Tag Archives: Ekonomi Kreatif

Anak Muda, Inilah Peluang-Peluang Kerja di Dunia Maya

Ngoprek blog bersama Bali Blogger Community tahun 2015

Bagaimana bisa tetap menghasilkan duit dengan cara diam di rumah?

Bencana yang kita alami hari-hari ini tidak hanya bencana kesehatan dalam bentuk pandemi Covid-19. Namun, terjadi juga bencana ekonomi akibat terhentinya kegiatan mencari nafkah bagi kebanyakan orang.

Khususnya bagi masyarakat Bali, bencana ekonomi ini tentu sangat terasa. Ekonomi pariwisata berhenti berdetak akibat putusnya arus masuk turis dari mancanegara maupun domestik. Anak muda Bali yang sebagian besar mencari nafkah di sektor pariwisata pun menemukan dirinya tiba-tiba menjadi pengangguran.

Saya belum punya data kuantitatif menyeluruh untuk bencana ekonomi ini. Namun, dari berita Detik, sampai 7 April kemarin tercatat untuk wilayah Bali 19.124 pegawai telah dirumahkan dan 480 orang mengalami pemutusan hubungan kerja.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menambah beban pikiran Anda, para pembaca. Sebaliknya, saya bermaksud berbagi catatan awal dari penelitian Sasmita Research Lab tempat saya bergiat yang mungkin bisa menumbuhkan harapan bagi anak muda yang sedang bingung mau kerja apa.

The New Freelancers

Pertanyaan terbesar sekarang tentu saja bagaimana bisa tetap menghasilkan duit dengan cara diam saja di rumah, atau work from home. Sasmita Research Lab kebetulan sedang mengerjakan riset kecil, dengan hibah receh juga, yang meneliti anak muda dan tipe-tipe pekerjaan baru di era ekonomi digital.

Kami menemukan ada sekelompok anak muda yang mampu mengambil kesempatan dari tersedianya pekerjaan tidak tetap kecil-kecilan (gig) yang ditawarkan di Internet. Secara umum kita menyebut transaksi barang dan jasa yang sifatnya tidak tetap dan kecil-kecilan ini gig economy. Para pekerja lepas di gig economy yang kami teliti ini kerap kali disebut sebagai the new freelancer.

Sebagai contoh konkret, semisal ada pekerjaan membuatkan slide presentasi power-point untuk sebuah perusahaan yang berani membayar sampai $20 per slide presentasi. Pekerjaan ini bisa dikerjakan dari rumah oleh salah seorang responden kami yang fasih menggunakan Microsoft Power Point dan juga berbagai software manipulasi visual lainnya.

Seorang responden lain mengerjakan proyek-proyek animasi dan menggambar desain untuk klien Eropa. Skill yang ia miliki adalah kemampuan menggambar dan menggunakan piranti lunak menggambar di komputer. Besaran proyek yang ia kerjakan dapat mencapai ribuan dolar yang ia kerjakan dalam jangka waktu beberapa bulan.

Para anak muda responden kami ini menawarkan jasanya di situs seperti 99design dan fiverr. Di situs fiverr anak muda bisa menawarkan berbagai jasa seperti desain, fotografi, sampai terjemahan. Awalnya mereka ikut berkompetisi menjajakan jasa.

Lambat laun, mereka mulai mempunyai klien tetap yang mempercayakan banyak gig dan memberi mereka pemasukan yang relatif tetap.

Merunut data yang disediakan oleh Boston Consulting Group (BCG), industri yang menyerap jasa dari para pekerja lepas ekonomi digital ini dapat dibagi menjadi sektor keterampilan (skill) tinggi dan sektor keterampilan rendah. Sektor keterampilan tinggi adalah sektor yang biasanya dapat dikerjakan dari rumah. Misalnya, penyediaan jasa membuat software, desain, dan lain-lain. Sementara sektor keterampilan rendah merujuk pada pekerjaan seperti berbagi kendaraan dan jasa pengantaran barang.

Sebagaimana kita sadari, sektor keterampilan rendah ikut terpukul dengan adanya pembatasan mobilitas sosial akhir-akhir ini. Berita baiknya, sektor keterampilan tinggi juga tidak kalah menyerap tenaga kerja dibandingkan dengan sektor keterampilan rendah. Sektor keterampilan tinggi menyerap sekitar 32% dari tenaga kerja di ekonomi digital.

