Tag Archives: Berita Utama

Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari

Tahun 2017 ini, seolah tidak ingin berhenti. Ada satu momen pencatatan lagi yang tidak bisa dilewatkan begitu saja; Pohon Tua –juga dikenal sebagai— Dadang Pranoto, salah satu personil Navicula dan Dialog Dini Hari, resmi meluncurkan debut album solonya yang berjudul Kubu Carik.

Kubu Carik, merupakan sebuah album berisi delapan lagu yang merupakan tabungan lama dalam sebuah fase musikal yang ia jalani bersama Eko Prabowo. Di tahun 2015, proyek ini dimulai dan respon antar dua manusia seni beda disiplin ini berlarian ke arah masing-masing.

“Awalnya dulu Eko membuat buku prosa tentang Pohon Tua. Saya iseng merespon dengan satu skesta lagu. Ternyata responsnya menarik dan jadi keterusan. Akhirnya dari satu sketsa itu berkembanglah menjadi delapan materi di Kubu Carik ini,” tuturnya.

Dua cabang kreativitas ini kemudian terus menulis kisahnya masing-masing hingga kemudian idenya dikembangkan menjadi perilisan buku dan sebuah album musik. Untuk perkara musik, Pohon Tua berbicara dengan dua orang kompatriotnya di Dialog Dini Hari, Deny Surya dan Zio.

“Mereka malah menjadi co-producer untuk album ini,” lanjutnya. Dukungan yang memberi ruang untuk cerita supaya bisa bersinergi dengan baik itu, terbukti membawa kesolidan pada materi rekaman yang dikandung oleh Kubu Carik.

“Ada hubungan juga dengan periode dua bulan lalu ketika Zio merilis album solonya. Itu jadi semacam pemicu untuk diselesaikannya proyek ini. Saya merilis Kubu Carik saat ini bersama Rain Dogs Records sekaligus supaya bisa konsentrasi ke proyek selanjutnya. Setelah ini, kami akan fokus menggarap materi baru Dialog Dini Hari,” terangnya.

Tanpa bermaksud membuat cerita sendiri, buncahan-buncahan kreativitas model begini difasilitasi dengan baik oleh masing-masing orang di dalam tubuh Dialog Dini Hari.

“Tidak ada alasan khusus kenapa album solo ini dibuat. Titik berat Kubu Carik lebih pada kolaborasi saya dengan Eko Prabowo. Lagu-lagunya harus menemukan jalannya sendiri kepada pendengar. Itu yang ingin dicapai oleh album ini,” paparnya.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, album berisi delapan lagu ini, dirilis oleh Rain Dogs Records. Album ini dirilis secara digital di sejumlah kanal musik seperti iTunes, Apple Music, Spotify dan sejumlah tempat lainnya.

Rain Dogs Records juga merupakan rumah dari Dialog Dini Hari.

Pohon Tua – Kubu Carik
Tahun produksi: 2015
Tahun Rilis: 2017
Produser: Dialog Dini Hari

Tersedia dalam bentuk digital. iTunes, Apple Music, Spotify, Amazon dan digital stores lainnya.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut tentang Kubu Carik, silakan langsung menghubungi [email protected]

The post Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari appeared first on BaleBengong.

Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari

Tahun 2017 ini, seolah tidak ingin berhenti. Ada satu momen pencatatan lagi yang tidak bisa dilewatkan begitu saja; Pohon Tua –juga dikenal sebagai— Dadang Pranoto, salah satu personil Navicula dan Dialog Dini Hari, resmi meluncurkan debut album solonya yang berjudul Kubu Carik.

Kubu Carik, merupakan sebuah album berisi delapan lagu yang merupakan tabungan lama dalam sebuah fase musikal yang ia jalani bersama Eko Prabowo. Di tahun 2015, proyek ini dimulai dan respon antar dua manusia seni beda disiplin ini berlarian ke arah masing-masing.

“Awalnya dulu Eko membuat buku prosa tentang Pohon Tua. Saya iseng merespon dengan satu skesta lagu. Ternyata responsnya menarik dan jadi keterusan. Akhirnya dari satu sketsa itu berkembanglah menjadi delapan materi di Kubu Carik ini,” tuturnya.

Dua cabang kreativitas ini kemudian terus menulis kisahnya masing-masing hingga kemudian idenya dikembangkan menjadi perilisan buku dan sebuah album musik. Untuk perkara musik, Pohon Tua berbicara dengan dua orang kompatriotnya di Dialog Dini Hari, Deny Surya dan Zio.

“Mereka malah menjadi co-producer untuk album ini,” lanjutnya. Dukungan yang memberi ruang untuk cerita supaya bisa bersinergi dengan baik itu, terbukti membawa kesolidan pada materi rekaman yang dikandung oleh Kubu Carik.

“Ada hubungan juga dengan periode dua bulan lalu ketika Zio merilis album solonya. Itu jadi semacam pemicu untuk diselesaikannya proyek ini. Saya merilis Kubu Carik saat ini bersama Rain Dogs Records sekaligus supaya bisa konsentrasi ke proyek selanjutnya. Setelah ini, kami akan fokus menggarap materi baru Dialog Dini Hari,” terangnya.

Tanpa bermaksud membuat cerita sendiri, buncahan-buncahan kreativitas model begini difasilitasi dengan baik oleh masing-masing orang di dalam tubuh Dialog Dini Hari.

“Tidak ada alasan khusus kenapa album solo ini dibuat. Titik berat Kubu Carik lebih pada kolaborasi saya dengan Eko Prabowo. Lagu-lagunya harus menemukan jalannya sendiri kepada pendengar. Itu yang ingin dicapai oleh album ini,” paparnya.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, album berisi delapan lagu ini, dirilis oleh Rain Dogs Records. Album ini dirilis secara digital di sejumlah kanal musik seperti iTunes, Apple Music, Spotify dan sejumlah tempat lainnya.

Rain Dogs Records juga merupakan rumah dari Dialog Dini Hari.

Pohon Tua – Kubu Carik
Tahun produksi: 2015
Tahun Rilis: 2017
Produser: Dialog Dini Hari

Tersedia dalam bentuk digital. iTunes, Apple Music, Spotify, Amazon dan digital stores lainnya.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut tentang Kubu Carik, silakan langsung menghubungi [email protected]

The post Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari appeared first on BaleBengong.

Berbagi Ide Keberlanjutan di Bali Sustainability Jam 2017

BALISUSTAINABILITYJAM, BALI, THISISWHYWEJAM, GLOBALSUSTAINABILITYJAM, INDONESIA
Salah satu peserta Bali Sustainability Jam 2017 saat presentasi prototype di Kulidan Kitchen & Space, 12 November 2017.

Sore hari menjelang, satu per satu peserta datang.

Tak hanya dari Bali, mereka juga datang dari Jakarta hingga Yogyakarta. Sebanyak 24 peserta akan bertukar pengalaman, berbagi ide dalam Bali Sustainability Jam Denpasar 2017, 10-12 November 2017 lalu.

Bali Sustainability Jam 2017 hadir bukan untuk membuat konferensi, seminar, atau kelompok jaringan (meski mungkin diakhiri secara tidak sengaja). Kegiatan ingin mengumpulkan orang-orang dari seluruh Indonesia dan mendorong mereka agar bisa memberikan solusi pada permasalahan bumi dalam 48 jam.

Bali Sustainability Jam 2017 ini bagian dari Global Sustainability Jam yang merupakan acara tahunan tempat berkumpulnya para peminat isu keberlanjutan. Mereka bersama-sama menggali ide dan mendesain solusi atas sebuah isu yang tertuang dalam tema besar. Kegiatan ini berlangsung serentak di dunia, mulai dari Sydney hingga New York dan dari Bogota hingga Bali.

