Tag Archives: bramasta

Bramasta Disapih

Proses sapih (berhenti menyusu) Bramasta ternyata sangat jauh lebih mudah dari yang saya bayangkan. Saya teringat dulu waktu proses sapih kakaknya, Nindi, cukup sulit dan bahkan sempat gagal.

Waktu Nindi dulu, pertama kali mencoba, malam sebelum tidur Nindi nangis dan ngamuk minta susu ibunya. Kami sebenarnya sudah berusaha tenang dan siap, kami bahkan sudah mengisi dan mengoleskan daun samiroto di susu ibunya, lalu Nindi mencobanya dan tentu rasanya sangat pahit, gara-gara itu juga dia semakin menangis dan ngamuk. Yang pertama menyerah adalah nininya, ibu saya, karena tidak tega melihat cucunya menangis dan sedih. Malam itupun kami gagal dan istri saya membersihkan susunya dengan sabun untuk menghilangkan rasa pahit, lalu Nindi kembali menyusu.

Beberapa hari kemudian, kami memutuskan untuk menginap di rumah mertua dan fokus pada proses sapih Nindi. Nindi tentu nangis lagi, tapi kami lebih tenang dan mencoba memberinya air minum. Dengan sabar akhirnya malam itu Nindi berhasil kami tidurkan tanpa susu dan berlanjut di hari-hari selanjutnya.

Nah, berdasarkan pengalaman itu, kami membayangkan proses sapih Bramasta akan jauh lebih sulit, mengingat karakternya yang jauh lebih keras dari kakaknya. Bramasta kalau minta sesuatu dan tidak dia dapatkan, dia biasanya cenderung berontak dan teriak. Agak khawatir membayangkan bagaimana dia akan ngamuk kalau disapih. Tapi ternyata prosesnya cukup mudah, bahkan jauh lebih mudah dibanding kakaknya Nindi dulu.

Hari pertama kami coba menghentikan Bramasta menyusu ternyata langsung berhasil, dia hanya terlihat sedikit sedih saja, tapi langsung bisa tidur Begitu pula di hari-hari selanjutnya. Kami sempat tidak percaya kok bisa semudah itu. Ah, ternyata setiap anak memang sangat unik.

*btw, ini sebenarnya draft tulisan yang hampir setahun lalu, saat Bramasta berumur sekitar 2 tahun saat dia baru disapih.

Baca Juga:

Bramasta 2 Tahun

Tidak terasa Bramasta sudah berumur 2 tahun. Pada tanggal 29 Juni 2018 yang lalu kami merayakan ulang tahun Bramasta dengan sederhana saja sekaligus arisan keluarga. Bramasta tentu saja antusias saat merayakan ulang tahunnya, begitu pula kakaknya Nindi yang sudah ikut mempersiapkan acara kecil ini dari beberapa hari sebelumnya dengan memilihkan kue yang dibeli online.

Hal yang paling kami syukuri dalam ulang tahun Bramasta tentu saja segala kebahagiaan dalam bentuk kesehatan, pertumbuhan yang baik dan semua anugerah Tuhan kepada kami. Setiap hari, setiap jam, setiap menit dan detik terasa seperti sebuah surga dalam dunia nyata.

Ngomong-ngomong perkembangan Bramasta sejauh ini, secara umum mirip seperti kakaknya Nindi dulu dan juga anak-anak lainnya. Hanya saja Bramasta terasa sedikit berbeda dengan Nindi dalam hal karakter, entah karena faktor laki-laki atau apa, Bramasta terasa agak keras, atau dalam bahasa Bali kami sebut “kenyat”, hehe. Kemauannya terhadap sesuatu yang diinginkan biasanya sangat keras, kalau tidak dapat apa yang dia inginkan biasanya dia akan teriak dan sedikit mengamuk. Ya semoga saja wataknya ini dapat semakin terkendali seiring bertambah umurnya nanti.

Bramasta kini juga sudah semakin lancar bicara. Dibanding Nindi, Bramasta terlihat sedikit lebih lambat bicara. Kalau Nindi dulu saat umur 2 tahun 2 bulan sudah bisa bernyanyi, tapi Bramasta baru mulai lancar beberapa kata saat umur 2 tahun. Tapi kecerdikan dan pintarnya terlihat hampir sama.

