Tag Archives: Denpasar

Pajeromon, Umpatan ROLLFAST pada Ajik Berbadan Kekar

Dua merek khas pria dalam satu lagu untuk mengkritik ajik-ajik.

Digimon Adventure merupakan serial anime Jepang yang diproduksi sekitar akhir 1990-an dan awal 2000-an. Seingat saya hadir di layar kaca tiap Minggu.

Anime ini mengisahkan petualangan tokoh-tokohnya di dunia digital. Tentu saja sekaligus persahabatannya dengan Digimon (Digital monster). Agomon, Gatamon, Gabumon hanya tiga dari sekian banyak Digimon yang muncul diserial anime ini.

Sejujurnya, Pikachu dan anime Pokemon jauh lebih membekas dalam ingatan saya dibandingkan dengan anime Digimon. Namun, kemunculan secara resmi ““Pajeromon”” pada 14 Februari 2020, memunculkan kembali ingatan pada Digimon.

Pertama kali membaca kata ini pikiran langsung mengonotasikannya dengan sebuah hormon, seperti testoteron dan progesterone. Mungkin karena akhiran “on” di belakang “pajerom”. Namun, ternyata konotasi yang berhasil ditarik itu salah. Deskripsi di unggahan video menyatakan bahwa ““Pajeromon”” merupakan figur Digimon (Digital Monster), sesosok monster imajiner yang dilahirkan ROLLFAST.

“Pajeromon”, figur digimon yang dihadirkan dalam bentuk sebuah single.

Baiklah. Daripada panjang kali lebar membahas digimon, yang berpotensi dianggap sebagai nostalgia manis anak 90-an yang enggan move on, maka lebih baik sedikit berbincang tentang “Pajeromon”, Digimon yang baru saja dilahirkan oleh ROLLFAST, sebuah band psychedelic rock yang awalnya beranggotakan 5 orang pemuda Denpasar.

Berawal dari Ajik

“Ajik datang… Ajik datang… Ajak datang…” disebut berulang-ulang. Seolah begitu kegirangan menyambut kedatangan sosok yang ditunggu, sang Ajik.

Ajik adalah panggilan untuk sosok berpengaruh dalam struktur kuasa. Pangilan ayah dalam keluarga darah biru. Bisa juga digunakan untuk menjilat para pembesar secara kedudukan, kekayaan atau kekuatan.

Bukankah seseorang suka dipuji? Dan, panggilan ini tentu saja efektif digunakan untuk menggerogoti orang-orang belog ajum (sombong dengan kebodohannya).

Pembukaan ini menggambarkan bentuk awal dari makhluk imajiner Pajeromon sekaligus menjawab dari mana asal komentar “ajik datang” yang sering meuncul di kolom komentar unggahan Instagram band ROLLFAST.

“Dini hari di simpang enam yang kini dipensiunkan.”

Setelah mendengar teriakan kegirangan menyambut kedatangan Ajik, kita diajak ke sebuah sudut ikonik kota Denpasar. Simpang enam. Sebuah persimpangan dengan bilangan prima terbanyak yang saya tahu. Karena simpang siur bukanlah sebuah bilangan, tetapi lebih pada sebuah keadaan kusut.

Dan, bagi saya yang jarang ke Bali Selatan, kehadiran Underpass Simpang Siur membuat Simpang Siur semakin kusut, karena salah jalur berarti salah arah. Hidup sudah simpang siur, jadi tidak usahlah semakin dibuat kusut dengan melintasi Simpang Siur (kini Simpang Dewa Ruci). Namun, di sisi yang lain hidup terlalu beragam untuk diseragamkan hanya dengan dipermudah mengikuti nasehat berada “satu jalur”.

Persoalannya, tempat apa di Simpang Enam yang kini dipensiunkan? Kalimat dipensiunkan merujuk pada paksaan, dipaksa pensiun. Tebak-tebak buah manggis, apakah tempat di simpang enam yang dipaksa pensiun?

Jawabannya tentu mudah, tinggal Googling saja. Mengetauhi tempat tersebut sebenarnya penting-tidak penting. Tidak penting karena Pajeromon tetap akan lahir dengan atau tidak mengetahui tempat tersebut. Penting, karena dengan mengetahui tempat tersebut kita bisa memahami secara detail latar evolusi Ajik sekaligus mengetahui sekelumit sejarah kota Denpasar. Bahwasannya kota ini pernah memiliki sebuah pusat hiburan malam dengan dunia yang bertautan di dalamnya.

Diiringi dentuman drum, (mungkin) suara burung gagak, gitar, bass dan bebunyian lain yang begitu padat, ROLLFAST mengajak bertemu sosok ajik yang sebenanrya.

“Komandan bagi-bagi bantuan langsung berupa cinta merah muda.”

Komandan, sosok yang memegang komando, memiliki kuasa banyak orang dan yang hobi pamer. Tentu bukan perasaan yang dipamerkan. Lebih nyata dari itu, kekuatan meteri, lebih konkret.

Dini hari membagikan bantuan langsung cinta merah muda, hanya karena 14 Februari merupakan hari Valentine jangan kemudian berimajinasi yang dibagikan itu adalah perasaan cinta yang romantik. Bisa jadi itu hanya selembar uang Rp 100 ribuan yang dihamburkan.

Untuk apa? Untuk menunjukkan kuasa sebagai usaha pemenuhan rasa berkuasa. Bukankah pengakuan merupakan sebuah bentuk kebutuhan yang dibutuhkan manusia?

