Tag Archives: Bentara Budaya Bali

Menghormati “Ibu” lewat Pameran Ibu Rupa Batuan

Batubulan adalah tempat lahirnya beragam kesenian.

Seniman lukis dan topeng Batuan yang tergabung dalam Kelompok Baturulangun berpameran bersama di Bentara Budaya Bali (BBB). Pameran bertajuk “Ibu Rupa Batuan” ini menghadirkan karya-karya lintas generasi ini adalah sebentuk penghormatan terhadap ibu.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr I Wayan Adnyana membuka pameran pada Minggu (08/09), pukul 18.30 WITA di BBB. Pameran akan berlangsung hingga 18 September 2019.

Pameran yang dikuratori Wayan Jengki Sunarta ini menampilkan 76 karya, terdiri dari 52 seni lukis dan 24 seni topeng. Terkait tematik, Jengki menjelaskan, Ibu Rupa Batuan merujuk pada konteks harfiah sekaligus juga filosofis. “Ibu” menjadi metafora atau simbolisasi terkait spirit penciptaan, olah batin, untuk menghasilkan suatu karya yang memesona dan membuka ruang renung bagi khalayak pecinta seni.

“Ibu adalah kosa kata yang sangat akrab dengan kehidupan kita. Secara biologis, ibu adalah sosok yang melahirkan, mengasuh, dan membesarkan kita,” ungkapnya.

Menurut Jengki ikatan batin antara ibu dan anak adalah suatu keniscayaan yang tidak luntur digerus waktu. Ibu bisa juga dimaknai sebagai suatu pusat, ikatan, atau muasal. Pada tataran yang lebih luas, lanjutnya, bumi (tanah dan air) sering disebut “ibu pertiwi” di mana setiap penghuninya saling terhubung dalam satu kesatuan kosmologi.

Sebagai wilayah budaya, Desa Batuan bisa disebut ibu yang melahirkan dan memelihara aneka ragam kesenian yang bisa dinikmati hingga kini. Selain seni lukis, di Batuan juga lahir seni pahat topeng, ukiran, dan dramatari Gambuh. Bahkan seni lukis tradisional gaya Batuan telah ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2018.

Seniman generasi tertua adalah Ida Bagus Made Widja (1912-1992), Ida Bagus Made Togog (1913-1989), Nyoman Ngendon (1920-1947), I Made Djata (1920-2001). Sementara generasi termuda adalah I Wayan Aris Sarmanta (1995). Dari perbedaan generasi tersebut, tecermin bagaimana perkembangan serta pertumbuhan seni lukis dan topeng di Desa Batuan.

Karya sekitar 50 pelukis dari Batubulan dipamerkan, termasuk Ketut Tomblos (1922-2009) hingga Dewa Made Virayuga (1981).

Menurut Jengki, pameran ini membuktikan bahwa seni tradisi di Batuan masih tetap tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni tersebut diwariskan secara masif dari generasi ke generasi.

“Upaya-upaya pewarisan itu sangat memungkinkan terjaganya spirit penciptaan seni di Desa Batuan,” ujar Jengki. [b]

The post Menghormati “Ibu” lewat Pameran Ibu Rupa Batuan appeared first on BaleBengong.

Energi Kosmik Gigantik dalam Kanvas Sumadiyasa

Energi kosmik itu ditampilkan dalam ukuran ekstra besar.

Bentara Budaya Bali (BBB) mengetengahkan pameran tunggal seniman Bali beraliran abstrak I Madè Sumadiyasa. Eksibisi bertajuk “Sacred Energy” MetaRupa I Madè Sumadiyasa akan dibuka secara resmi pada Minggu (28/07) pukul 18.30 WITA.

Pameran ini menghadirkan pembacaan atas periode terkini dan kilas balik proses kreatif I Madè Sumadiyasa terdahulu melalui sejumlah karya terpilih. Pameran akan berlangsung hingga 5 Agustus 2019.

I Madè Sumadiyasa, yang selama ini konsisten mengusung langgam abstrak, dikenal dengan lukisan-lukisannya yang gigantik. Pameran ini hakikatnya hendak mencermati konsistensi dan pergumulan berkaya Sumadiyasa selama ini sehingga menemu langgam abstraknya yang mempribadi.

Diharapkan pula pameran kali ini dapat memberikan gambaran utuh menyeluruh tentang tahapan cipta sang kreator, terutama mengacu pada pembacaan atas karya-karya periode terkini dan kilas balik pada proses kreatif I Madè Sumadiyasa terdahulu.

Seniman asal Tabanan ini telah menggelar banyak pameran tunggal maupun bersama, baik di Indonesia atau di luar negeri. Beberapa pameran terpilihnya antara lain: “Songs of the Rainbow”, MADE at Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2008), “Sunrise”, MADE at Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2005),”One World, One Heart”, MADE at ARMA Museum, Bali, Indonesia (2004), “Journeys”, MADE (simultaneously) at the Neka Art Museum, Bamboo Gallery and Komaneka Fine Art Gallery, Ubud – Bali, Indonesia.

Wicaksono Adi, kurator pameran ini, mengungkapkan bahwa abstrak-ekspresionisme Sumadiyasa bertumpu pada unsur-unsur emotif dan “abstraksi” bentuk-bentuk, lalu transisi menuju aspek immaterial objek-objek dan akhirnya merasuk dalam pusaran energi alam yang melampaui “abstraksi-abstraksi” itu sendiri. Suatu drama piktorial yang sangat dinamis dari situasi (state of) energi alam sekaligus tilikan subjektif yang termanifestasikan secara bebas dan spontan.

“Karya-karya Sumadiyasa boleh dikata sebuah upaya untuk menggambarkan daya-daya suci (sacred energy) sebagai energi ‘primal’ dalam cara pandang ‘kosmosentris’ di mana manusia tidak dipandang sebagai pusat dunia dan kehidupan,“ cetus Wicaksono Adi.

Dengan karya-karya abstrak ekspresionistik itu, pada awal dekade 1990, seniman kelahiran 1971 dan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, telah mengejutkan publik dan memperoleh apresiasi internasional. Sidini mahasiswa, pada tahun 1995, ia telah diundang dalam pameran Art Asia, International Fine Art Exhibition, cikal bakal Art Basel Hongkong. Salah satu karyanya dijadikan cover majalah Asian Art News, sebuah media seni penting di kawasan Asia (1996).

Ekspresi Kosmik

Mula-mula Sumadiyasa banyak mengeksplorasi bentuk-bentuk semi representasional objek-objek, baik sosok-sosok manusia maupun bentuk-bentuk ideoreligius tradisional Bali seperti barong, ikon-ikon maupun figur-figur simbolik dunia perwayangan dan sejenisnya. Ekspresionisme Sumadiyasa pada fase ini bertumpu pada aspek emotif dari objek-objek berikut gambaran atmosfer di mana objek-objek itu hadir.

Setelah itu muncul “abstraksi” bentuk-bentuk yang menggantikan drama piktorial alamiah ke dalam konstelasi gerak objek-objek nan bebas sekaligus mengesankan keteraturan yang bersifat menyeluruh-utuh.

Karya-karya abstrak ekspresionistik I Madè Sumadiyasa tidak hanya objek retinal belaka. Pun bukan gambaran visual tentang kedahsyatan energi alam, tapi sudah menjadi wujud dari gelora energi itu sendiri.

Ia bukan sekadar drama piktorial tentang gejolak batin sang subjek pembuatnya, atau gambaran ekspresi daya-daya kosmik, melainkan juga wujud dari energi alam itu sendiri.

Di sana-sini energi kosmik itu ditampilkan dalam ukuran ekstra besar sehingga akan menimbulkan efek “totalitas performatif” yang lebih kuat pula. Yaitu efek pemaknaan intensional yang melebihi dimensi visual an sich, karena hal itu akan menimbulkan getaran yang lebih kuat pada si pemandang.

Melalui drama piktorial spektakuler itu gelora dan kebesaran ”energi kosmik”-nya tampil dalam wujud yang benar-benar nyata.

“Pameran ini mengajak hadirin untuk dapat melatih kepekaan terhadap kekuatan alam yang dahsyat itu. Apalagi bagi orang orang Indonesia yang hidup dalam rangkaian cincin api (ring of fire) dengan alam yang terus bergejolak, plus kehidupan yang dipenuhi kekerasan, fragmentasi dan konfrontasi brutal yang menjalar ke mana-mana,“ ujar Wicaksono Adi.

I Madè Sumadiyasa juga meraih berbagai penghargaan, diantaranya: Finalist Indonesia Art Awards, Indonesia Art Foundation, Jakarta, Indonesia (2003), Finalist Phillip Morris ‘Indonesia Art Award (1996 & 1997), Best Still Life painting, Indonesia Institute of Art (ISI) Yogyakarta, Indonesia (1996), Best painting, Lustrum II, Indonesia Institute of Art (ISI), Yogyakarta, Indonesia (1994), Honorable mention for painting, Indonesia Institute of Art (STSI) Denpasar, Bali, Indonesia (1993) dan lain-lain. [b]

The post Energi Kosmik Gigantik dalam Kanvas Sumadiyasa appeared first on BaleBengong.

Oka Rusmini Lahirkan Buku Kembar Buncing

Bedah buku Men Coblong dan Koplak di Bentara Budaya Bali, Minggu (14/7/2019). Foto Bentara Budaya Bali.

Keduanya menyentil isu aktual di Bali dalam esai.

Setelah melalui proses dan pergulatan panjang, sastrawan Oka Rusmini melahirkan anak-anak rohaninya, “Koplak” dan “Men Coblong”. Dua buku kembar ini dibedah pada Minggu (14/7/2019) di Bentara Budaya Bali (BBB).

Oka Rusmini menyebut kedua bukunya ini kembar buncing. Istilah ini merujuk pada anak kembar berbeda kelamin di Bali.

Buku “Koplak” dan “Men Coblong” diterbitkan bersamaan oleh Penerbit Grasindo (2019). Melalui buku “Men Coblong” Oka Rusmini menawarkan ragam bentuk tulisan baru, kreatif, semacam perpaduan antara kemampuan bertutur ala cerpen, argumentatif cerdas esai dan kepaduan tematik kolom.

Tokoh Men Coblong, seorang wanita paruh baya dengan seorang anak lelaki, menyerukan tanggapannya, kritik, serta bernada sindiran seputar sensitivitas terkait agama, budaya, politik, bahkan kehidupan sehari hari. Esai ini sebelumnya terbit di Bali Post, media tempat Oka bekerja, lalu dilanjut di BaleBengong sejak tahun lalu.

Adapun “Koplak” merupakan serial dengan tokoh utama I Putu Koplak, seorang lelaki koplak yang memandang beragam persoalan hidup secara karikatural. Tulisan ini terbit di Tatkala.

Jurnalis Anton Muhajir mengulas buku “Men Coblong”. Sastrawan Made Adnyana Ole memberikan bacaannya tentang “Koplak”. I Made Sujaya, dosen dan jurnalis, memandu diskusi.

Anton menyebutkan bahwa di tengah dominasi penulis laki-laki, Men Coblong hadir menawarkan sudut pandang ibu-ibu dan perempuan yang lebih feminim. Di tengah banjir informasi abal-abal, Men Coblong menyajikan cerita untuk menjadi refleksi, getir di dalam satire seraya menggugat fakta dalam balutan fiksi.

Kolom Men Coblong mulanya terbit di harian Bali Post sejak 2013 dan berhenti pada tahun 2017. Lalu sejak Januari 2018, tulisan-tulisan Men Coblong mulai “lahir kembali” di Balebengong.id.

Catatan-catatan Oka Rusmini dalam buku Men Coblong ini terkait hal-hal aktual. Beliau banyak membahas posisinya sebagai warga kota.

“Ini tetaplah kumpulan esai, kumpulan tulisan dan bukan sebuah buku (kajian) yang mendalam, namun masih tetap relevan,“ ungkap Anton Muhajir.

Koplak

Sejarah serial Koplak juga sejalan, ditulis dan diterbitkan pertama kali berupa cerpen di Bali Post Minggu pada 2016. Kemudian beralih ke tatkala.co pada 2018.

“Dari cerita yang ditulis itu, Oka tampak punya konsep amat jelas mengenai alasan cerita itu ditulis, dan alasan tokoh utamanya harus bernama Koplak,“ kata Made Adnyana Ole.

