Tag Archives: Cerita kecil

Gunung Agung yang Mulai ‘Bangun’ dan Kisah di Sekitarnya

Tidak ada yang menyangka kalau Gunung Agung yang tenang ini sedang bergejolak






Hari itu, 27 September 2017. Mendekati jam 10 pagi, sebuah mobil Ranger mengarah lurus ke arah Gunung Agung. Saya bersama dua orang di mobil tersebut memiliki misi untuk membawakan bantuan logistik yang diperlukan bagi para pengungsi Gunung Agung. Sebagai cerita awal, sejak beberapa hari yang lalu Gunung Agung telah memperlihatkan gejala aktif yang ditandai dengan gempa dan laporan mengenai peningkatan aktivitas magma. Sejurus kemudian, “Kebangkitan” Gunung Agung telah membuat sekitar 40.000-an warga di sekitarnya harus memutuskan untuk mengungsi. 

Walaupun telah dianjurkan untuk mengungsi bahkan oleh pemerintah, ternyata hampir setengah dari hitungan tersebut tetap tinggal di dekat area rumah mereka. Alih - alih meninggalkan rumah demi keselamatan, kebanyakan kembali karena harus memberikan makanan bagi hewan ternaknya yang tidak mungkin mereka bawa. Kejadian ini juga menarik begitu banyak simpati dari masyarakat Bali untuk membantu dalam menyediakan penampungan Pengungsi serta menarik niat buruk para saudagar picik yang mencoba mengambil keuntungan dengan membeli ternak mereka di bawah harga. Berbekal kekhawatiran akan bencana dan topangan kehidupan yang harus dijalani setelah (misalkan) Gunung Agung Erupsi, membuat mereka memutuskan tinggal di zona merah Gunung Agung.


Posko pengungsian berada dalam radius dekat Gunung Agung


Mobil Ranger itu kembali meliuk - liuk di tengah jalanan kecil di daerah yang sudah mulai ditinggalkan oleh penduduknya. Berhenti sejenak setelah melihat beberapa warga yang duduk santai sembari was-was melihat Gunung Agung yang terlihat tenang di hadapannya. kami pun mulai berbincang dan mereka menyampaikan keluhan itu kepada kami. Saya, Mika dan Gati. “Kalau pagi sampai siang, kami akan ada di sini. Untuk memberi makan ternak. Begitu malam, kami akan kembali di pengungsian terdekat”, Ujar Pak Wayan Putra. Seorang warga yang memiliki 4 sapi dan 20 kambing di kediamannya. 

Setelah berbicara sejenak sambil tidak lupa berbagi kontak untuk membantu meneruskan info tentang tempat penitipan ternak gratis, kami pun menuju beberapa posko pengungsian terpencil yang berada di dekat area gunung Agung. Posko pengungsian tersebut ada yang dalam radius Zona Merah dan Zona Kuning. Posko - posko tersebut juga berada dalam jalur jalan utama dan ada juga yang mesti melalui jalan yang lumayan rusak. Suasana pengungsi di lokasi tersebut beragam. Dengan jumlah pengungsi mencapai 200, 400 hingga 700 orang dalam posko, Mereka sangat membutuhkan alas tidur, selimut, kebutuhan bayi, obat - obatan, sayuran hingga air. Sebuah kubutuhan utama yang luput dari para donatur yang saat ini lebih sering terlihat di posko pengungsian utama. Di luar dari kabupaten Karangasem.

Pengalaman unik saya dapatkan ketika berkunjung ke posko Rendang. Disana, kami bertemu dengan salah satu pengungsi tertua. Sebut saja Odah. Berumur sekitar 80 tahun. Kami terlibat perbincangan yang hangat tentang pengalaman Odah dan gunung Agung yang dahulu meletus 1963. Sebuah kata - kata yang saya ingat dari Odah, "Ketika seorang anak bikin ulah, maka orang tua jadi marah dan menghukum anak itu. Gunung Agung adalah orang tua kita.", "lalu siapa anak - anaknya?", Odah pun menjawab, "Kita Semua". Tanpa kesedihan dalam matanya, Odah terlihat begitu riang. Seakan sudah kenyang menikmati asam garam kehidupan dan tahu apa yang harus sebaiknya dilakukan untuk membuat "orang tua" kita tidak menjadi marah.

Sejenak kami merenungkan apa yang dikatakan Odah tersebut. Seperti tertampar bahwa sesungguhnya kita selama ini telah mengambil begitu banyak dari alam. mengambil tanpa memberikan kembali. Mungkin saja ini sebagai pengingat, bahwa kita sejatinya harus memikirkan juga alam dan memberi kembali sekaligus melindungi orang tua kita. Ibu Pertiwi kita.


