Tag Archives: Berita Utama

Perayaan Hidup Perempuan di Teater 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung

Siapa pahlawan? Mereka yang memaknai hidupnya. Inilah 11 kisah dari 11 ibu di 11 panggung Bali Utara.

Tuti Dirgha, panggung ke-8, pentas di rumahnya.

Bulan November, tak terasa pentas 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah sebuah karya teater dokumenter Kadek Sonia Piscayanti yang merupakan hibah Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi sudah memasuki pentas ke delapan. Sonia seperti sengaja memilih momen Hari Pahlawan sebagai tanggal pementasan sebab memang pentas ini diniatkan sebagai sebuah peringatan bahwa 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah adalah sebuah dedikasi bagi dunia Ibu yang adalah pahlawan sejati di dunia nyata.

Bertempat di Puri Buleleng, pentas kedelapan digelar dengan aktor Sumarni Astuti yang lebih dikenal dengan nama penulis Tuti Dirgha. Pementasan ini terasa istimewa karena sang aktor adalah guru dan pelatih baca puisi sang sutradara Kadek Sonia Piscayanti ketika duduk di SD dan berlanjut hingga kini telah menjadi ibu. Hubungan Sonia dan Ibu Tuti seperti layaknya ibu dan anak, begitu banyak kenangan yang Sonia simpan di benaknya tentang Ibu Tuti.

Ibu Tuti disebutnya sebagai ibu sabar, yang berjuang sangat keras menjadi single parent sejak kematian suaminya. Ibu melahirkan 6 jiwa, satu meninggal dunia dalam usia 6 bulan, membuatnya  belajar dengan bijak apa itu kematian. Setelah kematian anaknya bertubi-tubi cobaan mengujinya, namun ia tetap tangguh dan sabar. Ia kehilangan 5 jiwa hampir berturutan yaitu kematian mertua, ipar-ipar yang diajaknya bersama dan kematian suaminya yang sangat menghentak dan membuatnya hampir tak kuasa.

Jika saja ia bukanlah perempuan yang sabar dan tangguh, kematian serupa badai beruntun bisa saja menghempas dan menenggelamkannya. Namun ia tidak. Sekali lagi ia berdiri, menyelamatkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk menatap masa depan.

Pahlawan adalah julukan yang tepat bagi Ibu Tuti, dan juga 10 ibu lain di projects 11 Ibu ini. Hampir semua ibu adalah pahlawan bagi keluarganya dan hampir semua ibu berjuang mati-matian untuk anak-anaknya.

Di project ini, kita tentu masih ingat profil perjuangan masing-masing ibu. Setidaknya ada tujuh pentas sebelumnya. Ada Ibu Erna Dewi, seorang pembaca tarot yang berjuang untuk keluarga. Ada Ibu Watik, seorang tukang batu yang merantau ke Bali untuk menghidupi keluarganya di Jawa.

Ada Ibu Hermawati, seorang keturunan China yang menikah dengan lelaki Bali yang berjuang di keluarga mencari asal usul leluhur di tengah kerinduannya mencari rumah jiwa. Ada Diah Mode seorang desainer yang merancang baju seperti merancang hidupnya sendiri. Ia tak pernah mengenyam pendidikan formal namun berjuang belajar otodidak hingga karyanya dikenal bahkan di tingkat nasional.

Ada Ibu Simpen seorang bidan senior yang berjuang menolong kelahiran ribuan bayi dan menolong dirinya sendiri keluar dari persoalannya. Ia pernah mengalami trauma karena isu kekerasan domestik di pernikahan pertamanya namun bangkit lagi dan menata pernikahan keduanya. Ada ibu Sukarmi yang tuna rungu dan tuna wicara namun tetap menjadi tulang punggung keluarga. Ia pernah menikah dua kali, dan gagal. Kini ia menikah untuk ketiga kalinya dan menata kembali hidupnya.

