Tag Archives: Education

Literasi Keluarga: Dari Kho Ping Hoo hingga Menjelma Klub Buku Petra



#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga #LiterasiBergerak #PerpustakaanKeluarga #PustakaBergerak
*Klik dua kali pada gambar jika kurang jelas


Salah satu sudut koleksi buku di Perpustakaan Klub Buku Petra.
dok. Klub Buku Petra

Ini cerita tentang teman saya, seseorang yang sangat mencintai buku. Saya baru mengenalnya setahun yang lalu, ketika tanpa sengaja kami bertemu di salah satu acara launching buku seorang kawan. Perjumpaan pertama yang terlampau biasa saja, kecuali obrolan terkait karya-karya penulis Indonesia, tidak ada lagi yang istimewa selain itu.

Perjumpaan kedua, ketika kami sama-sama sedang berada di Jakarta. Ia dengan urusannya, saya dengan urusan saya sendiri. Di sela-sela obrolan kami tersebut, ia tiba-tiba menawarkan sesuatu yang tidak saya duga samasekali. Meminta saya kembali ke Flores untuk mengelola perpustakaan.

Saya tercenung, memikirkan semuanya dengan seksama. Saat itu, pikiran dan tujuan saya telah berada di sisi yang lain dari apa yang selama ini saya idam-idamkan. Saya sudah berpasrah pada apa saja yang dikehendaki semesta, termasuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Akan tetapi, mengelola koleksi buku-buku pribadi menjadi perpustakaan yang dapat diakses oleh orang banyak, bersamaan dengan itu saya akan diberi upah yang layak dan menetap di salah satu kota paling dingin di Nusa Tenggara Timur. Tentu ini menggiurkan sekali.

Saya kemudian menanyakan padanya, “apa untungnya mengupah seseorang yang mengelola buku-buku bekas agar bisa dibaca oleh orang lain? Tak ada profit di situ, kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari sana kecuali tagihan yang menumpuk akhir bulan untuk sewa gedung, gaji karyawan, listrik dan sebagainya.”

Jawabannya sungguh di luar dugaan saya yang miskin dan hina dina ini, yang memang selalu melakukan apa pun dengan perhitungan akurat meskipun kemudian selalu mengedapankan perasaan dan berujung pada kekesalan karena merugi.

“Tidak ada keuntungan di sini, Mar. Kita tidak sedang mencari untung. Biarkan saja buku-buku itu yang bekerja dan mendatangkan keuntungan dalam bentuk yang lain. Masalah operasional, tidak perlu kamu pikirkan. Kerjakan saja bagianmu, dan saya akan mengerjakan bagian saya.”

Kunjungan dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kab. Manggarai
dok. Klub Buku Petra

Demikian, saya akhirnya memutuskan kembali ke Nusa Tenggara Timur setelah urusan saya selesai. Perpustakaan itu diberi nama Klub Buku Petra. Beragam buku yang merupakan koleksi kawan saya sejak zaman Sekolah Dasar hingga kini telah menjalani profesinya sebagai seorang Dokter yang juga Pengajar, Direktur Klinik Jiwa dan beberapa pekerjaan lainnya, ada di sana.
Suatu kali, saat kami tengah bersantai, saya membuka sebuah obrolan ringan. Topik ini muncul setelah sekian lama saya simpan demi menantikan kesempatan yang tepat untuk menggali lebih dalam, juga karena saya menemukan kenyataan bahwa di Ruteng tidak ada Toko Buku. Selain itu, pertanyaan yang sama kerap saya dapatkan dari para pembaca dan peminjam buku di Klub Buku Petra, “dari mana asal buku-buku bagus dalam jumlah sebanyak ini?”

