Tag Archives: Diskusi

Buku Bercerita, Ya! Bercerita tentang Buku

Sesi Buku adalah Nyawa dalam rangkaian Pesta Baca Taman Kesiman hadir empat kali.

Pada hari pertama sore hari, diskusi menghadirkan Marmar Herayukti dengan buku Waktu, Kala, & Kematian karya IBM Dharma Palguna. Pembicara lain Lisa Ismiandewi dengan buku Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer.

Ngurah Termana memandu sesi pada Rabu, 1 Mei 2019 pukul 16.00-18.00 WITA ini.

Diskusi kedua pada hari kedua hadir Windu Segara Senet yang membahas buku Strawbarry Generation karya Rhenald Kasali. Selain Windu ada pula Ni Putu Candra Dewi yang bercerita tentang buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia karya Yuval Noah Harari.

Moderator diskusi pada malam pertama ini adalah Luh De Suriyani.

Pada hari kedua di sesi pertama ada Sasvitri Sastrawan dengan buku Arsipelago karya Farah Wardani & Yoshi Fajar K. Kurator seni ini hadir bersama seorang guru, Ady Apriyanta Parma yang berbicara tentang Summer Hill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan karya Alexander S. Neill.

Intan Paramitha menjadi moderator sesi sore hari ini.

Sesi terakhir pada Kamis, 2 Mei 2019 pukul 16.00-18.00 WITA, menghadirkan JRX yang membahas buku 1984 karya Georgo Orwell dan Mami Sisca Sena D. yang bercerita tentang buku Bumi Manusia karya karya Pramoedya Ananta Toer.

Roberto Hutabarat memandu diskusi terakhir ini.

Dikemas Apik

Buku adalah nyawa merupakan tajuk utama pesta baca yang diadakan dalam rangka ulang tahun Taman Baca Kesiman (TBK), Denpasar. Acara yang dikemas secara apik memberi ruang kepada para penikmat buku, penikmat musik, serta masyarakat umum menjadikan pesta ini syarat akan makna.

Tak semata buku, ada pula pameran bertema kaos keos art. Tema ini sebagai ungkapan akan kegelisahan tentang Bali hari ini. Ada pula sobyah budaya dari adik Pramoedya Ananta Tour, Soesilo Toer yang mengawali acara ulang tahun kelima TBK.

Buku adalah nyawa merupakan sebuah moto penyemangat untuk menjadikan buku sebagai kebutuhan manusia. Dalam kegiatan yang berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 2019 ini TBK juga memberi ruang kepada pelapak buku jalanan dan memfasilitasi masyarakat umum untuk hadir berkumpul dan berbincang santai ditemani berbagai genre buku.

Bincang-bincang buku dari dan oleh penikmat buku menjadi inti dari pesta ini. Acara ini membuka kembali jendela dunia yang pernah tertutup oleh batasan-batasan pada masa lalu.

Buku sebagai media guna mencerdaskan bangsa menjadi motivasi para pengunjung. Beberapa buku yang hadir di Pesta Baca menjadi perwakilan dari banyaknya buku di dunia.

Cerita tentang Buku

Buku bukanlah barang mewah, tetapi dia menghadirkan kemewahan itu hadir. Ungkapan ini sepertinya benar karena dengan sebuah buku kita memiliki kelasnya masing-masing. Seperti halnya buku Strawbarry Generation karya Rhenald Kasali yang diceritakan oleh Windu. Windu adalah pemilik Mangsi Coffee yang terkenal sebagai tempat berkumpul para penikmat kopi di Denpasar dan sekitarnya.

Menurut Windu, buku Starwbarry Generation mengajarkannya perspektif dan management yang sangat berguna dalam bisnisnya. Beberapa fakta lapangan yang telah dilalui oleh Windu dalam menjalankan bisnisnya menemukan arahan yang tepat pada buku tersebut.

Hal serupa juga diceritakan oleh Ni Putu Candra Dewi yang menjabarkan tentang buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia. Buku yang berlatar belakang sejarah dan kemungkinan-kemungkinan
tentang manusia dan masa depannya menjadi jendela wawasan Candra dalam memberi perspektif di dunia kerjanya.

