Tag Archives: Buleleng

Mempraktikkan Hidup Berkelanjutan di Rumah Intaran

Relawan PlastikDetox saat makan siang di Rumah Intaran, Buleleng.

Embun perlahan menetes di permukaan kaca mobil.

Sembari menikmati perjalanan, mata tertuju pada hamparan bunga gemitir di dataran tinggi Kintamani. Sontak rombongan kami membuka jendela, kiri kanan depan belakang. Sungguh pagi yang menyenangkan.

Hari itu kami meninggalkan Denpasar menuju Bali utara. Berniat mencari inspirasi, barang-barang tradisional pengganti plastik. Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Rumah Intaran, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Rabu (28/2).

Tim PlastikDetox Bali disambut oleh Bora, Ponpon dan Kuda, penjaga gerbang di garda depan. Mereka merupakan anjing-anjing yang dipelihara di Rumah Intaran. Tak lama kemudian, datang Gede Kresna yang seakan menghipnotis para anjing. Mereka mulai kalem, kami pun ke dalam menuju lokasi workshop.

Adapun rombongan yang ikut saya saat itu yaitu Wulan, Saras, Deasy dan Wahyu. Mereka relawan PlastikDetox yang senang diajak berkegiatan lingkungan. Langkah kami tertuju pada tangga kayu yang menghubungkan halaman depan ke tempat pembuatan kerajinan tangan. Ada tiga orang yang duduk menyebit bambu, seorang nenek berkebaya hilir mudik menyiapkan jajanan dan lainnya sibuk mempersiapkan tungku api.

Tiba-tiba rekan saya berteriak. “Wah sudah lama banget aku gak lihat ini,” ungkap Wulan Romianingsih sumringah. Seketika ia melangkahkan kakinya menuju perapian. Maklum saja, terakhir ia memasak pakai tungku api bersama neneknya 12 tahun lalu.

Menurut Gede Kresna, pemilik Rumah Intaran, tungku api yang dipakai memasak itu ternyata mengandung nilai kehidupan. Ia mengatakan ketika memasak menggunakan tungku api, maka abu sisa perapian bisa dipakai untuk menyuburkan tanah. Dapur juga dipercaya sebagai tempat penetral energi.

“Dapur itu tempat penyembuhan terbaik. Kalau ibu-ibu itu memasak di dapur dengan posisi jongkok dan bangun, maka itu sebagai yoga. Ini sangat bermanfaat terutama ibu hamil,” ungkapnya.

Daun Intaran

Gede Kresna lalu mengarahkan kami menempati kursi panjang dengan meja kayu. Ia meminta rekannya memetik daun intaran yang tumbuh tinggi di halaman rumahnya. “Daun Intaran ini banyak khasiatnya, orang di pesisir biasa menggunakan daun ini untuk memohon air suci,” ungkapnya. Selain religi, daun intaran juga dikenal dunia sebagai pengganti pasta gigi. Begitupula untuk kesehatan dan kecantikan.

Setelah itu, kami diarahkan untuk membuat rajutan bambu untuk botol. Hmm, jujur saja, caranya saya lupa. Setengah jam berlalu, saya menyerah. Mata saya tertuju pada hasil kerajinan tangan lainnya yang digantung di halaman pondok workshop. Saya memilih memotret dan bertanya-tanya kepada pengrajin di sana tentang produk mereka.

Jenis kerajinan tangan yang dipamerkan yaitu genjreng, paluk, tampung, gelas bambu, keranjang, tikar, tas, sedotan bambu dan berbagi macam kerajinan tangan lainnya. Ini bisa dipakai sebagai produk ramah lingkungan pengganti berbagai macam produk plastik yang dipakai sehari-hari. Bentuknya unik-unik, bahkan ada yang tak bernama karena disesuaikan dengan kreasi mereka.

Menurut Gede Kresna, saat kita membuat produk dari bahan alami, maka pengrajin menjaga sumber daya alam, dengan itu alam akan menjaga kita. “Misalnya kita bikin gula merah dari pohon aren, maka kita juga menjaga pohon aren untuk menghindari tanah longsor. Pohon aren kan hidup di tebing-tebing,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kerajinan tangan yang dibuat itu disesuaikan dengan sumber daya alam di daerah setempat. “Ya kita harus melihat potensi lokal. Itu demi menjaga keberlangsungan sumber daya alam di sana,” ungkapnya.

