Tag Archives: Berita Utama

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini


Melasti sebagai salah satu rangkaian pelaksanaan Nyepi. Foto Anton Muhajir.

Berikut adalah sejumlah seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi tahun ini.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali menyampaikan pedoman pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941 atau kalender masehi 2019 ini. Panduan ini disebarluaskan termasuk ke media sosial oleh PHDI Bali.

Ketua PHDI I Gusti Ngurah Sudiana dan majelis-majelis agama dan keagamaan di Bali menyatakan seruan bersama seperti tahun-tahun sebelumnya. Di antaranya penyedia jasa transportasi laut, darat, dan udara tidak diperkenankan beroperasi selama Hari Raya Nyepi. Demikian juga lembaga penyiaran televisi dan radio. Penyedia jasa selular pun diharapkan mematikan data selulernya.

Seruan ini direspon Kemenkominfo dengan Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika No 3 tahun 2019. Seluruh penyelenggara telekomunikasi yang menyediakan akses internet di Bali mendukung seruan kecuali di obyek vital dan sarana darurat. Misalnya rumah sakit, kantor polisi, militer, BPBD, BMKG, Basrnas, dan lainnya.

Rangkaian Nyepi dimulai dengan Melis/Melasti/Mekiyis sampai 6 Maret yang pelaksanaannya disesuaikan dengan desa setempat.
Selanjutnya adalah upacara Tawur Kesanga yang dilakukan dengan sejumpah prosesi.

Pertama, perwakilan dari masing-masing desa/kecamatan datang ke Pura Besakih membawa perlengkapan persembahyanganuntuk mohon Nasi Tawur dan Tirtha Tawur untuk disebarkan dan dipercikkan di wilayah masing-masing.

Selanjutnya tiap desa menggunakan Upakara Tawur Agung dengan segala kelengkapannya. Dilaksanakan dengan mengambil tempat pada Catuspata (perempatan utama) pada waktu tengai tepet (sekitar pukul 12.00 Wita).

Berlanjut sampai tingkat rumah tangga dengan sarana persembahyangan lebih sederhana. Misalnya menghaturkan Segehan Manca Warna 9 (sembilan) dengan olahan ayam brumbun, disertai tetabuhan tuak, arak, berem, dan air yang didapatkan dari desa setempat, dihaturkan ke hadapan Sang Bhuta Raja dan Sang Kala Raja.

Keramaian kemudian berpindah ke jalan-jalan, disebut Pangerupukan, saat ribuan ogoh-ogoh dari ukuran kecil sampai 6 meter diarak oleh anak-anak dan orang tua. Dilengkapi aapi (obor), bunyi-bunyian seperti baleganjur dan lainnya. Ngerupuk dilakukan dengan keliling desa, dan parade ogoh-ogoh ini bisa sampai tengah malam.

Hingga Kamis pagi, pukul 6, petugas keamanan tradisional (pecalang) sudah berjaga-jaga di tiap pemukiman dan jalan. Keriuhan Pangerupukan berganti dengan sunyi, sepi. Nyepi Sipeng dilaksanakan 24 jam sejak jam 06.00 Wita sampai dengan jam 06.00 Wita keesokan harinya, dengan melaksakan Catur Brata Penyepian.

Di antaranya Amati Gni, yaitu tidak menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka. Amati Karya, tidak melakukan kegiatan fisik/kerja namun melakukan aktivitas rohani untuk refleksi diri. Amati Lelungan, tidak berpergian, dan Amati Lelanguan, tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang, melainkan tekun melatih batin.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali juga menyepakati agar penganut agama dan keyakinan lain menyesuaikan pelaksanaan Brata Penyepian seperti tidak ada bunyi pengeras suara misalnya saat Sholat dan tidak menyalakan lampu pada waktu malam hari. Dapat diberikan pengecualian bagi yang menderita atau sakit dan membutuhkan layanan untuk keselamatan. [b]

The post Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini appeared first on BaleBengong.

Rangkaian Literasi Digital untuk Safer Internet Day


Permainan ular tangga untuk kampanye literasi digital di Denpasar. Foto Wayan Martino.

Dari ular tangga sampai seminar tentang pemilu untuk kampanye Internet lebih aman.

