Tag Archives: Bani

Ketika Bani Mulai Belajar Motret

Inilah hasilnya. Agak blur sih tapi keren juga.

Bani mulai suka motret. Kadang-kadang, ketika dia selesai main atau belajar dan lihat kamera lagi nganggur di meja, dia akan ambil kamera tersebut. Biasanya dia akan jepret-jepret apa yang ada di sekitar rumah saja.

Salah satunya foto ini. Dia mengambilnya Minggu pekan lalu. Dia tenteng kamera Canon SLR EOS 1000D lalu mulai motret. Aku sendiri tidak terlalu paham teknis memotret. Paling cuma ngasih tahu dia soal pegang lensa dan fokus.

Hasilnya? Ya, not so bad-lah. Dia bisa menangkap momen ketika Satori tertawa.

Lalu, Minggu ini, ketika kami jalan-jalan ke Pasar Badung, Bani juga dengan pedenya mulai motret-motret lagi. Objeknya macam-macam. Anak pengemis, pedagang sayur, penjual daging, dan seterusnya. Hasilnya buram. Tapi, setidaknya Bani sudah berani motret di tempat umum.

Hasil belakangan yang penting mental sudah juara. Hihihi..

 

Tetaplah Menjadi Matahari Kami, Bani dan Satori

Hari ini mungkin mewakili perjalanan kami.

Pukul 8 pagi Bunda duluan keluar. Dia liputan tentang anak-anak autis di wantilan DPRD Bali. Aku giliran momong Satori, yang kini berumur enam bulan. Karena hari Minggu, maka Bani juga di rumah. Libur sekolah. Pengasuh keduanya tak masuk.

Sekitar pukul 9.30 Bunda datang. Sekarang gantian. Dia yang momong, aku yang keluar rumah untuk berbagi pengalaman meliput isu HIV & AIDS di lokakarya Komunitas Jurnalis Peduli AIDS.

Selesai kasih pelatihan, aku ambil kue ulang tahun dan beli kado. Begitu sampai rumah, sekitar pukul 1 siang, giliran Bunda yang keluar untuk beli kado buat Bani. Aku yang kini di rumah jagain Bani dan Satori.

Pukul 3.30 sore, ketika Bani sudah selesai tidur siang, pesta kecil di rumah kami pun mulai, Anak-anak tetangga berkumpul di perpustakaan. Bani meniup lilin di kue ulang tahunnya. Aku dan Bunda memberikan kado untuknya. Sederhana. Buku dan jaket.

Sesederhana itulah kami selama ini mengisi hari-hari hingga Bani berusia enam tahun dan Satori berusia enam bulan. Kami bergantian berbagi peran demi Bani dan Satori.

Sejak Bani lahir enam tahun lalu, kami ingin sebisa mungkin mengasuh sendiri anak-anak kami. Tak ada campur tangan kedua orang tua kami, enaknya karena kami sudah tinggal terpisah dari orang tua, ataupun dari orang lain.

Salah satu pilihan kemudian adalah dengan bekerja paruh waktu ataupun menulis lepas. Dengan cara itu, kami merasa bisa lebih banyak waktu untuk Bani dan Satori. Memang belum seratus persen, karena kami juga mempekerjakan pengasuh pada hari kerja atau ketika kami harus keluar rumah bersama saat akhir pekan, namun  setidaknya anak-anak kami bisa punya waktu lebih banyak dengan kami.

Dan, begitulah kami saling mengisi bersama Bani & Satori. Tak terasa Bani, anak pertama kami, sudah enam tahun saat ini. Sementara itu Satori sudah enam bulan per 10 September lalu. Mereka tumbuh baik. Tak hanya sehat tapi juga, menurut kami, sesuai harapan. Mereka anak-anak yang membanggakan.

