Tag Archives: Berita Utama

Menyoal Tantangan Intelektual Muda Bali ala Ngurah Suryawan

Ngurah Suryawan saat peluncuran bukunya, Menyoal Bali yang Berubah. Foto Bentara Budaya Bali.

Tantangan intelektual Bali terkini bukanlah perspektif inward looking dan kejumudan.

Saya sudah lama sekali tidak menulis opini ataupun esai ringan. Apalagi yang menanggapi tulisan dari Ngurah Suryawan: kawan lama di kolektif Etnohistori di Jogja. Alasannya sederhana, kualitas tulisan Ngurah jarang yang ada perlu ditanggapi.

Namun, beberapa minggu lalu Ngurah menulis esai bagus sekali di harian Kompas tentang Papua. Jadi mungkin, saya membatin, kawan Ngurah masih bisa diajak berpikir serius.

Tulisan ini ingin menanggapi corat-coret Ngurah di website Tatkala, soal apa yang Ngurah sebut sebagai tantangan bagi intelektual muda Hindu Bali.

Hindu atau Bali?

Inti dari corat-coret kawan Ngurah sebenarnya penting. Namun, ketika digores oleh pena Ngurah jadi terkesan kabur dan bertele-tele. Intinya kira-kira begini. Ngurah berangkat dari observasi kalau intelektual Bali tidak terdengar kiprahnya di kancah pemikiran nasional dan global. Saru gremeng, ujar Ngurah.

Menurut Ngurah, kemungkinan besar karena intelektual muda Hindu Bali berperilaku seperti katak dalam tempurung: hanya melihat Bali sebagai jagat pentas satu-satunya. Akibatnya, intelektual Bali dan Hindu terancam terjerumus dalam fenomena inward looking dan berpikir picik. Yang dibahas hanya Bali, dan sayangnya lagi, pembahasannya dominan soal membela kebudayaan Bali.

Saran kawan Ngurah, intelektual Bali dan Hindu perlu bergerak melampaui keBalian sendiri: melampaui romantisme pada kebudayaan dan masa lalu.

Ada beberapa catatan untuk kawan Ngurah dan poin penting yang berusaha ia bahas. Catatan pertama tentu saja: apa betul demikian sebagaimana yang disampaikan kawan Ngurah?

Bali dan Hindu dihela dalam satu hentakan napas dalam tulisan Ngurah, seakan-akan dua kategori itu simetris, kongruen, dan identik. Sebagai seorang antropolog yang pernah menulis Bali, Ngurah tentu harusnya tahu ini keliru. Bali tidak selalu identik dengan Hindu, apalagi Hindu modern ala Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang kita kenal sekarang.

Orang Bali ada yang Kristen dan Katolik, bahkan orang Bali ada yang Muslim. Mungkin lebih banyak lagi orang Bali yang tidak beragama Hindu modern ala PHDI dengan tri sandya tiga kali dan sebagainya. Mereka yang belajar studi agama memahami betul kalau kategori Hindu (yang di India dan bahkan yang dilekatkan di kebudayaan Bali) tersebut adalah konstruksi sosial.

Ketidakpahaman kawan Ngurah akan ketidaksimetrisan kategori Bali dan Hindu itu sendiri terlihat jelas ketika ia abai akan beberapa intelektual Bali yang sebenarnya kiprahnya sangat terdengar dan dominan di kancah pemikiran nasional. Tidak usah jauh jauh, kawan Ngurah sebenarnya bisa melihat rekan kita sendiri yang bernama Made “Tony” Supriatma.

Made adalah ahli studi politik militer di Indonesia, dan juga ahli studi Papua, studi yang belakangan kawan Ngurah coba geluti. Ia dididik di Cornell dibawah Ben Anderson dan diakui di level nasional sebagai salah seorang pemikir studi militer Indonesia. Made bahkan pentas jauh lebih dahulu di level nasional dibandingkan beberapa peneliti muda terdepan terkini di studi militer Indonesia—yang kebetulan saya kenal baik—seperti Evan Laksmana di Center for Strategic and International Studies (CSIS) atau Muhamad Haripin di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Saya rasa kawan Ngurah abai melihat Made persis karena di analisis kawan Ngurah, intelektual Hindu dan intelektual Bali itu adalah dua istilah yang dapat dipertukarkan. Made Tony kebetulan tidak dapat diringkus dengan pas oleh dua kategori Hindu dan Bali tadi. Namun, justru disitulah letak pentingnya Made Tony: ia telah berhasil melampaui penjara kategori Hindu, Bali, dan bahkan mungkin Katolik itu sendiri.

