Tag Archives: Denpasar

Inilah Tiga Tempat Surga Belanja di Pulau Dewata

(pict : aspairandasparendiy)

Belanja adalah salah satu agenda wajib turis ketika melancong ke Bali.

Pilihan tempatnya pun beragam. Namun, tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi pasar tradisional di Bali yang menjual berbagai souvenir khas Bali. Selain harga terjangkau, pasar-pasar ini juga menawarkan beragam pilihan.

Menurut I Komang Sastrawan, guide asal Karangasem, ketiga tempat berburu souvenir yang paling  dikenal dan sering dikunjungi oleh wisatawan adalah sebagai berikut:

  1. Pasar Kumbasari

Letaknya di jantung Kota Denpasar membuat pasar ini menjadi pilihan para wisatawan yang ingin berbelanja buah tangan khas Bali, tetapi tidak memiliki banyak waktu untuk berkeliling. Waktu yang dibutuhkan untuk ke pasar ini hanya sekitar 45 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

Pasar ini memiliki beragam pilihan suvenir yang bisa dibawa pulang. Baju, aksesoris, lukisan, patung, dan ornamen-ornamen tradisional lengkap tersedia di pasar seni yang terletak di jalan Gajah Mada, Denpasar ini.

2. Pasar Seni Ubud

Belum ke Bali namanya kalau belum mengunjungi Ubud, Kabupaten Gianyar. Desa ini merupakan kawasan pariwisata yang dikenal memiliki daya tarik wisata lengkap.

Pasar tradisional Ubud merupakan salah satu pelengkap keanekaragaman Bali sebagai lokasi wisata yang terkenal sampai ke mancanegara. Di tempat ini banyak pedagang yang menjajakan barang-barang seni dan kerajinan khas Bali semacam sendal khas Bali, Baju Bali, sarung pantai, tikar, lukisan, patung, cermin unik sampai gantungan kunci.

Barang-barang yang ditawarkannya terbilang berkualitas, tetapi harganya cukup terjangkau.

Ari Devita, pelancong asal Surabaya, sudah tiga kali ke Bali. Bagi Ari pasar tradisional menjadi agenda wajib yang harus dikunjungi. “Paling excited kalo ke Pasar Ubud. Lokasinya enak sekalian jalan-jalan,” katanya.

“Dan memang lengkap banget suvenir yang bisa aku bawa pulang. Cantik-cantik semua bikin kalap,” lanjutnya.

Lokasi pasar seni tradisional Ubud sangat strategis, berada di depan Puri Saren Ubud, tepatnya di Jalan Raya Ubud No 35. Jarak tempuh yang harus dilewati dari Bandara Internasional Ngurah Rai adalah sekitar 1,5 jam.

3. Pasar Seni Sukawati

Pasar ini adalah pasar seni paling terkenal di Bali. Sudah menjadi rahasia umum kalau pasar seni Sukawati adalah surga dari berbagai suvenir dan kerajinan tangan yang sangat unik. Pasar seni ini terkenal menjual pakaian dan kerajinan tradisional dengan harga sangat murah.

Sukawati merupakan pusatnya kerajinan seni di Bali. Karena itu harga dari kerajinan seni seperti lukisan, pakaian, dan cinderamata lainnya relatif lebih murah daripada di tempat lain.

Pasar ini terletak di Desa Sukawati, Kabupaten Gianyar. Jarak tempuh dengan berkendara sekitar 1 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

“Walaupun pusat perbelanjaan di Bali banyak banget, tapi pasar seni tradisional adalah yang paling wajib didatangi,” kata salah satu wisatawan asal Jakarta, Nedia Farah. Menurut Farah pasar tradisonal adalah tempat terbaik untuk membeli buah tangan khas asal daerah yang dikunjungi. [b]

The post Inilah Tiga Tempat Surga Belanja di Pulau Dewata appeared first on BaleBengong.

Tiga Tempat Unik Wajib Dikunjungi Saat Ke Bali!

