Tag Archives: Buleleng

Gempa Tektonik kembali dirasakan oleh warga Tejakula

kabarportal.com – Malam ini, Sabtu 20 Mei 2017 gempabumi tektonik kembali mengguncang wilayah Buleleng dan dirasakan sekitar Tejakula pada pukul 21.24.36 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempabumi memiliki kekuatan M=2,5, dengan episenter pada koordinat 8,11 LS dan 115,04 BT, Read More ...

Siswa SD Tanam Mangrove di Pantai Putri Menjangan

Sejumlah siswa SD menanam bibit mangrove di Pantai Putri Menjangan, Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng.

Sekitar 80 siswa sekolah dasar (SD) itu terlihat bersemangat.

Mereka ikut menanam bibit mangrove di Pantai Putri Menjangan, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Selasa dua hari lalu. Dengan bimbingan guru-gurunya, menanam bibit mangrove di pantai.

Mereka tidak hirau bahkan senang meski harus berkubang dengan lumpur.

Aksi tanam mangrove ini digagas Natural Concervation Forum (NCF) Putri Menjangan selaku pengelola pantai itu sebagai rangkaian aksi peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April.

Mereka sengaja melibatkan siswa-siswa SD untuk memberikan edukasi tentang pentingnya tanaman mangroves untuk menjaga keseimbangan lingkungan alam.

Selain itu, pada Rabu kemarin, aktivis NCF Putri Menjangan juga memberikan materi pendidikan lingkungan dengan mendatangi sekolah-sekolah dasar di Desa Pejarakan. Selanjutnya pada 22 April mendatang, mereka juga akan kembali melibatkan siswa SD dalam aksi bersih-bersih lingkungan di Labuan Lalang, pelabuhan menuju Pulau Menjangan di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak.

“Kami melibatkan siswa SD ini untuk memberikan pendidikan dan pengenalan lingkungan sejak dini,” kata anggota badan pendiri, NCF Putri Menjangan, Abdul Hari.

Dia melanjutkan materi pendidikan terutama tentang pentingnya mangrove bagi lingkungan, seperti dapat mencegah abrasi, tempat bertelurnya ikan dan lainnya.

NCF Putri Menjangan adalah sebuah komunitas aktivis lingkungan yang mengelola Pantai Putri Menjangan. Di pantai itu mereka berupaya membudidayakan sejumlah jenis mangrove, yang sebelumnya mangrove di pantai itu sudah banyak dibabat warga yang belum paham tentang fungsinya. S

elain rutin menanam bibit mangrove, mereka juga sudah melakukan pembibitan mangrove. [b]

The post Siswa SD Tanam Mangrove di Pantai Putri Menjangan appeared first on BaleBengong.

Danau Buyan Meluap, Petani Rugi Ratusan Juta

Setidaknya 200 petani di Pancasari mengalami kerugian akibat air danau meluap. Foto Anton Muhajir.

Tak ada lagi tanaman stroberi di kebun Gede Sudarsana.

Lahan seluas 3 hektar di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali itu kini terendam air. Sejak sekitar sebulan lalu, lahan ratusan petani di tepi Danau Buyan itu pun tak lagi berfungsi, seperti halnya Gede.

Kebun itu kini lebih serupa rawa-rawa. Tidak ada lagi satu pun sayur atau buah-buahan. Hanya rumput, kangkung, dan enceng gondok di lahan itu. Padahal, kebun itulah sumber pendapatan utama Sudarsana sebelumnya.

Kamis pekan lalu, Gede tak lagi memanen stroberi, komoditas andalannya selama ini. Bersama petani lain, mereka mencari rumput dan kangkung yang kini subur di bekas kebun stroberinya. “Mending cari rumput untuk makanan babi. Sekalian menghilangkan stres. Daripada sakit jiwa gara-gara rugi,” katanya lalu tertawa.

“Mau diapain lagi. Ini sudah biasa terjadi,” tambahnya.

