Tag Archives: bayi

HIPOTIROID KONGENITAL : Skrining Sedini Mungkin Agar Bayi Terhindar Dari Keterbelakangan Mental

Setiap orang tua tentu mendambahkan anak yang sehat dan berkualitas. Semua orang tua menginginkan bayinya normal, tetapi kadang-kadang terjadi hal yang tidak diharapkan seperti gangguan tumbuh kembang yang mengakibatkan berkurangnya  kualitas hidup anak. Salah satu penyebab keadaan ini adalah hipotiroid kongenital (HK).

Insidens hipotiroid kongenital di dunia adalah 1:3000-4000 kelahiran hidup dan insidens hipotiroid kongenital di Indonesia adalah 1:3528 kelahiran hidup. Dengan populasi 200 juta penduduk Indonesia dan angka kelahiran 2% berarti ada 4 juta bayi dilahirkan setiap tahunnya dan setiap tahun di Indonesia diperkirakan lahir 1143 bayi dengan hipotiroid kongenital.

Hipotiroid Kongenital adalah sebuah keadaaan dimana kerja kelenjar tiroid pada anak menurun atau bahkan tidak berfungsi sejak lahir, sehingga bayi tersebut kekurangan hormon tiroid. Gangguan tiroid pada bayi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya, baik fisik maupun mental.

Hormon Tiroid yaitu Tiroksin yang terdiri dari Tri-iodotironin (T3) dan Tetra-iodotironin (T4), merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar tiroid (kelenjar gondok). Pembentukannya memerlukan mikronutrien  iodium. Hormon ini berfungsi untuk mengatur produksi panas tubuh, metabolisme, pertumbuhan tulang, kerja jantung, syaraf, serta pertumbuhan dan perkembangan otak. Dengan demikian hormon ini sangat penting peranannya pada bayi dan anak yang sedang tumbuh. Kekurangan hormon tiroid pada bayi dan masa awal kehidupan, bisa mengakibatkan hambatan pertumbuhan (cebol/stunted) dan retardasi mental (keterbelakangan mental).

Gejala dan Tanda Hipotiroid Kongenital

Lebih dari 95% bayi dengan HK tidak memperlihatkan gejala saat dilahirkan. Kalaupun ada sangat samar dan tidak khas. Tanpa pengobatan, gejala akan semakin tampak dengan bertambahnya usia.

Gejala dan tanda yang dapat muncul berupa: letargi (aktivitas menurun), ikterus (kuning), makroglosi (lidah besar), hernia umbilikalis (bodong), hidung pesek, konstipasi, kulit kering, skin mottling (cutis marmorata)/burik, mudah tersedak, suara serak, hipotoni (tonus otot menurun), ubun-ubun melebar, perut buncit, mudah kedinginan (intoleransi terhadap dingin) dan miksedema (wajah sembab).

Dampak Hipotiroid Kongenital

Hipotiroid pada bayi bisa bersifat permanen (menetap) atau sementara (transien). Disebut sebagai HK transien bila setelah beberapa bulan atau beberapa tahun sejak lahir kelenjar gondok mampu memproduksi sendiri hormon tiroidnya, sehingga pengobatan dapat dihentikan. HK permanen membutuhkan pengobatan seumur hidup dan penanganan khusus.

Dampak HK pada anak yang sangat menyedihkan adalah mental terbelakang yang tidak bisa dipulihkan. Dampak terhadap keluarga, beban ekonomi karena anak HK harus mendapat pendidikan, pengasuhan dan pengawasan khusus. Secara psikososial\ keluarga akan lebih rentan terhadap lingkungan sosial karena rendah diri dan menjadi stigma dalam keluarga dan masyarakat, Selain itu produktifitas keluarga menurun  karena harus mengasuh anak dengan HK. Bila angka kejadian HK diperkirakan 1 diantara 2000-3000 bayi baru lahir, maka dari 5 juta kelahiran di Indonesia, akan lahir lebih dari 1600 penderita HK tiap tahun dan secara kumulatif akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia penerus bangsa. Supaya bayi dengan HK tidak mengalami gangguan tumbuh kembang, satu-satunya cara untuk mengetahui kelainan HK sedini mungkin dan segera mengobatinya (kurang dari umur 1 bulan) adalah dengan melakukan skrining (uji tapis).

Skrining HK

Di Indonesia, diantara penyakit-penyakit yang bisa dideteksi dengan skrining pada bayi baru lahir, Hipotiroid Kongenital (HK) merupakan penyakit yang cukup banyak ditemui. Kunci keberhasilan pengobatan anak dengan HK adalah dengan deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium dan pengobatan sebelum anak berumur 1 bulan. HK sendiri sangat jarang memperlihatkan gejala klinis pada awal kehidupan. Pada kasus dengan keterlambatan penemuan dan pengobatan dini, anak akan mengalami keterbelakangan mental dengan kemampuan IQ dibawah 70.

