Tag Archives: Denpasar

Shankar: Album Eksklusif tentang Kemanusiaan


Album dari Shankar berjudul Under the Human State hanya diproduksi dalam bentuk CD.

Kemanusiaan selalu menarik untuk diperbincangkan.

Begitu pula, ketika diramu menjadi karya, ia memiliki keunikan tersendiri. Namun, sayangnya, berbicara kemanusiaan hanya terlintas begitu saja. Hal inilah yang menggugah Shankar, band rock di Denpasar untuk berkarya mengisi dunia permusikan.

Band yang terbentuk dari perkumpulan di masa putih abu-abu ini akhirnya menetaskan sebuah album mini berjudul “Under The Human State” pada 13 Maret 2019 lalu. Terdiri dari empat lagu, band ini mengangkat topik bernuansa kemanusiaan. Melalui EP ini, Shankar menceritakan kondisi manusia yang berada di bawah batas normal.

“Di EP ini juga menceritakan tentang di bawah kondisi manusia, ada hal-hal buruk manusia yang justru mempengaruhi setan untuk mengontrol menjadi lebih liar lagi,” jelas Aditya, pemain bas.

Dalam EP pertamanya, Shankar menyelipkan “Last Stand” sebagai lagu pembuka. Menceritakan tentang sikap serakah dan dominasi yang ada dalam diri manusia untuk menjadi puncak manusia. Lagu kedua berjudul “Darkest Hant”, menceritakan mengenai perang tanpa akhir yang dapat menghantui manusia.

Selanjutnya, disisipkan pula single yang telah dirilis akhir Februari 2019 bertajuk “Savior of The Death”. Lagu ini mengisahkan seseorang yang berhasil lepas dan bangkit dari kegagalan yang akan menghancurkan hidupnya. EP ini ditutup dengan lagu yang mengisahkan seseorang bekerja keras untuk mengubah roda kehidupannya. Kisah ini dibalut dalam judul lagu “Beyond The Light”.

Era 1970-an

Shankar terdiri dari empat personel, yaitu Adit (vocal & gitar), Gus Adi (gitar), Aditya (Bass) dan Yoga (drum). Band ini memiliki ciri khas pada aliran musiknya memadukan musik doom di dalam materi-materinya. Dengan mengusung genre stoner rock, band ini mengadopsi karakteristik musik tahun 70-an dan 80-an.

Tak hanya mengalir pada genrenya, pada rilis EP pertamanya ini, Shankar juga menerapkan gaya era 70-an dalam produksinya. Ya, Shankar memproduksi karyanya dalam bentuk album fisik.

Di tengah era serba online, Shankar masih mendistribusikan karyanya secara eksklusif melalui CD. Mereka mengaku sadar akan hanya ada sedikit peminatnya, bahkan sekarang CD player pun sangat susah ditemukan.

“Namun, justru itulah yang akan menjadi rasa penasaran para pendengar untuk mencoba CD player lama mereka kembali. Jadi memang eksklusif bagi pendengar yang membeli CD saja yang bisa mendengarkan,” ungkap Aditya ketika dihubungi via WhatsApps.

Di balik keberhasilannya merilis album ini, Shankar telah terbentuk sejak tahun 2016. Pemilihan nama band Shankar juga dipercaya memiliki arti sebagai pembawa kebahagiaan dalam bahasa Sansekerta.

Shankar sendiri mendapatkan panggung pertama kalinya pada tahun 2017, yang sekaligus disahkan secara resmi. Adapun yang menjadi ciri khas Shankar sejak terbentuk yaitu mengusung nilai-nilai kemanusiaan yang dituangkan dalam lirik-lirik karyanya.

“Kami memilih ini karena ingin menyampaikan hal yang terdekat dari kita, yaitu diri kita, manusia dan hal ini banyak yang tidak disadari oleh kita sendiri,” ungkap Aditya. [b]

The post Shankar: Album Eksklusif tentang Kemanusiaan appeared first on BaleBengong.

