Tag Archives: #EastNusaTenggara

Literasi Keluarga: Dari Kho Ping Hoo hingga Menjelma Klub Buku Petra



#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga #LiterasiBergerak #PerpustakaanKeluarga #PustakaBergerak
*Klik dua kali pada gambar jika kurang jelas


Salah satu sudut koleksi buku di Perpustakaan Klub Buku Petra.
dok. Klub Buku Petra

Ini cerita tentang teman saya, seseorang yang sangat mencintai buku. Saya baru mengenalnya setahun yang lalu, ketika tanpa sengaja kami bertemu di salah satu acara launching buku seorang kawan. Perjumpaan pertama yang terlampau biasa saja, kecuali obrolan terkait karya-karya penulis Indonesia, tidak ada lagi yang istimewa selain itu.

Perjumpaan kedua, ketika kami sama-sama sedang berada di Jakarta. Ia dengan urusannya, saya dengan urusan saya sendiri. Di sela-sela obrolan kami tersebut, ia tiba-tiba menawarkan sesuatu yang tidak saya duga samasekali. Meminta saya kembali ke Flores untuk mengelola perpustakaan.

Saya tercenung, memikirkan semuanya dengan seksama. Saat itu, pikiran dan tujuan saya telah berada di sisi yang lain dari apa yang selama ini saya idam-idamkan. Saya sudah berpasrah pada apa saja yang dikehendaki semesta, termasuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Akan tetapi, mengelola koleksi buku-buku pribadi menjadi perpustakaan yang dapat diakses oleh orang banyak, bersamaan dengan itu saya akan diberi upah yang layak dan menetap di salah satu kota paling dingin di Nusa Tenggara Timur. Tentu ini menggiurkan sekali.

Saya kemudian menanyakan padanya, “apa untungnya mengupah seseorang yang mengelola buku-buku bekas agar bisa dibaca oleh orang lain? Tak ada profit di situ, kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari sana kecuali tagihan yang menumpuk akhir bulan untuk sewa gedung, gaji karyawan, listrik dan sebagainya.”

Jawabannya sungguh di luar dugaan saya yang miskin dan hina dina ini, yang memang selalu melakukan apa pun dengan perhitungan akurat meskipun kemudian selalu mengedapankan perasaan dan berujung pada kekesalan karena merugi.

“Tidak ada keuntungan di sini, Mar. Kita tidak sedang mencari untung. Biarkan saja buku-buku itu yang bekerja dan mendatangkan keuntungan dalam bentuk yang lain. Masalah operasional, tidak perlu kamu pikirkan. Kerjakan saja bagianmu, dan saya akan mengerjakan bagian saya.”

Kunjungan dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kab. Manggarai
dok. Klub Buku Petra

Demikian, saya akhirnya memutuskan kembali ke Nusa Tenggara Timur setelah urusan saya selesai. Perpustakaan itu diberi nama Klub Buku Petra. Beragam buku yang merupakan koleksi kawan saya sejak zaman Sekolah Dasar hingga kini telah menjalani profesinya sebagai seorang Dokter yang juga Pengajar, Direktur Klinik Jiwa dan beberapa pekerjaan lainnya, ada di sana.
Suatu kali, saat kami tengah bersantai, saya membuka sebuah obrolan ringan. Topik ini muncul setelah sekian lama saya simpan demi menantikan kesempatan yang tepat untuk menggali lebih dalam, juga karena saya menemukan kenyataan bahwa di Ruteng tidak ada Toko Buku. Selain itu, pertanyaan yang sama kerap saya dapatkan dari para pembaca dan peminjam buku di Klub Buku Petra, “dari mana asal buku-buku bagus dalam jumlah sebanyak ini?”

Kawan saya ini, yang adalah seorang laki-laki sulung di dalam keluarganya, mengenal kebiasaan membaca sejak masih Sekolah Dasar. Di tahun 1980an, serial cerita silat Kho Ping Hoo beredar secara luas dan dibaca oleh siapa saja. Termasuk bapaknya. Hampir setiap hari, ia mendapati bapaknya menekuni stensilan Kho Ping Hoo di sela-sela pekerjaannya. Melihat itu, kawan saya kemudian bertanya, bolehkah ia ikut membaca serial kartun silat tersebut? Sepertinya menarik sekali sebab bapaknya begitu tenggelam di dalam petualangan-petualangan para pendekar itu.

“Dan bapak mengizinkan saya ikut membacanya. Itu pengalaman pertama saya mengenal bacaan, dan sejak itu saya melahap cerita silat yang beredar di sekitar lingkungan pergaulan saya. Di zaman itu, memang hanya ada cerita-cerita silat seperti Kho Ping Hoo dan Wiro Sableng yang dijual bebas sehingga mudah didapat. Bapak juga mengoleksinya. Hampir setiap hari, jika sudah lelah bermain dengan teman-teman, saya kemudian memutuskan untuk membaca sekaligus mengistirahatkan badan. Biarkan giliran otak yang bekerja. Hehehe…” tutur kawan saya.