Marc-Antoine Dunais, Managing Director Catalyze Communications selaku pihak penyelenggara mengatakan ininsesuai dengan misi Catalyze yang selalu memberi inspirasi dan mempengaruhi orang untuk kebaikan yang lebih berkelanjutan. “Kami menyadari bahwa dalam melakukan ini, kita juga perlu mengubah pola pikir bagaimana orang mendekati masalah keberlanjutan khususnya di Indonesia,” ujarnya.

Peserta dari berbagai latar belakang, pengalaman, profesi hingga usia yang beragam ini justru menjadikan Bali Sustainability Jam jauh lebih menarik. Bagaimana latar belakang pekerjaan di bidang teknik, lingkungan, pariwisata, LSM, minyak dan gas, start-up, dan komunikasi, hingga mahasiswa, duduk bersama mencoba memecahkan suatu masalah hingga tercipta prototype sebagai solusi yang berkelanjutan.

BALISUSTAINABILITYJAM, BALI, THISISWHYWEJAM, GLOBALSUSTAINABILITYJAM, INDONESIA
Salah satu peserta Bali Sustainability Jam 2017 saat presentasi

Cinta Azwiendasari, perwakilan dari Catalyze Communications selaku penyelenggara mengungkapkan bahwa  pendekatan Global Sustainability Jam inilah yang menjadi akar peran Catalyze. Cinta mengatakan apabila solusi-solusi yang dibangun untuk mengatasi persoalan lingkungan tidak mempertimbangkan perilaku dan sikap manusia, maka solusi tersebut tidak akan efektif. P

erkembangan solusi ramah lingkungan mulai dari penggunaan energi berkelanjutan hingga menghindari pembakaran sampah sembarangan misalnya hanya akan berhasil jika ada manfaat yang jelas bagi pengguna. “Sayangnya saat ini, hal-hal seperti ini jarang dipertimbangkan oleh pemangku kepentingan di dunia lingkungan,” tambahnya.

Kegiatan akhir pekan selama 48 jam ini terlaksana berkat kerja keras sebuah tim kecil penuh energi dan semangat yang berbasis di Catalyze. Acara yang berbasis kerelawanan ini mampu meyakinkan banyak pihak dan berhasil mendapatkan dukungan dalam bentuk produk dan jasa yang memang memiliki perhatian lebih pada isu keberlanjutan.

Beberapa media lokal Bali pun tidak ketinggalan mendukung dengan menjadi mitra media. Bali Sustainability Jam sangat diupayakan menjadi salah satu contoh kegiatan yang menuju zero waste . Hal ini sangat mungkin terlaksana berkat tim penyelenggara yang solid, peserta yang peduli lingkungan, juga para mitra dan pendukung dengan misi yang sama. [b]

The post Berbagi Ide Keberlanjutan di Bali Sustainability Jam 2017 appeared first on BaleBengong.

Pesamuhan Agung Desa Adat Membahas Rekomendasi Perlindungan Anak

Ketua panitia Pesamuhan Agung Luh Riniti Rahayu, Bendesa Agung MUDP dan prajuru. Foto: Luh De Suriyani

Setelah putusan soal status perempuan dalam perkawinan dan hak waris pada 2010, tahun ini membahas hak perlindungan anak.

Pengurus dan pemimpin desa adat (desa pakraman) di Bali akan membahas upaya-upaya perlindungan anak dalam rapat besar, bertajuk Pasamuhan Agung VI Majelis Desa Pekraman (MDP) Bali pada 15 November di Denpasar. Rapat kerja ini dihelat dengan tema “Penguatan Eksistensi Desa Pekraman Menghadapi Tantangan Global”.

Dalam agenda pembahasan, persoalan yang dibahas dalam rapat komisi dan pleno nanti dibagi menjadi 3 yakni komisi eksistensi desa pakraman sebagai subjek hukum menghadapi tantangan global, komisi evaluasi program MUDP, dan komisi perlindungan anak dalam desa pakraman.