Itulah sekelumit petikan lirik dari lagu “Pajeromon” milik ROLLFAST, sebuah band yang dimotori oleh Agha Praditya (vocal), AAN Triandana (Bass) dan Bayu Krisna (Gitar). Sebuah single yang baru saja dilepas ke Youtube dalam bentuk video lirik. Seolah ingin ikut merayakan hari Valentine.

Jika membaca lebih detail keterangan tentang Pajeromon yang mengantarkan unggahan video, hal pertama yang terlintas tentu sebuah teori cocoklogi.

Bayangkan saja, Pajeromon ternyata berasal dari tiga kata; Pajero, Jero, dan Romon. Tiga kata yang kemudian digabungkan dan menjadi sebuah kata Pajeromon yang kemudian dipilih sebagai nama dari anak mereka yang ternyata sosok monster digital. Kurang cocoklogi apa lagi?

Bagaimana mungkin, sebuah varian mobil (Pajero) digabung dengan kata yang selain berarti panggilan untuk orang yang mendapat wewenang (tanggung jawab) juga bisa merujuk pada rumah keluarga berkasta (Jero). Dua kata itu kemudian ditambah lagi dengan sebuah kata sifat romon yang berarti kotor (Romon). Lalu menjadi sebuah kata yang mewakili sifat maskulin yang diumbar.

Ahhh, apa yang sebenarnya ada dalam kepala mereka?

Mari tinggalkan saja teori cocoklogi ala ROLLFAST dalam hal membuat kata “Pajeromon”. Kita kembali masuk ke sebuah tempat yang dipensiunkan di Simpang Enam, di mana komandan sedang membagikan bantuan langsung cinta merah muda.

“Jika tak sungkan, sembunyikan homofob, demi ikan tercinta”

Perlahan ajik berevolusi (bukan Revolusi Bung), menjadi sosok komandan yang berlaku begitu licik. Menyembunyikan prilaku antipati terhadap orientasi di luar apa yang diyakininya hanya untuk bisa berbaur. Semakin menancapkan kuasanya dan tentu saja memastikan dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Menjelma binatang di lantai mangsa, mengkristalkan hasrat kuasa.”

“Ereksi maskulinnya, sang bonobo berkedok dansa.”

Keriuhan lantai dansa menstimulasi. Di tengah kerumunan mangsa, Ajik sang komandan berevolusi sempurna, menjadi binatang. Sifat aslinya muncul, cara pikir kerdil disembunyikan di balik setiap laku maskulin yang diumbar. Kuasa kekuatan yang diperagakan untuk semakin menancapkan kuku kuasa dan melanggengkan kekuasaan.

Apa akibatnya?

“Hukum rimba lantai dansa, kuku bima haus mangsa
Hukum rimba lantai dansa, kuku bima raja rasa
Hukum rimba lantai dansa, kuku bima merasa raja
Hukum rimba lantai dansa, kuku bima haus mangsa”

Kemunculan Pajeromon menjadi sosok yang tak bisa dihindarkan terutama ketika orang-orang licik, homofobia, tetapi memiliki kekuatan dan kuasa seperti misalnya Ajik si komandan diberi ruang.

Maskulin menjadi sifat yang begitu dekat di kesaharian, seperti halnya kasih yang begitu mudah berubah menjadi kasihan, sifat begitu cepat mewujud. Hadir dalam bentuk nyata prilaku-prilaku yang berorientasi pada pamer kekuatan dan kekuasaan.

Penggunaan kata “kuku bima” sebagai sebuah frasa yang mewakili sifat maskulin menjadi kejutan tersendiri. Sebuah klimaks dari perilaku si ajik yang berevolusi menjadi “Pajeromon”. Bagaimana tidak, kuku bima begitu familiar di telinga karena menjadi varian sebuah minuman instan yang memamerkan kekekaran, kekuatan, vitalitas, keberanian, hal-hal yang begitu diidentikkan dengan kata maskulin.

Dua Jenama

Pajeromon ternyata sebuah lagu yang menghadirkan 2 merek. Merk pertama “Pajero” merupakan varian mobil model SUV yang siap melibas segala medan sebagai simbol kekar dan bertenaga. Dia dipilih mewakili penggambaran sosok ajik si komandan aka Pajeromon. Merek kedua “Kuku Bima” yang dipilih untuk menggambarkan kekuatan dan perilaku Si Pajeromon.

Jangan lupa Bima adalah simbol kekuatan dalam mitologi Panca Pendawa. Bahkan pis Bima (keping uang logam yang menggambarkan sosok Bima) seringkali dicari karena dipercaya tuahnya akan memberi kekuatan pada penggunanya.

Dua merek yang memang menyematkan kesan maskulin dan menggunakannya sebagai media jualan. Yang tanpa disadari tentu saja menjadi media untuk semakin menguatkan paham maskulin di tengah-tengah kita. Sebuah cara halus yang begitu romon, yang tanpa disadari memupuk mentalitas yang tidak kalah romon-nya (romon=kotor, Bahasa Bali).

Melalui Pajeromon, ROLLFAST menghadirkan dan menggunakan dua merek yang begitu jelas menggunakan maskulin sebagai strategi branding penjualan mereka untuk kemudian mengkritisi bagaimana perilaku sosial yang lahir dari sifat maskulin tersebut. Sifat yang oleh khalayak ramai biasa dilihat dan kita anggap biasa.