Kawan saya ini, yang adalah seorang laki-laki sulung di dalam keluarganya, mengenal kebiasaan membaca sejak masih Sekolah Dasar. Di tahun 1980an, serial cerita silat Kho Ping Hoo beredar secara luas dan dibaca oleh siapa saja. Termasuk bapaknya. Hampir setiap hari, ia mendapati bapaknya menekuni stensilan Kho Ping Hoo di sela-sela pekerjaannya. Melihat itu, kawan saya kemudian bertanya, bolehkah ia ikut membaca serial kartun silat tersebut? Sepertinya menarik sekali sebab bapaknya begitu tenggelam di dalam petualangan-petualangan para pendekar itu.

“Dan bapak mengizinkan saya ikut membacanya. Itu pengalaman pertama saya mengenal bacaan, dan sejak itu saya melahap cerita silat yang beredar di sekitar lingkungan pergaulan saya. Di zaman itu, memang hanya ada cerita-cerita silat seperti Kho Ping Hoo dan Wiro Sableng yang dijual bebas sehingga mudah didapat. Bapak juga mengoleksinya. Hampir setiap hari, jika sudah lelah bermain dengan teman-teman, saya kemudian memutuskan untuk membaca sekaligus mengistirahatkan badan. Biarkan giliran otak yang bekerja. Hehehe…” tutur kawan saya.

Ruang Baca untuk umum - Perpustakaan Klub Buku Petra
dibuka sejak 1 September 2019
dok. Klub Buku Petra

Beranjak remaja, memasuki Sekolah Menengah Pertama hingga akhirnya Sekolah Menengah Atas, kawan saya ini berkenalan dengan lingkungan sekolah asrama yang juga menyediakan perpustakaan dengan buku-buku bermutu. Karya-karya fiksi populer seperti novel dan cerita pendek, dapat ditemukan dengan mudah di sana. Saat itu, karya sastra belum begitu ramai dibicarakan kecuali saat jam pelajaran Bahasa Indonesia saja.

Di sekolah berasrama ini, ia akhirnya bertemu dengan sahabat baiknya yang hampir setiap hari menghabiskan waktu untuk membaca karya-karya sastra. Ajaibnya, meskipun hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membaca novel, kumpulan cerpen, atau puisi, nilai ulangan/ujiannya tak pernah buruk. Melihat ini, kawan saya berpikir bahwa jika banyak membaca maka kita dengan sendirinya akan menjadi pandai dan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan saat ujian. Apa pun bacaannya. Ia pun minta dikenalkan kepada bacaan-bacaan sastra tersebut. Namun demikian, tiga bulan setelah itu, ia akhirnya membuktikan bahwa bacaan memang membuat kita terbuka pada hal-hal baru tetapi tidak seketika menjadikan kita mampu mengerjakan soal-soal ujian dengan mudah seperti yang ia harapkan sebelumnya. Sahabat baiknya itu yang memang jenius dan pandai mengatur waktu.

Meskipun demikian, kawan saya ini sudah telanjur jatuh cinta pada sastra. Pada karya-karya penulis dan sastrawan Indonesia yang terkadang membikin lupa waktu dan menghantarkan imajinasinya berkelana ke mana suka. Ia akhirnya terus membaca sastra hingga kini memiliki hampir 2000 judul buku, baik yang ditulis oleh penulis Indonesia maupun terjemahan.

“Saya ingat dulu, kalau pulang libur ke rumah. Setiap selesai makan, saya dan kedua adik saya akan berkumpul dalam satu kamar lalu mengeluarkan koleksi masing-masing. Biasanya kami akan terheran-heran melihat koleksi satu sama lain, sebab anak-anak yang bersekolah di sekolah umum ternyata memiliki selera bacaan yang berbeda dengan anak-anak yang bersekolah di asrama seperti kami (baca: seminari). Mereka akan melemparkan pertanyaan seperti ini, hih baca buku apa kalian ini? bikin kepala sakit saja. Hahaha tetapi justru di situ saya melihat perbedaan selera kami mejadi menarik. Kami saling melengkapi satu sama lain. Saya suka novel-novel Ayu Utami, Putu Wijaya, Remy Sylado dan lain-lain, adik perempuan saya menyukai kisah-kisah populer khas anak muda seperti Teenlit, Metropop, Harlequin, dan sejenisnya, sementara adik laki-laki yang paling bungsu masih betah menikmati Kungfu Boy, Detektif Conan, Slam Dunk dan lain-lain.” tutur kawan saya

