Tag Archives: Ende

Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. I]



*Setelah kesabaran ini terkuras habis, sampai benar-benar kering!


Jika foto yang terlampir kurang jelas, kamu bisa meng-kliknya dua kali untuk melihat lebih jelas. Danke.


Judulnya mungkin hanya mengundang clickbait, akan tetapi sekali lagi, jangan terkecoh judul, baca ini sampai selesai.

Tahun ini, untuk kedua kalinya saya kembali ke Ende untuk menyelesaikan urusan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) yang terkenal menguras waktu, tenaga dan pikiran itu. 

Sebelumnya, di tahun 2012 berdasarkan himbauan Pemerintah dengan Program kerennya tersebut, saya sudah terlibat dalam antrian rekaman segala jenis kebutuhan untuk mendapatkan Kartu Identitas Warga Negara Indonesia ini di Gedung Rektorat Universitas Udayana, Denpasar. 

Tahun 2013, saya kembali ke Ende, untuk mengambil E-KTP di Kantor Camat dari mana saya berasal. KTP tersebut BELUM ADA. Alasannya, belum dikirim dari Pusat. 

Ibu saya, dengan upayanya, membuatkan KTP sementara, yang hingga saat ini masih saya pakai. KTP sementara tersebut akan berakhir pada Hari Ulang Tahun saya tahun depan, 2019.

Tahun 2016, saya kembali, mendatangi kembali Kantor Camat Ende Tengah, menanyakan keberadaan E-KTP saya yang seperti anak hilang, belum menemukan juga siapa pemiliknya. 

Sementara itu, desas-desus Korupsi E-KTP mulai tersebar, saya tentu cemas. Jangan-jangan anak hilang tersebut, benar-benar tak pernah ada, dia hanya pernah dibuahi di Denpasar, lalu keguguran begitu saja dan hilang, tak pernah mengalami kelahiran (ini kenapa saya jadi semacam Ibu-ibu putus asa karena Aborsi tanpa rencana).

26 September 2016, saya diminta datang kembali ke Kantor Camat Ende Tengah di Jl. Melati, saya dianjurkan melakukan perekaman ulang, mulai dari Kornea Mata, Pas Foto (saya ingat, foto saya bagus sekali waktu itu, pakai baju biru berkerah dan rapi dengan latar merah karena saya lahir di tahun ganjil. ugh) dan menyerahkan segala berkas yang dibutuhkan. 

Akhir dari proses tersebut, saya diberikan secarik kertas, sebagai bukti untuk pengambilan hasil jadi E-KTP di Kantor Dinas Kependudukan Kabupaten Ende, satu bulan lagi. 26 Oktober 2016. (Saya memostingnya di Facebook saat itu, berikut fotonya).


Ketika itu, urusan kuliah dan pekerjaan di Denpasar, tidak bisa saya tinggalkan, saya tidak punya waktu sebulan lagi untuk menunggu sampai E-KTP ini jadi, maka dari itu, saya menitipkannya pada Bapak untuk mengambilnya. 

Hal ini sudah saya konsultasikan dengan Pegawai di Kantor Camat, dan berdasarkan informasi tersebut, tidak masalah jika bukan Yang Bersangkutan yang mengambil, selama bukti pengambilan tersebut dibawa serta. 

Oke Fix, saya kembali ke Denpasar dan menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada Bapak.

27 Oktober 2016, saya menelpon ke rumah, menanyakan kepada Bapak, sudah sempatkah bersilaturahmi ke DISPENDUK? Beliau menjawab: “Sudah Ine, tetapi mereka bilang, KTPnya belum ada. Tunggu satu bulan lagi.” 

Demikian terjadi, satu bulan sekali Bapak ke DISPENDUK membawa serta kertas bukti sampai HARI INI, 26 Juni 2018. Setelah 1 Tahun, 8 Bulan. Kurang 4 bulan lagi, DUA TAHUN! 

Kertas bukti tersebut, akhirnya lecek seperti gambar di bawah ini, dan E-KTP yang tersayang hanya sejauh angan-angan.



Siang ini, saya ke Kantor DISPENDUK. Saya menemukan ada banyak sekali orang yang mengantri dan hiruk-pikuk ke kiri dan ke kanan, di luar matahari bersinar cerah, panasnya menembusi segala macam sendi dan sum-sum tulang belakang. Dibikin sup, enak kali yah. Hadeh… 

Kemudian saya teringat, ini 26 Juni 2018, sehari sebelum PILKADA dilakukan serentak di seluru Indonesia. Mariaaaaaa…hahahahaha. Puji Tuhan, saya belum ada niat mengikuti Pesta Rakyat tiputapu ini, jadi bagi saya, ini bukan masalah yang cukup mendesak.

Saya melemparkan pandangan ke sekitar, dan menemukan satu ruangan dengan sebuah Tulisan di depannya “Kartu Keluarga” (Nah, ini cerita lain yang juga konyol, setelah ini, kalian bisa menyimak cerita tersebut). 

Saya punya urusan untuk ini juga, saya menuju ke ruangan ini, dan berhenti tepat di depan pintunya karena ada banyak Kertas Pengumuman yang menempel. Berikut, kertas-kertas Pemberitahuan tersebut:



Perhatikan Pemberitahuan pertama, kesalahan saya yang pertama, SALAH KOSTUM. 

