Tag Archives: buku

Keberpihakan Leila S. Chudori dalam Sastra dan Jurnalisme

Leila S. Chudori dalam salah satu panel diskusi di UWRF 2019. Foto Anggara Mahendra.

Salah satu penulis yang karyanya tidak sengaja saya temukan adalah Leila S. Chudori.

Namanya saya kenal melalui sebuah buku bersampul biru-putih yang saya temukan saat jalan-jalan di toko buku. Gambarnya ilustrasi dunia bawah laut serta sepasang kaki yang diborgol di dalamnya. Saat itu saya seperti menemukan apa yang saya cari.

Melalui Laut Bercerita, saya kembali membayangkan dan merasakan sedemikian tegang dan ngerinya kondisi negara di bawah pemimpin yang otoriter selama puluhan tahun. Leila mengajak pembacanya ikut menapaki jejak pergerakan mahasiswa melawan tirani kekuasaan saat itu.

Nilai-nilai tentang hak asasi manusia (HAM), aktivisme, dan keluarga masuk dalam buku ini dengan sangat halus dan mengalir. Berdarah-darah, ngeri, getir dan menyayat hati pada saat bersamaan.

Menurut saya, dengan rajutan ceritanya, Leila berhasil menciptakan sebuah kisah yang hidup. Bahkan selepas membaca novel setebal 379 halaman itu, saya pun dibuat sedih sejadinya. Dibuat merasa hampa.

Penulis kelahiran 12 Desember 1962 itu menulis dengan sejujurnya diri. Tidak pernah menargetkan tulisan itu untuk siapa. Anak muda, milenial atau orang tua. Senaturalnya saja. Setulus mungkin. Termasuk dalam tema HAM yang diangkat dalam dua novel karyanya, Pulang dan Laut Bercerita.

Leila tidak mau menjejali pembaca tentang HAM seperti khotbah, tapi dirangkainya melalui sebuah cerita.

“Saya tidak mau memaksakan. Sejak awal, saya ingin menulis cerita tentang Si Laut dan keluarga, dari dua sudut pandang. Dan saya tidak mau memikirkan apakah milenial akan mengerti atau tidak. Nanti malah tulisannya terlalu memaksakan untuk masuk ke dunia mereka,” ungkap Leila.

Mahasiswa dan Perlawanan

Tepat 24 September 2019, mahasiswa dan masyarakat di hampir seluruh penjuru Indonesia. Bergabung dalam gerakan solidaritas untuk menyuarakan aspirasi dan penolakan terhadap beberapa RUU yang dianggap ngawur. Misalnya revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) yang dianggap melemahkan hingga pengesahan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang dianggap menelanjangi hak dan privasi warga negara.

Ketika melihat gerakan itu, banyak masyarakat menyala lagi harapannya. Tak sedikit pula yang bersyukur bahwa mahasiswa masih turun ke jalan, tidak hanya duduk di ruang kelas.

Namun, seperti datang satu paket, di tengah harapan yang kembali menyala, terdapat fakta bahwa lima mahasiswa gugur. Tak sedikit di antaranya mengalami luka-luka akibat tindakan represif dari aparat.  

Peristiwa tersebut mengingatkan saya pada peristiwa 1998 yang menjadi latar dalam Laut Bercerita.

“Saya tidak mau mengatakan ini persis sama, tapi bahwa ada yang meninggal, iya. Bedanya dengan yang dulu, mereka diculik 22 orang, kemudian 9 orang kembali setelah melalui penyiksaan, dan yang 13 orang, tidak. Tidak jelas,” jawab Leila ketika dimintai tanggapan tentang peristiwa 98 dan gerakan solidaritas pada September lalu.

Leila saya wawancara selepas mengisi salah satu panel diskusi di Ubud Writers & Readers Festival pada 25 Oktober lalu. Dia juga menyampaikan bahwa munculnya gerakan mahasiswa seperti ini, bukan yang pertama kali.

Leila melanjutkan bahwa pada 1970-an pernah ada peristiwa yang spesifik menentang apa pun produksi negara Jepang. Kemudian ketika Perdana Menteri Jepang melakukan kunjungan ke Jakarta, saat itulah terjadi demo besar yang berujung kerusuhan pada 15 Januari 1974. Peristiwa itu dikenal dengan peristiwa Malapetaka Limabelas Januari (Malari).

