Tag Archives: Berita Utama

Sejarah dan Keunikan Kelapa di Desa Nyuhtebel

Apakah daging kelapa di Desa Nyuhtebel lebih tebal? Atau kulitnya yang tebal? Kepala Desa atau Perbekel Ketut Mudra, merangkumnya dalam narasi sejarah dan kondisinya kini.

Oleh Pewarta Warga Nyuhtebel

Desa Nyuhtebel di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem Bali memiliki asal usul nama desa berkaitan dengan keberadaan hutan kelapa. Hal tersebut tersurat di dalam prasasti Kerajaan Gelgel tentang misi pasukan Kerajaan Gelgel atas perintah Raja Gelgel tahun 1465 M Dalem Batur Enggong Kresna Kepakisan untuk melumpuhkan kekuatan dan mengambil alih kekuasaan De Dukuh Mengku Tenganan karena tidak tunduk kepada kekuasaan Kerajaan Gelgel.

Setelah misi tersebut berhasil, hutan kelapa yang sangat lebat di sebelah selatan Desa Tenganan hingga ke tepi pantai diserahkan kepada pasukan perang kerajaan Gelgel dibawah komando Ki Bedolot untuk membangun benteng pertahanan perang, mengawasi antek antek De Dukuh Mengku yang belum tertangkap dan juga melindungi keamanan Kerajaan Gelgel di bagian Timur.

Pusat Benteng pertahanan perang inilah yang lambat laun berkembang menjadi desa bernama Desa Nyuhtebel. Nyuh berarti Kelapa, tebel bermakna sangat lebat. Nyuhtebel mengandung makna hamparan hutan kelapa yang sangat lebat.

Seiring perjalanan waktun semenjak tahun 1465 hingga masa kini, hamparan hutan kelapa yang sangat lebat mengalami alih fungsi menjadi tegalan dengan tanaman campuran kelapa, pisang, kakao, dan kayu hutan.  Ada juga yang diolah menjadi lahan sawah. Memasuki tahun 80-an hingga tahun 90-an, alih fungsi lahan tegalan kelapa meningkat.

Sejumlah penyebabnya adalah, perkembangan kepariwisataan kawasan Candidasa di era tahun 80-an. Kemudian berkembangnya usaha agribisnis peternakan ayam ras dan babi di desa Nyuhtebel. Kedua sektor usaha tersebut telah mencaplok lahan tegalan kelapa puluhan hektar beralih fungsi menjadi sarana wisata dan juga kandang ternak.

Ribuan pohon kelapa lokal produktif menjadi korban penebangan dimanfaatkan untuk bahan bangunan wisata dan kandang ternak. Dampak ikutan perkembangan industri pariwisata Candidasa mendorong percepatan pembangunan sektor perumahan di desa Nyuhtebel yang juga banyak mencaplok lahan tegalan kelapa dan penebangan pohon kelapa produktif dijadikan bahan bangunan.

Memasuki era 90-an, potensi tegalan kelapa Nyuhtebel hanya tinggal 50 persen dari era sebelum 80-an. Upaya rehabilitasi juga dilakukan oleh pemerintah melalui proyek (PRPTE) tanaman perkebunan. Tujuan proyek untuk meningkatkan produksi kelapa melalui intensifikasi, perluasan tanam tidak banyak dapat dilakukan karena lahan sudah sangat terbatas.

Kini tegalan kelapa di Desa Nyuhtebel keberadaanya sekitar 153 hektar. Populasi tanaman kelapa berbuah berkisar 9.120 pohon, tanaman kelapa umur bawah lima tahun/belum berbuah sekitar 1.530 pohon.

Panen kelapa di desa Nyuhtebel dilakukan sebanyak 6 kali dalam setahun.  Panen tidak dilakukan serentak, tetapi bertahap sesuai kemampuan kelompok pemanen kelapa disebut “sekaa penek nyuh”.

Hasil panen kelapa setiap kali panen dapat mencapai 63.840 kelapa butiran. Atau dalam kurun waktu setahun desa Nyuhtebel dapat menghasilkan 383.040 kelapa butiran.

Harga kelapa butiran di tingkat pengepul berfluktuasi antara Rp 1.500 – Rp2500 perbutir. Potensi pendapatan desa Nyuhtebel dari buah kelapa mencapai Rp574.560.000 setahun.

 

Pengolahan lengis nyuh

Desa Nyuhtebel banyak menghasilkan buah kelapa butiran. Sebelum era 80-an, tingkat hasil kelapa lokal Nyuhtebel mencapai 4 kali lipat dari sekarang. Di samping karena populasi pohon kelapa berbuah/produktif masih tinggi, juga karena rerata hasil per pohon relatif lebih tinggi dari saat ini.