Hal ini dipaparkan ketua MUPD atau Bendesa Agung Jero Gede Suwena Putus Upadesha pada pertemuan dengan media pada Senin (13/11) di sekretariat MUDP, gedung Dinas Kebudayaan Bali, Denpasar. Suwena didampingi ketua panitia Pesamuhan Agung yang untuk kali pertama juga perempuan, aktivis Yayasan Bali Sruti dan staf ahli MUDP Bali Luh Riniti Rahayu. Juga ada pengurus MUDP Bali lainnya seperti aktivis perempuan Luh Putu Anggreni dan penggerak organisasi humanitarian Rotary Ni Nyoman Nilawati.

Menurut Suwena persoalan perlindungan anak menjadi tantangan dalam persoalan pawongan (manusia-manusianya) dalam upaya menegakkan filosofi Tri Hita Karana selain alam (palemahan), dan Tuhan (parahyangan). “Menyangkut generasi ke depan, banyak masalah terkait anak,” katanya.

Luh Riniti Rahayu menyebut persoalan anak adalah persoalan generasi berikut Desa Pakraman di Bali sehingga perlu diantisipasi. “Terkait Manusia Bali, anak-anak harus dilindungi karena terlalu banyak permasalahan. Tapi keputusan MUDP ini tiada gunanya jika tak disosialisasikan,” urainya.

Sementara Luh Putu Anggreni membagi sejumlah usulan yang akan dibahas dalam komisi perlindungan anak di desa pakraman ini adalah terkait peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Misalnya mendorong MUDP membuat contoh perarem atau awig-awig (aturan adat) untuk usia minimal perkawinan 18 tahun, pendidikan pra nikah (menuju grahasta asrama), dan perlindungan anak berhadapan dengan hukum. “Kita harap disepakati soal ini, bagaimana desa adat bersikap pada masalah-masalah seperti ini, bagaimana panduannya,” urai perempuan yang saat ini menjadi Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Denpasar ini.

Kehadiran dan partisipasi perempuan dalam lembaga majelis adat menurut para perempuan ini sangat strategis untuk mendorong sejumlah keputusan populis seperti hasil putusan rapat akbar atau Pesamuhan Agung MUDP Bali 2010 lalu. Saat itu MUDP Bali dalam salah satu keputusannya menyatakan bagian hak waris untuk perempuan, pernikahan mengikuti keluarga perempuan (nyentana) dan pernikahan dengan hak kewajiban setara antara pihak laki dan perempuan (pada gelahang).

Dampak putusan pada 2010 itu menurut Suwena sangat positif karena ada yang mengadopsi dalam kebijakan desa atau menambah perspektif saat ada sengketa penikahan atau perceraian. “Sangat diterima positif, walau masih banyak yang belum menggunakan. Ini sepanjang masyarakat menghendaki, kita tak bisa paksakan,” katanya soal kekuatan putusan Pesamuhan Agung MUDP ini untuk 1493 desa adat/pakraman yang tercatat saat ini di Bali.

Sifatnya imbauan dan rekomendasi. Kalau sama sekali tak ada aturannya, harus digunakan sebagai pedoman termasuk warisan. Ia menyontohkan di Tabanan ada kawin antar kasta, tapi kasta brahmana di pihak calon istri. “Ini bentuk emansipasi perempuan ngajak laki ke rumah diberi status yang sama dengan perempuan,” ujarnya soal kasus yang akhirnya berujung kesepakatan bersama antar keluarga ini.

Sementara untuk sengketa hak waris atau perceraian, pihaknya beberapa kali jadi saksi ahli untuk menjelaskan sesuai keputusan Pesamuhan MUDP.

Pesamuhan Agung berkewenangan mengambil dan menetapkan keputusan strategis terkait permasalahan adat dan hukum adat Bali. Sejumlah masukan dan pemetaan masalah penting yang dihadapi Desa Pakraman dan akan dibahas tahun ini adalah pelaksanaan program tahunan Majelis Desa Pakraman (MDP) Bali, eksistensi Desa Pakraman setelah adanya UU No 6 tahun 2014 tentang Desa, kedudukan MDP dan pendanaannya, kualitas pengurus Desa Pakraman, subjek hukum atas tanah, dan perlindungan anak.

Riniti Rahayu mengakui tak mudah mendorong desa-desa atau MDP di tingkat kabupaten dan kecamatan segera mengadopsi hasil putusan Pesamuhan ke dalam aturan adat masing-masing karena memiliki otonomi desa.  Pihaknya bersama sejumlah LSM seperti LBH APIK dan pegiat perlindungan perempuan lain kerap membuat workshop dan sosialisasi soal putusan sebelumnya. Putusan ini dinilai cukup progresif sebagai jalan untuk kesetaraan dan keadilan bagi perempuan Bali dalam hak dan kewajiban adatnya.

Misalnya pada sebuah workshop khusus soal hak perempuan ini oleh LSM pada 2015 di Denpasar, AA Sudiana, nayaka atau staf ahli MUDP Bali mengatakan memang ada pimpinan desa adat yang mungkin belum sreg dengan putusan ini namun secara resmi sudah menjadi kesepakatan bersama. “Ini putusan yang responsive HAM dan kesetaraan gender, tapi kenyataannya masih ada subordinasi dalam konstruksi budaya, menganggap perempuan pengekor,” katanya.

Ia mengingatkan Kitab Manawa Dharmasastra menyebutkan sangat jelas perempuan sangat dimuliakan dan dihormati. “Di mana wanita dihormati, di sanalah para dewa merasa senang, tak dihormati tak ada upacara suci apa pun yang berpahala,” kutipnya.

Salah satu kesadaran yang belum sepenuhnya muncul di pengurus desa pekraman adalah adat yang difungsikan tak responsive gender. “Keturunan kapurusa (patrilineal) dikonstruksi sebagai laki-laki padahal maknanya tentang kewajiban. Konsekuensinya, hanya laki-laki yang dianggap bisa bertanggungjawab secara adat dan agama. Ia menegaskan bisa saja status kapurusa ini perempuan kalau statusnya sentana rajeg,” jelasnya. Artinya perempuan juga berhak bertanggungjawab dalam hubungan dengan tempat suci (parahyangan), kekerabatan (pawongan), dan palemahan atau pengelolaan aset. Kecuali perempuan ninggal kedaton penuh atau menikah dan berganti agama.

Menurutnya tak sedikit kearifan lokal yang bisa jadi pertimbangan untuk distribusi waris secara adil ini. Misalnya paras paros atau kebersamaan dalam hak dan kewajiban, prinsip asih, asah, asuh dan sesana manut linggih atau hak sesuai kedudukan yang dimiliki.

Keputusan MUDP pada 15 Oktober 2010, menyatakan sejumlah hal dalam kedudukan perempuan dalam perkawinan dan pewarisan. Di antaranya suami istri dan saudara laki-laki mempunyai kedudukan yang sama untuk jamin anak dan cucunya untuk memelihara termasuk kekayaan imateriil seperti pura. Punya hak yang sama terhadap hak guna kaya. Selama dalam perkawinan, suami dan istrinya mempunyai kedudukan yang sama terhadap harta gunakaya/gono-gini.

Anak kandung dan angkat baik laki atau perempuan yang belum kawin punya kedudukan yang sama terhadap gunkaya orang tuanya. Berhak atas harta gunaya setelah dikurangi sepertiga sebagai duwe tengah atau harta bersama.

Yang belum bisa diimplementasikan secara formal di antaranya anak yang mengikuti keluarga bapaknya (kapurusa) berhak atas satu bagian waris dan yang berstatus predana (mengikuti keluarga perempuan) berhak setengah bagian. Anak yang kawin dan pindah agama tak berhak atas harta warisan namun dapat diberikan bekal atau gunakaya oleh orangtuanya.

Kemudian putusan soal status perkawinan juga memberikan jalan tengah. Di antaranya upacara patiwangi (karena turun kasta/nyerod) tak boleh lagi dilaksanakan karena merugikan perempuan. Jika kedua mempelai ingin punya status kapurusa dan predana yang sama bisa melaksanakan dengan status pada gelahang dengan dasar kesepakatan bersama. Ini biasanya terjadi jika tak bisa nyentana. Desa Kekeran, Tabanan adalah salah satu desa yang sangat terbuka dengan model pada gelahang seperti ini.