Puluhan anak-anak, remaja, dan orang tua bergantian memainkan ular tangga di arena car free day Lapangan Renon, Denpasar pada Minggu (3/3). Warga juga memberikan opininya mengenai dampak internet lewat ekspresi emoticon.

Literasi digital diterjemahkan melalui permainan dan curah pendapat di kampanye Safer Internet Day 2019 yang dilaksanakan secara kolaboratif antara komunitas gerakan literasi digital di Indonesia di beberapa kota, salah satunya Denpasar, Bali.

Safer Internet Day (SID) atau Hari Internet Aman adalah kampanye peningkatan kesadaran yang dimulai di Eropa lebih dari satu dekade lalu dan sekarang dirayakan lebih dari 140 negara. SID bertujuan untuk menciptakan internet yang lebih aman dan lebih baik, di mana setiap orang diberdayakan untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, penuh hormat, kritis, dan kreatif.

Kampanye ini bertujuan untuk menjangkau semua kalangan. Anak-anak dan remaja, orang tua dan wali, guru, pendidik, industri, pemerintah, dan politisi untuk mendorong semua orang memainkan peran mereka dalam menciptakan internet yang lebih baik.

Dalam ular tangga edukasi ini ada sejumlah pengetahuan yang harus dibaca atau dijawab oleh yang memainkan. Misalnya sebutkan 3 hal positif dan negatif internet, peringatan hoaks, dan tips jika main game tidak menggunakan nama atau identitas asli.

Sementara saat curah pendapat, dua relawan mengenakan papan karton mengajak puluhan warga menuliskan pendapatnya tentang empat hal.

“Ayo silakan ekspresikan pendapatmu, kalau berbagi foto pribadi dan lokasi itu aman atau tidak?” tanya Agus, salah seorang relawan kampanye.

Sementara pada sore hari, kampanye dilanjutkan dengan diskusi santai milenial bersama dengan topik “Pemilu Tetap Asik di Tengah Medsos yang Berisik.”

Sebagai narasumber ada Adya Nisita (Siberkreasi), Luh De Suriyani (BaleBengong), Wulan Ayu (duta Youth IGF Indonesia), dan I Gede Putu Khrisna Juliharta (koordinator Relawan TIK Bali). Mereka mengajak anak muda aktif mencari informasi tentang Pemilu dan peserta Pemilu agar bisa menggunakan hak pilih secara bertanggungjawab.

“Tidak perlu menunggu perang untuk menyemai damai di internet kan,” ajak Adya Nisita, Manajer Riset Siberkreasi ini.

Sementara Wulan Ayu, siswa SMA di Semarapura ini menyebut diri sebagai pemilih pemula dan berharap tidak ada kalah menang antar pendukung tapi memenangkan masa depan Indonesia yang lebih baik.

Puluhan peserta diskusi adalah anak muda dan sebagian mahasiswa IT. Mereka merefleksikan bagaimana caranya membuat politik jadi menarik dan penting untuk dikritisi.

“Kita bisa cek latar belakang mereka, apa yang mereka lakukan, dan lainnya, kita kan tahu internet,” sebut Aris, salah satu mahasiswa.

Seminar tentang pemilu dan Internet di STMIK Primakara. Foto Luh De Suriyani.

Maraknya Hoaks

Pada Senin (4/3) agenda literasi digital Siberkreasi berlanjut di Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer (STMIK) Primakara. Topiknya tentang bagaimana jika hoaks masuk ke dalam dunia politik?

Seminar yang dihadiri sekitar 200 anak muda tingkat SMA dan mahasiswa ini dibuka oleh Ketua STMIK Primakara.

Dalam sambutannya Donny BU, staf ahli Kemenkominfo mengatakan saat ini di Indonesia ada 155 juta pengguna internet dan 60-70 persen adalah generasi milenial berusia 18-35 tahun. Mereka pemilih pemula tahun ini.

“Ini besar sekali, bayangkan memilih tanpa informasi benar. Ada hoaks, dan akan merugikan Indonesia tak hanya 5 tahun ke depan,” paparnya.

Kegiatan daring terus meningkat. Dia menyebut tiap pengguna internet menghabiskan 3,5 jam di medsos per hari. Sedang literasi membaca buku, durasi 3,5 jam per minggu. Karena itu perlu konten-konten literasi digital. Ia mengajak menjaga kredibilitas dan integritas dengan memanfaatkan internet dengan aman.

