Tag Archives: Buleleng

Celukan Bawang: Listrik Dibangkitkan, Moral Diturunkan


Seorang nelayan memancing dengan latar belakang PLTU Celukan Bawang

Menolak atau diam adalah dilema bagi sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini.

Peristiwa itu tergambarkan dalam film dokumenter berjudul Sexy Killers. Saya menyaksikan film ini pertama kali pada Sabtu akhir April lalu di Desa Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa ini menjadi salah satu lokasi yang muncul di film tersebut.

Revolusi Industri 4.0, pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi, dan lain-lain, sudah menjadi terminologi yang dapat merangsang keinginan beropini bagi para penikmat dunia akademik dan politik di Indonesia. Tak terkecuali para akademisi dan aktivis lingkungan hidup di Pulau Bali.

Bali, salah satu destinasi wisata terpopuler dunia, nampaknya terlihat keteteran menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Jutaan wisatawan yang setiap tahun hadir di Bali memiliki alasan tersendiri, mengapa memilih Bali sebagai tempat berlibur. Alasan paling populer karena keindahan pantai dan keasrian terumbu karangnya. Terik matahari di pesisir pantai ataupun keindahan terumbu karang di bawah laut adalah dua dari beragam keindahan alam yang dipertontonkan Bali kepada masyarakat internasional.

Lalu apa yang mengakibatkan alam di pulau Bali tetap indah di tengah gejolak pembangunan nasional negeri ini? Jawabannya ada pada filosofi masyarakat Bali itu sendiri yaitu Tri Hita Karana. Konsep filosofi yang menjadi kunci keseimbangan antara hubungan-hubungan yang saling berkaitan: dengan Tuhan sebagai pencipta alam semesta, manusia sebagai mahluk mulia ciptaanNya dan alam sebagai habitat untuk seluruh mahluk hidup yang ada di bumi yang kita cintai ini.

Namun apakah filosofi itu sudah das sein atau konkret sepenuhnya dalam kehidupan masyarakat Bali? Pertanyaan itu menjadi polemik beberapa tahun terakhir ini.

Untuk hubungan sesama manusia, Bali sangat kokoh dan solid. Perbedaan dan sekat yang mencolok antarmasyarakat dari aspek sosial, budaya dan agama, nampak tidak menghalangi penduduk di Pulau Bali untuk saling berinteraksi dan bertenggang rasa. Sebab, perbedaan-perbedaan dalam diri manusia adalah sama di hadapan Tuhan dan toleransi terhadap perbedaan antarmanusia menjadi hal lumrah.

Mungkin alasan seperti itu yang disebutkan secara verbatim oleh Pak Kuwi, salah satu tokoh masyarakat di Desa Celukan Bawang. Pak Kuwi begitulah sapaan akrab warga Desa Celukan Bawang yang muncul beberapa menit dalam film dokumentasi Sexy Killers. Beliau menyatakan bahwa hubungan antarwarga di Celukan Bawang masih baik-baik saja bahkan amalgamasi antarpenduduk yang berbeda agama di Celukan Bawang adalah hal biasa di tengah ketar-ketir konflik sosial yang acapkali muncul di dalam ataupun di luar negeri.

Maka dapatlah dikatakan bahwa hubungan antarpenduduk yang mencakup hubungan sosial dan religi di pulau Bali masih sejalan dengan Konsep Tri Hita Karana.

Nelayan mengaku tangkapan makin berkurang sejak beroperasinya PLTU Celukan Bawang pada 2015.

Kesulitan

Lalu apakah hubungan dengan Alam masih berjalan dengan baik atau terjadi sesuatu yang menyebabkan hubungan dengan alam terasa semakin renggang di tanah Bali?

Pertanyaan tersebut bisa terjawab apabila kalian menemui langsung para nelayan di Desa Celukan Bawang, Buleleng, Bali. Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Celukan Bawang yang dibangun di pesisir pantai adalah biang masalahnya. Pembangunan PLTU di sekitar pantai mengakibatkan para nelayan Celukan Bawang semakin kesulitan mencari ikan. Ikan enggan merapatkan jaraknya dengan para nelayan semenjak PLTU tersebut dibangun.

