Tag Archives: calon arang

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #7

Singkat cerita, akhirnya Baradah sampai di Bali. Tempat Baradah berlabuh di Bali bernama Kapurancak. Dari Kapurancak, Baradah berjalan menuju arah timur. Tempat yang ditujunya adalah Silayukti.

Baradah pulang. Putrinya, Wedawati menyambut dengan sekantung rindu. Entah apa yang mereka lakukan untuk menghabiskan rindu mereka. Yang pasti keduanya merasa senang, sebab bertemu kembali dengan yang dikasihi.

Sementara itu, Raja Airlangga memerintahkan para punggawanya untuk membuka jalan. Tujuannya agar tercipta desa-desa, dan mengusir para penyamun yang mengganggu. Tidak lupa, ia memerintahkan untuk menanam pohon beringin dan pohon bodi. Kedua pohon itu ditanam berjajar-jajar.

Tampaknya Airlangga tidak lupa melakukan penghijauan di seputaran kerajaannya. Airlangga memang panutan. Itu bedanya pemimpin yang belajar sungguh-sungguh dengan pemimpin yang tidak pernah belajar. Airlangga belajar tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan otak, tapi juga hatinya. Hati inilah yang dalam teks-teks kadiatmikan disebut Hredaya.

Sekarang yang banyak adalah pemimpin yang belajar sekenanya untuk keperluan formalitas. Katanya, gelar-gelar mentereng itu dipakai untuk mendapatkan kekuatan. Kekuatan itu berupa pengakuan dan uang. Begitu biasanya, dan memang biasanya sudah begitu. Kita biasanya akan manggut-manggut dan menerima begitu saja. Hal-hal begitu sudah biasa kita temui, tapi kita selalu dibuatnya berpikir. Seolah-olah ada yang belum selesai dalam yang sudah selesai.

Keputusan-keputusan yang diambil oleh Airlangga, barangkali karena ia memiliki pembisik-pembisik yang benar-benar mumpuni. Kehadiran pembisik bagi seorang pemimpin sangat penting. Dia bisa menjadi otak bantuan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan. Itu mungkin sebabnya, Airlangga terlihat sangat bijaksana.

Karena Airlangga dianggap bijaksana, maka seluruh rakyat Nusantara sungguh-sungguh mengabdi padanya. Dalam teks Calon Arang, beberapa daerah disebutkan sebagai wilayah kekuasaan Airlangga, di antaranya: Sabrang, Malayu, Palembang, Jambi, Malaka, Singapura, Patani, Pahang, Siyam, Cempa, Cina, Koci, Keling, Tatar, Pego, Kedah, Kutawaringin, Kate, Bangka, Sunda, Madura, Kangayan, Makasar, Seran, Goran, Pandan, Peleke, Moloko, Bolo, Dompo, Bima, Timur, Sasak, Sambawa.

Semua wilayah itu menyerahkan pajak kepada raja. Dari daftar nama itu, saya tidak melihat nama Bali. Airlangga konon memang salah satu putra Bali. Dia adalah anak dari raja Udayana yang terkenal itu.

Nama Bali muncul dalam teks Calon Arang saat Airlangga diceritakan kebingungan untuk mengangkat dua orang anaknya sebagai raja. Ia hendak mengangkat seorang anak menjadi raja di Jawa, sedangkan yang satunya di Bali. Karena itu, diperintahkanlah punggawa istana untuk menghadap ke hadapan Baradah di Buh Citra.

Saya sama sekali tidak bisa mengerti, untuk apa Airlangga meminta pertimbangan kepada Baradah. Sementara di dalam kerajaan, Airlangga sudah memiliki pendeta yang tergolong sebagai Brahmana, Bhujangga dan Rsi. Ketiga golongan pendeta itu mestinya mampu memberikan pertimbangan yang bagus kepada rajanya agar Airlangga terlepas dari ikatan kebingungan. Apakah ada suatu maksud tertentu yang tidak dikatakan dalam teks? Tidak cukupkah tiga pembisik di lingkungan kekuasaan itu sehingga harus memohon pertimbangan kepada pendeta yang ada di luar lingkaran kepemerintahan?

