Tag Archives: Berita Utama

Pentingnya OOPS4YOUTH Bagi Remaja

Sahabat KISARA, mayoritas orang di Indonesia apabila mendengar kata Posyandu kerap kali diidentikkan dengan ibu-ibu atau mungkin bayi. Padahal, saat ini di Indonesia terdapat Posyandu Remaja. Posyandu Remaja atau Pos Pelayanan Terpadu Remaja adalah sebuah wadah Pos kesehatan Remaja yang memfasilitasi dalam memahami seluk-beluk remaja selama masa puber yang ditujukan kepada siswa dan remaja pada...

Bali Menggugah, Kini Harus Tabah

Ilustrasi bersih-bersih sampah. Foto Greenpeace Indonesia.

Bali yang tabah. Bali yang dulu menggugah, kini harus tabah.

Sebutan pulau Seribu Pura, surga dunia, lambat laun berubah dengan sebutan yang mengelus dada. Pulau sampah, surge sampah, bahkan yang paling menakutkan kenyataan bahwa Bali akan atau menuju sebutan pulau plastik. Sebutan yang tidak main-main.

Jika di Korea sana, banyak orang ingin operasi plastik demi mempercantik diri, Bali justru kebalikannya. Sampah plastik yang tak bertuan membuat Bali kian memprihatinkan.

Pantai, sungai, bahkan parit mengabadikan setiap detik bagaimana sampah memenuhi semuanya. Sampah yang sengaja dibuang tuannya, sampah yang sengaja ditimbun, hingga tumpukan sampah plastik yang tak berkesudahan membuat banyak orang akhirnya menyerah. Pernah ditemukan sampah kemasan mie instan yang diproduksi 10 tahun silam masih utuh dan mengambang di lautan.

Bisa dibayangkan, bagaimana kokohnya sampah plastik itu meracuni lautan, sumber air, juga lingkungan di Bali?

Jika dahulu Bali dikenal dengan pantai yang airnya, pasirnya, aromanya, berbisik merdu. Kini, banyak yang mengeluh justru bisikan itu lagi-lagi soal sampah plastik yang mengotori pantai, sungai, tempat wisata, serta seluk beluk Bali.

Dari data Dinas Lingkungan Hidup, jumlah timbulan (volume sampah atau berat sampah yang dihasilkan)di Bali terus meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2015 timbulan sampah di Bali mencapai 10.266,40 meter kubik tiap harinya. Untuk tahun 2016 meningkat menjadi 12.892 meter kubik. Tahun 2017 timbulan sampah menjadi 13.351,13 meter kubik per hari.

Kota Denpasar menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah di Bali. Dengan jumlah penduduk mencapai 880.600 jiwa, timbulan sampah yang dihasilkan Denpasar mencapai 3.719 meter kubik per hari. Klungkung menempati posisi kedua dengan timbunan sampah mencapai 2.893 meter kubik per hari.

Menyusul Buleleng dengan 1.923 meter kubik. Lalu Gianyar dengan 1.498 meter kubik, Jembrana 1.005 meter kubik, Tabanan 866 meter kubik, Badung 723 meter kubik, Bangli 559 meter kubik, dan terakhir Karangasem dengan 162 meter kubik per hari.

Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik ke laut kedua terbesar di dunia setelah Tiongkok. Mengapa lantas kita berlomba-lomba menjadi pemenang dalam kategori mengecewakan?

Indonesia, khususnya Bali harus berbenah. Harus ada bukti nyata bagi anak cucu kita nanti bahwa Bali bukan pulau plastik, surga sampah. Bali, ya, Bali yang hijau, asri, indah, pulau surga senyatanya.

Di antara banyak orang yang pasrah dan menyerah, ada orang-orang peduli yang bergerak. Langkah sederhana dari desa untuk dapat mengurangi sampah plastik dan membantu pemerintah dalam menjalankan program Bali bebas sampah plastik. Kisah sekelompok warga yang peduli dan menamai diri Pego.

Sejumlah warga di Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, membangun komunitas yang gencar memburu sampah plastik.

Komunitas yang menamakan diri Peliatan Ngogo, ini berburu sampah plastik di kawasan suci seperti pura hingga kuburan. Upaya ini diharapkan dapat mengilhami masyarkat luas, untuk tidak memanfaatkan sampah plastik saat ke pura. Langkah kecil yang berarti bagi desa Peliatan.

Tidak hanya kalangan muda, aparatur desa hingga tokoh masyarakat setempat pun ikut ambil bagian. Gerakan ini diharapkan semakin meluas dan terpenting mentradisi di masing-masing rumah tangga. Sebab, jika sampah rumah tangga sudah beres, tak ada persoalan sampah kota, sampah provinsi, apalagi sampah negara.

Komunitas Pego ini adalah wadah bagi warga Desa Peliatan, khususnya anak muda untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Sekaligus sebagai solusi masalah kepedulian sosial. Dalam sepuluh tahun terakhir kondisi sungai di desa setempat cukup memprihatinkan. Selain limbah cair rumah tangga, juga bercampur limbah padat, yakni sampah plastik.

Mudah-mudahan dengan gerakan warga ini dapat menumbuhkan budaya malu kepada mereka yang selama ini membuang limbah ke sungai, begitu peringatan sang komando komunitas Desa Peliatan ini.

Bendesa Pakraman Peliatan, I Ketut Sandi mengakui, tidak hanya di perkotaan, kondisi air sungai di Peliatan juga mulai memprihatinkan. Kondisi ini juga yang mambuat krama setempat bergerak dengan aksi telusur sungainya. Mereka rutin dan menargetkan sungai yang mengalir di desa setempat kembali lestari.

Setelah sungai, Pego juga memastikan kawasan suci agar steril plastik. Bahkan mereka sudah mengeluarkan aturan untuk kalangan desa agar kegiatan persembahyangan hingga nunas Tirta dilarang menggunakan kantong plastik.

Alhasil beberapa bulan terakhir cukup efektif menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Buktinya, Pego yang didominasi oleh anak-anak muda ini dijadikan wadah berkreasi untuk kelestarian lingkungan. Komunitas ini juga dijadikan media informasi bagi pemuda terkait isu lingkungan, mengedukasi warga untuk peduli terhadap lingkungan dan utamanya melakukan aksi nyata demi penyelamatan lingkungan hidup.

Salah satu gerakan anak muda desa yang bisa menginspirasi desa lainnya untuk dapat mengurangi timbunan sampah plastik di Bali. Tentu, kabar baiknya, banyak pula warga desa yang secara sadar telah melakukan gerakan-gerakan serupa untuk membantu mengurangi plastik di lingkungannya masing-masing.

Mari kita gemakan gerakan positif ini agar tak berhenti di satu desa saja. Melainkan makin mewabah dan memberangus plastik dengan sendirinya.

Dua pejabat di Bali, Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan Gubernur Bali Wayan Koster mulai 2019 pun tampak serius dalam “menyelamatkan” Bali. Aturan pengurangan dan pelarangan menggunakan plastic seklai pakai telah berjalan dan semoga lekas menjadi budaya. Menyelamatkan Bali dari sampah plastik adalah gerakan ambisius yang tentu tidak bisa diwujudkan sendiri.

Seperti Pego di desa Peliatan, siapapun bisa bergerak. Mari lakukan. [b]

The post Bali Menggugah, Kini Harus Tabah appeared first on BaleBengong.

I Made Suatjana, Penemu Font Bali Simbar dan Peramu Kalender Bali

I Made Suatjana saat menerima penghargaan dari Gubernur Bali Februari 2019 lalu.

Insinyur ini menggunakan teknologi untuk melestarikan aksara dan kalender Bali.

Amat menarik menelusuri profil budayawan I Made Suatjana. Dialah pembuat kalender Bali dan font aksara Bali Simbar. Keduanya produk teknologi ini telah menjadi bagian dari “harta nasional” bagi rakyat Bali.

Melalui font aksara Bali Simbar, rakyat Bali dan dunia secara umum dapat menulis aksara Bali secara digital. Di dunia yang kini serba canggih, budaya Bali dapat dikatakan tetap bertahan dan beradaptasi mengikuti medium perkembangan zaman.

Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali pada dewasa ini menjadi perhatian para warga Bali. I Wayan Koster selaku Gubernur menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Melalui Perda itu bahasa, aksara, dan sastra Bali sepatutnya dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Kebijakan ini sebagai bentuk perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan potensi bahasa, aksara, dan sastra Bali. Sebagai penegas perda tersebut lahirlah Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 80 Tahun 2018. Pergub ini antara lain mengatur adanya Bulan Bahasa Bali yang akan rutin dilaksanakan pada Februari setiap tahun.

Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali pertama kali diadakan pada Februari tahun ini. Ada seminar, pameran, perlombaan, serta penghargaan kepada masyarakat umum atau warga Bali yang turut berpartisipasi mengajegan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Panerima Anugerah

I Made Suatjana merupakan salah satu penerima Anugerah Bali Kerthi Nugraha Mahotama. Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi dalam mengembangkan aksara Bali dalam bentuk font Bali Simbar.

Patut dicermati, aksara Bali termasuk salah satu dari sedikit aksara di Indonesia yang telah didigitalisasi. Beberapa aksara yang bisa diunduh dengan bebas di Internet seperti aksara Batak Karo, Batak Mandaling, Batak Pakpak, Batak Simalung, Batak Toba, Incoung Kerinci, Lampung, Sunda, Jawa, dan Bugis.

Font Bali Simbar merupakan salah satu variasi program font yang menampilkan aksara Bali. Melalui program ini, huruf latin alfabet dapat dialihaksarakan menjadi aksara bali. Kini, font ini sangat berguna menjaga budaya Bali di dunia digital.

Sumbangan ini tak hanya sebagai inventarisasi budaya tetapi juga pengenalan Bali di aksara dunia. Orang-orang dari belahan dunia lain dapat mengakses dengan mudah font hasil karya I Made Suatjana ini. Bahkan font ini telah menjadi salah satu bentuk perlombaan untuk alih aksara di pendidikan tingkat SMP di Denpasar dan Badung.

Otak-atik Komputer

Lantas siapa I Made Suatjana ini? Bagaimana font ini bisa lahir dari tangan beliau?

I Made Suatjana merupakan warga Bali kelahiran Gadungan, Tabanan pada 14 Mei 1947. Pria yang kini menetap di Denpasar ini memiliki latar belakang pendidikan insiyur dan senang untuk mengutak-atik komputer.

Pada awal 1980an, Suatjana sudah meyakini komputer akan menggeser hal-hal yang dianggap konvensional. Saat itu komputer masih terbilang baru untuk Bali. Namun, Suatjana telah bercita-cita menjadikan komputer sebagai medium untuk melestarikan budaya Bali. Melalui kegemaranya tersebut, pada 1983, dia pun mulai mewujudkan idenya untuk memindahkan aksara Bali ke dalam program komputer.

Berbekal komputer berbasis DOS, Suatjana mencoba merangkai titik-titik hingga membentuk gambar dan pola seperti aksara Bali. Melalui Chiwriter, program berisi aneka simbol yang lazim digunakan untuk simbol matematika, kimia, dan fisika, aksara Bali memiliki peluang untuk diadaptasi dalam dunia digital.

Pada 1995 font aksara Bali bernama Bali Simbar pun rangkum dibuat.

Namun, prototipe ini belum sempurna seperti yang kini dapat diunduh dengan bebas dan gratis di internet. Perlu penyempurnaan dan koreksi tata letak dan bahasa. Sebab, aksara Bali memiliki pakem berbeda dengan huruf alfabet.

Setahun kemudian, dengan bantuan Yayasan Dwijendra, font Aksara Bali Simbar Dwijendra layak dipergunakan secara luas. Font ini dapat mendeteksi rupa aksara dan memperbaiki tata letak aksara agar sesuai dengan pakem.

Tidak hanya sampai penyempurnaan aksara. Pada awal 2000-an, teman Suatjana menyarankannya untuk mematenkan program itu ke Unicode. Ini adalah standardisasi komputasi dunia untuk teks dikoordinir Unicode Consortium yang berpusat di Amerika Serikat.

Akhirnya, pada 2006 font aksara Bali Simbar Dwijendra diakui dan dibakukan secara internasional. Bahkan, pada 2009, font Aksara Bali Simbar Dwijendra sudah dilengkapi dengan sistem perintah koreksi yang jika diaktifkan maka akan ada hasil koreksinya.

Kini, cita-cita Suatjana sudah tercapai. Gagasan tentang melestarikan budaya bangsa dengan memadukan teknologi sebagai media telah mendapat apresiasi dari semua kalangan.

Ini terbukti dengan diberikannya berbagai penghargaan dari pemerintah sebagai bentuk nyata apresiasi, termasuk Anugerah Bali Kerthi Nugraha Mahotama dari pemerintah Provinsi Bali.

Kalender Bali

Karya lain I Made Suatjana adalah kalender Bali yang kini memasuki tahun keempat. Kalender Bali cukup terbilang unik dari kalender lain pada umumnya. Kalender umum hanya menjabarkan tanggal dan keterangan hari-hari besar nasional. Adapun kalender Bali sedikit rumit dengan penjabaran hari-hari upacara keagamaan Bali yang terbilang banyak. Setiap harinya memiliki penjelasan tentang baik buruknya hari.

Ada hal mendasar yang membedakan kalender Masehi dengan kalender Bali. Kalender Masehi hanya menggunkan perhitungan matahari. Adapun kalender Bali menggunkan perhitungan bulan, matahari, dan kearifan lokal.

Kalender Bali menjabarkan lebih rinci fenomena pertanggalan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Bali yang terbilang kompleks. Di dalamnya termasuk mengenai hari baik maupun hari buruk untuk melakukan upacara agama.

Serupa alasan menekuni aksara Bali, penanggalan Bali menarik perhatian Suatjana untuk lebih mendalami warisan budaya leluhur yang adiluhung ini. Berbekal rasa ingin tahu dan lingkaran pertemanan Suatjana, dia pun mencari dan mengikuti perkembangan pertanggalan Bali.

Semula, pengetahuan ini hanya untuk konsumsi pribadi. Namun, lambat laun, Suatjana merasa perlu menyebarluaskan pengetahuan ini agar tidak terputus dan punah.

Kalender hasil karya Suatjana secara umum sama dengan kalender Bali terbitan ahli sebelum beliau. Sebut saja kalender Bali karya Bambang Gde Rawi, legenda dunia perkalenderan Bali. Atau kalender I Wayan Gina, kalender dari Kanwil agama Hindu maupun kalender perpustakaan Gedong Kirtya.

Namun, terdapat pojok menarik di setiap lembaran kalender yang memuat informasi tentang pengetahuan kalender dan budaya Bali. Seperti ditampilkan pada edisi 2019, ada informasi tentang sejarah pertanggalan India.

Kebutuhan Pokok

Kalender bagi rakyat Bali khususnya menjadi kebutuhan pokok dalam menjalanan aktivitas budaya. Adanya hari dan bulan untuk menikah, kematian, membangun rumah, membuat kegiatan, dan masih banyak lagi tentu bertolak dari hari apa yang baik.

Bahkan sempat karena kalender yang berbeda, ada kejadian yang mempengaruhi praktik budaya dan menunda acara berlansung.

Tidak semua hari layak untuk sesuatu hal meski pada dunia globalisasi hari ini, semua hari adalah sama dan tak berpengaruh namun budaya Bali menolak itu!

Tidak semua hari layak untuk segala hal. Meski pada era globalisasi hari ini, semua hari adalah sama dan tak berpengaruh. Namun, budaya Bali menolak itu!

Apa yang dilakukan I Made Suatjana sebenarnya bukanlah hal baru. Mengingat banyak warga Bali mungkin juga memiliki pengetahuan lebih yang harusnya disebarluaskan kepada warga Bali lainnya. Namun, Suatjana hadir dan berani untuk memberikan persembahan nyata dengan keseriusannya.

Aksara Bali Simbar dan kalender Bali bukan produk instan. Ada proses yang selalu menuntut keseriusan dan pengorbanan. Namun, proses tidak selalu menghianati hasil. Hasil yang dipanen seperti menanam pohon jati menunggu puluhan tahun untuk menikmatinya.

Tantangan warga Bali hari ini adalah arus globalisasi dunia yang deras menuju Bali. Budaya sebagai salah satu benteng haruslah dijaga dan dikembangkan agar tidak tergerus. Warga Bali memiliki potensi tersebut!

Melalui fasilitas pemerintah, dorongan-dorongan dari atas menuju bawah (up to bottom) harus sesuai porsinya. Inisiatif dari bawah ke atas (bottom to up) juga harus gencar diwacanakan. Tinggal bagaimana keberlanjutannya untuk warga Bali, rakyat Bali, dan budaya Bali.

Agar benang budaya yang coba diteruskan oleh I Made Suatjana dapat dilestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk menjaga Bali. Bisa saja di lain hari, warga Bali lainnya menjadi Suatjana kedua, ketiga, dan seterusnya dalam cerita membangun Bali. [b]

The post I Made Suatjana, Penemu Font Bali Simbar dan Peramu Kalender Bali appeared first on BaleBengong.

Di TBK Semua Orang Dihargai Sesuai Martabatnya


Perayaan lima tahun Taman Baca Kesiman oleh pasangan pendiri TBK, Agung Alit dan Hani Duarsa. Foto Baskara Putra.

Taman Baca Kesiman (TBK) berusia lima tahun.

Saya mengikuti berbagai kegiatan di sana dari jauh. Dan, saya ikut bergembira bersama kawan-kawan di sana. Terutama karena TBK sudah memberikan suatu ruang publik di Denpasar. Lebih menggembirakan karena anak-anak muda dan remaja semakin banyak berkunjung.

Tujuan utama TBK ini adalah kegiatan literasi. Perpustakaan menjadi inti. Dari sana, saya kira, pendiri dan pengurusnya ingin agar mereka yang datang membangun ‘discourse’ dan bertanya. Dan dari kegiatan literasi itu bisa muncul banyak kegiatan lain.

Kalau Anda pernah ke sana, Anda akan mendapati berbagai kegiatan. Ada anak berlatih teater. Ada yang membaca (ada perpustakaan dengan ribuan buku dan ruang baca ber-AC yang nyaman). Ada yang latihan musik. Ada yang bertemu untuk sekadar mengobrol. Ada pula yang sekadar melamun. Atau pacaran. Tidak apa-apa.

Siapa saja boleh masuk. Anda tidak perlu terbengong jika menemukan kawan bercadar di sana. Saya senang melihat semua kawan dari berbagai latar belakang merasa nyaman disana.

Kali yang lain, kawan-kawan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) bicara dalam diskusi. Perempuan-perempuan yang menjadi orang tua tunggal juga membicarakan aneka tantangan hidupnya. Kawan yang penyandang disabilitas juga mendapat ruang.

Tentu tidak semua isinya adalah kaum pinggiran. Kadang TBK juga kedatangan para musisi selebriti. Pada saat ulang tahun kemarin, JRX dari Superman Is Dead (SID) yang juga Menteri Urusan Berantem dalam Kabinet Suhardi-Aldo (Dildo), berbicara tentang buku yang dibacanya. Apakah Anda kaget ketika JRX menguraikan isi novel 1984 dari George Orwell dan kemudian menyinggung “How The World Works” dari Noam Chomsky?

Musisi dari group Nostress, pujaan anak-anak muda di Bali dan semakin dikenal di tingkat nasional, juga seringkali nongol di TBK. Juga beberapa seniman menjadikan tempat ini sebagai tempat berkumpul. Kadang hanya mengobrol. Kadang juga mengasah gagasan dan proses kreatif.

Kita membutuhkan ruang seperti ini karena pemerintah kita tidak menyediakan taman kota.

Diskusi buku bersama Mami Sisca dan Jerinx SID di Pesta Baca. Foto Baskara Putra.

TBK menyediakan ruang untuk pergi dari keseharian. Kalau Anda berminat berkebun, di depan ada kebun organik. Saya kira, Anda hanya perlu berkoordinasi dengan pengurus TBK untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.

TBK juga menyediakan kantin kecil. Di samping untuk melayani kenyamanan mereka yang datang, kantin ini menyumbang sebagian pengeluaran untuk mengelola TBK.

Saya kira, TBK akan mampu menjadi tempat menyenangkan karena semua orang dihargai sesuai dengan martabatnya, dan semua orang menyumbang sesuai bakatnya.