Dua jam kemudian, Wulan sahabat saya berhasil merajut bambu yang menghiasi botol itu. Selamat ya, Lan. Rajutan bambu yang membalut botol itu biasanya dibeli oleh penggiat usaha oleh-oleh. Pada saat kami datang, itu bertepatan dengan hari jadi Rumah Intaran yang ke-6. Selain kami, juga banyak rombongan lain yang datang mengikuti workshop itu.

Mengolah Makanan Tradisional

Matahari berada di atas ubun-ubun, kami beristirahat sambil minum santai di meja kayu. Wah, ayam bumbu siap dipanggang tuh! Jujur saja, perut kami lapar. Oh ya, di sana kami disuguhkan minuman asam dan segar. Juga jajanan pasar yang dibungkus daun pisang dengan apik. Tentu saja, di sana tak ada kemasan plastik.

Kami disuguhkan makanan tradisional yang bernilai gizi tinggi. Kenapa? Ya, mereka menyajikan nasi beras merah, sayur urab, ikan, ayam panggang dan telur ayam kampung, tempe, perkedel kentang dan jagung. Semua itu diolah dan dimasak menggunakan cara dan bahan lokal, minyak kelapa bukan sawit dan tentu saja tanpa penyedap rasa tambahan.

Gede Kresna mempersilahkan kami makan duluan karena kami harus segera pulang. Kami pun mengambil ingka beralaskan daun pisang lalu mulai mengambil posisi berbaris. Yummy! Kami melahapnya dengan nikmat. Setelah itu kami pamitan pulang. SMP banget nih alias Setelah Makan Pulang.

Gede Kresna berpesan bahwa untuk hidup ramah lingkungan, maka harus fokus ke diri sendiri dulu, mulai dari membentuk hal-hal sederhana dari desa untuk Indonesia. “Kita mulai mengajak orang, bukan memberitahu orang. Karena ketika kita sudah melakukan, maka mereka mulai mengikuti,” imbuhnya.

Kemudian pertanyaan muncul, bagaimana konsep ini diterapkan ke masyarakat urban? Gede Kresna mengatakan ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu ruang, sisi dan waktu. “Kita bisa memposisikan ini sesuai dengan keinginan. Semuanya balik ke diri masing-masing,” jelasnya singkat.

Pelajaran yang sangat berharga ketika kita bisa menginjakkan kaki di Rumah Intaran. Menjalani hidup ramah lingkungan bisa disesuaikan dengan kemampuan. Kita perlu belajar tentang masa lalu sebagai bahan pelajaran di masa depan.

Sayangnya, kami harus segera pulang karena hari itu bertepatan dengan upacara agama. Namun, karena dalam perjalanan kami melihat banyak pohon durian, maka kami berhenti sejenak membeli dan menikmati durian di salah satu warung pinggiran. Wah asiknya bertamasya di desa! [b]

The post Mempraktikkan Hidup Berkelanjutan di Rumah Intaran appeared first on BaleBengong.

PLTU: Energi Kotor yang Dihasilkan Produksi Listrik Batubara

Oleh: Khairullah Thofu
Pengabdi Bantuan Hukum YLBHI-LBH BALI

Indonesia hanya memiliki 3% cadangan batubara dunia, namun eksplorasi batubara terus menerus dilakukan. Saat ini Indonesia merupakan negara nomor satu pengekspor batubara di dunia. Ironisnya sekitar 20% rakyat Indonesia belum akses terhadap listrik dari negara. Mereka adalah rakyat Indonesia yang tinggal di pedalaman, tempat-tempat terpencil dan ratusan pulau pulau kecil di pelosok nusantara.

Batubara yang dibakar di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) memancarkan sejumlah polutan seperti NOx dan SO3, kontributor utama dalam pembentukan hujan asam dan polusi partikel halus (PM2.5). Masyarakat ilmiah dan medis juga telah mengungkapkan bahaya kesehatan akibat PM2.5 dari emisi udara tersebut. PLTU Batubara juga memancarkan bahan kimia berbahaya dan mematikan seperti merkuri dan arsen. Jelas sangat berbahaya bagi kelanjutan kehidupan masyarakat dan lingkungan, akan tetapi Indonesia justru menargetkan pembangunan PLTU secara besar-besaran untuk memenuhi target pasokan energi listrik sebesar 35 ribu MW pada tahun 2019.