Maka, perayaan enam tahun Bani dan enam bulan Satori hari ini adalah hadiah bagi kami. Hadiah yang selalu kami sirami dengan cinta dan cita-cita kami. Terima kasih selalu menjadi matahari dan matahati bagi kami, Bani dan Satori..

Merayakan Sunatnya Bani dan Aqiqah Satori

Kami setengah putus asa. Hampir saja membatalkannya.

Bani menangis sampai meronta-ronta. Padahal dia sudah telentang di kasur serta membuka sarung dan celana. Dia siap disunat.

Kesiapan itu pun dia katakan lagi ketika tukang sunat tiba di rumah. “Bani sudah siap?” tanya tukang tersebut. “Iya. Siap,” jawab Bani. Aku sama sekali tak melihat rasa gentar atau takut di balik omongan Bani.

Keinginan untuk sunat itu memang datang dari dia sendiri. Meski umurnya baru 5,5 tahun, baru mau masuk SD, dia sudah minta untuk disunat. Padahal, biasanya sih sunat untuk anak-anak berusia sekitar 10 tahun. Aku dulu malah ketika lulus SD.

Kami tak tahu kenapa Bani sudah minta. Asumsi kami sih karena dia pernah melihatnya di film kartun Ipin & Upin. Karena dia terus minta ya kami dengan senang hati menerimanya. Maka, kami pun merencanakannya. Sunat akan dilaksanakan Kamis, 21 Juni 2012.

Tapi, begitulah. Ketika akhirnya sudah dibius tukang sunat, Bani baru merasakan kesakitan. Dia menangis. Meskipun sudah dirayu dan ditenangkan, dia tetap menangis keras. Tukang sunat yang sudah siap pun malah sampai berhenti dulu.

Sekitar 20 menit merayu, kami tak berhasil. Maka, kami pun agak memaksa. Aku dan Bunda memegang tangan dan kaki Bani ketika tukang menyunatnya. Ajaibnya, dia kemudian malah diam pelan-pelan.

Dan, sunat pun berhasil dilakukan.

Tak perlu waktu lama karena setelah itu dia main iPod ketika tukang sunat merapikan jahitan usai sunat.

“Gimana rasanya sunat, Bani?” tanyaku.

“Sakit. Kayak digigit macan,” jawabnya santai.

Kemarin, dua hari setelah sunat, kami pun mengadakan syukuran. Nebeng aqiqah adiknya, Satori. Jadi, resmilah sudah. Kami sudah melaksanakan salah satu kewajiban sebagai orang tua bagi mereka.

Biar ada gunanya tulisan ini, berikut tiga pilihan tempat sunat jika mau sunat di Denpasar.

Rumah Sunat
Jl Ceningan Sari Sesetan Denpasar Bali
Telp. 0361-721518, 0361-7442812, 08174700997
Biaya sunat sekitar Rp 550.000. Tidak memenuhi panggilan.

Susanto
Telp. 081338362166
Tarif Rp 350.000. Bisa dipanggil ke rumah.

Pondok Khitan Bali
Jl. Raya Kuta, Denpasar
Telp. 0361-758033
Biaya sunat sekitar Rp 600.000. Memenuhi panggilan ke rumah.

Ketiga dokter atau tukang sunat tersebut bisa melakukan semua metode sunat. Sebaiknya konsultasi dengan dokter atau tukang sunatnya. Kalau aku sih merasa cocok dengan tukang sunat Susanto. Meskipun masih muda, dia memberikan banyak penjelasan yang membuat persiapan terasa lebih nyaman dan menyenangkan.

Maka, Biarkan Balian yang Menyembuhkan

Begitu perban itu dibuka, aku lega tak terkira.

Setelah dua bulan membalut tangan kiri Bani, akhirnya perban itu dibuka juga Sabtu tiga hari lalu. Maka, aku merasakan beban amat besar itu kini hilang. Lega banget rasanya.

Hari ini persis genap dua bulan lalu Bani jatuh. Belum pasti bagaimana kronologisnya. Dia tak juga mau menceritakan kejadian itu.

Waktu itu Kamis malam sekitar pukul 7.30 Wita. Dia sedang bermain dengan temannya, Putu Devita, di ruang tamu. Sejak awal aku sudah was-was lihat mereka berlarian di dalam rumah. Firasatku tak enak. Kalau main sama Devita, Bani memang agak agresif. Padahal kalau sama anak lain, dia kalem. Jarang jingkrak-jingkrak.

Aku sambil ngetik ketika melihat mereka main. Setelah bolak-balik aku peringatkan, mereka akhirnya mau diam. Keduanya duduk di kursi sambil nonton televisi. Aku lalu masuk kamar untuk melihat anak kedua kami, Satori, yang saat itu baru berusia lima hari.

Pas aku di kamar, tiba-tiba terdengar suara gedebuk dari ruang tamu. Aku keluar. Bani sudah terjatuh di lantai. Aku pikir jatuh biasa. Ternyata tidak. Dia menangis keras sekali, sesuatu yang jarang dia lakukan.

Aku lihat tangan kirinya tertindih badannya sendiri. Ya, Ampun. Tangan itu terkulai seperti tanpa tulang. Aku antara pengen marah ke Bani, karena dari tadi sudah peringatkan agar tak lari-lari, dan takut karena lihat tangannya terkulai.

Dengan panik, aku membawanya ke Rumah Sakit Wangaya, Denpasar. Aku naik motor dan Bani di belakang bersama Risma, anak tetangga.

Karena berpikir bahwa rumah punya pemerintah lebih lengkap, maka kami memilih rumah sakit ini daripada ke RS Bhakti Rahayu yang sebenarnya lebih dekat dengan rumah. Ternyata pikiran itu salah.

Proses di RS Wangaya ini, bagiku amat lambat. Padahal kami di Unit Gawat Darurat (UGD). Kepala dokter yang tugas di UGD malam itu amat ramah. Dia cukup bisa menenangkan di tengah kepanikanku.

Tapi, secara umum pelayanan RS Wangaya malam itu tetap menyebalkan. Daftar. Menunggu. Lalu periksa. Menunggu lagi. Terasa menyiksa karena menunggu tanpa kejelasan informasi. Menunggu apa? Berapa lama? Aku harus sering bolak-balik bertanya ke perawat.

Sambil menggendong Bani yang kesakitan aku juga membawanya ke tempat pemindaian (CT Scan). Hasilnya? Tulang Bani memang patah. Benar-benar patah. Bukan hanya terkilir.

Tapi tak ada tindakan apa pun untuk Bani. Satu-satunya tindakan dari perawat hanya dengan memasang kayu sebagai penyangga biar tangan Bani lurus. Sementara itu, selama sekitar tiga jam, dia berbaring di tempat tidur UGD sambil meringis kesakitan dan sesekali menangis.

Untungnya dia tangguh. Meski meringis kesakitan, dia masih sempat-sempatnya belajar baca tulisan-tulisan yang dia lihat. Misalnya, Unit Gawat Darurat di eja satu per satu U-N-I-T-UNIT. G-A-W-A-T-GAWAT. Dan seterusnya. “Darurat itu apa, Yah?” dia sempat-sempatnya masih bertanya meskipun sambil meringis kesakitan.

Karena ingin agar ada segera penanganan, maka aku minta agar malam itu juga ada tindakan kepada Bani. Terserah. Bisa pemasangan gips ataupun operasi. Ternyata tak bisa karena dokter bedahnya tidak ada. Dokter yang bertugas malam itu menyarankan agar aku ke RS Bhakti Rahayu.

Badah! Tahu begitu sejak awal saja aku ke sana.

Aku pun sepakat. Agar malam itu juga ada tindakan kepada Bani, maka kami memilih ke RS Bhakti Rahayu yang sebenarnya lebih dekat dengan rumah.