Apa yang diceritakan kawan saya ini, saya buktikan ketika pertama kali membongkar koleksi buku-bukunya. Saat itu saya sedang dalam proses mendata semua judul buku yang ada agar bisa diakses oleh para peminjam. Saya sempat penasaran, ada berapa tahapan yang sebenarnya kawan saya ini lalui sehingga hampir semua genre bisa terjebak di dalam ruangan tersebut? Saya pikir dua puluh tahun bukanlah waktu yang terlalu lama. Saya bandingkan dengan diri sendiri, yang kurang lebih membutuhkan tiga hingga empat tahun untuk berpindah dari bacaan ringan seperti masalah percintaan, menuju bacaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran seperti novel-novel dengan perpaduan filsafat, ilmiah atau psikologi. Rupanya koleksi yang mencapai 3000 judul tersebut (tambah 1000 dari sebelumnya) juga berasal dari bacaan-bacaan kedua adiknya yang tadi ia ceritakan.

Pendataan awal buku-buku di Perpustakaan Klub Buku Petra
Januari 2019
dok. Klub Buku Petra

Lalu bagaimana caranya ia mendapatkan buku di tahun 1990-an, ketika belum ada fasilitas pengiriman uang dan jasa pengiriman barang yang cepat seperti sekarang?

“Saya menulis surat. Korespondensi dengan pihak Gramedia. Saat itu, sekali mengirim surat, butuh waktu satu bulan untuk mendapatkan balasan berupa katalog buku-buku terbaru terbitan Gramedia. Setelah itu, saya dan kawan-kawan akan memilih buku mana yang ingin kami pesan. Saya akan mengumpulkan judul buku-buku tersebut lalu saya tulis dengan rapi di kertas dan saya kirimkan kembali ke Gramedia. Uangnya kami kirim melalui wesel pos. Satu atau dua bulan kemudian, buku-buku tersebut telah tiba. Saya dan kawan-kawan akan bergantian membacanya baru setelah itu kami bahas isi buku yang telah kami baca. Itu awal mula saya terbiasa dengan istilah diskusi atau bedah buku, hingga sekarang lebih dikenal dengan bincang buku." ia menjelaskan

Salah Satu Sesi Bincang Buku Klub Buku Petra
dok. Klub Buku Petra

Saat menuliskan ini, sudah ada sekitar 3000 lebih judul buku yang bisa diakses di Perpustakaan Klub Buku Petra. Sebagai admin, saya baru berhasil mendata 2000 judul, di antaranya karya-karya penulis Indonesia dan karya terjemahan, serta beberapa buku non fiksi tentang Sastra. Buku-buku ini dapat dibaca maupun juga dipinjam secara gratis, selama peminjam menetap di kota Ruteng. Cukup foto KTP serta nomor hape yang digunakan untuk berkomunikasi dengan admin, buku sudah bisa dipinjam dan dibawa pulang. Satu buku diberi waktu satu minggu, jika belum sempat menyelesaikannya, peminjam silakan menginformasikan kepada admin untuk meminta tambahan waktu. Beberapa peminjam yang sangat tekun, bahkan menuliskan ulasan dari buku yang telah dibaca, hasil ulasan ini bisa disimak di https://www.bacapetra.co/sekitar-kita/saya-dan-buku/

Saat ini, selain mengelola Perpustakaan Klub Buku Petra, kami akhirnya mengembangkan unit lain yang masih terkait dengan literasi seperti; Bincang Buku bulanan Klub Buku Petra yang telah memasuki bulan kesepuluh, terlibat bersama kawan-kawan Komunitas Kolektif di Ruteng dalam melaksanakan Lapak #LiterasiBergerak di Taman Kota Ruteng setiap hari Jumat dan Sabtu, serta mengelola Bacapetra.co, sebuah laman web yang berfokus pada pengembangan literasi di Nusa Tenggara Timur. Kegiatan-kegiatan ini, selain menggerakan literasi juga dengan sendirinya membuat individu-individu yang terlibat di dalamnya secara tidak langsung membentuk keluarga baru. Keluarga yang literat.