Ken Kanuruhan adalah orang beruntung yang diutus oleh raja Airlangga untuk memohon arahan kepada Baradah. Arahan itu nantinya akan dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan. Kanuruhan segera berangkat dan menemui Baradah, Mpu yang telah mengalahkan Calon Arang. Mpu yang kemudian disebut-sebut namanya dalam lontar-lontar berbau mistis. Contohnya adalah lontar Kaputusan Mpu Baradah yang berarti ajaran-ajaran dari Mpu Baradah. Lontar ini membicarakan tentang cara-cara melihat diri sendiri. Melihat diri sendiri maksudnya, melihat dari bagian paling kasar sampai paling halus. Yang paling kasar dari diri disebut badan. Yang halus disebut ruh.

Tampaknya, keinginan Airlangga untuk menjadikan salah satu anaknya raja di Bali akan sia-sia. Sebab di Bali ada seorang Mpu yang tidak kalah bijaksananya dengan Baradah. Mpu itulah yang harus ditemui oleh Baradah kemudian.

“Aku akan pergi ke Bali,” begitu kata Baradah pada Kanuruhan. Kanuruhan disuruh pulang, sementara Baradah bersiap-siap menuju Bali. Setelah Baradah menemui putrinya, berangkatlah ia ke Bali. Tempat yang ditujunya adalah Sukti, tempat Mpu Kuturan. Sebelum berangkat, Baradah berpesan kepada putrinya, “kita akan moksa bersama-sama, setelah tugas ini berhasil ayah selesaikan. Sabarlah putriku.”

Dalam perjalanan itu, ada beberapa desa yang dilewati oleh Baradah. Beberapa nama desa itu yakni Watulambi, Sangkan, Banasara, Japana, Pandawan, Bubur Mirah, Campaluk, Kandikawari, Kuti, Koti.

Di Koti, Mpu Baradah bermalam. Esok paginya melanjutkan perjalanan sampai di Kapulungan, Makara Mungkur, Bayalangu, Ujungalang, Dawewihan, Pabayeman, Tirah, Wunut, Talepa, We Putih, Genggong, Gahan, Pajarakan, Lesan, Sekarawi, Gadi.

Di Gadi, Mpu Baradah berbelok ke arah utara melewati daerah Momorong, Ujung Widara, Waru-waru, Daleman, Lemah Mirah, Tarapas, Banyulangu, Gunung Patawuran, Sang Hyang Dwaralagudi, Pabukuran, Alang-alang Dawa, Patukangan, Turayan, Karasikan, Balawan, Hijin, Belaran, dan Andilan. Itulah daerah yang dilewati oleh Mpu Baradah, dan akhirnya sampai di Sagara Rupek.

Mpu Baradah harus menyeberang dari Sagara Rupek ke Bali. Masalahnya, saat itu tidak ada seorang pun yang bisa mengantarkan sebab disana mendadak sepi. Karena itu, Mpu Baradah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan menyeberang sendiri. Meski tidak ada perahu, bukan berarti proses penyeberangan tidak akan berhasil. Diambilnya daun Kalancang, diletakkan di atas air, lalu Baradah berdiri di atasnya. Penyeberangan dimulai.

Jangan bertanya bagaimana caranya Baradah menyeimbangkan diri di atas daun Kalancang. Jangan juga bertanya daun Kalancang yang bagaimana yang bisa tetap mengambang di atas air sementara di atasnya berdiri seorang manusia. Saya tidak tahu caranya. Tidak ada di dalam cerita disebutkan cara-cara teknis yang dilakukan oleh Baradah. Pokoknya, dengan bantuan daun Kalancang, lautan bisa diseberangi oleh Baradah. Daun Kalancang konon nama latinnya Artocarpus incisa.

Singkat cerita, akhirnya Baradah sampai di Bali. Tempat Baradah berlabuh di Bali bernama Kapurancak. Dari Kapurancak, Baradah berjalan menuju arah timur. Tempat yang ditujunya adalah Silayukti.

Tidak diceritakan tempat-tempat di Bali yang dilewati oleh Baradah. Di dalam cerita, pembuat cerita memotong penggambaran daerah-daerah itu. Entah apa sebabnya. Perjalanan dari Kapurancak menuju Silayukti, sangat menarik untuk dicari-cari. Barangkali kalau sudah menemukannya, kita bisa tahu peta Bali pada masa itu. Kita juga akan diberitahu, tempat-tempat yang menjadi petilasan Mpu Baradah di Bali. Masalahnya, adakah petunjuk yang bisa kita andalkan untuk pencarian ini? Mungkinkah tempat-tempat itu sudah menjadi Pura di Bali sebagaimana dilakukan belakangan?

