Tag Archives: Berita Utama

Membangun Solidaritas di Tengah Pandemi COVID-19

Pengukuran suhu tubuh pada turis di Bali untuk antisipasi COVID-19. Foto Anton Muhajir.

Rasanya sulit sekali belakangan ini untuk tidak panik.

Sulit sekali untuk percaya bahwa semua baik-baik saja. Meski setiap kita tahu bahwa badai, sehebat apapun adalah sementara. Sebagai seorang manusia yang hidup di era canggih, pada zaman di mana seharusnya kematian sia-sia adalah aib, pandemi ini mewakilkan banyaknya ketiadaan kita. Ketidaksempurnaan kita sebagai manusia. Baik sebagai individu pun mahluk sosial.

Saya ingat buku Albert Camus yang sudah lama sekali saya baca, The Plaque. Buku ini bercerita tentang penduduk Oran yang tidak percaya bahwa wabah penyakit yang berasal dari sebuah virus dari tikus mati tengah mengintai daerah mereka. Mereka berpikiran bahwa wabah itu adalah sesuatu yang tak nyata hingga akhirnya setengah dari populasi Oran tumbang menjadi nama.

Ketika saya menulis ini, rasanya sulit sekali untuk mengurainya. Sesekali saya ingin bercerita tentang virus ini dan keluarganya secara teori kedokteran. Pada menit berbeda, saya ingin menyampaikan sejarah pandemi di alam semesta ini. Pada saat bersamaan saya juga ingin mengatakan bahwa Camus sudah tahu hal seperti ini mungkin sekali terjadi dan akan terjadi lagi.

Saya pun ingin menyampaikan kepedihan hati. Tentang bagaimana kita mengalami krisis kepercayaan terhadap pemimpin yang bingung dan tertutup mengenai langkah-langkah mereka untuk menyelesaikan krisis ini. Kita bagai berada di sebuah jembatan rapuh dan tengah menyeberangi jurang dalam yang siap menelan kita kapan saja kita terpeleset.

Akhir Desember, di sebuah pasar ikan di tengah kota Wuhan, beberapa orang mengalami batuk, demam, gejala yang mirip dengan peradangan paru-paru. Siapa sangka, sindrom yang bermula dari Wuhan tersebut mengganas melampaui batas-batas negara. Menjangkit siapa saja yang lengah dan tengah lemah. Melahirkan kepanikan. Membikin lonjakan-lonjakan pasien di rumah sakit berbagai negara.

Hingga 21 Maret, terdapat 276.462 kasus terinfeksi. Pasien berhasil sembuh sekitar 91.954. Pasien meninggal sebanyak 11.417 kasus.

Kemudian, apakah virus SARS- COV 2 itu? Secara singkat, SARS-COV 2 adalah bagian dari famili Corona virus. Corona virus umumnya dapat menginfeksi hewan dan manusia menyebabkan infeksi pernafasan, pencernaan, hepar juga sistem persarafan.

SARS-COV 2 adalah corona virus ketujuh yang mampu menginfeksi manusia. Sebelumnya terdapat alpha-CoVs HCoVs-NL63 dan HCoVs-229E, beta-CoVs HCoVs-OC43, HCoVs-HKU1, severe acute respiratory syndrome-CoV (SARS-CoV), dan Middle East respiratory syndrome-CoV (MERS-CoV).

Cerita berawal dari laporan terdapat sindrom serupa radang paru di daerah Wuhan. Pemerintah setempat menemukan bahwa penyebabnya adalah virus yang belum diketahui. Akhir Desember, pemerintah China menemukan bahwa penyebabnya adalah virus corona baru yakni SARS-COV 2.

Lalu pada 30 Januari WHO mendeklarasikan bahwa wabah ini adalah situasi emergensi. Per tanggal 12 maret, WHO mengumumkan bahwa COVID 19 adalah pandemik.

Masih banyak yang belum kita pahami dengan sempurna tentang virus SARS COV 2. Menurut Van Doramelen N dan tim, penularan dapat terjadi melalui droplet yang keluar saat penderita bersin, batuk atau bicara. Namun, droplet tersebut dapat menular ke orang lain hanya jika droplet tersebut berkontak dengan mulut, hidung atau mata kita. Artinya ia memiliki jalan masuk.