Pancasari termasuk salah satu desa di kawasan Bedugul yang terkenal sbagai pusat produksi sayur mayur maupun stroberi. Di desa ini terdapat Danau Buyan, salah satu dari empat danau di Bali. Namun, sebulan terakhir, air yang meluber telah menghancurkan kebun-kebun di sekitar danau seluas 360 hektar ini.

Akibat kejadian tersebut, bukan hanya lahan Sudarsana yang menjadi korban tapi juga ratusan petani lain, termasuk Nyoman Suardana dan Made Arsana.

Nasib Suardana memang tak seburuk Sudarsana. Dari 65 hektar lahannya, hanya separuh yang terkena luapan air dari Danau Buyan. Setengahnya lagi masih bisa ditanami sayur mayur, seperti selada, mint, dan seledri. Toh, dia mengaku tetap merugi setidanya Rp 10 juta akibat luapan air Danau Buyan tersebut.

“Kerugian paling besar karena pembelian pupuk dan plastik,” katanya.

Menurut Suardana, luapan air Danau Buyan menenggelamkan lahan milik setidaknya 200 petani. Luas lahan maupun kerugian mereka pun beragam. Dari kerugian sekitar 30 are seperti dia hingga 3 hektar seperti yang dialami Sudarsana. Nilai kerugiannya antara Rp 10 juta sampai Rp 70 juta.

Wilayah yang terendam air, setidaknya meliputi tiga banjar yaitu Buyan, Dasong, dan Peken. Wilayah ini semuanya berada di sisi selatan dan timur Danau Buyan. Adapun wilayah di sisi utara langsung berbatasan dengan tebing bukit sehingga tidak ada lahan pertanian sama sekali.

Umumnya, jenis komoditas yang paling mengalami kerugian adalah stroberi. I Made Arsana, petani lain, mengalami kerugian Begitu pula I Made Arsana, petani lain. Dia mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 10 juta. “Saya tidak terlalu rugi karena tanaman saya sudah berumur lebih dari dua tahun. Sudah sering panen. Jadi ongkosnya sudah balik,” katanya,

Dia merasa nasibnya tidak seburuk kakaknya, yang rugi sampai Rp 70 juta. “Tanamannya baru umur tiga bulan. Baru dua kali panen awal dengan hasil seberapa. Eh, sudah keburu kena banjir,” katanya.

Dibandingkan tiga danau lain di Bali, Danau Buyan mengalami sedimentasi paling tinggi. Foto Anton Muhajir.

Pendangkalan
Menurut Suardana, luapan air Danau Buyan yang masuk hingga merusak kebun-kebun petani sudah pernah terjadi sebelumnya. Sekitar lima tahun lalu, lanjutnya, luapan air bahkan sampai di jalan desa yang berjarak sekitar 300 meter dari batas air saat ini.

Tahun ini, meluapnya air hujan terjadi akibat tingginya curah hujan sebulan lalu. Setelah hujan deras berhari-hari saat itu, air kemudian menggenangi lahan-lahan pertanian dan tidak surut sampai sekarang.

Semua petani mengatakan, saat ini Danau Buyan memang mengalami pendangkalan. Sebagai warga setempat yang lahir dan besar di sekitar danau, mereka mengalami perubahan itu. Penyebab pendangkalan itu karena tanah dari bukit di sisi selatan danau kini makin banyak terbawa air terutama saat musim hujan.

“Sekarang kalau hujan, tidak hanya air yang datang tapi juga tanah dari bukit-bukit di atas sana,” kata Suardana.

Alih fungsi lahan dan pergantian komoditas pertanian yang menyebabkan tanah dan air kini langsung terbawa ke danau saat musim hujan. Suardana mengatakan, pada 1990-an, komoditas utama yang ditanam petani di lereng-lereng bukit adalah kopi. Namun, saat ini petani beralih ke tanaman sayur dan stroberi.

Hal tersebut mereka lakukan karena komoditas kopi dianggap kurang menguntungkan secara ekonomi. Tanaman kopi baru menghasilkan setelah berumur setidaknya 2,5 atau 3 tahun. Dalam setahun, dia hanya panen sekali.