Ruang Baca untuk umum - Perpustakaan Klub Buku Petra
dibuka sejak 1 September 2019
dok. Klub Buku Petra

Beranjak remaja, memasuki Sekolah Menengah Pertama hingga akhirnya Sekolah Menengah Atas, kawan saya ini berkenalan dengan lingkungan sekolah asrama yang juga menyediakan perpustakaan dengan buku-buku bermutu. Karya-karya fiksi populer seperti novel dan cerita pendek, dapat ditemukan dengan mudah di sana. Saat itu, karya sastra belum begitu ramai dibicarakan kecuali saat jam pelajaran Bahasa Indonesia saja.

Di sekolah berasrama ini, ia akhirnya bertemu dengan sahabat baiknya yang hampir setiap hari menghabiskan waktu untuk membaca karya-karya sastra. Ajaibnya, meskipun hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membaca novel, kumpulan cerpen, atau puisi, nilai ulangan/ujiannya tak pernah buruk. Melihat ini, kawan saya berpikir bahwa jika banyak membaca maka kita dengan sendirinya akan menjadi pandai dan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan saat ujian. Apa pun bacaannya. Ia pun minta dikenalkan kepada bacaan-bacaan sastra tersebut. Namun demikian, tiga bulan setelah itu, ia akhirnya membuktikan bahwa bacaan memang membuat kita terbuka pada hal-hal baru tetapi tidak seketika menjadikan kita mampu mengerjakan soal-soal ujian dengan mudah seperti yang ia harapkan sebelumnya. Sahabat baiknya itu yang memang jenius dan pandai mengatur waktu.

Meskipun demikian, kawan saya ini sudah telanjur jatuh cinta pada sastra. Pada karya-karya penulis dan sastrawan Indonesia yang terkadang membikin lupa waktu dan menghantarkan imajinasinya berkelana ke mana suka. Ia akhirnya terus membaca sastra hingga kini memiliki hampir 2000 judul buku, baik yang ditulis oleh penulis Indonesia maupun terjemahan.

“Saya ingat dulu, kalau pulang libur ke rumah. Setiap selesai makan, saya dan kedua adik saya akan berkumpul dalam satu kamar lalu mengeluarkan koleksi masing-masing. Biasanya kami akan terheran-heran melihat koleksi satu sama lain, sebab anak-anak yang bersekolah di sekolah umum ternyata memiliki selera bacaan yang berbeda dengan anak-anak yang bersekolah di asrama seperti kami (baca: seminari). Mereka akan melemparkan pertanyaan seperti ini, hih baca buku apa kalian ini? bikin kepala sakit saja. Hahaha tetapi justru di situ saya melihat perbedaan selera kami mejadi menarik. Kami saling melengkapi satu sama lain. Saya suka novel-novel Ayu Utami, Putu Wijaya, Remy Sylado dan lain-lain, adik perempuan saya menyukai kisah-kisah populer khas anak muda seperti Teenlit, Metropop, Harlequin, dan sejenisnya, sementara adik laki-laki yang paling bungsu masih betah menikmati Kungfu Boy, Detektif Conan, Slam Dunk dan lain-lain.” tutur kawan saya

Apa yang diceritakan kawan saya ini, saya buktikan ketika pertama kali membongkar koleksi buku-bukunya. Saat itu saya sedang dalam proses mendata semua judul buku yang ada agar bisa diakses oleh para peminjam. Saya sempat penasaran, ada berapa tahapan yang sebenarnya kawan saya ini lalui sehingga hampir semua genre bisa terjebak di dalam ruangan tersebut? Saya pikir dua puluh tahun bukanlah waktu yang terlalu lama. Saya bandingkan dengan diri sendiri, yang kurang lebih membutuhkan tiga hingga empat tahun untuk berpindah dari bacaan ringan seperti masalah percintaan, menuju bacaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran seperti novel-novel dengan perpaduan filsafat, ilmiah atau psikologi. Rupanya koleksi yang mencapai 3000 judul tersebut (tambah 1000 dari sebelumnya) juga berasal dari bacaan-bacaan kedua adiknya yang tadi ia ceritakan.

Pendataan awal buku-buku di Perpustakaan Klub Buku Petra
Januari 2019
dok. Klub Buku Petra

Lalu bagaimana caranya ia mendapatkan buku di tahun 1990-an, ketika belum ada fasilitas pengiriman uang dan jasa pengiriman barang yang cepat seperti sekarang?

“Saya menulis surat. Korespondensi dengan pihak Gramedia. Saat itu, sekali mengirim surat, butuh waktu satu bulan untuk mendapatkan balasan berupa katalog buku-buku terbaru terbitan Gramedia. Setelah itu, saya dan kawan-kawan akan memilih buku mana yang ingin kami pesan. Saya akan mengumpulkan judul buku-buku tersebut lalu saya tulis dengan rapi di kertas dan saya kirimkan kembali ke Gramedia. Uangnya kami kirim melalui wesel pos. Satu atau dua bulan kemudian, buku-buku tersebut telah tiba. Saya dan kawan-kawan akan bergantian membacanya baru setelah itu kami bahas isi buku yang telah kami baca. Itu awal mula saya terbiasa dengan istilah diskusi atau bedah buku, hingga sekarang lebih dikenal dengan bincang buku." ia menjelaskan