Sekitar pukul 11 malam kami tiba di rumah sakit swasta ini. Aku sempat emosi ketika daftar di sini. Petugas di loket pendaftaran bertanya apakah aku mau bayar dengan biaya sendiri atau pakai asuransi. Aku bilang dengan asuransi.

Bukannya segera mengurusi pendaftaran, petugas perempuan ini malah menelpon dulu entah ke mana untuk memeriksa apakah kartu asuransi Commonwealth-ku bisa dipakai atau tidak. “Mbak, urusan bayar itu belakangan. Ini urusi cucu saya dulu yang sudah kesakitan,” kata Pak Ngah, mertuaku.

Selesai daftar, kami kemudian ke ruang dokter jaga. Dokter perempuan ini memeriksa Bani sebentar. Setelah diskusi, dia sepakat untuk ambil tindakan. Bani akan digips malam itu juga. Pilihan lainnya adalah operasi. Aku menolak karena Bani masih kecil, 5,5 tahun. Tulangnya masih bisa pulih karena masih terus tumbuh.

Lalu kami pun menunggu. Selain menunggu dokter bedah datang, kami juga harus menunggu waktu agar tepat enam jam setelah makan terakhirnya Bani.

Dokter bedah datang. Kami berdiskusi. Si dokter menyarankan agar Bani dioperasi. Aku tak setuju. Tetap memilih agar digips saja. Tapi, apa pun tindakannya, ternyata Bani tetap harus masuk ruang operasi. Tiba-tiba aku takut sendiri membayangkan Bani masuk ruang operasi.

Tapi, begitulah adanya. Mau tak mau Bani harus masuk ruang operasi.

iPad
Inilah saat paling berat bagiku. Tak tega melihat dia masuk ruang operasi. Apalagi sebelum itu Bani harus ganti baju dengan pakaian khusus ruang operiasi. Dia tak mau menggantinya. Dua perawat, yang tentu saja tak kenal sifat Bani yang tak suka dipaksa, malah maksa Bani untuk ganti baju. Bani makin menangis meronta-ronta.

Susah payah aku merayu Bani. Dia akhirnya mau meski masih dengan sisa tangisnya. Namun, dia kemudian menangis lebih keras lagi ketika mau masuk ruang operasi. Dia minta ditemani. Aku, tentu saja, tak boleh masuk ruang operasi yang harus steril itu. Dia terus saja meronta-ronta. “Aku mau sama Ayah.. Aku mau sama Ayaaah..,” teriaknya sambil nangis.

Dua petugas laki-laki kemudian agak memaksa untuk mengambil Bani. Mereka membawanya masuk ruang operasi.

Aku keluar ruangan. Duduk. Menangis. Perasaanku campur aduk.

Sekitar satu jam kemudian, Bani selesai dipasangi gips di tangan kirinya. Aku sudah sempat pulang untuk mengambil perlengkapan buat menginap. Bani harus diopname satu malam.

Bani terlelap ketika aku melihatnya usai dipasangi gips. Mukanya sembab. Infus menempel di tangannya. Aku menciumnya. Menguatkan dia dalam lelapnya. Sekitar 10 menit menunggu, dia pun bangun. Kami kemudian membawanya ke kamar opname.

Ketika sudah beres di kamar, perawat sudah keluar, dan tinggal kami bertiga, aku, Bani, dan bapak mertua, dengan santainya Bani bertanya, “Ayah bawa iPad?” Aku tertawa. Anak ini. Sakit kayak begini kok ya bukannya nangis tapi malah tanya mainan.

Aku berikan iPod kepadanya. “Kalau iPad Bani tak bisa mainin. Berat,” kataku.

“Makasih, Ayah..” Dia minta diputarkan lagu Dialog Dini Hari dari iPod. Lalu, sambil sesekali mengerang kesakitan dia main game di iPod sambil dengerin lagu.