Hahahahaha… Saya pakai kemeja dan celana pendek, sandal pulak. Saya tertawa, saat membaca bagian ini, dan dua orang pemuda plus satu pemudi di samping saya berbicara menggunakan bahasa Ende tentang kekonyolan saya ini. 

Mereka pikir, saya orang asing dari mana datang sehingga tidak mengerti mereka omong apa. Sorry Gaes, aku nantang mata kamu yah, tetapi kamu malah lihat ke tempat lain. Kan kita bisa ngobrol. Wew. 

Kesalahan kedua, yah saya sadari sejak dari rumah, sesiang ini saya berkunjung ke Kantor Pemerintahan untuk mengurus hal semacam ini, saya hanya akan disembur omelan dan berbagai alasan yang justru menyerang balik saya (boomerang keto kone).



Pemberitahuan yang kedua, perhatikan dengan seksama. Saya hampir saja melepas tawa berkepanjangan yang mungkin bisa jadi mengejutkan semua orang yang ada di dalam maupun juga di halaman kantor DISPENDUK ini. 

WHAT THE FUCK kan?! Setelah kau menyiapkan waktu dan tenaga, jauh-jauh datang kembali, memastikan bahwa kau tidak keguguran lagi #eh hahahahahaha kau malah menemukan Pengumuman Sial seperti ini. 

Untuk waktu yang tidak tentu, Hep! Mereka akan mengumumkannya melalui media yang tersedia, jika semua sudah kembali normal. Itu kaya Pacaran, terus pasangan minta break dan gak jelas sampai kapan. Mo cari gebetan lain, ntar dibilang selingkuh. Kan an**ng! Ini sudah semakin ke mana-mana..bah!




Dan Pemberitahuan yang ketiga, hal sial lain yang terjadi pada saya, tepat di poin pertama! 

03 Januari 2018 yang lalu, adik saya mengurus ulang Kartu Keluarga di kantor ini juga. Ia membutuhkan lembar asli dengan tanda tangan basah Kepala Dinas Kependudukan dan Capil Kabupaten Ende demi mengurus satu dan lain hal. 

Karena lembar asli di rumah sudah lama hilang, maka ia harus ke Polres Ende, mengurus surat keterangan kehilangan dan meminta pihak DISPENDUK untuk membuat ulang. 

Ia mengaku bahwa sudah mengikutsertakan lembaran KK yang lama, yang jelas-jelas ada NAMA SAYA tertera di situ sebagai ANAK PERTAMA. And I don’t know what the hell is going on with those people, di lembar Kartu Keluarga baru tersebut TIDAK ADA NAMA SAYA. 




Seketika saya lenyap dan tidak diakui sebagai anak sulung dari kedua orang tua saya. 

ILEGAL DONG GUE? 

E-KTP gak jadi-jadi, sekarang nama juga taka da di KARTU KELUARGA. Terus, aku kudu ngere emba?!!!

Fyuh...


Hari ini, saya membutuhkan satu botol arak dan setidaknya potongan daging babi asap dengan campuran lombok yang banyak, sertakan bijinya sekaligus, biar mabok sepuasnya. 

Sesetia apa pun kamu pada tanah airmu, kamu akan lebih sering dikecewakan, karena begitulah hidup mengajarkanmu kesabaran dan ketegaran. Bakbi sekali! Mbingu betul! Arghhhhhh….

TRIAL & ERROR



*Bingung mau kasih judul apa ini tah!


Di tahun 2004 di sebuah kelas IPA di SMAK Syuradikara, saat itu, saya adalah salah satu siswi yang kurang beruntung. Demikian saya mengklaim diri saya sendiri. Saya masih ingat, pagi itu Jam Pertama Pelajaran kelas kami adalah Fisika yang dibawakan oleh seorang Guru Wanita. Sebelumnya, suami Ibu Guru ini, yang adalah seorang Dosen di satu-satunya Universitas di Kota kami, sempat beradu pendapat dengan saya pada sebuah diskusi budaya tentang Asal Usul Seorang Pahlawan Daerah Ende. Jikalau saya salah berpikir, maka maafkanlah, akan tetapi tak pernah intuisi saya mengkhianati saya, mereka tak pernah muncul sia-sia. Hasil kebawelan saya di acara ini juga, yang membuat saya kemudian terpilih sebagai satu-satunya Perwakilan Nusa Tenggara Timur untuk Lawatan sejarah Nasional I di Nangroeh Aceh Darussalam, yang kegiatannya diselenggarakan berkat program terbaru Kementrian Pariwisata dan Budaya Republik Indonesia saat itu.

Kejadian yang akan saya ceritakan ini, berlangsung hanya beberapa hari setelah saya kembali dari Nangroeh Aceh Darussalam, pada bulan Agustus yang mataharinya bersinar sangat cerah bersamaan dengan angin dingin yang bertiup dari arah selatan. Seringkali membikin saya menggigil kedinginan. Persis dengan kejadian ini, yang masih mampu menimbulkan rasa dingin yang tiba-tiba apabila mengingatnya. Dua apa tiga hari sebelumnya (saya lupa tepatnya), kami melaksanakan Tes/Ulangan terhadap salah satu bab yang telah selesai dibahas pada buku mata pelajaran Fisika yang saat itu lazim dipakai. Hasil ulangannya telah dibagikan, dan sebagaimana biasanya, saya yang tak sungguh-sungguh dalam semua mata pelajaran penting pada jurusan saya ini, mendapatkan angka yang bagi saya sudah pas, entah bagi mentor saya atau kawan-kawan saya lainnya.

