Tag Archives: Berita Utama

Remaja Tanpa Masa Remaja

Oleh: Anak Agung Istri Vidya Saharani* – SMP (SLUB) Saraswati 1 Denpasar (Juara III lomba artikel International Youth Day 2019) Seks pra-nikah, itu pasti terdengar menggelitik di beberapa telinga remaja. Rasanya sangat sensitif untuk membahas masalah ini lebih dalam lagi, utamanya bagi remaja SMP yang masih beranggapan tabu akan hal itu. Namun, membahasnya untuk dapat memahami...

Keberpihakan Leila S. Chudori dalam Sastra dan Jurnalisme

Leila S. Chudori dalam salah satu panel diskusi di UWRF 2019. Foto Anggara Mahendra.

Salah satu penulis yang karyanya tidak sengaja saya temukan adalah Leila S. Chudori.

Namanya saya kenal melalui sebuah buku bersampul biru-putih yang saya temukan saat jalan-jalan di toko buku. Gambarnya ilustrasi dunia bawah laut serta sepasang kaki yang diborgol di dalamnya. Saat itu saya seperti menemukan apa yang saya cari.

Melalui Laut Bercerita, saya kembali membayangkan dan merasakan sedemikian tegang dan ngerinya kondisi negara di bawah pemimpin yang otoriter selama puluhan tahun. Leila mengajak pembacanya ikut menapaki jejak pergerakan mahasiswa melawan tirani kekuasaan saat itu.

Nilai-nilai tentang hak asasi manusia (HAM), aktivisme, dan keluarga masuk dalam buku ini dengan sangat halus dan mengalir. Berdarah-darah, ngeri, getir dan menyayat hati pada saat bersamaan.

Menurut saya, dengan rajutan ceritanya, Leila berhasil menciptakan sebuah kisah yang hidup. Bahkan selepas membaca novel setebal 379 halaman itu, saya pun dibuat sedih sejadinya. Dibuat merasa hampa.

Penulis kelahiran 12 Desember 1962 itu menulis dengan sejujurnya diri. Tidak pernah menargetkan tulisan itu untuk siapa. Anak muda, milenial atau orang tua. Senaturalnya saja. Setulus mungkin. Termasuk dalam tema HAM yang diangkat dalam dua novel karyanya, Pulang dan Laut Bercerita.

Leila tidak mau menjejali pembaca tentang HAM seperti khotbah, tapi dirangkainya melalui sebuah cerita.

“Saya tidak mau memaksakan. Sejak awal, saya ingin menulis cerita tentang Si Laut dan keluarga, dari dua sudut pandang. Dan saya tidak mau memikirkan apakah milenial akan mengerti atau tidak. Nanti malah tulisannya terlalu memaksakan untuk masuk ke dunia mereka,” ungkap Leila.

Mahasiswa dan Perlawanan

Tepat 24 September 2019, mahasiswa dan masyarakat di hampir seluruh penjuru Indonesia. Bergabung dalam gerakan solidaritas untuk menyuarakan aspirasi dan penolakan terhadap beberapa RUU yang dianggap ngawur. Misalnya revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) yang dianggap melemahkan hingga pengesahan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang dianggap menelanjangi hak dan privasi warga negara.

Ketika melihat gerakan itu, banyak masyarakat menyala lagi harapannya. Tak sedikit pula yang bersyukur bahwa mahasiswa masih turun ke jalan, tidak hanya duduk di ruang kelas.

Namun, seperti datang satu paket, di tengah harapan yang kembali menyala, terdapat fakta bahwa lima mahasiswa gugur. Tak sedikit di antaranya mengalami luka-luka akibat tindakan represif dari aparat.  

Peristiwa tersebut mengingatkan saya pada peristiwa 1998 yang menjadi latar dalam Laut Bercerita.

“Saya tidak mau mengatakan ini persis sama, tapi bahwa ada yang meninggal, iya. Bedanya dengan yang dulu, mereka diculik 22 orang, kemudian 9 orang kembali setelah melalui penyiksaan, dan yang 13 orang, tidak. Tidak jelas,” jawab Leila ketika dimintai tanggapan tentang peristiwa 98 dan gerakan solidaritas pada September lalu.

Leila saya wawancara selepas mengisi salah satu panel diskusi di Ubud Writers & Readers Festival pada 25 Oktober lalu. Dia juga menyampaikan bahwa munculnya gerakan mahasiswa seperti ini, bukan yang pertama kali.

Leila melanjutkan bahwa pada 1970-an pernah ada peristiwa yang spesifik menentang apa pun produksi negara Jepang. Kemudian ketika Perdana Menteri Jepang melakukan kunjungan ke Jakarta, saat itulah terjadi demo besar yang berujung kerusuhan pada 15 Januari 1974. Peristiwa itu dikenal dengan peristiwa Malapetaka Limabelas Januari (Malari).

“Ketika peristiwa 98 terjadi, kita semua banyak harapan, ada euforia. Bahkan negara-negara Asia yang lain, cemburu pada Indonesia karena persnya yang bebas. Di Malaysia dan Singapura, tidak sebebas kita,”  ungkap Leila mengenang peristiwa 98.

Menurut Leila, gerakan solidaritas pada September lalu, memang sudah waktunya terjadi. Namun, hal yang disayangkan olehnya adalah, tetap adanya korban berjatuhan di era yang katanya menjunjung demokrasi dan kebebasan menyuarakan aspirasi ini.

Leila melelmpar ingatannya ke Orde Baru, di mana masyarakat benar-benar dibungkam oleh pemerintah. Sehingga ketika ingin membicarakan isu-isu yang sensitif, mereka harus menggunakan metafora-metafora. 

“Di era yang seolah-olah kita menjadi bebas ini, metafora itu masih berlaku juga, sebab kita tak pernah sepenuhnya bebas. Bahkan sekarang, semua orang punya kesempatan untuk menuntut melalui beragam UU dengan pasal karet,” jawabnya.

Leila melihat bahwa pelan-pelan, negara ini akan mengarah kembali ke Orde Baru. Lalu apakah ini berarti pemerintahan Jokowi selama ini adalah kemunduran?

“Tidak sepenuhnya,” kata Leila.

Jika dijabarkan, ia menganggap kemunduran itu bisa dilihat dari beberapa hal yang sebetulnya tidak butuh kompromi. Misalnya kabinet Indonesia Maju saat ini.

“Ini ‘kan tahun terakhir kepemimpinan Jokowi di periode pertama. Saya percaya kalau diisi dengan lebih banyak profesional daripada banyak wakil dari parpol, tidak akan masalah,” tegasnya.

Leila yang dengan terbuka mengakui bahwa ia adalah pemilih Jokowi, juga menyebutkan bahwa persoalan kompetensi dalam parpol membuatnya bertanya-tanya.

“Lalu yang ketiga, tentu adalah kekecewaan banyak orang. Dengan meletakkan Prabowo sebagai Menhan (Menteri Pertahanan), adalah suatu keputusan yang tentu melahirkan banyak pertanyaan dengan sepak terjangnya dalam isu HAM. Jadi, janji presiden untuk menyelesaikan HAM di urutan pertama, itu makin jauh. Bahkan dalam pidato pelantikannya, sama sekali tidak menyebut tentang HAM. Itu membuat saya tidak heran ketika mengetahui pengumuman kabinetnya,” jelasnya.

Faktor lain yang dipandang Leila membuat kita sekarang makin mundur adalah, banyaknya Undang-Undang (UU) baru, yang berpotensi membuat orang dengan mudahnya dituntut maupun menuntut, seperti UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), kemudian ada juga UU tentang penghinaan ke pejabat, dan pasal karet lainnya. Kondisi seperti ini pada akhirnya membuat orang tidak akan bisa membedakan antara kritik dengan hinaan.

“Ini menjadi penting bagi saya sebagai penulis, tentu saja karena kemerdekaan kita untuk berbicara, berekspresi,” lanjutnya.

Lalu di mana posisi media?

Leila menjelaskan bahwa media tidak sama dengan oposisi. Media akan mengkritik kebijakan yang dianggap tidak layak dijalankan atau diciptakan. Bukan hanya pemerintah. Entah itu DPR, UU, atau peristiwa-peristiwa yang menyebabkan korban, menurutnya media harus berbicara. Sedangkan oposisi berasal dari partai. Media harus objektif. Ketika memang ada kebijakan yang bagus, maka diapresiasi juga.