Lapak #LiterasiBergerak di Taman Kota Ruteng
dok. Klub Buku Petra

Melalui gerakan ini, saya dan kawan-kawan sangat berharap bahwa ekosistem literasi demi terwujudnya manusia-manusia yang literat bisa dimulai dari orang-orang terdekat kita. Dari anggota keluarga, kawan-kawan atau siapa saja yang kebetulan kita temui di tengah kesibukan-kesibukan yang kita jalani.

Jika kawan saya memulainya dengan serial cerita silat karena melihat apa yang dilakukan bapaknya setiap hari, kita bisa memulainya di rumah dengan kisah apa saja. Saya akhirnya membuat satu kesimpulan bahwa, mempengaruhi seseorang untuk menyukai sesuatu tidak harus menjelaskannya panjang lebar tentang manfaat atau kerugian yang akan ia dapatkan. Cukup lakukan dan perlihatkan saja terus menerus, dengan sendirinya rasa tertarik itu akan tumbuh.

Untuk melihat kerja literasi yang sejak tadi saya ceritakan, silakan buka halaman Facebook atau Instagram: Klub Buku Petra atau klik tautan: www.bacapetra.co. Kiranya kerja-kerja literasi yang belum seberapa ini, bisa memberi dampak yang baik dan juga menginspirasi kawan-kawan semuanya.

Selamat membaca dan jangan lupa sebarkan hal baik untuk orang-orang di sekitarmu.
Salam Literasi dari Ruteng~

Pertemuan dengan dr. Ronald Susilo di Jakarta. Desember 2018.
dokumentasi pribadi


*Terima kasih untuk kawan saya itu, dr. Ronald Susilo, atas kesempatan berbagi dan juga memutuskan memberi gaji bagi manusia yang bekerja pada bidang yang sungguh-sungguh ia sukai ini. Semoga cerita ini dapat menginspirasi siapa pun.



Ende, 30 September 2019
Maria Pankratia

DRINKING RESPONSIBLY

DRINKING RESPONSIBLY—Stay Sane, Safe, and Sensible!

Sampai jumpa Jumat depan di acara temu wicara dengan sponsor utama Diageo dan berfokus pada isu mengkonsumsi minuman beralkohol secara bertanggungjawab.

Acara edukasional berpadu dengan hiburan musik ini adalah edisi ke-2 setelah sebelumnya diadakan pada pertengahan Februari lalu.

Akan hadir para nara sumber dengan beragam latar belakang:
1. Dendy Borman – Corporate Relation Director Diageo Indonesia
2. Ngurah Arya Wayushantika – District Operations for GO-CAR
3. Sugi Lanus – Founder of Hanacaraka Society
4. Venusia Indah – Music Curator and Creative at Single Fin & The Lawn
5. Brigadir Putu Vindi Mahendra – Dit Pamobvit Polda Bali

Lalu dilanjutkan dengan hiburan musik, menampilkan:
1. DJ Marlowe Bandem
2. Sendawa
3. The Hydrant

15 Mar 2019
Rumah Sanur
18.00-23.00

Ini sekaligus untuk mengenang kepergian karib tercinta kita semua, almarhum Made Indra dan Afi, yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, setahun lalu.

Pasca kejadian memilukan tersebut saya beserta Ewa Wojkowska berjanji untuk menebus kesedihan dengan menyebarkan pemahaman serta kiat-kiat soal minum bertanggungjawab. Menikmati minuman beralkohol seraya selalu mawas diri.

Senang sekali kami berdua bisa menepati janji pada Made serta Afi. Setelah yang kedua ini semoga bisa terus berkeliling berbagi pengetahuan tentang minum bertanggungjawab.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Enjoy alcohol and drink responsibly!

