Tag Archives: buku

Telah Dibuka, Seleksi Penulis Emerging UWRF 2019


Pembacaan Karya oleh Penulis Emerging UWRF 2018. Foto UWRF.

Andakah bintang sastra Indonesia selanjutnya?

Segeralah mendaftar dalam seleksi Penulis Emerging Indonesia untuk Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2019. Seleksi ini merupakan bagian dari sebuah program festival untuk menemukan calon bintang-bintang sastra Indonesia. Pelaksananya Yayasan Mudra Swari Saraswati, lembaga nirlaba yang menaungi UWRF.

Pemilihan pemenang berdasarkan sejumlah kriteria termasuk kualitas karya, prestasi dan konsistensi dalam berkarya, serta dedikasi dalam pengembangan kesusastraan Indonesia.

Seleksi yang ditujukan khusus bagi penulis berkewarganegaraan Indonesia ini memiliki persyaratan umum sebagai berikut:
1) Karya dikirim dalam bentuk dokumen digital (Word atau PDF) yang dapat diunggah melalui http://www.ubudwritersfestival.com/formulir-seleksi-penulis-emerging-2019/

2) Karya yang dikirim merupakan karya asli, bukan saduran, terjemahan, maupun tiruan. Panitia menggunakan piranti lunak untuk memeriksa kemungkinan karya tiruan.

3) Karya yang dikirim merupakan karya fiksi berupa novel, cerita pendek, maupun puisi.

4) Karya yang dikirim merupakan karya yang belum pernah diterbitkan.

5) Karya yang dikirim mencerminkan pergulatan manusia dengan isu-isu sosial, budaya, dan lingkungan.

6) Karya yang dikirim menunjukkan kreativitas dalam penggarapan cerita serta pelukisan karakter

7) Peserta cukup mengirimkan satu karya saja.

8) Panjang maksimal setiap cerita pendek adalah 3.000 kata.

9) Panjang maksimal setiap puisi adalah 300 kata.

10) Panitia memiliki hak untuk menerjemahkan serta menerbitkan karya-karya yang terpilih kedalam antologi tahunan festival.

11) Penulis yang mengikuti seleksi wajib mengisi formulir online yang ada di website UWRF.

Batas akhir untuk pengiriman karya jatuh pada 15 Maret 2019. Nama penulis-penulis yang terpilih akan diumumkan pada akhir bulan Mei 2019.

Seluruh karya yang dikirimkan akan diseleksi oleh Dewan Kurator yang terdiri dari penulis-penulis Indonesia ternama. Nama anggota Dewan Kurator ini akan dirahasiakan hingga pengumuman para penulis yang lolos seleksi.

Para penulis emerging terpilih akan diterbangkan dari kota asal masing-masing ke Ubud, Bali untuk menghadiri UWRF 2019 yang akan diselenggarakan pada 23-27 Oktober mendatang. Para penulis emerging ini akan diundang sebagai pembicara dan berpartisipasi dalam beberapa kegiatan Festival seperti panel diskusi, pembacaan karya, workshop, peluncuran buku, dan lainnya.

Karya-karya terpilih mereka juga akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam buku dwi bahasa Antologi 2019 yang akan diluncurkan di UWRF 2019. Peluncuran Antologi dwi bahasa karya penulis emerging terpilih ini merupakan salah satu komitmen UWRF untuk menghadirkan karya-karya anak bangsa ke hadapan dunia internasional.

Seluruh biaya penerbangan dan akomodasi penulis emerging terpilih selama menghadiri UWRF 2019 akan ditanggung oleh Emerging Writers Patron, yaitu program pendanaan khusus bagi para penulis emerging terpilih.

Sejak diadakan pertama kali pada tahun 2008, Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini telah sukses memperkenalkan penulis-penulis Indonesia ke kancah internasional. Banyak di antara para alumni Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini yang terus konsisten berkarya dan menjadi sosok berpengaruh di dunia sastra Indonesia dan internasional.

Beberapa alumni Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini adalah Aan Mansyur (2009), Kurnia Effendi (2010), Avianti Armand (2011), Aprila R.A Wayar (2012), Bernard Batubara (2013), Faisal Oddang (2014), Norman Erikson Pasaribu (2015), Azri Zakkiyah (2016), Ibe S. Palogai (2017), dan Andre Septiawan (2018).

Emerging adalah istilah yang digunakan oleh UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas tetapi belum memperoleh publikasi memadai. Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini adalah bagian dari komitmen Yayasan Mudra Swari Saraswati untuk mendukung kehidupan masyarakat Indonesia melalui program-program seni dan budaya.

