Tag Archives: Buleleng

PLTU Batubara yang Membuat Ikan kian Langka

Deburan ombak mengisi keheningan malam di Celukan Bawang.

Satu per satu sampan dengan nyala lampu menepi. Mereka disambut beberapa rekannya yang kemudian membantu mendorong sampan hingga sampai ke atas pasir.

“Zonk… malam ini zonk.” Kalimat itu keluar dari nelayan yang selepas magrib telah mengisi pantai di Bali bagian utara itu.

Kalimat kekecewaan akibat tidak ada ikan bisa dijala. Tak ada rezeki untuk dibawa pulang setelah seharian tidak melaut akibat cuaca yang tidak bersahabat.

Malam semakin larut. Cahaya benderang di pantai pun perlahan padam. Menyisakan benderang pembangkit listrik yang masih sibuk memindahkan batubara dari kapal tongkang ke dalamnya.

Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang terus memproduksi pundi-pundi rupiah, nelayan malam itu harus kembali pulang tanpa ikan yang bisa dijual.

Nelayan-nelayan ini seolah sedang terjepit di antara cuaca ekstrem yang membatasi ruang gerak mereka melaut dan ikan-ikan yang seolah enggan mampir ke pinggir semenjak keberadaan PLTU.

Sebuah tanda tiba-tiba muncul dari dua buah sampan yang beriringan ke timur. Keduanya menjauhi PLTU dan pantai tempat nelayan Celukan Bawang biasa menambatkan perahu. Tanda itu membuat sekelompok nelayan lain yang sedari tadi menunggu berlarian menuju sampan yang bergerak perlahan semakin ke timur. Mencari posisi strategis untuk memojokkan kerumunan ikan. Lalu mereka menariknya.

Aekitar sepuluh laki-laki masuk ke dalam air. Menerobos ombak yang malam itu cukup tinggi. Mereka mengerahkan tenaganya untuk menarik jala.

Jala terus ditarik di tengah gulungan ombak. Sampan yang sebelumnya menebar jalan perlahan menepi. Mematikan lampu dan ditarik ke pantai. Sementara sampan lain masih terang dengan cahaya lampu dari mesin diselnya. Berusaha menjaga keseimbangan agar tetap bisa mengarahkan ikan tidak keluar dari jala yang sudah ditarik.

Jala semakin menepi dan dibawa ke pantai. Sebuah blek (ember cat 16 kg) datang menghampiri. Ember itu menjadi alat ukur berapa jumlah ikan yang bisa mereka tangkap malam itu.

Tak ada yang tahu seberapa banyak dan apa isi jala. Ikan-ikan kecil yang berkilau terkena cahaya lampu di permukaan bisa jadi tidak sebanyak ketika mereka berenang bergerombol mendatangi dan mengikuti sumber cahaya. Susahnya jala ditarik bisa jadi akibat arus gelombang. Bukan karena penuh oleh ikan yang berhasil dijala.

Dengan harap-harap cemas sekelompok nelayan tersebut membuka jala. Gemerlap ikan terlihat memantulkan cahaya senter salah seorang nelayan. Tampak selah polo, cotek saling berhimpitan di antara lele pantai lebih mendominasi karena ukuran mereka yang besar.

“Ikan jelek semua..” Salah seorang nelayan yang telah basah kuyup oleh air laut berteriak. Kecewa.

Kekecewaan itu timbul setelah melihat jumlah ikan masuk ke dalam jala tidak seberapa. Nantinya ikan tersebut harus dibagi ke semua yang ikut menangkap. Kekecewaan yang timbul karena sedari pagi mereka belum berani melaut akibat cuaca yang sedang tidak bersahabat.

Ikan-ikan dari jala dipindah kedalam blek. Tidak penuh. Ikan yang oleh nelayan disebut lele pantai (lele laut) disingkirkan. “Hati-hati. Sengatannya bisa bikin pingsan,” kata salah seoarang nelayan mengingatkan rekannya.

Lele pantai nantinya dibuang. Selain tidak laku dijual juga berbahaya. Bisa menyengat pengunjung yang melewati senja dengan mandi di pantai Celukan Bawang.

Hanya selah polo dan cotek yang dibiarkan dalam blek. Salah seorang pemuda yang ikut menarik jala mencoba mengaduk-aduk blek. Mendapati beberapa ekor cumi dalam timbunan ikan. Lumayan mengobati rasa kecewa dan berhasil membuatnya sedikit tersenyum.

“Udah. Bagi aja.” Ivan, nelayan yang tadi menebar jala berkata.