Pengobatan

Pengobatan dengan L-T4 diberikan segera setelah hasil tes konfirmasi. Bayi dengan HK berat diberi dosis tinggi, sedangkan bayi dengan HK ringan atau sedang diberi dosis lebih rendah. Bayi yang menderita kelainan jantung, mulai pemberian 50% dari dosis, kemudian dinaikkan setelah 2 minggu.

Referensi

  • Skrining Hipotiroid Kongenital. Peraturan Menteri kesehatan nomor 78 tahun 2014. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014
  • Rustama D, Pentingnya Skrining Hipotiroid Pada Bayi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-skrining-hipotiroid-pada-bayi
  • Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2012
  • MERCK “Bebaskan Dirimu dari Gangguan Tiroid” Kenali Hipotiroid Kongenital dan Lakukan Skrining Sedini Mungkin. 2015  http://www.merck.co.id/country.id/id/images/25Mei15%20-%20Tiroid%20ITAW_tcm663_139839.pdf?Version=
  • Kang MJ, et al. Three-year follow-up of children with abnormal newborn screening results for congenital hypothyroidism. J Pediatrics & Neonatology. 2017 jan 23; 58 (1):1-7
  • Windarti W. Tesis Etiologi Hipertiroid Kongenital Primer. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta: 2014.

Minum Minuman Beralkohol Saat Hamil Dapat Mempengaruhi Wajah Bayi

Wanita yang minum minuman beralkohol saat hamil memiliki risiko melahirkan anak dengan kelainan pada wajah yang berhubungan dengan masalah pertumbuhan. Demikian menurut studi terbaru yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics.

Ketika para peneliti memeriksa data dari 415 gambaran wajah anak usia 1 tahun, mereka menemukan adanya perubahan bentuk wajah di sekitar hidung, mata dan mulut pada anak yang dilahirkan dari ibu yang mengonsumsi minuman beralkohol saat kehamilan trimester pertama.

Evelyne Muggli, sebagai kepala peneliti mengaku terkejut dengan temuan ini, sebab rata rata perubahan bentuk wajah bayi sudah terjadi pada ibu hamil yang mengonsumsi minuman beralkohol dalam dosis kecil. Artinya, berapapun dosis alkool yang dikonsumsi ibu hamil akan mempengaruhi bentuk wajah pada bayi. Sayangnya, studi ini tidak bisa mendeteksi adanya perubahan pada otak bayi seiring dengan perubahan bentuk wajah sehingga dibutuhkan studi lanjutan yang lebih mendalam.

Perubahan bentuk wajah yang terjadi agak sulit dilihat dengan mata telanjang. Perubahan ini hanya bisa dilihat dengan analisa bentuk wajah secara 3 dimensi. Namun, menurut peneliti, perubahan bentuk wajah ini bukan berarti bayi dalam kondisi berbahaya atau membutuhkan penanganan medis khusus.

Diduga, perubahan pada wajah bagian tengah berhubungan dengan kelainan yang disebut dengan fetal alcohol spectrum disorder. Gangguan ini kerap terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang gemar mengonsumsi minuman beralkohol saat hamil.

Perbedaan yang paling tampak pada wajah bayi yang ibunya minum minuman beralkohol saat hamil dengan bayi yang ibunya tidak minum minuman beralkohol adalah pada daerah dahi.

 

Dibandingkan dengan anak yang tidak terpapar alkohol saat di dalam kandungan, anak yang yang terpapar alkohol saat di dalam kandungan memiliki perbedaan pada bagian mata, wajah bagian tengah dan dagu. Perubahan pada dagu anak juga terjadi pada ibu yang minum minuman beralkohol dalam jumlah banyak saat kehamilan trimester pertama.

Kebanyakan wanita yang minum minuman beralkohol saat hamil muda mengaku tidak menyadari kalau dirinya hamil. Baru setelah tahu hamil, mereka akan mengurangi atau bahkan berhenti mengonsumsi minuman beralkohol.

Sekitar 20 anak yang diteliti memiliki gangguan yang disebut fetal alcohol spectrum disorder (FASD), gangguan yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif termasuk kerusakan otak secara permanen.

Anak anak yang terpapar alkohol saat di dalam kandungan kerap mengalami masalah belajar, seperti gangguan daya ingat, keterlambatan bicara, gangguan perilaku termasuk hiperaktif.

4 Hal Ini Bikin Bayi Anda Susah Tidur

Sahabats, terkadang bayi pasti mengalami saat-saat ia susah tidur. Jika biasanya pada jam tertentu, bayi tidur dengan pulas, kok tiba-tiba ia menjadi susah tidur. Padahal setelah diamati, bayi tidak nampak sakit, aktivitasnya juga lincah, lalu mengapa bayi susah tidur? Ada beberapa hal yang bikin bayi Anda susah tidur.

Apa sajakah hal yang bisa bikin bayi Anda susah tidur?

Nah, 4 hal ini bisa bikin bayi Anda susah tidur:

1. Lapar

Saat bayi lapar, ia akan susah tidur. Biasanya bayi pun akan rewel jika ia lapar. Terkadang pada malam hari saat bayi tiba-tiba menjadi susah tidur karena merasa lapar, bayi Anda akan mencuri perhatian Anda dengan menghentak-hentakkan kaki dan tangannya.

Bayi juga berusaha menggunakan body language dengan menarik-narik atau menggosok-gosok telinganya dengan tangan dan memasukkan tangan ke dalam mulutnya. Seolah ia berkata, “Ibu, aku lapar loh”. Jika Anda belum bisa menafsirkan maksud bahasa tubuh bayi, biasanya ia akan mencari perhatian Anda dengan lebih gigih lagi, yaitu dengan cara menangis.

Karena itu, jika bayi bunda susah tidur, kemungkinan karena lapar, maka cobalah untuk memberinya makan. Makanan bayi yang berusia kurang dari 6 bulan adalah ASI atau jika memang Anda tidak menyusui, berilah susu formula pada bayi. Untuk bayi yang berumur lebih dari 6 bulan dan sudah memulai MPASI nya, Anda bisa memberinya biskuit atau bubur saring agar cepat membuat bayi Andakenyang dan akhirnya si Kecil bisa tertidur dengan pulas.

2. Kolik

Kolik adalah suatu keadaan di mana bayi terlalu banyak menelan udara sehingga ia merasa tidak nyaman dalam saluran pencernaannya. Kolik menjadi penyebab tersering bayi susah tidur dan rewel. Secara statistik, 1 dari 5 bayi terserang kolik.

Kolik biasanya terjadi pada bayi berusia 4 bulan ke bawah. Kolik dapat disebabkan karena memang fungsi pencernaan bayi belum berjalan secara sempurna sehingga sistem pencernaan bayi sangat sensitif. Apalagi jika bayi tidak minum ASI, susu formula yang mengandung protein hewani cukup tinggi bisa mengiritasi sistem pencernaan bayi yang masih sensitif. Bayi dapat merasa kembung, sulit buang air besar, dan tidak bisa kentut.

Jika bayi susah tidur karena kolik, biasanya ia akan sangat rewel dan sering menangis. Karena bayi ingin memberitahu pada Anda betapa tidak nyamannya ia. Anda bisa membantu bayi untuk meredakan koliknya dengan menggendongnya dengan posisi vertikal. Dada bayi menempel pada bahu Anda. Cara ini akan membantu bayi bersendawa.

Anda juga dapat melakukan masase pada perut bayi. Gerakan masase perut bayi di mulai dari perut bayi kanan bawah – ke atas sampai di perut bagian atas – lalu ke perut kiri bagian bawah. Masase dilakukan pelan-pelan sekali tanpa ditekan, ya.

Sebenarnya kolik dapat dicegah, yaitu dengan memberikan ASI untuk bayi. Bayi yang diberikan ASI hampir tidak pernah mengalami kolik.

Selain itu, usahakan selalu menggendong bayi dalam posisi vertikal setelah ia minum ASI atau susu formula. Biarkan bayi bersendawa untuk melegakan perutnya dari gas-gas yang tertelan.

3. Kedinginan Atau Kegerahan

Beberapa bayi sudah terbiasa dengan alat pendingin ruangan. Saat suhu ruangan tidak sesuai menurut bayi, ia akan susah tidur. Sangat mudah untuk segera mengetahui bayi bunda kegerahan. Ia akan berkeringat, gelisah, dan susah tidur.

Sebaliknya, bayi akan susah tidur juga saat ia kedinginan. Untuk mengenali bayi merasa kedinginan, cek anggota gerak bayi Bunda. Jika jari-jari tangan dan kaki si Kecil teraba dingin atau lebih dingin dari tubuhnya maka kemungkinan bayi Anda kedinginan.

