Tag Archives: Berita Kesehatan

Inilah Negara Dengan Layanan Kesehatan Terbaik Di Dunia

Baru baru ini jurnal kedokteran, The Lancet merilis daftar negara negara dengan layanan kesehatan terbaik di dunia. Daftar negara ini berdasarkan indeks kemudahan akses dan kualitas layanan kesehatan di tahun 2015.

Diantara negara negara dengan jumlah penduduk diatas sejuta jiwa, Swiss menempati urutan pertama sebagai negara dengan indeks layanan kesehatan terbaik di dunia, diikuti oleh Swedia dan Norwegia. Negara kecil, Andora juga masuk 10 besar sebagai negara dengan layanan kesehatan terbaik di dunia.

Australia berada di urutan ke 6, Finlandia di urutan ke 7, lalu Spanyol di urutan ke 8 diikuti oleh Belanda di urutan ke 9. Sedangkan negara mode, Perancis berada di urutan ke 15. Untuk kawasan Asia, Jepang menempati urutan tertinggi yakni di urutan ke 11. Sedangkan Amerika Serikat berada di urutan ke 35, berada di bawah Inggris yang menempati urutan ke 30.

Peringkat negara negara dengan layanan kesehatan terbaik ini berdasarkan The Healthcare Access and Quality Index, yang memperhitungkan angka kematian yang dapat dihindari atau diobati dengan baik dari 32 jenis penyakit yang kemudian dibandingkan dengan data di tahun 1990.

Secara umum, negara negara di dunia ini sudah berhasil meningkatkan layanan kesehatan mereka, namun ada beberapa negara – khususnya di benua Afrika dan Asia Pasifik – yang masih tertinggal dalam memberikan layanan kesehatan yang baik bagi penduduknya.

Selain Afganistan, Haiti dan Yaman, 30 negara yang menempati urutan terakhir dari negara negara dengan layanan kesehatan terbaik adalah negara negara Afrika sub sahara. Dari 30 negara tersebut, yang paling buruk adalah Republik Afrika Tengah.

Indonesia sendiri bersama dengan Philipina dan Brunei dimasukan ke dalam negara negara yang gagal meningkatkan layanan kesehatannya bila dibandingkan dengan kemajuan pembangunan dan pendapatan per kapita yang diperoleh negara negara tersebut. Negara negara lain yang memiliki nasib yang sama dengan Indonesia adalah Botswana, Afrika Selatan dan Lesotho di benua Afrika. Namun, di negara negara ini masih memiliki peluang yang sangat besar untuk meningkatkan layanan kesehatan mereka bila menilik dari kekayaan yang dimiliki oleh negara negara tersebut.

Diantara negara negara kaya, Amerika Serikat termasuk yang paling buruk dalam layanan kesehatan padahal negara ini telah menggelontorkan anggaran bidang kesehatan yang relatif besar bila dibandingkan dengan negara negara lain.

Antara tahun 1990 dan 2015, negara yang paling tinggi peningkatan layanan kesehatannya adalah Korea Selatan, Turki, Peru, China dan Maladewa.

32 penyakit yang angka kematiannya dihitung termasuk tuberkulosis dan penyakit saluran nafas yang lain, penyakit penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi – dipteri, batuk rejan, tetanus, campak – dan beberapa penyakit kanker yang bisa diobati, serta kematian ibu dan bayi.

Aplikasi Docquity Bagi Bagi Duit Jutaan Rupiah. Ini Caranya…

Mungkin teman teman khususnya teman sejawat dokter sudah mengenal aplikasi Docquity. Aplikasi Docquity adalah aplikasi yang khusus dibuat untuk para dokter anggota IDI agar bisa selalu memperbaharui pengetahuan klinisnya. Dalam aplikasi ini, para dokter anggota IDI bisa saling bertukar informasi tentang penemuan atau studi terbaru dalam dunia medis atau prosedur klinis terbaru yang belum banyak diketahui.

Melalui Docquity, para dokter juga bisa berkonsultasi dengan sejawat yang keilmuannya lebih tinggi – konsulen- tentang kasus kasus medis yang dihadapi di lapangan terutama saat berada di daerah perifir yang jauh dari jangkauan dokter spesialis. Sebagaimana kita ketahui, dokter spesialis jumlahnya terbatas dan dokter umum menjadi garda terdepan dalam melayani pasien di daerah daerah perifir.

Untuk update kemampuan klinis, melalui Docquity, dokter anggota IDI juga bisa mengikuti Contuining Medical Course (CME), yang ber-SKP resmi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Sebagaimana diketahui, Docquity adalah aplikasi yang telah bekerjasama dengan PB IDI untuk bersama sama meningkatkan pengetahuan klinis para dokter anggota IDI. Cara mendapatkan SKP melalui Docquity pun sangat mudah dan gratis, cukup dengan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan, bila nilainya mencukupi maka SKP IDI sudah ditangan.

