Tag Archives: Bhinneka Tunggal Ika

MBB Working for Colorful Indonesia

JakartaPost-logo

by Marcel Thee

Perhaps the advent of social media opinion-purging makes a case feel more widespread than it is, but fundamentalism and proudly unadulterated discrimination seems to have done nothing but grow over the years.

With increasing outspokenness, ignorance — self-justified in the oddest of manners — can now be fully distributed with a simple tap of the “enter” or “send” buttons.

By the same token, an increasing number of rationale-pushing, socially conscious movements have increasing visibility.

One of them is Muda Berbuat Bertanggung jawab (MBB), which roughly translates as Young and Doing Responsible Things.

Photo: Mayang Schreiber.

Photo: Mayang Schreiber.

MBB describes itself as a “forum of diversity, a vessel to exchange minds, to encourage progressive thinking among youngsters — open, cultured and diverse. Proud to be different, always ‘dangerous’ while also staying responsible. Forward onto a self-determined and colorful Indonesia.”

While it is still relatively young, MBB, established by music manager Rudolf Dethu (whose CV includes the popular Balinese pop-punk group Superman is Dead), has actively taken its activities all over the country.

Open discussions, seminars, and forums are often held in public spaces, including universities, concert halls (between performances) and other places often frequented by younger audiences.

The movement’s key goal is to establish the idea of pluralism in its many forms — not just racial, sexual, or religious, but also in terms of different ideas.

Their most recent battle was against the anti-alcohol law, which sold itself as trying to save the younger generation, but MBB saw as an attack on “civil rights [where] the government controls its citizens’ personal lives”.

MBB has also fought against the Pornography Law, which Rudolf considers was established by “cavemen and those whose heads are caught within the groins. They claim to want to save the young generation but end up being counterproductive, discriminative and, in the end, they blame women for what they consider satanic behavior”.

MBB is also actively taking part in the movement against the “reclamation” of Benoa Bay in Bali, which its supporters claim is about rejuvenating Bali but is in actuality a process of urbanizing one of the rare places still undamaged by commercialization.

Hot issue: Forum MBB aims to encourage progressive and critical thinking among young Indonesians.

Hot issue: Forum MBB aims to encourage progressive and critical thinking among young Indonesians.

Rudolf himself, who is clearly frustrated, takes part as speaker in many of MBB’s discussions, for which he also invites other speakers from different backgrounds and discipline.

“From these discussions, I could see how many of the younger generation aren’t aware that their civil liberties are being trampled upon,” he says, explaining that MBB tries to inform its audience that by not speaking out against these attacks, they are unwittingly letting the government into their most private spaces.

In time, Rudolf suggests, the government might as well decide what its people are allowed to eat, who to date, what time people are allowed to make phone calls.

“The country will continue to consider its citizens as being dumb and in need of constant, detailed control.”

As such, Rudolf is very much aware about the government’s and religion’s grip over its people.

“MBB was bred out of my restlessness with fundamentalist and Taliban-styled [beliefs], which is growing strong in this country — especially amongst youngsters,” he said.

“I was bothered that kids, who since they were young were controlled, told what not to do, choose to be so uncritical. Why would they want to voluntarily be restrained? What’s the use of being educated, or to have read books or articles, traveled afar, if so?”

MBB during the discussion at Salihara, late 2015. | Photo: Maggy Horhoruw

MBB during the discussion at Salihara, late 2015. | Photo: Maggy Horhoruw

It hasn’t been easy. MBB has been accused, ironically, of discriminating against certain beliefs, including those who claim that their Muslim belief justifies the restriction of what is considered pornography, which in reality is simple sexism bordering on misogyny.

“In their essence, Indonesians are warm, friendly, helpful and easy to get along with, but because of the low level of education and the incompetence of the government in taking care of its diverse set of citizens, people are easily roused by those they consider smart and/or religious. And, as such, those kinds of Indonesians turn violent — even to the level of murder. Why? Because they think they are doing religious work.”

Rudolf’s background in music means that he often utilizes musicians whose image of being “cool” can help get the attention of youngsters. He hopes to liberate minds through the power of music.

“Music transcends everything — the color of your skin, your religion, race, your background,” he says.

_________

• Original article: MBB Working for Colorful Indonesia
• The third photo on this page is taken from Facebook. Owner unknown.

Diskusi + Musik QUO VADIS BHINNEKA TUNGGAL IKA?