Ini berbeda dengan komoditas hortikultura, sepertu sayur mayur dan stroberi. Umumnya, sayuran sudah bisa dipanen pada umur 3-4 bulan. Buah stroberi pun demikian. Dia malah bisa dipanen tiap dua hari sekali hingga umurnya mencapai dua tahun. “Menanam sayur memang lebih capek, tapi lebih banyak dapat uang,” kata Suardana.

Dengan pendapatan dari sayur yang lebih menggoda, petani pun beralih ke sayur. Pohon-pohon kopi di atas bukit kemudian dibabat, menghilangkan tanaman berakar kuat yang biasanya mampu menyimpan air sekaligus menahan tanah. “Ya mau bagaimana lagi. Itu tanah-tanah mereka sendiri ya terserah mau ditanami apa,” ujar Suardana.

Saat ini harga stroberi di tingkat petani mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kg. Tiap panen dua hari sekali, dari lahan seluas 4 are, mereka bisa mendapatkan 20 kg. Dengan asumsi harga rata-rata stroberi Rp 25 ribu per kg, maka tiap panen mereka bisa mendapat Rp 500 ribu dari lahan seluas itu.

Di atas kertas, petani seperti Suardana dengan sekitar 30 are bisa kehilangan pendapatan hingga Rp 3,75 juta tiap panen. Namun, dia mengaku tidak menghitung sejauh sejauh itu kerugian yang mereka alami. “Saya anggap kerugian hanya pada biaya pemupukan dan plastik,” ujarnya.

Petani pun hanya bisa pasrah. Mereka tidak bisa berbuat apapun untuk mengatasi air yang meluap. Tidak juga dengan meminta bantuan ke pemerintah.

Petani beralih ke sayuran karena dianggap lebih cepat menghasilkan. Foto Anton Muhajir.

Eksploitasi
Ni Luh Ketut Kartini, Dosen Program Studi Agro Ekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Udayana mengatakan, pendangkalan di Danau Buyan sebenarnya juga terjadi di tiga danau lain meskipun tidak separah di Buyan. “Dari empat danau di Bali, Danau Buyan memang mengalami sedimentasi paling parah,” katanya.

Dosen yang juga Direktur Bali Organic Association (BOA) itu membenarkan pendapat para petani tentang penyebab pendangkalan. “Sedimentasi Danau Buyan terjadi karena masifnya alih fungsi lahan,” katanya. Selain karena pergantian komoditas dari tanaman umur panjang seperti kopi ke hortikultura termasuk sayur, pembangunan fasilitas wisata seperti vila juga menyebabkan terjadi erosi yang tanahnya menuju danau.

Danau Buyan termasuk salah satu dari empat danau yang ada di Bali. Danau paling luas adalah Batur dengan luas 1.607,5 hektar dan kedalaman 58 meter. Lokasinya di Kabupaten Bangli. Setelah itu ada Danau Beratan di Tabanan seluas 379 hektar dengan kedalaman 35 meter. Danau Buyan dengan luas 360 hektar dan kedalaman 87 meter serta Danau Tamblingan seluas 110 hektar dengan kedalaman 90 meter berada di Kabupaten Buleleng.

Dari empat danau itu, secara fisik memang Danau Buyan terlihat mengalami sedimentasi paling parah.

Menurut Kartini, masalah lain yang dialami danau-danau tersebut adalah pencemaran akibat penggunaan bahan kimia pertanian. “Bukan hanya air yang mengalami eksploitasi untuk kebutuhan irigasi maupun air minum, tapi tanah sekitarnya juga dikapling-kapling untuk bisnis dan pariwisata,” katanya. [b]

The post Danau Buyan Meluap, Petani Rugi Ratusan Juta appeared first on BaleBengong.

Inilah Panduan Melihat Lumba-lumba di Lovina

Untuk mengendalikan banyaknya turis perlu ada panduan melihat lumba-lumba di Lovina. Foto Anggara Mahendra.

