Tag Archives: Blogging

Bali Tidak Diam, Berisik yang Baru

“Masak menuntut keadilan dibilang buat Bali ribut? Analisis dari mana? Ini kan menyampaikan aspirasi melalui seni.”

Demikian respon akun Solidaritas Perjuangan pada sebuah komentar di postingan ajakan berkarya dari Bali Tidak Diam.

“Gerakan apa ini? Jangan buat Bali ribut.” Begitu pertanyaan pemancingnya. Dari akun hantu, karena saat diricek, tidak ada postingan, tak ada follower, tiada following. Jadi, saya tidak akan membuang waktu menyebutkannya.

Menjadi kritis, membuat longmarch, ikut aksi bisa disebut keributan di Bali. Sebaliknya, suara mesin ekskavator mengurug laut, menambang batu kapur, lebih sering tak terdengar.

Sangat mudah membuat propaganda tak bertanggungjawab. Akun media sosial bisa dibuat 100 biji dalam waktu satu jam. Apalagi sudah berbekal sejumlah data yang bisa ditambang di mana saja.

Saat ini, pergerakan sosial politik merespon kebijakan negara yang tidak adil memang lebih berat. Menyiapkan studi analisis, merangkum pasal-pasal rumit melalui poster-poster edukasi, audiensi, public hearing, menyelip di konsultasi publik, sampai menyiapkan perangkat aksi di depan gedung-gedung pemerintah.

Di sisi lain, energi juga harus ditumpahkan di dunia maya. Ada pengintai yang meretas email dan percakapan di aplikasi chatting, akun-akun yang mengandalkan kata kunci tertentu untuk menyerang pengkritik pihak yang membayarnya, sampai oknum aparat yang siap ngejuk berbekal laporan polisi mengggunakan tameng UU ITE.

Padahal para penggerak ini, berharap hal sederhana. Negara dikelola dengan baik dan bertanggungjawab.

Memaknai Hari Pahlawan

Minggu (10/11/2019) baru menggelincir ke pukul 6, tapi udara panas sudah menyergap. Sumuk. Makin terasa panas setelah membaca pengumuman aksi unjuk suara melalui karya seni dari Bali Tidak Diam harus dipindah. Dari Lapangan Renon ke Taman Kota. Karena ada upacara bendera peringatan hari Pahlawan.

Informasi upacara bendera ini diketahui dari medsos, ada surat imbauan car free day di Renon ditiadakan untuk peringatan hari pahlawan. Beberapa jam sebelum hari Minggu tiba. Kenapa polisi yang menerima surat pemberitahuan kegiatan seni Bali Tidak Dian ini beberapa hari sebelumnya tak memberi tahu? Kan tak mungkin upacara peringatan hari pahlawan dihelat mendadak.

Minggu sudah pukul 7, saya dan dua bocah sudah di Taman Kota, lokasi baru. Di sebuah pojokan, belasan paramuda sudah menggelar kain-kain panjang bertuliskan #balitidakdiam #reformasidikorupsi. Tiga seniman melumuri tubuhnya dengan cat putih. Di titik jantungnya dipulas cat merah bertuliskan KPK. Dua bocah memandangnya takjub, duduk tak bergerak. Orang-orang yang berolahraga mulai menghampiri.

Ada yang berusaha mendekat, sebagian hanya menoleh lalu lanjut mengelilingi track jogging. Lima foto mahasiswa dan pelajar ditempel di sebuah kertas karton. Rest in power. Bagus Putra Mahendra (15), Maulana Suryadi (23), Akbar Alamsyah (19), Immawan Randi (22), dan Yusuf Kardawi (19).

Di pojok lain ada dua seniman yang membalut tubuhnya dengan cat putih, bagian dari instalasi seni #BaliTidakDiam kali ini. Mereka mengajak refleksi dengan diam, hanya dengan mimik wajah dan tubuh.

Menjelang siang, sejumlah seniman bersuara melalui kuas di spanduk dengan aneka respon, salah satunya gambar tulis dengan teks besar Oligarkhi.

Suasana lebih ramai di sisi musikalisasi puisi, akustikan, dan orasi. Ada belasan anak muda menembakkan amunisinya dalam puisi-puisi Widji Thukul dan sastrawan pergerakan sosial politik lainnya. Sebuah perlawanan tanpa kekerasan. Berkebalikan dengan respon oknum aparat pada sejumlah aksi di beberapa kota.