Rerata hasil kelapa lokal Nyuhtebel saat ini 14 butir per pohon produktif.  Dari jumlah pohon kelapa produktif yang ada saat ini diperoleh sekitar 63.840 butir setiap panen. Panen kelapa dilakukan antara 52-60 hari sekali.

Sebelum era 80-an, hasil buah kelapa butiran di desa Nyuhtebel diolah menjadi kopra dan juga minyak goreng skala rumah tangga. Setelah tahun 90-an, bisnis kelapa butiran mulai marak.

Para pengupul kelapa berlomba lomba untuk dapat membeli kelapa petani saat panen. Harga kelapa butiran menjadi sangat fluktuatif. Hari ini harga kelapa butiran di Nyuhtebel sangat anjlok mencapai Rp 800 per butir. Harga paling tinggi yang pernah dicapai Rp 4200 perbutir.

Pada saat harga kelapa anjlok, banyak petani yang tertarik untuk mengolah buah kelapanya menjadi minyak goreng.  Alasan yang dikemukakan, jika harga anjlok panen kelapa sering molor karena juru petik kelapa kurang bersemangat. Akibatnya buah kelapa tua di pohon jatuh sendirinya.  Buah kelapa yang sudah sangat matang/tua di pohon dipercaya petani akan banyak menghasilkan minyak jika diolah.

Pengolahan kelapa butiran menjadi minyak dilakukan oleh petani secara tradisional. Hasil rata rata dari 25 butir kelapa dapat diperoleh minyak goreng 3 liter. Harga lokal untuk 3 liter minyak goreng kelapa lokal Nyuhtebel mencapai Rp 50.000

Jika suatu saat harga kelapa butiran lebih dari Rp 2.000 per butir, maka petani akan memilih menjual kelapanya dalam bentuk kelapa butiran. Selain itu, petani akan mempercepat panen buah kelapanya untuk cepat dapat uang.

Teknik tradisional pengolahan lengis nyuh

Petani Desa Nyuhtebel memanfaatkan buah kelapa yang sudah tua untuk membuat minyak goreng dari sejak dahulu hingga sekarang. Teknik membuat minyak kelapa di Nyuhtebel dilakukan secara tradisional dan turun temurun. Teknik yang diterapkan sangat sederhana, mudah, dan murah.

Langkah pertama, petani memilih buah kelapa yang tua yang banyak mengandung minyak. Daging kelapa dipisahkan dari batoknya lalu dicuci bersih dan diparut.

Hasil parutan daging kelapa dibuat santan dengan menggunakan air hangat secukupnya. Santan hasil pemerasan pertama ditambahkan dengan hasil pemerasan kedua kali.  Selanjutnya santan tersebut didiamkan di baskom.

Di dalam baskom, santan kelapa akan mengalami fermentasi. Setelah kurang lebih satu jam akan tampak di baskom santan yang mengandung minyak bergerak menuju lapisan permukaan sedangkan air santan terdesak turun ke lapisan  di bawahnya. Santan kental yang berada di atas lapisan air ini disebut “santan prima”. Santan prima akan menghasilkan minyak kurang lebih setelah sepuluh jam didiamkan di dalam baskom.

Ada juga petani yang menggunakan teknik fermentasi lanjutan yaitu: santan prima dipanen/diambil/ dipisahkan dengan airnya, lalu ditempatkan pada baskom lain. Selanjutnya santan prima ini dicampur dengan air kelapa bersih sebanyak 10 persen. Diaduk aduk supaya air kelapa larut di santan selanjutnya didiamkan di baskom.

Setelah kurang lebih 8 jam akan terjadi reaksi fermentasi yaitu: air akan terpisah dari minyak. Lapisan air berada di bawah lapisan minyak, bagian padatan/zat padat berminyak (disebut blondo, atau telengis dalam bahasa Bali) terdesak ke lapisan atas minyak, sehingga di dalam baskom tampak lapisan minyak berada di antara lapisan air dan lapisan blondo. Reaksi fermentasi ini terus terjadi berkelanjutan sehingga lapisan minyak tumbuh semakin tebal. Setelah 24 jam lebih kemudian lapisan minyak  dapat dipanen untuk diolah lebih lanjut menjadi minyak goreng.

Minyak yang sudah dipanen kadang tercampur air dan blondo, oleh karena itu perlu dibersihkan. Petani ada yang memanfaatkan kertas filter untuk memisahkan blondo yang tercampur di minyak, ada juga yang menggunakan teknik pemanasan.

Tujuannya sama yaitu supaya minyak tidak tengik. Untuk minyak yang dipanasi dengan cara digoreng terkadang petani menambahkan daun pandan ke dalamnya untuk membuat bau yang harum.