Perempuan yang aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali tersebut memerlukan refrensi-refrensi tentang manusia dan hak
asasinya dan buku karya Yuval Noah Harari menjadi cara asik untuk menambah wawasan tersebut.

“Dengan gaya storytelling Harari, menjadikan buku tebal ini tak bosan untuk dibaca,” papar Candra.

Buku menjadi gambaran akan pola pikir penikmatnya. Seperti ada korelasi antara pembicara dengan buku yang diceritakannya. Buku-buku yang hadir di Pesta Baca ini pun berhubungan erat dengan waktu acara berlangsung.

2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional dan buku Arsipelago serta buku Summer Hill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan menjadi gambaran tentang pendidikan.

Nyatanya pendidikan hari ini masih menjadi salah satu masalah bangsa Indonesia. Sistem pendidikan pun masih menuai pro dan kontra tantangan zaman. Buku yang dibagi ceritanya oleh Savitri Sastrawan dan Ady Apriyanta Parma dapat menjadi alternatif dalam dunia pendidikan.

Buku Bercerita

Dari keseluruhan buku yang diagendakan dalam sesi diskusi, buku 1984 dan buku Bumi Manusia menjadi penutup yang manis. JRX Superman Is Dead (band) dan Mami Siska Sena D. menjadi pembicara dalam bahasan yang cukup berat ini.

Sambutan awal dari Roberto Hutabarat menjadi pematik dalam sesi terakhir Pesta Baca Taman Baca Kesiman. Buku 1984 mengulas tentang dunia beserta fenomena yang mengintai manusia dan apakah berkaitan dengan cara dunia berkerja? Dengan bahasa yang memutar isi kepala, Roberto dalam narasi awalnya menyatakan buku 1984 memuat istilah-istilah yang menjadi pendobrak kata dan hingga hari ini pun buku yang telah berusia sekitar 70 tahun masih relevan dan ramalan untuk hari ini.

Lantas apakah dunia segila itu? apakah dunia tidak baik seperti dugaan kita?

Buku selalu memiliki ceritanya dan tentu ada sebab-sebab mengapa buku tersebut lahir di dunia. Seperti ungkapan Pramoedya bahwa menulis untuk keabadian karena sehebat-hebatnya orang jika tidak menulis akan sirna dan buku itu sendiri adalah anak rohani yang memuat seluruh isi kepala penciptanya.

Buku menceritakan kisah yang panjang dan menarik imajinasi pembaca hingga pola pikir terdalam.

Sebut saja buku Jejak Langkah yang membawa penikmat buku itu terjun ke tahun 1901 sampai 1912. Buku yang memuat tentang kisah Minke, Mei, dan semua kehidupan era kolonial menjadi mesin waktu bagi masyarakat era sesudahnya.

Cerita tentang buku Waktu, Kala, & Kematian karya IBM Dharma Palguna pun menjadi titik balik seorang Marmar Herayukti. Tanpa menampik tidak sepenuhnya terjadi perubahan pada diri Marmar karena membaca, tetapi membaca membuka pandangan hidup jelas Marmar dalam sesi tanya jawab.

Banyak cerita yang dipetik dari sebuah buku. Buku menyebabkan mata, bibir, hati, dan pikiran berkolaborasi membentuk pintu kemana saja. Cerita tentang buku-buku yang diulas pada Pesta Baca ini mengisyaratkan bahwa dengan buku dapat menjadikanmu bisa bernyawa dan tak semu!

Hal ini disambut dengan animo peserta yang hadir memiliki pertanyaan dan narasi yang beragam untuk didiskusikan. Buku bercerita, ya cerita tentang buku.

Apakah buku yang kita baca hari ini menceritakan tentang diri kita dan sudahkah kita dapat bercerita tentang buku yang kita baca? [b]

The post Buku Bercerita, Ya! Bercerita tentang Buku appeared first on BaleBengong.

Brand Harus Jadi Identitas dan Mewakili Gagasan

Membangun sebuah brand tak sesederhana memiliki produk semata.