Saya tahu masih banyak intelektual Bali lain yang pentas di level nasional dan gaung kiprahnya sangat terdengar. Ada dua orang Bali yang kini jadi jurnalis terdepan di Tempo. Ada satu orang Bali yang kini jadi ahli batas maritim di level nasional. Jika tidak terdengar oleh Ngurah, mungkin karena kawan Ngurah masih terjebak dalam penjara kategori Bali dan Hindu.

Intelektual Bali yang berkiprah di pentas nasional tersebut mungkin sekali sudah melampai penjara dua kategori tersebut dan telah menjadi, simply, orang Indonesia saja.

Tidak Berhenti Belajar

Catatan kedua. Jika memang kiprah intelektual Bali gaungnya tidak sekencang kiprah pemikir non-Bali, seperti yang Ngurah tuduhkan, mungkin sekali bukan karena mereka selalu berpikir inward looking dan jadi “jago-jago penjaga kebudayaan” untuk mengutip istilah lawas favorit kawan Ngurah. Mungkin sekali karena mereka telah berusaha berkiprah di pentas nasional, tetapi karena keterbatasan mereka masing-masing, tidak mampu menjadi salah satu pemikir yang terbaik.

Ngurah saya rasa adalah salah satu contoh yang bagus. Selepas berkutat dengan studinya tentang Bali, Ngurah kini mencoba berkiprah di pentas nasional dengan menjadi pemikir tentang Papua. Sejauh mana kiprah kawan Ngurah berhasil, masih kita nantikan.

Beberapa resep menjadi pemikir dan intelektual yang berhasil saya rasa kawan Ngurah sudah mafhum. Sebagai misal, jadilah pemikir merdeka dan bukan pemikir minder tukang kutip sarjana lain, menulis dengan logika yang runtut dan bahasa yang jernih, dan yang paling penting, proses belajar tidak berhenti seusai meraih gelar doktor. Justru gelar doktor itu menambah beban harapan pembaca pada sang intelektual.

Saya rasa tantangan intelektual Bali terkini bukanlah perspektif inward looking dan kejumudan pada peran menjadi jago kebudayaan. Tantangan mereka kini adalah keluar dari zona nyaman repetisi tema pemikiran, dan tentu saja kemalasan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Tulisan ini ingin saya tutup dengan dengan ucapan penyemangat pada kawan Ngurah: mungkin sekali kawan Ngurah nanti jadi intelektual Bali berikutnya yang kiprahnya terdengar di pentas nasional dan tidak hanya membahas soal budaya Bali. Dengan catatan, tentu saja, kawan Ngurah tidak berhenti belajar. [b]

The post Menyoal Tantangan Intelektual Muda Bali ala Ngurah Suryawan appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Cuan

Pelantikan Ketua DPR. Foto DPR.go.id

MEN COBLONG girang bukan kepalang.

Tubuh yang sehat adalah impian semua orang. Karena, jika tubuh kita sehat otomatis semua hal bisa dilakukan dengan baik. Jika tubuh sakit tentu harus berpikir juga untuk melakukan banyak hal.

Belum lagi harus mengeluarkan dana cukup banyak untuk biaya kesehatan. Maklum sekalipun Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) banyak membantu, tetapi masih harus banyak ditata. Sebab, dokter yang disediakan juga terbatas. Bahkan bisa dibayangkan jika kita sakit harus berjam-jam menunggu giliran diperiksa jika menggunakan JKN.

Ada baiknya juga jika JKN ditata ulang, pelayanan diperbaiki. Jika kenyataan baik dan menolong masyarakat Men Coblong yakin rakyat pasti berdiri paling depan untuk setuju.

Sesekali bolehlah suara rakyat di dengar jangan mencari suara rakyat pas acara pemilihan saja.

“Memangnya kamu masih berharap pada para pengempu kebijakan itu? Tidak kapok berkali-kali dibohongi?” Men Coblong terdiam mendengar sindiran suara cempreng sahabatnya itu. Menyebalkan juga sih mendengar celotehnya yang kadang kesana-kemari, tetapi kadang ada juga benarnya dan layak juga untuk didengar.

Belakangan ini memang terlalu banyak orang-orang bicara. Iya juga sih bicara tidak ada aturannya. Lalu bagaimana dengan DPR yang mengagendakan pengesahan Kitap Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru pada 24 September menggantikan KUHP peninggalan penjajah Belanda. Sejumlah pasal menuai kontroversi.

Hal paling krusial adalah ketentuan hukum yang hidup di masyakat beberapa pasal yang memiliki rumusan multi tafsir. Misalnya kriminalisasi seks di luar nikah. Setiap orang yang melakukan persetubuhan dengan orang yang bukan suami atau istrinya dipidana karena perzinaan dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda Kategori II.

Kriminalisasi Kumpul Kebo. Setiap Orang yang melakukan hidup bersama sebagai suami istri di luar perkawinan dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak Kategori II.