Sesampainya di Asrama Silayukti, Baradah tidak langsung bertemu dengan Kuturan. Mpu Kuturan saat itu masih melakukan Yoga yang ketat. Yoga dalam konteks ini, tidak seperti Yoga yang sering kita lihat pada zaman kekinian. Yoga yang dilakukan Mpu Kuturan, pastilah dahsyat. Kita bisa melihat, berbagai sumber-sumber yang mengajarkan praktik Yoga. Sumber-sumber itu bisa disebut kuno. Contohnya: homa dhyatmika, swacanda marana, yoga nidra, dan lain sebagainya.

Kuturan tidak kunjung muncul dari tempatnya melakukan Yoga, maka Baradah menciptakan air sebatas leher Mpu Kuturan. Air ciptaan itu, tampaknya bukan persoalan bagi Mpu Kuturan. Ia tetap dengan teguh melakukan Yoga. Baradah segera menambahkan Semut Gatal pada air itu. Semua semut itu mengambang di atas air, dan bisa membuat tubuh gatal. Tetapi, Kuturan tetap tidak bergeming.

Air itu pelan-pelan surut dan mengering. Semut Gatal itu pun lenyap tidak bersisa. Tidak lama berselang, Mpu Kuturan keluar dari tempatnya beryoga. Baradah diterima dengan sangat baik, “Adikku Baradah, lama kita tidak berjumpa. Tentu ada tujuanmu datang kemari. Katakanlah.”

“Terimakasih kakakku Mpu Kuturan. Betul, aku memang hendak meminta keikhlasanmu. Ini tentang raja Jawa bernama Airlangga, bergelar Jatiningrat. Ada dua anaknya. Semoga berkenan agar diangkat menjadi Raja Bali salah satunya.”

“Tidak. Ya rikapan ana jageki makawaniha, kaprenah putu deninghulun, yeka jagadegaken mami ratw i bali [Nanti akan ada yang lain, dia masih merupakan cucuku, itulah yang akan aku jadikan raja di Bali],” kata Mpu Kuturan.

“Tapi seluruh kerajaan di Nusantara ini, patut menghaturkan upeti kepada Airlangga.”

“Apa? Aku bahkan tidak paham, mengapa seluruh kerajaan itu harus membayar upeti. Jika semua kerajaan itu membayar upeti, biarkan Bali tetap tidak! Kalau perlu, suka nghulun lurugen sabumeka [aku akan sangat senang menghancurkan seluruh bumi itu]. Kecuali, setelah aku mati nanti, terserah apakah ingin menyerang Bali.”

Mendengar ucapan Kuturan, Baradah mengerti kalau usahanya tidak akan berhasil. Ia lalu keluar dari asrama Silayukti itu. Baradah membuat gempa saat itu. Seluruh kerajaan Bali terkena gempa yang besar. Seluruh wilayah bergoncang. Hal itu membuat penduduk panik. Beberapa punggawa diperintahkan oleh raja Bali untuk menanyakan hal itu kepada Mpu Kuturan, apa gerangan yang sedang terjadi?

Baradah pergi dari Silayukti tanpa pamit. Segera, Kapurancak ditujunya. Ia ingin segera menyeberang. Tapi gagal. Daun Kalancang yang dikendarainya terus saja tenggelam. Berulang kali daun itu diletakkannya di atas air, lalu tenggelam berkali-kali. Ia seperti kehilangan kesaktian. Apa sebabnya?

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #6

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #5

sumber: wayang.wordpress.com

Sebatang pohon beringin besar hancur hanya karena ditatap oleh Calon Arang. Penghancuran beringin itu bertujuan untuk menunjukkan kesaktian pada besannya.

Bukannya takut, Baradah justru meminta Calon Arang untuk menunjukkan kesaktian yang lebih dahsyat. Tidak tanggung-tanggung, Calon Arang mengeluarkan api dari tubuhnya. Api berkobar keluar dari mata, hidung, telinga, dan mulut Calon Arang lalu membakar Mpu Baradah. Sedikit pun, Baradah tak bergeming. Tidak ada rasa panas dirasanya. Kini giliran Baradah membalas, ia memakai Hastacapala.