Wartawan senior TEMPO ini juga memberikan keterangan bahwa meskipun ia berjalan di dua kaki, sastra dan jurnalistik, ia tidak memandang bahwa sastra hanya menjadi pelarian ketika idealismenya tak bisa disampaikan di media arus utama.

Menurutnya, TEMPO sangat terbuka dan lugas jika mengkritik. Dari segi sikap, tidak ada hal yang membedakan antara tulisannya di TEMPO atau sastra. Keduanya memiliki arah yang sama untuk membela orang yang tertindas. Hampir setiap tahun pula redaksi TEMPO dulu menulis edisi khusus di bulan September tentang keluarga korban peristiwa 1965, kemudian tahun 1998 menulis tentang keluarga yang masih berusaha mencari anggota keluarganya yang diculik.

Dalam wawancara yang beberapa kali dijeda karena ada orang ingin menemuinya, Leila dengan tegas mengatakan bahwa keberpihakan TEMPO pada kaum marjinal adalah sikap yang ia anut juga. Pembedanya hanya, di TEMPO adalah tulisan jurnalistik yang berisi fakta-fakta secara kronologis, sementara kalau fiksi atau sastra ada andil dari imajinasi, penciptaan tokoh, dan emosi, yang dapat pula membuat tokoh-tokoh itu menjadi manusia yang utuh.

“Intinya, materi yang dipresentasikan itu berbeda, tetapi sikapnya sama. Bahwa selama 28 tahun di TEMPO, sikapnya harus selalu membela jika ada orang-orang yang tertindas. Dan sebetulnya saya belajar itu dari TEMPO. Seandainya saya tidak kerja di situ, belum tentu saya menulis Pulang dan Laut Bercerita,” katanya dengan yakin.

“Minimal bagaimana cara saya mengumpulkan materi, mewawancarai orang, kemudian berempati, itu adalah sikap yang saya pelajari dari TEMPO,” tambahnya.

Seperti pada novel Pulang, itu adalah pengalaman Leila ketika pulang dari Kanada dan bertemu para eksil di Paris. Kemudian ia masuk ke TEMPO dan bertemu pula dengan orang-orang bekas tapol yang bekerja di sana. Leila merasa ada yang aneh kala itu melihat ada orang-orang Indonesia yang tidak bisa kembali ke tanah airnya.

Akhirnya tumpukan dari pengalaman-pengalaman selama Orde Baru di mana para tapol maupun keluarganya didiskriminasi itulah yang menginspirasinya melahirkan Pulang.

“Menulis, ya menulis. Bahwa tadi saya mengatakan saya kecewa, itu bukan hanya sebagai sastrawan, tetapi juga sebagai warga negara Indonesia. Walaupun bukan sebagai penulis, saya akan tetap kecewa. Apakah kebebasan berekspresi ini akan jadi lebih sempit, itu yang saya khawatirkan. Mudah-mudahan tidak. Tapi sekarang dengan tanpa kabinet seperti itu saja, ruang kita makin sempit dengan adanya UU demikian.” tutup Leila. [b]

The post Keberpihakan Leila S. Chudori dalam Sastra dan Jurnalisme appeared first on BaleBengong.

Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian

Setelah lepas dari tubuh, ruh tidak pergi begitu saja.

Tulisan ini saya buat sebagai catatan atas hasil bacaan terhadap salah satu jenis kakawin berjudul Aji Palayon. Kakawin ini umumnya ditembangkan dalam ritual kematian, khususnya di beberapa wilayah di Bali yang kebetulan saya singgahi.

Seperti berikut inilah isinya yang saya campur adukkan dengan tafsir-tafsir.

Pertama, kakawin ini mengucapkan rasa rendah hati pengarangnya yang menyebut dirinya orang yang serba kekurangan [para tucca], ibarat burung kecil yang banyak omong. Saya tidak tahu, burung jenis apa yang dimaksud. Mungkin burung kakak tua yang tidak hinggap di jendela. Atau burung hantu yang tidak seram tapi lucu.

Cerita dimulai dengan adegan ketika ruh berada di Kahyangan. Keadaan yang demikian, menyebabkan sahabat serta keluarga merasa bahagia. Bagaimanakah caranya keluarga dan sahabat tahu saat ruh berada di Kahyangan? Dalam kakawin ini tidak dijelaskan.

Ada satu petunjuk yang bisa digunakan untuk mengetahui caranya. Bait selanjutnya menjelaskan perihal orang mati yang konon telah melepaskan lima indria yang mengikat. Lima indria itu berturut-turut ialah mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit.

Kenapa kelimanya disebut mengikat? Karena dari kelima indria itulah manusia menikmati objek indrianya. Mata menikmati rupa dan warna. Hidung menikmati aroma. Telinga menikmati suara. Lidah menikmati rasa. Kulit menikmati sentuhan. Kelima objek itulah yang dinikmati oleh lima indria.

Lalu siapakah biang kerok dari segala perilaku penikmatan itu? Menurut shastranya, biang kerok itu bernama Pikiran.

Pikiranlah yang menginginkan terus menerus menikmati objek indria karena pikiran telah berhasil diikat. Kakawin Aji Palayon menjelaskan, orang yang mati dengan cara yang benar telah berhasil melebur segala racun pikiran yang mengikat itu.

Apa yang digunakan untuk melebur? Menurut pencerita Aji Palayon, peleburan itu dilakukan dengan sepuluh aksara suci dan Aji Kalepasan. Kita bicarakan nanti saja tentang kedua hal ini, sebab konon rahasia. Rahasia artinya halus, jadi untuk membicarakannya kita harus menggunakan suara yang halus. Bisik-bisik.

Bahagialah ruh yang merasa lepas dari kurungannya. Apakah kurungan ruh? Tubuh. Tubuh ini tidak lebih dari sekadar kurungan yang mengurung ruh. Lepas dari kurungan tubuh sudah sangat dinanti-nanti oleh ruh. Tentu saja, tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada terlepas dari penantian.

Setelah lepas dari tubuh, ruh tidak pergi begitu saja. Menurut ceritanya, ruh akan bertemu dengan sosok Barong Hitam yang diselimuti oleh kabut putih. Terkejutlah ruh itu. Kemudian ia ingat kembali dengan tubuhnya. Didekati tubuhnya sambil berucap sedih.

“O, tubuhku tempatku belajar dulu. Aku tak akan melupakan kasihmu. Tapi karena telah tiba waktuku, aku harus meninggalkanmu. Semoga kelak kita bertemu kembali”

Meminjam Tubuh

Tidak hanya sampai di situ, sang ruh ingin berbicara dengan orang-orang yang datang menjenguknya. Tapi tidak bisa. Tidak akan ada manusia hidup yang bisa mendengar suara Ruh, apalagi menyentuhnya. Tetapi ada satu jalan yang bisa ia tempuh. Ia bisa meminjam tubuh orang lain, saat orang tidur dan memakai wangi-wangian.

Artinya, Ruh bisa saja masuk saat menemukan orang yang tepat. Orang yang tepat ditemukan pada saat yang tepat pula. Saat yang tepat adalah saat tidur, orang yang tepat adalah orang yang memakai wangi-wangian. Saya sangat yakin, maksudnya bukanlah parfum. Mungkin kemenyan?

Meski demikian, jika ruh berhasil bicara dengan meminjam tubuh orang lain. Mestilah yang masih hidup memilih kata-kata yang dikatakan. Maksudnya menyaring, mana ucapan Ruh yang boleh atau tidak dilakukan. Hati-hati, katanya!

Kerasukan. Tampaknya itulah yang dimaksudkan oleh Aji Palayon. Dalam konteks ini, kerasukan terjadi karena ruh menginginkan mediator untuk mengatakan sesuatu. Saya penasaran juga, bagaimana jika ruh yang merasuki itu ingin melakukan sesuatu dan tidak hanya sekadar berkata-kata. Membelai kekasih misalkan?