Padahal hanya ikan yang dapat menentukan penghasilan para nelayan. Besar kecilnya tangkapan ikan tergantung keadaan lautnya, apakah bersih atau tidak, apakah masih ada terumbu karang atau tidak. Namun, kini ikan menjauh dari laut Celukan Bawang karena terumbu karang sebagai habitat ikan dirusak oleh jangkar kapal tongkang pengangkut batu bara.

Ikan yang menjadi pemasok makanan sumber kecerdasan orang Jepang dalam berpikir dan bertindak, nampaknya tidak begitu dihargai di negeri ini.

Dampaknya, kini ikan semakin menjauh dari kehidupan anak-anak Indonesia. Orangtua mereka akan berpikir dua kali untuk membeli ikan di warung karena harga ikan semakin melunjak di pasaran. Hal itu karena nelayan semakin kesulitan untuk mencari ikan di laut yang tercemar.

Mungkin karena masalah ini pula, anak-anak Indonesia semakin menurun kemampuannya dalam memecahkan soal-soal matematika. Hal itu terbukti dari semakin menurunnya rerata nilai ujian nasional (UN) di tingkat SD, SMP, ataupun SMA.

Penerapan sistem Hight Orders Thingking Skills (HOTS) yang dilakukan Ahli Riset Pendidikan nampaknya gagal dicerna oleh murid-murid di Indonesia. Koordinasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan terlihat sangat tidak koordinatif dalam memecahkan permasalahan ini. Padahal sangat jelas ada hubungan erat antara dua variabel masalah tersebut.

Entah mereka sadar atau tidak, tapi nampaknya mereka sibuk mencitrakan lembaga mereka agar fit and proper dengan situasi negeri yang semakin banyak proyek pembangunannya tetapi semakin sempit cara berpikirnya. Mereka membangkitkan listrik di seluruh wilayah tetapi mereka menurunkan moral dan cara berpikir masyarakatnya.

Mungkin itu pesan yang tersampaikan dari kondisi dan situasi alam kita saat ini.

Bagaimanapun pembangunan yang tidak memerhatikan dampak lingkungan serta merusak alam adalah musuh kita bersama dan itu tidak bisa kita tolerir terus-menerus, PLTU Celukan Bawang adalah satu dari ratusan proyek yang tidak sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, apabila tahap-tahap pengembangan PLTU tersebut semakin gencar dilakukan maka jangan salahkan alam apabila nanti ada bencana yang menghampiri.

Bali adalah rumah bagi alam yang bersih dan asri, udara yang segar tidak bisa diproduksi dari cerobong asap PLTU ataupun kilang minyak batu bara. Praktisi hukum seperti hakim dan legislator di gedung DPR harus menyadari sedini mungkin bahaya yang terjadi apabila peningkatan produksi limbah dan pencemaran semakin banyak diproduksi di negeri ini.

Sebenarnya masih banyak keluhan dan jeritan dari masyarakat yang menjadi korban dari mega proyek pembangunan di negara ini, seperti yang terjadi pada para nelayan di Celukan Bawang. Keluhan dan jeritan dari masyarakat Indonesia nampaknya berbanding lurus dengan banyaknya permintaan kerja sama ekonomi pemerintah Indonesia kepada pemerintah China.

Namun, sebesar apapun kerusakan di Indonesia akibat pertambangan, para aktivis lingkungan akan selalu menyuarakan kebenarannya. Tulisan ini menjadi satu bukti nyata dari pengalaman langsung berdialog dengan masyarakat Celukan Bawang.

Pesan saya untuk para petinggi di negeri ini, siapapun dia, apapun tugasnya, tolong, lindungilah alam kita seperti alam melindungi kita. Dan untuk para aktivis lingkungan yang dengan lantang menyuarakan perlawanan terhadap perusahaan tambang dan konglomerat tanah di Indonesia, saya kutipkan pendapat filsuf dari Jerman Friedrich Nietzsche: “Siapa saja yang bertanding melawan monster harus bisa memastikan bahwa dalam prosesnya, dia tidak akan berubah menjadi monster. Dan jika Anda menatap cukup lama ke dalam jurang, maka jurang akan menatap kembali Anda.”.

