Tag Archives: Dokter

Sakit Telinga Bindeng Satu Bulan Lebih

Beberapa waktu yang lalu saya mengalami sakit telinga bindeng selama lebih dari satu bulan. Cerita tentang sakit telinga bindeng saya ini berawal sekitar pertengahan bulan Mei yang lalu. Berawal dari sakit flu biasa yang biasanya mereda dalam beberapa hari saja. Awal flu ini saya sempat merasa meriang tapi segera reda setelah saya minum obat. Beberapa […]

Arti Kesejawatan Dalam Profesi Dokter

Kesejawatan:

  1. Ciri sebuah profesi
  2. Etika
  3. Berbentuk nilai dan norma
  4. Kebersamaan, persaudaraan dan tolong menolong
  5. Penyimpangan mengakibatkan pengucilan (etik), sanksi hukum (norma)

Problem kesejawatan:

  1. Terkikisnya rasa kesejawatan
  2. Kurang memahami nilai dan norma kesejawatan

Tantangan kesejawatan:

  1. Kompetisi tinggi
  2. Reorientasi pelayanan kesehatan
  3. Tuntutan manajemen fasilitas kesehatan
  4. Kekosongan peraturan dalam pelayanan kesehatan

Kode etik kedokteran:

  • Setiap dokter memperlakukan teman sejawat sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan
  • Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yg etis.

Menjaga nama baik:

  • Menggunjing teman sejawat
  • Meremehkan teman sejawat
  • Menjelekjelekkan teman sejawat
  • Menceritakan kelemahan/kekurangan teman sejawat
  • Memfitnah teman sejawat
  • Memberi kesempatan pada pasien untuk menjelekkan teman sejawat

Menahan diri:

  • Bertengkar dengan teman sejawat
  • Melaporkan teman sejawat
  • Memberi nasihat pada teman sejawat yang berbuat kesalahan dalam suasana kesejawatan (forum komite medis)
  • Tidak mengomentari yang dilakukan teman sejawat di depan pasien

Tolong menolong:

  • Menolong sejawat bila terjena kesulitan, musibah, kesusahan
  • Membebaskan jasa medis bagi teman sejawat
  • Tidak mempersulit sejawat yang ingin melakukan praktek.

Kompetisi sehat:

  1. Hindari persaingan
  2. Prestasi keilmuan
  3. Senior harus membimbing yunior
  4. Yunior menyampaikan ilmu baru kepada senior dengan baik
  5. Silaturahim kepada teman sejawat setempat bila akan praktek di tempat tertentu.

Tidak mengambil pasien:

  1. Koordinasi yang baik
  2. Menyarankan pasien kontrol ke teman sejawat semula
  3. Komunikasikan dengan teman sejawat tentang pasien yang dirawat
  4. Tidak mengganti obat teman sejawat sebelumnya kecuali memang sudah tidak diperlukan
  5. Koordinasi dalam rujukan pasien:
    – Konsul dan pengobatan selanjutnya
    – Konsul dan saran pengobatan
    – Konsul dan pengobatan bersama

Semoga bermanfaat.

Oleh: dr Daeng M Faqih
(Notulen dr Tien Farida Yani, MMRS)

Satu Lagi Dokter Meninggal Dunia Saat Menjalankan Tugas

Seorang dokter spesialis anestesi yang sedang menempuh pendidikan subspesialis konsultan intensive care (KIC), ditemukan meninggal dunia di kamar jaga sebuah rumah sakit swasta kemarin pagi. Menurut informasi yang saya baca, dokter tersebut adalah dokter Stefanus Taofik, SpAn, seorang dokter asal Cakranegara, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kematian dokter Taofik diduga karena serangan jantung, sebab beliau sudah ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di kamar jaga rumah sakit. Sebelum meninggal, dokter Taofik melaksanakan jaga di tiga rumah sakit selama lima hari berturut turut dikarenakan banyak seniornya yang cuti.

Saat ini, dokter Taofik berusia 35 tahun, meninggalkan seorang istri yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis kebidanan dan kandungan dan seorang anak yang baru berusia 1 tahun. Dokter Taofik juga merupakan tulang punggung keluarganya, beliau masih membantu orang tua dan adik adiknya.

Dokter Taofik adalah alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKUAJ) angkatan tahun 2000.

