MBB Working for Colorful Indonesia

Perhaps the advent of social media opinion-purging makes a case feel more widespread than it is, but fundamentalism and proudly unadulterated discrimination seems to have done nothing but grow over the years. With increasing outspokenness, ignorance — self-justified in the oddest of manners — can now be fully distributed with a simple tap of the “enter” or “send” buttons. By the same token, an increasing number of rationale-pushing, socially conscious movements have increasing visibility. One of them is Muda Berbuat Bertanggung jawab (MBB), which roughly translates as Young and Doing Responsible Things. MBB describes itself as a “forum of diversity, a vessel to exchange minds, to encourage progressive thinking among youngsters — open, cultured and diverse. Proud to be different, always ‘dangerous’ while also staying responsible. Forward onto a self-determined and colorful Indonesia.” While it is still relatively young, MBB, established by music manager Rudolf Dethu (whose CV includes the popular Balinese pop-punk group Superman is Dead), has actively taken its activities all over the country. Open discussions, seminars, and forums are often held in public spaces, including universities, concert halls (between performances) and other places often frequented by younger audiences.

Continue Reading MBB Working for Colorful Indonesia

Diskusi + Musik QUO VADIS BHINNEKA TUNGGAL IKA?

Semboyan adiluhung Indonesia, fondasi pergerakan forum MBB – Muda Berbuat Bertanggung jawab, Bhinneka Tunggal Ika, yang mestinya dijunjung tinggi dan menjadi acuan dalam kehidupan bernegara serta bermasyarakat, semakin hari tampaknya semakin menjadi simbol kosong belaka. Sebagian khalayak—walau jumlahnya kecil namun amat vokal dan agresif—tampaknya ingin melenyapkan Bhinneka Tunggal Ika, secara tak langsung lewat aksi-aksi pembungkaman keberagaman, hendak membawa Nusantara menjadi negara monokultur. Bukan cuma lewat hasutan-hasutan, cara kekerasan pun dihalalkan. Sehubungan dengan isu korupsi (MBB di acara ini melibatkan KPK sebagai salah satu nara sumber), pada dasarnya pencegahan korupsi itu adalah penanaman nilai-nilai integritas terutama untuk generasi muda Indonesia. Kenapa generasi muda? Karena merekalah sang penerus bangsa, yang diberikan tongkat estafet untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik, bersih dan bermartabat. Kebinekaan dan keberagaman juga masuk ke dalam penanaman nilai-nilai integritas itu karena kebinekaan adalah cermin dari kepedulian terhadap sesama bangsa Indonesia, dengan kata lain prilaku koruptif juga salah satu unsur yang merusak kebinekaan Indonesia. Oleh karena itu, pencegahan korupsi juga bisa dilakukan dengan menyadarkan kembali generasi muda Indonesia dengan cara menyebarluaskan prinsip-prinsip kebinekaan sebagai cara untuk menumbuhkan sikap toleransi karena koruptor adalah orang yang sangat tidak toleran dan mengancam kebinekaan Indonesia. Artinya niat monokultur adalah juga prilaku koruptif. Kehendak merobek kebinekaan Nusantara merupakan tindakan lancung korupsi.

Continue Reading Diskusi + Musik QUO VADIS BHINNEKA TUNGGAL IKA?

Pluralitas dan Pluralisme dari Hongkong

Kerabat Puspawarna, kembali kita bersua di jagat maya. Semoga anda tetap bugar-berjaya dan terus merdeka menjadi bianglala. Saya memang sengaja beristirahat sebentar dari riuh argumen yang sedang terjadi. Akun Twitter pun saya deaktivasi untuk sementara waktu. Saya pikir ketika sedang baku argumen memang lebih baik lewat tulisan yang tak terbatas di 140 karakter. Debat seyogianya lewat blog saja. Pemaparan pikiran satu sama lain pasti lebih nyaman untuk ditelaah, lalu diangguki setuju atau malah ditolak mentah.

Continue Reading Pluralitas dan Pluralisme dari Hongkong

Merdeka Menjadi Bianglala

Jabat erat keberagaman dari klandestin. Ada kabar mencengangkan, utamanya bagi insan bineka yang berdomisili di Bali. Gerakan Indonesia Tanpa JIL (ITJ) yang notabene pendukung "Pluralisme? Injak saja!" ternyata sudah membuka cabang di Bali (akun Twitter: @ITJ_BALI dengan @BahrudinJamil sebagai admin). Konon berpusat di Klungkung. Duh gusti, Ini sungguh lucu. Di Bali mana ada JIL? Mau menghadapi siapa memangnya? Atau memang berencana besar menginjak pluralisme yang justru merupakan fondasi utama Bali? Oh, ok, mungkin sekadar antisipasi agar benih-benih JIL tak bersemi di pulau Dewata. Harus diinjak duluan agar kerdil atau sekalian binasa. Begitu? Hmmm... Okeh. Bolehlah diterimah logikah.

Continue Reading Merdeka Menjadi Bianglala