Di dalam tradisi Bali, kerasukan bukanlah sesuatu yang tabu. Komunikasi ruh, barangkali itulah yang dimaksudkan. Ruh orang mati ditanya tentang ini dan itu. Tetapi Aji Palayon menyebutkan dengan jelas, bahwa segala yang dikatakan saat komunikasi itu berlangsung haruslah disaring-saring. Jangan sampai terjerumus.

Aji Palayon menceritakan bahwa ruh mengatakan terimakasih kepada seluruh orang yang menjenguknya. Ruh itu juga mendoakan agar semua orang yang datang mendapatkan kebahagiaan. Tidak terkecuali Pendeta yang menyelesaikan upacara kematiannya. Pada upacara itu, Pendeta juga bertugas membersihkan ruh menjadi Dwijati. Dwijati berarti lahir dua kali. Maksudnya adalah semacam ritual penyucian ruh agar lebih suci.

Dwijati juga sebutan untuk orang yang melakukan penyucian saat masih hidup. Penyucian ini dilakukan dengan ritual tertentu. Penjelasan tentang ritual ini sangatlah panjang. Jadi saya tidak akan menerangkannya lebih lanjut dalam tulisan ini.

Ruh yang telah lepas itu kemudian terbang mengawang-awang. Diibaratkan seperti api yang meninggalkan sumbunya. Seperti burung bebas dari sangkarnya. Kemana perginya ruh itu? Menurut Aji Palayon, perginya ke Sanggar. Yang dimaksud Sanggar adalah Merajan. Di sana menghadap kepada Tri Sakti.

Siapakah Tri Sakti juga tidak dijelaskan secara detail dalam teks. Tapi kita bisa menelusurinya tidak dalam teks, tapi dalam kontek. Sangat mungkin yang dimaksudkan sebagai Tri Sakti adalah Dewa-dewa yang berada di Rong Tiga. Kehadapan Rong Tiga, sang Ruh mengucapkan selamat tinggal.

Kemudian Ruh menghadap ke Pura Dalem. Di kuburan didengarnya suara menjerit. Ternyata Dewi Durga sedang dihadap oleh para punggawanya. Ada beberapa nama yang disebutkan: Anja-anja, Kumangmang, Raregek, Papengka, Kalika, Keteg-keteg, dan Bragala. Semua makhluk itu mendekat hendak memakan sang ruh.

Sang Ruh ketakutan dan hendak lari. Saat itu Dewi Durga menahannya, dan mengatakan agar jangan takut. Sang Ruh kemudian memuja Dewi Durga. Ada beberapa nama Dewi Durga yang disebutkan oleh sang Ruh.

Nama-nama itu sesuai dengan keberadaannya: Sang Hyang Bhagawati saat berada di Bale Agung. Sang Hyang Durga saat ada di kuburan. Sang Hyang Bherawi saat ada di Patunon. Dewi Putri saat berada di Gunung Agung. Dewi Danu saat ada di puncak Gunung Batur. Dewi Gayatri jika berada di pancuran dan telaga. Sang Hyang Gangga saat berada di segala sungai. Dewi Sri saat berada di sawah.

Setelah pujaan itu dilakukan, Dewi Durga mempersilahkan sang Ruh untuk melanjutkan perjalanan. Ada suatu ciri yang diberikan oleh pencerita Aji Palayon tentang kapan mestinya ruh itu pergi dari Pura Dalem. Cirinya bernama Bintang Siang. Bintang Siang konon juga menjadi ciri kalau matahari akan segera terbit.

Bagaimanakah wujudnya? Sebaiknya kita lihat dengan mata kepala sendiri. Bintang jenis apa yang berada di antara peralihan gelap dan terang itu. Peralihan atau perbatasan selalu saja mistis, dan jika perbatasan itu dicirikan oleh Bintang Siang. Artinya Bintang Siang juga mistis. Setidaknya begitulah menurut Aji Palayon.

Lalu kemanakah perginya Ruh setelah selesai menghadap Durga di Pura Dalem? Mari kita lanjutkan nanti. [b]

The post Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian appeared first on BaleBengong.

Koperasi KSS Pembangkit Kakao di Bumi Makepung

Penandatanganan MoU antara petani kakao dengan pembeli.

Oleh Ni Komang Bintang Kosiki

Petani Jembrana mampu membuktikan mereka bisa sejahtera bersama koperasi.

Masyarakat zaman sekarang lebih memilih bekerja di perusahaan atau toko dibandingkan menjadi petani. Sebagian besar masyarakat memandang seorang petani sebagai pekerjaan rendah dan berpenghasilan kecil.

Eitsssss.. Jangan salah dulu. Justru jasa petani itu sangat besar dan tidak semua petani itu miskin.

Contohnya saja I Wayan Rata, yang sering disebut Pak Rata, petani di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Beliau memiliki kebun kakao sendiri yang ia kelola bersama menantu dan cucunya. Dan, ternyata, cucunya yang bernama Desita juga mengikuti seleksi Anugrah Jurnalistik Siswa (AJS) yang sedang saya ikuti saat ini bersama 9 peserta lain.

Kami bersepuluh mengumpulkan informasi tentang Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) dan kakao Jembrana. Sepuluh peserta itu terdiri dari saya sendiri, I Putu Angga Ardi Wilyandika, Ni Made Gladis Desyani, Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum, Pajar Rizkian, I Made Dwi Mertha Mahendra, Dewa Ayu Komang Tri Aprilliani, Ni Putu Ayu Rischa Sasmita Yanti, Luh Komang Desita Anggreni, dan Ni Putu Wulan Prima Dewi. Kami berasal dari berbagai sekolah SMA/SMK di kabupaten Jembrana.

Kami dibagi menjadi lima kelompok dengan masing-masing tema berbeda. Saya sendiri mendapat tema manajemen koperasi bersama dengan Retno dari SMKN 4 Negara. Cerita yang membuat saya agak kesal sekaligus tertawa yaitu di mana saat saya dan Retno akan melakukan wawancara, kami membuat janji akan bertemu di Taman Pecangakan, Negara.

Tetapi, saya tidak menemukan Retno di manapun. Sudah keliling saya mencarinya. Saat saya telepon, HP Retno tidak aktif. Saya menelpon hingga belasan kali, tapi tetap tak dijawab. Saya pun mulai panik. Akhirnya saat saya mencoba menelpon Retno ke sekian kalinya. Syukurlah telepon saya dijawab. Ternyata, Retno dari tadi berada di patung kuda tepatnya di barat taman.

Saat saya dan Retno hendak wawancara ke Dinas Koperasi, ternyata beliau yang bersangkutan sedang ada acara di luar. Huhhhh… Sudah panik mencari Retno ditambah lagi kepala dinasnya tidak ada saat kami cari. Saya sedikit kesal. Kami pun menjadwal ulang untuk mewawancarai Dinas Koperasi, nasib saya memang tak beruntung kala itu. Saya malah ditinggal Retno. Padahal saya sudah menunggu Retno cukup lama di Taman Pecangakan. Pada jadwal selanjutnya akhirnya kami dapat mewawancarai Dinas Koperasi bersama-sama.

Lanjut lagi mengenai Pak Rata. Dengan luas kebun seluas 75 are di kebun Pak Rata terdapat 5 klon kakao antara lain panter, MCC 01, MCC 02, BLB, dan RTNJ 01. Menurut Pak Rata, budidaya tanaman kakao sama seperti mengurus anak, harus dengan kesabaran ekstra. Dalam mengurus pohonnya pun hal lain harus diperhatikan. Misalnya dalam pemangkasan, ada beberapa cabang harus dipangkas antara lain cabang mati, cabang air, cabang gantung, cabang selingkuh, cabang tumpuk, dan cabang balik.

Dulunya Pak Rata tidak tahu menahu mengenai kakao sampai akhirnya ia bertemu dan bekerja sama dengan Koperasi KSS. Koperasi ini bertujuan untuk menyejahterakan dan memberi harga pantas bagi para petani. Dengan demikian jasa petani mulai dipandang dan dihargai di masyarakat. Koperasi KSS menerapkan teknik fermentasi dalam pengolahannya sehingga menghasilkan biji kakao berkualitas baik.

Selain itu proses fermentasi ini juga menghasilkan aroma-aroma yang khas. Salah satunya aroma madu yang berhasil menarik hati perusahaan cokelat ternama di dunia maupun lokal. Bisa dibilang bahwa proses fermentasi ini menjadi kunci rasa dari coklat.