Pagi itu, Sang Ibu Guru muncul, memberi salam dan berbasa-basi sebentar lalu dengan pongahnya berkata: “oke, jadi hasil ulangan kemarin sudah terima semua toh? Nah sekarang, saya mau, masing-masing duduk sesuai hasil ulangannya, supaya kita tahu, mereka-mereka ini masalahnya di mana?! Ikuti arahan saya, yang lima ke bawah, silakan duduk di deretan kursi sebelah kanan saya (sembari menggerakan tangan beliau, membentuk batasan). Kemudian, yang nilainya enam ke atas, silakan duduk di sebelah kiri saya.” Saat itu, duduk satu deretan ke belakang, (sepertinya tidak ada yang menempati kursi paling depan, kau tahulah kenapa) ada Stivan Agustinus Wungubelen, Euginius Pasely Surya Kandar, Maria Pankratia Mete Seda, Sunartin Abdullah Wahid, Kenisia Natalia Rohy, dua orangnya lagi saya lupa siapa. Jika kalian, penghuni kelas 3Ipa2 ada yang mengingat peristiwa ini, mungkin bisa membantu menyebut dua nama yang kurang. Ruangan kelas yang kita pakai saat itu adalah Ruang A2, deretan ruang kelas di Gedung Induk yang berada pada bangunan yang sama dengan Pendopo Syuradikara yang berlangit-langit tinggi itu.

Saat itu, saya menjadi sangat malu dan terpukul. Seperti dibanting dari udara sahaja rasanya. Yah kau bayangkan, belum selesai bayang-bayang asmara Aceh I’m in Love-ku itu, lalu bertemu pula aku dengan hal memalukan seperti ini. Nol Kilometer Indonesia sudah kucapai, angka enam di atas kertas ulangan saja, tak bisa kujangkau?! What The Fuck kan?
Lebih lanjut, Sang Ibu Guru berkata: “Saya hanya mau kasitahu, kenapa saya pisah-pisahkan kalian begini, supaya kalian tahu diri, ada di posisi yang mana kalian sekarang? masih proses belajar, yang nilainya bagus, jangan cepat puas! Apalagi sombong. Yang nilainya masih hopang, coba dengan sadar. Jangan terlalu sibu-ribu dengan yang tidak ada guna-gana tuh, coba dengan sadar. Tuhan tidak turun tolong kamu supaya nilai mendadak jadi bagus. BELAJAR!” -------- OKE FINE!

Satu hal yang membuat saya sungguh sangat putus asa saat itu dan, merasa yakin bahwa saya tidak akan keluar dari Syuradikara hidup-hidup, bahwa Sang Ibu Guru adalah salah satu yang merekomendasikan saya untuk memilih Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dari beberapa Guru yang menakar kehebatan siswa/inya dari Nilai Rapor saat kenaikan kelas. Beliau juga yang mati-matian memaksa saya bertahan di kelas yang bukan saya pilih ini, yang begitu sangat horror terdengar di awal Masa Orientasi Sekolah (MOS). Beliau yang menasihati selalu, pun setia menghantam saya dan kawan-kawan dengan sindiran yang mematikan di tengah pelajaran berlangsung; “Kalian-kalian ini, sama sekali tidak merasa bersyukur e, sudah dikasih kemampuan seperti itu, bukannya dimanfaatkan dengan baik.” Kira-kira senada dengan ungkapan Kepala Sekolah Bertugas saat itu: “Tidak punya hasrat menaklukan dunia, mau jadi apa kau?”

Sejak awal pemilihan jurusan, saya sangat ingin bergabung di kelas Bahasa, karena ketertarikan saya pada sastra dan dunia menulis. Akan tetapi, sebagaimana nasib remaja berusia 16 tahun di NTT pada umumnya, jalan hidupmu ditentukan oleh Orang tua, Para Guru, Kepala Sekolah dan Nilai di atas kertasmu. Mereka adalah penentu mutlak yang lebih memahami kemampuanmu daripada dirimu sendiri. Kau siapa? Keci ana kemarin sore, macam jago-jago saja. Well!!! Orang tua saya tentu saja bangga setengah mati, anak saya Jurusan IPA, tidak kalah dengan anak-anak tetangga, rekan kerja, pejabat, de es be-nya.

Mereka tidak akan peduli, seberapa pusingnya kau melihat angka-angka tersebut berseliweran entah dari mana datangnya. Bagaimana kau gugup karena takut akan ulangan umum dan dipermalukan di seantero kelas. Bagaimana kau berusaha tetap mengimbangi bakatmu, yang hanya mendapatkan presentasi terkecil dari perhatianmu. Saya bahkan harus mencuri-curi kesempatan, untuk menuliskan puisi atau cerita ketika mood puitis saya tengah indah-indahnya, saat Guru Kimia sedang mencampurkan bahan-bahan di depan kelas hingga berasap dan menggelegak. Euw. Saya tidak peduli.