Masih menurut sumber sama, droplet tersebut tidak bisa menularkan jika antara satu orang ke orang lain berjarak sekitar 6 kaki atau 2 meter. Ini penting sekali untuk kita pahami sebagai bentuk pencegahan. Bahwa berjarak saat ini adalah mutlak. Mencuci tangan sehabis memegang benda asing juga merupakan kunci utama. Pun menghindari menggosok mata, hidung dan mulut sama pentingnya dengan mencuci tangan.

Menurut CDC, sekitar 81 persen dari total penderita yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala atau hanya menunjukkan gejala batuk pilek dan demam ringan. Sekitar 15 persen pasien menunjukkan gejala berat seperti sesak napas dan sekitar 5 persen datang dengan gejala yang lebih parah yakni kegagalan fungsi banyak organ vital seperti gagal fungsi paru.

Imbauan untuk menjaga ciri sebagai bagian dari pencegahan COVID-19 di Bali. Foto Anton Muhajir.

Lalu, jika 81 persen datang dengan gejala ringan, mengapa wabah ini menimbulkan kepanikan?

Buatlah sebuah perumpamaan. Jika terdapat 1.000 orang yang terinfeksi, maka sekitar 80 persen atau sekitar 800 orang akan datang dengan gejala ringan yang tidak khas. Kemudian, 15 persen atau sekitar 150 orang akan datang dengan gejala sedang hingga berat. Lalu, 50 orang atau sekitar 5 persen akan dirawat inap di ruang intensif dan memerlukan alat bantu nafas.

Bayangkan jika hal ini terjadi bersamaan di seluruh dunia yang kita ketahui sendiri bahwa fasilitas ruang intensif tidak tersebar merata.

Maka akan terjadi lonjakan pasien kritis yang akan menimbulkan masalah baru. Seperti yang terjadi di Italia, yakni pemilihan triase. Jika ada pasien berada pada keadaan tak tertolong dengan angka keberhasilan rendah, dengan berat hati para dokter akan menyelamatkan dahulu pasien-pasien yang masih mungkin berhasil.

Siapakah mereka yang rentan untuk terinfeksi dan berada dalam keadaan kritis? Para lansia, pasien dengan gangguan imun atau mengomsumsi obat-obat yang berpengaruh pada sistem imun, pasien kanker dan pasien yang sedang kemoterapi, pasien yang baru melakukan transplantasi organ, pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes militus, gangguan ginjal, infeksi liver, pasien dengan penyakit jantung dan hipertensi.

Untuk itu, sementara ini penting sekali bagi kita untuk melakukan karantina diri kita sendiri melalui tinggal di rumah saja. Tindakan ini akan memutus rantai penularan dan juga mengurangi risiko penularan dan kondisi yang tak kita inginkan pada saudara-saudara kita yang rentan.

Sebenarnya, jika kita menilik ke masa lalu, pandemi tidak terjadi kali ini saja. Pada abad ke-14, jauh sebelum era globalisasi di mana pesawat hadir menerbangkan manusia. Terjadi sebuah pandemik Black Death yang tersebar dari Asia Timur hingga Eropa Barat dan membunuh 75 juta – 200 juta manusia. Lebih dari seperempat populasi asia eropa saat itu.

Kemudian, pada Maret 1520, Francisco de Eguía sampai di Meksiko tanpa bus atau pesawat. Dia ternyata pembawa (carrier) virus smallpox. Setelah itu hingga Desember di tahun yang sama sepertiga populasi Amerika Tengah meninggal akibat virus tersebut.

Pada tahun 1918, pandemi flu Spanyol menimpa muka bumi dan menyebabkan kematian sekitar 100 juta manusia dalam 1 tahun. Jauh lebih banyak daripada jumlah korban 4 tahun Perang Dunia I.

Apa yang bisa kita pelajari dari kumpulan fakta di atas adalah bahwa pandemi bisa terjadi kapan saja, karena sama seperti manusia. Virus juga bermobilisasi melalui mahluk hidup yang ia tumpangi. Virus yang pagi ini ada di Tokyo sore nanti berada di Singapura, juga virus terus mencari cara agar bertahan hidup. Dia mampu bermutasi.

