Tag Archives: Berita Utama

Berkunjung ke Plaga Saat Panen Gemitir Tiba


Seorang petani memanen bunga gemitir di Plaga. Foto Anton Muhajir.

Hujan deras turun di Desa Belok Sidan awal bulan lalu.

Langit gelap di kawasan pegunungan berjarak sekitar 60 km utara Denpasar tersebut. Namun, derasnya hujan justru membersihkan desa sejuk di ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut itu.

Begitu hujan selesai, udara desa di Kecamatan Plaga, Kabupaten Badung itu makin terasa segar. Daun-daun makin menghijau. Begitu pula kuning terang bunga gemitir (Tagetes erecta L.) di kebun milik Wayan Jirna. Bunga berbentuk bulat itu mekar kuning terang di antara daun-daun menghijau.

Made Kastika bersama tiga buruh harian lainnya memanen bunga gemitir di lahan seluas 20 are milik Jirna. Menggunakan gunting, dia memotong satu per satu bunga sebesar kira-kira sekepal tangan orang dewasa itu dan memasukkannya ke keranjang.

Ketika keranjang itu sudah penuh, dia akan membawanya ke tempat pengumpulan.

Tidak hanya menjadi sarana sembahyang bagi umat Hindu Bali, bunga gemitir kini juga menjadi sumber pendapatan baru bagi petani di Bali, seperti halnya Jirna.

Sejak sekitar lima tahun lalu, Jirna dan petani lain di kawasan Plaga mulai menanam bunga gemitir. Bunga ini melengkapi komoditas lain yang sudah ada sebelumnya seperti sayuran, kopi, dan buah-buahan.

“Dulu coba-coba saja pas mulai. Ternyata hasilnya bagus,” kata Jirna.

Dari 1 hektare lahan miliknya, Jirna kini menanam bunga gemitir 20 are. Dia memilih lahan yang di pinggir jalan. Kemudahan untuk terlihat dari jalan raya menjadi salah satu alasannya. Kebun bunga gemitir Jirna ini memang berada persis di pinggir jalan utama yang menghubungkan dua kabupaten yaitu Badung dan Bangli.

Dengan warna merah menyala, bunga gemitir menarik mata termasuk bagi serangga. Foto Anton Muhajir.

Kebutuhan Sembahyang

Secara ekonomi, menurut Jirna, hasil budi daya bunga gemitir juga bagus. Petani tidak memerlukan lahan atau bedengan khusus. “Guludannya pakai yang sudah ada. Bisa gantian pula dengan tanaman cabai atau tomat,” kata Kastika.

Ketika berumur 55 hari, bunga pun sudah siap dipanen antara 5 – 10 kali selama satu kali musim tanam. Dalam setahun, petani menanam gemitir 2-3 kali bergantian dengan komoditas lain, seperti cabai atau tomat.

“Kalau bunganya tidak terlalu bagus, lima kali panen sudah dicabut,” ujar Jirna.

Sekali panen, dari 20 are lahan miliknya, Jirna bisa mendapatkan bunga potong, nama lain gemitir, sebanyak 900 kg. Kalau sepi hanya sekitar sepertiganya. Dia kemudian menjual bunga itu langsung ke pasar di Denpasar.

Bunga gemitir saat ini menjadi salah satu kebutuhan di Bali. Umat Hindu Bali menjadikan bunga ini sebagai salah satu perlengkapan banten, sesaji saat sembahyang, sehari-hari. Karena permintaan makin banyak, petani pun makin banyak yang membudidayakannya.

Menurut Jirna harga per kilogram bunga gemitir juga relatif. Tergantung pasar. Ketika permintaan banyak sedangkan persediaan sedikit harganya bisa sampai Rp 100 ribu. “Kalau sekarang suplainya lagi banyak, jadi harganya turun. Paling hanya Rp 10 ribu,” katanya.

Jirna mengatakan bunga gemitir saat ini memang makin banyak ditanam di berbagai tempat. Tidak hanya di kawasan sejuk seperti Plaga, tetapi juga daerah lain termasuk Karangasem. “Sekarang makin menyebar ke mana-mana,” tambahnya. Bunga gemitir memang relatif mudah dibudidayakan.

Menurut Kastika salah satu masalah dalam budidaya bunga gemitir hanya busuk daun dan cacar daun. “Kadang-kadang juga batangnya kering tidak mau berbunga,” ujarnya. Namun, secara umum penyakit semacam itu dengan mudah bisa diatasi.

Petani menyiapkan bunga gemitir untuk dikirimkan ke pasar. Foto Anton Muhajir.

Tempat Selfie

Toh, meskipun harga bunga gemitir sedang turun, petani bisa mendapatkan pemasukan dari cara lain dengan menjadikan kebunnya sebagai lokasi berfoto-foto, seperti milik Jirna. Lokasinya yang berada di samping Jembatan Tukad Bangkung, jembatan tertinggi di Bali, membuatnya menjadi salah satu lokasi favorit pengunjung.

Dia memasang papan untuk pengunjung: Rp 5.000 per orang.

Sepanjang jalan dari Badung menuju Plaga kebun-kebun semacam ini dengan mudah ditemukan di kanan kiri jalan. Dengan warna kuning mencolok, bunga gemitir langsung menarik mata, termasuk bagi Sri Utami dan teman-temannya.

Siang itu, sepulang dari Kintamani, dia sengaja lewat Plaga meskipun agak memutar. Ketika lewat salah satu kebun di Desa Plaga, dia pun berhenti lalu berfoto-foto. Petani di belakangnya sedang memanen bunga seperti halnya di kebun milik Jirna.

“Bagus buat lokasi selfie,” katanya lalu tertawa.