Pesan tersebut silakan tafsirkan dengan pemahaman masing-masing dan yakinkanlah bahwa perjuangan untuk melindungi alam akan terus berlanjut. [b]

The post Celukan Bawang: Listrik Dibangkitkan, Moral Diturunkan appeared first on BaleBengong.

Siang Hari di TPS 03, Celukan Bawang

Tabel DPT dan contoh surat suara di TPS 03, Celukan Bawang

Duh, iya e. Jokowi kalah..

Saya menghabiskan 17 April siang di TPS 03, Celukan Bawang dengan Pak Eko, sekretaris kelompok warga Tolak PLTU Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Malam sebelumnya, saya ikut dengannya menonton film Sexy Killers di Taman Kota Singaraja.

Ketika sampai di sana sekitar pukul 12.45 WITA, warga sudah hampir selesai dengan proses pencoblosan. Sambil menunggu rekapitulasi jumlah surat suara dan warga yang menyoblos, saya duduk-duduk di depan rumah Pak Eko. Tembok rumahnya bergambar warna-warni. Jaraknya 50 meter di sebelah timur tempat pemungutan suara (TPS).

Obrolan kami ngalor-ngidul membahas seberapa seksi film Sexy Killers hingga cara menghindari mabuk laut. Dia pernah menggantungkan hidupnya dari hasil melaut.

“Saya tidak bisa berenang, Pak,” jawab saya waktu dia menawari untuk ikut mancing naik jukung.

Penghitungan jumlah suara dimulai pukul 13.45 WITA. Warga kumpul di sekitar TPS samping posko Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali. Ada yang jongkok di tanah, duduk di kursi plastik, berdiri menyandar tiang TPS.

Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) masih kelihatan canggung. “Ini yang bikin gemeteran,” kata salah satu petugas penghitung suara sebelum penghitungan mulai.

“Jokowi!” orang yang lewat kadang-kadang berteriak, disambut tawa orang-orang yang duduk.

Warga menyaksikan proses penghitungan suara

“Nomor 02,” petugas mulai menghitung kertas suara untuk pilpres, disusul teriakan ‘yeayy’ oleh  semua yang hadir. Begitu pula waktu kertas suara dengan pilihan nomor 01 dibacakan.

Beberapa anak terlihat tegang pun para orang tuanya. Pemuda-pemuda terlihat mondar-mandir menghisap rokok sambil sesekali memeriahkan teriakan ‘yeay’.

Dari total 295 DPT dan 6 DPTb/DPK, 78 persen melakukan pencoblosan. Ada beberapa orang yang harus urung mencoblos karena hadir saat TPS sudah tutup.

Pak Eko memberikan keterangan, penetapan orang-orang yang memilih di TPS 03 ini dilakukan secara acak. Beberapa adalah warga yang tinggal di sebelah timur dusun yang mayoritas Hindu. Namun, banyak juga warga dari dusun di sebelah barat yang mayoritas muslim.

Waktu saya sampai di sana, sambil menunggu proses penghitungan suara, ibu-ibu berkumpul di warung seberang masjid sambil menyiapkan makanan. Ada 104 pemilih laki-laki dan 130 pemilih perempuan yang memberikan suaranya hari itu.

Ekspresi saat mengetahui hasil penghitungan suara untuk pilpres

Mayoritas Prabowo

Kandani kok, Prabowo presidenku (sudah kubilang, Prabowo presidenku),” seloroh seorang anak ke temannya. Teman itu menimpali dengan, “Duh, iya e. Jokowi kalah,” saat hitung-hitung surat suara pilpres usai dilakukan.

Prabowo mendapat 152 suara dan Jokowi 74. Delapan kertas suara lainnya dinyatakan tidak sah. Orang-orang tampak tenang sambil menunggu penghitungan suara untuk legislatif nasional dan daerah.

Baru kali ini saya ada di tempat dengan suara mayoritas untuk Prabowo. Padahal, 90 persen teman saya adalah Jokowi garis keras. Seperti di tempat-tempat lain, tengkar-tengkar di Facebook dan Instagram Stories tidak berlaku di kehidupan bertetangga.

