Tag Archives: Ekonomi Kreatif

Butuh Kreativitas dalam Pengelolaan Dana Desa

Sumber: Dolanyok.com

Tidak jarang kita melihat balai banjar yang masih kuat dan kokoh dirubuhkan.

Tempat pertemuan warga di Bali itu kemudian dibangun kembali dengan bantuan dana desa, maupun bansos dari Pemerintah, Anggota DPR, dan lainnya. Padahal, secara fungsi, banjar tersebut mungkin sudah bisa memfasilitasi segala kegiatan adat yang sudah biasa dilakukan sejak dahulu.

Namun, tren ini menimbulkan satu pertanyaan: Kenapa bisa terjadi?

Mungkin ada pemikiran lain sehingga harus diratakan dengan tanah dan dibangun kembali dengan yang lebih megah. Misalnya karena banyak duit bantuan diterima banjar sehingga mereka pun membangun sesuatu yang sebenarnya sudah ada dan berfungsi dengan baik.

Dalam melakukan perencanaan penggunaan dana tersebut diperlukan pemikiran lebih bijak dan kreatif. Kepentingan jangka panjang sepertinya lebih penting untuk direncanakan dibandingkan sebatas membuat fasilitas umum yang lebih megah sedangkan secara fungsi fasilitas umum tersebut masih layak untuk digunakan.

Perencanaan dengan manfaat jangka panjang dan berkelanjutan untuk menghasilkan potensi ekonomi akan membuat banjar atau desa tersebut memiliki pemasukan keuangan yang tujuan akhirnya adalah meringankan beban masyarakat dalam berbagai aspek. Dalam konteks ini banjar ataupun desa seharusnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya secara mandiri (tanpa bantuan pihak luar) dan berkesinambungan dalam jangka panjang.

Mari kita belajar dari Jawa Tengah. Berikut adalah dua contoh perencanaan dan pengelolaan yang menarik untuk kita pelajari yaitu di Desa Banjarrejo, Kabupaten Gerobogan dan Desa Ponggok, Kabupaten Klaten.

Sumber Kompas.

Perencanaan dan pengelolaan yang kreatif akan menimbulkan potensi ekonomi yang tidur. Keberanian untuk mengesampingkan kepentingan-kepentingan lain juga salah satu kunci keberhasilannya. Dua desa di jawa tengah tersebut diatas telah berhasil membuat destinasi wisata baru yang pada akhirnya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat desanya.

Desa Ponggok malah bisa membayarkan premi bulanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk seluruh warganya sehingga kesehatan warganya terjamin. Semoga masyarakat Bali bisa terinspirasi dan bertindak nyata dengan tulisan singkat ini. [b]

The post Butuh Kreativitas dalam Pengelolaan Dana Desa appeared first on BaleBengong.

Brand Harus Jadi Identitas dan Mewakili Gagasan

Membangun sebuah brand tak sesederhana memiliki produk semata.

Jauh melebihi itu, mesti ada ide dan gagasan besar yang melatarbelakangi keberadaannya. Sebuah brand, bagi Ary Astina alias JRX, semestinya bisa menjadi pernyataan sikap atas berbagai dinamika sosial di masyarakat.

Menjadi suara-suara yang (minimal) mampu mewakili diri sendiri.

Selama ini JRX memang dikenal sebagai pemuda kritis. Dalam berbagai peristiwa, ia kerap berada terdepan untuk menyuarakan kegelisahan. Tidak hanya melalui musik bersama grupnya Superman is Dead (SID) dan berbagai aksi massa, JRX juga menyuarakan kegelisahannya dalam sunyi, melalui brand Rumble (RMBL).

JRX hadir dalam Jah Megesah Vol #1: Build Your Own Brand yang digelar Jimbarwana Creative Movement (JCM) bersama Komunitas Kertas Budaya. Jimbarwana Creative Movement merupakan sekumpulan pemuda Jembrana dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, mulai dari creative enterpreneur hingga ke seniman digital. Kecintaan pada Jembrana sebagai “Ibu” melahirkan kegelisahan untuk menciptakan Jembrana yang lebih progresif.

