Tag Archives: Denpasar

Bedah Rumah; dari ODGJ untuk ODGJ

Memperbaiki rumah untuk meningkatkan martabat orang dengan gangguan jiwa.

Rumah Berdaya Denpasar siang itu tampak lebih sepi dari hari biasa. Hanya tampak beberapa pegawai yang bertugas. Di masa pembatasan sosial karena wabah Covid-19 memang warga Rumah Berdaya diimbau untuk lebih banyak di rumah. Hanya pada saat berobat datang ke komunitas orang dengan gangguan jiwa yang berlokasi di Jalan Raya Sesetan, Pegok, Denpasar Selatan ini.

Saya menemui Nyoman Sudiasa, Koordinator Rumah Berdaya Denpasar. Kami berbincang tentang kegiatan bedah rumah yang baru saja selesai dan diserahterimakan pada akhir Maret 2020 lalu. Bedah rumah adalah program baru Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali, induk organisasi Rumah Berdaya Denpasar.

Biasanya, program bedah rumah diinisiasi pemerintah. Namun, kali ini berbeda. Bedah rumah dikerjakan oleh orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) khususnya skizofrenia. Mereka adalah warga Rumah Berdaya Denpasar yang telah pulih.

Pak Nyoman, panggilan akrab Nyoman Sudiasa dengan semringah menceritakan pengalamannya. Ia adalah penyintas skizofrenia dan salah satu pendiri KPSI simpul Bali.

“Saya merasa bahagia bisa membantu orang yang senasib dengan saya. Kebetulan saya punya pengalaman menjadi tukang bangunan jadi mengerti tentang bedah rumah,” katanya.

Sudiasa menuturkan, kegiatan bedah rumah ini rumah keluarga Wayan, Orang dengan Skizofrenia (ODS) di Pegok, Sesetan, Denpasar Selatan. Selama beberapa bulan ia dibuatkan kamar berterali dan terpisah dengan keluarga inti. Kondisinya kurang layak, WC dan toilet menjadi satu dengan tempat tidur. Kawat berduri menghiasi pintu dan jendela yang memberi kesan penghuninya berbahaya.

Dari informasi dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, SP.KJ, psikiater dan pendiri KPSI simpul Bali, pihaknya bersepakat untuk merenovasi rumah Wayan. Biaya berasal dari para donatur yang terketuk hatinya untuk membantu Wayan agar bisa hidup layak dan bermartabat.

“Pekerjaan dilakukan warga Rumah Berdaya di sela-sela waktu lowong, jadi tidak setiap hari, mulai dari memasang tegel, mengganti pintu dan jendela hingga mengecat ruangan. Waktu pengerjaan selama sebulan,” kata Nyoman Sudiasa.

Edukasi Sederhana

Program bedah rumah yang dilakukan pertama kali oleh KPSI simpul Bali berlangsung lancar. Hal ini tak lepas dari dukungan keluarga Wayan yang setelah diberikan edukasi sederhana tentang kesehatan mental mengizinkan membawa kembali Wayan ke Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali di Kabupaten Bangli untuk berobat, dan tak lagi mengurungnya seperti beberapa bulan belakangan.

Rai Putra Wiguna menyebut kondisi kesehatan Wayan berangsur membaik. Sebelumnya pihak keluarga terpaksa mengurungnya karena relaps (kambuh) akibat putus pengobatan. Wayan mengidap skizofrenia sejak hampir 20 tahun lalu saat ia remaja, dan telah bolak-balik ke RSJ.

“Kini dengan pengobatan rutin kondisinya pulih, mendapat bedah rumah dari Rumah Berdaya Denpasar yang dikerjakan oleh ODS dari dana yang terkumpul. Kelengkapan kamar berupa lemari dan tempat tidur berasal dari Ibu Walikota Denpasar Selly Mantra yang juga ketua K3S Kota Denpasar, juga pakaian layak pakai dari para donatur. Terima Kasih kami ucapkan kepada semua pihak,” ujar Rai Putra Wiguna.