Sedikitnya ada 93 laporan orang hilang Tim Advokasi untuk Demokrasi setelah demonstrasi di Gedung DPR, Jakarta, 24-25 September kemarin. Mereka adalah mahasiswa dari beberapa kampus, pelajar STM, termasuk sipil biasa.

Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara menjatuhkan serangkaian sanksi disiplin terhadap enam polisi yang “menyalahgunakan senjata api” dalam demonstrasi yang menewaskan dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) pada 26 September 2019. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-50204352

Mereka dijatuhi hukuman disiplin berupa teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun, penundaan kenaikan gaji berkala selama satu tahun, penundaan pendidikan selama satu tahun, dan penempatan di tempat khusus selama 21 hari.

Tiada yang menghendaki kekerasan dari pihak pengunjuk rasa maupun petugas pengaman. Apalagi ada jiwa yang harus lepas dari raganya. Keluarga yang terluka. Seperti kisah seorang nelayan tua, saat mendarat ia disambut jenazah anaknya di dalam rumah.

Gempuran kebijakan pemerintah yang meruntuhkan harapan menyulut aksi protes selama beberapa bulan di sejumlah kota. Advokasi di forum-forum resmi tak dihiraukan. Akhirnya berlanjut di jalanan. Pemerintah seperti sengaja menunggu korban.

Demikian juga di Bali. Bagas, Anang, Chika, Bagus, Dodek, Japeng, Tobel, Bagus, dan ratusan lainnya pun bersuara. Berisik ini dimulai dari serangkaian aksi dan diskusi tahun 2019 ini. Tuntutan mereka runut, bahkan gedung yang diarahkan juga sesuai, gedung dewan perwakilan rakyat. Menulis kepanjangannya pun kini harus menahan diri untuk tak misuh-misuh karena memantik regulasi yang memundurkan pemberantasan korupsi dan RUU kontroversial lainnya.

Parahidup, Bekal Menghadapi Keruwetan Manusia

Intro Dalam Kedangkalan memecah hiruk pikuk Pasar Kumbasari senja itu dari pinggir Tukad Badung. Sekonyong-konyong saya segera menyelesaikan pembayaran di sebuah kios buah.

Betapa dekat jarak kita tuju, semua hati telah membuka pintu. Batapa banyak yang kita raih. Kita terbangun saat mereka baru bermimpi.”

Dari atas jembatan yang menghubungkan Pasar (modern) Badung dengan Pasar Seni Kumbasari, trio folkies Dadang-Zio-Deny Surya sudah diterpa cahaya lighting warna warni, pada senja 16 Oktober 2019.

Lagu ini pas sekali untuk Parahidup yang memacu detak jantung pasar Kumbasari yang baru menggeliat sore itu. Pasar ini makin pikuk jelang dini hari. Pedagang merapikan sayur, buah, dan aneka bumbunya. Buruh pasar masih hilir mudik mengangkut dagangan dari pick-up ke los-los pelanggan mereka.

Ngonser di dekat pasar juga membantu panitia, penonton, dan pedagang. Beli makan dan minum tinggal pilih, ndak perlu buat stan-stan tambahan.

Warga memenuhi jembatan untuk menonton keriuhan di tepi sungai. Penonton dipisahkan aliran sungai. Wah, penataan yang ciamik, lebih baik dibanding konser-konser sebelumnya di Tukad Badung ini. Sebelumnya panggung besar dibangun di atas aliran sungai, di bawah jembatan. Perlu sumberdaya cukup besar. Sementara tim kreatif DDH memanfaatkan panggung tepi sungai, tempat nongkrong yang sudah ada. Kerja kerasnya di menggotong alat-alat naik turun jembatan.

Dari jumpa pers, DDH memberi kredit pada salah satu tim kreatif mereka, Bintang, pria muda tapi terlihat tua 🙂 yang sukses menghelat Pica Fest. Bintang konon salah satu bintang di kehidupan Dadang yang terlihat introvert.

Ada juga om Saylow. Om juga bintang dalam orbit Dadang. Sebelum konser dihelat, ia sempat merangkum usulan-usulan lokasi konser DDH. Syaratnya, ruang publik di mana warga biasa berkegiatan, dan biaya sewa terjangkau. Karena ini konser gratis untuk rilis album.

Jadi, ini tercium seperti konser dari orang-orang terkasih mereka. Uhm, apakah luapan sayang ini kan meruap ke udara, memenuhi bongkol hidung kita, menyusup ke sel-sel otak? Sayangnya tidak bisa mengalahkan bau limbah di Tukad Badung petang itu.

