Tag Archives: Berita Utama

Peladung, Jejak Awal Mekanisme Adat Menyikapi Investasi

Warga Desa Peladungan dan Walhi Bali memeriksa lokasi eksplorasi oleh investor. Foto Walhi Bali.

Desa Peladung mungkin saja tidak seterkenal desa lain di Bali.

Desa Kuta, misalnya, adalah pusat pariwisata Bali. Atau Desa Adat Tanjung Benoa yang belakangan sangat populer karena isu kontroversi proyek reklamasi Teluk Benoa yang berjalan sepanjang tahun.

Namun, bila menilik ke belakang, beberapa bulan sebelum kasus reklamasi Teluk Benoa mencuat, sejatinya ada peristiwa menarik terjadi di sana, yakni sebuah advokasi damai oleh warga Desa Adat Peladung dengan mekanisme adat. Dalam catatan saya, peristiwa ini adalah upaya penyelesaian konfik atas upaya investasi yang dilakukan dengan mekanisme adat. Bagi saya, peristiwa ini adalah sesuatu yang baru dan menginspirasi.

Nampaknya, hal ini pula yang menginsipirasi metode penolakan reklamasi Teluk Benoa, yang akhirnya menggunakan mekanisme adat. Kurang lebih sama dengan peristiwa di Desa Adat Peladung, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem.

Secara geografis Desa Adat Peladung sangat strategis, berada di bawah dua gunung yaitu Gunung Abang dan Gunung Agung. Di antara dua gunung tersebut, berturut-turut ada empat sumber mata air yang cukup penting bagi Desa Adat Peladung yang sebagian besar masyarakatnya bertani.

Empat mata air tersebut adalah mata air Ababi, mata air Yeh Ketipat, mata air Tahuka dan yang paling bawah adalah mata air Tirta Gangga. Mata air terakhir terkenal sebagai salah satu destinasi wisata di Karangasem Bali. Mata air ini juga yang selama ini menjadi sumber air untuk mengairi persawahan begitu luas dan produktif di Desa Adat Peladung.

Nampaknya posisi strategis itulah yang dilirik perusaahan air kemasan, PT Tirta Investama, pemilik merek terkenal Aqua. Pada 9 Oktober 2012 mereka mendapatkan surat izin ekplorasi air tanah dari Bupati Karangasem saat itu, I Wayan Geredeg, melalui Surat No 1 tahun 2012. Berdasarkan surat itulah PT Tirta Investama melakukan pengeboran di dua titik berdekatan terletak di dalam areal persawahan Subak Bungbung. Kedalaman pengeboran kira-kira 150 m. Pengeboran terdalamnya diperkirakan berada tepat 50 m di atas Kota Karangasem.

Kegiatan ini meresahkan warga, terutama yang menggantungkan hidupnya dari pertanian. Begitu juga masyarakat non-petani yang khawatir jika proses ini berlanjut sampai tahap ekploitasi, desa mereka akan mengalami kekeringan atau setidakknya kekurangan air dibanding sebelum ada ekploitasi air tanah.

Pecah dan Mencari Sekutu

Sebagaimana situasi dalam setiap kegiatan investasi, selain ada yang khawatir dan akhirnya bersikap menolak investasi air minum dalam kemasan (AMDK) ini, terdapat juga kelompok masyarakat yang pro atau setuju dengan investasi ini.

Menurut keterangan warga yang mendatangi kami, persetujuan itu dilatarabelakangi anggapan bahwa investasi Aqua akan menguntungkan secara ekonomi. Misalnya, menambah lapangan pekerjaan dan memberikan pendapatan bagi desa. Semua paparan itu saya dapatkan setelah sebagian masyarakat, yang merasa khawatir dan resah dengan kegiatan pengeboran guna ekplorasi air tanah, datang ke Kantor Walhi Bali.

Mereka ke kantor Walhi Bali untuk mencari tahu mengenai operasi Aqua sekaligus mencari dukungan untuk berjuang bersama menolak eksplorasi, eksploitasi dan pembangunan pabrik Aqua di desa mereka.

Dalam waktu cepat, kami mengajak mereka berdiskusi setelah melihat antusiame mereka. Kami memutuskan bekerja bersama-sama mengadvoaksinya. Menariknya, warga yang datang dari berbagai umur dan latar belakang pekerjaan: pengusaha, pekerja swasta, sampai sopir taksi.

Sebagian besar berdomisili di Denpasar. Adapun yang di kampung sebagian besar berkerja sebagai petani. Meskipun demikian, mereka membawa mandat dari kelompok masyarkat yang menolak Aqua yang tidak bisa hadir di kantor Walhi Bali.

Dari cerita merekalah kami mengetahui bahwa ternyata situasi di desa adat mereka telah terbelah. Terdapat tiga blok besar di Desa Adat Peladung dalam menyikapi rencana investasi Aqua yakni: kelompok setuju Aqua, kelompok menolak Aqua dan kelompok yang masih belum menentukan sikap.

Di sisi lain, laju investor dalam melaksanakan proyeknya sangat cepat. Mereka sudah membeli yang digunakan tapak pengeboran air. Dalam waktu cepat mereka sudah melakukan pengboran dua titik. Saat warga hadir ke kantor Walhi Bali, pengeboran sudah dilakukan. Saat itu warga menyatakan satu lobang pengeborannya sempat mengeluarkan air.

Menyikapi situasi yang sudah berkualifikasii pelik, kami segera menyusun agenda pertemuan membahasa situasi dan mempelajarinya dengan saksama. Syukurnya, warga yang datang tersebut bersedia dengan tertib untuk mengikuti agenda-agenda rapat advokasi. Sedari awal terlihat mereka memang antusias.

Menariknya, saya ingat betul, salah satu orang yang terlibat sudah berumur sepuh. Hampir mendekati usia 80 tahun. Beliau aktif dalam rapat-rapat advokasi bahkan sampai dini hari. Dipersilakan pulang duluan pun beliau tidak mau. Setiap rapat berbekal 1 botol air saja, tidak mengkonsumsi apapun. Rupa-rupanya diabetes menjadi alasan beliau berlaku seperti itu.