Taman seperti ini, menurut saya, harus ada di banyak kota. Sekalipun sekarang kita sangat mudah memperoleh bacaan, itu semua tidak ada hubungannya dengan daya literasi masyarakat kita.

Saya tahu, beberapa teman sudah mulai mengorganisir kegiatan literasi ini. Di Jakarta, Cholil Mahmud dan Irma Hidayana serta beberapa kawan musisi Efek Rumah Kaca (ERK) membentuk “Kios Ojo Keos.” Di Surabaya, ada perpustakaan CO2. Di Batang, Jawa Tengah, Mas Guru Herry Anggoro Djatmiko, mengorganisir kegiatan baca. Di Pekanbaru ada Ahlul Fadli dan Made Ali yang membuka kafe dengan bacaan. Di Jayapura, saya kira, Ibiroma Wamla sedang membangun kumpulan pustaka tentang Papua.

Tentu, impian saya, di suatu hari, semua kawan yang saya sebut di atas, dan juga kawan-kawan di berbagai kota bisa saling berjumpa. Saling membantu dan saling membangun.

Yang bagus dari semua ini adalah bahwa TBK sama sekali tidak tergantung pada negara. Tidak tergantung dari pendanaan pemerintah. Tidak ada bantuan dari politisi mana pun. Juga tidak ada donor dari luar negeri.

TBK hadir karena bantuan pribadi. Tempat pun sesungguhnya adalah milik pribadi. Tentu ini satu kemewahan tersendiri. Namun, apapun itu, TBK menyediakan ruang untuk publik untuk siapa saja yang ingin mengembangkan kapasitas pribadinya. [b]

The post Di TBK Semua Orang Dihargai Sesuai Martabatnya appeared first on BaleBengong.

Memberi Suara pada Kartini di Balik Jeruji

Pertiwi menyuarakan Kartini di balik jeruji Lapas Perempuan Denpasar.

Foto Arsip Pertiwi

Lima ibu menggendong bayinya dengan erat di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Denpasar, Kerobokan, Kuta, Badung, Bali, Senin (22/4). Mereka menyampaikan semangatnya menjadi ibu di dalam penjara, merawat bayi-bayi berusia di bawah satu tahun bersama teman-temannya.

“Walau kami single parent di sini, tapi kami akan terus semangat merawat bayi ini,” seru salah seorang ibu yang berusia paling muda, kurang dari 20 tahun ini. Warga binaan perempuan diijinkan membawa bayi mereka sampai di bawah 2 tahun.

“Saya ingin menangis melihat mereka, walau tiap hari bersama. Kasihan, makanya saya selalu siap bantu mengasuh,” ujar Yani, sebut saja demikian, salah satu rekan mereka.

Menyemangati para perempuan-perempuan yang dipenjara sambil menyusui bayi mereka adalah misi Pertiwi, akronim dari Perempuan Tangguh Inspirasi Wahana Imbas Napza (Pertiwi). Sebuah perkumpulan di Bali yang dirintis 20 orang perempuan, mereka yang terdampak narkoba dan HIV/AIDS seperti pernah menjadi narapidana, pecandu, atau bersuamikan mantan pecandu. Kini sebagian bekerja sebagai konselor atau di lembaga rehabilitasi kecanduan narkotika.

Pertiwi melihat mereka adalah para Kartini di balik jeruji yang suara dan semangatnya perlu disebarluaskan. Kelima ibu mendapat sumbangan paket besar berisi sanitasi dan nutrisi tambahan seperti popok dan susu. Sisanya, 15 warga binaan perempuan mendapat sebuah tas berisi paket lebih kecil juga berisi sarana sanitasi seperti sabun dan pembalut.

“Saya mengajak bayi di penjara karena masih menyusui. Biar tidak memberatkan keluarga juga,” seorang ibu tersenyum. Ia ditangkap karena mengonsumsi sabu-sabu. Bayi laki-lakinya berusia 2 bulan, lahir di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Sang ibu sudah tak sabar menunggu usainya masa pidana sekitar 3 bulan lagi.