JRX mengingatkan pentingnya passion dalam menjalankan bidang usaha. Sebab, passion akan menciptakan komitmen dan fokus untuk menjaga kontinuitas usaha.

“Namun, jauh yang lebih penting, brand yang dimiliki selayaknya mampu menjadi identitas, sekaligus media propaganda atas pemikiran dan gagasan yang kita miliki,” kata JRX yang hadir sebagai pembicara, dimoderatori founder beritabali.com Agus Swastika di Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya, Rabu malam.

Sopir Truk

Dalam design-design RMBL, misalnya, JRX tidak menginginkan produknya hanya berhenti sebatas fashion. Karena itu, RMBL sering menggunakan idiom buruh ataupun sopir truk untuk mewakili kaum marginal.

Hasilnya, produk RMBL dianggap mampu menyuarakan kegelisahan masyarakat sehingga strategi marketing konvensional menjadi tidak terlalu penting. Kesamaan visi yang hadir melalui simbol-simbol dalam produk akan menghapus jarak antara produk dengan penggunanya.

Selama ini RMBL memang diperuntukkan juga sebagai media propaganda untuk melawan hal-hal yang sering ditabukan masyarakat dengan alasan-alasan mainstream, seperti ketakutan berlebih akan norma yang melekat pada keindahan wanita, budaya alternatif dan substansi mood altering. Sebab, menjadi diri sendiri terasa sulit di negara bhinneka yang penuh aturan moral ini.

“Brand itu bukan sekadar produk semata. Ini tentang energi untuk melawan dan menjadi diri sendiri,” ucap JRX yang dalam pengakuannya juga pernah gagal dalam bisnis fashion di bawah bendera Lonely King pada tahun 2005.

Dalam membangun RMBL, JRX tidaklah sendiri. Bersama Ady, bassist band rockabilly The Hydrant, mereka saling dukung untuk membesarkannya hingga akhirnya memiliki brand position yang kuat di Indonesia, dengan memanfaatkan seluruh channel social media yang dimiliki.

Tak hanya sebagai produsen fashion, RMBL juga menyasar kepedulian anak-anak muda pada isu lingkungan. Eco Defender pun terbentuk dan bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali untuk melakukan gerakan perlawanan atas kebijakan-kebijakan yang dinilai tidak pro terhadap lingkungan hidup.

Dari setiap produk yang terjual di RMBL, sebanyak Rp 2.000 disumbangkan untuk mendukung gerakan tersebut.

Pengaruh Personal

Dalam sesi diskusi, Ariadi, salah seorang peserta menanyakan masalah pengaruh personal brand JRX dengan brand produk RMBL. Karena persepsi di masyarakat, JRX adalah RMBL dan RMBL adalah JRX.

“Apa yang terjadi jika Bli JRX keluar dari Rumble, apakah produknya masih akan diminati?” tanya Ariadi yang juga penggerak wirausaha muda di Jembrana.

Menurut JRX, pengaruh dirinya tentu ada, tetap tidak akan signifikan. Karena selain dirinya, RMBL juga terdiri dari orang-orang yang satu visi dan memiliki integritas yang sama.

“Sikap kritis saya atas isu-isu sosial, juga pasti akan berpengaruh. Tapi saya kira ini seperti seleksi semesta. Konsumen paham kalau RMBL bukan sekedar produk fashion, tapi ada nilai pergerakan di sana. Mungkin saja akibat sebuah aksi saya membuat konsumen meninggalkan RMBL. Namun saya yakin konsumen baru akan berdatangan karena aksi saya sesuai dengan prinsip mereka,” tegasnya.

Antusiasme peserta dalam Jah Megesah begitu terasa. Creativepreneur yang hadir benar-benar memaksimalkan kegiatan tersebut untuk menggali dan menemukan jawaban permasalahan mereka masing-masing.

