Tag Archives: Denpasar

Wajah-wajah Kehidupan di Kanvas Nyoman

Sekarang, melukis menjadi tempat pelampiasan bagi pemilik skizofrenia ini.

Rumah Berdaya, rumah bagi orang dengan skizofernia (ODS), menggelar pameran tunggal karya-karya I Nyoman Sudiasa bertema Dekonstruksi Hakiki. Pameran bersama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali, Ketemu Project, dan Pemerintah Kota Denpasar ini dibuka pada Jumat kemarin di Rumah Berdaya dan berlangsung hingga 31 Oktober 2019.

I Nyoman Sudiasa lahir di Desa Titab, Busung Biu, Buleleng pada 8 Juni 1974. Dia didiagnosis memiliki skizofernia pada Mei 2001 dan sempat dirawat selama satu minggu di Rumah Sakit Jiwa.

Pertemuannya dengan dr. Rai Wiguna, pada tahun 2015 ketika beliau sedang melakukan rawat jalan di RSU Wangaya, membawa Nyoman mengikuti sesi mingguan di kediaman dr. Rai. Pada Oktober 2015, terbentuklah KPSI Simpul Bali. Dia menjadi salah anggotanya.

Nyoman menjadi koordinator saat audiensi bersama dengan Walikota Denpasar pada Agustus 2016, yang akhirnya melahirkan Rumah Berdaya. Pada tahun 2017, anak bungsu dari 11 bersaudara ini diangkat menjadi pegawai kontrak Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Lalu mulai 2019, dia pun tercatat sebagai pegawai kontrak di Dinas Sosial Kota Denpasar sebagai Pengurus Rumah Berdaya.

Nyoman juga aktif melukis di waktu senggangnya. Salah satu lukisan beliau sempat ditampilkan di Pameran Jagat Mawut oleh Cata Odata di Ubud.

I Nyoman Sudiasa berasal dari Desa Titap, Busungbiu, Buleleng. Ia sudah berkeluarga dikaruniai dua orang putri sejak tahun 1998. Pada awal Mei 2001 pertama kalinya ia didapati dengan gejala schizophrenia, mengamuk di tempat kerjanya di Denpasar. Saat itu ia dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah lalu dibawa pulang ke kampungnya. Karena relaps dan kumat serta keluarga tidak bisa mengurusnya lagi, akhirnya Nyoman dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Bangli.

Setelah dirawat dan akhirnya stabil, bersama istri dan anaknya yang masih berumur tiga tahun, mereka kembali ke Denpasar. Berlangsung dengan rawat jalannya, keadaannya terus membaik. Sekarang sudah stabil bisa beraktifitas dan sosialisasi ke masyarakat sampai akhirnya bisa kerja kembali.

Ia sempat bekerja sebagai buruh bangunan, jual gas, di perusahaan garmen, juga menganggur. Lalu dengan ikut KPSI Simpul Bali, ia dipercaya sebagai koordinator dan dapat mendampingi sesama orang dengan skizofrenia (ODS) di Denpasar dan sekitarnya. Saat Rumah Berdaya terbentuk, Nyoman diangkat sebagai pegawai kontrak honorer di bawah Dinas Sosial untuk bekerja di Rumah Berdaya.

Sebelum ikut di Rumah Berdaya, Nyoman tidak pernah fokus berkarya atau membuat karya seni seperti lukisan-lukisan yang dipamerkan sekarang. Ia tidak mengenal seni kecuali menggambar di jenjang sekolah,

Nyoman mengaku sejak dulu sudah senang gambar sebagai ekspresi, menggambar di buku gambar kecil atau di buku tulis sebagai ekspresi saja. “Sebelum di Rumah Berdaya, saya tidak pernah mendalami. Hanya oret-oret biar tidak diam saja. Kekurangannya, saya tidak mendokumentasikan itu karena sekadar iseng,” katanya.

Setelah di Rumah Berdaya ini, dia dibimbing berkarya walaupun tidak diatur. Nyoman diberi kebebasan. Lukisan-lukisan pertamanya, berjudul ‘Malu’ dan ‘Polusi’, bahkan pernah dipamerkan di Galeri Cata Odata, Ubud. Setelah didampingi Ketemu Project, ada beberapa lukisan diminati dan dibeli.

“Itu membuat motivasi saya untuk menyalurkan ekspresi hobi saya yaitu menggambar. Walaupun belum sebagai mencari uang, bersyukur ada yang mengapresiasi,” ujarnya.

Mencampur Warna

Di Rumah Berdaya, alat lukis difasilitasi Ketemu Project bersama perupa dan Founder Ketemu Project, Budi Agung Kuswara (Kabul). Bersama Kabul mereka belajar mencampurkan warna-warna dasar. Bentuk lukisannya tidak pernah diarahkan atau diatur. Mereka bebas berekspresi.

