Tag Archives: bali tolak reklamasi

Pemuda Lembongan dan Geriana Kauh Terus Gelorakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Ketika kelompok muda tak lelah suarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa dan minta Gubernur Bali tak menerbitkan rekomendasi bagi TWBI.

Pemuda Giriana Kauh, Karangasem kembali ke desa setelah status Gunung Agung turun dan menaikkan baliho tolak reklamasi.

Setelah kembali ke desa karena penurunan aktivitas Gunung Agung dari status awas menjadi siaga, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Batu Lumbang Community (BLC) Banjar Geriana Kauh Desa Selat Duda Utara, Kecamatan Selat Duda, Karangasem, pada 11 November 2017 mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa di perbatasan Desa.

I Komang Suparta, salah seorang pemuda yang ikut serta dalam pendirian baliho tersebut, menyampaikan bahwa walaupun mereka berada di daerah pegunungan, mereka juga turut menyuarakan penolakan reklamasi karena rencana reklamasi Teluk Benoa tidak saja akan merusak daerah pesisir di Teluk Benoa saja namun memberikan dampak negatif pada Pulau Bali secara keseluruhan.

Sedangkan Ketua Batu Lumbang Comunity (BLC) I Ketut Darmayasa, menjelaskan kegiatan yang mereka lakukan sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap alam dan sosial budaya Pulau Bali ke depannya serta tetap waspada terhadap manuver  pro reklamasi. “Inilah bentuk kepedulian kami dari pegunungan, di tengah-tengah kesiagaan terhadap aktivitas Gunung Agung, kita harus tetap waspada terhadap manuver-manuver mereka serta kami juga meminta agar Gubernur Bali tidak menerbitkan surat rekomendasi untuk TWBI,” jelasnya lebih lanjut.

Gerakan Lembongan

Sekaa Teruna Karya Bhakti di Lembongan dalam HUT

Memperingati HUT ke-37 pada tanggal 10 November 2017, para pemuda adat yang tergabung di dalam STT. Karya Bhakti, Banjar Kaja Desa Lembongan menggelar pementasan kesenian tradisional dan panggung musik.

Banjar Kaja, Desa Lembongan teletak di Pulau Nusa Lembongan yang berada di gugusan kepulauan Nusa Penida. Secara administrasi, Pulau Lembongan terletak di Kabupaten Klungkung, Bali. Peringatan ulang tahun juga bertepatan dengan pelantikan pengurus baru STT. Karya Bakti yang dihadiri oleh seluruh perangkat desa dan termasuk juga Bupati Klungkung.

Di lokasi acara peringatan ulang tahun sekaligus pelantikan pengurus baru tersebut, atribut penolakan reklamasi Teluk Benoa bertebaran. Hal tersebut tidak lepas dari sikap mereka yang hingga saat ini menolak reklamasi Teluk Benoa.

Ketua STT. Karya Bhakti I Ketut Miskantara, menjelaskan, pemasangan atribut-atribut penolakan reklamasi Teluk Benoa sebagai pesan bahwa warga masyarakat Banjar Kaja tetap konsisten dalam menolak reklamasi Teluk Benoa. Dalam kesempatan itu, ia  pun mendesak pemerintah daerah Bali dalam hal ini Gubernur Bali untuk tidak memberikan rekomendasi kepada PT. TWBI. “Kami, para pemuda Lembongan tetap konsisten dalam perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa dan meminta Bapak Gubernur tidak terbitkan rekomendasi kepada TWBI,” tegasnya.

Penolakan reklamasi Teluk Benoa oleh para pemuda juga mendapatkan dukungan penuh dari Kelian Dinas Banjar Kaja. Kelian  mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan para pemudanya.

Menurutnya dalam menghadapi kemajuan yang terjadi di Lembongan para pemuda dan pemudi tetap melestarikan seni budaya. Ia bahkan menyampaikan kebanggaannya terhadap para pemuda atas konsistensinya dalam perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa. “Paruman Banjar telah secara resmi menyatakan tegas menolak reklamasi Teluk Benoa sehingga kita wajib melaksanakannya secara konsisten,”tegas I Ketut Saputra.