Sementara itu, dengan dampak besar lingkungan yang dihasilkan oleh pembakaran batubara untuk energi listrik  bertentangan dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup (UU PPLH), di dalamnya telah diatur dengan jelas bahwa pembangunan tidak boleh mementingkan kepentingan investor semata. Pembangunan juga wajib mempertimbangkan kehidupan sosial masyarakat, flora dan fauna karena itu sangat berkaitan dengan kelangsungan sebuah kehidupan

Pemerintah daerah Provinsi Bali mengklaim diri sebagai daerah clean and green namun melaksanakan pembangunan PLTU di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng yang telah dan akan dilaksanakan dalam tiga tahap. Kapasitas Tahap I 1 x 380 dan rencana awal Tahap II sebesar 190 MW tapi di tambah kapasitasnya menjadi 2 x330[1] serta masih terdapat kemungkinan penambahan kapasitas.

Bali merupakan tujuan pariwisata dengan karakteristik pariwisata budaya dan alam, seiring dengan fakta itu, pemerintah daerah sebaiknya mempertimbangkan kondisi alam Bali dalam setiap pembangunan. Seperti yang diatur dalam Permen LH No. 5 tahun 2012 tentang jenis rencana usaha atau kegiatan yang wajib Memiliki AMDAL, pembangunan pembangkit listrik tenaga uap yang berbahan dasar batubara wajib memiliki AMDAL. Dan dalam proses AMDAL tersebut peran serta masyarakat sangat penting  mualai dari proses konsultasi publik hingga diterbitkannya izin lingkungan masyarakat harus mengetahui secara jelas mengenai penerbitan dan tujuan dari setiap bentuk usaha yang akan di laksanakan di wilayah mereka[2], hal ini untuk meminimalisir  terjadi nya cacat proseduran dan  penyalahgunaan pemanfaatan lingkungan oleh segelintir orang hanya di dasarkan terhadap kepentingan ekonomi pribadi semata, dan masyarakat mempunyai kewajiban untuk mengkontrol mengawasi dari awal setiap rencana usaha karena lingkungan merupakan Hak Asasi Manusia untuk mendapatkan akses lingkungan bersih,sehat dan nyaman[3]

Saat ini selain di Bali, di Indonesia terdapat puluhan PLTU Batubara tersebar dan beroperasi di Indonesia, melepaskan jutaan ton polusi setiap tahunnya. Dari waktu ke waktu PLTU tersebut mengotori udara kita dengan polutan beracun, termasuk merkuri, timbal, arsenik, kadmium dan partikel halus namun beracun, yang telah menyusup ke dalam paru-paru masyarakat.

Seperti judul di atas, pembangkit listrik dengan bahan dasar batubara sebenarnya mengalami persoalan mulai hulu hingga hilir, dari proses pertambangan sampai pada proses pemindahan PLTU dari kapal dan pengolahannya sehingga menjadi energi listrik.

HULU

Pembebasan lahan menjadi persoalan seiring dengan intensifnya pembangunan batubara secara nasional. Dalam kebijakan percepatan pembangunan ekonomi yang dicanangkan oleh pemerintah hari ini, Pembangunan PLTU menjadi prioritas untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi dan investasi asing ke Indonesia. Sehingga pemerintah kemudian mendorong UU No 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk kepentingan umum digunakan dalam pembangunan PLTU ini dengan skema campur tangan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dalam hal ini adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pemasok tunggal kebutuhan listrik nasional, dan dalam Inpres Nomor 6 tahun 2013 energi listrik termasuk dalam kategori pembangunan, untuk itu artinya pengadaan tanah bisa didorong guna pembebasan lahan dalam setiap pembangunan PLTU yang sangat merugikan masyarakat. Sehingga kemudian terjadi konflik dan gelombang penolakan dari masyarakat atas pembangunan PLTU yang dikarenakan masyarakat merasa dirugikan oleh pembahasan lahan tersebut meskipun terdapat ganti rugi.

Bila kita telaah kembali, ganti rugi tersebut tidak menyelesaikan persoalan dan kelangsungan kehidupan bagi masyarakat yang notabene adalah petani maupun nelayan. Selain itu, pembangunan PLTU membutuhkan sumber air yang begitu banyak sehingga dibangun berdekatan dengan pantai dan mengakibatkan kerusakan ekosistem laut serta pengolahan limbahnya akan menimbulkan dampak kerugian secara ekonomi kepada masyarakat nelayan, misalnya seperti yang terlah terjadi di PLTU Jepara.