Denpasar, Harapan dari Balik Bukit


Lalu lintas Denpasar dan kota-kota lain di Bali bagian selatan makin macet. Foto Anton Muhajir.

Oleh Kiki Dewanti

Kapankah kita sampai? Berapa jam lagi?

Saya mual. Muak sekali. Harus berapa belokan lagi? Begitu terus sampai kepala saya gusar dengan jalanan ini. Kenapa begitu jauh? Haruskah membelakangi bukit?

Terbuanglah banyak energi, uang bahkan waktu saya.

Kota ini begitu kecil. Saya jarang sekali menyukainya. Berada di bagian utara yang terpelosok dari hiruk-pikuk. Di mana letak indahnya? Pantai hitam pekat, bau kekerasan, ketidakramahan untuk sesuatu yang baru pun sangat sering saya jumpai.

Hanya senja yang selalu sama. Namun, saya tak setuju jika senja berada di sini. Senja terlalu indah menari di atas laut hitam kota mati ini. Senja terlalu mewah untuk dihidangkan dalam piring seng lusuh penuh cacian.

Hanya senja yang bisa saya nikmati di sini. Andai saya bisa mengantongi senja agar bahagia saya selama di kota ini. Agar bisa saya ceritakan bagaimana malangnya lelaki pedagang nasi yang tak bisa mencintai wanita.

Terlalu sering saya mengutuk kota ini. Lebih baik saya melarikan diri. Menghilangkan jejak dari keterpurukan yang benar-benar membuat saya menjadi manusia kosong. Lari ke seberang bukit yang menjanjikan berjuta keindahan.

Keterpurukan yang semakin jelas karena seharusnya pada November lalu saya menggunakan toga dan sah menjadi ‘pengangguran berpendidikan’. Hahaha. Namun, di sanalah letak kebahagiaan orang tua saya. Melihat gadis kecilnya menggunakan toga dan menyandang gelar sebagai Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris.

Setelah kekecewaan menampar dengan keras, lagi-lagi sebuah keterpurukan menghantam saya. Masalah hati lebih tepatnya. Asmara dua tahun kandas karena benda mati. Bagaimana rasanya cintamu ditolak hanya karena sebuah benda mati? Singkat saja ya, biar gak baper lagi. Hahaha.

Saya memutuskan untuk penenangan jiwa ke Denpasar. Ya, Ibu Kota yang malah menurut saya dapat menenangkan jiwa dan pikiran, di samping stigma orang-orang bahwa Denpasar adalah kota yang berisik.

Hampir sama seperti Jakarta, kata mereka. Tak kerja maka tak makan. Keras, pengap dan hidup yang serba harus berjuang. Berjuang dengan macet, dengan biaya hidup dan jauh dari kata damai.

Tapi, bagi saya di sini saya akan dengan sangat mudah bisa berkembang dan juga melupakan kelam di tahun 2018.

Bulan November akhir, saya mulai sering tinggal di Denpasar. Entah berkunjung ke berbagai Festival, mengunjungi teman lama, mabuk-mabukan bahkan mencari tambatan hati yang baru hanya sebagai pelampiasan semata.

Dua minggu di Denpasar dan hanya dua sampai tiga hari saja pulang ke Singaraja. Saya mencari membenaran diri ke kedua orangtua. Untuk menenangkan diri.

Syukurnya saya mempunyai orangtua yang sangat fleksibel atas pilihan anak-anaknya. Setelah selesai kuliah, hidupmu kau bawa sendiri. Namun tetap dengan dijejali pertanyaan ‘kapan ngurus Skripsinya?’. Saya sedikit mengacuhkan itu, karena hanya perlu tenang untuk sementara waktu.

Hal yang paling mendorong saya ketika ingin berpijak ke Denpasar adalah keinginan kuat untuk berkembang dan melupakan kelam suram dunia di seberang bukit. Saya melihat banyak sekali teman menjadi orang baru ketika bisa bertahan hidup di kota ini. Dalam konteks positif tentunya. Ada yang sukses dalam berteater, bermusik bahkan berbisnis.