Dan, bukan tidak mungkin hasil mutasi tersebut menghasilkan virus baru yang bisa lebih tidak berbahaya daripada virus sebelumnya atau justru sebaliknya menjadi virus baru yang lebih sulit ditaklukan.

Namun, jangan kita lupa, bahwa smallpox yang dulu merupakan penyebab pandemi maka hari ini dunia berhasil bebas darinya. Pada abad ini, epidemi tidak lagi memakan korban sebanyak di masa lalu.

Semakin berkurangnya korban epidemi menunjukkan secercah harapan bagi kita untuk memenangkan perang ini. Ada harapan yang jika kita melihat secara saksama dapat membantu kita mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi.

Pada 1967, Smallpox masih menginfeksi sekitar 15 juta jiwa dan membunuh 2 juta orang. Namun, lihatlah pada tahun 2019 lalu tak satupun manusia mengeluhkan smallpox. Ini menunjukkan bahwa ketika para ilmuwan kita berhasil mempelajari virus ini maka mereka akan segera menemukan vaksin, obat-obatan yang mampu membebaskan manusia dari infeksi dan gejala klinis yang ditimbulkan oleh virus ini.

Penyemprotan disinfektan untuk mengantisipasi COVID-19 di Bali. Foto Anton Muhajir.

Saya rasa, ada dua hal yang dapat kita pelajari dari sejarah wabah-wabah di atas.

Pertama, Berbagi & Bersolidaritas.

Hal ini dapat kita mulai dari berbagi data. Data apapun tentang virus ini akan sangat bermakna bagi para ilmuwan dan dokter untuk mempelajari sifat dan bagaimana kita dapat mengalahkan virus ini. Penting sekali bagi siapapun yang berwenang terhadap data ini untuk membaginya kepada negara lain yang juga terdampak. Hal ini untuk melihat bagaimana pola sebaran, kemungkinan mutasi dan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan semakin mempercepat temuan yang mungkin saja bisa menjadi solusi bagi pandemi ini.

Hendaknya setiap negara atau otoritas saling bersama, berbagi data temuan. Karena seperti bagaimana kita berhasil menang melawan epidemi smallpox adalah dengan berbagi data sains dan mempelajarinya.

Berbagi data sains hingga data lainnya akan sangat membantu para ilmuwan, dan ini juga langkah awal untuk solidaritas yang lainnya.

Kedua, Keterbukaan dan Kepercayaan.

Dalam situasi seperti saat ini, kita bukan hanya panik tapi juga mengalami krisis kepercayaan terhadap pemegang otoritas. Kita berada pada suatu kondisi di mana kita tidak yakin apakah kita akan segera terbebas dari pandemi ini. Pun, kita semakin ngeri karena jumlah korban yang semakin bertambah, ditambah sangat sulit bagi kita tuk mengetahui sumber informasi yang terbuka.

Kita bagai anak kecil yang hilang di keramaian hiruk pikuk pasar.

Di tengah krisis kepercayaan ini, sulit sekali menata harapan. Padahal hakikatnya keterbukaan dan kepercayaan adalah modal mutlak bagi kita untuk bersolidaritas. Salah satu hal baik yang pemerintah Jerman lakukan adalah membuka informasi bahwa jika setiap rakyatnya tidak patuh terhadap self-distancy maka sekitar 70 persen populasi mereka akan terinfeksi dan ini dapat menimbulkan krisis baru lainnya.

Keterbukaan sejak awal menjadi modal kepercayaan antara rakyat dan otoritas. Mereka berhasil meminimalisasi dampak pandemi ini.

Perlu sekali bagi kita untuk kembali melihat bagaimana langkah awal penanganan pandemi ini di negeri kita dan bagaimana kita memperbaiki diri. Kita di sini adalah semua, otoritas yakni pemimpin dan kita sebagai warga negara.

Kejujuran akan mengikis krisis kepercayaan kita, jika memang kita tak mampu menangani ini agar segera kita meminta bantuan negara tetangga yang berhasil belajar dan meminimalkan dampak pandemi. Pandemi ini mengajarkan kita untuk mengikis saling curiga dan sementara mengesampingkan isu politik antar negara. Karena dengan saling terbuka dan percaya kita semua bisa melangkah maju.

