Tag Archives: Budaya

Lika Liku Repatriasi Budaya di Pulau Dewata

Cuplikan Hasil Repatriasi Budaya Arsip Bali 1928. Sumber: Youtube Bali1928.net

Perjalanan memulangkan arsip kebudayaan Bali bukan perkara mudah.

“Bali is the last paradise”. Julukan yang mencuat sejak 1910-an ini menjadi daya tarik orang asing untuk berbondong-bondong menelusuri dan mengamati daerah yang kaya tradisi dan budaya ini. Setiap tradisi tak luput dari jepretan kamera.

Lantas, bagaimana nasib hasil dokumentasi budaya di era lalu tersebut? Malangnya, nasib hasil dokumentasi budaya pada era 1910-an itu masih jauh berada di negeri orang.

Jalan untuk memulangkan hasil dokumentasi amatlah rumit dan panjang. Demikian penuturan Marlowe Bandem, penggiat seni sekaligus relawan dalam Arsip Bali 1928. Kendala-kendala dalam memulangkan arsip tersebut di antaranya soal perizinan dari pihak luar negeri yang menyimpan hasil dokumentasi.

Marlowe menuturkan kesulitannya di perizinan karena orang luar itu melihat kualitas museum di Indonesia khususnya Bali. Mereka berpikir puluhan kali untuk menyerahkan arsip yang asli ke Bali.

“Makanya saat ini mitra kami dari luar negeri sebagian besar menyerahkan salinannya saja,” keluh Marlowe.

Tahun 2013 menjadi awal pergerakan Marlowe dan segenap relawan untuk berjuang memulangkan arsip kebudayaan Bali. Meskipun masih asing gaungnya di tengah masyarakat, tetapi Bali dan repatriasi budaya dapat mengobati kerinduan krama (masyarakat) Bali akan khas dan uniknya Bali tempo doeloe.

Repatriasi sendiri bukanlah suatu kebijakan yang digeluti pihak pemerintah. Namun, sejak 2013 itu, Marlowe dan timnya menggali sendiri rekam jejak hitam putih gulung demi gulung film dan piringan demi piringan kebudayaan Bali. Ibarat sebuah magnet, tradisi dan budaya Bali menarik ilmuan sejarah maupun penggiat seni dari negeri seberang untuk datang berkunjung, meneliti, bahkan menetap.

Berhasil Pulang

Meski sebagian hanya berupa salinan, tetap ada arsip dan dokumentasi Bali tempo doeloe yang berhasil dipulangkan. Pada 12 Juli 2015 lalu mereka dipamerkan di Bentara Budaya Bali, Gianyar. Pameran dengan slogan Menggali Masa Lalu Demi Masa Depan Kreatif itu merangkum hasil pemulangan kembali, pemugaran, dan penyebaran warisan pusaka seni dan budaya Bali dari tahun 1930-an.

Berikut sebagian dari arsip dan dokumentasi tersebut.

Pertama, digitalisasi 111 rekaman ‘long lost recordings’ piringan-piringan hitam karya label rekaman Jerman, Odeon & Beka yang dilakukan secara komersial pertama kalinya di Bali pada tahun 1928-1929.

Kedua, digitalisasi cuplikan-cuplikan film 16 mm yang dilakukan peneliti-peneliti berpengaruh Colin McPhee, Miguel Covarrubias, dan Rolf de Maré.

Ketiga, reproduksi puluhan foto-foto terkait masa kesejarahan Bali tahun 1930-an oleh Colin McPhee, Walter Spies, Arthur Fleischmann, Jack Mershon dan lain-lain.

Adapun hasil kebudayaan yang berhasil dipulangkan di antaranya Cuplikan Barong Kebon Kuri, Gambang di Pura Kawaitan Kelaci, Légong Saba, Gamelan Gong Luang Singapadu, Baris Goak Jangkang, Nusa Penida, Jangér Kedaton, Gamelan Geguntangan Batuan, Barong Landung, Jangér dan lain lain.

Beberapa ritual penting seperti upacara Nangkluk Mrana, Pura Beda, Tabanan dengan Jogéd Bungbung Déwa, Méndet di Pura Dalem Sayan, Ubud, pelbagai upacara piodalan dan ngabén pun termasuk dalam koleksi ini.

Tokoh legendaris dari kalangan spiritual, seniman, dan sekaa tabuh era 1930-an juga berhasil dilacak dari hasil repatriasi. Ada Ida Boda, I Marya, I Sampih, I Gede Manik, Gong Jineng Dalem, Ida Pedanda Made Sidemen, I Gusti Ketut Kandel, I Made Sarin, Ni Nyoman Polok & Ni Luh Ciblun (Légong Kelandis), Gamelan Palégongan Kapal, Ni Gusti Made Rai & Ni Gusti Putu Adi (Légong Belaluan), I Wayan Lotring (Gamelan Gendér Wayang Kuta), Ida Bagus Oka Kerebuak, Marya, Kaler, Lotring, Ni Gusti Putu Rengkeg, Ni Pempen, dan lain-lain.

Tokoh-tokoh terkemuka di eranya ini, sungguh-sungguh mengharukan dan membangkitkan kenangan terhadap masa ‘renaissance’ kesenian Bali yang teguh sepanjang zaman. Repatriasi sendiri membawa memori mereka kembali ke dalam indah dan sakralnya Bali di masanya.

Graha Alaya Dharma Negara tampak depan. Foto Yuko Utami.

Lebih Peduli

Kendati sebagian besar belum dalam bentuk aslinya, Arsip 1928 tak selamanya risau. Sebab, uluran tangan berbagai pihak untuk mendorong repatriasi cukuplah banyak. Sayangnya, sebagian besar mitra strategis tersebut berasal dari luar negeri. Akibatnya, keberadaan pemerintah Indonesia khususnya Bali yang menangani pengarsipan budaya terhadap pemulangan arsip Bali tempo doeloe perlu dipertanyakan.

Mitra strategis yang mendorong kegiatan repatriasi ini adalah Dr. Edward Herbst dari City Univerity of New York (CUNY), Allan Evans dari Arbiter of Cultural Traditions New York dan Prof. Dr. I Made Bandem, MA sebagai penasihat ahli. Tahap pertama program ini didukung Andrew W. Mellon Foundation, Amerika Serikat. Mengemban tanggung jawab selaku penasihat ahli, Prof. Dr. I Made Bandem, MA sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan untuk memulangkan satu per satu arsip dan dokumentasi kebudayaan Bali.

Prof Bandem yang merupakan Mantan rektor ISI Denpasar dan ISI Yogyakarta ini, mengutarakan semakin banyak arsip yang berhasil dipulangkan, semakin besar pula manfaat yang dapat didulang. Apalagi dengan munculnya Undang-Undang Kebudayaan Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menandakan kepekaan pemerintah mulai membuncah terhadap pentingnya kebudayaan guna kesejahteraan masyarakat.

“Melihat gaya tarian yang ada misalnya dari Tari Baris Jangkang kita bisa membuat tarian yang baru (baris baru) untuk sumber mencipta yang tak lepas dari akarnya,” ucap Bandem tegas.

Langkah ini murni untuk menyejahterakan masyarakat Bali baik dari segi pendidikan maupun untuk melepas rasa angen (rindu-red) masyarakat terhadap pesona Bali di masanya. Adanya arsip yang berhasil dipulangkan, seniman legendaris Bali di era-nya kelangen (kagum-red). Sebab, di masanya mereka hanya dapat merasakan gerak tari dan gamelan. Sekarang mereka dapat melihat bagaimana tari dan tradisi yang mereka lakoni mampu mengeksiskan Bali hingga kini.

