Tag Archives: bijak

Saat Konten Jadi Candu, Empati pun Luruh Satu-Satu

2002, saat itu saya hamil muda anak pertama. Saluran tv belum sebanyak sekarang, tapi semua serentak menayangkan musibah Bom Bali. Tiga kali ledakan di tempat berbeda dan menewaskan ratusan orang, terbanyak warganegara Australia. Alih-alih berkabung, hampir tiap saat gelimpangan mayat yang dijejerkan di ruang mayat RS Sanglah terekspos hampir setiap menyalakan tv. Maksud hati hendak […]

Parenting 101:Anak Bersikap Rasis, Salahnya Di mana?

“Dy..kamu Cina ya?”Bungsuku terdiam, tak tahu menjawab apa. “Iya soalnya kamu putih. Kata Mas Nganan kalo kulitnya putih itu orang Cina. Kalo kita kan hitem-hitem.”Bungsuku hanya melongo, menatap kawan-kawannya.Entah dia mengerti atau tidak, tapi jelas tak merasa terganggu. Saya bersyukur saat itu. Atas ketidakpahaman si bungsu dan temperamen saya yang tidak serta merta bereaksi. Seringkah […]

1001 Alasan Markonah bersiar kabar

WhatsApp grup kampung kami tiba-tiba riuh tak henti-henti. Sejak Markonah, yang dikenal terdepan mengunggah berita; mengeposkan tadi pagi. [Berita duka cita : Innalillahi wainna ilaihi rajiun..Bapak Mrono meninggal semalam. Ga boleh dibawa pulang, langsung dikubur. Katanya covid.] Beberapa ibu menanggapi dengan sedih dan menyatakan simpati. Beberapa ibu lain mempertanyakan kebenaran covid atau tidak? Beberapa lagi […]

Multatuli, ‘Guru Rohani’ Sastra Indonesia

De pen is machtiger dan het zwaard

(The pen is mightier than the sword)

Sekilas pribahasa Belanda di atas terdengar tidak asing. Ya, pribahasa itu di Indonesia menjadi ‘pena lebih tajam dari pedang’ yang juga dapat disimpulkan tulisan bahkan bisa membuat perubahan lebih dalam daripada kekerasan. Pribahasa yang sangat pas menggambarkan kehidupan seorang Multatuli atau Eduard Douwes Dekker di masa Hindia-Belanda lalu.

Multatuli, tentu kita sudah sering mendengar namanya. Hanya namanya. Apa sepak terjangnya? Jarang di antara kita yang tahu ataupun mencari tahu. Dalam pendidikan sejarah di berbagai sekolah dasar – yang memang sudah diatur dalam kurikulum kepengajaran, nama Multatuli kerap disinggung. Namun hanya secuil, kadang hanya sepintas dan terkesan numpang lewat saja. Padahal pria berkebangsaan Belanda yang lahir 2 Maret 1820 lalu ini memiliki andil sangat besar terutama dalam perjalanan sejarah sastra di Indonesia.

Penulis Belanda kelahiran Amsterdam ini sempat tinggal di Indonesia dan beberapa kali bekerja pada pemerintahan masa itu. Menemukan kebuntuan dalam kehidupan politik masa penjajahan, Multatuli lalu memutuskan untuk fokus dalam dunia kepenulisan. Novel bergaya satirenya yang berjudul Max Havelaar (1860) menjadi perbincangan di berbagai kalangan baik Belanda maupun Indonesia bahkan dunia. Setelah buku ini terjual di Eropa, maka kehidupan Hindia-Belanda saat itu semakin terbuka dan memuluskan namanya sebagai pengarang yang diakui.

Meski kehidupan pribadinya tidak berjalan semulus karirnya sebagai penulis, ia tetap menuliskan kehidupan rakyat Hindia-Belanda. Nama Multatuli sendiri memiliki arti ‘Aku yang sudah banyak menderita’, mengacu pada kehidupannya.

Secara tidak diduga, karya Multatuli sangat dihargai dan dijadikan landasan banyak kegiatan dan karya sastra di Indonesia. Tulisan-tulisannya yang bernafaskan kemanusiaan menjadi bacaan wajib penggiat sastra dan jurnalistik kala itu. Bahkan sebuah organisasi sastra nasional sempat membuat Akademi Sastra Multatuli (1964) yang cukup sukses dalam pengadaan kegiatan sastra meski akhirnya runtuh berbarengan dengan jatuhnya Presiden Soekarno.

Walaupun kualitas kepenulisan Multatuli diperdebatkan, ia disukai oleh Carel Vosmaer, penyair terkenal Belanda dan tentu juga sebagian warga Indonesia. Selain karya besarnya yaitu Max Havelaar, Multatuli juga melahirkan karya-karya lain seperti: Minnebrieven; (Surat Surat Cinta), Dialog Dialog Jepang;, Ide Ide;, dalam 7 jilid (1862-1877) dan sebagainya. Sikap, tindakan serta kreativitasnya membuktikan Multatuli merupakan sastrawan sekaligus humanis besar.

