Tag Archives: Denpasar

TPST 3R Sekar Tanjung, Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

TPST 3R Sekar Tanjung

Sampai saat ini sampah masih menjadi permasalahan rumit.

Sampah yang terus dibuang hingga menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) justru menimbulkan masalah baru. Antara lain kebakaran, bau, sarang penyakit, tempat yang banyak lalat serta mencemari lingkungan.

Padahal, jika terkelola dengan baik, hanya sedikit sampah yang perlu dibuang ke TPA. Sampah yang terkelola justru dapat menguntungkan dan jadi uang. Kita telah menyia-nyiakan potensi sampah yang sedemikian besarnya.

Tempat pengelolaan sampah terpadu reuse, reduce, recycle (TPST 3R) Sekar Tanjung yang terletak di Sanur Kauh, Denpasar menjawab permasalahan sampah tersebut.

Sanur merupakan salah salah satu kawasan pariwisata di Bali. Tentunya sampah bisa menjadi momok jika dibuang sembarangan atau diletakkan di pinggir jalan dan tidak terangkut.

Namun, dengan diterapkannya sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sampah sudah terkelola dari hulu bukan hilir lagi. Masyarakat diminta memisahkan sampahnya. Mereka mendapatkan dua karung untuk sampah organik dan anorganik.

Masyarakat juga diedukasi secara rutin agar bersedia memisahkan sampah. Kendaraan pengangkut sampah disediakan dan mengangkut sampah setiap hari secara rutin dalam bak terpisah.

DI TPST 3R Sekar Tanjung terdapat kolaborasi antara desa dinas dan desa adat serta pemangku kepentingan lain yang terkait untuk membuat Program Desa Kedas. Sampah yang organik dicacah menjadi kompos dan makanan ternak. Kemudian yang anorganik seperti botol plastik, logam, kardus dijual kembali menghasilkan uang sehingga hanya sedikit sampah yang dibuang ke TPA.

Sistem ini menjadi solusi terhadap masalah sampah yang selama ini tidak terkelola dengan baik. Karena, sampah sebenarnya menguntungkan bukan merugikan. TPST juga tidak membuat bau yang mengganggu masyarakat sekitar. Bahkan, lalat pun tidak ada.

Salah satu pengelola TPST Sekar Tanjung Sila Dharma menceritakan, pada awalnya memang pengelola perlu berjuang mengedukasi masyarakat untuk memisahkan sampahnya. Mereka bahkan berjuang juga agar masyarakat bersedia menerima keberadaan TPST.

Semula masyarakat mengira kalau di wilayahnya ada TPS, maka akan bau dan mengganggu kawasan sekitar. Pengelola pun terus menerus melakukan edukasi dan menjanjikan tidak akan ada bau. Lokasi juga akan tetap bersih. Kalau kotor silakan diusir.

Setelah mendapatkan pemahaman semacam itu, barulah masyarakat mau menerima keberadaan TPST ini. Sekarang terbukti TPST tidak bau dan bersih. Bahkan ke depannya bisa menjadi sarana belajar bagi daerah lainnya maupun mahasiswa yang mau meneliti tentang persampahan.

Ke depanya kita harus mampu mengelola sampah kita yang menguntungkan secara ekonomis. Jangan justru dibuang ke TPA hingga menggunung. Apalagi kapasitas TPA Suwung saat ini sudah berkurang karena akan ditata peruntukannya.

Marilah kita bersama-sama mengelola sampah menjadi uang. Bahkan di setiap desa harus dikembangkan TPST 3R agar sampah dapat terkelola dengan baik. Jadilah bagian dari solusi bukan polusi, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi. [b]

The post TPST 3R Sekar Tanjung, Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat appeared first on BaleBengong.

Denpasar, Kota Wisata dengan Tumpukan Sampah Menggunung

Akibat kebakaran di TPA Suwung, sampah menumpuk di jalan-jalan Denpasar.

Denpasar, kota wisata yang terkenal di dunia kini jadi berwajah tidak indah lagi. Bau tidak sedap menyebar di pinggir jalan dari tumpukan sampah yang meluber ke jalanan. Siapa yang disalahkan atas kebakaran ini? Apakah musim kemarau yang panjang?

Sistem pengelolaan sampah masih klasik yakni kumpulkan, angkut dan buang. Sama sekali tidak ada pengelolaanya. Apakah kita tidak mau berubah?