Menggantungkan Asa

Pada tahun 2013, boleh saja Marlowe dan segenap relawan dalam Arsip Bali 1928 merasa tertatih dalam memulangkan kebudayaan Bali. Namun, kali ini harapan Marlowe dan segenap relawan semakin besar. “Memulangkan sesuatu itu tidak selalu harus mutlak dari luar negeri,” jelas Marlowe.

Marlowe menegaskan kembali soal repatriasi bangunan di kawasan Gajah Mada, Denpasar yang dapat membangkitkan memori masyarakat terhadap unsur historis dan kekhasan Kota Denpasar yang murni. Proses repatriasi dalam ranah internal Bali khususnya di Kota Denpasar ini nantinya akan dikawal tim ahli.

Ide itu mencuat dalam sebuah talkshow pada serangkaian 12 tahun Denpasar Festival akhir Desember lalu. Talkshow bertajuk Gathering Old Town Gajah Mada: “Menghormati Kepusakaan untuk Memajukan Kreativitas” ini menghadirkan para narasumber yang mumpuni di bidangnya.

Mereka adalah Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra (Wali Kota Denpasar), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt (Akademisi, Universitas Udayana), I Ketut Siandana, ST., IAI. (Sian ‘D’ Sain Arsitek), Ida Bagus Ngurah Wijaya (Praktisi Pariwisata), I Putu Yuliartha, SS. (BEKRAF Denpasar), dan Marmar Herayukti (Seniman). Marlowe Bandem menjadi moderator.

Talkshow di Graha Alaya Dharma Negara, Lumintang Denpasar ini diharapkan mampu menjadi pemantik dalam membangkitkan historis pesona Kawasan Kota Tua Gajah Mada. Pada saat talkshow berlangsung, Sekda Kota Denpasar mengungkapkan revitalisasi Kawasan Gajah Mada telah didanai sejumlah 9 miliar dan mutlak untuk dikawal oleh tim ahli tersebut.

“Repatriasi yang sesungguhnya lebih penting yaitu repatriasi berbasis komunitas, memulangkan kembali kenangan-kenangan dari masyarakat Denpasar sendiri dan itu yang telah hadir disini jadi itulah yang dimaksud dengan memulangkan kembali dari perspektif kita sendiri,” papar Marlowe.

Menjalin pertemanan yang berlanjut dalam kerja sama repatriasi budaya dengan Marlowe, Arief Budiman yang turut menghadiri talkshow tersebut mengungkapkan Graha Alaya sendiri sejatinya merupakan konsep dari Wali Kota Denpasar yakni Rai Mantra. “Ini sebenarnya konsepsi beliau adalah bagaimana ekosistem di Kota Denpasar baik itu pemerintah, komunitas, bisnis, dan akademisi itu mampu menjadi sinergi yang menarik dalam mengelola kreatifitas masyarakat Kota Denpasar,” jelas Arief.

Pria berambut gondrong ini pun menambahkan, “Selama ini kita punya stigma bahwa fasilitas pemerintah itu relefansinya hanya dengan projek.” Hadirnya Graha Alaya adalah jawaban dari para penggiat budaya yang mencari rumah untuk berkarya sekaligus bernostalgia.

Tak hanya menjadi harapan dalam keberlangsungan repatriasi budaya. Adanya Alaya turut melahirkan tantangan, “Jadi ada tantangan bagaimana Alaya ini agar bisa menjadi sesuatu yang dampak utamanya ke masyarakat lalu juga dikelola dengan baik sehingga semua unsur yang dicita-citakan tercapai,” jelas Arief. [b]

Sensitivitas Pemuda Global Bali Terhadap Bali

Semangat anak muda hidup progresif dan semangat anak muda hidup jaen.

Saya diminta mengisi tentang respon dan imajinasi anak muda dalam perubahan Bali. Entah kenapa saya suka menyampaikan sesuatu dengan bercerita. Maka, saya akan bercerita tentang sensitivitas pemuda global Bali terhadap Bali saat ini dari observasi kecil-kecilan yang saya lakukan.

Keinginan mengerjakan tulisan di kafe kembali dan saya mengerjakan tulisan ini di satu rantai kafe ternama di Bali di satu mall yang berada di pojokan jalan besar. Setiap kali kembali kesini, saya selalu bertanya: siapa sebenarnya yang ke kafe ini di kota Denpasar?

Pengunjungnya sepertinya ada pebisnis atau freelancer dengan laptop-laptopnya, dan tidak ketinggalan yang lagi buat tugas sekolah atau kuliah (dengan umur saya sekarang, kadang tidak bisa membedakan yang mana mereka karena berdandannya hampir sama dan pasti punya smartphone di tangan), atau cuma demi koneksi Wi-Fi ia bermain game online.

Rasanya, umur mereka, tidaklah jauh dari umur saya yang hampir kepala tiga. Yang pasti, tidak ketinggalan, ada saja yang berusaha mengambil swafoto dengan minuman kafe tersebut maupun dirinya saja, yang nantinya kemungkinan besar akan ada di media sosialnya dan mengisi tag location (tanda lokasi) di kafe ini.

Membaca satu paragraf di atas tersebut, mungkin menjadi satu hal yang anda sering lihat juga. Dan berasumsi kemungkinan besar yang begitu adalah anak muda, lalu bisakah kita memukul rata bahwa sensitivitas pemuda Bali sebatas swafoto yang akan beredar di internet yang global itu?

Rasanya dangkal sekali mengatakan itu. Tetapi, begini.

Poin pertama: Di satu sisi, yang namanya anak muda, pasti punya hasrat – suka cewek, suka cowok, atau yang masih suka dibicarakan secara tabu sampai saat ini, sesama jenis. Dan dengan media sosial dan internet yang telah memudahkan kita semua untuk mencari segala hal di saat ini – hasrat tersebut menjadi salah satunya. Ada upaya-upaya unjuk diri, sengaja ingin dicari, dan ada yang mencari melalui tagar atau hashtag.

Saya tidak tahu, ini harusnya menyenangkan atau menakutkan. Karena rasanya pernyataan dangkal sebelumnya itu ada benarnya. Lalu, di sisi lainnya, saya yakin banyak lapisan di dalamnya – dengan dia ambil foto itu dengan handphone miliknya, handphone harusnya dibeli untuk apa ya? Handphonenya beli dengan gaji sendiri atau dibeliin orang tua? Kalau orang tua, harapan orang tuanya bagaimana sebenarnya dengan dia memiliki handphone itu?

Poin kedua: Mungkin ini pertanyaan yang terlalu berjarak, tetapi apakah para orang tua, ataupun para anak muda ini, mengenal yang namanya Global Village yang pernah ditekankan oleh pakar studi media, Marshall McLuhan?

Sejak tahun 2001 saya aktif berinternet di Indonesia. Masih dial-up, sambungan telepon rumah harus putus dulu baru bisa internetan. Yang dicari lewat laptop saat itu? Informasi tentang film kesukaan, kecuali bisa ke warung internet atau warnet, tapi uang saku harus keluar.

Tahun 2004, sempat tinggal jauh dari Indonesia, namun internet di negara itu sudah broadband, tidak mengganggu telepon rumah, dan bisa dipakai sepanjang hari. Komputer direkomendasikan ada di rumah karena bahan belajar sekolah juga ada di internet.

Apalagi saya di jenjang yang akan ujian nasional dan sudah ketinggalan pelajaran. Media sosial pun memudahkan saya berkomunikasi dengan teman-teman di Indonesia, maka mulai mengenal kita harus buat profil, berteman lewat internet, adanya messenger untuk berbincang, forum-forum online, dan seterusnya.