“Tidak. Dijual saja untuk beli rokok,” rekannya mengusulkan.

“Bagikan saja,” Ivan menjawab usulan rekannya.

Jumlah tangkapan yang hanya satu blek serta jenis ikan yang bercampur membuat harganya jatuh dan tidak seberapa. Sementara jumlah anggota yang ngoncor cukup banyak. Jika dijual, uang yang dibagi pun tidak akan seberapa. Jadi menurut Ivan lebih baik dibagi ikan saja.

“Ini tidak ada hasil namanya. Kalau orang sini bilangnya aebean, artinya hanya cukup untuk mebe (lauk),” rekan Ivan yang malam itu ikut ngoncor menjawab ketika disinggung terkait tangkapan mereka malam itu.

“Dahulu sebelum ada ini (PLTU) bisa mencari ikan sampai ke sana (area PLTU).” Ivan menceritakan pengalamannya, asap rokok keluar dari bibirnya. Tatapannya jauh ke arah gemerlap PLTU yang kini berdiri, memaksa menjadi tetangganya.

Lelaki yang sejak kecil telah menggantungkan hidup dari hasil laut ini sangat merasakan dampak keberadaan PLTU. Ivan mengatakan kini dia dan rekan-rekan nelayannya harus berlayar lebih jauh untuk mendapatkan ikan. Kadang-kadang ada ikan mau ke pinggir, tetapi itu sangat jarang terjadi. Tidak sebanyak dahulu. Hanya sewaktu-waktu ada ikan yang mau kepinggir.

“Tidak seperti dulu, jika dulu sekalinya ikan ke pinggir bisa sampai harus dikeringkan,” lanjut Ivan.

Ikan-ikan kecil seperti selah polo, selah gerang, cotek dan bandrangan memang akrab dengan nelayan Celukan Bawang. Ikan-ikan yang ditangkap dengan cara ngoncor begitu melimpah. Bahkan para nelayan pernah merasakan hasil tangkapan hingga memenuhi tiga mobil pikap pengangkut ikan.

Ivan pernah harus mengeringkan ikan kecil hasil tangkapannya karena melebihi kebutuhan pasar.

Namun, sayangnya, jangankan kembali ke masa-masa ketika hasil tangkapan begitu melimpah hingga sampai harus dikeringkan, bisa mendapat beberapa blek ikan selah polo akan sangat berarti bagi nelayan Celukan Bawang. Harga ikan selah polo yang bisa mencapai Rp 700.000 per blek tentu sangat berarti bagi para nelayan. Terutama ketika mereka tidak bisa melaut lebih jauh akibat cuaca tidak bersahabat.

Sayang melimpahnya hasil laut bagi warga Celukan Bawang kini tinggal nostalgia romantis. Ikan-ikan kecil yang biasanya bisa didapatkan dengan mudah seolah melintas pun enggan.

Ivan dan rekan-rekan satu kelompoknya melangkah menyusuri pantai yang gelap. Membawa satu blek campuran ikan selah polo dan ikan cotek yang berhasil dijala. Kelompok mereka satu-satunya kelompok yang cukup sabar dan beruntung menemukan kerumunan ikan kecil. Nelayan lain telah pergi meninggalkan pantai Celukan Bawang. Pulang dengan kenyataan tak ada ikan bisa dioncor dan harapan semoga cuaca besok memungkinkan untuk melaut lebih jauh.


Matahari bersinar cukup terik walau hari belum berada di tengah. Angin bertiup kencang. Perahu-perahu tertambat dipantai. Hanya beberapa perahu tampak kecil di lautan. Kelabu muram.

Baidi sedang duduk di teras rumah. Dua ekor burung di sangkar masing-masing menggantung di atas teras.

“Cuaca masih ekstrem. Belum berani untuk melaut jauh ke tengah,” kata Baidi ketika ditanya apakah dia melaut dini hari tadi. “Hanya di pinggir saja mencari tongkol. Itu pun hanya dapat beberapa ekor,” lanjut ketua kelompok nelayan Bakti Kosgoro itu.

Lebih lanjut dia menceritakan. Ketika cuaca buruk seperti saat ini, nelayan tidak berani melaut terlalu jauh ke tengah. Kalaupun melaut paling hanya mencari ikan tongkol di pinggir. Keselamatan menjadi alasan utama nelayan. Gelombang dan angin kencang bisa saja menghantam mereka ketika memaksakan melaut lebih dalam.

Pada situasi seperti ini selain mencari tongkol yang juga tidak seberapa jumlahnya, ngoncor menjadi pilihan. Cara ini secara turun temurun dilakukan nelayan untuk bisa tetap mendapatkan ikan-ikan kecil yang datang ke pinggir perairan Celukan Bawang.