Setelah Dalam Kedangkalan, menyusul Kawanku, Hyena, Peran Terakhir, Sediakala, dan Tikus. Sound-nya enak sekali, pas, tidak berlebihan. Lagu-lagu ini mengalir, menghidupkan suasana sungai dan pasar. Saya beberapa kali menatap ke jalan raya Gajah Mada di atas jembatan dan lampu-lampu kios pedagang makin terang. Derap hidup ini mendampingi musik Dialog Dini Hari.

Ibarat sedang mandi di bawah pancuran, eh mendadak alirannya tersumbat. DDH menyudahi konser singkat ini. Penonton protes, lalu ditambah dua lagu dari track album lama. Mereka buru-buru harus pindah ke Hard Rock Cafe, panggung marathon berikutnya. Yahhhh….. parahidup tua nan ambisius.

Tentang ambisi, eh, produktivitas, Dadang punya alasan kenapa album ini dibuat dengan jarak 5 tahun dari album sebelumnya. Ia laris konser bersama Navicula. Ia menyebut sketsa Parahidup sudah ada 2018, lalu ditinggal konser bersama Navicula ke Eropa.

“Parahidup itu yang semua yang hidup,” Dadang menjawab pertanyaan di talkshow jumpa media, 15 Oktober di Hari Ini Coffee, Denpasar. Warung kopi dan distro gengnya Bintang. Pisang gorengnya enak sekali, empuk dan nyangluh.

Kata “Parahidup” tak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menyimak 11 lagu yang dilansir 17 Juli lewat laman-laman musik digital ini, menemukan apa yang dimaknai Parahidup tak sulit. Bahkan, saya bisa menyebut album ini parade biodiversitas, secara verbal ada kehidupan tikus, hyena, laba-laba, anjing, belalang sembah, dan lainnya. Satwa dalam personifikasinya yang paling mengakar di benak manusia.

Karena Dadang tak bisa bahasa hewan, dia hanya menekuni bahasa kalbu manusia. Evolusi lanjutan setelah Tentang Rumahku, album DDH lima tahun lalu.

Jika aku laba-laba Kan kubiarkan tubuhku kau lahap
Setelah bercinta
Agar aku tak pernah bercinta lagi
Tak bisa bercinta lagi

Jika aku seekor anjing
Kan ku kencingi kau
Agar anjing lain tahu kau milikku

Jika aku belalang sembah
Kan kubiarkan kepalaku kau penggal
Seusai membuahimu
Agar aku tak bisa membuahi perempuan lain

Tapi aku cuma manusia
Cinta dan rindu yang sederhana
Tapi aku cuma manusia
Cinta dan rindu yang sederhana

Jerit Sisa yang meruntuhkan ego dan serakah manusia. Inilah Dialog Dini Hari, lagu Tikus pun diorkestrasi menjadi ajakan bersih-bersih. Aransemennya asyik.

Setelah becermin, mereka memberi tanda peringatan atau hitung mundur sebelum pralaya. Setelah ini mungkin albumnya Moksa. Jangan ya, langsung melampui saja, Reinkarnasi.

Deny Surya membagi cerita jika proses rekaman album ini berbeda. Jika sebelumnya merespon bunyi, sekarang sekaligus ketika bunyi diciptakan ketiganya. Saking intensnya, mereka melarang manajemen nimbrung ke studio selama dua minggu proses produksi. Risikonya, mereka tak memiliki dokumentasi layak saat rekaman di studio. “Ketika saya menyodorkan konsep, Deny dan Dadang wasitnya,” tambah Zio menjelaskan “battle” dalam mencipta Parahidup.

Zio barangkali menang banyak karena piano dan syntesizer cukup menyentak di album ini. Sebelum Parahidup rilis, Zio menumpahkan energinya di solo album See The Sun.

Pertempuran nada ini diramaikan musisi pendukung seperti Aik Krisnayanti sebagai vokal latar di lagu “Tikus” dan “Jerit Sisa”, Celtic Room di biola & whistle di lagu “Pralaya”, serta Fendy Rizk yang memainkan Cello di lagu “Kuingin Lihat Wajahmu”.