Jauh melebihi itu, mesti ada ide dan gagasan besar yang melatarbelakangi keberadaannya. Sebuah brand, bagi Ary Astina alias JRX, semestinya bisa menjadi pernyataan sikap atas berbagai dinamika sosial di masyarakat.

Menjadi suara-suara yang (minimal) mampu mewakili diri sendiri.

Selama ini JRX memang dikenal sebagai pemuda kritis. Dalam berbagai peristiwa, ia kerap berada terdepan untuk menyuarakan kegelisahan. Tidak hanya melalui musik bersama grupnya Superman is Dead (SID) dan berbagai aksi massa, JRX juga menyuarakan kegelisahannya dalam sunyi, melalui brand Rumble (RMBL).

JRX hadir dalam Jah Megesah Vol #1: Build Your Own Brand yang digelar Jimbarwana Creative Movement (JCM) bersama Komunitas Kertas Budaya. Jimbarwana Creative Movement merupakan sekumpulan pemuda Jembrana dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, mulai dari creative enterpreneur hingga ke seniman digital. Kecintaan pada Jembrana sebagai “Ibu” melahirkan kegelisahan untuk menciptakan Jembrana yang lebih progresif.

JRX mengingatkan pentingnya passion dalam menjalankan bidang usaha. Sebab, passion akan menciptakan komitmen dan fokus untuk menjaga kontinuitas usaha.

“Namun, jauh yang lebih penting, brand yang dimiliki selayaknya mampu menjadi identitas, sekaligus media propaganda atas pemikiran dan gagasan yang kita miliki,” kata JRX yang hadir sebagai pembicara, dimoderatori founder beritabali.com Agus Swastika di Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya, Rabu malam.

Sopir Truk

Dalam design-design RMBL, misalnya, JRX tidak menginginkan produknya hanya berhenti sebatas fashion. Karena itu, RMBL sering menggunakan idiom buruh ataupun sopir truk untuk mewakili kaum marginal.

Hasilnya, produk RMBL dianggap mampu menyuarakan kegelisahan masyarakat sehingga strategi marketing konvensional menjadi tidak terlalu penting. Kesamaan visi yang hadir melalui simbol-simbol dalam produk akan menghapus jarak antara produk dengan penggunanya.

Selama ini RMBL memang diperuntukkan juga sebagai media propaganda untuk melawan hal-hal yang sering ditabukan masyarakat dengan alasan-alasan mainstream, seperti ketakutan berlebih akan norma yang melekat pada keindahan wanita, budaya alternatif dan substansi mood altering. Sebab, menjadi diri sendiri terasa sulit di negara bhinneka yang penuh aturan moral ini.

“Brand itu bukan sekadar produk semata. Ini tentang energi untuk melawan dan menjadi diri sendiri,” ucap JRX yang dalam pengakuannya juga pernah gagal dalam bisnis fashion di bawah bendera Lonely King pada tahun 2005.

Dalam membangun RMBL, JRX tidaklah sendiri. Bersama Ady, bassist band rockabilly The Hydrant, mereka saling dukung untuk membesarkannya hingga akhirnya memiliki brand position yang kuat di Indonesia, dengan memanfaatkan seluruh channel social media yang dimiliki.

Tak hanya sebagai produsen fashion, RMBL juga menyasar kepedulian anak-anak muda pada isu lingkungan. Eco Defender pun terbentuk dan bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali untuk melakukan gerakan perlawanan atas kebijakan-kebijakan yang dinilai tidak pro terhadap lingkungan hidup.

Dari setiap produk yang terjual di RMBL, sebanyak Rp 2.000 disumbangkan untuk mendukung gerakan tersebut.

Pengaruh Personal

Dalam sesi diskusi, Ariadi, salah seorang peserta menanyakan masalah pengaruh personal brand JRX dengan brand produk RMBL. Karena persepsi di masyarakat, JRX adalah RMBL dan RMBL adalah JRX.

“Apa yang terjadi jika Bli JRX keluar dari Rumble, apakah produknya masih akan diminati?” tanya Ariadi yang juga penggerak wirausaha muda di Jembrana.

Menurut JRX, pengaruh dirinya tentu ada, tetap tidak akan signifikan. Karena selain dirinya, RMBL juga terdiri dari orang-orang yang satu visi dan memiliki integritas yang sama.

