Tag Archives: badung

Ingatkan Penerima agar tak salahgunakan Dana, Bupati Nyoman Giri Prasta serahkan Hibah Bantuan Bedah Rumah kepada 565 Kepala Keluarga se-Kabupaten Badung

Meski sedikit meleset dari agenda jadwal yang telah direncanakan, Bupati Badung Nyoman Giri Prasta akhirnya datang menetapi janji guna menyerahkan

The post Ingatkan Penerima agar tak salahgunakan Dana, Bupati Nyoman Giri Prasta serahkan Hibah Bantuan Bedah Rumah kepada 565 Kepala Keluarga se-Kabupaten Badung appeared first on PanDe Baik.

Dua Buruh Itu pun Tertindas Hingga Eksekusi

Dua buruh Sky Garden yang dipecat saat mengadu bersama LBH Bali.

Setelah sekitar enam tahun bekerja, dua pekerja ini dipecat dengan semena-mena.

Mereka adalah pekerja atas nama Putu Eka Purnamika Lesmana dan M. Hasan. Keduanya bekerja di PT ESC Urban Food Station yang lebih terkenal dengan nama Sky Garden Bali, tempat hiburan populer di Kuta, Bali.

Keduanya pun mengadu ke YLBHI – LBH Bali pada 2017 dan 2018 lalu. Berdasarkan Surat Kuasa tertanggal 14 Maret 2017, 14 Agustus 2017 dan 28 November 2018, YLBHI – LBH Bali sebagai Kuasa Hukum pun mendampingi Putu Eka Purnama dan M. Hasan.

Pendampingan dilakukan pada Pengadilan Tingkat Pertama dan Kasasi untuk memperjuangkan hak klien kami yang diputus hubungan kerjanya (PHK) secara semena-mena dan sepihak oleh PT ESC Urban Food Station.

PHK oleh Perusahaan tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. PHK oleh perusahaan tersebut tanpa diawali oleh surat peringatan. Prusahaan tidaklah dalam kondisi tutup. Juga tidak mengalami kerugian dua tahun berturut turut ataupun mengalami keadaan memaksa (force majeur).

Namun, kedua pekerja telah dipulangkan oleh pihak keamanan tanpa alasan jelas.

Atas permasalahan ini pekerja sudah mengupayakan perundingan atau penyelesaian secara kekeluargaan. Baik secara bipartite pada 27 Oktober 2016 maupun upaya mediasi di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Bali.

Namun, setelah pekerja menerima anjuran dari mediator, pihak perusahaan menolak anjuran tersebut. Saat gugatan diajukan pada 19 April 2017 dan hingga kini perusahaan tidak memenuhi kewajibannya.

Dalam amar putusan Majelis Hakim pada Pengadilan Hubungan Industrial PN Denpasar memutus mengabulkan gugatan pekerja dalam perkara Perselisihan Hubungan industrial PHK oleh perusahaan. Untuk putusan Pengadilan hubungan industrial pada Pengadilan Negeri Denpasar perusahaan mengajukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung dengan nomor perkara 1321 K/Pdt.Sus-PHI/2017 atas nama pekerja Putu Eka Purnamika Lesmana dan perkara nomor 1322 K/Pdt.Sus.Phi/2017 atas nama pekerja M. Hasan yang mana dalam amar putusannya menguatkan putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Denpasar.

Merespon hal tersebut, pekerja atas nama Putu Eka Purnamika dan M. Hasan yang didampingi oleh Tim Kuasa Hukum YLBHI-LBH Bali mengajukan upaya hukum permohonan eksekusi pada Senin 11 Februari 2019 melalui Pengadilan Hubungan Industrial pada PN Denpasar. Hal ini dilakukan karena dari pihak perusahaan tidak melaksanakan keputusan pengadilan secara sukarela untuk memenuhi hak-hak dari pekerja.

Pada proses annmaning pertama dari pengadilan tertanggal 4 Maret 2019 dan anmaning kedua tertanggal 12 Maret 2019 dari perusahaan tidak ada itikad baik untuk datang. Maka hari ini, Jumat 14 Juni 2019 dilakukan sita eksekusi sebagai upaya paksa atas tindakan “tidak beritikad dan semena mena” yang dilakukan perusahaan.