Pasal Santet. Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, memberikan harapan, menawarkan atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV.

Koruptor Didenda Rp 10 Juta. Setiap Orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu Korporasi yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 2 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Kategori II dan paling banyak Kategori VI.

Dalam Buku I RUU KUHP, disebutkan kategori II adalah denda maksimal Rp 10 juta. Namun, denda maksimal mengalami peningkatan dari Undang-undang Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor), yaitu VI, maksimal Rp 2 miliar.

Men Coblong memang merasa mencoba untuk masih memiliki harapan, ketika melihat di televisi seluruh anggota legislatif di daerah terlihat berwajah cerah, dengan tatapan tajam, terlihat juga bersemangat setelah dilantik jadi wakil rakyat.

Tak ada tampang kusut semua terasa berbau dry clean termahal. Harum, wangi, segar dan penuh libido ingin menuntaskan pekerjaan yang telah mereka janjikan. Walaupun ketika satu hari setelah pelantikan, masih menurut televisi, beberapa wakil rakyat itu tidak ada di ruang kerjanya.

Sebagai rakyat Men Coblong tentu masih memiliki hak untuk bermimpi. Minimal memiliki keinginan untuk tetap memiliki harapan agar wakil-wakil rakyat itu bekerja maksimal. Apalagi rencananya 1 Oktober Indonesia akan memiliki hajatan besar, kenduri nasional yang meriah dan pasti tumpukan impian-impian seperti tsunami yang paling dahsyat menjadikan Indonesia ini lebih baik, lebih dipikirkan oleh para wakil rakyat karena akan melantik 575 anggota DPR baru. Banyak juga yang muda-muda, semoga yang muda-muda tidak kena virus malas hadir di sidang-sidang.

Satu lagi, semoga juga yang dilantik sadar diri, bahwa mereka adalah wakil rakyat. Orang yang mewakili rakyat untuk bersuara. Orang yang dipercaya rakyat untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Kesejahteraan rakyat.

Ingat ya, jangan korupsi. Kalian kan mewakili rakyat, masak duit kami tega kalian telikung? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Cuan appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Sampah

MEN COBLONG mengatur napasnya dalam-dalam.

Sejak terserang hipertensi di usia 45 tahun, dunia terasa runtuh. Bayangan kerepotan dan penyakit-penyakit cabang-cabannya menggerayangi sulur-sulur urat yang saling terkait di otaknya.

Untuk menenangkan diri Men Coblong terpaksa memutus seluruh media sosial yang dimilikinya. Sesekali puasa medsos juga penting untuk mengatur ritme hidupnya yang terasa sedikit goyah.

Sejak aktif di media sosial Men Coblong jadi merasa tidak lagi menjadi diri sendiri. Klik Facebook, terhampar beragam kesuksesan orang-orang di dalamnya. Ada teman semasa SD yang jahatnya minta ampun, ternyata jadi seorang desainer sukses. Ada teman SMP yang “geblek” akut jadi pejabat tinggi yang mengatur seluruh kehidupan orang banyak. Dan, yang paling menyebalkan, banyak orang-orang yang “menyebalkan” justru jadi orang.

“Jadi selama ini kamu tidak menganggap dirimu orang?” Tanya sahabat Men Coblong tersinggung. Matanya yang kecil karena disapu eyeshadow dengan benar agar hasilnya terlihat flawless. Membuat Men Coblong harus membesarkan bola matanya, sungguh menjelma jadi cantik, tepatnya mirip artis film dan TV. Salah!

Sahabatnya menjelma seperti perempuan-perempuan di majalah perempuan, yang biasanya memamerkan beragam produk-produk kecantikan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Majalah yang tanpa sadar membius dan “mewajibkan” perempuan-perempuan untuk belanja, belanja, dan belanja.

Serius, teman satu bangku di SMP ini terlihat justru makin tua makin cantik.

“Kamu itu kebanyakan iri dan dengki. Melihat orang sukses berpikir. Dan merasa orang itu tidak pantas menduduki jabatan yang mampu diraihnya.”

“Bukan begitu, aku hanya heran. Kadang hidup itu kok tidak adil. Yang kerja keras sejak bayi nasibnya biasa-biasa saja.” Men Coblong bersikeras menunjukkan pada sahabatnya itu, tidak memiliki rasa iri dan dengki. Padahal jauh di lubuk hati Men Coblong pertanyaan-pertanyaan di hati dan pikirannya itulah yang membuatnya selalu ingin marah. Marah yang sesungguhnya.

Padahal jika sering marah-marah dan menyimpannya di kotak hatinya, bisa dibayangkan jika tumpukan “sampah” itu bisa meletus, luber bak tsunami apa jadinya tubuh Men Coblong yang tidak lagi muda seperti dulu.