Koplak adalah seorang duda yang menjabat kepala desa, serta memiliki seorang anak gadis berusia 21 tahun yang berprofesi sebagai pengusaha muda. Tidak seperti kebanyakan penguasa lainnya yang cenderung sibuk dengan penampilan, Koplak hadir sebagai tokoh yang santun, jauh dari angkuh, serta hangat dan guyub sebagaimana umumnya masyarakat yang tinggal di pedusunan.

Sebagai tokoh yang memimpin sebuah desa, Koplak tak lepas dari gunjingan perihal kehidupan kesehariannya, berikut kisah kasih istrinya yang telah meninggal, di tengah kegigihannya berjuang memajukan desanya.

Oka Rusmini menceritakan proses lahirnya dua anak kembar buncing ini. Masalah-masalah dan benturan-benturan dengan masyarakat Bali sendiri membuatnya menulis Men Coblong. Namun, setelah dia membuat Men Coblong, muncul lagi kritik, ‘memangnya hanya perempuan saja yang bisa menyelesaikan semua persoalan?’.

“Nah, dari sana kemudian lahirlah Koplak. Ia seorang laki-laki yang ditinggal mati istrinya ketika melahirkan putri semata wayang mereka, di situ saya ingin menunjukkan bahwa laki-laki juga bisa menjadi feminis,“ ungkap Oka Rusmini.

Apresiasi

Oka Rusmini telah menulis puisi, novel ,esai dan cerita pendek sedari remaja. Ia memperoleh banyak penghargaan, antara lain: Penghargaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa , Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2003 dan 2012), Anugerah Sastra Tantular, Balai Bahasa Denpasar Provinsi Bali (2012). Southeast Asian (SEA) Write Award, dari pemerintah Thailand (2012) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (2013/2014).

Tahun 2017, ia terpilih sebagai Ikon Berprestasi Indonesia Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila kategori Seni dan Budaya dari Pemerintah Republik Indonesia. Bukunya yang telah terbit: Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Akar Pule (2012), Pandora (2008), Tempurung (2010), Saiban (2014), Men Coblong (2019), dan Koplak (2019) .

Turut memaknai diskusi buku ini ditampilkan pula pembacaan nukilan oleh Wayan Jengki Sunarta dan Ayu Winastri.

Peluncuran “Koplak” dan “Men Coblong” dihadiri pula sejumlah tokoh dan budayawan, di antaranya Pande Wayan Suteja Neka serta Wicaksono Adi yang memberi apresiasi atas kelahiran buku terkini Oka Rusmini.

Wicaksono Adi, penulis seni budaya dan seorang kurator, mengungkapkan bahwa kedua buku ini, Koplak dan Men Coblong, layak untuk dibaca. Melalui kedua buku tersebut, sang penulis sedang membuat komentar terhadap segala sesuatu yang terjadi baik di Bali maupun Indonesia umumnya, dengan membuat perspektif atau cara pendang yang berbeda.

“Di sini Oka menulis dengan mengangkat perspektif melihat suatu situasi dari atas. Jadi dia memandang persoalan secara netral, “ ungkap Wicaksono Adi. [b]

The post Oka Rusmini Lahirkan Buku Kembar Buncing appeared first on BaleBengong.

Mengungkap Sisi Lain Bali lewat Seni Video


Lokakarya seni media untuk beradaptasi dengan teknologi baru. Foto Bentara Budaya Bali.

Media-media baru seringkali menghadirkan realitas virtual semu.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kembali melaksanakan kegiatan Workshop Seni Media. Tentang bagaimana membuat video dalam berbagai lingkup gagasan, medium, konten dan penyajiannya.

Tahun ini kegiatan diadakan di Bandung, Tangerang Selatan, Surabaya dan Bali. Kegiatan di Bali bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali (BBB) dan SEHATI Films pada 21 – 24 Maret 2019.

Kegiatan ini bertajuk “Sisi Bali”. Dia berfokus pada pembekalan dan praktik seputar Video Editing, Estetika Video Art, dan Kolaborasi Intermedia. Narasumbernya Bandu Darmawan (seniman visual dan video art), Dr. I Wayan Kun Adnyana (Kurator, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar) dan Hanne Ara (sutradara, editor).

Hadir pula perupa Nyoman Erawan yang membagi pengalaman sebagai kreator. Erawan kerap kali mengaplikasikan seni multimedia atau video art dalam bidang seni rupa.

Seni media dapat diartikan sebagai gabungan dari seni visual dan teknologi atau sebuah karya seni berbasis teknologi digital. Namun, lokakarya kali ini bukan semata membahas pemanfaatan teknologi digital terkini. Ada pula pendalaman pengalaman sewaktu proses cipta. Juga bagaimana dalam video pendek, kuasa menampilkan keutuhan visual dan menyampaikan pesan pentingnya.

Adapun Workshop Seni Media untuk memfasilitasi dan mengapresiasi keberadaan dan kemandirian para komunitas, pelaku dan penggiat seni media. Kegiatan ini mewadahi kreativitas generasi milenial dan mengembangkan dunia seni media di tanah air.

Workshop ini diharapkan dapat mengakomodir dan mentransformasikan potensi dan minat publik pada seni media. Dia sekaligus menjadi media pengenalan pengetahuan dan praktik seni media di kalangan dunia pendidikan.

Rangkaian

Rangkaian workshop ini telah dimulai di Bandung pada 18-21 Maret 2019. Selanjutnya akan berlangsung di Tangerang Selatan (4-7 April 2019) dan Surabaya (23-26 April 2019).

Workshop melibatkan peserta dari kalangan praktisi, seniman, mahasiswa, guru, dan peminat seni media. Beberapa narasumber di kota-kota lain adalah Andang Iskandar, Helmi Hardian, Benny Wicaksono, Hilmi Fabeta, Banna Rush, Edi Bonetski, dan Popomangun.

Direktur Kesenian, Restu Gunawan menaruh perhatian khusus terhadap eksistensi seni media sebagai bentuk ekspresi seni masa depan. Menurutnya workshop seni media ini sejalan dengan agenda strategis pemerintah sebagai fasilitator pemajuan kebudayaan. Utamanya dalam hal meningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Restu mengatakan perlu upaya terus menerus untuk memberi ruang ekspresi dan ruang presentasi bagi para praktisi seni media. Hal ini diimbangi pula dengan menumbuhkan dan meningkatkan daya apresiasi masyarakat terhadap karya seni media dalam berbagai penciptaan.

Lokakarya video art kali ini akan mengetengahkan pembekalan teori, diskusi, praktik pengambilan gambar di sekitar lokasi, hingga penyuntingan video yang diakhiri evaluasi dan pemutaran video hasil peserta workshop.

Pada acara penutupan, video art karya peserta diputar secara khusus dan diselenggarakan secara terbuka untuk umum. Ada pula pertunjukan kolaborasi seni, sastra, teater, dan multimedia oleh sanggar/ komunitas setempat. Boleh dikata merupakan pra-acara menuju Festival Video Art 2019/2020 di BBB.

Perspektif Baru

Kepala Pengelola BBB, Warih Wisatsana mengatakan lokakarya ini untuk memperkenalkan ragam video art, kreativitas, dan kerja seni, berikut penggalian wacana dalam konteks lebih luas, internasional. Dengan demikian generasi muda bisa menemukan perspektif baru di tengah penggunaan video dan teknologi canggih. Tidak semata hanya untuk memuaskan gaya hidup dan hal-hal yang cenderung tidak kreatif.

Hal ini berangkat dari kesadaran bahwa media-media modern audio-visual, terlebih televisi, media online, cenderung lebih menyuguhkan realitas imajiner, dunia rekaan yang seakan-akan lebih nyata dari kenyataan yang sebenarnya. Tak heran, bila citraan-citraan semu ini ‘mencekam’ sebagian masyarakat dengan aneka peristiwa rekayasa yang manipulatif atau ‘hoax’, dipenuhi sosok-sosok ‘fiktif’ yang tiba-tiba menjadi figur-figur publik, serta hal-hal sebaliknya—di mana tokoh dan pelaku sesungguhnya malah terpinggirkan, tak memperoleh pemberitaan adil dan semestinya.

Editing dan framing atau pembingkaian yang (sengaja) tak akurat, membuahkan sederet gambar yang bersifat mimikri dan cenderung mengelabui, mungkin elok dan molek, tetapi sesungguhnya berlebihan. Giliran berikutnya, karena tampil berulang secara ritmis dan sugestif, gambar-gambar itu seolah menjelma mantra yang lambat laun ‘menyulap’ penonton— terutama pemirsa televisi, pengguna dunia maya dan gawai—dari sang subyek yang merdeka berubah menjadi obyek yang tersandera.