Rasanya memang sangat suram, ngeri dan juga tidak pasti melihat kondisi belakangan ini. Namun, saya percaya kita anak muda bisa belajar banyak dan belajar bertahan hidup. Belakangan saya juga jadi berpikir untuk menanam sayur mayur di sekitar halaman rumah yang jika seandainya isolasi diri diperpanjang, maka setidaknya kita bisa bertahan makan dengan nasi dan sayur. Pun mungkin kita bisa bertukar hasil kebun dengan para tetangga sekitar melalui jendela dapur.

Agak melankolis tapi ini solusi yang realistis.

Saat teman-teman membaca tulisan ini, saya ingin kalian menemukan harapan dan sebongkah solusi juga refleksi bagaimana seandainya jika virus bermutasi dan menyebabkan kepanikan global di masa depan, apakah kita siap? Apakah pemimpin yang kita coblos setiap lima tahun siap? Apakah tanah dan sawah kita bisa memberi makan 200 juta mulut dengan sama rata?

Jawaban-jawaban akan pertanyaan ini hendaklah menjadi perenungan kita setiap kali kita mendengar mereka berjanji di kampanye. [b]

Perbedaan Nyepi dan Parade Ogoh-ogoh Tahun ini

Pelaksanaan prosesi Hari Raya Nyepi dan pengarakan ogoh-ogoh tahun ini akan berbeda. Termasuk tradisi Omed-omedan dan ritual Melasti. Ini alasannya.

Surat Edaran Bersama Pemerintah Provinsi Bali, Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali, dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali tentang Pelaksanaan Rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 di Bali sudah beredar. Kesepakatan tiga pihak itu menyebut pengarakan ogoh-ogoh bukan rangkaian hari suci Nyepi, sehingga tak wajib dilaksanakan. Oleh karena itu pengarakan sebaiknya tidak dilaksanakan.

Namun bila tetap dilaksanakan, pelaksanaan sesuai ketentuan. Di antaranya pengarakan dilakukan pada pukul 17-19.00 WITA. Tempat pelaksanaan hanya di wewidangan desa adat setempat. Sebagai penanggungjawab adalah bendesa dan prajuru adat desa setempat.

Pengarakan Ogoh-Ogoh terkait dengan pelaksanaan Upacara Tawur Kasanga Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 pada 24 Maret 2020 ini diimbau membatasi jumlah peserta; perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), tidak mengganggu ketertiban umum, tidak mabuk-mabukan, dan ada koordinator sebagai penanggung jawab.

Sementara keesokan hari setelah pangerupukan, warga diimbau melaksanakan Catur Brata Panyepian dengan sradha bhakti. Bagi Umat lain di Bali agar bersama-sama mendukung dan menyukseskan Pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 dengan tetap menjaga dan merawat kerukunan antar umat beragama.

Demikian Surat Edaran Bersama tertanggal 16 Maret 2020 yang ditandatangani Gubernur Bali Wayan Koster, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali I Gusti Ngurah Sudiana, dan Bandesa Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet.

Imbauan ini berdasarkan arahan Presiden Republik Indonesia melalui pidato tanggal 15 Maret 2020, tentang perkembangan penyebaran penyakit virus Corona (COVID-19) di Indonesia. Juga Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 7194 Tahun 2020 tanggal 16 Maret 2020 tentang Panduan Tindak Lanjut terkait Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Lingkungan Pemerintahan Provinsi Bali, dan hasil rapat koordinasi Gubernur Bali, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali pada 16 Maret 2020 di Gedung Gajah Jayasabha, Denpasar.

Khusus kepada Umat Hindu di Bali, kegiatan Melasti Tawur Kasanga Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut, bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Segara, Melasti di pantai. Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Danu, Melasti di danau.

Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Campuhan, Melasti di Campuhan. Bagi Desa Adat yang memiliki Beji dan /atau Pura Beji, Melasti di Beji. Bagi Desa Adat yang tidak melaksanakan Melasti, dapat Melasti dengan cara Ngubeng atau Ngayat dari Pura setempat.

Upakara Melasti ditambahkan dengan, bagi Desa Adat yang Melasti ring Segara, ngaturang Banten Guru Piduka, salaran ayam itik (bebek) dan tipat kelanan, pakelem itik katur ring Bhatara Baruna. Bagi Desa Adat yang Melasti ring Danu, Beji, utawi Campuhan, ngaturang Caru Panglebar Sasab Merana (caru ayam ireng). Bagi Desa Adat yang Melasti Ngubeng utawi Ngayat, ngaturang Caru Panglebar Sasab Merana ring Pangulun Setra.

Upakara Tawur dilaksanakan serentak pada tanggal 24 Maret 2020 dengan tingkatan sebagai berikut: Tawur Agung ring Bencingah Agung Besakih, dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali, dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali pada pukul: 09.00 WITA nemu kerta ikang rat.

Tawur Labuh Gentuh ring Catus Pata Kabupaten/Kota, dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten/Kota, dan Majelis Desa Adat Kabupaten/Kota pada pukul 13.00 WITA. Tawur Manca Kelud ring Catus Pata Desa Adat, dilaksanakan oleh masing-masing Desa Adat setempat pada pukul 16.00 WITA. Biaya Upakara dapat menggunakan Dana Desa Adat yang bersumber dari APBD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2020.

Upacara lan Upakara setingkat Keluarga dan Rumah Tangga dilaksanakan sesuai dengan Surat Edaran Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali. Tawur Agung disertai dengan Upacara Sad Kertha Kahyangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali dan difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.

Ring Luhur Puser Tasik Giri Toh Langkir, Kabupaten Karangasem, katur ring Bhatara Druwa Rsi Akasa sebagai bentuk pelaksanaan Giri Kerthi/Atma Kerthi. Ring Segara Watu Klotok, Kabupaten Klungkung, sapisanan ring Catur Bhagini utawi Catur Danu ring Bali sebagai bentuk pelaksanaan Danu Kerthi. Ring Pura Er Jeruk, Kabupaten Gianyar, sebagai bentuk pelaksanaan Jagat Kerthi.

Ring Pura Dalem Sakenan, Kota Denpasar, sebagai bentuk pelaksanaan Segara Kerthi. Ring Pura Pakendungan, Kabupaten Tabanan, sebagai bentuk pelaksanaan Swi Kerthi/Jana Kerthi. Ring Pura Watu Kau, Kabupaten Tabanan, sebagai bentuk pelaksanaan Wana Kerthi.

Respon warga yang berinteraksi di media sosial terutama akun twitter @Balebengong terhadap edaran ini beragam. Ada yang mengapresiasi, dan ada yang memperkirakan pawai ogoh-ogoh akan tetap dijubeli warga. Ada juga warga yang melaporkan di beberapa kota di luar Bali, prosesi melasti dan pengarakan ogoh-ogoh ditiadakan. Sementara Tawur Agung hanya dihadiri prajuru dan pemimpin ritual.

I Gusti Ngurah Sudiana, Ketua PHDI Bali usai jumpa pers mengatakan imbauan ini sebagai upaya agar tak melanggar protap Dinas Kesehatan dan Surat Edaran terkait pandemi Covid-19. Walau bukan bagian ritual tapi ogoh-ogoh menurutnya budaya ritual. “Ogoh-ogoh lahir dari ritual walau tak ada kaitan penuh tapi masih berhubungan dengan Nyepi. Orang bikin ogoh-ogoh pasti saat Nyepi. Kalau sudah buat, mengarak sedikit, dibatasi sekitar wilayah banjarnya,” sebutnya.

Bagaimana membatasi umat saat melasti? “Melasti sudah diatur, dibatasi. Caranya membatasi, nanti desa adat mengkoordinasikan apakah semua Ida Betara ikut melasti ataukah ada yang tinggal di pura. Atau diatur semua ke pantai, yang ngiring penyungsungnya saja 1-2 orang sehingga tak melibatkan jumlah besar,” jelasnya.

Dalam prosesi melasti, penyucian diri dan alam sebelum tahun baru Saka ini biasanya melibatkan ribuan warga di tiap desa adat. Warga membawa Jempana dan baleganjur. “Baleganjur pun dibatasi, menjaga agar tak terlambat nanti,” lanjutnya tentang risiko penularan.

Sementara terkait pemadaman akses internet saat Nyepi, ia memastikan akan terjadi lagi. “Internet jelas, tak ada media sosial aktif, kecuali untuk kantor-kantor vital, keamanan, rumah sakit, pelabuhan tetap berjalan. Telpon dan SMS tetap bisa,” urainya.

Terkait tradisi Omed-omedan yang juga dipadati ribuan warga, Sudiana mengatakan akan berkoordinasi. “Kami akan koordinasikan ke Bendesa Adat Sesetan biar bisa diatur agar secara simbolis saja dulu,” katanya terkait tradisi Omed-omedan di Desa Sesetan yang dihelat sehari setelah Nyepi.

Bom Benih, Sebuah Gerilya di Tengah Ledakan Pariwisata Nusa Penida

Hari beranjak gelap, sebuah perempatan jalan dengan tugu yang berdiri di tengahnya ramai oleh warga, mereka berkumpul. Tua, muda, anak-anak, laki-perempuan, semua menjadi satu.

Sebagian berdiri, sebagian lain duduk atau jongkok, membentuk sebuah lingkaran, perhatian mereka tertuju pada area lapang di tengah lingkaran. Dua sosok penari topeng sedang mementaskan naskahnya, disusul barok lalu dilanjutkan dengan rangda. Pecalang-pemangku siaga, beberapa warga kerauhan.

Warga Banjar Tangglad malam itu sedang menggelar sebuah prosesi upacara yang mereka namakan “nanggluk merana.” Belakangan, serangkaian peristiwa terjadi di tengah-tengah warga. Hujan yang sempat turun tia-tiba hilang tanpa jejak, cuaca kembali panas menyengat. Ulat menyerbu dan dengan rakus menggilas daun-daun jagung yang baru tumbuh dan berusaha bertahan dari cuaca yang kembali panas menyengat. Ulat-ulat yang tak juga pergi walau serangkaian usaha telah dilakukan.

Dan peristiwa-peristiwa lain yang tampaknya tidak wajar yang kemudian menjadi pertanda. Dari peristiwa-peristiwa yang saling kait tak biasa tersebut, warga bersepakat menggelar sebuah prosesi upacara yang digelar tepat saat purnama kaulu.


Ketika semua warga terpusat di perempatan jalan, mengikuti prosesi dengan penuh harap, sekelompok pemuda di sebuah halaman kecil tak jauh dari perempatan, sedang khusuk dengan niat mereka. Alunan gamelan yang masih jelas terdengar seolah tak membuat mereka berpaling dan ikut larut bersama warga.

Mereka larut dengan niat mereka untuk berhasil membuat “bom”. Mereka membuat “bom” berbentuk seperti telur seukuran genggaman tangan. Tepat ketika warga larut dengan doa dan prosesinya, para pemuda tersebut fokus merealisasikan rencana mereka, membuat “bom” yang akan mereka ledakkan ketika hujan tiba.

Tepatnya di balik gerbang terali hitam, di depan bangunan Artshop Bu Luh, segerombolan pemuda yang dikomandani Gede “timbool” Agustinus meracik material. Buliran biji-biji berukuran kecil dicampurkan ke dalam tanah dan humus yang telah basah. Lalu dikepal dibentuk bulat. Ukurannya dibuat sedemukian rupa sehingga cukup pas digenggaman tangan, memudahkan untuk dilempar.

Timbool dan kawan-kawannya berencana mengajak warga sekitar untuk gerilya menggunakan bom benih yang berhasil mereka buat. Melemparkannya ke lokasi-lokasi strategis hingga nanti “bom-bom” tersebut akan meledak dengan sendirinya ketika waktu tiba.

Biji kecil tersebut merupakan benih Orok-Orok, Kaliandra, Turi, dan Tarum, yang kemudian menjadi empat jenis bom. Upaya gerilya pemboman ini dilakukan untuk mendukung upaya perjuangan kelompok Alam Mesari memperoleh kemerdekaannya atas pewarna alam. Pewarna alam merupakan pewarna yang sebelumnya telah digunakan oleh tetua-tetua mereka ketika membuat tenun cepuk. Kain khas nusa penida yang hingga kini masih diproduksi oleh warga Desa Tanglad.

Kondisi geografis Nusa Penida yang didominasi dengan batuan kapur, lapisan tanah yang relative tipis, iklim kering dengan curah hujan yang sedikit tentu membuat penanaman langsung tanaman pewarna alam memiliki resiko kegagalan yang tinggi. Bom benih (seed bom) orok-orok, kaliandara, turi, dan tarum menjadi sebuah usaha untuk mengimbangi situasi lingkungan yang ada. Pemboman ini menjadi penting karena berpotensi besar akan menjadi humus dan menambah lapisan tanah di atas batuan kapur. Sehinga akan menyuburkan tanaman-tanaman lain yang menjadi sumber pewarna alam.