Ikan-ikan seperti selah polo, selah gerang, ikan cotek dan bandrangan banyak muncul di wilayah perairan Celukan Bawang. Mereka akan muncul bergiliran. Banyak dan tidak pernah kosong,
“Sekarang ikan-ikan itu naiknya di Sanggalangit. Kalau dulu-dulu ikan-ikan itu biasa naik di sini.” Baidi menceritakan susahnya menangkap ikan-ikan kecil sasaran nelayan ngoncor.

Ngoncor merupakan cara menangkap ikan dengan sistem berkelompok. Satu kelompok sekitar sepuluh orang. Satu-dua sampan akan berangkat menggunkan penerangan dari mesin disel. Mereka akan melihat apakah ada ikan kecil mengerubungi penerangan yang digantung di ujung sampan. Sampan akan berputar sepanjang pesisir. Mencari di mana gerombolan ikan berada. Berlayar perlahan berputar-putar dengan mata terus memperhatikan permukaan air laut yang diterangi lampu.

“Dulu yang ngoncor pakai petromaks. Namun, sejak sekitar tahun 2013 satu dua kapal mencoba pakai lampu dengan disel karena minyak tanah susah dan mahal. Sekarang semua sampan pakai lampu dengan disel. Selain untuk ngoncor juga pergi ke tengah,” kata Baidi menerangkan sumber cahaya yang digunakan dalam ngoncor.

Setelah sampan pengoncor menemukan ikan, baru kemudian jala ditebar. Anggota kelompok yang lain akan bersiap menarik dari bibir pantai. Sementara jala ditarik dari bibir pantai, sampan bergerak perlahan. Seolah menggiring ikan untuk terus mengikuti lampu dan masuk ke dalam jala.

Jala terus ditarik hingga akhirnya sampai di pantai. Butuh banyak orang dan tenaga besar untuk menarik jala di tengah gulungan ombak besar.

Ikan yang berhasil terperangkap di jala kemudian dibagi. Setengah untuk pengoncor, sampan dengan penerangan bergerilya mencari ikan. Sebagian lagi dibagi oleh masing-masing orang yang ikut menarik jala.

Sayangnya keberadaan PLTU Batubara yang berada di area tangkapan nelayan mengurangi jumlah ikan yang bisa ditangkap dari mengoncor. Selain karena garis pantai yang mengecil akibat keberadaan bangunan dan dermaga kapal tongkang PLTU, titik lokasi berdirinya PLTU merupakan tempat di mana ikan-ikan kecil biasanya berada. Semenjak keberadaan PLTU, otomatis jumlah ikan tersebut berangsur-angsur berkurang.

“Malam Jumat kemarin masih dapat 4 blek,” kata Baidi. “Tapi dua malam kemarin tidak ada ikan yang datang,” lanjutnya.

Selah gerang yang malam Jumat kemarin masih bisa ditangkap, dua malam setelahnya praktis lenyap. Hanya satu kelompok pengoncor berhasil menjala. Itupun hanya satu blek yang bercampur dengan lele laut. Jumlah yang relatif sedikit untuk dijual kemudian dibagi oleh anggota kelompok pengoncor.

Ketika kapal-kapal nelayan Celukan Bawang tertahan di pantai akibat cuaca tidak bersahabat, kapal tongkang memuat batubara terus keluar masuk perairan wilayah tangkapan mereka. Kapal-kapal itu memasok bahan bakar demi keberlangsungan PLTU Batubara yang beberapa tahun terakhir menjadi tetangga tak diundang.

Debu batubara yang tertiup angin jatuh ke perairan ketika dipindahkan dari tongkang ke dalam PLTU. Sisa-sisa itu kemudian menghitamkan air. Ketika arus sedang bergerak ke arah timur, secara otomatis dia memasuki area pesisir timur wilayah tangkapan nelayan.

Nelayan menduga itulah penyebab ikan-ikan kecil seperti selah polo dan selah gerang tidak lagi melimpah di pesisir wilayah tangkapan mereka.

Ikan-ikan yang sebelum keberadaan PLTU Celukan Bawang begitu mudah didapat dengan ngoncor kini seolah menjadi ikan langka. Sering kali nelayan hanya berputar-putar dengan lampu tanpa berhasil menemukan ikan yang mereka sasar. Ikan kecil yang dahulu menjadi andalan nelayan Celukan Bawang ketika cuaca ekstrim yang membuat mereka tidak bisa melaut ke tengah, kini pun tidak ada lagi. Seandainya ada itu tidak akan sebanyak dahulu.

