Tag Archives: Ekonomi

HIPMI Badung Adakan Business Matching

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) BPC Badung mengadakan business matching antar anggotanya. Pertemuan berlangsung dalam suasana santai dan kekeluargaan. Kegiatan rutin ini dilangsungkan untuk mempererat hubungan internal HIPMI Badung dan saling mengenal bisnis antaranggota.

Pertemuan diadakan di villa Desa di Bali, Kerobokan yang dimiliki oleh salah satu anggota HIPMI Badung.

Selama pertemuan terjadi banyak interaksi yang saling berbagi informasi. Seluruh anggota meyakini bahwa sesama pengusaha pastinya saling memerlukan dan sangat mungkin terjadi hubungan yang saling menguntungkan.

Business matching dipimpin langsung oleh Ketua Umum Hipmi Badung Bayu Joni yang didampingi Sekretaris Umum Hendika Permana serta Bendahara Umum Inten Yulianda. Kegiatan yang sangat baik ini diharapkan berlangsung secara rutin.

Pengusaha muda di Badung yang belum bergabung di HIPMI Badung diharapkan bisa bergabung dan berkolaborasi saling berbagi sehingga membentuk sinergi kewirausahaan yang kuat di Badung. [b]

The post HIPMI Badung Adakan Business Matching appeared first on BaleBengong.

Perdagangan Berkeadilan untuk Menjawab Ketimpangan

Mitra Bali sebagai pelaku usaha dengan prinsip fair trade di Bali ikut meluncurkan International Fair Trade Charter. Foto Mitra Bali.

Tiga tahun lalu PBB mengesahkan dokumen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Sustainable Development Goals (SDGs) tersebut tepatnya disahkan pada 25-27 September 2015. Pengesahan agenda bertema Transforming our world : The 2030 the Agenda for Sustainable Development itu dihadiri 193 negara anggota PBB, termasuk Indonesia.

SDGs ini merupakan kelanjutan dari ambisi global sebelumnya yaitu Tujuan Pembangunan Milenium atau Milineum Development Goals (MDGs) yang ditetapkan pada tahun 2000. Agenda utamanya adalah agar semua negara anggota PBB bekerja sama untuk memerangi kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.

Dari sebelumnya 9 target MDGs yang ingin dicapai, target SDGs diperluas lagi menjadi 17. Target tersebut di antaranya adalah dunia tanpa kemiskinan, tidak ada kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan warga, kesetaraan gender, mengurangi kesenjangan, dan kemitraan untuk mencapai tujuan. Target dan Tujuan SDGs pada intinya memiliki lima pondasi utama yakni (1) Manusia, (2) Planet, (3) Kesejahteraan, (4) Perdamaian dan (5) Kemitraan untuk mencapai tujuan mulia di tahun 2030: mengakhiri kemiskinan, mencapai kesetaraan dan kesejahteraan lingkungan.

Tiga tahun setelah pengesahan, saat ini sejumlah target SDGS masih jauh dengan apa yang diharapkan. Padahal, waktu terus berjalan. Target SDGs hanya tinggal 12 tahun utuk mencapai target pada 2030 nanti.

Salah satu penyebabnya adalah karena model pembangunan yang berorientasi perdagangan bebas (free trade). Kebijakan perdagangan ini hanya menekankan penumpukan laba di atas segalanya. Akibatnya kemudian melahirkan kesenjangan antar kelompok masyarakat kaya dan miskin. Mereka yang kaya kian kaya ketika yang miskin kian terpuruk.

Fair Trade terbukti menjawab salah satu masalah ketimpangan gender. Foto Anton Muhajir.

Menjawab Tantangan, Mewujudkan Harapan

Berangkat dari situasi tersebut, para pelaku perdagangan berkeadilan (fair trade) seluruh dunia yang terhimpun dalam organisasi payung World Fair Trade Organitation (WFTO) sepakat meluncurkan Piagam Perdagangan Berkeadilan Internasional atau Internasional Fair Trade Charter. WFTO beranggotakan 300 organisasi di 70 negara di mana Mitra Bali adalah salah satu dari dua organisasi anggotanya di Bali.

