Tag Archives: Berita Utama

Pasar Badung, Model Pasar Tradisional Sehat dan Aman

Pasar tradisional sering terkesan kotor, bau dan kurang tertata.

Sebagian masyarakat justru lebih suka berbelanja ke pasar modern yang kita kenal dengan supermarket. Alasannya, pasar modern lebih bersih, higienis, tertata dan terkelola. Padahal, ekonomi kerakyatan tumbuh dari pasar tradisional.

Kenapa? Karena penjual di pasar tradisional lebih banyak dan mereka berwirausaha menjual produk dan jasa yang dibuat dari rakyat kebanyakan. Berbeda dengan pasar modern yang dikelola oleh satu orang dan sisanya hanya pekerja.

Para pedagang pasar justru potensial menggerakan ekonomi kerakyatan yang mencetak banyak pengusaha bukan pekerja.

Namun, seiring perkembangan waktu dan pergeseran gaya hidup, terjadi tuntutan dari konsumen agar makanan yang dijual higienis, lingkungan yang bersih, tertata dan terkelola dengan baik. Berubah seperti itu atau lambat laun akan ditinggalkan konsumennya.

Menjawab Tantangan

Pasar Badung di Denpasar, Bali menjawab semua itu. Pasar ini adalah pasar tradisional terbesar di Bali dalam sejarahnya sudah tiga kali mengalami kebakaran. Kemudian dibangun kembali dengan t lantai dengan desain sebagai pasar tradisional, tetapi menawarkan fasilitas pasar modern.

Pertama dari segi keamanan dari bahaya kebakaran. Pasar ini sudah dilengkapi dengan hidran air di setiap lantainya, alat pemadam api ringan (APAR), serta gedung dilengkapi springkler yang akan hidup jika ada percikan api.

Terdapat juga tangga darurat jika ada bahaya dan evakuasi.

Kedua, sanitasi pasar juga medapatkan perhatian. Disediakan tempat sampah untuk tiga jenis sampah plastik, logam dan ogranik. Tempat cuci peralatan disediakan khusus untuk mencuci peralatan habis pakai. Toilet juga disediakan disetiap lantai dengan jumlah yang cukup.

Untuk pedagang daging ditempatkan khusus dan tertata dan ada kran air untuk persediaan air bersih, cuci alat, dan dagingnya. Kebersihan pasar juga terjaga karena ada petugas kebersihan yang membersihkan pagi dan sore.

Ketiga, fasilitas pasar ini sudah juga sama dengan pasar modern umumnya. Sudah dilengkapi ekskalator di setiap lantainya. Ada lift juga tersedia dan pengatur suhu ruangan. Dengan fasilitas standar pasar modern maka pasar badung dapat menjadi model pasar tradisional yang unggul.

Pasar tradisional ini juga memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pasar modern pada umumnya. Lokasinya strategis di pusat kota, memiliki harga relatif lebih rendah, ada sistem tawar menawar antara penjual dan pembeli serta ada sungai yang sudah bersih dan tertata menjadi objek wisata sungai bagi masyarakat kota.

Jika ingin berbelanja di pasar tradisional dengan gaya berbeda, Pasar Badung bisa menjadi pilihan Anda. [b]

The post Pasar Badung, Model Pasar Tradisional Sehat dan Aman appeared first on BaleBengong.

Nasib Jatiluwih setelah Menjadi Warisan Budaya Dunia

Banyaknya turis justru menjadi ancaman bagi masa depan subak di Jatiluwih.

Pada 2012, Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan sistem subak di Bali sebagai warisan budaya dunia (WBD). Kawasan WBD ini berada di lima wilayah kabupaten di Bali yaitu Bangli, Gianyar, Tabanan, Buleleng, dan Badung. Luasnya lebih dari 19.500 hektar.

Jatiluwih, kawasan sawah berundak di kaki Gunung Batukaru, Kecamatan Penebel, Tabanan bisa disebut sebagai ikon subak sebagai WBD. Tiga tahun terakhir lebih dari 200.000 turis domestik dan mancanegara mengunjungi kawasan ini tiap tahun.

Namun, banyaknya turis justru menjadi ancaman bagi masa depan Jatiluwih. Begitu ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, Jatiluwih hanya dianggap sebagai daerah tujuan pariwisata, bukan lagi lahan pertanian yang harus dilestarikan.