Menurut Utami, kebun bunga gemitir bisa menjadi pemandangan menarik terutama ketika sudah mekar bunganya. Bunga kuning merekah bisa jadi objek foto yang menarik bagi dia dan teman-temannya.

Made Weti, pemilik kebun mengatakan makin banyak pengunjung datang ke kebun bunga gemitir miliknya. Umumnya mereka anak-anak muda dan berombongan. Kadang ada yang bayar, tetapi tak sedikit yang hanya berfoto lalu pergi begitu saja.

“Tidak apa-apa. Yang penting tidak merusak kebun saya,” ujarnya.

Ketika musim liburan, dalam satu hari bisa 100an orang yang datang untuk berfoto-foto. Namun, ketika sepi seperti saat ini karena musim hujan, dapat 30 tamu saja sudah untung.

Selain pengunjung lokal, menurut Weti, banyak pula tamu asing datang ke kebunnya, terutama dari Cina. Umumnya mereka melakukan foto-foto sebelum menikah (pra wedding) sehingga Weti memberikan harga khusus.

“Lumayanlah buat tambahan pendapatan,” katanya.

Dari semula hanya di Plaga, kebun buga gemitir semacam itu kini makin marak di Bali. Beberapa tempat wisata pun memiliki kebun khusus gemitir di lahannya. Pemandangan seperti itu menambah panjang lokasi-lokasi menarik untuk berwisata alam di Pulau Dewata. [b]

Catatan: tulisan ini juga terbit di Mongabay Indonesia.

The post Berkunjung ke Plaga Saat Panen Gemitir Tiba appeared first on BaleBengong.

[Cerpen] Menyepi di Desa

Gerimis telah reda, matahari segera tenggelam.

Hujan sore ini singgah sementara. Kedatangannya hanya untuk meredam debu jalanan. Tak sampai membasuh kotoran daun-daun, apalagi mengisi got-got yang kering.

Sasih Kesanga tak lagi bersemi dalam hujan dan deru angin kencang, senggama anjing tak lagi nampak ramai di rurung-rurung, mungkin alam sudah tak pandai mengatur diri.

Kalender Bali tak lagi tepat dalam memprediksi. Alam sengaja berevolusi ataukah karena manusia yang pikirannya mulai panas hingga mempengaruhi cuaca.

Aku teringat kata-kata Kakek dulu. Saat itu kerentaannya masih dapat dipaksa menggarap sawah. Ia bertutur, “Yan, meski langit tak sepenuhnya menjawab doa manusia, kita mesti bersyukur atas apapun yang menjadi kehendaknya, sebab sejak jaman dimulai Ia tak pernah salah dalam memberi, hanya saja manusia yang terlalu ambisius dalam memuaskan keinginan.”

Kakek juga mengatakan bahwa hujan yang turun usai tawur adalah suatu petanda baik untuk kita. Bahwa persembahan telah diterima. Dewa-dewa bergembira dan bhuta kala telah ter-somiya. Kini bersamaan dengan memudarnya ingatan itu, tumbuh pula keyakinanku bahwa kakek juga sedang berbahagia. Sebab Ia telah pergi ke rumah Para Dewa menjadi pengayah setia Sang Dewa junjungannya, meski Ia telah kehilangan raga yang diyanginya. Di sana, tiada lagi Ia menemukan kekalutan dan duka seperti di atas tanah.

Di atas leneng yang caping bekas tabrak truk, aku duduk dalam lamunan. Memandangi jalanan yang mulai sepi oleh kendaraan, tetapi seperti tahun sebelumnya sebentar lagi kelenggangan bakal tergantikan oleh riuh teriakan.

Kulkul di sudut balai banjar telah dibunyikan dengan hitungan empat kali ketukan yang dipukul secara berulang-ulang. Mengingatkan pemuda dan pemudi untuk berkumpul. Satu per satu dari mereka mulai berdatangan, memakai kain bawahan hitam dengan baju serba hitam pula.

Para lelaki bersiap dengan mengenakan sepatu, sedangkan para perempuan membawa sebatang bambu sepanjang satu meter, yang ujungnya disumpal serabut kelapa. Mereka akan mengarak ogoh-ogoh menuju bencingah, diiringi tetabuhan gamelan, obor, kulkul-kulkul kecil dan sorakan. Sekejap jalanan disulap meriah dalam parade kegembiraan.

Aku masih nyaman di atas leneng, memperhatikan lalu lalang orang-orang. Tidak saja yang muda, para orang tua pun ikut merayakan Pangerupukan. Malam ini, mereka punya kesempatan terbebas dari rutinitas harian, bebas dari tanggung jawab pekerjaan dan bebas dari kewajiban adat. Meski tetap dalam tugas domestik, mengawasi anak-anak. Seolah kini jalanan telah mereka kuasai, merebutnya dari kuasa roda-roda bermesin yang telah lama merenggut kebebasan pejalan kaki.

Ini adalah kali ke tiga aku dan keluarga menyambut tahun baru Saka di desa sejak sepuluh tahun di rantauan. Menjadi pegawai swasta di Kalimantan Barat, membabu untuk perusahaan sawit. Seperti buah yang telah berjarak dengan akar, rasa di antara aku dan lingkungan desa, membuat kami memutuskan untuk tinggal di Denpasar selepas pulang dari rantauan, tiga tahun lalu.

Dari tiga hari lalu, aku, istriku dan kedua anakku sudah menginap di Desa. Menyambut sepi dalam suasana desa dan meninggalkan sepi di kota. Di rumah tua, kami mencoba menyambungkan kembali kenangan yang putus bertahun-tahun. Antara kami dengan mereka; antara aku dan keluargaku dengan ayah, ibu, paman dan saudara-saudaraku.