International Fair Trade Charter menyuguhkan rangkuman 10 prinsip Fair Trade yang menjadi acuan dalam praktik nyata untuk memerangi kemiskinan dan mengurangi eksploitasi manusia maupun lingkungan, sebagaimana yang tertuang dalam tujuan SDGs. Adapun 10 prinsip tersebut adalah memerangi kemiskinan dan pemiskinan; transparansi & bertanggung jawab; berorientasi kesejahteraan; pembayaran cepat, tepat dan layak; tidak menggunakan tenaga kerja anak dan tenaga kerja paksa; tidak membedakan tenaga kerja laki-laki dan perempuan; lingkungan kerja sehat, aman dan nyaman; mengembangkan kemampuan pekerja; mempraktikkan prinsip Fair Trade; dan peduli lingkungan.

Apa yang sudah dan sedang dipraktikkan para pelaku Fair Trade hasilnya terbukti dan nyata mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Begitu pula dengan Mitra Bali sebagai salah satu fair trader yang sejak 1993 aktif mempraktikkan Fair Trade di Indonesia. Mitra Bali merupakan anggota Forum Fair Trade Indonesia (FFTI) dan WFTO.

Agung Alit, Pendiri dan Direktur Mitra Bali Fair Trade mengatakan, praktik Fair Trade yang dilakukan Mitra Bali sudah terbukti mampu menjawab tantangan sekaligus mewujudkan harapan sebagaimana diinginkan secara global melalui target SDGs. Agung Alit memberikan contoh target untuk menghapus kemiskinan, mengurangi kesenjangan, kesetaraan gender, pelestarian lingkungan, serta membangun kemitraan.

Di Bali, menurut Alit, Mitra Bali menerapkan Fair Trade dalam bentuk pembayaran yang adil kepada perajin-perajin ketika sebagian besar perajin di Bali masih sering dieksploitasi oleh para tengkulak (middle man). Mitra Bali juga memberikan tempat untuk perajin-perajin perempuan sehingga mereka tidak hanya bisa meningkatkan pendapatan dan taraf hidup, tetapi juga mandiri sebagai perempuan maupun ibu rumah tangga.

Dalam tradisi Bali yang sangat patriarki, Fair Trade telah terbukti mendukung perempuan-perempuan agar mandiri secara finansial dan kemudian setara dalam kehidupan ekonomi sosial.

“Dalam tradisi Bali yang sangat patriarki, Fair Trade telah terbukti mendukung perempuan-perempuan agar mandiri secara finansial dan kemudian setara dalam kehidupan ekonomi sosial. Itulah pentingnya Fair Trade untuk menjawab target SDGs ataupun masalah sosial kultural,” tegas Alit.

Contoh lain, Alit melanjutkan, adalah tidak adanya tenaga kerja anak dalam Fair Trade untuk memerangi eksploitasi anak (child labour) dan penggunaan kayu dengan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk memastikan agar Fair Trade menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pengelolaan sampah dan limbah kerajinan juga harus jelas sebagai bagian dari komitmen pada lingkungan.

“Melalui peluncuran International Fair Trade Charter ini, kami menyampaikan pesan bahwa Fair Trade adalah alat tepat untuk mewujudkan cita-cita pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan, baik untuk kesejahteraan rakyat maupun lingkungan di mana saja. Another wonderful World is possible!” ujar Agung Alit. [b]

The post Perdagangan Berkeadilan untuk Menjawab Ketimpangan appeared first on BaleBengong.

Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Pengolahan cokelat di Primo Chocolate Bali lebih banyak menggunakan tangan daripada mesin. Foto Auditya Sari.

Penggemar cokelat pastilah ingin tahu rahasia kelezatan cokelat favorit.

Primo Chocolate Bali membeberkan formulasi yang mereka terapkan sehari-hari dalam produksi cokelat premium mereka. “Cokelat premium adalah di mana martabat dan kehormatan petani berada pada puncak tertinggi di suatu rantai nilai,” kata Giuseppe Verdacchi.

Pepe, panggilan akrabnya, adalah pemilik pabrik pengolah cokelat premium asal Italia yang sudah menetap di Bali puluhan tahun lamanya.

Pepe arsitek dari Roma yang jatuh cinta atas keindahan alam Indonesia. Dia bertemu Ni Komang Jati, wanita asal Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Pernikahan mereka memberikan anugerah dua orang anak sekaligus mewujudkan cita-citanya untuk menetap di Bali.

Primo Chocolate hanya menyasar pasar premium yang mempunyai standar kualitas tinggi. Pemenuhan kebutuhan akan pasar premium ini mengharuskan Primo Chocolate selektif dalam memilih biji kakao yang akan diolah.

Tidak main-main, dengan alasan yang sama perusahaan ini membeli biji kakao fermentasi hasil produksi petani dengan harga 50 persen lebih tinggi dari pasar internasional pada umumnya. Mereka percaya bahwa petani akan menghargai pembeli dan dengan senang hati memproduksi biji kakao berkualitas kepada pembeli yang menghargai petani itu sendiri.

