak memiliki hati “mencuri panggung” untuk kepentingannya sendiri. Ini yang harus diawasi, harus dikritik dan dijauhi.

Publik juga harus mulai ikut menyuarakan pemikiran-pemikiran yang bisa mengingatkan kembali pada beragam janji, beragam wacana yang sering “dihibahkan” para pejabat untuk membangun negeri ini, bangsa ini ke arah kemajuan sesuai dengan kebutuhan pasar dunia. Manusia-manusia yang memiliki karakter kuat. manusia-manusia yang menguasai Iptek. Manusia-manusia yang bisa menuntun bangsa ini ke arah kemajuan yang lebih baik.

Aslinya Men Coblong sebagai rakyat kecil hanya menginginkan semua aturan main di negeri ini ditata ulang kembali. Bukankah masalah padatnya penjara sesungguhnya sudah jadi isu yang membosankan, padahal kita tahu penjara kita sudah tidak layak huni. Tahanan sudah seperti pindang yang dimasukkan terus menerus sehingga kelebihan beban. Bayangkan saja jika itu kita yang dicekoki dan direcoki beragam masalah, otak kita dan jiwa kita pasti terteror. Tinggal menunggu meledaknya saja.

Sungguh memprihatinkan jika bangsa ini tidak awas. Men Coblong juga menghormati pernyataan Kepala Negara yang mengapresiasi proses penanganan bisa dilakukan dengan cara yang baik. Jokowi juga menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas lima polisi yang gugur dalam peristiwa ini. Dia menekankan negara dan seluruh rakyat tak akan takut terhadap terorisme. “Negara dan seluruh rakyat tidak pernah takut dan tidak akan pernah memberi ruang kepada terorisme dan upaya-upaya yang mengganggu keamanan negara,” kata Jokowi.

Tetapi cukupkah dengan apresiasi? Atau rasa duka? Yang harus kita lakukan sesungguhnya adalah segera memperbaiki semua sistem dengan cepat. Terorisme memang ancaman seluruh dunia, bukan berarti kita harus leyeh-leyeh menghadapinya. Apalagi pagi ini kita mendapat “breaking news”, sebuah ledakan terjadi di Gereja Katolik Santa Maria Ngangel, Surabaya, Jawa Timur, Minggu pagi ini, 13 Mei 2018. Mari berhenti berwacana. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Awas appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Impetus

Jokowi saat bersama sejumlah menterinya. Foto Setgab.

MEN COBLONG membelalakkan matanya lebar-lebar menonton televisi.

Dahi Men Coblong terasa panas. Begitu pula ubun-ubunnya. Mulutnya merengut. Dahinya juga berkerut membuat lukisan-lukisan timbul tidak menarik di wajahnya yang tidak lagi muda. Matanya yang sedikit rabun terus mendelik.

Di depan televisi, Men Coblong menyaksikan alangkah girangnya para petinggi partai jika diundang orang nomor satu di republik ini. Senyum mereka semringah. Tutur katanya sopan, bahasa tubuhnya terlihat penuh hormat.

Seolah tidak ada satu potong huruf pun dari pertemuan yang sulit dideteksi orang awam itu terlihat penuh gontok-gontokan dan terasa berhawa panas. Bak dunia akan kimiat mendadak jika suara-suara mereka tidak didengar. Para petinggi itu tersenyum manis dengan wajah tampan dan berseri.

Tidak ada makian. Tidak amarah. Tidak ada juga dengki. Tidak ada saling sindir. Tidak ada yang satu merasa lebih tinggi kedudukannya dari yang lain. Tidak juga terlihat yang satu lebih dicintai Tuhan yang satu tidak. Tidak terlihat juga yang satu keturunan malaikat yang satu lagi keturunan setan.

Suasana pertemuan itu terlihat damai di televisi. Juga wajah-wajah girang melintas sangat damai di pesawat televisi Men Coblong. Wajah orang nomor satu di Republik ini bagi Men Coblong tidak berubah. Begitu-begitu saja. Caranya bicara, gerak tubuhnya, agaknya tidak ada yang berubah.

“Berubahlah, sedikit,” kata sahabat Men Coblong serius.