Era Digital

Sementara itu, koordinator Jah Megesah, Wena Wahyudi, menyinggung era digital yang memberi dampak sangat besar pada dunia usaha. “Kini promosi tak lagi butuh biaya tinggi. Kita bisa memanfaatkan media sosial masing-masing, selanjutnya bisa menjajaki platform besar yang ada, misal Tokopedia, Bukalapak, dan sebagainya,” ucapnya.

Melalui program Jah Megesah, Wena bersama JCM mencoba mengajak creativepreneur Jembrana untuk ambil bagian di era digital yang bergerak demikian pesat. Build Your Own Brand merupakan topik awal dalam Jah Megesah. Program ini akan berkelanjutan membahas unsur-unsur penting lainnya dalam bisnis digital sehingga mampu menjadi acuan di dalam mengembangkan usaha.

“Selain membangun brand, apalagi yang dibutuhkan bersaing di bisnis digital ini? Kita akan gelar Jah Megesah yang akan datang dengan mengangkat commercial photo, creative video promotion, menulis dengan basic story telling, dan lain-lain. Prinsipnya, kita harus menjadi pemuda yang progresif. Salah satunya ambil bagian dalam era digital ini,” demikian Wena.

Di akhir acara, JRX menyanyikan lagu Jadilah Legenda untuk memotivasi pemuda di Jembrana. Setelahnya kelompok Badai di Atas Kepalanya benar-benar memungkasi acara yang berjalan selama 3 (tiga) jam tersebut. [b]

The post Brand Harus Jadi Identitas dan Mewakili Gagasan appeared first on BaleBengong.

Coworking Indonesia Sukses Inspirasi Asia Tenggara

Perwakilan coworking space se-Indonesia dalam kegiatan Temu Coworking Indonesia, Mei lalu.

Perkumpulan Coworking Indonesia genap berusia satu tahun pada 15 Agustus 2017.

Coworking Indonesia diperkenalkan secara resmi pertama kali di Jakarta tahun lalu dihadiri oleh sejumlah pendiri dan pengurus, yang merupakan penggerak coworking space dari 8 kota di Indonesia.

Coworking Indonesia memiliki peranan penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif Tanah Air di mata pemerintah dan korporasi, karena coworking space ini tidak semata sebagai tempat bekerja saja namun nilai yang sebenarnya ditawarkan adalah kesempatan untuk berkolaborasi dan melakukan inovasi yang bertujuan untuk mendorong pergerakan ekonomi di Indonesia.

Dengan bergabungnya para penggiat coworking space dalam Perkumpulan ini, mereka menjadi memiliki wadah untuk menjalin kerja sama dan bergerak dengan kekuatan kolektif untuk memajukan gerakan coworking di Indonesia.

Selama satu tahun perjalanan, komunitas ini sudah melakukan berbagai program salah satunya Temu Coworking Indonesia yang digelar di Bandung, 19 hingga 21 Mei 2017 lalu. Kegiatan ini merupakan ajang berkumpul, berdiskusi dan berbagi pengetahuan para pemilik dan pengelola coworking space di Indonesia untuk lebih memahami industri, model bisnis yang tepat dan masa depan coworking space.

Setelahnya, komunitas ini akan semain giat menggaungkan kampanye #apaitucoworking guna mengajak masyarakat untuk lebih kenal nilai-nilai yang ditawarkan oleh coworking space.

“Dalam tahun pertama berdirinya Perkumpulan Coworking Indonesia, bersama dengan 20 orang pengurus, fokus kami adalah memantapkan struktur organisasi dan memperkenalkan perkumpulan dan visi besar Coworking Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui gerakan coworking ke para pelaku industri coworking, dan mitra-mitra strategis di jajaran pemerintah, korporasi, komunitas dan media. Memasuki tahun kedua, titik berat kegiatan dipayungi oleh kampanye #apaitucoworking untuk peningkatan kesadaran publik akan cara kerja coworking. Lewat berbagai kemitraan juga akan bertambah program-program yang bisa diakses oleh para coworking space anggota Perkumpulan Coworking Indonesia,” tutur Presiden Coworking Indonesia, Faye Alund, yang juga co-founder Kumpul coworking space.