Pak Eko sendiri bercerita bahwa selama masa kampanye, area rumahnya tak pernah gegap gempita oleh polarisasi kubu 01 atau 02. Semua biasa. Dia berpegang teguh pada prinsip “rahasia” dalam pemilu kali ini.

Dengan banyaknya penutur bahasa Jawa dan suguhan teh super manis, saya merasa seperti di rumah. Namun, agenda lain harus dilaksanakan. Sambil pamit pulang, saya mengingatkan beberapa saksi yang hadir di TPS, “jangan lupa makan, masih sampai malam!”

Perjalanan berlanjut ke Bedugul untuk bermalam sebelum kembali ke Ubud. Tempat menginap sebelahan dengan tempat rekap suara di kecamatan. Sayup-sayup, sekitar pukul 11.30 malam, terdengar proses verifikasi masih dilakukan. Pak Eko kasih kabar siang hari, dia melek di kecamatan sampai pukul 5 pagi!

Salam hangat untuk para petugas KPPS dan saksi-saksi yang sudah menjalankan tugas! [b]

The post Siang Hari di TPS 03, Celukan Bawang appeared first on BaleBengong.

Air Terjun Gerombong yang Spektakuler


Semua kelelahan seolah sirna dengan pemandangan menakjubkan.

Salah satu air terjun di kawasan Bali Utara menyuguhkan tempat indah, sensasional dan cukup menantang adalah air terjun Gerombong. Air terjun yang lokasinya cukup tersembunyi, tetapi terkenal di kalangan wisatawan.

Air terjun Gerombong ini berada di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Jaraknya sekitar 2,5 jam perjalanan dari Denpasar. Dari arah kota Denpasar kita menuju ke Bali Utara dengan menyusuri Jalan Raya Denpasar – Bedugul.

Sebelum mencapai lokasi terlebih dahulu kita akan melewati pemandangan Danau Beratan dan Bukit Bedugul. Di sini kita bisa bersantai sejenak, menikmati sejuknya udara Bedugul dengan menepi di pinggir danau yang masih asri. Bedugul merupakan tempat nyaman untuk melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan.

Air terjun Gerombong juga dikenal dengan sebutan air terjun Sekumpul karena aksesnya dapat dilalui dari Sekumpul, desa di sebelah utara Desa Lemukih. Jika kalian lebih memilih perjalanan pendek dan tidak melelahkan bisa melewati jalur ini. Perjalanan dari parkiran sampai di lokasi air terjun berjarak kurang dari satu kilometer.

Sebelum mencapai lokasi, saya melewati perkampungan, menyusuri kebun cengkeh dan durian milik warga. Di sini saya melihat pemandangan Air Terjun Gerombong atau Twin Waterfall yang amat cantik nampak dari depan.

Melewati Desa Sekumpul ini, sebagai wisatawan domestik saya dikenakan tiket Rp 10.000 per orang.

Fiji

Jika suka wisata trekking, kalian bisa mengakses air terjun ini melalui Desa Lemukih. Mungkin akan sedikit melelahkan karena jalurnya lebih panjang dibandingkan dari Desa Sekumpul, tetapi kelelahan akan terobati oleh pemandangan sawah yang eksotis dan aliran sungai yang jernih.

Lekukan Sawah Fiji dan jalan setapak yang dibuat khusus untuk para trekking akan menambah keseruan perjalanan. Selain itu sebelum mencapai air terjun Gerombong kita juga disuguhkan dengan air terjun Fiji yang dikenal dengan triple waterfall dan dua air terjun lain yang belum memiliki nama.

Setelah trekking yang cukup melelahkan kita bakal disambut oleh deburan Air Terjun Gerombong. Semua kelelahan seolah sirna dengan pemandangan alam menakjubkan di depan mata. Tinggi air terjun sekitar 40 meter terletak berjejer menyuguhkan pemandangan spektakuler.

Rimbunan pohon perdu sekitar tebing berpadu indah menawarkan kedamaian. Embusan angin yang membawa bulir-bulir air menyentuh tubuh terasa sejuk dan menyegarkan, sebuah tempat indah yang terletak tersembunyi siap menjauhkan kita dari kejenuhan dan rutinitas.