Tahun 2008, saya baru mengenal kalau Marshall McLuhan pada tahun 1967 pernah membuat buku yang juga dikemas cukup eksperimental bersama desainer Quentin Fiore berjudul “Medium is the massage”. Intisari dari buku tersebut bahwa media adalah ekstensi dari bagian tubuh kita. Salah satunya: electric circuitry, atau jaringan listrik, sebagai ekstensi dari jaringan saraf manusia.

Alat atau medium atau media saat itu dan juga sedang berproses adalah electric technology, atau teknologi berlistrik, dikatakan akan membentuk kembali dan menstruktur kembali pola ketergantungan sosial dan setiap aspek kehidupan pribadi juga.2 McLuhan mengatakan ini karena keberadaan televisi sebagai media baru pada saat itu yang menjadi evolusi dari radio.

Dengan itu, McLuhan juga berargumen adanya Global Village, atau Desa Global, dimana ketergantungan perangkat listrik yang baru tersebut mengkreasi kembali dunia dalam satu gambaran desa global. Bagaimana dari dahulu kita berkehidupan di satu desa: tinggal, bekerja, bersosialisasi sebagai paguyuban makhluk sosial di dalam satu daerah tersebut, sekarang semua bisa terkoneksi dan dapat dilihat dari segala penjuru – lewat televisi yang membawa transmisi gambar bergerak dan suara.

Hari ini, tentu, di Bali, teknologi berlistrik ikut berkembang seperti tempat lainnya namun jaringan listriknya, ya ada banyak argumen didalamnya terkait dengan energi yang bisa diperbaharui dan tidak bisa diperbaharui. Namun, jika kita kembali ke teori McLuhan yang terlahir tahun 60an ini rasanya sangat relevan dengan hari ini.

Pada tahun 2018, saya mengambil di satu sudut kampung halaman di Buleleng, Bali Utara. Daerah ini dari dulu dibilang terbelakang, tidak ada kemajuan. Tetapi orang-orang juga mulai tidak tertinggal dengan perangkat listrik sehari-hari terkini, smartphone atau handphone pintar. Dan saya sendiri mengambil dan menggunggah video ini ke internet berkat smartphone juga. Maka, teknologi berlistrik memudahkan global village benar-benar ada di realita kita.

Poin ketiga: Dari frase Global Village ini, saya jadinya ingin berbincang tentang sensitivitas pemuda global Bali saat ini. Kata “global” di sini ditekankan karena pemuda di Bali sudah tidak saja berkecimpung di Bali atau sebagai pemuda Bali, tetapi merupakan pemuda global Bali.

Kita tidak pernah bisa mengelak kalau kita adalah warga dunia yang kebetulan di negara Indonesia dan di pulau Bali dan memiliki sistem Banjar yang dimana pemuda global Bali itu kemungkinan besar terdaftar di dalamnya. Ditambah pemuda global Bali sudah ada di dalam ranah Global Village yang dinyatakan McLuhan dengan smartphone-nya, dan kalau boleh dikatakan juga, Bali adalah sebuah kampung internasional – Global Village yang fisik ya di sini.

Tetapi di perbincangan ini, dan dalam menanggapi respon dan imajinasi anak muda terhadap perubahan Bali, maka pertanyaan yang ingin dilontarkan adalah: seberapa jauh sensitivitas pemuda global Bali terhadap keadaan, situasi dan kondisi Bali itu sendiri?

Dari komik Beluluk di atas, tercermin bahwa pergerakan anak muda di Bali masih melanjutkan warisan budayanya, yaitu: ngumpul, nongkrong dan menyame braye (gotong royong). Memang, dominannya lelaki, tetapi saya rasa yang perempuan tidak tertinggal. Dan yang saya tarik dari perkumpulan-perkumpulan tersebut, sepertinya ada dua macam tema yang diangkat pemuda global Bali berdasarkan apa yang dibagikan di media sosial: Semangat anak muda hidup progresif dan Semangat anak muda hidup jaen.

Semangat anak muda hidup progresif yang dimaksud adalah yang berbudaya (mengikuti budaya dan ikut mengembangkan budaya kehidupan sehari-hari), bersikap kritis, dan melakukan suatu pergerakan dalam masyarakat, akademis maupun aktivisme. Semangat anak muda hidup jaen yang dimaksud disini adalah juga yang berbudaya, yang memperlihatkan hidupnya jaen (arti: enak) atau lifestyle kelas tinggi, biasanya mereka memiliki posisi kerja yang ‘mapan’ atau memiliki bisnis, dan oportunis seperti dengan jasa endorsement.

Sebenarnya agak rumit untuk mengatakan ada dua macam pemuda global Bali ini karena di keadaan Global Village ini keduanya seperti tidak terpisahkan namun terpisahkan di saat yang sama. Seperti ada area semu atau abu-abu yang kemungkinan para pemuda global Bali ini terdapat di keduanya.

Saat ini pandangan saya terhenti disini. Lalu saya lihat balik ke situasi di saat saya mulai mengetik tulisan ini di sebuah kafe ternama di Denpasar, Bali, dikelilingi pemuda Bali global dan semua ada di dalam Global Village. Sejauh mana saya dan orang-orang muda Bali global di sekitar saya menyadari bahwa apa yang tercermin pada cermin hitam mereka akan dilihat di tempat lain juga? Sejauh mana sensitivitas pemuda global Bali menggunakan akses yang mereka dapatkan untuk memperlihatkan tema hidup progresif dan hidup jaen di Bali?

Lalu saya teringat akan satu riset yang telah saya lakukan terhadap kehadiran gerakan Bali Tolak Reklamasi Berkedok Revitalisasi. Gerakan yang disingkat BTR tersebut masih berlangsung sejak tahun 2013 dan saya anggap masuk ke tema semangat anak muda hidup progresif di Bali karena digerakkan generasi muda global Bali. Salah satu hal yang menarik dari pergerakan ini adalah bagaimana suatu gerakan yang melawan keadaan Bali yang sudah dibentuk citranya oleh pemerintah dan pengusaha, jika dirunut sampai juga dalam pro kontra progres produksi pengetahuan atau knowledge production tentang Bali.

Dalam Tesis yang berjudul, “Interrogating Global Fantasies: Bali and the Cultural Rejection of Land ‘Revitalisation’”, saya menulis tentang bagaimana Bali Tolak Reklamasi bisa terjadi di pulau Bali yang terkenal sebagai destinasi pariwisata yang sangat indah di muka bumi ini dan uniknya diikuti oleh banyak seniman dan pelaku seni. Bisa dilihat dari ikutnya para musisi, graphic designer, seniman Bali, juga adanya dokumentasi visual serta parade budaya yang dilaksanakan. Ada banyak faktor dan elemen yang saya angkat di sana, dan cukup sulit diringkas juga. Namun berkaitan dengan knowledge production, saya menggarisbawahi selain adanya fetisisme melalui kapitalisme, menggunakan pantai dan pulau reklamasi yang masih imajiner sebagai sumber penghasilan, juga adanya fetisisme dalam antropologi di sejarah citra Bali tersebut. Menurut Adrian Vickers, terutama dari Margaret Mead, antropolog Amerika yang menaruh Bali di peta akademia internasional di abad ke-20.4

Karya terkenalnya bersama Gregory Bateson berjudul Balinese Character: A Photographic Analysis (Karakter Orang Bali: Analisa melalui Fotografi) di tahun 1930an saat Bali masih di bawah kekuasaan Belanda, sempat didiskusikan oleh Anggota Asosiasi SOAS Centre for Media and Film Studies, Mark Hobart. Ia mengklarifikasi bahwa buku ini “berargumen” bahwa “Budaya Bali bisa dilihat tidak seperti yang kita miliki dan yang lainnya serta belum terekam” dan bagaimana budaya Bali dilihat “memiliki ketidakmampuan menyesuaikan diri yang dikatakan di budaya kita sebagai schizoid… [yakni] skizofrenia.”5 Ia melanjutkan, orang Bali menjadi “objek yang dipelajari untuk menambah ilmu kita tentang diri kita sendiri [sebagai manusia],” namun ia mempertanyakan, “…siapa ‘kita/kami’ disini…orang Barat imajiner yang tidak ingin dikritik?…Bagaimana para antropolog mempertanyakan untuk siapa pengetahuan yang diambil dari Bali ini?”