Kita tahu teori  3R dengan menggunakan ulang (reuse), mengurangi (reduce) dan mendaur ulang (recycle) tapi tidak dijalankan. Masyarakat diminta memisakan sampah, tetapi truk sampah malah menggabungkannya. Terus siapa yang salah?

Akibatnya sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung terus menggunung tanpa ada pengelolaan dengan baik. Bahkan semua TPA menerapkan open dumping. Sampah dibiarkan menumpuk begitu saja tanpa pengelolaan. Harusnya kalau manajemen sampahnya baik bisa jadi zero waste di TPA.

Kenapa kita tidak menerapkan sanitary landfill yang benar?

Mari kita pikir lagi. Sampah organik itu tinggal dikubur selama tiga bulan sudah jadi kompos. Sampah anorganik sebagian besar bisa dijual dan di daur ulang. Hanya sedikit yang butuh dibuang ke TPA. Namun, kenyataanya berbeda. Kita sibuk membuang sampah ke TPA hingga menggunung dan mencemari lingkungan.

Sampah yang menggunung di TPA suwung adalah sampah plastik. Sudah cukup studi banding karena sekarang saatnya berbuat. Bank sampah sebenarnya ide yang baik, tetapi kapasitasnya terbatas dan masyarakat harus bawa sampah ke tempatnya. Untuk masyarakat kota yang sibuk hal ini jarang bisa dikerjakan.

Program mengurangi penggunaan plastik sudah baik tetapi coba kita lihat di tempat sampah. Masih banyak yang dijadikan pembungkus sampah adalah plastik.

Mari berubah karena kita butuh aksi bukan puisi.

Pemerintah Kota Denpasar harus hadir untuk permasalahan ini. Sediakan tempat sampah organik dan non organik di setiap rumah. Kemudian angkut dengan truk terpisah. Berdayakan tempat pembuangan sampah sementara terpadu (TPST) 3R agar sampah dikelola dengan baik, sampah organik dijadikan kompos dan anorganik di jual.

Sampah organik itu dikubur akan jadi kompos dan tidak dicari lalat. Sehingga sampah yang terbuang ke TPA sangat sedikit. Ke depannya TPA bisa jadi lahan pertanian yang subur jika sudah ditinggalkan dan tidak ada penolakan dari masyarakat.

Tidak seperti sekarang ini sampah dicampur kemudian ditumpuk menggunung. Banyak lalat bertebaran ditambah bau menyengat. Siapa daerahnya bersedia dijadikan TPA kalau seperti itu? Mari berubah karena kita butuh aksi bukan puisi.

Sebaiknya pengurangan sampah dilakukan dari rumah tangga. Sampah organik bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi kompos dengan alat sederhana. Sampah anorganik dapat dibawa ke Bank Sampah ataupun di kelola TPST 3R terdekat. Ke depannya jumlah sampah yang dikirim ke TPA dapat diminimalisir.

Dengan perkembangan teknologi bisa saja sampah di TPA diolah menjadi listrik. Untuk itu diperlukan sosialisasi pada masyarakat secara berkelanjutan dan didukung fasilitas, pendanaan dan kebijakan yang berjalan secara sinergi. [b]

The post Denpasar, Kota Wisata dengan Tumpukan Sampah Menggunung appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas

Pengguna lalulintas di Kerobokan, Bali menerobos trotoar merampas hak pejalan kaki. Foto Anton Muhajir.

MEN COBLONG selalu harus fokus berlebihan jika memasuki tikungan menuju rumah.

Tikungan yang harusnya bisa dilalui ketika penghuni perumahan hendak masuk ke perumahan. Sayangnya hampir seluruh penghuni memilih jalan tikungan itu untuk keluar perumahan. Jadi seolah-olah tikungan bisa dilalui untuk dua arah.

Rambu-rambu sudah dipasang. Berkali-kali diubah dari gambar tikungan dengan tanpa silang yang kecil. Sampai hari ini rambu dipasang juga bergambar tikungan yang disilang, berisi penjelasan dengan huruf besar-besar dilarang belok. Bahkan ada tambahan rambu arah menuju keluar yang juga besar.

Hanya seminggu Men Coblong bisa merasa sedikit sejahtera warga perumahan tidak melalui tikungan masuk perumahan untuk keluar. Selanjutnya beragam rambu yang dipasang itu pun jadi tidak memiliki arti lagi.

Bahkan adik perempuan Men Coblong pun ikut berkata dengan wajah sedikit nelangsa.

“Berapa liter sih bensin harus habis jika kita tertib dan tidak menganggu orang lain. Apa mereka tidak bisa membaca?” katanya.