The post Sejarah dan Keunikan Kelapa di Desa Nyuhtebel appeared first on BaleBengong.

Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional

Remaja berusia 13 sampai 16 tahun dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek ini.

Youth Jury Board Minikino Film Week 4

Minikino Film Week (MFW) di bawah naungan yayasan Kino Media tahun ini masuk usia keempat. Sejak awal festival film pendek internasional ini dirancang sebagai festival yang masuk dalam keseharian masyarakat, membuka kesempatan pada semua orang mengalami suasana menonton bersama dan sekaligus mengajak untuk bersikap lebih kritis terhadap apa yang ditonton.

Tahun ini Minikino mengawali rangkaian kegiatan pra-festival dengan mengadakan pelatihan selama tiga hari penuh di Omah Apik, Pejeng, Gianyar. Pelatihan bertajuk ‘MFW 4 Youth Jury Camp 2018’ telah dilangsungkan pada tanggal 6-8 Juli 2018. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi remaja berusia 13 sampai 16 tahun untuk dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek berskala internasional ini.

Jalur pendaftaran MFW4 Youth Jury Camp 2018 dibagi dua yaitu, jalur pendaftaran umum dan jalur beasiswa. Untuk jalur umum, pendaftaran dipromosikan di Indonesia dan Asia Tenggara melalui website dan media sosial, dengan persyaratan biaya pendaftaran. Sedangkan jalur beasiswa hanya dibatasi untuk 2 (dua) remaja yang memiliki Nomor Induk Siswa Nasional dari wilayah Bali. Penerima beasiswa mendapatkan fasilitas bebas biaya sepenuhnya, namun melalui proses wawancara dan proses seleksi yang ketat.

“Ini merupakan kesempatan yang istimewa dan bergengsi untuk para remaja. Mereka mendapat pelatihan khusus dan diberikan peran yang penting secara aktif menilai film-film pendek kategori anak, remaja dan keluarga. Film-film pendek yang dinilai oleh para juri remaja adalah yang sudah lolos resmi dari tim seleksi Minikino. Di dalam pelatihan ini mereka menentukan 5 nominasi internasional untuk Youth Jury Award 2018,” kata direktur festival Minikino Film Week 4, Edo Wulia.

Sebanyak 6 (enam) remaja dari Bali, Jakarta, dan Tangerang berhasil menyelesaikan rangkaian pelatihan intensif tersebut dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari festival sebagai MFW 4 Youth Jury Board. Mereka adalah Sophie Louisa (15) dan Keane Levia Koenathallah (16) dari Tangerang Selatan, Natasya Arya Pusparani (15) dari Jakarta Selatan, Seika Cintanya Sanger (15) dari Tabanan, serta Ni Ketut Manis (15) dan I Putu Purnama Putra (15) dari Karangasem.

Di hari pertama MFW4 Youth Jury Camp 2018, peserta dibekali dengan sejumlah materi tentang sejarah film dunia termasuk pengaruhnya di Indonesia, tata-cara mendengarkan dan mengemukakan pendapat, mengenal elemen gambar dan suara dalam film, serta kreatifitas tutur visual. Pelatihan ini langsung disampaikan oleh dewan komite Minikino Film Week 2018, yaitu Direktur Festival Edo Wulia, Direktur Program Fransiska Prihadi, Direktur Eksekutif I Made Suarbawa, serta fotografer resmi untuk festival, Syafiudin Vifick ‘Bolang’ yang secara profesional telah dikenal luas di Indonesia.

Modul-modul yang disiapkan dan diberikan para pengajar dalam pelatihan ini memiliki peran besar. Membantu para juri remaja menyaring puluhan film pendek internasional yang ditonton dan dibahas secara mendalam menjadi 5 (lima) nominasi 2018 Youth Jury Award. Keputusan ini dihasilkan melalui metode diskusi yang serius, proses mempertanggungjawabkan pendapat dan berujung pada mufakat.

Proses ini menciptakan tidak hanya sebuah proses penjurian yang kritis, namun juga generasi muda yang memiliki kualitas kepemimpinan yang sekaligus memiliki kepekaan untuk melihat, mendengarkan, mengemukakan pendapat, dan kemampuan mencari titik temu untuk kepentingan bersama.

I Putu Purnama Putra, salah satu peserta dari Karangasem yang mengikuti MFW4 Youth Jury Camp lewat jalur beasiswa berkata bahwa ia digembleng banyak hal selama 3 hari tersebut. “Awalnya saya kaget, ternyata lolos seleksi beasiswa. Saya agak jarang nonton film, dan kalau pun menonton hanya menikmati saja. Tapi sekarang saya juga ikut menilai apakah tontonan itu bagus atau tidak.”