Teknik pembuatan “bom benih” dipelajari Timbool dan rekan-rekannya merupakan hasil dari hasutan Bang Berto (Roberto Hutabarat) seorang gerilyawan “Bertani karena Benar.” Diaplikasikan oleh gerombolan Timbul setelah mendapat informasi beberapa kali hujan mulai turun di Nusa Penida.

Biji benih yang sudah bercampur dalam kombinasi tanah liat dan humus dengan sedikit air yang kemudian dikeringkan dalam kerat-kerat (bekas telor). Setelah siap, “bom-bom benih” akan dilempar warga ke tempat-tempat yang area ladang warga.

Bom benih sangat tergantung pada cuaca, hujan sekali lalu kemudian panas kembali menyengat seperti apa yang terjadi di awal Januari 2020. Ini bukan momentum yang tepat untuk melakukan eksekusi pemboman. Dibutuhkan curah hjan yang lebih rutin untuk memastikan pemboman berhasil. Hal tersebut membuat penting bagi Timbool untuk mencari tahu dan mendapatkan informasi tentang curah hujan di Desa Tanglad dari warga lokal.

Tidak seperti granat yang langsung meledak sesaat setelah dilemparkan, bom benih akan meledak setelah bereaksi dengan air hujan yang mengguyur.

Ketika hujan sudah mulai rutin turun, bom-bom akan dilemparkan dan “bom” berisi benih ini pecah. Ledakan pertama terjadi.

Seed bomb itu kalau kena air hujan akan pecah tanahnya, dan di dalam tanah tersebut sudah mengandung nutrisi untuk makanan si benih tadi ketika tumbuh,” Timbool menjelaskan bagaimana proses seed bom tersebut ketika bertemu air hujan.

Bongkahan tanah pecah, benih yang terkandung di dalamnya tersebar mengikuti aliran air. Benih yang hanyut mengikuti aliran air akan tertahan oleh semak, pematang atau batuan, lalu perlahan tumbuh menjadi tunas, mencipta akar-batang-daun hingga kemudian kembali meledak menjadi rimbunan semak belukar. Semak belukar yang nantinya akan menghasilkan humus dan nutrisi bagi tanah.

“Itu adalah tanaman perintis,” Timbool menjelaskan tipe tanaman yang dikandung dalam seed bomb yang dibuatnya. “Di sini kan tanahnya berbatu, untuk merintis tanah berbatu, jadi tanahnya tipis sekali. Supaya guguran daunnya itu nanti bisa menjadi tanah yang lebih banyak untuk tegalan di Tanglad ini,” lanjutnya menjelaskan maksud aksi mereka bergerilya melemparkan seed bomb.

Bom Benih telah dilemparkan oleh ibu-ibu dari kelompok Alam Mesari ke ladang-ladang mereka, sebuah usaha kecil ketika hujan mulai rajin turun di Tanglad dan sekitarnya. Sebuah upaya kecil yang nantinya akan menunjang usaha yang lebih besar, menjaga keberlangsungan tradisi kain tenun cepuk. Menjaga agar ladang-ladang mereka cukup subur untuk ditumbuhi tanaman-tanaman yang akan menjadi sumber warna dari tenun-tenun yang mereka buat. Usaha untuk memintal kembali hubungan antara ruang hidup dengan kerajinan dan dampak ekonomi yang ingin dihasilkan.

Usaha pemboman dengan bom benih kaliandra, taru, orok-orok dan turi tentu jauh lebih kecil dan sangat tidak sebanding dibandingkan dengan Bom Pariwisata yang kini melanda Nusa Penida. Limpahan wisatawan yang berlalu lalang, pasir, dan kerikil yang meunggu untuk didistribusikan membangun villa atau akomodasi wisata lainnya yang cenderung seragam. Diikuti bom sampah sesuai jumlah kunjungan dan konsumsi orang-orang ke pulau Nusa Penida.