Semangat beliaulah yang menyemangati tim warga lain, yang rata-rata masih muda berumur 40an tahun. Sebenarnya dengan situasi di desa seperti itu, kami di Kelompok Kerja Advokasi Lingkungan (KEKAL) Bali, aliansi strategis bersama Walhi Bali, mempunyai pekerjaan cukup berat. Dalam waktu cepat kami harus meng-up grade kapasitas warga di tim ini.

Pertemuan warga Peladung bersama Walhi Bali. Foto Walhi Bali.

Berkejaran

Untungnya, kemauan belajar yang begitu kuat dari tim warga membuat hal berat menjadi lebih ringan. Dibantu Walhi Nasional dan jaringan Kruha di Jakarta, kami bertukar informasi. Laporan dilakukan dengan cepat karena berkejaran dengan aktivitas pengeboran yang sedang masif dilakukan oleh Aqua di lapangan.

Secara singkat, segala sesuatu yang terkait advoaksi dalam dalam hitungan dua minggu berjalan dengan baik. Proses up grading warga menjadi cukup baik. Selanjutnya mereka bekerja bahu membahu. Mulai dari membentuk tim di desa guna melakukan sosialissasi dari rumah ke rumah. Menyebarluaskan dampak buruk operasioal perusahaan AMDK. Tim warga menjelskan dengan data dan informasi yang mereka punya.

Ditambah lagi dengan cerita mengenai sejarah situasi air di desa mereka, saat dua sumber air di desa mereka diekploitasi oleh perusahaan daerah dan berakibat pada matinya sumber air tersebut. Refleksi situasi air dan kondisi desa ini memberikan kontribusi baik bagi penyadaran warga desa.

Secara perlahan, situasi berbalik. Masyarakat yang awalnya bersikap ragu karena kekurangan informasi menjadi melek. Akhirnya mereka bersikap mendukung perlawanan warga yang besikap menolak Aqua.

Secara keseluruhan, proses advokasi yang dilakukan warga desa yang menolak Aqua juga cukup terbantu dengan adanya kampanye-kampanye mengenai situasi krisis air di Bali. Dalam kurun waktu 2011-2012, isu mengenai krisis air di Bali begitu masif sehingga membuat masyarakat di Desa Adat Peladung lebih cepat waspada dan sadar.

Selain itu beberapa waktu sebelumnya, berita mengenai ditolaknya pabrik Aqua di Serang, Banten juga memberikan motivasi bagi warga untuk mencari informasi dan bersekutu dengan pihak-pihak yang dianggap punya keberpihakan terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Di saat proses sosialisasi sudah berhasil membuka kesadaran warga, di sisi lain terjadi juga reaksi dari pihak yang pro Aqua. Pada titik inilah situasi menjadi rumit terlebih untuk menjalankan prinsip-prinsip advokasi damai.

Solusi Penyelesaian Konflik

Dalam situasi itu tercetuslah ide bersama untuk mendorong proses ini diselesaikan melalui mekanisme adat. Ide ini awalnya muncul dari kekhawatiran atas potensi gesekan fisik antara kelompok pro dan kelompok kontra. Sementara kami semua sudah sepakat bahwa advokasi wajib berprinsip damai dan non kekerasan. Prinsip itu menjadi nilai dasar bagi perjuangan kami.

Ide ini selanjutnya coba didorong oleh warga di tim kami kepada pimpinan desa adat. Gayung Bersambut. Bendesa Adat Peladung ternyata menyambut dengan baik gagasan ini dengan kosekuensi logis, apapun hasilnya wajib diterima dengan damai dan konsisten.

Sampailah pada kesimpulan bahwa Desa Adat Peladung akan memfasilitasi aspirasi rakyat yang pro dan kontra dalam Paruman Desa Adat pada 8 Januari 2013. Setiap kelompok masyarakat baik yang pro maupun kontra diperbolehkan membawa narasumber yang bisa mewakili aspirasi mereka.

Singkat cerita, tibalah saatnya paruman (rapat) desa adat.

Suasana cukup menegangkan. Paruman dipimpin Sekretaris Desa Adat. Pihak pro Aqua menghadirkan banyak narasumber, di antaranya ahli dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bali, Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten Kararangsem, dan PT Tirta Investama sendiri. Pertemuan juga dihadiri Lurah Padangkerta. Sedangkan warga yang menolak Aqua menghadirkan narasumber Walhi Bali.

Sekretaris Desa Adat mempersilakan kelompok pro terlebih dahulu memaparkan materinya. Ahli dari IAGI Bali memaparkan bahwa situasi air di Karangasem surplus. Intinya investasi AMDK tidak akan merugikan situasi air di Karangasem, termasuk di Peladung.

Selanjutnya Pemkab Karangasem menjelaskan dasar izin ekplorasi yang diterbitkan Bupati dan memberikan pesan bahwa perizinan itu dipandang akan menguntungkan rakyat dari segi ekonomi. Demikian pula, saat PT Tirta Investama menjelaskan rencana proyeknya. Normatif saja, sama seperti komitmen-komitmen investasi lainnya.

Selanjutnya, tibalah giliran kami. Sebagai “ahlinya” warga yang menolak Aqua, saya memperkenalkan diri lalu menjelaskan situasi krisis air di Bali dari berbagai data yang saya peroleh sebagai refrensi.

Selanjutnya Suriadi Darmoko yang juga dari Walhi Bali. Dialah yang bertugas menelusuri sejarah air di Desa Adat Peladung lalu memateriilkan dalam bentuk “peta air”. “Peta” itu dikomparasikan dengan berbagai referensi. Terakhir ditutup dengan perbandingan praktik-praktik Aqua di beberapa daerah.

Hasilnya, Sudarmoko mendapatkan apresiasi luar biasa dari warga. Penjelasannya mengena pada nalar warga. Situasi ini nampaknya tidak diterima oleh ahli dari IAGI. Dia meminta waktu kembali melakukan bantahan.