Hingga saat ini, saya masih merasa sakit hati jika mengingat kejadian di atas. Saya dibuat merasa sebagai manusia paling bodok, goblok, sial, tidak bisa diharapkan dan kawanannya, jika diketik entah sepanjang apa nanti ini. Kawan-kawan kelas saya harus tahu, bahwa saya pernah begitu benci bangun pagi dan harus berangkat ke sekolah karena mesti bergabung dengan mereka, mengikuti pelajaran sembari mengutuki diri sendiri yang adzubilah min zalik apa isi otak saya ini, sampah?!

Ketika merefleksi ini, saya kemudian paham bahwa saya marah karena tidak bisa menerima cara Sang Ibu Guru memperlakukan siswa/inya dengan bijak. Yang membuat saya merasa begitu sangat tertekan dan putus asa, hingga membencinya. Apakah tidak ada cara lain lagi, dari sekian juta kemungkinan cara di dunia ini, saat itu sudah Milenium, Abad 21. Apakah tidak ada cara lain, untuk membuat kami yang BODOK ini menjadi LEBIH BAIK atau PINTAR sebagaimana lazimnya harapan bangsa yang terpatri sejak dahulu kala? Apakah hanya dengan cara membuat kami malu, maka kami otomatis berubah?

Tiga belas tahun kemudian, saya dipertemukan dengan seorang Guru, bernama Simon Seffi. Yang menuliskan buku berjudul: Bermain dengan Sentuhan Personal – Agar Siswa Bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD yang di dalamnya juga menjelaskan bagaimana selama ini siswa/i di NTT sejak tingkat dasar sudah diajar menggunakan metode kekerasan dan hukuman yang pada akhirnya menimbulkan efek jera karena malu dan takut. Kekerasan dan hukuman ini, menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman kepada siswa/I yang menyebabkan  siswa/I hanya melakukan apa yang diperintahkan Guru. Mereka bersekolah untuk menyenangkan Guru, bukan untuk mendapatkan ilmu.

Pada akhir tahun ajaran, di tahun 2005, saat Pengumuman Kelulusan, saya sengaja datang terlambat. Saya begitu ketakutan bahwa saya tidak akan lulus dan mempermalukan kedua orang tua saya. Keluarga saya, tetangga saya dan tentu saja diri saya sendiri. Saya datang mengenakan baju putih dan rok putih, perpaduan seragam osis dan yayasan, demi menegaskan (lebih kepada diri saya sendiri) bahwa saya tidak akan mencoret-coret seragam saya, sebab ini dibeli dengan jerih susah kedua orang tua yang setiap hari mengomeli saya dan menjelaskan daftar panjang finansial yang telah dihabiskan untuk anak sulung tak tahu diuntung seperti saya. Saya tiba ketika Pendopo Syuradikara sudah lengang, dan sialnya saya berpapasan lagi dengan Sang Ibu Guru yang tetap saja ketus di detik-detik terakhir: “Mete Seda, kau lulus juga e?”

DEMI DEWA!

Saya memiliki, hm entahlah apakah ini anugerah atau kesialan, bahwa saya mampu merekam kejadian yang telah lewat dengan sangat sempurna termasuk percakapan, raut wajah dan tatapan mata, apa lagi jika kejadian tersebut menimbulkan rasa yang seperti klimaks di hati dan pikiran saya (semacam orgasme: ada harubiru, senang, sedih, marah, sakit hati, campur aduk). Entahlah apa namanya, tidak berlebihan jika kadang saya sangat berapi-api ketika bertemu kawan lama atau orang dari masa lalu, belum lagi jika dia memberi kesan mendalam, saya akan mengupas tuntas segala kejadian yang pernah kami lewati bersama. Nostalgia yang kadang cukup menimbulkan ambigu, bisa senang atau bisa jadi membuat risih apabila bertemu teman yang tak suka mengungkit-ungkit masa silam.

Bertahun-tahun kemudian, setelah saya berdarah-darah dan berusaha menerima, memahami dan memaklumi DIRI SENDIRI, belajar dari banyak hal, syukur kepada Tuhan, saya doyan membaca, bahkan mungkin nanti hingga masuk liang lahat, bahwasannya SEMUA MANUSIA DILAHIRKAN JENIUS, tergantung di mana dia berada, bagaimana dia dididik, dengan apa dan siapa dia bergaul serta bagaimana dia mengolah semuanya, itu yang akan menentukan MANUSIA SEPERTI APA KITA. Saya belajar untuk tidak hidup berdasarkan pilihan dan omongan orang lain, saya hidup atas apa yang saya yakini!

Sampai di sini, saya mengetik sembari tersenyum. Sok sekali rupanya. Ahai.
---------------------------------

Setelah hampir sebulan saya tidak mengupdate blog pribadi ini, di sebuah misa sore yang sama sekali tidak bisa mengintervensi suasana hati saya yang kalut, entah mengapa di tengah konsekrasi, saya malah mengingat peristiwa ini. Dan setelah Komuni, saya begitu sengit dengan kertas dan spidol yang berwarna senada dengan rok yang sedang saya pakai. Orange. Entah apa pulak maknanya. Tetapi saya mengamininya sebagai sebuah jalan perubahan. Saya menulis kembali semua kejadian ini dengan sangat lancar dan penuh haru. Lalu menyalinnya di laptop saat pulang, dan memostingnya di sini. Saya tidak tahu, apa manfaat saya menuliskan ini kembali, dan apa pentingnya kau harus membaca ini? Itu terserah kalian.