Sepertinya penulisan antropologi terhadap Bali ditemukan bermasalah oleh para penulis luar negeri selanjutnya karena kecenderungannya yang terlalu mengestetikakan dan fetisisme terhadap Bali melalui kepercayaannya sebagai elemen Timur dari pandangan Barat. Hobart berargumen bagaimana “pursuit of knowledge” menjadi keuntungan para yang memburu dan didapatkan melalui “subjeknya sendiri namun bukti-buktinya tidak dipedulikan.”7 Saat itu saya berargumen bahwa ini adalah bentuk anthropologising atau mengantropologikan – yang digunakan untuk menghidupkan Bali seperti apa yang diinginkan oleh si pemburu pulau ini.

Hobart pun mempertanyakan, “apakah pengetahuan yang relevan hanya akademis, bagaimana dengan pemahaman masyarakatnya sendiri?” membuat saya bermetode dengan mewawancarai beberapa pelaku gerakan BTR termasuk para pegiat seni yang saya sebut di atas. Semua ini memungkinkan dengan adanya internet dan media sosial yang membuat saya tahu keadaan, situasi dan kondisi gerakan BTR di Bali saat itu.

Di tulisan tersebut, salah satu yang saya simpulkan bahwa para pelaku BTR telah memproduksi pengetahuan baru yang melawan pengetahuan lama yang cenderung fetis terhadap Bali. Salah satunya, ada sisi dimana reklamasi itu dikatakan untuk kebaikan lulusan ISI Denpasar agar ada lahan baru untuk bekerja seperti menjadi penari di hotel, gerakan ini melalui kegiatan seninya telah mendobrak komodifikasi Bali melalui kesenian yang dikatakan telah merevitalisasi kehidupan orang Bali.

Hal-hal yang dilakukan aparat agar komodifikasi kultur dan kesenian Bali terus indah-indah saja dipertanyakan dan membuat saya juga bertanya, “apakah saya yang lulusan ISI Denpasar hanya sebatas produk turisme juga yang menjadi budaknya daripada pembuat pengetahuan baru?” Maka dari itu saya menyatakan bahwa Bali Tolak Reklamasi telah membuka diskusi dan perbincangan yang lebih luas dalam menginterogasi tendensi fantasi revitalisasi di Bali, dan bisa juga di bagian dunia lainnya.

Dengan kehadiran visual-visual yang telah terciptakan tersebut dan tersebarkan di Global Village saat ini, sebenarnya sudah ada suatu dokumentasi arsip yang memperlihatkan keadaan Bali yang tidak selalu indah saat ini. Sepertinya sensitivitas pemuda global Bali ada dalam hal memproduksi pengetahuan baru untuk generasi selanjutnya. Dan sepertinya ini datang dari semangat anak muda hidup progresif di Bali yang sepertinya melek sejarah, budaya dan tradisi.

Namun, bagaimana dengan yang semangat anak muda hidup jaen? Apakah mereka memiliki harapan juga? Apakah saya terlalu pesimis? Atau mereka sebatas memperlihatkan jaen dengan harapan satu #balijegeg bisa didapatkannya dari Global Village yang kita huni ini?

Catatan akhir: rasanya cerita ini tidak ada ujungnya. Mungkin, bisa dikatakan, sebegitunya lekat Bali sebagai sebuah brand yang baik dan terkenal, membuat penasaran dengan apa yang dipikirkan anak muda jaman now-nya. Bahkan secara pemerintahan Propinsi, berani mengeluarkan pengumuman bahwa Bali baik-baik saja bebas dari sampah – yang juga salah satu contoh catatan pekerjaan rumah Bali yang krusial saat ini.

Baru ini saya bertemu dengan pemuda-pemuda global Bali yang akan masuk ke ranah branding kotanya melalui satu wadah baru yang dibentuk pemerintahan kota. Sepertinya mereka cukup sensitif dengan penggunaan media sosial karena beberapa ternyata pekerja di departemen hubungan masyarakat pemerintah dan bahkan pelaku endorse online shop.

Baru saya menemukan yang menurut saya masuk semangat anak muda hidup jaen. Ternyata mereka cukup antusias dan sensitif juga terhadap keadaan kotanya maka bersedia membantu memajukan kotanya bersama-sama, yang menurut saya akan menjadi pengetahuan baru juga di Global Village ini. Selama hidup ini saya tidak pernah bagian dalam sekaa teruna teruni, mungkin berkegiatan di wadah baru kota ini di usia yang hampir kepala tiga ini bisa membuat saya lebih mengerti sensitivitas pemuda global Bali terhadap Bali ke depannya.

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian 3

sumber: wayang.wordpress.com

“Kutebas lehermu!” kata Weksirsa kepada mayat yang telah dihidupkannya. Mayat yang dihidupkan itu bukan menjadi Zombie, tapi benar-benar manusia yang hidup seperti sedia kala.

Mayat yang dihidupkan itu berterimakasih karena telah dihidupkan kembali oleh Weksirsa dan Mahisawadana. Tapi sayang, terima kasih saja tidak cukup. Ia harus membayar lebih karena telah dihidupkan kembali. Ia harus mati.

Mayat dihidupkan, lalu dibunuh lagi. Begitu runtutan prosesi ritual yang dijalankan oleh Calwan Arang dan murid-muridnya. Tapi untuk apa yang sudah jadi mayat dihidupkan kembali? Saya belum mendapatkan informasi dalam teks sejauh ini. Tapi ada suatu penjelasan secara lisan, bahwa dalam ritual segala jenis Banten yang dipersembahkan terlebih dahulu “dihidupkan” lagi. Konon, orang tidak boleh mempersembahkan bangkai, maka dengan mantra, yantra, dan mudra dihidupkan terlebih dahulu.

Barangkali, praktik semacam ini memiliki hubungan yang serius dengan praktik ritual Calwan Arang. Agar lebih jelas, kita mesti merunutnya dengan teks-teks Puja sebagaimana dilangsungkan oleh Pendeta. Tentu saja, merunut teks semacam itu tidaklah mudah. Jadi kita istirahatkan dulu rasa ingin tahu kita sampai di sini.

Leher mayat yang dihidupkan tadi, benar-benar ditebas. Darah menyembur. Kepalanya terlempar. Calwan Arang menggunakan darah itu untuk mencuci rambut. Sampai saat ini ada dua tokoh perempuan yang menggunakan darah untuk mencuci rambut. Perempuan pertama adalah istri Pandawa, Drupadi. Ia menggunakan darah Dusssasana untuk mencuci rambutnya yang telah tergerai setelah tragedi penelanjangan saat Pandawa kalah judi. Saat itu Drupadi bersumpah akan mencuci rambutnya dengan darah Dussasana.

Dalam teks Calwan Arang, kita menemukan lagi adegan semacam itu. Tapi kali ini bukan karena sumpah. Entah karena apa Calwan Arang mencuci rambut dengan darah manusia. Mungkin ada suatu ajaran yang dapat kita telusuri mempraktikkan praktik-praktik spiritual dengan metode ini.