“Aku paling sebal melihat motor-motor seenaknya naik di trotoar jika kondisi jalan macet. Bayangin, bagaimana trotoar bisa menanggung berat motor? Trotoar dibuat kan untuk pejalan kaki. Makanya sekarang banyak trotoar yang bolong-bolong. Hancur,” dia terus nyerocos.

“Kenapa orang-orang senang sekali melakukan hal-hal seperti itu, ya? Apa mereka merasa hebat? Aku nggak pernah bisa mengerti jalan pikiran mereka?”

Belum selesai kalimat adik Men Coblong, mobil Men Coblong berhadapan dengan sebuah sepeda motor berisi seorang bapak dengan dua orang anak balita. Satu di depan, satu di belakang. Men Coblong pun menginjak rem mendadak, sehingga membuat bamper Men Coblong pun ditabrak motor dari belakang.

Serunya lagi motor itu pun langsung meliuk-liuk. Hilang di tengah kemacetan. Sementara Bapak yang salah jalan itu hanya senyum-senyum simpul dan menganggung-angguk tanpa ada rasa bersalah langsung kabur juga. Men Coblong terdiam.

“Hyang Jagat!” Adik Men Coblong hanya bisa berkata seperti itu sambil membelalakkan mata.

Bagi Men Coblong, bapak dan dua anak balita pengendara motor itu tidak jatuh, sudah bersyukur. Bayangkan kalau mereka jatuh. Yang disalahkan pasti si Pemilik Mobil. Bayangkan dengan dua anak TK di atas motor.

Semua memang ingin cepat sampai. Semua orang juga benci kelambatan termasuk Men Coblong. Membawa mobil di jalan-jalan kota di Denpasar memang menggelisahkan. Tidak nyaman. Kita bisa berlama-lama berada di dalam mobil. Bagi Men Coblong itu tidak menyenangkan. Itu merepotkan. Itu membuat stres!

“Naik mobil kan enak, tidak kepanasan. Macet nggak masalah,” suatu hari teman Men Coblong berkata dengan ringan pada Men Coblong. Men Coblong terdiam. Percuma juga membantah atau beragumentasi dengan teman satu itu. Selain teman itu tidak punya mobil, dia juga tidak bisa menyetir. Jadi tidak tahu “cuaca” lalu lintas di kota Denpasar yang selalu bikin naik darah.

“Mungkinkah Denpasar memiliki transportasi publik seperti di Seoul?” tanya sahabat Men Coblong, seorang guru besar di sebuh universitas ternama di Seoul, Korea Selatan.

Men Coblong terdiam, ketika diundang seminar di kota Seoul, Men Coblong memang merasakan betapa kota kosmopolit itu benar-benar memiliki transportasi publik rapi. Bahkan anak-anak muda dengan dandanan bak majalah-majalah mode berjalan dengan santai menaiki bus-bus di seputar kota Seoul.

Men Coblong hanya bisa mengkhayal. Andaikata di jalan Tangkuban Perahu Denpasar ada bus nyaman, tentu Men Coblong memilih naik bus itu. Bus-bus milik umum yang bisa mengantar Men Coblong ke kantor tempatnya bekerja. Atau nongkrong di mal-mal terkemuka di kota Denpasar tanpa harus memikirkan parkir.

Namun, adakah orang-orang yang memiliki tangan untuk memutuskan kebijakan itu berpikir untuk serius menata kota Denpasar? Menata jalan-jalan utama jadi lebih menarik lagi? Bukankah kalau jalan-jalan ke kota ditata, kita jadi tidak lagi memerlukan kendaraan pribadi.

Biasanya di jalan banyak sekali mobil-mobil besar yang parkir serampangan. Memang duluuu, pernah ada aturan jika mobil parkir sembarangan maka kendaraan akan dikunci. Faktanya aturan itu hanya sebatas aturan tertulis tanpa eksekusi yang jelas dan tegas.

Cobalah Anda keluar rumah pasti banyak orang-orang yang bisa membeli mobil tetapi tidak bisa menyiapkan garasi. Walaupun banyak ada penyewaan garasi, biasanya orang-orang lebih memilih parkir di jalan, tanpa memiliki rasa malu. Tanpa merasa membuat tetangga terganggu.

Jangankan di jalan umum, di perumahan juga banyak kita temui orang-orang yang memiliki mobil-mobil bagus tentu mampu membelinya tanpa memikirkan garasi. Mereka tetap merasa nyaman, karena ya itu hanya himbauan. Begini bunyinya; dilarang parkir di jalan raya. Titik.