Tulisan ini, rencananya, ingin saya ikutsertakan pada Kumpulan Cerita Alumni Syuradikara Edisi kedua, yang sampai saat ini juga masih rencana. Sebelumnya, telah ada Kumpulan Cerita Alumni yang terbit di tahun 2012 berjudul 5900 Langkah. Ada 30 Kisah dari 28 Alumni Syuradikara, dari yang Preman dulunya di Sekolah sampai yang Unggulan dan selalu diperhitungkan Para Guru, bergabung untuk menulis di situ. 5900 Langkah, menyimpan banyak cerita, juga ilmu yang tidak akan kau dapatkan di kelas-kelas Sekolah Menengah Atas dengan banyak mata pelajaran yang pada akhirnya sebagian besar hanya sia-sia bagi kehidupanmu di masa depan. Ini serius!


Panjangnya! Tidak ada gambar lagi. Yang kuat yah….hihi…BYE.

Catatan lain saya, tentang masa-masa labil di SMA, bisa dilihat di sini: AKHIRNYA (*Sebuah Refleksi)


Untuk yang punya foto, saya pinjam. saya temukan di google dan ini bagus. Simo Gemi :)


Taman Bung Karno Ende – Saran untuk pengembangan



Akhirnya!!!

*Jika ingin melihat gambar lebih jelas, bisa double klik pada gambar. Thanks




Saran saya ini sempat saya sampaikan ketika saya ngomel-ngomel di postingan Generasi Bangsa Ini, Diajarkan Untuk Lupa kemarin. Berikut saya uraikan lebih rinci;

Pintu depan: Ada Petugas jaga/Piket yang bekerja beberapa shift (bergantian), Pagi-Siang-Sore-Malam. Petugas-petugas ini juga bertanggung jawab atas Keamanan Lingkungan Taman setiap hari termasuk Security Check. Pengunjung DILARANG membawa spidol,pilox, atau alat-alat lainnya yang memiliki potensi Vandalisme ke dalam taman.

Di pintu depan disiapkan Katalog yang bisa dibagikan ke pengunjung saat akan masuk ke taman sebagai penunjang informasi selain juga PAPAN INFORMASI yang bisa disediakan di sudut tertentu dari taman. Informasi bisa berupa “Kenapa Taman Bung Karno dibangun?” // “Cerita tentang Proses Pembangunan hingga Peresmian” // “Sejarah Bung Karno di Ende” // “Pohon Sukun dan Falsafah Pancasila” // ini salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengedukasi masyarakat supaya punya rasa bangga dan kepedulian lebih terhadap Taman.

Patung: Sebaiknya Lokasi Patung tidak diakses leluasa oleh pengunjung, dipagari rapi lalu diberi tulisan “PENGUNJUNG DILARANG NAIK DAN DUDUK DEKAT/DI ATAS PATUNG.” Ini terkesan keras atau mungkin norak tetapi juga mengajarkan pengunjung supaya tidak terlalu kurang ajar karena beberapa pengunjung yang ceroboh malah membuat Patung Bung Karno itu tidak memiliki wibawa sama sekali sebagai Tokoh Proklamator dan Presiden Pertama Indonesia.

Kolam airnya mohon dijaga supaya selalu berisi air, tidak kering. Karena memang begitu fungsinya, menambah keindahan dengan pantulan bayangan patung tersebut ke air (menurut saya sih).

Petugas Kebersihan: Daun-daun yang jatuh dari pohon itu tidak masalah, itu bisa dibersihkan sesekali tetapi sampah plastik atau bekas makanan yang dibuang sembarangan pengunjung itu kadang mengganggu sekali padahal sudah disediakan tempat sampah di titik tertentu. Kita harus menerima kenyataan, masyarakat kita belum begitu paham tentang “Membuang Sampah Pada Tempatnya” sehingga harus dibutuhkan pekerja extra sampai waktu yang tidak ditentukan. Petugasnya usahakan yang memang talentanya di situ, bukan yang terima gaji buta wkwkwkw…

TOILET: Belum ada toilet di Taman Bung Karno (Atau sudah ada, cuma saya yang kurang perhatikan)

Seperti di atas dulu untuk sementara, kalau seiring waktu ada yang nyasar di kepala saya dan belum terlambat untuk disampaikan, saya akan berkabar. Hm..Kalau tambahan petugas itu dirasa akan menguras banyak biaya demi menggaji mereka, pengunjung mungkin bisa dikenakan biaya retribusi masuk yang “masuk akal” untuk mengimbangi hal tersebut.

Demikian~


2016; A Golden Year




365 hari yang lalu, saya tidak memiliki resolusi apa pun untuk 365 hari berikutnya. Saya masih tetap hidup, sehat dan waras saja sudah merupakan sebuah keuntungan. 2015 dan 2014 adalah tahun yang cukup luluh lantak sebagaimana kemudi kapal yang dibajak sehingga nakhodanya tidak memiliki kendali penuh untuk menentukan ke mana menuju. Namun, pada akhirnya, saya menemukan titik balik. Benar adanya, seseorang yang kembali bangkit dari kejatuhan, kekuatannya berkali lipat.