“Walhi kalau mau memaparkan situasi air, jangan pakai data tahun 1945,” katanya lalu menjelaskan kembali data-data situasi air yang dia miliki. Tentu dengan kertas peta sebesar papan tulis jumbo. Namun, terlambat. Dia telanjur kalah langkah.

Tiba saat sesi diskusi. Warga nampaknya tidak sabar untuk masuk sesi ini. Kami yang sedang memutar film diinterupsi oleh warga. Akhirnya kami mengalah dan sesi diskusi dimulai. Kami sedari awal sudah diberitahu tim warga dan mengidentifikasi warga yang pro Aqua.

Saya cukup kaget saat yang bertanya pertamakali justru warga yang diidentifikasi sebagai kelompok pro. Saya ingat dia memakai polo shirt dengan warna merah bata. “Saya adalah warga yang mendukung Aqua,” kata pembuka yang membuat kami was-was.

“Namun, setelah mendengar pemaparan Walhi Bali berikut data dan film yang diputarkan, saya menyatakan menolak Aqua,” lanjutnya.

Plong! Tepuk tangan bergemuruh. Teriakan penolakan membahana.

Selanjutnya tidak ada satupun yang mampu menyetop saran pendapat yang semuanya menolak Aqua. Seolah-olah tidak ada lagi opsi mendukung Aqua. Euforia luar biasa. Sementara itu, di belakang piminan rapat, duduk para ahli dan pihak yang berkepentingan dengan Aqua terlihat kecewa. Beberapa orang terlihat menggerutu.

Buruh investor membongkar peralatan eksplorasi sumber air. Foto Walhi Bali.

Bupati Menyerah

Semakin siang semakin panas. Posisi warga penolak Aqua di atas angin, tetapi belum selesai. Saat warga meminta kepada pimpinan rapat agar saat itu dilakukan pengambilan keputusan, situasi semakin menegangkan.

Sekretaris Desa Adat tidak bersedia menjalankan agenda pengambilan keputusan. Alasannya, agenda rapat saat itu hanya untuk sosialisasi. Pengambilan keputusan akan dilakukan dua hari setelahnya.

Situasi memanas. Desakan warga semakin kuat, tetapi sekretaris adat bergeming. Nampak di belakang pipinan rapat gerutuan mengarah pada dukungan persetujuan atas sikap sekretaris adat untuk menunda agenda pengambilan kuputusan.

Saya yang saat itu berada di samping Bendesa Adat sempat berdiskusi dengan beliau. Tiba-tiba di luar dugaan beliau mencolek pinggang Sekretaris Desa Adat yang sedang bersitegang dengan warga. Dia lalu berbisik sebentar ke telinga Sekretaris Adat.

Saya tidak tahu persis apa yang dibisikan, tetapi dari gestur Bendesa Adat, terlihat beliau akan mengambil alih rapat. Benar saja, tiba-tiba beliau berpindah posisi dengan Sekretaris Desa Adat.

Dengan berbahasa Bali halus beliau membuka pernyataanya. “Saudara-Saudara, sebagai Bendesa Adat Peladung Saya mengambil alih rapat ini.”

Suasana hening.

“Oleh karena Saudara-saudara meminta agar hari ini dilakukan pengambilan keputusan, maka saya putuskan bahwa sekarang kita ambil keputusan,” lanjutnya.

Suasana bergemuruh. Keputusan Bendesa Adat disambut antusias warga. Tanpa basa-basi Bendesa adat menyatakan bahwa pengambilan keputusan akan dilakukan dengan voting terbuka, dengan cara angkat tangan.

“Saya tanyakan siapa saja yang menolak Aqua?” tanya beliau.

Warga yang menolak Aqua menaikan tangan dengan tegas. Terlihat sebagian besar menaikan tangan tanda tidak setuju dengan Aqua.

Selanjutnya Bendesa Adat berkata, “Oleh karena yang menaikkan tangan sudah sekitar 95 persen, maka saya tidak bertanya lagi siapa saya yang setuju Aqua. Dengan ini saya menyatakan, Desa Adat Peladung menolak Aqua!”.

Warga kembali bergermuruh. Saya dan Darmoko serta kawan-kawan lain terpana. Di luar dugaan, Bendesa Adat yang sedari awal duduk di belakang langsung mengambil alih rapat dan memutuskan untuk voting. Warga nampak bersorak gembira terutama tim yang bekerja sebulan lebih. Mereka berpelukan.

Saya tidak memperhatikan baagimana raut wajah para ahli dan pejabat yang pro Aqua. Saya larut dalam kegembiraan. Rapat ditutup dan perjuangan warga mengandaskan Aqua berhasil. Istimewanya dimenangkan dengan menggunakan mekanisme adat.

Setelah selesai rapat, warga bubar. Namun, kami bertahan sejenak.

Beberapa kawan jurnalis terlihat datang terlambat dan penasaran dengan hasilnya. Seorang kawan periset, Hendro Sangkoyo alias Mas Yoyo, juga masih belum percaya dengan hasil proses ini. Kami berbincang sebentar. Lalu warga dan beberapa perangkat adat mengajak kami menuju lokasi.

Sesampainya di lokasi ternyata, pekerja pengeboran sedang merapikan alat-alat. Ketika ditanya mereka menjawab bahwa mereka diperintahkan mengangkat alat pengeborannya. “Tidak dapat air, Pak. Pengeboran dihentikan,” ujar mereka.

Proses luar biasa ini dilanjutkan dengan membuat surat pernyataan Desa Adat Peladung Karangasem yang menyatakan menolak kegiatan eksplorasi, eksploitasi dan pembangunan pabrik Aqua di Desa adat Peladung sekaligus hal yang sama berlaku bagi perusahaan AMDK.

Sikap tersebut selanjutnya disampaikan dalam jumpa pers di Denpasar oleh perwakilan Prajuru Desa Adat Peladung didampingi Kekal Bali pada 14 Januari 2013. Surat tersebut telah disampaikan ke pada Bupati tetapi saat disampaikan ke media, Bupati Karangsem belum memberikan respon.

