Tag Archives: Berita Utama

Soundrenaline 2017, Pesta Musik dan Wisata Baru

Soundrenaline 2017 awalnya hanya sebatas kemungkinan.

Keputusan untuk akhirnya mendatangi even yang digadang-gadang sebagai festival musik terbesar dalam tingkat nasional Indonesia ini pun baru tercetus di H-1. Kali ini yang menguatkan keinginan saya adalah menonton Float dan Homogenic.

Float tampil untuk pertama kali di Bali sekaligus membuka Soundrenaline hari pertama. Homogenic di hari kedua. Sesungguhnya menonton Float secara langsung bukan sesuatu yang baru bagi saya. Tidak bisa dikatakan sering juga, mungkin ini kali kelima saya menonton mereka secara langsung.

Menonton Float dengan masa teramai pun ternyata saya alami tahun lalu di Folk Music Festival (FMF) Malang. Lalu bagaimana di Soundrenaline?

Suasana area amphiteater atau yang dinamai Refine Slim Stage selama dua hari perhelatan Soundrenaline 2017 cukup ramai dan terus bertambah hingga pengujung penampilan mereka. Namun, tidak penuh sesak seperti saat saya menonton mereka di Malang.

Bisa jadi karena Float hadir di jam awal, 16.00 Wita, bersamaan dengan Efek Rumah Kaca yang tampil di Burst Stage. Tampil di panggung amphiteater dengan, dua gitar, bass dan drum menjadi set sederhana band yang digadang-gadang sebagai raksasa folknya Indonesia.

Total 10 lagu yang mereka bawakan. Lagu-lagu dari soundtrack film 3 Hari Untuk Selamanya, album “10”, hingga single paling baru mereka Keruh (2016) Indah Hari Ini (I.H.I) menjadi penutup band yang sudah 13 tahun malang melintang di industri musik indie tanah air pun berhasil mengobati rindu. Saya dan seisi amphiteater semakin kompak bernyanyi bersama Meng pada lagu Pulang.

Namun, perlu diakui bahwa repertoar dari band yang kini hadir dengan formasi baru, setelah Bontel hengkang yang kemudian disusul oleh Raymond, Float Reborn, begitu mereka menyebutnya pun masih menampilkan lagu-lagu lama. Memang kerap menjadi pertanyaan apa yang menjadi materi band yang kini diperkuat Timur Segara, Binsar H. Tobing dan David Lintang, menemani vokal dan gitar Meng. Apalagi tahun ini sudah menjadi tahun ke-13 bagi Float.

Hingga ada celetukan, “Benar-benar lewat sudah nih 3 Hari untuk Selamanya…”

Is “Payung Teduh” sempat berseloroh bahwa musisi dan karyanya adalah sebuah KTP yang memiliki batas waktu berlaku. Karena itu, saat lewat masa berlaku dan tidak diperpanjang, maka bukan tidak mungkin kena razia. Semacam simbol eksistensi. Jika lewat dari batas tersebut maka tidak diakui, yang kemudian mau tak mau mendorong mereka kembali mengumbar janji akan kelahiran album anyar mereka di November mendatang.

Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, langsung pada Float juga. Tadinya.

Hingga kemudian, jadwal jumpa pers band ini batal. Dan pertanyaan tersebut kembali mengapung atau mungkin Float memilih menggunakan KTP seumur hidup.

Kolaborasi Stars and Rabbit dan Bottle Smoker (SRXBS) di Soundrenaline 2017.

Dimensi Lain

Namun, patah hati sedikit terobati dengan penampilan kolaborasi Stars and Rabbit dengan Bottle Smoker. Kolaborasi yang mereka namai dengan SRXBS ini menurut saya adalah yang paling berhasil di antara total 9 kolaborasi yang dihadirkan di Soundrenaline 2017.

Menyaksikan Stars and Rabbit sendiri saja sudah mampu menghipnotis para audiensnya. Setidaknya itu yang tampak pada Soundrenaline 2016 yang lalu di tempat yang sama yang disesaki penonton. Itu yang kembali terjadi tahun ini.