“Ketika peristiwa 98 terjadi, kita semua banyak harapan, ada euforia. Bahkan negara-negara Asia yang lain, cemburu pada Indonesia karena persnya yang bebas. Di Malaysia dan Singapura, tidak sebebas kita,”  ungkap Leila mengenang peristiwa 98.

Menurut Leila, gerakan solidaritas pada September lalu, memang sudah waktunya terjadi. Namun, hal yang disayangkan olehnya adalah, tetap adanya korban berjatuhan di era yang katanya menjunjung demokrasi dan kebebasan menyuarakan aspirasi ini.

Leila melelmpar ingatannya ke Orde Baru, di mana masyarakat benar-benar dibungkam oleh pemerintah. Sehingga ketika ingin membicarakan isu-isu yang sensitif, mereka harus menggunakan metafora-metafora. 

“Di era yang seolah-olah kita menjadi bebas ini, metafora itu masih berlaku juga, sebab kita tak pernah sepenuhnya bebas. Bahkan sekarang, semua orang punya kesempatan untuk menuntut melalui beragam UU dengan pasal karet,” jawabnya.

Leila melihat bahwa pelan-pelan, negara ini akan mengarah kembali ke Orde Baru. Lalu apakah ini berarti pemerintahan Jokowi selama ini adalah kemunduran?

“Tidak sepenuhnya,” kata Leila.

Jika dijabarkan, ia menganggap kemunduran itu bisa dilihat dari beberapa hal yang sebetulnya tidak butuh kompromi. Misalnya kabinet Indonesia Maju saat ini.

“Ini ‘kan tahun terakhir kepemimpinan Jokowi di periode pertama. Saya percaya kalau diisi dengan lebih banyak profesional daripada banyak wakil dari parpol, tidak akan masalah,” tegasnya.

Leila yang dengan terbuka mengakui bahwa ia adalah pemilih Jokowi, juga menyebutkan bahwa persoalan kompetensi dalam parpol membuatnya bertanya-tanya.

“Lalu yang ketiga, tentu adalah kekecewaan banyak orang. Dengan meletakkan Prabowo sebagai Menhan (Menteri Pertahanan), adalah suatu keputusan yang tentu melahirkan banyak pertanyaan dengan sepak terjangnya dalam isu HAM. Jadi, janji presiden untuk menyelesaikan HAM di urutan pertama, itu makin jauh. Bahkan dalam pidato pelantikannya, sama sekali tidak menyebut tentang HAM. Itu membuat saya tidak heran ketika mengetahui pengumuman kabinetnya,” jelasnya.

Faktor lain yang dipandang Leila membuat kita sekarang makin mundur adalah, banyaknya Undang-Undang (UU) baru, yang berpotensi membuat orang dengan mudahnya dituntut maupun menuntut, seperti UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), kemudian ada juga UU tentang penghinaan ke pejabat, dan pasal karet lainnya. Kondisi seperti ini pada akhirnya membuat orang tidak akan bisa membedakan antara kritik dengan hinaan.

“Ini menjadi penting bagi saya sebagai penulis, tentu saja karena kemerdekaan kita untuk berbicara, berekspresi,” lanjutnya.

Lalu di mana posisi media?

Leila menjelaskan bahwa media tidak sama dengan oposisi. Media akan mengkritik kebijakan yang dianggap tidak layak dijalankan atau diciptakan. Bukan hanya pemerintah. Entah itu DPR, UU, atau peristiwa-peristiwa yang menyebabkan korban, menurutnya media harus berbicara. Sedangkan oposisi berasal dari partai. Media harus objektif. Ketika memang ada kebijakan yang bagus, maka diapresiasi juga.

Wartawan senior TEMPO ini juga memberikan keterangan bahwa meskipun ia berjalan di dua kaki, sastra dan jurnalistik, ia tidak memandang bahwa sastra hanya menjadi pelarian ketika idealismenya tak bisa disampaikan di media arus utama.

Menurutnya, TEMPO sangat terbuka dan lugas jika mengkritik. Dari segi sikap, tidak ada hal yang membedakan antara tulisannya di TEMPO atau sastra. Keduanya memiliki arah yang sama untuk membela orang yang tertindas. Hampir setiap tahun pula redaksi TEMPO dulu menulis edisi khusus di bulan September tentang keluarga korban peristiwa 1965, kemudian tahun 1998 menulis tentang keluarga yang masih berusaha mencari anggota keluarganya yang diculik.