Sekuat tenaga saya menemukan diri saya kembali dan bertanya sesering mungkin “mau apa aku dengan hidupku ini?” iyah persis lirik lagunya Nosstress, itu padanan refleksi yang klop! Refleksi singkat akhir tahun lalu itu, saya temukan kembali di sini

Memulai langkah di 1 Januari 2016 tanpa persiapan apa pun! Kabur, meraba-raba.
Resign dari pekerjaan yang menjadi sumber hidup dan eksistensi, terjun ke lapangan tanpa visi sebagai mahasiswi KKN lalu PKL. Masih saja percaya diri mengkoordinasi Persiapan Misa Pra-IYD2 Keuskupan Denpasar, bersedia jadi Fasilitator Kelompok tanpa pengalaman untuk Kelas Inspirasi Bali 03, terlibat lagi di Denpasar Film Festival. Menyanggupi hadir di Pelatihan Menulis Kompas (lagi), nyasar di Ubud Writers and Readers Festival ke-13 dan Citizen Journalism Day kerja sama Balebengong dan Bali Blogger Community, serta menjadi Juara Regional Maluku dan Nusa Tenggara Blog Competition oleh Government Public Relations. Berani-beraninya menyanggupi jadi auditor untuk sebuah project yang jauh dari bayangan dan dari kamar tidur yang nyaman. Situasi tersebut cukup ngeri-ngeri sedap. Belum pernah saya begitu takut tetapi juga penasaran, antusias diikuti rendah diri yang kalap. Lampung, selama delapan hari merubah sudut pandang saya hampir 75% tentang hidup. Di tahun ini juga, untuk pertama kalinya, saya berani mengirimkan karya saya ke media dan dimuat!

Tahun 2016 saya juga mengalami banyak kepiluan. Saya memang gemar menangis. Bukan hanya dalam situasi sedih atau terharu tetapi juga saat bahagia. Akan tetapi, menangis karena ditinggal pergi untuk selamanya oleh tokoh-tokoh yang menginspirasi hidup saya selama beberapa tahun ini, itu memilukan. Terguguh dan lama. Tidak pernah sekalipun saya meluangkan waktu untuk berpikir bahwa bumi dan manusia terus bertambah tua. Di suatu masa, kita harus menerima kenyataan bahwa jiwa dan pikiran memang tidak pernah mati namun raga pada hakekatnya tidak abadi. Kita harus siap menghadapi kehilangan demi kehilangan. Untuk Ama Petu, Om Boni dan Bapak Agustinus Prajitno, Hormat setinggi-tingginya!

Tahun 2016 saya juga ditinggal nikah oleh sahabat-sahabat terbaik saya. Hebat mereka, mampu mengambil keputusan serumit itu hahaha. Sementara saya masih berkubang, terjebak dalam kecemasan “Bagaimana saya dapat berbagi seluruh pikiran saya seumur hidup hanya dengan satu orang laki-laki saja? Berbagi tubuh saja, saya tak rela. Mana puas kalo cuma sama satu orang?” #Eh wkwkwkkw…

Pada tahun ini pula, saya merasakan dampak arus informasi yang begitu deras akibat kemajuan teknologi yang membabi buta. Segalanya jadi canggih termasuk manusianya. Banyak tontonan dan pengetahuan menarik yang menyenangkan tetapi juga peristiwa yang sulit dilupakan untuk beberapa tahun ke depan. Begitu lah dunia dan Indonesia sejak dulu. Yang selalu keren di sebelah sini sementara terpuruk di sebelah sana. Tidak ada yang betul-betul sempurna emang!

Tahun 2016 saya sapa dengan tahun emas bagi saya. A golden year. Sebab di tahun ini, saya memikul banyak berkat dan rejeki. Saya bepergian ke berbagai tempat dan bertemu macam-macam pribadi. Semua mereka adalah orang-orang HEBAT, PENTING dan MEMILIKI ANDIL bagi dunia yang mereka tinggali. Saya bangga bisa mengenal kalian semua. Tidak dapat saya sebutkan satu per satu, tetapi saya berharap ketika membaca ini, kalian tahu bahwa ANDA-KAMU-KAU-DIRIMU-SAMPEAN-ENGKO yang saya maksudkan!

BALI!

Jakarta-Soekarno Hatta-Lampung-Metro-Tulang Bawang-Raden Inten II

Benoa-Bima-Sape-Sumba Timur-Waingapu-Kambata Mapa Mbuhang-Lumbung-Kadahang-Sumba Tengah-Anakalang-Katikuloku-Sumba Barat-Waikabubak-Sumba Barat Daya-Kodi-Labuan Bajo-Watulangkas-Ruteng-Bajawa-Langa-Mataloko-Ende-Paupire-Detusoko-Nita-Ledalero-Maumere-Lokaria-Wairhubing-Magepanda.

SEMUANYA! Kalian pasti sudah mulai lupa tetapi jejak kalian seperti materai permanen yang basah dan lengket lalu mengering tak bisa luntur atau pun terangkat bahkan dikorek paksa sekalipun.