“Kemarahan itu bisa diajag dialog, diatur, dan ditata,” sahut sahabatnya lagi. Kemarahan kok ditata? Men Coblong terdiam, membayangkan ketika dunia runtuh karena vonis hipertensi, padahal hidup toh tidak harus diisi dengan rasa iri dan dengki yang terus dipupuk dan membuat tubuh makin demam dengki, sehingga setiap melihat orang berhasil rasanya selalu ingin didepak dari hidup Men Coblong.

Namun, bagi Men Coblong kemarahahannya saat ini sudah terkikis , sedikit demi sedikit. Usia yang terus beranjak mendekati 53 bukan usia yang harus dihabiskan dengan perasaan-perasaan tidak penting. Terlebih iri dan dengki dengan kecantikan, kekayaan, keberhasilan, dan beragam pencapaian-pencapaian yang didapat orang-orang yang dikenal Men Coblong.

Belakangan ini Men Coblong sadar, beragam onak dan ruang-ruang tidak penting itu harus dikikis, karena itu semacam hibah yang akan membuat Men Coblong melewati masa tua dijamin nelangsa. Karena kesehatan yang baik itu dimulai dari pikiran-pikiran. Men Coblong mencoba paham, tubuhnya sudah tidak lagi bisa menampung beragam hal-hal berat, ekterior dan interior yang tidak penting harus dikikis dari sulur-sulur lubang otaknya. Tentu Men Coblong tidak mau sakit, sekali pun sudah memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Badan Pemeriksa Keuangan BPK tengah memeriksa pengendapan dana Kapitasi untuk program JKN sebesar Rp 2,4 triliun. Bayangkan dana sebesar itu tidak terserap sejak tiga tahun lalu. Dana Kapitasi itu dibayarkan setiap bulan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kepada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) serta klinik. Padahal satu kabupaten atau kota memiliki saldo dana Rp 30 miliar.

Dana kesehatan saja diperlakukan seperti itu, bagaimana Men Coblong tega membiarkan tubuhnya sakit? Terus tidak percaya dengan fasilitas kesehatan pemerintah? Kalau tidak percaya mau berobat ke mana? Ke luar negeri? Pakai duit siapa?

Sudah diberi solusi untuk memudahkan berobat hasilnya seperti ini? Coba siapa yang mesti disalahkan? Rakyat lagi yang sudah pontang-panting menyisihkan dana untuk tertib bayar iuran kesehatan mereka?

Men Coblong menarik napas, menggelindingkan bola amarahnya
keluar melalui hidung kiri dan hidung kanan.

N melaporkan pihak puskesmas ke Polsek Penjaringan pada 15 Agustus 2019. Dalam laporan bernomor 940/K/VIII/2019/SEK.PENJ, pihak puskesmas dilaporkan atas tuduhan Pasal 8 UU RI No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Seorang ibu hamil berinisial N (24) mengalami muntah-muntah hingga perutnya kesakitan setelah diduga mengonsumsi vitamin kedaluwarsa yang diberikan oleh puskesmas di Jakarta Utara. Atas kejadian ini, N melaporkan pihak puskesmas ke polisi.

Kali ini bukan otak Men Coblong yang sakit, kali ini perutnya melilit seperti ingin melahirkan. Kalau sudah seperti ini apa Men Coblong tidak boleh marah? Atau sedikit saja: memaki! [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Sampah appeared first on BaleBengong.

(Dongeng) Agama Tirta Versus (Realitas) “Agama Pariwisata”

Demi pariwisata, kita biarkan investor memakan apa saja yang ada di Bali. Kartun Gus Dark.

Pelan tetapi pasti, muncul “agama pariwisata” dan para pengikutnya.

Sontak kita terkejut setelah sebuah hasil penelitian menyebutkan bahwa Pulau Bali sedang menuju kepada krisis air. Seolah kita tidak percaya, bahwa pulau dengan agama tirta, pemujaan terhadap air, justru kini bersiap akan kekurangan air.

Bentang persawahan melahirkan kebudayaan pertanian sekaligus sumber penghidupan pada masanya. Tatanan kebudayaan juga tercipta melalui pertanian, yang salah satu unsur pentingnya adalah pemujaan terhadap air dalam rangkaian ritual-ritual.

Namun, itu dulu.

Pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi perumahan dan sarana pariwisata tidak terelakkan. Mungkin sebuah keniscayaan, kebudayaan air tergerus oleh modernitas bernama pembangunan dan pariwisata.

Kita seolah terpapar kepada kondisi yang menuntut untuk semuanya mengabdi kepada pariwisata. Kerusakan lingkungan dengan demikian hanya menunggu waktu.