Sumber: diolah dari Wallenstein et al (2019), The New Freelancers: Tapping Talent in the Gig Economy, Boston Consulting Group Henderson Institute.

Tantangannya bagi anak muda sekarang, tentu saja, adalah mendapatkan keahlian keterampilan tinggi seperti desain, coding, dan lain sebagainya agar dapat bekerja dari rumah saja. Yang menarik, keterampilan para responden kami ini tidak selalu didapatkan lewat pendidikan formal. Dua responden yang menjadi contoh di atas pendidikan formalnya adalah D3 Pariwisata dan sarjana sastra.

Lalu dari mana mereka mendapatkan skill menggunakan piranti lunak untuk menggambar dan membuat desain? Ternyata dari lingkungan pertemanan dan tersedianya piranti lunak gratis yang bertebaran di Internet maupun rental persewaan piranti lunak. Intinya, para responden kami yang bekerja di ekonomi digital ini sebagian besar otodidak.

Hemat saya, di sini letak keunggulan komparatif anak muda kita. Keterampilan menggunakan piranti lunak disain semacam Corell, Photoshop, Power Point dan sebagainya termasuk keterampilan mahal di negara-negara maju. Sebabnya tentu saja adalah modal awal, initial investment, bagi mereka yang ingin belajar software tersebut sudah cukup mahal karena diharuskan membeli atau berlangganan.

Namun, di Indonesia keterampilan ini relatif mudah dipelajari secara otodidak akibat bertebarannya tempat persewaan software murah meriah di seputaran dekade 2000an di Yogyakarta dan juga di kota-kota besar lainnya.

Kemampuan Bercita-Cita

Tentu saja sedikit cerita saya ini tidak akan dengan serta merta menyelesaikan masalah kaum muda yang sedang kesulitan pekerjaan. Namun, saya harap cerita ini bisa menumbuhkan cita-cita kaum muda. Menurut pengalaman seorang antropolog India yang meneliti kemiskinan di perkotaan, kemampuan untuk bercita-cita ini penting dalam usaha mengentaskan kemiskinan.

Pengalaman mendengarkan cerita positif tentang pekerjaan yang memberi penghasilan layak bisa melecut semangat anak muda. Istilah Bali-nya, jengah. Kalau anak muda tempat lain bisa, di Bali tentu juga bisa. Daftar cita-cita mereka pun bisa bertambah dan tidak terbatas hanya pada keinginan untuk bekerja di sektor formal industri jasa.

Idealnya selain bekerja di sektor formal industri jasa, para anak muda juga menjadi pekerja lepas di ekonomi digital. Dua pekerjaan ini sifatnya dapat saling melengkapi.

Kembali merujuk data dari laporan BCG di atas, sebagian besar pekerja di industri digital ini mempunyai pekerjaan utama lainnya. Untuk kasus Indonesia, hanya 3 persen dari responden survei yang menyatakan bahwa bekerja di ekonomi digital ini adalah pekerjaan utama. Sebagian besar, sekitar 23 persen, menyatakan bahwa ini adalah pekerjaan sambilan.

Menariknya, walaupun ia bukan pekerjaan utama, justru pekerjaan sambilan di gig economy ini memberi lebih banyak pemasukan bagi para responden. Fenomena ini terjadi di ekonomi negara-negara seperti China, India, Brazil, dan juga, Indonesia.

Ke depan, semoga anak muda Bali makin banyak yang mencari nafkah di arena ekonomi digital atau gig economy ini. Segera setelah pandemi ini berlalu. Semoga! [b]

Belanja Pangan secara Daring. Berikut Pilihannya.

Perlu belanja pangan dari rumah? Santai saja.

Ketika terpaksa lebih banyak di rumah untuk menghindari pandemi COVID-19, kita tetap memerlukan pasokan pangan sehari-hari. Untunglah teknologi memungkinkan kita untuk memesan aneka pangan itu bermodal jari jemari. Berikut sebagian pilihan untuk belanja pangan sebagaimana dikumpulkan oleh Diana Pramesti di akun Twitternya.

Butuh Kreativitas dalam Pengelolaan Dana Desa

Sumber: Dolanyok.com

Tidak jarang kita melihat balai banjar yang masih kuat dan kokoh dirubuhkan.