Selain dimeriahkan dengan atribut penolakan reklamasi Teluk Benoa, dihadapan para undangan, lagu Bali Tolak Reklamasi yang menjadi simbol perjuangan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa juga dikumandangkan oleh musisi yang tergabung di dalam Muara Senja Band.

The post Pemuda Lembongan dan Geriana Kauh Terus Gelorakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa appeared first on BaleBengong.

Rakyat Bali Desak Pastika Tidak Terbitkan Rekomendasi

Penampilan SID dalam aksi tolak reklamasi Teluk Benoa pada 24 Oktober 2017. Foto ForBALI.

Karena Gubernur Bali juga punya peran dalam membatalkan rencana reklamasi.

Saat masyarakat Bali masih fokus bersolidaritas pada masyarakat yang terkena efek peningkatan aktivitas Gunung Agung, beredar surat permohonan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa. Surat dari pihak investor PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) itu ditujukan kepada Gubernur Bali. Investor meminta agar Gubernur Bali memberikan rekomendasi izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Menyikapi hal itu, ribuan massa aksi dari Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa bersama Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali mendatangi kantor Gubernur Bali pada Selasa, 24 Oktober 2017. Aksi dilakukan untuk mendesak Gubernur Bali agar tidak menerbitkan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Koordinator ForBALI, Wayan Gendo Suardana menjelaskan jika aksi tersebut merupakan salah satu pemberitahuan kepada rakyat Bali bahwa persoalan reklamasi Teluk Benoa, bukan semata-mata urusan pusat, tetapi juga merupakan urusan Gubernur Bali. Selama ini Gubernur Bali mengatakan bahwa urusan reklamasi adalah urusan pusat.

“Itu tidak benar. Sebab Gubernur Bali juga memiliki kewenangan, setidak-tidaknya untuk menerbitkan rekomendasi izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa”, ujarnya.

Gendo menjelaskan, untuk mengajukan izin pelaksanaan reklamasi, investor selain menyertakan izin lokasi dan izin lingkungan (AMDAL) dan berbagai persyaratan lainnya, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28/Permen-KP/2014 pasal 14 ayat (3) huruf j, pemrakarsa harus melengkapi persyaratan teknis yaitu harus mendapatkan rekomendasi dari Gubernur.

Dalam kasus reklamasi Teluk Benoa, PT. TWBI harus mendapatkan rekomendasi terlebih dahulu dari Gubernur Bali agar dapat mengajukan izin pelaksanaan reklamasi di Teluk Benoa. Fakta tersebut jelas menunjukan bahwa Gubernur Bali Made Mangku Pastika memiliki kewenangan dalam urusan reklamasi Teluk Benoa.

“Jika dia membantah bahwa kita selama ini mendemo Gubernur Bali Made mangku Pastika dan mengatakan bahwa kita demo salah alamat, maka itu merupakan kekeliruan terbesar dari Made Mangku Pastika, dari sekian banyak kekeliruan yang dia lakukan”, ujarnya.

Gendo menambahkan pada prinsipnya ForBALI akan mendesak Gubernur Bali agar menjadi gubernurnya rakyat yang juga bersikap menolak reklamasi dengan tidak menerbitkan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Sementara itu, Koordinator Pasubayan Desa Adat/Pakraman Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Wayan Swarsa turun ke jalan bersama rakyat dan dengan semangat yang sama untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Menurutnya aksi massa berulang-ulang kali menjadi salah satu cara warga adat dalam berjuang dan beraspirasi dalam memperjuangkan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

“Seperti kita merayakan hari raya keagamaan di jagat Bali ini. Sepuluh kali putaran hari raya Galungan telah kita lalui. Apakah ada yang berubah dalam memaknai itu semua? tentu saja tidak ada yang berubah,” katanya.