Bukan lagi suasana magis yang kerap saya rasakan saat menonton perform Elda dan Adi, sebagai Stars and Rabbit. Kali ini lewat kolaborasi SRXBS, saya seperti dibawa ke dimensi lain.

Lagu-lagu milik Stars and Rabbit hadir berbeda. Begitu juga Bottle Smoker, dengan karya-karya nir lirik, yang kemudian diisi vokal dan lirik oleh Elda, pada lagu Frozen Scratch Cerulean. Tak hanya itu, sebagai bentuk kolaborasi seutuhnya, mereka pun menelurkan dua lagu baru dalam penampilannya tersebut.

Kali ini dua lagu milik proyek SRxBS, yang sesungguhnya sudah digagas bahkan sejak 2013 yang lalu, bukan lagi secara pribadi Stars and Rabbit ataupun Bottle Smoker.

Di sini, baik Stars and Rabbit dan Bottle Smoker melepaskan atribut mereka masing-masing dan mencoba melebur bersama. Tidak hanya di antara keduanya. Bahkan dalam penampilannya malam itu, seluruh penonton bangkit dari tempat duduknya menyanyi bersama menutup penampilan mereka lewat lagu Man Upon The Hill.

Kematangan ini mungkin lahir dari kebersamaan SRxBS yang akhirnya sudah dimulai sejak akhir tahun 2016 yang lalu. Panggung Soundrenaline 2017 ini pun sesungguhnya menjadi yang kesekian, namun untuk kedua lagu barunya, penonton di Bali mendapatkan kesempatan pertama mendengarkannya secara langsung.

“Di sini kami berusaha melepaskan atribut kami masing-masing. And its quite refreshing, di saat saya tengah jenuh mengerjakan album kedua Stars and Rabbit, di sini saya justru seperti menemukan jalan,” kata Elda di kesempatan berbeda.

Sayangnya, hal tersebut tak saya rasakan ketika menyaksikan Homogenic X Neonomora pada hari kedua. Di tempat yang sama, amphitheater, seluruh seat memang terisi penuh. Set panggung sendiri bahkan menghadirkan 3 synthesizer untuk mengiringi kolaborasi.

Saya sendiri awalnya sangat penasaran, segawat apa kolaborasi mereka. Pertunjukkan ini dibuka oleh HMGNC, trio elektronik ini hadir dengan lagu-lagu baru mereka. Secara bergiliran dengan Neonomora. Setelah itu barulah keduanya tampil bersama.

Neonomora identik dengan karakter vokal kuatnya, mengingatkan saya pada Adele. Dan yang saya rasakan dalam kolaborasi ini justru Amandia Syachridar ikut tertarik ke sana. Secara pribadi, saya tidak mendapatkan “blend” keduanya.

Namun kembali, musik adalah masalah selera. Walaupun saya kurang menikmatinya, bukan berarti itu jelek. Nyatanya penonton tetap bertahan hingga akhir dan memberikan applause untuk kolaborasi kental elektronik ini.

Lebih Rapi

Secara keseluruhan Soundrenaline tahun ini tampak dan terasa lebih rapi dibandingkan sebelumnya. Walau permasalahan teknis tetap terjadi namun dengan tanggap segera diatasi. Antrean berdesak-desakan yang terjadi di tahun lalu, tidak terjadi lagi sekarang.

Relaxing area atau tempat bersantai pun tampak lebih banyak di tahun ini. Sehingga penonton bisa melipir sejenak, untuk sekadar rehat atau melakukan fun activity yang disediakan pihak penyelenggara.

Untuk konten pengisi acara, kembali lagi pada selera. Pandangan akan band-band jalur mainstream yang absen tahun ini menjadi sorotan. Walau sebenarnya nama-nama seperti Sheila on 7, NAIF, /RIF, Andra and The Backbone masih bertahan. Namun bagi penikmat band indie, nama besar seperti ERK, Float, Payung Teduh, Stars and Rabbit hingga pendatang baru, Barasuara yang memiliki massa tersendiri, tentu menjadi magnet.