Makanya jangan heran, makin hari lalu lintas di kota Denpasar makin krodit. Padat dan menyesakkan. Bahkan saking padatnya, membuat beberapa orang jadi mager, malas bergerak.

“Kalau ke Bali itu repot ya cari kendaraan umum model bus-bus atau kereta, harus pesan kendaraan daring. Padahal jika ada bus-bus makin keren juga. Ke Kuta tidak perlu macet, karena kendaraan jadi sedikit,” suatu hari sahabat Men Coblong berkata dengan nelangsa.

Walaupun kendaraan daring mudah didapat, percuma saja. Toh tetap terjebak macet parah jika berada di jam-jam sibuk. Kapan ya Denpasar punya transportasi publik sehingga tidak perlu lagi ada pemandangan motor-motor yang naik ke trotoar. Motor-motor yang bak laron. Juga klakson mobil yang berteriak-teriak tidak sabar.

“Nggak mungkin. Masyarakat kita ini masih “barbar”. Baca aturan rambu di perumahan saja tidak bisa mau buat bus untuk umum yang nyaman. Masih belum terpikir itu. Sudah jangan terlalu banyak bermimpi. Saat ini yang benar itu pikirkan urusanmu, beres! Orang lain mau terganggu juga nggak peduli. Yang penting urusan kita beres,” sahut adik Men Coblong dengan tegangan tinggi.

Men Coblong terdiam, sulit sekali mengajak orang-orang tertib.

“Sudah jangan salahkan masyarakat, para penguasa saja tingkahnya tidak ada yang bisa dicontoh. Mereka hanya bisa buat aturan lalu dilanggar sendiri. Pelanggarannya justru lebih ganas daripada pelanggaran rakyat kecil seperti kita!” lanjut adik Men Coblong lebih keras.

Men Coblong terdiam. Sambil tetap berharap Denpasar kelak memiliki transportasi publik yang nyaman, minimal seperti Singapura. Masyarakat tertib, pejabat juga kudu wajib bercermin.

“Ah, kamu itu seperti punguk merindukan bulan,” sahabat Men Coblong tertawa. Sambil menepuk bahu Men Coblong. Men Coblong memonyongkan bibir, sambil meneguk kopi yang sudah pahit terasa makin pahit. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas appeared first on BaleBengong.

Wajah-wajah Kehidupan di Kanvas Nyoman

Sekarang, melukis menjadi tempat pelampiasan bagi pemilik skizofrenia ini.

Rumah Berdaya, rumah bagi orang dengan skizofernia (ODS), menggelar pameran tunggal karya-karya I Nyoman Sudiasa bertema Dekonstruksi Hakiki. Pameran bersama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali, Ketemu Project, dan Pemerintah Kota Denpasar ini dibuka pada Jumat kemarin di Rumah Berdaya dan berlangsung hingga 31 Oktober 2019.

I Nyoman Sudiasa lahir di Desa Titab, Busung Biu, Buleleng pada 8 Juni 1974. Dia didiagnosis memiliki skizofernia pada Mei 2001 dan sempat dirawat selama satu minggu di Rumah Sakit Jiwa.

Pertemuannya dengan dr. Rai Wiguna, pada tahun 2015 ketika beliau sedang melakukan rawat jalan di RSU Wangaya, membawa Nyoman mengikuti sesi mingguan di kediaman dr. Rai. Pada Oktober 2015, terbentuklah KPSI Simpul Bali. Dia menjadi salah anggotanya.

Nyoman menjadi koordinator saat audiensi bersama dengan Walikota Denpasar pada Agustus 2016, yang akhirnya melahirkan Rumah Berdaya. Pada tahun 2017, anak bungsu dari 11 bersaudara ini diangkat menjadi pegawai kontrak Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Lalu mulai 2019, dia pun tercatat sebagai pegawai kontrak di Dinas Sosial Kota Denpasar sebagai Pengurus Rumah Berdaya.

Nyoman juga aktif melukis di waktu senggangnya. Salah satu lukisan beliau sempat ditampilkan di Pameran Jagat Mawut oleh Cata Odata di Ubud.