Dari uraian hal-hal di atas, maka kami selaku Tim Kuasa Hukum Klien kami menyatakan dua hal. Pertama, meminta Pimpinan PT. ESC Urban Food Station untuk berhenti melakukan tindakan semena-mena dan berikhtikad baik memberikan hak buruh. Kedua, meminta Dinas Tenaga Kerja dan Pemerintah Kabupaten Badung untuk melakukan pengawasan terhadap PT. ESC Urban Food Station. [b]

The post Dua Buruh Itu pun Tertindas Hingga Eksekusi appeared first on BaleBengong.

Tiga Tempat Unik Wajib Dikunjungi Saat Ke Bali!

Bali tetap menjadi tempat destinasi favorit bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Bila mengunjungi Bali, begitu banyak tempat bisa dijadikan tujuan wisata mulai dari pantai, pegunungan, persawahan ataupun perkotaannya. Namun, Bali juga memiliki tempat-tempat unik untuk dikunjungi. Berikut tiga di antaranya.

1. Museum I AM Bali

Interactive Art Museum (IAM) yang berdiri sejak Agustus 2016 adalah museum dengan konsep tiga dimensi (3D) cukup unik. Pengunjung yang datang selain disuguhkan tempat untuk berekreasi dan menikmati karya seni, ada juga tempat untuk menikmati berbagai makanan ringan hingga makanan berat.

IAM Bali juga menyediakan tempat untuk kalian yang ingin mengadakan acara gathering ataupun semacamnya. IAM Bali buka dari pukul 09.00 pagi hingga 19.15 malam. Letaknya pun strategis yaitu di pusat kota, tepatnya dibawah museum Bajra Sandhi Renon. Tidak akan kesulitan bagi kamu yang ingin mencari museum unik ini. 

“Menurutku, sih, museumnya terobosan baru banget. Kan unik ya ada museum 3D begini. Apalagi di Denpasar yang tempatnya strategis begini masih jarang,” ujar Aprilia Putri (20) saat ditemui di depan pintu masuk museum.

Namun, menurut Aprilia, sayangnya masih belum terlalu banyak yang tahu. “Semoga anak-anak muda makin jeli melihat ada museum IAM Bali di Renon,” lanjutnya.

Dengan harga tiket masuk cukup ramah di kantong dan ada harga khusus untuk yang ber-KTP Bali, kamu bisa dengan mudah untuk mengunjungi museum IAM Bali ini. 

2. Wanagiri Hidden Hill, Desa Wanagiri, Buleleng

Bila kamu mengambil jurusan ke Bali Utara tepatnya daerah Singaraja, silakan mampir ke daerah Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Obyek wisata yang cukup menyita perhatian masyarakat ini menyuguhkan pemandangan menyegarkan setelah penat di ibu kota, mulai dari bukit-bukit hingga danau.

Wanagiri Hidden Hill buka dari pukul 06.30 pagi hingga 19.00 setiap hari. Harga tiket Rp 10.000 saja untuk mengabadikan foto dengan spot foto dari ayunan bergantung di salah satu dahan pohon ataupun dari sarang burung yang terlihat nyaman dengan menghadap danau. Meski terletak cukup tinggi, tapi menjadi daya tarik tersendiri karena bisa menghasilkan foto dengan latar pemandangan yang indah.

Namun, tak masalah bila kamu kurang berani karena kamu masih bisa berfoto dengan obyek anjungan bambu dengan bentuk perahu. 

“Kalau pulang kampung pasti lewat sini dan selalu ramai. Seru sih bisa nambah konten untuk upload di Instagram. Hehehe. Dan bisa menambah pendapatan masyarakat sekitar juga dengan memanfaatnya dataran tinggi dan danaunya,” ujar Ngurah Budiasa (20) saat terlihat sedang berswafoto di anjungan bambu berbentuk perahu.

3. Pura Taman Mumbul, Sangeh

Pura Taman Mumbul yang terletak di Sangeh, Kabupaten Badung bisa menjadi salah satu tujuan wisata religi kamu yang lain apabila kamu sudah pernah mencoba ke Pura Taman Tirta Empul ataupun Tampak Siring. Pura Taman Mumbul merupakan tempat persembahyangan dengan solas atau dalam Bahasa Indonesia berarti sebelas sumber mata air dan juga memiliki nuansa alam asri nan indah.