“Sikap kritis saya atas isu-isu sosial, juga pasti akan berpengaruh. Tapi saya kira ini seperti seleksi semesta. Konsumen paham kalau RMBL bukan sekedar produk fashion, tapi ada nilai pergerakan di sana. Mungkin saja akibat sebuah aksi saya membuat konsumen meninggalkan RMBL. Namun saya yakin konsumen baru akan berdatangan karena aksi saya sesuai dengan prinsip mereka,” tegasnya.

Antusiasme peserta dalam Jah Megesah begitu terasa. Creativepreneur yang hadir benar-benar memaksimalkan kegiatan tersebut untuk menggali dan menemukan jawaban permasalahan mereka masing-masing.

Era Digital

Sementara itu, koordinator Jah Megesah, Wena Wahyudi, menyinggung era digital yang memberi dampak sangat besar pada dunia usaha. “Kini promosi tak lagi butuh biaya tinggi. Kita bisa memanfaatkan media sosial masing-masing, selanjutnya bisa menjajaki platform besar yang ada, misal Tokopedia, Bukalapak, dan sebagainya,” ucapnya.

Melalui program Jah Megesah, Wena bersama JCM mencoba mengajak creativepreneur Jembrana untuk ambil bagian di era digital yang bergerak demikian pesat. Build Your Own Brand merupakan topik awal dalam Jah Megesah. Program ini akan berkelanjutan membahas unsur-unsur penting lainnya dalam bisnis digital sehingga mampu menjadi acuan di dalam mengembangkan usaha.

“Selain membangun brand, apalagi yang dibutuhkan bersaing di bisnis digital ini? Kita akan gelar Jah Megesah yang akan datang dengan mengangkat commercial photo, creative video promotion, menulis dengan basic story telling, dan lain-lain. Prinsipnya, kita harus menjadi pemuda yang progresif. Salah satunya ambil bagian dalam era digital ini,” demikian Wena.

Di akhir acara, JRX menyanyikan lagu Jadilah Legenda untuk memotivasi pemuda di Jembrana. Setelahnya kelompok Badai di Atas Kepalanya benar-benar memungkasi acara yang berjalan selama 3 (tiga) jam tersebut. [b]

The post Brand Harus Jadi Identitas dan Mewakili Gagasan appeared first on BaleBengong.

Ketika Internet Makin Tak Aman, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sammy Pangerapan dalam diskusi tentang keamanan Internet di Denpasar. Foto Anton Muhajir.

Laporan konten negatif Internet melonjak sampai 1000 persen!

Pada 2016, jumlah aduan konten negatif di Internet oleh pengguna di Indonesia sebanyak 6.367 konten. Setahun kemudian, konten negatif yang diadukan mencapai lebih dari 60.000. Konten negatif yang diadukan tersebut sebagian besar terkait pornografi (19.778 kasus) dan isu suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) seperti yang terjadi di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta (16.742 kasus).

Konten negatif lainnya tentang fitnah, perjudian, kekerasan pada anak, terorisme, dan lain-lain. Jumlah keseluruhan akses internet yang ditutup secara komulatif dari tahun-tahun sebelumnya sampai 2017 lebih dari 700 ribu situs, didominasi pornografi.

Samuel Abrijani Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kekominfo) menyampaikan data-data tersebut dalam diskusi bertema Keamanan Internet yang diadakan BaleBengong dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar pada Rabu, 7 Februari 2018. Sekitar 30 orang hadir dalam diskusi yang diadakan di Taman Baca Kesiman, Denpasar itu.

Menurut Sammy, panggilan mantan Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) itu, peningkatan laporan konten negatif itu menunjukkan bahwa menggelembungnya pengguna Internet di Indonesia belum dibarengi dengan peningkatan literasi digital.

Misalnya banyak kabar bohong (hoax) yang beredar dan diyakini selain mudahnya tersangkut kejahatan di dunia siber. Sammy menyebutkan contoh dua kasus terakhir yaitu ditangkapnya seorang karyawan hotel terkait sebuah postingan video di media sosial yang berisi dugaan pelecehan seksual dan ditangkapnya sejumlah warga China jaringan pelaku kejahatan internet yang beroperasi dari Bali.

