Tag Archives: buku

Membaca Buku (lagi)

Sudah lama saya tak melakoni aktifitas sederhana jaman old di jaman now ini. Bisa jadi karena kesibukan, atau bisa juga karena sudah tak jamannya lagi. Berganti era paperless dimana Buku bacaan sudah beralih ke layar ponsel, dengan segala kemudahan yang ada, menjadikannya tak lagi familiar bagi sebagian generasi milenial di sekitar kami. Ada Tiga Buku […]

‘Sadisme’ Juli Sastrawan dalam Lelaki Kantong Sperma

Sampul buku Lelaki Kantong Sperma karya Juli Sastrawan. Foto Widyartha Suryawan.

Seks barangkali hanya latar bagi menyuguhkan cerita sadistis.

Saya pertama kali bertemu Juli Sastrawan dalam suatu aksi Bali Tolak Reklamasi di Renon pada penghujung 2017. Namun, kami sudah berteman di media sosial sejak cukup lama.

Dalam perkenalan di dunia maya itu, saya mengenal Juli sebagai aktivis gerakan gemar membaca dan pendiri Literasi Anak Bangsa. Juli termasuk manusia langka di Bali. Dia begitu gigih menyebarkan virus-membaca-buku di tengah banjir bandang informasi di platform digital.

Dedikasi Juli terhadap dunia literasi tidak sekadar mengajak anak-anak untuk giat membaca. Dia juga menulis. Ia menulis esai dan karya fiksi.

Baru-baru ini, Juli meluncurkan buku kumpulan cerpen pertamanya yang bertajuk Lelaki Kantong Sperma. Meskipun awam terhadap karya sastra, dan tentunya saya bukan kritikus sastra, saya ingin mencoba mengulas buku yang merangkum sembilan cerpen tersebut. Anggaplah tulisan ini sebagai wujud apresiasi saya terhadap cerpen-cerpen Juli.


Antologi cerpen Lelaki Kantong Sperma dibuka dengan kisah Setia yang bermukim di Rumah Sakit Jiwa. Cerpen pertama ini berjudul Menggiring Belia. Setia, tokoh utama yang dulunya seorang guru PAUD itu, dijebloskan ke RSJ lantaran kepergok telanjang bulat di kamar mandi sekolah bersama muridnya yang mungil.

Setia berusaha menjelaskan bahwa dirinya hanya mengantar anak itu untuk buang air. Namun, tak satupun yang percaya.

Dalam cerpen ini, Juli tidak membiarkan Setia terpojok sebagaimana pandangan orang pada umumnya tentang orang gila. Juli seolah memberi ruang kepada narator untuk pembelaan diri Setia, si gila pedofilia: “…Ia ditafsir gila oleh banyak orang, tapi baginya, orang tersebutlah yang sebenarnya gila. … pada dasarnya memang semua orang di dunia ini gila, cuma yang membedakan hanyalah level gilanya. Ada yang gila ingin membela Tuhan… Ada yang gila membunuh keluarga dan saudara hanya karena warna bendera politik yang berbeda. Dan ada yang gila…”

Cerpen Menggiring Belia cukup berhasil menggiring pembaca untuk merasakan pergulatan batin Setia yang dituduh gila. Suatu hari di RSJ, Setia berencana kabur. Sebelum minggat secara diam-diam, Setia membayangkan dirinya bercinta dengan seorang gadis 13 tahun bernama Belia.

Gadis dengan mata berbinar itu juga penghuni RSJ yang sama dengan Setia. Belia menjalani perawatan karena mengalami rasa cemas dan ketakutan yang mendalam. Ia sempat diperkosa oleh 11 orang pemuda sepulang bermain dari rumah temannya.

Malam saat akan minggat, Setia berencana untuk merasakan tubuh Belia. Diam-diam, dia melangkah ke ruang tempat Belia biasanya berbaring. Tetapi, Juli sang pengarang tidak menampilkan apakah kemudian Setia benar-benar ‘menyetubuhi’ Belia atau tidak. Juli menampilkan bahasa yang agak samar saat kedua tokohnya itu berusaha kabur dari RSJ.

Memang, sebelum mengakhiri cerita ini, Juli menulis: “…Waktu hanya bisa menjawab, betapa ganasnya nafsu seseorang pria berumur tiga puluh tahun yang dianggap gila karena hasrat bercinta yang memuncak.”

