Tag Archives: ESAI

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #7

Singkat cerita, akhirnya Baradah sampai di Bali. Tempat Baradah berlabuh di Bali bernama Kapurancak. Dari Kapurancak, Baradah berjalan menuju arah timur. Tempat yang ditujunya adalah Silayukti.

Baradah pulang. Putrinya, Wedawati menyambut dengan sekantung rindu. Entah apa yang mereka lakukan untuk menghabiskan rindu mereka. Yang pasti keduanya merasa senang, sebab bertemu kembali dengan yang dikasihi.

Sementara itu, Raja Airlangga memerintahkan para punggawanya untuk membuka jalan. Tujuannya agar tercipta desa-desa, dan mengusir para penyamun yang mengganggu. Tidak lupa, ia memerintahkan untuk menanam pohon beringin dan pohon bodi. Kedua pohon itu ditanam berjajar-jajar.

Tampaknya Airlangga tidak lupa melakukan penghijauan di seputaran kerajaannya. Airlangga memang panutan. Itu bedanya pemimpin yang belajar sungguh-sungguh dengan pemimpin yang tidak pernah belajar. Airlangga belajar tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan otak, tapi juga hatinya. Hati inilah yang dalam teks-teks kadiatmikan disebut Hredaya.

Sekarang yang banyak adalah pemimpin yang belajar sekenanya untuk keperluan formalitas. Katanya, gelar-gelar mentereng itu dipakai untuk mendapatkan kekuatan. Kekuatan itu berupa pengakuan dan uang. Begitu biasanya, dan memang biasanya sudah begitu. Kita biasanya akan manggut-manggut dan menerima begitu saja. Hal-hal begitu sudah biasa kita temui, tapi kita selalu dibuatnya berpikir. Seolah-olah ada yang belum selesai dalam yang sudah selesai.

Keputusan-keputusan yang diambil oleh Airlangga, barangkali karena ia memiliki pembisik-pembisik yang benar-benar mumpuni. Kehadiran pembisik bagi seorang pemimpin sangat penting. Dia bisa menjadi otak bantuan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan. Itu mungkin sebabnya, Airlangga terlihat sangat bijaksana.

Karena Airlangga dianggap bijaksana, maka seluruh rakyat Nusantara sungguh-sungguh mengabdi padanya. Dalam teks Calon Arang, beberapa daerah disebutkan sebagai wilayah kekuasaan Airlangga, di antaranya: Sabrang, Malayu, Palembang, Jambi, Malaka, Singapura, Patani, Pahang, Siyam, Cempa, Cina, Koci, Keling, Tatar, Pego, Kedah, Kutawaringin, Kate, Bangka, Sunda, Madura, Kangayan, Makasar, Seran, Goran, Pandan, Peleke, Moloko, Bolo, Dompo, Bima, Timur, Sasak, Sambawa.

Semua wilayah itu menyerahkan pajak kepada raja. Dari daftar nama itu, saya tidak melihat nama Bali. Airlangga konon memang salah satu putra Bali. Dia adalah anak dari raja Udayana yang terkenal itu.

Nama Bali muncul dalam teks Calon Arang saat Airlangga diceritakan kebingungan untuk mengangkat dua orang anaknya sebagai raja. Ia hendak mengangkat seorang anak menjadi raja di Jawa, sedangkan yang satunya di Bali. Karena itu, diperintahkanlah punggawa istana untuk menghadap ke hadapan Baradah di Buh Citra.

Saya sama sekali tidak bisa mengerti, untuk apa Airlangga meminta pertimbangan kepada Baradah. Sementara di dalam kerajaan, Airlangga sudah memiliki pendeta yang tergolong sebagai Brahmana, Bhujangga dan Rsi. Ketiga golongan pendeta itu mestinya mampu memberikan pertimbangan yang bagus kepada rajanya agar Airlangga terlepas dari ikatan kebingungan. Apakah ada suatu maksud tertentu yang tidak dikatakan dalam teks? Tidak cukupkah tiga pembisik di lingkungan kekuasaan itu sehingga harus memohon pertimbangan kepada pendeta yang ada di luar lingkaran kepemerintahan?

Ken Kanuruhan adalah orang beruntung yang diutus oleh raja Airlangga untuk memohon arahan kepada Baradah. Arahan itu nantinya akan dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan. Kanuruhan segera berangkat dan menemui Baradah, Mpu yang telah mengalahkan Calon Arang. Mpu yang kemudian disebut-sebut namanya dalam lontar-lontar berbau mistis. Contohnya adalah lontar Kaputusan Mpu Baradah yang berarti ajaran-ajaran dari Mpu Baradah. Lontar ini membicarakan tentang cara-cara melihat diri sendiri. Melihat diri sendiri maksudnya, melihat dari bagian paling kasar sampai paling halus. Yang paling kasar dari diri disebut badan. Yang halus disebut ruh.

Tampaknya, keinginan Airlangga untuk menjadikan salah satu anaknya raja di Bali akan sia-sia. Sebab di Bali ada seorang Mpu yang tidak kalah bijaksananya dengan Baradah. Mpu itulah yang harus ditemui oleh Baradah kemudian.

“Aku akan pergi ke Bali,” begitu kata Baradah pada Kanuruhan. Kanuruhan disuruh pulang, sementara Baradah bersiap-siap menuju Bali. Setelah Baradah menemui putrinya, berangkatlah ia ke Bali. Tempat yang ditujunya adalah Sukti, tempat Mpu Kuturan. Sebelum berangkat, Baradah berpesan kepada putrinya, “kita akan moksa bersama-sama, setelah tugas ini berhasil ayah selesaikan. Sabarlah putriku.”

Dalam perjalanan itu, ada beberapa desa yang dilewati oleh Baradah. Beberapa nama desa itu yakni Watulambi, Sangkan, Banasara, Japana, Pandawan, Bubur Mirah, Campaluk, Kandikawari, Kuti, Koti.

Di Koti, Mpu Baradah bermalam. Esok paginya melanjutkan perjalanan sampai di Kapulungan, Makara Mungkur, Bayalangu, Ujungalang, Dawewihan, Pabayeman, Tirah, Wunut, Talepa, We Putih, Genggong, Gahan, Pajarakan, Lesan, Sekarawi, Gadi.