Menurut Swarsa, hal yang sama pula terjadi dalam perjuangan ini, ketika kita ingin memperjuangkan alam dari kerakusan. Untuk kesekian kalinya, dengan semangat yang sama dan di tempat yang sama masyarakat adat kembali turun ke jalan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Tidak ada istilah kita untuk menyerah atau mundur setapak pun untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Sebab konsistensi merupakan hal mutlak dalam mempertahankan adat Bali dan Teluk Benoa,” pungkasnya.

Aksi di depan kantor gubernur ini juga dimeriahkan oleh musisi Superman Is Dead (SID) yang selalu konsisten bersama rakyat untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Konsistensinya dalam menolak reklamasi ini menyebabkan SID izin konser musiknya di Bali selalu dipersulit.

Tidak hanya itu, SID mengecam segala tindakan yang dilakukan oleh penguasa dan aparat terhadap atribut perjuangan rakyat dalam menyampaikan aspirasi penolakan reklamasi Teluk Benoa. Banyak orang yang diintimidasi saat menggunakan kaos atau bendera ForBALI.

“Apabila SID manggung izinnya sering dipersulit, pemerintah dan aparat masih terkesan paranoid dalam menyingkapi aspirasi masyarakat terkait penolakan reklamasi,” pungkasnya.

Dalam aksi tersebut, peserta aksi juga membacakan peryantaan sikap.

1. Mendesak Gubernur Bali, Made Mangku Pastika untuk tidak mengeluarkan rekomendasi untuk Izin Pelaksanaan Reklamasi Teluk Benoa.

2. Menuntut Gubernur Bali dan DPRD Bali segera bersikap secara kelembagaan untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan meminta agar Perpres 51 tahun 2014 dibatalkan dengan cara bersurat kepada Presiden agar Presiden segera membatalkan Perpres Nomor 51 tahun 2014 dan mengembalikan kawasan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi.

3. Menuntut DPRD Bali segera menerbitkan rekomendasi kepada Gubernur Bali agar Gubernur Bali bersurat kepada Presiden untuk membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa sekaligus meminta Presiden membatalkan Perpres Nomor 51 Tahun 2014 sebagai pertanggungjawaban politik atas surat Gubernur Bali tanggal 23 Desember 2013 yang meminta pemerintah pusat mengubah kawasan konservasi Teluk Benoa menjadi kawasan pemanfaatan umum.

4. Meminta Presiden Joko Widodo untuk membatalkan Perpres 51 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden nomor 45 tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan SARBAGITA dengan memberlakukan kembali Perpres 45 tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan SARBAGITA. [b]

The post Rakyat Bali Desak Pastika Tidak Terbitkan Rekomendasi appeared first on BaleBengong.

Rakyat Bali Desak Pastika Tidak Terbitkan Rekomendasi

Penampilan SID dalam aksi tolak reklamasi Teluk Benoa pada 24 Oktober 2017. Foto ForBALI.

Karena Gubernur Bali juga punya peran dalam membatalkan rencana reklamasi.

Saat masyarakat Bali masih fokus bersolidaritas pada masyarakat yang terkena efek peningkatan aktivitas Gunung Agung, beredar surat permohonan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa. Surat dari pihak investor PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) itu ditujukan kepada Gubernur Bali. Investor meminta agar Gubernur Bali memberikan rekomendasi izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Menyikapi hal itu, ribuan massa aksi dari Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa bersama Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali mendatangi kantor Gubernur Bali pada Selasa, 24 Oktober 2017. Aksi dilakukan untuk mendesak Gubernur Bali agar tidak menerbitkan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Koordinator ForBALI, Wayan Gendo Suardana menjelaskan jika aksi tersebut merupakan salah satu pemberitahuan kepada rakyat Bali bahwa persoalan reklamasi Teluk Benoa, bukan semata-mata urusan pusat, tetapi juga merupakan urusan Gubernur Bali. Selama ini Gubernur Bali mengatakan bahwa urusan reklamasi adalah urusan pusat.