Begitulah, semoga saja dengan bertambahnya usia, Bramasta makin dewasa, selalu sehat dan tumbuh menjadi anak yang membanggakan.

Baca Juga:

Pekan Yang Melelahkan

Dua pekan terakhir benar-benar melelahkan bagi kami baik secara fisik maupun pikiran. Berawal dari dua minggu yang lalu, di hari Minggu sore Bramasta diimuninasi, kebetulan ini imunisasi yang menyebabkan panas. Selama dua hari Bramasta badannya panas, walau sudah kami tahu sejak awal dan juga minum obat, tetap saja pikiran tidak tenang. Apalagi ibunya, tentu lebih repot khususnya di malam hari karena Bramasta tidak bisa tidur nyenyak.

Panasnya Bramasta pun hilang, hari berikutnya ibunya yang tepar. Mulai pusing dan meriang, dugaan kami mungkin karena kecapean. Tapi istri saya tetap memaksa beraktivitas, sampai akhirnya hari Kamis pagi saat berangkat dari rumah lalu singgah di rumah mertua dan istirahat disana sampai sore. Pusing dan demamnya belum juga hilang.

Hari Jumat saya memutuskan untuk tidak masuk, agar bisa membantu ngempu Bramasta di rumah dan istri saya lebih banyak istirahat. Sabtu sore karena belum membaik juga, akhirnya saya paksa ajak cek lab. Hasil cek darah lengkap, istri saya positif demam berdarah, trombosit sudah 124 dan panas hari ke 4. Saran dokter, banyak istirahat dan minum air, apalagi sedang menyusui. Sementara itu Sabtu siang Bramasta ikutan panas lagi, duh..

Keesokan harinya, Minggu di sore hari istri saya cek lab lagi, saya sudah pasrah kalau harus opname. Hasilnya, trombosit masih turun menjadi 117, tapi masih boleh istirahat di rumah. Kami cukup lega namun bercampur cemas. Saya sangat pesimis kalau besok trombosit akan naik. Hari Senin istri cek lab lagi, syukurlah trombosit malah naik menjadi 130, ini hari ke 6. Saya anggap sebuah keajaiban, saya cukup lega.

Tapi masih ada yang membuat cemas yaitu Bramasta masih panas dan terus diberi penurun panas. Senin sore dia ikut ke dokter tapi kata dokter belum perlu cek lab. Hari Selasa istri saya tetap istirahat di rumah karena belum fit dan masih lemes. Saya kerja dan lembur sampai malam karena harus membuat tugas kuliah. Saya dikabarin bahwa Nindi muntah-muntah dari siang sepulang sekolah. Saya tiba di rumah pukul 10 malam dan Nindi masih muntah-muntah, obat yang diminum tidak mempan. Perutnya kembung dan mual terus menerus. Kami coba suruh istirahat dan beri minum sedikit demi sedikit. Sampai pagi Nindi tidak bisa tidur nyenyak, dia mengeluh mual terus. Beberapa kali saya terbangun mengurut perutnya dan dia muntah terus. Sementara itu istri saya mengurus Bramasta yang juga masih hangat badannya. Benar-benar malam yang menguras energi dan pikiran.

Rabu pagi sekitar pukul 6 kami menyerah, kami putuskan ajak Nindi ke UGD RS Balimed. Sampai di UGD Nindi diperiksa dan diberi obat mual lewat suntikan sekaligus cek darah. Hasil cek darah normal, sekitar 30 menit observasi Nindi mulai membaik. Terlihat dari senyumnya, dia mulai bisa bicara biasa, padahal sebelumnya cuma meringis dan mengeluh mual dan muntah. Setelah kondisinya membaik, kami diijinkan pulang. Hari itu Nindi tidak sekolah, padahal dia sempat menangis sedih ingin sekolah karena katanya itu hari pertama ada pelajaran bahasa Inggris.

Hari Rabu itu Nindi full istirahat, setelah minum obat dan makan bubur, dia tidur. Saya tinggal kerja, katanya Nindi tidur sampai lewat siang. Tak apalah mungkin dia benar-benar lelah. Sementara itu Bramasta masih hangat saja, sorenya sempat kami ajak cek lab tapi setelah disuntik gagal diambil darahnya. Kami minta ditunda dan akhirnya batal cek lab hari itu, karena sebenarnya Bramasta masih sangat aktif dan panasnya sekitar 37-38 saja.