Salah Satu Sesi Bincang Buku Klub Buku Petra
dok. Klub Buku Petra

Saat menuliskan ini, sudah ada sekitar 3000 lebih judul buku yang bisa diakses di Perpustakaan Klub Buku Petra. Sebagai admin, saya baru berhasil mendata 2000 judul, di antaranya karya-karya penulis Indonesia dan karya terjemahan, serta beberapa buku non fiksi tentang Sastra. Buku-buku ini dapat dibaca maupun juga dipinjam secara gratis, selama peminjam menetap di kota Ruteng. Cukup foto KTP serta nomor hape yang digunakan untuk berkomunikasi dengan admin, buku sudah bisa dipinjam dan dibawa pulang. Satu buku diberi waktu satu minggu, jika belum sempat menyelesaikannya, peminjam silakan menginformasikan kepada admin untuk meminta tambahan waktu. Beberapa peminjam yang sangat tekun, bahkan menuliskan ulasan dari buku yang telah dibaca, hasil ulasan ini bisa disimak di https://www.bacapetra.co/sekitar-kita/saya-dan-buku/

Saat ini, selain mengelola Perpustakaan Klub Buku Petra, kami akhirnya mengembangkan unit lain yang masih terkait dengan literasi seperti; Bincang Buku bulanan Klub Buku Petra yang telah memasuki bulan kesepuluh, terlibat bersama kawan-kawan Komunitas Kolektif di Ruteng dalam melaksanakan Lapak #LiterasiBergerak di Taman Kota Ruteng setiap hari Jumat dan Sabtu, serta mengelola Bacapetra.co, sebuah laman web yang berfokus pada pengembangan literasi di Nusa Tenggara Timur. Kegiatan-kegiatan ini, selain menggerakan literasi juga dengan sendirinya membuat individu-individu yang terlibat di dalamnya secara tidak langsung membentuk keluarga baru. Keluarga yang literat.

Lapak #LiterasiBergerak di Taman Kota Ruteng
dok. Klub Buku Petra

Melalui gerakan ini, saya dan kawan-kawan sangat berharap bahwa ekosistem literasi demi terwujudnya manusia-manusia yang literat bisa dimulai dari orang-orang terdekat kita. Dari anggota keluarga, kawan-kawan atau siapa saja yang kebetulan kita temui di tengah kesibukan-kesibukan yang kita jalani.

Jika kawan saya memulainya dengan serial cerita silat karena melihat apa yang dilakukan bapaknya setiap hari, kita bisa memulainya di rumah dengan kisah apa saja. Saya akhirnya membuat satu kesimpulan bahwa, mempengaruhi seseorang untuk menyukai sesuatu tidak harus menjelaskannya panjang lebar tentang manfaat atau kerugian yang akan ia dapatkan. Cukup lakukan dan perlihatkan saja terus menerus, dengan sendirinya rasa tertarik itu akan tumbuh.

Untuk melihat kerja literasi yang sejak tadi saya ceritakan, silakan buka halaman Facebook atau Instagram: Klub Buku Petra atau klik tautan: www.bacapetra.co. Kiranya kerja-kerja literasi yang belum seberapa ini, bisa memberi dampak yang baik dan juga menginspirasi kawan-kawan semuanya.

Selamat membaca dan jangan lupa sebarkan hal baik untuk orang-orang di sekitarmu.
Salam Literasi dari Ruteng~

Pertemuan dengan dr. Ronald Susilo di Jakarta. Desember 2018.
dokumentasi pribadi


*Terima kasih untuk kawan saya itu, dr. Ronald Susilo, atas kesempatan berbagi dan juga memutuskan memberi gaji bagi manusia yang bekerja pada bidang yang sungguh-sungguh ia sukai ini. Semoga cerita ini dapat menginspirasi siapa pun.



Ende, 30 September 2019
Maria Pankratia

Setiap Hari adalah Perayaan



Kemarin, saya akhirnya diingatkan kembali. Terkadang dalam 365 hari, ada hari-hari tertentu yang memang harus dilalui dengan hal-hal yang kurang beruntung atau gagal sepenuhnya, atau tidak sesuai harapan sebab waktunya belum tepat. Atau memang hari tersebut dikhususkan untuk belajar bersabar dan mengikhlaskan semua yang tertunda. Beristirahat sajalah.

Maka dari itu, sudah sepantasnya, setiap hari memiliki perayaannya masing-masing.

Termasuk, Perayaan Kesedihan. Perayaan Kegagalan. Perayaan Tak Tepat Waktu.

Sepanjang hari kemarin, hujan tak kunjung reda. Cuaca yang melankolis ini sejalan dengan –tidak biasanya- hari yang tanpa rencana, dan segala urusan yang asal muncul di kepala tetapi seperti tak sesuai pada tempatnya.

Hari masih pagi, ketika mendapat pesan yang kurang menyenangkan akbiat peristiwa di hari sebelumnya. Dilanjutkan obrolan di telfon yang juga cukup mengintimidasi. Tarik nafas, hembuskan.

Laundry yang sudah tiba waktunya diambil, akan tetapi belum selesai disetrika sebab sehari sebelumnya listrik padam hampir di seluruh kota Ruteng sepanjang hari.

Paket yang katanya dalam perjalanan diantar ke alamat, tetapi rupanya dibawa pulang kembali ke kantor sebab kurirnya kehujanan.