Apakah Hastacapala? Hastacapala menurut kamus, berarti perbuatan kasar dengan tangan. Singkatnya, mungkin sejenis tinjuan. Tapi saya masih ragu kalau Hastacapala hanya sekadar tinjuan semata. Sebab hanya dengan sekali serang saja, Hastacapala mampu mengalahkan Calon Arang. Entah tinjuan sedahsyat apa yang mampu mengalahkah Calon Arang hanya dengan sekali serang.

Calon Arang tak berkutik. Ia mati di tempatnya berdiri. Baradah sadar, ia belum menyampaikan ajaran kalepasan pada Calon Arang. Karena itu, Calon Arang dihidupkan kembali. Yang dihidupkan, bukannya senang malah marah pada Baradah. “Kenapa kau hidupkan aku kembali?”

Dari pertanyaan Calon Arang, kita tahu kalau orang mati belum tentu suka dihidupkan kembali. Mengapa? Barangkali karena Calon Arang tahu, hidup ini hanya untuk ‘menikmati ikatan’ suka dan duka. Mungkin saja dia bosan, karena seolah dipaksa menikmati ikatan hidup. Atau karena ia paham, jika hidup belum cukup hanya dengan menikmati suka-duka tapi juga sakit [lara] dan mati. Terus saja begitu.

Baradah menjawab, “Karena aku belum menyampaikan ajaran kalepasan padamu. Belum menunjukkan surgamu. Belum pula ku sampaikan cara menghilangkan segala penghalangmu. Yang terpenting kau belum paham tentang putusnya ajaran. ”

Dari jawaban Baradah, kita tahu bahwa ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin mati dengan cara yang benar. Menurut Baradah, setidaknya seseorang harus menguasai ajaran kalepasan. Ajaran kalepasan, berarti ajaran yang menunjukkan cara melepaskan ruh dari tubuh. Ajaran ini banyak ditulis pada lontar-lontar yang kini diwarisi di Bali. Sayangnya, ajaran kalepasan tidak boleh dipelajari tanpa pengawasan yang ketat dari guru. Ternyata hidup menikmati ikatan tidak mudah, belajar cara mati tidak gampang.

Melepaskan ruh dari tubuh mengisyaratkan bahwa tubuh adalah ikatan bagi ruh. Penjelasan mengenai hal ini, bisa dicari-cari pada teks-teks kalepasan. Terutama teks-teks yang menjelaskan perihal kasunyatan.

Salah satu penjelasannya, kenapa tubuh disebut sebagai ikatan terdapat di dalam teks Wrehaspati Tattwa. Tubuh disebut sebagai Yoni. Yoni adalah penyebab manusia terlahir. Konon, Yoni inilah sebagai hasil segala jenis perbuatan. Singkatnya, tubuh berasal dari segala jenis perilaku yang dilakukan manusia. Mulai dari makanan, minuman, pikiran, perkataan dan sebagainya. Karena melakukan berbagai macam hal mengakibatkan ikatan, maka ada juga ajaran yang mengajarkan agar manusia mendiamkan segala potensi geraknya. Tujuan pendiaman itu, adalah mempersedikit ikatan karma. Contoh usaha pemberhentian karma itu adalah tidak makan, tidak minum, tidak bergerak, tidak berucap, tidak berpikir.

Dalam teks Calon Arang, tidak dijelaskan secara spesifik apa saja ajaran yang dimaksud oleh Baradah. Ceritanya sangat singkat, tiba-tiba Calon Arang diceritakan telah berhasil menguasai seluk beluk kematian [tingkeng kapatin]. Setelah segala ajaran Baradah dipegang teguh, Calon Arang merasai dirinya telah dilukat. Dilukat berarti dibersihkan secara lahir dan batin. Tidak ada lagi kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Calon Arang yang telah dilukat itu, lalu mati. Dia mati setelah memberikan penghormatan di kaki Baradah. Jadi, Calon Arang mati bukan karena dibunuh oleh Baradah. Tapi atas dasar kesadarannya sendiri. Barangkali ilmu kalepasan itulah yang dipraktikkan oleh Calon Arang. Setelah lepas, Calon Arang masih menyisakan jasad. Jasadnya dibakar oleh Baradah. Dua murid kesayangan Calon Arang, Weksirsa dan Mahisawadana tidak dapat dilukat begitu saja oleh Baradah. Mereka harus dijadikan wiku.