Hari Kamis, Nindi masih tidak sekolah, sementara ibunya mulai masuk kerja walau berangkat agak siang. Kamis sore sepertinya semua mulai pulih. Hari Jumat, akhirnya semua sudah kembali beraktivitas normal, istri saya mulai kembali ke kantor, Nindi mulai sekolah dan Bramasta juga tidak panas lagi. Terima kasih Tuhan akhirnya semua sudah sehat kembali.

Lega sekali rasanya setelah semua kembali sehat. Karena jangankan ketiganya sakit, salah satu diantara mereka saja yang sakit, saya pasti cemas, apalagi ini ketiganya dan hampir bersamaan. Banyak hal yang saya syukuri dari kejadian ini, mulai dari kesembuhan mereka dan tidak sampai opname sampai bagaimana menghargai kesehatan serta belajar sabar menghadapi cobaan. Sekali lagi, Terima Kasih Tuhan..

Baca Juga:

Pertama Kali Nindi dan Bramasta ke Surabaya

Bulan Maret lalu yaitu tepatnya tanggal 23 – 26 Maret 2017 untuk pertama kalinya Nindi (umur 7 tahun) dan Bramasta (umur 9 bulan) ke Surabaya. Ini merupakan perjalanan pertama kalinya Nindi dan Bramasta ke luar pulau Bali sekaligus pertama kalinya mereka naik pesawat. Kedatangan kami ke Surabaya ini dalam rangka wisuda S2 adik ipar saya, Ajung. Kami berangkat berenam yaitu saya, istri saya, Nindi, Bramasta, adik ipar dan ibu mertua.

Perjalanan ini sudah kami rencanakan sejak sebulan sebelumnya, mulai dari memesan tiket pesawat hingga hotel. Kami memesan tiket pulang pergi (PP) melalui online travel agent. Untuk penerbangan Bali-Surabaya kami memilih menggunakan Garuda Indonesia karena harga tiket yang kami dapatkan saat itu hampir sama (bahkan sedikit lebih murah) dengan Citilink. Sedangkan untuk kepulangan yaitu Surabaya-Bali kami menggunakan Citilink karena harga tiket selisihnya lumayan, kurang lebih 300 ribu per seat.

Sejak kepastian berangkat, kami sangat antusias terutama Nindi. Karena sudah lama kami rencana mengajaknya liburan ke luar Bali naik pesawat. Surabaya menjadi salah satu rencana kami karena ingin sekaligus nostalgia dimana saya dan istri dulu kuliah di kota itu. Acara wisuda adik ipar pun sekaligus kami jadikan momen yang pas untuk kembali mengunjungi kota Surabaya sekaligus memperkenalkan banyak hal kepada Nindi.

Karena ini pertama kalinya kami liburan ke luar Bali ditambah dengan naik pesawat serta mengajak Nindi yang masih anak-anak dan juga Bramasta yang masih bayi, tentu ada beberapa persiapan khusus yang kami lakukan. Untuk Nindi, dari jauh hari saya sudah bercerita dan memberikan gambaran seperti apa perjalanan kami nantinya, khususnya ketika naik pesawat. Saya mencoba ceritakan mulai tahap membeli tiket, check in, ruang tunggu, naik pesawat sampai landing. Semua itu tentu membuat Nindi antusias dan selalu bersemangat. Yang paling dia tunggu adalah gimana rasanya nonton film di pesawat, hehe.

Sedangkan untuk Bramasta, persiapan khusus yang kami lakukan adalah membeli penutup telinga untuk bayi. Selain itu istri saya juga sempat agak bingung masalah makanan, karena Bramasta yang masih makan bubur tidak terbiasa makan bubur instan. Beberapa kali kami coba memberikan bubur instan sebelum berangkat tapi Bramasta sepertinya tidak suka. Dia akan lahap kalau makan bubur buatan ibunya. Masalahnya adalah bahan serta blender. Istri saya kemudian membeli blender portable untuk dibawa ke Surabaya, sedangkan bahannya seperti bubur, sayur dan lainnya kami berharap dari restoran di hotel.