Tempat pertemuan warga di Bali itu kemudian dibangun kembali dengan bantuan dana desa, maupun bansos dari Pemerintah, Anggota DPR, dan lainnya. Padahal, secara fungsi, banjar tersebut mungkin sudah bisa memfasilitasi segala kegiatan adat yang sudah biasa dilakukan sejak dahulu.

Namun, tren ini menimbulkan satu pertanyaan: Kenapa bisa terjadi?

Mungkin ada pemikiran lain sehingga harus diratakan dengan tanah dan dibangun kembali dengan yang lebih megah. Misalnya karena banyak duit bantuan diterima banjar sehingga mereka pun membangun sesuatu yang sebenarnya sudah ada dan berfungsi dengan baik.

Dalam melakukan perencanaan penggunaan dana tersebut diperlukan pemikiran lebih bijak dan kreatif. Kepentingan jangka panjang sepertinya lebih penting untuk direncanakan dibandingkan sebatas membuat fasilitas umum yang lebih megah sedangkan secara fungsi fasilitas umum tersebut masih layak untuk digunakan.

Perencanaan dengan manfaat jangka panjang dan berkelanjutan untuk menghasilkan potensi ekonomi akan membuat banjar atau desa tersebut memiliki pemasukan keuangan yang tujuan akhirnya adalah meringankan beban masyarakat dalam berbagai aspek. Dalam konteks ini banjar ataupun desa seharusnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya secara mandiri (tanpa bantuan pihak luar) dan berkesinambungan dalam jangka panjang.

Mari kita belajar dari Jawa Tengah. Berikut adalah dua contoh perencanaan dan pengelolaan yang menarik untuk kita pelajari yaitu di Desa Banjarrejo, Kabupaten Gerobogan dan Desa Ponggok, Kabupaten Klaten.

Sumber Kompas.

Perencanaan dan pengelolaan yang kreatif akan menimbulkan potensi ekonomi yang tidur. Keberanian untuk mengesampingkan kepentingan-kepentingan lain juga salah satu kunci keberhasilannya. Dua desa di jawa tengah tersebut diatas telah berhasil membuat destinasi wisata baru yang pada akhirnya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat desanya.

Desa Ponggok malah bisa membayarkan premi bulanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk seluruh warganya sehingga kesehatan warganya terjamin. Semoga masyarakat Bali bisa terinspirasi dan bertindak nyata dengan tulisan singkat ini. [b]

The post Butuh Kreativitas dalam Pengelolaan Dana Desa appeared first on BaleBengong.

Brand Harus Jadi Identitas dan Mewakili Gagasan

Membangun sebuah brand tak sesederhana memiliki produk semata.

Jauh melebihi itu, mesti ada ide dan gagasan besar yang melatarbelakangi keberadaannya. Sebuah brand, bagi Ary Astina alias JRX, semestinya bisa menjadi pernyataan sikap atas berbagai dinamika sosial di masyarakat.

Menjadi suara-suara yang (minimal) mampu mewakili diri sendiri.

Selama ini JRX memang dikenal sebagai pemuda kritis. Dalam berbagai peristiwa, ia kerap berada terdepan untuk menyuarakan kegelisahan. Tidak hanya melalui musik bersama grupnya Superman is Dead (SID) dan berbagai aksi massa, JRX juga menyuarakan kegelisahannya dalam sunyi, melalui brand Rumble (RMBL).

JRX hadir dalam Jah Megesah Vol #1: Build Your Own Brand yang digelar Jimbarwana Creative Movement (JCM) bersama Komunitas Kertas Budaya. Jimbarwana Creative Movement merupakan sekumpulan pemuda Jembrana dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, mulai dari creative enterpreneur hingga ke seniman digital. Kecintaan pada Jembrana sebagai “Ibu” melahirkan kegelisahan untuk menciptakan Jembrana yang lebih progresif.

JRX mengingatkan pentingnya passion dalam menjalankan bidang usaha. Sebab, passion akan menciptakan komitmen dan fokus untuk menjaga kontinuitas usaha.

“Namun, jauh yang lebih penting, brand yang dimiliki selayaknya mampu menjadi identitas, sekaligus media propaganda atas pemikiran dan gagasan yang kita miliki,” kata JRX yang hadir sebagai pembicara, dimoderatori founder beritabali.com Agus Swastika di Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya, Rabu malam.