I Nyoman Sudiasa berasal dari Desa Titap, Busungbiu, Buleleng. Ia sudah berkeluarga dikaruniai dua orang putri sejak tahun 1998. Pada awal Mei 2001 pertama kalinya ia didapati dengan gejala schizophrenia, mengamuk di tempat kerjanya di Denpasar. Saat itu ia dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah lalu dibawa pulang ke kampungnya. Karena relaps dan kumat serta keluarga tidak bisa mengurusnya lagi, akhirnya Nyoman dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Bangli.

Setelah dirawat dan akhirnya stabil, bersama istri dan anaknya yang masih berumur tiga tahun, mereka kembali ke Denpasar. Berlangsung dengan rawat jalannya, keadaannya terus membaik. Sekarang sudah stabil bisa beraktifitas dan sosialisasi ke masyarakat sampai akhirnya bisa kerja kembali.

Ia sempat bekerja sebagai buruh bangunan, jual gas, di perusahaan garmen, juga menganggur. Lalu dengan ikut KPSI Simpul Bali, ia dipercaya sebagai koordinator dan dapat mendampingi sesama orang dengan skizofrenia (ODS) di Denpasar dan sekitarnya. Saat Rumah Berdaya terbentuk, Nyoman diangkat sebagai pegawai kontrak honorer di bawah Dinas Sosial untuk bekerja di Rumah Berdaya.

Sebelum ikut di Rumah Berdaya, Nyoman tidak pernah fokus berkarya atau membuat karya seni seperti lukisan-lukisan yang dipamerkan sekarang. Ia tidak mengenal seni kecuali menggambar di jenjang sekolah,

Nyoman mengaku sejak dulu sudah senang gambar sebagai ekspresi, menggambar di buku gambar kecil atau di buku tulis sebagai ekspresi saja. “Sebelum di Rumah Berdaya, saya tidak pernah mendalami. Hanya oret-oret biar tidak diam saja. Kekurangannya, saya tidak mendokumentasikan itu karena sekadar iseng,” katanya.

Setelah di Rumah Berdaya ini, dia dibimbing berkarya walaupun tidak diatur. Nyoman diberi kebebasan. Lukisan-lukisan pertamanya, berjudul ‘Malu’ dan ‘Polusi’, bahkan pernah dipamerkan di Galeri Cata Odata, Ubud. Setelah didampingi Ketemu Project, ada beberapa lukisan diminati dan dibeli.

“Itu membuat motivasi saya untuk menyalurkan ekspresi hobi saya yaitu menggambar. Walaupun belum sebagai mencari uang, bersyukur ada yang mengapresiasi,” ujarnya.

Mencampur Warna

Di Rumah Berdaya, alat lukis difasilitasi Ketemu Project bersama perupa dan Founder Ketemu Project, Budi Agung Kuswara (Kabul). Bersama Kabul mereka belajar mencampurkan warna-warna dasar. Bentuk lukisannya tidak pernah diarahkan atau diatur. Mereka bebas berekspresi.

“Dulu suka dengan mencoret-coret dengan pensil. Tidak ada tema. Melukis spontan dengan warna-warna yang dipakai menurut perasaan hati. Warna itu perasaan hati, seperti saya mulai dengan merah,” kata Nyoman.

Nyoman mengaku tidak memperhitungkan sesuatu untuk mengekspresikan diri. Hanya spontan.

Dia mulai melukis sendiri jika saat suntuk, menyendiri, sesuai mood (perasaan). Hal tersebut karena waktunya di Rumah Berdaya juga dipergunakan dengan mengurus kawan-kawan ODS. Biasanya saat malam baru ada waktu untuk melukis. Lukisan-lukisannya belum tentu selesai secara langsung, tergantung mood.

Saat ini Nyoman mulai berkarya melukis menggunakan akrilik di kanvas. Ada juga kebiasaan ia menggambar wajah-wajah. Ia ingat juga bagaimana wajah-wajah ia gambar saat sebelum mengidap penyakit skizofrenia,

Sebelum kena skizofrenia, Nyoman pernah menggambar wajah-wajah bulat. Orang tersenyum, menangis, tertawa, marah, cemberut kayak emoji di HP. Itu terjadi sebelum mengalami yang aneh-aneh. Secara naluriah dia mengambil pensil di atas kertas lalu menulis di bawahnya ‘gila’. Wajah-wajah itu jadi satu dan tulisan itu di bawahnya.

“Apakah itu suatu tanda mengalami skizofrenia, saya kurang tahu. Sampai sekarang menggambar wajah-wajah tetapi kadang tidak lengkap elemen-elemennya,” lanjutnya.