Dalam wawancara yang beberapa kali dijeda karena ada orang ingin menemuinya, Leila dengan tegas mengatakan bahwa keberpihakan TEMPO pada kaum marjinal adalah sikap yang ia anut juga. Pembedanya hanya, di TEMPO adalah tulisan jurnalistik yang berisi fakta-fakta secara kronologis, sementara kalau fiksi atau sastra ada andil dari imajinasi, penciptaan tokoh, dan emosi, yang dapat pula membuat tokoh-tokoh itu menjadi manusia yang utuh.

“Intinya, materi yang dipresentasikan itu berbeda, tetapi sikapnya sama. Bahwa selama 28 tahun di TEMPO, sikapnya harus selalu membela jika ada orang-orang yang tertindas. Dan sebetulnya saya belajar itu dari TEMPO. Seandainya saya tidak kerja di situ, belum tentu saya menulis Pulang dan Laut Bercerita,” katanya dengan yakin.

“Minimal bagaimana cara saya mengumpulkan materi, mewawancarai orang, kemudian berempati, itu adalah sikap yang saya pelajari dari TEMPO,” tambahnya.

Seperti pada novel Pulang, itu adalah pengalaman Leila ketika pulang dari Kanada dan bertemu para eksil di Paris. Kemudian ia masuk ke TEMPO dan bertemu pula dengan orang-orang bekas tapol yang bekerja di sana. Leila merasa ada yang aneh kala itu melihat ada orang-orang Indonesia yang tidak bisa kembali ke tanah airnya.

Akhirnya tumpukan dari pengalaman-pengalaman selama Orde Baru di mana para tapol maupun keluarganya didiskriminasi itulah yang menginspirasinya melahirkan Pulang.

“Menulis, ya menulis. Bahwa tadi saya mengatakan saya kecewa, itu bukan hanya sebagai sastrawan, tetapi juga sebagai warga negara Indonesia. Walaupun bukan sebagai penulis, saya akan tetap kecewa. Apakah kebebasan berekspresi ini akan jadi lebih sempit, itu yang saya khawatirkan. Mudah-mudahan tidak. Tapi sekarang dengan tanpa kabinet seperti itu saja, ruang kita makin sempit dengan adanya UU demikian.” tutup Leila. [b]

The post Keberpihakan Leila S. Chudori dalam Sastra dan Jurnalisme appeared first on BaleBengong.

Curhatan Satire dan Getir ala Men Coblong

November 2017. Tumben Mbok Oka Rusmini hadir di agenda BaleBengong. Ketika itu, kami sedang mengadakan Malam Anugerah Jurnalisme Warga (AJW). Ini agenda kami tiap tahun sejak 2016. Tujuannya mengapresiasi karya-karya di media jurnalisme warga. Malam AJW kami isi dengan makan-makan, diskusi, dan pengumuman penerima AJW. Mbok Okarus, panggilan akrabnya, datang bersama anak laki-laki semata wayangnya. Continue Reading

Oka Rusmini Lahirkan Buku Kembar Buncing

Bedah buku Men Coblong dan Koplak di Bentara Budaya Bali, Minggu (14/7/2019). Foto Bentara Budaya Bali.

Keduanya menyentil isu aktual di Bali dalam esai.

Setelah melalui proses dan pergulatan panjang, sastrawan Oka Rusmini melahirkan anak-anak rohaninya, “Koplak” dan “Men Coblong”. Dua buku kembar ini dibedah pada Minggu (14/7/2019) di Bentara Budaya Bali (BBB).

Oka Rusmini menyebut kedua bukunya ini kembar buncing. Istilah ini merujuk pada anak kembar berbeda kelamin di Bali.

Buku “Koplak” dan “Men Coblong” diterbitkan bersamaan oleh Penerbit Grasindo (2019). Melalui buku “Men Coblong” Oka Rusmini menawarkan ragam bentuk tulisan baru, kreatif, semacam perpaduan antara kemampuan bertutur ala cerpen, argumentatif cerdas esai dan kepaduan tematik kolom.