Proses pertamabangan batubara atau eksplorasi batubara di banyak daerah mengalami dampak yang luar biasa misalnya di Kalimantan, penambangan batubara menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki terhadap tanah, sumber air, udara dan juga membahayakan kesehatan, keamanan dan penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pertambangan. Menurut studi yang dilakukan Yayasan Hijau Damai Indonesia atau dikenal sebagai Greenpeace Indonesia pada 2014 lalu, sepanjang 3000 km atau sebanyak 45% sungai di Kalimantan Selatan berpotensi tercemar limbah berbahaya dari konsesi tambang. Belum lagi bekas tanah pertambangan tidak bisa lagi difungsikan kegunaannya baik untuk pertanian dan perkebunan karena kualitas tanah sudah tidak lagi produktif untuk dilakukan kegiatan tersebut, dan aliran sungai yang tercemar tesebut sangat berbahaya karena tingkat keasaman air di daerah konsesi lahan pertambangan sangat tinggi, artinya tidak bisa dijadikan konsumsi sehari-hari termasuk pengairan lahan pertanian.

HILIR

Proses pemindahan batubara dari kapal tongkang melalui jety itu seringkali menimbulkan dampak lingkungan terutama banyak batubara yang berjatuhan ke laut dan sangat mengganggu kehidupan ekosistem laut, dengan kandungan batubara yang berbahaya, pada saat proses beroperasi PLTU di berbagai daerah menimbulkan kebisingan dan mengganggu kehidupan masyarakat meskipun dalam peraturan radius area PLTU dan pemukiman warga adalah sejauh 5 km, akan tetapi asam yang ditimbulkan dari produksi batubara itu sendiri berbahaya karena mengikuti arah angin.

Polusi udara adalah pembunuh senyap, menyebabkan 3 juta kematian dini (premature death) di seluruh dunia, dimana pembakaran Batubara adalah salah satu kontributor terbesar polusi ini. Polusi udara menyebabkan peningkatan risiko kanker paru-paru, stroke, penyakit jantung, dan penyakit pernapasan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Harvard Univerity tentang dampak polusi udara PLTU Batubara di Indonesia terhadap kesehatan. Hasil penelitian mengungkap angka estimasi kematian dini akibat PLTU Batubara yang saat ini sudah beroperasi, mencapai sekitar 6.500 jiwa/tahun di Indonesia. Penelitian serupa juga dilakukan di berbagai negara Asia lainnya.

PLTU Batubara adalah mesin penebar maut, PLTU mengeluarkan polusi yang membunuh, meracuni udara,  menyebabkan gangguan kesehatan dan kerugian yang luas untuk pertanian, perikanan, lingkungan, dan perekonomian masyarakat. Partikel-partikel polutan yang sangat berbahaya tersebut, saat ini mengakibatkan kematian dini sekitar 6.500 jiwa pertahun di Indonesia.  menunjukkan penyebab utama dari kematian dini termasuk stroke (2.700), penyakit jantung iskemik (2.300), kanker paru-paru (300), penyakit paru obstruktif kronik (400), serta penyakit pernafasan dan kardiovaskular lainnya (800). Estimasi angka tersebut diperkirakan akan melonjak menjadi sekitar 15.700  jiwa pertahun seiring dengan rencana pembangunan PLTU Batubara baru.[4], Artinya persoalan Batubara ini memeiliki persoalaan yang komplek terhadap keberlanjutan banyak kehidupan di Provinsi Bali. Khususnya di wilayah Celukan Bawang Kabupaten Buleleng yang menjadi lokasi pembangunan PLTU, telah terjadi penurunan kualitas kehidupan masyarakat baik dalam aspek lingkungan sosial, ekonomi maupun kesehatan.

Sebagai wilayah yang secara geografis adalah wilayah celuk maka otomatis ikan menjadi sumber kehidupan di wilayah ini. Sebelum PLTU dibangun di wilayah ini ikan begitu melimpah, satu kelompok nelayan saja pada tahun 2012 saat PLTU masih dalam proses konstruksi mampu menghasilkan 29,297 ton dalam setahun meskipun menurut masyarakat nelayan saat itu sudah terjadi penurunan dibanding sebelum ada konstruksi PLTU Celukan Bawang. Ketika tahun 2015 awal PLTU Celukan Bawang beroperasi hasil tangkapan nelayan turun sangat drastis dan hanya menghasilkan tangkapan sebesar 2,722 ton[5], ketika hasil tangkapan menurun otomatis penghasilan warga yang notabene bergantung kepada laut dan perikanan akan semakin menurun artinya telah terjadi penurunan kualitas kehidupan masyarakat.