Tilam pada Sasih Kesanga, dikatakan malam yang paling gelap dalam setahun. Bulan mati yang mengantar perubahan Sasih, dari Kesanga menuju Sasih Kedasa. Namun, gelap sepertinya tak selalu berpasangan dengan sunyi. Gelap yang dianggap paling gelap, kali ini justru benar-benar meriah oleh arak-arakan ogoh-ogoh dan nyala api obor.

Seiring binar-binar kemeriahan itu meluap, aku menepi dalam kesendirian.


Bayangan pohon digerakkan oleh udara, menyambut pagi yang kini bebas dari dengungan mesin. Suara-suara alam terdengar nyaring. Burung, ayam, anjing dan ocehan anak-anak tetangga yang sedang bermain begitu jelas di telinga. Hari ini telinga punya kesempatan untuk beristirahat, sekaligus menelisik suara-suara asing.

Pagi bergerak lamban, beberapa kali istriku menawarkan makan, tetapi ku tolak. ku katakan bahwa sedang berpusa, mengosongkan lambung selama dua puluh empat jam. Sebagai penghormatan pada sumber makanan, pada sang pemberi hidup, sekaligus berniat untuk belajar mengendalikan nafsu.

Aku menengok jalanan, yang seakan mati oleh waktu. Tiga orang pecalang berjalan lewat di depan rumah. Ku ingat salah seorang adalah kawan baik saat sekolah dasar. Namanya Tomblos, Ia dikenal sebagai murid nakal dan ditakuti. Selain karena bertubuh besar dia jago berkelahi. Satu kelemahannya adalah susah menghafal huruf, dan itu juga yang menyebabkan Ia tak naik kelas dua kali.

Sampai akhirnya kami duduk dalam satu bangku di kelas empat, lalu bersama mengakhiri sekolah dasar. Kami saling berbagi peran. Ia berusaha melindungiku dari kenakalan anak-anak lain dan aku membantunya saat ulangan umum. Kini Ia nampak jauh berubah, lebih dewasa, berwibawa dengan pakaian hitam dan kain poleng. Ia menjadi penerus tradisi, menjaga keberlangsungan tradisi yang konon perlahan tergerus moderenisasi zaman.

Ia melihat dengan senyum sembari menaikkan satu alis, berdiri memperhatikan lalu menyapa dengan salam. Ku dekati jalanan yang sedang menyepi. Kami menyatu dalam tanya jawab seputar kabar, obrolan soal pekerjaan yang selalu berakhir dengan pujian.

Ia mengajak mencari kopi di wantilan untuk mengobrol lebih panjang, meski sudah kukatakan sedang berpuasa, namun Ia memaksa. Katanya kalau pulang harus mebraya, di wantilan sedang ada kumpul-kumpul. Kutahu ini hari Nyepi dan sesuai agama seharusnya mengamalkan Catur Brata Penyepian di antaranya tidak bepergian dan berpesta. Ajakannya justru berbalik dari yang semestinya. Namun, kecanggungan padanya justru membuatku menjadi menasaran.

Kami berjalan di jalan lengang menuju Wantilan yang hanya lima ratus meter dari rumah, sembari memperhatikan dua pecalang lain di depan kami. Mereka berjalan dan sebentar-sebentar berhenti, memunguti plastik bekas air kemasan yang dibuang sembarang selepas kemeriahan ogoh-ogoh kemarin. Dari belakang, kami berdua mengikuti yang dilakukan dua pecalang itu.

Kami tiba di depan gapura tembok bata, suasana nampak lengang. Rumput-rumput yang baru dicukur dan sepasang pohon beringin keramat seolah menatap kami dalam diam. Dua pecalang tadi masuk ke jalan lain untuk memantau kondisi rurung-rurung. Tomblos mengiringiku menuju wantilan bagian belakang, bangunan serba guna yang lebih sering dipakai ruang persiapan pertunjukan, tempat mebat dan beristirahat.

Perlahan suara-suara orang mulai terdengar. Kudapati orang-orang sedang berkumpul di beberapa meja. Ada lima meja bulat yang setiap kursi telah penuh diisi lima orang. Beberapa orang terbaring tidur di atas dipan bambu. Seorang duduk di bangku panjang.

Seorang yang duduk di atas bangku panjang mendekati kami, Ia menyalamiku dan bertanya, “Gus, kapan pulang?” Kujawab, “Empat hari yang lalu, Jik. Sehari sebelum melasti ke pantai.”

Ia mengajak kami duduk. Menyeduhkan kami kopi saset dalam gelas plastik tanpa menawarkan terlebih dahulu. Pak Dewa, yang raut wajahnya tak asing dalam ingatan adalah mantan guru agama saat di sekolah dasar. Dia yang tak pernah absen mengingatkan kami untuk melafalkan mantra Tri Sandya dengan benar.

Kini, meski tatapan matanya tak berubah sejak terakhir kami bertemu, namun usianya tetap kentara, mengikis dimakan waktu. Meskipun wibawanya masih bertahan, kata Tomblos Ia kini menjabat kelihan adat.

Puasaku batal oleh segelas kopi buatan Pak Dewa. Entah mengapa aku tak mampu menolak dalam kata maupun tindakan. Kali ini, aku merasakan tawaran seorang Kelihan Adat menang oleh rayuan sarapan pagi seorang istri. Kami bertiga mengamati orang-orang yang mengisi meja bulat, yang sama sekali tak memperhatikan kedatanganku. Mereka seperti mempunyai dunia sendiri, dengan kartu-kartu cekian dan harapan-harapan akan kemenangan.