Puluhan jukung memecah kesunyian pagi di Pantai Lovina di bagian utara Bali.

Mereka mulai dari sejumlah titik penjemputan turis. Titik-titik lumba-lumba mulai mencari makan dan muncul di permukaan perairan obyek wisata Lovina, Kabupaten Buleleng, Bali.

Sekitar pukul 6.30 WITA, kerumunan jukung sudah berkumpul di titik kumpul populasi lumba-lumba ini. Dari belasan, sekarang mencapai hampir 50 jukung. Suara mesin tempel makin keras dan bersahutan.

Kadang-kadang mesin berhenti menderu. Jukung bergoyang-goyang di lautan. Pengemudi jukung mengarahkan pandangan ke segala penjuru. Mereka konsentrasi menemukan wujud ikan berwarna hitam yang gemar melompat itu.

“Kanan… kanan, Bu. Ayo cepat rekam,” seru seorang pengemudi pada penumpang jukungnya memberitahu kemunculan lumba-lumba.

Teriakan ini segera diketahui jukung lain. Mereka pun mengejar lumba-lumba yang melompat rendah di permukaan. Biasanya terlihat dua ekor lompat bersamaan, kadangkala empat ekor. Mereka terlihat dalam rombongan kecil.

Para penumpang jukung lalu bersemangat. Meminta pengemudi lebih cepat agar tak kehilangan momen memotret si dolphin lebih dekat. Kadang jarak lumba-lumba hampir menyentuh ujung kapal.

Hewan lucu ini lalu menghilang. Tak lagi terlihat lompatannya. Kemudian terlihat lagi di arah yang lebih sepi kerumunan jukung. Lagi, jukung-jukung ngebut ingin mendekati.

Demikian peristiwa ini terjadi berkali-kali selama hampir sejam. Perahu-perahu ini melaju, kemudian menurunkan kecepatan ketika lumba-lumba menghilang. Kemudian segera menderu menghidupkan mesin mengejar mereka.

Sementara di ufuk timur, matahari sudah melewati horizon. Langit memerah dan para turis pencari lumba-lumba masih penasaran untuk menemukan lebih banyak lagi rombongan lumba-lumba.

Wisata menonton lumba-lumba di laut lepas perairan Bali Utara ini tak pernah surut. Disebut-sebut termasuk empat wisata dolphin watching teramai di dunia. Sekitar 100 pengemudi jukung, sebagian nelayan kini sangat menggantungkan penghasilannya pada si lumba-lumba ini.

“Sebenarnya sudah ada imbauan agar jangan terlalu mengejar lumba-lumba biar dia nyaman, tapi penumpang minta kita lebih dekat. Saya dilema,” ujar Mangku, salah seorang pemilik jukung.
Salah satu etika yang dia ketahui adalah jangan membelakangi rombongan lumba-lumba tapi lebih baik melihatnya dari samping perahu. Untuk keselamatan dan memberi ruang bagi aktivitasnya di permukaan.

Tantangan
Wisata pengamatan lumba-lumba di Pantai Lovina, Buleleng sudah berkembang sejak 1987. Namun, masih ada banyak tantangan terutama aspek konservasi, sumber daya ikan, dan pengelolaan wisata yang berkelanjutan.

Karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Dinas Perikanan dan Kelautan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng menyepakati pembutan panduan melihat lumba-lumba atau standar operasional prosedur (SOP) wisata pengamatan lumba-lumba.

“Ada empat kesepakatan di lapangan oleh kelompok pemandu wisata namun belum optimal pelaksanaannya oleh para kapten kapal,” kata Permana Yudiarso, Kepala Seksi Program dan Evaluasi Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar.

Ada empat kesepakatan panduan melihat lumba-lumba ini.

Pertama, kapten kapal tidak memotong jalur berenang lumba-lumba. Kapal harus berenang searah dengan lumba-lumba dan di samping kanan atau kiri lumba-lumba.

Kedua, angkat dan matikan mesin ketika berada dekat lumba-lumba. Ketiga, jaga jarak minimal 50 meter dari sekawanan lumba-lumba.