Harapan selalu muncul bahkan bagi Odah, saksi mata letusan gunung Agung tahun 1963


Untuk selanjutnya, foto - foto di bawah akan menunjukkan situasi terkini dari beberapa posko pengungsian yang dekat dengan Gunung Agung dan akan ada sebuah tautan  yang bisa teman - teman gunakan untuk melihat sekaligus melengkapi data base posko pengungsian terpencil. Beserta kontak dan kebutuhan masing - masing. Bagi teman- teman yang akan memberikan donasi, harap perhatikan situasi dan kondisi psikis pribadi dan pengungsi. Sehingga kita bisa mengatur ritme untuk memberikan bantuan karena bencana erupsi gunung memerlukan waktu yang panjang untuk pemulihannya. Jadi stay safe dan semoga semua menjadi lebih baik kedepannya.

(foto dan video adalah asli milik dari penulis Blog ini, Agung Yudha)

Klik DISINI untuk Form Lokasi dan Data Pengungsi Gunung Agung

Suasana Pos Pengungsian menanga yang telah siap untuk memindahkan 700an pengungsinya jika Gunung Agung sewaktu - waktu erupsi


Pos pengungsian Rendang dengan alas tidur yang diprioritaskan bagi orang tua. Yang lainnya menggunakan alas tidur seadanya

Ibu dan anak - anak di pos pengungsian Sanggem dengan kapasitas 400 orang
-->


Suasana pos logistik di posko Menanga


Harapan untuk dibagi dalam bantuan logistik


Kondisi Posko Rendang


Logistik Sayuran yang sangat diperlukan bagi pengungsi di Posko Wisma Kerta


Menyusu dalam posko


Pengkotakan Sosial yang ditampar Agama Baik


Masyarakat memerlukan agama / kepercayaan sebagai media untuk mendekatkan diri dengan hal yang bersifat religi. Bagi saya religi tersebut bukan semata mata membicarakan agama namun lebih kepada perasaan personal terhadap apa yang anda yakini. Ada beberapa sudut dalam diri manusia yang tidak akan selalu mampu dinalar dengan hitungan dan logika yang pasti. Suatu ruang yang diperlukan untuk hidup dan berfikir secara independen dan mengaitkan dirinya dengan keberadaan alam semesta yang luas ini. Sampai saat ini, agama dan kepercayaanlah yang mampu memberi bagian untuk itu. Contohlah ketika kita bingung harus bertindak seperti apa padahal segala cara sudah kita tempuh, alhasil kita akan berserah diri pada suatu kekuatan di luar diri dan memohon yang terbaik.

Oh ya, back to the topic, Agama yang awalnya sebagai sarana yang mendekatkan masyarakat dengan Tuhannya kemudian berubah menjadi sebuah pengkategorian sosial. Pergerakan yang besar dari masyarakat kemudian memunculkan sistem institusi di dalam agama.