Bali tetap menjadi tempat destinasi favorit bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Bila mengunjungi Bali, begitu banyak tempat bisa dijadikan tujuan wisata mulai dari pantai, pegunungan, persawahan ataupun perkotaannya. Namun, Bali juga memiliki tempat-tempat unik untuk dikunjungi. Berikut tiga di antaranya.

1. Museum I AM Bali

Interactive Art Museum (IAM) yang berdiri sejak Agustus 2016 adalah museum dengan konsep tiga dimensi (3D) cukup unik. Pengunjung yang datang selain disuguhkan tempat untuk berekreasi dan menikmati karya seni, ada juga tempat untuk menikmati berbagai makanan ringan hingga makanan berat.

IAM Bali juga menyediakan tempat untuk kalian yang ingin mengadakan acara gathering ataupun semacamnya. IAM Bali buka dari pukul 09.00 pagi hingga 19.15 malam. Letaknya pun strategis yaitu di pusat kota, tepatnya dibawah museum Bajra Sandhi Renon. Tidak akan kesulitan bagi kamu yang ingin mencari museum unik ini. 

“Menurutku, sih, museumnya terobosan baru banget. Kan unik ya ada museum 3D begini. Apalagi di Denpasar yang tempatnya strategis begini masih jarang,” ujar Aprilia Putri (20) saat ditemui di depan pintu masuk museum.

Namun, menurut Aprilia, sayangnya masih belum terlalu banyak yang tahu. “Semoga anak-anak muda makin jeli melihat ada museum IAM Bali di Renon,” lanjutnya.

Dengan harga tiket masuk cukup ramah di kantong dan ada harga khusus untuk yang ber-KTP Bali, kamu bisa dengan mudah untuk mengunjungi museum IAM Bali ini. 

2. Wanagiri Hidden Hill, Desa Wanagiri, Buleleng

Bila kamu mengambil jurusan ke Bali Utara tepatnya daerah Singaraja, silakan mampir ke daerah Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Obyek wisata yang cukup menyita perhatian masyarakat ini menyuguhkan pemandangan menyegarkan setelah penat di ibu kota, mulai dari bukit-bukit hingga danau.

Wanagiri Hidden Hill buka dari pukul 06.30 pagi hingga 19.00 setiap hari. Harga tiket Rp 10.000 saja untuk mengabadikan foto dengan spot foto dari ayunan bergantung di salah satu dahan pohon ataupun dari sarang burung yang terlihat nyaman dengan menghadap danau. Meski terletak cukup tinggi, tapi menjadi daya tarik tersendiri karena bisa menghasilkan foto dengan latar pemandangan yang indah.

Namun, tak masalah bila kamu kurang berani karena kamu masih bisa berfoto dengan obyek anjungan bambu dengan bentuk perahu. 

“Kalau pulang kampung pasti lewat sini dan selalu ramai. Seru sih bisa nambah konten untuk upload di Instagram. Hehehe. Dan bisa menambah pendapatan masyarakat sekitar juga dengan memanfaatnya dataran tinggi dan danaunya,” ujar Ngurah Budiasa (20) saat terlihat sedang berswafoto di anjungan bambu berbentuk perahu.

3. Pura Taman Mumbul, Sangeh

Pura Taman Mumbul yang terletak di Sangeh, Kabupaten Badung bisa menjadi salah satu tujuan wisata religi kamu yang lain apabila kamu sudah pernah mencoba ke Pura Taman Tirta Empul ataupun Tampak Siring. Pura Taman Mumbul merupakan tempat persembahyangan dengan solas atau dalam Bahasa Indonesia berarti sebelas sumber mata air dan juga memiliki nuansa alam asri nan indah.

Pura Taman Mumbul sudah berdiri cukup lama tetapi tempat ini tergolong baru dikenal oleh masyarakat. Selain memiliki tempat penglukatan (meruwat) disebelah selatan jalan, di seberangnya atau di sebelah utara, Taman Mumbul juga memiliki kolam besar yang jernih dan terdapat banyak ikan-ikan yang besar.