Saat ini Coworking Indonesia menjadi satu-satunya asosiasi coworking space di dunia yang melakukan lebih daripada hanya menghubungkan para pemain coworking saja. Dia juga telah menginspirasi pelaku coworking di negara-negara Asia Tenggara lain untuk membentuk inisiatif kolektif serupa.

Komunitas ini menjadi tempat untuk para pembangun dan penggerak komunitas (community of community builders) dengan tujuan utama membangun pertumbuhan kewirausahaan dan ekonomi Indonesia lewat gerakan coworking. Perkumpulan ini juga akan menjadi sumber keahlian dan sumber daya, pengalaman, dan alat atau program yang bisa diakses oleh pelaku coworking supaya bisa lebih bertumbuh dan berkembang.

Coworking space di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh setiap tahunnya. Pertumbuhan coworking space berlipat ganda setiap tahunnya, dan hingga saat ini tercatat ada hampir 150 titik yang tersebar di 30 kota di seluruh Indonesia. [b]

The post Coworking Indonesia Sukses Inspirasi Asia Tenggara appeared first on BaleBengong.

Fair Trade untuk Kesejahteraan Bersama

Photo Coffee edisi Fair Trade pada Rabu, 12 Juli 2017. Foto oleh Rudi Waisnawa.

Ini bukan soal uang, tapi empati dan solidaritas.

Lingkara Photography Community kembali menggelar seri diskusi Photo Coffee, Rabu lalu. Awalnya seri diskusi ini untuk membicarakan foto sambil ngopi. Seiring berjalannya waktu, tema diskusi Photo Coffee juga beragam. Seperti Rabu malam lalu, tema yang dibahas adalah Fair Trade atau perdagangan yang adil.

Mitra Bali, usaha Fair Trade yang pertama meraih label Fair Trade Guaranteed di Indonesia. Sejak tahun 2000, Mitra Bali menjadi fasilitator pasar yang fokus pada barang kerajinan. Pemilik Mitra Bali hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini, yaitu Agung Alit dan Hani Duarsa. Selain itu, Komang Adi, perancang produk dari Mitra Bali pun turut serta.

Lingkara yang baru saja membuka toko khusus produk upcycle pada 15 Juni lalu, menjadikan kesempatan ini sebagai ajang belajar wirausaha. Namun sesungguhnya tak hanya Lingkara, peserta yang hadir hari itu juga ikut berdiskusi tentang sistem perdagangan adil.

Agung Alit menceritakan awal mula Mitra Bali dengan mengaitkannya dengan tragedi pembunuhan massal tahun 1965. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1968, penanaman modal asing dimulai di Indonesia. Sejak saat itu, kapitalisme asing menyerbu Indonesia hingga melahirkan pariwisata massal.

“Indonesia kaya sumber daya alam, tapi hampir semuanya sudah dikuasai oleh negara lain,” ungkap Agung Alit.

Penguasaan kapitalisme yang semakin meluas rupanya tak berbanding lurus pada kesejahteraan masyarakat. Para petani, perajin, serta kelompok usaha kecil seringkali menambah piutang karena distributor atau tengkulak tidak membayar produk mereka secara langsung.

Agung Alit mengumpamakan seorang petani yang menjual hasil tani kepada tengkulak atau pengusaha besar. Pembayaran baru dilakukan setelah tiga bulan, bahkan lebih. Padahal, para petani ini harus menyediakan makanan untuk sarapan, makan siang hingga makan malam. Tiga kali setiap hari.

Situasi ini mendorong Agung Alit bersama Mitra Bali menggerakkan sistem perdagangan yang adil atau Fair Trade.