Bagaimana pemujaan berlebih atas kuasa kekuatan yang tengah berlangsung di tengah-tengah kita dan diumbar sedemikian rupa. Bagaimana orang-orang dengan “kuku bima” bisa seenaknya mengekspresikan hasratnya, bagaimana hukum rimba lantai dansa ternyata bekerja keluar dari lantai dansa dan terjadi di sekitar kita.

Buat yang berpikir ROLLFAST akan menghadirkan komposisi musik sama dengan di album pertama mereka, kalian harus kecewa. Di single Pajeromon, ROLLFAST menghadirkan bentuk baru, baik secara lirik, cara sang vokalis menghadirkan lirik ke dalam lagu, bahkan aneka bebunyian yang muncul dalam lagu.

Pajeromon adalah sebuah penggambaran imajiner. Menyusuri lekukan tubuh monster digital melalui lirik kasar tanpa pengulangan (jangan berharap menemukan reff). Lirik kasar dan cenderung vulgar, tak butuh usaha berat untuk mencernanya. Namun, kekasaran lirik yang jauh dari kata puitis membuat laku sosok “ajik” bisa tergambarkan dengan jelas.

Iringan komposisi instrumen yang tak kalah kasar, dengan serangkaian bebunyian yang entah dari mana, berhasil menyusuri derap adrenalin yang ikut melata di lantai dansa sebuah tempat di Simpang Enam. Sedikit akses mistis (gagak dan suara seperti seruling ular) menghadirkan kemuakan pada sosok kekekaran Si Pajeromon dan tradisi maskulin yang diumbarnya.

Jika bagi ROLLFAST Pajeromon merupakan sosok Digimon imajiner, maka dengan subjektivitas pendengar, saya tetap berada pada pendirian bahwasannya Pajeromon adalah sebuah hormon. Alasannya sederhana, sebagai Digimon, “Pajeromon” akan menjadi sosok di luar diri yang bisa dengan mudah ditinggalkan.

Namun, sebagai hormon “Pajeromon” adalah sesuatu yang ada dalam diri, yang oleh kekusaan dan kekuatan dalam genggaman tangan bisa mengubah siapapun menjadi sosok binatang yang menyembunyikan kekerdilan cara berpikirnya dengan berperilaku penuh penggunaan kekuatan dan kekuasaan. Itu artinya siapapun bisa berubah menjadi “Pajeromon” ketika menggenggam kuasa.

Ape gaene jleme-jleme ne?” (apa sih yang orang-orang ini buat?)

Mungkin saja muncul ketika pikiran terpaku pada komposisi music psychedelic rock ala ROLLFAST di album “Lanes Oil, Dream Is Pry”. Pemikirian yang mungkin harus dikoreksi karena apa yang dihadirkan lewat Pajeromon tentu bukan sesuatu yang sama dengan ROLLFAST di album pertama. Bukan pula komposisi musik yang biasa menyusup ke telinga. Di sanalah letak keunikan Pajeromon, sesuatu yang segar yang tak biasa didengar telinga.

Sebagai pendengar ada imajinasi nakal yang tiba-tiba muncul. Bagaimana jika single ini diputar di mobil Ferosa Jumawa, sebuah mobil yang dimodifikasi sehingga bagian depan terlihat menengadah. Kendaraan yang biasanya mengangkut orang-orang kekar, dengan potongan rambut komando dan dada membusung, seragam. Lalu bagaimana sosok-sosok seperti itu larut dalam beat Pajeromon, bergoyang minimalis, dengan tetap membusungkan dada, seragam.

Atau jika ROLLFAST menggunakan Ferosa ini sebagai simbol sifat maskulin (menggantikan Pajero), mungkin judulnya jadi “Feromon” hormon ferosa. :P.

Tulisan ini hanya sebuah tanggapan subjektif bagi Pajeromon, satu lagu dengan judul cocoklogi memuat dua merk yang mengumbar kekuatan-kekekaran otot-dan sifat pamer kekuatan dan kuasa. Seperti halnya ajik yang bisa jadi siapa saja dan muncul di mana saja, demikian juga Pajeromon tidak melulu kekar, berotot dan hadir di Simpang Enam.

Dalam bentuk kolektif “Pajeromon” bisa menjelma penguasa yang mengunakan pendekatan kekerasan dalam setiap persoalan, bisa menjelma masyarakat yang tidak toleran terhadap minoritas. Dalam individu bisa menjadi kaum fanatik dan homofobia yang anti pada perbedaan di luar keyakinannya.

Bahkan dalam bentuk nyata bisa menjelma sosok raja rupawan yang gila disembah, memamerkan kuasa di hadapan ibu-ibu yang sebelumnya gigih berjuang mempertahankan ruang hidupnya. Sialnya kehadirannya alih-alih membela perjuangan gigih warga malah memperkeruh situasi dan semakin menjauhkan warga dari hak dan akses tanah yang secara turun temurun telah menjadi ruang hidup mereka.

Single “Pajeromon” bisa menjadi sebuah single reflektif untuk melihat diri dengan potensi kerentanan yang sama bagi setiap orang untuk berevolusi menjadi ajik sebelum kemudian menjadi Pajeromon.

Sebuah single yang bisa digunakan untuk menghidupkan alarm tanda bahaya ketika mendengar “Ajik datang… Ajik datang… Ajik datang… Ajik datang…”, agar kita tidak mejadi korban “Pajeromon” yang sedang mencari mangsa. [b]

TPST 3R Sekar Tanjung, Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

TPST 3R Sekar Tanjung

Sampai saat ini sampah masih menjadi permasalahan rumit.