Ajaran apa namanya, saya juga belum tahu. Yang pasti, adegan ini tidak sesederhana seperti melihat perempuan mencuci rambut di kali atau sungai. Satu hal yang penting lagi, setelah Calwan Arang mencuci rambutnya dengan darah, rambutnya menjadi kusut. Kusut dalam bahasa teks Calwan Arang disebut gimbal [magimbal pwa kesanira]. Jadi kata gimbal bukan kata baru.

Bagaimana dengan tubuh mayat yang dihidupkan tadi? Menurut teks Calwan Arang, ususnya dijadikan kalung oleh Calwan Arang. Semua bagian tubuh itu diolah dan dijadikan persembahan berupa Caru kepada semua Bhuta. Dari sisi ini, kita bisa melihat suatu praktik yang tercatat dalam teks dan barangkali memang benar-benar terjadi pada suatu masa. Persembahan Caru yang kini dikenal di Bali kebanyakan menggunakan binatang dan bukan manusia.

Tapi teks Calwan Arang berkata lain. Manusia juga dipersembahkan sebagai upakara Caru. Catatan ini penting diketahui, agar ditimbang-timbang apa pula penyebab praktik itu tidak bisa ditemukan lagi jejaknya.

Cerita-cerita tentang persembahan daging manusia hanya bisa dinikmati lewat penuturan para tetua. Tentulah ada suatu klasifikasi yang harus dipenuhi agar praktik itu bisa dilakukan. Salah satunya adalah kemampuan pemimpin upacara dan juga tentang “siapa yang mesti dikorbankan”.

Dalam kakawin Ramayana, ketika raja Dasharata melakukan puja Homa, yang didaulat untuk memimpin upacara adalah Resyasrengga. Resyasrengga didaulat, karena ia adalah Rsi yang mahir dalam Shastra [widagda ring shastra]. Pada tingkat upacara Homa klasifikasi semacam itu diperlukan, apalagi pada tingkat persembahan manusia.

Bahwa Calwan Arang yang mempraktikkan ritual itu, artinya pada Calwan Arang kita cari klasifikasi pemimpin upacara korban Caru itu. Sampai pada saat ini, kita mengenal Calwan Arang sebagai Guru, sebagai Ibu, Janda sakti yang menguasai ilmu menghidupkan dan mematikan. Tidak hanya itu, Calwan Arang adalah kesayangan Bhatari Bagawati. Bahkan persembahan yang dilakukan Calwan Arang disebut persembahan yang utama [adinika inaturanya].

“Aku sangat senang dengan persembahanmu, tapi berhati-hatilah dalam bertindak anakku Calwan Arang,” demikian kata Bhatari Bagawati. Konon Bhatari merasa senang dengan persembahan yang dipersembahkan oleh Calwan Arang. Sayangnya, permintaan Calwan Arang agar seluruh kerajaan terkena penyakit membuat Bhatari Bagawati harus menasehatinya agar hati-hati dalam bertindak.

Meski anugerah Bhatari sudah didapat, Calwan Arang ternyata harus tetap hati-hati juga. Jika pemilik otoritas anugerah itu menasehati agar hati-hati, bagaimana mungkin Calwan Arang tidak hati-hati? Tapi hati-hati kepada apa? Kepada siapa? Tidak dijelaskan dalam adegan itu, kepada apa dan siapa Calwan Arang mesti hati-hati.

Setelah anugerah didapat, Calwan Arang segera menari sekali lagi. Tidak di kuburan, tapi di perempatan [catus pata]. Karena itu seluruh penduduk kerajaan menderita penyakit. Jenis penyakitnya adalah panas tis [panas dingin]. Penyakit panas dingin macam apa yang bisa membunuh banyak orang dalam dua malam?

Banyak orang mati di kerajaan itu. kuburan kekurangan tempat. Banyak mayat membusuk di selokan. Bahkan di dalam rumah-rumah penduduk. Weksirsa masuk ke dalam rumah dan tempat tidur penduduk. Ia meminta-minta Caru berupa daging dan darah mentah. Pada mayat yang belum membusuk, ia mengambil darah dengan cara merobek leher mayat-mayat itu. Benar-benar hari-hari huru hara.

Di Kerajaan, para pinisepuh menghadap raja. Para mantri tidak ketinggalan. Keputusannya? Adakan upacara Homa. Homa adalah upacara penyelesaian yang dilakukan ketika wabah terus menyerang. Begitu yang ingin disampaikan oleh pencerita Calwan Arang. Yang dipuja adalah Hyang Agni. Puja Homa dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Tengah malam, Sang Hyang Catur Bhuja muncul dari api Homa. Catur berarti empat. Bhuja berarti lengan. Dia yang berlengan empat keluar dari api itu. Tidak hanya sekadar keluar, tapi ada petunjuk yang diberikan kepada para pemuja di kala itu. “Carilah Sri Munindra Baradah, ia ada di Semasana Lemah Tulis,” begitu petunjuknya. Konon hanya Baradah yang mampu meruat [menyucikan] kembali negeri yang sudah terlanjur porak poranda itu.

Raja memerintahkan Kanuruhan untuk pergi menghadap Baradah di Lemah Tulis. Sesingkat-singkatnya cerita, Kanuruhan berhasil menemui Baradah. Tapi bukan Baradah yang akan datang ke kerajaan itu. Adalah Mpu Kebo Bahula, murid Mpu Baradah yang diutus untuk pergi mendahului. Yang diutus tidak menolak, maka pergilah Mpu Kebo Bahula bersama Kanuruhan. Rencananya, Mpu Kebo Bahula akan melamar Ratna Manggali, anak Calwan Arang.

“Tuanku, hamba adalah murid Mpu Baradah. Bahula nama hamba. Tujuan hamba datang adalah untuk memohon belas kasihan kepada Tuanku. Sudi kiranya Tuanku mengabulkan permintaan hamba yang hina ini. Hamba ingin melamar Ratna Manggali,” begitu kata Mpu Bahula tanpa ragu.

“Tidak ada yang perlu kau takutkan anakku. Tapi kau haruslah sungguh-sungguh dari hatimu. Ratna Manggali akan aku serahkan, hanya jika kau cinta,” Calwan Arang merasa senang.

“Baiklah Tuanku, hamba ini pesakitan yang diperintahkan untuk mencari obat oleh guru hamba. Hanya Ratna Manggali obat segala penderitaan hamba. Hamba meyakininya tanpa ragu. Lalu apa maharnya?”

“Anakku Bahula, bukan mahar itu yang terpenting. Tapi cinta dan kesungguhan. Apapun yang kau berikan, akan aku terima.”

Maka siaplah segala mahar diberikan oleh Mpu Bahula. Di antaranya sedah panglarang [sirih], pirak panomah [perak], patiba sampir [selendang], dan spatika nawaratna dipata [permata]. Dengan seperangkat mahar itu, Mpu Bahula dan Ratna Manggali dinikahkan. Bagaimana prosesi pernikahan mereka, tidak diceritakan. Saya ragu, apakah setelah ritual sakral pernikahan itu, Ratna Manggali dan Mpu Bahula juga menggelar acara resepsi.

Jenis riasannya pun tidak dijelaskan, siapa pula juru riasnya juga tidak ada penjelasan. Jangankan penjelasan tentang hal-hal semacam itu, bahkan pemimpin upacara pernikahan pun tidak disebutkan siapa. Hal ini akan menarik mengingat kedua mempelai memiliki orang tua yang sama-sama sakti. Maka seorang yang ditugaskan untuk menyelesaikan upacara pernikahannya pun, pastilah tidak kalah hebatnya.