DRINKING RESPONSIBLY

DRINKING RESPONSIBLY—Stay Sane, Safe, and Sensible!

Sampai jumpa Jumat depan di acara temu wicara dengan sponsor utama Diageo dan berfokus pada isu mengkonsumsi minuman beralkohol secara bertanggungjawab.

Acara edukasional berpadu dengan hiburan musik ini adalah edisi ke-2 setelah sebelumnya diadakan pada pertengahan Februari lalu.

Akan hadir para nara sumber dengan beragam latar belakang:
1. Dendy Borman – Corporate Relation Director Diageo Indonesia
2. Ngurah Arya Wayushantika – District Operations for GO-CAR
3. Sugi Lanus – Founder of Hanacaraka Society
4. Venusia Indah – Music Curator and Creative at Single Fin & The Lawn
5. Brigadir Putu Vindi Mahendra – Dit Pamobvit Polda Bali

Lalu dilanjutkan dengan hiburan musik, menampilkan:
1. DJ Marlowe Bandem
2. Sendawa
3. The Hydrant

15 Mar 2019
Rumah Sanur
18.00-23.00

Ini sekaligus untuk mengenang kepergian karib tercinta kita semua, almarhum Made Indra dan Afi, yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, setahun lalu.

Pasca kejadian memilukan tersebut saya beserta Ewa Wojkowska berjanji untuk menebus kesedihan dengan menyebarkan pemahaman serta kiat-kiat soal minum bertanggungjawab. Menikmati minuman beralkohol seraya selalu mawas diri.

Senang sekali kami berdua bisa menepati janji pada Made serta Afi. Setelah yang kedua ini semoga bisa terus berkeliling berbagi pengetahuan tentang minum bertanggungjawab.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Enjoy alcohol and drink responsibly!

LIFE DURING WARTIME

Apocalyptic Swamp Funk. That’s how the New Yorker described this song.

This single, “Life During Wartime”, is from the album Fear of Music—one out of 3 of Talking Heads’ albums produced by Brian Eno.

The video is taken from Stop Making Sense, a music documentary of Talking Heads directed by Jonathan Demme which was shot over the course of three nights at Hollywood’s Pantages Theatre, Los Angeles.

To me, it’s always exciting to see David Byrne & co. performance (via YouTube, have never seen them on stage in real life). And Mr. Byrne will be in Adelaide in November. I’m quite sure I’ll be going!

Photo Credit: billboard.com

Menghidupi Literasi: Susah-Susah Gampang



Dalam rangka kegiatan hari ketiga Gathering Nasional Buku Bagi NTT – 15 April 2018 nanti, kami mengadakan survei ke lokasi Taman Baca Masyarakat (TBM) yang akan menjadi tujuan kunjungan para Relawan Komunitas Buku Bagi NTT.

TBM tersebut bernama Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, berlokasi di Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang.

Dari Kupang, kami berangkat berempat, saya, dua Relawan BBNTT Regional Kupang, Tri dan Neno serta salah satu teman kantor Tri, Mesakh. Kami menggunakan dua motor dan membawa serta satu dos buku untuk adik-adik di Lopo Belajar. Berangkat pukul 11.00 WITA dan sempat nyasar selama kurang lebih lima belas menit karena salah arah hohoho, untung insting bekerja baik sehingga bertanya ulang-ulang pada warga yang lewat. Jalanan menuju Fatule’u barat ini beragam, seperti pulau-pulau di Indonesia. Ada pulau besar, lalu menyusul teluk dan lautan kemudian pulau kecil lalu pulau besar lagi hahaha…






Sekitar tiga puluh menit sebelum tiba ke tempat tujuan, kami bertemu dengan KALI YANG PERTAMA (Kali BUKAN sungai). Kami belum tahu, ada berapa KALI yang harus kami lewati untuk tiba di Desa Poto, berdasarkan info dari kakaknya Neno, ada kurang lebih SEPULUH dengan volume arus yang berbeda-beda. Pada perjalanan berangkat ini, hari masih cerah, memang terlihat awan hitam di kejauhan tetapi kami pikir hujan masih akan tiba nanti malam.

Memasuki Desa setelah KALI yang pertama, kami kehilangan sinyal dan sudah tidak nampak tiang-tiang listrik di sepanjang jalan. Kami mengambil kesimpulan, memang tidak ada sinyal dan listrik di sini, maka kami berjalan sembari tetap bertanya karena kami sendiri belum tahu tujuan kami di mana. Ternyata ada DUA LAGI KALI yang harus kami lewati. KALI YANG KETIGA, airnya mengalir deras di atas jembatan beton yang entah kapan dibangun. Setelah KALI yang ketiga ini, kami bertemu seorang ibu dan pemuda yang sedang mengaso di pinggir kali, kami bertanya lagi. Tempat tujuan kami sudah dekat.

Kali yang KEDUA


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, kami sudah menemukan Kantor Desa Poto dan Lopo Belajar tujuan kami yang berada tepat di sebelahnya. Ada mama-mama yang sedang duduk di situ, kami bertanya lagi. Dari mama-mama ini, kami diarahkan ke rumah Bapak Simon Seffi yang mengelola Lopo Belajar tersebut. Rumahnya tidak jauh, tepat di jalan masuk samping Kantor Desa, berhadapan dengan Puskemas Desa Poto.


Kantor Desa Poto


Tiba di rumah Bapak Simon, beliau ternyata sedang keluar. Kami menunggu sembari melemaskan tubuh dan pikiran dari medan perjalanan yang luar biasa hasoy. Saya mencuri lihat koleksi buku Bapak Guru Simon yang kebetulan sedang berbaris rapi pada rak di depan kamar kosnya. Canggih! Tidak lama kemudian, Pak Simon muncul. Kami saling berjabat tangan, memperkenalkan diri lalu mulai ngobrol. Perlahan keluar, pisang goreng, pisang rebus, ikan goreng hasil pancingan Pak Simon dari laut terdekat dan tentu saja sambal kemangi serta kopi.




Koleksi buku Bapak Simon Seffi


Bapak Guru Simon adalah seorang Guru Matematika asal Amfoang yang ditugaskan di Desa Poto sejak tahun 2015. Jarak Amfoang ke Poto sendiri, kurang lebih masih 80 KM lagi. Bermula dari beliau menemukan fakta bahwa banyak sekali siswa/I di Sekolah Menengah Atas di Desa Poto belum bisa membaca, menulis dan menghitung dengan baik. Beliau kemudian mengadakan riset kecil-kecilan dengan instrumen yang sederhana dan menemukan kenyataan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan Guru-Guru hampir di seluruh sekolah di Kecamatan Fatule’u Barat, baik SD, SMP maupun juga SMA , semuanya sama. Menggunakan kekerasan dan hukuman. Kekerasan dan hukuman ini, menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman kepada siswa/I yang menyebabkan  siswa/I hanya melakukan apa yang diperintahkan Guru. Mereka bersekolah untuk menyenangkan Guru, bukan untuk mendapat ilmu. Belum lagi, tidak ada kegiatan belajar pendukung setelah waktu di sekolah telah selesai, mereka harus membantu orang tuanya bekerja di ladang atau di sawah.



Bapak Guru Simon bekerja sama dengan salah satu tetua adat setempat, membuka sebuah Lopo Belajar yang kemudian diberi nama sesuai dengan nama suku besar setempat. Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomane yang berlokasi di halaman rumah Bapak Tetua Adat. Kurang lebih ada 20 anak yang diasuh oleh Bapak Guru Simon, sebagian besar sudah duduk di kelas lima dan enam. Saat pertama bergabung, anak-anak ini samasekali masih kesulitan membaca. Melalui metode belajar kreatif, anak-anak perlahan termotivasi dan bisa lancar membaca. Kami tidak sempat bertemu anak-anak tersebut, karena di hari Minggu, Lopo Belajar tutup.