Kalimat itu tak cukup untuk meyakinkan pembaca bahwa di luar RSJ Setia benar-benar akan menyetubuhi Belia. Seperti kata Barthes, pengarang telah mati! Bisa saja Setia menaruh cinta yang sesungguhnya, dengan segenap perasaan dan kasih sayang tulus tanpa pretensi nafsu birahi terhadap Belia. Sebab, ending cerpen ini cukup mencengangkan: Belia adalah anak Setia!

Cara Juli mengakhiri cerita dengan sesuatu yang mengejutkan seperti itu juga terasa dalam cerpen keempat berjudul Bipolar. Cerpen ini adalah kisah tentang karma. Ada sisi eksistensial dari seorang anak laki-laki keenam dari sebuah keluarga. Ia bernama Ewa, yang sejak lahir diperlakukan diskriminatif oleh ayahnya. Ayahnya menginginkan anak perempuan, tapi Tuhan memberikan kelamin laki-laki pada tubuh Ewa.

Karena tekanan batin dan terus diperlakukan tidak adil, suatu hari Ewa memilih untuk tinggal bersama laki-laki kenalannya bernama Endru. Keputusan itu diambilnya pada suatu malam saat Endru mabuk. Ia berterus terang menyayangi Ewa yang juga sesama lelaki.

Awalnya Ewa kaget dengan pengakuan Endru. Namun, setelah bercinta dan berhubungan badan dengan Endru, Ewa menjadi sosok yang masokhistis. Ewa mengaku telah mendapatkan kenyamanan yang tak pernah dia dapat di keluarganya. “…Aku lebih memilih tinggal bersama Endru, pria yang mencintaiku sebenar-benarnya dan senyata-nyatanya.”

Serupa Menggiring Belia, Juli mengakhiri Bipolar dengan cara yang nyaris sama: menyudahi cerita dengan hal tak terduga saat konflik sedang enak dinikmati oleh pembaca. Cerita ini berakhir ketika Ewa dikejutkan dengan kabar bahwa ayahnya telah ditahan di Polres. Ia ditangkap seusai kepergok melakukan pesta seks bersama 125 gay lainnya!

Selain itu, cerpen-cerpen Juli juga banyak yang berangkat dari persoalan keluarga para tokohnya yang broken home. Situasi tersebut kemudian menyebabkan guncangan psikologis, baik menyisakan trauma ataupun menjadikan tokohnya sebagai aktor penyimpangan seksual. Hal itu tercermin dalam beberapa cerpen seperti Lelaki Kantong Sperma, Bipolar, Di Ujung Percakapan Kontemporer, dan Parafilia.

Dugaan saya salah. Beberapa ulasan tentang buku ini menyimpulkan kentalnya muatan seksual.

Sebelum membaca antologi cerpen Lelaki Kantong Sperma, saya sempat membayangkan Juli akan membikin pembacanya berfantasi mengenai seks yang nikmat. Tetapi dugaan saya salah. Beberapa ulasan tentang buku ini menyimpulkan kentalnya muatan seksual. Mungkin bisa saja ya. Namun, saya cenderung beranggapan unsur sadisme lebih kuat dalam cerita-cerita Juli.

Seks barangkali hanya menjadi latar bagi Juli untuk menyuguhkan cerita yang sadistis. Saking menggebu-gebunya, beberapa cerpen Juli terkesan terlalu meluap-luap. Misalnya, saya menemukan kata ‘persetan’ dia sebut sebanyak tiga kali; yaitu dalam cerpen Menggiring Belia, Aurat Si Mayat, dan Bipolar. Demikian pula cara Juli menggambarkan kekerasan seksual yang terkesan sangat benderang dan vulgar.

Andai saja Juli membahasakannya dengan metafora atau diksi yang lebih halus, pembaca mungkin tidak akan merasa jijik sehabis melahap satu per satu cerpen dalam antologi ini.

Terlepas dari itu, kita patut bersyukur sebab Juli sudah berusaha membuat karya yang tidak sekadar meletup-letup. Pada cerpen Menggiring Belia dan Aurat Si Mayat, Juli menyebut istilah-istilah medis seperti valdimex diazepam dan nekropsi. Itu menunjukkan dia cukup serius menggarap cerita-ceritanya.