Belanja yang terpaksa ditunda karena lupa membawa kartu anggota -kan sayang poinnya-

Gorengan bakwan favorit plus cabe ijo –yang dipikir bisa mengurangi gundah gulana- yang kebetulan sekali tidak dibuat adonannya, hanya ada kawan-kawannya seperti tahu, tempe dan pisang goreng. Damn.

Kehujanan sepanjang perjalanan pulang, dan karena sudah habis stok baju bersih, terpaksa mengenakan baju hari sebelumnya.

Cat kamar yang belum kering sempurna oleh karena dinding yang lembab diakibatkan cuaca yang yah gini-gini aja, mau tak mau harus mengungsi dulu.

Untungnya, ada pelipur lara, penemuan baru salome di depan SD Ruteng 5, yang entah mengapa "enak benar dimakan hujan-hujan tetapi gak boleh banyak-banyak daripada penyakit."

Itu kejadian seharian kemarin.

***
Dan hari ini, semua seperti sempurna –meskipun ada beberapa yang menjanjikan hal-hal tetapi tidak ditepati, wew-

Sederet list to do yang dibuat sejak semalam berjalan lancar, termasuk laundry yang sudah selesai, dua paket yang telah tiba dan semuanya diambil ke kantor jasa pengiriman, pekerjaan yang bisa diselesaikan tepat waktu dan peminjam buku yang antusias. 

Bahkan ada waktu lebih untuk melakukan tugas tambahan, lalu bersantai.

Dan tanpa sengaja bertemu manusia asal spanyol yang –mungkin- belum paham bahwa #ValentineBukanBudayaKita budaya kita di Flores, tak akan ada yang datang dan menanyaimu “mau makan apa” di warung-warung tertentu. Kau harus teriak, dan kasitahu apa yang kau mau makan, meskipun nanti kau bayar."

Wkwkwkw kami menertawakan “hal ini” bersama-sama.

Yang terakhir, termasuk menerobos masuk gerbang kompiang 5 jaya demi buah tangan bagi orang rumah yang jaraknya ratusan kilometer harus ditempuh besok, seharian.

Demikian. semuanya hanya harus dijalani dengan iklhas, lalu disyukuri.

Selamat Hari Kasih Sayang, Kripik Pisang Idolak!


Ruteng, 14 Februari 2019


Perantau asal Manggarai yang berangkat kerja pada pagi hari. (14/02/19) dok. pribadi


Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. III. habis]





Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Ende. Dok. Pribadi

*Catatan cukup penting: Jika tampilan gambar di artikel ini kurang jelas, silakan klik dua kali.

Akhir tahun ini, saya menghabiskan waktu di Ibu Kota, Jakarta. Sebut saja, ini perjalanan menguji kemampuan diri, menakar kualitas, baik secara akademis maupun juga sebagai manusia yang tak pernah luput dari kekurangan.

Saya bertemu banyak orang, yang entah mengapa, mereka adalah orang-orang baik dan memberi kesan dengan caranya masing-masing.

Perjalanan ini berawal dari sebuah antusiasme yang percayalah, saya sendiri tidak tahu datang dari mana sebenarnya.

Pagi itu, saya sedang bermalas-malasan di kasur kos Nana Haibara sebab tak punya kesibukan apa pun. Pengangguran total. Mengecek beberapa notifikasi di Grup What’s App, saya akhirnya menemukan pengumuman Tes CPNS pada beberapa Kementrian di Republik Indonesia tercinta ini dari Grup Bali Blogger Community. Pengumuman itu dibagikan oleh seorang teman Blog yang cukup tersohor di kancah nasional, maka saya pastikan bukan hoax.

Ada pada daftar teratas, lowongan CPNS dari Kementrian BUMN. Saya iseng membuka dan menelusuri kebutuhan formasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, Sarjana Ilmu Komunikasi. Mereka membutuhkan (3) Tiga Analis Publikasi. Cukup menyesakkan tetapi kesempatan ini perlu dicoba. 

Alasan lain, yang membuat saya akhirnya memutuskan mengikuti seluruh proses tes cpns ini, selain untuk mencoba peruntungan dan menakar diri seperti yang saya sebutkan di paragraf awal, saya percaya sistem perekrutan CPNS di rezim ini, tak lagi dibumbui hal-hal berbau Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme sebagaimana di tahun-tahun lawas. Ketika, tidak semua orang bisa memiliki mimpi dan harapan yang sama jika bukan berasal dari keluarga mampu atau memiliki garis keturunan orang penting alias pejabat. Lagipula, syaratnya tak ribet seperti yang sudah-sudah dan yang pernah saya bayangkan. Semuanya bisa dilakukan secara online dari bilik bambu nan sendu.

Saat itu, saya masih berada di Kupang, saya harus ke Ende untuk mengurus kembali KTP dan Kartu Keluarga yang blunder sebelumnya. Jika kamu ingin tahu cerita mirisnya, bisa baca bagian I di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian I] dan lanjutan bagian II di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian II]

Dari Kupang ke Ende, saya berhutang kebaikan pada beberapa kawan, sebab isi rekening sangat memprihatinkan. Beberapa hal yang patut saya syukuri dan masih membuat saya tercengang hingga saat ini adalah, semuanya berjalan sangat lancar dan tanpa hambatan, bantuan seperti datang dari berbagai penjuru.