Selain itu, tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk menemukan bakat-bakat sastra dari pelosok Nusantara. [b]

The post Telah Dibuka, Seleksi Penulis Emerging UWRF 2019 appeared first on BaleBengong.

Bali yang Berubah dalam Catatan Ngurah


Antropolog I Ngurah Suryawan hadir dengan karya terkininya.

Setelah menerbitkan sejumlah buku kajian tentang Papua, bertajuk “Mencari Bali yang Berubah”. Buku terbitan Penerbit Basa Basi (2018) tersebut dibincangkan pada program Pustaka Bentara, Sabtu (12/01) di Bentara Budaya Bali (BBB).

Buku “Mencari Bali yang Berubah” terdiri dari delapan bab yang bagian awal atau versi awalnya telah diterbitkan dalam buku atau artikel jurnal. Keseluruhan bab dalam buku ini dibingkai oleh tema besar tentang politik kebudayaan Bali. Cikal bakalnya adalah sebuah imajinasi tentang Bali, yang menurut Ngurah, dibangun berdasarkan konstruksi (bentukan) yang sangat kolonialistik.

Tampil sebagai pembahas yakni penulis Oka Rusmini dan sastrawan sekaligus akademisi Kadek Sonia Piscayanti. Diskusi yang dimoderatori Made Sujaya ini tampak dihadiri pula sejumlah tokoh dan pemerhati kebudayaan Bali, antara lain: dr. Ayu Bulantrisna Djelantik, Gde Aryantha Soethama, Abu Bakar, budawayan asal Prancis yang lama bermukim di Bali, Jean Couteau, hingga Konsul Kehormatan Italia di Denpasar, Pino Cofessa.

Sebagaimana pendapat Gde Aryantha Soethama dalam pengantar buku, kajian Suryawan perihal dinamika sosial kultural Bali modern bermuara pada dua gugusan besar. Pertama adalah golongan yang selalu bimbang pada kelangsungan Bali, yang meyakni Bali akan redup, bahkan pada akhirnya tinggal sejarah.

Gugus kedua adalah mereka yang selalu yakin Bali akan tetap Bali. Mereka optimis perubahan-perubahan yang terjadi di Bali cuma permukaan saja, tidak menyentuh inti. Bali diyakini memiliki benteng sosial kultural yang tangguh, ketaatan warganya pada tradisi memperteguh keyakinan itu. Nada optimis ini sejalan dengan keyakinan bahwa masyarakat Bali akan sanggup beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.

Pada dialog tersebut, Oka Rusmini bukan saja mendedahkan isi buku bab per bab, tetapi juga menambahkan pernyataan Gde Aryantha dan menawarkan gugus ketiga manusia Bali kini, yang disebutnya golongan “Bali Baru”.

“Sebagai orang yang sehari-hari menjalani hidup sebagai orang Bali, menulis dan bekerja di media, saya benar-benar memotret kejadian-kejadian di Bali dan saya merasa ada golongan Bali Baru, yaitu (angkatan seusia) anak-anak saya, yang mereka tidak peduli. Misalnya, mengapa harus susah-susah membuat banten, ‘kan sekarang ada swalayan. Ada mekanisme kepraktisan modern,” ujar Oka Rusmini.

Sementara itu, Sonia Piscayanti lebih banyak mengulas dari sudut pandang metodologi penulis. Menurutnya Ngurah Suryawan selalu menceritakan dari perspektif kaum minoritas. Sebagai peneliti, Ngurah Suryawan konsisten mengambil perspektif postcolonialism subaltern, karena dari kalangan minoritaslah suara-suara itu dibangkitkan.

“Pendekatan Ngurah untuk persoalan kebudayaan adalah mikropolitik. Dari kisah-kisah subaltern, kita mendapatkan gambaran bahwa penguasa sejarah nyang selama ini didominasi kalangan atas kini bergeser menjadi kelompok subaltern,” ungkap dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.

Sonia juga mengungkapkan bahwa buku “Mencari Bali yang Berubah” tidak lagi meledak-ledak. Sudah lebih reflektif dibandingkan buku Suryawan yang ditulis sebelumnya, yaitu “Genealogi Kekerasan dan Pergolakan Subaltern di Kabupaten Buleleng Bali”.

Ikatan Emosi

Kedua pembicara juga sepakat berharap agar Ngurah Suryawan dapat membuat buku yang lebih detail di masa mendatang. “Yang paling pokok, saya kira melalui diskusi tentang buku ini adalah untuk mengisi kekosongan narasi global,” tambah Oka Rusmini.