HMGNCXNEONOMORA

Dan untuk musisi internasional, kali ini Soundrenaline menggaet 4 musisi, JET, MEW, Cults, Dashboard Confessional.

Kimokal

Yang cukup menarik, musisi dengan balutan elektronik cukup meramaikan line up Soundrenaline 2017. Sebut saja Bottle Smoker, Goodnight Electric, Diskopantera, HMGNC, Kimokal hingga Dipha Barus yang kerap hadir di berbagai panggung electronic dance musik (EDM) Indonesia.

Namun pihak Soundrenaline sendiri membantah bahwa mereka mengikuti pasar EDM yang memang tengah naik daun. Mengembalikan pada tema United We Loud yang diusung untuk Soundrenaline 2017, di mana event ini sebagai bentuk perayaan keberagaman musik di Indonesia.

“Kalau melihat pasar EDM, tidak ada arah ke sana. Jadi seperti tema, Soundrenaline ini benar-benar sebagai showcase musik Indonesia dengan beragam genre di dalamnya,” kata Novrial Rustam, Managing Director KILAU Indonesia.

Sesungguhnya, perubahan konsep secara signifikan sendiri sudah terasa sejak tahun 2015 yang lalu. Dengan tema “Change The Ordinary”, Soundrenaline hadir dengan suguhan musik multi-genre termasuk musisi internasional sebagai headliner, selama dua hari di GWK. Jika di tahun-tahun sebelumnya Soundrenaline digelar di beberapa kota, sejak tahun 2015 lalu secara tetap, puncak acara dihelat di Bali.

Adapun Road to Soundrenaline, pra-event yang menjadi rangkaiannya yang digelar sebelumnya di beberapa kota. Road to Soundrenaline 2017 sendiri hadir di 50 titik di berbagai kota di Indonesia.

“Di tahun 2017 ini musisi multi genre semakin bermunculan. Ini sebagai pesan untuk menyuarakan keberagaman lewat musik dan ruang kreatif,” ujar Rustam.

Gaet Pariwisata

Festival musik sesungguhnya menjadi bagian tersendiri dalam perkembangan skena musik di satu daerah dan seiring perkembangannya menjadi gaya hidup bagi masyarakat urban.

Di Bali setiap tahunnya, festival musik seolah menjadi satu kalender event yang tak hanya ditargetkan untuk memberikan wadah bagi musisi, seniman dan penikmatnya dalam hal ini audiens, namun juga menjadi gaya hidup hingga gaet pariwisata yang memang diamini oleh beberapa penggagasnya.

Untuk tahun 2017 ini, berdasarkan data yang diberikan panitia Soundrenaline 2017, ada sekitar 83.151 penikmat musik yang hadir di Soundrenaline 2017. Tidak hanya dari lokal Bali, namun penonton yang hadir dalam dua hari perhelatannya tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga para turis dari luar negeri yang ingin menikmati sajian musik di tanah eksotis dengan branding pariwisatanya ini.

Soundrenaline pun hanya satu di antaranya. Masih banyak deretan festival yang hadir dari awal hingga penghujung tahun. Tidak hanya yang digelar oleh lokal Bali sendiri, festival musik bertaraf nasional hingga internasional hadir. Sebut saja Jazz Market By The Sea, Bali Blues Festival, Sanur Mostly Jazz, Pacha Festival, Ubud Village Jazz Festival, Ultra Beach Bali, Bestival, Bali Reggae Festival dan pelbagai festival lainnya, belum termasuk yang digelar oleh kalangan pelajar maupun mahasiswa. [b]

The post Soundrenaline 2017, Pesta Musik dan Wisata Baru appeared first on BaleBengong.

Hentikan Intimidasi Keluarga dan Korban Pedofilia

Salah satu street artist membuat lukisan tentang kampanye perlindungan anak saat Urban Street Art Denpasar.

Pada 20 Februari 2017 datang laporan ke YLBHI-LBH Bali.

Aduan itu datang dari salah satu pengurus yayasan yang melaporkan mengenai dugaan tindak pidana pencabulan terhadap anak (pedofilia). Pelakunya mantan Ketua Yayasan kepada beberapa anak asuhnya. Kejadiannya sejak tahun 2007 hingga 2016.

Menindaklanjuti pengaduan tersebut, YLBHI-LBH Bali pun melakukan investigasi atas pengaduan tersebut.

Dari investigasi diperoleh pengakuan dari satu anak dan dua dewasa yang telah menjadi korban serta satu anak yang hampir menjadi korban. Pelaku telah melakukan kejahatannya di empat kabupaten/kota yaitu Singaraja, Karangasem, Gianyar dan Denpasar.

Modus pelaku yakni pelaku mengincar anak asuhnya yang berusia 13-15 tahun dengan melakukan pengancaman kepada korban untuk meladeni hasrat pelaku. Apabila korban tidak bersedia maka pelaku akan mengeluarkan korban dari yayasan. Korban anak yang berasal dari keluarga tidak mampu terpaksa memenuhi keinginan pelaku karena ingin tetap menimba ilmu dan membanggakan orangtuanya.

Setelah berkomunikasi dengan pihak Polda Bali dan pengurus Yayasan, pada Agustus 2017 akhirnya pelaku NS (47) diamankan oleh Polda Bali.

Pasca penetapan tersangka, baik korban dan keluarga korban mendapatkan intimidasi dari keluarga pelaku untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya kepada siapapun. Hal ini menambah sakit hati keluarga korban, yang belum bisa menerima perbuatan pelaku terhadap anak korban.

Perbuatan pelaku tidak hanya menimbulkan dampak fisik tetapi juga psikis terhadap korban dan keluarga korban, serta perbuatan pelaku diduga telah melanggar pasal 82 ayat (1) Undang-undang No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, terkait tindak pidana perbuatan cabul terhadap anak serta jabatan pelaku sebagai ketua yayasan yang seharusnya mengayomi dan melindungi anak-anak justru melakukan perbuatan tidak manusiawi terhadap anak seharusnya diperberat 1/3 dari Pasal 82 ayat (1).

Berdasarkan Pasal 82 ayat (2) Undang-undang No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, tindak pidana perbuatan cabul yang dilakukan oleh Orangtua, Wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, sehingga pelaku dapat diancam dengan ancaman pidana maksimal 20 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Dalam hal ini kekerasan terhadap anak dapat dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan di manapun. Salah satu bentuk kejahatan kekerasan seksual terhadap anak-anak adalah kejahatan pedofilia. Pedofilia adalah manusia dewasa yang memiliki perilaku seksual menyimpang dengan anak-anak.

Seorang pedofilis, umumnya melakukan tindakan hanya karena dimotivasi keinginannya memuaskan fantasi seksualnya.

Kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk kejahatan yang melecehkan dan menodai harkat kemanusiaan serta patut dikategorikan sebagi jenis kejahatan melawan manusia (crime against humanity).

Pedofilia harus diwaspadai karena secara fisik para pedofilis tidak ada bedanya dengan anggota masyarakat lain. Pedofilis bisa berbaur, bergaul, tanpa ada yang tahu pelaku adalah seorang pedofilis, sampai akhirnya masyarakat menegtahui ketika pedofilis memakan korban.

Berdasarkan Pasal 20 Undang-undang No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, “Negara, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga, dan Orang Tua atau Wali berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan Perlindungan Anak”.

Dengan bertitik tolak dari kasus ini serta Pulau Bali sebagai surga bagi pedofil, pedofilis tidak hanya berasal dari orang asing tetapi masyarakat Bali pun bisa menjadi pelaku pedofilis. Untuk melindungi anak-anak Bali dari kejahatan pedofil sudah seharusnya Pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi Bali mulai menyususn strategi khusus, sehingga penanganan kasus pedofil tidak hanya sebatas pemadam kebakaran saja, pemerintah provinsi baru bertindak ketika jatuhnya korban anak.

Berdasarkan surat kuasa pada 8 Agustus 2017, YLBHI-LBH Bali selaku Kuasa Hukum dari anak korban dan keluarga korban pelapor menyatakan:

Pertama, mengapresiasi dan mendorong Polda Bali untuk tetap mengatensi kasus ini, sehingga korban dapat memperoleh keadilan.

Kedua, meminta para pihak agar menghentikan dan tidak melakukan intimidasi baik kepada korban, keluarga korban maupun saksi.

Ketiga, mendorong Pemerintah Provinsi Bali untuk serius melakukan pencegahan, pengawasan dan perlindungan terhadap anak

Denpasar, 11 September 2017

Hormat Kami,

Tim Kuasa Hukum YLBHI – LBH Bali

The post Hentikan Intimidasi Keluarga dan Korban Pedofilia appeared first on BaleBengong.

BaleBengong 2017-09-09 05:04:07

Aya dan Laras BTMDG dua musisi remaja Bali yang membawakan lagu tentang tanah air.

Duo musisi remaja menyerukan rasa cintanya pada kampung halaman.

Aya (17) dan Laras (16), duo remaha berbakat yang tergabung dalam Aya & Laras BTMDG akan tampil membawakan lagu-lagu terpilih mereka di Bentara Budaya Bali (BBB), Sabtu (09/09) pukul 18.30 WITA.

Merujuk tajuk “Kembali ke Ibu”, dua penyanyi yang menamakan diri BTMDG, menyerukan semangat untuk mencintai kampung halaman atau tanah air melalui musik dan lagu.

Selain pertunjukan, acara Pentas Musik Bagi Negeri ini akan dimaknai pula pemutaran dokumenter dan timbang pandang bersama Made Adnyana, pengamat Musik dan pendiri Bali Music Magazine.

Aya dan Laras BTMDG terlahir dari keluarga musik lintas generasi. Kakeknya adalah IGB Ngurah Ardjana (alm.), salah satu tokoh musik Bali menciptakan lagu Bali Pulina, Sekar Sandat, Keropak Wayang, Sugih Keneh Kesugihan Sujati. Ibunya adalah Heny Janawati, penyanyi opera yang pernah tampil di berbagai panggung opera dan musik klasik di Eropa dan Amerika Utara, sekaligus pendiri sekolah vocal StaccatoBali.

BTMDG sendiri merupakan akronim dari Batumadeg, desa di Nusa Penida, pulau kecil yang dulu dikenal gersang dan kering, kampung halaman sang ayah.

Ayu Arya Nusandari Maranda (Aya BTMDG), lahir di Denpasar, 19 Mei 2000. Aya mahir memainkan violin, gitar dan piano. Selain itu, ia juga piawai menyanyi, rapping, berakting serta aktif menulis cerita pendek.

Ia juga kerap menulis ide-ide film dan fotografi. Aya sempat memerankan tokoh Tiger Lily dalam pementasan Musical Broadway di Bali.

Sementara sang adik, Ayu Arya Larasati Maranda (Laras BTMDG), lahir di Denpasar pada 22 September 2001. Ia pernah memerankan tokoh utama “Peter Pan” dalam pementasan Musical Broadway di Bali. Ia juga meraih juara 1 Lomba Menyanyi Tingkat Provinsi British Colombia-Canada, serta memperoleh nilai distinction dari Royal Academy of Dance.

Si sulung Aya, bermain violin sejak umur empat tahun, sedangkan Laras, si bungsu, menyanyi dan ikut lomba sejak usia 6 tahun. Mereka tumbuh hingga usia remaja di Kanada dan kembali ke Bali tahun 2013.

Selain bermusik, mereka juga menulis kreatif, menciptakan puisi, merancang naskah film dan video klip. Bahkan Aya sedini itu telah menulis esai tentang seseorang korban cyber-bullying, terinspirasi dari kisah nyata Amanda Todd yang mengakhiri hidupnya sendiri.

Setiba di Bali, Aya dan Laras menyaksikan langsung kenyataan memprihatinkan tentang Bali dan Tanah Air. Mereka meluapkan kecintaannya pada “Ibu” dengan menciptakan lagu. Lagu pertamanya adalah Hometown atau kampung halaman.

Lagu kedua bertajuk “1314”, menceritakan tentang cinta monyet anak remaja. Diberi judul 1314, karena saat mereka mencipta lagu ini, Laras berusia 13 dan Aya 14.