Tokoh Men Coblong, seorang wanita paruh baya dengan seorang anak lelaki, menyerukan tanggapannya, kritik, serta bernada sindiran seputar sensitivitas terkait agama, budaya, politik, bahkan kehidupan sehari hari. Esai ini sebelumnya terbit di Bali Post, media tempat Oka bekerja, lalu dilanjut di BaleBengong sejak tahun lalu.

Adapun “Koplak” merupakan serial dengan tokoh utama I Putu Koplak, seorang lelaki koplak yang memandang beragam persoalan hidup secara karikatural. Tulisan ini terbit di Tatkala.

Jurnalis Anton Muhajir mengulas buku “Men Coblong”. Sastrawan Made Adnyana Ole memberikan bacaannya tentang “Koplak”. I Made Sujaya, dosen dan jurnalis, memandu diskusi.

Anton menyebutkan bahwa di tengah dominasi penulis laki-laki, Men Coblong hadir menawarkan sudut pandang ibu-ibu dan perempuan yang lebih feminim. Di tengah banjir informasi abal-abal, Men Coblong menyajikan cerita untuk menjadi refleksi, getir di dalam satire seraya menggugat fakta dalam balutan fiksi.

Kolom Men Coblong mulanya terbit di harian Bali Post sejak 2013 dan berhenti pada tahun 2017. Lalu sejak Januari 2018, tulisan-tulisan Men Coblong mulai “lahir kembali” di Balebengong.id.

Catatan-catatan Oka Rusmini dalam buku Men Coblong ini terkait hal-hal aktual. Beliau banyak membahas posisinya sebagai warga kota.

“Ini tetaplah kumpulan esai, kumpulan tulisan dan bukan sebuah buku (kajian) yang mendalam, namun masih tetap relevan,“ ungkap Anton Muhajir.

Koplak

Sejarah serial Koplak juga sejalan, ditulis dan diterbitkan pertama kali berupa cerpen di Bali Post Minggu pada 2016. Kemudian beralih ke tatkala.co pada 2018.

“Dari cerita yang ditulis itu, Oka tampak punya konsep amat jelas mengenai alasan cerita itu ditulis, dan alasan tokoh utamanya harus bernama Koplak,“ kata Made Adnyana Ole.

Koplak adalah seorang duda yang menjabat kepala desa, serta memiliki seorang anak gadis berusia 21 tahun yang berprofesi sebagai pengusaha muda. Tidak seperti kebanyakan penguasa lainnya yang cenderung sibuk dengan penampilan, Koplak hadir sebagai tokoh yang santun, jauh dari angkuh, serta hangat dan guyub sebagaimana umumnya masyarakat yang tinggal di pedusunan.

Sebagai tokoh yang memimpin sebuah desa, Koplak tak lepas dari gunjingan perihal kehidupan kesehariannya, berikut kisah kasih istrinya yang telah meninggal, di tengah kegigihannya berjuang memajukan desanya.

Oka Rusmini menceritakan proses lahirnya dua anak kembar buncing ini. Masalah-masalah dan benturan-benturan dengan masyarakat Bali sendiri membuatnya menulis Men Coblong. Namun, setelah dia membuat Men Coblong, muncul lagi kritik, ‘memangnya hanya perempuan saja yang bisa menyelesaikan semua persoalan?’.

“Nah, dari sana kemudian lahirlah Koplak. Ia seorang laki-laki yang ditinggal mati istrinya ketika melahirkan putri semata wayang mereka, di situ saya ingin menunjukkan bahwa laki-laki juga bisa menjadi feminis,“ ungkap Oka Rusmini.

Apresiasi

Oka Rusmini telah menulis puisi, novel ,esai dan cerita pendek sedari remaja. Ia memperoleh banyak penghargaan, antara lain: Penghargaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa , Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2003 dan 2012), Anugerah Sastra Tantular, Balai Bahasa Denpasar Provinsi Bali (2012). Southeast Asian (SEA) Write Award, dari pemerintah Thailand (2012) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (2013/2014).

Tahun 2017, ia terpilih sebagai Ikon Berprestasi Indonesia Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila kategori Seni dan Budaya dari Pemerintah Republik Indonesia. Bukunya yang telah terbit: Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Akar Pule (2012), Pandora (2008), Tempurung (2010), Saiban (2014), Men Coblong (2019), dan Koplak (2019) .

Turut memaknai diskusi buku ini ditampilkan pula pembacaan nukilan oleh Wayan Jengki Sunarta dan Ayu Winastri.