Hari yang kami tunggu tiba, walaupun kami berangkat hari Kamis pagi, tapi saya dan istri mengambil cuti 3 hari yaitu mulai Rabu, Kamis dan Jumat. Sehingga hari Rabu kami punya waktu lebih banyak untuk berkemas. Di hari Rabu Nindi masih sekolah karena kebetulan ada ujian, untungnya itu hari terakhir ujiannya. Tidak lupa di hari Rabu itu juga kami sembahyang karena keesokannya hari Kamis kami sudah harus berangkat pukul 07.00 dari rumah untuk mengejar pesawat pukul 09.45, apalagi Garuda biasanya tepat waktu.

Kamis pagi, sekitar pukul 05.00 kami sudah bangun lalu mandi dan berkemas. Nindi dan Bramasta agak belakangan mandinya agar tidak terlalu pagi. Istri saya juga tetap membuatkan makanan bubur untuk Bramasta untuk sarapannya dan sebagian kami bawa untuk bekal hari itu. Semua sudah siap, pukul 07.00 kami berangkat dari rumah diantar oleh kakak saya, kemudian menjemput adik ipar dan mertua saya.

Kami berangkat ke bandara Ngurah Rai dan tiba sesuai rencana. Kami langsung check in dan menuju ruang tunggu. Oya, karena kami mengajak bayi, saya tidak bisa check in via mobile app Garuda Indonesia dan harus check in langsung di bandara. Saya sempat khawatir mendapat tempat duduk terlalu di belakang. Setelah menelepon ke CS Garuda Indonesia, kami mendapat solusi, untuk penumpang yang mengajak bayi, bisa di booking-kan tempat duduk, sedangkan penumpang lainnya bisa tetap check in via mobile app. Tentunya setelah memastikan bahwa tempatnya berdekatan. Masalah tempat duduk akhirnya beres.

Kami menunggu di ruang tunggu tidak sampai 1 jam dan akhirnya naik ke pesawat. Momen naik pesawat dan selama penerbangan menjadi pengalaman yang berharga khususnya buat Nindi. Apalagi ketika pesawat take off, Nindi sempat sedikit histeris melihat pemandangan dari atas pesawat, sampai ada beberapa penumpang lain yang menoleh, hehe. Tak apalah, justru kami sangat senang kalau dia senang. Sedangkan Bramasta tidur dengan nyenyak sejak baru masuk ke pesawat, tentu tidak lupa kami pakaikan penutup/penyumbat telinga yang bentuknya seperti plastisin mainan anak-anak itu. Warnanya oranye, kami beli dengan harga sekitar 50 ribu yang berisi sekitar 10 biji. Selama penerbangan, aktivitas utama Nindi tentu mengutak-atik layar hiburan di depannya lengkap dengan memakai headset yang sudah tersedia.

Momen mendarat juga cukup membuat Nindi antusias. Penerbangan sekitar 1 jam, kami mendarat di Surabaya. Bramasta dan Nindi resmi berkenalan dengan kota Surabaya. Setelah mengambil bagasi, kami sempat mampir di salah satu stand makanan siap saji dan Nindi makan siang disana, sementara itu adik ipar mencari transport untuk menuju hotel. Bramasta? Ah dia masih tidur lelap, tumben dia tidur senyenyak itu, apa mungkin karena perjalanan naik pesawat? Bramasta bahkan masih tidur sampai kami tiba di hotel.

Kami berangkat ke hotel naik taksi resmi dari bandara, kendaraannya sebuah MPV. Sekitar 1 jam kemudian, kami sudah tiba di hotel D’Season yang lokasinya tidak jauh dari kampus Universitas Surabaya (Ubaya), tempat adik ipar wisuda S2 Kenotariatan. Oya, istri saya juga alumni Ubaya jurusan Farmasi sekaligus profesi Apoteker juga di Ubaya. Sedangkan saya lulusan ITATS. Sebelum check in di hotel, kami sempat mampir makan siang di warung Bu Kris yang cukup terkenal enak di sekitaran sana.