Pandu Digital adalah gerakan anak muda menggunakan internet secara bertanggungjawab. Mereka akan mendapat badge merah, biru, dan hitam. Bambang Tri dari Kemkominfo mengajak anak muda memanfaatkan program ini untuk mengembangkan diri dan menambah pengetahuan di bidang literasi digital.

Anggota KPU Bali, I Gede John Darmawan menyebut hoaks tahun ini jauh lebih banyak dibanding Pemilu 2014. “Pemilu sebelumnya menyerang peserta tapi tahun ini ada upaya merusak kandang. Yang diserang penyelenggara Pemilu,” sebutnya. Ia menyontohkan pada 2 Januari ada kabar tersiar bahwa 7 kontainer surat suara masuk dari Cina dan sudah tercoblos.

KPU dan Bawaslu langsung cek ke pelabuhan Tanjung Priuk. “Ternyata tidak ada kontainer itu. KPU langsung verifikasi. Tak hanya konter media resmi juga medsos pribadi komisioner,” jelasnya.

Faktanya pada 2 Januari surat suara belum divalidasi oleh dua pasang calon, 16 parpol, dan 4 parpol lokal di Aceh. Pada 16 Januari surat suara baru dicetak. “Sebelum dilipat, dicek, ada tercoblos atau tidak,” lanjut John.

Hoaks lain adalah disebut 14 juta orang gila masuk DPT. Saat Pemilu sebelumnya di Bali ada 60 pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli yang direkomendasikan dokter untuk bisa mencoblos.

Dilihat dari umurnya, di DPT Provinsi, John menyebut ada 67 persen pemilih melek informasi dan teknologi, dan harusnya tahu perkembangan situasi politik. Ia bertanya ke peserta seminar kapan Pemilu untuk memastikan anak muda peduli atau tidak dengan peristiwa ini.

Tri Werthi, dosen STMIK Primakara dan Relawan TIK di Bali memaparkan hoaks terbanyak adalah soal sosial politik sekitar 90 persen, kemudian SARA sekitar 80 persen, informasi kesehatan, dan lainnya.

Cara mengenali hoaks dengan memastikan sumbernya, website apa, penulis, dan penanggung jawab webnya. Selain itu bandingkan dengan informasi di media lain, atau cek sendiri dengan sejumlah aplikasi yang sudah bisa diunduh.

Sementara Andi Budimansyah dari Pandi memaparkan tata kelola internet dalam Internet Governance Forum (IGF). Ada 7 sektor termasuk keamanan siber. Semuanya terkoneksi. Indonesia sendiri memiliki forum Indonesia IGF. Saat ini sedang digodok RUU Perlindungan Data Pribadi, salah satu isunya adalah hak untuk dilupakan, data bisa dihapus tapi berdasar perintah pengadilan. Misal korban anak difoto telanjang bisa minta ke pengadilan untuk dihapus.

“Tapi tak bisa menjamin kalau tak di-save oleh pihak lain,” ingatnya tentang risiko membagi konten pribadi ke medsos.

Selain seminar, juga ada sesi lokakarya membuat konten medis sosial yang berdampak. Pematerinya adalah Putu Dian yang terkenal dengan kartun Beluluk yang merespon isu sosial dan lingkungan dengan kritis tapi lucu. Ada juga Geranuma Taswin dari Siberkreasi, Edi Prayitno (Torch Media), dan Iin Valentine (Balebengong).

Seminar dan lokakarya ini menutup rangkain kampanye publik dari Siberkreasi dengan dukungan ICT Watch. Bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Pemkab Banyuwangi, Relawan TIK Indonesia, BaleBengong, Sobat Literasi Jalanan Palembang, Torch Media, Ford Foundation, dan Indonesia Child Online Protection (ID-COP). [b]

The post Rangkaian Literasi Digital untuk Safer Internet Day appeared first on BaleBengong.

BUMDA Ungasan Gandeng Unud Tata Pantai Melasti

Tim BUMDA Ungasan dan Prodi S2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana. Foto I Made Sarjana.

Bagaimana BUMDA Ungasan bangkit setelah Rp 48 miliar dananya pernah digondol pengurus lama?

Masyarakat Desa Adat Ungasan Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung kini sedang berbenah memperbaiki perekonomian desa. Pantai Melasti pun disulap menjadi daya tarik pariwisata.