Gerakan perdagangan yang adil ini berkumpul dalam beragam organisasi. Wadah para pengusaha Fair Trade di tingkat internasional bernama World Fair Trade Organization (WFTO). Organisasi tersebut memiliki cabang di setiap regional, salah satunya Asia. Di Indonesia, para pengusaha Fair Trade bernaung di bawah Forum Fair Trade Indonesia (FFTI).

Hani Duarsa menyebutkan saat ini anggota FFTI masih dapat dihitung jari. Sedangkan negara lain di Asia telah memiliki ratusan usaha Fair Trade.  Contohnya India memiliki 185 anggota pengusahan Fair Trade.

“Kita (di Indonesia-red) masih jauh tertinggal,” ujar Hani Duarsa.

Tak hanya gerakan, Fair Trade tetaplah bisnis. Seperti bisnis pada umumnya, Fair Trade juga memiliki model bisnis yang mengarah pada wirausaha sosial. Dalam Fair Trade, pengusaha wajib membayar lunas kepada penyedia produk. Dalam hal ini, Mitra Bali berhubungan secara intens dengan para perajin.

“Setiap perajin menyetorkan produknya ke kantor kami, langsung dibayar lunas,” kata Agung Alit.

Dalam sistem perdagangan yang adil, maka seluruhnya harus transparan. Utamanya soal pembayaran. Namun, Agung Alit tak ingin bicara soal pembayaran ataupun uang saja. Ia menegaskan bahwa roh dari Fair Trade adalah empati dan solidaritas. Sejahtera bukan hanya milik pengusaha, juga milik perajin.

Diskusi yang hangat tentang Fair Trade dipandu oleh Bobby. Foto oleh Rudi Waisnawa.

Fair Trade juga merupakan bisnis yang peduli lingkungan. Sebagai produsen barang kerajinan, bahan baku utama yang digunakan oleh para perajin Mitra Bali adalah kayu. Mereka menetapkan jenis kayu belalu atau albesia sebagai bahan baku utama karena sifatnya cepat tumbuh. Selain itu, jenis kayu ini adalah tumbuhan asli Indonesia.

“Kita upayakan semuanya lokal. Perajin lokal, bahan baku lokal,” ungkap Hani Duarsa.

Produk Berkualitas

Sekalipun wirausaha sosial, produk juga harus bermutu dan unik. Begitulah persaingan usaha yang berlomba menawarkan produk terbaik. Hani Duarsa menjelaskan persaingan ini bukan hanya antarprovinsi dan di dalam negeri, melainkan persaingan dengan negara lain. Maka dari itu, kualitas produk harus dijaga.

Lalu, kesiapan produsen dalam memenuhi permintaan turut menjadi perhatian. Menurut Hani Duarsa, pengusaha Fair Trade perlu memahami ketersediaan bahan baku produknya. Jika suatu saat permintaan membludak, produksi akan tetap berjalan lancar. Untuk itu, Hani mendukung bahan baku lokal agar lebih mudah dicari.

Bicara soal tren produk, Komang Adi menjelaskan bahwa hubungan baik dengan pembeli sangat penting. Pembeli dapat menyampaikan tren warna yang sedang diminati dan jenis produk yang laku. Dari diskusi kecil itu, Mitra Bali perlahan mulai mengembangkan produknya. Mulanya, Mitra Bali mendistribusikan barang kerajinan yang bersifat dekoratif. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, barang kerajinan dari Mitra Bali kini lebih fungsional.

“Para pembeli kami boleh mengunjungi kantor kami dan para perajin. Mereka juga ingin tahu siapa yang mengerjakan produk yang mereka beli,” jelas Komang Adi.

Hal menarik lainnya, Mitra Bali tak hanya menjual produk, tapi menceritakan sesuatu di balik produknya. Hani menambahkan, setiap produk mempunyai ceritanya sendiri. Cerita itu boleh jadi tentang perajinnya atau bahan baku produk itu sendiri.