Malam pertama di Surabaya, kami makan malam di lalapan Sejedewe, tempat makan favorit saya dan istri dulu semasa kuliah. Tempatnya di dekat kampus Ubaya, dan kini masih ada bahkan lebih luas, padahal dulu masih buka di pinggir jalan berupa kaki lima. Pas makan malam kami juga ketemu dengan salah satu keponakan istri saya yang masih kuliah di Ubaya jurusan Hukum. Datang juga pacarnya adik ipar. Selesai makan, kami diantar oleh pacar adik ipar ke Trans Mart. Trans Mart ini lokasinya di dekat kampus Ubaya juga, dulunya itu lokasi supermarket Carefour tempat saya dan istri sering belanja bulanan kebutuhan anak kost.

Tujuan kami ke Trans Mart tentu mencari wahana mainannya, Trans Studio Mini, terutama untuk Nindi. Wahana pertama incaran kami tentu naik roller coaster. Saya dan Nindi langsung beli tiket dan naik wahana itu berdua saja. Sebelum naik, Nindi antusias, tapi berubah ketakutan bahkan sampai menangis saat roller coaster sudah naik turun dengan curam. Dari bawah tadinya kelihatan pelan dan tidak menakutkan, tapi diatas ternyata ngeri juga. Saya sebenarnya takut juga tapi tetap berusaha tenang karena di depan Nindi. Putaran kedua Nindi masih menangis, tapi apa boleh buat kami harus tetap lanjutkan.

Turun dari roller coaster Nindi sudah tidak menangis, dan minta main wahana lainnya saja. Saya kemudian merasa agak aneh, mulai sedikit mual. Semakin lama mual saya semakin menjadi, dan sekitar 15 menit kemudian saya menyerah, mencari toilet dan muntah, hahaha. Ketika Nindi tahu saya muntah, dia pun sok menasehati saya, “makanya tadi diatas teriak saja kayak Gek Nindi, pasti tidak mual“. Tuh anak sombong, mentang-mentang dia tidak mual, tapi nangis, hehe. Sekitar pukul 10 malam kami kembali ke hotel dan istirahat.

Hari kedua hari Jumat, paginya kami sarapan di hotel. Menjelang siang kami keluar hotel dan menuju ke ITC, rencananya untuk membeli pakaian untuk Nindi dan keponakan di rumah. Kami naik taksi online dan sebelumnya mampir makan siang dulu. Sementara kami keluar, rombongan tiga keluarga kakak ipar sudah datang dan tiba di hotel. Karena kebetulan yang wisuda bukan cuma adik ipar saya, tapi juga ada keponakan. Ditambah dengan 2 keponakan yang masih kuliah, jadilah kami sekeluarga besar di Surabaya. Sekitar 2 jam di ITC, kami kembali ke hotel dan tiba sebelum sore.

Malam harinya, kami keluar hotel dan ingin berkunjung ke Jik Oka. Beliau adalah sahabat mertua laki-laki saya. Dulu ketika pertama kali mau kuliah ke Surabaya, saya sempat menumpang dirumahnya selama 4 hari. Dan semasa kuliah saya banyak sekali dibantu oleh Jik Oka dan keluarganya, jadi saya sangat berhutang budi kepada beliau. Kami berkunjung ke rumah Jik Oka bersama mertua laki-laki saya (yang datang ke Surabaya bersama kakak ipar), tapi adik ipar saya tidak ikut karena ada acara terkait wisuda di kampus. Sedangkan 3 keluarga kakak ipar punya acara masing-masing.

Selesai berkunjung ke rumah Jik Oka, kami melanjutkan jalan-jalan ke Surabaya Carnival. Nindi sudah tidak sabar ingin kesana. Di Surabaya Carnival Nindi mencoba beberapa wahana, tentunya selain roller coaster dan sejenisnya yang membuat ngeri, hehe. Puas disana kami pun kembali ke hotel dan istirahat. Malam itu kami menambah extra bed karena adik ipar akan tidur di kamar kami, jadi 1 kamar ada saya dan istri serta Bramasta, ditambah adik ipar dan Nindi di extra bed.

Hari ketiga, hari Sabtu yaitu hari H wisuda adik ipar. Paginya seperti sebelumnya kami sarapan di hotel. Oya, makanan untuk Bramasta dari kemarinnya kami coba blender bubur dicampur sayur, hasilnya sebenarnya lumayan, tapi entah kenapa Bramasta tidak mau makan banyak seperti biasanya. Makannya agak susah tapi dia tetap aktif dan anteng seperti biasa. Lanjut ke acara wisuda, sebagian keluarga berangkat pagi karena sudah membawa undangan, sedangkan saya dan beberapa yang lain berangkat sekitar pukul 10 karena hanya akan sampai diluar sehingga tidak terlalu lama menunggu.