Peluncuran “Koplak” dan “Men Coblong” dihadiri pula sejumlah tokoh dan budayawan, di antaranya Pande Wayan Suteja Neka serta Wicaksono Adi yang memberi apresiasi atas kelahiran buku terkini Oka Rusmini.

Wicaksono Adi, penulis seni budaya dan seorang kurator, mengungkapkan bahwa kedua buku ini, Koplak dan Men Coblong, layak untuk dibaca. Melalui kedua buku tersebut, sang penulis sedang membuat komentar terhadap segala sesuatu yang terjadi baik di Bali maupun Indonesia umumnya, dengan membuat perspektif atau cara pendang yang berbeda.

“Di sini Oka menulis dengan mengangkat perspektif melihat suatu situasi dari atas. Jadi dia memandang persoalan secara netral, “ ungkap Wicaksono Adi. [b]

The post Oka Rusmini Lahirkan Buku Kembar Buncing appeared first on BaleBengong.

Buku Bercerita, Ya! Bercerita tentang Buku

Sesi Buku adalah Nyawa dalam rangkaian Pesta Baca Taman Kesiman hadir empat kali.

Pada hari pertama sore hari, diskusi menghadirkan Marmar Herayukti dengan buku Waktu, Kala, & Kematian karya IBM Dharma Palguna. Pembicara lain Lisa Ismiandewi dengan buku Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer.

Ngurah Termana memandu sesi pada Rabu, 1 Mei 2019 pukul 16.00-18.00 WITA ini.

Diskusi kedua pada hari kedua hadir Windu Segara Senet yang membahas buku Strawbarry Generation karya Rhenald Kasali. Selain Windu ada pula Ni Putu Candra Dewi yang bercerita tentang buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia karya Yuval Noah Harari.

Moderator diskusi pada malam pertama ini adalah Luh De Suriyani.

Pada hari kedua di sesi pertama ada Sasvitri Sastrawan dengan buku Arsipelago karya Farah Wardani & Yoshi Fajar K. Kurator seni ini hadir bersama seorang guru, Ady Apriyanta Parma yang berbicara tentang Summer Hill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan karya Alexander S. Neill.

Intan Paramitha menjadi moderator sesi sore hari ini.

Sesi terakhir pada Kamis, 2 Mei 2019 pukul 16.00-18.00 WITA, menghadirkan JRX yang membahas buku 1984 karya Georgo Orwell dan Mami Sisca Sena D. yang bercerita tentang buku Bumi Manusia karya karya Pramoedya Ananta Toer.

Roberto Hutabarat memandu diskusi terakhir ini.

Dikemas Apik

Buku adalah nyawa merupakan tajuk utama pesta baca yang diadakan dalam rangka ulang tahun Taman Baca Kesiman (TBK), Denpasar. Acara yang dikemas secara apik memberi ruang kepada para penikmat buku, penikmat musik, serta masyarakat umum menjadikan pesta ini syarat akan makna.

Tak semata buku, ada pula pameran bertema kaos keos art. Tema ini sebagai ungkapan akan kegelisahan tentang Bali hari ini. Ada pula sobyah budaya dari adik Pramoedya Ananta Tour, Soesilo Toer yang mengawali acara ulang tahun kelima TBK.

Buku adalah nyawa merupakan sebuah moto penyemangat untuk menjadikan buku sebagai kebutuhan manusia. Dalam kegiatan yang berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 2019 ini TBK juga memberi ruang kepada pelapak buku jalanan dan memfasilitasi masyarakat umum untuk hadir berkumpul dan berbincang santai ditemani berbagai genre buku.

Bincang-bincang buku dari dan oleh penikmat buku menjadi inti dari pesta ini. Acara ini membuka kembali jendela dunia yang pernah tertutup oleh batasan-batasan pada masa lalu.

Buku sebagai media guna mencerdaskan bangsa menjadi motivasi para pengunjung. Beberapa buku yang hadir di Pesta Baca menjadi perwakilan dari banyaknya buku di dunia.

Cerita tentang Buku

Buku bukanlah barang mewah, tetapi dia menghadirkan kemewahan itu hadir. Ungkapan ini sepertinya benar karena dengan sebuah buku kita memiliki kelasnya masing-masing. Seperti halnya buku Strawbarry Generation karya Rhenald Kasali yang diceritakan oleh Windu. Windu adalah pemilik Mangsi Coffee yang terkenal sebagai tempat berkumpul para penikmat kopi di Denpasar dan sekitarnya.

