Tag Archives: buku

Curhatan Satire dan Getir ala Men Coblong

November 2017. Tumben Mbok Oka Rusmini hadir di agenda BaleBengong. Ketika itu, kami sedang mengadakan Malam Anugerah Jurnalisme Warga (AJW). Ini agenda kami tiap tahun sejak 2016. Tujuannya mengapresiasi karya-karya di media jurnalisme warga. Malam AJW kami isi dengan makan-makan, diskusi, dan pengumuman penerima AJW. Mbok Okarus, panggilan akrabnya, datang bersama anak laki-laki semata wayangnya. Continue Reading

Oka Rusmini Lahirkan Buku Kembar Buncing

Bedah buku Men Coblong dan Koplak di Bentara Budaya Bali, Minggu (14/7/2019). Foto Bentara Budaya Bali.

Keduanya menyentil isu aktual di Bali dalam esai.

Setelah melalui proses dan pergulatan panjang, sastrawan Oka Rusmini melahirkan anak-anak rohaninya, “Koplak” dan “Men Coblong”. Dua buku kembar ini dibedah pada Minggu (14/7/2019) di Bentara Budaya Bali (BBB).

Oka Rusmini menyebut kedua bukunya ini kembar buncing. Istilah ini merujuk pada anak kembar berbeda kelamin di Bali.

Buku “Koplak” dan “Men Coblong” diterbitkan bersamaan oleh Penerbit Grasindo (2019). Melalui buku “Men Coblong” Oka Rusmini menawarkan ragam bentuk tulisan baru, kreatif, semacam perpaduan antara kemampuan bertutur ala cerpen, argumentatif cerdas esai dan kepaduan tematik kolom.

Tokoh Men Coblong, seorang wanita paruh baya dengan seorang anak lelaki, menyerukan tanggapannya, kritik, serta bernada sindiran seputar sensitivitas terkait agama, budaya, politik, bahkan kehidupan sehari hari. Esai ini sebelumnya terbit di Bali Post, media tempat Oka bekerja, lalu dilanjut di BaleBengong sejak tahun lalu.

Adapun “Koplak” merupakan serial dengan tokoh utama I Putu Koplak, seorang lelaki koplak yang memandang beragam persoalan hidup secara karikatural. Tulisan ini terbit di Tatkala.

Jurnalis Anton Muhajir mengulas buku “Men Coblong”. Sastrawan Made Adnyana Ole memberikan bacaannya tentang “Koplak”. I Made Sujaya, dosen dan jurnalis, memandu diskusi.

Anton menyebutkan bahwa di tengah dominasi penulis laki-laki, Men Coblong hadir menawarkan sudut pandang ibu-ibu dan perempuan yang lebih feminim. Di tengah banjir informasi abal-abal, Men Coblong menyajikan cerita untuk menjadi refleksi, getir di dalam satire seraya menggugat fakta dalam balutan fiksi.

Kolom Men Coblong mulanya terbit di harian Bali Post sejak 2013 dan berhenti pada tahun 2017. Lalu sejak Januari 2018, tulisan-tulisan Men Coblong mulai “lahir kembali” di Balebengong.id.

Catatan-catatan Oka Rusmini dalam buku Men Coblong ini terkait hal-hal aktual. Beliau banyak membahas posisinya sebagai warga kota.

“Ini tetaplah kumpulan esai, kumpulan tulisan dan bukan sebuah buku (kajian) yang mendalam, namun masih tetap relevan,“ ungkap Anton Muhajir.

Koplak

Sejarah serial Koplak juga sejalan, ditulis dan diterbitkan pertama kali berupa cerpen di Bali Post Minggu pada 2016. Kemudian beralih ke tatkala.co pada 2018.

“Dari cerita yang ditulis itu, Oka tampak punya konsep amat jelas mengenai alasan cerita itu ditulis, dan alasan tokoh utamanya harus bernama Koplak,“ kata Made Adnyana Ole.