Sudah lama saya mendengar ungkapan tentang budaya air dan budaya jalan yang bertubrukan dalam realitas kontemporer Bali. Saya rasa tidak hanya di Bali. Pengalaman saya dalam memahami kondisi di Papua beberapa tahun belakangan ini mungkin lebih dramatis. Kita terpaksa berhadapan dengan ironi-ironi antara cerita kejayaan (dongeng) masa lalu dan kenyataannya kini.

Budaya air tumbuh dari keseluruhan kehidupan manusia Bali, terutama dalam ritual agama. Foto Anton Muhajir.

Agama (Kebudayaan) Tirta

Teks-teks tradisi tidak menemukan konteksnya dalam realitas kontemporer Bali. Perubahan melaju kencang menerabas semuanya, tanpa kecuali. Tersedia berbagai macam pilihan yang harus dipilih. Pilihan-pilihan sulit dan tantangan yang harus dihadapi itulah yang menandai perubahan Bali.

Teks-teks sejatinya berguna sebagai pondasi dan suluh untuk mengenali posisi dan identitas kita. Selebihnya, kita sepatutnya mengisi teks tersebut dengan semangat zaman (baca: konteks) kita hidup saat ini. Dengan demikian teks akan berubah menjadi spirit. Spirit teks tersebut adalah perubahan itu sendiri. Dengan demikian pulalah kita akan menjadi eling dalam dunia yang berlari kencang ini.

Bagaimana mengkontekstualisasikan teks dalam kehidupan rakyat Bali yang berubah? Bagaimana memaknai sumber-sumber air penghidupan terancam pencemaran dan kekeringan? Kisah peradaban air yang perlahan-lahan tergerus peradaban jalan (infrastruktur secara luas)?

Perubahan-perubahan itulah yang melanda Bali dan daerah-daerah lain di negeri ini. Dongeng peradaban air perlahan tergantikan dengan peradaban pembangunan pariwisata. Yang tidak ikut serta seolah-olah akan terlindas tewas peradaban yang melaju kencang tanpa henti. Infrastruktur seolah menjadi ideologi yang menandai kemajuan.

Budaya air tumbuh dari kesuluruhan kehidupan manusia Bali. Filsafat keagamaan manusia Bali memandang laut dengan pantainya sebagai kawasan suci. Maka, bukanlah kebetulan jika kawasan pantai yang mengitari tanah Bali “dipagari” dengan pura. Dari beragam pura inilah diharapkan vibrasi kesucian dan kemurnian itu mengalir, menyusup ke puncak pikir, ke kedalaman hati, hingga ke relung batin umat manusia.

Siklus air dalam kebudayaan Bali bermula dari pegunungan, lantas menembus ke dalam bumi, menyembul lagi menjadi mata air, yang kemudian mengalirkan air ke sungai-sungai, menyejahterakan umat manusia dengan segenap mahluk seisi semestaraya, hingga akhirnya semua bermuara ke laut (Sumarta, 2015: 103-105).

Penelitian awal saya di Batur memberikan potret bahwa air begitu pentingnya dalam tataran religius juga budaya kemasyarakatan. Tidak salah yang menyebut bahwa Danau Batur, salah satunya, adalah sumber air di Balidwipa.

Dari Danau Batur lah air terbagi ke seluruh pelosok Bali. Air mengairi sawah-sawah, lahan pertanian, disedot industri pariwisata, hingga detak kehidupan rumah tangga manusia Bali. Pondasi kehidupan pertanian yang menjadi asal-muasal kehidupan manusia Bali tidak bisa dilepaskan dari peradaban air ini.

Sekaa Subak menjadi institusi penting yang memastikan berjalannya peradaban air pada lahan-lahan pertanian masyarakat. Selain sebagai jantung kehidupan, air menciptakan filosofinya sendiri. Totalitas kehidupan keagamaan manusia Bali dinapasi salah satunya oleh air. Dan Batur, dengan Gunung Batur, Danau Batur, dan Pura Ulun Danu Batur menjalani ritual penyembahan utama, salah satunya terhadap air.

Denyut peradaban air yang berorientasi ke Danau Batur dan Pura Ulun Danu Batur itulah yang menciptakan Pasihan, aliansi jejaring Subak-Subak yang memohon kesuburan lahan pertanian mereka melalui tirta dari Batur. Jaringan Pasihan inilah yang menghubungkan Pura Ulun Danu Batur dengan 45 subak bahkan kini mungkin lebih di Balidwipa.

Pasihan inilah yang merupakan penyokong dari pelaksanaan Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Dan bukan hanya di Danau Batur, danau-danau lainnya di Bali—Tamblingan dan Buyan—juga mempunyai jaringan subak tersendiri.

Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, menjadi ekspresi ritual dari para penyungsung Subak yang menyembah Ida Bhatari Dewi Danu di Pura Ulun Danu Batur. Sebagai bentuk rasa syukur, penyungsung Subak mempersembahkan hasil buminya (ngaturang sawinih atau sarin tahun) sebelum pelaksanaan Ngusaba Kadasa. Persembahan inilah yang digunakan sebagai bahan ritual Ngusaba Kadasa.

Pasihan adalah jaringan sosial budaya dengan orientasi ritual ke Pura Ulun Danu Batur, sebagai pura penting dalam pemujaan air. Pusat orientasi ritual memiliki legitimasi yang menjadi panduan bagi masyarakat pengikutnya (Majalah Batur, Pasihan: Aliran Peradaban Air Batur, Edisi 2 Maret 2019).

Sebuah proyek hotel sedang mangkrak di Bukit Timbis, Desa Kutuh, Badung, Bali. Foto Anton Muhajir.

Tubrukan

Transformasi global berimplikasi dengan semakin memuncaknya pengaruh pembangunan yang menenggelamkan kebudayaan air. Salah satu rekayasa sosial terpenting Bali pasca kolonial adalah hasrat kuasa pariwisata yang sejatinya sudah terbentuk sejak rezim kolonial Belanda menduduki Indonesia.

Hasrat baru “ideologi kenikmatan” ini berlangsung “berkelanjutan” di berbagai wilayah di Indonesia, terutama juga di Bali. Seluruh energi dikerahkan untuk sektor yang kemudian perlahan-lahan menyingkirkan bidang pertanian.

Pembangunan pascakolonial menitikberatkan kepada pariwisata yang menyulap segala macam kerikil-kerikil tajam menjadi properti-properti pentas pariwisata. Pondasi yang membangunnya adalah otentisitas (keaslian atau keeksotisan) budaya. Orientasi dan distribusi sosial ekonomi dengan demikian juga ikut berubah.

Sumarta (2015: 106) dengan detail menarasikan bahwa dalam budaya air, pusat distribusi sosial ekonomi berorientasi pada gunung dengan ulun danu sebagai pusat.

Saat budaya jalan menerjang, pusat perputaran sosial ekonomi berubah menjadi Bandara I Gusti Ngurah Rai di Tuban yang berada di kaki Pulau Bali. Dari kaki Bali inilah para wisatawan didistribusikan menuju ke berbagai daerah di Bali. Dan mereka juga dipulangkan kembali melalui kaki Pulau Bali.

Rakyat Bali yang menjadi serdadunya dibuat tanpa jeda memikirkan pariwisata. Adakah yang kritis terhadap pariwisata?

Palguna (2007:28) mengungkapkan dengan tepat sekali. “Memang satu dua orang pernah mencoba berperan kritis. Yang dikiritik bukan pariwisata, tapi investor atau pelaku-pelaku di tingkat bawah. Tapi jarang sekali kami mengetahui bagaimana cara investor mendiamkan orang-orang kritis. Karena investor itu bekerja seperti mahluk halus. Ia ada di mana-mana tapi tidak kelihatan. Tiba-tiba sebuah kawasan telah dikuasainya.”

Pelan namun pasti, muncullah “agama pariwisata” yang memiliki banyak pengikutnya. Mereka adalah para serdadu yang siap mati demi pariwisata, yang memang menggantungkan hidupnya dari pariwisata. Dari mulai manajer hotel berbintang, pegawainya, tukang kebun, dosen dan profesor pariwisata di perguruan tinggi, hingga bendesa adat dan perempuan front office di sebuah villa mewah di Ubud.

“Agama pariwisata” telah menerjemahkan dirinya begitu cair dan menjadi saudara, rekan kerja bahkan tetangga dan krama di banjar. Oleh sebab itulah, “agama pariwisata” telah mewariskan cara berpikir dan (seolah-oleh) ketergantungan terhadap kehadirannya yang merasuk dalam setiap tempat dan waktu.

Kita menyaksikan arus padat pariwisata dimulai di kaki Pulau Bali. Di kaki Pulau Bali jugalah kawasan ekslusif pariwisata hadir di Nusa Dua dengan berbagai hotel bintang lima dan fasilitas pariwisata mewah yang mengelilinginya. Di kaki Pulau Bali telah menjadi simbol terikatnya manusia Bali dengan pariwisata dan pernak-pernik di dalamnya.

Terikatnya kaki Bali menjadi cerminan penting bahwa kita masih kehilangan siasat untuk memikirkan satu hal penting: apa daya kita (selain) setelah pariwisata? [b]

The post (Dongeng) Agama Tirta Versus (Realitas) “Agama Pariwisata” appeared first on BaleBengong.