Sistem institusi ini diperlukan untuk mewadahi secara professional ledakan umat terhadap agama yang mereka anut. Dilihat dari sisi tersebut, pemegang amanat institusi agama (salah satunya) adalah untuk melaksanakan tugas – tugas yang diwahyukan Tuhan terhadap masyarakat. Alasan lainnya adalah untuk menjaga kesucian ajaran agama agar tidak bergeser ataupun membelok seiring banyaknya masyarakat yang menganut dan pergerakan zaman yang terus terjadi.
Dengan adanya institusi, agama menjadi sesuatu hal pakem yang memiliki aturan terhadap ajarannya dan dapat disangsikan kepada penganutnya (jika penganutnya membelok atau tidak setuju terhadap agama tersebut). Sudah tentu semua akan kembali untuk menjaga kesucian ajaran agama seperti yang dijelaskan di atas. Namun yang membuat agama dapat bertahan dalam kurun waktu lama adalah menyatunya kebudayaan setempat terhadap agama / kepercayaan yang bersangkutan. Dengan mengadopsi kebudayaan masyarakat setempat, agama dapat bertahan sesuai dengan kondisi sosial di daerah tersebut. Seperti contohnya adalah agama Hindu di India dan Bali. Memiliki konsep yang mirip namun dalam pelaksanaannya berbeda. Terlebih dari alasan di atas, dengan institusi diharapkan fungsi religius dari agama bersangkutan dapat berjalan dengan baik. Layaknya (1) Fungsi pelayanan sabda tuhan ; mewartakan ajaran agama, (2) Fungsi penyucian ; penyebaran rahmat dari Tuhan, dan (3) Fungsi penggembalaan ; umat / masyarakat mendapatkan pimpinan / bimbingan yang terarah.
Masyarakat merupakan pergerakan individu yang komunal. Ini berarti merupakan sebuah pergerakan sosial. Apa saja yang berhubungan dengan sosial selalu menyangkut kepentingan banyak orang. Termasuk juga kepentingan – kepentingan kelompok berkuasa. Fenomena ini yang terjadi di Indonesia seperti saat Departemen Agama didirikan dan digunakan sebagai acuan dalam menentukan kepentingan masyarakat beragama. Campur tangan pemerintah terhadap keimanan seseorang ternyata tidak (selalu) membuat keadaan membaik. Masih saja ada individu / masyarakat yang mendewakan agamanya masing – masing dan tidak pelak menistakan agama lain. Bahkan menjadi sangat superior di antara agama lain dan bersikeras untuk menegakkan aturan demi kelancaran masyarakat yang menegakkan aturan tersebut. Mungkin ini bukan hanya tanggung jawab institusi semata. Bukan. Mungkin permasalahan ada pada perubahan pola pikir dan gaya hidup pada masyarakat. Iya, itu jika kita mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.
Fenomena lain seperti Kartu Tanda Penduduk yang memuat kolom agama sebagai identitas singkat terhadap individu yang bernaung di bawah negara Indonesia. Entah apa fungsinya disaat masyarakat yang memiliki agama yang tidak sesuai dengan 6 agama besar Indonesia tidak dapat mendapat akses listrik maupun air karena tidak bisa mengisi kolom agama yang mereka tidak anut. Indonesia secara geografis sangatlah luas dan itu berarti kepercayaan terhadap hal yang bersifat religi juga banyak dan beragam. Data Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 mengungkapkan terdapat 245 aliran kepercayaan yang terdaftar di Indonesia. Namun sayang, tidak semua itu diakui negara sebagai agama dan hanya dikategorikan kepercayaan. Sayang sekali jika pengkategorian sosial lewat KTP dan Departemen Agama hanya berlaku untuk 6 agama sesuai peraturan pemerintah. Beberapa hal yang tercecer seperti ketika penganut kepercayaan (bukan dalam 6 agama yang diakui pemerintah) berniat akan mendaftarkan listrik maupun PDAM. Tentu syarat identitas penduduk yang tercantum dalam KTP harus terpenuhi. Saat mereka bertolak untuk mengurusi segala administrasinya, para pegawai pemerintah merasa enggan dan susah menerima di saat kolom agama pada KTP mereka kosong. Terbayang kemudian prosedur yang sulit lantaran satu keluarga tersebut tidak ingin ‘diwakilkan’ imannya dengan nama 6 agama besar dalam selembar KTP demi kelancaran administrasi. Tidak ada yang salah disini. Si pemohon tidak salah karena secara pribadi apa yang beliau percayai memang turun temurun seperti itu. Petugas juga tidak salah karena pengaturan tentang kosongnya kolom agama (mungkin) memang belum ada penyelesaiannya. Yah, itu lah yang saya rasakan ketika menonton kisah tersebut dalam sebuah dokumenter pendek yang mengambil daerah di Jawa.
Sementara di luar sana, banyak polemik yang terjadi ketika sebuah wacana dilontarkan hakim MK terpilih tentang kesetujuannya untuk menghilangkan kolom agama di KTP. Reaksi masif datang menanggapi. Ada yang setuju namun tidak sedikit yang kontra. Ada yang mengatakan dengan pengosongan kolom agama, Indonesia perlahan menjadi negara yang tidak beragama. Ada yang mempermasalahkan jika kolom agama kosong, bagaimana mereka bisa mendoakan rakyat yang kecelakaan dan meninggal di jalan. Sampai ada yang kekeuhmengatakan jika tidak beragama maka orang tersebut adalah komunis. Well, Komunisme adalah ideologi politis. Agama sesuatu yang bersifat personal. Sampai sekarang saya tidak paham dengan konsep cocoklogi yang mengaitkan agama dan komunis. Seperti yang dikatakannya bahwa yang tidak beragama berarti komunis. Selanjutnya kenapa begitu kolom agama dikosongkan, kita langsung mempermasalahkan cara mendoakan ketika rakyat tersebut meninggal? Kenapa harus mati yang dijadikan acuan pembelaan terhadap kolom agama? Lalu ketika republik ini berdiri, para pendahulu kita tidak melulu mempermasalahkan agama namun lebih kepada bagaimana bisa merdeka dari penjajah. Sekarang sepertinya kita dijajah pemikiran atas nama agama di negeri sendiri. Jika perlu bukti, bisa dilihat kembali isi Sila pertama dari Pancasila. Apakah bersifat merangkum secara general atau superior akan satu agama / kepercayaan?
Apakah ini berarti pengkategorian sosial dalam hal agama merupakan cara yang tepat? Atau ini sebuah sistem pengaturan agar masyarakat lebih patuh terhadap kekuasaan yang lebih besar atas nama agama? Karena sekarang ini banyak orang beragama tapi tidak memiliki rasa empati terhadap manusia lainnya. Mereka berdoa, bersembahyang namun saling mencerca dan melukai satu sama lain atas nama agama. Saya kembali terbayang akan kata – kata dari Tenzin Gyatzo, Dalai Lama ke 14 yang meraih nobel perdamaian pada tahun 1989. Dia berkata, “My religion (agamaku) is very simple (sesuatu yang sederhana). My religion is Kindness (kebaikan) ”. Duh, apakah anda tidak merasa tertampar?