Di Gadi, Mpu Baradah berbelok ke arah utara melewati daerah Momorong, Ujung Widara, Waru-waru, Daleman, Lemah Mirah, Tarapas, Banyulangu, Gunung Patawuran, Sang Hyang Dwaralagudi, Pabukuran, Alang-alang Dawa, Patukangan, Turayan, Karasikan, Balawan, Hijin, Belaran, dan Andilan. Itulah daerah yang dilewati oleh Mpu Baradah, dan akhirnya sampai di Sagara Rupek.

Mpu Baradah harus menyeberang dari Sagara Rupek ke Bali. Masalahnya, saat itu tidak ada seorang pun yang bisa mengantarkan sebab disana mendadak sepi. Karena itu, Mpu Baradah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan menyeberang sendiri. Meski tidak ada perahu, bukan berarti proses penyeberangan tidak akan berhasil. Diambilnya daun Kalancang, diletakkan di atas air, lalu Baradah berdiri di atasnya. Penyeberangan dimulai.

Jangan bertanya bagaimana caranya Baradah menyeimbangkan diri di atas daun Kalancang. Jangan juga bertanya daun Kalancang yang bagaimana yang bisa tetap mengambang di atas air sementara di atasnya berdiri seorang manusia. Saya tidak tahu caranya. Tidak ada di dalam cerita disebutkan cara-cara teknis yang dilakukan oleh Baradah. Pokoknya, dengan bantuan daun Kalancang, lautan bisa diseberangi oleh Baradah. Daun Kalancang konon nama latinnya Artocarpus incisa.

Singkat cerita, akhirnya Baradah sampai di Bali. Tempat Baradah berlabuh di Bali bernama Kapurancak. Dari Kapurancak, Baradah berjalan menuju arah timur. Tempat yang ditujunya adalah Silayukti.

Tidak diceritakan tempat-tempat di Bali yang dilewati oleh Baradah. Di dalam cerita, pembuat cerita memotong penggambaran daerah-daerah itu. Entah apa sebabnya. Perjalanan dari Kapurancak menuju Silayukti, sangat menarik untuk dicari-cari. Barangkali kalau sudah menemukannya, kita bisa tahu peta Bali pada masa itu. Kita juga akan diberitahu, tempat-tempat yang menjadi petilasan Mpu Baradah di Bali. Masalahnya, adakah petunjuk yang bisa kita andalkan untuk pencarian ini? Mungkinkah tempat-tempat itu sudah menjadi Pura di Bali sebagaimana dilakukan belakangan?

Sesampainya di Asrama Silayukti, Baradah tidak langsung bertemu dengan Kuturan. Mpu Kuturan saat itu masih melakukan Yoga yang ketat. Yoga dalam konteks ini, tidak seperti Yoga yang sering kita lihat pada zaman kekinian. Yoga yang dilakukan Mpu Kuturan, pastilah dahsyat. Kita bisa melihat, berbagai sumber-sumber yang mengajarkan praktik Yoga. Sumber-sumber itu bisa disebut kuno. Contohnya: homa dhyatmika, swacanda marana, yoga nidra, dan lain sebagainya.

Kuturan tidak kunjung muncul dari tempatnya melakukan Yoga, maka Baradah menciptakan air sebatas leher Mpu Kuturan. Air ciptaan itu, tampaknya bukan persoalan bagi Mpu Kuturan. Ia tetap dengan teguh melakukan Yoga. Baradah segera menambahkan Semut Gatal pada air itu. Semua semut itu mengambang di atas air, dan bisa membuat tubuh gatal. Tetapi, Kuturan tetap tidak bergeming.

Air itu pelan-pelan surut dan mengering. Semut Gatal itu pun lenyap tidak bersisa. Tidak lama berselang, Mpu Kuturan keluar dari tempatnya beryoga. Baradah diterima dengan sangat baik, “Adikku Baradah, lama kita tidak berjumpa. Tentu ada tujuanmu datang kemari. Katakanlah.”

“Terimakasih kakakku Mpu Kuturan. Betul, aku memang hendak meminta keikhlasanmu. Ini tentang raja Jawa bernama Airlangga, bergelar Jatiningrat. Ada dua anaknya. Semoga berkenan agar diangkat menjadi Raja Bali salah satunya.”

“Tidak. Ya rikapan ana jageki makawaniha, kaprenah putu deninghulun, yeka jagadegaken mami ratw i bali [Nanti akan ada yang lain, dia masih merupakan cucuku, itulah yang akan aku jadikan raja di Bali],” kata Mpu Kuturan.

“Tapi seluruh kerajaan di Nusantara ini, patut menghaturkan upeti kepada Airlangga.”

“Apa? Aku bahkan tidak paham, mengapa seluruh kerajaan itu harus membayar upeti. Jika semua kerajaan itu membayar upeti, biarkan Bali tetap tidak! Kalau perlu, suka nghulun lurugen sabumeka [aku akan sangat senang menghancurkan seluruh bumi itu]. Kecuali, setelah aku mati nanti, terserah apakah ingin menyerang Bali.”

Mendengar ucapan Kuturan, Baradah mengerti kalau usahanya tidak akan berhasil. Ia lalu keluar dari asrama Silayukti itu. Baradah membuat gempa saat itu. Seluruh kerajaan Bali terkena gempa yang besar. Seluruh wilayah bergoncang. Hal itu membuat penduduk panik. Beberapa punggawa diperintahkan oleh raja Bali untuk menanyakan hal itu kepada Mpu Kuturan, apa gerangan yang sedang terjadi?

Baradah pergi dari Silayukti tanpa pamit. Segera, Kapurancak ditujunya. Ia ingin segera menyeberang. Tapi gagal. Daun Kalancang yang dikendarainya terus saja tenggelam. Berulang kali daun itu diletakkannya di atas air, lalu tenggelam berkali-kali. Ia seperti kehilangan kesaktian. Apa sebabnya?