Belum lagi dalam aspek pertanian/perkebunan karena mayoritas pertanian ada pada perkebunan di wilayah tersebut yaitu perkebunan kelapa dan hasil catatan warga masyarakat yang memiliki perkebunan kelapa yang ada di tapak operasi PLTU Celukan Bawang yang biasanya dalam setahun bisa panen 4 sampai 6 kali sejak operasi PLTU menurun hanya dalam kisaran 2 kali panen dalam setahun. Di tengah situasi ekonomi yang semakin sulit, persoalan berikut munculnya persoalan kesehatan masyarakat sekitar PLTU terutama anak-anak dan penduduk lanjut usia yang rentan sekali terkenak dampak ISPA yang diakibatkan udara yang kotor dari hasil produksi PLTU batubara. Karena kandungan yang hasil pemakaran batubara itu mengandung merkuri, timbal, arsenik, kadmium dan partikel halus namun beracun, yang sangat Berbahaya terhadap kesehatan masyarakat dalam sebulan warga bisa 6 kali untuk melakukan pemriksaan kesehatan akibat saluaran pernapasan dan ini menambah beban secara ekonomi kepada masyarakat, dengan sejumlah persoalan tersebut apakah pembangunan harus mengamini hak-hak dasar masyarakat untuk mendaptkan akses kesehatan itu, pengelolaan lingkungan seharusnya tidak hanya didasari atas aspek ekonomi saja sehingga pengelolaan lingkungan hanya menguntungkan segelintir kelompok akan tetapi harus mempertimbangkan ada struktur sosial yang sudah mapan yang tidak bisa dirusak hanya atas terminologi kepentingan ekonomi.

Lingkungan harus dibahas secara holistik tidak bisa parsial, karena di dalam lingkungan itu terdapat sendi-sendi kehidupan masyarakat secara luas, flora dan fauna, budaya, sumber penghidupan masyarakat secara umum yang tidak bisa dikorbankan, dan harus dijaga keberadaannya sampai antargenerasi untuk sebuah kehidupan yang berkelanjutan.

 

[1] AMDAL Tahap 1 dan Tahap II untuk Pembangunan PLTU Batubara di Celukan Bawang

[2] Permen LH no 17 tahun 2012 tentang pedoman keterlibatan masyarakat dalam analisis mengenai dampak lingkungan dan penerbitan izin lingkungan serta PP 27 Tahun 2012

[3] UU 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkupan Hidup

[4] Data Greenpeace Indonesia dan Harvard University

[5] Data Pendapatan Kelompok Nelayan

The post PLTU: Energi Kotor yang Dihasilkan Produksi Listrik Batubara appeared first on BaleBengong.

Singgah Sembari Menikmati Kopi Bali di Kubu Alam

Mari mengunjungi salah satu desa budaya Bali Aga di daerah Singaraja, Bali.

Kubu Alam berlokasi di Desa Tigawasa, Singaraja, Buleleng adalah hasil kerja kelompok para petani di Desa Tigawasa yang digarap secara swadaya.

Selain memiliki pemandangan yang indah dengan deretan pohon cengkeh serta kabut tipis yang dingin, Kubu Alam juga menawarkan kopi Bali Robusta dari para petani setempat. Kita bisa berkunjung, menikmati suasana desa, sembari swa foto dari atas terajangan yang terbuat dari bambu.

Kubu Alam merupakan tempat singgah menarik, jika kita sedang bepergian dari Denpasar menuju Singaraja atau sebaliknya. [b]

The post Singgah Sembari Menikmati Kopi Bali di Kubu Alam appeared first on BaleBengong.

Pemuteran Bay Festival, Menjelajah Keindahan Budaya dan Alam Pemuteran

Keramaian manusia berpadu dengan deburan ombak tipis Pantai Teluk Pemuteran.

Malam terakhir Pemutaran Bay Festival 2017 pada Sabtu 16 Desember 2017 dipenuhi manusia. Festival yang berlangsung pada 13 – 16 Desember 2017 di Desa Pemuteran, Gerokgak, Buleleng ini untuk mengeksplor keindahan alam dan budaya di wilayah Pemuteran.

Essay Photo

The post Pemuteran Bay Festival, Menjelajah Keindahan Budaya dan Alam Pemuteran appeared first on BaleBengong.

KTP untuk Kaum Waria, Kenapa Tidak?

Mami Sisca mengabdikan hidupnya memperjuangkan hak para waria. Foto Maria Pankratia.

Seorang polisi menghentikan mobil yang dikendarai Mami Sisca.