Setelah mereka menikah, Calwan Arang tetap melakukan pemujaan kepada Bhatari Bagawati. Lipyakara sering diturunkan, ia juga sering pergi ke kuburan. Kejadian itu terus diperhatikan oleh Mpu Bahula. Sampai pada suatu saat, Mpu Bahula bertanya kepada Ratna Manggali. “Dewiku, Ratna Manggali. Apa sebabnya ibu selalu pergi dan baru kembali saat tengah malam? Kemana perginya? Aku sungguh khawatir.”

Cinta dan percaya, membuat Ratna Manggali tidak menaruh sedikit pun kecurigaan kepada Bahula. “Suamiku, janganlah sampai mengikuti jejak ibu yang demikian. Sungguh tidak baik perbuatan itu. Ibu saat malam selalu memuja Bhatari Bagawati. Menurunkan Lipyakara dan pergi ke kuburan. Itulah sebabnya banyak orang mati di kerajaan.”

“Dewiku, perkenankan aku mengetahui dan melihat Lipyakara itu. Aku juga ingin mempelajarinya.”

Tidak perlu pikir panjang, saat Calwan Arang pergi, Ratna Manggali menyelinap ke tempat penyimpanan. Mengambil Lipyakara dan menyerahkannya kepada Bahula. Dengan alasan untuk dipelajari dan ditanyakan kepada Pendeta Baradah, Bahula pergi menuju Lemah Tulis membawa Lipyakara.

Bahula sampai di Lemah Tulis. Baradah segera dihadapnya. Sebagaimana tradisi ketika itu, Bahula mendekati Baradah sambil membawa Lipyakara dan menjilati debu di kaki Baradah. Hasil jilatan itu diletakkannya di ubun-ubun [Bahula mamawa lipyakara, manambah eng jeng sang Mredu, teher mandilati lebu kang aneng talampakanira Sang Yogiswara, enahakenireng wunwunan]. Ada tradisi yang dipraktikkan oleh garis perguruan tertentu sebagai cara menghormati guru dengan menjilat debu di kaki guru dan diletakkan di ubun-ubun. Tradisi semacam ini, bisa kita baca dalam teks Calon Arang.

Mpu Bahula menyerahkan Lipyakara kepada Mpu Baradah untuk dilihat dan dipelajari. Saat mulai membukanya, Mpu Baradah terkejut, ternyata ajaran di dalamnya sangat utama. Isinya konon ajaran tentang kebenaran [kayogyan], tentang kesiddian [kasidyan], ajaran agama [telas pwa yeng agama].

Ajaran kebenaran, berarti ajaran tentang Dharma. Ajaran tentang kesiddhian, berarti suatu ajaran untuk sampai pada tingkat mendapat permata pikiran. Cirinya adalah semua yang dicari didapat, yang dinanti datang. Lalu apa yang dimaksud dengan telas pwa yeng agama? Artinya ajaran agama itu telah habis. Habis berarti tuntas, selesai, sampai, menjadi. Artinya isi Lipyakara adalah tentang menjadi Agama. Apakah yang dimaksud ajaran agama? Tidak sesederhana yang sedang kita pikirkan.

Bagian kedua serial kisah ini di sini.

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian II

Ekspresi tari Calon Arang/id.wikipedia.org

Ayah, biarkan hamba tinggal di sini. Sampai mati hamba ingin tetap di sini.”

Demikian kata Wedawati kepada Mpu Baradah, setelah ia merasa tidak dipedulikan di rumahnya sendiri. Saat itu juga ia memutuskan akan tinggal di kuburan, di mana ibunya diupacarai dahulu. Mpu Baradah hanya bisa mengikuti kemauan anaknya. Mulai saat itu, Mpu Baradah memutuskan untuk membangun Pasraman di kuburan itu.

Tanah diratakan, juga diupacarai agar layak ditinggali. Nama upacaranya Bumi Suddha. Setelahnya didirikanlah balai-balai Patani, Patamuan, Pakulem-kuleman, juga Bukur. Gerbang masuk juga dibangun. Bunga-bunga mulai ditanam, seperti bunga Angsoka, Andul, Surabi, Tanjung, Kamuning, Campaka Gondok, Warsiki, Asana, Jering, dan Bujaga Puspa.

Tidak kurang lagi bunga Cabol Atuwa, Gambir, Malati Puspa, Caparnuja, Kuranta, Tari Naka, Cina, Teleng, Wari Dadu, Wari Petak, Wari Jingga, Wari Bang, Padma, dan Lungid Sabrang. Banyak jenis-jenis bunga di Pasraman itu, dan jenis bunga yang sudah tidak kita kenali lagi. Setelah Pasraman itu selesai, di sana Mpu Baradah mengajarkan banyak hal kepada murid-muridnya siang dan malam.

Sampai di sana, cerita tentang Mpu Baradah dan Wedawati berhenti. Atau lebih tepatnya dihentikan. Yang memiliki otoritas untuk menghentikan dan melanjutkan cerita adalah pencerita. Pencerita menjadi maha kuasa di dunia yang ia ciptakan sendiri. Tokoh-tokoh di dalamnya, bergerak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan pembaca hanya bisa pasrah mengikuti aliran pikiran pencerita, sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Maharaja Erlanggya namanya, raja dari kerajaan Daha. Ia disebut Tilingeng Karesyan. Kata Tiling bisa berarti pilihan. Karesyan tampaknya sangat dekat hubungannya dengan suatu tempat para Resi. Barangkali maksudnya, bahwa Erlanggya adalah raja yang dipilih dari salah satu tempat para Resi. Dengan demikian, sangat besar kemungkinan Erlanggya adalah salah satu pelajar di Karesyan itu.

Ada seorang Randa diceritakan kemudian. Randa ini bertempat di Girah. Ia dikenal dengan sebutan Calwan Arang. Anaknya satu bernama Ratna Manggali, cantik sekali. Sayangnya tidak ada yang melamarnya, entah orang-orang Girah, Daha atau orang dari negara pinggiran. Semuanya takut karena terdengar berita Adyan Ing Girah [Calon Arang] mempraktikkan Laku Geleh. Laku Geleh kita terjemahkan sebagai tindakan jahat. Kata Geleh berarti kotoran, noda, kejahatan. Entah kejahatan jenis apa yang konon dilakukan oleh Calwan Arang, belum dijelaskan pada bagian ini.

Calwan Arang merasa tidak terima dengan situasi yang harus diahadapi putrinya. “Apa kurangnya anakku? Kurang cantik? Tidak mungkin!” Karena itu, ia memutuskan untuk Manggangsala Pustaka. Manggangsala Pustaka berarti menurunkan atau mengambil Pustaka. Pustaka dalam hal ini berarti ajaran. Ajaran apakah yang hendak diturunkan? Menurut teks, yang diturunkan adalah Lipyakara. Tidak ada penjelasan yang cukup menjanjikan untuk memahami, apa yang dimaksud dengan Lipyakara. Tapi teks menunjukkan bahwa Lipyakara itu dilakukan dengan menghadap kepada Sri Bagawati. Sri Bagawati adalah nama lain dari Durga. Tujuannya hanya satu: tumpura nikang wwang sanagara [agar semua orang di negara itu terkena penyakit].

Tidak ada yang harus ditunggu lagi, Calwan Arang bersama dengan murid-muridnya menghadap Sri Bagawati di kuburan. Agar tidak ada yang tertinggal, murid-murid itu diabsen terlebih dahulu. Si Weksirsa, Mahisawadana, Si Lendya, Si Lende, Si Lendi, Si Guyang, Si Larung dan Si Gandi. Semuanya menari di kuburan!