Ada sejumlah ibu warga binaan Lapas lain yang memilih menitipkan anaknya di luar penjara. Misalnya Ratna, sebut saja demikian. Ibu muda ini akan keluar jelang akhir tahun ini. Ia mengandung dalam penjara dan bayi laki-lakinya lahir prematur sekitar 8 bulan. “Anak saya kecil sekali 2,1 kg. Harus diinkubator sebulan di rumah sakit,” kisahnya.

Setelah itu, Ia sempat mengajak bayi yang dinamainya Miracle di penjara sekitar 3 hari. Namun kondisi kesehatannya memburuk dan kembali dirawat di RS. “Saya melihat keajaiban sang bayi bisa sehat dan kini sehat montok diasuh di yayasan,” ia berbinar. Sang ibu ini berterima kasih ada yayasan yang mau mengasuh Miracle menunggu kepulangannya nanti.

Foto Luh De Suriyani

Dalam pertemuan dengan 20 warga binaan ini, relawan Pertiwi juga membagi pengalamannya tentang kesehatan reproduksi dan seksual. Istina Dewi, pendidik sebaya dari Pertiwi mengajak mengidentifikasi mana organ reproduksi dan seksual serta cara merawat.

Tawa menggema tiap kali diskusi mengarah pada persoalan intim seperti rambut kelamin, klitoris, dan rangsangan seksual. Seorang warga binaan mengisahkan pengalamannya disunat saat masih anak-anak. “Katanya untuk mengurangi nafsu seks, tapi malah menggila,” sebutnya disambut gelak tawa temannya.

Istina Dewi menyebut sunat perempuan sebagai bentuk kekerasan pada perempuan, alih-alih mengendalikan nafsu seksual. Diskusi juga berlanjut ke penyakit-penyakit yang menyertai organ reproduksi dan seksual. “Leher rahim adalah bagian yang rentan, banyak yang terkena kanker serviks,” ingat Istina Dewi.

Koordinator Pertiwi, Yayuk Fatmawati mengatakan kesehatan dan kebersihan menjadi salah satu tantangan dari situasi over kapasitas di dalam lapas. Di Lapas Perempuan ini, satu kamar dihuni sekitar 20 orang warga binaan. Per 22 April ini jumlah penghuni LPP sebanyak 236 warga binaan, dan 85% merupakan kasus narkoba dengan 15 di antaranya warga asing.

Kegiatan yang dirancang menyambut Kartini awalnya swadaya, sampai akhirnya mendapat donasi untuk pembelian paket sumbangan dari sejumlah pihak seperti Bali International Women’s Association (BIWA), Yayasan Bali Mercusuar, Pertiwi Bali, dan donatur individual serta dukungan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali dalam bentuk brosur informasi HIV.

Pertiwi didirikan karena menurutnya perempuan yang menghadapi adiksi lebih percaya teman sebaya dengan latar belakang sama daripada konselor.

Yayuk mengapresiasi Lilly, kepala LPP Kelas II A Denpasar karena memberi ruang pada kegiatan dukungan sebaya ini. Dalam pertemuan ini, Sukiati, Kasi Pembinaan LPP terlibat dengan ikut membantu menggendong sejumlah bayi yang menangis agar ibunya bisa mengikuti diskusi. “Minggu ini kelima bayi akan kami bawa ke Puskesmas terdekat untuk mendapat imunisasi,” urai perempuan tengah baya petugas LPP ini. Belum ada dokter khusus di dalam LPP, hanya kunjungan tiap pekan dari tim medis Dinas Kesehatan atau Puskesmas.

Sebelumnya Pertiwi mengampanyekan Indonesia Tanpa Stigma idengan menari bersama warga dalam Bali Zumba. Mereka berkolaborasi dengan sejumlah LSM penanggulangan HIV/AIDS dan narkoba di Bali, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Bangli, dan sejumlah lembaga sosial lainnya mengampanyekan akses rehabilitasi untuk perempuan.

Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bali, total pengakses fasilitas rehabilitasi pada 2017 sebanyak 796, di antaranya 115 orang perempuan. Sementara pada 2018 sebanyak 316 orang, termasuk perempuan hanya 45 orang. Namun masih banyak yang belum terakses karena sejumlah hambatan.

The post Memberi Suara pada Kartini di Balik Jeruji appeared first on BaleBengong.