Sekali lagi, selamat untuk kawan saya, Juli Sastrawan! [b]

The post ‘Sadisme’ Juli Sastrawan dalam Lelaki Kantong Sperma appeared first on BaleBengong.

Lelaki Kantong Sperma; Bicara Seks dengan Lugas

Suasana bincang buku Lelaki Kantong Sperma di Rumah Belajar Komunitas Mahima. Foto Dede Mas.

Pukul 21.50 Wita, 4 April 2018, saya menerima pesan di WhatsApp. Saya lihat siapa pengirimnya. Tertulis nama Pegok di pojok kiri atas. Saya sudah menduga, isi pesannya pasti undangan untuk menghadiri peluncuran buku barunya (beberapa waktu sebelumnya, ia sempat membicarakan rencana itu).

Benar saja, sebuah undangan sangat terbuka, yang dikirimkan dengan perasaan senang, saya terima.

Buku yang memuat kumpulan cerpen itu diberi judul Lelaki Kantong Sperma.

“Wih, dari judulnya saja sudah sangat berani. Apalagi isinya,” pikir saya.

Dalam obrolan terpisah, Pegok menyatakan bahwa diusungnya tema seksual dalam cerpen-cerpennya dilatarbelakangi oleh kisah nyata di desanya. Seorang laki-laki yang dianggap gila, berjalan keliling desa dengan memegang kelaminnya. Laki-laki ini tidak pernah malu ketika ada orang yang melihatnya. Bahkan, saat Pegok masih SMA, perilaku laki-laki itu sudah seperti itu.

Berbicara tentang Lelaki Kantong Sperma, tidak sempit pada ranah penciptaan sebuah cerpen semata. Tetapi juga menyinggung perilaku seks dan sisi lain dalam keseharian kita. Hal itu tergambar jelas dari 9 cerpen yang dimuat dalam karya anyar penulis yang memiliki nama asli Putu Juli Sastrawan ini.

“Aku punya konsep bahwa seksualitas itu memang harus dibicarakan. Kita tak perlu lagi malu atau menghamba pada tabu ketika membicarakan seksualitas. Tapi kebanyakan orang orang memang merasakan seakan dunia ini akan kiamat jika membicarakan seks. Padahal seks itu harus dibicarakan, bahkan sedini mungkin,” jelasnya.

Lelaki yang juga aktif sebagai pegiat literasi di @literasianakbangsa itu juga membagikan pengalamannya selama proses penulisan cerita. Menurutnya, tantangan terbesar saat menulis, adalah bagian research. Seperti di salah satu cerpen yang berjudul Aurat Si Mayat. Ia harus mendalami bagaimana karakter pada orang yang memiliki kepuasan tersendiri dalam menikmati hubungan intim dengan mayat.

“Kalau wacananya agak gawat itu disebut Necrophilia,” katanya sambil tertawa.

Selain research, fokus dan bagi waktu dengan pekerjaan yang lain juga ia rasa menjadi tantangan tersendiri.

Setelah melewati rangkaian yang cukup panjang, edit ini dan itu, akhirnya pada tanggal 7 April 2018, Lelaki Kantong Sperma resmi diluncurkan di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah III No. 46 Singaraja, Bali.

Mengenang obrolan saat pertama kali berjumpa dengan Pegok, ia mengaku bahwa semasa di bangku kuliah, dirinya memang aktif juga di Mahima. Menulis, hingga terlibat menjadi tim dalam sebuah produksi pertunjukan.

Nama-nama seperti Putu Supartika, Wulan Dewi Saraswati, dan Jaswanto, malam itu hadir sebagai pembahas yang mengulas Lelaki Kantong Sperma dari berbagai sudut pandang.

Dalam ulasannya, Wulan Dewi Saraswati mengungkapkan bahwa membaca kumpulan cerpen karya Pegok ini, sangat menggugah selera. Menurutnya, Pegok mampu mengangkat tema yang selama ini tabu diperbincangkan menjadi sesuatu yang sewajarnya, dan layak dibicarakan. Bahkan, meskipun tema-tema cerpennya tentang seksualitas, tetapi kumpulan cerpen ini sangat memungkinkan juga untuk dibaca semua kalangan (termasuk anak-anak) dari latar belakang apa pun.