Namun, pada 15 Januari 2013 melalui keterangan tertulisnya, Wakil Bupati Karangasem I Made Sukerena menyatakan menghargai aspirasi warga dan menghentikan izin ekplorasi yang diberikan keapda PT. Tirta Investama.

Seluruh cerita yang saya paparkan di atas hanyalah rangkaian besar dari peristiwa yang sungguh menarik dan menginspirasi. Kemenangan melawan PT. Tirta Investama melalui mekanisme adat selanjutnya mengilhami gerakan yang kami lakukan, terutama dalam advokasi penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Menurut saya, 8 Januari 2013 adalah peristiwa monumental bagi gerakan advokasi. Sebab, Desa Adat Peladung secara nyata telah membuat referendum adat dalam menyikapi investasi yang masuk dan beroperasi di wilayah adatnya. Setelahnya pemerintah pun mau tidak mau harus menuruti keputusan yang diambil secara kolektif dalam mekanisme adat Bali. [b]

The post Peladung, Jejak Awal Mekanisme Adat Menyikapi Investasi appeared first on BaleBengong.

Membangkitkan Kesadaran Lingkungan dari Hulu

Setiap rumah tangga bertanggung jawab terhadap sampah masing-masing. Foto Intan Rastini.

Sudah begitu banyak sampah plastik terakumulasi di lautan.

Apakah ini akibat aktivitas warga yang tinggal di area sekitar pesisir atau pengunjung yang berplesir ke pantai? Apakah semua sampah plastik yang membahayakan ekosistem laut hanya berasal dari aktivitas manusia di sekitar pantai?

Tentu jawabannya tidak.

Semua manusia di manapun ia berada, bahkan yang di pegunungan pun patut bertanggung jawab terhadap sampah plastik yang terakumulasi di lautan. Mengapa? Karena semua sampah plastik yang turun ke laut, bisa terbawa melalu sungai dari hulu ke hilir.

Daerah yang merupakan puncak atau awal aliran sungai disebut sebagai hulu, sedangkan akhir dari aliran sungai disebut dengan hilir. Hilir akan bermuara ke lautan dimana aliran air sungai bertemu dengan air lautan yang luas.

Kita semua saling terhubung. Tidak hanya melalui aliran sungai, tetapi juga berpijak di planet yang sama. Daratan di Bumi hanya 29,2 persen sedangkan luas perairan 70,8 persen. Sampah plastik tidak hanya terakumulasi di daratan saja tetapi sudah tersebar di perairan.

Mamalia laut besar yang terdampar ke daratan pun sudah terbukti menjadi korban karena tidak mampu membedakan mana makanan dan yang mana sampah plastik. Sudah terkuak bahwa mereka menelan berbagai sampah plastik sehingga terakumulasi sampah di perutnya. Sampah plastik tersebut menyebabkan mamalia seperti paus merasa kenyang padahal mereka tidak dapat mencerna plastik.

Apa yang dapat saya perbuat? Tidak banyak.

Saya tidak mampu menolong paus-paus tersebut agar habitatnya bersih dari sampah plastik saat ini. Yang bisa saya lakukan adalah mengurangi agar sampah tersebut tidak menambah keadaan yang sudah memprihatinkan ini bertambah menjadi lebih buruk.

Saya tinggal di sebuah desa yang terletak di antara gunung Batukaru dan pesisir pulau Bali di sebelah barat daya. Desa saya berkontur perbukitan, dilalui sebuah sungai dan memiliki sebuah air terjun yang indah. Desa tempat tinggal saya ini bernama Desa Angkah.

Sungai yang mengalir di desa saya bernama Tukad Balian. Airnya cukup deras. Bahkan kami memiliki Bendungan Balian. Desa saya tidak memiliki lahan yang merupakan tempat pembuangan sampah akhir. Tidak ada tempat pembuangan akhir (TPA). Tidak ada tukang sampah.

Di desa, setiap rumah tangga bertanggung jawab terhadap sampah masing-masing. Hal ini yang membuat saya tertegun saat pindah domisili ke desa ini karena menikah dengan suami saya.

Memperkenalkan kesadaran lingkungan kepada anak-anak mengenai keadaan lingkungan. Foto Intan Rastini.

Tidak Mudah

Saya seorang wanita dan tentu saja setiap datang bulan akan menghasilkan sampah pembalut sekali pakai. Ini tidak mudah apalagi membuang sampah tersebut secara sembarangan bisa diacak-acak oleh anjing hingga tercecer ke jalan.

Dari sanalah saya mulai berpikir mengenai permasalahan sampah plastik. Masalah sampah pembalut, sampah popok sekali pakai anak saya, hingga ke masalah sampah plastik lain yang terus dihasilkan selama kegiatan konsumsi saya. Saya mulai berpikir bahwa sampah ini bisa dikurangi dengan penggunan alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Maka saya pun menggunakan pembalut dari kain yang bisa dicuci lalu dipakai kembali. Anak-anak saya saat bayi saya pakaikan popok kain yang memiliki kemampuan antibocor yang saya sebut clodi, singkatan dari cloth diaper. Perlahan-lahan saya terus memikirkan apa-apa saja yang tersedia alternatifnya agar tidak banyak sampah yang bisa dihasilkan di rumah.

Saya juga mendapat kesempatan untuk bisa mengajar bahasa Inggris di sebuah yayasan sosial di desa saya. Namanya Yayasan Eka Chita Pradnyan. Di sanalah saya belajar mendidik anak-anak di desa agar mendapatkan akses tambahan ilmu bahasa asing, olah raga, budaya, komputer dan ilmu tentang lingkungan yang berkelanjutan.

Saya pergunakan kesempatan ini sebagai tenaga pengajar untuk memperkenalkan kesadaran lingkungan kepada anak-anak mengenai keadaan lingkungan yang tercemar sampah plastik. Bagaimana plastik itu dapat mempermudah kehidupan kita untuk sesaat namun setelah tidak kita pergunakan, untuk jangka panjang dampaknya bisa sangat merugikan.