Keputusan dalam perceraian juga dibuat. Misalnya bila bercerai bisa kembali ke rumah dengan status mulih daa/teruna (remaja) dan dapat melakukan swadarma dan haknya seperti biasa.

 

The post Pesamuhan Agung Desa Adat Membahas Rekomendasi Perlindungan Anak appeared first on BaleBengong.

Jurnalisme Warga untuk Menyemai Keberagaman

Julio Saputra menerima Anugerah Jurnalisme Warga 2017 dari salah satu juri Adnyana Ole dalam Malam Anugerah Jurnalisme Warga di Denpasar. Foto Wayan Martino.

Beragam acara di Malam Anugerah Jurnalisme Warga 2017.

BaleBengong memberikan Anugerah Jurnalisme Warga 2017 kepada karya yang menceritakan harmoni antara warga Tionghoa dengan budaya Bali. Karya Julio Saputra, mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Ganesha, menceritakan tentang pengalamannya saat upacara kematian neneknya di Baturiti, Tabanan, Bali.

Dalam karya yang terbit di Tatkala.co, media jurnalisme warga berbasis di Singaraja, Bali pada 30 Oktober 2017, itu Julio Saputra menuliskan secara personal dan naratif tentang warga etnis Tionghoa dan Bali yang saling ngayah saat upacara kematian di Baturiti. Bagi Julio, ngayah bersama saat upacara kematian itu mencerminkan sikap toleransi dan kerukunan yang tinggi. Mereka saling terbuka, menghormati, dan membantu satu sama lain.

Guyubnya etnis Bali dan Tionghoa di Baturiti hanya salah satu contoh. Masih banyak wujud toleransi dan kerukunan antar-etnis Tionghoa dan Bali di Baturiti. “Hubungan harmonis itu menjadi warisan yang harus dijaga untuk tetap meraih kesejahteraan, kebahagiaan antarumat yang berlandaskan keluhuran budi dan hati,” tulis Julio di artikel tersebut.

Artikel berjudul Di Baturiti, Nenek ke Surga, Diantar Rasa “Bareng Ngayah” Warga Bali dan Keturunan Tionghoa itu pun mendapatkan nilai tertinggi dari dua juri yaitu Luh De Suriyani (jurnalis lepas dan admin BaleBengong) dan Adnyana Ole, editor Tatkala.co, dibandingkan karya-karya lain dari media jaringan lain yang terlibat.

Selain kepada karya tulis, penghargaan juga diberikan kepada karya dalam format foto untuk Made Argawa berjudul Indonesia Berbhinneka, Indonesia yang Ceria dan ilustrasi untuk Gede Jayadi Pramana Kusuma yang menyampaikan kekhawatirannya terhadap hilangnya rumput laut di Nusa Penida, Klungkung.

Menurut kedua juri, karya-karya tersebut mencerminkan suara-suara warga yang menyampaikan keberagaman tidak hanya identitas tetapi juga hal-hal lain seperti mata pencaharian.

Berbeda dengan konsep tahun lalu sekaligus sebagai kegiatan pertama, Anugerah Jurnalisme Warga tahun ini dilaksanakan bersama dengan media-media jurnalisme warga dan komunitas lain di Indonesia. Mereka adalah Lingkar Papua (Papua), Kampung Media (Nusa Tenggara Barat), Kabar Desa (Jawa Tengah), Plimbi (Bandung), Kilas Jambi (Jambi), Tatkala (Bali), Nyegara Gunung (Bali), Nusa Penida Media (Klungkung), Sudut Ruang (Bengkulu), Peladang Kata (Kalimantan Barat), dan Noong (Bandung).

Adapun tema Anugerah Jurnalisme Warga 2017 adalah Bhinneka Tunggal Media, merayakan keberagaman melalui media jurnalisme warga.