Proses rekaman dilakukan sepanjang September-Oktober 2018 di Antida Studio dan Straw Sound Studio, Denpasar, oleh Deny Surya dan Arul. Kecuali vokal di lagu Dalam Kedangkalan, Pralaya, Peran Terakhir, dan Hyena direkam di Amplify Recording Studio, Nitra Slovakia, oleh Ondrej Vydaren. Seluruh lirik ditulis Dadang, kecuali Jerit Sisa oleh Dadang dan Ulan Sabit.

Walau kurang bersyukur dengan kerendahan hati tim konser di Tukad Badung ini, saya berterima kasih pada Dadang Pranoto (vokal dan gitar), Brozio Orah (bas, piano, synthesizer, dan vokal latar), serta Deny Surya (drum dan perkusi), dan musisi lain yang mewujudkan Parahidup. Karena hidup sederhana itu adalah merayakan keruwetannya.

Habis Panik, Panen Asyik: Pengalaman Pertama Menghebohkan dengan Menstrual Cup

sumber: webmd.com

Saya panik. Setelah lebih 5 jam si cawan ninja ini bersembunyi dalam liang vagina, saya tidak bisa meraihnya. Waduh, dia masuk ke rahim. Bagaimana ini?

Jari jempol dan ibu jari menrogoh vagina, berusaha menarik pucuk ekor cawan (stem) tapi tak bisa. Licin dan sangat kuat menancap.

Makin bikin panik karena si ekor cawan tadi pagi saya potong sekian milimeter karena terasa mengganggu. Pemotongan ini memang direkomendasikan jika merasa terganggu. Sebelumnya tanya kawan, Intan, yang sudah pakai cawan ini setahun. Dia juga memotongnya.

Saya menarik nafas, menenangkan diri. Keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuh di kamar selama beberapa menit. Apa yang harus saya lakukan, menelpon dokter langganan cek kontrasepsi trus tanya apa klinik kespro yang buka sore ini? Atau ke UGD rumah sakit terdekat karena mereka pasti punya alat bantu.

Plus minus tiap pilihan itu saya timbang. Menelpon dokter itu kurang pas karena pernah tanya soal keamanan menstrual cup ketika periksa rutin alat KB, dan dia tak punya pengalaman. Pilihan ke UGD juga berisiko karena pernah lihat ruang jaga UGD dan kasus seperti ini bisa jadi bahan becandaan dokter jaga.

Pilihan saya mengambil ponsel dan browsing kata kunci “menstrual cup tidak bisa dicabut”. Tidak ada jawaban persis seperti kata kunci tapi mendapat beberapa link yang membantu menenangkan diri.

Misalnya ini http://menstrualcupindonesia.com/2017/08/31/faq-around-menstrual-cup/ ini web merk sebuah menstrual cup yang tidak saya pakai, tapi sebagian besar informasi tips n trik sama di sejumlah merk lain.

lunette.com

Di sana ada jawaban yang saya cari, bisakah cawan ini terjebak di dalam vagina bahkan rahim? Tidak bisa dikeluarkan kecuali dengan alat bantu medis atau bedah, wuihhhh…. amit-amit. Ternyata selama ini belum ada kejadian seperti ini, dan tidak mungkin terjebak karena bentuk saluran vagina seperti kantong dan leher rahim kan mirip jalan buntu. Kecuali untuk jalur sperma ya. Terlebih saya sudah 12 tahun ini pake alat kontrasepsi IUD bentuk T yang membuat sperma tak bisa masuk, terhalang tembok IUD 🙂

Demikianlah, kepanikan melupakan logika. Setelah baca dua link penambah semangat, saya kembali ke kamar mandi dan mencoba merogoh jari lebih dalam. Memencet sedikit bagian bawah cangkir (bukan ekornya) memutar sedikit, dan si cangkir sukses keluar tanpa rasa sakit. Bahkan isinya tak tumpah.

Jadi, melengkapi kisah kawan yang lain, saya bagi resume pengalaman pertama tahu, membeli, sampai menggunakan menstrual cup ini ya.

cara melipat menstrual cup/pinterest

1. Tahu dari beberapa stories IG teman. Lalu browsing, cek video, dan membandingkan harganya. Mengendapkan dulu semua, tidak langsung pesan. Alasan pendorong utama adalah mengurangi sampah pembalut, ini masalah besar juga sama seperti popok bayi yang tak diolah dan meracuni sungai. Akhirnya nitip beli di teman yang juga berencana beli, harganya 25 euro. Tengkyu, Diana.