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #6

Pilihan dan Kenyataan di Masa Pandemi Corona

Sore hari keempat masa swakarantina, saya memutuskan untuk pergi ke klinik dokter praktik bersama di Jalan Ahmad Yani, Denpasar Utara. Adanya virus corona baru dan penyakit Covid-19 mengingatkan untuk terus menerus mencuci tangan, dan jemari tangan kiri saya justru begitu sensitif ketika terkena sabun. Tentu ini harus segera diobati sebab kini saya harus sering-sering cuci tangan.

Saya sempat mampir ke ATM di SPBU Ahmad Yani dan meminta seorang sopir Grab membantu menghidupkan mesin sepeda motor saya dengan starter kaki. Ia langsung berlalu tanpa sepatah kata setelah saya mengucapkan terima kasih. Ia kembali sibuk dengan ponselnya, mungkin memeriksa apakah ada pelanggan atau makanan yang perlu diantar. Saya ingat betul, bapak sopir tersebut tidak menggunakan masker.

Pergi ke klinik, saya menunggu lebih dari satu jam untuk diperiksa. Saya duduk di ruang tunggu yang tidak begitu besar, hanya berkapasitas dua belas orang saja. Saya melihat beberapa pasien yang telah berusia lanjut. Tak semuanya saya lihat menggunakan masker. Ada seorang bapak yang batuk di sebelah saya tanpa menutup mulutnya dengan siku. Saat itu, saya begitu bersyukur mengenakan masker untuk menutupi wajah saya.

Pemeriksaan selesai. Dokter menyatakan kulit tangan saya begitu tipis dan sensitif dengan deterjen dan sabun cuci berbahan kimia dengan konsentrasi tinggi. Saya disarankan untuk mencuci tangan dengan sabun bayi saja. Saya tukarkan resep darinya dengan setoples kecil salep dan sepuluh tablet obat. Hari sudah menggelap ketika saya menuju sepeda motor yang terparkir sambil merogoh saku celana, mencari sekeping koin seribu rupiah.

Saya serahkan koin tersebut kepada bapak petugas parkir. “Bapak kok ten nganggé masker? (Bapak kok tidak pakai masker?)” tanya saya padanya. Di luar urusan virus corona, klinik adalah tempat yang penuh dengan orang sakit. Tentu si bapak juga rawan untuk tertular karena selalu bersinggungan dengan orang yang keluar-masuk klinik.

Masker mael sajan, gék. Sing nyidaang meli kéto-kéto. Men gék ada? (Masker mahal sekali, gek. Tidak sanggup belinya. Kalau gek ada masker?)” ujarnya sembari duduk di atas sepeda motor sebelah saya yang milik entah siapa. Saya kembalikan kunci sepeda motor saya ke posisi off. “Aduh, ampura pak, tiang ten wénten masker lebih niki (Maaf pak, saya tidak ada masker lebih nih),” saya buru-buru minta maaf, merasa bersalah menanyakan perkara masker kepadanya. Kami akhirnya mengobrol selama beberapa menit.

Betapa beruntungnya saya masih mampu mengenakan, lebih-lebih membeli masker yang sekarang sudah menjadi barang langka dan mahal. Saya sebenarnya tak tahu persis berapa harga masker saat ini, sebab ketika terakhir kali saya membeli, harganya masih sepuluh ribu rupiah untuk sebungkus berisi empat lembar. Akan tetapi, tidak semua orang mampu memiliki waktu luang dan juga uang lebih untuk sekadar membeli masker. Padahal, kini masker menjadi barang yang dianggap penting untuk dikenakan terutama ketika berada di luar rumah.

Tidak hanya soal masker, baik bapak penjaga parkir atau bapak sopir ojek daring, dua-duanya sama-sama masih harus bekerja di luar rumah. Ketika para pekerja kerah putih, termasuk saya sendiri, masih memiliki keleluasaan untuk tetap bekerja dari rumah, mereka tidak bisa mengikuti arus yang sama. Mereka masih bergantung kepada kehadiran langsung di lapangan untuk bisa disebut bekerja. Beberapa di antaranya malah membutuhkan kerumunan untuk mendapatkan rupiah yang lebih banyak. Beberapa juga diupah harian. Bayangkan jika mereka mengikuti arahan untuk berada di rumah, jangankan untuk membeli masker, bisa jadi mereka kesulitan untuk sekadar memenuhi kebutuhan harian.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pekerjaan di Indonesia masih didominasi sektor informal. Pada 2019, hanya 55,3 juta jiwa yang bekerja di sektor formal sementara terdapat 74 juta jiwa yang bekerja di sektor informal. Bapak penjaga parkir dan bapak sopir ojek daring yang saya temui adalah bagian dari 74 juta jiwa tersebut, bersama para pekerja lepas dan mereka yang mau tidak mau bekerja di sektor informal karena tidak memiliki pilihan lain yang lebih baik.

Kita tidak bisa semena-mena meminta semua orang untuk melakukan swakarantina karena tidak semua orang punya pilihan untuk melakukannya. Lagipula, siapa yang akan menjamin dapur mereka tetap mengepul jika tidak boleh berada di luar rumah? Saya sangsi negara bisa menjaminnya, walaupun sesungguhnya itu adalah kewajiban mereka. Mungkin hal yang bisa kita lakukan adalah membiarkan mereka bekerja sambil berharap kesehatan selalu melingkupi mereka.

Né penting berdoa gén, bersyukur suba baanga sehat (Yang penting berdoa saja, bersyukur sudah diberikan kesehatan),” bapak penjaga parkir berseloroh kepada saya sambil tertawa. Saya ikut tersenyum. Betapa bagi sebagian orang, mempertanyakan keadaan, apalagi melawan, tidak pernah menjadi opsi. Pasalnya, ada hal-hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan; apakah uang mencukupi untuk makan besok, apakah anak-anak bisa minum susu. Maka doa pun menjadi cara terakhir yang bisa manusia lakukan setelah mengupayakan segala yang terbaik. Dan bagi saya itu bukanlah hal yang keliru. Justru kepasrahan seringkali bisa dianggap sebagai pengakuan atas ketidakberdayaan manusia atas hal-hal di luar kuasanya.