Sebuah Ide

Fermentasi merupakan teknik pengolahan makanan dari bahan pokok menjadi makanan siap saji dengan menggunakan mikroorganisme tertentu. Pengertian lain menyebutkan bahwa fermentasi merupakan proses produksi energi dalam sel pada suatu keadaan anaerobik (tanpa menggunakan oksigen) atau pembebasan energi tanpa adanya oksigen. Fermentasi dapat terjadi karena adanya aktivitas mikroba pada substrat organik.

Fermentasi dilakukan dengan meletakkan biji-biji kakao ke dalam kotak kayu yang sudah dilubangi bawahnya. Ingat, dalam melakukan fermentasi sebaiknya menggunakan biji kakao yang segar agar menghasilkan hasil terbaik dan mengurangi kegagalan saat proses fermentasi. Lubang pada bagian bawah kotak kayu memiliki fungsi sebagai jalan keluar masuknya oksigen, karbondioksida, dan air yang dihasilkan dari proses fermentasi.

Selanjutnya tumpukan biji kakao di dalam kotak bisa ditutup menggunakan karung goni, daun pisang, atau penutup lain. Selama fermentasi berlangsung, biji kakao diaduk atau dibalik setiap 1-2 hari sekali agar panas yang dihasilkan dari biji kakao fermentasi dapat merata.

Manfaat proses fermentasi ini antara lain memperkaya atau memperkuat rasa, aroma, dan komposisi makanan atau biji kakao. Dia juga bisa memperkaya nutrisi makanan, menghilangkan senyawa anti nutrien, dan meningkatkan nilai gizi. Makanan, minuman, atau olahan lain hasil fermentasi dapat meningkatkan kesehatan karena mengandung probiotik.

Dalam mengolah biji kakao pun tidak boleh asal-asalan. Contohnya dalam proses membelah buah kakao. Membelah buah kakao tidak boleh menggunakan pisau, parang, besi, atau benda tajam lain yang dapat melukai biji kakao. Disarankan menggunakan kayu karena tidak akan menyebabkan luka pada biji. Mengapa biji tidak boleh terluka? Karena dalam proses pengolahannya nanti, biji kakao yang terbelah atau luka akan ditumbuhi jamur di dalamnya. Tentu saja hal itu akan mempengaruhi proses produksi.

Biji kakao fermentasi hasil petani Jembrana ini telah mendapat tiga sertifikat yaitu UTZ, EU, dan Organic USDA. Hal ini yang memungkinkan untuk mengumpulkan 38 subak abian atau subak di lahan kering sehingga menjalin kerja sama dengan koperasi KSS. Sertifikat UTZ merupakan sebuah standar yang dikembangkan organisasi dengan kantor pusat di Belanda. Sertifikat EU yaitu sertifikat yang bisa diperoleh apabila produk yang dihasilkan berkualitas baik.

Adapun sertifikat Organic USDA diperoleh melalui proses berkelanjutan yang memerlukan dedikasi. Standar program organik internasional ini menyatakan bahwa tanaman organik harus ditanam di lahan bebas pestisida, herbisida, pupuk sintetis, dan bahan kimia lain yang penggunaannya tidak diperkenankan selama tiga tahun pertumbuhan.

Semua proses itu bisa dilakukan Koperasi KSS berkat dukungan Yayasan Kalimajari, organisasi di Denpasar yang mendampingi petani-petani kecil. Merekalah yang membantu KSS bisa mendapatkan tiga sertifikat tersebut.

Ketika berbicara soal koperasi, proses penguatan tidak hanya pada petani, tetapi juga pada tingkat koperasi. Bagusnya lagi, pemegang sertifikat di Koperasi KSS adalah koperasi itu sendiri, bukan pembeli. Lain halnya dengan di Sulawesi pemegang sertifikatnya yaitu pembeli. Jadi seluruh biaya dan segala macam akan ditanggung oleh pembeli. Namun, koperasi dan petani tidak boleh menjual biji ke manapun. Artinya koperasi dan petaninya tidak independen.

Lain halnya dengan koperasi KSS Jembrana yang sertifikatnya dipegang langsung Koperasi KSS. Jadi koperasi punya posisi tawar kuat serta bisa menjual biji kakaonya ke mana saja. Dengan catatan proses komunikasinya baik dan koperasi tidak selalu menuntut harga yang tinggi tetapi harga yang segnifikan yaitu harga yang pantas untuk perjuangan para petani. Oleh karena itu mengapa koperasi menjadi sesuatu yang sangat penting.

Pengurus koperasi KSS terdiri dari ketua I Ketut wiadnyana, sekertaris I Wayan Diana, sekretaris I Nengah Kardika, serta pengurus-pengurus lain yang membidangi bidangnya masing-masing.

Kepercayaan yang Hilang

Sebelum terkenal seperti sekarang, Koperasi KSS dulunya banyak menemukan kendala. Contohnya, bagaimana mengembalikan kepercayaan petani kepada koperasi KSS? Mengapa petani tidak percaya pada koperasi KSS ?

Koperasi KSS ini pertama kali beroperasi pada tahun 2006. Pada saat itu pengurus koperasi tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya. Dari situlah masyarakat mulai tak mempercayai koperasi tersebut sehingga ditutup. Akhirnya beroperasi kembali pada tahun 2011 dengan pengurus koperasi dan nama baru, tetapi dengan tempat atau bangunan sama.

Dari situlah tantangan terbesar dimulai. Masyarakat masih tidak percaya pada koperasi tersebut. Butuh kesabaran besar dan proses lumayan panjang untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terutama para petani. Salah satu cara koperasi KSS meyakinkan masyarakat dan petani yaitu dengan cara mensosialisasikan kepada mereka tentang koperasi baru. Pada akhirnya para petani mulai percaya kembali pada koperasi KSS.

Dalam proses ini koperasi KSS juga dibantu Yayasan Kalimajari untuk bangkit dari keterpurukan dan membimbing koperasi KSS agar lebih mandiri ke depanya. Saat ini koperasi KSS memiliki sekitar 609 petani dan juga terdiri dari 38 subak Abian.

Direktur Yayasan Kalimajari I Gusti Agung Ayu Widiastuti, yang kerap disapa Bu Agung, mempunyai peran penting dalam proses membangkitkan koperasi KSS menjadi lebih baik. Mengapa Bu Agung tertarik bekerja sama dengan koperasi KSS? Bu Agung mengaku tertarik menjalin kerja sama dengan KSS karena koperasi inilah satu-satunya koperasi kakao di Bali yang konsentrasinya pada komunitas.

“Koperasi itu harus ada sebagai wadah untuk menyatukan petani. Kalian tahu sendiri, dulunya petani di Jembrana hampir semua bekerja secara individual. Tidak ada yang mau berkolaborasi,” tutur Bu Agung saat kami wawancarai.

Menurut Bu Agung, penguatan tidak hanya dilakukan pada budidaya, tetapi juga di tingkat kelembagaan. Maka dari itulah harus ada sebuah lembaga yang kuat dan solid. “Ketika sebuah bisnis harus berjalan, pilihannya cuma dua, apakah dalam bentuk koperasi atau private sector. Kalau dalam bentuk private sector, seperti PT atau CV, itu gak mungkin karena itu harus ada penyertaan modal. Modalnya cukup gede dan petani tidak punya itu. Akhirnya kita pilih bahwa koperasilah satu-satunya keputusan yang paling tepat ketika berbicara wadah untuk komunitas,” lanjut Bu Agung kembali.

Dahulunya koperasi KSS seperti tidak memiliki jiwa. Ada beberapa tantangan terbesar koperasi KSS saat baru beroperasi. Misalnya bagaimana cara mengembalikan kepercayaan masyarakat dan petani pada koperasi KSS. Bagaimana mengajak Subak Abian dan petani mau kembali mempercayai KSS dan mulai memikirkan fermentasi. Tantangan lainnya, mengubah pola pikir petani dari yang tidak ingin berubah menjadi ingin berubah serta meyakinkan petani bahwa biji fermentasi itu ada pasarnya.