Dengan demikian rantai suplai pengolahan biji hingga pemasaran berkelanjutan tetap dapat berjalan secara berkesinambungan. Karena Pepe pun menyadari, tidak mudah mengajak petani untuk melakukan hal tersebut. Terlebih petani sudah sering mengalah terhadap harga biji di pasaran.

Petani lebih sering memproduksi biji kakao asalan tanpa fermentasi sehingga dibeli dengan harga murah.

Mendapat kesempatan untuk berkembang melalui penawaran harga tinggi dari Primo Chocolate merupakan satu penghargaan sendiri bagi petani kakao yang tergabung dalam Koperasi Kerta Samaya Samaniya, di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana. Petani yang tergabung dalam program Kakao Lestari sejak tahun 2011 ini memproduksi biji kakao fermentasi dan menghasilkan suatu produk biji kakao yang mempunyai profil aromatik seperti madu, buah, dan bunga.

Namun, tentunya kesempatan datang dengan sebuah tantangan. Petani dipaksa belajar lebih giat mengenai pertanian berkelanjutan agar menjadi siap untuk bersaing dengan potensi pasar lokal maupun internasional. Dalam mengembangkan hal tersebut, Koperasi Kerta Samaya Samaniya didampingi oleh Yayasan Kalimajari, lembaga pendampingan masyarakat tani berbasis di Bali yang mempunyai keahlian di komoditas kakao dan rumput laut.

Pekerja di Koperasi Kerta Samaya Samaniya Jembrana memilah kakao hasil fermentasi. Foto Anton Muhajir.

Rahasia

Primo Chocolate mempunyai rahasia khusus dalam mempertahankan kualitas dan menjaga produk cokelat olahan pabriknya menjadi berbeda dengan produk lainnya. Selain menjaga sektor hulu dengan meningkatkan perekonomian petani, sektor hilir di bagian pengolahan juga tak kalah pentingnya untuk diperhatikan.

“Handmade, heartmade,” ujar Komang Jati.

Menurut Komang, Primo mengolah biji kakao menjadi cokelat siap saji dengan peralatan sederhana, dikerjakan oleh tangan-tangan anak bangsa, yang peduli akan potensi negerinya sendiri. Mereka mau bekerja.

“Keringat mereka terlupakan oleh senyuman ketika produk yang mereka olah berhasil masuk ke pasar premium, dan pastinya dengan harga yang sepadan dengan kerja kerasnya,” kata Komang.

Selain itu, Komang menambahkan, Primo juga konsisten untuk tidak berpindah haluan menjadi industri besar yang terjun ke pasar cokelat umum. Produksi mereka memang tidak banyak, bahkan tergolong minim. Namun, Primo memastikan setiap cokelat yang keluar dari pabrik terjamin kualitas, tresibilitas dan petani yang memproduksi hidupnya sejahtera.

“Oleh karena itu kami hanya bermain di niche market, pasar premium lokal, nasional, bahkan internasional,” tambahnya.

Proses pengolahan Primo Chocolate pada dasarnya sama dengan proses pengolahan cokelat pada umumnya. Hanya saja, penggunaan mesin diminimalisir sedikit mungkin. Hanya ada beberapa alat mekanisasi, yaitu grinder dan roaster.

Selebihnya, seperti proses pemecahan biji kakao menjadi nibs dilakukan dengan menumbuk biji menggunakan lesung dan alu, persis seperti proses pemisahan beras dari gabah. Sedangkan proses tempering, dilakukan secara manual dengan menggunakan meja marmer dan alat oles sederhana.

Proses pencetakan menjadi cokelat batang pun menggunakan cetakan manual, dibantu dengan mesin mini untuk memberikan vibrasi untuk menghindari adanya rongga udara yang mempengaruhi kualitas. Pendingin cokelat yang sudah dicetak dilakukan di dalam ruangan tertutup bersuhu 16 derajat celcius.

Jangan tanya tentang higienitas. Ketika mengunjungi ruangan ini, kita diharuskan menggunakan alas kaki khusus, apron, penutup kepala dan mulut.

Satu yang menarik adalah mesin-mesin yang digunakan Primo merupakan hasil kolaborasi desain antara Pak Pepe dan satu anak bangsa, tertulis jelas namanya di setiap mesin yang digunakan, yaitu “Verdacchi and Mulyadi”.