Sebagai desa dengan mayoritas masyarakat sebagai petani, kami bisa mendapat dampak dari pencemaran sampah plastik ini.

Berkurangnya kesuburan tanah akibat pencemaran plastik di tanah adalah salah satunya. Plastik susah terurai, jika dibiarkan di tanah akan tetap bertahan bentuknya dan mengganggu daya resap tanah terhadap air. Jika air tanah berkurang sama dengan cadangan air di tanah menipis, maka sumber air yang mengalir dari mata air bisa semakin menurun.

Selain itu keberadaan plastik di tanah yang merupakan materi anorganik akan terurai dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun, setelah itu plastik akan menyerpih menjadi mikroplastik. Mikroplastik dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme pengurai di tanah, inilah yang menyebabkan kesuburan tanah dapat berkurang. Alhasil panen petani tentu dapat mengalami penurunan.

Apa yang dapat saya tawarkan kepada anak-anak pada saat itu adalah berjalan-jalan keliling sawah dan perkebunan di Banjar Samsaman tempat pusat belajar yayasan berada. Sambil berjalan-jalan, saya ajak anak-anak untuk membawa kampil atau kantong kresek besar sebagai wadah sampah plastik yang dapat dipungut di sepanjang perjalanan.

Di mana pun kita berada, kita perlu memiliki kesadaran akan ke mana sampah yang kita hasilkan. Foto Intan Rastini.

Perlu Pembiasaan

Anak-anak memang senang melakukan jalan-jalan, tetapi tidak semua mau memungut sampah plastik. Mereka sudah tahu sampah plastik itu buruk bagi keindahan desa mereka. Mereka akan belajar bahwa dampak jangka panjang dari pencemaran sampah plastik akan berpengaruh besar pula pada keberlangsungan masa depan mereka kelak.

Beberapa relawan asing yang pernah datang di pusat belajar yayasan di desa saya sudah mengerti betul mengenai dampak pencemaran plastik. Mereka bahkan ikut senang melakukan jalan-jalan keliling seputar banjar Samsaman untuk menikmati alam sambil memungut sampah plastik.

Beberapa relawan juga mengajak anak-anak untuk membuat kerajinan dari sedotan plastik bekas dan tutup botol bekas menjadi tirai, membuat botol kemasan air mineral menjadi dekorasi, pot gantung, dan tempat pensil.

Selain itu saya juga mengundang sebuah komunitas di Denpasar yang digagas oleh anak-anak muda peduli lingkungan untuk menjadi relawan membawakan kegiatan berkaitan dengan lingkungan dan mengajarkan cara membuat eco-brick untuk membuat tempat duduk.

Anak-anak di yayasan pun saya berikan contoh bahwa menangani pencemaran sampah plastik bukan hanya dengan membersihkan sampah yang sudah ada, tetapi juga dengan mengurangi timbulnya sampah plastik dari awal.

Saya selalu datang mengajar dengan membawa botol minum. Saya katakan kepada mereka bahwa dengan membawa botol minum kita dapat mengurangi sampah air minum kemasan dan lebih hemat uang jajan juga.

Selain itu saya menjadwalkan grup anak didik saya di yayasan agar masing-masing anak membawa buah dan kami dapat makan buah bersama di kelas. Makan buah potong bersama selain sehat juga bisa mengurangi timbulan sampah plastik akibat jajan makanan ringan.

Banyak hal dapat dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah plastik dari awal. Semua itu perlu pembiasaan dan jika sudah terbiasa semua akan terasa mudah dan berjalan otomatis. Saya rasa di mana pun kita berada, kita perlu memiliki kesadaran akan ke mana sampah yang kita hasilkan ini berada. Baik kita berada di gunung, di pesisir ataupun di antaranya, umumnya sampah bisa hanyut terbawa oleh aliran sungai.

Untuk itu diperlukan pula pengelolaan sampah yang baik, pemisahan sampah organik dan anorganik juga diperlukan. Saya telah membuat lubang kompos di rumah untuk menampung sampah organik rumah tangga.

Selanjutnya pengelola yayasan pun setuju dan membuat lubang kompos juga di pusat belajar. Saya harap ke depannya desa saya akan bisa menjadi desa komposter dan memiliki bank sampah untuk menampung sampah-sampah anorganik terpilah yang bisa didaur ulang kembali. Di mana setiap warga desa yang sudah bertanggung jawab atas sampah rumah tangga masing-masing mengelola sampahnya dengan baik dan lebih baik lagi dengan mengurangi timbulnya sampahnya dari awal, dari hulu. [b]

The post Membangkitkan Kesadaran Lingkungan dari Hulu appeared first on BaleBengong.

Kritik Kebudayaan (Kesenian) Bali yang Involutif

Salah satu karya dalam Bali yang Binal #4. Foto Art of Whatever.

Saya masih ingat betul kritik kami pada PKB media 2001.

Kami, saya dan beberapa teman, dengan keberanian dan sedikit nekad mengkritik Pesta Kesenian Bali (PKB) sebagai Pesta Kapitalisme Bali. Saat itu, kampus ISI Denpasar hanya dijadikan tempat parkir. Tertulis di plang besi di pinggir jalan bukannya “Hati-Hati ada Upacara Adat”, tetapi “Parkir ISI Denpasar”.

Menyedihkan. Institusi kesenian terpuruk hanya menjadi lahan parkir.

Pada saat itu juga, even “Mendobrak Hegemoni” berlangsung pada Februari 2001. Pameran ini lumayan membuat heboh dunia kesenian dan kebudayaan di Bali. Sebelumnya, mengiringi gerakan Mendobrak Hegemoni, Komunitas Pojok berpameran keliling di ruang-ruang publik bertajuk “Fuck Seni Kapitalis” yang mengkritik dunia seni visual Bali yang berkubang dalam labirin kapitalisme (baca: pariwisata).

Jejaring dan kuasa seni visual Bali adalah potret dari kemandegan kritik kebudayaan itu sendiri. Eksponen gerakan Mendobrak Hegemoni kemudian mendirikan Klinik Seni Taxu dan menggebrak dengan pameran Memasak dan Sejarah pada Juni – Juli 2004.