Ia menambahkan, program bedah rumah dari dan untuk ODGJ ini merupakan bukti bahwa penyandang disabilitas mental yang telah pulih mampu berdaya, membantu orang lain dengan kemampuan mereka.

“Ini tantangan bagi orang dan masyarakat yang disebut normal dan sehat, membantu warga yang sering distigma dengan sebutan ‘gila’. Masalah kesehatan mental tanggung jawab kita bersama, sudah bukan zamannya lagi saling menyalahkan,” pungkasnya.

Bagi Rai Putra Wiguna, saat ini waktu yang tepat untuk saling bersinergi antara pemerintah, layanan kesehatan dan juga komunitas serta LSM bahu-membahu mengatasi permasalahan kesehatan mental di lingkungan masing-masing dan menekan angka pemasungan dan penelantaran ODGJ.

“Untuk membuat hidup mereka lebih bermartabat,” katanya.

Kader Kesehatan Jiwa

Berdasarkan data, saat ini di Denpasar terdapat 529 ODGJ. Untuk itu, Dinas Kesehatan Kota Denpasar bekerja sama dengan KPSI Simpul Bali, Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI), dan STIKES Bina Usada mengadakan pelatihan kader kesehatan jiwa untuk puskesmas se-kota Denpasar.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Luh Putu Sri Armini, M.Kes mengatakan, pelatihan kader kesehatan jiwa nantinya akan dirancang untuk mewujudkan desa sadar sehat jiwa. Namun, katanya, yang perlu dicatat adalah bukan berarti di desa atau kelurahan tersebut tidak ada warga yang mengalami gangguan jiwa.

“Jadi, yang sehat tetap sehat, dan yang mengarah ke gangguan jiwa tidak menjadi sakit jiwa, atau jika pun didiagnosis mengalami gangguan jiwa akan tetap diobati. Hal ini perlu digarisbawahi agar tidak salah kaprah,” katanya.

Ia menambahkan, di Kota Denpasar para ODGJ telah tertangani dengan baik, apalagi kini Puskesmas telah menyediakan layanan kesehatan mental termasuk penyediaan obat gangguan jiwa. Juga, bagi ODGJ yang telah pulih telah disediakan tempat pemberdayaan yakni di Rumah Berdaya Denpasar.

Rai Putra Wiguna menyebut, pelatihan ini adalah langkah untuk mewujudkan Denpasar bebas pasung. Jadi setiap desa atau kelurahan diharapkan memiliki kader kesehatan jiwa, yang salah satu tugasnya melakukan deteksi dini ke rumah-rumah untuk mengetahui apakah ada warga yang mengalami gangguan jiwa berat dan belum berobat Termasuk juga mendeteksi juga orang dengan masalah kesehatan jiwa.

“Istilahnya ODMK, yakni orang yang belum mengalami penyakit jiwa tapi berpotensi besar memiliki masalah kesehatan jiwa misalnya setelah kehilangan orang terdekat, perceraian, atau mengalami kekerasan. Jadi baru masalah saja dan itu akan dideteksi oleh kader kesehatan jiwa. Termasuk nanti jika sudah mendapat pengobatan juga ikut mendukung keluarga untuk mengawasi pemberian obat secara rutin,” ujar psikiater RSUD Wangaya, Denpasar ini.

Dijelaskan, pelatihan kader kesehatan jiwa ini sebelumnya sudah dilaksanakan di dua puskesmas berjumlah 57 orang termasuk pelatihan bagi dokter umum dan para perawat kesehatan jiwa. Semua ini akan mengarah ke pembentukan desa atau kelurahan sadar sehat jiwa.