“Tidak. Wajahnya tetap datar dan sulit ditebak,” jawab Men Coblong tidak kalah serius.

“Kupikir makin hari presiden kita makin cerdas, kok. Caranya berhadapan dengan orang-orang di negeri ini sudah semakin mahir. Minimal saat ini presiden kita sudah mampu mengeja arah angin. Walau pun yang ngerecokin makin hari makin bertambah bukannya berkurang. Tapi aku yakin, itu bagian pembelajaran untuk naik ke kelas yang lebih tinggi.”

Men Coblong setuju dengan argumentasi sahabatnya itu. Agaknya presiden sudah mulai belajar banyak dengan segala atraksi-atraksi yang jujur saja seringkali tidak masuk akal dan membuat hal-hal yang harusnya tidak jadi urusan presiden, justru presiden akhirnya harus turun tangan. Bahkan sampai hal-hal kecil.

“Kupikir presiden kita itu oke juga.”

“Ya, kalau tidak oke bagaimana menghadapi para “perusuh” yang tidak jelas di dalam tubuhnya sendiri,” Men Coblong berkata sungguh-sungguh.

Perusuh yang menghabiskan energi adalah perusuh yang muncul dari tubuh kita sendiri. Perusuh yang membuat energi hidup tergerus juga berasal dari orang-orang terdekat, orang-orang yang menikam dari belakang. Pengecut yang terus melecut dirinya untuk tidak jadi penakut.

Ya, senyum orang nomor satu itu dirasakan Men Coblong penuh kewaspadaan, karena hampir lima tahun disenggol kiri-kanan. Dibenturkan juga dengan orang-orang yang dipilihnya sendiri dan diharapkan bisa membantu kerja kerasnya untuk membangun negeri ini. Orang-orang yang menyodorkan para asisten terbaik ala mereka untuk meringankan bebannya. Namun, justru orang-orang inilah yang bingung mencari jalan untuk mengusik dan mengurai beragam program-program yang telah disusunnya.

Dan hari ini, entah sampai kapan, wajah-wajah semringah jika dipanggil orang nomor satu itu justru terasa memunculkan sesuatu yang berbeda.

Men Coblong merasa tidak begitu mengenal orang-orang berwajah semringah itu. Dengan senyum menebar rasa damai. Dengan burung garuda di dada dan Pancasila di hati. Apakah mereka semua itu benar-benar telah memasang wajah mereka sendiri?

Wajah-wajah yang terasa asing bagi Men Coblong bahkan terasa aneh. Mereka seperti tampil dengan wajah orang lain.

Selama ini wajah-wajah itu, wajah-wajah yang dikenal Men Coblong selalu memberi pernyataan kepada pers tentang beragam kebijakan-kebijakan, yang justru sering membuat yang mendengar makin linglung dan bingung.

Biasanya, sepanjang pengetahuan Men coblong wajah-wajah itu tidak seperti yang dilihat di TV. Wajah ruwet dengan sorot mata penuh perhitungan. Hawa yang menyembur dari wajah mereka sangat tidak memberi ketenangan, karena berisi hujatan, kritik dan hal-hal yang membuat Men Coblong gagal paham. Sudah diberi kursi menteri kok malah tambah keras berteriak memberi kritik tanpa solusi.

Ke mana larinya wajah-wajah itu? Jangan-jangan mereka lupa wajah mereka sendiri, karena terlalu sering mengganti wajah mereka untuk setiap karakter yang dimainkan.

Celaka kalau begitu. Men Coblong menarik napas dalam-dalam. Lalu, apakah yang telah dibicarakan orang nomor satu itu kepada mereka? Sehingga mampu membuat orang-orang itu mengubah wajahnya sendiri. Wajah yang dijamin tidak mereka kenali sendiri. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Impetus appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Hamba

Calon Pasangan Gubernur Bali secara serentak membuka gulungan nomor urut yang mereka ambil saat Rapat Pleno Terbuka di Gedung Wiswa Sabha – areal Kantor Gubernur Bali, Selasa, 13 Februari 2018. Pasangan nomor urut 1 : Wayan Koster dan Cok Ace – nomor urut 2 : Rai Mantra dan Ketut Sudikerta. JP/ Anggara Mahendra

MEN COBLONG sesungguhnya selalu merasa prihatin dengan negeri ini. Namun, prihatin saja apa sudah cukup?