Bagi saya, banyak hal yang mereka pelajari ketika hidup di kota besar ini. Dari mengelola uang, waktu juga rasa rindu ingin pulang. Mereka benar-benar menata diri dan hidup ketika berada jauh dari rumah.

Membagi antara waktu bekerja dan senang-senang. Mana uang untuk makan, menabung dan juga hura-hura. Hal tersebut yang sangat saya ingin pelajari dan memberikan diri tantangan agar saya tak lagi menjadi manusia manja.

Tak sulit bagi saya untuk beradaptasi disini. Karena basic-nya saya adalah manusia dengan flekibelitas tingkat astronot. Hahaha. Saya mudah sekali bergaul kemanapun angin membawa. Hanya saja mungkin ada beberapa hal kecil yang benar-benar membuat saya sedikit belajar. Belajar menghargai uang.

Di sini harga beli lumayan tinggi. Sangat berbeda dengan Singaraja yang apa-apa serba murah. Hanya dengan Rp 10 ribu, saya bisa mendapatkan sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauk, es teh manis dan sebatang rokok eceran.

Di sini saya sangat jarang menemukan warung makan yang bisa mendapatkan hal yang sama ketika hidup di Singaraja. Dan juga saya lebih berpikir untuk mengeluarkan sepeser uang untuk hal yang tidak perlu. Belanja ini-itu melulu melihat harga.

Namun, yang saya temui di sini adalah ketersediaan hiburan tanpa batas. Waduh berat juga nih. Harus irit, tapi hiburan ada di mana-mana. Yang di mana harus keluar uang lebih untuk sekedar Say Hello dengan teman lama. Ya namanya juga hidup ya harus ada yang dikorbankan.

Harapan saya besar di kota ini. Seperti harapan kedua orangtua kepada saya. Memberikan kehidupan yang lebih baik, memberikan pelajaran berharga dan juga memberikan suatu proses pendewasaan diri.

Saya lahir di Denpasar. Tumbuh besar dan bermain juga di Denpasar. Tepatnya di Komplek Perumahan Tentara di Jalan Sudirman. Banyak sekali kenangan yang tertanam, bahkan saya tak sanggup melupakan bagaimana serunya bermain sepeda sampai jatuh dan pingsan. Mengumpulkan kartu Yugi-Oh, dan bermain Nintendo yang pada zamannya sudah sangat seru sekali.

Saya ingin hidup kembali ditempat masa lalu saya tumbuh. Dalam kehidupan kota hiruk-pikuk ini, saya juga lebih menghargai waktu untuk merindukan rumah. Kehidupan di sini begitu cepat, pengap dan keras. Di mana saya terus dituntut untuk melakukan sesuatu agar aku bisa terus bertahan hidup. Di sinilah proses pendewasaan hidup dimulai.

Setelah beberapa bulan menetap di sini, saya merasakan ada sedikit yang berubah dalam hidup. Mulai dari cara pandang orang, mengenal manusia jenis baru, belajar hal-hal yang tak pernah saya tahu sebelumnya. Dan yang paling penting adalah mendapat pekerjaan yang lumayan mendukung kehidupan di sini.

Harapan yang terus muncul ketika bangun tidur dan menjelang tidur adalah membuat orangtua mengatakan ‘iya, itu anak saya yang di sana’ dengan bangga dan meneteskan air mata.

Denpasar, bantu saya untuk mewujudkan kebanggaan orangtua. Saya sudah hampir gagal untuk membanggakan mereka, tetapi harapan saya masih kuat denganmu. Bantu saya untuk hidup yang lebih baik. [b]

The post Denpasar, Harapan dari Balik Bukit appeared first on BaleBengong.

Meriahnya Pawai Ogoh-Ogoh Menyambut Nyepi

Pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi dan Tahun Baru Caka 1941. Foto Herdian Armandhani.

Bahkan ada ogoh-ogoh yang bisa mengeluarkan cahaya dari matanya. Kok bisa?