Maka yang disembah merasa senang dan mewujudkan diri bersama dengan para pasukannya. Pasukan-pasukan itu datang dan menari di kuburan. Kuburan menjadi sebuah panggung tarian bagi pemuja dan pujaan. Bayangkan, jika drama tari Calwan Arang diadakan di kuburan. Tarian kembali kepada esensinya sebagai ritus pemujaan yang dilakukan dengan gerakan ritmis-mistis. Dengan demikian, penonton tidak perlu lagi menunggu-nunggu saat mayat-mayatan dibawa ke kuburan. Sebab panggung tarian sudah menyajikan kemistisan dari awal pertunjukan dimulai. Juga mereka tidak menjaga jarak sebagai penikmat, tapi juga sebagai pelaku yang dinikmati oleh dirinya sendiri.

Sri Bagawati merasa senang, dan mengabulkan permintaan Calwan Arang. Namun dengan syarat, jangan membunuh sampai ke tengah [kerajaan?], dan jangan sampai kematian itu menyebabkan duka yang teramat sangat. Calwan Arang senang bukan kepalang, lalu melanjutkan tariannya di tempat itu. Ketika tengah malam, berbunyilah Kamanak dan Kangsi. Keduanya dalam seni Gambuh adalah alat musik. Kedua instrument ini tampaknya juga sangat penting dihadirkan pada drama tari Calwan Arang. Jadi ada beberapa hal yang dapat kita ketahui dari cerita Calon Arang yang kita baca. Begini:

  1. Calon Arang menari bersama delapan orang muridnya di Kuburan. Tujuannya adalah memuja Sri Bagawati;

  2. Waktunya adalah tengah malam [madya ratri];

  3. Instrumen musik yang disebut mengiringi tarian itu adalah Kamanak dan Kangsi.

Jadi beberapa point penting itu perlu dicatat oleh kita yang mengaku gemar pada drama tari Calwan Arang. Teks menyajikan sesuatu yang lain dari pada pertunjukan yang sering dipentaskan. Di tingkat ini, kita mesti memikirkan kembali hal-hal lain yang mungkin masih tersimpan dalam teks dan membandingkannya dengan seni pertunjukan. Barangkali di antaranya ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk mengeksplorasi lebih jauh seni pertunjukkan Calon Arang.

Permohonan Calwan Arang benar-benar terkabul. Banyak orang di negara itu mati. Kematian banyak orang membuat Negara serasa mencekam. Rakryan Apatih menghadap kepada raja Erlanggya, melaporkan kejadian yang menimpa negara. “Penyebab semua ini adalah Randeng Girah, dialah Calwan Arang!”, demikian isi laporan sang Patih.

Tidak ada ampun untuk Calwan Arang, pergilah kalian semua punggawa, serang si Calwan Arang”, dengan geram raja Erlanggya memerintahkan semua punggawanya menuju Girah. Sang Bretya sampai di kediaman Calwan Arang, yang dicari masih tertidur pulas. Moment itu dimanfaatkan dengan baik, Sang Bretya menyerang Calwan Arang. Rambutnya dijambak lalu bersiap menusuknya. Saat itu, entah kenapa kaki Sang Bretya terasa berat dan gemetar. Calwan Arang sadar, seketika itu keluar api dari mata, telinga dan mulutnya. Api itu makin lama makin besar dan membakar Sang Bretya. Maka matilah dua orang Bretya yang menyerang Calwan Arang.

Ada beberapa teks yang mendukung kejadian yang menimpa punggawa Daha itu. Api konon memang bisa dikeluarkan dari lubang-lubang yang disebutkan dalam teks Calwan Arang. Masing-masing lubang itu mengeluarkan api yang berbeda warna. Api dari mata berwarna putih, sebab api ini berasal dari jantung. Jantung dalam peta mistis, terletak di timur tubuh. Telinga mengeluarkan api kuning. Menurut teks yang sama, dari ginjal ada saluran berupa urat yang tembus ke telinga. Ginjal dalam tubuh, ada di barat. Dari mulut keluar api merah. Api itu konon bersumber dari hati. Hati dalam peta mistis berada di selatan berwarna merah.

Selain beberapa lubang yang sudah disebutkan tadi, menurut teks Calwan Arang ada lagi satu lubang tubuh Calwan Arang yang mengeluarkan api. Lubang itu disebut Garba. Garba adalah sebutan untuk Rahim. Jadi dari lubang Rahim itulah api keluar berkobar dan membakar Bretya dari Daha. Bretya barangkali sebutan untuk punggawa kerajaan Daha. Semua kejadian itu dilaporkan kepada raja Erlanggya.

Calwan Arang yang sudah marah, menjadi makin marah setelah kejadian itu. Maka sekali lagi ia pergi ke kuburan dan menurunkan Lipyakara. Di kuburan, Calwan Arang duduk di bawah pohon Kepuh. Murid-muridnya mendekat. Si Lendya memberanikan diri bicara, “Maafkan hamba guru, untuk apa kita melakukan semua ini? Tidakkah sebaiknya kita berbuat baik dan menyerahkan diri kepada Sang Mahamuni?”.

Larung, muridnya yang lain berkata, “Apa yang mesti kita takutkan guru? Kemarahan raja? Jangan ragu guru, kita serang saja kerajaan itu!”. Dihadapkan pada dua pilihan, Calwan Arang memilih menyerang.

Cepat, bunyikan Kamanak dan Kangsi! Menarilah! Menari! Menari!”.

Tanpa cang-cing-cong lagi, Calwan Arang dan murid-muridnya menari lagi di kuburan. Tujuannya agar kerajaan Daha diserang penyakit. Tidak lagi syarat Sri Bagawati diperhatikan oleh Calwan Arang. Negeri Daha diserang sampai ke tengah kerajaannya.Mereka menari dengan caranya masing-masing. Si Guyang menari dengan tangan terlentang lalu menepuk-nepuk. Jalannya terbalik [nyungsang]. Juga memakai kain [sinjang]. Matanya mendelik, melihat ke kanan dan ke kiri.

Si Larung menari, lagaknya seperti macan akan menerkam buruan. Matanya mendelik seperti permata merah. Rambutnya terurai panjang. Si Gandi menari melompat-lompat. Rambutnya terurai dan berjuntai. Si Lendi menari berjinjit-jinjit memakai kain. Matanya bersinar terang seperti api berkobar. Si Weksirsa beda lagi, dia menari menunduk-nunduk. Matanya mendelik tanpa berkedip. Mahisawadana menari dengan satu kaki. Setelahnya ia berbalik, kepalanya di bawah. Lidahnya menjulur-julur. Calwan Arang merasa senang.

Tarian itu belum selesai. Mereka membagi tugas melingkar. Lenda bertugas di Selatan. Larung di Utara. Guyang di Timur. Gandi di Barat. Calwan Arang di tengah. Begitu juga Weksirsa dan Mahisawadana, di tengah bersama Calwan Arang. Formasi itu mirip bunga teratai dengan empat kelopak. Masing-masing kelopak menunjuk satu arah. Calwan Arang dan dua muridnya menjadi sari bunga teratai.

Konsep ini tidak asing bagi mereka yang menekuni teks-teks lontar. Bahkan, konsep itu tidak asing pula bagi orang-orang yang peduli pada ritual. Salah satu ritual yang menggunakan konsep teratai empat kelopak adalah upacara caru. Masing-masing arah diwakilkan oleh satu ayam. Ayamnya bukan ayam sembarangan. Tapi ayam yang bulu-bulunya diseleksi.