Natasya Arya Pusparani yang berasal dari Jakarta Selatan juga menyatakan bahwa MFW4 Youth Jury Camp ini merupakan sebuah pengalaman baru baginya. “Sebenarnya saya tipe orang yang lebih suka mendengarkan (pendapat orang lain). Tapi di MFW4 Youth Jury Camp ini saya dibimbing para mentor untuk berani mengemukakan pendapat. Pengalaman yang sangat bagus buat saya. Suasananya juga sangat bersahabat.” Ungkapnya.

Proses penjurian dalam Youth Jury Camp 2018 berlangsung lancar dan mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Namun semuanya masih akan berlanjut. Pada saat festival MFW 4 di Bali, tanggal 6 sampai 13 Oktober 2018 mendatang, para juri remaja tingkat internasional ini akan melanjutkan kembali diskusi mereka untuk menentukan 1(satu) peraih penghargaan prestisius 2018 MFW Youth Jury Award. Bahkan seluruh komite festival ikut penasaran menunggu keputusan mereka. Untuk info lebih lanjut bisa diikuti di tautan link minikino.org/filmweek

Levia (16) dalam sesi review MFW4 Youth Jury Camp 2018
Levia (16) mengemukakan pendapatnya tentang film yang baru saja ditonton.(foto: Vifick Bolang)
Hari kedua MFW4 Youth Jury Camp 2018
Para peserta menonton film pendek calon nominasi Youth Jury Award Minikino Film Week 4. (foto: Vifick Bolang)
Edo Wulia (Direktur Festival Minikino Film Week) menjelaskan materi sejarah film dunia. (foto: Vifick Bolang)
Diskusi bersama, saling mendengarkan dan berpendapat untuk mencapai mufakat.(foto: minikino)

The post Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional appeared first on BaleBengong.

Membaca Tarot, Meneropong Pilgub Bali 2018

Pembaca kartu tarot Age Darmaniaga.

Besok, 27 Juni 2018 adalah hari penting bagi masyarakat Bali.

Mereka menggunakan hak politik memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Bali untuk lima tahun ke depan. Bagi tim sukses tiap pasangan calon (paslon) besok adalah hari penentuan bagi kerja keras mereka dalam memenangkan paslon menjadi pemimpin Bali pilihan rakyat.

Saya tak hendak menulis analisis politik. Sudah banyak tulisan mengenai itu baik yang ditulis oleh pakar dan pengamat politik atau orang biasa yang banyak menulis, berdebat hingga ribut karena berbeda pandangan di berbagai grup yang ada di media sosial.

Kali ini saya ingin menulis tentang Pilgub Bali berdasarkan kartu tarot, oleh banyak orang dikenal sebagai media untuk meramal nasib dan masa depan berdasarkan kartu yang memiliki makna serta arti yang berlainan satu dengan lainnya.

Pembacaan kartu tarot ini atas inisiatif saya sendiri saat mengunjungi Age Darmaniaga, seorang wirausahawan yang juga pembaca tarot. Pertemuan saya dengannya berlangsung di kantornya di bilangan Padangsambian, Denpasar pada 21 Juni 2018.

Sebaran Kartu Koster – Cok Ace.

Tahap pertama, saya meminta ia membuka kartu tarot dan mencoba ‘membaca’ pasangan calon (paslon) I yakni I Wayan Koster –Cokorda Artha Ardhana Sukawati (Koster-Cok). Metode yang dipakai adalah pembacaan lima kartu, artinya ada lima kartu yang ditebar dan memiliki makna yang berbeda namun merupakan satu-kesatuan.

Kartu pertama yang muncul adalah kartu ‘Strength”.

Pada konteks Paslon I bermakna banyak sekali kendala atau rintangan yang dihadapi baik dari dalam maupun dari luar, sebelum atau saat proses pencalonan diri sebagai Paslon. Seperti seekor singa buas, tak semua pihak bisa diajak bekerja sama. Ada yang terang-terangan ‘membelot’ dan memberikan dukungan pada lawan politik.

Dikaitkan dengan keadaan saat ini, dalam politik memang tidak ada yang abadi, mesti benar-benar kuat menghadapi segalanya.

Kartu kedua yang muncul adalah Nine Pentacles, bermakna Paslon ini sangat berharap sebuah kebaikan –terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Bali dan memiliki ambisi serta tekad yang kuat dalam mewujudkan hal itu.

Kartu ketiga yang muncul adalah Eight of Cups bermakna hendaknya Paslon ini tetap berjalan pada jalurnya, mengikuti arus dan menyerahkan segalanya pada Tuhan.

Waktu akan menjawab semuanya, tak perlu menghiraukan berbagai kendala yang dihadapi betapapun besarnya kendala tersebut. Walaupun banyak kendala dan cobaan yang datang seperti orang dalam yang ‘berkhianat’ tak usah dihiraukan, masih banyak orang yang mendukung Paslon ini.