Bagi nelayan Celukan Bawang setiap ikan yang didapat merupakan rezeki. Sayangnya rezeki seolah semakin ke tengah lautan, menjauh dan enggan menepi. Semakin susah diraih. Semakin tidak menentu. Dan ketika cuaca kemudian menjadi kendala, rezeki yang bisa mereka tangkap pun semakin sedikit.

“Biasanya tidak pernah seperti ini. Selalu ada saja ikan ke pinggir. Habis selah polo datang selah gerang, setelahnya datang cotek, cotek habis diganti bandrangan,” Baidi menceritakan.

Lelaki yang telah bertahun-tahun menjadi nelayan di Celukan Bawang ini merasakan sekali bagaimana susahnya mencari ikan saat ini. Saat cuaca tidak bersahabat, mencari ikan di pinggir menjadi pilihan aman untuk tetap memnuhi kebutuhan keluarganya.

“Dahulu di PLTU itu tempat ikan-ikan mati (titik mati),” Baidi mengenang.

Lokasi dermaga PLTU Celukan bawang merupakan titik mati bagi ikan. Nelayan akan menggiring ikan-ikan kecil menggunakan lampu, kemudian menebar jala dan menarik jalanya dari pantai yang kini telah telah menjadi dermaga sibuk dengan tongkang batubara.

Baidi, Ivan dan nelayan Celukan Bawang lain telah merasakan bagaimana PLTU Celukan Bawang berbahan batubara telah merusak hasil tangkapan ikan dan menyerobot ruang penghidupan mereka ketika kebutuhan semakin hari semakin meningkat. Nelayan tradisional dibuat terjepit. Antara cuaca yang semakin tidak bisa diprediksi nan ekstrem dan area tangkapan yang semakin sempit. Mau tidak mau mereka harus berlayar semakin ke tengah dengan biaya dan risiko yang terus bertambah.

Itulah salah satu alasan kenapa mereka kemudian membulatkan tekad untuk menolak pembangunan PLTU Celukan Bawang (berbahan bakar batubara) tahap kedua. [b]

The post PLTU Batubara yang Membuat Ikan kian Langka appeared first on BaleBengong.

Manik Bumi, Ruang Kreatif untuk Peduli Bumi

Kantor Yayasan Manik Bumi menjadi kantor dan ruang kreatif di Singaraja. Foto Manik Bumi.

Matahari beranjak redup di ujung utara Bali.

Ratusan anak muda, seniman dan aktivis lingkungan memungut sampah plastik di sepanjang Pantai Indah, Singaraja, Buleleng. Bersih-bersih sampah plastik itu salah satu agenda peresmian kantor Manik Bumi Foundation pada Sabtu (3/11).

Selain bersih-bersih pantai, Manik Bumi Foundation, yayasan di bidang lingkungan hidup terutama pengelolaan sampah ini juga menggelar beragam acara,termasuk pameran dan pertunjukan kolaborasi seniman dunia.

Saat matahari kian tenggelam di ufuk barat Gumi Panji Sakti, para seniman dari sebelas negara, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Afrika, Asia termasuk Indonesia dan Bali khususnya pun berkolaborasi di panggung utama.

Ada yang membaca puisi, ada juga memainkan teater. Para pengunjung pun menikmati aksi para seniman dunia ini.

Seperti halnya penampilan Samar Gantang yang membacakan puisi dengan nada suara menggelegar. Ada juga duet Cok Sawitri dan Ayu Laksmi.

Seniman Plasticology, Made Bayak bersama Guy Helminger dari Luxemburg menampilkan sebuah pertunjukan tarian legong yang diikat plastik.

Pendiri Manik Bumi Foundation, Juli Wirahmini mengatakan acara ini digelar selain untuk peresmian kantor Manik Bumi juga untuk mengenalkan yayasan yang berdiri pada 2013 tersebut. “Kami mengundang masyarakat untuk sama-sama meresmikan kantor Manik Bumi,” ujarnya.

Sebagai pendiri lembaga di bidang lingkungan, terutama pengelolaan sampah khususnya, Juli memiliki pandangan tersendiri tentang persoalan sampah di Buleleng. Salah satunya di tempat atau kantor terbaru Manik Bumi yang terletak di Jalan Pantai Indah, Singaraja dan tentunya dekat dengan pantai indah.

Juli menambahkan sebelum mereka menentukan akan pindah ke Pantai Indah, pantai itu masih sangat kotor. Sampah plastik masih banyak. Bahkan ada gundukan plastik.

