Tag Archives: Citizen Journalism Award 2017

Budaya Bali yang Tergerus Game Online

Permainan tradisional bersam Kang Zaini.

Teknologi secara perlahan telah “membunuh” sebagian budaya Bali.

Meong meong alih je bikule bikul gede gede buin mokoh mokoh kereng pesan ngerusuhin juk meng juk kul mate nengeng caplok bikul…” Demikian petikan gending rare Bali berjudul meong-meong. Lagu ini ibarat mengingatkan masa anak-anak yang begitu menyenangkan. Terlebih lagi, begitu banyaknya gending rare yang ada maupun ragam peplaian (permainan) yang ada di Bali.

Bermain! Kata-kata tersebut cukup akrab di telinga anak-anak. Hampir semua anak memiliki masa bermain, sebagai bentuk perkembangan psikologis kejiwaan mereka.

Dahulu, anak-anak dikatakan bermain jika mereka sudah berkumpul dengan teman sebaya dan melakukan kegiatan bersama-sama. Penuh canda dan suka cita, serta yang paling penting adalah tumbuhnya rasa saling menghargai, menyayangi, dan membutuhkan dalam diri sang anak terhadap lawan bermainnya.

Tapi kini, hal tersebut nyaris tenggelam. Anak-anak bisa bermain tanpa melibatkan teman sebayanya. Contoh nyata adalah keberadaan game online. Perkembangan teknologi yang begitu pesat mendorong terciptanya beragam permaian baru.

Celakanya, hal tersebut memicu tumbuhnya sikap individualistis pada diri anak. Bisa dibayangkan, dengan koneksi internet dan layanan komputer, seorang anak bisa bermain sendiri, tanpa harus berinteraksi dengan anak yang lain.

Dengan demikian, rasa saling menghormati, menyayangi dan saling membutuhkan pada diri anak lambat laun kian memudar. Padahal, sebagai mahkluk sosial, manusia tidak bisa melepaskan diri dari keberadaan orang lain.

Hal itu merupakan contoh kecil dari dampak negatif game online, yang merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi jelas bukan hal yang salah. Apalagi di era globalisasi saat ini, teknologi sangat dipelukan oleh umat manusia, agar mampu bertahan hidup.

Namun, disadari atau tidak, teknologi secara perlahan telah “membunuh” sebagian budaya bangsa.

Contoh sederhana adalah punahnya permainan tradisional yang merupakan bagian dari budaya bangsa. Saat ini, nyaris tak pernah terlihat lagi anak-anak yang bermain metajok. Termasuk pula keengganan untuk bermain megoakan yang merupakan bagian dari cerita budaya masyarakat Buleleng. Entah berapa banyak lagi budaya Bali yang tenggelam dan nyaris tidak diketahui oleh anak-anak zaman sekarang.

Jika dibandingkan dengan game online ataupun permainan modern masa kini, permainan tradisional jelas kalah mengasyikkan. Ditambah lagi dengan minimnya prasarana seperti tanah lapang yang kian menciut. Hal tersebut jelas membuat anak-anak kian tidak mengenal budaya mereka sendiri.

Game online tidak memerlukan tempat yang luas. Cukup satu kursi dan meja, anak-anak dapat puas bermain. Apalagi sejumlah pakar mengatakan, bahwa permainan modern yang dikembangkan saat ini, ikut mengasah daya kreativitas anak usia dini.

Lantas, akankan budaya tradisional tergerus oleh permainan masa kini?

Jika dicermati secara mendalam, banyak permainan modern yang justru mengandung sisi negatif. Salah satunya adalah game online. Selain “mencetak” anak menjadi seorang individualistis, game online juga berdampak buruk pada kesehatan. Umumnya, ketika bermain game online, anak-anak sampai lupa waktu, lupa makan, dan terus-terusan berada di depan layar monitor. Hal tersebut jelas berdampak kurang bagus pada kesehatan mata.

Belum lagi dari sisi finansial, keberadaan game online jelas menambah banyak jumlah pengeluaran belanja orang tua. Tidak hanya itu saja, permaian modern juga mencetak anak malas untuk belajar. Banyak kasus menyebutkan, prestasi anak didik merosot ketika mereka mengenal game online dan mulai melupakan waktu untuk belajar.