Lagu ketiga, “Happy Place” mengisahkan fenomena kehidupan remaja sekarang terhadap pengaruh teknologi dan gadget. Yang terkini berjudul “Thousands of Candles for Peace”, seruan akan perdamaian dan kesatuan bangsa di tanah air, terilhami kecemasan akan adanya konfilk SARA akibat pemilihan gubernur di DKI.

Sosok Ibu terbukti menginspirasi lahirnya karya-karya yang bernilai seni tinggi, baik dalam bidang sastra, musik, film, tari maupun ragam ekspresi lainnya. Para kreator tidak hanya berupaya mengeksplorasi sosok ataupun ketokohan ibu secara harfiah atau sehari-hari, namun juga mengelaborasi nilai-nilai luhur simbolis: cinta tanah air atau Ibu sebuah bangsa.

Kita mengenal idiom Ibu Pertiwi, yang merefleksikan bumi tempat pijak masyarakat negeri ini sekaligus bermakna sebagai sesuatu nan agung, tanah tumpah darah kelahiran, di mana segala hal di Nusantara diibaratkan bermuasal darinya. Dengan kata lain, dapat juga berarti Ibu Budaya.

Program ini merupakan kerja sama Bentara Budaya Bali dan Staccato Bali serta didukung oleh Caspla Bali. [b]

The post Aya & Laras BTMDG “Kembali ke Ibu” appeared first on BaleBengong.

Derita Buruh di Balik Pariwisata Bali

Salah satu tuntutan buruh Bali dalam aksi May Day dengan meminta dimasukkannya biaya upacara. Foto Metro Bali.

Di balik popularitasya, Bali punya masalah dengan buruh pariwisata.

Jika mendengar Pulau Bali, pasti yang terbayang di benak banyak orang adalah wisata pantai yang cantik, wisata alam yang indah, wisata budaya yang bagus, villa, hotel, restoran, tempat belanja yang mewah dan lengkap.

Tidak sedikit pula yang menyebut Bali sebagai tujuan utama pariwisata (the first of destination tourism).

Dari banyak dan bermacam-macamnya sarana dan prasarana kegiatan pariwisata pasti tidak luput dari keberadaan buruh yang ikut menopang laju kegiatan usaha jasa pariwisata. Di luar itu semua, tidak banyak yang mengetahui persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kawan-kawan buruh di Bali. Mulai dari upah yang mereka terima setiap bulannya, PHK yang bisa menimpa siapa saja, bahkan pemberangusan terhadap Serikat Buruh.

Ada yang menarik dari data yang kita peroleh dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Bali pada 20 April 2017. Pertama, jumlah perusahaan yang terdaftar di Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Bali sebanyak 8.153, sedangkan jumlah pengawas yang ada di Provinsi Bali sebanyak 24 orang.

Tentu jumlah ini sangat tidak ideal dan pasti tidak akan maksimal dalam melakukan pengawasan. Bandingkan saja 1 orang pengawas harus mengawasi sebanyak 339 perusahaan. Maka tidak heran jika banyak pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan dan minim sanksi dari pemerintah.

Kedua, jumlah angkatan kerja di Bali sebanyak 2.464.039 dan jumlah pengangguran sebanyak 46.484. Jika melihat angka pengangguran, tentu jumlah ini cukup besar dan memunculkan pertanyaan besar bagi saya, mengapa masih banyak pengangguran di Bali? Apakah sektor pariwisata di Bali tidak mampu memberi manfaat bagi semua rakyat Bali?

Ketiga, pada tahun 2016 hingga tahun 2017, tidak ada perusahaan yang mengajukan penangguhan upah. Artinya sebanyak 8.153 perusahaan dianggap mampu untuk membayar upah sesuai dengan upah yang sudah ditentukan oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota yang biasa disebut dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/ Kota (UMK).

Namun, pada praktiknya masih saja ada buruh yang menerima upah di bawah UMK. Meski hal ini telah diatur dalam Undang-undang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pasal 90 ayat (1) menyebutkan bahwa “Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89.