Keempat, tidak memberi makan lumba-lumba. Jika pengemudi kapal lupa, penumpang atau turis sebaiknya yang mengingatkan.

Selain panduan melihat lumba-lumba, masyarakat juga akan membentuk Kelompok Masyarakat Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan di Lovina. Pokmaswas akan melakukan pengawasan SOP wisata lumba-lumba di lapangan dan melakukan tindakan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Ada juga pendataan seluruh kelompok dan anggota pemandu wisata pengamatan lumba-lumba di Pantai Lovina. “Kelompok dan anggota yang sudah terdaftar (kapten kapal) akan dilakukan pelatihan dan sertifikasi wisata bahari bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Kelautan dan Perikanan,” tambah Permana.

Wacana lain yang muncul adalah pengembangan taman laut untuk mendukung wisata bahari di Pantai Lovina. Belum ada detail soal ini. Tapi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng Nyoman Sutrisna sempat menyebut rencana pembuatan lima rumpon di tengah laut untuk menata wisata melihat lumba-lumba di tengah laut ini.

Wacana ini sudah pernah disampaikan ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Buleleng, Dewa Suardipa. Dia melontarkan wacana membuat semacam rumpon di tengah laut sebagai pusat wisata lumba-lumba di habitatnya. Tujuannya, agar lumba-lumba tak dikejar-kejar jukung pembawa turis.

Ia meyakini membuat semacam rumpon adalah solusinya. Ia berharap industri pariwisata segera mewujudkan alternative cara melihat lumba-lumba ini di laut dengan cara mengajukan ke pemerintah pusat.

“Wacana ini perlu dibicarakan bersama,” tambahnya.

Tak Sesuai Standar
Sementara Putu Liza Kusuma Mustika, peneliti Cetacean dan wisata lumba-lumba Lovina cenderung mendorong pelaksanaan SOP wisata dolphin watching ini untuk memastikan keberlanjutannya. Karena menyangkut kenyamanan lumba-lumba dan kepuasan wisatawan.

Ia menyampaikan sejumlah data dari serial penelitiannya. Code of Practice dari the Australian National Guidelines for Whale and Dolphin Watching (2005) menyebutkan syarat tidak membuntuti atau berada di depan lumba-lumba. Jarak melihat dari samping kiri atau kanan minimal 50 meter.

Namun kondisi berbeda terjadi di Lovina. Diperoleh kesimpulan sekitar 10 m jarak antara jukung terdekat dengan lumba-lumba. Kemudian 25 m rata-rata jarak antara kelima jukung terdekat dengan lumba-lumba.

Lalu ada rata-rata 15 jukung di sekitar lumba-lumba. Jadi setidaknya 1 dari 5 jukung terdekat ngebut atau masuk ke dalam kelompok lumba-lumba. Ini tidak sesuai dengan aturan internasional untuk memastikan lumba-lumba bisa hidup nyaman seperti reproduksi dan istirahat.

“Tidak bisa hanya 1-2 orang kapten kapal yang berperilaku baik. Semua harus sepakat untuk berperilaku yang baik saat berwisata,” Liza memberi catatan penting.

Sebagian lumba-lumba bisa dilihat dengan jukung pada pukul 6-8 pagi walau bisa ada sepanjang hari dan tahun. Sekitar 40 ribu turis ke Lovina tiap tahun. Total pengeluaran langsung sekitar 46 persen pada 2008/2009 (USD 4.1 juta pa). Lalu menurun menjadi 38,5 persen total pengeluaran langsung di 2013 (USD 2.3 juta pa). Sebanyak 38 persen kontribusi industri wisata Lovina terhadap pemasukan lokal.

Pengemudi kapal menetapkan harga mengejar lumba-lumba di Lovina ini rata-rata Rp 75 ribu per orang. Satu perahu berisi antara 4-6 orang. Mereka biasanya kerja sama dengan pengelola hotel atau penginapan tempat turis menginap.