Tidak mengherankan daya tarik air terjun Grombong ini, sanggup membuat pengunjungnya bersusah payah untuk menikmati kemolekannya, airnya jernih mengalir di sepanjang sungai dasar tebing. Selain menikmati kecantikannya, kita bisa mandi merasakan segarnya air pegunungan di aliran sungai Gerombong. [b]

The post Air Terjun Gerombong yang Spektakuler appeared first on BaleBengong.

PLTU Batubara yang Membuat Ikan kian Langka

Deburan ombak mengisi keheningan malam di Celukan Bawang.

Satu per satu sampan dengan nyala lampu menepi. Mereka disambut beberapa rekannya yang kemudian membantu mendorong sampan hingga sampai ke atas pasir.

“Zonk… malam ini zonk.” Kalimat itu keluar dari nelayan yang selepas magrib telah mengisi pantai di Bali bagian utara itu.

Kalimat kekecewaan akibat tidak ada ikan bisa dijala. Tak ada rezeki untuk dibawa pulang setelah seharian tidak melaut akibat cuaca yang tidak bersahabat.

Malam semakin larut. Cahaya benderang di pantai pun perlahan padam. Menyisakan benderang pembangkit listrik yang masih sibuk memindahkan batubara dari kapal tongkang ke dalamnya.

Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang terus memproduksi pundi-pundi rupiah, nelayan malam itu harus kembali pulang tanpa ikan yang bisa dijual.

Nelayan-nelayan ini seolah sedang terjepit di antara cuaca ekstrem yang membatasi ruang gerak mereka melaut dan ikan-ikan yang seolah enggan mampir ke pinggir semenjak keberadaan PLTU.

Sebuah tanda tiba-tiba muncul dari dua buah sampan yang beriringan ke timur. Keduanya menjauhi PLTU dan pantai tempat nelayan Celukan Bawang biasa menambatkan perahu. Tanda itu membuat sekelompok nelayan lain yang sedari tadi menunggu berlarian menuju sampan yang bergerak perlahan semakin ke timur. Mencari posisi strategis untuk memojokkan kerumunan ikan. Lalu mereka menariknya.

Aekitar sepuluh laki-laki masuk ke dalam air. Menerobos ombak yang malam itu cukup tinggi. Mereka mengerahkan tenaganya untuk menarik jala.

Jala terus ditarik di tengah gulungan ombak. Sampan yang sebelumnya menebar jalan perlahan menepi. Mematikan lampu dan ditarik ke pantai. Sementara sampan lain masih terang dengan cahaya lampu dari mesin diselnya. Berusaha menjaga keseimbangan agar tetap bisa mengarahkan ikan tidak keluar dari jala yang sudah ditarik.

Jala semakin menepi dan dibawa ke pantai. Sebuah blek (ember cat 16 kg) datang menghampiri. Ember itu menjadi alat ukur berapa jumlah ikan yang bisa mereka tangkap malam itu.

Tak ada yang tahu seberapa banyak dan apa isi jala. Ikan-ikan kecil yang berkilau terkena cahaya lampu di permukaan bisa jadi tidak sebanyak ketika mereka berenang bergerombol mendatangi dan mengikuti sumber cahaya. Susahnya jala ditarik bisa jadi akibat arus gelombang. Bukan karena penuh oleh ikan yang berhasil dijala.

Dengan harap-harap cemas sekelompok nelayan tersebut membuka jala. Gemerlap ikan terlihat memantulkan cahaya senter salah seorang nelayan. Tampak selah polo, cotek saling berhimpitan di antara lele pantai lebih mendominasi karena ukuran mereka yang besar.

“Ikan jelek semua..” Salah seorang nelayan yang telah basah kuyup oleh air laut berteriak. Kecewa.

Kekecewaan itu timbul setelah melihat jumlah ikan masuk ke dalam jala tidak seberapa. Nantinya ikan tersebut harus dibagi ke semua yang ikut menangkap. Kekecewaan yang timbul karena sedari pagi mereka belum berani melaut akibat cuaca yang sedang tidak bersahabat.