“Aku sudah malas sekarang membaca berita-berita politik. Isinya tidak ada yang mendidik. Beritanya juga basi. Masalah yang diangkat juga muter-muter, seperti tidak ada ide baru. apa sekarang ini wartawan seperti kamu kehabisan berita ya?” tanya sahabat Men Coblong serius.

Men Coblong terdiam. Kalau sahabat yang dosen universitas ternama di Bali ini emoh baca berita politik, terus apa yang dia baca? Bagaimana perempuan hampir setengah baya itu mampu menguji kepekaannya sebagai “guru” yang kerjanya memberi wawasan dan pencerahan untuk murid-muridnya.

Men Coblong menarik napas menatap mata sahabatnya itu serius. “Terus, sekarang ini kamu tertarik pada masalah apa?”

“Kesehatan.”

“Kesehatan? Kamu mau buat disertasi tentang kesehatan di Indonesia? Ilmumu kan politik?” tanya Men Coblong serius.

“Memangnya kenapa dengan disiplin ilmuku?”

“Aneh jika kamu justru update masalah kesehatan.”

“Kok aneh, biasa saja. Ilmu kesehatan minimal untukku sendiri. Cara mengatur pola makan. Tidur yang ideal. Aku lebih suka membaca hal-hal ringan seperti itu. Kupikir itu justru mencerdaskan dibanding membaca berita politik. “

“Apa kamu tidak takut jika di kelas mahasiswamu justru bertanya hal-hal kritis tentang negeri ini.”

“Tidak.”

“Apa kau tidak takut terlihat bodoh di depan mahasiswamu. Atau di depan kolega lelaki?”

“Tidak. Mengikuti beragam hiruk-pikuk politik itulah yang justru membuat aku makin bodoh! Merasa terhina, seolah aku ini idiot. Seolah para perempuan itu tidak punya andil di dalam memelihara table manner kehidupan sosial di negeri ini. Kau lihat saja perseteruan para politisi yang memendam syahwat kekuasaan? Adakah progam-program yang ditawarkan mereka memikatmu? Adakah ide-ide cemerlang dan baru yang bisa membuat kita sebagai warga negara bersemangat? Minimal sebagai rakyat kita disodori menu rasa nyaman dan mimpi yang indah untuk melanjutkan hidup yang makin hari terasa berat. Beras sudah impor, toh harga beras di pasar tetap tinggi. Garam juga impor, eh malah para petingginya ribut.”

Sahabt Men Coblong terus nyerocos. “Yang tidak jelas. Mereka semua tidak mau disalahkan dengan beragam kebijakan yang mereka buat sendiri. Masak sih mereka tidak tahu beragam kondisi negeri ini. Mereka kan pemegang kekuasaan. Minimal mereka punya staf ahli yang kita bayar untuk mendeteksi beragam persoalan yang ada di institusi-institusi yang mereka pimpin.”

Sahabat Men Coblong itu berkata serius. Lalu menurunkan letak kacamata plus tiganya di depan Men Coblong.

“Kau lihat sendiri kondisi negeri ini setiap hari? Kau pikir anak-anak muda itu tertarik dengan politik? Mereka kebanyakan merasa bahwa jadi koruptor itu menyenangkan. Karena bisa masuk TV dan koran. Makin heboh dan tidak masuk akal makin viral mereka jadi bintang. Kau pikir mereka malu dengan dana korupsi yang mereka isap dari kita. Aku tidak habis pikir, bagaimana para kepala daerah itu tega mengisap dana pendidikan. Kemana hati nurani mereka? Tidakkah mereka iba dengan anak-anak SD yang bergelantungan di jembatan penyeberangan menuju ke sekolah. Atau ada gambar anak-anak sekolah yang harus naik rakit, atau berenang melintasi sungai hanya untuk mempersiapkan dan bermimpi untuk memiliki masa depan yang lebih baik di negeri ini? Apakah anak-anak seperti itu tega kita biarkan berjuang sendiri untuk hidupnya hanya untuk bersekolah? Apakah cukup dengan selfie ke daerah-daerah tertinggal saja? Aku sudah tidak bisa berpikiran jernih saat ini. Aku juga tidak tahu akan memilih kepala daerah yang bagaimana? Aku belum mendengar sepotong pun ide-ide cerdas yang terucap dari diri mereka yang ingin berkuasa itu? Kau tahu apa yang kudapat dari calon-calon pemimpin yang ingin jadi kepala daerah?” tanya sahabat Men Coblong sambil membelalakkan matanya.