Perlahan Tomblos dan Pak Dewa larut dalam obrolan tentang hal-hal teknis mengenai perbaikan Pura dan soal kedatangan calon DPRD minggu lalu, yang bersosialisai dengan tawaran proposal. Jika Ia menang, maka dana punia untuk Pura Desa akan dilunasi seratus persen dari dua puluh lima persen yang sudah diberikan saat sosialisasi. Proposal-proposal yang masih tersendat, semua dijanjikan akan cair dalam waktu empat puluh lima hari setelah pelantikan.

Dalam diam aku hanya mendengarkan. Kuperhatikan lagi orang-orang yang sedang larut dalam permainan ceki. Mereka rasanya tidak punya beban atas kehidupan. Pikiranku mulai bergejolak seolah tak menerima situasi di depan mata. Bagaimana bisa seorang mantan guru agama sekolah dasar, yang menjejali kami dengan ajaran-ajaran kepatuhan pada agama kini membiarkan perjudian di tengah hari suci.

Bukankah Catur Brata Penyepian mesti dijalankan sesuai yang seharusnya agama ajarkan? Dan oleh seorang Kelihan Adat, salah satu pimpinan adat tertinggi malah dibiarkan berjalan, bahkan diamini menjadi hiburan saat Nyepi.

Hatiku berteriak kencang, tetapi tak sampai mengucap satu kata pun. Semua buku-buku sastra dan ceramah-ceramah cendikiawan Hindu di Pura Jagatnatha, semuanya seolah hanya konsumsi pikiran, yang semata-mata sebagai obat penenang kepenatan. Tattwa hanya sebagai pemanis bagi para pecandu, bukan penawar kemabukan yang harus diwujudkan dalam perlakuan.

Kopi telah berkurang dari gelasnya. Tinggal seperempat gelas dan kehangatannya memudar tak seperti saat baru diseduh. Pikiranku berada di tempat lain, tetapi telinga masih setia mendengarkan obrolan mereka. Tiba-tiba Pak Dewa menyentuh bahu kananku. Wajahnya mengarah pada Tombos, “Lama tidak kelihatan mebraya di Desa, sudah sukses dia sekarang.” Satu kalimat itu, sindiran ataukah pemantik agar aku ikut dalam obrolan mereka?

Aku hanya tersenyum menunduk. “Dia sekarang sudah jadi orang kota, sejak pulang dari Kalimantan.” Tomblos menambahkan dan ditimpali oleh Pak Dewa, “Bagaimana kabar Kalimantan?” Pertanyaan ambigu dari Pak Dewa ini mengarah padaku, seolah berniat mengorek detail-detail perjalanan panjang kehidupanku.

Meski bingung darimana memulai, tetap kubalas pertanyaanya dengan terbata-bata. “Saya mendapat pengalaman bagus, Jik. Sebelumnya baik-baik saja. Tapi akhir-akhir ini Kalimantan panas. Karena ulah para bos, hutan menjadi berkurang, sengaja dibakar untuk ladang sawit baru. Dan kebetulan istri saya bisa pindah tugas ke Bali. Ini menjadi momentum bagus, sekalian juga agar anak-anak dapat tumbuh dan belajar di tanah kelahiran bapaknya, maka kami memutuskan untuk pulang. Dan soal kebebasan beragama, tidak seperti Bali, di sana kami menjadi minoritas. Kami ingin anak-anak mengerti tentang ajaran agama dengan lebih baik.” Kuharap mampu memuaskan pertanyaannya dan semoga Ia tak lagi meneruskan dengan bertanya lebih dalam soal itu.

Pak Dewa membalas, seolah tidak ada hubungannya dengan pertanyaan dia sebelumnya. “Gus, Kamu cukup beruntung, bisa melihat rumahmu, Bali, dari kejauhan. Melihat dengan lebih menyeluruh, tentu akan mudah bagimu memperbaiki jika suatu saat terjadi kerapuhan.”

Pak Dewa menyalakan korek kayu, membakar ujung rokoknya. Dia tidak lagi meneruskan pertanyaan soal kabar Kalimantan, tentang cerita ku tak lagi dirasa penting, justru kali ini Ia berbicara seperti seorang guru bijaksana. “Seringkali kita berhadapan dengan situasi dan orang-orang yang bertentangan dengan ideologi di kepala kita. Namun, itu bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk tidak berkawan. Seperti ajaran Rwa Bhineda, siang yang selalu menerima malam, dan begitu pula sebaliknya, tapi mereka tetap saling menjaga agar senantiasa seimbang dan harmonis. Pertentangan bukan untuk menjadi pembeda di antara kita, apalagi menjadikan kita musuh.”

Ia membaca pikiranku, apa iya? Mungkin saat menyambung obrolan dengan Tomblos Ia telah mengamati gerak-gerikku sejak pertama duduk. Bagaimana bisa? Tidak mungkin! Bisa saja Ia hanya ingin mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku ajukan soal apa yang terjadi di sini. Seolah sengaja menunjukkan ketidak-berpihakannya pada pesan leluhur.

Tomblos tanpa kata, hanya dengan bahasa tubuh Ia mengiyakan apa yang disampaikan oleh Pak Dewa. Aku merasa menjadi minoritas, kali ini di antara orang-orang yang seagama, sedesa, di bawah satu payung ajaran leluhur. Pertanyaanku soal kegelisahan terhadap situasi ini telah terjawab, meski pertanyaan itu belum sempat terucapkan. Namun pergolakan di pikiranku malah bertambah kencang, dan menghadirkan jarak baru antara aku dan mereka.

“Nyepi hanya sekali dalam setahun. Para leluhur kita telah memberikan ruang satu hari untuk tubuh dan alam ini beristirahat. Mengapa kita tak bisa mengendalikan diri, cukup hanya dengan beristirahat sehari saja? Bukankah Catur Brata Penyepian yang dibangga-banggakan itu mesti kita jaga, tidak hanya lestari dalam tulisan dan kata.” Pertanyaan ini kulemparkan pada dua orang di sampingku. Tomblos diam, Ia melempar muka ke arah Pak Dewa.