“Semoga buku ini bisa menjadi titik berangkat saya untuk bisa lebih mendalami lagi soal Bali. Karena setelah 2010 saya mulai meriset tentang Papua, dan praktis ikatan emosi saya dengan Bali tidak ada sama sekali. Saya merasa harus memelihara ikatan emosi saya dengan Bali,” kata Ngurah Suryawan.

Ia juga mengungkapkan bahwa penting bagi anak-anak muda Bali untuk lebih reflektif. “Saya memutuskan ke Papua hanya karena ingin tahu dunia saya ini bukan hanya Bali. Penting bagi kita di republik ini untuk belajar menjadi orang lain. Agar horizon pemikiran kita sebagai manusia lebih luas, agar kita tidak lagi diadu domba, tidak lagi tersekat-sekat. Karena itulah persoalan kita saat ini,” ungkap I Ngurah Suryawan.

“Saat ini saya berusaha meriset daerah-daerah Bali Kuno dan saya melihat satu kekosongan studi teks tentang Bali. Kita selalu bicara data empiris kontemporer, fenomena kekinian, Bali Baru, tetapi kita lupa, teks Bali kuno menyimpan pengetahuan luar biasa. Teks Bali kuno itu perlu dipelajari agar kita punya fondasi yang kuat. Mari saling menginspirasi, saling bertukar ide dan gagasan. Karena Bali memerlukan kelompok-kelompok yang gelisah dan kelompok terus mencari. Dan itu tidak akan dikekang apapun,” pungkas Suryawan.

I Ngurah Suryawan merupakan alumnus Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali (2006) dan menyelesaikan Magister di Program Magister Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana (2009). Pendidikan Doktor diselesaikan di Program Ilmu-ilmu Humaniora (Antropologi) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (2015).

Ngurah memulai penelitian pascadoktoral dari tahun 2016-2017 tentang ekologi budaya orang Marori dan Kanum di Merauke, Papua dalam skema ELDP (Endangered Languages Documentation Programme) dan Australian National University (ANU). Dia menjadi peneliti tamu di KITLV (Koninklijk Instituut voor taal-, Land- en Volkenkunde), Universiteit Leiden 2017 – 2018 untuk menulis penelitiannya tentang terbentuknya elit kelas menengah di pedalaman Papua.

Bukunya tentang Papua di antaranya adalah Jiwa yang Patah (2014), Mencari Sang Kejora: Fragmen-Fragmen Etnografi (2015), Papua Versus Papua: Perpecahan dan Perubahan Budaya (2017), Suara-Suara yang Dicampakkan: Melawan Budaya Bisu (2017), Ruang Hidup yang Redup: Gegar Ekologi Orang Marori dan Kanum di Merauke, Papua (2018), Kitong Pu Mimpi: Antropologisasi dan Transformasi Rakyat Papua (2018), Mencari Bali yang Berubah (2018). [b]

The post Bali yang Berubah dalam Catatan Ngurah appeared first on BaleBengong.

Karena Membaca Buku Tak Harus Buru-buru

“Bikin target baca, dong, tahun depan.“ Nike, teman blogger, memberikan saran demikian. Sebagai kupu-kupu, eh, kutu buku, si mbak ini memang rajin memuat target membaca buku tiap tahun. Selama 2018, dia bahkan sudah melampaui targetnya, 137 buku. Seratus tiga puluh tujuh buku dalam setahun. Artinya satu buku rata-data dibaca tak sampai tiga hari. Menakjubkan! Keberhasilan Continue Reading

IIBF 2018 Hadirkan Literasi dan Kebudayaan 17 Negara

Creative Work Towards the Culture of Literacy.

Begitulah tema Indonesia lntemational Book Fair (llBF) 2018 tahun ini. Kegiatan ini diharapkan menjadi market hub untuk industri perbukuan di pasar global. Puluhan penerbit dari 17 negara ini menghadirkan lebih dari 100 program unruk penerbit. penulis dan masyarakat umum.

Ikatan Penerbit lndonesia (IKAPI) didukung oleh Badan Kreatif Indonesia (Bekrat) kembali menggelar lndonesia lntemational Book Fair (llBF) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC) pada 12 – 16 September 2018. Pameran buku bertaraf intemasional ini diikuti oleh puluhan penerbit dari 17 negara.

Negara-negara yang berpartisipasi dalam pameran ini adalah lndonesia, Arab Saudi, Australia. Inggris, China, Maroko, India. Jepang, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Mesir, Turki, Singapura, Uni Emirat Arab, Thailand, Tunisia. Kedutaan besar dan penerbit dari luar negeri akan menempati areal Plennary Hall, sedangkan penerbit dan peserta pameran lain akan menempati Cendrawasih Room dan areal luar di depan Plennary Hall.