Sopir Truk

Dalam design-design RMBL, misalnya, JRX tidak menginginkan produknya hanya berhenti sebatas fashion. Karena itu, RMBL sering menggunakan idiom buruh ataupun sopir truk untuk mewakili kaum marginal.

Hasilnya, produk RMBL dianggap mampu menyuarakan kegelisahan masyarakat sehingga strategi marketing konvensional menjadi tidak terlalu penting. Kesamaan visi yang hadir melalui simbol-simbol dalam produk akan menghapus jarak antara produk dengan penggunanya.

Selama ini RMBL memang diperuntukkan juga sebagai media propaganda untuk melawan hal-hal yang sering ditabukan masyarakat dengan alasan-alasan mainstream, seperti ketakutan berlebih akan norma yang melekat pada keindahan wanita, budaya alternatif dan substansi mood altering. Sebab, menjadi diri sendiri terasa sulit di negara bhinneka yang penuh aturan moral ini.

“Brand itu bukan sekadar produk semata. Ini tentang energi untuk melawan dan menjadi diri sendiri,” ucap JRX yang dalam pengakuannya juga pernah gagal dalam bisnis fashion di bawah bendera Lonely King pada tahun 2005.

Dalam membangun RMBL, JRX tidaklah sendiri. Bersama Ady, bassist band rockabilly The Hydrant, mereka saling dukung untuk membesarkannya hingga akhirnya memiliki brand position yang kuat di Indonesia, dengan memanfaatkan seluruh channel social media yang dimiliki.

Tak hanya sebagai produsen fashion, RMBL juga menyasar kepedulian anak-anak muda pada isu lingkungan. Eco Defender pun terbentuk dan bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali untuk melakukan gerakan perlawanan atas kebijakan-kebijakan yang dinilai tidak pro terhadap lingkungan hidup.

Dari setiap produk yang terjual di RMBL, sebanyak Rp 2.000 disumbangkan untuk mendukung gerakan tersebut.

Pengaruh Personal

Dalam sesi diskusi, Ariadi, salah seorang peserta menanyakan masalah pengaruh personal brand JRX dengan brand produk RMBL. Karena persepsi di masyarakat, JRX adalah RMBL dan RMBL adalah JRX.

“Apa yang terjadi jika Bli JRX keluar dari Rumble, apakah produknya masih akan diminati?” tanya Ariadi yang juga penggerak wirausaha muda di Jembrana.

Menurut JRX, pengaruh dirinya tentu ada, tetap tidak akan signifikan. Karena selain dirinya, RMBL juga terdiri dari orang-orang yang satu visi dan memiliki integritas yang sama.

“Sikap kritis saya atas isu-isu sosial, juga pasti akan berpengaruh. Tapi saya kira ini seperti seleksi semesta. Konsumen paham kalau RMBL bukan sekedar produk fashion, tapi ada nilai pergerakan di sana. Mungkin saja akibat sebuah aksi saya membuat konsumen meninggalkan RMBL. Namun saya yakin konsumen baru akan berdatangan karena aksi saya sesuai dengan prinsip mereka,” tegasnya.

Antusiasme peserta dalam Jah Megesah begitu terasa. Creativepreneur yang hadir benar-benar memaksimalkan kegiatan tersebut untuk menggali dan menemukan jawaban permasalahan mereka masing-masing.

Era Digital

Sementara itu, koordinator Jah Megesah, Wena Wahyudi, menyinggung era digital yang memberi dampak sangat besar pada dunia usaha. “Kini promosi tak lagi butuh biaya tinggi. Kita bisa memanfaatkan media sosial masing-masing, selanjutnya bisa menjajaki platform besar yang ada, misal Tokopedia, Bukalapak, dan sebagainya,” ucapnya.

Melalui program Jah Megesah, Wena bersama JCM mencoba mengajak creativepreneur Jembrana untuk ambil bagian di era digital yang bergerak demikian pesat. Build Your Own Brand merupakan topik awal dalam Jah Megesah. Program ini akan berkelanjutan membahas unsur-unsur penting lainnya dalam bisnis digital sehingga mampu menjadi acuan di dalam mengembangkan usaha.