Koplak adalah seorang duda yang menjabat kepala desa, serta memiliki seorang anak gadis berusia 21 tahun yang berprofesi sebagai pengusaha muda. Tidak seperti kebanyakan penguasa lainnya yang cenderung sibuk dengan penampilan, Koplak hadir sebagai tokoh yang santun, jauh dari angkuh, serta hangat dan guyub sebagaimana umumnya masyarakat yang tinggal di pedusunan.

Sebagai tokoh yang memimpin sebuah desa, Koplak tak lepas dari gunjingan perihal kehidupan kesehariannya, berikut kisah kasih istrinya yang telah meninggal, di tengah kegigihannya berjuang memajukan desanya.

Oka Rusmini menceritakan proses lahirnya dua anak kembar buncing ini. Masalah-masalah dan benturan-benturan dengan masyarakat Bali sendiri membuatnya menulis Men Coblong. Namun, setelah dia membuat Men Coblong, muncul lagi kritik, ‘memangnya hanya perempuan saja yang bisa menyelesaikan semua persoalan?’.

“Nah, dari sana kemudian lahirlah Koplak. Ia seorang laki-laki yang ditinggal mati istrinya ketika melahirkan putri semata wayang mereka, di situ saya ingin menunjukkan bahwa laki-laki juga bisa menjadi feminis,“ ungkap Oka Rusmini.

Apresiasi

Oka Rusmini telah menulis puisi, novel ,esai dan cerita pendek sedari remaja. Ia memperoleh banyak penghargaan, antara lain: Penghargaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa , Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2003 dan 2012), Anugerah Sastra Tantular, Balai Bahasa Denpasar Provinsi Bali (2012). Southeast Asian (SEA) Write Award, dari pemerintah Thailand (2012) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (2013/2014).

Tahun 2017, ia terpilih sebagai Ikon Berprestasi Indonesia Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila kategori Seni dan Budaya dari Pemerintah Republik Indonesia. Bukunya yang telah terbit: Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Akar Pule (2012), Pandora (2008), Tempurung (2010), Saiban (2014), Men Coblong (2019), dan Koplak (2019) .

Turut memaknai diskusi buku ini ditampilkan pula pembacaan nukilan oleh Wayan Jengki Sunarta dan Ayu Winastri.

Peluncuran “Koplak” dan “Men Coblong” dihadiri pula sejumlah tokoh dan budayawan, di antaranya Pande Wayan Suteja Neka serta Wicaksono Adi yang memberi apresiasi atas kelahiran buku terkini Oka Rusmini.

Wicaksono Adi, penulis seni budaya dan seorang kurator, mengungkapkan bahwa kedua buku ini, Koplak dan Men Coblong, layak untuk dibaca. Melalui kedua buku tersebut, sang penulis sedang membuat komentar terhadap segala sesuatu yang terjadi baik di Bali maupun Indonesia umumnya, dengan membuat perspektif atau cara pendang yang berbeda.

“Di sini Oka menulis dengan mengangkat perspektif melihat suatu situasi dari atas. Jadi dia memandang persoalan secara netral, “ ungkap Wicaksono Adi. [b]

The post Oka Rusmini Lahirkan Buku Kembar Buncing appeared first on BaleBengong.

Buku Bercerita, Ya! Bercerita tentang Buku

Sesi Buku adalah Nyawa dalam rangkaian Pesta Baca Taman Kesiman hadir empat kali.

Pada hari pertama sore hari, diskusi menghadirkan Marmar Herayukti dengan buku Waktu, Kala, & Kematian karya IBM Dharma Palguna. Pembicara lain Lisa Ismiandewi dengan buku Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer.

Ngurah Termana memandu sesi pada Rabu, 1 Mei 2019 pukul 16.00-18.00 WITA ini.

Diskusi kedua pada hari kedua hadir Windu Segara Senet yang membahas buku Strawbarry Generation karya Rhenald Kasali. Selain Windu ada pula Ni Putu Candra Dewi yang bercerita tentang buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia karya Yuval Noah Harari.

Moderator diskusi pada malam pertama ini adalah Luh De Suriyani.