Pura Taman Mumbul sudah berdiri cukup lama tetapi tempat ini tergolong baru dikenal oleh masyarakat. Selain memiliki tempat penglukatan (meruwat) disebelah selatan jalan, di seberangnya atau di sebelah utara, Taman Mumbul juga memiliki kolam besar yang jernih dan terdapat banyak ikan-ikan yang besar.

Kamu bisa memberi makan dengan membeli pakan ikan di dekat kolam seharga Rp 15.000 – Rp 20.000.

“Tempatnya asri banget karena ada kolam ikannya juga. Sekarang sih sudah bagus ya. Dulu masih belum terlihat untuk tempat rekreasi karena masih pembangunan juga,” ujar Widiani Karang (21), salah seorang pengunjung saat itu. 

Bila ini adalah kali pertamamu berwisata ke Taman Mumbul, tidak usah khawatir karena terdapat sebuah wantilan dan restoran yang bisa digunakan untuk bersantai, toilet umum, serta ada selendang dan kain untuk disewakan seharga Rp 5.000. Selain itu tidak dikenakan biaya apapun bila datang ke Pura Taman Mumbul ini. [b]

The post Tiga Tempat Unik Wajib Dikunjungi Saat Ke Bali! appeared first on BaleBengong.

Mabuug-buugan, Mandi Lumpur untuk Sucikan Diri


Seorang warga bangkit dari lumpur saat ritual mebuug-buug di Kedonganan. Foto Anton Muhajir.

Dulu terhenti karena erupsi Gunung Agung dan tragedi 1965.

Selesai bersembahyang menurut Hindu Bali, ratusan orang berbaris satu-satu masuk hutan bakau di sisi timur Desa Kedonganan pada Jumat, 8 Maret 2019 lalu. Sebagian bernyanyi lagu dalam bahasa Bali, “Mentul menceng, mentul menceng. Glendang glendong, glendang glendong…

Hanya bertelanjang dada dengan kamen (sarung) diikat setinggi lutut, anak laki-laki mendahului. Anak-anak perempuan, sebagian besar masih anak-anak dan remaja, menyusul di belakang. Mereka menyusuri jalur air di tengah hutan bakau. Tinggi air tak lebih dari mata kaki.

Bagi warga desa di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, kawasan hutan bakau itu dianggap sakral atau tenget. Di sisi timur, ada Pura Prapat yang dianggap sebagai penjaga kawasan itu. Karena itu, warga tidak boleh melakukan perbuatan yang dianggap bisa mengotori ataupun berkata-kata kasar.

Di lokasi itu mula terdapat lumpur khas kecoklatan yang oleh warga disebut buug. Lumpur tersebut dianggap lebih bersih sehingga tidak membuat tubuh gatal.

Di sanalah satu per satu warga adat Desa Kedonganan itu masuk ke lumpur. Ada yang hanya masuk lumpur setinggi lutut. Namun, ada pula yang terjebak hingga pinggang. Toh, mereka seperti tidak pedulu.

Mereka mengambil lumpur kecoklatan untuk melumuri sekujur tubuh: punggung, perut, dada, leher, muka, bahkan rambut mereka.

Tak cukup melumuri tubuh dengan lumpur, sebagian juga saling melempar lumpur sekepal tangan mereka. Ada pula yang berbalas membasah wajah temannya dengan lumpur sama.

Toh, tidak ada permusuhan. Mereka saling tertawa sepanjang pelaksanaan ritual.

Sore itu, warga desa berjarak sekitar 2 km di selatan Bandara Internasional Ngurah Rai Bali itu melaksanakan ritual mebuug-mebuugan, mandi lumpur setelah Nyepi.

I Wayan Wiliana, termasuk salah satu dari warga Kedonganan yang mengikuti mebuug-mebuugan sore itu. Tak hanya melumuri sekujur tubuhnya dengan lumpur, dia juga mengambil pucuk dahan bakau lalu disematkan pada ikat kepala layaknya mahkota.