“Kemudian kami bekerja sama dengan desa untuk menjaga pantai ini menjadi bersih. Kami ingin menjaga kelestariannya di saat nanti musim penyu bertelor,” ujarnya.

Untuk menjaga kondisi pantai Indah yang semakin nampak bersih ini, pihaknya mengaku akan melakukan komitmen dan melakukan gerakan bersih pantai secara berkesinambungan. Tidak hanya pada saat ada kegiatan, tetapi juga membuat program aksi bersih pantai setiap minggu sekali.

“Yang terpenting bukan tentang besarnya, tetapi lebih kepada keberlanjutannya,” lanjutnya.

Selain bersih-bersih pantai, acara tersebut juga menghadirkan setidaknya 50 seniman lintas negara dan lokal. Acara digelar dua hari berturut-turut pada Sabtu dan Minggu akhir pekan lalu.

Ruang Kreatif

Kantor Manik Bumi Foundation tidak hanya menjadi ruang bekerja tetapi juga ruang kreatif bersama. Pendiri Manik Bumi Foundation Juli Wirahmini menjelaskan kantor tersebut juga memfasilitasi beragam kegiatan warga di Singaraja.

“Terutama relawan kami yang kami sebut Sahabat Bumi,” ujarnya.

Sejak berdiri pada tahun 2013 silam, pihaknya telah melihat banyak potensi di bidang kreatif. “Mereka memberikan masukan agar mereka bisa memamerkan karya-karya mereka. Jadi tempat ini menjadi ruang publik yang ditujukan pada sahabat bumi, untuk memamerkan,” ujarnya.

Nantinya, gedung berlantai dua ini dapat digunakan sebagai ruangan pameran, diskusi, ruang musik dan sebagainya. Nah, untuk dapat memanfaatkan ruangan ini, mereka harus menjadi sahabat bumi terlebih dahulu.

Sahabat bumi adalah warga yang sudah menyatakan komitmen untuk mencintai bumi. Mereka juga diharapkan telah mengikuti kegiatan Manik Bumi, seperti melakukan sosialiasi ke sekolah-sekolah, atau bersih-bersih sampah. Juga secara ikhlas dan sukarela mengikuti program-program penambahan pengetahuan seperti ikut workshop, untuk meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan sampah mereka.

Saat ini Manik Bumi bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Ada beberapa dari mereka yang memiliki karya luar biasa terbuat dari sampah plastik, ban bekas, sandal bekas dan sebagainya.

“Nah, kami berikan ruang untuk mereka di sini,” jawabnya.

Juli berharap ruang-ruang ini terus diciptakan dan semakin banyak, sehingga anak-anak kreatif dari Singaraja tidak merasa rendah diri.

“Selama ini kan anak-anak Singaraja memiliki bakat luar biasa, tetapi karena mereka tidak punya kesempatan untuk memamerkan ke publik, mereka selalu merasa nggak percaya diri. Makanya lebih baik jika mereka bisa latihan di tempat ini dan bisa memamerkan karya-karya mereka,” ujarnya.

Untuk itu, Juli menegaskan kantor Manik Bumi kini dapat dibuka untuk publik ketika ada acara-acara tertentu seperti pameran, ruang diskusi, pemutaran film dan sebagainya. Namun sehari-harinya adalah sebagai kantor. [b]

The post Manik Bumi, Ruang Kreatif untuk Peduli Bumi appeared first on BaleBengong.

Memburu Tenggelamnya Matahari di Bukit Kursi

Pengunjung dapat menikmati momen matahari terbit maupun tenggelam. Foto Ahmad Muzakky.

Muhammad Naufal Khaqi bergegas memacu sepeda motornya sedikit lebih kencang.

Ia melaju ke barat seirama matahari yang beranjak pulang.Tempat yang dituju Khaqi adalah Bukit Kursi ia berangkat dari Kota Singaraja, di Bali bagian utara. Untuk menuju Bukit Kursi, ia harus menempuh jarak hampir 60 km, memakan waktu kurang lebih satu setengah jam.

Khaqi, wisatawan asal Jawa Timur yang sedang berlibur ke Bali memutuskan mengunjungi Bukit Kursi akhir Juli lalu setelah mendapatkan rekomendasi dari temannya.

Karena perjalanan memakan waktu yang lumayan lama, Khaqi memilih berangkat lebih awal, pukul tiga menjelang sore. Hal tersebut ia lakukan agar tak ketinggalan momen-momen saat matahari tenggelam.