“Kami punya data yang terintegrasi, baik yang berobat di puskesmas atau rumah sakit di mana jumlah pengidap gangguan jiwa di Kota Denpasar yang sudah tertangani adalah 529 orang. Data meliputi nama, alamat, jenis obat dan kapan habisnya. Hal ini bertujuan mencegah terjadinya pemasungan,” terangnya.. [b]

Unjuk Nada Pohontua Creatorium Seri Pertama

Pohontua Creatorium memulai upaya menghunjamkan akarnya.

Pohontua Creatorium, sebuah label rekaman independen dari Bali, akan mengadakan acara musik “Pohontua Creatorium, The Participles Vol. 01” pada Jumat, 6 Maret 2020 di The Orchard Bar & Resto.

Acara off air perdana dari Pohontua Creatorium ini akan menampilkan band-band di bawah naungan label ini yaitu Made Mawut, Soul & Kith, Rivaba, dan Electric Gypsy.

Acara “Pohontua Creatorium, The Participles Vol. 01” akan dimulai pukul 19.00 WITA. Akan ada pemutaran perdana video musik “The Fear”, single perdana dari mini album “Soulitude” milik Rivaba.

Keberlangsungan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak di antaranya Bintang Riyadi dari (Sing Your Life), Pica Magz, Dadang Pranoto (Pohontua Creatorium) dan Greame pemilik dari venue The Orchard Bar & Resto.

Tentu saja kesempatan ini terbuka bagi band-band lain untuk berpartisipasi di panggung volume berikutnya. Anggap saja ini sebagai sebuah perayaan musik berkualitas yang mengedepankan musisi Bali yang memiliki karya sendiri. Bukankah itu yang kita butuhkan saat ini? Menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Tentang Pohontua Creatorium

Di tengah bergeliatnya musik di Bali, lahir sebuah label bernama Pohontua Creatorium yang digawangi Dadang Pranoto dan Cipta Gunawan. Dua nama ini tidak asing di dunia permusikan di Bali. Keduanya sudah lebih dari 20 tahun berkecimpung di dunia musik Indonesia.

Dadang Pranoto adalah gitaris Navicula, frontman Dialog Dini Hari, mind master duo Electric Gypsy, dan berdiri sendiri sebagai Pohon Tua dalam berbagai bentuk kolaborasi. Cipta Gunawan adalah seorang jenius yang berdiri di balik bunyi-bunyian apik pada penampilan Navicula, dan banyak album rekaman musisi-musisi Bali.

Sejak tahun 2019, secara diam tapi pasti, Pohontua Creatorium telah membidani karya-karya musisi Bali dengan apik. Sebut saja album “Merdeka 100% dari musisi delta blues Made Mawut, yang cukup menjadi perbincangan di banyak wilayah skena independen karena karyanya yang cukup unik dan otentik. Album “Merdeka 100%” menjadi nominasi album terbaik di Anugerah Musik Bali.

Pohontua Creatorium juga membantu duo gloomy folk Soul & Kith mengasah serta mempertajam bakat mereka yang bisa kita dengar dari single “Hujan” yang sudah rilis secara digital. Tahun 2020, Pohontua Creatorium membantu musisi blues Rivaba merilis mini albumnya berjudul “Soulitude”.

Masih ada beberapa rilisan di waktu mendatang dengan nama-nama mengejutkan yang masih dirahasiakan sebagai bukti bahwa Pohontua Creatorium akan terus menghujamkan akarnya lebih kuat ke poros bumi. [b]

Pajeromon, Umpatan ROLLFAST pada Ajik Berbadan Kekar

Dua merek khas pria dalam satu lagu untuk mengkritik ajik-ajik.

Digimon Adventure merupakan serial anime Jepang yang diproduksi sekitar akhir 1990-an dan awal 2000-an. Seingat saya hadir di layar kaca tiap Minggu.

Anime ini mengisahkan petualangan tokoh-tokohnya di dunia digital. Tentu saja sekaligus persahabatannya dengan Digimon (Digital monster). Agomon, Gatamon, Gabumon hanya tiga dari sekian banyak Digimon yang muncul diserial anime ini.