Pak Dewa menjawab, “Gus, apa yang kamu sampaikan itu benar, dan pesan dan ajaran leluhur semestinya harus tetap dilestarikan agar tak punah. Apalagi tujuannya untuk kebaikan….” Sebelum meneruskan pembicaraannya, Ia menoleh ke arah orang-orang. Ia dipanggil oleh seorang yang duduk di meja bulat, diminta untuk menggantikan bermain.

Sebelum beranjak Ia menepuk bahu kanan ku lagi dan melanjutkan ucapannya, yang seolah tiada hubungannya dengan pertanyaan ku barusan, “Gus, semuanya telah berubah tidak lagi perlahan tapi begitu cepat, wewidangan desa, ladang, sawah dan semua yang kasat mata, mungkin kau sudah bisa lihat. Tetapi setidaknya sikap masyarakat masih sama.”

Ia berdiri, raut wajahnya berubah menatap orang-orang yang sedang bermain ceki. “Beberapa tahun belakangan, banyak beton-beton telah berdiri di sepanjang aliran sungai, deretan bangunan permanen untuk bule-bule yang sedang tergila-gila dengan budaya Bali. Dan kau tahu, itu semua milik orang-orang Jakarta. Sawah kini hanya tinggal setengahnya, sudah digantikan dengan vila-vila. Aliran air subak yang dibangga-banggakan, mulai tak teratur sebab beton-beton itu telah membunuh telabah-telabah, ikan plestimah mati dimakan plastik. Dan sikap kita masih sama, bertoleransi terhadap perubahan.”

Ia tersenyum pada ku, kemudian melanjutkan. “Toleransi terhadap apapun! Ya begitulah kita. Bisa kau lihat nanti malam, di tengah-tengah masyarakat kita yang menyepi, mereka yang menempati bangunan-bangunan megah itu akan berpesta dengan paket-paket wisata Nyepi.”

“Jik! Berhenti nutur. Ayolah main, biar pas lima orang.” Seseorang dari meja bulat memanggil Pak Dewa.

Tanpa menggubris Ia melanjutkan, kini suaranya lebih dalam dan pelan. “Gus, kau lihat orang-orang di sana…” Sembari menatap kembali kumpulan meja-meja bulat. “Mereka itu bukannya berpesta, mereka sedang beristirahat dari letih menghadapi perubahan zaman. Esok usai hari Raya, yang masih punya sawah akan kembali mencangkul, yang sawahnya telah berganti vila akan kembali meburuh, dan yang memiliki kewajiban adat akan kembali ngayahan adat. Meskipun dalam judi kau lihat mereka nista, tapi mereka tak selicik orang-orang Jakarta yang menguasai sebagian tanah di desa ini.” Ia beranjak, menuju salah satu meja bulat dan menggantikan seorang pemain.

Hanya aku dan Tomblos di bangku panjang. Kami saling berpandangan tak menyambung lagi obrolan barusan. Seolah kami sepaham, meski ucapan Pak Dewa telah terbawa angin. Aku berpamitan dengan Tomblos dan hanya memberi senyum pada Pak Dewa.

Jalanan masih sepi, matahari yang terik telah tertutup mendung tipis. Anjing-anjing berkeliaran bebas di jalanan, mereka memunguti bekas-bekas bungkusan nasi yang terhambur sembarangan.


Tiba di rumah, istriku menyambut dengan wajah muram. Kulihat tangannya sedang membawa saputangan basah dan ember kecil. Anakku yang nomor dua terbaring di lantai beralaskan tikar. Kata istriku sejak pagi Ia mual dan muntah-muntah. Kutempelkan tangan di dahinya. Ia demam dan menggigil, panasnya begitu tinggi.

Harus dibawa ke rumah sakit, begitu pikirku. Namun hari ini adalah Nyepi, dilarang membawa kendaraan bepergian, apalagi rumah sakit jaraknya lebih dari 15 kilometer dari rumah. Itu pun jika ada dokter yang berjaga. Dalam kebingungan istriku mendesak agar segera dibawa ke rumah sakit.

“Bli, carilah bantuan tetua adat atau pecalang untuk membantu kita, bawa Kadek ke rumah sakit!” Ia seolah menyalahkan kepergianku sejak tadi pagi dari rumah.

Aku pergi ke wantilan bagian belakang dengan tergesa-gesa. Kudapati pemandangan sama, hanya Tomblos yang tak ada di tempat semula. Kutemui Pak Dewa, kujelaskan persoalan yang sedang kuhadapi. Tanpa banyak kata, Ia menyuruh seorang untuk mengikutinya dan Ia meninggalkan permainan. Ia memintaku untuk segera pulang menunggu di rumah, aku mengiyakan.

Anakku kembali muntah-muntah. Kini panasnya bertambah. Istriku tidak sabar menanti datangnya bantuan. Seketika itu pun terdengar dari luar, suara sirene mobil pecalang. Tomblos ada di kursi setir dan Pak Dewa duduk di sampingnya. Mereka meminta segera membawa anak ku masuk. Kami dalam satu mobil pergi menuju rumah sakit. Tiada percakapan di antara kami. Hanya deru mobil dan sirene yang amat keras di tengah-tengah jalanan lengang. Tiada kendaraan lain selain kami. Mobil melaju dengan cepat. Beberapa kali kami diberhentikan di perbatasan desa tetangga oleh para pecalang, tapi tak lebih dari semenit kami dapat melanjutkan lagi.