Link video: https://youtu.be/QoMtQ10PUaU

Sebuah usaha kecil oleh Alam Mesari bekerjasama dengan Timbool dan rekan-rekannya untuk menjaga keberlangsungan ekosistem di tengah iklim yang telah berubah dan semakin sulit diprediksi. Menjaga keberlangsungan tradisi tetua Nusa Penida dalam mencipta kain tenun tradisional. Tak kalah penting, menjaga tradisi kemandirian Nusa Penida. Tradisi kemandirian telah dilakoni para tetua terdahulu, yang telah membuktikan bagaimana cara bertahan hidup di sebuah pulau kecil dengan bentang alam yang keras.

Pasien Meninggal Pertama dengan Covid-19 Dirawat di Bali

Kasus 25 Covid-19 adalah pasien yang meninggal pertama akibat virus corona di Indonesia. Ia seorang warga negara asing (WNA) perempuan yang dirawat di Bali.

Sekda Provinsi Bali I Made Indra menyampaikan langsung informasi meninggalnya WNA di Bali dengan Covid-19 kepada media, Rabu (11/3).

WNA ini masuk Bali pada 29 Februari 2020, sejak 3 Maret mulai mengalami demam dan dirawat di RS Swasta, dan pada 9 maret dirujuk di RS Sanglah. Menurut Sekda Provinsi Bali, status Kasus 25 ini diketahui positif corona setelah meninggal. Dia meninggal saat dalam pengawasan virus corona, pas dicek lebih lanjut datanya, ternyata masuk daftar positif.

WNA Kasus 25 Covid-19 yg meninggal berusia 53 tahun. Ketika masuk Bali tidak menunjukkan gejala sakit meski sudah dipindai pemindai suhu tubuh dan mengisi kartu kesehatan. Atas komunikasi dengan keluarga, Kasus 25 yg meninggal krn Covid-19 ini sudah dikremasi di Mumbul siang tadi. Saat Kasus 25 meninggal, pihak RS Sanglah belum tahu statusnya positif Corona krn hasil tes labnya belum keluar. Begitu meninggal tadi pagi baru cek ke Kemenkes. Ternyata dia masuk yang diumumkan kemarin di Jakarta, Kasus 25.

Menurut catatan pemerintah, sampai saat ini (11/3) jumlah komulatif pasien dalam pengawasan di RS yang ada di Bali sebanyak 48 orang. Dari 48 orang tersebut hasil dari tes swap di Jakarta, dinyatakan 38 orang negatif Covid-19. Sedangkan 9 orang masih menunggu hasil lab, dan satu orang positif Covid-19 meninggal (masuk dalam urutan kasus no 25 yang sebelumnya telah disampaikan oleh Pemerintah Pusat). Pasien ini didiagnosis juga menderita 4 penyakit bawaan yaitu menderita gula atau diabetes, hipertensi, hiperteroid, dan penyakit paru menahun.

Dewa Indra mengatakan sejak WNA ini masuk RS Sanglah, sesuai dengan Protokol penanganan Covid-19, maka Pemerintah Provinsi Bali melalui Tim Survailance Dinas Kesehatan Provinsi Bali telah melakukan penyusuran terhadap orang-orang yang diajak kontak oleh pasien.

Diperoleh 21 orang yang melakukan kontak dengan pasien dari turun dibandara sampai pasien tiba di Rumah Sakit. “Sudah dilakukan pengecekan oleh Dinas Kesehatan dan sampai saat ini mereka semua dalam keadaan sehat, diisolasi dirumah masing-masing setelah diberikan edukasi terkait pencegahan penularan virus tersebur,”ujar Dewa Indra.

Untuk kesiapsiagaan maka Gubernur Bali Wayan Koster telah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan COVID-19 di Bali Susunan keanggaotaanya terdiri dari Ketua Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Satuan Tugas Kehatan, Satuan Tugas Area dan Transportasi Publik, Satuan Tugas Area Institusi Pendidikan, Satuan Tugas Komunikasi Publik dan satuan Tugas Pintu Masuk Indonesia.

Pemprov Bali menyampaikan bela sungkawa mendalam terhadap keluarga pasien, semoga diberikan ketabahan. Masyarakat Bali dihimbau untuk tetap tenang, waspada dan selalu menerapkan pola hidup sehat sehingga dapat terhindar dari paparan virus covid-19 tersebut.