Malam itu Mami Sisca menuju Tabanan, Bali. Akan ada kegiatan penting yang harus ia hadiri besok pagi. Dalam perjalanan, sudah hampir masuk kota Tabanan, ia berpapasan dengan polisi. Mereka sedang mengadakan razia surat-surat kelengkapan kendaraan.

Mami Sisca menepi lalu menurunkan kaca mobilnya. Polisi menyapa dengan santun.

“Selamat malam, Bu. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Boleh saya minta KTP, SIM dan STNK-nya untuk diperiksa?”

Mami Sisca mengeluarkan surat-surat yang diminta dan menyerahkannya pada petugas. Sejurus kemudian, sang petugas nampak terkesima ketika melihat KTP Mami Sisca. Ia nampak bingung, kemudian bertanya

“Kok di KTP-nya laki-laki?”

Mami Sisca tersenyum simpul. Dia sudah menduga reaksi ini. Seperti biasa, ia pun menjelaskan sebagaimana yang sudah-sudah.

Malam itu, Mami Sisca berhenti lebih lama dari pengendara lainnya. Dia terlibat obrolan yang jadi sangat panjang dan lebar dengan sang petugas polisi. Tapi tentu saja bukan obrolan serius. Justru hal-hal menarik ngalor ngidul yang terkadang memang suka membuat manusia lupa waktu.

Romantis dan Menggebu-gebu

Demikian Mami Sisca menuturkan salah satu pengalamannya, kurang lebih 26 tahun menjalani hidupnya sebagai seorang transgender, lebih sering disebut wanita pria atau waria.

Di sela-sela kesibukannya menemani para anggota Waria dan Gay Singaraja (Warga’s) mengikuti Voluntary, Conceling and Testing (VCT) HIV dan AIDS di lantai dua Puskesmas Buleleng I, ia dengan senang hati menerima tamu kurang penting seperti saya.

Sejak kecil pemilik nama Sisca Dharmadee ini mengakui, sudah merasakan hal berbeda dalam dirinya. Ia lebih senang bermain bersama anak perempuan daripada laki-laki. Orangtuanya menghabiskan banyak biaya untuk  membawanya pada orang pintar, guru karate bahkan dokter. Mereka ingin Mami Sisca berhenti dari ketertarikannya pada hal-hal beraroma keperempuanan.

Menginjak usia akil baliq, Mami Sisca terlibat cinta segitiga antara sahabat dan ketua kelasnya di SMP. Keduanya laki-laki. Romantis dan menggebu-gebu. Usia 18 tahun, Mami Sisca duduk dan berbicara di hadapan ayahnya. Secara khusus ia memohon agar ayahnya berhenti dari segala usaha membuat Mami Sisca menjadi laki-laki sejati.

“Sudah cukup, Pak. Jangan mau dibohongi sama dukun, orang pintar, dokter-dokter itu. Ngabisin duit percuma. Saya nggak mungkin berubah lagi. Saya adalah saya dan saya menikmati semua ini,” Mami Sisca menirukan kembali apa yang dia sampaikan pada bapaknya saat itu.

“Masih mending saya yang seperti ini daripada seperti anak orang lain. Gila, telanjang di jalanan, atau bikin onar tanpa sebab kaya anak-anak nakal. Toh saya masih sehat dan tidak mengganggu orang lain,” dia melanjutkan.

Pada akhirnya, kedua orangtua Mami Sisca menerima kondisinya dan mendukung apa saja yang ia lakukan.

Para tetangganya pun lambat laun terbiasa dengan penampilan Mami Sisca yang drastis berubah. Mereka sama sekali tidak menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang patut dipermasalahkan, sebagaimana yang sering terjadi.

Warga’s menjadi dukungan bagi waria dan gay di Buleleng. Foto Maria Pankratia.

Pasangan Hidup

Mami Sisca lahir 44 tahun lalu sebagai laki-laki. Sejak 26 tahun lalu dia memutuskan untuk mengubah keseluruhan penampilannya menjadi seorang perempuan. Dua tahun setelah menjadi seorang waria, ia menemukan seorang laki-laki yang hingga kini menjadi pasangan hidupnya. Terhitung sudah 24 tahun, Mami Sisca telah hidup bersama pasangannya. Semua berjalan baik-baik saja.

Mami Sisca memiliki karakter yang tidak biasa. Dia memang menarik perhatian banyak orang sejak pertama bertemu. Ia terbiasa dengan keyakinan diri yang kuat sehingga tidak pernah menyesali semua keputusan yang sudah diambil. Transgender yang sangat gandrung membaca serta bertemu banyak orang ini, pada akhirnya menjadi tumpuan bagi mereka yang membutuhkan media.