Laporan mendalam ini akan melihat bagaimana kondisi subak di Jatiluwih khususnya dan Bali pada umumnya setelah penetapan sebagai WBD sejak tujuh tahun lalu.

Selamat membaca lebih lengkap di laman khusus: Subak Jatiluwih, Warisan Dunia dalam Ancaman. [b]

The post Nasib Jatiluwih setelah Menjadi Warisan Budaya Dunia appeared first on BaleBengong.

Berkah dan Kisah Anugerah Jurnalisme Warga 2019

Penerima AJW kategori video, Sugiehermanto.

Ada banyak berkah di malam Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019 ini. Selain masih bisa magibung (bancakan), meplailanan (dolanan), tahun ini ada Combine RI, Kacak Kicak, dan Made Mawut si blues krisis.

Dua hari sebelum malam AJW, tim Kacak Kicak teater boneka anyar ini sudah memasang sejumlah instalasi di Taman Baca Kesiman, lokasi langganan AJW tiap tahun. Puluhan burung dari jerami di jalan setapak, di antara hamparan kebun organik TBK.

Setelah itu di halaman rumput sisi Utara, ada tenda hitam dengan belasan kotak-kotak kardus kosong. Ini play ground anak, mereka dipersilakan berkreasi membangun dari balok-balok kardus, atau mendongeng bersama beberapa instalasi kandang burung hantu.

Instalasi kardus KacakKicak

Setelah itu di halaman tengah, tergantung beberapa boneka kombinasi kayu dan jerami. Inilah panggung utama AJW sekaligus panggung teater boneka Kacak Kicak. Kicak adalah istilah lokal desa Pedawa, Buleleng, untuk anak-anak. Santiasa aka Jong, pendiri Kacak Kicak menjadikan AJW momentum kelahiran teater boneka ini.

Jong dan rekan-rekan teaternya di Kacak Kicak bukan seniman baru. Mereka terbilang eksis, rajin membuat garapan di event-event sosial budaya di Bali melalui teater Kalangan, juga dengan nama kelompok lainnya. Di AJW, seluruh rangkaian kegiatan dipandu tokoh-tokoh Kacak Kicak seperti Pak De yang memandu magibung, Tut Mertha memandu maplalianan, sampai pertunjukan utama mereka bertajuk Tut Mertha dan I Cepuk.

Ternyata Kacak Kicak merespon satu sesi melali di dusun Pagi, suka duka burung hantu. Adegan demi adegan selama 24 menit dinikmati dengan khusyuk oleh pengunjung, termasuk anak-anak di baris terdepan. Tikus-tikus di sawah, celepuk terbang rendah, ditembak pemburu, tersungkur, sedih, haru, penyesalan, dan jiwa baru I Cepuk.

Tim teater boneka KacakKicak

Teater boneka ini merundukkan ego, tersungkur di kaki kejujuran, dan melayang bersama imaji. Pengisi ruh para tokoh boneka tak nampak dominan, mereka berhasil berada di belakang bayang-bayang dan rona wajah kalem Tut Mertha, kecerian Pak De, dan keberanian I Cepuk.

Pada sesi yang serius seperti diskusi media warga Jer Basuki Mawa Desa pun tokoh ini hadir. Donny BU perwakilan Kemkominfo, Ferdhi dari Combine, media Warta Desa, dan Marsinah FM mendiskusikan dampak dan tantangan menuju warga berdaya atas informasi. Sebelumnya dibuka oleh Imung Yuniardi dan Kepala Seksi Sumber Daya Komunikasi Publik Dinas Kominfo dan Statistik Provinsi Bali, IB Ludra.

Setelah melalui serangkaian apresiasi oleh juri terdiridari BaleBengong, Dandhy D. Laksono (WatchDoc), Ahmad Nasir (pegiat media warga), dan Widuri (ICT Watch), terpilih 5 pemenang di tiap kategori.

Kategori Pewarta Warga bisa diikuti siapa saja yang memiliki produk jurnalistik yang dipublikasikan melalui media daring (online) dan non daring (offline) tergantung aksesibilitas di media warga seluruh Indonesia. Pendaftar menunjukkan minimal satu produk jurnalistik yang dinilai telah membawa perubahan bagi komunitasnya. Karya dapat berupa tulisan, video, foto, dan ilustrasi (komik, infografis, dll).