Yang akan pentas setelah pentas ke delapan ini adalah Ibu Tini Wahyuni, seorang pelukis, pemusik dan penyuka kesunyian yang kini berdamai dengan dirinya sendiri. Ia pernah mengalami gagal dua kali berumah tangga dan kini memilih sendiri dan menghayati hidupnya yang sederhana berteman dengan kanvas, piano dan anjing-anjingnya. Ibu Tini akan pentas pada tanggal 17 November 2018.

Pentas berikutnya adalah pentas kesepuluh Ibu Cening Liadi yang mengambil kisahnya berjuang menemani anaknya yang sakit. Sakit anaknya adalah sakit misterius yang hampir membuatnya putus asa, namun ia bisa bangkit lagi. Ibu Cening akan pentas pada tanggal 7 Desember 2018.

Pentas terakhir adalah pentas Prof. Pk Nitiasih atau Ibu Titik yang  menjadi seorang ibu peracik menu masa depan bagi keluarga dan anak-anaknya. Prof. Titik berjuang menjadi pengayom, penyokong, pelindung keluarga di samping menjadi akademisi dan pejabat di kampus. Perjuangannya bisa kita saksikan di rumah beliau sendiri pada tanggal 15 Desember 2018.

The post Perayaan Hidup Perempuan di Teater 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung appeared first on BaleBengong.

Merayakan Solidaritas dan Kabar dari Akar di Anugerah Jurnalisme Warga 2018

Klik untuk melihat slideshow

Apa yang bisa melawan berita bohong (hoaks) dan penyebar kebencian? Salah satunya memproduksi dan menyebarkan konten-konten yang lebih berguna untuk orang banyak dan diri sendiri.

Sebanyak lima tim anak muda Bali berusia di bawah 25 tahun menerima beasiswa Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2018 untuk mendokumentasikan kabar hutan, kaki gunung, laut, dan kebun dari sejumlah desa di Bali.

Koordinatornya adalah empat perempuan muda Ni Luh Putu Anjany Putri Suryaningsih, Made Daivi Candrika Seputri, Luh Putu Sugiari, Ni Luh Putu Murni Oktaviani, dan satu laki-laki Nyoman Gede Pandu Nujaya. Semuanya mahasiswa kecuali Anjany siswa SMAN 3 Denpasar.

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW), sebuah apresiasi untuk pewarta warga di Indonesia merayakan semangat warganet pada malam apresiasi Minggu (11/11) malam di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali. Ada bedah karya penerima beasiswa liputan mendalam yang menyelesaikan karya multiplatform tentang isu pertanian, gunung, laut, pariwisata berkelanjutan, dan tanggap bencana. Mereka adalah 5 tim anak muda berusia 20-30 tahun yang terpilih dari puluhan usulan.

Sebelumnya para pewarta warga di mana saja diajak mengirim usulan beasiswa liputan mendalam total Rp 12,5 juta dengan tema Mendengar Kabar dari Akar. BaleBengong, portal jurnalisme warga sejak 2007 ini bekerja sama dengan sejumlah kolaborator memberi apreasiasi untuk warga dan warganet melalui AJW.

Ini adalah AJW yang ketiga, sejak diluncurkan pada 2016. Tahun ini berbeda karena warga diundang mendaftarkan diri atau tim untuk mendapat beasiswa liputan mendalam. Jika terpilih sebagai penerima beasiswa, ada empat topik yang bisa dikembangkan menjadi aneka karya dalam bentuk tulisan, video pendek, esai foto, infografis, ilustrasi, dan lainnya.

Sejumlah lembaga mendukung sebagai kolaborator pemberian beasiswa AJW yakni lembaga-lembaga pemberdayaan yang bekerja di akar rumput. Mereka adalah Conservation International (CI) Indonesia, WWF Indonesia, Yayasan Kalimajari, dan Mongabay Indonesia.

Topik liputan beragam seperti petani kakao lestari Jembrana menembus manisnya pasar dunia. Kedua, Nyegara gunung melestarikan lingkungan gunung dan perairan di Karangasem. Ketiga, Signing Blue, wadah bagi pelaku wisata untuk mewujudkan pariwisata bahari yang bertanggung jawab di Bali, dan keempat tentang kesiapan tanggap bencana warga di Pulau Dewata.