Hani Duarsa pun berpesan sebuah usaha memerlukan totalitas. Apapun jenis usahanya, termasuk Fair Trade. Bisnis yang adil ini juga pasti memiliki pasang surut. Maka, pada tahap permulaan usaha, pengusaha harus mengeksplorasi produk apa saja. Setelah setahun, pengusaha wajib mereview produk mana yang laku.

“Kalau kita sudah tahu produk mana yang jadi best seller, kita dapat mengembangkannya lagi,” tegas Hani Duarsa.

Foto bersama pascadiskusi. Foto oleh Lingkara.

Bisnis memang tetaplah bisnis. Di sana tetap ada keuntungan yang dicari. Bedanya dalam Fair Trade, keuntungan dicari bersama dan dibagi secara adil. Sebab, sejahtera patut dinikmati bersama. [b]

The post Fair Trade untuk Kesejahteraan Bersama appeared first on BaleBengong.

Niluh Djelantik Tak Lagi Sekadar Membuat Sepatu Cantik

Dari usaha sepatu Niluh Putu Ary Pertami Djelantik kini juga aktif di isu sosial politik. Foto Anton Muhajir.

Pembuat sepatu eksklusif ini sedang menempuh perjalanan lain.

Nama Niluh Djelantik telanjur melekat pada sepatu eksklusif. Namun, kini perempuan bernama lengkap Niluh Putu Ary Pertami Djelantik tersebut sedang berusaha melintas ke tujuan lain yang lebih menantang, politik.

Melalui akun-akun media sosialnya, terutama Facebook dan Instagram, perempuan yang lahir di Bali tepat 42 tahun lalu ini, aktif mengampanyekan isu-isu terkait sosial politik Indonesia. Dia dengan terbuka misalnya mendukung calon gubernur DKI Jakarta yang sekarang justru dipenjara dengan tuduhan menista agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Sebelum itu, Niluh Djelantik juga aktif berkampanye mendukung Joko Widodo, sebagai salah satu calon presiden pada Pemilu 2014 lalu. Saat ini, dia juga mengampanyekan toleransi terhadap keberagaman Indonesia, termasuk mengkritik kelompok-kelompok fundamentalis di negeri ini.

Pilihan itu tidak mudah. Dia harus menghadapi berbagai kelompok anti-Jokowi, anti-Ahok, juga anti-keberagaman.

Salah satu yang sekarang dia hadapi adalah tuntutan hukum dari kelompok bernama Pribumi Berdaulat di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Mereka melaporkan Niluh bersama lima pengguna Internet lain pada April 2017 lalu dengan Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Namun, tentu saja banyak yang mendukung Niluh. Tak hanya untuk bisnis sepatunya tapi juga terhadap sikap-sikap politiknya.

Pada bulan yang sama ketika dia dituntut secara hukum, Niluh juga mendapat banyak penghargaan. Mei lalu dia mendapat penghargaan sebagai salah satu penerima beasiswa Global Women’s Mentoring Partnership dari Fortune dan US State Departement. Selama satu bulan, Niluh dan 21 perempuan dari 15 negara berkembang lainnya mengunjungi Amerika Serikat, termasuk bertemu Ivanka Trump, anak Presiden Amerika Serikat saat ini, di Gedung Putih.

Bulan berikutnya, Niluh juga terpilih sebagai salah satu dari 20 Rising Global Stars versi majalah Forbes Indonesia. Kebetulan saya sendiri yang menulis profilnya untuk majalah tempat saya ngecer tulisan dan foto tersebut.

Niluh sadar terhadap pilihan-pilihannya, termasuk akibat yang harus dia hadapi. Di halaman Facebooknya, Niluh pernah menuliskan pesan. Life is a challenging choice. Embrace it. Don’t be afraid to speak as long as you can be responsible for your own voice.

Pengerjaan sepatu di bengkel Niluh Djelantik di Canggu, Kuta pada Agustus 2016. Foto Anton Muhajir.

Korban Kapak Merah

Semua pencapaian itu, bagaimana pun, tak bisa dilepaskan dari keterikatannya pada… sepatu!