Bapak penjaga parkir, bapak sopir ojek daring, ibu penjual nasi jinggo langganan saya, dan banyak pekerja kerah biru lainnya tidak punya pilihan untuk bekerja dari rumah. Sungguh tidak bijak rasanya untuk tetap kukuh bepergian ketika kita memiliki pilihan yang tidak dimiliki banyak orang lain. Siapapun yang memiliki privilese tersebut, semoga kita bisa menggunakannya untuk mendesak adanya perubahan, terutama kepada negara yang kerap kali membuat kita geleng-geleng kepala. Menggalang donasi untuk penyediaan alat pelindung diri bagi mereka yang membutuhkan juga sedang gencar dilakukan oleh para seniman. Betapa warga akhirnya bahu membahu dalam menangani pandemi ini. Dengan begini, terlihat pula bagaimana negara sudah terlalu mengecewakan masyarakatnya.

Nggih pak, dumogi setata kenak (Ya pak, semoga sehat selalu),” jawab saya pada bapak petugas parkir tersebut. Sepeda motor sudah saya hidupkan ketika ia mengatakan akan mencari dan mampir ke rumah orang tua saya di Sukasada, Buleleng. Dia mengaku masih bujangan. Sebisa mungkin saya tersenyum sopan lalu pamit. Terlepas dari apa yang ia janjikan di akhir percakapan, saya sungguh berharap ia senantiasa sehat walaupun tidak ada sehelai masker menutupi wajahnya.

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #6

Ekspresi tari Calon Arang/id.wikipedia.org

Ajaran kalepasan akan diberikan Baradah kepada Airlangga. Sebelum itu, ada syarat yang harus dipenuhi sang raja yakni “mempersiapkan Sang Hyang Dharma.” Dharma sudah lama menjadi kata yang abstrak. Ada banyak terjemahan Dharma jika dicari dalam kamus.

Dalam teks Calon Arang, yang dimaksud dengan Dharma adalah menggelar asurud ayu dan meninggalkan budi yang buruk. Asurud ayu, berarti memohon kesucian dan menjadi pendeta. Meninggalkan budi buruk maksudnya berperilaku adil semenjak dari dalam pikiran.

Melakukan surud ayu, berarti Airlangga akan dinobatkan sebagai pendeta. Jika hendak menanggalkan budi buruk, ada yang harus diperhatikan oleh raja demi belajar kalepasan: bangga [sombong], kuhaka [tidak sopan], paradara [zinah], caracara mareda [kebiasaan moral], dremba [serakah], moha [bingung], lobha [tamak], damacreyan [pengendalian diri], tresna gang [tangkai ikatan], sungsut [marah]. Semua itulah yang mesti diperhatikan oleh Airlangga. Semuanya berpusat pada pikiran dan perilaku yang baik. Inilah susila, inilah etika. Jelaslah mengapa ada yang mengatakan jika ingin belajar kalepasan, tamatkan dulu pelajaran moral, susila.

Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh Airlangga jika ingin belajar kepada Baradah? Jumlahnya disebut Pirak Sabuwana. Pirak Sabuwana berarti perak sedunia. Juga disebut dengan istilah Pongkab Sabda. Pongkab Sabda berarti pembuka suara, maksudnya pembuka ucapan.

Pongkab Sabda ini terdiri dari nista [kecil], madya [menengah] dan utama. Sepaha [1.600] adalah nista. Patang iwu [4.000] adalah madya. Walung iwu [8.000] adalah utama. Yang paling utama dari yang utama adalah walung laksa [80.000]. Tapi, menurut Baradah meskipun tanpa Pirak Sabuwana itu pun, Airlangga bisa belajar. Caranya adalah dengan memiliki kesungguhan belajar, tidak pernah merasa bosan dan lelah, jika disuruh oleh guru pasti dilakukan, dan tidak membantah perintah. Siswa yang memiliki klasifikasi itulah yang disebut siswa utama.

Menurut tradisi, murid yang baik adalah murid yang tidak melawan perkataan guru. Murid itu pun harus memiliki kesungguhan belajar. Kesungguhan belajar bisa dicek lewat keseharian. Apakah murid-murid itu sudah tepat waktu? Sudahkan mereka belajar menjaga susila? Jika memang betul seorang murid diperiksa oleh gurunya, di dunia ini tidak akan ada murid yang dengan mudah melewati beraneka rangkaian ujian.

Hubungan guru dan murid dalam konteks ini adalah hubungan guru-murid spiritual. Jika ada suatu kaum spiritual yang murid-muridnya bertindak amoral, artinya ia tidak benar-benar melewati ujian ketat gurunya. Pada akhirnya, gurunyalah yang harus diperiksa. Caranya memeriksa, salah satunya dengan membandingkan apa yang ditulis dalam sumber-sumber sastra dengan perilakunya. Tapi, apakah seluruh garis perguruan spiritual di dunia ini memiliki sumber yang jelas?

Mari kita tinggalkan sejenak pertanyaan tadi. Sekarang kita baca lagi, apa yang dilakukan oleh Airlangga ketika diberitahu perihal syarat-syarat menjadi murid. Ternyata Airlangga memutuskan, “hamba akan membayar sebanyak 8.000 Tuanku.” Sudah diputuskan, bahwa Airlangga yang konon menguasai Nusantara itu akan membayar 8.000 perak kepada Baradah.

Baradah lalu mengajarkan Airlangga tentang bunga [tingkah ikang puspa], katanya “Bukan beringin yang paling sakti. Susun 27 sirih dan oles dengan kapur. Letakkan pada sangku [mangkuk] emas. Di puncaknya isi permata mirah, lengkapi dengan sekar ura [bunga taburan] emas, dan perak yang bersinar lembut. Tempa agar tipis lalu potong, bijinya adalah mirah seadanya.”

Itulah yang disiapkan oleh raja, tujuannya agar semua orang di dunia tunduk di hadapannya. Saya tidak menemukan petunjuk apapun untuk menjelaskan perlengkapan upacara ini. Saya juga tidak ingin berasumsi bahwa pada masa teks Calon Arang ditulis, ada praktik-praktik mistik yang dilakukan oleh raja demi tunduknya musuh dan rakyat.

