Tag Archives: dampak corona

Siapkah Kita untuk Pembelajaran Jarak Jauh?

sumber gambar: internshala blog

Banyak lembaga pendidikan tinggi, dosen, maupun mahasiswa yang belum mempunyai pengalaman melakukan pembelajaran jarak jauh sama sekali. Hal ini menimbulkan kegagapan dari sisi dosen, mahasiswa, maupun pengelola pendidikan tinggi.

Penyebaran virus corona yang dimulai di kota Wuhan – Tiongkok, pada akhir tahun 2019, menjadi semakin menyebar tidak terkendali ke seluruh dunia pada awal tahun 2020. Hingga akhirnya, Indonesia mengumumkan kasus pertama pasien positif covid-19 (penyakit yang disebabkan oleh virus corona) pada awal Maret 2020.

Hingga 3 April 2020, di Indonesia terdapat 1.986 pasien yang dinyatakan positif Covid-19, 181 jiwa meninggal dunia dan 134 dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona. Secara global, virus corona telah menjangkiti 900.306 jiwa dan merenggut korban 45.693 jiwa (info dari akun Twitter @BNPB_Indonesia 4 April 2020).

Berbagai upaya dalam meredam penyebaran virus corona telah dilakukan oleh aparat yang berwenang. Berbagai intervensi medis seperti menyediakan tes cepat, menyiapkan fasilitas, infrastruktur, obat-obatan, alat perlindungan diri dan tenaga medis khusus untuk menangani infeksi virus corona, maupun menyiapkan berbagai panduan dan melakukan kampanye secara masif untuk menghindarkan diri dari kemungkinan tertular maupun menularkan virus, maupun melakukan berbagai upaya guna menekan penyebaran virus.

Salah satunya aparat yang berwenang telah mendorong diterapkannya menjaga jarak fisik (physical distancing, yang menggantikan istilah social distancing). Konsekuensi dari menjaga jarak fisik adalah masyarakat diminta untuk menjauhi kerumunan, menutup tempat-tempat umum yang tidak terkait dengan pelayanan kesehatan maupun objek-objek untuk menunjang kehidupan yang mendasar, serta melakukan pekerjaan dan bersekolah dari rumah (work from home/WFH maupun school from home/SFH).

Bersekolah dari rumah tidak hanya dilakukan oleh jenjang pendidikan sekolah dasar dan menengah saja, namun juga dilakukan oleh jenjang pendidikan tinggi. Dosen dan mahasiswa harus melakukan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti grup bertukar pesan instan, kelas virtual, video conference, maupun surat elektronik untuk menggantikan pembelajaran tatap muka yang selama ini biasa dilakukan.

Memang sudah ada universitas yang telah melakukan pembelajaran jarak jauh, contohnya program pembelajaran jarak jauh yang telah lama dilakukan oleh Universitas Terbuka (UT). Universitas Terbuka bahkan sebelum banyak tersedia teknologi komunikasi online (seperti email, kelas online, video conference), telah berpengalaman melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan jasa pengiriman dokumen melalui pos. Serta berbagai pembelajaran jarak jauh yang sudah mulai marak diselenggarakan oleh berbagai universitas terkemuka lainnya jauh hari sebelum pandemik covid-19 terjadi.

Namun, bila dikalkulasi, tentu saja lebih banyak lembaga pendidikan tinggi, dosen, maupun mahasiswa yang belum mempunyai pengalaman melakukan pembelajaran jarak jauh sama sekali. Tentu saja hal ini menimbulkan kegagapan dari sisi dosen, mahasiswa, maupun pengelola pendidikan tinggi.

Pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan teknologi informasi, entah berupa kelas virtual (contohnya aplikasi Google Classroom dan Edmodo) maupun video conference (contohnya menggunakan aplikasi dari Zoom, Google Meet, Skype, dan Webex) membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengoperasikannya. Sehingga dosen harus tertatih-tatih dalam mengejar ketertinggalan dalam menguasai aplikasi pembelajaran jarak jauh tersebut. Belum lagi materi maupun ujian yang akan berbeda bila harus diterapkan tanpa tatap muka, sehingga dosen juga harus mempersiapkan materi pembelajaran dan soal ujian yang berbeda.

Banyak dosen yang merasa tertekan dengan teknologi baru yang harus mereka kuasai dalam waktu singkat tersebut. Praktek trial and error seringkali dilakukan untuk mengatasi gagap teknologi, bahkan ada yang menyerah saat menghadapi situasi yang pelik. Beruntung apabila ada kolega yang mau berbagi dan mendampingi dosen yang kesulitan menerapkan pembelajaran jarak jauh, apabila tidak ada, maka frustrasi, keputusasaan, dan ketidakberdayaan-lah yang dirasakan oleh dosen.

Mahasiswa yang merupakan generasi native digital, tentu saja mempunyai keunggulan dalam penguasaan teknologi informasi baru tersebut. Mereka sudah terbiasa dengan penggunaan aplikasi baru yang menuntut penguasaan berbagai perangkat yang dimiliki aplikasi tersebut.

Panduan resmi maupun video tutorial bisa dengan mudah mereka peroleh dari layanan video maupun situs resmi aplikasi. Namun bukan berarti mahasiswa tidak menemukan kendala dalam pembelajaran jarak jauh. Mahasiswa juga mempunyai keterbatasan terkait dengan perangkat yang dimiliki, kuota internet yang terbatas, serta ketidakpaduan antar pengajar maupun kelas pembelajaran jarak jauh sehingga dosen memberikan tugas yang terlampau berat dan tenggang waktu yang tidak realistis bagi mahasiswa, apalagi di situasi khusus seperti ini.

Tentu saja berbagai hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi mahasiswa saat mengikuti perkuliahan jarak jauh, yang tentu saja hal tersebut akan memengaruhi prestasi akademik dan kesehatan mental mahasiswa pada saat krisis pandemi covid-19.

Pengelola pendidikan tinggi juga tidak kalah gagapnya dengan situasi ini. Aturan, panduan, fasilitas maupun infrastruktur yang masih berlubang sana-sini menghambat pembelajaran jarak jauh. Pengelola pendidikan tinggi juga harus menggandeng pihak eksternal untuk mendukung pendidikan jarak jauh ini. Ikatan alumni, programer, penyedia layanan internet, dan stakeholder lainnya harus dirangkul untuk mendukung suksesnya pembelajaran jarak jauh di tengah masa krisis.

Situasi pandemi covid-19 ini adalah situasi yang di luar kebiasaan, sehingga harus dihadapi juga dengan inovasi dan tindakan yang diluar kebiasaan pula. Perlu ada kolaborasi yang apik dari pengelola pendidikan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, pihak eksternal kampus, maupun pengambil kebijakan pendidikan tinggi di pusat untuk mendukung situasi yang mengharuskan pembelajaran jarak jauh ini. Tentu saja tujuannya untuk mendukung bersekolah dari rumah guna menekan penyebaran covid-19 serta pembelajaran tetap dapat berjalan dengan baik walau di tengah masa krisis.