“Dulu suka dengan mencoret-coret dengan pensil. Tidak ada tema. Melukis spontan dengan warna-warna yang dipakai menurut perasaan hati. Warna itu perasaan hati, seperti saya mulai dengan merah,” kata Nyoman.

Nyoman mengaku tidak memperhitungkan sesuatu untuk mengekspresikan diri. Hanya spontan.

Dia mulai melukis sendiri jika saat suntuk, menyendiri, sesuai mood (perasaan). Hal tersebut karena waktunya di Rumah Berdaya juga dipergunakan dengan mengurus kawan-kawan ODS. Biasanya saat malam baru ada waktu untuk melukis. Lukisan-lukisannya belum tentu selesai secara langsung, tergantung mood.

Saat ini Nyoman mulai berkarya melukis menggunakan akrilik di kanvas. Ada juga kebiasaan ia menggambar wajah-wajah. Ia ingat juga bagaimana wajah-wajah ia gambar saat sebelum mengidap penyakit skizofrenia,

Sebelum kena skizofrenia, Nyoman pernah menggambar wajah-wajah bulat. Orang tersenyum, menangis, tertawa, marah, cemberut kayak emoji di HP. Itu terjadi sebelum mengalami yang aneh-aneh. Secara naluriah dia mengambil pensil di atas kertas lalu menulis di bawahnya ‘gila’. Wajah-wajah itu jadi satu dan tulisan itu di bawahnya.

“Apakah itu suatu tanda mengalami skizofrenia, saya kurang tahu. Sampai sekarang menggambar wajah-wajah tetapi kadang tidak lengkap elemen-elemennya,” lanjutnya.

Dalam menggambar atau melukis wajah saat ini, ia suka memulai dengan elemen-elemennya seperti hidung atau mulut saja. Ia pun mulai mencoba selain wajah saat itu, seperti menggambarkan perahu yang menceritakan nenek moyang kita sebagai pelaut.

Ada saatnya juga kawan yang juga berkarya bernama Loster mengajarkannya teknik-teknik melukis wajah seperti melukis wajah dirinya sendiri.

Untuk pameran kali ini, Nyoman telah dibimbing untuk menekuni corak melukis wajah beserta elemen-elemen wajah tersebut. Adapun di lukisan wajah-wajah tersebut dikombinasikan dengan hal lain seperti tulisan atau elemen lain di luar tubuh manusia.

“Dulu waktu saya sakit, saya rancau kalau ngomong. Banyak kata di pikiran jadi pelepasannya teriak-teriak ngomong. Terkadang bahasa Inggris didengar dan diketahui kata-katanya, bisa bahasa Inggris yang keluar. Berbeda dengan presentasi di mana kita mengontrol kata-kata yang keluar. Setelah mengeluarkan itu semua saya merasa lega, saya mendapatkan tempat untuk melepaskan,” katanya.

Sekarang, melukis menjadi tempat pelampiasan. Baginya, tidak masalah orang mengerti atau tidak. Sebelum mengenal seni teriak-teriak ke orang – keluar dari mulut – dulu memang begitu.

Menarik Perhatian

Ekspresi di lukisan Nyoman sangat beragam dan sering menarik perhatian. Terdapat dekonstruksi dan penggabungan bentuk lagi. Seakan adanya bentuk surealisme ala Salvador Dali dan kubisme ala Pablo Picasso di dalamnya. Ada yang bentuknya mengombinasi wajah ketawa-marah-sedih dan memunculkan sebuah sisir di ujung lukisan yang menjadi simbol dari kebersihan.

Adapun pohon terbentuk di hidung yang berhubungan dengan kehidupan. Atau adanya banyak mulut tetapi satu telinga di satu lukisan. Dia menggambarkan seseorang yang kebanyakan berbicara tetapi tidak melakukannya. Dia juga tidak mendengar dengan baik, sehingga telinganya hanya satu.

Ada pula keadaan seorang yang menangis terus menerus sehingga jika tangisan air matanya itu dikumpulkan bisa menjadi kolam untuk ikan nantinya. Lalu ada orang yang berteriak dari ujung bawah satu lukisannya dan meneriakkan berbagai hal yang divisualkan dalam bentuk kata-kata.

Kecerdikan Nyoman memakai elemen-elemen dan menjadikannya simbol-simbol tertentu sungguh menjadi cerminan akan keadaan diri seorang manusia. Adanya elemen wajah saja, sudah langsung mencerminkan seseorang manusia. Sebagai pengamat yang juga seorang manusia akan langsung menyentuh si pengamat karya juga.