Di dalam tradisi Bali, saya hanya pernah mendengar bahwa memang ada suatu ritual yang bisa dilakukan agar orang-orang terkagum-kagum, tertunduk-tunduk. Ilmunya konon disebut panangkeb. Untuk lebih jelasnya, silahkan tanyakan kepada para praktisi. Saran saya, jangan tanyakan pada yang pura-pura praktisi.

Raja Airlangga tidak sendiri disucikan, tapi beserta permaisuri yang tidak disebutkan namanya. Dalam proses penyucian itu, konon para Rsi dari langit juga datang untuk menyaksikan peristiwa bersejarah itu. Airlangga, raja gagah perkasa yang konon menjadi pelindung Mpu Kanwa kini disucikan oleh Mpu Baradah.

Baradah meminta raja untuk mendekat, lalu berkata “Aku belum melakukan puja homa [angomani] padamu sampai aku sedepi basaja.” Sedep berarti menyenangkan terkait bau, rasa atau perilaku sopan santun. Basaja berarti alami, polos, sederhana, jujur, tulus. Sedepi basaja berarti menyenangi kesederhanaan. Mpu Baradah menyenangi kesederhanaan, kejujuran, ketulusan yang ditunjukkan oleh Airlangga. Karena itu pula dengan senang hati Baradah memberi gelar pada Airlangga sebagai Jatiningrat.

Upacara dilanjutkan dengan memindahkan bunga yang telah disiapkan tadi. Bunga-bunga itu didasari dengan emas lalu kengsar tiga kali. Kengsar diterjemahkan menjadi ‘digetarkan’. Barangkali maksudnya disentuh-sentuhkan sebanyak tiga kali pada bagian tubuh Airlangga dan permaisurinya. Prosesi menyentuh-nyentuhkan peralatan upacara masih bisa ditemukan dalam ritual pabayuhan atau ngotonin dalam tradisi Bali. Fungsinya memang sebagai ritual penyucian.

Airlangga lalu diajarkan tentang kelahiran [dumadi] dan tidak dilahirkan [tan daden]. Sayangnya ajaran ini tidak dijelaskan secara terperinci dalam teks Calon Arang. Airlangga juga diajarkan cara bertapa di kerajaan [atapeng rajya] dan bertapa di hutan gunung [atapeng giri wana]. Dua jenis cara bertapa ini juga tidak dijelaskan lebih lanjut oleh pencerita, mungkin karena bersifat teknis. Ajaran-ajaran yang tidak dijelaskan dalam teks, barangkali bisa kita cari dalam teks lain.

Baradah juga mengajarkan tentang Catur Asrama: Agrahastana, Awanapastra, Abiksukana, Brahmacarina. Menurut teks Calon Arang, masing-masing bagian dari Catur Asrama memiliki pengertian. Pengertiannya adalah sebagai berikut.

Agrahastana artinya wiku [pendeta] yang menikah, memiliki anak serta cucu. Awanapastra artinya yang menyepi [adukuh] di hutan. Adukuh dalam hal ini berarti melakukan kerja atau kegiatan sebagai dukuh. Dukuh berarti orang yang menyepi di hutan. Dalam teks Calon Arang, orang yang menjalankan Wanaprasta [Dukuh] adalah orang yang ‘maryamangan yan tan olihnya angrenggut suket godong kanang dukuhnya’ [tidak lagi makan jika tidak didapatnya memetik daun semak di padukuhannya].

Artinya, orang yang menjalankan janji diri [brata] sebagai Dukuh, menurut teks Calon Arang menjauh dan menyepi ke tempat sepi. Ia akan berhenti makan, jika seluruh dedaunan dan semak-semak yang ada di padukuhannya sudah tidak ada lagi. Lebih tegas lagi, teks Calon Arang menyatakan ‘matya uripa, tan kencak pwa ya sakeng sana’ [saat mati atau hidup, tidak pindah dari tempatnya]. Dukuh berarti pendeta yang menyerahkan dirinya kepada semesta.

Tempat yang layak menjadi padukuhan menurut teks Sewasasana adalah hutan. Tetapi bukan sembarang hutan yang boleh dijadikan padukuhan. Idealnya, padukuhan dibangun dengan syarat ‘lamun alas wus ?inukuhan de ning wong len, haywandukuhi’ [jika hutan yang telah dihuni [dinukuhan] oleh orang lain, jangan ditempati]. Memang sulit. Justru karena sulit, hal itu disebut brata. Tidak ada brata yang mudah dilakukan. Yang mudah, hanya mengatakan.

Abiksukana artinya pendeta yang menikmati kesejahteraan [mahapandita mukti]. Ia boleh membunuh [wenang amatyani]. Boleh memiliki pelayan secukupnya [wenang adrewya kawula]. Boleh beristri dan berhubungan seksual [mapatni majajamaha]. Pendeta yang demikian tidak boleh dihukum oleh raja, sebab memang ada aturannya demikian. Pendeta jenis ini tampaknya diberikan kebebasan dalam artian yang luas. Teks Calon Arang, tidak menjelaskan syarat bagi seseorang yang ingin menjalankan brata sebagai pendeta abiksukana. Tidak dijelaskan, bukan berarti tidak ada.

Brahmacarina, dapat dibagi menjadi empat jenis. Pertama, Suklabrahmacari berarti anak yang Lebu Guntung. Lebu Guntung berarti belum tahu rasa nasi dan daging, belum tahu rasa berhubungan suami istri. Anak Lebu Guntung ini belajar tentang ajaran sedari kecil, itulah Suklabrahmacari.

Kedua, Tan Tresnabrahmacari berarti orang yang dahulu memiliki pikiran sombong, tidak sopan, lalu mendapatkan ajaran kebaikan [warah ayu], merasakan rasa sekecap dua kecap, karena itu dirasa penuh olehnya. Karena rasa yang utama itu telah dirasakannya, ia memutuskan untuk meninggalkan asalnya, juga meninggalkan anak-istri tanpa sebab, lalu ia belajar sungguh-sungguh tentang ajaran. Tan Tresna berarti tidak terikat.

Ketiga, Sawalabrahmacari artinya jalan yang ditempuh oleh orang yang berselisih paham dengan pasangannya. Ia dikalahkan dan merasa malu jika mengadu kepada tuannya. Tetapi tidak dibenarkan jika malu, lalu ia belajar sungguh-sungguh.