Sejujurnya, Pikachu dan anime Pokemon jauh lebih membekas dalam ingatan saya dibandingkan dengan anime Digimon. Namun, kemunculan secara resmi ““Pajeromon”” pada 14 Februari 2020, memunculkan kembali ingatan pada Digimon.

Pertama kali membaca kata ini pikiran langsung mengonotasikannya dengan sebuah hormon, seperti testoteron dan progesterone. Mungkin karena akhiran “on” di belakang “pajerom”. Namun, ternyata konotasi yang berhasil ditarik itu salah. Deskripsi di unggahan video menyatakan bahwa ““Pajeromon”” merupakan figur Digimon (Digital Monster), sesosok monster imajiner yang dilahirkan ROLLFAST.

“Pajeromon”, figur digimon yang dihadirkan dalam bentuk sebuah single.

Baiklah. Daripada panjang kali lebar membahas digimon, yang berpotensi dianggap sebagai nostalgia manis anak 90-an yang enggan move on, maka lebih baik sedikit berbincang tentang “Pajeromon”, Digimon yang baru saja dilahirkan oleh ROLLFAST, sebuah band psychedelic rock yang awalnya beranggotakan 5 orang pemuda Denpasar.

Berawal dari Ajik

“Ajik datang… Ajik datang… Ajak datang…” disebut berulang-ulang. Seolah begitu kegirangan menyambut kedatangan sosok yang ditunggu, sang Ajik.

Ajik adalah panggilan untuk sosok berpengaruh dalam struktur kuasa. Pangilan ayah dalam keluarga darah biru. Bisa juga digunakan untuk menjilat para pembesar secara kedudukan, kekayaan atau kekuatan.

Bukankah seseorang suka dipuji? Dan, panggilan ini tentu saja efektif digunakan untuk menggerogoti orang-orang belog ajum (sombong dengan kebodohannya).

Pembukaan ini menggambarkan bentuk awal dari makhluk imajiner Pajeromon sekaligus menjawab dari mana asal komentar “ajik datang” yang sering meuncul di kolom komentar unggahan Instagram band ROLLFAST.

“Dini hari di simpang enam yang kini dipensiunkan.”

Setelah mendengar teriakan kegirangan menyambut kedatangan Ajik, kita diajak ke sebuah sudut ikonik kota Denpasar. Simpang enam. Sebuah persimpangan dengan bilangan prima terbanyak yang saya tahu. Karena simpang siur bukanlah sebuah bilangan, tetapi lebih pada sebuah keadaan kusut.

Dan, bagi saya yang jarang ke Bali Selatan, kehadiran Underpass Simpang Siur membuat Simpang Siur semakin kusut, karena salah jalur berarti salah arah. Hidup sudah simpang siur, jadi tidak usahlah semakin dibuat kusut dengan melintasi Simpang Siur (kini Simpang Dewa Ruci). Namun, di sisi yang lain hidup terlalu beragam untuk diseragamkan hanya dengan dipermudah mengikuti nasehat berada “satu jalur”.

Persoalannya, tempat apa di Simpang Enam yang kini dipensiunkan? Kalimat dipensiunkan merujuk pada paksaan, dipaksa pensiun. Tebak-tebak buah manggis, apakah tempat di simpang enam yang dipaksa pensiun?

Jawabannya tentu mudah, tinggal Googling saja. Mengetauhi tempat tersebut sebenarnya penting-tidak penting. Tidak penting karena Pajeromon tetap akan lahir dengan atau tidak mengetahui tempat tersebut. Penting, karena dengan mengetahui tempat tersebut kita bisa memahami secara detail latar evolusi Ajik sekaligus mengetahui sekelumit sejarah kota Denpasar. Bahwasannya kota ini pernah memiliki sebuah pusat hiburan malam dengan dunia yang bertautan di dalamnya.