Layout-MBB-Oct7rdweb

Diskusi dan Musik
QUO VADIS BHINNEKA TUNGGAL IKA? Intoleransi dan Diskriminasi yang Perlahan Merobek Nusantara

Bhinneka Tunggal Ika Sedang Dinista
Semboyan adiluhung Indonesia, fondasi pergerakan forum MBB – Muda Berbuat Bertanggung jawab, Bhinneka Tunggal Ika, yang mestinya dijunjung tinggi dan menjadi acuan dalam kehidupan bernegara serta bermasyarakat, semakin hari tampaknya semakin menjadi simbol kosong belaka. Sebagian khalayak—walau jumlahnya kecil namun amat vokal dan agresif—tampaknya ingin melenyapkan Bhinneka Tunggal Ika, secara tak langsung lewat aksi-aksi pembungkaman keberagaman, hendak membawa Nusantara menjadi negara monokultur. Bukan cuma lewat hasutan-hasutan, cara kekerasan pun dihalalkan.

Sehubungan dengan isu korupsi (MBB di acara ini melibatkan KPK sebagai salah satu nara sumber), pada dasarnya pencegahan korupsi itu adalah penanaman nilai-nilai integritas terutama untuk generasi muda Indonesia. Kenapa generasi muda? Karena merekalah sang penerus bangsa, yang diberikan tongkat estafet untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik, bersih dan bermartabat.

Kebinekaan dan keberagaman juga masuk ke dalam penanaman nilai-nilai integritas itu karena kebinekaan adalah cermin dari kepedulian terhadap sesama bangsa Indonesia, dengan kata lain prilaku koruptif juga salah satu unsur yang merusak kebinekaan Indonesia.

Oleh karena itu, pencegahan korupsi juga bisa dilakukan dengan menyadarkan kembali generasi muda Indonesia dengan cara menyebarluaskan prinsip-prinsip kebinekaan sebagai cara untuk menumbuhkan sikap toleransi karena koruptor adalah orang yang sangat tidak toleran dan mengancam kebinekaan Indonesia.

Artinya niat monokultur adalah juga prilaku koruptif. Kehendak merobek kebinekaan Nusantara merupakan tindakan lancung korupsi.

Nah, dari diskusi QUO VADIS BHINNEKA TUNGGAL IKA? ini diharapkan dapat diperoleh gambaran umum soal penghargaan pada Bhinneka Tunggal Ika pada khususnya, toleransi pada keberagaman pada umumnya, terutama di kalangan anak muda sebagai penerus bangsa. Apakah benar merosot. Pula, bagaimana mereka melihat Islam Nusantara, tentang Bandung yang mencitrakan diri religius—menerapkan jam malam, berambisi menjadi “kota halal”, pengetatan luar biasa terhadap minuman beralkohol—namun faktanya malah menjadi kota terkorup menurut Indeks Korupsi 2015 setelah disurvei oleh Transparency International, dan rupa-rupa tindakan intoleransi dan diskriminasi yang sepertinya makin marak di Indonesia. Pantaskah kita sebegitu khawatir?

Detail penyelenggaraan
Hari & Tanggal : Jumat, 9 Oktober 2015
Waktu: 18.00-22.00 WIB
Tempat: Rooftop Salihara
Narasumber: Bambang Widjojanto (KPK), Isyana Bagoes Oka (politikus), Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca), Savic Ali (NU).
Moderator: Arman Dhani
Konseptor: Rudolf Dethu
Hiburan: Leonardo and His Impeccable Six

Bambang Widjojanto. | Foto: kompas.com

Bambang Widjojanto. | Foto: kompas.com

Isyana Bagoes Oka. | Foto: merdeka.com

Isyana Bagoes Oka. | Foto: merdeka.com

Cholil Mahmud. | Foto: efekrumahkaca.net

Cholil Mahmud. | Foto: efekrumahkaca.net

Savic Ali. | Foto: journoliberta.com

Savic Ali. | Foto: journoliberta.com

Jadwal
18:00-18.30 Registrasi media dan undangan
18:30-20.00 Diskusi QUO VADIS BHINNEKA TUNGGAL IKA? Intoleransi dan Diskriminasi yang Perlahan Merobek Nusantara
20:00-selesai Hiburan musik oleh Leonardo and His Impeccable Six

Ikuti terus berita-berita terbaru Forum MBB di situs web forummbb.org serta Facebook page Forum MBB

Pluralitas dan Pluralisme dari Hongkong

Awas! Ini bukan tentang agama atau anti/pro Jaringan Islam Liberal. Ini tentang pilihan pluralisme.