Brahmacari Temen, artinya sang wiku yang memahami seluruh rasa. Ia juga paham jalan keluar masuk di dunia. Intinya, segala ajaran telah berhasil dipahaminya. Begitu juga dengan hakikat Darma.

Keempat tahapan hidup menurut teks Calon Arang, dijalani oleh orang yang disebut sebagai wiku. Seorang wiku adalah seorang pendeta. Teks Calon Arang pada bagian ini sedang menjelaskan tentang aturan-aturan yang mestinya dipelajari oleh pendeta. Jika semua aturan ini dipelajari oleh pendeta dan calon-calon pendeta, entah bagaimana jadinya.

Saya meyakini, dalam satu garis perguruan kependetaan ada aturan-aturan yang sudah ditetapkan, disepakati dan dijalani. Aturan-aturan semacam itu mestinya ditulis dalam sebuah sasana. Jadi akan ada rujukan tekstual yang bisa dijadikan pedoman dalam dunia kependetaan. Dengan begitu, yang menjadi pendeta memang orang-orang terpilih dan mampu menjadi mataharinya dunia. Bukankah tujuan menjadi pendeta adalah untuk mencapai pencerahan? Bukankah kecerahan itulah yang disebut sebagai Widya? Bukankah Widya adalah terjemahan untuk pengetahuan? Menjadi pendeta berarti membadankan pengetahuan.

Setelah upacara selesai, Baradah hendak kembali ke pertapaannya di Lemah Tulis. Airlangga menghaturkan biaya belajar, tapi tidak sesuai dengan janjinya. Airlangga mempersembahkan 50.000 yatra, 50 pakaian lengkap, emas, permata, juga pengikut di antaranya: pekerja sawah 100 orang, pemahat 100 orang, kerbau, sapi.

Apa yang dimaksud dengan kawula [pengikut] oleh teks Calon Arang? Apakah budak? Perbudakankah?

Hari Pers Nasional untuk Siapa?

Salah satu tuntutan buruh Bali dalam aksi May Day dengan meminta dimasukkannya biaya upacara. Foto Metro Bali.

Makin banyak tuntutan pada jurnalis ketika pendapatan pas-pasan.

Marty Baron, editor baru di Boston Globe bertemu dengan seorang kardinal. Pertemuan itu merupakan undangan dari sang pemimpin gereja. Salah satu percakapan menarik dari pertemuan ini adalah keduanya berbicang soal kegiatan jurnalistik.

Kardinal mengajak Marty Baron menjalin kerja sama untuk mengembangkan Kota Boston. Namun, sayangnya, permintaan itu bertepuk sebelah tangan.

Marty mengatakan, akan lebih baik jika pers menjalankan fungsinya secara independen. Plot ini merupakan bagian dari film Spotlight.

Tayangan tadi rasanya mewakili persitiwa wajib dari seorang wartawan. Dunia pers banyak berubah sejak era sebelum kemerdekaan hingga kini pada era milenial.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi pembicara dalam diklat jurnalistik yang diselenggarakan oleh kawan-kawan dari Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia (KMHDI) di Mataram, Lombok.

Saya memberikan materi jurnalistik dasar. Isinya membahas seputar membuat judul, membuat lead atau kepala berita dan elemen berita. Sederhana.

Namun, sebelum memberikan materi ini, saya menanyakan pada peserta siapa yang memiliki keinginan menjadi seorang jurnalis. Ternyata dari 40 orang peserta diklat, hanya 17 orang yang memiliki hasrat menjadi kuli tinta.

Lantas, saya bertanya lagi. Apa yang membuat peserta yang masih berstatus mahasiswa ini berminat menjadi jurnalis. Jawabnnya beragam. Ada yang mengatakan tertarik pada dunia kewartawanan. Ada yang penasaran dengan pekerjaan wartawan. Paling banyak karena pekerjaan wartawan dinilai bebas dan bisa berjalan pada rel idealisme mereka.

Alasan terakhir ini juga saya alami ketika baru mencoba-coba menjadi wartawan. Apalagi saat masih kuliah saya kerap nongkrong bareng dengan rekan pers mahasiswa. Kumpul untuk diskusi lebih tepatnya.

Singkat cerita, saya sampaikan kepada para mahasiwa ini bayangan mereka tentang dunia jurnalistik tidak sepenuhnya benar.

Hampir tujuh tahun menjadi seorang wartawan, hal pertama yang harus disadari menjadi pekerja pers adalah buruh. Iya, kami ini buruh.

Tiap tahun pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day. Tiap 1 Mei, jurnalis turun ke jalan bersama buruh pabrik berteriak meminta kenaikan upah.

Walaupun wartawan bisa mewawancarai presiden, menteri, gubernur, bupati hingga pemulung, status buruh ini tidak berubah.

Namun, mungkin masih ada jurnalis yang menganggap pekerjaan ini bisa mengangkat derajatnya karena bisa dekat dengan pejabat.

Saya tekankan pada para mahasiswa ini agar menghindari sikap yang demikian. Karena kelak ketika benar mereka menjadi jurnalis, akan muncul sikap sombong.

Sombong, karena merasa bangga dekat dengan pejabat tapi, isi dompet pas-pasan.

Selain persoalan upah, hal lain yang menjadi tantangan seorang wartawan saat ini adalah harus cepat. Kecepatan diperlukan untuk mengimbangi media sosial.

Pengalaman saya bekerja dengan sistem model ini adalah kelelahan secara fisik dan pikiran. Secara fisik karena harus menatap layar gawai yang kecil, lelah pikiran yang harus mengimbangi kecepatan media sosial.

Politik Redaksi

Saya juga menyampaikan jika ada ruang redaksi dengan kebijakannya. Saya menyebut ini politik redaksi.

Politik redaksi bisa menjadi sangat kejam bagi para wartawan muda, apalagi yang mengusung semangat idealis dan kebebasan.

Saya menceritakan pengalaman saat mulai menjadi wartawan. Ada kebijakan di tempat saya bekerja tidak boleh membuat berita yang menyinggung pemerintah.