Kamu bisa memberi makan dengan membeli pakan ikan di dekat kolam seharga Rp 15.000 – Rp 20.000.

“Tempatnya asri banget karena ada kolam ikannya juga. Sekarang sih sudah bagus ya. Dulu masih belum terlihat untuk tempat rekreasi karena masih pembangunan juga,” ujar Widiani Karang (21), salah seorang pengunjung saat itu. 

Bila ini adalah kali pertamamu berwisata ke Taman Mumbul, tidak usah khawatir karena terdapat sebuah wantilan dan restoran yang bisa digunakan untuk bersantai, toilet umum, serta ada selendang dan kain untuk disewakan seharga Rp 5.000. Selain itu tidak dikenakan biaya apapun bila datang ke Pura Taman Mumbul ini. [b]

The post Tiga Tempat Unik Wajib Dikunjungi Saat Ke Bali! appeared first on BaleBengong.

VPN dan Keluhan Marketing Sosmed

Tidak main-main jaringan internet di Indonesia dibatasi, hal tersebut sudah terjadi semenjak Rabu 22 Mei 2019 lalu. Hal yang mendasari dibatasinya akses penggunaan internet tidak lain agar tidak merebaknya penyebaran berita hoaks yang kemungkinan besar bisa memperkeruh kondisi pemilu di Indonesia yang dirasa masih belum tuntas karena pendapat pihak tertentu. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala […]

The post VPN dan Keluhan Marketing Sosmed appeared first on kabarportal.

Belajar dari Ketangguhan ODHA untuk Bertahan

Inilah kisah para pekerja seks untuk menghentikan penyebaran HIV.

Reni, 52 tahun, salah satu ibu rumah tanggal tangguh yang sempat menjadi pekerja seks di Denpasar. Saat ini Reni merupakan orang dengan HIV AIDS (ODHA) sekaligus pendamping sebaya (PS) untuk pekerja seks di Yayasan Kerti Praja Denpasar (YKP).

Pengalaman berhubungan langsung dengan pekerja seks memberikan lebih banyak akses baginya untuk mensosialisasikan program penurunan penyebaran HIV AIDS.

Sepuluh tahun lalu Reni kali pertama menjadi pekerja seks. Ekonomi merupakan salah satu alasannya memilih pekerjaan tersebut. Perceraian dan mempunyai empat anak membuatnya menjadi penopang ekonomi keluarganya. Di tahun yang sama Reni tahu dirinya terkena HIV ketika ada pemeriksaan dari Puskesmas setempat.

“Saya merasa shock. Namun, lama kelamaan menjadi biasa, setelah ikut kelompok dampingan. Ternyata banyak yang seperti saya,” ungkap Reni.

Suris, nama samaran salah satu teman Reni yang juga menjadi pekerja seks dan pendamping sebaya, memberikan cara mereka menghadapi pelanggan.

Suris selalu deal untuk pake kondom dengan pelanggannya. Dia pernah dikasih uang banyak, tetapi menolak karena tanpa menggunakan kondom. Malahan dia pernah sekali dapat pelanggan dengan kutil kelamin. Dia pun langsung memberikan pelajaran tentang kesehatan kelamin.

“Akhirnya dia memberikan uang ke saya tanpa memberikan jasa,” katanya.

Dewa Nyoman Suyetna, Koordinator Lapangan YKP, mengatakan hingga akhir April saja sebanyak 489 orang telah melakukan voluntary counseling and testing (VCT) atau biasa dikenal dengan sebutan tes HIV. Empat belas di antaranya positif HIV.

YKP yang berdiri tahun 1992 memberikan layanan pendampingan dan perawatan untuk ODHA, terutama pekerja seks. Dalam pendampingan tersebut, YKP menghadapi sejumlah masalah. Di antaranya klien tidak mau untuk tes, belum siap menerima hasil, dan takut ketahuan temannya. Padahal, pasien HIV sangat dijaga privasinya agar tidak diketahui orang lain.

Masalah lainnya yaitu lost followup (hilang kontak). Banyak yang tidak bisa dikontak terutama populasi kunci (kelompok berisiko tinggi). “Setelah sakit parah baru datang kembali ke sini,” tutur Dewa.