Niluh Djelantik adalah pendiri sekaligus pemilik merek sepatu terkenal sesuai nama lahirnya, Niluh Djelantik. Namun, perjalanan itu justru bermula dari pengalaman pahit semasa dia kecil.

Niluh menghabiskan masa kecil dalam kesederhanaan. Dia lahir di Desa Batur Selatan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali bagian tengah. Desa ini berjarak sekitar 60 km dari Denpasar ke arah timur laut.

Orang tua Ami, begitu dia akrab dipanggil ketika kecil, bercerai ketika dia masih SD. Ami tinggal bersama ibunya yang berjualan di Pasar Kumbasari, Denpasar. Dia sekolah di salah satu sekolah favorit di Denpasar, SD Saraswati.

Sekolah di SD favorit dengan pendapatan pas-pasan, Niluh pun harus menyesuaikan diri termasuk dalam urusan sepatu. Dia harus mengganjal bagian depan sepatu kebesaran agar lebih enak dipakai.

Namun, pengalaman itu membekas di kenangan Niluh. Dia ingin suatu saat membuat sepatu yang nyaman untuk tiap orang. Ketika mendapatkan gaji pertama kali saat kuliah sambil bekerja di Jakarta, dia pun membeli sepatu.

Setelah merantau di Jakarta selama hampir sepuluh tahun, mulai dari menjadi resepsionis hingga asisten manajer, Niluh kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Bali, pada 2002. Ada peristiwa yang membuatnya trauma untuk kembali ke Jakarta, dia nyaris dirampok kelompok Kapak Merah.

Ibu satu anak ini lalu kembali ke Bali dan bekerja di perusahaan fashion sebagai Direktur Pemasaran Paul Ropp, perusahaan pakaian ternama di Bali. Inilah yang menjadi bekal dia untuk mengenal lebih dalam seluk beluk bisnis fashion.

Karena kurang puas dengan tempat kerja barunya, Niluh bersama suaminya ketika itu lalu mendirikan usaha sendiri yang memproduksi sepatu high end quality.

Mereknya Nilou, diambil dari nama Balinya, Niluh. “Awal berdirinya cuma karena aku ingin membuat sepasang sepatu yang pas. Sederhana. Tapi printilan-nya banyak,” kata Niluh.

Printilan yang dia maksud, misalnya, menggunakan bahan baku dari Indonesia, dibuat di Indonesia, serta dibuat orang Indonesia. Bersama partnernya ketika itu, Niluh pun mulai memproduksi sepatu dengan merek Nilou sejak 2003. Niluh bertanggung jawab di bagian pengembangan dan produksi di Bali sementara partnernya di bagian distribusi. Pada awal produksinya, mereka hanya punya dua tukang sepatu.

Pecah Kongsi

Dengan menggunakan merek Nilou, sepatu yang diproduksi untuk pasar terbatas (niche market) ini dipasarkan ke Prancis, Australia, dan Selandia Baru. Mereka juga menjualnya hingga ke 20 negara, termasuk Amerika Serikat, Jepan, dan Uni Emirat Arab. Namun, pada 2004, Niluh dan partnernya pecah kongsi.

Niluh mengaku ada perbedaan prinsip antara dia dan partnernya ketika itu. Mereka ingin memproduksi sebanyak-banyaknya sementara Niluh ingin tetap memproduksi sepatu yang lebih eksklusif dan terbatas. Karena tak cocok, mereka pun berpisah dengan merek Nilou menjadi hak partnernya.

Setelah perpecahan usaha sekaligus perpisahan rumah tangga, Niluh tetap memproduksi sepatu untuk beberapa merek lain. Semacam outsource.

Pada 2007, dia memutuskan menggunakan namanya sendiri untuk merek sepatu, Niluh Djelantik. Modal awalnya hanya Rp 18 juta.