Kartu keempat yang muncul adalah King of Wands, bermakna harapan baik datang dari Paslon ini. Dia sudah memegang harapan itu, walaupun banyak cobaan yang diterima. Harapan akan terpilih menjadi pemimpin Bali akan terkabul dan kemungkinan besar terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Bali yang baru.

Kartu kelima yang muncul adalah Knight of Cups. Bermakna memegang harapan dan kemenangan, seperti pasukan yang memenangkan sebuah pertempuran.

Foto kartu tarot Ida Bagus Dharmawijaya Mantra-Ketut Sudikerta.

Pada tahap kedua kartu yang dibuka adalah untuk Paslon II yakni Ida Bagus Dharmawijaya Mantra-Ketut Sudikerta (Mantra-Kerta) Sama seperti tahap pertama, kartu tarot yang ditebar berjumlah lima, dan berikut kartu-katu yang muncul: kartu pertama adalah Three of Pentacles, bermakna saat ini banyak orang belum memutuskan pilihan pada Paslon ini. Hanya menilai dari luar berbagai program yang ditawarkan dan mempertanyakan gebrakan Paslon ini.

Kartu kedua yang muncul adalah Ace of Wands, bermakna Paslon ini memiliki harapan baru, dalam artian ingin menjadi pemimpin dan menjalankan program-program yang belum atau tidak dijalankan sebelumnya sebagai orang yang pernah menjabat sebuah jabatan,

Kartu ketiga yang muncul Four of Pentacles, bermakna adanya kendala. Paslon ini mesti lebih ‘lepas’ dalam penyampaian program-program dan tidak tertutup—dalam kampanye program yang disampaikan belum menyentuh lapisan bawah dan hanya pada level atau golongan tertentu.

Kartu keempat yang muncul adalah Five of Pentacles, bermakna hasil akhir kurang bagus. Kartu ini bergambar orang miskin dan menderita yang mempunyai arti kurang memuaskan, banyak berdoa semoga ada mukjizat dari Tuhan. Ikhlaskan dan serahkan semua pada-Nya.

Kartu kelima yang muncul adalah The Star, bermakna tak usah khawatir akan kekalahan, Paslon ini masih akan bersinar karir politiknya dan masih diperlukan sumbangsih serta keahliannya dalam membangun Bali.

Demikianlah hasil pembacaan kartu tarot berkaitan dengan Pligub Bali 2018. Mohon tidak dimaknai lain selain sebagai sebuah ramalan berdasarkan kartu tarot. Bisa jadi apa yang disampaikan salah dan meleset, berbeda dengan kenyataan.

Ini hanyalah sebuah prediksi, sama seperti prediksi tim sepakbola yang menang dalam sebuah pertandingan pada Piala Dunia yang sedang berlangsung dan digemari masyarakat seantero negeri. Selamat menggunakan hak pilih Anda. [b]

The post Membaca Tarot, Meneropong Pilgub Bali 2018 appeared first on BaleBengong.

Guliang Kangin Mengubah Pola Pikir tentang Pariwisata

Bendesa Adat Guliang Kangin, Ngakan Putu Suarsana, menceritakan terbangunnya Desa Wisata Guliang Kangin saat menerima kunjungan mahasiswa Program Studi Arsitektur Pertamanan, Fakultas Pertanian Unud, Sabtu, (26/5).

Pada awalnya, ide I Ketut Sediyasa ditolak masyarakat.

Pada 2012 lalu, I Ketut Sediayasa mempunyai ide untuk mengembangkan tempat kelahirannya, Desa Adat Guliang Kangin, Desa Tamanbali, Bangli menjadi destinasi wisata. I Ketut Sediayasa menyampaikan ide itu pada forum adat.

Miris, idenya ditolak oleh masyarakat.

Meski ditolak, ide I Ketut Sediayasa disambut baik oleh beberapa tokoh masyarakat. Mereka menyadari ide yang ditawarkannya itu bukan tanpa alasan. Berbekal pengalaman dibidang travel agent, Sediayasa telah mengunjungi berbagai daerah yang berkembang menjadi destinasi wisata.

Dampak yang dilihatnya, daerah-daerah tersebut mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Atas dasar inilah I Ketut Sediayasa berkeinginan untuk mengembangkan tanah kelahirannya menjadi salah satu destinasi wisata di Pulau Dewata.

“Kebetulan beliau sering mengantarkan tamu. Kesimpulan yang beliau dapat, di manapun daerah berkembang menjadi daerah pariwisata, beliau melihat ada perkembangan ekonomi yang lumayan bagus,” kata Bendesa Adat Guliang Kangin, Ngakan Putu Suarsana.