Diiringi dentuman drum, (mungkin) suara burung gagak, gitar, bass dan bebunyian lain yang begitu padat, ROLLFAST mengajak bertemu sosok ajik yang sebenanrya.

“Komandan bagi-bagi bantuan langsung berupa cinta merah muda.”

Komandan, sosok yang memegang komando, memiliki kuasa banyak orang dan yang hobi pamer. Tentu bukan perasaan yang dipamerkan. Lebih nyata dari itu, kekuatan meteri, lebih konkret.

Dini hari membagikan bantuan langsung cinta merah muda, hanya karena 14 Februari merupakan hari Valentine jangan kemudian berimajinasi yang dibagikan itu adalah perasaan cinta yang romantik. Bisa jadi itu hanya selembar uang Rp 100 ribuan yang dihamburkan.

Untuk apa? Untuk menunjukkan kuasa sebagai usaha pemenuhan rasa berkuasa. Bukankah pengakuan merupakan sebuah bentuk kebutuhan yang dibutuhkan manusia?

Itulah sekelumit petikan lirik dari lagu “Pajeromon” milik ROLLFAST, sebuah band yang dimotori oleh Agha Praditya (vocal), AAN Triandana (Bass) dan Bayu Krisna (Gitar). Sebuah single yang baru saja dilepas ke Youtube dalam bentuk video lirik. Seolah ingin ikut merayakan hari Valentine.

Jika membaca lebih detail keterangan tentang Pajeromon yang mengantarkan unggahan video, hal pertama yang terlintas tentu sebuah teori cocoklogi.

Bayangkan saja, Pajeromon ternyata berasal dari tiga kata; Pajero, Jero, dan Romon. Tiga kata yang kemudian digabungkan dan menjadi sebuah kata Pajeromon yang kemudian dipilih sebagai nama dari anak mereka yang ternyata sosok monster digital. Kurang cocoklogi apa lagi?

Bagaimana mungkin, sebuah varian mobil (Pajero) digabung dengan kata yang selain berarti panggilan untuk orang yang mendapat wewenang (tanggung jawab) juga bisa merujuk pada rumah keluarga berkasta (Jero). Dua kata itu kemudian ditambah lagi dengan sebuah kata sifat romon yang berarti kotor (Romon). Lalu menjadi sebuah kata yang mewakili sifat maskulin yang diumbar.

Ahhh, apa yang sebenarnya ada dalam kepala mereka?

Mari tinggalkan saja teori cocoklogi ala ROLLFAST dalam hal membuat kata “Pajeromon”. Kita kembali masuk ke sebuah tempat yang dipensiunkan di Simpang Enam, di mana komandan sedang membagikan bantuan langsung cinta merah muda.

“Jika tak sungkan, sembunyikan homofob, demi ikan tercinta”

Perlahan ajik berevolusi (bukan Revolusi Bung), menjadi sosok komandan yang berlaku begitu licik. Menyembunyikan prilaku antipati terhadap orientasi di luar apa yang diyakininya hanya untuk bisa berbaur. Semakin menancapkan kuasanya dan tentu saja memastikan dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Menjelma binatang di lantai mangsa, mengkristalkan hasrat kuasa.”

“Ereksi maskulinnya, sang bonobo berkedok dansa.”

Keriuhan lantai dansa menstimulasi. Di tengah kerumunan mangsa, Ajik sang komandan berevolusi sempurna, menjadi binatang. Sifat aslinya muncul, cara pikir kerdil disembunyikan di balik setiap laku maskulin yang diumbar. Kuasa kekuatan yang diperagakan untuk semakin menancapkan kuku kuasa dan melanggengkan kekuasaan.

Apa akibatnya?