Sampah yang terus dibuang hingga menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) justru menimbulkan masalah baru. Antara lain kebakaran, bau, sarang penyakit, tempat yang banyak lalat serta mencemari lingkungan.

Padahal, jika terkelola dengan baik, hanya sedikit sampah yang perlu dibuang ke TPA. Sampah yang terkelola justru dapat menguntungkan dan jadi uang. Kita telah menyia-nyiakan potensi sampah yang sedemikian besarnya.

Tempat pengelolaan sampah terpadu reuse, reduce, recycle (TPST 3R) Sekar Tanjung yang terletak di Sanur Kauh, Denpasar menjawab permasalahan sampah tersebut.

Sanur merupakan salah salah satu kawasan pariwisata di Bali. Tentunya sampah bisa menjadi momok jika dibuang sembarangan atau diletakkan di pinggir jalan dan tidak terangkut.

Namun, dengan diterapkannya sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sampah sudah terkelola dari hulu bukan hilir lagi. Masyarakat diminta memisahkan sampahnya. Mereka mendapatkan dua karung untuk sampah organik dan anorganik.

Masyarakat juga diedukasi secara rutin agar bersedia memisahkan sampah. Kendaraan pengangkut sampah disediakan dan mengangkut sampah setiap hari secara rutin dalam bak terpisah.

DI TPST 3R Sekar Tanjung terdapat kolaborasi antara desa dinas dan desa adat serta pemangku kepentingan lain yang terkait untuk membuat Program Desa Kedas. Sampah yang organik dicacah menjadi kompos dan makanan ternak. Kemudian yang anorganik seperti botol plastik, logam, kardus dijual kembali menghasilkan uang sehingga hanya sedikit sampah yang dibuang ke TPA.

Sistem ini menjadi solusi terhadap masalah sampah yang selama ini tidak terkelola dengan baik. Karena, sampah sebenarnya menguntungkan bukan merugikan. TPST juga tidak membuat bau yang mengganggu masyarakat sekitar. Bahkan, lalat pun tidak ada.

Salah satu pengelola TPST Sekar Tanjung Sila Dharma menceritakan, pada awalnya memang pengelola perlu berjuang mengedukasi masyarakat untuk memisahkan sampahnya. Mereka bahkan berjuang juga agar masyarakat bersedia menerima keberadaan TPST.

Semula masyarakat mengira kalau di wilayahnya ada TPS, maka akan bau dan mengganggu kawasan sekitar. Pengelola pun terus menerus melakukan edukasi dan menjanjikan tidak akan ada bau. Lokasi juga akan tetap bersih. Kalau kotor silakan diusir.

Setelah mendapatkan pemahaman semacam itu, barulah masyarakat mau menerima keberadaan TPST ini. Sekarang terbukti TPST tidak bau dan bersih. Bahkan ke depannya bisa menjadi sarana belajar bagi daerah lainnya maupun mahasiswa yang mau meneliti tentang persampahan.

Ke depanya kita harus mampu mengelola sampah kita yang menguntungkan secara ekonomis. Jangan justru dibuang ke TPA hingga menggunung. Apalagi kapasitas TPA Suwung saat ini sudah berkurang karena akan ditata peruntukannya.

Marilah kita bersama-sama mengelola sampah menjadi uang. Bahkan di setiap desa harus dikembangkan TPST 3R agar sampah dapat terkelola dengan baik. Jadilah bagian dari solusi bukan polusi, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi. [b]

The post TPST 3R Sekar Tanjung, Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat appeared first on BaleBengong.

Denpasar, Kota Wisata dengan Tumpukan Sampah Menggunung

Akibat kebakaran di TPA Suwung, sampah menumpuk di jalan-jalan Denpasar.

Denpasar, kota wisata yang terkenal di dunia kini jadi berwajah tidak indah lagi. Bau tidak sedap menyebar di pinggir jalan dari tumpukan sampah yang meluber ke jalanan. Siapa yang disalahkan atas kebakaran ini? Apakah musim kemarau yang panjang?

Sistem pengelolaan sampah masih klasik yakni kumpulkan, angkut dan buang. Sama sekali tidak ada pengelolaanya. Apakah kita tidak mau berubah?

Kita tahu teori  3R dengan menggunakan ulang (reuse), mengurangi (reduce) dan mendaur ulang (recycle) tapi tidak dijalankan. Masyarakat diminta memisakan sampah, tetapi truk sampah malah menggabungkannya. Terus siapa yang salah?

Akibatnya sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung terus menggunung tanpa ada pengelolaan dengan baik. Bahkan semua TPA menerapkan open dumping. Sampah dibiarkan menumpuk begitu saja tanpa pengelolaan. Harusnya kalau manajemen sampahnya baik bisa jadi zero waste di TPA.

Kenapa kita tidak menerapkan sanitary landfill yang benar?

Mari kita pikir lagi. Sampah organik itu tinggal dikubur selama tiga bulan sudah jadi kompos. Sampah anorganik sebagian besar bisa dijual dan di daur ulang. Hanya sedikit yang butuh dibuang ke TPA. Namun, kenyataanya berbeda. Kita sibuk membuang sampah ke TPA hingga menggunung dan mencemari lingkungan.