Sepanjang malam dia tak terlalu rewel. Hanya beberapa kali bangun dan meringis kesakitan. Tak banyak yang bisa aku lakukan selain memeluk dan menguatkannya.

Esok pagi, sekitar pukul 10, kami pun diperbolehkan pulang setelah dokter memeriksanya lagi. Aku lega. Senang karena salah satu bagian terberat itu telah lewat. Aku bisa merawat Bani di rumah sambil tetap mengurusi anak kedua yang baru lahir.

Geregetan
Aku pikir setelah digips itu kemudian beres. Ternyata tidak juga. Usai digips, tangan Bani terlihat membengkak. Aku yakin rasanya sakit. Buktinya dia makin sering menangis sambil bilang, “Aduuuh. Sakit sekali nok..”

Tiap kena senggol sedikit saja, dia akan kesakitan. Aku tak tega melihatnya.

Empat hari kemudian, sesuai saran dokter bedahnya, kami periksa ke dokter tersebut. Salah satu masalah yang aku sampaikan adalah soal pembengkakan tersebut. Tanpa diskusi terlebih dulu, dokter kemudian sedikit membuka gips yang di bagian tangan.

Ada bekas-bekas luka di bagian bekas gips tersebut. Sepertinya sih karena pemasangan gips yang memang sangat kuat.

Bani mengaku tak terlalu sakit lagi setelah gips tersebut sedikit dibuka. Setelah itu, tangannya juga tak lagi bengkak. Aku senang.

Sekitar seminggu kemudian kami kembali periksa rutin ke dokter. Kali ini dengan membawa hasil rontgen. Ada tulang yang agak renggang padahal sebelumnya sudah terlihat tersambung setelah digips.

“Kalau begini berarti harus digips lagi. Biar tidak ada tulang yang meleset,” begitu kata dokter dengan santainya setelah melihat hasil rontgen tersebut. Aku tak menangkap nada menyesal atau empati dari kata-katanya.

“Apakah tak ada alternatif lain?” tanyaku.

“Ada. Dipasang pen. Jadi lebih pasti. Tulangnya akan terpasang dengan bagus. Kalau digips kan masih ada kemungkinan tulangnya tidak terpasang dengan bagus lagi,” jawabnya.

Oh God!! Santai benar dokter ini bilang. Dia yang dulu memasan gips. Dia yang melepaskan sebagian gips. Lalu, sekarang dia sendiri yang bilang Bani harus pasang gips ulang atau malah operasi. Dokter macam apa ini?

Aku tak mau ambil keputusan malam itu. Aku geregetan setengah mati. Masih merasa tidak terima dengan perlakuan dan kemudian saran dari dokter.

Esok paginya aku telepon lagi dokter tersebut untuk memastikan. Sarannya tetap sama. Kalau tak pasang gips lagi ya operasi. Biayanya tetap sama dengan pemasangan gips sebelumnya, Rp 7,8 juta termasuk obat dan opname. Kalau operasi pasti lebih mahal.

Maka, aku putuskan untuk tak lagi membawa Bani periksa ke dokter tersebut. Dua alasannya, biaya yang mahal dan tidak tega melihat Bani masuk ruang operasi lagi. Dia pasti trauma.

Kami kemudian memilih ke pijat tradisional, seperti disarankan kakak ipar, kakak kandung, ataupun mertua.

Salah satu ponakan kami sebelumnya juga pernah patah tulang kakinya. Namun, dia dipijat di tukang pijat tradisional alias balian. Hasilnya, dia sembuh total. Kakinya pulih seperti sedia kala. Padahal, kata kakak ipar, patahnya lebih parah dibanding Bani.

Digergaji
Maka, kami pun memulai terapi baru, pijat di balian. Kunjungan pertama, aku dan Bani sama bapak mertua dan kakak ipar. Mereka yang membawa sesari, semacam persembahan terima kasih, untuk tukang pijat tersebut. Keduanya pula yang menerangkan maksud kami ke sana.