Sangat baik jika Anda menyediakan alat pengukur suhu tubuh bayi di rumah. Saat bayi memiliki suhu tubuh di bawah 36,5 derajat celcius, ia mengalami hipotermia. Segera selimuti bayi dan konsultasikan hal ini ke Dokter Anak agar hipotermia tidak berlanjut.

4. Gigi Tumbuh

Saat gigi akan tumbuh, bayi akan merasa sangat tidak nyaman. Rasa nyeri sebelum tunas gigi berhasil melampaui gusi akan membuat bayi susah tidur. Selain susah tidur, bayi juga merasa gelisah, rewel, bahkan suhu tubuhnya mengalami kenaikan.

Suhu tubuh bayi dapat naik menjadi 38 derajat celcius. Jika saat gigi tumbuh, kenaikan suhu tubuh bayi mencapai lebih dari 39 derajat celcius, kemungkinan ada penyakit infeksi atau penyakit lain yang menyertai.

Anda dapat membantu bayi susah tidur akibat gigi tumbuh dengan memeluk, menggendongnya, agar ia merasa lebih nyaman. Biasanya bayi susah tidur karena gigi tumbuh dapat berlangsung 1 – 2 malam.
Inilah 4 hal yang bisa bikin bayi Anda susah tidur. Semoga bermanfaat.

Penyebab Kematian Ibu Pasca Persalinan Yang Paling Sering

Masa nifas ibu dimulai sejak satu jam lahirnya plasenta sampai dengan 42 hari atau 6 minggu setelah itu. Masa nifas merupakan periode transisi yang kritis bagi ibu, bayi, dan seluruh keluarga secara fisik, mental dan sosial.

Bagi ibu yang mengalami persalinan untuk pertama kalinya, terjadi perubahan kehidupan yang sangat bermakna selama hidupnya.

Hal ini ditandai dengan adanya perubahan emosional, perubahan fisik yang dramatis, hubungan keluarga, perubahan peran dari seorang perempuan menjadi seorang ibu, adanya aturan baru , dan usaha penyesuaian terhadap keadaan dan aturan yang baru.

Banyak keluarga yang memberikan perhatian penuh pada sang ibu pada masa kehamilan dan persalinan yang mendebarkan.

Banyak keluarga yang lengah atau tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya masa nifas adalah masa di mana sang ibu dan bayi sangat membutuhkan perhatian dan dukungan dari keluarga, mengingat risiko kesakitan dan kematian ibu dan bayi lebih sering terjadi pasca persalinan.

Berikut adalah penyebab kematian ibu pasca persalinan yang paling sering:

1. Perdarahan Pasca persalinan

Perdarahan pasca persalinan adalah penyebab utama dari 150.000 kematian ibu setiap tahun di dunia. Hampir 4 dari 5 kematian akibat perdarahan pascapersalinan terjadi dalam waktu kurang lebih 4 jam setelah bersalin (88%).

Ibu dengan anemia sejak masa kehamilannya, akan lebih tidak mampu mengatasi kehilangan darah yang terjadi pada perdarahan pascapersalinan, dibandingkan dengan ibu hamil yang cukup nutrisi. Bila terjadi perdarahan berat, transfusi darah adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kehidupan sang ibu.

Penyebab terjadinya perdarahan pasca persalinan adalah :

1. Rahim yang tidak berkontraksi secara efektif (Atonia Uteri),

2. Plasenta masih tertinggal di dalam rahim baik seluruhnya atau sebagian (Retensio Plasenta),

3. Perlukaan / Laserasi jalan lahir di leher rahim (serviks) atau vagina,

4. Robekan rahim (Ruptura Uteri), dan

5. Inversi Uteri.

Dalam waktu 2-6 jam pasca persalinan, Dokter atau Bidan akan memastikan bahwa rahim berkontraksi dengan baik. Biasanya 1-2 jam setelah bersalin secara normal, sang ibu akan dianjurkan untuk ‘buang air kecil’. Hal ini bertujuan agar kandung kemih yang penuh dengan urin, dikosongkan, supaya tidak mengganggu rahim yang sedang berkontraksi, guna mencegah timbulnya perdarahan masa nifas.

Plasenta yang masih tertinggal di dalam lahir juga dapat menghambat rahim berkontraksi. Jika plasenta tidak lahir secara spontan dalam waktu 1 jam setelah bayi lahir, maka Dokter atau Bidan akan melakukan tindakan untuk mengeluarkan plasenta yang masih tertinggal (Plasenta Manual).

Laserasi jalan lahir, robekan rahim, dan inversi rahim dapat menyebabkan perdarahan pasca persalinan namun perdarahan pasca persalinan jarang disebabkan oleh tiga hal tersebut.

