Tag Archives: Bani

Mengajarkan Anak untuk Mandiri sejak Dini

Hidup tidaklah bagi kami ketika masih remaja. Sebagai anak-anak dari keluarga miskin, kami terbiasa hidup melarat dari kecil. Jangankan uang jajan, untuk kebutuhan sehari-hari pun masih kurang. Namun, kemiskinan justru menempa kami. Sejak masih anak-anak, kami harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan sekolah ataupun mendapatkan uang jajan. Ada yang jualan es. Ada yang kerja di Continue Reading

Surealisme Cerita Bani untuk Adiknya

Mohon maaf kalau telat dan hanya ikut-ikutan. Aku pun akhirnya jadi korban euforia Eka Kurniawan juga. Nama Eka banyak disebut akhir-akhir ini setelah dua karyanya diterbitkan di Amerika Serikat. Beberapa teman di media sosial makin sering menyebut namanya. Begitu pula dengan media arus utama. Dia disejajarkan dengan Pramoedya Ananta Toer sebagai pembawa gaya baru dalam Continue Reading

Kicau #bani

Untuk bunda

Ceritcropped-bunda-bani-blog.jpga ulang tahun yang terlupakan

Hari Selasa sore itu sedang mandi. Oh ya, namaku Bani. Aku cepat sekali lupa ulang tahun orang tuaku. Aku Cuma ingat ulang tahunku saja dan kepentinganku. Seperti PR, sekolah, dan kebutuhan manusia (maksudnya pokok).

Ya, manusia itu kan juga suka lupa. Tapi cerita ini baru permulaan saja. Seperti bumi.

*banyak gambar, globe, kue ultah, lilin*

(page 1 of 3)

Episode dihipnotis

Saat hari Senin aku sedang di sekolah. Aku piket. Saat sudah selesai, aku melihat bundaku menunggu lama sekali. Saat pulang, aku mandi dan bundaku bilang, “Bani, ingat ulang tahun bunda?” Aku bilang aku tidak tahu.

Bundaku pura-pura menangis. “Teganya bani.” Bundaku pergi ke kamar tidurnya sambil megang gtab-nya itu.

Aku juga pergi ke kamar. Aku merasa dihipnotis sama bunda. Aku menggambar ini biar terasa dihipnotis.

*gambar wajah sedih, mata dihipnotis*

(page 2 of 3)

Episode the end

Saat aku merasa dihipnotis, aku pergi. Saat bangun aku ternyata demam. Aku pergi ke kamarnya bunda.

Kata bunda, “Bani mau istirahat atau sekolah?” Aku teriak, “sekolah.” Tapi aku harus minum obat dan teh. Tetapi di rumah aku malah tambah sakit.

Dan aku diam di kamarku dan mengambil setumpuk kertas HVS. Menulis cerita sebagai hadiah untuk bunda.

Tamat.

(page 3 of 3)

Ketika Wayang Menyerbu Kelas Bani


Wayang raksasa itu mau mengacaukan ulang tahun Bani.

Dia datang untuk mengganggu Bani dan teman-temannya. “Mana yang namanya Bani. Kamu tidak boleh merayakan ulang tahun di sini,” kurang lebih begitulah si raksasa berkata.

Angga, anggota Teater Kini Berser (Tekiber), memainkan wayang tersebut di depan anak-anak Kelas II di tempat sekolah Bani. Anak-anak di kelas, sekitar 20 orang, duduk lesehan melihat permainan tersebut.

Lalu, masuklah wayang penyelamat. Ini si Indra Gila, motor Tekiber, yang membawa. Singkat kata, wayang bertarung. Salah satu rahasia untuk mengalahkan wayang raksasa adalah… menyanyi selamat ulang tahun dan tiup lilin.

Begitulah Bani merayakan ulang tahunnya hari ini. Dengan nanggap wayang di kelas. Padahal teman-temannya biasa meryakan ultah di sekolah dengan pahlawan-pahlawan ala Amerika seperti Captain America, Superman, dan seterusnya. Kami pengen hal yang berbeda sekaligus mengenalkan budaya sendiri.

Dari undangan ultah pun sudah dibuat khas wayang. Beruntunglah kami punya desainer andalan yang bisa diminta gratisan, Sanjay. Beruntung pula kami punya teman anak-anak teater seperti Indra.

Ternyata seru juga. Indra dan Angga, meskipun datangnya telat dan membuat kami deg-degan, ternyata bisa membuat anak-anak SD itu senang. Mereka ikut tertawa dan serius menonton wayang.

Jadi, besok-besok kalau mau nanggap wayang di acara ulang tahun anak, kontak saja Indra. Twitternya di @IndraParusha.

Demikian tulisan ini dibuat sebagai ucapan terima kasih kepada Indra dan Angga yang rela ditanggap hanya dengan bayaran terima kasih dan traktiran es krim. Hihihi..

Btw, selamat ulang tahun Bani. Tetaplah jadi anak yang keren..

Pertemuan Rahasia Bani dan Teman-temannya

“Ayah, aku mimpi buruk sekali tadi.”

Bani memulai obrolan pagi ini. Kami duduk di sofa ruang tamu sekitar pukul 6 pagi. Dia baru bangun tidur, cuci muka, lalu duduk di sampingku. Aku lagi baca koran.

“Mimpi apa?” tanyaku.

“Mimpi mau ada pembangunan jalan tol di Subak Dalem,” jawabnya merujuk jalan di mana kami tinggal di daerah Denpasar Utara.

“Jalan tol kan bagus? Kok dibilang buruk?”

“Enggaaaak. Soalnya kan dia mau merobohkan rumah-rumah kita. Semuanya dirobohin. Yang bangun jalan tol bawa mobil besar-besar untuk merobohkan rumah kita. Wih, sampai habis semua, Yah…”

Aku menyimak ceritanya sambil tetap memegang koran. Bani melanjutkan sambil duduk bersandar.

“Kasihan sekali, Yah. Kita sampai harus bawa alat kemah ke mana-mana. Kita tidur di tenda. Aku terus ngajak NakNik (nama komunitas anak-anak di gang kami) demo. Teman-teman di sekolah dan miss-miss (sebutan untuk gurunya di sekolah) juga ikut demo.”

“Demo di mana?” aku bertanya.

“Di jalan tolnya.”

“Terus?”

“Iiih, kotor sekali di bawah jalan tolnya. Banyak lumpur. Hitam. Di sana ada Handrew (anak di gang). Habis itu aku sama Handrew ke rumah Komang (nama anak lain di gang). Ternyata di sana ada Dika, ada Wira, ada Yoga. Kami bikin pertemuan rahasia..”

“Wih. Kok seru sekali. Kenapa rahasia?”

“Iya. Soale kami mau bikin demo lagi menolak jalan tolnya. Pas kami rapat rahasia, ada suara, “Bangun, bangun..” Terus aku bangun tidur. Ternyata aku mimpi, Yah. Kirain beneran, lho..”

Begitulah cerita mimpi buruk Bani, anak pertama kami yang belum genap tujuh tahun dan baru kelas 1 SD. Dia menceritakan dengan detail tema demonya yang memang seru. Seru sekali..