Dalam menggambar atau melukis wajah saat ini, ia suka memulai dengan elemen-elemennya seperti hidung atau mulut saja. Ia pun mulai mencoba selain wajah saat itu, seperti menggambarkan perahu yang menceritakan nenek moyang kita sebagai pelaut.

Ada saatnya juga kawan yang juga berkarya bernama Loster mengajarkannya teknik-teknik melukis wajah seperti melukis wajah dirinya sendiri.

Untuk pameran kali ini, Nyoman telah dibimbing untuk menekuni corak melukis wajah beserta elemen-elemen wajah tersebut. Adapun di lukisan wajah-wajah tersebut dikombinasikan dengan hal lain seperti tulisan atau elemen lain di luar tubuh manusia.

“Dulu waktu saya sakit, saya rancau kalau ngomong. Banyak kata di pikiran jadi pelepasannya teriak-teriak ngomong. Terkadang bahasa Inggris didengar dan diketahui kata-katanya, bisa bahasa Inggris yang keluar. Berbeda dengan presentasi di mana kita mengontrol kata-kata yang keluar. Setelah mengeluarkan itu semua saya merasa lega, saya mendapatkan tempat untuk melepaskan,” katanya.

Sekarang, melukis menjadi tempat pelampiasan. Baginya, tidak masalah orang mengerti atau tidak. Sebelum mengenal seni teriak-teriak ke orang – keluar dari mulut – dulu memang begitu.

Menarik Perhatian

Ekspresi di lukisan Nyoman sangat beragam dan sering menarik perhatian. Terdapat dekonstruksi dan penggabungan bentuk lagi. Seakan adanya bentuk surealisme ala Salvador Dali dan kubisme ala Pablo Picasso di dalamnya. Ada yang bentuknya mengombinasi wajah ketawa-marah-sedih dan memunculkan sebuah sisir di ujung lukisan yang menjadi simbol dari kebersihan.

Adapun pohon terbentuk di hidung yang berhubungan dengan kehidupan. Atau adanya banyak mulut tetapi satu telinga di satu lukisan. Dia menggambarkan seseorang yang kebanyakan berbicara tetapi tidak melakukannya. Dia juga tidak mendengar dengan baik, sehingga telinganya hanya satu.

Ada pula keadaan seorang yang menangis terus menerus sehingga jika tangisan air matanya itu dikumpulkan bisa menjadi kolam untuk ikan nantinya. Lalu ada orang yang berteriak dari ujung bawah satu lukisannya dan meneriakkan berbagai hal yang divisualkan dalam bentuk kata-kata.

Kecerdikan Nyoman memakai elemen-elemen dan menjadikannya simbol-simbol tertentu sungguh menjadi cerminan akan keadaan diri seorang manusia. Adanya elemen wajah saja, sudah langsung mencerminkan seseorang manusia. Sebagai pengamat yang juga seorang manusia akan langsung menyentuh si pengamat karya juga.

Bagi Nyoman, wajah-wajah acak itu menjadi semacam kekacauan indra. “Wajah-wajah ini acak. Kenapa kebalik-balik? Saya juga tidak ngerti kenapa. Tetapi saya merasakan ada kekacauan indra, dari suara dari melihat semua kacau tidak jelas,” ujarnya.

Nyoman mengaku sekarang sudah tidak mendengar suara-suara di dalam kepala. Namun, kalau pikiran sudah sumpek dan merasa ada amarah pingin ngedumel atau ngomong akhirnya lebih ke tertuliskan sekarang. Karena kadang kalau ada karaoke, nyanyi biasa menikmati irama itu tidak akan merasa plong dan itu mengganggu orang sekitar.

“[Melukis] ini lebih soft, lebih aman saya berekspresi disini dan orang tidak terganggu,” akunya.

Menurut Kabul, Nyoman telah menyadari dampak therapeutics (terapi) dari aktivitas berkaryanya maka perasaan lega dapat terciptakan darinya. Melukis menjadi caranya untuk berekspresi yang tidak mengganggu secara suara yang tidak mengenakkan untuk orang sekitarnya. Melukis menjadi alternatif yang diminatinya dengan sungguh-sungguh untuk mengekspresikan rasa-rasa yang mengganggunya. Lalu dengan visual-visual yang terciptakan, pelepasan indra-indra yang ingin berekspresi dengan suara itu tersalurkan.