Bagi Nyoman, wajah-wajah acak itu menjadi semacam kekacauan indra. “Wajah-wajah ini acak. Kenapa kebalik-balik? Saya juga tidak ngerti kenapa. Tetapi saya merasakan ada kekacauan indra, dari suara dari melihat semua kacau tidak jelas,” ujarnya.

Nyoman mengaku sekarang sudah tidak mendengar suara-suara di dalam kepala. Namun, kalau pikiran sudah sumpek dan merasa ada amarah pingin ngedumel atau ngomong akhirnya lebih ke tertuliskan sekarang. Karena kadang kalau ada karaoke, nyanyi biasa menikmati irama itu tidak akan merasa plong dan itu mengganggu orang sekitar.

“[Melukis] ini lebih soft, lebih aman saya berekspresi disini dan orang tidak terganggu,” akunya.

Menurut Kabul, Nyoman telah menyadari dampak therapeutics (terapi) dari aktivitas berkaryanya maka perasaan lega dapat terciptakan darinya. Melukis menjadi caranya untuk berekspresi yang tidak mengganggu secara suara yang tidak mengenakkan untuk orang sekitarnya. Melukis menjadi alternatif yang diminatinya dengan sungguh-sungguh untuk mengekspresikan rasa-rasa yang mengganggunya. Lalu dengan visual-visual yang terciptakan, pelepasan indra-indra yang ingin berekspresi dengan suara itu tersalurkan.

Kembali ke cerminan akan keadaan diri seorang manusia, sebenarnya dengan adanya visual-visual yang tersalurkan dari terapi melukis ini tetap memiliki elemen mengganggu. Kita bisa merasakan dari karya-karya Nyoman bahwa karena ada yang mengganggunya terus dia mengganggu kalau bersuara keras atau bertindak destruktif, lalu menjadi lebih baik untuk semua dengan melukis, padahal visual yang dihasilkannya juga mengganggu.

Hasil dari terapinya, semua masih mengganggu sebenarnya tetapi kita dapat merasakan kelegaan kolektif dan dapat mengenal keadaan-keadaan sesama manusia di dunia yang seharusnya inklusif ini. [b]

The post Wajah-wajah Kehidupan di Kanvas Nyoman appeared first on BaleBengong.

Jelajah Pusaka Kota, Cikal Bakal Denpasar

Menjelajah Zona Z Kota Denpasar

  • Kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan dari Kader Pelestari Budaya Kota Denpasar.
  • Untuk informasi resmi tentang kota pusaka ini dapat melalui website Pemerintah Kota Denpasar (https://heritage.denpasarkota.go.id/)

Jika kita berkeliling di seputaran Jl. Gajah Mada Denpasar menuju alun-alun Puputan Badung, maka kita akan menemui papan jalan tentang informasi city tour.

Wisata perkotaan Kota Denpasar atau yang dikenal dengan Denpasar Heritage City Tour dalam Surat Keputusan Walikota Nomor 188.45/417/HK/2015 menetapkan: Lapangan I Gusti Made Ngurah Agung (alun-alun Puputan Badung); Patung Catur Muka; Pura Jagatnatha; Museum Bali; Puri Agung Jrokuta; Pura Maospahit; Pasar Badung; Hotel Inna Bali; dan Rute sepanjang Jl. Sugianyar, Jl. Pulau Buton, Jl. Sumatera, Jl. Hasanudin, Jl. Gunung Batur, Jl. Gunung Merapi, Jl. Setia Budi, Jl. Sutomo, Jl. Gajah Mada, Jl. Veteran sebagai kawasan cagar budaya kota. Keseluruhan kawasan tersebut merupakan cikal bakal lahirnya Kota Denpasar.

Kini, kota yang telah berusia 231 tahun (1788-2019) tersebut menggagas tentang kota berwawasan budaya sebagai identitas diri. Sebuah hal yang menarik diamati tentang sebuah kota dalam kesehariannya. Sebagai contoh, kawasan areal Jl. Gajah Mada yang semula belum mendapat perhatian kini mulai di tata kembali. Beberapa perbaikan difokuskan pada pembangunan citra kota modern namun tetap bernuansa budaya. Penataan pedestrian, penggunaan aksesoris jalan yang bercirikan seni budaya Bali menghiasi trotoar jalan, hingga yang terbaru yakni revitalisasi Tukad Badung.

Menurut data yang dihimpun oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (PSP) Provinsi Bali Nusra maupun Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) wilayah kerja Bali Nusra jumlah benda cagar budaya/situs di Kota Denpasar sekitar 36 hingga 38 situs berupa Pura, prasasti, dan Masjid. Khusus kawasan Jl. Gajah Mada dan sekitarnya terdapat beberapa objek yang telah masuk katagori cagar budaya antara lain Pura Maospahit Gerenceng, Jl. Gajah Mada Heritage, dan Hotel Inna Bali.