2. Belum yakin karena mikir masak pas kencing harus bolak balik buka pasang menstrual cup juga? Ribet banget. Apalagi kalau saya liputan di daerah susah akses toilet bersih? Ternyata menstrual cup tidak berpengaruh saat buang air kecil atau besar. Dia nempel aja dengan antengnya. Saat cabut dan pasang lagi, cukup diguyur air bersih. Banyak tersedia sabun khusus dan tisu yang dijual terpisah, tapi saya belum coba. Make it simple dulu deh.

3. Perbanyak baca dan lihat tutorial, pengalaman teman, agar makin nyaman. Tiap cangkir pasti ada petunjuk pemakaiannya juga.

4. Pengalaman pertama paling menentukan. Ketika panik tidak bisa mencabut, saya sempat kepikiran, mungkin trauma, tidak mau pakai lagi deh. Saat mens hari pertama, saya bolak balik ke kamar mandi dan bongkar pasang 6 kali, karena rasanya kok ganjel. Susah duduk. Agak sakit. Saya telpon teman, konfirmasi apakah si cangkir harus sepenuhnya dalam vagina atau tidak? Saya memang tidak sepenuhnya memasukkan, ini penyebab rasa ganjel. Saya putuskan memberanikan diri memasukkan lebih dalam. Walla! Tidak terasa ganjel, sakit, tak terasa ada benda asing.

5. Pilih cara melipat menstrual cup yang cocok. Saya coba 3 jenis lipatan, dan akhirnya menemukan yang paling pas.

6. Bercerita pada suami, dari mau beli sampai semua kepanikan hari ini, biar dia juga terlibat dalam urusan kesehatan reproduksi. Kan setidaknya menambah pengetahuan doi.

7. Bersyukur bisa mengurangi sampah dan limbah sendiri. Tiap tahun saya beli pembalut sekitar Rp 600 ribu. Bandingkan dengan si cawan ninja yang saya beli Rp 400 ribu, kabarnya bisa dipake hampir 10 tahun. Gak apa telat, yang penting sudah memulai. Pembalut atau popok sulit dikelola karena ada ragam lapisan kertas, plastik, gel, dan lainnya. Melihat cairan darah di cawan dari meluruhnya dinding rahim malah membuat saya merasa bersyukur sekaligus menguatkan diri. Perempuan sangat hebat dengan organ reproduksinya.

Musik Indonesia untuk Laut Bercerita

sumber: iwanfals.co.id

Novel 389 halaman “Laut Bercerita” baru saja saya selesaikan. Bagian paling maraton yang dibaca malah di puluhan halaman terakhir. Saat Asmara Jati, menjadi tokoh utama menarasikan apa yang terjadi setelah kakak dan teman-temannya tak kunjung kembali setelah diculik dan disiksa tentara jelang kelengseran Suharto.

Bapak hidup digerogot kesedihan, Mas. Sejak kau diculik; sejak kawan-kawanmu yang diculik dikembalikan dan sebagian tetap tak ada kabarnya seperti dirimu;…….

Masih hidup, segar, dan setiap hari Minggu datang dan masak bersama mendengarkan lagu-lagu The Beatles atau Louis Amstrong. Sekarang setiap aku mendengar lagu “Blackbird” atau “What a Wonderful World”, aku mendadak gemetar dan selalu harus permisi pergi ke toilet untuk duduk dan terisak-isak karena segalanya semakin sulit.

Demikian kutipan surat Asmara Jati pada kakak laki-lakinya Biru Laut pada April 2002. Empat tahun Laut tak kembali setelah diculik. Dua karibnya yang disiksa pada lokasi dan waktu sama, Alex dan Naratama malah dilepaskan. Keduanya dikisahkan sudah memberikan testimoni pada publik dalam dan luar negeri bagaimana kejinya sejumlah oknum aparat menyiksa belasan pemuda karena beberapa kali protes pada kediktatoran Suharto dan antek-anteknya.

Matilah engkau mati/Kau akan lahir berkali-kali”, begitu karya Sang Penyair yang jadi prolog dan epilog karya penulis perempuan, Leila S. Chudori ini.

Biru Laut, tokoh utamanya, seorang mahasiswa di Jogjakarta, ditembak di atas bukit karang, di tepi laut. Diceburkan dengan kaki digantungkan besi pemberat, lalu tak kembali. Dari samudera laut, kisah-kisah ini dimulai.

Aktivis mahasiswa ini mulai bersuara dan menggalang strategi perlawanan sejak tahun 1990an. Sejak 1996 jadi buronan, harus mukim berpindah-pindah dan meninggalkan kampus sembari menyusun gerakan.