2016 adalah tahun yang luar biasa bagi saya yang kesadaran afektifnya sangat ngotot dan terjaga selama 24J/7H. Perlahan-lahan semuanya digenapi. Khususnya perihal “Melakukan apa yang sungguh-sungguh ingin saya lakukan.” (Bertemu banyak orang, menjalin relasi dan persahabatan//Tjipok basah sekali untuk Ibuk Semesta Ambara BegituSaja dan Tante George Yustina Liarian Eto, berbagi dan saling memberi dari yang sederhana sampai yang luar biasa. Menulis banyak cerita. Terlalu amat sangat banyak sekali. Mendapatkan beberapa pencapaian yang cukup membanggakan. Menghasilkan sejarah).

Lalu, hm “Menemukan laki-laki yang benar-benar ingin saya cintai” AHAI!

Kemarin, ketika sedang bingung hendak menulis apa untuk refleksi akhir tahun ini, (Sebagian orang mungkin merasa ini tidak penting dan sangat alay lebay TETAPI tidak bagi saya!) saya buka kembali postingan saya di Instagram sejak awal tahun. Foto-foto dan narasi yang membuat saya merasa betapa saya sangat diberkati, segalanya masih utuh tersimpan, lengkap, baik gambar maupun juga cerita serta kesan yang masih bisa saya rasakan ketika saya melihat dan membayangkannya.

***


Descartes bilang: Cogito Ergo Sum//Saya berpikir maka saya ada
Pramoedya bilang: Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pacar saya bilang: Hanya yang menang, yang meninggalkan jejak, Enu!
Dan saya bilang: Jika kamu berpikir dan menuliskannya, kamu akan meninggalkan jejak. Tentu dengan sendirinya kamu memberi pengaruh. :)

Hidup, sejatinya untuk mati tanpa alpa untuk memaknainya lalu meninggalkan jejakmu! Jejak saya! Jejak kita! Live Your Life! In this great future, you can’t forget your past, so write it down!

Epang Gawan, Terima Kasih banyak untuk semua yang sudah memberi dan berbagi dari kekurangan maupun juga kelebihannya (dan saya tidak pernah lupa hutang-hutang saya hihihi… tenang saja). Ama Pu Benjer, Jah Bless kita semua di Tahun yang Baru!

Resolusi tahun berikutnya? Hahaha hm.. Hajiar saja!

2017 dalam genggaman!

*Semoga ada golden-golden year selanjutnya


 Thankis buat Ge' untuk tangkapan keren ini ^^








2016; A Golden Year




365 hari yang lalu, saya tidak memiliki resolusi apa pun untuk 365 hari berikutnya. Saya masih tetap hidup, sehat dan waras saja sudah merupakan sebuah keuntungan. 2015 dan 2014 adalah tahun yang cukup luluh lantak sebagaimana kemudi kapal yang dibajak sehingga nakhodanya tidak memiliki kendali penuh untuk menentukan ke mana menuju. Namun, pada akhirnya, saya menemukan titik balik. Benar adanya, seseorang yang kembali bangkit dari kejatuhan, kekuatannya berkali lipat.

Sekuat tenaga saya menemukan diri saya kembali dan bertanya sesering mungkin “mau apa aku dengan hidupku ini?” iyah persis lirik lagunya Nosstress, itu padanan refleksi yang klop! Refleksi singkat akhir tahun lalu itu, saya temukan kembali di sini

Memulai langkah di 1 Januari 2016 tanpa persiapan apa pun! Kabur, meraba-raba.
Resign dari pekerjaan yang menjadi sumber hidup dan eksistensi, terjun ke lapangan tanpa visi sebagai mahasiswi KKN lalu PKL. Masih saja percaya diri mengkoordinasi Persiapan Misa Pra-IYD2 Keuskupan Denpasar, bersedia jadi Fasilitator Kelompok tanpa pengalaman untuk Kelas Inspirasi Bali 03, terlibat lagi di Denpasar Film Festival. Menyanggupi hadir di Pelatihan Menulis Kompas (lagi), nyasar di Ubud Writers and Readers Festival ke-13 dan Citizen Journalism Day kerja sama Balebengong dan Bali Blogger Community, serta menjadi Juara Regional Maluku dan Nusa Tenggara Blog Competition oleh Government Public Relations. Berani-beraninya menyanggupi jadi auditor untuk sebuah project yang jauh dari bayangan dan dari kamar tidur yang nyaman. Situasi tersebut cukup ngeri-ngeri sedap. Belum pernah saya begitu takut tetapi juga penasaran, antusias diikuti rendah diri yang kalap. Lampung, selama delapan hari merubah sudut pandang saya hampir 75% tentang hidup. Di tahun ini juga, untuk pertama kalinya, saya berani mengirimkan karya saya ke media dan dimuat!

Tahun 2016 saya juga mengalami banyak kepiluan. Saya memang gemar menangis. Bukan hanya dalam situasi sedih atau terharu tetapi juga saat bahagia. Akan tetapi, menangis karena ditinggal pergi untuk selamanya oleh tokoh-tokoh yang menginspirasi hidup saya selama beberapa tahun ini, itu memilukan. Terguguh dan lama. Tidak pernah sekalipun saya meluangkan waktu untuk berpikir bahwa bumi dan manusia terus bertambah tua. Di suatu masa, kita harus menerima kenyataan bahwa jiwa dan pikiran memang tidak pernah mati namun raga pada hakekatnya tidak abadi. Kita harus siap menghadapi kehilangan demi kehilangan. Untuk Ama Petu, Om Boni dan Bapak Agustinus Prajitno, Hormat setinggi-tingginya!