Pengkotakan Sosial yang ditampar Agama Baik


Masyarakat memerlukan agama / kepercayaan sebagai media untuk mendekatkan diri dengan hal yang bersifat religi. Bagi saya religi tersebut bukan semata mata membicarakan agama namun lebih kepada perasaan personal terhadap apa yang anda yakini. Ada beberapa sudut dalam diri manusia yang tidak akan selalu mampu dinalar dengan hitungan dan logika yang pasti. Suatu ruang yang diperlukan untuk hidup dan berfikir secara independen dan mengaitkan dirinya dengan keberadaan alam semesta yang luas ini. Sampai saat ini, agama dan kepercayaanlah yang mampu memberi bagian untuk itu. Contohlah ketika kita bingung harus bertindak seperti apa padahal segala cara sudah kita tempuh, alhasil kita akan berserah diri pada suatu kekuatan di luar diri dan memohon yang terbaik.

Oh ya, back to the topic, Agama yang awalnya sebagai sarana yang mendekatkan masyarakat dengan Tuhannya kemudian berubah menjadi sebuah pengkategorian sosial. Pergerakan yang besar dari masyarakat kemudian memunculkan sistem institusi di dalam agama.

Sistem institusi ini diperlukan untuk mewadahi secara professional ledakan umat terhadap agama yang mereka anut. Dilihat dari sisi tersebut, pemegang amanat institusi agama (salah satunya) adalah untuk melaksanakan tugas – tugas yang diwahyukan Tuhan terhadap masyarakat. Alasan lainnya adalah untuk menjaga kesucian ajaran agama agar tidak bergeser ataupun membelok seiring banyaknya masyarakat yang menganut dan pergerakan zaman yang terus terjadi.
Dengan adanya institusi, agama menjadi sesuatu hal pakem yang memiliki aturan terhadap ajarannya dan dapat disangsikan kepada penganutnya (jika penganutnya membelok atau tidak setuju terhadap agama tersebut). Sudah tentu semua akan kembali untuk menjaga kesucian ajaran agama seperti yang dijelaskan di atas. Namun yang membuat agama dapat bertahan dalam kurun waktu lama adalah menyatunya kebudayaan setempat terhadap agama / kepercayaan yang bersangkutan. Dengan mengadopsi kebudayaan masyarakat setempat, agama dapat bertahan sesuai dengan kondisi sosial di daerah tersebut. Seperti contohnya adalah agama Hindu di India dan Bali. Memiliki konsep yang mirip namun dalam pelaksanaannya berbeda. Terlebih dari alasan di atas, dengan institusi diharapkan fungsi religius dari agama bersangkutan dapat berjalan dengan baik. Layaknya (1) Fungsi pelayanan sabda tuhan ; mewartakan ajaran agama, (2) Fungsi penyucian ; penyebaran rahmat dari Tuhan, dan (3) Fungsi penggembalaan ; umat / masyarakat mendapatkan pimpinan / bimbingan yang terarah.
Masyarakat merupakan pergerakan individu yang komunal. Ini berarti merupakan sebuah pergerakan sosial. Apa saja yang berhubungan dengan sosial selalu menyangkut kepentingan banyak orang. Termasuk juga kepentingan – kepentingan kelompok berkuasa. Fenomena ini yang terjadi di Indonesia seperti saat Departemen Agama didirikan dan digunakan sebagai acuan dalam menentukan kepentingan masyarakat beragama. Campur tangan pemerintah terhadap keimanan seseorang ternyata tidak (selalu) membuat keadaan membaik. Masih saja ada individu / masyarakat yang mendewakan agamanya masing – masing dan tidak pelak menistakan agama lain. Bahkan menjadi sangat superior di antara agama lain dan bersikeras untuk menegakkan aturan demi kelancaran masyarakat yang menegakkan aturan tersebut. Mungkin ini bukan hanya tanggung jawab institusi semata. Bukan. Mungkin permasalahan ada pada perubahan pola pikir dan gaya hidup pada masyarakat. Iya, itu jika kita mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.