Lantas, apakah salah jika teknologi berkembang? Jelas tidak, perkembangan teknologi sangat diperlukan di era kekinian. Namun, tetap perlu adanya kontrol sosial untuk menyaring dampak negatif dari perkembangan teknologi.

Peran orang tua sangat diperlukan pada diri anak untuk mencegah pengaruh negatif teknologi. Sedangkan dari sisi budaya, juga diperlukan perlindungan khusus, agar tidak mengalami kepunahan. Pelestarian budaya tradisional tetap diperlukan, untuk mengenalkan anak cucu kita kelak pada kebudayaan warisan leluhur, termasuk permainan tradisional. [b]

The post Budaya Bali yang Tergerus Game Online appeared first on BaleBengong.

Bahu Membahu Merawat Kebhinnekaan (Sebuah Refleksi)

Indonesia Berbhineka, Indonesia yang Ceria. Foto Made Argawa.

Patut kita (anak-anak Indonesia) berterima kasih karena atas perjuangan pendiri bangsa dan negara kita, (the founding father and mother), sehingga bangsa dan negara Indonesia berhasil dibangun berdasarkan semangat persatuan dan perjuangan dari berbagai elemen masyarakat yang heterogen.

Berterima kasih merupakan salah satu wujud dari penghormatan anak-anak Indonesia terhadap setiap perjuangan pendiri bangsa dan negara. Hal ini sekaligus sebagai komitmen untuk merawat bangsa dan negara menjadi lebih baik. Kemerdekaan Indonesia sejak 17 Agustus 1945 kiranya tidak  dipandang sebagai perjuangan yang telah selesai. Sebab kemerdekaan adalah perjuangan yang belum selesai.

Maka dari itu, kemerdekaan harus dipandang sebagai jembatan untuk membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Perjuangan belum selesai

Kemerdekaan Indonesia sebagai perjuangan yang belum selesai, kiranya dapat dibuktikan dengan masih banyaknya persolan yang terjadi dan belum bisa diselesaikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satunya adalah polemik kebhinekaan.

Mengapa harus kebhinekaan? Sebab, kebhinekaan itu sendiri dapat menciptakan 2 (dua) potensi peristiwa. Pertama, kebhinekaan dapat menciptakan semangat persatuan, sehingga integrasi bangsa dan negara tetap terawat. Potensi ini hanya akan terjadi, apabila setiap elemen masyarakat yang berbeda suku, agama, ras, budaya, dan pilihan politik dapat saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya.

Kedua, kebhinekaan dapat menciptakan konflik sosial kemasyarakatan maupun konflik vertikal dalam pemerintahan, sehingga dapat mengancam integrasi bangsa dan negara Indonesia. Potensi ini akan terjadi, apabila setiap elemen masyarakat yang heterogen tersebut, tidak saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada.

Jika kita menilik ke belakang maka sejarah akan menyadarkan kita, bahwa kebhinnekaan itulah yang merupakan fondasi, sehingga bangsa dan negara Indonesia dapat berdiri sampai saat ini. Oleh karena itu lahirlah semboyan, bhinneka tunggal ika.

Dalam negara heterogen diperlukan tujuan dan ideologi yang sama. Jika kita tidak memiliki hal itu, maka akan sulit menjaga keberagaman di bumi pertiwi. Perlu kita pahami bahwa seluruh nusantara bersatu karena ada kesamaan tujuan dan kesepakatan ideologi bangsa yang merangkul keberagaman yang ada.

Kebhinnekaan: Jantung Indonesia

Penulis mengibaratkan kebhinnekaan Indonesia seperti jantung yang bekerja memompa darah ke seluruh bagian tubuh agar subyeknya (Indonesia) dapat hidup sehat dan kuat. Oleh sebab itu, apabila jantung Indonesia terserang penyakit (intoleran, rasisme, diskriminasi dll) maka Indonesia akan menjadi bangsa dan negara yang hidupnya tidak sehat dan tidak kuat. Oleh sebab itu, sewaktu-waktu akan “sakit” (terjadi perpecahan) jika tidak dirawat dengan baik. Maka dari itu, untuk mencegah hal tersebut maka perlu mengkonsumsi “makanan-makanan” yang sehat pula, yakni saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada.