Dia orang yang bisa menjadi tempat mengadu dan menyimpan rahasia.

Memang benar, pekerjaan Mami Sisca sehari-hari adalah memenuhi kebutuhan kaum wanita yang ingin terlihat cantik. Dia bisa ditemui di salon kecantikan di Singaraja. Sesekali dia menerima jasa panggilan jika ada yang lebih suka menjalani perawatannya di rumah.

Namun, di kalangan remaja, waria dan lelaki seks dengan lelaki (LSL) di Kabupaten Buleleng, Mami Sisca adalah teman curhat yang dapat diandalkan. Sudah tidak terhitung mereka yang datang meminta bantuan Mami Sisca untuk mengatasi masalah dalam hubungannya dengan kesehatan (Baca: Penyakit Kelamin dan HIV AIDS).

Hampir semua yang menemui Mami Sisca adalah mereka yang tidak berani menceritakan aib sendiri kepada orang lain, termasuk kepada kedua orang tua atau pun sahabat. Mungkin karena itulah, panggilan Mami Sisca disematkan kepadanya.

Ini perihal yang sangat lumrah di Indonesia. Hal tabu bukanlah konsumsi keluarga dan teman-teman, apalagi lingkungan sekitarmu. Kau hanya akan berakhir menjadi remah-remah atau puing-puing serpihan kenangan jika itu sampai terjadi.

Awalnya kepedulian Mami Sisca muncul akibat kegelisahannya melihat teman-teman yang mengalami nasib sama dengannya. Namun, mereka tidak seberuntung Mami Sisca yang medapat dukungan dari keluarga untuk bebas mengaktualisasikan diri sebagai laki-laki dengan orientasi seksual tidak seperti biasanya.

Selain itu, sebagaimana pandangan umum di masyarakat, kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) masih dipandang sebelah mata dan diberi stigma. Mereka senantiasa mengalami diskriminasi, kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan dan tidak diterima di tengah masyarakat.

Beberapa di antara mereka bahkan berkalang tanah akibat depresi, baik karena kehilangan rasa percaya diri maupun juga akibat penyakit yang tidak tertolong karena ketiadaan tempat berbagi.

Garda Depan

Maka pada tahun 1994 bersama enam temannya yang juga Waria, Mami Sisca membentuk Persatuan Waria Singaraja (PWS). Tanggal 21 April 2001, PWS resmi berganti nama menjadi Komunitas Waria dan Gay Singaraja (Warga’s) karena semakin banyak yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya waria, tetapi juga para laki-laki penyuka sesama jenis atau gay.

Terlepas dari kesibukan mereka sehari-hari sebgai individu, anggota Warga’s selalu berusaha tampil di tengah masyarakat melalui perilaku yang baik serta kegiatan yang bermanfaat.

“Jika kamu sering disoroti, kamu juga seharusnya berani balik menyoroti,” demikian keyakinan Mami Sisca ketika memutuskan membentuk komunitas ini.

Hal tersebut menjadi pertimbangan Pemerintah untuk mengajak Warga’s bekerja sama dalam rangka memerangi HIV dan AIDS di Kabupaten Buleleng. Tahun 2004 program tersebut dimulai dan terus berjalan hingga kini. Mami Sisca didukung para anggota Warga’s selalu menjadi garda depan Buleleng untuk memerangi HIV dan AIDS maupun penyakit menular seksual lainnya.

VCT pada Rabu sore (12/07) merupakan salah satu di antara kegiatan rutin Warga’s. Mami Sisca dan Mbok Yasmin selaku pengurus komunitas bersama para petugas lainnya juga aktif turun ke lapangan, dua minggu sekali diadakan razia langsung kepada para anggota Warga’s tentang pemakaian kondom dan cara hidup sehat sebagai kaum transgender.

Sesekali Mami Sisca dan kawan-kawan diundang ke sekolah-sekolah untuk mengadakan penyuluhan bagi siswa/i SMP maupun juga SMA di Buleleng. Warga’s juga ikut ambil bagian pada acara tahunan Kota Singaraja, seperti gerak jalan Hari Pendidikan Nasional dan Pawai Pembangunan.