Sammy menyebut kasus karyawan hotel itu harus dikaji apa dasar hukumnya. “Kalau masalah hukum silakan tindakan hukum, kalau masalah sosial biarkan kontrol sosial, bukan dipenjara,” katanya.

Menurut Sammy, sanksi sosial berupa pemecatan oleh manajemen hotel tempat bekerja karyawan tersebut merupakan bentuk lain dari sanksi sosial terhadap pelaku. Perempuan korban dugaan pelecehan seksual juga telah melakukan kontrol sosial dengan mengunggah video tersebut ke media sosial, bukan melaporkan ke kepolisian.

Sementara soal sindikat jaringan kejahatan memanfaatkan internet bukan hal baru karena di Jakarta juga pernah ada penangkapan. Lembaga Siber melakukan pemantauan kejahatan via internet karena Indonesia masih dianggap ramah pada kejahatan seperti ini.

Untuk itulah, menurut Sammy, pemerintah telah menata ulang sistem agar mereka tak bisa transit dan melakukan kejahatan. Salah satu contohnya adalah dengan membersihkan server dari bot yang ditanamkan para hacker karena server yang tak dipelihara.

“Sekarang sudah dibersihkan, sudah menurun,” ujarnya.

Etika Internet

Dalam pemaparannya, Sammy menjelaskan bahwa Internet dibentuk berdasar etika bersama dan rasa percaya satu dengan lain. Makanya dibuat kesepakatan. Karena itu literasi digital sangat penting agar tiap pengguna internet bisa saling mengontrol.

Pertumbuhan internet sangat tajam sejak 2012 yakni 63 juta menjadi 132 juta selama 4 tahun pada 2016. “Tapi literasinya tertinggal. Jaringan kita sudah fiber optic dan 4G, bagaimana literasinya? Kita akan fokus soal ini,” kata Semmy.

Pihaknya juga meningkatkan pelayanan dalam penanganan konten negatif dan membangun jalur komunikasi cepat dengan Kementerian Kominfo. Secara teknis, setiap platform media sosial seperti Facebook diperkuat dengan tim internal penanganan konten negatif yang terkait dengan Indonesia

Sammy menjalaskan ada dua program pemerintah yakni literasi dan pengendalian. Saat literasi rendah, pengendalian ditingkatkan agar tak mengganggu kondisi kondusif di masayarakat. “Internet sifatnya pasif, kalau tak diakses tak akan terhubung. Kalau disebarkan kan ada niatan. Pop-up termasuk spam, nggak benar,” ujarnya soal iklan-iklan yang mendadak muncul di layar komputer dan gadget.

Implementasi UU No 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) adalah literasi dan pemutusan akses. Literasi di edukasi konten dan pemanfaatan digital. Sementara pemutusan akses dengan blokir sampai penegakan hukum. Aduan masyarakat dilaporkan lewat aduankonten.id, selain pencarian tim Trust Positif.

Kontrol dan perlindungan saat ini menurutnya dilakukan melalui pendaftaran pemilik SIM Card dengan nomor KK, sekarang sudah terdaftar lebih dari 131 juta nomor. “Sebentar lagi kita tak bisa lihat duit, semua di hp. Kalau semua data dan duit di SIM hp hilang bagaimana? Ada SMS penipuan, bagaimana melacak?” ia menjelaskan alasan kewajiban pendaftaran ini. Selain itu sedang digodok rancangan UU Perlindungan Data Pribadi.

Untuk pencegahan, Pilkada tahun ini pihaknya sudah membuat Memorandum of Action (MoA) dengan KPU. Misalnya situs yang dilaporkan KPU atau diusulkan Bawaslu akan dilakukan pemblokiran. Termasuk konten di platform media sosial akan diminta diturunkan (take down).

Dalam diskusi tersebut Sekretaris AJI Kota Denpasar Feri Kristianto menyebut jurnalis juga perlu mendiskusikan apakah tiap postingan media sosial layak diberitakan agar tidak turut memberikan dampak buruk kepada warganet. [b]

The post Ketika Internet Makin Tak Aman, Apa yang Bisa Kita Lakukan? appeared first on BaleBengong.