Kesadaran dipupuk dari diskusi buku-buku gerakan revolusi, sastra, politik, lalu buka mata dan telinga pada kasus-kasus perampasan tanah oleh negara, penggusuran petani, dan penculikan. Buku-buku Pramoedya Ananta Toer salah satu yang sembunyi-sembunyi dibaca dan disebar dengan foto kopi karena tak ada yang berani memajang. Namun semuanya seolah senyap, berganti citra negara tentram damai di bawah kendali Suharto dan kroni-kroninya.

Novel ini senafas dengan karya Chudori sebelumnya, Pulang. Novel ini juga diadaptasi dari kisah nyata para eksil, tahanan politik yang terpaksa melarikan diri ke luar negeri karena dikejar-kejar Orde Baru. Mereka dianggap mengancam negara karena kritis dan komunis.

Secara umum narasi Laut Bercerita menggugah, dan penting. Mendekatkan kita pada tekanan psikis aktivis dan keluarga korban penghilangan paksa ini selama bertahun-tahun sampai kini, 20 tahun setelah reformasi.

Namun, ada satu hal yang membuat bertanya, kenapa semua lagu-lagu yang menjadi bagian sejarah perjuangan ini didramatisasi melalui lagu-lagu dari musisi luar negeri. Apakah di masa itu tak ada lagu musisi Indonesia yang menjadi referensi telinga para aktivis ini?

Namaku Bento rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku boss eksekutif
Tokoh papan atas atas segalanya

Asyik

Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku senang aku menang

Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi

Asyik

Khotbah soal moral omong keadilan
Sarapan pagiku
Aksi tipu tipu lobying dan upeti
Woow jagonya

Maling kelas teri bandit kelas coro
Itu kantong sampah
Siapa yang mau berguru datang padaku
Sebut tiga kali namaku Bento Bento Bento

Asyik.

Lagu Bento tayang 1990, di era ketika mahasiswa-mahasiswa tokoh buku ini semester akhir. Ciptaaan Iwan Fals dan Naniel saat tergabung di band Swami bersama Setiawan Djodi, Innisisri, dan Nanoe pada tahun 1989, dengan bantuan aransemen Sawung Jabo. Jika membaca ulasan Andreas Harsono tentang Dewa dari Leuwinangung yang pernah dinobatkan Majalah TIME sebagai “Pahlawan Asia” ini bisa dipahami apa yang makin menyulut aktivisme Iwan Fals.

Arief Budiman memancing Iwan Fals untuk masuk ke dunia aktivis. “Seniman harus tahu politik,” katanya. Budiman cerita soal Victor Jara dari Chile, pendukung Presiden Salvador Allende, yang terbunuh ketika Jenderal Augusto Pinochet mengudeta pemerintahan sosialis Allende pada 1973. Budiman mengerti Chile dengan baik karena tesisnya di Universitas Harvard tentang kegagalan Allende memakai sosialisme. Victor Jara seorang pemusik popular mirip Fals. Lagu-lagu Jara penuh kritik sosial. Jara juga main gitar akustik. Jara mati bersama dengan Allende.

Arief Budiman adalah dosen progresif, kakak aktivis So Hok Gie. Tak sedikit karya Iwan Fals lainnya yang memiliki kedalaman narasi ketidakadilan sosial, sehingga kaum marjinal merasa terwakili.

Jika menambah deretan daftar lagu yang cocok menjadi bagian narasi Laut Bercerita di era Orde Baru, itu adalah Bongkar.

Ternyata kita harus ke jalan

Robohkan setan yang berdiri mengangkang

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

 

Semua lagu band Swami ini penuh majas dan reaksi, campur baur metafora dan realita. Cara yang indah untuk mewujudkan sebuah lagu. Menebak-nebak maksudnya sambil merefleksikan dengan sekitar.

Masak Menjual Prinsip Hanya demi Rp 300 Ribu?

Ilustrasi: etikaetiket.blogspot.com Sebuah agensi digital menghubungiku akhir tahun lalu. Si mas dari agensi ini menawarkan kerja sama lumayan menarik. Mereka mau memasang tulisan advertorial di blogku untuk kliennya, salah satu perusahaan digital besar di negeri ini. Harganya Rp 300 ribu. Artikel sepanjang kira-kira 500 kata itu dari mereka, termasuk fotonya. Jadi aku tidak perlu menulis Continue Reading