Rumah sakit tidak ikut menyepi. Orang-orang masih lalu lalang, lampu tetap menyala. Yang sakit masih terkapar di ruangannya, perawat tetap siaga, dan seperti biasa suara-suara manusia masih bercampur antara tangisan, rintihan dan perdebatan pendamping pasien dengan kasir. Istriku dan Tomblos mengantar anakku ke UGD, sedangkan aku ditemani Pak Dewa mengurusi administrasi.

Suara hujan terdengar bersahutan dan angin mulai menusuk-nusuk kulit. Malam masih terasa lamban, meski anak ku telah mendapat kamar dan dokter sudah menetapkan diagnosos. Kami bertiga, Aku, Tomblos dan Pak Dewa duduk di bangku panjang. Kali ini bukan berhadapan dengan meja-meja bulat tapi di depan kamar rawat inap. Tanpa obrolan kami memandang ke-arah jendela dari lantai tiga rumah sakit. Malam ini semuanya seolah mati, tiada beda antara kota dan desa, tanpa nyala lampu.


Catatan Kaki
Sasih Kesanga : adalah sebutan bulan pada kalender Bali, yang jumlahnya 35 hari dalam satu sasih. Sasih Kesanga adalah, bulan kesembilan.

Tawur : adalah upacara penyucian alam yang bertujuan Nyomia bhutakala (menetralisir kekuatan bhutakala). Tawur Kesanga dilakukan saat hari Pangerupukan, sehari menjelang Nyepi.

Leneng : Tempat duduk di depan gerbang rumah orang Bali, biasanya terbuat dari beton berbentuk persegi panjang. Dahulu sering dipakai tempat ngobrol, dan memantau orang-orang baru yang lalu lalang di desa.

Kulkul : Kentungan yang terbuat dari kayu khusus, di tempatkan di balai kulkul yang bangunannya tinggi dan lokasinya di tengah-tengah pemukiman. Dibunyikan sebagai penanda waktu berkumpul warga desa.

Balai Banjar : Balai tempat berkumpulnya warga banjar, untuk musyawarah atau keperluan persiapan upacara. Banjar adalah bagian dari Desa, biasanya satu Desa Adat bisa terdiri dari beberapa banjar, meski di beberapa daerah ada terdapat satu desa adat dengan satu banjar.

Pecalang : Pengaman desa, sebagai relawan yang bertugas di bawah arahan Desa Adat.

Mebraya : berkengkrama dengan braya (keluarga) atau bisa bermaksud dengan berkawan.

Catur Brata Penyepian : Empat pantangan saat hari Nyepi, di antaranya tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan) dan tidak mengadakan hiburan (Amati Lelanguan).

Rurung : Gang-gang kecil di desa.

Mebat : Adalah kegiatan membuat lawar dan sate untuk keperluan upacara, biasanya dilakukan oleh laki-laki.

Telabah : Kali-kali kecil, sebagai aliran air untuk mengairi subak-subak.

Plestimah : Sebutan untuk ikan-ikan kecil di sungai dan kali, bentuknya seperti ikan teri.

Tattwa : Ajaran filsafat dalam Hindu Bali, yang berupa tutur atau penjelasan dari sastra-sastra Bali, seperti dari kekidungan, kakawin dan lontar-lontar.

Tri Sandya : Mantram dalam agama Hindu yang disusun dalam enam bait, yang dilantunkan dalam tiga waktu. Menjelang matahari terbit, saat matahari tepat di atas kepala dan saat matahari terbenam.

Rwa Bhineda : Konsep ini boleh diterjemahankan sebagai dualisme, Rwa Bhineda bermakna bahwa kehidupan tergantung pada keseimbangan antara dua unsur yang berlawanan.

Kelihan Adat : Salah satu pimpinan di Desa Adat. Kelihan artinya yang tertua.

Wewidangan Desa : Wilayah desa.

Cekian : atau permainannya disebut meceki, adalah permainan yang menggunakan kartu ceki atau Koa (dalam Bahasa Minang). Biasanya dipakai untuk taruhan.

Ngayahan Adat : Ngayah adalah kegiatan adat yang dilakukan secara sukarela, sesuai dengan kewajiban anggota adat.

The post [Cerpen] Menyepi di Desa appeared first on BaleBengong.

Sharing Remaja Sehat dan Bahagia di Festival Kampoeng Baturiti

Pada tanggal 17 Februari 2019 KISARA Bali diundang oleh ASUBA (Asosiasi UMKM Bali) untuk menjadi narasumber diacara sosialisasi HIV dan AIDS di Lapangan Baturiti, Tabanan. Kegiatan dimulai pukul 10.00 WITA  dengan perkenalan oleh ASUBA yang mengadakan acara Festival Kampoeng Baturiti saat itu. Dalam perkenalannya, beliau mengatakan bahwa acara festival bukan hanya perlu diisi kegiatan-kegiatan hiburan...

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini


Melasti sebagai salah satu rangkaian pelaksanaan Nyepi. Foto Anton Muhajir.

Berikut adalah sejumlah seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi tahun ini.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali menyampaikan pedoman pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941 atau kalender masehi 2019 ini. Panduan ini disebarluaskan termasuk ke media sosial oleh PHDI Bali.

Ketua PHDI I Gusti Ngurah Sudiana dan majelis-majelis agama dan keagamaan di Bali menyatakan seruan bersama seperti tahun-tahun sebelumnya. Di antaranya penyedia jasa transportasi laut, darat, dan udara tidak diperkenankan beroperasi selama Hari Raya Nyepi. Demikian juga lembaga penyiaran televisi dan radio. Penyedia jasa selular pun diharapkan mematikan data selulernya.