E-KTP yang saya nanti-nantikan selama enam tahun, ternyata sudah lama menginap di Kantor Lurah Paupire bersama kartu tanda penduduk milik warga kelurahan yang lain, yang mungkin ketika ke Kantor Dispenduk untuk memeriksa, tidak mendapatkan informasi yang memadai atau dikatakan belum jadi, lalu memutuskan menunggu lagi dan tidak mau membuang-buang waktu mencari yang belum tentu ada di Kantor Kelurahan. Saya dibantu Bibi saya, istri dari Om, adik Ibu saya, yang kebetulan bekerja di Kantor Lurah Paupire (saya tidak menduganya, pernah mendapatkan cerita ini dari Ibu, tetapi kemudian saya lupa). 

KTP AKOHHH...

Kami mencarinya bersama-sama, satu demi satu di antara tumpukan ktp-ktp lain yang sebagian kondisinya mulai mengenaskan, seperti sebagian plastiknya terkelupas, saking lamanya dibiarkan di sana. Beberapa nama di ktp-ktp tersebut saya kenal baik, mereka adalah tetangga, kakak kelas dan adik kandung, anak ketiga dari ibu dan bapak saya. Yassss… hahahahahaha… 

KTP dengan foto dekil saya di zaman semester awal di Undiknas Denpasar tersebut, masih menampilkan status saya sebagai Mahasiswa dengan masa berlaku hanya sampai pada hari ulang tahun saya di tahun ini. HellTheWhat. (Di kemudian hari, ketika saya mengurus Kartu Keluarga di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, saya mengkonsultasikan hal ini. Petugas kemudian meminta saya membaca poin Undang-Undang yang ditempelkan di pintu masuk ruangan, isinya seperti pada gambar di bawah ini).


Lihat Poin 02

Selanjutnya mengurus Kartu Keluarga.

Kartu Keluarga saya, di awal tahun 2018 kemarin, direvisi oleh adik saya demi beberapa urusan. Ketika Kartu Baru tersebut tercetak, nama saya sebagai anak pertama telah hilang. Setelah saya mendatangi lagi Kantor Dispenduk Kabupaten Ende beberapa waktu lalu, ternyata terjadi pendobelan NIK akibat perekaman yang saya lakukan sebanyak dua kali sejak tahun 2012. Maka, mau tak mau, status masih menjadi anak pertama dari kedua orang tua saya harus segera dikembalikan kepada tempatnya.

Nah, pertemuan tak sengaja dengan Bibi saya yang bekerja di Kantor Lurah Paupire tadi, sebenarnya berawal dari kedatangan saya ke kantor untuk meminta tanda tangan Lurah pada formulir pengajuan kartu keluarga yang telah saya lengkapi. Pada akhirnya formulir tersebut tidak digunakan oleh petugas, sebab itu hanya digunakan saat mengurus Kartu Keluarga baru, bukan untuk revisi. Perbincangan tentang KTP muncul secara tidak sengaja, yang kemudian berakhir pada penemuan kartu tanda penduduk saya dan adik saya yang telah lama mendekam di sana.

Saya ingat, saya memasang alarm pukul 05.30 pada pagi hari Jumat 28 September 2018. Bangun lalu berangkat ke Kantor Dispenduk untuk mencatat nama demi mendapatkan nomor antrian teratas, supaya bisa mendapatkan kesempatan tercepat mengubah kartu keluarga tersebut. Saya mendapat nomor antrian (5) Lima. 




Setelah mencatat nama, saya kembali ke rumah untuk tidur lagi, sejam, lalu bangun dan bersiap-siap berangkat lagi ke Kantor Dispenduk. Operasional dimulai Pukul 08.00 pagi, yang yeah birokrasi di mana-mana, hanya judulnya saja jam delapan. Pukul 09 lewat 15 menit baru nomor antrian pertama masuk. Belum lagi, hanya antrian 1-5 yang boleh masuk dan menunggu di dalam ruangan, sisanya silakan menadah panas atau meminta belas kasihan dari ranting dan dedauan pohon mangga di depan ruangan. Saat tiba di dalam ruangan, pendingin ruangan seolah tak berfungsi, hampir semua petugas memasang wajah seperti ingin membunuh. Ha-da-pi dengan senyuman. Demikian.

Sekalian rujakan, enak kali yakh..hihihi

Sialnya, saya tidak memeriksa sebelumnya, bahwa selain nama saya yang harus dimunculkan kembali, status pendidikan akhir saya juga harus diperbaharui. Saya bukan lagi mahasiswi. Saya lupa membawa fotokopi Ijazah. Duh berabe! Petugas Dispenduk yang saat itu membantu, menanyakan kepada saya, apakah akan tetap dicetak tanpa mengubah status pendidikan? Saya tidak diperbolehkan mencetak ulang kartu keluarga hingga tahun depan (2019). Ia menatap saya dengan tajam dan memastikan bahwa saya tidak boleh mengubah pendirian lagi. Dengan sedikit gugup, saya berpikir cepat, karena untuk tes CPNS hanya dibutuhkan nomor kartu keluarga/NIK kepala keluarga, maka saya menjawab dengan tidak masalah, silakan dicetak saja sesuai keterangan yang ada.

Nomor Antrean akohhhh

 Saya pulang ke rumah dengan isi kepala yang penuh, penuh dengan kemungkinan ini dan itu. Saya tidak ingin hanya karena kesalahan yang sepele, tujuan yang cukup besar dan langka untuk terjadi pada saya ini, malah jadi berantakan.