Selama 20 tahun ia berkarya dan melancarkan ide-idenya tentang kemanusiaan dan ketidakadilan di Indonesia. Dapat dirasakan ide dan tulisannya berhasil memberikan pengaruh positif, sehingga sangat dirasakan oleh bangsa Indonesia di saat sangat dibutuhkan.

Meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Buru nya, Multatuli merupakan seorang ‘Guru Rohani’ sastrawan Indonesia. Pramoedya sendiri merupakan pengagum Multatuli yang sangat besar, demikian pula dengan R.A.Kartini yang kita tahu memiliki dampak pada kemajuan berbagai bidang di kehidupan tanah air.

Di bidang sastra sendiri, Multatuli dianggap guru besar oleh organisasi budaya dan kerakyatan. Kelompok Angkatan Pujangga Baru pun diilhami oleh karyanya. Namun lebih daripada itu semua, Multatuli memberikan semangat kebangsaan di Indonesia yang sebenarnya menyimbolkan sikap kritis dan penghargaan terhadap kehidupan manusia.

Ia sebagai pendukung keadilan diakui penuh dengan semangat pembangunan khususnya di bidang pendidikan dan sastra di kehidupan tanah air kita, juga membanggakan Negara asalnya. Karyanya membuktikan pribahasa ‘pena lebih tajam daripada pedang’, bukan?

Dari Pecandu Jadi Pemandu

Hasil Studi Lapangan di Yayasan Kesehatan Bali (YAKEBA)

Data survei menyatakan 8 dari 12 orang pengguna narkotika, alcohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya sudah pasti terjangkit HIV/AIDS.

Dengan fakta di atas serta tingginya jumlah pengguna Narkotika, alcohol, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) khususnya di Bali tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Terutama karena kenyataan bahwa pengguna NAPZA sangat rentan terjangkit berbagai penyakit menular, salah satunya HIV/AIDS. Bayangkan saja, dalam survei yang dilaksanakan di lapas Krobokan, 60% pengguna NAPZA positif HIV. Diperlukan informasi yang tepat untuk mensosialisasikan hal- hal seperti ini pada generasi muda. Salah satu cara yang paling ampuh ialah dengan kunjungan ke panti- panti rehab ataupun pusat informasi mengenai NAPZA, seperti yang dilakukan mahasiswa fakultas sastra Universitas Udayana, Selasa (8/6) lalu dengan dipimpin oleh Dosen mata kuliah Metode Penelitian Ilmu Budaya (MPIB).

Menimbang pengetahuan tentang NAPZA dipandang sangat perlu diketahui oleh generasi muda, kunjungan kali ini malah sangat dekat dengan dunia NAPZA. Tempat tujuan penelitian lapangan ialah Yayasan Kesehatan Bali (YAKEBA) yang bertempat di daerah Sidakarya, Denpasar, Bali.  Didirikan tahun 1996 oleh seorang warga Negara Australia, YAKEBA bertujuan untuk memberikan bantuan kepada korban- korban NAPZA. Hal ini karena pada tahun itu, bantuan untuk para pecandu sangat minim terutama dalam hal informasi. Diperparah dengan adanya stigma dari masyarakat yang dalam pikirannya seolah- olah telah ditanamkan paradigma buruk mengenai para pecandu, bahwa mereka itu tidak berguna, selalu berperangai buruk dan merupakan sampah masyarakat.

YAKEBA memiliki beberapa program demi menebarkan kebenaran informasi pada masyarakat dan pertolongan serta motivasi pada para pecandu. Diantaranya penjangkauan, rehab, konseling, pembentukan kelompok pendidik sebaya sebagai upaya pemberian informasi pada generasi muda, dan sebagainya. Program- program di YAKEBA terbukti telah banyak membantu kalangan pecandu. Hingga tahun 2010, lebih dari 700 pecandu di daerah Denpasar dan Badung telah dijangkau untuk mengikuti rehab bahkan beberapa diantaranya ikut mengabdikan diri di YAKEBA sebagai pemandu kawan kawan pecandu lainnya agar bisa termotivasi untuk kembali ke jalan yang benar dengan lebih cepat.