Menarik juga struktur cerita Calon Arang sampai pada titik ini. Sebab Calon Arang yang dikatakan keji karena telah membunuh banyak orang, bisa dilukat oleh Baradah dengan ajarannya. Tapi justru muridnya, Weksirsa dan Mahisawadana tidak bisa dilukat dengan cara yang sama. Malah keduanya harus menjadi wiku. Menjadi wiku berarti menjadi pribadi yang telah berhasil melepaskan kulit-kulitnya. Apakah yang dimaksud kulit? Salah satunya adalah wangsa. Salah duanya adalah wasana [sisa-sisa karma]. Struktur cerita ini, sangat mirip dengan teks Aji Terus Tunjung. Pada teks Aji Terus Tunjung, pelakunya adalah Bhatari Durga yang diiringi oleh Ni Maya Kresna [disebut juga dengan Batur Kalika]. Bhatari Durga berhasil dilukat oleh Sahadewa, sedangkan Maya Kresna tidak. Ia mesti mencari Wiku Sangkan Rare agar bisa kembali menjadi bidadari. Apakah yang dimaksudkan oleh kedua cerita itu? Apakah agar bisa dilukat, orang mesti menjadi wiku atau menjadi sekelas wiku?

Saya belum tahu jawabannya sekarang. Tapi saya yakin, ada sesuatu yang disembunyikan secara sangat rahasia lewat kedua cerita tadi. Karena begitulah tugas cerita, ia menyembunyikan yang ada. Hanya dengan membaca dan mencari rujukan lain segala yang tersembunyi itu bisa diungkap. Sayangnya, setelah rahasia-rahasia itu diungkap, tidak kepada sembarang orang hasil pengungkapan boleh diberitahukan. Alasannya barangkali agar rahasia tetap menjadi hal yang menarik untuk dicari-cari, digali-gali, dipaham-pahami. Dengan begitu, cerita tidak berhenti pada satu otak.

Cerita berlanjut, Bahula lalu dipanggil oleh Baradah dan diberitahu tentang kematian mertuanya. Bahula diberi tugas menyampaikan kematian Calon Arang dan pertobatan kedua murid Calon Arang kepada Raja Airlangga. Pertobatan itu dalam teks diistilahkan sebagai anyurud ayu. Istilah itu jika diterjemahkan, menjadi ‘memohon anugerah’ meski tidak benar-benar tepat. Kata Anyurud sebenarnya kata kerja yang berkata dasar surud.

Di Bali, kata ini lebih sering digunakan dengan pola surudan [sesajian yang telah dipersembahkan]. Karenanya, apapun yang dipersembahkan, itulah yang disurud [ditunas, dimohon kembali]. Maka anyurud ayu bisa berkonotasi sisa-sisa persembahan kebaikan [ayu] yang dimohonkan kembali [disurud]. Di dalam kamus, anyurud ayu berarti memohon anugerah agar disucikan menjadi pendeta.

Kenapa bukan Baradah yang menyampaikan berita itu langsung kepada Raja? Karena Baradah masih disibukkan dengan segala jenis upacara pembersihan di tempat tinggal Calon Arang. Terutama sekali terhadap Banaspati milik Calon Arang akan dilakukan upacara pembersihan. Banaspati itu nantinya agar dipuja oleh seluruh orang yang ada di Jirah.

Saya tidak tahu pasti apa yang dimaksud dengan Banaspati milik Calon Arang. Nama Banaspati pernah saya baca, tapi tidak berhubungan dengan Calon Arang. Nama itu ada di dalam teks Kanda Pat. Nama Banaspati dalam teks Kanda Pat bukanlah sebentuk patung, peliharaan, atau tempat, tapi nama salah satu saudara yang dilahirkan bersama dengan manusia. Jadi saya belum menemukan satu petunjuk apapun mengenai Banaspati yang dimaksud dalam teks Calon Arang ini. Yang lebih menarik lagi, Banaspati dalam teks Calon Arang konon akan dipuja oleh orang-orang di Girah setelah disucikan oleh Baradah.

Baradah melakukan penyucian itu, tidak sendirian tapi dibantu oleh Kanuruhan. Segala jenis biaya yang ditimbulkan dari usaha upacara penyucian itu, ditanggung oleh raja. Semuanya. Setelah berhasil disucikan, tempat itu bernama Rabut Girah. Baradah diiringi Kanuruhan dengan menaiki kuda merah lalu kembali ke kerajaan. Mereka disambut dengan sangat baik.