“Kau tidak bisa apatis begitu. Sebagai pemikir yang memelihara hutan-hutan hijau intelektual di negeri ini kau harus memiliki kekuatan untuk bertarung. Minimal mengajak mahasiswamu berpikir kritis untuk negeri ini.”

“Kritis? Di negeri ini kita sudah tidak bisa berpikir kritis dan keras. Apalagi menyinggung Tuhan? Kau lihat saja, ketika dana sumbangan Pilkada diwajibkan untuk dilaporkan. Kau tahu apa jawabannya? Mereka yang disumbangkan mengatakan: yang menyumbang itu hamba Tuhan. Tuhan saja mereka perkusi untuk menutupi beragam kebobrokan mereka. Apalagi aku? Perempuan biasa, yang sibuk mengurus beragam administrasi untuk meningkatkan kredibilitasku sebagai guru di perguruan tinggi. Kau mungkin tidak memerlukan beragam kewajiban-kewajiban mengikuti beragam seminar-seminar yang kadang tidak ada manfaatnya juga tidak membuat kita cerdas. Kau lihat saja, kondisi negeri ini. Para tokoh sudah bergenit-genit merasa paling unggul dari yang lain. Apa program mereka? Yang bisa membuatmu sedikit nyaman? Rata-rata berisik, ribut. Seperti kanak-kanak yang rebutan mainan baru. Dana Pilkada mau diakses publik saja mereka menuliskan para penyumbang itu NN — No Nama — alias hamba Tuhan. Bukan hamba rakyat, lho,” sahabat Men Coblong berkata serius.

Men Coblong terdiam. Alangkah sulitnya sesungguhnya jadi rakyat di negeri ini. Benar juga kata-kata sahabatnya itu. Men Coblong menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau tuhan saja sudah berani dilecehkan, apalagi Men coblong, perempuan nyinyir yang selalu merasa kena bisul ganas melihat ulah para pemikat yang bertarung di ranah kekuasaan.

Terus siapa pemimpin yang memikatmu? Yang bersedia dan ikhlas memberimu kata-kata menyejukkan, bukan marah-marah dan memaki. Sudahkah kau temukan pemimpin yang menyodorkanmu “hidangan” untuk menata Indonesia lebih cantik? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Hamba appeared first on BaleBengong.

Pokoknya Jik Raja Selalu Benar!

Setengah 7 pagi. Pan Sangut ribut di warung Men Koncreng.

Seperti biasa, ia memesan kopi dan godoh di dagang tipat cantok paling masyhur di desa ini sebelum berangkat mroyek. Sudah tiga bulan ini Pan Sangut jadi kuli bangunan di proyek hotel PT Bali Nirnyawa – megaproyek milik tapian Tonny Sunarto itu.

Pan Sangut membawa kegaduhan di media sosial kepada orang-orang warung. Lawan debatnya yang paling bernas, the one and only: Pan Delem. Kalau keduanya bertemu dan berdebat seperti di acara ILC, Men Koncreng akan nguping dan sesekali ikut nimbrung sambil mengulek-ulek bumbu tipat cantok yang dipesan para pelanggannya.

Nasbedag! Penistaan ini, Lem!” kata Pan Sangut kepada Pan Delem sembari memukul meja di depannya.

Sontak saja, meja kayu berlapis plastik kusam karena tumpahan kopi dan berbagai jenis kuah itu bergetar. Aneka jaja seperti bantal, klepon, godoh, dan laklak di atasnya nyaris berserakan di lantai warung.