Di tahun ke-37 penyelenggaraannya, lKAPl menargetkan sedikitnya 120 ribu pengunjung datang ke pameran yang dibuka gratis untuk umum ini. Lebih dari 100 acara dengan tema literasi. pendidikan dan kebudayaan siap memeriahkan perhelatan llBF 2018, mulai dari lomba untuk sekolah. wisata literasi untuk para pelajar, seminar, talkshow, peluncuran buku, lndonesia Right Fair, Bursa Naskah, dan temu penulis.

Kegiatan yang d igelar bergantian selama pameran itu diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung. Selain itu, setiap pengunjung yang datang ke pameran bisa membeli buku dengan harga supermurah dengan diskon mulai dari 50 sampai 80 persen di Zona Kalap. Mereka juga berkesempatan memenangkan paket Grand Prizes Haji Kerajaan Arab Saudi yang diundi setiap hari oleh Kedutaan Besar Arab Saudi.

Naik Kelas

Mengambil tema “Creative Work Towards the Culture of Literacy”, llBF 2018 diharapkan dapat menjadi market hub perbukuan internasional untuk para penerbit yang ingin melebarkan sayap bisnis dengan menyasar pangsa pasar global. “Saat ini, di tingkat global, banyak yang ingin tahu Indonesia dan sangat antusias hadir di sini. Apalagi setelah Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015,“ kata Ketua Umum lkatan Penerbit lndonesia (IKAPI) Rosidayati Rozalina.

Tantangannya, lanjut Ida, adalah bagaimana pemerintah dapat memfasilitasi program-program yang dapat meningkatkan industri perbukuan di tingkat global, antara lain melalui penyelenggaraan pameran tingkat dunia seperti llBF ini.

Merespon adanya potensi besar di industri ini, Bekraf sejak dua tahun terakhir hadir memberikan dukungan penuh untuk penyelenggaraan llBF. [b]

The post IIBF 2018 Hadirkan Literasi dan Kebudayaan 17 Negara appeared first on BaleBengong.

Atavisme dalam Dua Buku Cerpen Penulis Muda

Dua buku cerpen Adnyana Ole dan Juli Sastrawan. Foto Angga Wijaya.

Dua sastrawan muda menghadirkan kembali hal-hal klasik di Bali.

Balai Bahasa Provinsi Bali menggelar bedah buku dua penulis muda Bali pada Selasa, 21 Agustus 2018, lalu. Diskusi bertempat di aula Balai Bahasa Provinsi Bali, Jalan Trengguli I No. 20, Penatih, Denpasar.

Dua buku yang dibedah adalah buku kumpulan cerita pendek “Gadis Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” karya Made Adnyana Ole dan “Lelaki Kantong Sperma” karya I Gede Agus Juli Sastrawan. Prof. I Nyoman Darma Putra, guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana tampil sebagai pembedah karya dipandu penulis dan aktivis sastra Wayan Jengki Sunarta.

Dalam penyampaiannya Darma Putra melihat kesamaan pada kedua buku kumpulan cerita pendek tersebut, yakni atavisme atau pencarian sesuatu yang klasik atau purba untuk ditampilkan kembali pada karya sastra.

“Atavisme pada karya Made Adnyana Ole terletak pada mitos-mitos di Bali yang ditulis kembali, sedangkan pada karya Sastrawan bisa dilihat pada penggalan surat dan pesan WA di cerpen-cerpennya,” ujarnya.

Istilah atavisme sebenarnya bukan hal baru. Pada 1971 sastrawan Subagio Sastrowardoyo pertama kali memperkenalkan istilah tersebut dalam buku ‘Bakat Alam dan Intelektualitas’ pada bab ‘Atavisme dalam Sajak’ (1969) untuk menyebut munculnya kembali ciri-ciri lama yaitu purba dan primitif yang sebelumnya sempat terpendam, misalnya ciri pantun dalam puisi modern.

Penting Dibicarakan

Darma Putra menyebut alasan mengapa atavisme penting dibicarakan dalam khasanah sastra.

Pertama, esensi karya sastra adalah kreativitas. Sastrawan berusaha keras untuk orisinal, inovatif, mencari identitas, dan tabu jadi epigon.

Kedua, atavisme merupakan fakta dalam dunia sastra. Perkembangan sastra bukanlah aliran yang patah tetapi sambung-sinambung dalam kerangka sistem sastra.

Ketiga, pemunculan ciri lama, purba, klasik adalah apresiasi atas kekayaan warisan sastra. Beda dengan poin pertama, pemanfaatan atavisme adalah kekaguman atas ciri purba karya sastra.