Kebijakan ini lantaran, akan ada acara dari kantor tempat saya bekerja dan sepenuhnya dibantu oleh pemerintah daerah ini. Saya cukup syok mengetahui hal ini. Meski akhirnya tidak begitu lama bekerja di tempat tersebut.

Belum lagi ada cerita dari seorang teman wartawan. Ia menyebutkan, harus rajin mengunggah berita yang dihasilkan dari tempatnya bekerja ke media sosial pribadinya.

Menurut kawan saya ini, hal tersebut tidak masuk akal. Ia menilai media sosialnya mutlak adalah miliknya sendiri. Saya juga menilai seperti itu.

Unggahan di media sosial secara masif dilakukan oleh perusahaan media agar memancing orang untuk membuka (clickbait) sehingga menaikkan peringkat di Google sehingga mendapatkan uang lebih banyak. Singkatnya, lebih banyak klik, lebih banyak uang.

Selain cerita dari saya, para peserta juga ada yang mengungkapkan unek-uneknya melihat dunia jurnalistik. Ada yang menarik, lebih tepatnya saya ingat.

Ada yang mengeluh dengan perilaku wartawan yang melakukan tindak pemerasan. Cerita ini saya dapat dari mahasiswi dari Lampung.

Ia menyebutkan, ada segerombolan wartawan atau lebih tepatnya mengaku wartawan merusak jalan desa yang baru diaspal. Lantas kerusakan tersebut mereka foto.

Para pengaku wartawan ini kemudian mendatangi rumah warga atau pengurus desa dan mengancam akan menayangkan foto tersebut jika mereka tidak diberikan uang.

Ini kriminal, kata saya. Saya menyarankan agar warga mendapatkan pengetahuan yang benar tentang pekerjaan wartawan. Ajak organisasi wartawan semisal, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) atau Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Saya berpesan kepada peserta diklat jurnalistik ini agar lebih menimbang-nimbang lebih dalam keinginan berkarier sebagai wartawan. Pilihlah tempat bekerja yang bisa memberikan penghasilan memadai dan bisa membuat berkembang secara karya jurnalistik.

Selain itu, pekerjaan wartawan bisa dilakoni dengan baik dan mumpuni, jika Anda memiliki latar belakang ekonomi keluarga yang bagus. Dalam artian bisa menunjang pekerjaan Anda.

Sehingga saat melakoni pekerjaan wartawan, ada tidak akan tergoda oleh bujuk rayu imbalan di luar hak Anda. Simpelnya saya menyebut amplop, atau ajakan untuk kompromi seperti yang dialami oleh Marty Baron.

Soal amplop ini, saya kira aliansi atau perkumpulan pers hingga pemerintah di Indonesia belum memiliki solusinya. Percayalah.

Jadi, untuk siapa sebenarnya peringatan Hari Pers Nasional ketika persoalan menjadi jurnalis mulai dari upah hingga beban kerja yang tidak selesai dibahas, atau itu-itu saja.

Kapan basa-basi ini berakhir? [b]

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap [4]

Ekspresi tari Calon Arang/id.wikipedia.org

Mpu Baradah bersama tiga orang muridnya berangkat dari asrama.

Di sebuah desa ia bertemu dengan orang-orang yang hendak membakar mayat. Mayat itu dibakar karena begitu cara menghormati tubuh yang sudah mati.

Ada banyak aturan untuk melakukan upacara pembakaran ini. Tidak sekadar membakar, apalagi seperti jagung bakar. Ada hal-hal yang mesti dipenuhi oleh orang yang menggelar ritual pembakaran. Ritual itu bisa dicari sumbernya dalam berbagai naskah lontar, di antaranya: Yama Purwa Tattwa, Yama Purwana Tattwa, Yama Purana Tattwa, Pratekaning Wong Pejah, Siwa Tattwa Purana.

Nama-nama lontar itu hanya beberapa yang sempat diperiksa. Selain itu ada banyak lagi seperti lontar Putru Sangaskara. Pada lontar-lontar itulah orang-orang mestinya mencari tahu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dalam ritual pembakaran mayat.

Di dalam teks Calon Arang, upacara pembakaran itu tidak dijelaskan prosesinya. Namun, disebutkan, bahwa mayat itu ditutupi kain putih, dipeluk dan dielus-elus oleh istrinya. Sepasang kekasih ini dipisahkan oleh kematian yang tidak bisa ditolaknya.

Mpu Baradah konon merasa kasihan melihat hal itu. Maka atas nama kebaikan budi, Mpu Baradah berkenan menolong mereka. Caranya adalah dengan membangkitkan lagi mayat itu dari kematian.

Tidak dijelaskan pula bagaimana orang itu dihidupkan kembali oleh Mpu Baradah. Teks hanya menyebut ketika Mpu Baradah menyuruh wanita itu membuka kain penutup mayat suaminya, saat itu pula jantungnya kembali berdenyut. Kain itu dibuka-tutup sebanyak dua kali. Pada bukaan kedua, napas kembali ke dalam tubuh itu dan memberi kehidupan.

Lalu dalam jangka waktu kurang lebih rwang sepah, orang mati yang sudah hidup itu bisa duduk kembali dan menghaturkan terimakasih kepada Mpu Baradah.

Rwang sepah berarti dua kali mengunyah sirih pinang. Berapa lama kira-kira tepatnya, barangkali bisa dihitung dengan mencoba sirih pinang [nginang] terlebih dahulu. Memakan sirih yang telah dicampur kapur, gambir, pinang adalah tradisi yang sekarang sulit ditemukan. Hanya beberapa orang yang masih melakukannya.

Jika kini kita melihat ada orang yang makan sirih, bagaimana? Apakah ada asumsi-asumsi mistik pada pikiran kita yang lugu ini? Praktik makan sirih pinang memang bermuatan mistik. Sebab, ada lontar menyebutkan beberapa mantra yang biasa diucapkan saat akan mulai mencampur, mengunyah, hingga menelan.