Kembali ke cerminan akan keadaan diri seorang manusia, sebenarnya dengan adanya visual-visual yang tersalurkan dari terapi melukis ini tetap memiliki elemen mengganggu. Kita bisa merasakan dari karya-karya Nyoman bahwa karena ada yang mengganggunya terus dia mengganggu kalau bersuara keras atau bertindak destruktif, lalu menjadi lebih baik untuk semua dengan melukis, padahal visual yang dihasilkannya juga mengganggu.

Hasil dari terapinya, semua masih mengganggu sebenarnya tetapi kita dapat merasakan kelegaan kolektif dan dapat mengenal keadaan-keadaan sesama manusia di dunia yang seharusnya inklusif ini. [b]

The post Wajah-wajah Kehidupan di Kanvas Nyoman appeared first on BaleBengong.

Jelajah Pusaka Kota, Cikal Bakal Denpasar

Menjelajah Zona Z Kota Denpasar

  • Kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan dari Kader Pelestari Budaya Kota Denpasar.
  • Untuk informasi resmi tentang kota pusaka ini dapat melalui website Pemerintah Kota Denpasar (https://heritage.denpasarkota.go.id/)

Jika kita berkeliling di seputaran Jl. Gajah Mada Denpasar menuju alun-alun Puputan Badung, maka kita akan menemui papan jalan tentang informasi city tour.

Wisata perkotaan Kota Denpasar atau yang dikenal dengan Denpasar Heritage City Tour dalam Surat Keputusan Walikota Nomor 188.45/417/HK/2015 menetapkan: Lapangan I Gusti Made Ngurah Agung (alun-alun Puputan Badung); Patung Catur Muka; Pura Jagatnatha; Museum Bali; Puri Agung Jrokuta; Pura Maospahit; Pasar Badung; Hotel Inna Bali; dan Rute sepanjang Jl. Sugianyar, Jl. Pulau Buton, Jl. Sumatera, Jl. Hasanudin, Jl. Gunung Batur, Jl. Gunung Merapi, Jl. Setia Budi, Jl. Sutomo, Jl. Gajah Mada, Jl. Veteran sebagai kawasan cagar budaya kota. Keseluruhan kawasan tersebut merupakan cikal bakal lahirnya Kota Denpasar.

Kini, kota yang telah berusia 231 tahun (1788-2019) tersebut menggagas tentang kota berwawasan budaya sebagai identitas diri. Sebuah hal yang menarik diamati tentang sebuah kota dalam kesehariannya. Sebagai contoh, kawasan areal Jl. Gajah Mada yang semula belum mendapat perhatian kini mulai di tata kembali. Beberapa perbaikan difokuskan pada pembangunan citra kota modern namun tetap bernuansa budaya. Penataan pedestrian, penggunaan aksesoris jalan yang bercirikan seni budaya Bali menghiasi trotoar jalan, hingga yang terbaru yakni revitalisasi Tukad Badung.

Menurut data yang dihimpun oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (PSP) Provinsi Bali Nusra maupun Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) wilayah kerja Bali Nusra jumlah benda cagar budaya/situs di Kota Denpasar sekitar 36 hingga 38 situs berupa Pura, prasasti, dan Masjid. Khusus kawasan Jl. Gajah Mada dan sekitarnya terdapat beberapa objek yang telah masuk katagori cagar budaya antara lain Pura Maospahit Gerenceng, Jl. Gajah Mada Heritage, dan Hotel Inna Bali.

Dok. Kegiatan KPB Denpasar (@kpbdenpasar)

Jelajah Kota Pusaka atau yang disebut sebagai Jelajah Zona Z yakni rute yang membentang dari titik poin di Puri Pemecutan menuju ke utara, yakni Pura Maospahit Grenceng lalu bergerak ke timur menyusuri sepanjang Jl. Gajah Mada dengan singgah di halaman Pasar Badung dan Catur Muka. Berlanjut menuju Hotel Inna Bali dan berakhir di Puri Satria yang berada di utara hotel. Secara imajiner, pola rute ini membentuk huruf Z.

Hingga hari ini, KPB telah tersebar di beberapa kabupaten-kota di Bali sebut saja Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, Jembrana, Klungkung, Buleleng, dan satu tingkat Provinsi Bali. Secara rutin KPB khususnya kader Denpasar selain melaksanakan kemah budaya juga menggelar acara Jelajah Kota Pusaka. Jelajah Kota Pusaka adalah egiatan jelajah kota yang difokuskan pada kawasan Jl. Gajah Mada Denpasar serta mengajak anak-anak Sekolah Dasar di sekitar Denpasar mengenal dan mengunjungi bangunan-bangunan kota dengan cara yang menghibur namun tetap berwawasan budaya.