Bu Agung mengaku terinspirasi dari semangat para petani yang ingin maju dan ingin bangkit selain juga karena tanggung jawab moral. “Ada harapan bahwa nantinya petani menjadikan kakao sebagai tabungan masa depan. Problem petani hanya satu, bagaimana mereka dihargai dengan sesuatu yang pantas dalam bentuk harga. Dan jawabannya hanya satu yaitu lewat fermentasi,” kata Bu Agung.

Dia melanjutkan melalui fermentasi dengan selisih harga yang cukup tinggi antara kakao fermentasi dengan yang non-fermentasi, petani juga bisa mengembalikan hak kebun yang telah mereka ambil. Artinya jangan hanya mengambil, tetapi juga mengembalikan apa yang sudah kita ambil. Kembalikan sekian persen dalam bentuk pupuk atau apa saja yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas kebun.

Kesulitan dan Tantangan

Saat kami ingin mewawancarai Pak Ketut Wiadnyana selaku ketua koperasi KSS, ternyata Pak Ketut sedang ada upacara agama, jadi kami memutuskan untuk mewawancarai Wayan Diana, yang akrab dipanggil Kak Andi. Kak Andi merupakan salah satu anggota pengurus KSS yang senang berbisnis. Die mengenal Koperasi KSS setelah diperkenalkan oleh orangtuanya. Sejak Maret 2018 dia menjadi anggota. Karena aktif dalam organisasi, Kak Andi pun diangkat menjadi pengurus koperasi.

Sumber modal Koperasi KSS awalnya sebanyak Rp 4.970.300.00. Kemudian ada modalnya dari bank BRI sebanyak Rp 500 juta dan dari bank BPD Rp 260 juta. Ada pula bantuan dari Dinas Koperasi Rp 300 juta. Menurut Kepala Bidang Koperasi I Puti Eka Artha, pemerintah memberikan talangan pada tahun 2017 dan 2018 masing-masing sebanyak Rp 200 juta dan Rp 300 juta pada tahun ini. Semua sumber modal KSS merupakan pinjaman yang harus di ganti suatu saat.

Putu Eka Artha mengatakan pemerintah akan terus melakukan pembinaan dan monitoring. Pak Putu berharap dari segi kelembagaan, nantinya koperasi KSS ini bisa lebih profesional. Dari segi pengurus, ia berharap nantinya pengurus Koperasi KSS bisa lebih baik.

Setiap minimal setahun sekali koperasi KSS bersama para petani dan perwakilan di masing-masing subak Abian akan melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Rapat ini membahas perkembangan, pemasukan, pengeluaran, keuntungan serta membahas segala sesuatu yang menyangkut koperasi KSS dan kakao.

Ada tiga prinsip operasi KSS yaitu transparansi, keberlanjutan, dan tracebility atau keterlacakan. Prinsip transparansi merupakan laporan seperti contohnya mengadakan RAT. Prinsip keberlanjutan mengenai bagaimana keterlibatan anak muda dalam perkembangan kakao atau pertanian. Prinsip tracebility membahas tentang data.

Buyer KSS saat ini berjumlah 20 terdiri dari lokal dan ekspor. Salah satunya perusahaan cokelat ternama di dunia, Valrhona dari Prancis. Cokelat Valrhona ini merupakan coklat terbaik dunia. Kakao yang dipilih dalam pengolahannya pun tidak sembarangan.

Dalam menjalin kerja sama dengan pembeli, koperasi KSS tidak sembarang pilih. Koperasi KSS mempunyai kriteria pembeli yang harus dipenuhi. Banyak pembeli yang ditolak karena dianggap tidak sportif. Kriteria lainnya, pembeli juga harus peduli dengan nasib petani.

Dalam pemasaran, jasa Bu Agung cukup besar. Dialah yang berusaha mencari pembeli agar mau bekerja sama hingga akhirnya berita tentang kakao fermentasi Jembrana ini terdengar sampai di perusahaan cokelat ternama dunia yaitu Valrhona. Karena kakao fermentasi Jembrana ini sudah menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan coklat terbaik dunia, maka tidak heran perusahaan cokelat ekspor maupun lokal yang lain mulai melirik kakao fermentasi Jembrana.

Salah satu pembeli lokal KSS yang kami wawancarai adalah I Wayan Alit Arthawiguna. Bapak yang sering disapa dengan Pak Alit ini merupakan pemilik perusahaan cokelat di daerah Tabanan. Dulu, perusahaannya bernama PT Agri Wisata Jaya Kencana lalu berganti nama menjadi PT Cau Chocolate pada tahun 2017.

Menurut saya, Pak Alit ini dapat memanfaatkan lingkungan dengan baik. Contohnya, Pak Alit tidak hanya melihat pada aspek produksi, tetapi juga melihat potensi lain dari kebun dan pabriknya. Dia pun mengembangkan agrowisata berbasis kakao yaitu Chocolate Tour dan Subak Tour. Selain itu Pak Alit juga melakukan penelitian atau riset kecil terhadap kulit kakao. Selain sebagai pakan ternak, ternyata kulit kakao bisa juga diseduh layaknya teh. Kulit biji kakao banyak digunakan untuk pupuk dan ternyata bisa juga digunakan sebagai bahan scrub.

Menakjubkan bukan?

Kini perusahaan coklat milik Pak Alit diurus oleh Kadek Surya Prasetya Wiguna, salah satu anaknya. Pak Alit menuturkan awal mula kerja samanya dengan Koperasi KSS. Saat bertemu dengan pihak KSS awalnya mereka berbincang mengenai kakao kemudian terjalinlah kerja sama antara KSS dengan PT Cau Chocolate. Menurut Pak Alit, Cau Chocolate memiliki misi untuk produksi (temoat menghasilkan cokelat), edukasi (tempat belajar tentang kakao dan cokelat), serta destinasi (sebagai tempat tujuanwisata). Rencananya juga akan dibuka koperasi kakao di Tabanan bernama Masako.

Kendali Mutu

Mengecek kualitas dan mengecek semua alur di koperasi, mulai dari masuknya biji hingga keluar, merupakan tugas seorang petugas kendali mutu (quality control). Posisi ini ditempati oleh I Puti Dian Pratama yang akrab dipanggil Kak Pepeng. Kak Pepeng ini sudah bergabung di KSS mulai dari Agustus 2017. Saat bergabung di KSS dia tidak tahu menahu mengenai kakao.

Menurut penuturan Kak Pepeng, syarat biji kakao yang bisa masuk koperasi KSS yaitu biji yang sudah melalui proses fermentasi. Jika tidak difermentasi, Koperasi KSS tidak akan menerima biji tersebut. Di Koperasi KSS biji kakao yang dijemur sembarangan dan tanpa proses fermentasi biasanya disebut dengan biji preman.

Ada dua sistem dalam pengambilan atau penerimaan biji. Pertama sistem pengambilan biji basah. Dalam sistem ini biasanya dilihat dari bijinya apakah bijinya masih fresh (segar) ataukah sudah lebih dari dua hari. Biasanya akan terlihat dari warna. Biji yang tidak fresh biasanya akan berwarna cokelat sedangkan biji yang baik akan berwarna putih.

Biasanya ada juga biji yang terserang penyakit penggerek buah kakao (PBK). Ciri-ciri bijinya dempet (double). Jika bagus, biji tersebut akan berbentuk butiran. Untuk harga plafon (harga maksimal) dari biji basah ini biasanya diambil Rp 12.000. Jika organik sedang jika biji RA (biji yang tercampur kimia) dihargai dengan harga Rp 11.000.

Kedua, sistem pengambilan biji biji kering yang sudah difermentasi. Biji fermentasi yang berhasil akan berwarna cokelat dan di dalamnya berongga. Sedangkan biji yang tidak difermentasi akan berwarna ungu. Untuk masalah harga sendiri biji kering fermentasi yang organik biasanya dihargai dengan harga Rp 38.000 sedangkan biji fermentasi yang RA dihargai dengan harga Rp 36.000. Keputusan tentang harga tidak hanya ada di tangan pengurus koperasi, tetapi juga anggota. Biasanya akan dibahas bersama dengan anggota, baik petani maupun subak abian.

Mengapa harga biji organik lebih tinggi dibandingkan dengan harga biji RA atau bahan kimia? Karena biji organik lebih sehat. Ini dikarenakan dalam budidayanya menggunakan bahan-bahan organik yang sudah pasti bebas dari bahan kimia. Adapun harga biji RA lebih rendah dikarenakan dalam budidayanya menggunakan bahan kimia sehingga dinilai kurang sehat.