Tempat praktik sekaligus rumah tukang pijat yang akrab dipanggil Pak Mangku ini di Jalan Antasura, Denpasar Utara. Ketika kami ke sana Minggu pagi itu ada tiga pasien lain. Mereka dari luar Denpasar. Rata-rata sih hanya pijat. Beda dengan Bani yang sampai patah tulang.

Pak Mangku terlihat agak kaget ketika melihat kondisi tangan Bani yang sudah digips. “Agak susah membukanya,” katanya. Ternyata benar. Gips dari bahan serupa beton itu amat susah dibuka. Awalnya dia pakai gunting biasa untuk membukanya. Susah.

Karena sehari-hari lebih banyak memijat, Pak Mangku tak menyiapkan peralatan khusus bagi kasus patah tulang seperti ini. Dia menggunakan peralatan seadanya yang dia punya. Apa saja. Salah satunya adalah gergaji besi. Ya. Gergaji yang biasa dipakai untuk memotong besi itu. Inilah yang kemudian dia gunakan untuk membuka gips di tangan Bani.

Bani telentang. Dia menangis kesakitan. Aku memeluknya dari sisi kanan. Sementara itu Pak Mangku di sisi kirinya, menggergaji gips tersebut. Aku antara kasihan melihat Bani dan ngeri melihat gergaji tersebut.

Sekitar satu jam, Pak Mangku pun bisa membuka gips tersebut. Aku tak menyangka kalau dia akhirnya bisa juga membukanya.

Begitu tak pakai gips, tangan Bani terlihat pucat dan lemah. Seperti tak punya tulang. Pak Mangku mengoleskan minyak pijat dan mengurut tangan tersebut. Bani tak terlalu kesakitan. Dia masih dengan cuek sesekali main game di iPod.

Pak Mangku memeriksa bagian mana yang patah. Dia juga melihat rontgen yang kami bawa. Dia kemudian memijatnya lagi, seperti menata kembali biar tulang tersebut sejajar satu sama lain.

Dia menggunakan gips tradisional di tangan Bani. Bahannya dari kapas dengan cairan putih telur sebagai perekat. “Putih telurnya akan meresap ke tulang dan menyambungnya kembali,” ujar Pak Mangku. Dua bilah bambu sepanjang sekitar 5 cm menyangga gips ini.

Terakhir, dia memasang perban di atas gips tersebut. Aku lebih senang melihat Bani seperti ini. Dia tak perlu lagi menyangga gips yang sebelumnya membungkus seluruh lengannya dari ujung jari hingga bahu.

Setelah itu, hampir setiap minggu atau dua minggu kami memeriksakan tangan Bani ke Pak Mangku. Polanya selalu sama. Dipijat untuk kemudian dipasangi lagi gips dengan bahan yang sama.

Tiap kali periksa, kami tak perlu bayar layaknya kepada dokter. Balian tak boleh memasang tarif. Dia harus menerima berapa pun pemberian “pasien”. Bagi mereka, pekerjaan memijat ini lebih merupakan bhakti pada Yang Kuasa yang telah memberikannya kemampuan untuk menyembuhkan orang lain.

Jadi ya pasiennya yang sadar diri. Biasanya pasien akan menghaturkan banten dengan uang di atasnya. Besarnya, sekali lagi terserah. Yang repot tuh aku. Karena bukan Hindu, jadi tak mungkin aku pura-pura menghaturkan sesaji dengan sesari di atasnya. Solusinya? Aku bawa peralatan, seperti perban dan telur, lalu memasukkan uang di dalamnya.

Begitulah kemudian proses yang kami jalani selama sekitar 1,5 bulan. Periksa rutin. Ganti perban. Periksa dengan CT Scan.

Hasilnya, ternyata tulang Bani terlihat sudah lurus. Memang masih ada sedikit renggang tapi posisinya sudah sejajar. Jadi, asumsiku, kalau toh tumbuh, dia tak akan melenceng. Dia akan nyambung seiring waktu.