Ngakan mengisahkan perjalanan terbentuknya Desa Wisata Guliang Kangin ketika menerima kunjungan mahasiswa Program Studi Arsitektur Pertamanan, Fakultas Pertanian Unud, Sabtu, (26/5).

Suarsana menilai wajar apabila masyarakat pada awalnya menolak adanya gagasan membangun desa wisata itu. Secara umum masyarakat memang belum pernah melihat wisatawan berkunjung ke Desa Adat Guliang Kangin, terlebih berinteraksi secara langsung dengan mereka. Ia menilai hal inilah yang menyebabkan ide membangun desa wisata itu sempat ditolak oleh masyarakat.

“Mereka pesimis itu bisa dilakukan,” kisah Suarsana.

Sikap pesimis masyarakat ini juga didasari dari keberadaan Desa Adat Guliang Kangin yang lokasinya berada di daerah pinggiran. Letaknya berbatasan langsung dengan Kabupaten Gianyar di sebelah selatan dan Kabupaten Klungkung di sebelah timur sehingga tidak dilalui oleh jalan raya.

Mengubah ‘Mindset’

Guna menampung ide dari I Ketut Sediayasa, para tokoh masyarakat melakukan berbagai upaya. Harapannya, ide itu dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Selama kurung waktu enam bulan, masyarakat selalu diajak untuk berdiskusi mengenai pariwisata.

Diskusi itu dilakukan diberbagai kegiatan seperti paruman adat, diskusi kelompok maupun diskusi kecil, sampai pada diskusi melalui jalur perorangan. Diskusi itu menitikberatkan pada kelebihan, kekurangan dan permasalahan yang dihadapi dalam mengembangkan desa wisata.

“Akhirnya sekitar bulan September (2012) kita sepakat bahwa mengambil peran dalam dunia pariwisata atau menjadi destinasi pariwisata,” terang Suarsana.

Suarsana menceritakan dalam upaya mengubah pola pikir masyarakat mengenai pariwisata memang tidak mudah. Berbagai upaya dikerahkan untuk melakukan proses tersebut. Bagi Suarsana, forum-forum adat memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat.

Desa Adat Guliang Kangin memiliki jadwal paruman adat setiap sebulan sekali. Paruman adat ini biasanya dipakai untuk melaksanakan berbagai pembahasan mengenai adat. Lewat kesempatan itu Suarsana dan tokoh masyarakat lain selalu menyelipkan pembahasan materi mengenai pariwisata dan desa wisata. Selain itu, inisiator dalam hal ini I Ketut Sediayasa selalu diundang dalam forum adat untuk memparkan ide-ide mengenai desa wisata tersebut.

Pada paruman adat biasanya hanya dihadiri oleh laki-laki. Meski demikian Suarsana dan para tokoh masyarakat tidak kehabisan ide. Demi edukasi  sampai kepada para perempuan, mereka melakukannya melalui forum Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

“Sebelum odalan ada pesangkepan (rapat, red) istri namanya, di sana juga kita susupi materi ini setengah jam,” tutur Suarsana.

Tidak hanya itu, untuk mengedukasi kalangan generasi muda, Suarsana melakukannya lewat forum rapat Seka Teruna-Teruni dan pasraman remaja. Sedangkan untuk anak-anak diedukasi melalui pasraman anak-anak. “Nah untuk anak-anak selain kita masuk dari situ, kita juga masuk melalui sekolah,” tuturnya.

Melalui jalan ini, menurut Suarsana telah terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan desa wisata yang sudah sampai 80 persen. Dicontohkan Suarsana, masyarakat selalu aktif dalam kegiatan wisata seperti ada penjemputan tamu di Pelabuhan Benoa, pelibatan dalam berbagai atraksi dan berbagai hal lainnya.

“Kalau ada wisatawan yang mengambil paket dari penjemputan di Benoa, kita bisa kerahkan masyarakat sampai 60 orang. Dari penari, tukang gambel dan sebagainya,” terang Suarsana.

Meski demikian, Suarsana juga tidak menampik masih ada masyarakat yang belum bisa disentuh dengan edukasi yang demikian.

Lebih lanjut Suarsana menilai, meski masih ada masyarakat yang belum berpartisipasi dalam kegiatan desa wisata dirinya tetap bersyukur. Ia berkaca dari daerah lain yang masyarakatnya enggan berpartisipasi biasanya mengganggu aktivitas wisata. Kejadian semacam ini, menurut Suarsana, tidak terjadi di Desa Wisata Guliang Kangin.

Fokus pada Atraksi

Meski telah disetujui oleh masyarakat untuk terjun ke dunia pariwisata, nyatanya tidak mudah bagi Desa Adat Guliang Kangin untuk mengembangkan diri.