Kerabat Puspawarna, kembali kita bersua di jagat maya. Semoga anda tetap bugar-berjaya dan terus merdeka menjadi bianglala. Saya memang sengaja beristirahat sebentar dari riuh argumen yang sedang terjadi. Akun Twitter pun saya deaktivasi untuk sementara waktu. Saya pikir ketika sedang baku argumen memang lebih baik lewat tulisan yang tak terbatas di 140 karakter. Debat seyogianya lewat blog saja. Pemaparan pikiran satu sama lain pasti lebih nyaman untuk ditelaah, lalu diangguki setuju atau malah ditolak mentah.

Dari tiga rangkuman opini yang sudah saya beberkan, Surat Terbuka untuk Rocket Rockers, Sesat dan Kafir Harus Bersatu, serta Merdeka Menjadi Bianglala, akhirnya saya mendapat respons Dilema Lini Massa Tentang Pluralisme dan Pluralitas yang, harus saya akui, disusun numerikal, rapi, dan runut. Dan saya baca hingga tuntas. Berbeda dengan tanggapan via Twitter yang ditulis oleh manajernya—what’s his name again?—yang, tanpa mengurangi rasa hormat, tidak saya konsumsi hingga selesai karena cengengesan dan mencla-mencle. Itu manajer ya? Atau road manager? Atau manajer ad-hoc, diambil asal saja dari crew karena posisi manajer sedang lowong? Kicauannya paceklik kharisma. Belum lagi… (Lebih baik saya hentikan kalimatnya hingga di situ saja, saya sedang mendisiplinkan diri agar mengurangi drastis kebiasaan menghina, sebab konon murtad pada adat ketimuran.)

Numerikal, rapi dan runut, itu kelebihan respons tersebut. Saya ikhlas angkat topi. Kekurangannya? Kekurangannya sejatinya bahkan sudah dimulai dari detik pertama, yang awalnya membuat saya malas membaca isinya. Haha. Namun karena susunannya apik saya lalu luangkan waktu sekadar menengok macam mana celotehannya. Ya, benar, kesalahan telah dimulai sejak langkah termula: Lini Massa. Cukup lama saya mencoba memahami apa maksud dari "Lini Massa". Garis masyarakat? Lajur publik? Demarkasi umum? …Ah, ternyata maksudnya linimasa yang merupakan terjemahan cerdas dari frase Bahasa Inggris timeline. Terjemahan cerdas yang (sayangnya) dimodifikasi kembali secara tidak cerdas. *uhuk*

Nah, dari gagap linguistik sedemikian rupa wajar saja jika saya berubah ngikik ketika saya hendak diterangkan tentang kebahasaan: apa makna pluralitas, apa bedanya dengan pluralisme. Membedakan "linimasa" dengan "lini massa" saja masih mencret kok malah sekarang sok menjelaskan dikotomi pluralitas dengan pluralisme. (Apalagi jika saya nyinyir mengkoreksi tulisannya, semisal "ke-bhineka-an". Bung, yang lebih tepat adalah "kebinekaan" karena "bineka" telah masuk menjadi salah satu lema di Tesaurus Bahasa Indonesia yang bermakna seragam dengan "majemuk". Jika pun menggunakan slogan negeri ini, yang benar adalah Bhinneka Tunggal Ika (dengan dua "n", bukan satu). Apa mau saya lanjutkan lagi program pencibiran gagap linguistik ini? Jangan. Kasihan.) Tentu saja berikutnya saya coba didikte bahwa pluralitas harus dibedakan dengan pluralisme blablabla… Bahwa yang ditentang olehnya dan kelompoknya adalah pluralisme theosophy. Uh oh. Mungkin maksudnya adalah pluralisme teosofi (Ingat! Photography disadur ke Bahasa Indonesia menjadi fotografi). Kembali saya menjadi ragu apakah ia betul paham dan tahu apa yang sedang dicerocosinya. Semua kawan-kawannya selalu penjelasannya kurang lebih sama. "Pluralitas itu berbeda dengan pluralisme, mas. Yang kita tolak itu pluralisme agama, mas." Bahkan salah satu personel Rocket Rockers yang lain selain pokalis, eh, fokalis, eh, vochalis—aduh, kena gagap linguistik juga saya jadinya—sudah termakan yaddayaddayadda pluralitas-pluralisme tersebut. "Gue menolak pluralisme tapi setuju pluralitas." Duh Gusti, saya jadi heran, sejak kapan istilah pluralisme itu menjadi negatif? Pluralisme itu bagi saya intinya adalah keadaan keberagaman, terjadinya interaksi dan adanya toleransi. Cenderung netral mengarah positif. Alamak jauh dari negatif. Saking penasarannya, saya kemudian bertanya dengan pakar bahasa Eko Endarmoko, penyusun kamus Tesaurus Bahasa Indonesia, tentang hal ini. Ia pada dasarnya sependapat dengan saya. Kalimat Eko persisnya seperti ini, "Buat saya, ‘pluralitas’ itu fakta, yaitu keberagaman, kebinekaan. Sedang ‘pluralisme’ itu sikap mengakui pluralitas. Saya kira banyak orang rada keliru—termasuk MUI ketika menyatakan bahwa pluralisme menganggap semua agama benar. Itu, kita tahu, namanya monisme."