2. Infeksi Nifas (Sepsis)

Demam pada masa nifas tidak boleh diabaikan karena demam adalah salah satu tanda yang paling mudah dikenali pada infeksi pasca persalinan. Infeksi nifas atau sepsis merupakan penyebab utama kematian bunda di negara berkembang.

Faktor pemicu terjadinya infeksi pasca persalinan adalah sbb :

1. Persalinan macet,

2. Ketuban pecah dini,

3. ‘Pemeriksaan Dalam’ yang terlalu sering,

4. Pemantauan janin melalui jalan lahir (intravaginal), dan

5. Bedah sesar.

Pada bedah sesar, risiko terjadi infeksi nifas lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan normal. Kuman penyebab utama pada infeksi nifas akibat bedah sesar adalah Escherichia coli, Streptococci sp., anaerobic microorganisms (bacteroides, gonococci), dan Chlamydia trachomatis (gejala relatif ringan).

Di samping demam (peningkatan suhu > 38 derajat celsius), gejala infeksi pasca persalinan lainnya adalah adanya nyeri pada perut bawah (rahim). Biasanya infeksi nifas ini merupakan endometritis, atau mungkin lebih tepatnya adalah metritis.

Pemberian antibiotika adalah tindakan utama, di samping tindakan upaya pencegahan terjadinya infeksi nifas dengan persalinan yang bersih (steril) dan aman. Di beberapa negara didapatkan adanya hubungan antara persalinan yang ditolong oleh Dukun Bayi dengan tingginya kejadian infeksi nifas.

Salah satu penyebab infeksi pascapersalinan yang paling berbahaya dan menimbulkan kematian adalah Grup A Streptokokus atau Streptococcus pyogenes. Streptococcal Toxic Shock Syndrome (Strep TSS), merupakan sindrom yang membahayakan yang disebabkan oleh zat racun (endotoksin) dari bakteri Grup A Streptokokus ini.

3. Eklampsia

 Eklampsia adalah penyebab ketiga kematian ibu di seluruh dunia. Ibu dengan persalinan yang diikuti oleh eklampsia atau pre-eklampsia berat, harus dirawat inap. Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan darah seharusnya rutin dilakukan pada ibu hamil, mengingat hipertensi dapat terjadi dalam kehamilan, terutama jika usia kehamilan di atas 20 minggu.

Di Eropa dan negara maju lain, eklampsia diperkirakan terjadi pada 1 di antara 2000 persalinan. Beberapa kasus eklampsia terjadi beberapa hari setelah persalinan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa lebih dari 50%  eklampsia terjadi pada hari ketiga atau lebih pascapersalinan.

Pre-eklampsia dan eklampsia yang terjadi setelah persalinan sangat jarang, di mana ibu nifas akan mengalami hipertensi dan kadar protein dalam urin yang meningkat (proteinuria), setelah melahirkan. Biasanya eklampsia dan pre-eklampsia dialami sejak kehamilan, paling banyak pada trimester ketiga kehamilan.

Inilah informasi tentang Penyebab Kematian Ibu Pasca Persalinan yang Paling Sering.

Ini Risiko Yang Bisa Terjadi Bila Jarak Kehamilan Terlalu Dekat

Kerap mendengar celotehan teman saat menghadiri resepsi pernikahan. Mumpung masih muda, nanti hamilnya sekalian saja biar sekali capeknya. Mungkin maksud dari celotehan ini adalah jarak kehamilan gak usah jauh jauh agar sekalian saja capek hamil dan melahirkan.

Kalau dilihat dari sisi awam sih memang bagus. Hamil anak pertama dan kedua bisa dilakukan saat usia masih muda. Pun nanti anak kedua selisih usianya gak terlalu jauh dengan kakaknya sehingga bisa menjadi teman bermain yang pas.

Tapi bagimana bila dipandang dari sisi kesehatan? Ternyata jarak kehamilan yang terlalu dekat memiliki beberapa risiko medis yang bisa dialami oleh janin yang ada dalam kandungan. Risiko medis itu antara lain:

  • Kelahiran prematur
  • Lepasnya plasenta dari dinding rahim
  • Bayi lahir dengan berat badan rendah
  • Kelainan bawaan pada janin
  • Berisiko menderita penyakit schizoprenia

Risiko medis diatas makin meningkat bila jarak kehamilan kurang dari 12 bulan.

Lalu berapa sih jarak kehamilan yang ideal?

Menurut studi yang saya baca, jarak kehamilan yang ideal adalah antar 18 sampai 24 bulan, tapi usahakan kurang dari 5 tahun. Mengapa? Karena jarak kehamilan yang terlalu jauh juga memiliki konsekuensi medis yang lain.