Raja Airlangga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia memohon kepada Baradah agar diajarkan seluk beluk ajaran kalepasan. Tidak mudah ajaran itu bisa didapat, ada syarat yang harus dipenuhi oleh sang Raja. Syaratnya terdiri dari sikap dan perlengkapan berguru. Ada beberapa syarat yang disebutkan dalam teks secara mendetail. Karena sangat panjang prosesi dan syarat itu, sebaiknya kita bicarakan nanti.

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap

Ada dua sumber teks yang bisa dibaca untuk mengetahui cerita Calon Arang. Sumber pertama adalah prosa, sumber kedua berupa geguritan (puisi).

Keduanya bisa dibaca sebagai hasil study dari I Made Suastika yang diterbitkan oleh Duta Wacana University Press pada tahun 1997. Dalam tulisan ini, yang digunakan sebagai sumber bacaan adalah teks Calon Arang Prosa. Begini isinya.

Mpu Baradah berasrama di Lemah Tulis. Konon dia adalah Mpu yang sangat sakti dan telah berhasil merasakan rasa Dharma. Entah bagaimana rasa Dharma itu, kita tidak tahu. Barangkali rasanya lebih nikmat dari ayam betutu. Saya curiga, yang dimaksud Dharma dalam teks Calonarang bukanlah ‘kebaikan’, bukan pula ‘kewajiban’ sebagaimana kata itu diterjemahkan kini. Lalu apa? Mari kita baca pelan-pelan.

Dharma konon tidak pernah mati. Contohnya dalam cerita setelah perang Bharata, hanya Dharma Wangsa yang berhasil mencapai surga dengan tubuh kasarnya. Artinya, Dharma itu tidak mati, dia abadi. Dharma tidak mati, karena Dharma selalu menang. Mati dalam bahasa Jawa Kuno adalah M?rta. Yang tidak mati disebut Am?rta. Am?rta adalah salah satu jenis air suci (tirtha) yang diperebutkan oleh Raksasa dan Dewa karena bisa membuat abadi. Dalam teks-teks kuna, Am?rta sering dianalogikan seperti air yang turun dari atas. Air itu turun setelah seseorang mempraktikkan Yoga Dhyatmika.

Ada banyak teks yang bisa dibaca untuk mendapatkan penjelasan tentang Yoga Dhyatmika ini. Semua teks-teks itu bertebaran seperti bunga-bunga jepun yang berserakan. Hanya pemungut yang sabar bisa mendapatkan jepun spesial. Contoh spesialnya ajaran dalam teks-teks itu adalah perihal penjelasan tentang Amerta. Barangkali, karena telah berhasil mendapatkan sari-sari ajaran Yoga dan Amerta itulah, Mpu Baradah disebut telah merasakan rasa Dharma. Dharma dalam konteks ini adalah Amerta. Rasa Dharma berarti rasa Amerta. Merasakan Amerta berarti merasakan sari-sari Yoga.

Spesialnya Mpu Baradah tidak hanya sampai disana. Menurut ceritanya, Mpu Baradah juga menguasai cara-cara untuk keluar-masuk dunia (pasuk w?tu bhuwanatah). Apa maksudnya? Ada dua Bhuwana (baca: dunia) yang dikenal secara kolektif dalam tradisi Bali. Dua dunia itu adalah dunia kecil dan dunia besar. Dunia besar adalah semesta, dunia kecil adalah tubuh. Dari dan ke dua dunia itulah Mpu Baradah keluar masuk. Bagaimana caranya untuk keluar masuk ke kedua dunia itu? Dimana gerbang tempat keluar masuknya? Kita belum tahu jawabannya, karena belum dijelaskan oleh teks Calon Arang. Mari kita bersabar dulu, siapa tahu pada bagian-bagian tertentu, ada petunjuk yang bisa kita manfaatkan.