Menurut Windu, buku Starwbarry Generation mengajarkannya perspektif dan management yang sangat berguna dalam bisnisnya. Beberapa fakta lapangan yang telah dilalui oleh Windu dalam menjalankan bisnisnya menemukan arahan yang tepat pada buku tersebut.

Hal serupa juga diceritakan oleh Ni Putu Candra Dewi yang menjabarkan tentang buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia. Buku yang berlatar belakang sejarah dan kemungkinan-kemungkinan
tentang manusia dan masa depannya menjadi jendela wawasan Candra dalam memberi perspektif di dunia kerjanya.

Perempuan yang aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali tersebut memerlukan refrensi-refrensi tentang manusia dan hak
asasinya dan buku karya Yuval Noah Harari menjadi cara asik untuk menambah wawasan tersebut.

“Dengan gaya storytelling Harari, menjadikan buku tebal ini tak bosan untuk dibaca,” papar Candra.

Buku menjadi gambaran akan pola pikir penikmatnya. Seperti ada korelasi antara pembicara dengan buku yang diceritakannya. Buku-buku yang hadir di Pesta Baca ini pun berhubungan erat dengan waktu acara berlangsung.

2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional dan buku Arsipelago serta buku Summer Hill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan menjadi gambaran tentang pendidikan.

Nyatanya pendidikan hari ini masih menjadi salah satu masalah bangsa Indonesia. Sistem pendidikan pun masih menuai pro dan kontra tantangan zaman. Buku yang dibagi ceritanya oleh Savitri Sastrawan dan Ady Apriyanta Parma dapat menjadi alternatif dalam dunia pendidikan.

Buku Bercerita

Dari keseluruhan buku yang diagendakan dalam sesi diskusi, buku 1984 dan buku Bumi Manusia menjadi penutup yang manis. JRX Superman Is Dead (band) dan Mami Siska Sena D. menjadi pembicara dalam bahasan yang cukup berat ini.

Sambutan awal dari Roberto Hutabarat menjadi pematik dalam sesi terakhir Pesta Baca Taman Baca Kesiman. Buku 1984 mengulas tentang dunia beserta fenomena yang mengintai manusia dan apakah berkaitan dengan cara dunia berkerja? Dengan bahasa yang memutar isi kepala, Roberto dalam narasi awalnya menyatakan buku 1984 memuat istilah-istilah yang menjadi pendobrak kata dan hingga hari ini pun buku yang telah berusia sekitar 70 tahun masih relevan dan ramalan untuk hari ini.

Lantas apakah dunia segila itu? apakah dunia tidak baik seperti dugaan kita?

Buku selalu memiliki ceritanya dan tentu ada sebab-sebab mengapa buku tersebut lahir di dunia. Seperti ungkapan Pramoedya bahwa menulis untuk keabadian karena sehebat-hebatnya orang jika tidak menulis akan sirna dan buku itu sendiri adalah anak rohani yang memuat seluruh isi kepala penciptanya.

Buku menceritakan kisah yang panjang dan menarik imajinasi pembaca hingga pola pikir terdalam.

Sebut saja buku Jejak Langkah yang membawa penikmat buku itu terjun ke tahun 1901 sampai 1912. Buku yang memuat tentang kisah Minke, Mei, dan semua kehidupan era kolonial menjadi mesin waktu bagi masyarakat era sesudahnya.

Cerita tentang buku Waktu, Kala, & Kematian karya IBM Dharma Palguna pun menjadi titik balik seorang Marmar Herayukti. Tanpa menampik tidak sepenuhnya terjadi perubahan pada diri Marmar karena membaca, tetapi membaca membuka pandangan hidup jelas Marmar dalam sesi tanya jawab.

Banyak cerita yang dipetik dari sebuah buku. Buku menyebabkan mata, bibir, hati, dan pikiran berkolaborasi membentuk pintu kemana saja. Cerita tentang buku-buku yang diulas pada Pesta Baca ini mengisyaratkan bahwa dengan buku dapat menjadikanmu bisa bernyawa dan tak semu!

Hal ini disambut dengan animo peserta yang hadir memiliki pertanyaan dan narasi yang beragam untuk didiskusikan. Buku bercerita, ya cerita tentang buku.