Pada malam apresiasi AJW ini, warga diajak bergabung untuk Meplailanan (main bersama), Megibung (makan bersama tradisi Bali), Bedah Karya Beasiswa, HUT ke-11 Bali Blogger Community, dan Musik Bersuara bersama band Zat Kimia. “Kami senang terlibat di AJW, untuk pertama kali kami diundang mendiskusikan karya,” kata Ian J. Stevenson, vokalis Zat Kimia, band yang menyuarakan literasi digital melalui lagu Candu Baru dalam albumnya yang baru dirilis tahun ini.

Ada juga lapak dan kopdar bersama petani dan produsen sembako Bali seperti garam Amed, beras merah Tabanan, gula merah Klungkung, minyak kelapa Karangasem, dan olahan pangan sehat dari kelompok perempuan Dewi Umbi.

BaleBengong adalah portal jurnalisme warga di Bali. Sejak tahun 2007, BaleBengong hadir sebagai media alternatif di tengah derasnya arus informasi media arus utama. Dalam portal ini warga bebas menulis atau merespon sebuah kabar. Warga tidak hanya menjadi obyek, tetapi subyek berita.

Portal yang dikelola Sloka Institute dan Bali Blogger Community ini memuat berbagai topik mulai dari lingkungan, gaya hidup, sosial budaya dan lain-lain. Selain portal, BaleBengong juga aktif berbagi informasi melalui akun Twitter dan Instagram @BaleBengong maupun Facebook Page @BaleBengong.id. Kami membagi dan meneruskan setiap informasi yang dianggap layak untuk diketahui warga. Kami juga menjadi wadah warga untuk berdiskusi dan berbagi informasi.

Juni tahun ini, BaleBengong, media jurnalisme warga berbasis di Bali, merayakan ulang tahun kesebelas. Perjalanan hingga tahun kesebelas menjadi pencapaian tersendiri bagi media yang dikelola oleh komunitas secara nirlaba. “Dia menunjukkan bahwa publik pun bisa mengelola media berkualitas dan independen tanpa harus terikat pada modal kapital besar,” kata Anton Muhajir, Pemimpin Redaksi.

Sejumlah penelitian tentang BaleBengong menunjukkan bahwa media ini bisa menjadi ruang bagi warga untuk berekspresi secara bebas. Di sisi lain, warga juga bisa berbagi informasi terutama mengenai isu-isu berbeda dengan media arus utama terutama di Bali. Sebagai media jurnalisme warga, BaleBengong bisa menunjukkan bahwa publik bisa mengelola media sendiri dengan informasi-informasi yang bersumber dari warga biasa.

Pencapaian dan posisi itu menjadi berarti ketika wacana media arus utama ataupun media sosial dipenuhi dengan bahaya tentang berita dusta (hoax). Berita-berita dusta memenuhi ruang-ruang perbincangan publik seperti grup pesan ringkas dan media sosial. Mereka tak hanya menyebarkan berita-berita yang tak bisa dipertanggungjawabkan, tetapi pada saat yang sama juga membangun kebencian berbasis identitas pada kelompok lain.

Munculnya media jurnalisme warga sedari awal adalah menyediakan ruang bagi warga agar bisa memproduksi informasi-informasi alternatif yang bisa dipertanggungjawabkan. Kami percaya bahwa melawan maraknya berita-berita dusta tidak bisa dilakukan hanya dengan membangun kesadaran tapi juga dengan mengajak warga untuk memproduksi informasi itu sendiri dan menyediakan ruang bagi mereka.

Pada AJW 2016 dengan tema Menyuarakan yang tak terdengar diikuti 44 karya (teks, foto, video, ilustrasi). Kemudian AJW 2017 dengan tema Bhinneka Tunggal Media, Merayakan Keberagaman Indonesia melalui Jurnalisme Warga diikuti 35 karya tersebar di 12 media komunitas selain BaleBengong (Bali) adalah Lingkar Papua (Papua), Kampung Media (NTB), Kabar Desa (Jawa Tengah), Plimbi (Bandung), Kilas Jambi (Jambi-Sumatera), Tatkala (Buleleng-Bali), Nyegara Gunung (Bali), Nusa Penida Media (Klungkung-Bali), Sudut Ruang (Bengkulu), Peladang Kata (Kalimantan Barat), dan Noong (Bandung). BaleBengong melibatkan 11 media alternatif dari seluruh Indonesia. Pewarta warga bersaing di tingkat nasional.