Sore hari, setelah mengajukan cetak ulang kartu keluarga tersebut, saya ke sekolah. Maksud saya, Almamater. SMAK Syuradikara Ende menyelenggarakan Reuni Akbar dalam rangka Ulang Tahun Sekolah yang ke-65. Di tengah keramaian dan basa-basi antara para alumni, saya bertemu dengan K Norman Soludale, salah satu anggota Syuradikara Bali Community. Saat itu, K Norman tengah asik ngobrol bersama kawan-kawan angkatannya.

Saya kemudian dikenalkan kepada dua orang yang paling dekat, salah satunya sungguh tidak asing di ingatan saya. Namanya K Detty Paul. Rupanya, kaka nona adalah Petugas di Kantor Dispenduk yang pagi tadi membantu saya mengurus cetak ulang Kartu Keluarga. Awalnya, kaka nona sempat berkelit bahwa mungkin saya salah orang, barangkali kakaknya ingin mengerjai saya atau bisa jadi tak ingin terbebani (sensitif kan gue hihi). Akan tetapi, saya sulit melupakan wajah orang. Lupa nama, sering. Pada akhirnya kaka nona mengakui dan kami terlibat obrolan panjang.

Pulang dari acara reuni tersebut, saya mengecek isi kertas keterangan pengambilan cetak ulang kartu keluarga yang diberikan petugas siang tadi. Masih tujuh hari lagi, saya baru boleh mengambil hasil cetak ulang. Masih banyak waktu. Karena hari itu, hari Jumat, saya harus menunggu hingga hari Senin, jika ingin membawa fotokopi ijazah untuk mengajukan tambahan perubahan.

Saya menanti Senin dengan berdebar-debar, saya bukan tipe yang bisa memanfaatkan relasi dengan mudahnya, apa lagi baru pernah bertemu dua kali. Tetapi, saya ingin tetap mencobanya, dengan asumsi proses pencetakan ulang belum berlangsung karena setelah hari jumat, dua hari berikutnya bukan hari kerja efektif. Berkas saya pasti masih dalam antrian. Jika pun permohonan tambahan perubahan ini tidak diterima, hal terburuk yang akan saya hadapi adalah amukan petugas dan diusir keluar ruangan. Gak sampai bikin mampus, malu dikit ajah. Gak papalah.

Senin pagi 01 Oktober 2018, pukul 08.00 wita, saya kembali ke kantor Dispenduk. Setelah mengumpulkan keberanian, saya nekat masuk ke dalam ruangan sembari membawa fotokopi ijazah di tangan. Saya mengamati situasi dari bangku depan, mencoba memperhitungkan beberapa hal, menunggu peluang untuk langsung ke meja K Detty. Saya sempat ditanyakan oleh petugas lain yang ada di situ, apakah sudah mengambil nomor antrian? Jika belum, silakan datang lagi besok dengan prosedur yang sama yang telah saya lalui pada hari Jumat kemarin. Tentu saja, itu akan memakan waktu yang sangat lama, padahal urusan saya tersisa menyerahkan fotokopi ijazah terakhir ini.

Suasana pagi hari nan cerah ceria di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, yeah...

Peluang tersebut muncul sekitar lima belas menit kemudian, setelah giliran konsultasi seorang ibu, saya melangkah cepat ke depan meja K Detty. Kami tidak sempat berbasa-basi, entahlah barangkali sudah demikian karakter beliau. Masih tetap profesional, kaka nona menanyakan apa keperluan saya. Saya menjelaskan secara singkat padat dan jelas, sempat K Detty menanyakan berkas-berkas saya yang lain, yang saya jawab dengan menunjukkan kertas keterangan pengambilan yang ia berikan pada hari Jumat yang lalu. Tak butuh waktu lama, ia mengecek beberapa hal, meminta fotokopi ijazah terakhir saya dan selesai. Saya dipersilakan datang mengambil kartu keluarga yang telah direvisi, sesuai jadwal pengambilan yang telah diinformasikan sebelumnya. 

Dengan demikian proses melamar PNS Kementrian BUMN sesuai rencana saya, bisa dimulai.

Berat bukan jadi orang Ende, yang di tahun 2018-2019 ini, kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipilnya masih memakai gaya konvensional dalam melayani masyarakat banyak. Padahal, boleh dikatakan, lembaga ini adalah jantung dari kehidupan masyarakat sipil. Hari-hari ini, bagaimana kau bisa hidup tanpa indentitas dan dokumen-dokumen pendukung? Bagaimana eksistensi dan kelancaran urusanmu dapat terjamin dari kantor dengan ruang tunggunya seperti LAPAK PASAR INPRES MBONGAWANI?! S E R I U S !!!

***

Ikuti terus cerita perjalanan akhir tahun saya di Blog ini! Saya berniat menyicil cerita-cerita saya, pelan-pelan dari sekarang….

Doakan yah~

Padang Kaca dan Hutan Hujan Tropis di Tiwu Sora




(sebuah upaya menelusuri dan menulis kembali - catatan perjalanan)



Landscape Tiwu Sora - Dok: Eddieson Djea

Ratusan tahun yang lalu, pada lempengan bumi kesekian yang membentang di planet ini, terjadi sebuah pergerakan maha dahsyat sehingga membentuk sebuah genangan maha luas yang kini dikenal oleh penduduk sekitar dan orang-orang yang pernah berkunjung ke sana sebagai Tiwu Sora.