Pengecekan biji organik sangatlah ketat hingga laboratorium. Bahkan dari pupuknya pun harus organik sehingga biasanya petani membeli pupuk di SIMANTRI. Untuk memastikan biji kakao tersebut organik sampai-sampai tanah, pupuk buah dan daunya diambil untuk diteliti. Untuk biji yang kecil, kempes, luka, terkena penyakit dan lain sebagainya tidak akan diterima di koperasi KSS.

“Kita sudah nggak menerima biji yang non fermentasi,” tutur Kak Pepeng saat berbincang dengan kami. Jika biji kakao fresh maka keberhasilan dalam fermentasi akan semakin besar.

Dalam penerimaan biji kakao dari Subak Abian yang pertama dilakukan adalah mengecek kadar airnya. Jika kadar airnya tinggi kemungkinan besar biji kakao tersebut akan ditumbuhi jamur. Biasanya para petani dari Subak Abian akan memasok biji kakao mereka karena biaya transportasi. Jika mereka sering mengirim hasil panen, biaya transportasi juga akan sering dikeluarkan. Maka dari itu petani menstok biji kakao mereka.

Namun, biasanya ada saja petani yang tidak menjemur biji kakaonya kembali sehingga adar air pada biji naik sedikit demi sedikit. Apalagi jika dalam penyimpannya tidak menggunakan alas. Hal ini akan membuat kadar air meningkat dan hal itu menyebabkan tumbuhnya jamur pada biji. Para pembeli biasanya akan komplain jika terdapat jamur di dalam biji kakao.

Sebuah Proses

Ada beberapa tahap atau proses pengecekan biji kakao hingga dikirim kepada pembeli. Pertama saat barang masuk. Barang terlebih dahulu dicek berat dan kadar airnya, kemudian biji kakao yang sudah dicek diberi label asal biji pada setiap karung. Apabila ada indikasi jamur dalam atau terkena serangan serangga, maka barang tersebut akan dikembalikan langsung dan diberi pemahaman kembali pada petani atau Subak Abian yang menjual biji tersebut.

Kedua merupakan proses sortasi. Sortasi ini bertujuan untuk menyamakan kualitas dan menghilangkan biji-biji yang rusak, pipih, terlalu kecil, dempet (menyatu), dan terbebas dari benda asing dalam artian non biji kakao. Isi label kembali asal biji dan tanggal barang masuk agar mempermudah dalam pengecekan dan penelusuran barang. Jika sudah tersortasi akan dimasukan ke gudang.

Ketiga yaitu proses pengiriman. Setiap karung yang akan di kirim akan di cek kembali kadar airnya, maksimal 6,5 persen. Pastikan asal biji jelas, barangnya dari Subak Abian mana agar mudah menelusuri. Kemudian timbang berat per karung. Tahap terakhir yaitu packing kembali dengan karung baru dan dijarit (dijahit) rapi serta setiap karungnya diberi label tanggal pengemasan dan nomer karung.

Melalui semua proses tersebut, anggota Koperasi KSS bisa menjamin kualitas kakaonya dan mendapatkan kepercayaan dari pembeli. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan bagian dari Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

The post Koperasi KSS Pembangkit Kakao di Bumi Makepung appeared first on BaleBengong.

Satu Cara dan Selembar Kertas Membawa Sejuta Dolar

Ketua Koperasi KSS menunjukkan cokelat olahan anggota koperasi.

Oleh Luh Komang Desita Anggraeni

Suatu ketika tiba-tiba saya dipanggil ibu guru ke depan kelas. Saya kira mau diberikan uang. Eeeehh, ternyata saya disuruh untuk mengikuti suatau kegiatan bersama teman satu kelompok ekstrakulikuler jurnalistik di sekolah.

Awalnya saya merasa kurang yakin untuk mengikuti kegiatan itu. Karena, dari judulnya saja, kegiatan sudah kelihatan bergengsi sekali. Nama kegiatan tersebut Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) yang diadakan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) bersama Yayasan Kalimajari.

Setelah saya mencari tahu, ternyata benar bukan saya yang awalnya dipilih untuk mengikuti kegiatan tersebut tetapi teman lain. Karena dia sakit, akhirnya sayalah yang ditunjuk untuk menggantikanya. Karena alasan tersebut, saya pun mau dan mengiyakannya.

Terlalu Bersemangat

Awalnya saya diberitahukan untuk datang pada 2 Juni 2019 di SMKN 2 Negara. Datanglah saya dan teman ke sana. Kami berangkat pukul 06.00 WITA. Sesampainya di sana kami tidak melihat adanya kehidupan. Hanya ada keheningan dan kesunyian. Kami bingung bagaikan anak kehilangan induknya. Entah harus berbuat apa kami di sana.

Setelah menanti hampir tiga jam, kami memutuskan untuk menelepon ibu guru. Ternyata kami salah tanggal. “Ya ampuuuun…,” kami berteriak. Tanggal yang seharusnya itu 2 Juli 2019. Guru kami ternyata salah melihat jadwal. Maklum akibat faktor umur. Saking kesalnya kami memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing-masing. Tapi, ada enaknya juga dari kejadian ini, kami dapat bensin gratis.

Akhirnya pada tanggal sesuai jadwal, kami datang kembali ke SMKN 2 Negara. Tepat pukul 06.00 WITA kami sampai di lokasi. Kami datang sepagi itu karena saking semangatnya untuk mengikuti kegiatan ini. Sembari menunggu peserta lainnya, kami memutuskan untuk berkeliling sekolah.

Di sana kami bertemu seorang ibu yang sedang membersihkan salah satu ruangan. Kami bertanya kepada ibu itu. “Permisi, Ibu.. Mau tanya. Benar di sini tempat seleksi beasiswa AJS?” tanya Naning teman saya.

Si ibu menjawab, “Iya benar, Dik. Tunggu dulu ya ruangannya masih dibersihkan,” sahut ibu itu dengan tergesa-gesa.

Waktu berlalu. Tidak terasa kami sudah menunggu cukup lama di depan ruangan itu. Tapi, ternyata ruangan tersebut digunakan untuk pendaftaran siswa baru. Ibu itu mengira kami mau mendaftar di SMKN 2 Negara. Kami bertanya pada salah satu OSIS di sana. Dia menjawab sebenarnya ruangan seleksinya di dalam. Pas masuk kami melihat presentasi yang sedang ditanyangkan, kebetulan di presentasi itu ada foto kakek saya, Wayan Rata. Dari sanalah saya dikenal dengan, “Cucunya kakek Rata”.

Kami pun mengikuti kegiatan seleksi tersebut dengan baik. Bersaing dengan teman-teman dari sekolah lain jugayang memiliki bakat luar biasa. Dalam kegiatan itu kami menuliskan tentang dua tema yang telah diberikan panitia AJS.

Setelah menunggu cukup lama, sebulan setelah seleksi lomba dilakukan saya menerima telpon dari Auditya Sari atau Kakak Tya, selaku panitia AJS mengabarkan bahwa saya lolos ke tahap selanjutnya, 10 besar.

Kami para finalis diundang kembali mengikuti tiga hari penelitian kakao lestari Jembrana. Dari sepuluh besar kemudian diseleksi kembali mencari tiga besar sebagai pemenang untuk menerima beasiswa AJS.

Kurang Peka

Dari AJS inilah saya tahu hebatnya kakao Jembrana padahal saya sendiri berdampingan langsung dengan kakao. Kebetulan juga kakek saya seorang petani kakao asli Jembrana. Baru saya berpikir kenapa tidak dari dulu belajar tentang kakao. Padahal hasil bertani kakao lumayan menjanjikan, dengan proses fermentasi tentu saja.

Selama ini saya hanya membantu kakek memupuk kakao serta mengangkut air sebagai pelarut obat hama kakao serta memanen buah kakao. Itupun saya lakukan saat ada waktu luang.

Sebenarnya bukannya saya tidak berminat menangani kakao, tapi karena saking sibuknya harus sekolah full day sehingga tidak sempat untuk ikut membudidayakan kakao Jembrana. Saya hanya bisa membantu kegiatan-kegiatan ringan. Saya juga masih belum mengerti dan paham tentang cara membudidayakan kakao.