Fenomena lain seperti Kartu Tanda Penduduk yang memuat kolom agama sebagai identitas singkat terhadap individu yang bernaung di bawah negara Indonesia. Entah apa fungsinya disaat masyarakat yang memiliki agama yang tidak sesuai dengan 6 agama besar Indonesia tidak dapat mendapat akses listrik maupun air karena tidak bisa mengisi kolom agama yang mereka tidak anut. Indonesia secara geografis sangatlah luas dan itu berarti kepercayaan terhadap hal yang bersifat religi juga banyak dan beragam. Data Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 mengungkapkan terdapat 245 aliran kepercayaan yang terdaftar di Indonesia. Namun sayang, tidak semua itu diakui negara sebagai agama dan hanya dikategorikan kepercayaan. Sayang sekali jika pengkategorian sosial lewat KTP dan Departemen Agama hanya berlaku untuk 6 agama sesuai peraturan pemerintah. Beberapa hal yang tercecer seperti ketika penganut kepercayaan (bukan dalam 6 agama yang diakui pemerintah) berniat akan mendaftarkan listrik maupun PDAM. Tentu syarat identitas penduduk yang tercantum dalam KTP harus terpenuhi. Saat mereka bertolak untuk mengurusi segala administrasinya, para pegawai pemerintah merasa enggan dan susah menerima di saat kolom agama pada KTP mereka kosong. Terbayang kemudian prosedur yang sulit lantaran satu keluarga tersebut tidak ingin ‘diwakilkan’ imannya dengan nama 6 agama besar dalam selembar KTP demi kelancaran administrasi. Tidak ada yang salah disini. Si pemohon tidak salah karena secara pribadi apa yang beliau percayai memang turun temurun seperti itu. Petugas juga tidak salah karena pengaturan tentang kosongnya kolom agama (mungkin) memang belum ada penyelesaiannya. Yah, itu lah yang saya rasakan ketika menonton kisah tersebut dalam sebuah dokumenter pendek yang mengambil daerah di Jawa.
Sementara di luar sana, banyak polemik yang terjadi ketika sebuah wacana dilontarkan hakim MK terpilih tentang kesetujuannya untuk menghilangkan kolom agama di KTP. Reaksi masif datang menanggapi. Ada yang setuju namun tidak sedikit yang kontra. Ada yang mengatakan dengan pengosongan kolom agama, Indonesia perlahan menjadi negara yang tidak beragama. Ada yang mempermasalahkan jika kolom agama kosong, bagaimana mereka bisa mendoakan rakyat yang kecelakaan dan meninggal di jalan. Sampai ada yang kekeuhmengatakan jika tidak beragama maka orang tersebut adalah komunis. Well, Komunisme adalah ideologi politis. Agama sesuatu yang bersifat personal. Sampai sekarang saya tidak paham dengan konsep cocoklogi yang mengaitkan agama dan komunis. Seperti yang dikatakannya bahwa yang tidak beragama berarti komunis. Selanjutnya kenapa begitu kolom agama dikosongkan, kita langsung mempermasalahkan cara mendoakan ketika rakyat tersebut meninggal? Kenapa harus mati yang dijadikan acuan pembelaan terhadap kolom agama? Lalu ketika republik ini berdiri, para pendahulu kita tidak melulu mempermasalahkan agama namun lebih kepada bagaimana bisa merdeka dari penjajah. Sekarang sepertinya kita dijajah pemikiran atas nama agama di negeri sendiri. Jika perlu bukti, bisa dilihat kembali isi Sila pertama dari Pancasila. Apakah bersifat merangkum secara general atau superior akan satu agama / kepercayaan?
Apakah ini berarti pengkategorian sosial dalam hal agama merupakan cara yang tepat? Atau ini sebuah sistem pengaturan agar masyarakat lebih patuh terhadap kekuasaan yang lebih besar atas nama agama? Karena sekarang ini banyak orang beragama tapi tidak memiliki rasa empati terhadap manusia lainnya. Mereka berdoa, bersembahyang namun saling mencerca dan melukai satu sama lain atas nama agama. Saya kembali terbayang akan kata – kata dari Tenzin Gyatzo, Dalai Lama ke 14 yang meraih nobel perdamaian pada tahun 1989. Dia berkata, “My religion (agamaku) is very simple (sesuatu yang sederhana). My religion is Kindness (kebaikan) ”. Duh, apakah anda tidak merasa tertampar?