Diatur pula ancaman pidananya pada pasal 185 (1) disebutkan bahwa “Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 68, Pasal 69 ayat (2), Pasal 80, Pasal 82, Pasal 90 ayat (1), Pasal 143, dan Pasal 160 ayat (4) dan ayat (7), dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).

Namun, pada penerapannya masih saja ada buruh yang menerima upah di bawah UMK. Pertanyaan besar kita adalah berapa banyak perusahaan yang diberikan sanksi oleh pemerintah sesuai dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan?

Selanjutnya, kita lihat jumlah kasus perburuhan yang masuk ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) tiga tahun terakhir yaitu 7 kasus (2014), 15 kasus (2015), dan 28 kasus (2016).

Jika kita melihat jumlah kasus yang masuk ke PHI, tentu hal ini mengalami peningkatan jumlah dari tahun ke tahun, dan kasus yang masuk didominasi oleh kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Namun jika kita melihat kasus PHK secara komprehensif, masih banyak kasus PHK yang tidak masuk ke PHI.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kasus tersebut tidak masuk ke PHI di antaranya; dilakukan penyelesaian secara bipartit (antara pengusaha dan buruh), dilakukan penyelesaian secara mediasi di Dinas Tenaga Kerja, dan terkadang buruh memilih tidak menempuh jalur penyelesaian baik bipartit, mediasi bahkan ke PHI.

Artinya buruh yang yang di-PHK membiarkan saja kasus yang dialaminya dan memilih untuk mencari pekerjaan lain.

Melihat dari statistik di atas tentang permasalahan buruh di Bali, saya berkesimpulan ancaman PHK bisa menimpa siapa saja (buruh) tanpa mengenal di mana bekerja, apa pekerjaannya, dan siapa pengusahanya.

Bali hanya ramah terhadap pengusaha atau investor, namun sangat tidak ramah terhadap buruh.

Persoalan-persoalan di atas tentu tidak bisa dilepaskan dengan lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap perusahaan yang melakukan pelanggaran. Ke depan, Pemerintah Provinsi Bali harus lebih serius dalam hal melakukan pengawasan agar permasalahan perburuhan di Bali bisa diminimasir dan Pemerintah harus bertindak tegas terhadap perusahaan yang melanggar. [Haerul Umam, S.H, Pengacara Publik YLBHI – LBH Bali]

The post Derita Buruh di Balik Pariwisata Bali appeared first on BaleBengong.

[Esai Foto] Saya Tidak Benci Teroris

Potret Ngesti Puji Rahayu atau Yayuk di tempat kerjanya di jalan Teuku Umar Denpasar pada tahun 2012 sebagai asiten rumah tangga. Yayuk berpose dengan potret dirinya sebelum mengalami tragedi Bom Bali. Foto: Anggara Mahendra

“Agama saya tidak pernah mengajarkan kebencian,” ujar Yayuk.

Dia menjawab ketika ditanya apa ia membenci teroris yang membuat tubuhnya mengalami luka bakar permanen. Ngesti Puji Rahayu akrab dipanggil Yayuk lahir di Jember pada tahun 1962. Dia salah satu korban langsung bom Bali I pada 12 Oktober 2002.

Saat kejadian ia tengah bersama teman-temannya di Paddys Club untuk bersenang-senang. Rencana menghibur hati justru berubah tragedi ketika bom meledak dan mengempaskan tubuhnya beberapa meter hingga dekat DJ booth.

Ia sempat tidak sadarkan diri. Ketika terbangun di sekitarnya sudah banyak tumpukan manusia dan orang-orang panik. Beberapa di antaranya berteriak “panas! panas!”

Yayuk menjelaskan bagaimana proses operasi sejak tahun 2002 di Australia yang membuat luka permanen di tubuhnya. Foto: Anggara Mahendra

Singkat cerita setelah kejadian itu, Yayuk dibawa ke ICU dan sempat dikira sudah meninggal karena kondisi fisiknya yang cukup parah. Bahkan ia sudah sampai dimandikan saat di kamar jenazah. Untungnya saat itu Yayuk siuman dan ditolong oleh Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) yang membawanya terbang ke Australia untuk operasi seluruh tubuhnya.