Ikan-ikan dari jala dipindah kedalam blek. Tidak penuh. Ikan yang oleh nelayan disebut lele pantai (lele laut) disingkirkan. “Hati-hati. Sengatannya bisa bikin pingsan,” kata salah seoarang nelayan mengingatkan rekannya.

Lele pantai nantinya dibuang. Selain tidak laku dijual juga berbahaya. Bisa menyengat pengunjung yang melewati senja dengan mandi di pantai Celukan Bawang.

Hanya selah polo dan cotek yang dibiarkan dalam blek. Salah seorang pemuda yang ikut menarik jala mencoba mengaduk-aduk blek. Mendapati beberapa ekor cumi dalam timbunan ikan. Lumayan mengobati rasa kecewa dan berhasil membuatnya sedikit tersenyum.

“Udah. Bagi aja.” Ivan, nelayan yang tadi menebar jala berkata.

“Tidak. Dijual saja untuk beli rokok,” rekannya mengusulkan.

“Bagikan saja,” Ivan menjawab usulan rekannya.

Jumlah tangkapan yang hanya satu blek serta jenis ikan yang bercampur membuat harganya jatuh dan tidak seberapa. Sementara jumlah anggota yang ngoncor cukup banyak. Jika dijual, uang yang dibagi pun tidak akan seberapa. Jadi menurut Ivan lebih baik dibagi ikan saja.

“Ini tidak ada hasil namanya. Kalau orang sini bilangnya aebean, artinya hanya cukup untuk mebe (lauk),” rekan Ivan yang malam itu ikut ngoncor menjawab ketika disinggung terkait tangkapan mereka malam itu.

“Dahulu sebelum ada ini (PLTU) bisa mencari ikan sampai ke sana (area PLTU).” Ivan menceritakan pengalamannya, asap rokok keluar dari bibirnya. Tatapannya jauh ke arah gemerlap PLTU yang kini berdiri, memaksa menjadi tetangganya.

Lelaki yang sejak kecil telah menggantungkan hidup dari hasil laut ini sangat merasakan dampak keberadaan PLTU. Ivan mengatakan kini dia dan rekan-rekan nelayannya harus berlayar lebih jauh untuk mendapatkan ikan. Kadang-kadang ada ikan mau ke pinggir, tetapi itu sangat jarang terjadi. Tidak sebanyak dahulu. Hanya sewaktu-waktu ada ikan yang mau kepinggir.

“Tidak seperti dulu, jika dulu sekalinya ikan ke pinggir bisa sampai harus dikeringkan,” lanjut Ivan.

Ikan-ikan kecil seperti selah polo, selah gerang, cotek dan bandrangan memang akrab dengan nelayan Celukan Bawang. Ikan-ikan yang ditangkap dengan cara ngoncor begitu melimpah. Bahkan para nelayan pernah merasakan hasil tangkapan hingga memenuhi tiga mobil pikap pengangkut ikan.

Ivan pernah harus mengeringkan ikan kecil hasil tangkapannya karena melebihi kebutuhan pasar.

Namun, sayangnya, jangankan kembali ke masa-masa ketika hasil tangkapan begitu melimpah hingga sampai harus dikeringkan, bisa mendapat beberapa blek ikan selah polo akan sangat berarti bagi nelayan Celukan Bawang. Harga ikan selah polo yang bisa mencapai Rp 700.000 per blek tentu sangat berarti bagi para nelayan. Terutama ketika mereka tidak bisa melaut lebih jauh akibat cuaca tidak bersahabat.

Sayang melimpahnya hasil laut bagi warga Celukan Bawang kini tinggal nostalgia romantis. Ikan-ikan kecil yang biasanya bisa didapatkan dengan mudah seolah melintas pun enggan.

Ivan dan rekan-rekan satu kelompoknya melangkah menyusuri pantai yang gelap. Membawa satu blek campuran ikan selah polo dan ikan cotek yang berhasil dijala. Kelompok mereka satu-satunya kelompok yang cukup sabar dan beruntung menemukan kerumunan ikan kecil. Nelayan lain telah pergi meninggalkan pantai Celukan Bawang. Pulang dengan kenyataan tak ada ikan bisa dioncor dan harapan semoga cuaca besok memungkinkan untuk melaut lebih jauh.