Ada juga catatan-catatan pendek yang menyebutkan sirih pinang bisa dipersembahkan untuk menjadi bekal kepada orang-orang mati yang akan melalui ritual pembakaran. Namun, sirih pinang dalam kakawin malah bernuansa erotik. Sebab dimakan sepasang kekasih yang menikmati persenggamaan malam pertama.

Sirih pinang memang layak dikenang.

Mpu Baradah melanjutkan perjalanan dan menemukan tiga mayat berjajar. Di antara ketiganya, ada dua mayat yang tubuhnya masih utuh. Ketiganya diperciki Tirtha Gangga Merta. Hanya dua yang hidup kembali. Karena hanya tubuhnya masih utuh saja yang bisa dihidupkan oleh Mpu Baradah.

Di tempat lain, Mpu Baradah melihat dua mayat lagi. Mayat itu juga diperciki Tirtha Gangga Merta, lalu hidup kembali. Setelah hidup, keduanya berterimakasih dan menghormat pada Mpu Baradah. Caranya dengan menjilati debu di telapak kaki sang Mpu [mandilati lebu kang haneng talampakan ing pada Sang Jatiwara].

Sampai di sana, kita diberitahu oleh teks bahwa Mpu Baradah jelas bisa menghidupkan orang mati. Syaratnya adalah dengan memercikkan Tirtha Gangga Merta. Kondisi fisik tubuh seseorang yang sudah mati, juga menjadi salah satu syarat penting agar bisa dihidupkan kembali. Syaratnya ialah agar tubuh orang mati itu masih utuh.

Syarat yang kedua ini, diperjelas pada adegan selanjutnya ketika Mpu Baradah bertemu seorang wanita yang kehilangan suaminya. Dengan perasaan sedih, wanita itu memohon pertolongan kepada Mpu Baradah agar suaminya bisa dihidupkan. Namun, Mpu Baradah berkata, “Tan kawasa yan mangkana. Yan durung rusaka si laywane lakinteka, bilih kita katemwa malih dening nghulun [Tidak bisa jika demikian. Jika belum rusak mayat suamimu, berangkali kalian akan bertemu lagi olehku].

Jelaslah bahwa keutuhan mayat adalah syarat penting agar bisa dihidupkan kembali.

Mpu Baradah berjanji, bahwa wanita itu akan bertemu lagi dengan suaminya setelah mati. Pertemuan itu akan tercapai jika wanita tadi mengingat ajaran yang diberikan oleh Mpu Baradah. Mpu Baradah menyebutnya sebagai paranti.

Paranti itulah yang disebutnya juga sebagai warah. Warah jika diterjemahkan, berarti ucapan. Dalam konteks ini, ucapan adalah istilah untuk menyatakan ajaran. Ajaran-ajaran itu kebanyakan diucapkan dengan berbisik, istilahnya Pawisik.

Pawisik pada dasarnya memang ajaran yang sangat rahasia. Rahasia itu dijaga oleh garis perguruan tertentu. Karena sangat rahasia, maka ada lontar yang berjudul Wisik Parama Rahasya. Namun, mempelajari ajaran Mpu Baradah, bukannya tanpa jalan lain selain mencari-cari Pawisik itu. Barangkali jika kita rajin mencari-cari catatan, kita akan menemukan catatan khusus tentang ajaran-ajaran Mpu Baradah. Ajaran-ajaran khusus itu sering diistilahkan dengan Kaputusan.

Mpu Baradah melanjutkan lagi perjalanannya setelah urusan dengan wanita tadi selesai. Pergilah Mpu Baradah ke tengah-tengah kuburan. Di sana ia bertemu dengan Weksirsa dan Mahisawadana. Keduanya adalah murid Calon Arang yang pada cerita sebelumnya juga berhasil menghidupkan orang mati dengan menggelar binayu-bayuan.

Karena keduanya adalah murid Calon Arang, sangat besar kemungkinan kalau ilmu binayu-bayuan itu adalah milik gurunya.

Kedua murid yang berbakti ini, menyatakan kebosanannya berbuat tidak baik. Maka keduanya memohon kepada Mpu Baradah agar dapat disucikan [diruwat]. Sayangnya, permohonan itu tidak dapat ditindaklanjuti sebelum Calon Arang disucikan lebih dahulu. Keduanya lalu diberikan mandat untuk menjumpai Calon Arang dan menyampaikan pesan Mpu Baradah.

Calon Arang ketika itu sedang menghadap Bhatari Bagawati. Dalam percakapan rahasia di antara keduanya, Bhatari Bagawati telah memperingatkan Calon Arang. Isi peringatannya, “Jangan tidak waspada, maut dekat dengan dirimu”. Calon Arang merasa was-was dengan peringatan Bhatari Bagawati. Saat itulah Weksirsa dan Mahisawadana datang memberitahu kedatangan Mpu Baradah. Calon Arang lalu menemui besannya.

Saat bertemu, Calon Arang bertanya kepada Mpu Baradah dan meminta ajaran utama. Mpu Baradah dengan senang hati menjelaskan ajaran kebaikan dan menerangkan perbuatan Calon Arang yang membunuh banyak orang adalah salah.

Katanya dosa Calon Arang itu tidak bisa dilukat dengan cara biasa, hanya kematian satu-satunya jalan [tan kawasa yang kita lukata, yan tan mahawan pati kalinganika]. Kematian pun tidak sembarang kematian, tapi Calon Arang juga harus memahami ajaran Pasuk Wetuning Lumukat. Jika tidak, Calon Arang tidak akan bisa disucikan lagi.

Calon Arang menyadari hal itu, maka dengan rendah hati ia meminta agar dilukat oleh Mpu Baradah. Tapi Mpu Baradah berkata lain, “Aku tidak bisa melukatmu sekarang”. Ucapan itu membuat Calon Arang kecewa dan sangat marah. Kemarahannya lebih hebat dari marahnya orang diselingkuhi. Bahkan lebih dahsyat dari marahnya Ibu karena kita durhaka.

Calon Arang memang tidak bisa mengutuk Mpu Baradah jadi batu. Namun, Calon Arang bisa menunjukkan kesaktiannya. Segera ia menari dan menggerai rambut ke depat wajahnya. Matanya mendelik dan melirik ke segala arah. “Mati kau sekarang Baradah!!!”. [b]