Sejak operasi pertamanya tahun 2002, ia tidak boleh terkena matahari langsung karena kulit yang sudah terbakar tidak lagi memiliki lapisan kulit pelindung seperti kita yang masih normal. Biasanya ia akan merasakan gatal yang luar biasa jika terpapar sinar matahari langsung dan intensitas cukup lama.

Pada 2003 operasi Yayuk dilanjutkan di Rumah Sakit Royal Perth, Australia pada bagian telinganya. Kemudian di 2009 tangannya kembali dioperasi karena sudah terlalu banyak keloid yang tumbuh sehingga susah untuk berada pada posisi lurus. Sebagian besar operasi yang dilakukannya adalah permasalahan keloid yang tumbuh sejak tubuhnya mengalami luka bakar.

Yayuk berganti agama dari Islam ke Kristen karena pada proses pengobatan dan penyembuhannya banyak dibantu umat Kristen. Foto: Anggara Mahendra

Tragedi yang menimpanya membuat Yayuk berpindah kepercayaan dari Islam ke Kristen. Alasannya karena dalam proses pengobatan dan penyembuhan ia banyak ditolong oleh umat Kristen yang membuatnya yakin untuk mengubah kepercayaan.

Saat ini Yayuk menjalani hidup barunya dengan bekerja sebagai asisten di villa milik ekspatriat Jerman di daerah Krobokan. Tugasnya dimulai dari pagi hingga 3.30 sore dengan menyapu, menyiram, mencuci pakaian dan memberi makan dua anjing lokal milik pemiliknya.

Yayuk pada tahun 2012 ketika bekerja sebagai asisten rumah tangga di jalan Teuku Umar, Denpasar. Foto: Anggara Mahendra
Keseharian Yayuk yang sudah lebih dari 2 tahun bekerja sebagai asisten di vila milik ekspatirat asal Jerman di Krobokan, Bali. Tugas utamanya mengurusi kebersihan vila, memberi makan anjing dan menyiram tanaman di vila. Foto: Anggara Mahendra
Keseharian Yayuk yang sudah lebih dari 2 tahun bekerja sebagai asisten di vila milik ekspatirat asal Jerman di Kerobokan, Bali. Tugas utamanya mengurusi kebersihan villa, memberi makan anjing dan menyiram tanaman di villa. Foto: Anggara Mahendra
Keseharian Yayuk yang sudah lebih dari 2 tahun bekerja sebagai asisten di vila milik ekspatirat asal Jerman di Kerobokan, Bali. Tugas utamanya mengurusi kebersihan vila, memberi makan anjing dan menyiram tanaman di vila. Foto: Anggara Mahendra
Yayuk tidak memiliki kendaraan sendiri dan sering menggunakan jasa transportasi umum untuk mobilitasnya. Foto: Anggara Mahendra
Suasana Ground Zero di jalan Legian, Kuta, Bali – Indonesia saat peringatan 14 tahun Bom Bali. Foto: Anggara Mahendra
Yayuk bersama teman lainnya yang tergabung dalam Isana Dewata (Istri Anak dan korban Bom Bali) – yayasan non profit yang menaungi para korban bom bali untuk kesehatan fisik dan mental mereka. Foto: Anggara Mahendra
Buku memorial yang disediakan Yayasan Isana Dewata untuk menulis harapan dan doa untuk korban tragedi Bom Bali. Foto: Anggara Mahendra
Canang (persembahan Hindu Bali), bir, karangan bunga dipersembahkan di Monumen Ground Zero untuk memberi penghormatan pada korban saat tragedi Bom Bali I dan II. Foto: Anggara Mahendra
Potret Ngesti Puji Rahayu atau akrab dipanggil Yayuk, salah satu korban langsung tragedi Bom Bali 2002. Ia mengalami luka bakar ketika berkunjung ke Paddys Club dan tubuhnya terlempar beberapa meter sampai ke booth DJ hingga tak sadarkan diri. Foto: Anggara Mahendra

The post [Esai Foto] Saya Tidak Benci Teroris appeared first on BaleBengong.