“Itu tidak benar. Sebab Gubernur Bali juga memiliki kewenangan, setidak-tidaknya untuk menerbitkan rekomendasi izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa”, ujarnya.

Gendo menjelaskan, untuk mengajukan izin pelaksanaan reklamasi, investor selain menyertakan izin lokasi dan izin lingkungan (AMDAL) dan berbagai persyaratan lainnya, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28/Permen-KP/2014 pasal 14 ayat (3) huruf j, pemrakarsa harus melengkapi persyaratan teknis yaitu harus mendapatkan rekomendasi dari Gubernur.

Dalam kasus reklamasi Teluk Benoa, PT. TWBI harus mendapatkan rekomendasi terlebih dahulu dari Gubernur Bali agar dapat mengajukan izin pelaksanaan reklamasi di Teluk Benoa. Fakta tersebut jelas menunjukan bahwa Gubernur Bali Made Mangku Pastika memiliki kewenangan dalam urusan reklamasi Teluk Benoa.

“Jika dia membantah bahwa kita selama ini mendemo Gubernur Bali Made mangku Pastika dan mengatakan bahwa kita demo salah alamat, maka itu merupakan kekeliruan terbesar dari Made Mangku Pastika, dari sekian banyak kekeliruan yang dia lakukan”, ujarnya.

Gendo menambahkan pada prinsipnya ForBALI akan mendesak Gubernur Bali agar menjadi gubernurnya rakyat yang juga bersikap menolak reklamasi dengan tidak menerbitkan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Sementara itu, Koordinator Pasubayan Desa Adat/Pakraman Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Wayan Swarsa turun ke jalan bersama rakyat dan dengan semangat yang sama untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Menurutnya aksi massa berulang-ulang kali menjadi salah satu cara warga adat dalam berjuang dan beraspirasi dalam memperjuangkan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

“Seperti kita merayakan hari raya keagamaan di jagat Bali ini. Sepuluh kali putaran hari raya Galungan telah kita lalui. Apakah ada yang berubah dalam memaknai itu semua? tentu saja tidak ada yang berubah,” katanya.

Menurut Swarsa, hal yang sama pula terjadi dalam perjuangan ini, ketika kita ingin memperjuangkan alam dari kerakusan. Untuk kesekian kalinya, dengan semangat yang sama dan di tempat yang sama masyarakat adat kembali turun ke jalan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Tidak ada istilah kita untuk menyerah atau mundur setapak pun untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Sebab konsistensi merupakan hal mutlak dalam mempertahankan adat Bali dan Teluk Benoa,” pungkasnya.

Aksi di depan kantor gubernur ini juga dimeriahkan oleh musisi Superman Is Dead (SID) yang selalu konsisten bersama rakyat untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Konsistensinya dalam menolak reklamasi ini menyebabkan SID izin konser musiknya di Bali selalu dipersulit.

Tidak hanya itu, SID mengecam segala tindakan yang dilakukan oleh penguasa dan aparat terhadap atribut perjuangan rakyat dalam menyampaikan aspirasi penolakan reklamasi Teluk Benoa. Banyak orang yang diintimidasi saat menggunakan kaos atau bendera ForBALI.

“Apabila SID manggung izinnya sering dipersulit, pemerintah dan aparat masih terkesan paranoid dalam menyingkapi aspirasi masyarakat terkait penolakan reklamasi,” pungkasnya.

Dalam aksi tersebut, peserta aksi juga membacakan peryantaan sikap.

1. Mendesak Gubernur Bali, Made Mangku Pastika untuk tidak mengeluarkan rekomendasi untuk Izin Pelaksanaan Reklamasi Teluk Benoa.

2. Menuntut Gubernur Bali dan DPRD Bali segera bersikap secara kelembagaan untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan meminta agar Perpres 51 tahun 2014 dibatalkan dengan cara bersurat kepada Presiden agar Presiden segera membatalkan Perpres Nomor 51 tahun 2014 dan mengembalikan kawasan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi.