Memang terdapat beberapa material yang harus didatangkan dari wilayah lain, seperti batu yang digunakan untuk mesin grinder harus didatangkan dari India. Namun, hal ini karena setelah melalui beberapa kali eksperimen, batu di wilayah Indonesia tidak cukup kuat dengan pertimbangan mesin produksi yang efektif dan efisien.

Terlepas dari itu semua, seperti kita sudah punya alasan cukup kuat untuk berhenti meremehkan kualitas dan potensi anak bangsa.

Dalam menjalankan usahanya, Pepe dan Komang dibantu oleh anak pertamanya, Gusde Verdacchi. Gusde merupakan bukti anak milenial yang mematahkan anggapan bahwa membantu orang tua menjalankan bisnis usaha keluarga merupakan hal yang kuno.

Bersama-sama dengan orang tua dan tim Primo Chocolate Bali, Gusde saat ini sedang bereksperimen untuk menemukan formulasi proses pemanasan (roasting) yang terbaik untuk meningkatkan kualitas produk yang diolah. “Masing-masing biji kakao dari beda lokasi, mempunyai karakteristik berbeda pula sehingga perlakuan juga harus dibedakan untuk memunculkan sifat terbaik dari biji kakao tersebut,” kata Gusde.

Gusde kemudian melanjutkan dengan menyebutkan beberapa hasil percobaan yang sudah ia lakukan, termasuk pengaturan suhu optimal dan waktu yang dibutuhkan dalam proses pemanasan.

Jika kalian tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai proses pengolahan cokelat dari bean to bite, atau sekadar ingin tahu mengenai sejarah dan cerita menarik mengenai cokelat. Primo Chocolate Factory membuka kelas setiap hari kerja dari Senin hingga Jumat dari pukul 8 pagi hingga 6 sore.

Jangan lupa mendaftar terlebih dahulu melalui website resminya di www.primobali.net atau datang langsung ke Cafe Primo Bali di Jalan Bumbak Dauh No.130, Kerobokan, Kuta Utara, Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361. [b]

The post Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali appeared first on BaleBengong.

Gula Merah Besan Dijual hingga Negeri Paman Sam

Wayan Sudata, salah satu pembuat gula merah di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung. Foto Anton Muhajir.

Produk khas Desa Besan ini justru terancam karena kurangnya generasi penerus.

Rintik-rintik kecil menyambut kami saat sampai di rumah salah satu produsen gula merah di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung, Wayan Sudata. Kedatangan kami itu bertepatan saat ia sedang membuat gula merah di dapurnya.

Sembari menunggu gula siap cetak, Sudata bercerita tentang pengalamannya selama menjadi produsen gula merah yang merupakan produk unggulan Desa Besan ini.

Menurutnya, di pada tahun 1950-an, hampir seluruh warga Desa Besan merupakan pembuat gula merah. Namun, seiring waktu berjalan, pembuat gula merah mengalami penurunan dan terancam punah. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Misalnya tidak ada yang meneruskan pekerjaan itu atas pertimbangan tingginya risiko saat memanjat pohon kelapa dalam proses menyadap. Juga beralihnya pilihan generasi muda untuk menjadi pegawai, baik negeri maupun swasta hingga pekerjaan lain yang berada di luar daerahnya.

Hingga saat ini, tersisa 30-50 orang pembuat gula yang tersebar di dusun Kawan dan Kanginan. Sudata meneruskan, bahwa sejak masih kecil, Besan memang sudah dikenal sebagai daerah penghasil gula merah.

Menyadap kelapa

Saat ini, ada 10 pohon kelapa yang digarap oleh Wayan Sudata. Sayangnya pohon itu adalah milik orang lain, sehingga ada bagi hasil antara si pemilik pohon dengannya. Bagian untuk pemilik pohon biasanya dalam bentuk tuak dengan perbandingan 1:2. Dari penyadapan 10 pohon itu, biasanya Sudata akan mendapat 30 liter setiap pagi-sore. Atau paling sedikit dapat 1 liter perpohon.

Sudata memulai aktivitas menyadap pada pukul 7 pagi dan 4 sore tiap harinya. Jika pukul 7 mulai nyadap, maka pukul 4 sore ia akan naik lagi mengambil hasil sadapan sekaligus menaruh penampungan air untuk diambil keesokan harinya lagi. Begitu prosesnya secara rutin.