Pada hari kedua di sesi pertama ada Sasvitri Sastrawan dengan buku Arsipelago karya Farah Wardani & Yoshi Fajar K. Kurator seni ini hadir bersama seorang guru, Ady Apriyanta Parma yang berbicara tentang Summer Hill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan karya Alexander S. Neill.

Intan Paramitha menjadi moderator sesi sore hari ini.

Sesi terakhir pada Kamis, 2 Mei 2019 pukul 16.00-18.00 WITA, menghadirkan JRX yang membahas buku 1984 karya Georgo Orwell dan Mami Sisca Sena D. yang bercerita tentang buku Bumi Manusia karya karya Pramoedya Ananta Toer.

Roberto Hutabarat memandu diskusi terakhir ini.

Dikemas Apik

Buku adalah nyawa merupakan tajuk utama pesta baca yang diadakan dalam rangka ulang tahun Taman Baca Kesiman (TBK), Denpasar. Acara yang dikemas secara apik memberi ruang kepada para penikmat buku, penikmat musik, serta masyarakat umum menjadikan pesta ini syarat akan makna.

Tak semata buku, ada pula pameran bertema kaos keos art. Tema ini sebagai ungkapan akan kegelisahan tentang Bali hari ini. Ada pula sobyah budaya dari adik Pramoedya Ananta Tour, Soesilo Toer yang mengawali acara ulang tahun kelima TBK.

Buku adalah nyawa merupakan sebuah moto penyemangat untuk menjadikan buku sebagai kebutuhan manusia. Dalam kegiatan yang berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 2019 ini TBK juga memberi ruang kepada pelapak buku jalanan dan memfasilitasi masyarakat umum untuk hadir berkumpul dan berbincang santai ditemani berbagai genre buku.

Bincang-bincang buku dari dan oleh penikmat buku menjadi inti dari pesta ini. Acara ini membuka kembali jendela dunia yang pernah tertutup oleh batasan-batasan pada masa lalu.

Buku sebagai media guna mencerdaskan bangsa menjadi motivasi para pengunjung. Beberapa buku yang hadir di Pesta Baca menjadi perwakilan dari banyaknya buku di dunia.

Cerita tentang Buku

Buku bukanlah barang mewah, tetapi dia menghadirkan kemewahan itu hadir. Ungkapan ini sepertinya benar karena dengan sebuah buku kita memiliki kelasnya masing-masing. Seperti halnya buku Strawbarry Generation karya Rhenald Kasali yang diceritakan oleh Windu. Windu adalah pemilik Mangsi Coffee yang terkenal sebagai tempat berkumpul para penikmat kopi di Denpasar dan sekitarnya.

Menurut Windu, buku Starwbarry Generation mengajarkannya perspektif dan management yang sangat berguna dalam bisnisnya. Beberapa fakta lapangan yang telah dilalui oleh Windu dalam menjalankan bisnisnya menemukan arahan yang tepat pada buku tersebut.

Hal serupa juga diceritakan oleh Ni Putu Candra Dewi yang menjabarkan tentang buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia. Buku yang berlatar belakang sejarah dan kemungkinan-kemungkinan
tentang manusia dan masa depannya menjadi jendela wawasan Candra dalam memberi perspektif di dunia kerjanya.

Perempuan yang aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali tersebut memerlukan refrensi-refrensi tentang manusia dan hak
asasinya dan buku karya Yuval Noah Harari menjadi cara asik untuk menambah wawasan tersebut.

“Dengan gaya storytelling Harari, menjadikan buku tebal ini tak bosan untuk dibaca,” papar Candra.

Buku menjadi gambaran akan pola pikir penikmatnya. Seperti ada korelasi antara pembicara dengan buku yang diceritakannya. Buku-buku yang hadir di Pesta Baca ini pun berhubungan erat dengan waktu acara berlangsung.

2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional dan buku Arsipelago serta buku Summer Hill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan menjadi gambaran tentang pendidikan.

Nyatanya pendidikan hari ini masih menjadi salah satu masalah bangsa Indonesia. Sistem pendidikan pun masih menuai pro dan kontra tantangan zaman. Buku yang dibagi ceritanya oleh Savitri Sastrawan dan Ady Apriyanta Parma dapat menjadi alternatif dalam dunia pendidikan.

Buku Bercerita

Dari keseluruhan buku yang diagendakan dalam sesi diskusi, buku 1984 dan buku Bumi Manusia menjadi penutup yang manis. JRX Superman Is Dead (band) dan Mami Siska Sena D. menjadi pembicara dalam bahasan yang cukup berat ini.

Sambutan awal dari Roberto Hutabarat menjadi pematik dalam sesi terakhir Pesta Baca Taman Baca Kesiman. Buku 1984 mengulas tentang dunia beserta fenomena yang mengintai manusia dan apakah berkaitan dengan cara dunia berkerja? Dengan bahasa yang memutar isi kepala, Roberto dalam narasi awalnya menyatakan buku 1984 memuat istilah-istilah yang menjadi pendobrak kata dan hingga hari ini pun buku yang telah berusia sekitar 70 tahun masih relevan dan ramalan untuk hari ini.

Lantas apakah dunia segila itu? apakah dunia tidak baik seperti dugaan kita?

Buku selalu memiliki ceritanya dan tentu ada sebab-sebab mengapa buku tersebut lahir di dunia. Seperti ungkapan Pramoedya bahwa menulis untuk keabadian karena sehebat-hebatnya orang jika tidak menulis akan sirna dan buku itu sendiri adalah anak rohani yang memuat seluruh isi kepala penciptanya.

Buku menceritakan kisah yang panjang dan menarik imajinasi pembaca hingga pola pikir terdalam.

Sebut saja buku Jejak Langkah yang membawa penikmat buku itu terjun ke tahun 1901 sampai 1912. Buku yang memuat tentang kisah Minke, Mei, dan semua kehidupan era kolonial menjadi mesin waktu bagi masyarakat era sesudahnya.

Cerita tentang buku Waktu, Kala, & Kematian karya IBM Dharma Palguna pun menjadi titik balik seorang Marmar Herayukti. Tanpa menampik tidak sepenuhnya terjadi perubahan pada diri Marmar karena membaca, tetapi membaca membuka pandangan hidup jelas Marmar dalam sesi tanya jawab.

Banyak cerita yang dipetik dari sebuah buku. Buku menyebabkan mata, bibir, hati, dan pikiran berkolaborasi membentuk pintu kemana saja. Cerita tentang buku-buku yang diulas pada Pesta Baca ini mengisyaratkan bahwa dengan buku dapat menjadikanmu bisa bernyawa dan tak semu!

Hal ini disambut dengan animo peserta yang hadir memiliki pertanyaan dan narasi yang beragam untuk didiskusikan. Buku bercerita, ya cerita tentang buku.

Apakah buku yang kita baca hari ini menceritakan tentang diri kita dan sudahkah kita dapat bercerita tentang buku yang kita baca? [b]

The post Buku Bercerita, Ya! Bercerita tentang Buku appeared first on BaleBengong.

Sulitkah Kita Jatuh Cinta pada Buku?

Pertanyaan di atas mungkin mewakili penggiat gerakan literasi.

Apakah sulit untuk jatuh cinta pada buku? Rasanya tidak sulit ya. Apalagi jika kita sudah menemukan genre buku yang sekiranya kita minati. Tentu akan lebih mudah untuk mencari judul-judul buku yang cocok untuk kita.

Pada awalnya pasti akan sangat sulit untuk menyukai buku. Karena sudah barang tentu kita belum menemukan genre buku yang kita sukai. Tetapi alangkah baiknya jika kita mencoba terlebih dahulu.

Kesalahan anak muda sekarang adalah tidak berani mencoba dengan alasan “zaman sekarang kan sudah ada e-book, jadi lebih praktis”. Namun, apakah itu menjadi solusi tepat saat ini? Rasanya belum.

Mengapa belum? E-Book tentunya tersedia di gadget kita, dan dalam gadget kita tidak hanya ada E-Book saja kan. Banyak aplikasi yang dirasa lebih prioritas dibandingkan dengan E-Book. Misalnya media percakapan (chatting), permainan (game), aplikasi belanja online, dll.

Bisa jadi ketika kita sedang asyik membaca, tiba-tiba pemberitahuan masuk dan itu dari si doi ya pasti kita utamakan balas chat si doi, dong. Karena itu e-Book sepertinya masih belum efektif.

Melihat kondisi itu, saat ini beberapa komunitas kembali menggencarkan gerakan literasi. Mereka prihatin melihat realita bahwa remaja khususnya di Indonesia sangat minim minatnya dalam membaca buku.

Menurut survei UNESCO terkait minat baca Indonesia, sebanyak 99 persen responden tidak suka membaca dan hanya 1 persen suka membaca. Itu artinya dari 100 penduduk hanya 1 orang yang suka membaca. Ini sungguh sebuah ironi.

Bangsa Indonesia sarat akan sejarah baik dari pembangunan bangsa hingga budayanya, tetapi generasi penerusnya tidak suka untuk mempelajari sejarahnya sendiri.

Indonesia Nol

Sastrawan Taufik Ismail pernah melakukan riset tentang kewajiban membaca buku sastra di beberapa negara di kalangan pelajar SMU selama tiga tahun masa studi mereka. Hasil riset menunjukkan pelajar SMU di Jerman wajib membaca 32 buku, di Belanda 30 buku, di Jepang 12 buku, di Singapura dan Malaysia 6 buku, dan di Indonesia nol.

Jelas ini sebuah tragedi.

Sepertinya pemerintah sudah menyadari akan hal itu. Pemerintah pun menunjuk tokoh yang dirasa pantas sebagai Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab. Siapa yang tak mengenal dia? Seorang jurnalis professional dengan gayanya menanyakan para tamunya lugas tanpa basa-basi.

Bahkan menurut mbak Nana sendiri (biar terkesan akrab) cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca, cari buku itu, mari jatuh cinta. Jadi tidaklah sulit jatuh cinta dalam kegiatan membaca buku, kita hanya butuh waktu untuk menemukan bahan bacaan yang kita sukai. Setelah kita dapatkan itu maka akan sangat menyenangkan kegiatan membaca tersebut.

Selain itu menurut mbak Nana membaca ialah upaya merengkuh makna, ikhtiar untuk memahami alam semesta itulah mengapa buku disebut jendela dunia, yang merangsang agar pikiran terus terbuka.

Jadi membaca buku bukanlah kegiatan yang menakutkan. Bahkan dengan terus membaca dapat menjaga pikiran kita untuk terus terbuka dan dapat memfilter segala informasi yang masuk dalam diri kita. Membaca adalah kegiatan yang membuat kita mengetahui segala informasi yang terjadi jauh dari kita.

Maka dari itu jangan pernah takut untuk membaca, karena dengan takut membaca sama saja dengan kita takut untuk menerima realita kehidupan. [b]


The post Sulitkah Kita Jatuh Cinta pada Buku? appeared first on BaleBengong.

Di TBK Semua Orang Dihargai Sesuai Martabatnya


Perayaan lima tahun Taman Baca Kesiman oleh pasangan pendiri TBK, Agung Alit dan Hani Duarsa. Foto Baskara Putra.

Taman Baca Kesiman (TBK) berusia lima tahun.

Saya mengikuti berbagai kegiatan di sana dari jauh. Dan, saya ikut bergembira bersama kawan-kawan di sana. Terutama karena TBK sudah memberikan suatu ruang publik di Denpasar. Lebih menggembirakan karena anak-anak muda dan remaja semakin banyak berkunjung.

Tujuan utama TBK ini adalah kegiatan literasi. Perpustakaan menjadi inti. Dari sana, saya kira, pendiri dan pengurusnya ingin agar mereka yang datang membangun ‘discourse’ dan bertanya. Dan dari kegiatan literasi itu bisa muncul banyak kegiatan lain.

Kalau Anda pernah ke sana, Anda akan mendapati berbagai kegiatan. Ada anak berlatih teater. Ada yang membaca (ada perpustakaan dengan ribuan buku dan ruang baca ber-AC yang nyaman). Ada yang latihan musik. Ada yang bertemu untuk sekadar mengobrol. Ada pula yang sekadar melamun. Atau pacaran. Tidak apa-apa.

Siapa saja boleh masuk. Anda tidak perlu terbengong jika menemukan kawan bercadar di sana. Saya senang melihat semua kawan dari berbagai latar belakang merasa nyaman disana.

Kali yang lain, kawan-kawan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) bicara dalam diskusi. Perempuan-perempuan yang menjadi orang tua tunggal juga membicarakan aneka tantangan hidupnya. Kawan yang penyandang disabilitas juga mendapat ruang.

Tentu tidak semua isinya adalah kaum pinggiran. Kadang TBK juga kedatangan para musisi selebriti. Pada saat ulang tahun kemarin, JRX dari Superman Is Dead (SID) yang juga Menteri Urusan Berantem dalam Kabinet Suhardi-Aldo (Dildo), berbicara tentang buku yang dibacanya. Apakah Anda kaget ketika JRX menguraikan isi novel 1984 dari George Orwell dan kemudian menyinggung “How The World Works” dari Noam Chomsky?

Musisi dari group Nostress, pujaan anak-anak muda di Bali dan semakin dikenal di tingkat nasional, juga seringkali nongol di TBK. Juga beberapa seniman menjadikan tempat ini sebagai tempat berkumpul. Kadang hanya mengobrol. Kadang juga mengasah gagasan dan proses kreatif.

Kita membutuhkan ruang seperti ini karena pemerintah kita tidak menyediakan taman kota.

Diskusi buku bersama Mami Sisca dan Jerinx SID di Pesta Baca. Foto Baskara Putra.

TBK menyediakan ruang untuk pergi dari keseharian. Kalau Anda berminat berkebun, di depan ada kebun organik. Saya kira, Anda hanya perlu berkoordinasi dengan pengurus TBK untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.

TBK juga menyediakan kantin kecil. Di samping untuk melayani kenyamanan mereka yang datang, kantin ini menyumbang sebagian pengeluaran untuk mengelola TBK.

Saya kira, TBK akan mampu menjadi tempat menyenangkan karena semua orang dihargai sesuai dengan martabatnya, dan semua orang menyumbang sesuai bakatnya.

Taman seperti ini, menurut saya, harus ada di banyak kota. Sekalipun sekarang kita sangat mudah memperoleh bacaan, itu semua tidak ada hubungannya dengan daya literasi masyarakat kita.

Saya tahu, beberapa teman sudah mulai mengorganisir kegiatan literasi ini. Di Jakarta, Cholil Mahmud dan Irma Hidayana serta beberapa kawan musisi Efek Rumah Kaca (ERK) membentuk “Kios Ojo Keos.” Di Surabaya, ada perpustakaan CO2. Di Batang, Jawa Tengah, Mas Guru Herry Anggoro Djatmiko, mengorganisir kegiatan baca. Di Pekanbaru ada Ahlul Fadli dan Made Ali yang membuka kafe dengan bacaan. Di Jayapura, saya kira, Ibiroma Wamla sedang membangun kumpulan pustaka tentang Papua.

Tentu, impian saya, di suatu hari, semua kawan yang saya sebut di atas, dan juga kawan-kawan di berbagai kota bisa saling berjumpa. Saling membantu dan saling membangun.

Yang bagus dari semua ini adalah bahwa TBK sama sekali tidak tergantung pada negara. Tidak tergantung dari pendanaan pemerintah. Tidak ada bantuan dari politisi mana pun. Juga tidak ada donor dari luar negeri.

TBK hadir karena bantuan pribadi. Tempat pun sesungguhnya adalah milik pribadi. Tentu ini satu kemewahan tersendiri. Namun, apapun itu, TBK menyediakan ruang untuk publik untuk siapa saja yang ingin mengembangkan kapasitas pribadinya. [b]

The post Di TBK Semua Orang Dihargai Sesuai Martabatnya appeared first on BaleBengong.