Pemilu, Pendidikan dan Penjaga Kebhinnekaan

Bukan menjadi hal baru lagi bagi rakyat Indonesia untuk mengetahui, bahwa pemilu sering dimanfaatkan untuk memunculkan isu-isu intoleran. Maka politik Machiavelisme (menghalalkan segala cara) sangat mungkin terjadi dalam kontestasi pemilu. Apalagi di era melek teknologi saat ini, tentu isu-isu tersebut akan sangat mudah disebar. Oleh sebab itu, tidak heran kalau Indonesia saat ini diserang oleh banyaknya berita hoax.

Melihat peristiwa-peristiwa tersebut maka masyarakat membutuhkan pengetahuan dan pola pikir yang baik untuk dapat mencegah hal tersebut bisa terjadi. Hal itu tentu dapat kita peroleh melalui pendidikan, baik formal maupun informal.

Pendidikan merupakan senjata untuk melawan anti-toleransi. Peran pendidikan bukan hanya untuk sekedar tahu dan memahami suatu materi atau persoalan. Tan Malaka pernah berkata, “tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”. Pendidikan tentu sangat berpengaruh terhadap setiap pembentukan karakter maupun tindakan yang akan diambil oleh setiap individu maupun kelompok masyarakat.

Selain itu, pendidikan juga diperlukan untuk mencegah tercemarnya pola pikir individu atau kelompok masyarakat dari paham-paham yang menyesatkan. Di mana, sewaktu-waktu bisa melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengancam keberangaman.

Eksistensi dan keterlibatan para pendidik, yakni keluarga, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh bangsa, guru, dan organisasi keagamaan, serta kepala negara sebagai penjaga kebhinnekaan (guard of diversity) sangat diperlukan untuk menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mengapa demikian? Karena dalam fenomena polemik kebhinnekaan yang hangat terjadi saat ini maka bangsa Indonesia membutuhkan panutan.

Harapannya dapat menjadi magnet yang kuat, sehingga jarum kompas dapat mengarah ke arah bhinneka tunggal ika yang lebih baik. Penulis mengatakan bhinneka tunggal ika yang lebih baik karena berdasarkan kesadaran akan realita yang ada, bahwa polemik kebhinnekaan memang tidak dapat dipulihkan secara total tetapi dapat diminimalisir. Ketika polemik kebhinnekaan dapat diminimalisir maka kelompok-kelompok yang mengancam kebhinnekaan akan tenggelam dalam lautan mayoritas masyarakat yang bhinneka tunggal ika. [b]

The post Bahu Membahu Merawat Kebhinnekaan (Sebuah Refleksi) appeared first on BaleBengong.

Revolusi Mental Generasi Zaman Now Demi Menjaga Pluralisme

Urgensi generasi zaman now adalah untuk merajut asa keberagaman itu.

Fakta tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang plural, rumah bagi semua kalangan, tempat berpijak 250 juta lebih penduduk, 1.300 suku bangsa,  6 agama dan berpuluh aliran kepercayaan, dan sekitar 2.500 jenis bahasa daerah berdasarkan data BPS tahun 2010 adalah keniscayaan yang tidak bisa dielakkan. Inilah kesepakatan founding fathers and mothers bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945.

Namun, mengapa belakangan ini kita seperti tersayat pisau tajam isu-isu yang meragukan komitmen awali ini? Ada kabar yang menafikkan konsensus kebangsaan ini. Sama sekali bukan untuk membuka luka lama atau mengungkit persoalan di dalam masyarakat.

Tak perlu mundur jauh untuk melihat ada kerapuhan dalam praktik menjaga asa perbedaan dalam satu bingkai kenusantaraan ini. Masih sangat segar dalam ingatan kita isu sentimen suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) di pilkada DKI kemarin atau mungkin di daerah lain. Ada Saracen yang melancarkan serangan ujaran kebencian dan hoax yang masif. Eggi Sudjana yang keseleo lidahnya mengatakan hanya agamanya yang sesuai Pancasila atau Gubernur Anies Baswedan yang salah konteks mengeluarkan kata “pribumi.”

Di era serba digital di mana internet dan media sosial semakin mewabah dan informasi online dapat diproduksi dengan sangat mudah dan cepat ke pemirsanya maka kekacauan, kegaduhan semakin membesar dan membludak di samping kecemasan dan keprihatinan berbagai elemen masyarakat. Internet dan media sosial bak primadona dalam mencapai apapun termasuk mengoyakan pluralisme dan melakukan kejahatan atau pelanggaran lainnya.