Dok. Kegiatan KPB Denpasar (@kpbdenpasar)

Jelajah Kota Pusaka atau yang disebut sebagai Jelajah Zona Z yakni rute yang membentang dari titik poin di Puri Pemecutan menuju ke utara, yakni Pura Maospahit Grenceng lalu bergerak ke timur menyusuri sepanjang Jl. Gajah Mada dengan singgah di halaman Pasar Badung dan Catur Muka. Berlanjut menuju Hotel Inna Bali dan berakhir di Puri Satria yang berada di utara hotel. Secara imajiner, pola rute ini membentuk huruf Z.

Hingga hari ini, KPB telah tersebar di beberapa kabupaten-kota di Bali sebut saja Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, Jembrana, Klungkung, Buleleng, dan satu tingkat Provinsi Bali. Secara rutin KPB khususnya kader Denpasar selain melaksanakan kemah budaya juga menggelar acara Jelajah Kota Pusaka. Jelajah Kota Pusaka adalah egiatan jelajah kota yang difokuskan pada kawasan Jl. Gajah Mada Denpasar serta mengajak anak-anak Sekolah Dasar di sekitar Denpasar mengenal dan mengunjungi bangunan-bangunan kota dengan cara yang menghibur namun tetap berwawasan budaya.

Melalui perjalanan jelajah kota ini, anak-anak SD dipandu untuk mengenal objek yang mereka lewati sepanjang zona Z. Beberapa bentuk kegiatan yang menarik pun disiapkan, seperti pemberian hadiah saat kuis ataupun tes kekompakan sesama peserta kelompok. Selayaknya berburu harta karun, kegiatan ini selain sebagai media pembelajaran di luar lingkungan sekolah juga memberi kesan yang positif tentang sejarah dan budaya di kota tempat mereka tinggal.

Hal inilah yang dirasakan oleh Iko Putra Tara Tiyasa (16 tahun) yang kini menjadi anggota angkatan XI KPB. Saat itu, Iko yang baru duduk di kelas 5 SD merasa senang dapat berkeliling mengenal tempat bersejarah di kotanya. “Saat itu saya baru memiliki hp Nokia yang bisa digunakan untuk berfoto, lalu saya foto semua, ada meriam ada yang lainnya,” kenang pria yang kini telah berstatus siswa kelas 2 di SMA Negeri 7 Denpasar. Atas dasar hal tersebut Iko sangat tertarik bergabung dan memutuskan ngayah di KPB.

Dok. Kegiatan KPB Denpasar (@kpbdenpasar)

Terlepas dari kegiatan Jelajah Kota Pusaka dari KPB, City Tour Denpasar sebenarnya telah lama diharapkan menjadi sebuah wisata sejarah kota yang nantinya dapat disandingkan dengan Kota Tua di Jakarta atau pun kawasan Malioboro-Keraton Yogyakarta. Berbagai wacana dan konsep tentang sebuah pariwisata City Tour terus digaungkan setiap tahun oleh berbagai instansi tidak hanya dari pelaku pariwisata, akademisi budaya, hingga akademisi multidisiplin lainnya pun turut mengomentari tentang impian ini.

Walaupun banyak ide dan gagasan yang telah didiskusikan oleh pihak terkait tersebut, namun pada kenyataannya belum sesuai harapan. Padahal terkait fasilitas penunjang dapat dikatakan mumpuni bahkan selalu diperbaharui. Salah satunya QR Code. Langkah dari Dinas Pariwisata Kota Denpasar ini dapat ditemui di situs cagar budaya Pura Blanjong, Pura Maospahit, dan Pura Jro Kuta. Seperti yang diberitakan oleh Tribun-Bali.com http://bali.tribunnews.com/2019/05/01/denpasar-perkuat-cagar-budaya-di-tengah-pariwisata-modern?page=4.

Selain dari segi fasilitas penunjang, Pemerintah Kota Denpasar telah menjalin kerja sama dan tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) serta Organisasi Kota Pusaka Dunia (Organization World Heritage City). Bulan April 2019 kemarin, Kota Denpasar menjadi tuan rumah Konfrensi International Organisasi Kota Pusaka Dunia yang melibatkan 13 kota dari berbagai negara di Eropa dan Asia.

Namun seperti yang dikatakan sebelumnya, inisitaif ini belumlah membuahkan hasil yang signifikan. Data Dinas Pariwisata Bali tahun 2016, angka kunjungan ke daya tarik wisata di Kota Denpasar tersebut relatif kecil untuk ukuran pulau yang bertumpu pada sektor pariwisata ini. Dalam hitungan angka, kunjungan wisatawan ke Museum Bali untuk tahun 2016 adalah 21.445 orang, berarti sekitar 60 orang per hari. Bahkan untuk situs dan objek  lainnya di kawasan Jl. Gajah Mada dapat dihitung dengan jari. Inilah yang menjadi PR besar sebuah kota pusaka.