Wulan juga menilik posisi perempuan yang dominan sebagai objek penderita dalam kumpulan cerpen tersebut. Lebih lanjut lagi, penulis kumpulan puisi Seribu Pagi Secangkir Cinta ini mengharapkan bahwa Lelaki Kantong Sperma dapat menjadi semacam obat yang berperan untuk mencegah dan mengurangi kasus kejahatan seksual.

Sementara, menurut Jaswanto yang juga dikenal aktif di pers mahasiswa, cerita-cerita dalam Lelaki Kantong Sperma terasa menghibur. Buku ini juga tidak berusaha menggurui atau pun menyiarkan pesan-pesan bijak layaknya tokoh agama atau semacamnya. Uniknya lagi, cerita-cerita itu dirasa beragam walaupun mengusung satu tema besar, begitu santai dan enak dibaca.

Respon terhadap Lelaki Kantong Sperma tak berhenti pada bincang-bincang dan ulas-mengulas. Acara juga diramaikan dengan beberapa pertunjukan dari kelompok teater seperti Teater Kalangan, Komunitas Mahima, dan Teater Kampus Seribu Jendela. [b]

The post Lelaki Kantong Sperma; Bicara Seks dengan Lugas appeared first on BaleBengong.

“Becoming”, Rangkuman 20 Tahun Perjalanan Galang Kangin

Bagaimana perjalanan 20 tahun Komunitas Galang Kangin?

Menandai 20 tahun perjalanan Komunitas Galang Kangin, pada tahun 2018 ini mereka menerbitkan sebuah buku bertajuk “Becoming”. Buku rangkuman catatan perjalanan komunitas yang berdiri tahun 1996 ini akan dibahas dalam program Pustaka Bentara di Bentara Budaya Bali (BBB) Minggu (8/4) pukul 18.30 WITA.

Buku “Becoming” merangkum berita terkait aktivitas komunitas ini selama kurun waktu 20 tahun, beberapa tulisan kurator pameran, catatan-catatan narasumber terpilih perihal capaian Galang Kangin, termasuk sejumlah kaleidoskop kegiatan.

Adapun diskusi buku kali ini tertaut pula dengan pameran karya terkini mereka yang diselenggarakan di Museum Neka, 25 Februari hingga 24 Maret 2018 lalu. Tampil selaku pembahas Hardiman, pengajar Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha dan I Wayan Setem, dosen Seni Rupa ISI Denpasar.

Kedua narasumber akan membincangkan keberadaan Galang Kangin dibandingkan komunitas-komunitas serupa di Bali atau di tanah air. Termasuk pula problematik yang membayangi sebuah kelompok seni rupa dalam merawat eksistensinya sebagai komunitas di satu sisi, dan capaian individu sebagai seniman dengan karya yang mempribadi di sisi yang lain.

“Becoming ini menunjukan sebuah proses sebagai upaya keluar dari zona nyaman dan terutama memasuki wilayah kesadaran estetik seni masa kini,” ujar Hardiman selaku editor buku serta beberapa kali dipercaya menjadi kurator pameran Galang Kangin.

Dialog akan menghadirkan pula para seniman anggota Komunitas Galang Kangin, antara lain Made Supena, Galung Wiratmaja, dan lain-lain. Mereka sedianya berbagi pengalaman bagaimana mengelola kebersamaan komunitas kreatif dengan berbagai latar anggotanya yang boleh dikata berbeda serta memiliki kecenderungan perkembangan gaya lukisnya masing-masing.

Peristiwa kali ini sekaligus pula menandai upaya komunitas yang tengah mempersiapkan satu pameran retrospektif yang diharapkan dapat mencerminkan dinamika sepanjang 20 tahun ini.

Made Supena mengungkapkan bahwa kehadiran buku “Becoming” sekaligus pameran mereka di Museum Neka sebelumnya mencerminkan eksistensi komunitas ini dalam berkarya. Ia juga menyatakan, sebagai sebuah kelompok seni rupa, Galang Kangin telah melakukan regenerasi sejak lama sebagai upaya mempertahankan keberadaan komunitas ini. [b]

The post “Becoming”, Rangkuman 20 Tahun Perjalanan Galang Kangin appeared first on BaleBengong.

Perpustakaan Kaget Komunitas Perpustakaan Anak Nusantara

Baca buku gratis di Perpustakaan Kaget. Foto Herdian Armandhani.