Pemenang di kategori ini untuk format artikel adalah I Wayan Suardana (Denpasar) dengan tulisan Peladung, Jejak Awal Mekanisme Adat Menyikapi Investasi.

Dandhy D. Laksono mengatakan karya Suardana adalah sebuah jejak sejarah penting dalam gerakan warga adat di Bali menghadapi investor air kemasan, dikisahkan oleh pelakunya sendiri. Dua pemenang pewarta warga kategori video dan artikel ini kuat dari segi ide dan prosesnya. “Bagaimana tuna netra menggunakan inderanya menikmati keramaian dalam kegelapan, sebuah paradoks,” katanya tentang cara tuna netra mengakses pantai sebagai fasilitas publik.

Karya kategori artikel lain yang masuk dalam sepuluh finalis adalah Ni Nyoman Ayu Suciartini (Bali Menggugah, Kini Harus Tabah), I Made Julio Saputra (Rare Segara), Dian Suryantini (Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan), Kardian Narayana (Sidatapa, Berkabar Lewat Burung Yang Dilepasliarkan), Tobing Crysnanjaya (Rumah Intaran, Inspirasi Kearifan Lokal dari Desa Bengkala), Diana Pramesti (Kisah Mewujudkan Mimpi, Desa yang Berdiri Sendiri), I Wayan Junaedy (Selamat Pagi Burung Hantu di Banjar Pagi, Selalulah jadi Sahabat Petani), Isun (Warung Subuh, Napas Dusun dalam Semangat Anak Muda), dan Intan Rastini (Membangkitkan Kesadaran Lingkungan dari Hulu).

Untuk kategori Pewarta Warga format Video pemenangnya adalah Sugihermanto (Surabaya) dengan video Pantai Parang Tritis, Keindahan dalam Kegelapan. Sugi yang mengalami low vision, konsisten membuat video di Youtube pengalaman tuna netra dengan akun Mlaku mlaku. “Media mainstream tak mempekerjakan disabilitas. Ayo isi channel Youtube, ruang kebebasan untuk jadi content creator,” ajak Sugie. 

Tiga karya lain adalah I Made Argawa (Obyek Wisata Selfie Sebagai Pelestari Sungai di Tabanan), Lanang Taji (Memanen Hujan), Fanky Catur Nugraha (Pilot Inkubasi Inovasi Desa Pengembangan Ekonomi Lokal)

Diskusi Media Warga bersama Donny BU (Tenaga Ahli Kemkominfo), Ferdhi (Combine RI), Warta Desa, dan Marsinah FM.

Media warga adalah media yang diprakarsai dan dikelola secara mandiri oleh kelompok warga non-perusahaan pers (non profit), tidak berafiliasi dengan partai politik, maupun pejabat publik. Selain mendaftarkan diri, warga juga bisa mengusulkan media warga favoritnya yang berkontribusi terhadap perubahan sosial di komunitasnya. Pemenang Kategori Media Warga format Daring adalah Warta Desa (Pekalongan). Didik Harahap, pengelola Warta Desa menyebut pernah jual motor untuk menghidupi media yang mempublikasikan berita peristiwa dan feature sekitar Pekalongan. M. Nasir, juri lain menyebut Warta Desa bereksperimen dengan banyak medium, radio, dan cetak.

Adapun media warga lain yang masuk 10 besar lain adalah BAFE, buruh.co, tatkala.co, Terune.id, Speaker Kampung, Merapi News, Forbanyuwangi, Ciamis.info, dan Mercusuar.

Untuk kategori Media Warga format Radio pemenangnya adalah Radio Komunitas Marsinah FM (Jakarta). Dia bersaing dengan satu radio lain yaitu Rakom Suandri FM (Sumatera Barat). Dian, penerima penghargaan di malam AJW punya banyak cerita pengorbanan pengelola media berbasis elektronik dan daring ini melakukan advokasi dan pendampingan buruh. “Buat tenda depan perusahaan atau ditangkap karena aksi lewat jam malam,” kisahnya.