Berharga

Pada awal Agustus 2019, kami dikumpulkan kembali untuk mengikuti tiga hari pelatihan. Kali ini untuk lebih mendalami kakao Jembrana sekaligus menyeleksi finalis yang akan mendapatkan tiga terbaik dari yang terbaik.

Selama tiga hari pelatihan saya banyak sekali mendapatkan ilmu terutama tentang mengolah dari kakao sampai menjadi coklat siap makan (bean to bar). Selama pelatihan juga kami bisa lebih mengenal anggota peserta lain dan membangun tali persahabatan. Tawa riang kami rasakan semua selama pelatihan berlangsung dan lebih mengenal satu sama lain.

Pada hari pertama pelatihan kami diajarkan tentang proses fermentasi, penghasilan petani kakao dalam sebulan, budidaya kakao Jembrana dan banyak hal lain lagi.

Di hari kedua kami diajak berkunjung ke Cau Chocolate di Desa Cau, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Di sana kami belajar proses pengolahan kakao menjadi cokelat siap makan di mana kakao yang digunakan murni kakao Jembrana dan bersertifikat organik.

Tibalah saatnya kami para semifinalis untuk menulis apa yang didapat dari pelatihan tiga hari tersebut. Temanya sesuai yang kami dapatkan masing-masing. Tulisan itu digunakan sebagai bahan seleksi juga di hari ketiga.

Banyak hal kami dapatkan selama pelatihan ini. Misalnya informasi bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi yang memiliki harga jual tinggi. Hal ini merupakan hasil kerja keras Koperasi Kerta Samaya Samaniya (KS) bekerja sama dengan Kalimajari. Ini membuktikan bahwa kakao Jembrana mampu menembus pasar Internasional.

Bahkan Koperasi KSS memiliki tiga sertifikat yaitu UTZ, EU, dan Organic USDA. Ketiga sertifikat organik ini berguna untuk memenuhi kebutuhan kakao organik internasional, terutama Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini membuktikan bahwa walaupun bertempat di daerah terpencil, Jembrana memiliki sebuah komoditas yang menghasilkan banyak dolar dan memiliki nilai gizi untuk kesehatan. Kakao Jembrana telah membuktikan bahwa kami bisa dan mampu untuk melakukannya.

Saya sebagai generasi penerus bangsa yang tinggal di Jembrana bangga tinggal di sini. Saya ingin mengembangkan lebih banyak lagi perusahaan cokelat terutama di Jembrana dan lebih memperkenalkan lebih luas tentang betapa hebatnya kakao Jembrana.

Satu Kata Kunci

Agar kakao Jembrana bisa menembus pasar internasional ada satu kata kunci yang bisa kita gunakan yaitu “FERMENTASI”. Dari proses inilah kakao Jembrana sudah terkenal sampai ke dunia Internasional dan patut di perhitungkan untuk nilai jualnnya. Banyak pembeli dari luar negeri berdatangan untuk melihat, menjalin kerja sama, atau membeli kakao Jembrana. Mungkin mereka penasaran bagaimana kakao Jembrana bisa sehebat itu.

Para pembeli tersebut datang dari berbagai negara di seluruh dunia. Ada beberapa pembeli yang bekerja sama dengan Koperasi KSS, seperti Valrhona dari Perancis, Ubud Raw dari Gianyar, Cracacoa, Cau Cocolate dari Tabanan, dan Pod dari Badung.

Banyaknya pembeli kakao Jembrana membuktikan bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi dan mutu terjamin. Hal ini karena Koperasi KSS mampu memenuhi syarat-syarat yang diberikan pembeli sehingga pembeli pun percaya dan berani membeli biji kakao Jembrana. Sertifikat juga sebagai kunci utama untuk menarik pembeli dan sebagai pembuktian bahwa kakao Jembrana hebat setelah difermentasi.

Fermentasi. Apa sih fermentasi? Yang saya tahu, fermentasi adalah pematangan biji kakao supaya bagian dalam biji kakao ketika dijemur akan kering sempurna antara kulit dan daging dalam biji kakao.

Tujuan fermentasi adalah meningkatkan kualitas biji kakao, membangkitkan aroma khas biji kakao, serta mengurangi rasa pahit biji kakao. Dengan demikian saat pengolahan menjadi cokelat rasa pahit yang timbul tidak terlalau kuat. Sebab, rasa pahit biji kakao yang belum difermentasi akan membuat yang memakannya merasa mual. Tujuan lain fermentasi adalah mengurangi kadar air dari kakao tersebut.

Proses fermentasi dimulai dari biji basah setelah panen dilakukan. Fermentasi dilakukan selama 6-7 hari, tergantung ukuran biji kakao itu. Jika biji kakao berukuran sedang, proses fermentasi dilakukan 6 hari dengan pembalikan biji kakao 2 kali selama 2 hari dihitung setelah biji kakao sudah masuk ke kotak fermentasi. Sedangkan untuk biji kakao berukuran besar proses pembalikannya dilakukan 3 kali selama 2 hari dan bertambah waktu fermentasi menjadi 7 hari (1 minggu).

Proses pembalikan juga berbeda-beda. Jika ukuran kotak fermentasi itu 40 cm, pengadukan dilakukan sedalam 20 cm dari bibir kotak fermentasi. Kemudian yang mengalami proses pengadukan paling atas dipindahkan ke paling bawah. Kegiatan ini dilakukan agar biji kakao mengalami proses fermentasi secara lancar dan merata. Untuk membantu penghangatan dan membangkitkan aroma, setelah kotak fermentasi penuh terisi biji kakao ditambahkan daun pisang di kotak paling atas.

Saat melakukan fermentasi, pastikan kotoran dalam lubang-lubang di kotak dibersihkan terlebih dahulu. Tujuannya agar pada saat penyusutan atau air yang keluar dari biji kakao dapat mengalir lancar dan tidak tersendat di dalam kotak. Jika tidak dibersihkan dia bisa mengakibatkan air yang keluar akan tertampung di dalam kotak fermentasi. Proses fermentasi akan gagal dan dapat mempengaruhi kualitas dari biji kakao itu sendiri.

Pembersihan kotoran dari lubang kotak fermentasi sebaiknya tidak menggunakan deterjen ataupun pewangi lain. Cukup bersihkan dengan air. Membersihkan menggunakan pewangi akan mengakibatkan rasa, aroma, dan kualitas kakao tersebut menurun dan jamur akan berkembang biak nanti. Alat yang digunakan pun tidak sembarangan. Cukup dengan serabut kelapa saja kita sudah dapat membersihkan kotoran yang menempel pada kotak fermentasi.

Sesudah melakukan proses fermentasi biji kakaonya pasti akan kotor. Betul tidak? Pastinya! Pasti diri setiap orang menginginkan agar semua terlihat bersih. Seperti saya contohnya jika melihat biji kakao kotor, ada keinginan dalam hati saya untuk mencucinya supaya terlihat bersih.

Tapiiii, Kakak Pepeng, salah satu pegawai Koperasi KSS yang ahli fermentasi, menyarankan agar biji kakao yang kotor tidak usah dicuci. Hal ini karena akan mengakibatkan aroma biji kako tersebut menghilang dan tidak ada aroma yang timbul. Akibat lainnya, biji kakao akan rentan terkena jamur dalam yang akan mengakibatkan harga jual kakao menurun.

Malaikat Membantu

Para petani kakao Jembrana terutama di sekitar Melaya yang melakukan proses fermentasi biasanya menjual biji kakao mereka di Koperasi KSS. Kantor Koperasi KSS di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya. Lokasinya strategis dan mudah untuk dicari karena berada di pinggir jalan raya Gilimanuk – Denpasar, tepatnya di depan gedung olahraga Yowana Mandala.

Adanya Koperasi KSS membantu petani kakao dengan cara membeli kakao mereka dan langsung memasarakan kepada para pembeli. Sebelum ada Koperasi KSS, para petani kakao Jembrana membawa biji kakao mereka ke pedagang biasa. Itu pun tanpa proses fermentasi. Harga yang diberikan pun sangat rendah, berkisar Rp 25.000 sampai Rp 26.000 per kilogram sesuai dengan daerah masing-masing.