Meskipun tutup di hari Minggu, kami tetap mampir melihat-lihat dan mengambil beberapa gambar sebagai dokumentasi. Selain itu, sangat nikmat berjalan kaki dari rumah Bapak Guru Simon ke Lopo Belajar di siang hari tanpa ada suara bising di sana-sini.


Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana




Salah satu hal menggembirakan pada cerita perjalanan ini adalah, mendapat sebuah suguhan menarik dari Bapak Guru Simon Seffi yang ternyata sudah sempat membukukan hasil penelitian beliau tentang kekeliruan metode pembelajaran serta solusi yang bisa beliau tawarkan. Buku tersebut telah dicetak sebanyak dua kali, saat ini beliau tengah berusaha mencari donatur yang mau membantu mencetaknya lagi karena sudah tidak ada stok yang tersisa. Masih ada satu buku saja yang menjadi arsip beliau. Saya sudah sempat membacanya, luar biasa bermanfaat. Harapan saya, Komunitas Buku Bagi NTT bisa membantu memperbanyak buku ini dan membaginya secara gratis ke seluruh Taman Baca di Nusa Tenggara Timur. Judul bukunya: Bermain dengan Sentuhan Personal – Agar Siswa Bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD.

Buku Hasil Penelitian Bapak Guru Simon Seffi

Dalam perjalanan mengasuh anak-anak di Lopo Belajar serta mensosialisasikan metode belajar yang sudah beliau kembangkan dalam bentuk buku, Bapak Guru Simon Seffi tentu juga menghadapi berbagai penolakan dan kecurigaan yang terkadang melemahkan posisi beliau. Beliau pernah mengadakan audiensi dengan Dinas terkait bahkan Bupati Kabupaten Kupang, akan tetapi hingga saat ini, belum ada langkah konkrit yang diambil demi mengatasi permasalahan ini. Para Guru Senior, melihat sepak terjang beliau sebagai bentuk mempermalukan mereka atau sok pintar yang sebaiknya diabaikan saja. Sangat khas NTT!

Jika tidak mengingat waktu dan perjalanan pulang yang masih panjang serta awan hitam yang berarak di langit, kami mungkin tidak beranjak sedikitpun dari kediaman Bapak Guru Simon. Sebagaimana perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, ini adalah perjumpaan luar biasa yang kesekian. Di sebuah Desa di tengah belantara dan pegunungan, ada sosok gemilang yang bertahan dan mencoba peruntungan hidupnya dengan cara yang begitu mulia. Saya seperti di-charge penuh kembali batereinya.



Nasib pakai timer :D




Pukul 16.00 WITA lewat sedikit, kami mohon pamit kembali ke Kupang. Kami sungguh tidak tahu apa yang menanti kami di perjalalan pulang ini hahaha.. Jika pada perjalanan berangkat, kami selalu berhati-hati dan baik-baik saja, maka di perjalanan pulang ini, kami agak ceroboh dan menyedihkan wkwkwkw.

Motor yang ditumpangi saya dan Neno, nyungsep di KALI YANG PERTAMA harus kami lewati, sebelumnya adalah KALI YANG KETIGA pada saat kami datang, yang di mana saya harus turun jika tidak ingin basah kuyup. Kali ini, saking nekatnya dan keasikan ngobrol, Neno menerjang air begitu saja dan alhasil, kami terjebak.

Di tengah perjalanan menuju KALI YANG KEDUA, gerimis mulai turun perlahan yang kemudian menjadi sangat deras. Kami berhasil melewati KALI YANG KEDUA tanpa ada rintangan yang berarti. Dan beberapa meter sebelum mencapai KALI YANG KETIGA, saya melihat ada aliran cokelat yang begitu pekat dari kejauhan. Banjir besar datang dari hulu, jalan terputus dan kami tidak bisa lewat, rupanya sudah ada beberapa orang yang duduk lemas lebih dulu di pinggiran kali bersama kendaraan mereka. Waktu menunjukkan pukul 16.45, pupus sudah harapan kami untuk tiba lebih cepat di Kupang, sementara besok ada audiensi berkaitan dengan Gathering Nasional BBNTT juga yang harus saya hadiri.