Makin banyak informasi yang jernih dan dari sekitar kita, makin mudah memetakan masalah dan solusinya. Agar akses internet berguna bagi kebaikan dan pemberdayaan.

Foto-foto: Wayan Martino

 

The post Merayakan Solidaritas dan Kabar dari Akar di Anugerah Jurnalisme Warga 2018 appeared first on BaleBengong.

Ini Zat Kimia, Awas Terpapar Racunnya (Sebuah cerita kolaborasi netijen)

Stoned Faces Don’t Lie pada sebuah malam yang jauh terentang ke sekitar empat tahunan lalu saya temukan di platform Soundcloud. Nama bandnya adalah Zat Kimia. Klak klik sana sini bertemulah nama Ian J. Stevenson. Akunnya di platform itu adalah Wayan Jos.

Di sana, lagu berikutnya yang jadi favorit adalah Di sana Di mana dan Sandiwara Paranoia. Halaman itu membawa saya bergeser ke fanpage Zat Kimia, merunut tiap jadwal manggung, info hingga lagu-lagu yang dilepas ke media sosial. Pertemuan penggemar dan idolanya terjadi, di satu panggung di Antida dan gigs gigs lain. Stoned Faces Don’t Lie memikat saya lagi, ia seperti cinta pertama.

Jong, si seniman teater yang beken dengan Teater Kalangan-nya, jejingkrakan tak keruan ketika Zat Kimia main di Rumah Sanur. Entah kapan saya lupa. Setelahnya doi membuat tulisan panjang, isinya analisis lirik lagu Euforia Ku Hampa. Doi mendedah baris per baris, rinci lengkap dengan dagelan berbahasa Balinya juga kutipan kutipan penyair. Curcolnya bisa disimak di sini. Seorang penggemar berat.

Euforia Ku Hampa, adalah lagu kelima di album Candu Baru. Lagu soal patah hati? Barangkali. Album Candu Baru dilepas pada akhir September 2017. Ada 10 lagu menggenapi album ini. Sayang Stoned Faces Don’t Lie sang cinta pertama, tidak nongol di album ini atau lagu-lagu favorit lainnya. Materi di Album Candu Baru sempat dikerjakan bareng Mark Liepmann karib Ian, juga Onki personil gitar Zat Kimia sebelum Bimo.

Ada juga Dadang-Dialog Dini Hari yang turut menulis lirik lagu Frekuensi bareng Ian. Beberapa lagu sudah dilepasdengarkan ke publik jauh sebelum album ini dirilis. Dalam Diam salah satunya, lagu yang merespon kearifan Nyepi. Lalu Feromon, lagu yang sempat dijagokan dalam perhelatan Rock In Battle Super Music.ID. Reaktan adalah lagu yang muncul di barisan pertama. Intro yang catchy. Ada ketukan drummer Kiki yang padat, lalu suara serak Ian yang harmonis dengan permainan gitar Bimo dan petikan bass Edi.

“Terinspirasi dari Grand Design-nya Stephen Hawking”, kata Ian soal buku yang dibacanya. Reaktan, lagu yang lirik-liriknya berisi kata kata semacam: semesta vibrasi bereaksi, terinspirasi pasca Ian membaca buku sang penulis kosmologi cum fisikawan beken itu. Dan lanjut Ian, ada bantuan dari buku The Secret juga. Doi juga memfavoritkan film Interstellar, The Godfather, dan Kungfu Boy.