Mereka kemudian menghidupi kehadiran danau tersebut dengan sebuah legenda yang tersebar luas, persis seperti nama danau itu dikenal sekarang, Tiwu Sora.


Legenda Tiwu Sora

Alkisah, hiduplah seorang lelaki bernama Sora yang mengelola ladang di dekat sungai bernama Kali Lado. Suatu ketika, ia menemukan rumpun talas yang ia tanam susah payah di dekat tebing sungai diporak-porandakan oleh binatang yang jejaknya tidak bisa terdeteksi. Ia kemudian memasang perangkap untuk menjebak sang pelaku. Di luar dugaan, kekacauan itu ternyata disebabkan oleh seekor belut raksasa yang entah dari mana datangnya.

Singkat cerita, belut tersebut ia bawa pulang dan diikat di tengah kampung. Bersama keluarga dan orang-orang kampungnya mereka mengadakan perayaan syukur berhari-hari dalam bentuk tarian gawi sodha. Perayaan ini sekaligus menjadi olok-olokan para manusia kepada hewan yang berhasil mereka tangkap. Belut itu ditempatkan di tengah lingkaran, dipajang dan ditertawakan. Tanpa mereka sadari, tindakan ini justru mencelakakan seluruh kampung hingga akhirnya tenggelam dan kampung tersebut menjelma danau.

Sebagian penduduk saat itu berusaha melarikan diri di tengah kekacauan. Akan tetapi ada kutukan yang bekerja, siapa yang melarikan diri dan masih berpaling ke belakang, seketika itu juga akan berubah menjadi batu. 

Maka dari itu, tak jauh dari danau, kita akan menemukan sebuah batu berbentuk tubuh seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Konon, batu tersebut satu-satunya yang masih tersisa dari peristiwa yang menenggelamkan kampung Sora itu, dan masih bisa kita temukan hingga hari ini.

Agar tidak kebingungan, saya menyarankan, sebaiknya kalian berkunjung ke sisi lain dari dasvitkonazone, sebelum lanjut membaca isi artikel ini hingga selesai. 

Sebuah legenda telah ditulis ulang untuk dipersembahkan ke hadapan kalian: TIWU SORA


Pengembangan Pariwisata

Kisah yang perlahan menghilang di tengah masyarakat ini, coba dihidupkan kembali oleh Pemerintah Kabupaten Ende melalui Program Pengembangan Pariwisata yang telah dimulai dengan perbaikan jalur infrastruktur dari Nduaria menuju Kotabaru. 

Hal ini disampaikan oleh Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Ende, Marselinus Y. W. Petu bersama wakil Bupati Drs. H. Djafar H. Achmad, MM, pada dialog interaktif dengan Radio Republik Indonesia (RRI) Ende tanggal 10 Oktober 2017 yang lalu, setelah melakukan kunjungan kerja ke Desa Tiwu Sora. 

Kalian bisa main-main ke situs resmi PEMKAB ENDE yang memuat berita lengkap tentang perbincangan ini: DANAU TIWUSORA JADI DESTINASI PARIWISATA BARU

Danau Sora atau Tiwu Sora dalam bahasa Indonesia adalah sebuah danau yang terletak tidak jauh (-/+ 500Meter) dari puncak tertinggi Kabupaten Ende. Danau ini masuk dalam wilayah administrasi Desa Tiwu Sora. Merupakan salah satu desa dari Empat Belas Desa dan Kelurahan yang berada di Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.


Cerita Masa Kecil

Saya mendengar nama Tiwu Sora sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dan selalu diiming-imingi ibu untuk ke sana bersama-sama, suatu saat nanti. Hm....

Saat itu, Ibu saya yang masih merupakan Guru SD aktif yang tengah bersemangat menggali kembali cerita-cerita rakyat yang beredar di masyarakat secara turun temurun. 

Sebagai orang Lio yang leluhurnya ditanam di puncak Kelisoke, dekat dengan Tiwu Sora, Legenda Tiwu Sora barangkali telah menjadi santapan menarik anak-anak di kalangan kami sejak bumi dijadikan *cukup berlebihan saya yah #eh

Sekali waktu, saya diajak ibu untuk menemani beliau mengunjungi salah satu kerabat kami yang diyakini mengetahui dan menghafal dengan baik Legenda Tiwu Sora tersebut. 

Masih lekat di ingatan saya, anak dari kerabat itu, adalah kawan seangkatan saya di Sekolah Menengah Atas. Rumah mereka berada di perkampungan Onekore (dulu sampai sekarang dikenal dengan Kelurahan Onekore). Maka dari itu, ketika ibu sibuk mendengarkan tuturan dari sang kerabat, saya sibuk bermain bersama anaknya hingga kelelahan, dan ibu tiba-tiba sudah mengajak pulang. Saya mendengarkan perbincangan mereka secara sambil lalu sebab asik bermain.

Perbincangan tersebut yang saya pikir sudah lama sekali tersimpan di kepala, dan mulai bercampur dengan memori-memori yang lain. Beberapa minggu yang lalu, saya meminta Ibu menceritakan ulang kepada saya. Sayang sekali, ingatan beliau sudah tidak sebaik dulu. 