Melalui perjalanan jelajah kota ini, anak-anak SD dipandu untuk mengenal objek yang mereka lewati sepanjang zona Z. Beberapa bentuk kegiatan yang menarik pun disiapkan, seperti pemberian hadiah saat kuis ataupun tes kekompakan sesama peserta kelompok. Selayaknya berburu harta karun, kegiatan ini selain sebagai media pembelajaran di luar lingkungan sekolah juga memberi kesan yang positif tentang sejarah dan budaya di kota tempat mereka tinggal.

Hal inilah yang dirasakan oleh Iko Putra Tara Tiyasa (16 tahun) yang kini menjadi anggota angkatan XI KPB. Saat itu, Iko yang baru duduk di kelas 5 SD merasa senang dapat berkeliling mengenal tempat bersejarah di kotanya. “Saat itu saya baru memiliki hp Nokia yang bisa digunakan untuk berfoto, lalu saya foto semua, ada meriam ada yang lainnya,” kenang pria yang kini telah berstatus siswa kelas 2 di SMA Negeri 7 Denpasar. Atas dasar hal tersebut Iko sangat tertarik bergabung dan memutuskan ngayah di KPB.

Dok. Kegiatan KPB Denpasar (@kpbdenpasar)

Terlepas dari kegiatan Jelajah Kota Pusaka dari KPB, City Tour Denpasar sebenarnya telah lama diharapkan menjadi sebuah wisata sejarah kota yang nantinya dapat disandingkan dengan Kota Tua di Jakarta atau pun kawasan Malioboro-Keraton Yogyakarta. Berbagai wacana dan konsep tentang sebuah pariwisata City Tour terus digaungkan setiap tahun oleh berbagai instansi tidak hanya dari pelaku pariwisata, akademisi budaya, hingga akademisi multidisiplin lainnya pun turut mengomentari tentang impian ini.

Walaupun banyak ide dan gagasan yang telah didiskusikan oleh pihak terkait tersebut, namun pada kenyataannya belum sesuai harapan. Padahal terkait fasilitas penunjang dapat dikatakan mumpuni bahkan selalu diperbaharui. Salah satunya QR Code. Langkah dari Dinas Pariwisata Kota Denpasar ini dapat ditemui di situs cagar budaya Pura Blanjong, Pura Maospahit, dan Pura Jro Kuta. Seperti yang diberitakan oleh Tribun-Bali.com http://bali.tribunnews.com/2019/05/01/denpasar-perkuat-cagar-budaya-di-tengah-pariwisata-modern?page=4.

Selain dari segi fasilitas penunjang, Pemerintah Kota Denpasar telah menjalin kerja sama dan tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) serta Organisasi Kota Pusaka Dunia (Organization World Heritage City). Bulan April 2019 kemarin, Kota Denpasar menjadi tuan rumah Konfrensi International Organisasi Kota Pusaka Dunia yang melibatkan 13 kota dari berbagai negara di Eropa dan Asia.

Namun seperti yang dikatakan sebelumnya, inisitaif ini belumlah membuahkan hasil yang signifikan. Data Dinas Pariwisata Bali tahun 2016, angka kunjungan ke daya tarik wisata di Kota Denpasar tersebut relatif kecil untuk ukuran pulau yang bertumpu pada sektor pariwisata ini. Dalam hitungan angka, kunjungan wisatawan ke Museum Bali untuk tahun 2016 adalah 21.445 orang, berarti sekitar 60 orang per hari. Bahkan untuk situs dan objek  lainnya di kawasan Jl. Gajah Mada dapat dihitung dengan jari. Inilah yang menjadi PR besar sebuah kota pusaka.

Melalui kunjungan rutin anak-anak SD dalam kegiatan Jelajah Kota Pusaka inilah konsep wisata kota sejarah dan berbudaya dapat diuji kelayakan dan berstatus pionir. Dengan sering kali diadakah hal serupa, maka dapat menjadi stimulan mendorong kiat-kiat serupa yang nantinya dapat secara teratur dan terencana sehingga dapat menarik perhatian wisatawan yang berkunjung dan menginap di sekitaran Denpasar.

*Tulisan ini juga dimuat di brilio.net https://www.brilio.net/creator/menjelajah-zona-z-kota-denpasar-bersama-anak-sd-dan-para-kadernya-77e36b.html

The post Jelajah Pusaka Kota, Cikal Bakal Denpasar appeared first on BaleBengong.