Demi percepatan penataan daya tarik wisata baru tersebut, Bhaga Utsaha Manunggal Desa Adat (BUMDA) milik Desa Adat Ungasan menggandeng Program Studi (Prodi) S2 Kajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana sebagai mitra kerja sama untuk melakukan kajian sekaligus pembinaan secara berkelanjutan. Perjanjian kerja sama dua belah pihak ditandatangani di Kantor LPD Desa Ungasan pada Sabtu (2/3/2019).

Perjanjian ditandatangani Bendesa Adat Ungasan I Wayan Disel Astawa, SE bersama Ketua Prodi S2 Kajian Pariwisata Dr. Ir. IGA Suryawardani, M.Mgt

Usai menandatangani surat perjanjian, Gung Dani, panggilan akrab IGA Suryawardani, menyampaikan kesannya atas potensi pariwisata di Pantai Melasti. Menurut Gung Dani pantainya eksotis, dari segi nama maupun potensi fisik. Keunikan ini memberi peluang lebih mudah untuk dipasarkan.

“Dalam bahasa Inggris kata melasti artinya purification. Ini menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung,” tutur ahli pemasaran produk pariwisata dan pertanian ini.

Gung Dani mengingatkan, perlunya mengelola Pantai Melasti dengan mempertahankan kesucian dan meminimalkan kebencian. Kesucian yang dimaksud Pantai Melasti sebagai tempat upacara keagamaan, taksunya harus dijaga. Kebersihan dan keasrian wilayah ditingkatkan dengan model penataan yang ramah lingkungan.

Harmoni di tengah-tengah masyarakat menjadi kunci dalam membangun industri jasa. Jadi, kata Gung Dani, konflik social akibat pengembangan Pantai Melasti harus dihindari dengan cara menumbuhkan kepercayaan satu sama lain dan hilangkan perasaan dengki.

Lebih Jauh, Gung Dani menjelaskan dalam merealisasikan kerja sama bertajuk “Pengembangan Daya Tarik Pantai Melasti” pihaknya didukung ahli-ahli pariwisata Unud yang mengajar di S2 Kajian Pariwisata dan Pusat Unggulan Pariwisata. Ada Dr. Agung Suryawan, Dr. Pujaastawa , Dr. Nyoman Sudiantara, Dr. Indra, dan juga para guru besar seperti Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, Prof. Dr. Sukaatmaja, Prof. Dr. Made Budiarsa, Prof. Dr. Made Antara.

“Ini adalah kerja sama yang pertama bagi S2 Kajian Pariwisata. Saya berharap proyek rintisan ini bisa bermanfaat bagi Desa Adat Ungasan dan Unud sendiri,” tutur Gung Dani penuh semangat.

Suasana pantai Melasti menjadi daya tarik selain keunikan namanya. Foto I Made Sarjana.

Bangkit setelah Bangkrut

Sementara Wayan Disel Astawa menuturkan Pantai Melasti yang diluncurkan sebagai daya tarik pariwisata per 1 Agustus 2018 sudah memberi manfaat nyata bagi Desa Adat Ungasan. Pemasukan bersih yang mereka dapatkan sekitar Rp 600-700 juta per bulan.

Pada periode awal pembukaan, LPD sudah mampu menyelamatkan LPD Ungasan tetap beroperasi setelah bangkrut akibat “dibobol” pengurus lama sekitar Rp 48 miliar. “Syukur sekarang kami sudah punya dana cadangan 12 miliar,” tutur mantan anggota DPRD Provinsi Bali itu.

Astawa menambahkan Pantai Melasti dikelola dengan berbasis masyarakat di mana peluang usaha dan peluang kerja yang tercipta setelah Pantai Melasti jadi daerah tujuan wisata (DTW) sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat Ungasan.

Pengelola Pantai Melasti telah menghabiskan dana sekitar Rp 1,7 miliar untuk membangun berbagai fasilitas dan penataan wilayah pantai ke dalamlima5 zonasi. Nantinya disiapkan 15 kios untuk masing-masing banjar adat dan ada 22 kios yang disewakan untuk perorangan.

Penandatangan kerja sama tersebut dirangkaikan dengan kegiatan pelatihan jurnalisme wisata untuk pengisian website secara berkala. Pakar jurnalistik Bali Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Lit. tampil sebagai instruktur bagi 30 pegawai BUMDA peserta pelatihan tersebut. [b]


The post BUMDA Ungasan Gandeng Unud Tata Pantai Melasti appeared first on BaleBengong.