Kategori Pegiat Literasi Digital adalah individu atau komunitas yang mendorong perubahan aktif dan memadukan penggunaan media daring (online) dan aktivitas luring (offline). Perubahan aktif ini terkait praktik baik dan inspiratif dari desa, atau menyebarkan literasi digital yang dilakukan atau digaungkan melalui media daring seperti media sosial, blog, dan lainnya.

Pemenang di kategori ini adalah Rumah Literasi Indonesia (Banyuwangi). Komunitas ini aktif dalam kegiatan literasi baik daring maupun luring. Kegiatan komunitas ini antara lain mengadakan talk show online, kelas literasi digital online, gerakan literasi melalui medsos, penggalangan iuran publik untuk gerakan literasi, dan menyediakan informasi terkini tentang isu pendidikan melalui website.

Pegiat media dan pewarta warga sejumlah daerah di Indonesia bermain bersama di Maplalianan.

Mereka juga mengadakan kelas film di sekolah-sekolah dan komunitas, seminar literasi digital di sekolah, kampus dan komunitas, memproduksi konten positif, serta pelatihan dan pemberdayaan masyarakat tentang jurnalisme warga. “Sejak 2014, menjangkau 57 taman baca, dan relawan 500. Kami juga pernah mengajak geng motor mendistribusikan buku,” papar Tunggul Hermanto, pendiri Rumah Literasi Indonesia.

Komunitas lain yang masuk dalam sepuluh besar adalah Yayasan Klub Buku Petra, Panti Digital Sulawesi Selatan, Hidden Gems Story, Tunanetra Sighted Network, Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri, Jawasastra Culture Movement, Bumi Setara, Bali Mendongeng, dan Pemuda Mendesa.

Kelima pemenang tiap kategori mendapatkan uang penghargaan Rp 2.500.000, piagam, plakat, serta beasiswa pelatihan membuat video di Denpasar, Bali bersama Dandhy D. Laksono, pegiat Watch Doc.

Diskusi media warga

FGD Pegiat Media Warga

AJW tak sekadar apresiasi, juga mempertemukan sejumlah pegiat media warga dalam diskusi terfokus tentang perlindungan hukum. Kegiatan ini dihelat sehari sebelum malam AJW di Denpasar. Diskusi ini menindaklanjuti kedatangan Direktur Combine, Imung Yuniardi dan Ferdhi ke gudang lama BaleBengong di Jl Noja Ayung, Denpasar yang berbuah kolaborasi AJW ini. Diskusinya saat itu serius, apa dan siapa itu media warga? Lembaga pendampingan media komunitas berusia 18 tahun bermarkas di Jogja ini memiliki kerisauan sekaligus harapan untuk penguatan media dan pewarta warga.

Wah senang sekali ada yang kan mengayuh perahu ini bersama. Sejak awal AJW dihelat, kami selalu membuka kolaborasi terbuka. Tak hanya sekadar sponsor atau donatur tapi juga pemikiran, dan pelaksana dari nol bersama.

Dengan dukungan Combine, skala penjaringan karya kembali dibuka secara nasional. Sebelumnya AJW 2017 juga pernah mengundang peserta dari luar Bali dengan berkolaborasi dengan 11 media warga/komunitas. Pewarta warga bisa mendaftarkan karyanya yang sudah terpublikasikan di 12 media yang terlibat dalam AJW. Namun, kolaborasi ini kurang erat, karena sekadar partisipan. Tak terlibat menyiapkan dan melaksanakan seluruh tahapan kegiatan AJW.

Namun, tahun ini, AJW 2019 hampir mendekati harapan, Combine dan BaleBengong patungan pembiayaan. Baik dari kas sendiri atau menggalang donasi tambahan dari pihak lain. Seperti tahun lalu, BaleBengong membuat Bazar Sembako. Menyatukan produk-produk pangan lokal berkualitas dari sejumlah desa di Bali, yakni garam laut dari Amed dan minyak kelapa Nyuhetebel (Karangasem), gula aren Besan (Klungkung), dan beras merah dusun Pagi (Tabanan).

Program rintisan adalah Melali Bareng Musisi ke dua desa produsen bazar sembako, Nyuhtebel dan Pagi. Bersama dua biduan folk indie Bali, Dadang SH Pranoto (vokalis Dialog Dini Hari) dan Guna Warma (Nosstress). Sebuah perjalanan Jer Basuki Mawa Desa sekaligus penelusuran produk bazar sembako dengan berkunjung langsung ke petani dan desanya.