 

Zat Kimia menerima ajakan bersua para relawan Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) BaleBengong awal pekan lalu. Empat lelaki itu, yang biasanya tak banyak bicara di atas panggung, ternyata senang ngobrol. Bercerita soal Zat Kimia, pengalaman personal, dan inspirasi lagu-lagu mereka. Mulai dari jaket merah Ian di Kaimsasikun yang ala-ala emo, video klip Ian menuntun sepeda di klip Dialog Dini Hari yang berjudul Pagi, Mark Liepmann, Dewiq, Dua Lipa, Guruh Gypsi hingga tips membuat bubur bayi dan pesan jauhi susu formula dari Edi, bapak baru :))

Zat Kimia buat saya pribadi lekat dengan Reaktan, Candu Baru, Frekwensi, Feromon dan Ennui. Mereka seperti Creep yang mengingatkan pada Radiohead atau Don’t Look Back Angernya Oasis. Everlasting.

Zat Kimia, seperti tagline mereka ada dimana-mana akan mengada bagi kita penikmat musik di akhir pekan ini. Wayan Jos aka Ian, Bimo, Edi dan Kiki, pada Minggu, 11 November di Taman Baca Kesiman akan ngobrol lebih intim dan main secara live. Ayo mention #TanyaZatKimia di akun twitter dan IG @BaleBengong. Mari sama-sama menikmati daya eksplosif Zat Kimia.

Ini adalah kisah rintisan yang dimulai dari @AsthaDitha. Silakan kirim cerita versimu juga tentang Zat Kimia, kita kolaborasi di sini. Bisa video, diskografi, ilustrasi, komik, apa saja. Karena Reaktan kan menjelma sesuai ruang jiwamu.

The post Ini Zat Kimia, Awas Terpapar Racunnya (Sebuah cerita kolaborasi netijen) appeared first on BaleBengong.

Pelayaran Terakhir Made Indra di “Earthship”

Sehari sebelum meninggal, Made Indra menyelesaikan rekamannya.

Mendiang Made Indra, pemain bass Navicula selama 12 tahun ini, mendapat penghormatan dalam album ke-9 band ini. Made meninggal dalam kecelakaan mobil bersama teman dekatnya sehari setelah merampungkan mengisi gitar bass album ini.

Sebelum kehilangan Made, Navicula juga melepas drummer lawasnya yang bergabung sejak 1996, Gembull. Tahun yang cukup melelahkan bagi personel tersisa, Gede Robi (vokal, gitar) dan Dadang Pranoto (gitar). Pengganti Gembull adalah Palel Atmoko (drum), dan Krishna Adipurba (additional bassist).

Kelelahan secara psikis coba dilawan dengan berkarya. Inilah 9 judul lagu album Earthship, secara berurutan adalah Di Depan Layar, Biarlah Malaikat, Nusa Khatulistiwa, Ibu, Dagelan Penipu Rakyat, Tentang Harga Diri, Serahkan Dirimu pada Cinta, Emily, Lagu Sampah, dan Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti.

Dua lagu sudah familiar di telinga pendengar Navicula karena sudah dirilis sebelumnya, keduanya tentang ibu. Pertama lagu Ibu, penghormatan bagi pejuang lingkungan petani Kendeng dan lagu penghormatan pada tradisi Nyepi sebagai salah satu kearifan lokal merehatkan ibu bumi.

Bagaimana rasanya menikmati Earthship yang sudah bisa disimak di platform etalase musik digital? Beberapa orang menyebut belum ada yang “nempel”. Namun jika disimak lebih dari sekali, ada banyak warna dan eksplorasi. Robi ng-rap, alat musik tradisional di Nusa Khatulistiwa, dan misi aktivisme khas Robi.

Navicula akan merilis album ini pada peringatan hari Pahlawan, 10 November di sebuah mall baru di tengah Kota Denpasar. Pilihan yang mengejutkan, karena di seberang venue ada bioskop. Apakah distorsi grunge dan rock akan menarik pengunjung ke lantai paling atas mall ini?

Dalam siaran persnya disebut album ini adalah karya terakhir yang selesai direkam oleh almarhum Made Indra tepat sehari sebelum kecelaakan yang menimpanya pada 24 Maret 2018. “Album ini spesial. Made mengisi seluruh bagian bass dalam album Earthship. Album ini kami dedikasikan untuk Made,” kata Gede Robi, vokalis dan gitaris Navicula.