3. Menuntut DPRD Bali segera menerbitkan rekomendasi kepada Gubernur Bali agar Gubernur Bali bersurat kepada Presiden untuk membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa sekaligus meminta Presiden membatalkan Perpres Nomor 51 Tahun 2014 sebagai pertanggungjawaban politik atas surat Gubernur Bali tanggal 23 Desember 2013 yang meminta pemerintah pusat mengubah kawasan konservasi Teluk Benoa menjadi kawasan pemanfaatan umum.

4. Meminta Presiden Joko Widodo untuk membatalkan Perpres 51 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden nomor 45 tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan SARBAGITA dengan memberlakukan kembali Perpres 45 tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan SARBAGITA. [b]

The post Rakyat Bali Desak Pastika Tidak Terbitkan Rekomendasi appeared first on BaleBengong.

Rakyat Bali Tantang Politisi yang Mengaku Tolak Reklamasi

Aksi Bali Tolak Reklamasi di depan kantor Gubernur Bali Juli 2017. Foto Anton Muhajir.

Menjelang Pilgub Bali, mendadak banyak politisi mengaku menolak reklamasi.

Tantangan kepada para bakal calon Gubernur Bali itu disampaikan secara terbuka di depan kantor Gubernur Bali pada Rabu, 26/7. Siang tadi Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) bersama Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa kembali melakukan aksi tolak reklamasi Teluk Benoa.

Massa berasal dari Desa Adat dan Komunitas terlibat dalam aksi yang dimulai sekitar pukul 14.30 Wita. Mereka berkumpul di parkir timur lapangan Renon dan melakukan pawai menuju Kantor Gubernur Bali.

Kendati bersamaan dengan banyaknya upacara pernikahan maupun pengabenan, massa aksi tetap tumpah ruah. Ribuan orang terlibat ikut aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa sudah beranjak meninggalkan tahun keempat dan memasuki tahun kelima. Sampai saat ini baik pihak Gubernur Bali maupun DPRD Bali tidak mengambil tindakan apapun untuk memperjuangkan aspirasi rakyatnya yang terus berjuang menuntut penghentian rencana reklamasi Teluk Benoa.

Di tengah ketidakjelasan sikap pemerintah daerah tersebut, tiba-tiba jelang pemilihan Gubernur Bali pada 2018 nanti, sejumlah politisi yang berambisi berkuasa tiba-tiba menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa.

Sikap dadakan para politisi yang mendadak tolak reklamasi tersebut oleh ForBALI dipandang sebagai sikap pragmatis para politisi. Mereka mengikuti nalar publik hanya untuk menaikkan elektabilitas mereka jelang pemilihan Gubernur Bali pada tahun 2018.

Wayan Gendo Suardana, Koordinator ForBALI, saat orasi di depan kantor Gubernur mengatakan politisi-politisi yang ikut dalam pemilihan politik kekuasaan, mau tidak mau, suka tidak suka harus ikut nalar publik menolak reklamasi Teluk Benoa untuk mendongkrak elektabilitasnya.

“Itulah yang menyebabkan beberapa politisi termasuk Wakil Gubernur Bali harus melempar isu bahwa mereka menolak reklamasi Teluk Benoa,” ujarnya.

Tuntutan salah satu peserta aksi Bali Tolak Reklamasi di depan kantor Gubernur Bali. Foto Anton Muhajir.

Gendo mengatakan bahwa Wakil Gubernur Bali, Bupati Tabanan dan para politisi yang menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa harus dipercaya karena itu fakta. Tetapi ia lebih percaya bahwa mereka benar-benar menolak reklamasi Teluk Benoa bukan hanya untuk kepentingan politik pragmatis jika mereka menggunakan kewenangannya untuk membantu rakyat menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Kalau hanya ngomong tolak reklamasi, kita tidak butuh omongan merek,” kata Gendo.

Menurutnya, yang kita butuhkan mereka sebagai pimpinan-pimpinan daerah adalah menggunakan kewenangannya untuk membantu rakyat menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka memegang kewenangan untuk bersurat kepada pemerintah pusat untuk membatalkan reklamasi Teluk Benoa termasuk mencabut Perpres Nomor 51 Tahun 2014.

Bendesa Adat Kuta I Wayan Swarsa juga mengatakan bahwa calon-calon pemimpin Bali yang menolak reklamasi Teluk Benoa adalah klaim semata. Koordinator Pasubayan tersebut mengatakan Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa tidak menggadaikan perjuangan penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa kepada pihak-pihak yang ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin bali.

“Sampai saat ini pasubayan tidak ada indikasi untuk berpihak kepada pihak-pihak yang mengklaim menolak reklamasi Teluk Benoa,” ujarnya.

Desakan agar para politisi yang mendadak menolak reklamasi Teluk Benoa melakukan tindakan nyata dalam menolak reklamasi Teluk Benoa juga disampaikan Ida Bagus Ketut Purbanegara.

Sebagai Bendesa Adat Buduk tersebut dalam orasinya, mengatakan perjuangan Pasubayan hanya satu dan tidak ingin dibawa ke ranah politik kekuasaan. Terhadap orang-orang yang tiba-tiba menolak rencana reklamasi Teluk Benoa, Purbanegara meminta kepada massa aksi untuk berikan senyum kepada pihak-pihak tersebut.

“Jangan ganggu gerakan kami, jangan tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan, jika benar menolak reklamasi Teluk Benoa gunakan kewenangannya dan lakukan sesuatu,” tantangnya.

Aksi menolak rencana reklamasi Teluk Benoa kali ini oleh grup musik beraliran rap, Madness On Tha Block. Setelah penampilan dari Madness On Tha Block, massa berbaris menuju parkir timur lapangan Renon, dan membubarkan diri dengan tertib. [b]

The post Rakyat Bali Tantang Politisi yang Mengaku Tolak Reklamasi appeared first on BaleBengong.

Rumus Konsistensi dalam Gerakan Bali Tolak Reklamasi

Deklarasi tolak reklamasi di Bali selalu diikuti puluhan ribu peserta. Foto Arimbawa Ndud.

BTR adalah gerakan yang belum pernah ada di belahan dunia mana pun.

Salah seorang teman dari luar daerah berseloroh demikian. Ungkapan hiperbolik itu datang tentu setelah dia mempelajari tentang gerakan dan juga melihat saya sering ikut aksi.

Dia mengatakan demikian karena gerakan Bali Tolak Reklamasi (BTR), di bawah bendera Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) dan Pasubayan Desa Adat Tolak Reklamasi, bisa bertahan selama empat tahun, cenderung membesar dan yang unik, self funded.

Saya sendiri mengamini pernyataan teman itu. Ada beberapa hal yang bisa saya amati terkait pernyataan teman saya itu. Bahwa dalam gerakan BTR ada pertemanan, solidaritas, dan kreativitas.

Dalam gerakan BTR ada pertemanan, solidaritas, dan kreativitas.

Pertemanan
Sebelum saya ikut di gerakan BTR, saya tidak banyak mempunyai teman. Namun setelah ikut gerakan ini, teman saya sekarang ada di berbagai daerah di Bali, yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya.

Yang saya rasakan, pertemanan di gerakan BTR kadang-kadang melebihi keakraban dengan saudara sendiri. Dengan saudara sendiri sering kali kita malah berantem. Kalau bukan karena warisan, bisa juga karena saling iri karena perbedaan status ekonomi ataupun sosial.

Hal ini tidak saya temukan di gerakan tolak reklamasi. Persaudaraan kami di gerakan sangat kental karena memang memiliki misi sama, yakni bagaimana Teluk Benoa jangan sampai direklamasi.