Agama HAM dan Krisis Toleransi dalam Masyarakat Sosial Media




2016. Masa ketika tulisan ini dibuat, penulis sedang berada di dalam suasana yang modern. Mulai dari penyampaian pesan yang sangat cepat, Batas dunia yang semakin tipis. Gadget canggih yang bertebaran namun tidak dibarengi dengan kesiapan mental yang cukup. Penulis sadar bahwa tidak ada yang salah dengan itu. Perubahan adalah hal yang selalu terjadi dan menjadi hakim atas semua kemungkinan kehidupan manusia di dunia. Apa yang ada dalam kepala ketika teringat masa dimana kehidupan begitu sederhana menjadi berbeda saat membuka mata dan melihat keadaan sekitar di jaman ini.
Smartphoneyang didaulat sebagai piranti canggih tidak serta merta dimiliki pengguna yang juga smart. Berbagai informasi dapat ditilik dan dinilai secara individu. Pergeseran mental, isu SARA, modifikasi sejarah merupakan sedikit hal dan pengaruh yang diterima oleh kita saat ini. Lewat sebuah piranti dengan besarnya yang tidak lebih dari 6 inch, masyarakat kita sudah belajar banyak. Masyarakat kita sudah lebih maju dalam memahami keadaan dunianya. Dibandingkan dulu, masyarakat kita menjadi lebih pintar namun keblinger. Sulit membedakan berita palsu, minim pemikiran terhadap isu tertentu dan terpengaruh pada sebatas judul berita online, Bergesernya empati atas nama kelompok hingga hilangnya kepercayaan pada sesuatu yang sebenarnya baik.
Sebuah contoh saya ambil ketika sebuah kasus mencuat yang melibatkan antara tenaga pendidik, murid dan orang tuanya. Tidak terima atas perlakuan guru yang mencubit anaknya ketika ribut di kelas, orang tua murid melaporkannya ke polisi. Atas nama HAM dan keadilan, berita ini kemudian menjadi konsumsi publik. Sebuah perenungan kemudian saya dapatkan ketika pikiran ini terlempar jauh dimasa pakaian wajib penulis masih berwarna merah putih. Sang guru didaulat menjadi orang tua kedua bagi anak didiknya. Kesalahan yang dilakukan tentu akan menerima ganjaran sepanjang hal tersebut tidak melewati batas. Jaman itu masyarakat masih sedikit yang mengenal mahluk yang bernama HAM namun entah kenapa karakter siswa lebih disiplin jika dibandingkan dengan hari ini. Hari ini para siswa bahkan sudah terlihat begitu berani dan percaya diri akan hidupnya. Ramai berseliweran di linimasa, foto kemesraan siswa SD, gambar siswa yang memberikan pose tidak baik pada gurunya namun gurunya terdiam ataupun umpatan – umpatan yang mengalir deras menanggapi sebuah isu yang terlontar dari pemilik media pengejar klik atas nama ekonomi. Apa yang dilakukan oleh gurunya mengetahui siswanya seperti itu? Mungkin akan terdiam, absen untuk mendidik mental karena takut dipolisikan oleh orang tua murid atas nama HAM. Para murid akan kembali pada aktivitas di depan layar smartphoneserta berselancar tanpa batas dalam dunia maya. Mengonsumsi tayangan televisi yang mengajarkan kebut-kebutan motor masa sekolah atau fase cinta – cintaan lewat sinema elektronik (sinetron) yang seharusnya cocok dikonsumsi oleh remaja umur ke atas dengan filter yang cukup dalam diri mereka. Masyarakat kita kemudian dikuasai oleh Agama HAM. Jika ada yang tidak sesuai (walapun sebenarnya bisa ditoleransi), keluarlah Tuhan HAM yang akan membela.
Kesempatan menjelajahi dunia maya menjadikan karakter masyarakat menjadi terlalu cepat dewasa dalam berfikir namun minim dalam mental. Lihatlah sebuah postingan dalam sosial media khusus foto dan video orang terkenal, temukanlah minimal satu yang apatis atau mungkin lebih dari satu? Jika beruntung, kita akan menemukan berbagai umpatan ‘sadis’ dalam berita yang memiliki headlinepanas terhadap isu yang ada. Namun ketika diusut oleh aparat atas laporan yang tidak menerima hal tersebut, para komentator beramai – ramai meminta maaf disetiap media linimasa mereka dan bahkan menghapus komentarnya secara membabi buta. Bak seorang manusia yang ditinju di wajah karena awalnya berkoar – koar tanpa makna di masyarakat. Meringis dan menangis bagai seorang pecundang.
Fenomena lain adalah cepatnya masyarakat kita disetir terhadap isu yang ada. Cukup mengikuti sebuah laman populer, anda berkomentar kemudian jadilah anda yang paling ahli dengan kritik destruktif yang sama sekali tidak memberi kontribusi positif. Berkoar – koar bicara terhadap isu yang sebenarnya sensitif dan memerlukan pemikiran dalam sebelum menyampaikan pendapat. Isu tentang agama (salah satunya) kemudian dibalut sedemikian rupa dan dipersembahkan pada khalayak ramai dalam sebuah judul bombastis. Lihat pada kolom komentar, penulis kadang lebih asyik menyaksikan perdebatan panas tanpa ujung dibandingkan isi beritanya sendiri yang melempem. Sedangkan di belakang meja redaksi, pemilik kantor berita tertawa terpingkal – pingkal melihat grafik klik berita yang tersebar yang naik secara drastis untuk memenuhi pundi - pundi perusahaan.
Hal yang membuat penulis terpingkal – pingkal justru datang dari sebuah aksi seorang terpelajar nan dewasa yang mempermasalahkan stiker pada aplikasi chatting. Alih alih stiker yang ada (belakangan diketahui bahwa stiker tersebut memuat hal yang cukup dewasa) membuat risih dirinya karena anaknya yang masih kecil bisa mengonsumsi stiker tersebut, Sang terpelajar membuat surat terbuka akan keberatan dirinya dan meminta agar stiker dan yang memiliki nilai sejenis ditarik. Namun penting untuk diketahui, ternyata aplikasi chatting bersangkutan menggunakan persayaratan email / surel untuk pengaktifannya. Dalam peraturan global, pembuatan surel (surat elektronik) minimal dilakukan oleh orang yang berumur 18 tahun. Disini siapa yang patut disalahkan? Perusahaan chatting atau sang terpelajar dewasa yang memperbolehkan anaknya yang jelas – jelas belum lulus SD menggunakan aplikasi chatting tersebut? Walaupun terpelajar, mungkin sebaiknya tradisi membaca ditingkatkan kembali.