Hingga kini belum ada obat yang bisa menyembuhkan infeksi virus HIV, tapi setidaknya terapi antiretroviral (ART) dapat membantu memperlambat perkembangan virus di dalam tubuh hingga menjadi AIDS. Orang terinfeksi dapat menjalani hidup lebih lama. Bahkan tetap dapat beraktivitas normal layaknya orang sehat.

Terapi antiretroviral (ART) adalah kombinasi beberapa obat antiretroviral digunakan memperlambat HIV berkembang biak dan menyebar di dalam tubuh. Obat antiretroviral sendiri adalah pengobatan untuk perawatan infeksi oleh retrovirus, terutama HIV.

Terbuka

Dengan terapi ART, ODHA bisa menghadapi hidupnya seperti orang sehat pada umumnya. Begitu pula dengan Reni.

Dia merasa bangga akan dirinya saat ini menjadi ODHA yang terbuka. Maksudnya dalam arti positif ia bisa menjadi jembatan untuk masyarakat maupun ODHA di luar sana, berani terbuka dan mengobati dirinya sendiri untuk kehidupannya, jangan sampai ada diskriminasi kepada ODHA.

Pengalaman paling berkesan menurut Reni saat ia diundang ke acara perkumpulan pastor Bali. Reni mengatakan dia tidak banyak menemukan diskriminasi terhadap ODHA maupun pekerja seks, khususnya di Bali.

“Saya pernah tampil di depan kumpulan pastor se-Provinsi Bali tapi tidak ada stigma dan hujatan,” ujarnya.

Menurut Reni dan Suris di luar Bali diskriminasi ODHA masih tinggi. Jangankan dipedulikan, untuk berobat saja mereka masih menjadi bahan pergunjingan. Datang ke Puskesmas masih mendapat diskriminasi dari masyarakan maupun pegawai Puskesmas.

“Perbedaan daerah selain Bali masih kurang edukasi, dan masih ada stigma yang saya ketahui. Itu memberikan hal yang tabu. Termasuk diskriminasi dari orang puskesmas,” tutur Reni dan Suris.

Meski bangga, Rini berpesan agar masyakat tetap menjaga dirinya untuk terhindar dari HIV AIDS. Satu hal penting, HIV AIDS itu jauhi penyakitnya, bukan orangnya. Karena menjauhi ODHA bukan sebuah solusi untuk mengurangi penyebaran, melainkan dapat menyebabkan kurangnya rasa percaya diri hingga menyebabkan kematian.

Di sisi lain, menurut Reni, ODHA juga harus berani dan bangkit. “ODHA jangan terpuruk. Harus berani bangkit, berjuang demi diri sendiri dan keluarga,” tegasnya. [b]

The post Belajar dari Ketangguhan ODHA untuk Bertahan appeared first on BaleBengong.

Di TBK Semua Orang Dihargai Sesuai Martabatnya


Perayaan lima tahun Taman Baca Kesiman oleh pasangan pendiri TBK, Agung Alit dan Hani Duarsa. Foto Baskara Putra.

Taman Baca Kesiman (TBK) berusia lima tahun.

Saya mengikuti berbagai kegiatan di sana dari jauh. Dan, saya ikut bergembira bersama kawan-kawan di sana. Terutama karena TBK sudah memberikan suatu ruang publik di Denpasar. Lebih menggembirakan karena anak-anak muda dan remaja semakin banyak berkunjung.

Tujuan utama TBK ini adalah kegiatan literasi. Perpustakaan menjadi inti. Dari sana, saya kira, pendiri dan pengurusnya ingin agar mereka yang datang membangun ‘discourse’ dan bertanya. Dan dari kegiatan literasi itu bisa muncul banyak kegiatan lain.