Melalui kunjungan rutin anak-anak SD dalam kegiatan Jelajah Kota Pusaka inilah konsep wisata kota sejarah dan berbudaya dapat diuji kelayakan dan berstatus pionir. Dengan sering kali diadakah hal serupa, maka dapat menjadi stimulan mendorong kiat-kiat serupa yang nantinya dapat secara teratur dan terencana sehingga dapat menarik perhatian wisatawan yang berkunjung dan menginap di sekitaran Denpasar.

*Tulisan ini juga dimuat di brilio.net https://www.brilio.net/creator/menjelajah-zona-z-kota-denpasar-bersama-anak-sd-dan-para-kadernya-77e36b.html

The post Jelajah Pusaka Kota, Cikal Bakal Denpasar appeared first on BaleBengong.

Bioskop Tukad, Mendekatkan Film pada Masyarakat

Kali ini tentang karya-karya sineas muda dan petani.

Bioskop Tukad, sebuah acara yang diselenggarakan dalam rangka perjalanan menuju Denpasar Documentary Film Festival (DDFF) 2019, kembali diselenggarakan di Taman Kumbasari, Tukad Badung, Sabtu (20/7) malam.

Kali ini gelaran itu menampilkan karya-karya Dwitra J. Ariana, sineas dokumenter Bali yang banyak berjaya di berbagai ajang film Nasional, bahkan internasional.

Karya-karya sineas yang lebih akrab dipanggil Dadap itu antara lain Petani Terakhir, Lampion-lampion, Masean’s Message, dan Sang Pembakar. Menurut IGK Trisna Pramana, motor utama Bioskop Tukad, pemilihan ini berdasar pertimbangan bahwa empat film itu merupakan karya-karya terbaik yang menjadi kebanggan Bali.

Menurut Trisna, di luar karyanya, Dadap sendiri tokoh yang unik dan inspiratif. Kesehariannya sebagai petani tak menimbun kreativitasnya sebagai pembuat film.

“Ini sangat menarik. Jarang ada tokoh seperti dia,” papar Trisna.

Perjalanan Dadap tergambar juga dalam film-film yang dihasilkan.

Karya Dadap

Petani Terakhir mengisahkan suasana batin Nyoman Sutama, seorang petani di Kawasan Penatih, Denpasar. Sutama satu di antara segeintir warga desa yang masih mengukuhi profesi sebagai petani. Hampir semua kawan Sutama telah menjual sawah mereka.

Harga tanah yang tinggi membuat mereka tergiur untuk menangguk uang dari situ. Hasilnya bisa untuk memperbaiki rumah dan membuat kos-kosan.

Namun, hanya Sutama yang tetap menggarap lahan warisan orangtuanya. Padahal, hasil panen tak seberapa dan kesulitan mengurus sawah semakin menjadi. Suatu ketika ia mendiskusikan keinginannya untuk menjual beberapa petak sawah dengan ibunya.

Film yang diproduksi dengan dana stimulan dari DDFF ini memenangi penghargaan sebagai film dokumenter terbaik Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta 2016. Dia juga masuk kompilasi S-Express yang diputar di seluruh negara Asia Tenggara.

Lampion-lampion berkisah tentang kehidupan toleransi yangkuat antara warga keturunan Tionghoa dan warga asli Bali di Desa Lampu, Bangli. Film ini tampil sebagai film terbaik Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011. FFDB adalah cikal-bakal terbentuknya DDFF. Lampion-lampion tampil sebagai niminasi film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun yang sama.

Masean’s Message berkisah tentang upaya rekonsiliasi korban tragedi G30S di Desa Masean, Jembrana. Film ini juga menjadi nominasi peraih Piala Citra FFI 2016 dan diputar dalam ajang Singapore International Film Festival (SGIFF) 2017.

Sang Pembakar adalah karya Dwitra J. Ariana bersama Ucu Agustin dan Hari Suprayitno. Sang Pembakar merupakan hasil Single Shot Cinema (SSC) Workshop Ecco Film, disponsori Ford Foundation. Ketiga sutradara adalah peserta workshop yang dimentor langsung oleh Leonard Retel Helmrich. Leonard mendampingi peserta secara penuh untuk dapat memproduksi film dengan metode SSC.

Sang Pembakar berkisah tentang posisi dilema yang dihadapi petani-petani kelapa sawit di Muaro Jambi, Sumatera saat harus membuka kebun. Biaya sewa alat berat sangat mahal, sementara membakar hutan adalah cara yang mereka sadari melanggar peraturan.