Dalam 10 tahun, ingatan yang sangat cepat memvisualisakan kembali akan apa saja yang pernah dialami penulis di masa lalu. Guru sebagai pendidik. Orang tua ikut berkontribusi bahkan disaat sedikit waktu luang baginya. Para siswa menjadi hormat dan mengetahui apa yang salah dan benar. Tayangan televisi yang masih bisa difilter untuk penonton (tayangan untuk anak, tayangan untuk remaja dan tayangan untuk dewasa yang dibedakan dari waktu penayangannya). Obrolan keluarga / teman di mana saja tanpa ribet menyapa orang jauh lewat piranti canggih yang tidak bisa lepas dari tangan. Waktu untuk bersosialisasi yang kini terasa mahal dan sulit untuk direalisasikan. Tidak ada yang salah dengan hari ini. Tapi kita bisa memulai diri agar kedepannya kita tidak salah menanggapi perubahan ini.

Agama HAM dan Krisis Toleransi dalam Masyarakat Sosial Media




2016. Masa ketika tulisan ini dibuat, penulis sedang berada di dalam suasana yang modern. Mulai dari penyampaian pesan yang sangat cepat, Batas dunia yang semakin tipis. Gadget canggih yang bertebaran namun tidak dibarengi dengan kesiapan mental yang cukup. Penulis sadar bahwa tidak ada yang salah dengan itu. Perubahan adalah hal yang selalu terjadi dan menjadi hakim atas semua kemungkinan kehidupan manusia di dunia. Apa yang ada dalam kepala ketika teringat masa dimana kehidupan begitu sederhana menjadi berbeda saat membuka mata dan melihat keadaan sekitar di jaman ini.
Smartphoneyang didaulat sebagai piranti canggih tidak serta merta dimiliki pengguna yang juga smart. Berbagai informasi dapat ditilik dan dinilai secara individu. Pergeseran mental, isu SARA, modifikasi sejarah merupakan sedikit hal dan pengaruh yang diterima oleh kita saat ini. Lewat sebuah piranti dengan besarnya yang tidak lebih dari 6 inch, masyarakat kita sudah belajar banyak. Masyarakat kita sudah lebih maju dalam memahami keadaan dunianya. Dibandingkan dulu, masyarakat kita menjadi lebih pintar namun keblinger. Sulit membedakan berita palsu, minim pemikiran terhadap isu tertentu dan terpengaruh pada sebatas judul berita online, Bergesernya empati atas nama kelompok hingga hilangnya kepercayaan pada sesuatu yang sebenarnya baik.
Sebuah contoh saya ambil ketika sebuah kasus mencuat yang melibatkan antara tenaga pendidik, murid dan orang tuanya. Tidak terima atas perlakuan guru yang mencubit anaknya ketika ribut di kelas, orang tua murid melaporkannya ke polisi. Atas nama HAM dan keadilan, berita ini kemudian menjadi konsumsi publik. Sebuah perenungan kemudian saya dapatkan ketika pikiran ini terlempar jauh dimasa pakaian wajib penulis masih berwarna merah putih. Sang guru didaulat menjadi orang tua kedua bagi anak didiknya. Kesalahan yang dilakukan tentu akan menerima ganjaran sepanjang hal tersebut tidak melewati batas. Jaman itu masyarakat masih sedikit yang mengenal mahluk yang bernama HAM namun entah kenapa karakter siswa lebih disiplin jika dibandingkan dengan hari ini. Hari ini para siswa bahkan sudah terlihat begitu berani dan percaya diri akan hidupnya. Ramai berseliweran di linimasa, foto kemesraan siswa SD, gambar siswa yang memberikan pose tidak baik pada gurunya namun gurunya terdiam ataupun umpatan – umpatan yang mengalir deras menanggapi sebuah isu yang terlontar dari pemilik media pengejar klik atas nama ekonomi. Apa yang dilakukan oleh gurunya mengetahui siswanya seperti itu? Mungkin akan terdiam, absen untuk mendidik mental karena takut dipolisikan oleh orang tua murid atas nama HAM. Para murid akan kembali pada aktivitas di depan layar smartphoneserta berselancar tanpa batas dalam dunia maya. Mengonsumsi tayangan televisi yang mengajarkan kebut-kebutan motor masa sekolah atau fase cinta – cintaan lewat sinema elektronik (sinetron) yang seharusnya cocok dikonsumsi oleh remaja umur ke atas dengan filter yang cukup dalam diri mereka. Masyarakat kita kemudian dikuasai oleh Agama HAM. Jika ada yang tidak sesuai (walapun sebenarnya bisa ditoleransi), keluarlah Tuhan HAM yang akan membela.