Fair Trade untuk Kesejahteraan Bersama

Photo Coffee edisi Fair Trade pada Rabu, 12 Juli 2017. Foto oleh Rudi Waisnawa.

Ini bukan soal uang, tapi empati dan solidaritas.

Lingkara Photography Community kembali menggelar seri diskusi Photo Coffee, Rabu lalu. Awalnya seri diskusi ini untuk membicarakan foto sambil ngopi. Seiring berjalannya waktu, tema diskusi Photo Coffee juga beragam. Seperti Rabu malam lalu, tema yang dibahas adalah Fair Trade atau perdagangan yang adil.

Mitra Bali, usaha Fair Trade yang pertama meraih label Fair Trade Guaranteed di Indonesia. Sejak tahun 2000, Mitra Bali menjadi fasilitator pasar yang fokus pada barang kerajinan. Pemilik Mitra Bali hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini, yaitu Agung Alit dan Hani Duarsa. Selain itu, Komang Adi, perancang produk dari Mitra Bali pun turut serta.

Lingkara yang baru saja membuka toko khusus produk upcycle pada 15 Juni lalu, menjadikan kesempatan ini sebagai ajang belajar wirausaha. Namun sesungguhnya tak hanya Lingkara, peserta yang hadir hari itu juga ikut berdiskusi tentang sistem perdagangan adil.

Agung Alit menceritakan awal mula Mitra Bali dengan mengaitkannya dengan tragedi pembunuhan massal tahun 1965. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1968, penanaman modal asing dimulai di Indonesia. Sejak saat itu, kapitalisme asing menyerbu Indonesia hingga melahirkan pariwisata massal.

“Indonesia kaya sumber daya alam, tapi hampir semuanya sudah dikuasai oleh negara lain,” ungkap Agung Alit.

Penguasaan kapitalisme yang semakin meluas rupanya tak berbanding lurus pada kesejahteraan masyarakat. Para petani, perajin, serta kelompok usaha kecil seringkali menambah piutang karena distributor atau tengkulak tidak membayar produk mereka secara langsung.

Agung Alit mengumpamakan seorang petani yang menjual hasil tani kepada tengkulak atau pengusaha besar. Pembayaran baru dilakukan setelah tiga bulan, bahkan lebih. Padahal, para petani ini harus menyediakan makanan untuk sarapan, makan siang hingga makan malam. Tiga kali setiap hari.

Situasi ini mendorong Agung Alit bersama Mitra Bali menggerakkan sistem perdagangan yang adil atau Fair Trade.

Gerakan perdagangan yang adil ini berkumpul dalam beragam organisasi. Wadah para pengusaha Fair Trade di tingkat internasional bernama World Fair Trade Organization (WFTO). Organisasi tersebut memiliki cabang di setiap regional, salah satunya Asia. Di Indonesia, para pengusaha Fair Trade bernaung di bawah Forum Fair Trade Indonesia (FFTI).

Hani Duarsa menyebutkan saat ini anggota FFTI masih dapat dihitung jari. Sedangkan negara lain di Asia telah memiliki ratusan usaha Fair Trade.  Contohnya India memiliki 185 anggota pengusahan Fair Trade.

“Kita (di Indonesia-red) masih jauh tertinggal,” ujar Hani Duarsa.

Tak hanya gerakan, Fair Trade tetaplah bisnis. Seperti bisnis pada umumnya, Fair Trade juga memiliki model bisnis yang mengarah pada wirausaha sosial. Dalam Fair Trade, pengusaha wajib membayar lunas kepada penyedia produk. Dalam hal ini, Mitra Bali berhubungan secara intens dengan para perajin.

“Setiap perajin menyetorkan produknya ke kantor kami, langsung dibayar lunas,” kata Agung Alit.

Dalam sistem perdagangan yang adil, maka seluruhnya harus transparan. Utamanya soal pembayaran. Namun, Agung Alit tak ingin bicara soal pembayaran ataupun uang saja. Ia menegaskan bahwa roh dari Fair Trade adalah empati dan solidaritas. Sejahtera bukan hanya milik pengusaha, juga milik perajin.