Tahun 2016 lalu, di bawah naungan LSM Gaya Dewata, Bali dan dengan bantuan dana dari Bank Dunia melalui sebuah program sosial, Warga’s dan Dinas Kesehatan Buleleng menandatangani sebuah kesepakatan (Memorandum of Understanding) agar aktif mensosialisasikan dan mencegah HIV dan AIDS di kabupaten itu. Acara tahunan seperti Ms. Queen Waria of Singaraja digelar demi mendapatkan sosok terbaik yang menjadi duta dari program tersebut.

Mami Sisca terlibat dalam program penanggulangan HIV dan AIDS di Buleleng. Foto Maria Pangkratia.

KTP untuk Kaum Waria

Hingga saat ini, Warga’s terus bergiat melakukan hal-hal bermanfaat. Akan tetapi tak jarang mereka mendapatkan sorotan masyarakat.

Pada Perayaan Hari Pendidikan Nasional tahun 2016 lalu, misalnya. Aksi mereka dikecam karena tampil pada gerak jalan menggunakan seragam sekolah yang dianggap terlalu minim. Mereka dikatakan menunjukan teladan yang kurang baik terhadap para generasi muda.

Sebaliknya, Mami Sisca yang pada akhirnya menanggapi hal itu menyatakan bahwa, itu adalah salah satu bentuk kegelisahan terhadap fenomena anak sekolah zaman sekarang. Mereka suka mengenakan seragam yang kurang pantas bagi seorang siswa/i tanpa alasan yang jelas. Terkadang bolos di jam pelajaran dan ugal-ugalan di jalan.

Namun, mungkin karena yang tampil di gerak jalan ini adalah para waria, maksud yang ingin disampaikan malah terdistraksi dengan stereotip yang terlanjur sudah menempel selama ini. Toh, menurut Mami Sisca lebih banyak warga Buleleng yang mendukung Warga’s: ada sekitar 70% warga Buleleng yang selalu mendukung Warga’s, 30% lagi sepertinya bermuka dua.

“Yah, kalau bertemu terlihat baik, tetapi sebenarnya di belakang mereka membenci kita. Kita bisa rasa kok.” Ujar Mami Sisca

Salah satu pendukung Warga’s tersebut adalah Juliasari, petugas VCT Puskesmas Buleleng I. Saat saya temui di akhir pemeriksaan dia mengungkapkan, pihak Puskesmas dan Pemerintah Kabupaten Buleleng merasa sangat terbantu dengan kehadiran Komunitas Warga’s.

“Jika tidak ada mereka, kita malah tidak tahu bahwa ada banyak anggota masyarakat kita yang sebenarnya sakit dan membutuhkan pertolongan,” katanya.

Menurut Juliasari, bberapa dari mereka kadang datang dengan mengajak pasangannya, teman-temannya, yang memiliki keluhan atau sekedar ingin tahu tentang kondisi kesehatannya. Mereka secara sukarela meminta kepada petugas untuk diperiksa. “Itu sangat sangat membantu kami,” lanjutnya.

Saat ini, ada sekitar 95 Waria dan 160 Gay di Buleleng yang menjadi anggota resmi Warga’s. Pada April 2018 mendatang, posisi Koordinator Mami Sisca akan digantikan Mbok Yasmin. Seorang waria dan wakil koordinator yang, menurut saya, tak kalah kerennya. Mami Sisca menawarkan sebuah konsep yang cukup menarik kepada saya. Jika dalam satu hari terbagi menjadi pagi, siang dan malam, maka para transgender adalah SIANG.

“Kami adalah siang, kaum antara, dan kami memiliki terang yang sebenar-benarnya,” katanya.

Mami Sisca melanjutkan adalah hak setiap individu untuk merasakan hidup seturut apa yang diinginkan. Setiap orang memiliki pilihan untuk menikmati hidup masing-masing dan mendapat bahagia atas itu. Selama mereka melakukan hal yang baik, memberikan kontribusi berharga untuk dunia, tidak ada yang berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain.

Dia menambahkan justru keberagaman gender menjadi hal yang patut disyukuri bersama. Dia berharap semoga ke depan, ada kesetaraan bagi kaum transgender. “Kami tidak pernah meminta untuk dilahirkan seperti ini. Kami berharap untuk diterima dan menjadi bagian dari masyarakat dunia,” harapnya.

Jika demikian, salah satu yang perlu dipertimbangkan pemerintah adalah dengan menambahkan kolom jenis kelamin transgender di KTP transgender. Agar polisi tidak lagi bingung ketika melihat KTP waria seperti Mami Sisca.

Kenapa tidak? [b]

The post KTP untuk Kaum Waria, Kenapa Tidak? appeared first on BaleBengong.