Pada tahap awal, mereka belum menemukan hal unik yang harus ‘dijual’. Kawasan Desa Adat Guliang Kangin tidak memiliki sebuah view yang bagus dan unik, pun sesuatu yang menantang untuk ditawarkan kepada wisatawan. Mereka bercermin pada desa wisata lain seperti Penglipuran yang mempunyai ciri khasnya yang memikat.

Namun, di tangan I Ketut Sediayasa, hal semacam ini dapat diselesaikan. Seperti yang diceritakan Suarsana, Sediayasa mengonsepkan pengembangkan wisata Desa Adat Guliang Kangin bertumpu pada aktivitas atau atraksi. Kegiatan metekap, masak, yoga, dan kini sudah bertambah dengan melukat menjadi atraksi andalan yang ditawarkan Desa Adat Guliang Kangin.

“Yang paling laris itu (atraksi) masak. Wisatawan, terutama Eropa, suka sekali kegiatan memasak seperti membuat klepon. lawar dan lain sebagainya,” tambah Suarsana.

“Terbangunnya desa wisata Guliang Kangin memang muncul dari masyarakat dan hampir tidak ada inisiasi dari pemerintah. Oleh karena itu, kami sering disebut sebagai community based tourism,” tuturnya lagi.

Diakui Pemerintah

Bukan hanya itu, kendala berikutnya dalam pengembangan desa wisata yakni masyarakat kebingungan ketika sudah terdapat wisatawan yang berkunjung. Dilihat oleh Suarsana, hal itu dikarenakan masyarakat belum mengerti mengenai standar operasional prosedur (SOP) atau tata cara menerima wisatawan dengan baik. Ditambah lagi masyarakat masih banyak yang belum fasih dalam berbahasa asing serta belum mengetahui mengenai adanya Sapta Pesona dalam pariwisata.

“Atas dasar inilah kita mulai menghubungi Dinas Pariwisata (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli, red) agar mendapat pembinaaan. Kita juga melakukan kursus bahasa Inggris dengan modal sendiri,” kata Suarsana.

Melalui jalan itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli membina Desa Adat Guliang Kangin dalam pengembangan kelompok sadar wisata (pokdarwis). Atas dasar ini pula Desa Adat Guliang Kangin pada akhirnya ditetapkan menjadi desa wisata berdasarkan SK Bupati Bangli. [b]

The post Guliang Kangin Mengubah Pola Pikir tentang Pariwisata appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Lebaran

Umat Muslim bermaaf-maafan setelah sholat Idul Fitri 2018.

MEN Coblong merasa girang, riang.

Bertumpuk perayaan keagamaan yang jatuh bulan Juni ini membuat liku-laku hidupnya menjadi terasa lebih “lurus” dan sedikit “mulus”. Apalagi di bulan Juni ini “umat” Indonesia juga akan memiliki sebuah perayaan “Pilkada”.

Semoga “perayaan” Pilkada seramah perayaan beragam agama yang numplek jatuh bulan Juni.

Membayangkan Lebaran yang kalau ditelisik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata lebaran diartikan sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Pendapat berbeda juga terdengar lebih menarik dan erotik bagi Men Coblong. Sebagian orang Jawa mempunyai pendapat berbeda mengenai kata lebaran. Kata lebaran berasal dari bahasa Jawa yaitu kata “wis bar” yang berarti sudah selesai. Sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang dimaksud. “bar” sendiri adalah bentuk pendek dari kata “lebar” dalam bahasa jawa yang artinya selesai.

Saat ini, Pusat Bahasa hanya bisa memastikan bahwa kata “lebaran” merupakan sebuah kata dasar yang terdiri dari tiga suku kata, yaitu le + ba + ran.

Sungguh sebuah kata pun bisa memiliki beragam tafsir. Tafsir-tafsir yang indah, tentu masih bisa diperdebatkan tentu dengan cara-cara yang lebih masuk akal, logis, dan tidak nyerempet ke sana ke mari sehingga memunculkan kebenaran “tunggal” ala sebuah suku, agama, atau kelompok tertentu.

Men Coblong sendiri lebih menyukai kata “Lebaran” karena kesannya lebih Indonesia. Lebih merakyat dan lebih mistis mendarat di hati, pikiran dan perasaan Men Coblong di tengah “amuk” beragam argumentasi tentang mempertanyakan kembali menjadi “umat” Indonesia.

Men Coblong teringat ketika masih kanak-kanak. Tumbuh dan besar di sebuah lingkungan yang tidak pernah mengajarinya arti “berbeda”. Lingkungan yang dulu jika orang menyebut daerah “Cijantung” tentu pikiran orang-orang akan identik dengan beragam hal-hal berbau “kekerasan”. Kesannya “seram” karena sebagai seorang anak perempuan yang tumbuh-besar di lingkungan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), kemudian lebih dikenal sebagai Kopassus, Men coblong tumbuh sederhana.