Acara wisuda berlangsung lancar dan ramai sekali, suasana juga agak panas. Bramasta juga mulai rewel karena ngantuk mungkin haus sementara istri saya tidak bisa menyusui karena pakaian dan situasi tidak memungkinkan. Selesai wisuda kami sempat membuat foto bersama. Seluruh keluarga kemudian menuju ke sebuah rumah makan untuk makan siang. Kami memesan taksi online masing-masing, ada sedikit kendala karena lalu lintas depan kampus sangat padat merayap, jadi harus menunggu sedikit lebih lama.

Akhirnya semua tiba dirumah makan, kebetulan juga saat itu pacarnya adik ipar saya yang memesankan tempat di rumah makan mengajak keluarganya, jadinya pertemuan antar keluarga, ya mungkin sedikit menyinggung rencana mereka ke depan. Selesai makan siang kami semua kembali ke hotel.

Sore menjelang malam, acara sedikit mendadak, kami menuju ke Tunjungan Plaza. Bramasta yang terlihat lelah maunya di lap saja tapi akhirnya mandi juga cuaca malam itu juga hujan. Kami sempat keliling-keliling di TP namun tidak belanja karena waktu yang agak mepet. Apalagi Nindi juga mengantuk dan tidak kuat jalan-jalan lagi. Pulangnya kami naik taksi biasa karena taksi online tidak boleh masuk ke lobi TP, kami juga tidak bisa keluar karena hujan. Kembali ke hotel, malam itu Bramasta badannya agak hangat, mungkin karena lelah ditambah dengan mandi tadi sorenya. Kami beri obat penurun panas.

Hari keempat, hari Minggu sekaligus hari terakhir kami di Surabaya. Paginya kami masih sarapan di hotel karena pesawat kami sekitar pukul 12. Dan ternyata kami 1 pesawat dengan 1 keluarga kakak ipar, sedangkan 2 keluarga lainnya ada yang pagi sekali dan ada yang sore. Oya, adik ipar saya tidak ikut pulang ke Bali karena besoknya ada urusan ke Jakarta, jadi 1 seat yang sudah dipesan kami cancel. Sebelum berangkat ke bandara, kami sempat mampir ke tempat kos salah satu keponakan yang masih kuliah di Surabaya. Baru kemudian kami lanjut ke bandara.

Tiba di bandara, setelah check in kami sempat makan siang disana. Untuk masalah check in dengan bayi, maskapai Citilink sama dengan Garuda, harus check in di bandara. Akan tetapi kami boleh sekalian booking tempat duduk untuk semua penumpang via telepon ke CS Citilink. Kami pun berangkat ke Bali, perjalanan cukup nyaman walau tanpa perangkat hiburan seperti di Garuda. Tetapi Nindi sempat mengeluh telinganya sakit, mungkin karena mampet atau mendengung, dia bahkan sempat meringis, saya coba mengalihkan perhatiannya. Kami semua tiba di Bali dengan selamat, saya kembali dijemput oleh kakak saya yang kebetulan pas selesai kerja.

Akhir kata, kami sangat bersyukur karena semuanya berjalan lancar dan menyenangkan. Khususnya untuk Nindi yang sangat senang dan memiliki pengalaman baru. Dia bahkan tidak sabar kapan jalan-jalan ke Surabaya lagi. Sedangkan Bramasta, walau sempat panas tapi syukurlah tidak sampai sakit. Dia juga sangat anteng mulai dari berangkat hingga tiba kembali di Bali, walau sayangnya Bramasta terlihat lebih kurus, mungkin karena makannya tidak selahap di rumah. Demikianlah catatan perjalan kami ke Surabaya, semoga lain kali bisa liburan lagi. Terima kasih Tuhan.