Belakangan, Komunitas Pojok dan beberapa komunitas kesenian lainnya menginisiasi Bali yang Binal sejak 2005 untuk mengkritik pelaksanaan Bali Bienalle yang hanya berlangsung sekali dan terkubur entah ke mana.

Hingga kini, Bali yang Binal terus berlangsung.

Sependek pengetahuan saya, gerakan Mendobrak Hegemoni, Pesta Kapitalisme Bali, dan Bali yang Binal yang kemudian melahirkan Komunitas Pojok dan Klinik Seni Taxu (alm) inilah gerakan kritik kebudayaan Bali kontemporer. Pada saat itu, dunia kritik kebudayaan Bali sunyi senyap tanpa gebrakan apapun (hingga kini?).

Saya mungkin mensederhanakan berbagai even lain yang megah dan dianggap penting pada masa itu. Namun, sependek pengetahuan saya, dunia kritik kebudayaan (kesenian) Bali selalu malu-malu menunjukkan kritik kerasnya. Yang terjadi adalah involusi (pengulangan) even-even kesenian tanpa spirit berarti.

Pencanggihan seni yang mengabdi kepada kepentingan “budaya pariwisata”, yang seolah tidak menawarkan apapun dalam pergolakan kritik kebudayaan Bali. Layaknya mesin dan rutinitas. “Pang ade gen pameran.”

Jika disebutkan terjadi kemandegan, rutinitas pameran selalu menghebohkan pemberitaan media massa dan gosip media sosial. Even-even seni dan kebudayaan berlangsung tiada henti.

Namun, apa yang terjadi setelah itu? Tidak lebih dari rutinitas yang tanpa menawarkan kritik apapun. Adakah yang bisa kita renungkan mendalam dalam membingkai kritik kebudayaan Bali kontemporer? Bagaimana gerakan kritik kebudayaan ini terwakili dalam event Pesta Kesenian Bali misalnya?

Mesin Kebudayaan

Hanya dengan oli untuk melumaskan mesin kebudayaanlah manusia Bali bisa hidup dan bertaruh di daerahnya sendiri. Berbagai jargon-jargon pasca Ajeg Bali kini hadir berlimbah. Salah satunya adalah Nangun Sad Kertih Loka Bali.

Selain itu, gempuran hibah-hibah untuk praktik ritual masyarakat Bali hadir silih berganti. Benteng kebudayaan Bali, desa adat, dibuatkan peraturan daerah khusus sebagai pondasi menjaga kebudayaan Bali. Penguatan kebanggaan sebagai orang Hindu Bali dengan berpakaian adat dan aksara Bali terus dipompa.

Berbagai ormas dan politisi juga berkomentar nyaring untuk pelestarian kebudayaan Bali.

Wacana pelestarian dan penguatan kebudayaan kembali nyaring terdengar. Samar-samar, saya menduganya tidak berbeda dari suara sebelumnya, saat Ajeg Bali latah terucap. Fanatisme lokal dan ancaman keterdesakan menjadi amunisi pemompa sentimen ke-Balian yang ampuh.

Tokoh-tokoh publik, dengan sadar saya kira, memainkan ini untuk mengaduk emosi orang Bali yang sedang panik terhimpit.

Saya menaruh curiga jika kita selalu berlindung di balik kebudayaan dan melumaskannya terus-menerus, tanpa adar kita telah menggadaikan pada suatu hal yang kita pahami samar-samar? Apa bentuk menjaga kebudayaan Bali? Apa imajinasi kita tentang pelestarian kebudayaan?

Jika imajinasi kita masih samar-samar dan anti-kritik, kita akan perlahan, tetapi pasti terjebak menjadi manusia picik. Berpikir pragmatis dan sing nyak ruwet (tidak mau ribet) adalah awal mula kehancuran Bali.

Berbagai jargon dan mesin kebudayaan yang terpapar kini, menarasikan wacana tunggal anti-kritik. Seolah-olah cinta kebudayaan Bali tetapi menepikan beberapa jejak-jejaknya yang dianggap “kiri” dan tidak penting. Jejak kekerasan 1965, ormas dan politik, dan saling tikam antar sesama manusia Bali harus disimpan dalam selimut kecintaan terhadap budaya Bali yang adilihung dan cinta damai.

Jika demikian adanya, generasi yang dihasilkan adalah generasi pragmatis, dangkal, sing nyak ruwet tersebut. Kritik dan meresapi jejak-jejak yang tersingkir dalam politik kebudayaan Bali dianggap tidak berpikiran ke masa depan.

Ironis.

Apakah even kebudayaan megah bertajuk PKB menghadirkan ruang untuk kritik kebudayaan tersebut? Saya pesimis. Saya justru melihat harapan itu justru muncul dengan geliat ruang-ruang publik yang menjadi oase dari involutifnya gerakan kritik kebudayaan Bali. Hadirnya Taman Baca Kesiman, Komunitas Mahima (Buleleng), Rompyok Kopi (Jembrana), Rumah Sanur, Kulidan, dan yang lainnya menyemai kritisisme generasi muda Bali.

Gerakan ForBali Tolak Reklamasi Teluk Benoa menjadi medium yang penting untuk memahami pergolakan kritisisme generasi muda Bali. Di samping itu, hal yang juga penting diperhatikan adalah transmisi gerakan sosial yang menyentuh organisasi sekaa teruna (organisasi pemuda desa) dan Desa Adat. Saya melihat ada oase baru dalam menyemaikan gerakan social dan kritisisme dalam Bali kontemporer.

Berkesenian di tembok adalah petualangan menyimak kegalauan manusia Bali. Lukisan Komunitas Pojok.

Kritik Kebudayaan

Namun, jika kita melihat even-even kebudayaan dan kesenian akbar juga terperangkap dalam wacana mesin kebudayaan ini. Rangkaian pesta tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) setali tiga uang. Pesta tahunan ini tidak ubahnya seperti mesin dalam rutinitas kebudayaan Bali.