“Hukum rimba lantai dansa, kuku bima haus mangsa
Hukum rimba lantai dansa, kuku bima raja rasa
Hukum rimba lantai dansa, kuku bima merasa raja
Hukum rimba lantai dansa, kuku bima haus mangsa”

Kemunculan Pajeromon menjadi sosok yang tak bisa dihindarkan terutama ketika orang-orang licik, homofobia, tetapi memiliki kekuatan dan kuasa seperti misalnya Ajik si komandan diberi ruang.

Maskulin menjadi sifat yang begitu dekat di kesaharian, seperti halnya kasih yang begitu mudah berubah menjadi kasihan, sifat begitu cepat mewujud. Hadir dalam bentuk nyata prilaku-prilaku yang berorientasi pada pamer kekuatan dan kekuasaan.

Penggunaan kata “kuku bima” sebagai sebuah frasa yang mewakili sifat maskulin menjadi kejutan tersendiri. Sebuah klimaks dari perilaku si ajik yang berevolusi menjadi “Pajeromon”. Bagaimana tidak, kuku bima begitu familiar di telinga karena menjadi varian sebuah minuman instan yang memamerkan kekekaran, kekuatan, vitalitas, keberanian, hal-hal yang begitu diidentikkan dengan kata maskulin.

Dua Jenama

Pajeromon ternyata sebuah lagu yang menghadirkan 2 merek. Merk pertama “Pajero” merupakan varian mobil model SUV yang siap melibas segala medan sebagai simbol kekar dan bertenaga. Dia dipilih mewakili penggambaran sosok ajik si komandan aka Pajeromon. Merek kedua “Kuku Bima” yang dipilih untuk menggambarkan kekuatan dan perilaku Si Pajeromon.

Jangan lupa Bima adalah simbol kekuatan dalam mitologi Panca Pendawa. Bahkan pis Bima (keping uang logam yang menggambarkan sosok Bima) seringkali dicari karena dipercaya tuahnya akan memberi kekuatan pada penggunanya.

Dua merek yang memang menyematkan kesan maskulin dan menggunakannya sebagai media jualan. Yang tanpa disadari tentu saja menjadi media untuk semakin menguatkan paham maskulin di tengah-tengah kita. Sebuah cara halus yang begitu romon, yang tanpa disadari memupuk mentalitas yang tidak kalah romon-nya (romon=kotor, Bahasa Bali).

Melalui Pajeromon, ROLLFAST menghadirkan dan menggunakan dua merek yang begitu jelas menggunakan maskulin sebagai strategi branding penjualan mereka untuk kemudian mengkritisi bagaimana perilaku sosial yang lahir dari sifat maskulin tersebut. Sifat yang oleh khalayak ramai biasa dilihat dan kita anggap biasa.

Bagaimana pemujaan berlebih atas kuasa kekuatan yang tengah berlangsung di tengah-tengah kita dan diumbar sedemikian rupa. Bagaimana orang-orang dengan “kuku bima” bisa seenaknya mengekspresikan hasratnya, bagaimana hukum rimba lantai dansa ternyata bekerja keluar dari lantai dansa dan terjadi di sekitar kita.

Buat yang berpikir ROLLFAST akan menghadirkan komposisi musik sama dengan di album pertama mereka, kalian harus kecewa. Di single Pajeromon, ROLLFAST menghadirkan bentuk baru, baik secara lirik, cara sang vokalis menghadirkan lirik ke dalam lagu, bahkan aneka bebunyian yang muncul dalam lagu.

Pajeromon adalah sebuah penggambaran imajiner. Menyusuri lekukan tubuh monster digital melalui lirik kasar tanpa pengulangan (jangan berharap menemukan reff). Lirik kasar dan cenderung vulgar, tak butuh usaha berat untuk mencernanya. Namun, kekasaran lirik yang jauh dari kata puitis membuat laku sosok “ajik” bisa tergambarkan dengan jelas.