Seruan ini direspon Kemenkominfo dengan Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika No 3 tahun 2019. Seluruh penyelenggara telekomunikasi yang menyediakan akses internet di Bali mendukung seruan kecuali di obyek vital dan sarana darurat. Misalnya rumah sakit, kantor polisi, militer, BPBD, BMKG, Basrnas, dan lainnya.

Rangkaian Nyepi dimulai dengan Melis/Melasti/Mekiyis sampai 6 Maret yang pelaksanaannya disesuaikan dengan desa setempat.
Selanjutnya adalah upacara Tawur Kesanga yang dilakukan dengan sejumpah prosesi.

Pertama, perwakilan dari masing-masing desa/kecamatan datang ke Pura Besakih membawa perlengkapan persembahyanganuntuk mohon Nasi Tawur dan Tirtha Tawur untuk disebarkan dan dipercikkan di wilayah masing-masing.

Selanjutnya tiap desa menggunakan Upakara Tawur Agung dengan segala kelengkapannya. Dilaksanakan dengan mengambil tempat pada Catuspata (perempatan utama) pada waktu tengai tepet (sekitar pukul 12.00 Wita).

Berlanjut sampai tingkat rumah tangga dengan sarana persembahyangan lebih sederhana. Misalnya menghaturkan Segehan Manca Warna 9 (sembilan) dengan olahan ayam brumbun, disertai tetabuhan tuak, arak, berem, dan air yang didapatkan dari desa setempat, dihaturkan ke hadapan Sang Bhuta Raja dan Sang Kala Raja.

Keramaian kemudian berpindah ke jalan-jalan, disebut Pangerupukan, saat ribuan ogoh-ogoh dari ukuran kecil sampai 6 meter diarak oleh anak-anak dan orang tua. Dilengkapi aapi (obor), bunyi-bunyian seperti baleganjur dan lainnya. Ngerupuk dilakukan dengan keliling desa, dan parade ogoh-ogoh ini bisa sampai tengah malam.

Hingga Kamis pagi, pukul 6, petugas keamanan tradisional (pecalang) sudah berjaga-jaga di tiap pemukiman dan jalan. Keriuhan Pangerupukan berganti dengan sunyi, sepi. Nyepi Sipeng dilaksanakan 24 jam sejak jam 06.00 Wita sampai dengan jam 06.00 Wita keesokan harinya, dengan melaksakan Catur Brata Penyepian.

Di antaranya Amati Gni, yaitu tidak menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka. Amati Karya, tidak melakukan kegiatan fisik/kerja namun melakukan aktivitas rohani untuk refleksi diri. Amati Lelungan, tidak berpergian, dan Amati Lelanguan, tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang, melainkan tekun melatih batin.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali juga menyepakati agar penganut agama dan keyakinan lain menyesuaikan pelaksanaan Brata Penyepian seperti tidak ada bunyi pengeras suara misalnya saat Sholat dan tidak menyalakan lampu pada waktu malam hari. Dapat diberikan pengecualian bagi yang menderita atau sakit dan membutuhkan layanan untuk keselamatan. [b]

The post Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini appeared first on BaleBengong.

Rangkaian Literasi Digital untuk Safer Internet Day


Permainan ular tangga untuk kampanye literasi digital di Denpasar. Foto Wayan Martino.

Dari ular tangga sampai seminar tentang pemilu untuk kampanye Internet lebih aman.

Puluhan anak-anak, remaja, dan orang tua bergantian memainkan ular tangga di arena car free day Lapangan Renon, Denpasar pada Minggu (3/3). Warga juga memberikan opininya mengenai dampak internet lewat ekspresi emoticon.

Literasi digital diterjemahkan melalui permainan dan curah pendapat di kampanye Safer Internet Day 2019 yang dilaksanakan secara kolaboratif antara komunitas gerakan literasi digital di Indonesia di beberapa kota, salah satunya Denpasar, Bali.

Safer Internet Day (SID) atau Hari Internet Aman adalah kampanye peningkatan kesadaran yang dimulai di Eropa lebih dari satu dekade lalu dan sekarang dirayakan lebih dari 140 negara. SID bertujuan untuk menciptakan internet yang lebih aman dan lebih baik, di mana setiap orang diberdayakan untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, penuh hormat, kritis, dan kreatif.

Kampanye ini bertujuan untuk menjangkau semua kalangan. Anak-anak dan remaja, orang tua dan wali, guru, pendidik, industri, pemerintah, dan politisi untuk mendorong semua orang memainkan peran mereka dalam menciptakan internet yang lebih baik.

Dalam ular tangga edukasi ini ada sejumlah pengetahuan yang harus dibaca atau dijawab oleh yang memainkan. Misalnya sebutkan 3 hal positif dan negatif internet, peringatan hoaks, dan tips jika main game tidak menggunakan nama atau identitas asli.

Sementara saat curah pendapat, dua relawan mengenakan papan karton mengajak puluhan warga menuliskan pendapatnya tentang empat hal.

“Ayo silakan ekspresikan pendapatmu, kalau berbagi foto pribadi dan lokasi itu aman atau tidak?” tanya Agus, salah seorang relawan kampanye.

Sementara pada sore hari, kampanye dilanjutkan dengan diskusi santai milenial bersama dengan topik “Pemilu Tetap Asik di Tengah Medsos yang Berisik.”

Sebagai narasumber ada Adya Nisita (Siberkreasi), Luh De Suriyani (BaleBengong), Wulan Ayu (duta Youth IGF Indonesia), dan I Gede Putu Khrisna Juliharta (koordinator Relawan TIK Bali). Mereka mengajak anak muda aktif mencari informasi tentang Pemilu dan peserta Pemilu agar bisa menggunakan hak pilih secara bertanggungjawab.

“Tidak perlu menunggu perang untuk menyemai damai di internet kan,” ajak Adya Nisita, Manajer Riset Siberkreasi ini.