Pan Delem tidak menyahut. Ia malah asyik membaca koran. Satu kakinya dinaikkan di atas bangku panjang tempatnya duduk. Di antara jari tengah dan telunjukknya terselip sebatang Tali Jagat. Mulutnya kepras-keprus seperti asap knalpot.

Cai ini gimana, Lem? Ini penghinaan, kok cai diem-diem aja? Cai sudah nonton tari kecak yang dinistakan itu, kan? Juga pementasan Rangda yang sangat jauh dari akar budaya Bali. Cang sing terima ne!

Pan Delem masih tak menyahut. Dibolak-baliknya lembar demi lembar koran yang entah edisi dan terbitan kapan. Karena tak dihiraukan, Pan Sangut lalu bergeser ke samping Pan Delem.

“Lem, Lem, lihat ini!” Pan Sangut menyodorkan layar gawai merek Tiongkok miliknya yang sudah lecet itu. Dia perlihatkan komentar-komentar warganet di akun Facebook milik Jik Raja Nanti Pantau Suklagraha Brahmacari XXX.

Semua komentar isinya pujian terkait yang Jik Raja lakukan. Nyaris tidak ada komentar negatif tentang Jik Raja di akun Facebook-nya. Selidik punya selidik, ternyata Jik Raja punya kebiasaan blokir-memblokir akun orang yang tak sepaham dengannya.

“Lihat, Lem! Hanya Jik Raja yang mau mendengarkan aspirasi rakyat! Hanya dia yang paling lantang membela tari kecak dan rangda dilecehkan! Jik Raja memang inspirasi, cocok jadi gubernur!” gertak Pan Sangut.

“Kok yang begitu-begitu cai sangetin, Ngut?” jawab Pan Delem.

Nasbedag, cai! Ya pastilah, pertunjukan semalam sudah melenceng dari akar tradisi Bali! Ini yang bikin Bali nggak ajeg!”

“Memangnya apa saja yang sudah cai lakukan demi ajegnya Bali, Ngut?”

“Inilah bentuk nyata nindihin gumi Bali, Lem! Membela tari kecak dan rangda agar jangan sampai ternoda oleh pakem-pakem budaya luar!”

“Cuma segitu, Ngut?”

Pan Sangut mengangguk.

Ngut, cang gak mau bilang cai itu dungu — kata yang sering dipakai Gerung pada lawan-lawan debatnya. Tapi begini, Ngut. Apa bedanya pementasan semalam dengan tari kecak atau rangda jika sekarang dipentaskan di hotel-hotel, di mal-mal? Dulu, orang Bali tidak berani campah dengan sosok Rangda karena memang disakralkan, dipasupati, dan metaksu. Tapi, sekarang rangda dipentaskan di hotel-hotel, masuk ke mal-mal, jadi barang dagangan. Demi pariwisata yang selalu cai agung-agungkan itu, tarian yang dulunya sakral kini jadi profan. Apa itu kurang menghina namanya?”

“Yang dipentaskan di hotel-hotel kan, nggak dipasupati. Jelas beda!”

“Memangnya yang dipentaskan tadi malam itu rangda yang dipasupati?”

“Memang bukan! Tapi pakaian tari kecak nggak tertutup seperti itu! Itu jelas sudah tidak terlihat lagi unsur Balinya!”

“Itulah yang disebut seni pertunjukan kontemporer, Lem.”

“Maksud cai?”

“Yang di TV itu tidak sepenuhnya tarian Bali. Itu hanya sebuah inovasi, perpaduan antara spirit tradisional dengan spirit modern! Kalau cai bilang itu tidak sesuai dengan akar kebudayaan Bali, standar penilaiannya seperti apa? Harus jelas itu. Contoh sederhananya, Wayang Cenk Blonk. Jro Wayan Nardayana itu dalang yang kreatif dan inovatif. Dia memadukan teknologi dalam pementasan wayang, menggunakan tata cahaya, dengan kerlip lampu yang indah menawan. Lampu pada awalnya ditemukan oleh Thomas Alva Edison. Itu produk Barat! Produk modern! Sedangkan seni tradisi Bali itu selalu terinspirasi dari alam. Apakah dengan demikian Jro Dalang menghina akar kebudayaan Bali? Kan tidak! Justru akan memperkaya kesenian yang sudah ada!” sahut Pan Delem panjang lebar.