Iringan komposisi instrumen yang tak kalah kasar, dengan serangkaian bebunyian yang entah dari mana, berhasil menyusuri derap adrenalin yang ikut melata di lantai dansa sebuah tempat di Simpang Enam. Sedikit akses mistis (gagak dan suara seperti seruling ular) menghadirkan kemuakan pada sosok kekekaran Si Pajeromon dan tradisi maskulin yang diumbarnya.

Jika bagi ROLLFAST Pajeromon merupakan sosok Digimon imajiner, maka dengan subjektivitas pendengar, saya tetap berada pada pendirian bahwasannya Pajeromon adalah sebuah hormon. Alasannya sederhana, sebagai Digimon, “Pajeromon” akan menjadi sosok di luar diri yang bisa dengan mudah ditinggalkan.

Namun, sebagai hormon “Pajeromon” adalah sesuatu yang ada dalam diri, yang oleh kekusaan dan kekuatan dalam genggaman tangan bisa mengubah siapapun menjadi sosok binatang yang menyembunyikan kekerdilan cara berpikirnya dengan berperilaku penuh penggunaan kekuatan dan kekuasaan. Itu artinya siapapun bisa berubah menjadi “Pajeromon” ketika menggenggam kuasa.

Ape gaene jleme-jleme ne?” (apa sih yang orang-orang ini buat?)

Mungkin saja muncul ketika pikiran terpaku pada komposisi music psychedelic rock ala ROLLFAST di album “Lanes Oil, Dream Is Pry”. Pemikirian yang mungkin harus dikoreksi karena apa yang dihadirkan lewat Pajeromon tentu bukan sesuatu yang sama dengan ROLLFAST di album pertama. Bukan pula komposisi musik yang biasa menyusup ke telinga. Di sanalah letak keunikan Pajeromon, sesuatu yang segar yang tak biasa didengar telinga.

Sebagai pendengar ada imajinasi nakal yang tiba-tiba muncul. Bagaimana jika single ini diputar di mobil Ferosa Jumawa, sebuah mobil yang dimodifikasi sehingga bagian depan terlihat menengadah. Kendaraan yang biasanya mengangkut orang-orang kekar, dengan potongan rambut komando dan dada membusung, seragam. Lalu bagaimana sosok-sosok seperti itu larut dalam beat Pajeromon, bergoyang minimalis, dengan tetap membusungkan dada, seragam.

Atau jika ROLLFAST menggunakan Ferosa ini sebagai simbol sifat maskulin (menggantikan Pajero), mungkin judulnya jadi “Feromon” hormon ferosa. :P.

Tulisan ini hanya sebuah tanggapan subjektif bagi Pajeromon, satu lagu dengan judul cocoklogi memuat dua merk yang mengumbar kekuatan-kekekaran otot-dan sifat pamer kekuatan dan kuasa. Seperti halnya ajik yang bisa jadi siapa saja dan muncul di mana saja, demikian juga Pajeromon tidak melulu kekar, berotot dan hadir di Simpang Enam.

Dalam bentuk kolektif “Pajeromon” bisa menjelma penguasa yang mengunakan pendekatan kekerasan dalam setiap persoalan, bisa menjelma masyarakat yang tidak toleran terhadap minoritas. Dalam individu bisa menjadi kaum fanatik dan homofobia yang anti pada perbedaan di luar keyakinannya.

Bahkan dalam bentuk nyata bisa menjelma sosok raja rupawan yang gila disembah, memamerkan kuasa di hadapan ibu-ibu yang sebelumnya gigih berjuang mempertahankan ruang hidupnya. Sialnya kehadirannya alih-alih membela perjuangan gigih warga malah memperkeruh situasi dan semakin menjauhkan warga dari hak dan akses tanah yang secara turun temurun telah menjadi ruang hidup mereka.

Single “Pajeromon” bisa menjadi sebuah single reflektif untuk melihat diri dengan potensi kerentanan yang sama bagi setiap orang untuk berevolusi menjadi ajik sebelum kemudian menjadi Pajeromon.