Potensi penghasilan wisata dari cetacean cukup tinggi. Dari catatan Liza, ada 13 juta wisatawan paus dan lumba-lumba pada 2008. Meliputi 3.300 operator dengan 13.200 tenaga kerja berlangsung di 119 negara. Nilai penghasilan dari wisata di laut ini sekitar USD 872 juta dari tiket saja.

Di balik gelimang uangnya, ada lumba-lumba yang terus dikejar-kejar para turis domestik maupun mancanegara. [b]

The post Inilah Panduan Melihat Lumba-lumba di Lovina appeared first on BaleBengong.

Drakula Cengkeh Pangeran Tampan Cendana

Lahan kebun cengkeh di Munduk, Buleleng yang pernah menjadi korban drakula BPPC. Foto Komang Armada.

Cerita petani cengkeh tentang tipu daya di zaman Orde Baru. 

Tahun 1972 sampai 1980-an bisa disebut periode penanaman cengkeh paling marak di desa saya, Munduk, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Desa saya salah pusat komoditas cengkeh di Bali.

Saat itu, orang-orang tak perlu berpikir panjang untuk menyulap sawah atau kebun kopi mereka semata demi tiga nama paling menjanjikan saat itu: Zanzibar, Si Putih dan Sikotok.

Saking mahal, menggiurkan dan tingkat kesulitan mendapatkannya (karena harus didatangkan dari pusat pembibitan di Malang dan Jember), anakan-anakan cengkeh tersebut diperlakukan layaknya pusaka kesayangan.

Mirip bangsawan-bangsawan Jawa memperlakukan keris-keris keramat atau burung perkutut melik yang memiliki katuranggan cemerlang. Dielus. Disingkirkan semua gulma. Ditepiskan semua serangga pengganggu. Dibasahi hati-hati dengan percikan air yang paling lembut.

Cengkeh, masa-masa itu bahkan dipadankan dengan Laksmi, manifestasi Tuhan dalam kosmologi Hindu yang dipercaya sebagai pemilik otoritas tertinggi atas segala sesuatu yang berhubungan dengan kemakmuran.

Benar, semenjak itu pendapatan petani-petani di desa saya membaik, selain pengetahuan tentang metode-metode pertanian modern yang bertambah, tentunya. Istilah intensifikasi pertanian, misalnya, atau diversifikasi lahan – dua istilah yang sekian tahun kemudian baru saya pahami artinya melalui bangku sekolah – kala itu fasih dipaparkan, terutama oleh para penyuluh (PPL) dari dinas perkebunan.

Sampai di sini, segala sesuatunya berjalan baik, ‘toto tentrem landuhing ati’. Kalaupun ada catatan buruk yang bahkan sampai hari ini dilakoni sebagai ritus adalah, mulai periode itu petani-petani di desa saya banyak bersentuhan serta kian massif mempergunakan pupuk kimia pabrikan dari berbagai merk dan jenis di lapangan.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Puncak kematian para petani cengkeh akhirnya tiba juga.

Itu terjadi pada 1990-an saat munculnya sosok drakula bernama BPPC alias Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (dikuatkan dengan Keppres Nomor 20/1992 jo Inpres Nomor 1/1992). Badan usaha bentukan Tommy Soeharto yang selama delapan tahun mengakali alur distribusi cengkeh dari petani ke industri rokok.

Harga cengkeh ambruk ke angka Rp 1.500/kg kering.

Selesai? Belum. Penjualan maksimum dibatasi hanya 25kg/petani/10 hari, itupun dimonopoli oleh “pembeli” satu-satunya: KUD.

Hari-hari ini Pak Tommy, pangeran tampan itu, kembali rajin menampakkan diri ke publik walau dalam misi dan jubah berbeda. Kemunculannya, betapapun saya abaikan, tak urung menghidupkan lagi ingatan saya tentang sosok drakula keji dan serangkaian tahun-tahun kelam mematikan itu.

The post Drakula Cengkeh Pangeran Tampan Cendana appeared first on BaleBengong.