Tak hanya musisi yang terlibat, namun banyak pihak yang melengkapi kisah perjalanan Melali ini. Misalnya mengajak GoodFriendBali, sebuah travel agent anyar, dirintis dua anak muda yang mengampanyekan tur beretika, ramah lingkungan, dan adil.

Kemudian pembelajaran tambahan dari penggunaan SunZet, generator listrik dari tenaga surya yang bisa mengakses area outdoor untuk memasok listrik konser mini. Di Dusun Pagi, konser dihelat di tengah sawah yang baru saja panen padi merah atau padi tinggi, pertanian yang terus dilestarikan secara ekologis. Tim SunZet dikomando Gung Kayon sudah menjemur panel di tengah sawah sejak pagi untuk menabung energi yang akan digunakan mulai sore hingga petang.

Melali di Pagi terasa kurang lama, karena rangkaian kisah sambung menyambung, dari praktik koservasi burung hantu (celepuk) sebagai predator alami tikus sawah, keberadaan sarang celepuk sebagai penanda sumber air, sampai filosofi padi Bali. Matahari sudah menggelincir ke horison, Dadang mulai memetik gitarnya ditemani aroma padi yang sedang dijemur. Puluhan warga mendekat, menikmati lagu-lagu Kubu Carik dan Dialog Dini Hari.

Melali di Dusun Pagi, Tabanan bareng Dadang-Dialog DIni Hari

Melali di Karangasem pun seperti kekurangan waktu. Mulai dari sejarah lokasi ngopi yakni Banjar Karangsari yang unik, mengenal belasan jenis pohon kelapa di kebun, sampai pembuatan minyak kelapa.

Diskusi kelapa harus dipotong untuk menyongsong sisa senja di Bukit Pekarangan, Ngis. Makan bersama, megibung dengan menu sate pepes ikan Mendira sebelum menikmati suara merdu Guna Warma Kupit. Melali Karangasem melintas dua desa bertetangga. SunZet knock down pun berperan sentral, karena outlet listrik terdekat di kaki bukit, sekitar 100 meter.

Melali bareng Guna Warma-Nosstress di Karangasem

Fiuh, perjalanan AJW 2019 yang cukup panjang dan mengejutkan. Sampai jumpa di AJW 2020, siap berkolaborasi?

Foto-foto: Risky, Vifick, dan Fauzi.

The post Berkah dan Kisah Anugerah Jurnalisme Warga 2019 appeared first on BaleBengong.

Menguak Kepentingan di Balik Maraknya Hibah dan Bansos

Bupati Badung saat serahkan hibah di Nusa Penida, April 2019. Foto Metro Bali.

Pemberian paling murah hati pun mengandung unsur pertukaran.

Pada masa rezim otoritarian Orde Baru kita mengenal istilah “Gebyar”. Kini kita disesaki riuh gemuruh hibah-hibah. Keduanya adalah panggung untuk menunjukkan bagaimana sang kuasa menunjukkan otoritas modal ekonominya.

Alegori yang menyertainya dibarengi dengan “kepedulian” terhadap kehidupan sosial budaya keagamaan yang tiada henti menjadi praktik keseharian orang Bali. Tengoklah rutinitas yang perlahan-lahan berubah menjadi beban yang ditengarai sebagai “kewajiban”. Pada momen inilah negara melalui dana-dana hibahnya “seolah-olah” hadir untuk meringankan beban ritual dan adat manusia Bali.

Di antara kepala daerah yang rutin meringankan beban masyarakat seluruh Bali itu, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta mungkin terbilang istimewa. Bupati yang terkenal dengan bares (royal) ini rutin memberikan sumbangan pada upacara keagamaan, bedah rumah, ulang tahun sekaan teruna (organisasi kepemudaan), dan acara lainnya.

Tidak hanya di Kabupaten Badung tapi hampir di seluruh Bali. Misalnya saat menghadairi Tawur Balik Sumpah di Pura Dalem, Banjar Cengkok, Desa Adat Cengkok, Desa Baha, Kecamatan Mengwi. Bupati menyerahkan dana bantuan upakara secara simbolis sebesar Rp 1,2 miliar.