Tanpa peralatan canggih, proses ini dibantu dengan “beruk” yang terbuat dari batok kelapa dan jerigen untuk penampungan air. Tak ada kompensasi karena cuaca buruk. Sudata harus siap memanjat pohon kelapa di segala cuaca karena pengambilan hasil sadapan ini tidak boleh terlambat. Jika lewat dari waktu seharusnya, air itu akan berubah menjadi cuka, bisa juga arak.

Kesempatan libur hanya ketika hari raya Nyepi. Air dari pohon kelapa dibiarkan menetes menyentuh tanah, tak ada yang memanjat dan nyadap, karena Nyepi adalah kesempatan untuk mengapresiasi alam atas apa yang sudah diberikan untuk kita.

Hal unik dari sesi memanjat kelapa ini adalah adanya interaksi dengan penyadap lain yang juga sedang memanjat. Interaksi itu biasanya berupa obrolan tentang harga gula merah di pasaran. Obrolan lintas pohon itu tentu berlangsung dengan suara yang keras, sehingga biasanya akan menjadi informasi langsung bagi warga lain yang juga menyimak percakapan lintas pohon itu.

Setelah mengambil air sadapan, selanjutnya air itu akan diproses langsung dalam dapur. Pengolahan gula merah hingga siap dicetak membutuhkan waktu selama 3 jam dengan cara yang masih tradisional.

Pertama, air sadapan itu akan melalui proses “mumpunin” atau semacam direbus hingga pekat. Setelah itu barulah mulai dicetak dengan menggunakan cetakan dari setengah batok kelapa. Ketika gula sudah mengeras, proses selanjutnya adalah pengemasan. “Kraras” atau daun pisang kering dimanfaatkan sebagai pembungkusnya dan dipercantik dengan tali bambu.

Harga dan Penjualan

Gula-gula yang sudah selesai dikemas itu akan dijual kepada pengepul yang datang langsung ke rumahnya tiap 3-4 hari sekali. Wayan Toniawan, anak Sudata, menambahkan bahwa orang tuanya termasuk beruntung karena tidak memiliki hutang kepada pengepul tertentu. Andai punya hutang, gula-gula yang telah dikemas itu hanya boleh dijual kepada pengepul yang dihutangi.

Pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan gula merah ini menurutnya cukup untuk keseharian. Gula yang dihasilkan perharinya sekitar 5 kg. Dari 5 kg itu, Sudata sudah mendapakan penghasilan sebesar Rp 150.000 per hari.

Gula merah buatan Sudata tidak hanya dijual di pasar lokal, tapi juga sudah sampai tingkat internasional, khususnya Amerika Serikat. Ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan testimoni konsumennya, gula merah Besan buatan Sudata memang terbukti murni tanpa campuran bahan lain. Sejauh yang diketahui, gula-gula yang dibeli dari Sudata diolah menjadi lulur dengan campuran kopi.

Pada Juni lalu, sebanyak 100 kg gula dikirim ke mancanegara. Wayan Toniawan yang berperan sebagai narahubung. Pemesanan dilakukan via WhatsApp sebulan sebelumnya, sebab perlu waktu yang panjang untuk memperoduksi gula dalam jumlah yang banyak.

Perihal harga, Sudata menetapkan tarif berbeda antara pasaran lokal dan internasional. Harga normal di pasar lokal, sebesar Rp 30.000/kg, sedangkan harga pasar internasional adalah dua kali lipatnya, yaitu Rp 60.000/kg. Selain dijual per kilogram, gula merah ini juga bisa dibeli per biji (setengah batok kelapa). Beratnya berkisar antara 500 gr-600 gr.

Jika dikalikan dalam sebulan, pendapatan dari usaha gula merah ini sebenarnya lumayan. Lebih dari upah minimum kabupaten. Sayangnya, pendapatan yang lumayan itu tak cukup menarik bagi anak-anak muda di desa ini.

Inilah yang membuat Sudata prihati. “Sepuluh tahun lagi mungkin sudah tidak ada yang membuat gula di desa kami,” tuturnya.

The post Gula Merah Besan Dijual hingga Negeri Paman Sam appeared first on BaleBengong.

Mau Wujudkan Rumah Idam, Yuk Ke KPR Lestari

Belakangan ini penulis seringkali menjadi tempat curhat dari keluarga muda alias keluarga yang baru menikah tetang keinginan mereka untuk memiliki rumah idaman, tidak hanya keluarga muda dibeberapa kesempatan penulis juga mendapati cerita yang sama dari sebuah keluarga yang sudah puluhan tahun menikah namun belum juga mampu mewujudkan impiannya untuk memiliki rumah impian. Berbagai alasan mencuat