Baca Juga:

Upacara Tigang Sasih Bramasta, Antara Suka dan Duka

Upacara tigang sasih atau tiga bulanan Bramasta semestinya menjadi acara yang penuh sukacita bagi kami, tapi hidup ini tak selalu suka saja, kadang ada dukanya. Upacara yang sudah kami siapkan dengan sangat matang menjadi sedikit berubah karena saya dan istri harus masuk rumah sakit dan opname selama 6 hari, mulai Senin hingga Sabtu dimana upacara tigang sasih Bramasta jatuh pada hari Rabu.

Ceritanya mulai dari hari Jumat pagi yaitu hari terakhir saya ngantor sebelum saya rencana mengambil cuti mulai Senin dalam rangka upacara Tigang Sasih Bramasta. Pagi selesai sarapan dekat kantor saya mendadak merasa pusing dan agak meriang, saya pikir cuma pusing biasa. Sampai akhirnya saya tidak tahan dan permisi pulang dari kantor.

Sampai dirumah pusing saya semakin menjadi dan saya demam tinggi, suhu tubuh saya sampai 39 derajat celcius. Bahkan malamnya saya terpaksa ke UGD RS Balimed dan diberi obat hingga akhirnya agak mendingan. Tapi besoknya kumat lagi sampai sore dan malamnya saya ke UGD lagi. Cek lab dan saya positif demam berdarah (DB) tapi trombosit masih diatas 100. Saya pasrah dan mencoba menerima kemungkinan terburuk harus opname ketika upacara Tigang Sasih Bramasta.

Kami pulang dan esoknya saya masih demam. Harus cek lab lagi di untuk memastikan apakah sudah harus opname atau belum. Yang bikin kaget, ternyata istri saya juga ikutan demam dan sekalian saja kami berdua cek lab, hasilnya trombosit istri saya juga rendah dan kemungkinan besar juga demam berdarah.

Senin pagi cek lab berdua lagi dan trombosit kami sudah dibawah 100, tidak ada jalan lain, kami berdua harus opname dan memutuskan opname di RS Balimed agar lebih dekat dengan rumah. Jangan ditanya bagaimana sedihnya kami harus meninggalkan Bramasta dan Nindi di rumah, apalagi upacara Tigang Sasih Bramasta tinggal 2 hari lagi. Istri saya tidak bisa menahan air matanya, tapi tak ada jalan lain. Yang terpenting sekarang kami berdoa semoga tidak ada yang kena DB lagi khususnya Bramasta dan Nindi.

Hari-hari di rumah sakit kami jalani dengan sedih, saya awalnya terlihat lebih tegar, sementara istri saya tentu saja sangat sedih. Malam pertama bahkan kami terpaksa hanya berdua di rumah sakit karena semua keluarga di rumah harus menyiapkan segala sesuatu sehingga upacara Tigang Sasih tetap bisa berjalan.

Kesedihan kami meledak ketika puncak acara Tigang Sasih, saya bahkan tidak bisa menahan air mata ketika dikirimkan foto cerianya Bramasta ketika natab di pantai, di telagawaja dan di rumah. Bram, maafkan ajik dan ibu karena tidak bisa menemani di upacara ini.

Untunglah kami punya keluarga besar yang selalu sigap sehingga upacara Tigang Sasih tetap bisa berjalan dengan baik. Bahkan Bramasta hampir selalu terlihat ceria dan anteng mengikuti upacara, hanya sekali dia rewel ketika natab di telagawaja karena haus dan ngantuk.

Upacara berjalan lancar, cerita bagaimana kami opname disingkat saja dan hari Sabtu sore kami akhirnya kami diperbolehkan pulang. Kebetulan kami ngupah Barong Landung dalam rangka Tigang Sasih Bramasta. Rasa kangen dan terharu rasanya tak terbendung walau kami berdua sebenarnya masih agak sempoyongan.

Cobaan ini akhirnya bisa kami lewati. Tapi jujur walau harus opname di saat Bramasta natab Tigang Sasih, kami tetap merasa sangat amat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, karena upacara telah berjalan lancar dan Bramasta serta Nindi tetap sehat, cukup kami berdua saja yang sakit. Terima kasih Tuhan.

Dan, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keempat orangtua kami, semua kakak dan adik serta seluruh keluarga dan kerabat yang telah membantu sehingga upacara Tigang Sasih Bramasta bisa tetap berjalan dengan baik.

Baca Juga: