Tag Archives: Berita Kesehatan

Heboh! Bayi Lahir Berbentuk Ikan Duyung

Gambar diatas adalah foto seorang bayi yang menderita sindrom mermaid atau ‘Mermaid’s syndrome’. Sindrom ini ditandai dengan berbagai kelainan mulai dari bentuk wajah dan bentuk kaki yang hampir menyatu sehingga disebut dengan sindrom mermaid.

Jermkwan Krathumnat, 10 bulan asal Thailand, selain memiliki kedua kaki yang hampir menyatu (mirip ikan duyung), wajah dan mata kanan juga mengalami cacat bawaan. Menurut orang tuanya, Kwan, demikian bayi mungil ini dipanggil, juga memiliki kelainan berat berupa bibir sumbing. Sampai saat ini, dokter belum bisa mengidentifikasi jenis kelamin bayi ini.

Para ahli belum bisa memastikan apakah kombinasi dari kelainan yang diderita Kwan akan menimbulkan masalah kesehatan serius, namun karena kesulitan ekonomi, perawatan lebih lanjut dari kelainan yang diderita Kwan tidak bisa dilakukan sebagaimana mestinya.

Tim dokter berencana melakukan perbaikan pada langit langit mulut Kwan terlebih dahulu agar asupan makanan untuk pertumbuhan tubuh bayi tidak mengalami gangguan. Untuk perbaikan pada kedua kaki direncanakan setelah Kwan menginjak usia anak anak.

Sirenomelia atau dikenal dengan istilah sindrom mermaid adalah kelainan bawaan yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan pada kaki berupa menyatunya kedua kaki disertai dengan rotasi ke arah dalam. Kelainan pada kaki ini menyebabkan kaki tampak seperti ekor ikan di dalam rahim saat dilakukan pemeriksaan USG.

Menurut para ahli, kelainan bawaan ini terjadi akibat dari gangguan aliran darah plasenta pada saat masa pembentukan organ janin di dalam kandungan. Gangguan aliran darah ini menyebabkan asupan oksigen dan zat makanan yang diperlukan saat pembentukan organ janin mengalami gangguan sehingga pembentukan organ janin menjadi tidak sempurna.

Kelainan ini sangat jarang, kejadiannya sekitar 1 dari 100.000 kelahiran, tapi angka kejadian bisa meningkat 100 kali lipat pada kehamilan kembar identik.

Anak Yang Berlama lama Nonton TV Berisiko Kena Diabetes

Anak anak yang menghabiskan waktu lebih dari 3 jam setiap hari di depan televisi atau komputer memiliki risiko tinggi menderita diabetes.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Disease in Childhood ini menyebutkan terdapat peningkatan lapisan lemak tubuh dan resistensi insulin pada anak anak yang duduk di depan layar dalam jangka waktu yang lama.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko diabetes pada anak anak ini antara lain kadar lemak dan kadar gula darah, tekanan darah dan resistensi insulin. Faktor faktor ini kemudian dicatat dan dianalisa dari sampel studi sebanyak  4.495 orang anak yang berusia antara 9 sampai 10 tahun di London, Birmingham dan Leicester, Inggris.

Anak anak yang mengaku lebih banyak berada di depan layar televisi atau gadget tercatat malas melakukan aktivitas fisik yang merupakan salah satu faktor risiko diabetes.

Menurut ahli yang melakukan studi, mengurangi waktu di depan layar televisi atau gadget dapat menurunkan risiko diabetes baik pada pria maupun wanita tanpa memandang usia, ras dan status sosial lainnya.

Hasil studi ini memang bisa membangkitkan keingintahuan masyarakat, tapi studi lanjutan masih diperlukan untuk mendapatkan hubungan yang lebih kuat antara waktu di depan layar dengan risiko terjadinya diabetes tipe 2.

Anak Yang Berlama lama Nonton TV Berisiko Kena Diabetes

Anak anak yang menghabiskan waktu lebih dari 3 jam setiap hari di depan televisi atau komputer memiliki risiko tinggi menderita diabetes.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Disease in Childhood ini menyebutkan terdapat peningkatan lapisan lemak tubuh dan resistensi insulin pada anak anak yang duduk di depan layar dalam jangka waktu yang lama.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko diabetes pada anak anak ini antara lain kadar lemak dan kadar gula darah, tekanan darah dan resistensi insulin. Faktor faktor ini kemudian dicatat dan dianalisa dari sampel studi sebanyak  4.495 orang anak yang berusia antara 9 sampai 10 tahun di London, Birmingham dan Leicester, Inggris.

Anak anak yang mengaku lebih banyak berada di depan layar televisi atau gadget tercatat malas melakukan aktivitas fisik yang merupakan salah satu faktor risiko diabetes.

Menurut ahli yang melakukan studi, mengurangi waktu di depan layar televisi atau gadget dapat menurunkan risiko diabetes baik pada pria maupun wanita tanpa memandang usia, ras dan status sosial lainnya.

Hasil studi ini memang bisa membangkitkan keingintahuan masyarakat, tapi studi lanjutan masih diperlukan untuk mendapatkan hubungan yang lebih kuat antara waktu di depan layar dengan risiko terjadinya diabetes tipe 2.

1,7 Juta Anak Anak Meninggal Dunia Setiap Tahun Karena Polusi

Seperempat dari seluruh kematian anak anak yang berusia dibawah 5 tahun (balita) di seluruh dunia disebabkan oleh karena faktor lingkungan yang tidak sehat. Lingkungan yang tidak sehat itu antara lain karena sumber air yang terkontaminasi dan polusi udara. Demikian menurut laporan terakhir yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Beberapa penyakit fatal pada anak yang disebabkan oleh polusi lingkungan hidup antara lain diare, malaria dan radang paru paru (pneumonia).

Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan mengatakan, “Polusi lingkungan sangat mematikan, khususnya pada anak anak. Mereka belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang memadai, ukuran tubuh yag lebih kecil dan saluran nafas yang pendek sehingga mudah mengalami dampak serius dari polusi lingkungan.”

Paparan lingkungan yang berpolusi bahkan sudah dimulai sejak anak anak masih berada di dalam kandungan. Paparan ini berlanjut sampai mereka menginjak masa kanak kanak. Kondisi ini menyebabkan risiko mereka menderita penyakit saluran nafas seperti radang paru paru dan asma mengalami peningkatan.

Anak anak juga terpapar zat kimia berbahaya dari makanan, air, udara dan produk produk lain yang ada di sekitar mereka.

Tenaga Kesehatan Wajib Re-Registrasi Online

Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, mencanangkan Re-registrasi Online Tenaga Kesehatan Indonesia di saksikan para peserta peserta Rapat Kerja Kesehatan (Rakerkesnas) Tahun 2017 bertajuk “Sinergi Pusat dan Daerah dalam Pelaksanaan Pendekatan Keluarga untuk Mewujudkan Indonesia Sehat” yang bertempat di Birawa Assembly Hall Bidakara Jakarta, Senin malam (27/2).

Surat tanda registrasi (STR) merupakan bukti tertulis bahwa seorang tenaga kesehatan telah memiliki kompetensi serta kemampuan secara hukum untuk menjalankan praktik. STR diberikan oleh masing-masing Konsil kepada tenaga kesehatan yang telah terdaftar atau teregistrasi. Berdasarkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan (pasal 44) dinyatakan bahwa setiap tenaga kesehatan yang menjalankan praktik wajib memiliki STR. STR berlaku selama lima tahun dan harus diperbaharui (registrasi ulang) dengan memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan.

Saat ini pengajuan STR telah dilakukan secara online, dengan difasilitasi Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) sejak 1 Maret 2016. Hal ini dilakukan agar pengajuan STR dapat lebih mudah dan cepat. Setiap MTKP seluruh Indonesia telah mampu melaksanakan proses pengajuan secara online. Re-registrasi Online Nakes Indonesia dapat diakses melalui situs mtki.kemkes.go.id.

Data MTKI menyebutkan, sebanyak 137.478 tenaga kesehatan harus melakukan registrasi ulang di tahun 2017. Jumlah tersebut adalah total STR yang telah diterbitkan pada tahun 2011 dan 2012. Proses re-registrasi dapat dilaksanakan apabila seorang tenaga kesehatan telah memenuhi persyaratan, antara lain telah memiliki satuan kredit profesi (SKP) yang ditetapkan oleh masing-masing organisasi profesi yang bisa didapatkan dari lima ranah keprofesian, antara lain ranah pembelajaran, profesionalisme, pengabdian masyarakat, publikasi ilmiah, dan pengembangan ilmu.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567; SMS 081281562620, faksimili (021) 52921669, dan email [email protected]