Pawai Ogoh-ogoh lazim diselenggarakan sehari sebelum Umat Hindu Indonesia khususnya di Bali melaksanakan Nyepi dan Tahun Baru Caka. Nyepi tahun ini jatuh pada Kamis (7/3/2019).

Ogoh-ogoh merupakan salah satu kearifan lokal Bali. Dia berupa karya seni terbuat dari anyaman bambu yang dihias menjadi sebuah bentuk sangat artistik. Bentuk ogoh-ogoh kebanyakan berukuran besar, sedang maupun minimalis.

Karaktek ogoh-ogoh dibuat berasal dari cerita-cerita dalam Mitologi Dewa-Dewi Agama Hindu dan cerita Mahabarata. Bentuk paling banyak berwujud Bhutakala, raksasa yang memiliki sifat jahat dan sangat menakutkan.

Kesenian ogoh-ogoh sudah sejak lama ada di Bali. Umumnya satu banjar, setingkat dusun, di Bali membuat satu ogoh-ogoh untuk diarak pada prosesi pengrupukan sebelum Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka.

Pawai ogoh-ogoh dilakukan dengan membawa ogoh-ogoh yang sudah dihias mengelililingi areal desa, kecamatan maupun kota. Pawai ogoh-ogoh menjadi daya magnet warga lokal maupun wisatawan asing untuk menyaksikan kreasi karya seni pemuda-pemudi Bali.

Untuk menambah kemeriahan tradisi kesenian ogoh-ogoh, beberapa daerah di Pulau Dewata membuat kompetisi perlombaan dalam pawai ogoh-ogoh.

Salah satunya perlombaan pawai ogoh-Ogoh di Desa Tegal Kertha, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar pada Rabu (6/3/2019) pukul 18.00 wita.

Mata Bercahaya

Puluhan ogoh-ogoh ikut berlomba dibawa berkeliling disaksikan ribuan warga. Ogoh-ogoh dihias dengan cantik. Bahkan ada beberapa ogoh-ogoh terlihat bergerak dengan ditambahkan mesin penggerak dan mengeluarkan cahaya dari kedua mata yang bersumber dari energi genset.

Ogoh-ogoh yang diarak ditempatkan di atas bilah bambu berbentuk bujur sangkar. Kemudian diangkat puluhan pemuda untuk digerakkan.

Kesenian ogoh-Ogoh yang diperlombakkan tidak sekadar dibawa berkeliling. Pengunjung dapat menyaksikan beberapa pemuda menari dan ada seorang penduduk desa yang membacakan cerita sembari mengolah kata mengenai latar belakang karakter ogoh-ogoh dibuat.

Beberapa pemuda-pemudi menyalakan kembang api untuk mencuri perhatian pengunjung yang menyaksikan pawai ogoh-ogoh.

Kesenian ogoh-ogoh tahun ini pun oleh pemerintah setempat dilarang menggunakan styrofoam sebagai bahan dasar. Hal ini untuk kampanye lingkungan.

Musik pengiring juga tidak boleh menggunakan tata suara dan musik modern. Musik pengiring harus murni dari gamelan Bali. Ogoh-ogoh yang sudah dibawa kelilingng desa, kecamatan maupun kota selanjutkan dibakar di setra (kuburan) sebagai simbol memusnahkan energi jahat di semesta. [b]

The post Meriahnya Pawai Ogoh-Ogoh Menyambut Nyepi appeared first on BaleBengong.

Rangkaian Literasi Digital untuk Safer Internet Day


Permainan ular tangga untuk kampanye literasi digital di Denpasar. Foto Wayan Martino.

Dari ular tangga sampai seminar tentang pemilu untuk kampanye Internet lebih aman.

Puluhan anak-anak, remaja, dan orang tua bergantian memainkan ular tangga di arena car free day Lapangan Renon, Denpasar pada Minggu (3/3). Warga juga memberikan opininya mengenai dampak internet lewat ekspresi emoticon.

Literasi digital diterjemahkan melalui permainan dan curah pendapat di kampanye Safer Internet Day 2019 yang dilaksanakan secara kolaboratif antara komunitas gerakan literasi digital di Indonesia di beberapa kota, salah satunya Denpasar, Bali.

Safer Internet Day (SID) atau Hari Internet Aman adalah kampanye peningkatan kesadaran yang dimulai di Eropa lebih dari satu dekade lalu dan sekarang dirayakan lebih dari 140 negara. SID bertujuan untuk menciptakan internet yang lebih aman dan lebih baik, di mana setiap orang diberdayakan untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, penuh hormat, kritis, dan kreatif.

Kampanye ini bertujuan untuk menjangkau semua kalangan. Anak-anak dan remaja, orang tua dan wali, guru, pendidik, industri, pemerintah, dan politisi untuk mendorong semua orang memainkan peran mereka dalam menciptakan internet yang lebih baik.

Dalam ular tangga edukasi ini ada sejumlah pengetahuan yang harus dibaca atau dijawab oleh yang memainkan. Misalnya sebutkan 3 hal positif dan negatif internet, peringatan hoaks, dan tips jika main game tidak menggunakan nama atau identitas asli.

Sementara saat curah pendapat, dua relawan mengenakan papan karton mengajak puluhan warga menuliskan pendapatnya tentang empat hal.

“Ayo silakan ekspresikan pendapatmu, kalau berbagi foto pribadi dan lokasi itu aman atau tidak?” tanya Agus, salah seorang relawan kampanye.

Sementara pada sore hari, kampanye dilanjutkan dengan diskusi santai milenial bersama dengan topik “Pemilu Tetap Asik di Tengah Medsos yang Berisik.”

Sebagai narasumber ada Adya Nisita (Siberkreasi), Luh De Suriyani (BaleBengong), Wulan Ayu (duta Youth IGF Indonesia), dan I Gede Putu Khrisna Juliharta (koordinator Relawan TIK Bali). Mereka mengajak anak muda aktif mencari informasi tentang Pemilu dan peserta Pemilu agar bisa menggunakan hak pilih secara bertanggungjawab.

“Tidak perlu menunggu perang untuk menyemai damai di internet kan,” ajak Adya Nisita, Manajer Riset Siberkreasi ini.

Sementara Wulan Ayu, siswa SMA di Semarapura ini menyebut diri sebagai pemilih pemula dan berharap tidak ada kalah menang antar pendukung tapi memenangkan masa depan Indonesia yang lebih baik.

Puluhan peserta diskusi adalah anak muda dan sebagian mahasiswa IT. Mereka merefleksikan bagaimana caranya membuat politik jadi menarik dan penting untuk dikritisi.

“Kita bisa cek latar belakang mereka, apa yang mereka lakukan, dan lainnya, kita kan tahu internet,” sebut Aris, salah satu mahasiswa.

Seminar tentang pemilu dan Internet di STMIK Primakara. Foto Luh De Suriyani.

Maraknya Hoaks

Pada Senin (4/3) agenda literasi digital Siberkreasi berlanjut di Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer (STMIK) Primakara. Topiknya tentang bagaimana jika hoaks masuk ke dalam dunia politik?

Seminar yang dihadiri sekitar 200 anak muda tingkat SMA dan mahasiswa ini dibuka oleh Ketua STMIK Primakara.

Dalam sambutannya Donny BU, staf ahli Kemenkominfo mengatakan saat ini di Indonesia ada 155 juta pengguna internet dan 60-70 persen adalah generasi milenial berusia 18-35 tahun. Mereka pemilih pemula tahun ini.

“Ini besar sekali, bayangkan memilih tanpa informasi benar. Ada hoaks, dan akan merugikan Indonesia tak hanya 5 tahun ke depan,” paparnya.

Kegiatan daring terus meningkat. Dia menyebut tiap pengguna internet menghabiskan 3,5 jam di medsos per hari. Sedang literasi membaca buku, durasi 3,5 jam per minggu. Karena itu perlu konten-konten literasi digital. Ia mengajak menjaga kredibilitas dan integritas dengan memanfaatkan internet dengan aman.