Mendekatkan Film ke Publik

Telah disiarkan sebelumnya, Bioskop Tukad diselenggarakan untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Bahwa jika kita merawat sungai dengan baik, maka sungai-sungai tak hanya berfungsi sebagai saluran air semata.

Ia juga dapat sebagai tempat berekreasi, berkreasi, dan aktivitas positif lainnya.

Di sisi lain, Bioskop Tukad juga dimaksudkan untuk mendekatkan film-film dokumenter pada publiknya. Ini adalah sebagian dari misi DDFF, yang pada tahun ini akan diselenggarakan pada bulan September mendatang. Bertepatan dengan usianya yang ke-10, DDFF melakukan rebranding dan perubahan pendekatan.

Maria Ekaristi, Direktur DDFF mengatakan mereka berupaya menarik film dokumenter menjadi sesuatu yang akrab bagi masyarakat. “Kami akan memperkenalkan kepada publik bahwa film dokumenter tak melulu berbicara tentang sesuatu yang serius, tetapi juga hal-hal biasa bahkan klise dalam keseharian kita,” ujarnya . [b]

The post Bioskop Tukad, Mendekatkan Film pada Masyarakat appeared first on BaleBengong.

Pasar Badung, Model Pasar Tradisional Sehat dan Aman

Pasar tradisional sering terkesan kotor, bau dan kurang tertata.

Sebagian masyarakat justru lebih suka berbelanja ke pasar modern yang kita kenal dengan supermarket. Alasannya, pasar modern lebih bersih, higienis, tertata dan terkelola. Padahal, ekonomi kerakyatan tumbuh dari pasar tradisional.

Kenapa? Karena penjual di pasar tradisional lebih banyak dan mereka berwirausaha menjual produk dan jasa yang dibuat dari rakyat kebanyakan. Berbeda dengan pasar modern yang dikelola oleh satu orang dan sisanya hanya pekerja.

Para pedagang pasar justru potensial menggerakan ekonomi kerakyatan yang mencetak banyak pengusaha bukan pekerja.

Namun, seiring perkembangan waktu dan pergeseran gaya hidup, terjadi tuntutan dari konsumen agar makanan yang dijual higienis, lingkungan yang bersih, tertata dan terkelola dengan baik. Berubah seperti itu atau lambat laun akan ditinggalkan konsumennya.

Menjawab Tantangan

Pasar Badung di Denpasar, Bali menjawab semua itu. Pasar ini adalah pasar tradisional terbesar di Bali dalam sejarahnya sudah tiga kali mengalami kebakaran. Kemudian dibangun kembali dengan t lantai dengan desain sebagai pasar tradisional, tetapi menawarkan fasilitas pasar modern.

Pertama dari segi keamanan dari bahaya kebakaran. Pasar ini sudah dilengkapi dengan hidran air di setiap lantainya, alat pemadam api ringan (APAR), serta gedung dilengkapi springkler yang akan hidup jika ada percikan api.

Terdapat juga tangga darurat jika ada bahaya dan evakuasi.

Kedua, sanitasi pasar juga medapatkan perhatian. Disediakan tempat sampah untuk tiga jenis sampah plastik, logam dan ogranik. Tempat cuci peralatan disediakan khusus untuk mencuci peralatan habis pakai. Toilet juga disediakan disetiap lantai dengan jumlah yang cukup.

Untuk pedagang daging ditempatkan khusus dan tertata dan ada kran air untuk persediaan air bersih, cuci alat, dan dagingnya. Kebersihan pasar juga terjaga karena ada petugas kebersihan yang membersihkan pagi dan sore.

Ketiga, fasilitas pasar ini sudah juga sama dengan pasar modern umumnya. Sudah dilengkapi ekskalator di setiap lantainya. Ada lift juga tersedia dan pengatur suhu ruangan. Dengan fasilitas standar pasar modern maka pasar badung dapat menjadi model pasar tradisional yang unggul.

Pasar tradisional ini juga memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pasar modern pada umumnya. Lokasinya strategis di pusat kota, memiliki harga relatif lebih rendah, ada sistem tawar menawar antara penjual dan pembeli serta ada sungai yang sudah bersih dan tertata menjadi objek wisata sungai bagi masyarakat kota.

Jika ingin berbelanja di pasar tradisional dengan gaya berbeda, Pasar Badung bisa menjadi pilihan Anda. [b]

The post Pasar Badung, Model Pasar Tradisional Sehat dan Aman appeared first on BaleBengong.

Tukad Badung, Keindahan yang Menyamarkan Pencemaran

Warna-warni cahaya malam hari di Tukad Badung, Denpasar. Foto Anton Muhajir.

Bahkan Presiden Joko Widodo pun keindahan Tukad Badung.