Nyepi di Bali kok Promosi Hotel untuk Hiburan?


Suasana Nyepi di Kuta.

Belakangan saya miris mendengar iklan di radio kesukaan.

Semua iklan yang saya dengar sambil menyetir mobil itu berisikan ajakan berlibur saat Nyepi. “Yuk, ber-Nyepi di hotel ini! Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di hotel!”. “Paket termasuk breakfast 2 kali dan satu dinner!”.

Bahkan ada hotel mengajak penginapnya untuk mengunggah fotonya di Instagram dengan tanda pagar (tagar) sekian sekian sekian.

Tunggu dulu.

Baru tahun lalu kita dihebohkan dengan permintaan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) untuk mematikan internet dan media sosial agar tidak ada yang menggunggah foto dan status ke sosial media tentang apa yang terjadi selama Nyepi.

Ini berarti kita masih terikat dengan duniawi, tidak menjalankan Nyepi dengan benar.

Teringat, waktu itu saya masih bekerja sebagai guru di suatu sekolah internasional, kami melaksanakan pertemuan dengan orang tua murid sebelum libur Nyepi. Saat itu Nyepi pada hari Sabtu bersambung dengan libur satu minggu.

Lalu, satu orang tua yang non-Bali dan non-Hindu berbagi bahwa dirinya dan keluarganya akan menyebrang ke Gili Trawangan karena hidup mereka tidak mungkin tanpa internet sekalian berliburan.

Saya memaklumi alasan orang tua itu dan saya justru kasihan kenapa internet harus dimatikan (yang akan saya jelaskan lebih lanjut di bawah). Namun, saya tidak bisa toleran dengan iklan-iklan hotel di radio itu. Tidak hanya di radio, media yang saya sering gunakan yaitu Instagram, yang bersponsor pun mempromosikan yang sama. Saya sungguh bingung membacanya.

Jadi, apakah makna dan tujuan Nyepi gampang diobrak-abrik ya?

Sebenarnya tahun lalu saya tidak setuju dengan imbauan mematikan internet saat Nyepi di Bali juga. Itu seperti blackout internet yang sungguh tidak perlu. Permasalahan menjalankan Nyepi itu balik ke diri sendiri. Saya sebagai orang Bali yang berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya selama dua puluh tahun, saat bersama keluarga maupun sendiri, selalu menjalankan Nyepi di manapun kita berada.

Kami selalu mengusahakan menjalankan Catur Brata Penyepian mau itu di Jakarta yang memang libur dengan tanggal merah Nyepi maupun saat di luar negeri yang tidak ada tanggal merah Nyepi, kecuali untuk pegawai Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan instansi Indonesia terkait lainnya.

Kami tidak masak, tidak bepergian, bergelapan, tidak memegang perangkat komunikasi, tidak berinternetan, tidak menghidupkan hiburan apapun. Dan di saat Nyepi saya selalu berandai bisa di Bali, karena hanya di Bali saya bisa melakukannya dengan hikmat.

Saya ingat satu saat tinggal di Hong Kong tahun 1998. Ayah saya mencabut koneksi telepon rumah untuk hari Nyepi. Saya bertanya, kenapa demikian? Ayah bilang, ya itu salah satu puasa kita, tidak berkomunikasi.

Ekstrem sih, tapi itu terbawa oleh saya sampai sekarang, dan memang harusnya demikian.

Sekarang, jika Nyepi tiba, saya jauhkan smartphone saya, saya tetap hidupkan untuk emergency tetapi saya silent total karena saya jauh dengan keluarga. Saya memang tidak berkomunikasi dan beberapa tahun terakhir saya selalu membuat pengumuman di sosial media saya akan menghilang 24 jam untuk Nyepi.

Jadi, saya tidak melakukan aktivitas sosial media selama hari Nyepi.

Jadi, sebenarnya kalau niat dijalankan, bisa saja kan dijalankan dengan sendirinya? Sekarang kalau internet dimatikan, kalau ada masalah darurat atau emergency dari keluarga jauh, lalu bagaimana? Dan bagi yang tidak menjalankan Nyepi, apakah mereka harus dipaksa ikut blackout juga? Apa salah mereka? Mereka kan tidak menjalankan Catur Brata Penyepian?