Formasi yang dibangun sudah siap. Saat itu mereka melihat satu mayat. Tampaknya mati saat Tumpek Kaliwon. Tumpek Kaliwon artinya Sabtu Kaliwon. Mayat itu diletakkan pada batang pohon Kepuh. Apa yang dilakukan dengan mayat itu? Dimakan? Dicincang? Tidak. Mayat itu lalu dihidupkan! Teknik menghidupkan ini disebut binaywan-baywan. Artinya memberikan sumber tenaga [bayu]. Dalam banyak sumber lontar, kita diberi tahu bahwa yang disebut bayu ada sepuluh. Bahkan menurut sumber lainnya, jumlah bayu ada dua puluh. Keduapuluh bayu itu bernama bayu rwang puluh.

Teks menyajikan sesuatu untuk dibaca. Pembaca bertugas memahami. Pergulatan antara teks dan pembaca terjadi terus menerus. Hadiah dari pergulatan itu adalah pemahaman yang terkesan selalu baru, selalu segar. Calwan Arang dituduh melakukan kejahatan, bahkan pencerita sendiri tidak menjelaskan kejahatan macam apa yang dilakukannya.

Melalui teks, kita tahu kalau Lipyakara dilakukan oleh Calwan Arang karena dua hal. Pertama karena putrinya tidak ada yang berani melamar, sebab tuduhan yang ditusukkan pada dirinya. Kedua, karena ia diserang oleh punggawa Erlanggya. Keduanya berpusat pada dendam. Dendam karena dituduh, dan dendam karena diserang.

The post Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian II appeared first on BaleBengong.

Letupan Gairah Bali Poetry Slam

Slammer, begitu pembaca puisi di Poetry Slam kerap dipanggil yang mendapat nilai tertinggi akan diberi gelar Slam Champion. Peraih gelar tahun ini adalah Jong Santiasa Putra dan pemenang kedua, Kaizar.

JONG
Di Jalan Menuju Singaraja

November 2019
Aku menuju Singaraja
jalan-jalan melihat hutan cemara
jalan-jalan menghirup udara
jalan-jalan sambil bercerita
dengan kekasih dari jakarta

The shine at night
makes me want to light
a city that sparks
onto my heart

Katanya di Jakarta tidak ada udara
it is a place for a run
adanya orang-orang penuh duga
it is a place full of dust
adanya orang-orang berprasangka
it is a place to disguise
sebab di sana adalah kerja
di sini kita sedang bercinta

Sebelum sampai ke kota
kita singgah di tepi kata
ada yang hendak kita rangkai bersama
menjadi apa-apa
menjadi ada-ada
tapi semua bingung tentang arah
karena cemas dan pasrah
kita tanam saja kata-kata dalam tanah
semoga berbuah
dan penuh berkah.

We stand between the lines
move forward we’ll meet the right
move behind we’ll both fall
we see eye to eye
try to decide which way to run
but still there’s no sign
like this life we both enticed

Oh yah kami menaiki motor
To-tor-tor-tooooooooor-toooor
muka kami penuh debu jadi kotor
di jalan orang tergesesa-gesa ngeloyor
asyu, damn, oh my god, oh lord, shut up
umpatan-umpatan keluar dari mulut
cuacana buruk , dingin dan penuh kabut
kami paksa kan saja untuk ngebut
karena di jalan semua tampak kalang kabut.

Finally we arrived
and we know
what will stay
and what will away

GRAND SLAM POETRIES Ini karya puisi slammer lainnya.

Poetry Slam atau Adu Puisi adalah konsep pembacaan puisi yang pertama kali muncul di Amerika Serikat. Para pembaca puisi menyerukan karya orisinalnya kepada audiens selama maksimal tiga menit tanpa menggunakan property dan kemudian dinilai oleh Juri dengan rentan skor 1-9. Juri dipilih dari barisan penonton.

Pembacaan puisi ini terlihat sangat bergairah. Antusiasme penonton sangat terasa, mereka merespon para slammer, dengan menjentikan jari tanda persetujuan pesan di puisi, dan tepuk tangan meriah di akhir penampilan. Peserta open mic juga disambut meriah. “Ini perhelatan baca puisi yang sangat menarik, penontonnya menyimak dan heboh,” seru Iin, salah satu penonton.

Memasuki Tahun ke-2 Unspoken – Bali Poetry Slam kembali mengadakan tahap final dari program tahunan poetry slam yaitu The Grand Slam 2019: Unspoken Justice yang akan diselenggarakan pada 8 Desember 2019 di Betelnut, Jl. Raya Ubud pukul 8 malam. Tersaring 6 finalis yang sebelumnya telah menjadi pembaca puisi terbaik di tahap heats pada bulan Maret, Mei, dan Oktober dari berbagai kota di pulau Bali adalah Cleo Chintya, Gek Ning, Imam Barker, Jong Santiasa Putra, Kaizar Nararaya, dan Zeta Dangkua.

Di tiga kesempatan penyisihan sebelumnya, Unspoken – Bali Poetry Slam yang digerakkan oleh Virginia Helzainka, Trifitri Muhammaditta, Jasmin Kalaila, dan Doni Marmer mengangkat tema “Unspoken Dream” di bulan Maret, “Unspoken Pride” di bulan Mei, dan “Unspoken Passion” di bulan Oktober.

Selain ingin memberikan ruang apresiasi untuk puisi, Unspoken – Bali Poetry Slam juga ingin menyuarakan isu-isu yang umumnya sulit diungkapkan sebagai tema puisi pada setiap penyelenggaraannya. Panggung Unspoken – Bali Poetry Slam menjadi ruang nyaman untuk mengucapkan yang tak terungkapkan, tanpa prasangka, dan bebas melepaskan hasrat dalam bentuk puisi. Nama ‘unspoken’ atau ‘yang tak terungkapkan’ pun menjadi nama komunitas dan acara adu puisi ini.

Project Unspoken Poetry Slam ini berbasis komunitas sastra dan seni yang merayakan puisi dengan menyelenggarakan program yang menghibur dan mengedukasi seperti Poetry Slam (Adu Puisi), Open Mic (Panggung terbuka), dan Workshop (Loka karya). Menjalin silaturahmi dengan komunitas lokal dan festival sastra dan seni penikmat puisi di pulau Bali setiap dua atau tiga bulan sekali sepanjang tahun.

Sebanyak 6 slammers diberi kesempatan untuk membacakan karya orisinalnya di atas panggung Grand Slam 2019. Audiens turut merespons puisi secara leluasa dengan memetikan jari. Gerakan tersebut diartikan sebagai persetujuan penonton akan makna dan keindahan puisi yang dibacakan.

Turut meriahkan panggung, penyair tamu Doni Marmer, Kadek Sonia Piscayati, The Four Hinds serta penampil music The Brass Tax dan I The Band menyelingi acara pada awal, pertengahan, dan akhir acara untuk menjaga suasana tetap segar, hangat, dan semangat. Pada penghujung acara, penampil terbaik disematkan gelar Bali Poetry Slam Champion 2019 sesuai skor penilaian Juri dan membawa pulang hadiah dari pendukung acara (Cekindo Business International, Nonadansa Sanur, Littletalks Ubud, Bali Buda ®, Mahima Institute Indonesia, Minikino).

Keenam finalis The Grand Slam nantinya akan tur keliling Bali di tahun depan dengan mengadakan Open Mic dan Workshop puisi ke kota-kota lokasi kegiatan Unspoken Bali Poetry Slam. Sebagai bentuk apresiasi dari kami telah berpartisipasi di Unspoken – Bali Poetry Slam 2019.

Pemutakhiran detail acara “The Grand Slam 2019: Unspoken Justice” dapat dipantau melalui media sosial Fb Unspoken – Bali Poetry Slam dan Instagram @unspokenpoetryslam. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi unspokenpoetryslam@gmail.com.

The post Letupan Gairah Bali Poetry Slam appeared first on BaleBengong.