Pada pertengahan Mei lalu, Jokowi mengunjungi sungai di tengah Kota Denpasar. Tak lupa, presiden ketujuh Republik Indonesia ini pun berfoto-foto bersama para pejabat, pusat maupun daerah.

Secara fisik, Tukad Badung memang terus berbenah selama dua tahun terakhir. Sejak 2017, sungai yang membelah Denpasar dari utara ke selatan ini ditata sehingga terlihat lebih indah. Pusatnya ada di Jalan Gajah Mada, kawasan bisnis paling ramai di kota ini.

Tukad Badung yang semula seolah tak terurus, kini dibuatkan bantaran sungai dari beton di kanan kirinya. Ada pula tempat duduk berundak serupa di stadion, air mancur, dan lampu warna-warni saat malam hari.

Bagi para pecinta keindahan dan pemburu foto-foto cantik, Tukad Badung menjadi daya tarik baru. Bahkan, beberapa orang menyebut Tukad Badung dengan istilah Tukad Korea.

Sebutan ini mengacu pada Sungai Cheonggyecheon di Seoul, Korea Selatan, salah satu sungai di tengah kota yang ditata sedemikian rupa secara estetis dan ekologis.

Setelah ditata, Tukad Badung pun kini menjadi salah satu tempat favorit bagi warga maupun turis untuk menikmati kotanya. Apalagi dia memang berada di jantung kota. Diapit Pasar Badung, pasar terbesar di Bali, di sisi timur dan Pasar Kumbasari, tempat belanja oleh-oleh di sisi barat, membuat Tukad Badung memiliki nilai tambah.

Apalagi, dia juga berada di pusat bisnis dan pariwisata Denpasar.

Namun, apakah keindahan Tukad Badung sejalan dengan kelestarian secara lingkungan? Apakah fungsi estetis Tukad Badung sepadan dengan kondisi ekologisnya?

Warga membersihkan sampah di Tukad Badung. Foto Anton Muhajir.

Jarang Ditemukan

Dua penelitian tentang Tukad Badung menunjukkan hal sebaliknya, Tukad Badung menjadi salah satu sungai tercemar di Bali.

Pertama, penelitian oleh Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Sumber Daya Genetika (PSDG) Universitas Udayana (Unud), Bali tahun lalu. Penelitian ini tidak spesifik hanya Tukad Badung, tetapi juga Tukad Yeh Sungi di Tabanan.

Menurut Kepala UPT PSDG Unud IGP Wirawan penelitian itu untuk melihat bagaimana kualitas lingkungan dua sungai tersebut. Indikatornya adalah pada ikan seluang (Rasbora sp) yang dalam bahasa Bali disebut nyalian.

Wirawan mengatakan pemilihan ikan seluang sebagai indikator karena dari 59 jenis, 3 di antaranya merupakan jenis endemik di Bali. Ikan jenis itu banyak ditemukan di sungai-sungai di Bali. Begitu pula bagi Wirawan ketika dia masih kecil di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan.

Namun, saat ini jumlah ikan tersebut makin sedikit dan susah ditemukan.

“Hipotesis kami, perubahan ekosistem dua sungai itu akan menyebabkan efek pada biota di sungai, terutama pada flora dan fauna yang menggunakan air sebagai sumber kehidupan,” kata Wirawan.

Penelitian di dua sungai itu mengambil sampel tiga lokasi: hulu, tengah, dan hilir. Untuk Tukad Badung, hulunya di Desa Plaga, Kabupaten Badung; tengahnya di Peguyangan, Denpasar Utara; sedangkan hilir di Kepaon, Denpasar Selatan. Di masing-masing lokasi itu tim peneliti mengamati di lima titik.

Hasilnya, populasi ikan seluang lebih jarang ditemukan di bagian hulu dan hilir. Rata-rata hanya 5 ekor di tiap titik atau bahkan tidak ditemukan. Adapun di bagian tengah, populasinya lebih dari 10 ekor di tiap titik.

Tim peneliti tidak memiliki data awal jumlah ikan seluang sebagai perbandingan. Namun, berkaca pada pengalaman Wirawan pada masa kecil, dulunya ikan jenis ini sangat mudah ditemukan.

“Sekarang, jumlah ikan nyalian sebagai indikator kualitas lingkungan sangat menurun. Padahal, mereka ikan endemik Bali,” tambahnya.

Berkurangnya populasi ikan seluang, menurut Wirawan, menjadi indikasi menurunnya kualitas lingkungan Tukad Badung. Penyebab pencemaran itu di antaranya adalah pestisida pertanian dan racun di bagian hulu serta logam berat di bagian hilir.