Karena sudah menjadi mesin dan rutinitas, kehadirannya tidak memberikan pelajaran dan refleksi apapun dalam dunia kritik kebudayaan Bali. Tidak heran yang terjadi tidak hanya kemandegan kritisisme, tetapi alpa untuk memikirkan kritik. Hampir mustahil gerakan kritik kebudayaan dalam Mendobrak Hegemoni atau Komunitas Pojok direnungkan dalam-dalam.

Kehadiran pesta kebudayaan Bali ini juga melegetimasi apa yang disebut oleh Foucault (via Aditjondro, 1994) sebagai inisiatif “kekuasaan resmi” yang selalu mendukung dan mengembangkan “pengetahuan resmi.” Kurang lebihnya, inilah pentas puncak-puncak kesenian daerah yang ditampilkan selama sebulan perhelatan pesta.

Berbagai pentas kesenian berlangsung, tetapi tidak begitu dengan transmisi kebudayaan yang terjadi di tengah masyarakat. Jika pondasi yang ditanamkan adalah proyek, memantik gerakan sosial kebudayaan adalah kemustahilan. Kita akan tetap saja terhenti pada persoalan pelestarian kesenian dan “memelihara” stabilitas kebudayaan. Tanpa belajar dari kritik.

Praktik kebudayaan juga menafikkan kelahiran kritikus-kritikus kebudayaan (kesenian) yang bernas. Yang ada hanyalah akademisi, seniman, dan kritikus yang dengan pongahnya menghamba kepada kekuasaan. Mentalnya adalah sebagai tukang cap akademik kegiatan kebudayaan dan kesenian.

Ini yang memprihatinkan di Bali.

Saya meyakini ada yang hilang dalam rutinitas praktik kebudayaan resmi yang berlangsung dalam PKB atau even kebudayaan lainnya. Saya kok melihat even-even kesenian cap pemerintah tidak ubahnya sebagai proyek mekanik (mesin) yang tanpa naluri kritisisme. Keinginan besar untuk menarasikan kebudayaan, khususnya kesenian Bali, adalah hal yang umum dan abstrak.

Jika suatu wacana terbangun secara umum dan abstrak, semakin umum pula kekuasaan yang menyertainya, semakin terbuka pula munculnya bentuk-bentuk wacana dan kekuasaan alternative di aras lokal.

Saya masih merindukan kehadiran wacana-wacana kebudayaan Bali yang terempas—tersisih dari “kebudayaan dan pengetahuan resmi” yang sedikit tidaknya direpresentasikan dengan Mendobrak Hegemoni, Fuck Seni Kapitalis, atau Pesta Kapitalisme Bali, dan gerakan lainnya.

Hanya dengan berefleksi dan membuka kritik Bali akan selalu hidup sebagai spirit yang terus bergerak, bukannya Bali yang terus-menerus merindukan mesin kuasa kebudayaan bernama pelestarian. [b]

The post Kritik Kebudayaan (Kesenian) Bali yang Involutif appeared first on BaleBengong.

LGBT: Tentang Diri dan Hati Nurani

Mister and Miss Gaya Dewata 2016/Foto: Luh De Suriyani

“Plaku LGBT harus dihukum mati.”

“Anjir homo.”

“LGBT kok didukung, maaf bukan menghina, tapi LGBT itu penyakit. Harus disembuhkan, bukan ditumbuhsuburkan.”

Inilah sebagian kecil dari komentar-komentar negatif terhadap film “Kucumbu Tubuh Indahku” yang disutradarai oleh Garin Nugroho pada akun Instagramnya @garin_film. Tidak hanya memperoleh banyak komentar negatif, film ini juga mendapat berbagai penolakkan yang ditandai dengan adanya petisi di laman change.org dan telah ditandatangani oleh 146.650 orang.

Sayangnya, baik komentar negatif maupun petisi yang ada tersebut tidak terfokus untuk mengkritik film tersebut, tetapi lebih mengkritik kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

“Gawat! Indonesia sudah mulai memproduksi film LGBT dengan judul “Kucumbu Tubuh Indahku” tulis pada laman petisi tersebut. Tidak hanya satu, ada beberapa petisi serupa dibuat untuk memboikot penayangan film karya Garin Nugroho di berbagai daerah.

Bukan Hal Baru

Sesungguhnya LGBT bukanlah hal baru di Indonesia. Dilihat dari sisi sejarah, LGBT ini memiliki perjalanan cukup panjang di Indonesia. Hal ini ditandai dengan adanya komunitas LGBT terbesar dan tertua di Asia, bernama Lambda Indonesia yang berdiri pada tahun 1982.

Lambda Indonesia merupakan cikal bakal adanya gerakan LGBT di Indonesia. Namun, organisasi ini hanya dapat bertahan hingga tahun 1986. Kemudian dilanjutkan dengan organisasi GAYa Nusantara (GN) yang berdiri pada 1 Agustus 1987.

Pada karya seni dan sastra di Indonesia pun banyak yang menampilkan tokoh-tokoh LGBT. Sebagai contoh Si Manis Jembatan Ancol (1993) dimana Ozy Syahputra memerankan sosok Karina yang merupakan mahluk halus berwujud laki-laki berkepala botak tetapi memiliki sifat feminim.

Tarian Bumi yang diterbitkan pada tahun 2000, menceritakan salah satu tokoh perempuan yang mencintai sesama jenis. Pada budaya Indonesia, terdapat seni tari asal Banyumas yang bernama tari Lengger Lanang. Para penari Lengger Lanang ini adalah laki-laki yang berdandan seperti perempuan. Merekalah tokoh utama dalam film “Kucumbu Tubuh Indahku.”

Film, novel, dan budaya di atas adalah beberapa bukti bahwa LGBT sesungguhnya sudah ada di masyarakat sejak lama. Meski demikian, masih saja banyak masyarakat Indonesia yang menghakimi kaum LGBT, menganggapnya sebagai suatu penyakit yang membawa dampak buruk bagi masa depan bangsa seperti komentar-komentar yang tertulis pada akun Instagram Garin Nugroho (@garin_film).