Saya mengucapkan turut berbelasungkawa yang sebesar besarnya, semoga beliau mendapatkan tempat yang terbaik disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Meninggalnya rekan sejawat kita ini sekaligus bisa dijadikan evaluasi menyeluruh terhadap sistem jaga di rumah sakit. Dokter juga manusia yang butuh istirahat.

Update: Klarifikasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi Dan Terapi Intensif Indonesia tentang kronologis meninggal dunianya dr. Stefanus Taofik, SpAn.

Download Buku Putih PB IDI Menolak Program DLP

Puji syukur kehadirat Allah SWT , Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya , PB IDI melalui Tim penyusun Kajian Buku Putih DLP telah merampungkan produk intelektual sudut pandang profesi terkait polemik Program Studi DLP melalui buku putih ( white paper ) sebagai tulisan resmi Ikatan Dokter Indonesia.

Buku Putih ini juga menunjukkan bukan semata-mata melihat dari perspektif putusan Muktamar IDI Ke-29 di Medan tahun 2015 saja tetapi merupakan Kajian akademik dari Sudut pandang IDI sebagai Organisasi Profesi yang mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat terkait dengan pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran .

Fungsi dan Peran IDI juga mendukung keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia, karena itu kajian ini menjadi penting sebelum terjadinya permasalahan yg lbh besar di masa yg akan datang .

Dalam buku ini disusun kajian mulai dari kondisi pendidikan kedokteran di Indonesia, polemik DLP, rangkaian peristiwa mengenai DLP yang terjadi mulai dari awal hingga saat ini, analisis sikap IDI terhadap DLP, hingga kesimpulan dan rekomendasi yang diajukan oleh IDI.

Buku ini diharapkan dapat membuka mata berbagai pihak dan memberikan pemahaman mengenai posisi IDI terhadap DLP dan bagaimana langkah perjuangan IDI bersama seluruh anggotanya patut terus dilanjutkan untuk memberikan kontribusi penyelesaian masalah kesehatan yang terjadi pada saat ini dengan cara yang lebih baik dan menyasar pada akar masalahnya untuk Rakyat Indonesia .

Seperti yang tertuang dalam Hymne IDI :

“IKATAN DOKTER INDONESIA

SANGGUP TEGAK BERDIKARI

TEGUH DALAM PENDIRIAN

MELAKSANAKAN ETIK DAN CITA-CITANYA

BERPEDOMAN PANCASILA

UNDANG-UNDANG DASAR 45

SUMBANGSIHKU YANG MULIA

DEMI KESEHATAN JIWA RAGA

BAKTI……. KAMI……

UNTUK NUSA BANGSA

BAGI KESEJAHTERAAN HIDUP

RUKUN SERTA DAMAI”

Buku ini juga merupakan salah satu “kado istimewa” bagi IDI di HBDI ke 109 ini .

Salam IDI . Bersama berpadu Satu IDI terus Maju

Dr M Adib Khumaidi SpOT

Sekjend PB IDI

Silakan klik tautan di bawah ini untuk mengunduh buku putih PB IDI menolak program DLP.

Download

Nasib Rakyat Ditangan Dokter

Diskusi Publik PB IDI pada tanggal 26 April 2017 dengan tema “DEFISIT DANA JKN” ANCAMAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DAN KEBERLANGSUNGAN PROGRAM JKN” menjadi tidak menarik karena seperti yang sudah-sudah tidak bisa memberikan harapan perubahan yang lebih baik untuk rakyat. Jangankan berubah, itikad untuk memperbaiki JKN yang sudah berjalan 4 tahun sepertinya memang tidak ada.

Mungkin acara yang diadakan PB IDI ini kalah penting dengan acara-acara lain yang bersamaan sehingga pihak yang diundang sebagai narasumber cukup mewakilkan pada  pejabat yang tidak memiliki kompetensi dan kapabilitas untuk menjawab permasalahan. Pemerintah dan BPJS seakan kompak menghindari forum diskusi dengan dokter yang notabene merupakan pelaksana langsung JKN. Kalau sekedar menampung masalah dan usulan mungkin sudah basi dilakukan saat ini karena kerawanan JKN telah mencapai titik kulminasi dimana dokter menjadi pihak yang terjepit dan harus menghadapi rakyat sebagai pengguna program dengan segala keterbatasan.