Album Earthship yang diproduseri oleh Yayasan Manik Bumi berisi 10 lagu mengenai lingkungan, kritik sosial, pluralisme, dan situasi politik di Indonesia. Album ini masih bernapaskan semangat yang terus ditiupkan Navicula yaitu perdamaian, cinta, dan kebebasan.

Untuk peluncuran album Earthship, Navicula ingin menyajikan konser yang intim. Tiket yang dijual tak lebih dari 200 lembar. Konser ini juga menampilkan Zat Kimia dan Made Mawut.

Pada konser ini Navicula akan merilis video klip single kedua dari album Earthship berjudul “Di Depan Layar“ yang disutradarai oleh Erick EST. Sebagian gambar video klip “Di Depan Layar” diambil  pada perjalanan tour di Australia, November 2017.

Sebelumnya Navicula telah merilis video klip lagu “Ibu” pada Juni 2018 dan lagu “Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti” pada Hari Raya Nyepi tahun 2016.

Di konser spesial ini, Navicula juga akan membagi video perjalanan selama tur di Eropa pada 3-17 Oktober lalu. Navicula menyambangi beberapa kota di enam negara, yaitu Jerman, Austria, Slovakia, Hungaria, Polandia dan Republik Ceko.

“Awalnya karena ada undangan dari Pasar Hamburg. Lalu Navicula mengambil kesempatan ini dengan menambahkan durasi tour dengan bermain di lima negara di Eropa lainnya,” kata Robi.

Pasar Hamburg adalah event tahunan di Hamburg, Jerman dan untuk lanjutan tur di kota lain Navicula bekerja sama dengan komunitas kreatif Siasat Partikelir.

Penampilan Navicula di acara Kopernik Day 2018: Perayaan 8 Tahun Kolaborasi dan Inovasi. (Photo credit: Fauzan Adinugraha/Kopernik)

Film Pulau Plastik

Selama tur Eropa, Navicula memutar video promo film Pulau Plastik, serial dokumenter tentang carut marut masalah sampah plastik di Bali. Pulau Plastik yang rencananya akan dibuat sebanyak 8 episode membahas masalah sampah plastik secara mendetail, terkait manajemen, inisiatif lokal, data dan statistik, peran pemerintah, itikad pengusaha, kesadaran publik, dan kebijakan lokal.

Sampah plastik kini menjadi isu penting di nasional dan internasional karena buruknya pengelolaan sampah membuat massifnya plastik yang berakhir di lautan. Ancaman seriusnya kemudian adalah mikroplastik yang terkandung pada ikan yang dikonsumsi manusia.

Pada Pulau Plastik, Robi menelusuri persoalan sampah plastik dari pola konsumsi masyarakat yang kemudian berakhir menjadi masalah yang kemudian dikonsumsi kembali oleh masyarakat. Film ini adalah kolaborasi antara Akarumput, Kopernik, ASA Film, Ford Foundation, National Geographic, dan The Body Shop.

Film ini dimaksudkan untuk mendukung kolaborasi berbasis solusi antara masyarakat, pemerintah, dan korporasi. “Semua pihak diharapkan duduk bersama dan berkomitmen mencari solusi mengenai pengurangan pemakaian plastik terutama konsumsi plastik sekali pakai,” kata Robi. [b]

The post Pelayaran Terakhir Made Indra di “Earthship” appeared first on BaleBengong.

Ngobrolin kewirausahaan dan seksualitas yuk!

Hai Sahabat KISARA! Kalau ngobrolin seksulitas bareng KISARA sudah jadi hal yang biasa yaa, tapi bagaimana kalau wirausaha? Apakah nyambung dengan topik seksualitas? Nah, kali ini kita bakal share kegiatan seru yang beda banget dari kegiatan kisara sebelumnya, yaitu sharing session antara Udayana Young Enterpreneur Community (UYEC) dan Sekaa Teruna Teruni (STT) Tegal Harum, Denpasar....