“Gimana Indonesia tidak hancur.. Hayoo lah cerdas berfikir..” tulis akun @lembayungpenuhdebu99

“Film perusak moral,” tulis akun @tika_dhimas

“Hentikan filmnya.. anda g mikir masa depan anak2 yah.. astagfirullah,” tulis @gondewakuring

Perilaku Berbeda

I Dewa Ayu Sugiarica Joni, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Udayana menjelaskan LGBT adalah orang-orang yang memiliki perilaku seksual atau orientasi seksual yang berbeda dari perilaku seksual pada umumnya. “Saya tidak ingin menyebut LGBT sebagai sebuah kelainan seksual, tetapi lebih ke perilaku seksual yang berbeda dari perilaku seksual pada umumnya,” ungkap dosen yang akrab disapa Ida Joni tersebut.

Lebih lanjut Ida Joni menjelaskan, orientasi seksual seseorang seharusnya terbentuk secara alami, tetapi seiring berjalannya waktu orientasi seksual seseorang bisa berubah karena banyak faktor, baik faktor internal dari dalam diri sendiri maupun faktor eksternal seperti lingkungan, pola asuh, dan pengalaman.

“Dalam beberapa wawancara saya ketika penelitian tentang LGBT, masing-masing narasumber memiliki alasan dan pengalaman yang berbeda,” ujar Ida Joni.

Ia menjelaskan beberapa orang yang ia wawancarai tersebut ada yang memang sejak kanak-kanak sudah merasakan hal berbeda di dalam dirinya. Misalnya, seksnya adalah laki-laki tapi gender lebih kepada peran perempuan. Namun, ada juga yang orientasi seksualnya berubah setelah remaja karena pengaruh lingkungan (teman-teman pergaulan).

Ida Joni juga menjelaskan, bisa tidaknya LGBT ini berubah ini tergantung pada diri mereka masing-masing, mau berubah atau tidak. Sebab setiap orang LGBT memiliki alasan dan pengalaman yang berbeda.

Menurut Ida Joni ada salah satu narasumber sejak lulus SMA menyukai sesama jenis karena alasan awalnya coba-coba dengan laki-laki dan ternyata lebih nikmat (having sex) daripada dengan perempuan. “Kemudian pernah ada di titik mencoba untuk berkencan dengan perempuan (hampir menikah), tetapi batal karena menurut dia bertentangan dengan perasaan dan hatinya, kemudian kembali menyukai sesama jenis,” ujarnya.

Pilihan Cukup Sulit

Berubah atau tetap menjadi LGBT merupakan pilihan yang cukup sulit karena hal ini menyangkut hati nurani dan adat di Indonesia. Hal inilah yang dialami Rima (20), mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Bali.

Sejak SMA, Rima sudah memiliki kekasih seorang perempuan. Ia pun berpenampilan layaknya laki-laki. Saat diwawancarai empat tahun lalu, Rima mengakui dirinya saat itu berada di tubuh yang salah dan ingin mengubah kelaminnya.

Setelah lulus SMA dan berpindah tempat tinggal untuk melanjutkan studinya, Rima mengaku saat ini dirinya cukup menutupi perbedaan dirinya dari lingkungannya sekarang dan tidak sefrontal saat ia masih SMA dulu.

“Lebih diterima sama lingkunganku yang dulu, jauh lebih nyaman sama yang dulu. Sebenernya biasa aja karena aku menyembunyikan hal ini kepada orang lain tapi ada lah beberapa yang berpendapat lain tentang diriku,” ujar Rima.

Sejak masih duduk di bangku SMA, sudah banyak teman-teman yang menyuruhnya untuk berubah, namun ia sendiri merasa kurang nyaman. “Aku sebenarnya benci disuruh berubah, tapi menurutku sejalannya waktu pasti aku bisa berubah tanpa suruhan orang,” kata Rima.

Rima mengakui, saat ini dirinya tengah berpacaran dengan seorang perempuan. Sebelumnya, Rima mengaku sudah pernah berpacaran dengan seorang laki-laki. Namun, belum satu bulan, lelaki itu meminta Rima untuk melakukan hubungan seksual. Inilah yang membuat Rima trauma dan kemudian memilih berpacaran dengan perempuan.

Saat ini Rima merasakan ada yang berubah dari dirinya. Ia yang dulunya merasa ingin mengubah dirinya menjadi laki-laki kini berubah bingung dengan orientasi seksualnya sendiri. Ia merasa dirinya saat ini berada di antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dikenal dengan istilah queer atau seseorang yang bingung ingin menjadi laki-laki atau perempuan.

Ia sendiri pernah menyukai seorang laki-laki, tepatnya saat dirinya berada di tahun pertama kuliah. Namun, hal tersebut tidak berlanjut karena ia merasa lelaki itu tidak mungkin menyukainya.

Meski dirinya sejak lama sudah tak nyaman berpenampilan seperti perempuan karena ia merasa tak nyaman dan tak sesuai hati nuraninya, Rima tetap berjanji pada dirinya sendiri akan berubah menjadi perempuan seutuhnya saat lulus. “Demi keluarga dan masa depanku yang lebih baik. Satu lagi karena pacarku yang sekarang dia mau menerima aku apa adanya dan ngasih aku motivasi untuk berubah,” ujar Rima.

“Aku cuma berharap orang seperti aku ini bisa diterima di masyarakat, aku juga pernah denger di luar negeri orang seperti aku sangat diterima,” tambahnya. [b]

The post LGBT: Tentang Diri dan Hati Nurani appeared first on BaleBengong.

Diskusi Tak Harus Tegang!

Bincang Asik atau BISIK merupakan salah satu kegiatan diskusi santai bersama Agent4Change dari Dance4life KISARA yang diadakan dua bulan sekali. Kegiatan BISIK yang ketiga kali ini diadakan pada tanggal 26 Mei 2019 di Danas Kitchen & CO-working yang bertempat di Jalan Bedugul, Sidakarya, Denpasar. Kegiatan yang dipandu Bulan Natalia yang merupakan salah satu Agent4Change SMA...