Jadi, tidak mengherankan bila isu-isu seperti yang diutarakan di atas akan diperalat untuk kepentingan dan dengan modus apapun yang berujung pada perpecahan dalam masyarakat. Pertanyaan penting yang kiranya perlu dijawab ialah seberapa besarkah peran generasi muda terutama dalam konteks kekinian dan bagaimana cara menjaga tali kesatuan dalam keberagaman Indonesia?

Muda Revolusi Mental Bangsa

Generasi muda dalam tulisan ini didefinisikan sebagai generasi yang bergantung pada internet dan peran media sosial sebagaimana dikemukakan dalam teori generasi Karl Manheim. Karl Manheim dalam esai berjudul The Problem of Generation (1923) membagi manusia ke dalam beberapa generasi. Inti teori generasi tersebut mengatakan manusia di dunia ini mempunyai karakter yang berbeda dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya karena melewati masa sosio-sejarah. Berkat teori itu, para sosiolog membagi manusia menjadi beberapa generasi.

Pertama, The Greatest Generation (lahir sebelum tahun 1928). Alasan mereka adalah generasi terbaik karena berhasil melewati dua masa berat yaitu Great Deprresion dan Perang Dunia II. Kedua, Silent Generation (1928-1945) yaitu generasi diam terjadi pada zaman dimana situasi menghendaki banyak pembatasan seperti angka kelahiran. Ketiga, Baby Boomers (1946-1964) zaman di mana terjadi lonjakan angka kelahiran.  Keempat, Gen-X (1965-1980), kelima, Gen-Y atau akrab disapa Millenial (1981-2000), keenam, Gen-Z (2001-2010) dan ketujuh Gen-Alpha (2010-sekarang).

Dari konfigurasi pembagian generasi di atas, generasi muda pada tulisan ini merujuk pada Gen-Y, Gen-Z, dan Gen-Alpha. Ketiga generasi ini ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan kebutuhan utama adalah internet. Generasi ini menyukai komputer, smartphone, videogames, media sosial dan aplikasi-aplikasi berbasis internet lainnya.

Tom Brokow yang dikutip Tirto (2016) menyebutkan ada 5 (lima) karakteristik generasi millenial yaitu, (1) melek teknologi; (2) bergantung pada mesin pencari, (3) learning by doing, (4) tertarik pada Multimedia, dan (5) membuat konten internet.

Sekali lagi, generasi muda dalam konteks ini adalah generasi yang bergantung pada peran internet dan media sosial. Lihat saja survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Oktober 2016 lalu, pengguna internet di Indonesia dari kalangan anak muda sebesar 80 persen atau sekitar 25 juta orang. Dari survei diketahui  perilaku jenis konten yang diaksesnya 97 persen adalah media sosial.

Dalam perkembangan di masyarakat istilah kekinian yang dipakai misalnya generasi zaman now. Generasi zaman now sama menurut penulis mencakup ketiga generasi di atas. Digitalisasi menciptakan masyarakat zaman now yang punya karakteristik atau kepribadian yang khas, sehingga persoalan yang dihadapi berbeda dari zaman atau generasi sebelumnya yakni yang bersentuhan atau berlangsung di dunia digital. Tak peduli itu sesuatu yang konvensional atau modern sepanjang dapat dikonversikan ke digital sah dan diterima.

Sebagaimana telah disinggung di atas maraknya berbagai kasus sentimen SARA, ujaran kebencian, hoax, ditambahkan kejahatan konvensional maupun modern antara lain, pemalsuan, penipuan, pornografi, terorisme, human trafficking, perselingkuhan, atau jenis kejahatan cyber crime lain menjadi perbincangan yang tidak selesai saat ini.

Yang menggundahkan ialah peran generasi muda atau generasi zaman now yang sangat besar yang turut membuat konten (memproduksi) dan menyebarluaskannya. Untuk membuktikan hal semacam ini, mengikuti jejak generasi ini cukup mencarinya di mbak Google maka beragam informasi terkait dapat dengan mudah diperoleh. Tidak seperti pelaku yang lempar batu sembunyi tangan, Google akan menampilkan yang sebenarnya paling tidak riwayat memproduksi atau menyebarkan isu tersebut.