Tahun 2016 saya juga ditinggal nikah oleh sahabat-sahabat terbaik saya. Hebat mereka, mampu mengambil keputusan serumit itu hahaha. Sementara saya masih berkubang, terjebak dalam kecemasan “Bagaimana saya dapat berbagi seluruh pikiran saya seumur hidup hanya dengan satu orang laki-laki saja? Berbagi tubuh saja, saya tak rela. Mana puas kalo cuma sama satu orang?” #Eh wkwkwkkw…

Pada tahun ini pula, saya merasakan dampak arus informasi yang begitu deras akibat kemajuan teknologi yang membabi buta. Segalanya jadi canggih termasuk manusianya. Banyak tontonan dan pengetahuan menarik yang menyenangkan tetapi juga peristiwa yang sulit dilupakan untuk beberapa tahun ke depan. Begitu lah dunia dan Indonesia sejak dulu. Yang selalu keren di sebelah sini sementara terpuruk di sebelah sana. Tidak ada yang betul-betul sempurna emang!

Tahun 2016 saya sapa dengan tahun emas bagi saya. A golden year. Sebab di tahun ini, saya memikul banyak berkat dan rejeki. Saya bepergian ke berbagai tempat dan bertemu macam-macam pribadi. Semua mereka adalah orang-orang HEBAT, PENTING dan MEMILIKI ANDIL bagi dunia yang mereka tinggali. Saya bangga bisa mengenal kalian semua. Tidak dapat saya sebutkan satu per satu, tetapi saya berharap ketika membaca ini, kalian tahu bahwa ANDA-KAMU-KAU-DIRIMU-SAMPEAN-ENGKO yang saya maksudkan!

BALI!

Jakarta-Soekarno Hatta-Lampung-Metro-Tulang Bawang-Raden Inten II

Benoa-Bima-Sape-Sumba Timur-Waingapu-Kambata Mapa Mbuhang-Lumbung-Kadahang-Sumba Tengah-Anakalang-Katikuloku-Sumba Barat-Waikabubak-Sumba Barat Daya-Kodi-Labuan Bajo-Watulangkas-Ruteng-Bajawa-Langa-Mataloko-Ende-Paupire-Detusoko-Nita-Ledalero-Maumere-Lokaria-Wairhubing-Magepanda.

SEMUANYA! Kalian pasti sudah mulai lupa tetapi jejak kalian seperti materai permanen yang basah dan lengket lalu mengering tak bisa luntur atau pun terangkat bahkan dikorek paksa sekalipun.

2016 adalah tahun yang luar biasa bagi saya yang kesadaran afektifnya sangat ngotot dan terjaga selama 24J/7H. Perlahan-lahan semuanya digenapi. Khususnya perihal “Melakukan apa yang sungguh-sungguh ingin saya lakukan.” (Bertemu banyak orang, menjalin relasi dan persahabatan//Tjipok basah sekali untuk Ibuk Semesta Ambara BegituSaja dan Tante George Yustina Liarian Eto, berbagi dan saling memberi dari yang sederhana sampai yang luar biasa. Menulis banyak cerita. Terlalu amat sangat banyak sekali. Mendapatkan beberapa pencapaian yang cukup membanggakan. Menghasilkan sejarah).

Lalu, hm “Menemukan laki-laki yang benar-benar ingin saya cintai” AHAI!

Kemarin, ketika sedang bingung hendak menulis apa untuk refleksi akhir tahun ini, (Sebagian orang mungkin merasa ini tidak penting dan sangat alay lebay TETAPI tidak bagi saya!) saya buka kembali postingan saya di Instagram sejak awal tahun. Foto-foto dan narasi yang membuat saya merasa betapa saya sangat diberkati, segalanya masih utuh tersimpan, lengkap, baik gambar maupun juga cerita serta kesan yang masih bisa saya rasakan ketika saya melihat dan membayangkannya.

***


Descartes bilang: Cogito Ergo Sum//Saya berpikir maka saya ada
Pramoedya bilang: Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pacar saya bilang: Hanya yang menang, yang meninggalkan jejak, Enu!
Dan saya bilang: Jika kamu berpikir dan menuliskannya, kamu akan meninggalkan jejak. Tentu dengan sendirinya kamu memberi pengaruh. :)

Hidup, sejatinya untuk mati tanpa alpa untuk memaknainya lalu meninggalkan jejakmu! Jejak saya! Jejak kita! Live Your Life! In this great future, you can’t forget your past, so write it down!

Epang Gawan, Terima Kasih banyak untuk semua yang sudah memberi dan berbagi dari kekurangan maupun juga kelebihannya (dan saya tidak pernah lupa hutang-hutang saya hihihi… tenang saja). Ama Pu Benjer, Jah Bless kita semua di Tahun yang Baru!

Resolusi tahun berikutnya? Hahaha hm.. Hajiar saja!

2017 dalam genggaman!

*Semoga ada golden-golden year selanjutnya


 Thankis buat Ge' untuk tangkapan keren ini ^^