Dalam paparan PB IDI yang disampaikan oleh Dr. Noor Arida (Ketua Bidang JKN PB IDI) telah cukup jelas menggambarkan permasalahan terkait dengan data dan fakta. Keberhasilan JKN tidak semata ada di tangan profesi dokter namun keselamatan pasien serta upaya untuk memberikan pelayanan medis yang terbaik akan selalu menjadi tanggung jawab utama seorang dokter. Bahwa PELAYANAN KEDOKTERAN YANG SUBSTANDAR telah terjadi di era JKN akibat pemaksaan sepihak dengan alasan kendali mutu dan kendali biaya. Prinsip-prinsip kedokteran  yang memegang teguh etika profesi dan berlandaskan Evidence Base Medicine telah diinjak-injak  oleh sebuah program kesehatan nasional yang lebih bernuansa politis, tentu yang dirugikan pada akhirnya adalah rakyat Indonesia.

Kemanfaatan JKN yang dipropagandakan dengan masif bahkan katanya didukung oleh penelitian yang menggambarkan tingkat kepuasan rakyat tidak dapat menutupi fakta secara makro bahwa terjadi kemunduran yang signifikan dalam dunia kedokteran di Indonesia. Angka kematian ibu dan bayi yang tidak menurun, tingginya beban penyakit katastrofik serta berbagai parameter lainnya cukup sebagai bukti kegagalan pemerintah menjalankan amanah di bidang kesehatan.

BPJS selalu berdalih tidak memiliki wewenang dalam banyak hal namun yang terlihat justru seperti asuransi swasta pada umumnya, bagaimana mencegah/ mengurangi defisit termasuk meningkatkan kolektibilitas iuran. Tidak terlihat sama sekali perhatiannya pada upaya mempertahankan kualitas pelayanan kedokteran/ kesehatan, prinsip kendali mutu-kendali biaya berorientasikan murni pada prinsip ekonomi “bandar ngga boleh rugi !”.

Pemerintah terlihat asyik dengan filosofi-filosofi tanpa implementasi. Besar keinginan tapi lemah upaya. Bagaimana mungkin dengan keterbatasan anggaran serta komitmen politik yang rendah dapat mewujudkan jaminan sosial di bidang kesehatan ? Yang terjadi saat ini justru Politisasi JKN dengan mengorbankan kepentingan rakyat serta profesionalisme dokter. Tidak cukup hanya dengan retorika untuk menjalankan jaminan kesehatan nasional bahkan defisit anggaranpun bukan hambatan jika orientasinya memang untuk rakyat. Yang selalu dikuatirkan pemerintah adalah bagaimana keberlangsungan program JKN bukan apakah JKN telah berjalan sebagaimana mestinya ! Akibat JKN hanya dilihat dari orientasi politik dan kemanfaatan ekonomi maka segala cara ditempuh termasuk bongkar pasang peraturan sekedar mempertahankan program. Sikap terburu-buru mencapai universal coverage pada akhirnya akan menjadi pil pahit bagi semua pihak. Tidak ada yang diuntungkan dengan JKN Yang AMBURADUL selain politisi busuk dan kaum kapitalis yang menuai keuntungan akibat ketidakpercayaan publik terhadap sistem kesehatan nasional.

Dokter pada akhirnya menjadi benteng terakhir yang harus melindungi keselamatan pasien, ketika semua pihak termasuk pengelola Faskes (fasilitas kesehatan) cuma bisa diam, bertahan tanpa sikap yang jelas. PERSI sebagai pihak yang semestinya turut menjaga pelaksanaan JKN tidak boleh menyimpang dari kaidah-kaidah kedokteran serta mengutamakan keselamatan pasien ternyata hanya bisa menjadi penonton di pinggir lapangan, mau tidak mau dan suka tidak suka profesi dokter harus mengambil sikap tegas untuk MENOLAK PELAYANAN KEDOKTERAN YANG SUBSTANDAR dan MENOLAK KETERLIBATAN DALAM UPAYA FRAUD YANG DILAKUKAN DENGAN ALASAN APAPUN. Cukuplah dokter menjalankan tugasnya dengan baik, menjaga integritas diri dan  sikap profesionalisme. Berpegang teguh pada hati nurani dan etika profesi serta mengutamakan keselamatan pasien. Sudah saatnya DOKTER BERSIKAP  TEGAS dan sudah saatnya RAKYAT HARUS TAHU APA YANG SEBENARNYA TERJADI DENGAN JKN. Jangan sampai JKN pada akhirnya menjadi KEBOHONGAN PUBLIK yang tidak pernah terselesaikan.

27 April 2017
Agung Sapta Adi