Tanpa kontrol publik, media-media tersebut seringkali terbawa hanyut ke dalam pusaran realitas virtual ciptaannya sendiri. Entah karena pertimbangan rating atau perolehan iklan, akhirnya tergelincir menjadi media partisan yang tak jelas juntrungannya.

Sebelumnya, Bentara Budaya Bali pernah menyelenggarakan Kelas Kreatif Bentara “Workshop Video Mapping” bersama Jonas Sestakresna dan Bimo Dwipoalam (26 November 2017), Kelas Kreatif Bentara “Workshop Video Pendek” bersama kreator Krisna Murti (8-9 Februari 2018), serta dilanjutkan “Workshop Video Art: Rancang Festival dan Komunitas” (11 Maret 2018).

Program-program kolaboratif dan lintas bidang ini, kata Warih, diharapkan dapat mendorong terjadinya perubahan sosial kultural masyarakat menuju kehidupan lebih terbuka. Program itu sekaligus menjadi sarana pergaulan sosial untuk membangun kolaborasi kreatif yang mengedepankan nilai-nilai toleransi, solidaritas, dan kemanusiaan melalui capaian karya seni unggul. [b]

The post Mengungkap Sisi Lain Bali lewat Seni Video appeared first on BaleBengong.

Menyajikan Keberagaman Arsitektur dalam Crafting the Archipelago


Suasana pembukaan pameran Crafting the Archipelago. Foto Bentara Budaya Bali.

Dari Bali, karya para arstitek ini menjadi bagian dari keberagaman arsitektur Nusantara.

Pada 9-17 Februari, Bentara Budaya Bali (BBB) menghadirkan karya-karya arsitek ternama Bali Popo Danes dan para alumni Popo Danes Architect, termasuk Casa Studio, Dimensi Design Studio, Epic Artelier, Herry Palguna, Iwaji Studio, Jeanne Elisabeth, Kusa Architect, dan lain-lain.

I Gede Wiratha, seorang arsitek wirausahawan, membuka pameran ini pada Sabtu, 9 Februari 2019 lalu. Program ini terselenggara atas kerja sama Ikatan Arsitek Indonesia, Popo Danes Architect, Danes Art Veranda, Ikatan Arsitek Indonesia- Bali dan Bentara Budaya Bali.

Pameran menghadirkan pula kreasi-kreasi arsitektur peraih IAI Awards 2018 dan karya-karya dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Bali yang belum lama ini dihadirkan dalam pameran Serasi #2 di Denpasar.

Ini bukan kali pertama BBB mempresentasikan program terkait dunia arsitektur. Memaknai peresmiannya pada tahun 2009, BBB mengetengahkan pameran “Festival Bambu” yang tidak saja melibatkan para perupa terkemuka Bali melainkan menghadirkan pula karya arsitektur Popo Danes.

Selain itu, Popo Danes Architect sempat berpameran tunggal di BBB pada tahun 2011, sebuah upaya retrospektif mengedepankan karya-karya awal tahun 1990-an hingga 2011. Program ini ditandai diskusi dan peluncuran buku New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes yang ditulis oleh Imelda Akmal.

Crafting The Archipelago

Bali Architecture Week 2019 kali ini merujuk tematik “Crafting The Archipelago”, dikuratori oleh Danny Wicaksono.

“Acara ini adalah momentum penting. Bukan hanya karena karya-karya yang dihadirkan, tapi karena ini merupakan kesempatan di mana sekian banyak arsitek berkumpul. Untuk saling berbincang, berdiskusi, bertukar gagasan dan strategi yang mudah-mudah dapat membuat ruang hidup kita lebih baik. Dan mungkin membuat Bali lebih baik ke depannya,” ujar Danny.

Pameran bertema “Crafting The Archipelago” ini mencerminkan pula keberagaman. Bukan saja karya-karya arsitektur yang dipamerkan, melainkan juga desain interior dan lukisan.

Semisal Ardhi Ismana. Alumni Popo Danes Architect ini sekarang bekerja di Jakarta di bidang arsitektur, tetapi kali ini ingin mengikutkan lukisan-lukisannya untuk mengenalkan karyanya di Bali.