Diskusi yang hangat tentang Fair Trade dipandu oleh Bobby. Foto oleh Rudi Waisnawa.

Fair Trade juga merupakan bisnis yang peduli lingkungan. Sebagai produsen barang kerajinan, bahan baku utama yang digunakan oleh para perajin Mitra Bali adalah kayu. Mereka menetapkan jenis kayu belalu atau albesia sebagai bahan baku utama karena sifatnya cepat tumbuh. Selain itu, jenis kayu ini adalah tumbuhan asli Indonesia.

“Kita upayakan semuanya lokal. Perajin lokal, bahan baku lokal,” ungkap Hani Duarsa.

Produk Berkualitas

Sekalipun wirausaha sosial, produk juga harus bermutu dan unik. Begitulah persaingan usaha yang berlomba menawarkan produk terbaik. Hani Duarsa menjelaskan persaingan ini bukan hanya antarprovinsi dan di dalam negeri, melainkan persaingan dengan negara lain. Maka dari itu, kualitas produk harus dijaga.

Lalu, kesiapan produsen dalam memenuhi permintaan turut menjadi perhatian. Menurut Hani Duarsa, pengusaha Fair Trade perlu memahami ketersediaan bahan baku produknya. Jika suatu saat permintaan membludak, produksi akan tetap berjalan lancar. Untuk itu, Hani mendukung bahan baku lokal agar lebih mudah dicari.

Bicara soal tren produk, Komang Adi menjelaskan bahwa hubungan baik dengan pembeli sangat penting. Pembeli dapat menyampaikan tren warna yang sedang diminati dan jenis produk yang laku. Dari diskusi kecil itu, Mitra Bali perlahan mulai mengembangkan produknya. Mulanya, Mitra Bali mendistribusikan barang kerajinan yang bersifat dekoratif. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, barang kerajinan dari Mitra Bali kini lebih fungsional.

“Para pembeli kami boleh mengunjungi kantor kami dan para perajin. Mereka juga ingin tahu siapa yang mengerjakan produk yang mereka beli,” jelas Komang Adi.

Hal menarik lainnya, Mitra Bali tak hanya menjual produk, tapi menceritakan sesuatu di balik produknya. Hani menambahkan, setiap produk mempunyai ceritanya sendiri. Cerita itu boleh jadi tentang perajinnya atau bahan baku produk itu sendiri.

Hani Duarsa pun berpesan sebuah usaha memerlukan totalitas. Apapun jenis usahanya, termasuk Fair Trade. Bisnis yang adil ini juga pasti memiliki pasang surut. Maka, pada tahap permulaan usaha, pengusaha harus mengeksplorasi produk apa saja. Setelah setahun, pengusaha wajib mereview produk mana yang laku.

“Kalau kita sudah tahu produk mana yang jadi best seller, kita dapat mengembangkannya lagi,” tegas Hani Duarsa.

Foto bersama pascadiskusi. Foto oleh Lingkara.

Bisnis memang tetaplah bisnis. Di sana tetap ada keuntungan yang dicari. Bedanya dalam Fair Trade, keuntungan dicari bersama dan dibagi secara adil. Sebab, sejahtera patut dinikmati bersama. [b]

The post Fair Trade untuk Kesejahteraan Bersama appeared first on BaleBengong.

Papua dalam Timbang Pandang Budaya

Diskusi buku Papua dalam Timbang Pandang Budaya di Bentara Budaya Bali.

Bentangan wilayah Papua sedemikian luas.

Oleh karena itu, persoalan sosial kutural di Papua tidak mungkin diselesaikan dengan pendekatan parsial. Perlu kebijakan yang bersifat holistik. Demikian menurut para pembicara Pustaka Bentara ‘Papua Dalam Timbang Pandang Budaya’ di Bentara Budaya Bali (BBB), Ketewel, Gianyar, Senin kemarin.

Diskusi buku kumpulan esai terkini karya I Ngurah Suryawan bertajuk “Papua Versus Papua: Perubahan dan Perpecahan Budaya” itu menghadirkan I Ngurah Suryawan, Nazrina Suryani, dan I Wayan ‘Gendo’ Suardana.