Selain itu, menurut beliau, ada kisah lain yang jauh lebih kompleks dan mengandung sejarah yang panjang sehingga memerlukan waktu khusus untuk berkunjung mendengarkan penuturan orang-orang tua (kisah tersebut telah coba ibu tuliskan kembali, 12 halaman panjangnya, saya perlu mengkonfirmasi semuanya kembali tentu saja, semoga ada kesempatan bagi saya untuk melakukan penelusuran dan mempublikasinya suatu saat nanti).


Menulis Ulang

Saya kemudian teringat seorang kawan saya di Facebook, yang adalah seorang Pastor Paroki di sebuah desa yang tak jauh dari Tiwu Sora. 

Pastor tersebut kemudian membantu saya mendapatkan teks Legenda Tiwu Sora dalam bahasa Indonesia, maupun juga dalam bahasa lio, bonus file pdf cerita bersambung Tiwu Sora yang dimuat di Majalah Anak Kunang-kunang sejak Januari-Mei 2018. 

Beliau ternyata adalah seorang Peneliti. Berbekal teks tersebut, saya menuliskannya kembali dengan sedikit tambahan pada bagian tertentu, biar lebih dramatis gitu. Demikian kisah tersebut telah saya unggah juga di blog ini, cerita itu yang saya anjurkan untuk dibaca kawan-kawan sebelum meneruskan membaca tulisan ini. Semoga sudah dilaksanakan yah. *tosss

Tiwu Sora. Dok: Eddieson Djea

Untuk menikmati pemandangan Tiwu Sora yang luar biasa seperti di atas, bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Saya sendiri beberapa kali batal melakukan perjalanan karena berbagai pertimbangan, akan tetapi saya tetap ingin menulisnya, sebab saya pikir ini sangat penting. 

Sebelum semakin lama cerita ini semakin menghilang, dan Tiwu Sora hanya akan didatangi oleh petualang-petualang dan penjelajah-penjelajah dari luar, sementara orang-orang yang menempati pulau ini (termasuk diri saya sendiri) tidak mengenali petak tanah juga keajaiban yang dihadirkan Tuhan di depan matanya. 


Para Penjelajah

Untuk menghadirkan pengalaman berkunjung ke Tiwu Sora, saya melakukan blog walking ke beberapa situs yang muncul di mesin pencarian, dan mewawancarai salah satu pemilik blog tersebut. 

Ternyata, sudah lumayan banyak pengunjung yang mendatangi Tiwu Sora. Baik itu yang berasal dari daratan Flores, maupun para petualang nekat, dari dalam atau pun luar negeri.

Saya juga bertemu beberapa kawan yang pernah berjibaku melewati medan sulit menuju Tiwu Sora, dan meminta mereka menceritakan pengalaman perjalanannya.

Perjalanan menuju Tiwu Sora dapat dijangkau melalui dua jalur, dari Kecamatan Kotabaru yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sikka, atau dari Desa Deturia yang lebih dekat dengan Kota Ende. 

Berdasarkan pengalaman kawan-kawan, perjalanan sebaiknya dilakukan sepanjang bulan Maret – September. Pada bulan-bulan dimaksud, cuaca sangat mendukung, apa lagi saat bulan Maret ketika musim hujan baru saja selesai, padang rumput yang terhampar di sepanjang perjalanan sedang hijau segar memanjakan mata. 

Padang Sabana menuju Tiwu Sora. Dok: Melinda Suwandi

Selain sabana luas dengan hewan-hewan yang merumput bebas, terdapat air terjun Muru Mera yang mengalir deras di pinggir jalan saat kita melewati Desa Ratenggoji, salah satu desa yang juga akan dilewati dalam perjalanan menuju Tiwu Sora. Dinamakan Muru Mera, karena tebing tempat air mengalir berwarna merah/orange. 



Air Terjun Muru Mera di Desa Ratenggoji. Dok: Eddieson Djea

Ada satu kebiasaan masyarakat setempat yang cukup menarik, kuda dan sapi dilepas bebas di padang rumput, menjelang sore, para gembala akan datang menghampiri, mengumpulkan mereka dengan cara mengocok botol berisi garam sebagai seruan untuk pulang kembali ke kandang.

Sapi-Sapi di Padang sepanjang perjalanan menuju Tiwu Sora. Dok: Melinda Suwandi

Jika kita melakukan perjalanan melalui jalur Deturia, sebuah desa yang juga termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kotabaru, kita akan menghabiskan waktu kurang lebih dua jam dari Kota Ende melewati jalanan yang kondisinya sudah lumayan lebih baik. 

Meskipun di beberapa titik masih berpasir dan berkerikil. Belum lagi tikungan tajam yang menuntut kita harus terus berhati-hati. 

Dari Deturia kita membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam melewati padang rumput, hutan dan ladang penduduk menuju Danau-Tiwu Sora. Perjalanan ini, sebaiknya ditemani oleh penunjuk jalan (Local Guide) jika tak ingin menghabiskan waktu berputar-putar bagaikan bumi pada porosnya, terjatuh dan tak bisa bangkit lagi kemudian malah kehilangan arah *Alert: Jangan baca pakai nyanyi. Hihi…