Kekhawatiran terhadap situasi di atas belakangan perlahan menuju ke arah yang mencengangkan yaitu mulai munculnya politik identitas. Singkatnya, politik identitas adalah sistem politik yang menandai bangkitnya kelompok politik identitas yang menentukan pandangan politik berdasarkan pada identitas yang sama dengannya baik berdasarkan suku, ras, agama, golongan dan lain sebagainya.

Sebenarnya hal ini lumrah terjadi dalam sistem politik di negara manapun. Akan tetapi, sebagian besar yang terjadi justru terjadinya pelanggaran hukum karena adanya diskriminasi rasial dan sebagainya. Dalam konteks ke-Indonesia-an perbuatan ini bertentangan dengan Pancasila sebagai ideologi negara, dan UUD 1945 sebagai hukum dasar negara yang tertinggi, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara yang final serta Bhineka Tunggal Ikka sebagai semboyan pengerat yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Urgensi kehadiran generasi zaman now tidak lain adalah untuk merajut asa keberagaman itu. Presiden pertama kita, Ir. Soekarno  atau yang akrab di sapa Bung Karno pernah berkata, “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Ungkapan ini tentu bukan sebuah isapan jempol atau pemanis bibir semata. Mengingat urgensi peran kaum muda yang utamanya dalam pergerakan menuju negara Indonesia yang merdeka sangat penting seperti Budi Utomo (1908), Indische Partij (1912) dan Sumpah Pemuda (1928). Pemuda menempati pucuk pengambilan keputusan dan gerakan massa yang menentukan arah bangsa kala itu.

Peran yang sama harapannya dapat dimainkan generasi sekarang. Paling tidak melalui bermedia sosial yang bermartabat. Karena kita bertanggungjawab secara moral dan sosial untuk menjaga keutuhan dan persatuan, keharmonisan dan keberagaman bangsa ini. Kalau bukan kita siapa lagi? Sejauh konteks penulisan ini penulis melihat bahwa revolusi mental masih sangat relevan untuk diterapkan bahkan harus digalakan atau dibumikan agar dapat dibatinkan dan dilaksanakan siapapun.

Konsep revolusi mental pertama kali muncul dalam visi dan misi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika bertarung di Pilpres 2014 lalu. Dalam Nawacita sebagai grand design arah kebijakan pemerintahan ini begitu terang berderang memaparkan merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa sebagai masalah utama sampai saat ini. Untuk itu cara untuk membawa kembali bangsa ini ke ruh awal negara bangsa (nation state) Indonesia ialah melalui pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti.

Seharusnya revolusi mental ini tidak hanya dialami dalam dunia pendidikan formal misalnya. Tetapi keseharian masyarakat terutama generasi muda atau generasi zaman now sendiri berevolusi. Berarti dunia digital (internet dan/atau media sosial) juga berevolusi dengan mengedepankan nilai-nilai yang baik. Tidak menyebarkan atau melakukan serangkaian kejahatan dan tipu daya. Yang diutamakan adalah kecerdasan dalam menggunakan media sosial untuk menyampaikan pesan-pesan keberagaman dan perdamaian.

Keberagaman dan perdamaian tercermin dari perlakuan kita menghargai dan memberi ruang bagi orang lain yang secara identitas apapun mementaskan setiap ekspresinya yang bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan. Bila dipahami dengan baik maka posting, like, repost, retweet atau komentar yang dapat mengkampanyekan kejahatan maupun memperkeruh keadaan bisa diminimalisir. Sampailah pada titik dimana penulis meyakini kasus Pilkada DKI, Saracen, Eggi Sudjana atau Anies tidak perlulah dijadikan polemik di dalam masyarakat karena mereka pun tidak akan melakukan itu hanya bila ada revolusi mental. [b]

 

The post Revolusi Mental Generasi Zaman Now Demi Menjaga Pluralisme appeared first on BaleBengong.

Akankah Bulung Nusa Penida Hanya Tinggal Legenda?

Nusa Penida merupakan salah satu bagian dari Kepulauan Provinsi Bali.

Mayoritas penduduk pulau ini adalah Suku Bali sisanya adalah Suku Bugis.
Walaupun dengan perbedaan suku pada pulau yang tidak terlalu besar ini mereka tetap rukun dengan profesi pekerjaan masing-masing yang dilakoni.