Untuk meningkatkan daya jangkau Docquity agar makin banyak dokter anggota IDI merasakan manfaatnya maka Docquity mengadakan program rekrutmen anggota yang berhadiah Rp. 5.000.000 setiap bulannya. Install aplikasi Docquity, lalu undang teman untuk bergabung di Docquity – minimal 2 dokter per bulan – maka anda berkesempatan memenangkan hadiah  5 juta rupiah setiap bulannya. Menarik bukan?

Bila teman teman sejawat ingin bergabung bersama Docquity dan ingin pula mendapatkan reward yang menggiurkan, silakan unduh aplikasi Docquity di Google Playstore atau Apple Appstore atau klik disini. Bila mengalami kesulitan dan ada yang perlu ditanyakan, silakan hubungi saya melalui form komentar di bawah ini.

Olahraga Intensitas Tinggi Dapat Menghambat Proses Penuaan

Salah satu misteri bidang kesehatan yang sampai saat ini masih sulit terpecahkan adalah belum ada satupun studi yang mampu membuat terobosan untuk menghentikan proses penuaan. Memang ada berbagai macam krim anti penuaan di pasaran tetapi proses penuaan tetap saja terjadi.

Namun, studi terbaru dari Brigham Young University, membuat kesimpulan yang cukup mengembirakan. Proses penuaan seseorang bisa diperlambat bila orang tersebut rajin berkeringat atau berolah raga dengan intensitas tinggi.

Menurut sang peneliti, meskipun seseorang berusia 40 tahun, bukan berarti usia biologisnya juga 40 tahun. Misalnya sering kita temui orang yang tampak lebih muda dari usianya. Semakin aktif seseorang bergerak akan semakin lambat proses penuaan biologis yang terjadi.

Studi yang dipublikasikan dalam medical journal Preventive Medicine ini menyimpulkan, orang yang rutin melakukan olahraga fisik dengan intensitas tinggi memiliki telomere yang lebih panjang bila dibandingkan dengan orang yang malas bergerak.

Telomere adalah protein yang terdapat pada kromosom. Telomere ini ibarat jam biologis manusia dan mereka sangat berhubungan dengan usia. Setiap kali sel membelah maka ujung telomere akan memendek. Artinya, semakin tua kita maka panjang telomere akan semakin pendek.

Menurut  Larry Tucker, seorang professor ilmu olahraga, orang dewasa yang rajin melakukan aktivitas fisik memiliki keuntungan panjang telomere 9 tahun lebih baik bila dibandingkan dengan mereka yang malas bergerak dan 7 tahun lebih baik bila dibandingkan dengan mereka yang jarang berolahraga. Orang dikatakan memiliki aktifitas fisik dengan intensitas tinggi bila melakukan olahraga fisik minimal 40 menit untuk pria dan minimal 30 menit untuk wanita.

Tucker menambahkan, untuk melihat perbedaan yang terjadi, seseorang harus melakukan aktifitas fisik dengan intensitas tinggi. Bila tidak maka perubahan yang terjadi tidak begitu terasa.

Sampel studi diambil dari data CDC’s National Health and Nutrition Examination Survey. Sebanyak 5.823 orang dewasa dianalisa panjang telomere-nya berikut aktivitas fisik yang dilakukan sepanjang 30 hari penelitian.

Mengurangi Konsumsi Trans Fat Sudah Benar. Ini Alasannya

Bertahun tahun yang lalu, para ahli telah menyimpulkan teori tentang penurunan risiko penyakit jantung saat konsumsi trans fat dikurangi. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam  JAMA Cardiology, kembali menguatkan teori tersebut.

Bila lemak yang kita konsumsi diberi peringkat, maka trans fat menduduki peringkat paling bawah alias trans fat merupakan zat lemak yang paling jelek untuk dikonsumsi. Seperti halnya lemak jenuh, trans fat dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL).

Tidak sampai disitu, trans fat juga berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung, diabetes tipe 2, inflamasi dan masalah pada memori serta fungsi kognitif.

Baca juga: Inilah Tanda Tanda Awal Stroke

Studi terbaru ini mengambil data penduduk yang tinggal di kota New York, Amerika Serikat. Data diambil pada daerah yang penduduknya kerap mengonsumsi trans fat dan daerah yang penduduknya jarang mengonsumsi trans fat.

Setelah diamati selama setahun, data penduduk yang masuk rumah sakit karena serangan jantung dan stroke kemudian dianalisa dan diambil kesimpulan, penduduk yang tinggal di daerah yang dilakukan pembatasan konsumsi trans fat mengalami penurunan kasus serangan jantung dan stroke bila dibandingkan dengan daerah yang tidak dilakukan pembatasan konsumsi trans fat.

Dari studi ini bisa kita simpulkan bahwa, pembatasan konsumsi trans fat memiliki dampak yang cukup besar dalam penurunan risiko serangan jantung dan stroke.