Sampah yang menggunung di TPA suwung adalah sampah plastik. Sudah cukup studi banding karena sekarang saatnya berbuat. Bank sampah sebenarnya ide yang baik, tetapi kapasitasnya terbatas dan masyarakat harus bawa sampah ke tempatnya. Untuk masyarakat kota yang sibuk hal ini jarang bisa dikerjakan.

Program mengurangi penggunaan plastik sudah baik tetapi coba kita lihat di tempat sampah. Masih banyak yang dijadikan pembungkus sampah adalah plastik.

Mari berubah karena kita butuh aksi bukan puisi.

Pemerintah Kota Denpasar harus hadir untuk permasalahan ini. Sediakan tempat sampah organik dan non organik di setiap rumah. Kemudian angkut dengan truk terpisah. Berdayakan tempat pembuangan sampah sementara terpadu (TPST) 3R agar sampah dikelola dengan baik, sampah organik dijadikan kompos dan anorganik di jual.

Sampah organik itu dikubur akan jadi kompos dan tidak dicari lalat. Sehingga sampah yang terbuang ke TPA sangat sedikit. Ke depannya TPA bisa jadi lahan pertanian yang subur jika sudah ditinggalkan dan tidak ada penolakan dari masyarakat.

Tidak seperti sekarang ini sampah dicampur kemudian ditumpuk menggunung. Banyak lalat bertebaran ditambah bau menyengat. Siapa daerahnya bersedia dijadikan TPA kalau seperti itu? Mari berubah karena kita butuh aksi bukan puisi.

Sebaiknya pengurangan sampah dilakukan dari rumah tangga. Sampah organik bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi kompos dengan alat sederhana. Sampah anorganik dapat dibawa ke Bank Sampah ataupun di kelola TPST 3R terdekat. Ke depannya jumlah sampah yang dikirim ke TPA dapat diminimalisir.

Dengan perkembangan teknologi bisa saja sampah di TPA diolah menjadi listrik. Untuk itu diperlukan sosialisasi pada masyarakat secara berkelanjutan dan didukung fasilitas, pendanaan dan kebijakan yang berjalan secara sinergi. [b]

The post Denpasar, Kota Wisata dengan Tumpukan Sampah Menggunung appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas

Pengguna lalulintas di Kerobokan, Bali menerobos trotoar merampas hak pejalan kaki. Foto Anton Muhajir.

MEN COBLONG selalu harus fokus berlebihan jika memasuki tikungan menuju rumah.

Tikungan yang harusnya bisa dilalui ketika penghuni perumahan hendak masuk ke perumahan. Sayangnya hampir seluruh penghuni memilih jalan tikungan itu untuk keluar perumahan. Jadi seolah-olah tikungan bisa dilalui untuk dua arah.

Rambu-rambu sudah dipasang. Berkali-kali diubah dari gambar tikungan dengan tanpa silang yang kecil. Sampai hari ini rambu dipasang juga bergambar tikungan yang disilang, berisi penjelasan dengan huruf besar-besar dilarang belok. Bahkan ada tambahan rambu arah menuju keluar yang juga besar.

Hanya seminggu Men Coblong bisa merasa sedikit sejahtera warga perumahan tidak melalui tikungan masuk perumahan untuk keluar. Selanjutnya beragam rambu yang dipasang itu pun jadi tidak memiliki arti lagi.

Bahkan adik perempuan Men Coblong pun ikut berkata dengan wajah sedikit nelangsa.

“Berapa liter sih bensin harus habis jika kita tertib dan tidak menganggu orang lain. Apa mereka tidak bisa membaca?” katanya.

“Aku paling sebal melihat motor-motor seenaknya naik di trotoar jika kondisi jalan macet. Bayangin, bagaimana trotoar bisa menanggung berat motor? Trotoar dibuat kan untuk pejalan kaki. Makanya sekarang banyak trotoar yang bolong-bolong. Hancur,” dia terus nyerocos.

“Kenapa orang-orang senang sekali melakukan hal-hal seperti itu, ya? Apa mereka merasa hebat? Aku nggak pernah bisa mengerti jalan pikiran mereka?”

Belum selesai kalimat adik Men Coblong, mobil Men Coblong berhadapan dengan sebuah sepeda motor berisi seorang bapak dengan dua orang anak balita. Satu di depan, satu di belakang. Men Coblong pun menginjak rem mendadak, sehingga membuat bamper Men Coblong pun ditabrak motor dari belakang.

Serunya lagi motor itu pun langsung meliuk-liuk. Hilang di tengah kemacetan. Sementara Bapak yang salah jalan itu hanya senyum-senyum simpul dan menganggung-angguk tanpa ada rasa bersalah langsung kabur juga. Men Coblong terdiam.

“Hyang Jagat!” Adik Men Coblong hanya bisa berkata seperti itu sambil membelalakkan mata.

Bagi Men Coblong, bapak dan dua anak balita pengendara motor itu tidak jatuh, sudah bersyukur. Bayangkan kalau mereka jatuh. Yang disalahkan pasti si Pemilik Mobil. Bayangkan dengan dua anak TK di atas motor.

Semua memang ingin cepat sampai. Semua orang juga benci kelambatan termasuk Men Coblong. Membawa mobil di jalan-jalan kota di Denpasar memang menggelisahkan. Tidak nyaman. Kita bisa berlama-lama berada di dalam mobil. Bagi Men Coblong itu tidak menyenangkan. Itu merepotkan. Itu membuat stres!