Sudahlah, cukup ah, saya bosan lagi lelah dengan kisruh pemaknaan macam demikian. Muak akibat butek saling silang teori yang tiada berkesudahan. Mbulet. Mendingan langsung ke praktek saja, satunya kata dan perbuatan saja. Benar, baiklah, jika kemudian di antara kita ternyata hanya berbeda pemahaman dalam istilah, sekadar isu kebahasaan, semata debat panas tentang terminologi, okelah, mari kita kembalikan ke substansi: apa benar Ucay (hore!) menghargai keberagaman, sosok bineka, memang toleran seperti pengakuannya? Jika di sekolah nilai anda rendah dalam mata pelajaran eksakta dan ilmu sosial (baca: tolol) maka anda akan kambing-congek percaya klaim dia begitu saja. Mulut manis dan berondongan ayat suci saja bukan jaminan. Foto ini—cukup satu saja—sudah sangat agresif berbicara, bisa dijadikan dasar kuat sebagai pijakan tuduhan bahwa pengakuannya penuh dusta:

Bagaimana mungkin mengaku toleran, menghargai perbedaan, jika mengagungkan agresor macam Rizieq dan Ba’asyir sebagai suri tauladan? Ndak mungkin toh? Mustahil kan?

Berbeda jika tokoh yang dijadikannya panutan profil teduh macam Gus Mus dan Gus Dur, misalnya.

Sudah. Cukup. Capek. Saya akhiri baku argumen ini hingga di sini. Doi menang mulut manis dan berondongan ayat suci doang. Prakteknya mah bohong besar.

Bhinneka Tunggal Ika,
RUDOLF DETHU

___________________

*Foto Gus Mus dan Gus Dur adalah pengganti dari foto Gus Mus yang tadinya menghiasi artikel ini. Setelah berdiskusi hangat dan riang lewat e-mail dengan putra Gus Mus, Mas Ova, maka diputuskan untuk mengganti foto Abah—demikian beliau sering dipanggil oleh orang dekatnya—dengan yang lain sebab ternyata puisi yang tercantum di situ adalah bukan karya Gus Mus. Penggantian foto tersebut adalah sekaligus permohonan maaf atas keteledoran saya. Pun substansi dari ujaran saya adalah lebih kepada sosok Gus Mus yang teduh, bukan prioritas pada puisinya. Demikian. Terima kasih.

Merdeka Menjadi Bianglala

Awas! Ini bukan tentang agama atau anti/pro JIL. Ini tentang pilihan pluralisme.

Kerabat Puspawarna,

Jabat erat keberagaman dari klandestin. Ada kabar mencengangkan, utamanya bagi insan bineka yang berdomisili di Bali. Gerakan Indonesia Tanpa JIL (ITJ) yang notabene pendukung "Pluralisme? Injak saja!" ternyata sudah membuka cabang di Bali (akun Twitter: @ITJ_BALI dengan @BahrudinJamil sebagai admin). Konon berpusat di Klungkung.

Duh gusti, ini sungguh lucu. Di Bali mana ada JIL? Mau menghadapi siapa memangnya? Atau memang berencana besar menginjak pluralisme yang justru merupakan fondasi utama Bali? Oh, ok, ok, mungkin sekadar antisipasi agar benih-benih JIL tak bersemi di pulau Dewata. Harus diinjak duluan agar senantiasa kerdil atau sekalian binasa. Begitu? Hmmm… Okeh. Bolehlah diterimah logikah.