Kadek Adi, direktur YAKEBA saat ini salah satunya. Mantan pecandu yang sudah lama bergabung di program penjangkauan dan rehab ini mengaku sangat menyesal saat akhirnya terjerumus ke dunia NAPZA. Berasal dari keluarga baik- baik yang cukup berada, sama sekali ia tidak terpikir untuk mencoba obat-obatan terlarang. Adi ngoyong-sapaan akrabnya, merupakan siswa sibuk saat SD,SMP, maupun SMA. Ia tergabung dalam klub bulu tangkis dan basket saat SMA. Ketika mengikuti salah satu kejuaraan, gugup karena akan bertanding ia bercerita pada temannya yang juga sesama atlit basket. Oleh si teman, ia diberikan dua buah pil, yang saat itu disuruh minum dengan salah satu minuman bersoda. Demi mengatasi gugup pra pertandingan, iapun mau meminumnya. Keesokan harinya badan menjadi segar dan bisa bermain dengan kondisi prima. Setelah itu ia terus melanjutkan konsumsi obat tersebut. Penasaran dengan obat apa yang diminumnya, ia bertanya ke apotek terdekat dan mendapati bahwa obat yang selama ini dikonsumsi ialah obat tulang untuk usia 40 tahun ke atas. Pemakaiannya tetap berlanjut bahkan dengan dosis yang semakin meningkat. Hingga di kelas 3 SMA ia ditawari Heroin oleh salah seorang temannya yang tidak bisa membayar sepatunya (saat itu Adi sambilan menjual sepatu-sepatu bekasnya). Dengan kecanduan yang semakin besar, tentu pengeluaranpun semakin membengkak, bahkan ia pernah menggotong 2 tabung gas dengan sepeda gayung demi mendapatkan uang untuk membeli obat, keluarga yang sudah pasrah hanya bisa mendoakan supaya ia kembali sadar. Rehab beberapa kali namun tidak didasari kemauan sendiri membuat pria berkulit hitam ini sering kabur dari tempat rehab. Pernah juga dibawa ke RSJ dan psikiater. Akhirnya benar- benar berkeinginan rehab sejak tahun 2000 dan sukses hingga sekarang. Mulai aktif di YAKEBA sejak tahun 2003.

Lain lagi kisah Chandra yang juga staff di YAKEBA. Pemuda yang menjadi pecandu sejak 1996 ini mengaku berawal dari coba- coba.  Awalnya mencoba extacy dan akhirnya candu pada heroin. Akhirnya ia sadar dan memulai terapi methadone. Meski awalnya agak susah putus zat dan menyebabkan sakaw, ia tetap menguatkan tekadnya sehingga iapun berhasil lepas dari jeratan narkoba.

Demikian pula dengan Lorenzo, mengkonsumsi alcohol sejak SD, ia tumbuh dengan obat- obatan, doping, rokok juga bergelimang alcohol hingga dewasa. Ia bahkan sering keluar masuk penjara dan divonis positif HIV. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya memberikan informasi yang benar bagi generasi muda.

Kisah lainnya dari Reza Yudha, juga mencoba obat- obatan sejak kelas 6 SD. Obat pertama yang dicobanya benar- benar membuat teler. Mual dan merasa aneh dengan obat tersebut, iapun memeriksakan dirinya ke puskesmas terdekat dan mendapati dirinya mengkonsumsi obat untuk anjing gila. Tidak kapok dengan pengalaman tersebut, ia lanjut mengkonsumsi obat-obatan hingga kecanduan heroin dan diusir dari rumahnya.

Mengkonsumsi obat-obatan terlarang memang sangat berbahaya serta berdampak besar yang buruk bagi kehidupan. Bahkan menurut cerita para staff YAKEBA, pemakai shabu-shabulah yang paling ‘gawat’. Pernah suatu ketika sedang ada kelas rehab untuk para pecandu termasuk pecandu shabu. Saat sedang asyik menerima materi tentang kepemimpinan, tiba- tiba si pecandu shabu lari dan bersembunyi di bawah karpet. Ditanya lebih lanjut ia mengaku merasakan gempa bumi ilusi dan hanya dia yang merasakannya. Atau saat menonton malam hari tiba- tiba ia membakar televisi karena berilusi televisi itu melawan bahkan menantangnya.

Menurut Kadek Adi, hal- hal seperti ilusi itu memang sering terjadi di dalam rehab. Hal itu juga bermuara pada perbedaan pola pikir orang normal, pecandu dan mantan pecandu. Kalau orang normal biasanya pola pikirnya berawal dari Thinking, diikuti Action dan diakhiri Feeling. Para pecandu memiliki pola pikir yang berawal dari Feeling, diikuti Action, baru diakhiri Thinking. Sedangkan mantan pecandu pola pikirnya diawali Thinking, diikuti Feeling dan diakhiri Action. Hingga sampai kapanpun pola pikir mantan pecandu akan selalu berbeda dengan orang normal.

Karena itu, kesadaran para pecandu disebut kesadarn normal +. Sampai saat ini, YAKEBA tetap berusaha menjangkau sebanyak mungkin pecandu demi memotivasi mereka bahwa ada ha lain yang lebih berguna untuk dilakukan serta menghilangkan stigma buruk tentang pecandu dari masyarakat.