Pandu Digital adalah gerakan anak muda menggunakan internet secara bertanggungjawab. Mereka akan mendapat badge merah, biru, dan hitam. Bambang Tri dari Kemkominfo mengajak anak muda memanfaatkan program ini untuk mengembangkan diri dan menambah pengetahuan di bidang literasi digital.

Anggota KPU Bali, I Gede John Darmawan menyebut hoaks tahun ini jauh lebih banyak dibanding Pemilu 2014. “Pemilu sebelumnya menyerang peserta tapi tahun ini ada upaya merusak kandang. Yang diserang penyelenggara Pemilu,” sebutnya. Ia menyontohkan pada 2 Januari ada kabar tersiar bahwa 7 kontainer surat suara masuk dari Cina dan sudah tercoblos.

KPU dan Bawaslu langsung cek ke pelabuhan Tanjung Priuk. “Ternyata tidak ada kontainer itu. KPU langsung verifikasi. Tak hanya konter media resmi juga medsos pribadi komisioner,” jelasnya.

Faktanya pada 2 Januari surat suara belum divalidasi oleh dua pasang calon, 16 parpol, dan 4 parpol lokal di Aceh. Pada 16 Januari surat suara baru dicetak. “Sebelum dilipat, dicek, ada tercoblos atau tidak,” lanjut John.

Hoaks lain adalah disebut 14 juta orang gila masuk DPT. Saat Pemilu sebelumnya di Bali ada 60 pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli yang direkomendasikan dokter untuk bisa mencoblos.

Dilihat dari umurnya, di DPT Provinsi, John menyebut ada 67 persen pemilih melek informasi dan teknologi, dan harusnya tahu perkembangan situasi politik. Ia bertanya ke peserta seminar kapan Pemilu untuk memastikan anak muda peduli atau tidak dengan peristiwa ini.

Tri Werthi, dosen STMIK Primakara dan Relawan TIK di Bali memaparkan hoaks terbanyak adalah soal sosial politik sekitar 90 persen, kemudian SARA sekitar 80 persen, informasi kesehatan, dan lainnya.

Cara mengenali hoaks dengan memastikan sumbernya, website apa, penulis, dan penanggung jawab webnya. Selain itu bandingkan dengan informasi di media lain, atau cek sendiri dengan sejumlah aplikasi yang sudah bisa diunduh.

Sementara Andi Budimansyah dari Pandi memaparkan tata kelola internet dalam Internet Governance Forum (IGF). Ada 7 sektor termasuk keamanan siber. Semuanya terkoneksi. Indonesia sendiri memiliki forum Indonesia IGF. Saat ini sedang digodok RUU Perlindungan Data Pribadi, salah satu isunya adalah hak untuk dilupakan, data bisa dihapus tapi berdasar perintah pengadilan. Misal korban anak difoto telanjang bisa minta ke pengadilan untuk dihapus.

“Tapi tak bisa menjamin kalau tak di-save oleh pihak lain,” ingatnya tentang risiko membagi konten pribadi ke medsos.

Selain seminar, juga ada sesi lokakarya membuat konten medis sosial yang berdampak. Pematerinya adalah Putu Dian yang terkenal dengan kartun Beluluk yang merespon isu sosial dan lingkungan dengan kritis tapi lucu. Ada juga Geranuma Taswin dari Siberkreasi, Edi Prayitno (Torch Media), dan Iin Valentine (Balebengong).

Seminar dan lokakarya ini menutup rangkain kampanye publik dari Siberkreasi dengan dukungan ICT Watch. Bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Pemkab Banyuwangi, Relawan TIK Indonesia, BaleBengong, Sobat Literasi Jalanan Palembang, Torch Media, Ford Foundation, dan Indonesia Child Online Protection (ID-COP). [b]

The post Rangkaian Literasi Digital untuk Safer Internet Day appeared first on BaleBengong.

Serunya Belajar Konten Menulis Kreatif

Peserta Kelas Akber ke-83 bersama Irma Yudistirani. Foto Herdhian Armandhani.