Kesempatan menjelajahi dunia maya menjadikan karakter masyarakat menjadi terlalu cepat dewasa dalam berfikir namun minim dalam mental. Lihatlah sebuah postingan dalam sosial media khusus foto dan video orang terkenal, temukanlah minimal satu yang apatis atau mungkin lebih dari satu? Jika beruntung, kita akan menemukan berbagai umpatan ‘sadis’ dalam berita yang memiliki headlinepanas terhadap isu yang ada. Namun ketika diusut oleh aparat atas laporan yang tidak menerima hal tersebut, para komentator beramai – ramai meminta maaf disetiap media linimasa mereka dan bahkan menghapus komentarnya secara membabi buta. Bak seorang manusia yang ditinju di wajah karena awalnya berkoar – koar tanpa makna di masyarakat. Meringis dan menangis bagai seorang pecundang.
Fenomena lain adalah cepatnya masyarakat kita disetir terhadap isu yang ada. Cukup mengikuti sebuah laman populer, anda berkomentar kemudian jadilah anda yang paling ahli dengan kritik destruktif yang sama sekali tidak memberi kontribusi positif. Berkoar – koar bicara terhadap isu yang sebenarnya sensitif dan memerlukan pemikiran dalam sebelum menyampaikan pendapat. Isu tentang agama (salah satunya) kemudian dibalut sedemikian rupa dan dipersembahkan pada khalayak ramai dalam sebuah judul bombastis. Lihat pada kolom komentar, penulis kadang lebih asyik menyaksikan perdebatan panas tanpa ujung dibandingkan isi beritanya sendiri yang melempem. Sedangkan di belakang meja redaksi, pemilik kantor berita tertawa terpingkal – pingkal melihat grafik klik berita yang tersebar yang naik secara drastis untuk memenuhi pundi - pundi perusahaan.
Hal yang membuat penulis terpingkal – pingkal justru datang dari sebuah aksi seorang terpelajar nan dewasa yang mempermasalahkan stiker pada aplikasi chatting. Alih alih stiker yang ada (belakangan diketahui bahwa stiker tersebut memuat hal yang cukup dewasa) membuat risih dirinya karena anaknya yang masih kecil bisa mengonsumsi stiker tersebut, Sang terpelajar membuat surat terbuka akan keberatan dirinya dan meminta agar stiker dan yang memiliki nilai sejenis ditarik. Namun penting untuk diketahui, ternyata aplikasi chatting bersangkutan menggunakan persayaratan email / surel untuk pengaktifannya. Dalam peraturan global, pembuatan surel (surat elektronik) minimal dilakukan oleh orang yang berumur 18 tahun. Disini siapa yang patut disalahkan? Perusahaan chatting atau sang terpelajar dewasa yang memperbolehkan anaknya yang jelas – jelas belum lulus SD menggunakan aplikasi chatting tersebut? Walaupun terpelajar, mungkin sebaiknya tradisi membaca ditingkatkan kembali.

Dalam 10 tahun, ingatan yang sangat cepat memvisualisakan kembali akan apa saja yang pernah dialami penulis di masa lalu. Guru sebagai pendidik. Orang tua ikut berkontribusi bahkan disaat sedikit waktu luang baginya. Para siswa menjadi hormat dan mengetahui apa yang salah dan benar. Tayangan televisi yang masih bisa difilter untuk penonton (tayangan untuk anak, tayangan untuk remaja dan tayangan untuk dewasa yang dibedakan dari waktu penayangannya). Obrolan keluarga / teman di mana saja tanpa ribet menyapa orang jauh lewat piranti canggih yang tidak bisa lepas dari tangan. Waktu untuk bersosialisasi yang kini terasa mahal dan sulit untuk direalisasikan. Tidak ada yang salah dengan hari ini. Tapi kita bisa memulai diri agar kedepannya kita tidak salah menanggapi perubahan ini.