Apakah buku yang kita baca hari ini menceritakan tentang diri kita dan sudahkah kita dapat bercerita tentang buku yang kita baca? [b]

The post Buku Bercerita, Ya! Bercerita tentang Buku appeared first on BaleBengong.

Sulitkah Kita Jatuh Cinta pada Buku?

Pertanyaan di atas mungkin mewakili penggiat gerakan literasi.

Apakah sulit untuk jatuh cinta pada buku? Rasanya tidak sulit ya. Apalagi jika kita sudah menemukan genre buku yang sekiranya kita minati. Tentu akan lebih mudah untuk mencari judul-judul buku yang cocok untuk kita.

Pada awalnya pasti akan sangat sulit untuk menyukai buku. Karena sudah barang tentu kita belum menemukan genre buku yang kita sukai. Tetapi alangkah baiknya jika kita mencoba terlebih dahulu.

Kesalahan anak muda sekarang adalah tidak berani mencoba dengan alasan “zaman sekarang kan sudah ada e-book, jadi lebih praktis”. Namun, apakah itu menjadi solusi tepat saat ini? Rasanya belum.

Mengapa belum? E-Book tentunya tersedia di gadget kita, dan dalam gadget kita tidak hanya ada E-Book saja kan. Banyak aplikasi yang dirasa lebih prioritas dibandingkan dengan E-Book. Misalnya media percakapan (chatting), permainan (game), aplikasi belanja online, dll.

Bisa jadi ketika kita sedang asyik membaca, tiba-tiba pemberitahuan masuk dan itu dari si doi ya pasti kita utamakan balas chat si doi, dong. Karena itu e-Book sepertinya masih belum efektif.

Melihat kondisi itu, saat ini beberapa komunitas kembali menggencarkan gerakan literasi. Mereka prihatin melihat realita bahwa remaja khususnya di Indonesia sangat minim minatnya dalam membaca buku.

Menurut survei UNESCO terkait minat baca Indonesia, sebanyak 99 persen responden tidak suka membaca dan hanya 1 persen suka membaca. Itu artinya dari 100 penduduk hanya 1 orang yang suka membaca. Ini sungguh sebuah ironi.

Bangsa Indonesia sarat akan sejarah baik dari pembangunan bangsa hingga budayanya, tetapi generasi penerusnya tidak suka untuk mempelajari sejarahnya sendiri.

Indonesia Nol

Sastrawan Taufik Ismail pernah melakukan riset tentang kewajiban membaca buku sastra di beberapa negara di kalangan pelajar SMU selama tiga tahun masa studi mereka. Hasil riset menunjukkan pelajar SMU di Jerman wajib membaca 32 buku, di Belanda 30 buku, di Jepang 12 buku, di Singapura dan Malaysia 6 buku, dan di Indonesia nol.

Jelas ini sebuah tragedi.

Sepertinya pemerintah sudah menyadari akan hal itu. Pemerintah pun menunjuk tokoh yang dirasa pantas sebagai Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab. Siapa yang tak mengenal dia? Seorang jurnalis professional dengan gayanya menanyakan para tamunya lugas tanpa basa-basi.

Bahkan menurut mbak Nana sendiri (biar terkesan akrab) cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca, cari buku itu, mari jatuh cinta. Jadi tidaklah sulit jatuh cinta dalam kegiatan membaca buku, kita hanya butuh waktu untuk menemukan bahan bacaan yang kita sukai. Setelah kita dapatkan itu maka akan sangat menyenangkan kegiatan membaca tersebut.

Selain itu menurut mbak Nana membaca ialah upaya merengkuh makna, ikhtiar untuk memahami alam semesta itulah mengapa buku disebut jendela dunia, yang merangsang agar pikiran terus terbuka.

Jadi membaca buku bukanlah kegiatan yang menakutkan. Bahkan dengan terus membaca dapat menjaga pikiran kita untuk terus terbuka dan dapat memfilter segala informasi yang masuk dalam diri kita. Membaca adalah kegiatan yang membuat kita mengetahui segala informasi yang terjadi jauh dari kita.

Maka dari itu jangan pernah takut untuk membaca, karena dengan takut membaca sama saja dengan kita takut untuk menerima realita kehidupan. [b]


The post Sulitkah Kita Jatuh Cinta pada Buku? appeared first on BaleBengong.