Solidaritas
Solidaritas yang saya maksudkan dalam hal ini adalah ketika ada teman atau komunitas mengadakan acara, maka kami akan menyediakan waktu untuk bisa datang. Acara yang saya maksudkan misalnya adalah konser mini, pemasangan baliho, pembuatan dan pemasangan bendera, bersih pantai ataupun acara yang sifatnya penggalian dana seperti konser mini atau bazaar, misalnya.

Dalam sekup yang lebih informal misalnya bagaimana seorang kawan pernah mengundang teman-teman BTR lain pada acara tiga bulanan anaknya atau pun acara pernikahan. Yang sangat kentara sekali adalah ketika ada di antara kawan kami yang memiliki usaha warung makan, maka kawan-kawan lain akan berusaha menyediakan waktu untuk bisa mampir menikmati makanan di warung milik kawan kami.

Dalam hal ini jarak tidak menjadi halangan. Artinya bahwa kawan-kawan di BTR akan selalu berusaha mendukung kawan-kawannya yang memiliki usaha.

Kreativitas
Gerakan BTR juga telah menggugah kreativitas mereka yang berada di dalamnya. Di luar baju BTR yang sudah ada dan kaos dari masing-masing desa pekraman BTR, ada kawan-kawan yang menciptakan lagu, membuat puisi, kartun, kamen, serta atribut-atribut unik lainnya.

Saya sendiri sudah membuat udeng, saput, dan tas. Bahkan yang terakhir saya mendesain sebuah kaos yang cukup diapreasiasi oleh kawan-kawan BTR.

Saya pribadi terdorong begitu saja untuk membuat pernik-pernik aksi tersebut tanpa ada yang menyuruh. Gagasan itu muncul begitu saja seiring dengan keikutsertaan saya dalam gerakan ini. Saya masih ingat bagaimana saya memakai udeng ForBALI untuk pertama kalinya sewaktu deklarasi desa adat Kesiman (Minggu, 12 Juni 2016) yang kemudian diikuti oleh sejumlah kawan BTR lainnya.

Terkait atribut ini, bahkan salah seorang kawan kami khusus menulis perihal atribut ini.

Atribut-atribut yang saya bikin tidak bertujuan supaya dianggap eksis, ataupun agar mendapat sanjungan. Tujuan saya adalah bisa menginspirasi yang lain agar tetap menjaga semangat gerakan. Sebab, saya yakin lewat atribut maupun pernik aksi, semangat ataupun kecintaan tehadap gerakan bisa tetap terawat.

Sebagaimana saya terharu melihat bendera ForBALI dan Pasubayan yang berkibar maupun melihat baliho BTR ketika melintas di jalan di sejumlah lokasi di Bali.

Satu hal yang saya bisa amati dari gerakan BTR adalah bahwa selalu ada orang-orang baru yang bergabung sehingga gerakan menjadi kian besar. Walaupun tak bergabung dari awal, saya bisa melihat bagaimana sejak saya bergabung jumlahnya terus bertambah.

Dari cuma ratusan, menjadi ribuan, bahkan diperkirakan menjadi puluhan ribu. Ini sejalan dengan semakin banyaknya desa adat yang bergabung. Saat ini sudah mencapai 39 desa adat tergabung dalam PASUBAYAN.

Bergabungnya desa adat seolah menjadi semacam ‘legalitas’ yang semakin membuat gerakan ini kian kuat karena memang ‘benteng terakhir’ di Bali adalah masyarakat adat.

Aksi Pasubayan Desa Adat Tolak Reklamasi Teluk Benoa di DPRD Bali. Foto ForBALI.

Kutil Gerakan

Empat tahun perjalanan gerakan ini benar-benar menguji konsistensi para ‘pejuang’ yang tergabung di dalamnya. Di samping mereka yang memang ‘militan’, saya melihat ada kawan-kawan yang di awal-awal sering muncul, kemudian tidak pernah terlihat lagi. Ada yang muncul sebentar, kemudian lenyap seperti ditelan rimba.