Dahulu di era 1990-an pekerjaan yang sangat dominan di pulau ini adalah pertanian dan perikanan. Secara spesifik profesi mereka adalah nelayan dan petani “bulung”atau sering disebut rumput laut, terutama untuk mereka yang berdomisili di daerah pesisir pantai Nusa Penida. Adapun mereka yang berada di daerah pedalaman perbukitan mengutamakan pertanian palawija, peternakan sapi dan perdagangan hasil pertanian.

Saya yang ketika intu masih berusia anak-anak sangat tertegun melihat profesi mereka yang mulia ini. Dengan gigih para tetua-tetua bekerja di bidangnya untuk menyekolahkan anak-anaknya di Bali daratan untuk bisa memiliki masa depan yang lebih baik dari meraka.

Saya sangat nikmat memandang hamparan ladang bulung yang berjejer rapi di pesisir pantai Nusa Penida.

Warna-warninya begitu indah bergradasi dari hijau muda menuju hijau tua dan dari merah muda menuju merah tua. Semakin tua warna bulung bertanda bisa dipanen, siap dikeringkan dan dijual oleh petani bulung tersebut.

Zaman telah banyak berganti dan waktu berubah seiring tren dan pergeseran budaya dan tradisi. Kini profesi-profesi ini pun tergantikan oleh zaman yang milenia yang mengutamakan kebutuhan pelayanan jasa wisata.

Kini petak-petak bulung yang bergradasi di laut kian telah tiada. Mereka menghilang tergantikan dengan jasa-jasa pondok wisata, bungalow, vila-vila, lounge chair, restoran, bar dan sebagainya. Profesi petani bulung telah langka dan mungkin sudah menghilang kelak sesuai perubahan dan tuntutan tren zaman.

Kelangkaan petani bulung yang pernah menghiasi bibir pesisir pantai Nusa Penida telah menjadi sejarah. Mereka yang pernah mengisi aktivitas denyut jantung Pulau Spiritual ini. Sudah sepantasnya bisa diberikan kias “Nusa Penida is Bulung Legend“. Nusa Penida kembali mengikuti Bali daratan yang kian hari profesi bertani akan ditinggalkan.

Sampai kapan tradisi bertani ini akan dibiarkan sirna oleh tren zaman?

Kita sebagai rakyat kecil hanya bisa berdoa menunggu tangan-tangan mulia yang akan kembali mengangkat budaya heterogen yang telah membesarkan dan merawat alam Bali dan Nusa Penida.

Memang sungguh dilematis perubahan-perubahan oleh seleksi alam baik di bidang budaya dan adat tradisi. Akan tetapi perubahan akanlah tetap abadi karena tiada ada yang bisa menghentikan waktu atau memutar waktu kecuali Sang Pencipta.

Yang mungkin kita selalu harapkan adalah perubahan yang lebih baik dari sebelumnya dan menunjang satu sama lain dalam konsep “Tri Hita Karana”. Pahrayangan (Pencipta), Pawongan (Manusia) dan Palemahan (Alam Lingkungan).
Ketika ketiga unsur ini tetap seimbang, serasi dan selaras maka tetaplah akan ada kehidupan yang harmonis dan mengisi satu sama lain.

Mari kita semua berdoa untuk alam semesta untuk tetap “ajeg” dan harmonis serta damai. [b]

The post Akankah Bulung Nusa Penida Hanya Tinggal Legenda? appeared first on BaleBengong.

Indonesia Berbhineka, Indonesia yang Ceria

Indonesia Berbhineka, Indonesia yang Ceria. Foto Made Argawa.

Foto diambil beberapa saat sebelum parade taman kanak-kanan dan Paud dalam menyambut Hari Kemerdekaan di Lapangan Umum Kecamatan Kediri, Tabanan (14/8). Terlihat anak-anak dengan ceria dan bersemangat akan mengikuti acara tersebut.

Dengan menggunakan pakaian adat beberapa daerah dan pakaian beberapa profesi, keberagaman selalu tampak indah saat dibawakan oleh anak-anak. Hal yang saat ini mungkin sulit dijumpai pada orang dewasa di negeri ini. [b]

The post Indonesia Berbhineka, Indonesia yang Ceria appeared first on BaleBengong.