Tumpukan buku bacaan memenuhi lapangan Renon, Denpasar.

Minggu pagi pada 1 April itu Komunitas Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Regional Bali mengadakan kegiatan Perpustakaan Kaget di areal Lapangan Sebelah Selatan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandhi Renon, Denpasar.

Kegiatan Perpustakaan Kaget ini merupakan kegiatan perdana GPAN Bali yang baru terbentuk beberapa waktu lalu. Kegiatan ini bertepatan dengan aktivitas hari bebas kendaraan bermotor (car free day) di mana beberapa ruas jalan di kawasan tersebut bebas dari mobil ataupun sepeda motor.

Kegiatan Perpustakaan Kaget dibuka dari pukul 06.00 s.d 09.00 WITA. Kegiatan ini menawarkan baca buku gratis di kawasan car free day Renon tanpa dipungut biaya. Para Anggota GPAN Bali membuka perpustakaan kaget dengan menggelar lapak di rerumputan yang sudah digelar dengan karpet.

Pengunjung dapat memilih berbagai jenis buku favorit mereka mulai dari novel karangan penulis terkenal, berbagai jenis komik era 90 an, buku pelajaran anak, hingga buku perkuliahan.

Anak-anak mewarnai di Perpustakaan Kaget. Foto Herdian Armandhani.

Selain menyuguhkan baca buku gratis di kegiatan perpustakaan kaget, Komunitas GPAN Bali juga ada agenda pojok mewarnai bagi anak-anak. Pojok mewarnai mendapat apresiasi luar biasa dari anak-anak yang datang bersama orang tua mereka ketika melintas di lapak perpustakaan kaget.

Anggota Komunitas GPAN Bali menyiapkan pensil warna, crayon, serta pola gambar lucu yang bisa dipilih anak-anak yang ingin mewarnai. Hasil gambar yang telah diwarnai juga dapat dibawa oleh anak-anak yang telah menyelesaikan hasil karya mereka disini. Rata-rata anak-anak yang datang memang menyukai mewarnai dan sering mengikuti kompetisi di sekolah mereka.

Para anggota GPAN Bali lainnya sambil membawa boneka tangan membagikan kartu nama komunitas ini kepada pengunjung kawasan car free day Renon yangs sedang berolahraga atau bersantai di rimbunan pohon teduh. Komunitas GPAN Bali juga menerima donasi buku-buku layak baca dan baru kepada masyarakat yang ingin mendukung kegiatan perpsutakaan kaget GPAN Bali.

Rencananya kegiatan perpustakaan kaget GPAN Bali akan diadakan rutin di car free day Renon.

Ketua GPAN Pusat yaitu Devi Safitry mengatakan bahwa komunitas ini sudah memiliki 17 cabang di seluruh Indonesia.

“Alhamdulilah saat ini GPAN sudah berkembang pesat dan sudah menyebar ke seluruh kawasan di Indonesia,” katanya.

Beberapa cabang GPAN yang sudah aktif melakukan kegiatan perpustakaan keliling yaitu Jember, Probolinggo, Pasuruan, Malang, Surabaya, Lamongan, Yogyakarta, Bandung, Medan, dan Palu.

Devy menjelaskan GPAN awalnya lahir di Kota Malang yang pertama kali dinisiasi oleh alumni Universitas Negeri Malang, Imam Ari Failah.

“Imam terinspirasi dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang salah satu programnya mengadakan penggalangan dana buku gratis di desa dampingan yang miskin buku bacaan,” Devi menceritakan.

Pada tahun 2015 akhirnya Imam Ari Failah beserta kawan-kawannya mengumpulkan donasi buku dan mendirikan taman bacaan. Dari sana pelan-pelan GPAN berhasil berkembang hingga ke saat ini di Kota Denpasar.

Kegiatan terdekat yang diadakan GPAN Bali adalah menghadiri undangan Community Day yang diadakan BEM PM Universitas Udayana pada 8 April 2018 di Lapangan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandhi Renon. GPAN ali akan membuka perpustaakan kaget dan pojok mewarnai.

“Jangan lewatkan untuk mampir ke stand GPAN Bali saat Community Day,” tandasnya menutup perbincangan. [b]

The post Perpustakaan Kaget Komunitas Perpustakaan Anak Nusantara appeared first on BaleBengong.