Perkembangan yang terakhir, ada yang sangat getol sekali, tiba-tiba kemudian malah disinyalir menjadi ‘kutil’ atau ‘berkhianat’ terhadap gerakan.

Perlu penelitian khusus mungkin untuk mengetahui alasan mereka keluar dari gerakan. Namun berdasarkan pengamatan saya, ada yang sekadar ikut-ikutan biar tampak eksis, karena memang dalam gerakan ini ada sejumlah musisi kondang Bali yang tergabung. Mereka sering diajak untuk berfoto-foto untuk sekedar numpang tenar, barangkali.

Ada juga yang memang karena merasa jenuh. Jenuh karena memang perjalanan gerakan ini sangat panjang. Jika ‘militansi’ seseorang rendah, maka yang bersangkutan akan mudah sekali ‘menguap’. Kemungkinan ada yang memiliki kepentingan atau agenda khusus, namun karena agenda mereka tidak tercapai, akhirnya menghilang dari gerakan.

Di samping itu, dalam hemat saya adalah, ada di antara mereka yang berharap mendapat reward ataupun pujian karena telah merasa ikut berkorban ataupun berjuang. Namun, ketika penghargaan itu tidak datang, semangatnya menjadi redup.

Penyebab lain adalah karena banyak yang tidak tahan mengalami korban perasaan, karena seperti sering dialami banyak kawan-kawan BTR. Mereka mesti menghadapi cemohan kaum nyinyir yang memang tidak memahami gerakan BTR.

Perkembangan terakhir ada segelintir orang yang disinyalir menjadi ‘duri’. Mereka cenderung menggerogoti gerakan sehingga mesti ‘dikeluarkan’ dari gerakan.

Dengan demikian, memahami sebuah proses dalam sebuah gerakan sangatlah penting. Bagaimana gerakan dibangun dengan susah payah sehingga menjadi besar. Garis komando pimpinan tertinggi mesti menjadi pegangan. Dengan demikian apapun hambatan atau kendala tidak akan menyebabkan loyalitas dan komitmen mereka melemah. Apalagi kemudian berbalik menjelek-jelekkan gerakan yang justru memperlemah gerakan.

Jika tetap konsisten didasari keikhlasan dan pemahaman kuat akan tujuan gerakan, orang yang ikut gerakan BTR akan bisa bertahan.

Apapun penyebab mereka tidak tergabung lagi dalam gerakan, satu hal yang menjadi benang merah adalah bahwa konsistensi dalam gerakan itu sangat penting. Konsistensi bisa terawat jika seseorang memang memahami betul esensi dari gerakan ini, yakni bagaimana agar Teluk Benoa tidak sampai direklamasi.

Dalam pandangan saya, saat ini Teluk Benoa adalah simbul ketahanan Bali. Artinya kalau Teluk Benoa sampai direklamasi sehingga menimbulkan dampak-dampak negatif seperti sudah banyak dibahas, maka kawasan-kawasan lainnya tinggal menunggu waktu saja untuk dikuasai demi tujuan komersial semata.

Kata kunci dari konsisten adalah ikhlas. Sebab sudah banyak diketahui, gerakan ini bukan partai politik atau semacam lembaga lainnya yang menyediakan kedudukan yang bisa menjadi semacam sumber ekonomi maupun politik bagi mereka yang tergabung di dalamnya. Ikhlas berkorban materi, tenaga, maupun waktu, bahkan perasaan (karena sering mendapat cibiran dari kaum nyinyir).

Jika tetap bisa konsisten yang didasari oleh keikhlasan dan pemahaman kuat akan tujuan gerakan, seseorang yang tergabung dalam gerakan BTR akan bisa bertahan. Tidak masalah seberapa panjang perjalanan gerakan ini, hingga Teluk Benoa memang benar-benar aman dari rencana busuk reklamasi. [b]

The post Rumus Konsistensi dalam Gerakan Bali Tolak Reklamasi appeared first on BaleBengong.