“Naik mobil kan enak, tidak kepanasan. Macet nggak masalah,” suatu hari teman Men Coblong berkata dengan ringan pada Men Coblong. Men Coblong terdiam. Percuma juga membantah atau beragumentasi dengan teman satu itu. Selain teman itu tidak punya mobil, dia juga tidak bisa menyetir. Jadi tidak tahu “cuaca” lalu lintas di kota Denpasar yang selalu bikin naik darah.

“Mungkinkah Denpasar memiliki transportasi publik seperti di Seoul?” tanya sahabat Men Coblong, seorang guru besar di sebuh universitas ternama di Seoul, Korea Selatan.

Men Coblong terdiam, ketika diundang seminar di kota Seoul, Men Coblong memang merasakan betapa kota kosmopolit itu benar-benar memiliki transportasi publik rapi. Bahkan anak-anak muda dengan dandanan bak majalah-majalah mode berjalan dengan santai menaiki bus-bus di seputar kota Seoul.

Men Coblong hanya bisa mengkhayal. Andaikata di jalan Tangkuban Perahu Denpasar ada bus nyaman, tentu Men Coblong memilih naik bus itu. Bus-bus milik umum yang bisa mengantar Men Coblong ke kantor tempatnya bekerja. Atau nongkrong di mal-mal terkemuka di kota Denpasar tanpa harus memikirkan parkir.

Namun, adakah orang-orang yang memiliki tangan untuk memutuskan kebijakan itu berpikir untuk serius menata kota Denpasar? Menata jalan-jalan utama jadi lebih menarik lagi? Bukankah kalau jalan-jalan ke kota ditata, kita jadi tidak lagi memerlukan kendaraan pribadi.

Biasanya di jalan banyak sekali mobil-mobil besar yang parkir serampangan. Memang duluuu, pernah ada aturan jika mobil parkir sembarangan maka kendaraan akan dikunci. Faktanya aturan itu hanya sebatas aturan tertulis tanpa eksekusi yang jelas dan tegas.

Cobalah Anda keluar rumah pasti banyak orang-orang yang bisa membeli mobil tetapi tidak bisa menyiapkan garasi. Walaupun banyak ada penyewaan garasi, biasanya orang-orang lebih memilih parkir di jalan, tanpa memiliki rasa malu. Tanpa merasa membuat tetangga terganggu.

Jangankan di jalan umum, di perumahan juga banyak kita temui orang-orang yang memiliki mobil-mobil bagus tentu mampu membelinya tanpa memikirkan garasi. Mereka tetap merasa nyaman, karena ya itu hanya himbauan. Begini bunyinya; dilarang parkir di jalan raya. Titik.

Makanya jangan heran, makin hari lalu lintas di kota Denpasar makin krodit. Padat dan menyesakkan. Bahkan saking padatnya, membuat beberapa orang jadi mager, malas bergerak.

“Kalau ke Bali itu repot ya cari kendaraan umum model bus-bus atau kereta, harus pesan kendaraan daring. Padahal jika ada bus-bus makin keren juga. Ke Kuta tidak perlu macet, karena kendaraan jadi sedikit,” suatu hari sahabat Men Coblong berkata dengan nelangsa.

Walaupun kendaraan daring mudah didapat, percuma saja. Toh tetap terjebak macet parah jika berada di jam-jam sibuk. Kapan ya Denpasar punya transportasi publik sehingga tidak perlu lagi ada pemandangan motor-motor yang naik ke trotoar. Motor-motor yang bak laron. Juga klakson mobil yang berteriak-teriak tidak sabar.

“Nggak mungkin. Masyarakat kita ini masih “barbar”. Baca aturan rambu di perumahan saja tidak bisa mau buat bus untuk umum yang nyaman. Masih belum terpikir itu. Sudah jangan terlalu banyak bermimpi. Saat ini yang benar itu pikirkan urusanmu, beres! Orang lain mau terganggu juga nggak peduli. Yang penting urusan kita beres,” sahut adik Men Coblong dengan tegangan tinggi.

Men Coblong terdiam, sulit sekali mengajak orang-orang tertib.

“Sudah jangan salahkan masyarakat, para penguasa saja tingkahnya tidak ada yang bisa dicontoh. Mereka hanya bisa buat aturan lalu dilanggar sendiri. Pelanggarannya justru lebih ganas daripada pelanggaran rakyat kecil seperti kita!” lanjut adik Men Coblong lebih keras.

Men Coblong terdiam. Sambil tetap berharap Denpasar kelak memiliki transportasi publik yang nyaman, minimal seperti Singapura. Masyarakat tertib, pejabat juga kudu wajib bercermin.

“Ah, kamu itu seperti punguk merindukan bulan,” sahabat Men Coblong tertawa. Sambil menepuk bahu Men Coblong. Men Coblong memonyongkan bibir, sambil meneguk kopi yang sudah pahit terasa makin pahit. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas appeared first on BaleBengong.

Wajah-wajah Kehidupan di Kanvas Nyoman

Sekarang, melukis menjadi tempat pelampiasan bagi pemilik skizofrenia ini.

Rumah Berdaya, rumah bagi orang dengan skizofernia (ODS), menggelar pameran tunggal karya-karya I Nyoman Sudiasa bertema Dekonstruksi Hakiki. Pameran bersama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali, Ketemu Project, dan Pemerintah Kota Denpasar ini dibuka pada Jumat kemarin di Rumah Berdaya dan berlangsung hingga 31 Oktober 2019.