Putri satu-satunya Mpu Baradah bernama Wedawati. Wati berarti mahir, terampil, mampu. Wedawati berarti ia yang mahir dalam Weda. Sebagaimana kebanyakan cerita, Wedawati konon sangat cantik. Sayangnya, Wedawati harus menerima kenyataan pilu, ibunya meninggal karena sakit. Sakit yang diderita oleh ibunya tidak dijelaskan oleh pengarang Calon Arang. Wedawati sangat sedih, dia memeluk tubuh ibunya. Tubuh itu juga yang diupacarai dan dibakar di S?ma. S?ma berarti kuburan. Singkat cerita, semua upacara pembakaran selesai. Entah apa alasannya, Mpu Baradah yang kehilangan istri, menikah lagi. Dari perkawinan itu, lahirlah satu orang anak laki-laki. Jadi, Wedawati punya adik tiri laki-laki.

Suatu hari, konon Mpu Baradah berada di pertapaan bernama Wisyamuka. Di sana Mpu Baradah mengadakan ritual yadnya. Tidak jelas yadnya jenis apa yang dilakukan seorang Mpu sekaliber itu di pertapaannya. Tapi menurut pencerita Calon Arang, di sanalah Mpu Baradah dilayani oleh para muridnya. Di Wisyamuka itu pula, hubungan guru-murid benar-benar terjadi. Sebab di tempat itu segala ajaran diberikan oleh Mpu Baradah, diterima oleh para murid. Memberi dan menerima ajaran adalah ciri hubungan guru-murid. Apa saja ajaran Mpu Baradah yang terkenal sakti itu? Salah satu kesaktiannya yang terkenal adalah bisa menghidupkan orang mati.

Di dalam teks Calon Arang, adegan menghidupkan orang mati ditunjukkan pada saat Mpu Baradah akan bertemu dengan Calon Arang. Manusia yang sudah mati bisa dihidupkan oleh Mpu Baradah dengan syarat tubuh orang itu masih utuh. Tentang adegan ini, kita lanjutkan nanti.

Sekarang kita lanjutkan lagi pembacaan teks Calon Arang. Suatu ketika, dengan perasaan yang remuk redam, Wedawati pergi ke kuburan. Ia dihina oleh adik tirinya. Entah apa yang sudah dikatakan oleh anak laki-laki itu, kita tidak diberitahu oleh teks. Kita boleh menduga-duga, ucapan apa yang bisa menyakiti hati Wedawati. Tapi sebagai pembaca, kita juga harus sabar menunggu jawaban yang mungkin diselipkan di suatu tempat di pusaran teks Calon Arang. Untuk saat ini, kita lihat saja dulu, apa yang dilakukan seorang Wedawati di kuburan?

Wedawati sampai di bawah pohon beringin yang rindang. Batangnya sangat besar dan terlihat menakutkan. Di bawah pohon beringin itu, Wedawati melihat ada empat mayat yang tergeletak. Konon keempatnya mati karena terkena t?luh. Dalam banyak teks yang diwarisi di Bali kini, kata t?luh biasanya bersanding dengan kata desti dan t?rangjana. Ketiganya berkonotasi negatif karena berkenaan dengan ilmu menyakiti orang. Tidak hanya sekadar menyakiti, dalam cerita Calon Arang konon t?luh bisa digunakan untuk membunuh orang.

Di samping salah satu mayat yang diceritakan tadi, seorang bayi terlihat masih menyusu pada mayat seorang wanita. Wanita itu adalah salah satu korban t?luh. Keadannya sudah sangat buruk, mayat itu dikerubungi semut. Wedawati dengan perasaan sedih segera pergi dari tempat itu. Bayi tadi mungkin dibiarkannya di sana. Saya tidak tahu, apa yang terjadi kemudian pada bayi tadi. Juga saya tidak paham, mengapa dalam cerita, Wedawati tidak menolong bayi itu.

Wedawati menuju tempat jasad ibunya lenyap dibasmi api. Dekat tempat itu, ia duduk di bawah pohon Kepuh sambil memanggil-manggil ibunya, “Ibu, jemputlah aku sekarang. Tidak ada lagi yang mencintaiku sepertimu Ibu.”

Sampai di sana, saya sama sekali belum menemukan sebuah nama yang menunjukkan siapa Ibu kandung Wedawati. Tidak juga saya berhasil membaca satu petunjuk apapun tentang nama Ibu dan adik tirinya. Tampaknya nama-nama itu memang tidak disebutkan sepanjang cerita Calon Arang. Kenapa? Saya belum tahu kenapa. Tapi saya meyakini, nama-nama itu penting untuk diketahui, agar kita tahu peta cerita Calon Arang secara lebih jelas. Barangkali di antara nama-nama itu, ada satu nama yang kita kenal dengan baik.