Penelitian tentang ikan seluang sendiri hanya salah satu bagian dari penelitian lebih mendalam terkait kualitas Tukad Badung dan Tukad Yeh Sungi. Nantinya, ikan seluang itu juga akan diteliti apakah mengalami perubahan gen atau tidak. Juga kemungkinan adanya pencemaran pada biota lain di sungai, misalnya, padi atau sayuran.

“Kalau pada ikan nyalian saja terjadi (perubahan genetik), maka biota di atasnya juga bisa. Begitu pula pada manusia,” lanjutnya.

Catur Yudha Hariani menunjukkan peta Tukad Badung yang dibuat PPLH Bali pada 2002. Foto Anton Muhajir.

Ekosistem Terganggu

Hasil penelitian UPT Pengembangan Sumer Daya Genetik Unud itu sejalan dengan penelitan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali pada 2012. Lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan ini melakukan pengamatan di Tukad Badung menggunakan bioindikator. Mereka hanya fokus di Tukad Badung yang masuk wilayah Kota Denpasar.

Lokasi penelitian itu di lima lokasi juga yaitu Zona 1 di Pura Taman Beji Ubung, Zona 2 di kawasan Kampung Jawa, Zona 3 di belakang Rumah Sakit Wangaya, Zona 4 di sekitar Jalan Imam Bonjol, dan Zona 5 di dam Jalan By Pass Ngurah Rai, Suwung.

Dari penelusuran di sungai sepanjang 22 km pada saat itu, peneliti menemukan beragam masalah sosial dan lingkungan. Di Zona 1, sungai ini menjadi sumber air bagi pertanian maupun ritual agama Hindu. Di Zona 5, dia menjadi salah tempat bagi warga untuk berwisata.

Namun, sepanjang sungai dipenuhi beragam tindak pencemaran. Misalnya, pembuangan limbah rumah tangga, sampah, mencuci, kotoran ternak, sampai limbah medis dan industri sablon.

Pengamatan lapangan menunjukkan memang masih banyak warga membuang limbah rumah tangga langsung ke sungai. Sampah-sampah pun terlihat, misalnya, di kawasan Jalan Nusa Indah, Denpasar Barat. Bau menyengat busuk terasa tajam pada pekan lalu ketika seorang warga mengambil bangkai di sungai.

Tentu saja pemandangan itu tidak sebanding dengan keindahan Tukad Badung di kawasan Jalan Gajah Mada yang dikunjungi Jokowi pekan lalu.

Direktur PPLH Bali Catur Yudha Hariani mengatakan berdasarkan riset tujuh tahun lalu, kualitas lingkungan Tukad Badung masuk kategori C. Artinya, masuk kategori tercemar.

Sungai Badung menjadi tempat kegiatan memancing bagi warga. Foto Luh De Suriyani.

Perlu Ketegasan

Dari hasil pengamatan bioindikator saat itu, biota terbanyak yang ditemukan adalah siput, cacing, dan lintah. Siput di lima zona penelitian ditemukan sebanyak 399 ekor. Cacing sebanyak 241 ekor. Lintah 142 ekor.

“Ketiganya termasuk biota yang tahan terhadap pencemaran. Karena itu mereka paling banyak,” kata Catur.

Adapun ikan paling banyak ditemukan di sungai ini adalah ikan sapu-sapu yang masuk dalam famili Loriicariidae. Ikan jenis ini bisa hidup di tempat sangat kotor dengan tingkat pencemaran tinggi.

Namun, biota yang sensitif pada kualitas lingkungan, misalnya capung, sangat jarang dijumpai. “Ini menunjukkan ekosistem Tukad Badung memang terganggu,” lanjutnya.

Meskipun demikian Catur tetap mengapresiasi penataan sebagaimana dilakukan di kawasan Jalan Gajah Mada, Denpasar. Namun, menurutnya, penataan itu hanya solusi cepat dan perlu ditindaklanjuti dengan upaya lain.

Menurut Catur jika tidak diikuti dengan upaya lain, penataan dengan membuat bantaran sungai dari beton justru menjadi masalah. “Karena beton justru membunuh ekosistem sungai. Biota sungai perlu oksigen untuk bernapas. Kalau memang dibeton, perlu ada tanaman agar biota sungai cukup oksigen,” katanya.

Tak kalah pentingnya, lanjut Catur, adalah pencegahan agar sampah dan limbah warga maupun usaha tidak lagi mencemari sungai. “Pemerintah harus tegas pada usaha-usaha sepanjang sungai yang masih mencemari sungai dengan limbah, seperti laundri dan sablon. Itu yang sekarang amat mengancam lingkungan Tukad Badung,” tegasnya. [b]

Tulisan ini juga terbit di media lingkungan Mongabay Indonesia.

The post Tukad Badung, Keindahan yang Menyamarkan Pencemaran appeared first on BaleBengong.