Ketika bulan puasa, Men coblong juga ikut berpuasa, sekali pun tidak harus sampai tuntas. Rasanya ikut girang jika saat berbuka tiba, Men coblong juga ikut berbuka. Minimal ikut menikmati kesegaran buah kurma yang rasanya manis dan lucu bagi Men Coblong. Apalagi kalau bisa ikut berbuka puasa bersama dengan keluarga muslim.

Nikmatnya kolak kolang-kaling masih terasa sampai hari ini mengapung di palung tenggorokan Men Coblong. Menimbulkan muncratan-muncratan kenangan yang begitu indah mengalir deras ke dalam hati dan pikiran Men Coblong. Ibarat hujan deras yang jatuh mengguyur seluruh tanaman yang menjelang mati di dalam tubuh Men Coblong.

Kenangan Lebaran semasa kanak-kanak itu menimbulkan juga gelombang getir yang menghantam pikiran dan tubuh Men Coblong masa kini. Dulu, ketika kanak-kanak Men coblong tidak pernah merasa ada “kasta-kasta” dalam tubuh anak-anak yang tumbuh di lingkungan militer di Jakarta Timur itu, sekali pun Men Coblong tahu, untuk masuk ke lingkungan perumahan di Cijantung III, harus melewati beragam pos-pos keamanan.

Waktu SD Men Coblong bersama keluarga tinggal di Jalan Pualaka, nama-nama jalan di komplek perumahan itu mengambil nama jalan yang identik dengan daerah di Timor-Timur.

Tidak ada sekat, tidak ada hal-hal yang mengerat anak-anak masa itu untuk untuk merasa berbeda satu sama lain. Bahkan urusan jender juga tidak diingat anak-anak masa itu. Kenapa? Karena sebagai anak tentara, anak-anak di lingkungan Men Coblong juga biasa bermain perang-perangan. Biasanya siapa pun bisa memimpin sebagai komandan pasukan.

Biasanya jika komandan pasukan itu anak lelaki, anak-anak lain memetik daun nangka yang dijahit dengan lidi menyerupai mahkota, yang menunjukkan anak lelaki itu berbeda dari anak lain, karena anak-anak lain sepakat: anak yang dipilih jadi komandan pasukan harus berbeda. Perbedaan itu dari “mahkota” daun nangka yang bertengger di atas kepala.

Jika yang jadi komandan pasukan anak perempuan, maka anak yang lain akan membuat rangkaian mahkota dari bunga-bunga rumput.

Untuk senjata, biasanya anak-anak itu membuatnya dari pelepah daun pisang. Pokoknya semua ikut berperang dan berang melawan kelompok berbeda. Setelah main perang-perangan usai, biasanya pasukan yang tadinya berperang kembali rukun dan mulailah petualangan baru, mencari buah-buahan yang bisa mereka makan.

Anak-anak itu sering naik ke pohon jambu klutuk, jambu air, pohon mangga, dan pohon rambutan yang banyak tumbuh di sekitar area di Cijantung. Tidak ada batas lelaki dan perempuan. Anak perempuan pun bebas bergelantungan seperti kera di atas pohon.

Masalah baru muncul, ketika para orang tua menganggap anak perempuan tidak pantas bergelantungan di pohon. Anak perempuan tidak pantas bermain perang-perangan. Anak perempuan cocoknya main boneka dan main masak-masakan.

Tak ada yang menatuhi aturan itu. Ketika itu anak-anak itu tumbuh-besar dengan cara mereka. Yang satu berpuasa yang lain juga ikut berpuasa. Kesadaran itu muncul karena “cinta-kasih ” yang menetes tanpa dipaksakan, juga tanpa teori rumit tentang “Indonesia”. Bahkan ketika yang muslim ikut merayakan hari raya Waisak, dan ikut makan di rumah teman beragama Budha, tidak ada larangan dari orang tua. Tidak ada pertanyaan apakah menu makanan berupa ayam guling itu dipotong oleh orang seiman?

Ah, masa kecil yang indah. Tak ada kecurigaan. Tak ada “kasta-kasta” yang mengunci mulut, hati, pikiran dan perasaan kanak-kanak ketika itu. Perayaan keagamaan adalah “pesta” hati untuk mencintai satu sama lain.

Selamat Lebaran, mohon maaf lahir dan batin. Semoga hati dan pikiran kita dibersihkan untuk kembali “sadar” menjadi manusia “Indonesia” dengan beragam bentuknya. Yang satu sama lain tidak sama! [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Lebaran appeared first on BaleBengong.