Berganti merek baru membuat Niluh harus membangun kembali merek tersebut. Untuk itu, dia terus berimprovisasi. Dari semula hanya membuat sepatu hak tinggi, dia juga mulai membuat sepatu-sepatu jenis baru. Kuncinya, menurut Niluh, pada investasi dan pengembangan.

Tiap enam bulan sekali, dia membeli sepatu baru dengan merek-merek ternama dunia lalu dia bongkar untuk dipelajari bagaimana model dan pengerjaannya. “Itu bagian dari pengembangan,” kata ibu dari Ni Luh Putu Ines Saraswati Djelantik ini.

Untuk memproduksi sepatu berkualitas tinggi itu, menurut Niluh, aset utamanya adalah pada manusia. Saat ini ada 30 staf dengan dua divisi yaitu retail dan produksi. Untuk produksi, pusat pembuatannya di daerah Canggu, Kuta Utara. Di sana, para tukang sepatu membuat tiap sepatu pasang demi pasang.

“Tiap sepatu hanya dikerjakan oleh satu orang,” kata Slamet, salah satu pembuat sepatu di bengkel kerja Niluh Djelantik. Semua pembuatan sepatu dilakukan secara manual.

Menurut Slamet, dengan cara itu maka ada ikatan emosional antara pembuat dengan sepatunya. Proses tersebut, misalnya dari pengukuran kaki, pembuatan alas kaki, hingga penghalusan. Dalam sebulan mereka memproduksi 300-400 pasang sepatu.

Untuk retail saat ini Niluh Djelantik memiliki tiga toko yaitu di Seminyak, Petitenget, dan Jakarta. Mereka menjual sepatu dengan harga berkisar antara Rp 700.000 hingga Rp 4.000.000 per pasangnya.

Menurut Arief Budiman, pendiri Bali Creative Community, sepatu-sepatu karya Niluh memang merepresentasikan desain dan tren masa kini. “Dalam desain dikenal tren bentuk dan desain yang digemari. Niluh Djelantik mampu masuk ke pusaran itu sesuai dengan karakter Bali,” kata Ayip, panggilan akrabnya.

Selebritis Hollywood

Dengan kualitas yang terjaga, sepatu Niluh Djelantik pun menjadi barang yang dibeli selebritis Hollywood, termasuk super model Gisele Bundchen, aktris Tara Reid, Uma Thurman, hingga Julia Roberts. Sepatu Niluh Djelantik juga digunakan Miss Universe dan Miss World.

“Pada akhirnya, sepatu akan ngomong sendiri,” katanya merujuk pada pengakuan dari selebritis Hollywood itu.

Dengan penjualan yang juga online, kini sepatu Niluh menjangkau lebih banyak pembeli dari banyak negara. Tapi, menurutnya, itu bukan hal terpenting yang dia capai. “Bagi saya sekarang pencapaian bukan lagi tentang berapa banyak pelanggan yang kita dapatkan tapi berapa banyak orang yang bahagia setelah mengenakan sepatu kami,” kata istri Louis Kieffer ini.

Di luar urusan penjualan sepatu, Niluh Djelantik juga kini masuk ke dunia lain. Sepatu Niluh Djelantik sudah mendapatkan kontrak dengan Despicable Me 3 yang akan tayang Juni ini. “Kami mendapatkan hak untuk menggunakan gambar-gambar Despicable Me dalam desain-desain sepatu kami,” ujar Niluh.

Selain itu, Niluh juga sekarang menjadi duta kopi merek Top Coffee Susu. Merek kopi ini pula yang mendukungnya untuk terus membagi ilmu, pengalaman, dan semangat usahanya ke anak-anak muda di penjuru Nusantara.

Hari ini, pembuat sepatu bahagia itu berulang tahun. Maka, selamat ulang tahun, Mbok Niluh. Semoga terus tetap bersemangat membagi ilmu dan pengalaman ke orang lain.. [b]

The post Niluh Djelantik Tak Lagi Sekadar Membuat Sepatu Cantik appeared first on BaleBengong.