Matahari bersinar cukup terik walau hari belum berada di tengah. Angin bertiup kencang. Perahu-perahu tertambat dipantai. Hanya beberapa perahu tampak kecil di lautan. Kelabu muram.

Baidi sedang duduk di teras rumah. Dua ekor burung di sangkar masing-masing menggantung di atas teras.

“Cuaca masih ekstrem. Belum berani untuk melaut jauh ke tengah,” kata Baidi ketika ditanya apakah dia melaut dini hari tadi. “Hanya di pinggir saja mencari tongkol. Itu pun hanya dapat beberapa ekor,” lanjut ketua kelompok nelayan Bakti Kosgoro itu.

Lebih lanjut dia menceritakan. Ketika cuaca buruk seperti saat ini, nelayan tidak berani melaut terlalu jauh ke tengah. Kalaupun melaut paling hanya mencari ikan tongkol di pinggir. Keselamatan menjadi alasan utama nelayan. Gelombang dan angin kencang bisa saja menghantam mereka ketika memaksakan melaut lebih dalam.

Pada situasi seperti ini selain mencari tongkol yang juga tidak seberapa jumlahnya, ngoncor menjadi pilihan. Cara ini secara turun temurun dilakukan nelayan untuk bisa tetap mendapatkan ikan-ikan kecil yang datang ke pinggir perairan Celukan Bawang.

Ikan-ikan seperti selah polo, selah gerang, ikan cotek dan bandrangan banyak muncul di wilayah perairan Celukan Bawang. Mereka akan muncul bergiliran. Banyak dan tidak pernah kosong,
“Sekarang ikan-ikan itu naiknya di Sanggalangit. Kalau dulu-dulu ikan-ikan itu biasa naik di sini.” Baidi menceritakan susahnya menangkap ikan-ikan kecil sasaran nelayan ngoncor.

Ngoncor merupakan cara menangkap ikan dengan sistem berkelompok. Satu kelompok sekitar sepuluh orang. Satu-dua sampan akan berangkat menggunkan penerangan dari mesin disel. Mereka akan melihat apakah ada ikan kecil mengerubungi penerangan yang digantung di ujung sampan. Sampan akan berputar sepanjang pesisir. Mencari di mana gerombolan ikan berada. Berlayar perlahan berputar-putar dengan mata terus memperhatikan permukaan air laut yang diterangi lampu.

“Dulu yang ngoncor pakai petromaks. Namun, sejak sekitar tahun 2013 satu dua kapal mencoba pakai lampu dengan disel karena minyak tanah susah dan mahal. Sekarang semua sampan pakai lampu dengan disel. Selain untuk ngoncor juga pergi ke tengah,” kata Baidi menerangkan sumber cahaya yang digunakan dalam ngoncor.

Setelah sampan pengoncor menemukan ikan, baru kemudian jala ditebar. Anggota kelompok yang lain akan bersiap menarik dari bibir pantai. Sementara jala ditarik dari bibir pantai, sampan bergerak perlahan. Seolah menggiring ikan untuk terus mengikuti lampu dan masuk ke dalam jala.

Jala terus ditarik hingga akhirnya sampai di pantai. Butuh banyak orang dan tenaga besar untuk menarik jala di tengah gulungan ombak besar.

Ikan yang berhasil terperangkap di jala kemudian dibagi. Setengah untuk pengoncor, sampan dengan penerangan bergerilya mencari ikan. Sebagian lagi dibagi oleh masing-masing orang yang ikut menarik jala.

Sayangnya keberadaan PLTU Batubara yang berada di area tangkapan nelayan mengurangi jumlah ikan yang bisa ditangkap dari mengoncor. Selain karena garis pantai yang mengecil akibat keberadaan bangunan dan dermaga kapal tongkang PLTU, titik lokasi berdirinya PLTU merupakan tempat di mana ikan-ikan kecil biasanya berada. Semenjak keberadaan PLTU, otomatis jumlah ikan tersebut berangsur-angsur berkurang.