“Selain membangun brand, apalagi yang dibutuhkan bersaing di bisnis digital ini? Kita akan gelar Jah Megesah yang akan datang dengan mengangkat commercial photo, creative video promotion, menulis dengan basic story telling, dan lain-lain. Prinsipnya, kita harus menjadi pemuda yang progresif. Salah satunya ambil bagian dalam era digital ini,” demikian Wena.

Di akhir acara, JRX menyanyikan lagu Jadilah Legenda untuk memotivasi pemuda di Jembrana. Setelahnya kelompok Badai di Atas Kepalanya benar-benar memungkasi acara yang berjalan selama 3 (tiga) jam tersebut. [b]

The post Brand Harus Jadi Identitas dan Mewakili Gagasan appeared first on BaleBengong.

Coworking Indonesia Sukses Inspirasi Asia Tenggara

Perwakilan coworking space se-Indonesia dalam kegiatan Temu Coworking Indonesia, Mei lalu.

Perkumpulan Coworking Indonesia genap berusia satu tahun pada 15 Agustus 2017.

Coworking Indonesia diperkenalkan secara resmi pertama kali di Jakarta tahun lalu dihadiri oleh sejumlah pendiri dan pengurus, yang merupakan penggerak coworking space dari 8 kota di Indonesia.

Coworking Indonesia memiliki peranan penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif Tanah Air di mata pemerintah dan korporasi, karena coworking space ini tidak semata sebagai tempat bekerja saja namun nilai yang sebenarnya ditawarkan adalah kesempatan untuk berkolaborasi dan melakukan inovasi yang bertujuan untuk mendorong pergerakan ekonomi di Indonesia.

Dengan bergabungnya para penggiat coworking space dalam Perkumpulan ini, mereka menjadi memiliki wadah untuk menjalin kerja sama dan bergerak dengan kekuatan kolektif untuk memajukan gerakan coworking di Indonesia.

Selama satu tahun perjalanan, komunitas ini sudah melakukan berbagai program salah satunya Temu Coworking Indonesia yang digelar di Bandung, 19 hingga 21 Mei 2017 lalu. Kegiatan ini merupakan ajang berkumpul, berdiskusi dan berbagi pengetahuan para pemilik dan pengelola coworking space di Indonesia untuk lebih memahami industri, model bisnis yang tepat dan masa depan coworking space.

Setelahnya, komunitas ini akan semain giat menggaungkan kampanye #apaitucoworking guna mengajak masyarakat untuk lebih kenal nilai-nilai yang ditawarkan oleh coworking space.

“Dalam tahun pertama berdirinya Perkumpulan Coworking Indonesia, bersama dengan 20 orang pengurus, fokus kami adalah memantapkan struktur organisasi dan memperkenalkan perkumpulan dan visi besar Coworking Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui gerakan coworking ke para pelaku industri coworking, dan mitra-mitra strategis di jajaran pemerintah, korporasi, komunitas dan media. Memasuki tahun kedua, titik berat kegiatan dipayungi oleh kampanye #apaitucoworking untuk peningkatan kesadaran publik akan cara kerja coworking. Lewat berbagai kemitraan juga akan bertambah program-program yang bisa diakses oleh para coworking space anggota Perkumpulan Coworking Indonesia,” tutur Presiden Coworking Indonesia, Faye Alund, yang juga co-founder Kumpul coworking space.

Saat ini Coworking Indonesia menjadi satu-satunya asosiasi coworking space di dunia yang melakukan lebih daripada hanya menghubungkan para pemain coworking saja. Dia juga telah menginspirasi pelaku coworking di negara-negara Asia Tenggara lain untuk membentuk inisiatif kolektif serupa.

Komunitas ini menjadi tempat untuk para pembangun dan penggerak komunitas (community of community builders) dengan tujuan utama membangun pertumbuhan kewirausahaan dan ekonomi Indonesia lewat gerakan coworking. Perkumpulan ini juga akan menjadi sumber keahlian dan sumber daya, pengalaman, dan alat atau program yang bisa diakses oleh pelaku coworking supaya bisa lebih bertumbuh dan berkembang.

Coworking space di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh setiap tahunnya. Pertumbuhan coworking space berlipat ganda setiap tahunnya, dan hingga saat ini tercatat ada hampir 150 titik yang tersebar di 30 kota di seluruh Indonesia. [b]

The post Coworking Indonesia Sukses Inspirasi Asia Tenggara appeared first on BaleBengong.