Hingga pada pemeriksaan keempat, Pak Mangku pun bilang, “Sudah. Tulangnya sudah bagus. Sudah nyambung.” Aku diajak memeriksa. Aku meraba tangan kiri Bani. “Tidak ada benjolan kan? Itu tandanya sudah lurus,” katanya.

Aku cek berulang-ulang. Tak ada benjolan. Bani sama sekali tak kesakitan. Dia juga makin bisa dan biasa memutar-mutar tangan tersebut. Dia sembuh. Dan itu karena balian, bukan dokter bedah.

Begitulah. Tukang pijat tradisional yang semula aku anggap sebelah mata, yang justru bisa menyembuhkan Bani. Bukan dokter bedah dengan tarif mahal itu. Sama sekali bukan..

Surat Cinta, eh, Protes dari Bani

Sepucuk surat protes menyambutku begitu sampai rumah.

Bani memberikan surat itu begitu aku membuka pintu rumah sekitar pukul 8.30 malam pas baru pulang kerja. Hari ini tak hanya jam kerja seperti biasa, pukul 8 pagi sampai 5 sore, aku juga ada wawancara untuk riset soal jurnalisme warga di Bali.

Semula, narasumber dari Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) Bali tersebut bilang bisa wawancara pukul 4.30 Wita. Eh, ndilalah ternyata dia molor sampai sekitar pukul 6 petang baru bisa. Apa boleh buat. Daripada batal.

Sekitar pukul 8 wawancara selesai. Aku langsung kabur. Pulang dengan buru-buru. Ternyata begitu sampai rumah, Bani sudah menunggu dengan suratnya.

“Ayah jangan pulang jam 10. Harus pulang jam 7 ya. Dari Bani”

Ah, anak pertama kami ternyata sudah bisa protes lewat tulisan. Korban pertamanya, ayah sendiri. Hehehe..

Tentu saja ini protes yang menyenangkan. Bani yang dua bulan lagi akan lulus TK sudah bisa berekspresi lewat tulisan. Seperti biasa. Tak ada yang lebih sempurna dibandingkan anak sendiri. Begitu pula dengan Bani.

Tapi, ini sebenarnya bukan surat pertamanya. Tiga hari sebelumnya, pas malam Minggu, dia menulis surat cinta untuk kami bertiga, aku, Bunda, dan adiknya, Satori. Dia menulis satu per satu di lembaran kertas dari bloknote kecilnya.

Isinya kurang lebih sama, “untuk Bunda yang cantik”, “untuk Ayah yang ganteng”, dan “untuk adik Satori yang gagah.” Dia dengan telaten dan serius menulisnya.

Kebiasaan menulis itu, seingatku, mulai sejak dia ikut les baca tulis sekitar empat bulan lalu. Namun, gara-gara dia jatuh sampai patah tulang tangannya, les itu berhenti. Toh, dia tetap rajin membaca dan menulis.

Gaya bacanya tak jauh beda dengan ayahnya. Tidur sambil rebahan. Bisa di mana saja, kasur, lantai, kursi. Buku yang dia baca biasanya komik atau buku cerita. Meski masih mengeja dan terbata-bata, dia asyik saja bacanya.

Kalau nulis, tak cuma di buku pelajaran, sih baru dua minggu terakhir. Tulisannya rata-rata itu tadi surat cinta untuk ayah, bunda, dan adiknya. :)

Ketika makin rajin menulis dan baca, Bani tak melupakan kebiasaan lama, nonton TV dan main game. Kebiasaanya malah bangun pukul 5.30 atau 06.00, mendahului ayah bundanya. Lalu, dengan manis nonton kartun pagi-pagi.

Tak apa sih. Toh, kalau sudah pukul 7 dia akan beranjak sendiri untuk mandi dan berangkat sekolah. Dia makin mandiri.