Peta Simulasi Evakuasi, Ini Sekolah Mitigasi Bencana

Peta simulasi evakuasi memberikan perhitungan waktu untuk mitigasi bencana. Foto: Luh De

Panas sangat terik pada Jumat (2/11/2018) lalu di kaki Gunung Agung, Karangasem, Bali. Debu beterbangan karena angin kencang, menempel di wajah berpeluh, baju, dan kamera. Hampir 300 siswa SMP dan gurunya berlarian ke dua titik kumpul sambil melindungi kepala dengan tangan dan tas.

“Linuh, linuh. Hidup, hidup,” teriak sebagian siswa. Linuh adalah istilah lokal untuk gempa. Hidup merujuk pada doa dan harapan. Kata-kata yang sering terucap oleh warga Bali saat gempa mengguncang.

Drone sudah mengudara dioperasikan peneliti Institut Teknologi Bandung, Dr. Asep Saepuloh. Siap merekam simulasi evakuasi jika ada bencana seperti gempa bumi. Dalam waktu sekitar 50 detik, semua anak dan guru sudah berkumpul di titik aman, halaman sekolah di Utara dan Selatan. Tiap kepala sekolah langsung mengabsen, memanggil tiap nomor siswa sesuai daftar siswa per kelas agar proses lebih cepat.

Ternyata ada dua siswa yang belum berkumpul. Beberapa siswa terlatih dalam kegiatan ketangkasan membawa tandu rakitan dari tali pramuka dan tongkat mencari 2 siswa ke dalam kelasnya. Dua siswa perempuan berhasil dievakuasi ke halaman karena sakit tak bisa lari.

Simulasi evakuasi untuk menghitung waktu yang dibutuhkan. Foto: Luh De

Drone terus merekam tiap adegan dan mencatat waktu-waktu per tahapan simulasi siaga bencana di SMP Negeri 5 Kubu, sekitar 3 jam berkendara dari Sanur, Denpasar ini. Sehari sebelumnya, Asep juga menerbangkan drone dan memotret dan merekam video lokasi sekolah dan lingkungan sekitarnya dari udara.

Di hari pertama, peneliti ITB lain, Dr. I GB Eddy Sucipta, ahli geologi ini menceritakan pada siswa dan guru apa itu gunung api, dan menayangkan video jenis-jenis letusan di sejumlah daerah dan negara. Juga dijelaskan apa perbedaan lahar dingin, magma, dan bentuknya. Lokasi sekolah ini pernah dilalui awan panas saat Gunung Agung meletus tahun 1963.

Kemudian di hari kedua sebelum simulasi evakuasi dilaksanakan, para peneliti ini dengan bahasa yang mudah dimengerti menjelaskan ke siswa dan gurunya apa hasil pemetaan dan risiko bahaya karena lokasi dan situasi sekolah mereka.

Asep Saepuloh memulai dengan memperlihatkan foto-foto situasi sekolah dari udara. Dari hasil analisisnya, jarak lurus dari puncak gunung ke sekolah sekitar 12,7 km. Disimulasikan, jika gunung meletus dan mengeluarkan awan panas dengan kecepatan 150 km/jam (rata-rata kecepatan awan panas 300 km/jam) waktu yang diperlukan untuk evakuasi sekitar 4,8 menit saja.

Jarak yang harus dilalui sampai melewati jembatan dengan sungai besar aliran lahar sekitar 1,2 km. “Apakah memungkinkan lari sekitar 5 menit sampai melewati jembatan?” pria peneliti di Lembaga Pengabdian Masyarakat ITB ini memancing diskusi. Sementara dari hasil pemetaan, kondisi sekolah hanya ada satu pintu gerbang untuk masuk. Berukuran relatif kecil, apalagi jika ratusan orang keluar bersamaan. Risiko lain, hiasan arsitektur pintu gerbang bagian atas terlihat besar dan berat, jika runtuh sangat membahayakan kerumunan yang melewati.

Jalan utama sekolah melingkar menuju jalan raya, padahal jika dibuatkan jalan langsung lurus ke arah jalan bisa memperpendek waktu karena jaraknya kurang dari 200 meter. Peneliti merekomendasikan beberapa pintu darurat tambahan. Tinggi lantai kelas dengan halaman cukup terjal sekitar 80 cm, jadi siswa diminta berhati-hati saat lari dan melompati jika menuju titik kumpul.

Ada sejumlah hasil pemetaan lain terkait situasi sekitar sekolah. Misal sungai jalur lahar di dekat sekolah yang bisa melebar alirannya karena ada penambangan pasir yang menambah kemiringan tanah. Direkomendasikan pembuatan tanggul untuk mencegah limpasan lahar dingin.

Baju kaos bisa jadi masker darurat. Foto: Luh De

Data penting lainnya, jika tsunami, ketinggian sekolah sekitar 25-30 meter dari laut dan ini cukup tinggi, dengan catatan tetap menjauhi pantai jika ada peringatan tsunami. Jarak sekolah ke pantai sekitar 300 meter.