Sesampainya di loket pintu masuk bukit ini Khaqi mencatat namanya di daftar pengunjung yang sudah disediakan oleh pengelola. Sore itu, ia adalah wisatawan ke-107 yang berkunjung ke lokasi tersebut. Di hari libur, menurut Sumiarti, petugas yang berjaga di loket saat itu, wisatawan yang berkunjung ke sini bisa mencapai 300 orang.

Usai mengisi buku daftar pengunjung, Khaqi membayar uang donasi sebesar Rp10.000 kepada petugas penjaga. Wisatawan yang datang ke Bukit Kursi tidak dikenakan biaya masuk. Wisatawan hanya perlu membayar uang donasi seikhlasnya.

“Uang donasi tersebut digunakan untuk mengembangkan fasilitas wisata Bukit Kursi. Seperti pengadaan toilet dan tong sampah, membangun araeal parkir, memperbaiki tangga yang rusak,” ujar Sumiarti.

Seorang pengunjung menikmati momen matahari tenggelam di atas Ayunan Cinta. Foto Ahmad Muzakky.

Spot Sunrise dan Sunset

Dua hal yang biasa dilakukan wisatawan ketika berkunjung ke Bali adalah menikmati momen terbit dan tenggelamnya matahari. Hal tersebut tak ingin dilewatkan oleh Khaqi.

Pemandangan matahari terbit atau tenggelam memang memiliki daya pikat tersendiri bagi penikmatnya. Bulatan matahari yang kuning dengan cipratan semburat oranye di langit seperti mampu menyihir mata yang memandangnya.

Sebagian wisatawan tak akan melewatkan ini. Hal itu yang kemudian memunculkan beberapa sunrise dan sunset spot, istilah untuk menyebut tempat yang ramai dikunjungi untuk menikmati momen matahari terbit dan tenggelam.

Di Bali spot-spot seperti ini biasa ditemui di pantai. Pantai Sanur atau Serangan untuk memburu matahari terbit, pantai Kuta atau Tanah Lot untuk memburu matahari tenggelam.

Khaqi memilih Bukit Kursi untuk menikmati sunset bukan tanpa alasan. “Kalau ke pantai Sanur dan Kuta kan sudah terlalu mainstream. Pemandangan sunset di sini tidak kalah indahnya dengan di sana,” ujar Khaqi merujuk pada spot sunset popular yang ada di Bali.

Dengan ketinggian hanya 700 meter Bukit Kursi cocok digunakan untuk wisata berburu matahari terbit dan tenggelam bagi siapan saja. Wisatawan hanya perlu mendaki sekitar setengah jam hingga puncak.

Jalur treking sepanjang Bukit Kursi tidak merepotkan. Pengelola membangun anak tangga sepanjang trek utama untuk memudahkan pengunjung ketika mendaki. Namun jika ingin yang lebih menantang wisatawan bisa mendaki Bukit Kursi dengan jalur berbeda.

Lelah ketika mendaki pun tidak akan terasa. Pasalnya mata pengunjung akan dimanjakan dengan lansekap menawan dari atas ketinggian. Jika memandang ke utara dari Bukit Kursi akan terlihat birunya Teluk Pemuteran, pusat wisata menyelam dan spiritual terkenal di Bali bagian utara. Di sisi selatannya menjulang barisan perbukitan.

Meski begitu saat akan mendaki Bukit Kursi Karena tetap perlu stamina yang fit. Siapkan bekal sendiri seperti air mineral dan camilan karena di areal Bukit Kursi tidak ada pedagang.

Bukit Kursi adalah wisata dua musim. Jika berkunjung pada musim hujan hamparan bukit akan berwarna hijau menyegarkan mata. Pada musim kemarau hamparan bukit akan berubah warna menjadi coklat. Namun hal tersebut tidak akan mengurangi keelokannya. Apalagi jika ditambah dengan cahaya emas matahari kala sore atau pagi.

Di puncak bukit kursi terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu yang oleh pihak pengelola dinamakan Ayunan Cinta. Pengunjung bisa berfoto di sana dengan latar hamparan bukit di sisi barat, hamparan lautan di sisi utara, serta matahari terbit atau terbenam.

Di atas bukit terdapat Pura yang digunakan oleh umat Hindu bersembahyang. Foto Ahmad Muzakky.

Wisata Spiritual

Di atas Bukit Kursi terdapat pura yang disucikan oleh umat Hindu. Di dalam pura tersebut terdapat batu yang berbentuk kursi.

“Pada tahun 1984 areal pura tersebut merupakan batu biasa. Kemudian oleh pelingsir Desa Pemuteran pura tersebut dinamakan Pura Bukit Batu Kursi,” ujar Ketut Wirdika, tokoh adat Desa Pemuteran.