Sementara Wulan Ayu, siswa SMA di Semarapura ini menyebut diri sebagai pemilih pemula dan berharap tidak ada kalah menang antar pendukung tapi memenangkan masa depan Indonesia yang lebih baik.

Puluhan peserta diskusi adalah anak muda dan sebagian mahasiswa IT. Mereka merefleksikan bagaimana caranya membuat politik jadi menarik dan penting untuk dikritisi.

“Kita bisa cek latar belakang mereka, apa yang mereka lakukan, dan lainnya, kita kan tahu internet,” sebut Aris, salah satu mahasiswa.

Seminar tentang pemilu dan Internet di STMIK Primakara. Foto Luh De Suriyani.

Maraknya Hoaks

Pada Senin (4/3) agenda literasi digital Siberkreasi berlanjut di Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer (STMIK) Primakara. Topiknya tentang bagaimana jika hoaks masuk ke dalam dunia politik?

Seminar yang dihadiri sekitar 200 anak muda tingkat SMA dan mahasiswa ini dibuka oleh Ketua STMIK Primakara.

Dalam sambutannya Donny BU, staf ahli Kemenkominfo mengatakan saat ini di Indonesia ada 155 juta pengguna internet dan 60-70 persen adalah generasi milenial berusia 18-35 tahun. Mereka pemilih pemula tahun ini.

“Ini besar sekali, bayangkan memilih tanpa informasi benar. Ada hoaks, dan akan merugikan Indonesia tak hanya 5 tahun ke depan,” paparnya.

Kegiatan daring terus meningkat. Dia menyebut tiap pengguna internet menghabiskan 3,5 jam di medsos per hari. Sedang literasi membaca buku, durasi 3,5 jam per minggu. Karena itu perlu konten-konten literasi digital. Ia mengajak menjaga kredibilitas dan integritas dengan memanfaatkan internet dengan aman.

Pandu Digital adalah gerakan anak muda menggunakan internet secara bertanggungjawab. Mereka akan mendapat badge merah, biru, dan hitam. Bambang Tri dari Kemkominfo mengajak anak muda memanfaatkan program ini untuk mengembangkan diri dan menambah pengetahuan di bidang literasi digital.

Anggota KPU Bali, I Gede John Darmawan menyebut hoaks tahun ini jauh lebih banyak dibanding Pemilu 2014. “Pemilu sebelumnya menyerang peserta tapi tahun ini ada upaya merusak kandang. Yang diserang penyelenggara Pemilu,” sebutnya. Ia menyontohkan pada 2 Januari ada kabar tersiar bahwa 7 kontainer surat suara masuk dari Cina dan sudah tercoblos.

KPU dan Bawaslu langsung cek ke pelabuhan Tanjung Priuk. “Ternyata tidak ada kontainer itu. KPU langsung verifikasi. Tak hanya konter media resmi juga medsos pribadi komisioner,” jelasnya.

Faktanya pada 2 Januari surat suara belum divalidasi oleh dua pasang calon, 16 parpol, dan 4 parpol lokal di Aceh. Pada 16 Januari surat suara baru dicetak. “Sebelum dilipat, dicek, ada tercoblos atau tidak,” lanjut John.

Hoaks lain adalah disebut 14 juta orang gila masuk DPT. Saat Pemilu sebelumnya di Bali ada 60 pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli yang direkomendasikan dokter untuk bisa mencoblos.

Dilihat dari umurnya, di DPT Provinsi, John menyebut ada 67 persen pemilih melek informasi dan teknologi, dan harusnya tahu perkembangan situasi politik. Ia bertanya ke peserta seminar kapan Pemilu untuk memastikan anak muda peduli atau tidak dengan peristiwa ini.

Tri Werthi, dosen STMIK Primakara dan Relawan TIK di Bali memaparkan hoaks terbanyak adalah soal sosial politik sekitar 90 persen, kemudian SARA sekitar 80 persen, informasi kesehatan, dan lainnya.

Cara mengenali hoaks dengan memastikan sumbernya, website apa, penulis, dan penanggung jawab webnya. Selain itu bandingkan dengan informasi di media lain, atau cek sendiri dengan sejumlah aplikasi yang sudah bisa diunduh.

Sementara Andi Budimansyah dari Pandi memaparkan tata kelola internet dalam Internet Governance Forum (IGF). Ada 7 sektor termasuk keamanan siber. Semuanya terkoneksi. Indonesia sendiri memiliki forum Indonesia IGF. Saat ini sedang digodok RUU Perlindungan Data Pribadi, salah satu isunya adalah hak untuk dilupakan, data bisa dihapus tapi berdasar perintah pengadilan. Misal korban anak difoto telanjang bisa minta ke pengadilan untuk dihapus.

“Tapi tak bisa menjamin kalau tak di-save oleh pihak lain,” ingatnya tentang risiko membagi konten pribadi ke medsos.

Selain seminar, juga ada sesi lokakarya membuat konten medis sosial yang berdampak. Pematerinya adalah Putu Dian yang terkenal dengan kartun Beluluk yang merespon isu sosial dan lingkungan dengan kritis tapi lucu. Ada juga Geranuma Taswin dari Siberkreasi, Edi Prayitno (Torch Media), dan Iin Valentine (Balebengong).

Seminar dan lokakarya ini menutup rangkain kampanye publik dari Siberkreasi dengan dukungan ICT Watch. Bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Pemkab Banyuwangi, Relawan TIK Indonesia, BaleBengong, Sobat Literasi Jalanan Palembang, Torch Media, Ford Foundation, dan Indonesia Child Online Protection (ID-COP). [b]

The post Rangkaian Literasi Digital untuk Safer Internet Day appeared first on BaleBengong.