Imbauan Kemenkes RI Terkait Merebaknya Virus Japanese Encephalitis

Virus Japanese encephalitis (JE) dikhabarkan kembali merebak di kawasan Asia termasuk Indonesia. Khabar yang menyebar melalui media sosial tersebut membuat sejumlah kalangan termasuk wisatawan khawatir.

Melalui siaran persnya, Kementerian Kesehatan memberikan sejumlah langkah antisipatif bagi masyarakat luas agar terhindar dari virus JE ini.

Menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, virus JE hanya bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk Culex tritaeniorhynchus yang terinfeksi. Nyamuk yang banyak ditemukan di daerah persawahan dan irigasi ini lebih aktif pada malam hari.

“Sebenarnya penularan virus JE hanyaterjadi antara nyamuk, babi, dan atau burung rawa. Tetapi manusia bisa terkena JE dengan perantara nyamuk Culex yang sudah terinfeksi,” jelas dr Jane, Senin (03/04/2017).

Jumlah kasus JE di Indonesia tahun 2016 yang dilaporkan sebanyak 326 kasus. Kasus terbanyak dilaporkan terdapat di Provinsi Bali dengan jumlah kasus 226 (69,3%). Tingginya kejadian JE di Bali ini dikaitkan dengan banyaknya persawahan dan peternakan babi di wilayah tersebut.

Menurut dr Jane, sebagian besar penderita JE hanya menunjukkan gejala yang ringan atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Gejala dapat muncul 5-15 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi virus berupa demam, menggigil, sakit kepala, lemah, mual, dan muntah.

Kurang lebih 1 dari 200 penderita infeksi JE menunjukkan gejala yang berat yang berkaitan dengan peradangan pada otak (encephalitis), berupa  demam tinggi mendadak, sakit kepala, kaku pada tengkuk, disorientasi, koma (penurunan kssadaran), kejang, dan kelumpuhan. Gejala kejang sering terjadi terutama pada pasien anak-anak. Gejala sakit kepala dan kaku pada tengkuk terutama terjadi pada pasien dewasa.

Keluhan-keluhan tersebut lanjut dr Jane, biasanya membaik setelah fase penyakit akut terlampaui, tetapi pada 20-30% pasien, gangguan saraf kognitif dan psikiatri dilaporkan menetap. Komplikasi terberat pada kasus japanese encephalitis adalah meninggal dunia (terjadi pada 20-30% kasus encephalitis).

“Tidak bisa sembarangan menyatakan seseorang didiagnosis JE, selain berdasarkan pemeriksaan fisik atas gejala, juga diperlukan pemeriksaan laboratorium dan tidak bisa dilakukan di laboratorium klinik biasa”, imbuh dr. Jane.

Hingga saat ini, belum ada obat untuk mengatasi infeksi JE, pengobatan bersifat suportif untuk mengurangi tingkat kematian akibat JE. Pengobatan yang diberikan adalah berdasarkan gejala yang diderita pasien (simtomatik), istirahat, pemenuhan kebutuhan cairan harian, pemberian obat pengurang demam, dan pemberian obat pengurang nyeri. Pasien perlu dirawat inap supaya dapat diobservasi dengan ketat, sehingga penanganan yang tepat bisa segera diberikan bila timbul gejala gangguan saraf atau komplikasi lainnya.

Diakui sebanyak 85% kasus JE yang dilaporkan pada tahun 2016 terjadi pada kelompok umur ≤15 tahun. Hal ini menyebabkan JE dianggap sebagai penyakit pada anak. Padahal, sebenarnya JE juga dapat berjangkit pada semua umur, terutama bila virus tersebut baru menginfeksi daerah baru dimana penduduknya tidak mempunyai riwayat kekebalan sebelumnya.

Intervensi yang paling utama dalam penanggulangan JE adalah pengendalian vektor, eliminasi populasi unggas, vaksinasi pada babi, eliminasi pemaparan manusia pada vektor, dan imunisasi JE pada manusia. Imunisasi merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah JE pada manusia.

“Pada September 2017 mendatang, Kemenkes akan mulai mengkampanyekan imunisasi JE di 9 Kabupaten/Kota di Bali dengan sasaran sebanyak 897.050 anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun”, terang dr. Jane.

Ditambahkan oleh dr. Jane, setelah selesai dilakukan kampanye imunisasi JE, maka langkah selanjutnya adalah  introduksi imunisasi JE ke dalam program imunisasi rutin pada anak usia 9 bulan yang dilaksanakan bersamaan dengan imunisasi campak. Perluasan introduksi imunisasi JE akan dilaksanakan berdasarkan kajian endemisitas wilayah masing-masing.

JE adalah penyakit radang otak disebabkan oleh virus Japanese ensefalitis termasuk family Flavivirus dan merupakan masalah kesehatan masyarakat di Asia termasuk di Indonesia.