Alternatif pertama adalah, menunggu air surut dan kami menyebrang. Sekitar dua jam kami harus menunggu, bisa jadi lebih dari itu. Alternatif kedua, kembali ke rumah Bapak Guru Simon dan menginap, tetapi bagaimana dengan Tri dan Mesakh yang besok pagi-pagi harus bekerja. Lalu, tanpa kami duga, alternatif ketiga itu muncul. Pasukan Profesional Pemuda Fatule’u, Para Pengangkut Motor tangguh dengan biaya yang tidak disangka-sangka, sangat murah. 30.000/motor. Motor diangkut dan kami boleh memilih nyebrang sendiri atau digendong ke sebelah. Alamak! Yang laki-laki memilih yang kedua, saya dan Tri meskipun kami perempuan, kami juga tetap memilih yang kedua. Masih ada sisi lain dari KALI yang cukup dangkal dan bisa kami sebrangi.





Saya menikmati proses memindahkan motor ini dengan hikmat. Sejak awal, ketika mereka mulai turun ke sungai satu per satu untuk mengecek kedalaman air dan deras arus. Lalu, mencari alat bantu berupa kayu yang cukup keras untuk menopang motor sehingga motor tetap stabil saat dipikul dan tidak terasa terlalu berat saat melintasi arus air yang deras. Tips agar kayu tidak ikut berputar dengan roda motor saat dipikul adalah, gigi motor dimasukkan dulu agar roda tetap diam dan kayu bisa menopang kuat, tidak bergerak. Sebuah pengalaman yang cukup ekstrim dan fenomenal tentu saja. Ketika kami berjalan ke sisi lain sungai untuk menyebrang ke sebelah sementara motor telah tiba lebih dulu, kami sungguh tidak menyangka bahwa akhirnya kami bisa kembali ke Kupang hari itu juga.

Video lengkap tentang aksi heroik ini, bisa dilihat di Instagram saya: @maria_pankratia

Setelah selebrasi yang cukup heboh dan alay, hahaha ditonton oleh warga masyarakat yang sedang nongkrong di pinggiran sungai -rupanya ini menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di kala senja hahahaa- kami melanjutkan perjalanan ke Kupang. Di tengah perjalanan, kami diterpa hujan yang lumayan deras sehingga harus dua kali berhenti dan berteduh. Pukul 20.00 WITA lebih atau kurang sedikit, saya lupa, kami akhirnya tiba di Kupang dengan kondisi masih utuh.



Di akhir cerita perjalanan ini, saya hanya mau bilang, Tempat yang kami kunjungi ini hanya dua jam dari Kota Kupang. Tak ada jembatan, tak ada listrik, tak ada sinyal hape kecuali tenaga surya yang tentu saja mengandalkan matahari –belakangan kami dikasitahu oleh isteri Bapak Guru Simon tentang TS ini- Di musim penghujan, mustahil ada nyala lampu neon berpendar. Tetapi orang-orang di tempat ini tetap hidup dan bertahan bahkan sangat kuat dan tegar. Mereka dapat dibilang menjadi sangat profesional saat dibutuhkan seperti di situasi sore kemarin. Lalu, orang-orang seperti saya, kau dan dia masih saja mengeluh ketika siang terlalu panas atau hujan terlampau sering, cemas karena telkomsel terus kirim sms kuota data anda tersisa 498KB saja, kesal karena ditanya kapan kawin #eh nikah #HapaSih hahaha...

Jika demikian, pantas saja kalau banyak orang mudah mati saat ini.

Demikian laporan #BBNTTGATHERINGPREPARATION dari kunjungan ke Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang di hari Minggu, 11 Maret 2018.


Salam Literasi,
Maria Pankratia – Relawan Buku Bagi NTT

PS. Semua dokumentasi dalam perjalanan ini berasal dari Handphone saya dan Tri. ^^