I Nyoman Sudiasa lahir di Desa Titab, Busung Biu, Buleleng pada 8 Juni 1974. Dia didiagnosis memiliki skizofernia pada Mei 2001 dan sempat dirawat selama satu minggu di Rumah Sakit Jiwa.

Pertemuannya dengan dr. Rai Wiguna, pada tahun 2015 ketika beliau sedang melakukan rawat jalan di RSU Wangaya, membawa Nyoman mengikuti sesi mingguan di kediaman dr. Rai. Pada Oktober 2015, terbentuklah KPSI Simpul Bali. Dia menjadi salah anggotanya.

Nyoman menjadi koordinator saat audiensi bersama dengan Walikota Denpasar pada Agustus 2016, yang akhirnya melahirkan Rumah Berdaya. Pada tahun 2017, anak bungsu dari 11 bersaudara ini diangkat menjadi pegawai kontrak Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Lalu mulai 2019, dia pun tercatat sebagai pegawai kontrak di Dinas Sosial Kota Denpasar sebagai Pengurus Rumah Berdaya.

Nyoman juga aktif melukis di waktu senggangnya. Salah satu lukisan beliau sempat ditampilkan di Pameran Jagat Mawut oleh Cata Odata di Ubud.

I Nyoman Sudiasa berasal dari Desa Titap, Busungbiu, Buleleng. Ia sudah berkeluarga dikaruniai dua orang putri sejak tahun 1998. Pada awal Mei 2001 pertama kalinya ia didapati dengan gejala schizophrenia, mengamuk di tempat kerjanya di Denpasar. Saat itu ia dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah lalu dibawa pulang ke kampungnya. Karena relaps dan kumat serta keluarga tidak bisa mengurusnya lagi, akhirnya Nyoman dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Bangli.

Setelah dirawat dan akhirnya stabil, bersama istri dan anaknya yang masih berumur tiga tahun, mereka kembali ke Denpasar. Berlangsung dengan rawat jalannya, keadaannya terus membaik. Sekarang sudah stabil bisa beraktifitas dan sosialisasi ke masyarakat sampai akhirnya bisa kerja kembali.

Ia sempat bekerja sebagai buruh bangunan, jual gas, di perusahaan garmen, juga menganggur. Lalu dengan ikut KPSI Simpul Bali, ia dipercaya sebagai koordinator dan dapat mendampingi sesama orang dengan skizofrenia (ODS) di Denpasar dan sekitarnya. Saat Rumah Berdaya terbentuk, Nyoman diangkat sebagai pegawai kontrak honorer di bawah Dinas Sosial untuk bekerja di Rumah Berdaya.

Sebelum ikut di Rumah Berdaya, Nyoman tidak pernah fokus berkarya atau membuat karya seni seperti lukisan-lukisan yang dipamerkan sekarang. Ia tidak mengenal seni kecuali menggambar di jenjang sekolah,

Nyoman mengaku sejak dulu sudah senang gambar sebagai ekspresi, menggambar di buku gambar kecil atau di buku tulis sebagai ekspresi saja. “Sebelum di Rumah Berdaya, saya tidak pernah mendalami. Hanya oret-oret biar tidak diam saja. Kekurangannya, saya tidak mendokumentasikan itu karena sekadar iseng,” katanya.

Setelah di Rumah Berdaya ini, dia dibimbing berkarya walaupun tidak diatur. Nyoman diberi kebebasan. Lukisan-lukisan pertamanya, berjudul ‘Malu’ dan ‘Polusi’, bahkan pernah dipamerkan di Galeri Cata Odata, Ubud. Setelah didampingi Ketemu Project, ada beberapa lukisan diminati dan dibeli.

“Itu membuat motivasi saya untuk menyalurkan ekspresi hobi saya yaitu menggambar. Walaupun belum sebagai mencari uang, bersyukur ada yang mengapresiasi,” ujarnya.

Mencampur Warna

Di Rumah Berdaya, alat lukis difasilitasi Ketemu Project bersama perupa dan Founder Ketemu Project, Budi Agung Kuswara (Kabul). Bersama Kabul mereka belajar mencampurkan warna-warna dasar. Bentuk lukisannya tidak pernah diarahkan atau diatur. Mereka bebas berekspresi.

“Dulu suka dengan mencoret-coret dengan pensil. Tidak ada tema. Melukis spontan dengan warna-warna yang dipakai menurut perasaan hati. Warna itu perasaan hati, seperti saya mulai dengan merah,” kata Nyoman.

Nyoman mengaku tidak memperhitungkan sesuatu untuk mengekspresikan diri. Hanya spontan.

Dia mulai melukis sendiri jika saat suntuk, menyendiri, sesuai mood (perasaan). Hal tersebut karena waktunya di Rumah Berdaya juga dipergunakan dengan mengurus kawan-kawan ODS. Biasanya saat malam baru ada waktu untuk melukis. Lukisan-lukisannya belum tentu selesai secara langsung, tergantung mood.

Saat ini Nyoman mulai berkarya melukis menggunakan akrilik di kanvas. Ada juga kebiasaan ia menggambar wajah-wajah. Ia ingat juga bagaimana wajah-wajah ia gambar saat sebelum mengidap penyakit skizofrenia,

Sebelum kena skizofrenia, Nyoman pernah menggambar wajah-wajah bulat. Orang tersenyum, menangis, tertawa, marah, cemberut kayak emoji di HP. Itu terjadi sebelum mengalami yang aneh-aneh. Secara naluriah dia mengambil pensil di atas kertas lalu menulis di bawahnya ‘gila’. Wajah-wajah itu jadi satu dan tulisan itu di bawahnya.