Bagaimana sih cara menulis yang baik itu? Kelas Akber kali ini menjawabnya.

Komunitas Akademi Berbagi (Akber) Bali kembali mengadakan kelas belajar gratis untuk masyarakat. Kelas ke-83 yang digelar Akber Bali diadakan di Colony Creative Hub di Renon, Denpasar pada Rabu (27/02/2019) petang.

Tema yang diangkat dalam kelas kali ini yaitu “ Creative Writing form Think to Ink”. Irma Yudistirani didaulat sebagai guru kelas mengajar yang dimulai pukul 18.30 WITA.

Irma Yudistirani merupakan sosok wanita yang sudah bergelut di dunia kepenulisan sejak tahun 2008. Ia mengawali karirnya dengan terjun sebagai wartawan di salah satu harian terkenal di Malang. Pengalaman menulisnya dibidang budaya, sosial, kriminal dan lainnya membuatnya kini dipercaya sebagai penyunting berita di IDN Times Bali.

Tak kurang dari 30 orang lebih mengikuti kelas menulis kreatif yang dipaparkan oleh mantan wartawan Tribun Bali ini. Di awal kelas, Irma memberikan tips kepada para peserta Akber 83 dalam menulis judul. Judul dalam sebuah artikel maksimal memiliki 70 suku kata.

Agar artikel yang dibuat mudah dilacak di mesin pencari dunia maya sebaiknya di akhir artikel dituliskan kata kunci.

Menulis konten artikel haruslah sinkron. Ada beberapa berita daring yang banyak membuat judul artikel bombastis tetapi ketika pembaca lebih instens melihat isi artikel atau berita yang dibaca ternyata tidak berkaitan. Sebuah artikel atau berita yang baik agar banyak dibaca sebaiknya judulnya harus mewakili isi konten dan harus jelas.

“Isi sebuah artikel atau pembuatan berita jangan lupa mengandung 5 W+1 H. Apabila menggunakan data seperti artikel atau berita ilmiah sumber harus dicantumkan. Isi artikel pun harus ada kalimat pembuka dan penutup agar lebih menarik,” ungkapnya.

Irma juga membagikan tips asyik menulis kata-kata dalam membuat sebuah artikel. Pertama dalam menulis artikel apabila menyebutkan narasumber tidak boleh body shamming. Kedua gunakan kata-kata populer sehari-hari dan tidak bertele-tele alias to do pint.

Ketiga, membuat sebuah artikel atau berita tidak boleh terlalu banyak menggunakan opini pribadi dan cenderung menghakimi seseorang.

Selain memaparkan teori kepada para peserta kelas Akber Bali 83. Irma pun mengajak praktek menulis layaknya seorang wartawan. Peserta yang membawa gawai diminta mengunduh aplikasi harian berita yang ia asuh di situs unduh gratis.

Kemudian, para peserta membuat personal account. Peserta bebas untuk menulis artikel apapun yang disukai dalam waktu 7 menit dengan 2 sub artikel. Tak lupa pula setiap artikel harus dilengkapi foto sebagai ilustrasi.

Membuat artikel dalam waktu 7 menit memacu adrenalin peserta agar lebih kreatif menulis.

“Menulis dalam waktu 7 menit sudah seperti wartawan yang dikejar deadline oleh editor surat kabar. Peserta Akber Bali 83 saya ajak untuk menulis konten yang mereka gemari dan akan dibedah agar lebih baik lagi,” jelasnya.

Tujuh peserta yang berani maju ke depan kelas untuk dibedah oleh Irma banyak menulis artikel ala anak-anak generasi millennial. Judulnya pun cukup unuk seperti “3 Film Indonesia yang Sayang untuk Tidak Ditonton”, “3 Film Marvel yang Tayang Sepanjang Tahun 2019”, dan masih banyak lagi.

Peserta yang berani artikelnya dibedah mendapatkan hadiah voucher. [b]

The post Serunya Belajar Konten Menulis Kreatif appeared first on BaleBengong.