Teater Kalangan saat tampil di Malam Anugerah Jurnalisme Warga 2017 di Taman Baca Kesiman. Foto Wayan Martino.

Karya-karya peserta Anugerah Jurnalisme Warga 2017 dimuat terlebih dulu di 12 media yang berpartisipasi untuk kemudian dipilih satu karya terbaik dari empat kategori yaitu tulisan, foto, ilustrasi, dan video. Sayangnya, tahun ini tidak ada satu pun karya video yang ikut dalam Anugerah Jurnalisme Warga.

Mengenai karya yang mendapatkan penghargaan tahun ini, menurut juri, karena mereka bisa menceritakan hal-hal sederhana dari kaca mata mereka sebagai warga. “Warga di sini bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan. Mereka bisa bercerita tentang apa saja yang mereka lihat, dengar, dan pikirkan,” kata Adnyana Ole, salah satu juri.

“Ada beberapa karya yang bagus. Persaingannya ketat. Namun, pemenang tahun ini ini bisa melihat dengan kacamatanya sendiri sebagai warga, bukan sebagai orang luar. Itulah kekuatan jurnalisme warga,” Luh De Suriyani, juri lain, menambahkan.

Panitia Anugerah Jurnalisme Warga memberikan penghargaan kepada para pemenang pada Minggu (5/11) di Taman Baca Kesiman Denpasar. Penghargaan diberikan dalam rangkaian Malam Anugerah Jurnalisme Warga 2017.

Tidak hanya mengumumkan para penerima Anugerah Jurnalisme Warga 2017, malam apresiasi juga diisi dengan kegiatan lain yaitu permainan, makan bersama ala Bali atau megibung, diskusi tentang keberagaman ekspresi dan melindungi privasi, serta pentas musik.

Dalam diskusi bertema Merayakan Keberagaman Ekspresi dan Melindungi Privasi, hadir pembicara pembaca lontar dan budayawan Bali Sugi Lanus; pegiat komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) Sofia Dinata; dan aktivis ICT Watch Dewi Widyaningrum.

Menurut Sugi Lanus, beberapa lontar kuno Bali menunjukkan bahwa Bali sejak dulu sudah terbuka pada keberagaman identitas, terutama agama. “Dalam tradisi Bali, perbedaan selalu diterima dengan baik bukan untuk dipertentangkan,” kata Sugi.

Sofia Dinata menceritakan masih besarnya tantangan yang dihadapi oleh kelompok LGBT dalam mengekspresikan suara-suara mereka, meskipun di Bali pada umumnya relatif lebih bebas. “Masih banyak masyarakat yang salah paham kepada kelompok LGBT sehingga kurang bisa menerima kami,” ujarnya. Hal tersebut juga terjadi dalam akses terhadap informasi maupun ekspresi mereka di dunia maya.

Adapun Dewi Widyaningrum menekankan pentingnya warganet untuk melindungi privasi ketika beraktivitas di dunia maya dengan tidak membagi hal-hal amat pribadi, seperti alamat rumah, nomor telepon, dan semacamnya karena rentan disalahgunakan orang lain. “Jangan sampai kita oversharing yang justru akan merugikan kita sendiri,” imbuhnya.

Nosstress saat tampil di Malam Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2017. Foto Wayan Martino.

Malam Anugerah Jurnalisme Warga ditutup oleh penampilan band trio Bali Nosstress yang sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para warganet melalui tagar #TanyaNosstress. Band yang aktif dalam kegiatan aktivisme sosial ini baru mengeluarkan album baru “Ini Bukan Nosstress.”

Sebelum mereka juga ada Teater Kalangan dengan pertunjukan apik yang mengkritik perilaku pengguna Internet yang tidak bisa memfilter informasi sampai lupa diri. Para seniman muda ini melibatkan penonton dalam pengadegan banjir informasi, distraksi atau gangguan ketika kecanduan gadget, dan perubahan perilaku warganet. [b]

The post Jurnalisme Warga untuk Menyemai Keberagaman appeared first on BaleBengong.