“Apakah itu suatu tanda mengalami skizofrenia, saya kurang tahu. Sampai sekarang menggambar wajah-wajah tetapi kadang tidak lengkap elemen-elemennya,” lanjutnya.

Dalam menggambar atau melukis wajah saat ini, ia suka memulai dengan elemen-elemennya seperti hidung atau mulut saja. Ia pun mulai mencoba selain wajah saat itu, seperti menggambarkan perahu yang menceritakan nenek moyang kita sebagai pelaut.

Ada saatnya juga kawan yang juga berkarya bernama Loster mengajarkannya teknik-teknik melukis wajah seperti melukis wajah dirinya sendiri.

Untuk pameran kali ini, Nyoman telah dibimbing untuk menekuni corak melukis wajah beserta elemen-elemen wajah tersebut. Adapun di lukisan wajah-wajah tersebut dikombinasikan dengan hal lain seperti tulisan atau elemen lain di luar tubuh manusia.

“Dulu waktu saya sakit, saya rancau kalau ngomong. Banyak kata di pikiran jadi pelepasannya teriak-teriak ngomong. Terkadang bahasa Inggris didengar dan diketahui kata-katanya, bisa bahasa Inggris yang keluar. Berbeda dengan presentasi di mana kita mengontrol kata-kata yang keluar. Setelah mengeluarkan itu semua saya merasa lega, saya mendapatkan tempat untuk melepaskan,” katanya.

Sekarang, melukis menjadi tempat pelampiasan. Baginya, tidak masalah orang mengerti atau tidak. Sebelum mengenal seni teriak-teriak ke orang – keluar dari mulut – dulu memang begitu.

Menarik Perhatian

Ekspresi di lukisan Nyoman sangat beragam dan sering menarik perhatian. Terdapat dekonstruksi dan penggabungan bentuk lagi. Seakan adanya bentuk surealisme ala Salvador Dali dan kubisme ala Pablo Picasso di dalamnya. Ada yang bentuknya mengombinasi wajah ketawa-marah-sedih dan memunculkan sebuah sisir di ujung lukisan yang menjadi simbol dari kebersihan.

Adapun pohon terbentuk di hidung yang berhubungan dengan kehidupan. Atau adanya banyak mulut tetapi satu telinga di satu lukisan. Dia menggambarkan seseorang yang kebanyakan berbicara tetapi tidak melakukannya. Dia juga tidak mendengar dengan baik, sehingga telinganya hanya satu.

Ada pula keadaan seorang yang menangis terus menerus sehingga jika tangisan air matanya itu dikumpulkan bisa menjadi kolam untuk ikan nantinya. Lalu ada orang yang berteriak dari ujung bawah satu lukisannya dan meneriakkan berbagai hal yang divisualkan dalam bentuk kata-kata.

Kecerdikan Nyoman memakai elemen-elemen dan menjadikannya simbol-simbol tertentu sungguh menjadi cerminan akan keadaan diri seorang manusia. Adanya elemen wajah saja, sudah langsung mencerminkan seseorang manusia. Sebagai pengamat yang juga seorang manusia akan langsung menyentuh si pengamat karya juga.

Bagi Nyoman, wajah-wajah acak itu menjadi semacam kekacauan indra. “Wajah-wajah ini acak. Kenapa kebalik-balik? Saya juga tidak ngerti kenapa. Tetapi saya merasakan ada kekacauan indra, dari suara dari melihat semua kacau tidak jelas,” ujarnya.

Nyoman mengaku sekarang sudah tidak mendengar suara-suara di dalam kepala. Namun, kalau pikiran sudah sumpek dan merasa ada amarah pingin ngedumel atau ngomong akhirnya lebih ke tertuliskan sekarang. Karena kadang kalau ada karaoke, nyanyi biasa menikmati irama itu tidak akan merasa plong dan itu mengganggu orang sekitar.

“[Melukis] ini lebih soft, lebih aman saya berekspresi disini dan orang tidak terganggu,” akunya.

Menurut Kabul, Nyoman telah menyadari dampak therapeutics (terapi) dari aktivitas berkaryanya maka perasaan lega dapat terciptakan darinya. Melukis menjadi caranya untuk berekspresi yang tidak mengganggu secara suara yang tidak mengenakkan untuk orang sekitarnya. Melukis menjadi alternatif yang diminatinya dengan sungguh-sungguh untuk mengekspresikan rasa-rasa yang mengganggunya. Lalu dengan visual-visual yang terciptakan, pelepasan indra-indra yang ingin berekspresi dengan suara itu tersalurkan.

Kembali ke cerminan akan keadaan diri seorang manusia, sebenarnya dengan adanya visual-visual yang tersalurkan dari terapi melukis ini tetap memiliki elemen mengganggu. Kita bisa merasakan dari karya-karya Nyoman bahwa karena ada yang mengganggunya terus dia mengganggu kalau bersuara keras atau bertindak destruktif, lalu menjadi lebih baik untuk semua dengan melukis, padahal visual yang dihasilkannya juga mengganggu.

Hasil dari terapinya, semua masih mengganggu sebenarnya tetapi kita dapat merasakan kelegaan kolektif dan dapat mengenal keadaan-keadaan sesama manusia di dunia yang seharusnya inklusif ini. [b]

The post Wajah-wajah Kehidupan di Kanvas Nyoman appeared first on BaleBengong.