“Malam Jumat kemarin masih dapat 4 blek,” kata Baidi. “Tapi dua malam kemarin tidak ada ikan yang datang,” lanjutnya.

Selah gerang yang malam Jumat kemarin masih bisa ditangkap, dua malam setelahnya praktis lenyap. Hanya satu kelompok pengoncor berhasil menjala. Itupun hanya satu blek yang bercampur dengan lele laut. Jumlah yang relatif sedikit untuk dijual kemudian dibagi oleh anggota kelompok pengoncor.

Ketika kapal-kapal nelayan Celukan Bawang tertahan di pantai akibat cuaca tidak bersahabat, kapal tongkang memuat batubara terus keluar masuk perairan wilayah tangkapan mereka. Kapal-kapal itu memasok bahan bakar demi keberlangsungan PLTU Batubara yang beberapa tahun terakhir menjadi tetangga tak diundang.

Debu batubara yang tertiup angin jatuh ke perairan ketika dipindahkan dari tongkang ke dalam PLTU. Sisa-sisa itu kemudian menghitamkan air. Ketika arus sedang bergerak ke arah timur, secara otomatis dia memasuki area pesisir timur wilayah tangkapan nelayan.

Nelayan menduga itulah penyebab ikan-ikan kecil seperti selah polo dan selah gerang tidak lagi melimpah di pesisir wilayah tangkapan mereka.

Ikan-ikan yang sebelum keberadaan PLTU Celukan Bawang begitu mudah didapat dengan ngoncor kini seolah menjadi ikan langka. Sering kali nelayan hanya berputar-putar dengan lampu tanpa berhasil menemukan ikan yang mereka sasar. Ikan kecil yang dahulu menjadi andalan nelayan Celukan Bawang ketika cuaca ekstrim yang membuat mereka tidak bisa melaut ke tengah, kini pun tidak ada lagi. Seandainya ada itu tidak akan sebanyak dahulu.

Bagi nelayan Celukan Bawang setiap ikan yang didapat merupakan rezeki. Sayangnya rezeki seolah semakin ke tengah lautan, menjauh dan enggan menepi. Semakin susah diraih. Semakin tidak menentu. Dan ketika cuaca kemudian menjadi kendala, rezeki yang bisa mereka tangkap pun semakin sedikit.

“Biasanya tidak pernah seperti ini. Selalu ada saja ikan ke pinggir. Habis selah polo datang selah gerang, setelahnya datang cotek, cotek habis diganti bandrangan,” Baidi menceritakan.

Lelaki yang telah bertahun-tahun menjadi nelayan di Celukan Bawang ini merasakan sekali bagaimana susahnya mencari ikan saat ini. Saat cuaca tidak bersahabat, mencari ikan di pinggir menjadi pilihan aman untuk tetap memnuhi kebutuhan keluarganya.

“Dahulu di PLTU itu tempat ikan-ikan mati (titik mati),” Baidi mengenang.

Lokasi dermaga PLTU Celukan bawang merupakan titik mati bagi ikan. Nelayan akan menggiring ikan-ikan kecil menggunakan lampu, kemudian menebar jala dan menarik jalanya dari pantai yang kini telah telah menjadi dermaga sibuk dengan tongkang batubara.

Baidi, Ivan dan nelayan Celukan Bawang lain telah merasakan bagaimana PLTU Celukan Bawang berbahan batubara telah merusak hasil tangkapan ikan dan menyerobot ruang penghidupan mereka ketika kebutuhan semakin hari semakin meningkat. Nelayan tradisional dibuat terjepit. Antara cuaca yang semakin tidak bisa diprediksi nan ekstrem dan area tangkapan yang semakin sempit. Mau tidak mau mereka harus berlayar semakin ke tengah dengan biaya dan risiko yang terus bertambah.

Itulah salah satu alasan kenapa mereka kemudian membulatkan tekad untuk menolak pembangunan PLTU Celukan Bawang (berbahan bakar batubara) tahap kedua. [b]

The post PLTU Batubara yang Membuat Ikan kian Langka appeared first on BaleBengong.