“Tapi, Lem. Yang tadi malam di TV itu tidak sesuai dengan estetika kesenian maupun kebudayaan Bali!”

“Seni itu soal rasa, Ngut. Kalau kata Rabindranath Tagore, dalam seni itu manusia mengungkapkan atau mengekspresikan dirinya, bukan objeknya. In art, man reveals himself and not his objects!”

“Mihhh, Pan Delem pintar juga, nggih Bahasa Inggrisnya,” Men Koncreng menyela.

“Gini-gini, dulu pernah kerja di kapal pesiar,” sahut Pan Delem lalu menyeruput kopinya. Ia melanjutkan, “Jadi, seni itu cara seseorang mengekspresikan sesuatu. Cai boleh tidak suka terhadap karya seni seseorang, tetapi merespon dengan sentimen yang berlebihan tentu tidak elok. Cai bilang, pertunjukan tadi malam itu menghina dan menistakan kebudayaan Bali. Itu tandanya cai ketakutan, merasa terancam bahwa kesenian dan kebudayaan Bali akan tergilas zaman. Kalau cai mencintai Bali dengan tari-tariannya, dengan kesenian lainnya, maka itu tugas cai dan generasi Bali untuk merawat, mempelajari, agar jangan sampai punah.”

“Pokoknya cang tidak setuju dengan pendapat cai, Lem! Hanya Jik Raja yang paling mengerti! Ajik Raja bilang, pertunjukan yang di TV itu juga melecehkan simbol-simbol Hindu! Kecak itu berangkat dari kisah Ramayana!” sergah Pan Sangut.

“Ya, terserah cai, Ngut! Cai kok sedikit-sedikit sentimen? Sedikit-sedikit penistaan. Sedikit-sedikit penghinaan. Apa bedanya cai dengan kelompok sebelah? Begini. Cai bilang itu berangkat dari kisah Ramayana. Tetapi, ketika kisah Ramayana yang begitu kompleks ditampilkan di hotel-hotel dengan cerita ringkas dan lagi-lagi hanya untuk menyenangkan wisatawan, cai diam saja. Itu menandakan cai menggunakan standar ganda dalam melihat kebudayaan Bali. Kalau dengan para bule, asal mereka ngeluarin duit, cai diam. Tapi dengan yang sesama warga negara Indonesia, berbeda sedikit saja, cai sebut mereka nak dauh tukad. Cai bilang diri nasionalis, tapi kok cai terkesan terlalu primordial! Kau ini bagaimana, atau aku harus bagaimana?”

“Begitu, Lem? Coba cang pikir-pikir dulu, Lem. Tapi, sejauh ini cang masih percaya dengan kata-kata Jik Raja. Kedaulatan yang cang miliki, sudah cang berikan kepada Jik Raja. Apapun kata-kata Jik Raja, cang sepakat!” jawab Pan Sangut.

Ia buru-buru menghabiskan kopi yang sudah mendingin. Pan Sangut kemudian melanjutkan, “Men Koncreng, kas bon dulu ya! Kopi hitam, godoh dua, laklak satu. Gaji belum cair-cair ini sudah dua minggu molor.”

Pan Sangut kemudian lari menuju truk yang sudah menunggu di depan warung Men Koncreng. Teman-temannya sesama buruh sudah menunggu di bak belakang truk.

“Miihhh, Dewa Ratu! Kas bon yang kemarin-kemarin juga belum dibayar, Pan Sangut!”

Tangan Pan Sangut melambai-lambai dari atas truk. Perlahan, truk pengangkut para buruh bangunan itu melaju kencang. Knalpotnya mengeluarkan asap hitam pekat. Pan Delem yang kepras-keprus menghisap Tali Jagat dibuatnya sesak.

Nasbedag memang cai, Ngut!” [b]

The post Pokoknya Jik Raja Selalu Benar! appeared first on BaleBengong.