Sebuah single yang bisa digunakan untuk menghidupkan alarm tanda bahaya ketika mendengar “Ajik datang… Ajik datang… Ajik datang… Ajik datang…”, agar kita tidak mejadi korban “Pajeromon” yang sedang mencari mangsa. [b]

TPST 3R Sekar Tanjung, Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

TPST 3R Sekar Tanjung

Sampai saat ini sampah masih menjadi permasalahan rumit.

Sampah yang terus dibuang hingga menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) justru menimbulkan masalah baru. Antara lain kebakaran, bau, sarang penyakit, tempat yang banyak lalat serta mencemari lingkungan.

Padahal, jika terkelola dengan baik, hanya sedikit sampah yang perlu dibuang ke TPA. Sampah yang terkelola justru dapat menguntungkan dan jadi uang. Kita telah menyia-nyiakan potensi sampah yang sedemikian besarnya.

Tempat pengelolaan sampah terpadu reuse, reduce, recycle (TPST 3R) Sekar Tanjung yang terletak di Sanur Kauh, Denpasar menjawab permasalahan sampah tersebut.

Sanur merupakan salah salah satu kawasan pariwisata di Bali. Tentunya sampah bisa menjadi momok jika dibuang sembarangan atau diletakkan di pinggir jalan dan tidak terangkut.

Namun, dengan diterapkannya sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sampah sudah terkelola dari hulu bukan hilir lagi. Masyarakat diminta memisahkan sampahnya. Mereka mendapatkan dua karung untuk sampah organik dan anorganik.

Masyarakat juga diedukasi secara rutin agar bersedia memisahkan sampah. Kendaraan pengangkut sampah disediakan dan mengangkut sampah setiap hari secara rutin dalam bak terpisah.

DI TPST 3R Sekar Tanjung terdapat kolaborasi antara desa dinas dan desa adat serta pemangku kepentingan lain yang terkait untuk membuat Program Desa Kedas. Sampah yang organik dicacah menjadi kompos dan makanan ternak. Kemudian yang anorganik seperti botol plastik, logam, kardus dijual kembali menghasilkan uang sehingga hanya sedikit sampah yang dibuang ke TPA.

Sistem ini menjadi solusi terhadap masalah sampah yang selama ini tidak terkelola dengan baik. Karena, sampah sebenarnya menguntungkan bukan merugikan. TPST juga tidak membuat bau yang mengganggu masyarakat sekitar. Bahkan, lalat pun tidak ada.

Salah satu pengelola TPST Sekar Tanjung Sila Dharma menceritakan, pada awalnya memang pengelola perlu berjuang mengedukasi masyarakat untuk memisahkan sampahnya. Mereka bahkan berjuang juga agar masyarakat bersedia menerima keberadaan TPST.

Semula masyarakat mengira kalau di wilayahnya ada TPS, maka akan bau dan mengganggu kawasan sekitar. Pengelola pun terus menerus melakukan edukasi dan menjanjikan tidak akan ada bau. Lokasi juga akan tetap bersih. Kalau kotor silakan diusir.

Setelah mendapatkan pemahaman semacam itu, barulah masyarakat mau menerima keberadaan TPST ini. Sekarang terbukti TPST tidak bau dan bersih. Bahkan ke depannya bisa menjadi sarana belajar bagi daerah lainnya maupun mahasiswa yang mau meneliti tentang persampahan.

Ke depanya kita harus mampu mengelola sampah kita yang menguntungkan secara ekonomis. Jangan justru dibuang ke TPA hingga menggunung. Apalagi kapasitas TPA Suwung saat ini sudah berkurang karena akan ditata peruntukannya.

Marilah kita bersama-sama mengelola sampah menjadi uang. Bahkan di setiap desa harus dikembangkan TPST 3R agar sampah dapat terkelola dengan baik. Jadilah bagian dari solusi bukan polusi, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi. [b]

The post TPST 3R Sekar Tanjung, Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat appeared first on BaleBengong.