Berada di Bali Utara, topografi Desa Pemuteran merupakan kawasan pesisir laut utara yang dikelilingi perbukitan di sisi selatannya. Di sepanjang perbukitan inilah berdiri beberapa pura yang digunakan sembahyang oleh umat Hindu. Pura tersebut di antaranya adalah Pura Pulaki dan Pura Melanting yang bersebelahan dengan Pura Bukit Batu Kursi.

Menurut Wirdika, awalnya Bukit Kursi hanya diperuntukkan bagi orang yang akan bersembahyang. Sejak awal tahun 2000-an, Bukit Kursi mulai dibuka untuk tujuan wisata.

Kini Pura Bukit Batu Kursi tak hanya ramai dikunjungi oleh umat Hindu yang akan bersembahyang. Pura Bukit Batu Kursi juga dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Dengan demikian berwisata di Bukit Kursi merupakan gabungan wisata alam, wisata petualangan, wisata spiritual.

Karena terletak di areal sekitar pura, wisatawan yang berkunjung ke Bukit Kursi diharuskan menjaga tindak-tanduknya. Pengunjung yang ingin melihat batu kursi harus memakai pakaian adat karena memasuki kawasan pura.

Mendaki Bukit Kursi terdapat beberapa peraturan yang harus ditaati oleh pengunjung. Salah satunya adalah aturan mengenai bendera kuning dan merah di jalur yang dilalui. Jalur yang terdapat bendera kuning artinya aman untuk dilalui, sementara terdapat bendera merah tidak aman dilalui.

Bagaimana? Tertarik untuk ke sana? [b]

Catatan: tulisan ini juga pernah dimuat Mongabay Indonesia.

The post Memburu Tenggelamnya Matahari di Bukit Kursi appeared first on BaleBengong.

Mempraktikkan Hidup Berkelanjutan di Rumah Intaran

Relawan PlastikDetox saat makan siang di Rumah Intaran, Buleleng.

Embun perlahan menetes di permukaan kaca mobil.

Sembari menikmati perjalanan, mata tertuju pada hamparan bunga gemitir di dataran tinggi Kintamani. Sontak rombongan kami membuka jendela, kiri kanan depan belakang. Sungguh pagi yang menyenangkan.

Hari itu kami meninggalkan Denpasar menuju Bali utara. Berniat mencari inspirasi, barang-barang tradisional pengganti plastik. Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Rumah Intaran, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Rabu (28/2).

Tim PlastikDetox Bali disambut oleh Bora, Ponpon dan Kuda, penjaga gerbang di garda depan. Mereka merupakan anjing-anjing yang dipelihara di Rumah Intaran. Tak lama kemudian, datang Gede Kresna yang seakan menghipnotis para anjing. Mereka mulai kalem, kami pun ke dalam menuju lokasi workshop.

Adapun rombongan yang ikut saya saat itu yaitu Wulan, Saras, Deasy dan Wahyu. Mereka relawan PlastikDetox yang senang diajak berkegiatan lingkungan. Langkah kami tertuju pada tangga kayu yang menghubungkan halaman depan ke tempat pembuatan kerajinan tangan. Ada tiga orang yang duduk menyebit bambu, seorang nenek berkebaya hilir mudik menyiapkan jajanan dan lainnya sibuk mempersiapkan tungku api.

Tiba-tiba rekan saya berteriak. “Wah sudah lama banget aku gak lihat ini,” ungkap Wulan Romianingsih sumringah. Seketika ia melangkahkan kakinya menuju perapian. Maklum saja, terakhir ia memasak pakai tungku api bersama neneknya 12 tahun lalu.

Menurut Gede Kresna, pemilik Rumah Intaran, tungku api yang dipakai memasak itu ternyata mengandung nilai kehidupan. Ia mengatakan ketika memasak menggunakan tungku api, maka abu sisa perapian bisa dipakai untuk menyuburkan tanah. Dapur juga dipercaya sebagai tempat penetral energi.

“Dapur itu tempat penyembuhan terbaik. Kalau ibu-ibu itu memasak di dapur dengan posisi jongkok dan bangun, maka itu sebagai yoga. Ini sangat bermanfaat terutama ibu hamil,” ungkapnya.

Daun Intaran

Gede Kresna lalu mengarahkan kami menempati kursi panjang dengan meja kayu. Ia meminta rekannya memetik daun intaran yang tumbuh tinggi di halaman rumahnya. “Daun Intaran ini banyak khasiatnya, orang di pesisir biasa menggunakan daun ini untuk memohon air suci,” ungkapnya. Selain religi, daun intaran juga dikenal dunia sebagai pengganti pasta gigi. Begitupula untuk kesehatan dan kecantikan.