Para petani kakao kurang puas dengan hasil yang didapat karena biji kakao yang mereka jual tidak dapat menutupi biaya budidaya. Para petani mengeluh karena murahnya harga yang diberikan. Itu pun belum dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena itulah para petani kakao mau membawa hasil panen mereka ke Koperasi KSS karena koperasi mampu menjamin harga dan memenuhi keinginan para petani. Koperasi juga bisa memotivasi dan mengajak para petani melakukan proses fermentasi untuk meningkatan nilai jual biji kako.

Terkait harga yang diberikan pada anggota Koperasi KSS, biasanya para anggota akan rapat terlebih dahulu untuk menentukan harga. Dalam rapat, para anggota akan menyampaikan pendapat sampai mendapat kesepakatan bersama. Kesepakatan hasil rapat akan dijadikan sebagai harga tetap dan menjadi harga beli tertinggi (plafon) dalam membeli biji kakao dari petani.

Pada tahun 2019 harga jual kakao kering dan difermentasi yang sudah tersertifikasi UTZ akan dihargai Rp 36.000 per kg. Kakao organik kering dan sudah difermentasi seharga Rp 38.000 per kg sedangkan basah organik dibeli Rp 12.000 per kg. Adapun kakao basah non-organik Rp 11.000 per kg. Harga kakao dapat diturunkan sesuai kualitas.

Salah satu petani, I Wayan Rata, kurang setuju dengan harga yang diberikan Koperasi KSS karena proses fermentasi dan perawatan menghabiskan cukup banyak biaya. Harga tersebut belum dapat menyeimbangkan antara pengeluaran perawatan si kakao dan pemasukannya.

Koperasi KSS membantu para petani untuk meningkatkan dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Membantu perekonomian petani yang hanya bergantung dari hasil kebun mereka. Koperasi mau memberikan harga tinggi untuk biji kako berkualitas dan menggunakan pupuk organik. Petani yang mau melakukan fermentasi dan saran-saran dari Koperasi KSS pasti akan mendapatkan harga yang layak.

Koperasi KSS bekerja sama dengan Yayasan Kalimajari memberi inovasi untuk melakukan suatu proses yaitu fermentasi. Awalnya petani tidak mau melakukan fermentasi karena kata petani hanya berpikir instan. Tidak mudah bagi Koperasi KSS untuk mengajak para petani agar mau melakukan fermentasi, tetapi dengan seiringnya waktu para petani mau melakukan fermentasi.

Para petani yang mau melakukan proses fermentasi pun sekarang perekenomian mereka agak meningkat dan terbantu dengan adanya Koperasi KSS.

Sejuta Harapan

Adalah selembar kertas yang mampu membawa para pembeli luar negeri berdatangan untuk membeli kakao Jembrana. Kertas itu adalah sebuah gambaran dan pembuktian bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi.

Seperti kata I Gusti Agung Widiastuti, Direktur Kalimajari, banyak sekali biji kakao di Indonesia dan seluruh dunia, akan tetapi orang tidak akan peduli kakaonya ini dari mana. Mereka hanya melihat kualitas dari biji kakao tersebut. Para pembeli pun bertanya-tanya, “Apa yang Anda miliki sehingga percaya diri sekali?”. Sertifikasi inilah yang membuktikan dan meyakinkan pembeli bahwa kakao Jembrana ini memiliki kualitas tinggi.

Lembaran kertas itu adalah sertifikat UTZ, Organic USDA, dan Organic EU. Di balik kertas ini terlihat bagaimana perjalanan dan proses dari biji kakao sekaligus membuktikan kepada pembeli dari mana asalnya dan bagaimana pengelolaan dari kebun hingga koperasi. Sertifikasi ini juga membuktikan bahwa makanan yang dimakan kakao ini memang dari bahan organik tanpa tercampur dengan bahan kimia (pestisida). Sertifikat seolah berbicara kepada orang sehingga orang baru itu tertarik. Dari sertifikasi inilah pembeli dapat memilih kriteria seperti apa yang mereka inginkan. Dengan sertifikat ini pembeli bisa menilai bahwa kakao Koperasi KSS sudah lolos kriteria yang mereka inginkan.

Hebatnya lagi, pemilik sertifikat ini adalah koperasi itu sendiri. Bukan di pembeli, seperti halnya terjadi di Sulawesi. Ini menunjukkan perbedaannya. Kalau sertifikasi berada di tangan pembeli, maka petani bekerja hanya untuk kepentingan mereka, sedangkan jika di tangan koperasi, maka koperasilah yang menyejahterakan para petani kakao.

Meskipun demikian, adanya sertifikasi juga menambah tanggung jawab Koperasi KSS untuk bisa mempertahankannya. Ini bukan perkara mudah. Di dalam sertifikasi terdapat informasi bagaimana caranya agar dapat melanjutkan sertifikasi tersebut, baik dari sisi kualitas ataupun tanggung jawab terhadap seluruh mekanisme sertifikat. Tanggung jawab tersebut ada di level koperasi maupun petani.

Untuk tetap mempertahankan sertifikasi itu, Koperasi harus bisa membuktikan bahwa mereka tetap mampu memenuhi kriteria yang diminta dari waktu ke waktu. Pihak pembeli akan membuktikan sendiri apakah kakao Jembrana memang organik atau tidak. Caranya antara lain dengan menguji sampel biji, daun, batang, dan dicampur dengan bahan lainnya kemudian dikirim ke laboratorium di Belanda.

“Kenapa di Belanda? Karena laboratoriumnya independen. Ketika laboratorium di Belanda mengatakan lolos, barulah Koperasi KSS bisa mendapat sertifikat tersebut,” kata Bu Agung.

Bu Agung menambahkan tidak mudah untuk mendapatkan sertifikat ini. Banyak hambatan, seperti kurangnya pola pikir petani, mahalnya dana sertifikasi, dan belum optimalnya sosialisasi.

Koperasi KSS juga memiliki sertifikasi UTZ dari Belanda. UTZ berbicara soal produk-produk yang dihasilkan secara berkelanjutan, berbicara tentang stabilitas serta akuntabilitas, sosial dan ekonomi bahwa biji kakao yang dihasilkan bukan dari hutan lindung.

Jadi, dengan adanya sertifikasi tersebut Koperasi sudah bisa berjualan berdasarkan standar organik yang benar. Tidak hanya sertifikat abal-abal. Koperasi akan menjual barangnya kepada pembeli yang juga punya sertifikat sama. Koperasi KSS akan mengeluarkan satu surat bernama transaction certificate (TC) yang hanya boleh dikeluarkan apabila produsen telah sah memiliki sertifikat organik. Itu pun hanya untuk pembeli tertentu.

Sertifikat yang dimiliki Koperasi Koperasi KSS tidak bisa dicabut oleh orang lain, karena sertifikat tersebut sudah dipatenkan. Kecuali sertifikat ini dipegang oleh pembeli baru bisa dicabut. Kecuali Koperasi KSS membuat kesalahan pada waktu perpanjangan sertifikat dan saat itu melakukan transaksi jual beli, tetapi tidak bisa dicabut juga.

Sedikit Saja

Dengan semua hal yang tidak mudah untuk dilalui ini, petani kakao Jembrana tetap semangat dan semakin maju.

Harapan saya sebagai generasi penerus pertanian di Jembrana, semoga semakin banyak pembeli yang datang ke Jembrana untuk menjalin kerja sama agar dapat meningkatkan perekonomian para petani.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita mau berusaha dan sungguh-sungguh melakukannya, seperti halnya petani di Jembrana. Kunci menuju sukses adalah rajin, tekun, kreatif, dan displin.

Berakit-berakit kita kehulu, berenang-renang kita ketepian. Bersakit- sakit kita dahulu, bersenang-senang kita kemudian. Berjuanglah kita dahulu, merasakan sakit, sedih, nanti hasilnya akan memuaskan hati dan kemudian baru merasakan senang dan beruntung. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan karya favorit dalam Anugerah Jurnalisme Warga (AJS) 2019 yang diadakan Yayasan Kalimajari dengan Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

The post Satu Cara dan Selembar Kertas Membawa Sejuta Dolar appeared first on BaleBengong.