Tadi menyebut sekadar mengantisipasi ya? Baiklah, sama juga, sekadar mengantisipasi kehadiran gerakan ITJ tersebut di Bali maka saya sudah minta rekan-rekan saya untuk mengkonfirmasi langsung ke akun Twitter @ITJ_BALI dengan memberikan 2 pertanyaan mendasar:
1. Anda bagian dari "Pluralisme? Injak saja"?
2. Jika tidak, mengapa mengusung Ba’asyir & Rizieq (anti keberagaman) sebagai suri tauladan?
Jawaban silakan e-mail ke: rudolfdethu@rudolfdethu.com

Saya masih menunggu jawaban dari penanggungjawab akun tersebut. Nah, sambil menunggu respons tersebut mari kita siram kembali ingatan kita dengan menampilkan 4 gambar serta 1 akal sehat bersih-segar:
Indonesia Tanpa JIL menjadi partisipan Apel Siaga Umat "Indonesia Tanpa Liberal", 9 Maret 2012, di Jakarta
Salah satu aktivis ITJ bergandengan bersama gerombolan radikal yang gemar mengumbar label sesat dan kafir
Jajaran suri tauladan para peserta aksi
Salah satu "guru besar" ITJ, Rizieq (baca: pembinasa keberagaman), sedang berpidato kala aksi sedang berlangsung

Sekarang silakan gunakan akal sehat dengan baik lalu asosiasikan ke-4 foto tersebut, apa iya gerakan Indonesia Tanpa JIL benar menghargai pluralisme (keberagaman)? Kecuali jika anda kurang menonjol dalam bidang akademis kala bersekolah (baca: tolol) maka anda akan manggut-manggut percaya kepada klaim mereka sebagai organisasi yang menghargai keberagaman.

Ah, sekalian juga, mohon sudi kiranya kawan-kawan outSIDers Muslim dan punk rock puspawarna beragama Islam yang berdomisi di Klungkung bersilaturahmi ke markas ITJ di Klungkung. Tanyakan saja dua pertanyaan di atas. Nanti juga saat saya berlibur ke Bali saya akan minta ITJ Klungkung untuk meluangkan waktu bertemu dengan saya. Saya akan mengajak sahabat-sahabat Muslim saya bertemu dengannya. Ini saya memang sengaja mengajak kerabat Muslim puspawarna agar ITJ tak seenaknya mengklaim mewakili suara mayoritas. Pun saya akan menolak bicara agama sebab ini isunya pluralisme (keberagaman). Sekali lagi, para karib Muslim saya hanya akan jadi penyeimbang klaim ITJ sebagai wakil mayoritas.

Saat bertemu nanti saya akan tegaskan dengan menambahkan 2 pertanyaan lagi:
3. Kedekatan ITJ dengan Ba’asyir (baca: radikalisme). Sebab radikalisme telah dua kali, tahun 2002 dan 2005, meluluhlantakkan Bali (tapi gagal memporakporandakan pluralisme sebab tiada secuil pun tersulut konflik antar agama setelah tragedi mengerikan "Pluralisme? Injak saja!" tersebut)
4. Apakah ITJ Klungkung juga memiliki tabiat seperti guru besarnya yang kerap seenak udelnya mengumbar cap sesat dan kafir ke pihak lain?
Sekali lagi mari saya tekankan: Tidak siapa pun—TIDAK SIAPA PUN—berhak menyebut orang lain sebagai sesat dan kafir. Kata "sesat" dan "kafir" adalah frase kebahasaan yang bermakna derogatori (derogatory) alias merendahkan, melecehkan, bertendensi menghina. Dalam konteks ini, "sesat" dan "kafir" adalah kasta setan tertinggi dari derogatori karena sifatnya yang amat jahat dan keji merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan. Saya pribadi tak akan pernah mau tunduk, sampai kapan pun saya akan melawan, cecunguk rendah nan berakal budi menjijikkan yang menyebut saya sesat dan kafir. @ITJ_BALI harus mampu meyakinkan saya bahwa anda berbeda dengan suri tauladan anda.

Bhinneka Tunggal Ika. Bersatu dan merdeka menjadi bianglala. Mohon maaf lahir dan batin.

RUDOLF DETHU

NB: Mohon sudi kiranya ITJ nanti mengirimkan satu e-mail saja ke saya. Kalau memang punya adab, jangan beramai-ramai merespons. Malu-maluin dong kalau mengeroyok. Saya ini cuman sendiri kok. Saya juga tak akan menjawab e-mail tersebut jika anda saya anggap tipe nakal dan mengkerdilkan alias kelas kambing macam "Pluralisme? Injak saja!" Terima kasih banyak sebelumnya.