Setelah itu, kami diarahkan untuk membuat rajutan bambu untuk botol. Hmm, jujur saja, caranya saya lupa. Setengah jam berlalu, saya menyerah. Mata saya tertuju pada hasil kerajinan tangan lainnya yang digantung di halaman pondok workshop. Saya memilih memotret dan bertanya-tanya kepada pengrajin di sana tentang produk mereka.

Jenis kerajinan tangan yang dipamerkan yaitu genjreng, paluk, tampung, gelas bambu, keranjang, tikar, tas, sedotan bambu dan berbagi macam kerajinan tangan lainnya. Ini bisa dipakai sebagai produk ramah lingkungan pengganti berbagai macam produk plastik yang dipakai sehari-hari. Bentuknya unik-unik, bahkan ada yang tak bernama karena disesuaikan dengan kreasi mereka.

Menurut Gede Kresna, saat kita membuat produk dari bahan alami, maka pengrajin menjaga sumber daya alam, dengan itu alam akan menjaga kita. “Misalnya kita bikin gula merah dari pohon aren, maka kita juga menjaga pohon aren untuk menghindari tanah longsor. Pohon aren kan hidup di tebing-tebing,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kerajinan tangan yang dibuat itu disesuaikan dengan sumber daya alam di daerah setempat. “Ya kita harus melihat potensi lokal. Itu demi menjaga keberlangsungan sumber daya alam di sana,” ungkapnya.

Dua jam kemudian, Wulan sahabat saya berhasil merajut bambu yang menghiasi botol itu. Selamat ya, Lan. Rajutan bambu yang membalut botol itu biasanya dibeli oleh penggiat usaha oleh-oleh. Pada saat kami datang, itu bertepatan dengan hari jadi Rumah Intaran yang ke-6. Selain kami, juga banyak rombongan lain yang datang mengikuti workshop itu.

Mengolah Makanan Tradisional

Matahari berada di atas ubun-ubun, kami beristirahat sambil minum santai di meja kayu. Wah, ayam bumbu siap dipanggang tuh! Jujur saja, perut kami lapar. Oh ya, di sana kami disuguhkan minuman asam dan segar. Juga jajanan pasar yang dibungkus daun pisang dengan apik. Tentu saja, di sana tak ada kemasan plastik.

Kami disuguhkan makanan tradisional yang bernilai gizi tinggi. Kenapa? Ya, mereka menyajikan nasi beras merah, sayur urab, ikan, ayam panggang dan telur ayam kampung, tempe, perkedel kentang dan jagung. Semua itu diolah dan dimasak menggunakan cara dan bahan lokal, minyak kelapa bukan sawit dan tentu saja tanpa penyedap rasa tambahan.

Gede Kresna mempersilahkan kami makan duluan karena kami harus segera pulang. Kami pun mengambil ingka beralaskan daun pisang lalu mulai mengambil posisi berbaris. Yummy! Kami melahapnya dengan nikmat. Setelah itu kami pamitan pulang. SMP banget nih alias Setelah Makan Pulang.

Gede Kresna berpesan bahwa untuk hidup ramah lingkungan, maka harus fokus ke diri sendiri dulu, mulai dari membentuk hal-hal sederhana dari desa untuk Indonesia. “Kita mulai mengajak orang, bukan memberitahu orang. Karena ketika kita sudah melakukan, maka mereka mulai mengikuti,” imbuhnya.

Kemudian pertanyaan muncul, bagaimana konsep ini diterapkan ke masyarakat urban? Gede Kresna mengatakan ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu ruang, sisi dan waktu. “Kita bisa memposisikan ini sesuai dengan keinginan. Semuanya balik ke diri masing-masing,” jelasnya singkat.

Pelajaran yang sangat berharga ketika kita bisa menginjakkan kaki di Rumah Intaran. Menjalani hidup ramah lingkungan bisa disesuaikan dengan kemampuan. Kita perlu belajar tentang masa lalu sebagai bahan pelajaran di masa depan.

Sayangnya, kami harus segera pulang karena hari itu bertepatan dengan upacara agama. Namun, karena dalam perjalanan kami melihat banyak pohon durian, maka kami berhenti sejenak membeli dan menikmati durian di salah satu warung pinggiran. Wah asiknya bertamasya di desa! [b]

The post Mempraktikkan Hidup Berkelanjutan di Rumah Intaran appeared first on BaleBengong.