Tidak ketinggalan Melati Danes dari Melati Danes Space and Style, konsultan desain interior di Bali. Kali ini Melati juga memperkenalkan desain interior yang mungkin modern tetapi masih memegang ciri khas unsur-unsur lokal ke masyarakat yang lebih luas lagi.

Popo Danes selaku inisiator menjelaskan makna di balik tema “Crafting the Archipelago” atau yang dapat diartikan berkreasi di kepulauan. Tema ini, menurut Popo, berangkat dari pengalaman-pengalaman para arsitek peseeta pameran ini dalam mengerjakan proyek-proyek yang berhubungan dengan kepariwisataan berbudaya.

Mereka telah melakukan kelana berkarya tidak hanya di Pulau Bali, tetapi juga di pulau-pulau lain di Nusantara, bahkan mancanegara.

“Arsitek-arsitek yang telah tumbuh di Bali ini membuktikan bahwa mereka mampu menjadi arsitek untuk arsitektur bertemakan kepulauan dengan budaya lokal tersirat di setiap desainnya,“ ungkap Popo.

Ia juga ingin memperkenalkan mekanisme kerja arsitek dan membuka kolaborasi yang sehat dengan para alumninya serta generasi selanjutnya.

Dengan pengalamannya yang sudah mendesain tidak saja di Bali, Popo Danes melihat formula-formula kearsitekturan ini cenderung datang dari Bali. Ia mengungkapkan bahwa “Crafting The Archipelago” tidak bermaksud mengklaim aristektur kepulauan, tetapi menceritakan bagaimana arsitek berbasis di Bali bisa membantu dan memberikan kontribusi desain.

“Saya berharap Bali Architecture Week dapat menjadi jembatan untuk generasi penerus untuk mengenal lebih banyak lagi hal-hal yang sudah pernah terjadi sebelumnya, terutama di Bali. Menjadi referensi yang baik kepada arsitek-arsitek generasi selanjutnya, serta membangun ruang apresiasi terhadap dunia arsitektur yang merupakan bagian penting dalam mengembangkan suatu lingkungan hidup yang ramah dengan sekitarnya,” ungkap Popo Danes.

Alumni Popo Danes Architect yang terlibat dalam pameran kali ini juga melihat pentingnya kehadiran Danny Wicaksono selaku kurator. Sebagaimana diungkapkan Pradhana Pande dari Epic Artelier, ini merupakan kesempatan yang baik untuk mempromosikan diri dan diharapkan program serupa ini dapat terus berlanjut.

Sedangkan, Kadek Hasta dari SHL Asia dan rekannya, Jung Yat, berpendapat bahwa menerapkan kurasi itu sangat penting dalam sebuah pameran, mencerminkan pameran tersebut tidaklah “tidak main-main” dan sekaligus menjadi suatu penghargaan tersendiri.

Adapun Ben Sarasvati dari Kusa Architect melihat pameran arsitektur adalah hal yang ditunggu-tunggu dan berharap agar ke depannya hal ini turut membangun semangat berkarya, serta Bali Architecture Week bisa menjadi titik di kancah nasional.

Popo Danes (tengah) saat berbicara dalam diskusi Crafting the Archipelago. Foto Bentara Budaya Bali.

Diskusi

Sehari setelah pembukaan, penyelenggara juga melaksanakan diskusi bertema sama.

Tampil sebagai narasumber yakni arsitek Popo Danes, budayawan Putu Fajar Arcana, serta arsitek Lanang Wiantara dan arsitek Herry Palguna, keduanya merupakan alumni Popo Danes Architect. Dialog dipandu oleh arsitek Ketut Rana Wiarcha, yang juga Wakil Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia.

Selain membincangkan perihal tematik “Crafting The Archipelago” yang tecermin dalam karya-karya para peserta pameran, para narasumber juga berbagi pandangannya perihal peran arsitek untuk membangun kota dan lingkungan yang selaras kearifan lokal atau nilai-nilai filosofi dan kultural setempat.