Sebagai alat analisis, atavisme lebih banyak digunakan dalam mengkaji puisi, walaupun gejala atavisme terdapat dalam prosa pun drama. Dengan atavisme sebagai alat analisis terbuka menyusun kritik inovatif. Walaupun atavisme jarang dipakai. Mungkin karena popularitas teori lain yang menjadi payungnya yakni intertekstualitas.

Buku cerpen “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” karya Made Adnyana Ole berisi sembilan cerpen dengan tema beragam, seperti masalah pariwisata, dilema humanistik politik 1965, mitos-mitos budaya Bali yang disampaikan dengan gaya realis, absurd, ironis bahkan humor.

“Atavisme dalam kumpulan cerpen ini lebih longgar tampak dalam setidaknya dua mitos: mitos politik dan mistik,” katanya.

Atavisme mitos politik muncul dalam cerita dengan tema atau latar politik anti-komunisme dari peristiwa 1965. Cerita ‘Men Suka’ paling kental, total, dan sebagai latar-sentuh dalam cerpen ‘Gede Juta’, ‘Siat Wengi’, dan ‘Darah Pembasuh Luka’. Atavisme mitos mistik muncul dalam cerita ‘Siat Wengi’ dan ‘Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci’.

Tema Seksualitas

Adapun buku kumpulan cerpen “Lelaki Kantong Sperma” karya Juli Sastrawan yang juga berisi sembilan cerpen didominasi tema seksualitas seperti homoseksualitas, korban seksual dan lain-lain dengan gaya realis, semi-absurd dan serius. Atavisme yang menonjol dalam cerpen-cerpen Juli adalah atavisme espitolari yaitu teknik penulisan prosa dengan menyisipkan surat atau dokumen.

Genre epistolari popular abad ke-18 dalam sastra Inggris dan Jerman. Novel awal Indonesia seperti Siti Nurbaya dan Student Hijo berisi sisipan surat. Epistolari muncul kembali dalam WA, dan banyak cerpen dewasa ini mengandung WA atau SMS.

“Cerpen ‘Di Ujung Percakapan Kontemporer’ misalnya, ada banyak WA dan diakhiri dengan surat. Epistolari penanda atavisme dalam cerpen ini. Juga beberapa cerpen “Percakapan Sembilan Pencarian”. Pada Cerpen ‘Laki-laki Kantong Sperma’ mengutip lagu Michael Learns to Rock ‘That’s Why (You Go Away).

“Entah apa istilah untuk lirik lagu masuk ke prosa, tapi ini juga ciri purba prosa yang berasal dari opera atau film India,” kata Darma Putra.

Ia menekankan, karya sastra tidak serta merta bermutu atau tidak bermutu hanya karena ada dengan ada atau tanpa atavisme.

“Mutu karya sastra ditentukan inovasi yang tercermin lewat orisinalitas kisah, isi, tema dan motif, serta orisinalitas bentuk misalnya struktur dan alur. Selain itu, inovasi style dan bahasa serta target pembaca atau “implied reader”, dan terakhir adalah agensi,” pungkasnya.

Seribu Tafsir

Terbitnya dua buku cerpen ini menandakan gairah kepenulisan yang tinggi dari penulis kontemporer Bali. Cerpen-cerpen dalam dua buku ini telah sampai ke tangan pembaca dan bebas untuk ditafsirkan, yang bisa jadi memiliki seribu tafsir berbeda, tergantung dari pembaca.

Selain itu, kehadiran kedua buku cerpen ini memberi kemungkinan baru akan tema dan teknis menulis cerpen. Walau tema seksualitas telah banyak digarap penulis perempuan seperti Djenar Maesa Ayu, yang barang tentu berbeda ketika ditulis dari pandangan laki-laki seperti Juli Sastrawan yang banyak mengangkat tema sama pada karyanya.

Juga tema peristiwa 1965 yang ditulis oleh Made Adnyana Ole tentu berbeda ketika dibandingkan dengan cerpen-cerpen Martin Aleida atau Putu Oka Sukanta yang notabena mengalami langsung dan menjadi tahanan politik akibat peristiwa tersebut. Sebagai “orang luar”, Ole menuliskan kembali apa yang pernah terjadi di sekitarnya yang ia dengar dari penuturan keluarga dan warga kampung tentang peristiwa 1965. Dua hal yang berbeda, tentunya.

Kemungkinan-kemungkinan baru pada cerpen penulis Bali dewasa ini menurut saya akan terus lahir dan memperkaya khazanah sastra Indonesia. Selamat untuk Ole dan Juli! [b]

The post Atavisme dalam Dua Buku Cerpen Penulis Muda appeared first on BaleBengong.