Koran Nusa Bali (13/07/2018) melaporkan pelaksanaan karya agung ini sangat sejalan dengan prioritas pembangunan di Badung dalam upaya melestarikan seni, adat, agama, tradisi, dan budaya yang berlandaskan Tri Hita Karana. Hadirnya pemerintah di tengah-tengah masyarakat sebagai bukti pemerintah membantu meringankan beban masyarakat seperti pembangunan pura maupun bantuan dana upakara.

Dengan demikian masyarakat tidak lagi mengeluarkan urunan maupun peson-peson dana. Bupati akan memback-up rencana pembangunan Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Cengkok hingga tuntas. Untuk itu Bupati mengajak krama Cengkok tetap bersatu dan meningkatkan rasa segilik, seguluk, selunglung sebayantaka (Nusa Bali, 13 Juli 2018).

Tidak hanya di Badung, Giri Prasta juga memberikan bantuan dana hibah senilai Rp 1 miliar dalam Karya Pedudusan Agung, Segara Kertih Tawur Balik Sumpah Agung miwah Mupuk Pedagingan di Pura Kahyangan Jagat Er Jeruk, Sukawati, Kabupaten Gianyar.

Dalam sambutannya, Bupati Badung mengungkapkan, “Kami hadir di sini selain sebagai wujud bhakti kepada Ida Sesuhunan, juga untuk meringankan beban masyarakat khususnya pengempon pura dengan memberikan bantuan sebesar Rp 1 miliar.” Bupati juga memberikan dana motivasi kepada sekaa gong yang sedang ngaturang ayah di pura tersebut sebesar Rp 5 juta (Bali Post, 31 Januari 2019).

Politik Pemberian

Tak perlu waktu lama untuk saya membuktikan argumentasi tajam dari Marcel Mauss dalam karyanya yang monumental, Pemberian (The Gift), Bentuk dan Fungsi Pertukaran di Masyarakat Kuno (1992). Antropolog cum filsuf asal Perancis abad ke-20 itu menerjemahkan konsep “memberi” pada beberapa masyarakat yang masih ada hingga kini.

Poin pentingnya adalah pemberian paling murah hatipun di dalamnya mengandung unsur pertukaran (exchange). Pertukaran yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah setiap pemberian selalu terkandung tuntutan untuk pengembalian (repayment). Mauss menegaskan bahwa tindakan pemberian itu pada dasarnya adalah sebuah transaksi.

Pemberian dengan demikian adalah sebuah transaksi yang mendasari terjadinya pembalasan selanjutnya. Seorang perempuan lanjut usia (lansia) di sebuah banjar di pesisir Kota Denpasar berkisah. Setelah sekian lama mengikuti senam lansia di banjar, ia hanya mendapat satu pakaian seragam lengkap yaitu celana training dan kaos berkerah. Seragam itu kini sudah lusuh. Lama ia menunggu seragam baru dari pemerintah.

Mendadak, seminggu sebelum pencoblosan, seorang caleg krama (warga banjar) hadir saat kegiatan senam rutin para Lansia. Baru kali ini. Di hadapan 50 lebih para lansia, sang caleg dengan tulus ikhlas memberikan seragam lansia baru. Katanya, tidak ada maksud untuk memilihnya pada 17 April 2019 nanti. Pemberian seragam ini hanya pemberian sukarela.

Sungguh gampang menebak maksud pemberian sang caleg. Meski disampaikan dengan bahasa sukarela dan tulus ikhlas, pemberian seragam tersebut menunggu pembalasan (baca: pengembalian). Pembalasannya dalam bentuk pilihan kepada sang caleg pada saat pencoblosan.

Sesederhana itu.

Masyarakat Bali kini terpapar pada kubangan berbagai jenis pemberian, yang tentunya tidak ikhlas dan sukarela seperti yang dibayangkan. Ia menuntut balasan. Bagaimana menyikapinya?

Candu Bansos dan Hibah

Jika itu masih dalam taraf seragam para lansia, yang lebih jor-joran adalah fenomena bantuan sosial (bansos) dan hibah. Menjelang Pemilu serentak 17 April 2019, masyarakat Bali “bersuka cita” dengan hadirnya guyuran dana Bansos dan hibah berbagai jenis. Masyarakat di desa-desa di Bali pastinya akan bingung. Begitu banyak aliran dana yang masuk ke wilayah mereka.