Kalau Anda pernah ke sana, Anda akan mendapati berbagai kegiatan. Ada anak berlatih teater. Ada yang membaca (ada perpustakaan dengan ribuan buku dan ruang baca ber-AC yang nyaman). Ada yang latihan musik. Ada yang bertemu untuk sekadar mengobrol. Ada pula yang sekadar melamun. Atau pacaran. Tidak apa-apa.

Siapa saja boleh masuk. Anda tidak perlu terbengong jika menemukan kawan bercadar di sana. Saya senang melihat semua kawan dari berbagai latar belakang merasa nyaman disana.

Kali yang lain, kawan-kawan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) bicara dalam diskusi. Perempuan-perempuan yang menjadi orang tua tunggal juga membicarakan aneka tantangan hidupnya. Kawan yang penyandang disabilitas juga mendapat ruang.

Tentu tidak semua isinya adalah kaum pinggiran. Kadang TBK juga kedatangan para musisi selebriti. Pada saat ulang tahun kemarin, JRX dari Superman Is Dead (SID) yang juga Menteri Urusan Berantem dalam Kabinet Suhardi-Aldo (Dildo), berbicara tentang buku yang dibacanya. Apakah Anda kaget ketika JRX menguraikan isi novel 1984 dari George Orwell dan kemudian menyinggung “How The World Works” dari Noam Chomsky?

Musisi dari group Nostress, pujaan anak-anak muda di Bali dan semakin dikenal di tingkat nasional, juga seringkali nongol di TBK. Juga beberapa seniman menjadikan tempat ini sebagai tempat berkumpul. Kadang hanya mengobrol. Kadang juga mengasah gagasan dan proses kreatif.

Kita membutuhkan ruang seperti ini karena pemerintah kita tidak menyediakan taman kota.

Diskusi buku bersama Mami Sisca dan Jerinx SID di Pesta Baca. Foto Baskara Putra.

TBK menyediakan ruang untuk pergi dari keseharian. Kalau Anda berminat berkebun, di depan ada kebun organik. Saya kira, Anda hanya perlu berkoordinasi dengan pengurus TBK untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.

TBK juga menyediakan kantin kecil. Di samping untuk melayani kenyamanan mereka yang datang, kantin ini menyumbang sebagian pengeluaran untuk mengelola TBK.

Saya kira, TBK akan mampu menjadi tempat menyenangkan karena semua orang dihargai sesuai dengan martabatnya, dan semua orang menyumbang sesuai bakatnya.

Taman seperti ini, menurut saya, harus ada di banyak kota. Sekalipun sekarang kita sangat mudah memperoleh bacaan, itu semua tidak ada hubungannya dengan daya literasi masyarakat kita.

Saya tahu, beberapa teman sudah mulai mengorganisir kegiatan literasi ini. Di Jakarta, Cholil Mahmud dan Irma Hidayana serta beberapa kawan musisi Efek Rumah Kaca (ERK) membentuk “Kios Ojo Keos.” Di Surabaya, ada perpustakaan CO2. Di Batang, Jawa Tengah, Mas Guru Herry Anggoro Djatmiko, mengorganisir kegiatan baca. Di Pekanbaru ada Ahlul Fadli dan Made Ali yang membuka kafe dengan bacaan. Di Jayapura, saya kira, Ibiroma Wamla sedang membangun kumpulan pustaka tentang Papua.

Tentu, impian saya, di suatu hari, semua kawan yang saya sebut di atas, dan juga kawan-kawan di berbagai kota bisa saling berjumpa. Saling membantu dan saling membangun.

Yang bagus dari semua ini adalah bahwa TBK sama sekali tidak tergantung pada negara. Tidak tergantung dari pendanaan pemerintah. Tidak ada bantuan dari politisi mana pun. Juga tidak ada donor dari luar negeri.

TBK hadir karena bantuan pribadi. Tempat pun sesungguhnya adalah milik pribadi. Tentu ini satu kemewahan tersendiri. Namun, apapun itu, TBK menyediakan ruang untuk publik untuk siapa saja yang ingin mengembangkan kapasitas pribadinya. [b]

The post Di TBK Semua Orang Dihargai Sesuai Martabatnya appeared first on BaleBengong.