Selain membuat pemetaan kerawanan sekolah, para peneliti ini juga memeriksa sejumlah sampel hasil letusan. Misalnya ditemukan kemungkinan endapan awan panas letusan-letusan sebelum 1963, seperti letusan1830.

Guru diberi catatan untuk mempersiapkan fasilitas pendukung keselamatan, seperti ruang kesehatan, P3K di tiap kelas, masker, dan helm jika ada. “Paling penting rambu-rambu bahaya dan rute evakuasi menuju titik kumpul. Biar oarang tuanya juga tahu ke mana anak mereka jika dievakuasi,” ingat Asep.

Siswa dan guru SMPN 5 Kubu, Karangasem menjadi lokasi pelatihan dan sosialisasi Sekolah Siaga Bencana (SSB) pada 1-2 November 2018 yang dilaksanakan oleh tim Kelompok Keahlian (KK) Petrologi, Vulkanologi, Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB) didukung komunitas filantropis I am An Angel (IAA).

Gunung Agung mempunyai potensi untuk meletus atau gempa pernah terjadi di daerah Kubu sehingga berisiko menjadi bencana karena di sekitar gunung banyak rumah, sekolah, dan lainnya yang bisa mengancam nyawa. Sekolah adalah salah satu lokasi yang paling berisiko karena banyak siswa, guru dalam satu area sedang belajar mengajar.

Upaya penyelamatan diri dan pengurangan risiko yang bisa dilakukan adalah sosialisasi SSB dan melatih bagaimana cara penyelamatan yang aman. Sejumlah hal yang harus dipertimbangkan di antaranya akses masuk dan keluar yang aman termasuk untuk tempat pengungsian sementara bagi masyarakat saat bencana. Fasilitas sanitasi dan air bersih yang memadai, pemantauan, pendanaan dan pengawasan terus menerus untuk perawatan fasilitas dan keselamatan, serta rambu keselamatan memadai.

Komponen pendidikan siaga bencana ada beberapa pilar. Pertama adalah fasilitas sekolah aman. Meliputi desain dan pembangunan sekolah yang sesuai dengan aturan dan standar keamanan bangunan, kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dan fasilitasnya pasca bencana, dan melakukan perawatan sarana dan prasarana pendidikan.

Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Indonesia juga memiliki gunung api aktif terbanyak di dunia, 127 buah, beberapa di antaranya merupakan letusan gunung api terkuat yang pernah ada. Meletusnya Gunung Tambora pada tahun 1815, Gunung Krakatau pada tahun 1883, Gunung Agung pada tahun 1963, Gunung Galunggung pada tahun 1982, dan Gunung Merapi pada tahun 2010 menjadi catatan sejarah yang selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia.

Selain itu, ratusan siswa dan guru juga dilatih tim jurnalisme warga Balebengong mengenal berita bohong (hoaks) agar tidak mudah panik dan menyebar informasi salah. Para siswa bercerita, menggambar, dan menuliskan pengalaman ketika harus mengungsi tahun lalu sebagai salah satu cara berbagi dan melepas trauma. Ni Ketut Ayu Sriani, 13 tahun dari Desa Tulamben dengan runut menuliskan perasaaan saat harus mengungsi pada 22 September 2017 lalu. Pada malam hari beredar foto-foto gunung penuh lava di medsos dan diyakini Gunung Agung sudah meletus. Humas Badan Penanggulangan Bencana Nasional kemudian menyebut hoaks karena itu letusan Gunung Tambora.

Ayu dan ribuan warga lain keluar rumah, berkendara, dan jalanan macet total. “Ada banyak gempa dan keluargaku takut,” cerita remaja perempuan ini. Ia tiba pagi hari di tempat mengungsi, Kota Tabanan, setelah semalaman berkendara menembus kemacetan karena panik. Padahal Karangasem-Tabanan bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam berkendara. Setelah mencari kos, Ayu harus memikirkan daftar sekolah terdekat karena imbauan melanjutkan sekolah walau sedang mengungsi.

Guru-guru sekolah ini pindah belajar sekitar 2 bulan dengan menumpang di desa tetangga, Jemeluk. Sementara para siswa tersebar di sejumlah kabupaten karena mengikuti keluarganya.

Asana Viebeke Lengkong dari IAA ingin mendampingi sekolah ini sebagai sekolah yang siap siaga bencana. Ia memperhatikan rekomendasi para peneliti untuk meningkatkan sarana dan minta para guru serius memberi perhatian. “Anda adalah kunci keselamatan siswa,” serunya.

The post Peta Simulasi Evakuasi, Ini Sekolah Mitigasi Bencana appeared first on BaleBengong.