Bansos dari para anggota legislatif dan berbagai dana hibah dari pemerintah menyasar pembangunan fisik rumah, banjar, jalan, bahkan berbagai pura-pura yang ada di wilayah Desa Adat. Tidak ketinggalan, karya-karya agung, upacara di berbagai Desa Adat tidak luput disusupi dana Bansos dan hibah.

Bahkan ada anekdot tentang “Pura baru ulian hibah” atau “Pura Bansos”. Yang lebih mencengangkan lagi, karena menerima dana hibah, pura yang ada sebelumnya masih bagus pun dibongkar untuk diganti dengan model baru. Mimih…

Fenomena menyebarkan dana Bansos dan hibah menjelang Pemilu serentak memang tak terhindarkan. Para calon anggota legislatif (caleg) berebut untuk merapat ke orang kuat lokal yang mempunyai kuasa ekonomi dan politik. Tujuannya hanya satu: mendapatkan rembesan akses ekonomi politik.

Bansos dan hibah adalah modal ekonomi yang berpeluang untuk diakumulasi. Selain tentunya para caleg mempunyai persiapan modal sendiri. Dengan bermodal akses ekonomi politik inilah mereka bertarung untuk merebut simpati masyarakat.

Bansos dan hibah masuk hingga ke wilayah Desa Adat. Berita berbayar di media-media cetak lokal Bali rutin menurunkan berita gerakan bansos dan hibah yang dilakukan para elit politik dan pemerintahan. Berita berbayar pada tayangan TV lokal juga menyuguhkan tayangan uang ratusan juta berisi canang diserahkan pada upacara di pura-pura.

Pragmatis

Kehadiran Bansos dan hibah bagai candu. Pemberiannya, meski menanggung pembalasan, diinginkan oleh sebagian besar masyarakat. Adakah warga desa adat yang mandiri dan menolak bansos atau hibah bermotif politik praktis? Jarang saya dengar.

Yang jamak terjadi adalah masyarakat yang beramai-ramai membuat proposal merebutkan Bansos dan hibah melalui para caleg, elit partai dan pemerintah yang menjadi broker akses. Masyarakat pemburu Bansos dan hibah ini patut diduga berpikiran pragmatis.

Sebagaimana ditegaskan oleh Mauss (1992), transaksi yang terjadi dalam Bansos atau hibah-hibah tersebut bernuansa pragmatis: apa yang saya berikan dan apa yang kemudian bisa saya dapatkan (meskipun terselubung). Dalam pemberian itulah tersimpan politik transaksional.

Masyarakat Bali terpapar serangan bansos dan hibah. Beberapa masyarakat mensyukuri guyuran uang yang didapatkan untuk perbaikan kehidupan bermasyarakat. Banjar-banjar semakin megah dipandang, pasar-pasar desa semakin elok dan bersih, dan pura-pura pun disulap dengan ukiran mentereng.

Namun, bagaimana hubungan kita antara sesama manusia Bali saat solidaritas sosial (menyama braya) dipecah dan dikhianati oleh politik Bansos dan hibah?

Saya masih memimpikan masyarakat Bali yang mandiri dan bermartabat, yang berani menolak pragmatisme bansos dan hibah-hibah bersliweran dikomandoi para elit politik dan pemerintah. Masyarakat Bali itulah yang punya integritas dan martabat, dan bukannya pragmatis. [b]

The post Menguak Kepentingan di Balik Maraknya Hibah dan Bansos appeared first on BaleBengong.

TRAINING CHAMPION4LIFE

Sahabat Kisara, pernah dengar tentang Champion4Life ? Yups, kalau diterjemahkan artinya pemenang untuk hidup. Champion4Life merupakan bagian dari Dance4Life, yang dimana merupakan suatu bentuk respon yang diberikan terhadap pandemik HIV/AIDS di dunia. Nah, Champion4Life adalah suatu kegiatan yang bertujuan memberdayakan remaja agar menjadi remaja yang sehat. Banyak hal yang dikupas dalam Champion4ife. Dalam Champion4Life kita...