Sementara Wedawati berada di kuburan, Mpu Baradah pulang ke Lemah Tulis setelah menyelesaikan yadnya di Wisyamuka. Di rumah, Wedawati tidak dilihatnya. Istrinya menceritakan apa yang sudah terjadi, sampai tragedi menghilangnya Wedawati. Dengan sigap, Mpu Baradah pergi mencari Wedawati.

Berkat bantuan seorang pengembala, Mpu Baradah tahu kalau anak perempuan satu-satunya sedang berada di kuburan. Kesanalah Mpu Baradah menuju. Saat bertemu, Mpu Baradah meminta Wedawati untuk pulang ke Lemah Tulis.

Anakku, pulanglah. Untuk apa kau tangisi lagi kepergian ibumu? Sebab memang segala yang hidup, akan mati nanti. Pulanglah sayang.”

Biar aku disini Ayah. Di bawah pohon Kepuh ini, aku ingin diam. Aku ingin bertemu ibu,” kata Wedawati.

Mari Nak, dengarkan ucapan ayahmu ini. Pulanglah, pulang. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada pulang.”

Wedawati mau pulang ke Lemah Tulis. Di sana ia mendapat banyak ajaran kebenaran dari sang Ayah yang sekaligus gurunya. Disinilah pentingnya, kita tahu kemana aliran cerita kehidupan Wedawati mengalir dan bermuara. Sebab Wedawati adalah penerima ajaran Mpu Baradah yang bisa kita lacak dalam teks Calon Arang. Mengetahui kemana Wedawati mengalirkan dirinya, berarti mengetahui ke mana ajaran Mpu Baradah mengalir selanjutnya. Mengetahui aliran ini penting, agar kita tidak kehilangan jejak ajaran. Jejak ajaran itu selalu ada, sayangnya jejak itu seperti jejak ikan dalam air.

Mpu Baradah kembali menggelar yadnya di Wisyamuka. Di sana Mpu Baradah mengajarkan tentang Dharma dan Putusing Angaji. Ajaran Dharma dalam hal ini bisa ditafsir sebagai ajaran kebenaran dan sekaligus ajaran kehidupan. Ajaran tentang Putusing Angaji barangkali tidak jauh-jauh dari kata putus. Putus dalam hal ini berarti sebagaimana dalam bahasa Indonesia, atau p?gat dalam bahasa Bali. Angaji bisa diterjemahkan belajar. Putusing Angaji bisa berarti selesainya tahapan belajar.

Putusing Angaji juga bisa diterjemahkan dengan cara lain semisal “putus dalam belajar”. Pelajaran apa yang mesti putus atau p?gat? Dalam konteks ini barangkali yang dimaksud adalah pelajaran tentang Dharma. Dharma yang konon abadi itu, bukan berarti tidak bisa diakhiri. Dharma dalam pengertiannya sebagai cara, bisa diakhiri: Dharma P?gat, Dharma Putus!

Dharma Putus adalah salah satu teks kakawin yang isinya tidak jauh-jauh dari Kasunyatan. Di dalamnya disajikan cara untuk mengadakan Sunya. Tentang cara mengadakan Sunya ini, tidak akan kita bahas sekarang.

Jadi, siapa sesungguhnya Mpu Baradah yang dimaksud oleh cerita Calon Arang? Baradah adalah Ayah Wedawati. Dia juga seorang guru. Sebagai ayah, ia seperti langit yang menaungi. Sebagai guru, ia seperti bumi yang menjaga. Menjadi Ayah dan menjadi guru, pastilah sama susahnya.

Sampai di sini, kita menemukan sesuatu yang jarang dipikirkan orang saat mendengar kata Calon Arang. Sesuatu itu adalah Mpu Baradah dan Wedawati. Padahal dalam teks yang dibaca sebagai sumber tulisan ini menyebutkan: Iti katattwanira sira Sri Mpu Baradah (ini cerita Mpu Baradah). Artinya, cerita ini adalah cerita Mpu Baradah. Yang kita ingat adalah Calon Arang. Apalagi yang kita lupakan dari cerita ini? Kita cari tahu lagi nanti.

The post Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap appeared first on BaleBengong.