Arsitek Lanang Wiantara dan Herry Palguna berbagi pengalaman mereka sewaktu bekerja bersama Popo Danes Architect, berikut bagaimana upaya mereka sebagai arsitek melakukan adaptasi, pendekatan, serta merespon berbagai situasi di lapangan. Misalnya dalam menerapkan rancang desain yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana sehingga menghasilkan arsitektur tepat guna dan tepat makna.

Lanang Wiantara merupakan arsitek yang melakukan konservasi bangunan Pura dan Puri. Konservasi Puri Ageng Blahbatuh meraih penghargaan Adhi Prajana Nugraha IAI Bali Award tahun 2016 untuk kategori Konservasi.

Ia merancang kembali keadaan Puri Ageng Blahbatuh seperti semula, dengan tetap menerapkan berbagai ritual di dalamnya, tetapi kemudian memberinya peran baru dalam masyarakat modern.

Popo Danes, yang telah meraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri, mengungkapkan pula bahwa sebagai seorang arsitek harus memiliki sensitivitas terhadap lingkungan dan berupaya memahami filosofi tradisi setempat di mana proyek itu dikerjakan.

“Nilai tradisional dalam sebuah arsitektur bukan saja soal desainnya, tapi juga filosofi di balik itu. Misalnya saja, saya belajar perihal arsitektur Bali, yang mana karakteristik bangunannya ternyata berangkat dari pengalaman hidup masyarakat setempat dalam merespon situasi lingkungannya,” ujar peraih IAI Awards Kategori Pelestarian pada 2018 ini.

Hal penting yang mengemuka dalam dialog adalah esensi arsitektur Bali yang sesungguhnya dapat dibawa ke kancah global, sebentuk adaptasi kearifan lokal setempat yang diterapkan untuk rancang desain arsitektur.

Pola-pola perancangan Popo Danes tak hanya merefleksikan proses akulturasi yang terjadi pada masyarakat Bali, namun secara esensial tersiratkan pula tahapan penemuan diri sebagai arsitek mumpuni. Dengan kata lain, seraya terus menerus mengajukan pemertanyaan pada diri dan lingkungannya, Popo Danes terbukti turut memberikan sumbangan pemikiran serta inspirasi dalam upaya menjaga karakter Bali sewaktu menyikapi kekinian.

Karya-karya Popo Danes juga dinilai kuasa menyelaraskan antara capaian estetik dan fungsinya secara keseluruhan. Tidak heran bila ia berupaya untuk menjadikan rancangannya tidak hanya tepat guna, namun juga tepat makna karena merangkum keunikan dan acuan filosofis dari bangunan dimaksud. Terangkum di dalamnya keelokan, kemolekan serta keunikan.

Putu Fajar Arcana menilai program Bali Architecture Week 2019 ini menyajikan interpretasi kontemporer terhadap apa yang disebut sebagai bioklimatik, sebuah upaya adaptasi terhadap iklim. Sesungguhnya, prinsip-prinsip dasar arstitektur tradisional (untuk membedakan dengan arstitektur kontemporer), sudah sejak awal mengacu kepada bioklimatik.

Iklim tropis yang membentang di negara-negara Asia Tenggara pada umumnya terpengaruh oleh curah hujan, kelembaban udara, radiasi matahari, suhu udara, dan kecepatan angin. Unsur-unsur inilah yang menjadi elemen penting bagi suatu wilayah sehingga disebut beriklim tropis.

Menurut Fajar realitas itu secara tradisional disikapi dengan konsep Tri Angga (nista, madya, dan utama). Para arsitek yang terlibat dalam pameran ini boleh dibilang menaruh rasa hormat yang demikian besar terhadap apa yang diwariskan oleh masyarakat tradisional.

“Mereka sebagian besar berangkat dari riset terhadap lingkungan, baik itu menyangkut kondisi alam, maupun kondisi sosial dan kultural di sekitarnya,” kata Fajar.

“Pola kerja semacam ini memungkinkan saya untuk menyebut mereka sebagai kelompok arsitek dan desainer yang bekerja berlandaskan green cultural architecture, para arsitek yang selalu berangkat dari realitas lingkungan kebudayaan, di mana mereka mengembangkan sikap bersahabat terhadap keindahan dan keselarasan,“ ungkap Fajar. [b]

The post Menyajikan Keberagaman Arsitektur dalam Crafting the Archipelago appeared first on BaleBengong.