Lalu kembali ke hotel dengan paket-paket Nyepi-nya itu, kok bisa sih? Ini di Bali lho?

Karena fenomena iklan-iklan ini, teringat lagi dengan satu artikel di Balebengong yang pernah saya baca saat kuliah. Judulnya “Nyepi di Bali Tempo Doeloe” oleh I Nyoman Darma Putra.

Diceritakan oleh Darma Putra bahwa ada kekacauan untuk memandatkan Nyepi di Bali yang sesungguhnya dan cukup susah perjuangannya. Banyak unsur politik, sosial, bahkan yang hasil yang paling signifikan saat ini adalah keberhasilan bandara dan pelabuhan untuk ditutup 24 jam didapatkan saat reformasi (tahun 2000).

Ia bercerita bahwa salah dua orang yang datang saat Nyepi pada tahun 1936, yakni antropolog dan fotografer Margaret Mead dan Gregory Bateson. Mereka terkenal membuat buku yang cukup kontroversial memaknai karakter orang Bali versi mereka berjudul “Balinese Character: A Photographic Analysis”.

Mereka berlayar ke Bali dengan KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), perusahaan pelayaran Belanda yang membawa orang-orang dari luar negeri ke Bali. Dikatakan bahwa seorang supir membawa mereka dengan mobil, saat dihentikan pecalang setempat, si supir mengakui bekerja di KPM, Pecalang pun ketakutan dan tidak menghentikannya karena “Bali adalah milik Belanda” saat penjajahan itu.

Nyepi pun ternyata bisa dikontrol penjajah pada zaman kolonial. Setelah kemerdekaan, Nyepi penuh “semangat kebangsaan dan revolusi.” Walaupun dari satu desa ke desa lainnya memiliki pemahaman Catur Brata Penyepian berbeda, tetapi berkendaraan memang tidak dilaksanakan. Berhasil menghentikan kendaraan darat, tetapo pesawat belum berhasil.

Alhasil beberapa biro perjalanan dan hotel mendapat dispensasi. Akhirnya itu mengganggu masyarakat dan dispensasi ditekan.

Lalu, apa yang terjadi sekarang? Siapa yang melayani paket hiburan di hotel-hotel di Bali tersebut? Bukankah sebagian besar orang Bali juga bekerja di perhotelan?

Di saat beginilah, Bali terasa kok kayak gak ada identitas yang pasti. Tetapi memang yang memastikan ya orang Bali itu sendiri. Nyepi itu untuk diri sendiri kok, bukan untuk orang lain. Menyambut tahun baru yang memang berbeda sensasinya dan untuk saya menyambut tahun baru yang sesungguhnya. Mengapresiasi diri sendiri, mengapresiasi lingkungan, menghadapi kedamaian, tanpa ikatan duniawi, satu hari saja.

Sudah banyak hal yang diperjuangkan dan bisa kita dapatkan untuk menjalani Nyepi dengan hikmat. Lalu kenapa rasanya seperti kita membebankan orang-orang lagi demi duniawi orang-orang yang tidak mau menjalankan Nyepi seperti paket Nyepi hotel-hotel ini? Mengapa yang tidak mau menjalankan tidak bisa mengapresiasi kebudayaan Nyepi itu sendiri? Kalau tidak mau kena hal-hal yang dihentikan Nyepi, ya mungkin sudah seharusnya seperti orang tua murid di atas tersebut – pergi dari Bali.

Saya bersyukur lahir ke dunia ini sebagai segelintir orang Bali beragama Hindu dan dapat menjalankan Catur Brata Penyepian setahun sekali dimanapun saya berada. Kalau kamu? [b]

The post Nyepi di Bali kok Promosi Hotel untuk Hiburan? appeared first on BaleBengong.

YAKIN CINTA “Jatuhkan Cintamu pada Dia yang Tepat”

Di bulan Februari yang merupakan bulan kasih sayang ini KISARA bersama dengan SARWE SUKHINAH BHAWANTU mengadakan Sharing and Learning Session Yakin Cinta dengan tema “Jatuhkan Cintamu pada Dia yang Tepat”. Acara ini diadakan di Taman Baca Kesiman, Denpasar pada tanggal 23 Februari lalu yang dihadiri tidak hanya oleh para pasangan tetapi juga oleh mereka yang ...