I Ngurah Suryawan, doktor lulusan Universitas Gadjah Mada yang kini Dosen Universitas Negeri Papua, menguraikan 3 pokok utama gagasannya.

Pertama tentang peta sosiokultural studi-studi kebudayaan Papua dan produksi kuasanya. Kedua, mengulas tentang kondisi Papua kontemporer yang berhubungan dengan pemekaran daerah berikut pembagian kekuasaan yang terjadi. Ketiga, menggambarkan siasat orang-orang Papua menghadapi kerasnya kehidupan keseharian selama ini.

Menurutnya, terdapat berbagai fenomena dan realitas sosial masyarakat Papua. Masyarakat Papua memiliki mobilitas tinggi, terinterkoneksi dengan etnik budaya lain berikut keragaman budayanya, serta relasi mereka dengan kuasa investasi global.

“Papua sangat kompleks. Masalah-masalahnya pun sangat beragam,” kata Ngurah Suryawan.

Dia menambahkan di satu sisi mereka memiliki kekayaan luar biasa tetapi di sisi yang lain, ada permasalahan soal lokalisir, seolah Papua dianggap eksotis.

“Seringkali pula muncul stigma tentang Papua tanpa diimbangi pengetahuan menyeluruh tentang konteks Papua itu sendiri,” ungkapnya.

Suryawan sendiri sempat menempuh program penelitian postdoctoral sedari tahun 2016 tentang ekologi budaya orang Marori dan Kanum di Merauke, Papua dalam skema ELDP London dan Australian National University (ANU). Ia kini juga menjadi research fellow di KITLV dan Universitas Leiden 2017 untuk menulis penelitiannya tentang terbentuknya elit kelas menengah di pedalaman Papua.

Nazrina Suryani menilai buku Papua vs Papua memiliki bobot antropologi politik yang kuat dan ditujukan untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda. Bukan hanya yang berasal dari Papua, tetapi juga mereka yang peduli.
“Lewat buku ini saya melihat upaya penulis untuk mencermati problematik yang kerap terjadi berulang di Tanah Papua. Dampak langsung atau tidak dari pemekaran wilayah, investasi yang bersifat elitis, merebaknya HIV dan AIDS, serta masalah sehari-hari lainnya yang menjauhkan rakyat Papua untuk lebih emansipatoris dan transformatif,“ ungkap Nazrina.

Pada diskusi yang dimoderatori Gede Indra Pramana, pembicara lainnya I Wayan ‘Gendo’ Suardana, mengungkapkan bahwa buku Papua Versus Papua terdiri dari esai-esai yang tajam. Namun, buku itu perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lebih mendalam. Dengan demikian bisa mendapatkan gambaran tentang problematik Papua yang lebih holistik, tidak parsial.

Gendo juga menyoroti perihal pemekaran wilayah dan otonomi daerah yang dalam implementasinya kerap menimbulkan masalah di lapangan serta berdampak buruk bagi kehidupan sosial kultural masyarakat setempat.

“Undang-Undang tentang Desa bisa menimbulkan konflik bila tidak disertai suatu pemahaman dan pendekatan holistik dalam menetapkan kebijakan,” ujarnya.

Menurut Gendo konflik itu bisa muncul sebagai akibat perebutan batas desa, terutama terkait kepentingan ekonomi. Belum lagi ditambah adanya investor yang memiliki agenda terselubung. “Ya, sebagaimana yang terjadi di Bali dengan reklamasinya itu,” ujar aktivis yang tergabung dalam Walhi ini.

Buku Papua Versus Papua: Perubahan dan Perpecahan Budaya sendiri mendapatkan kata pengantar dari Manuel Kaisiepo, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia pada Kabinet Gotong Royong yang juga pernah berkarier sebagai wartawan Kompas pada tahun 1984-2000.

Manuel Kaisiepo dalam tulisannya menilai, bahwa kajian-kajian etnografi dalam buku Papua vs Papua ini dengan sangat baik merekam dan menguraikan fenomena realitas sosial yang menjadi paradoks di Papua. [b]

The post Papua dalam Timbang Pandang Budaya appeared first on BaleBengong.