“Buat hiasan saja,” kata Wiliana.

Setelah mandi lumpur di pantai timur, tempat di mana hutan bakau berada, warga berjalan kaki menuju pantai di sisi barat desa. Masih dengan bertelanjang kaki, mereka melewati Jalan By Pass Ngurah Rai yang beraspal hitam.

Sepanjang jalan sebagian peserta “mengganggu” penonton atau warga lain yang tidak ikut ritual dengan cara mengoleskan lumpur itu pada wajah atau tangan.

Sekitar 3 km perjalanan itu berakhir di Pura Segara di Pantai Kedonganan. Tempat sembahyang umat Hindu ini berderetan dengan kafe-kafe yang menyajikan menu khas boga bahari (seafood). Di pantai inilah warga lalu mandi untuk membersihkan diri setelah mereka melakukan kegiatan lain, bermain tradisional dan berjoget tradisi.

Peserta mebuug-buug berjalan kaki 3 km menuju Pantai Kedonganan. Foto Anton Muhajir.

Lama Mati

Mebuug-buugan adalah ritual kuno warga adat Kedonganan. Namun, warga baru menghidupkan lagi ritual ini sejak empat tahun lalu.

Kepala Desa (Bendesa) Adat Kedongan I Wayan Mertha mengatakan tradisi ini sebenarnya sudah berlangsung lama, tetapi terhenti lama. Selain karena letusan Gunung Agung pada 1963 juga akibat tragedi politik 1965. “Tonggak pemberhentian tradisi mebuug-buug karena peristiwa 1965. Saat itu banyak persoalan politik yang berpengaruh pada ritual ini,” kata Mertha.

Sejak empat tahun lalu, kata Mertha, warga berusaha menghidupkan kembali tradisi yang sempat mati itu. Salah satu alasannya, warga merasa ada yang kurang seusai mereka melaksanakan Nyepi.

I Wayan Sudarsana, warga setempat yang juga alumni S2 Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, menghidupkan kembali ritual tersebut sejak 2015. Melalui risetnya, Sudarsana menemukan bahwa warga dulunya memiliki tradisi mebuug-buug yang kemudian terhenti selama 40 tahun.

Pada 2015, warga memulai lagi ritual mebuug-buug itu.

Bendesa Adat Kedonganan Mertha mengatakan ada dua makna kegiatan mebuug-buug. Pertama, terkait dengan rasa syukur dan terima kasih pada Ibu Pertiwi atas semua anugerah, seperti kesuburan tanah. “Kami bersujud pada Ibu Pertiwi dan melumuri tubuh dengan lumpur sebagai ucapan terima kasih,” katanya.

Kedua, Mertha melanjutkan, untuk pembersihan secara skala (lahir) dan niskala (batin). “Selama satu tahun perjalanan pasti ada hal-hal kurang baik, baik kita sadari ataupun tidak. Jadi ini kami bersihkan keburukan. Hal-hal yang kurang baik kami bersihkan selama ritual mebuug-buug,” ujar Mertha.

Lumpur sendiri merupakan simbol dari hal buruk atau kotor. Warga kemudian melumur sekujur tubuhnya dengan lumpur sebagai pertanda hal-hal buruk yang mereka alami selama setahun itu. Setelah itu, mereka akan membersihkannya.

Pembersihan dilakukan di pantai barat Desa Kedonganan yang berada di antara Jimbaran dan Bandara Ngurah Rai ini. Di pantai berpasir putih, warga yang mengikuti mebuug-buug berkumpul berdasarkan nama banjar masing-masing.

Di sana mereka bermain seperti anak-anak. Ada megala-gala (semacam gobak sodor) dan ngibing. Turis, sebagian besar dari China, berbaur bersama warga melihat suka cita itu.

Usai bersuka cita dengan permainan dan jogetan, warga akan membersihkan diri di laut. Ratusan orang seperti berlomba-lomba masuk ke dalam air dan membersihkan lumpur mengering di tubuh dan pakaian mereka.

Akhir dariritual mebuug-buug adalah ketika warga bersembahyang di Pura Segara, Kedonganan. Pemangku akan memercikkan air suci (tirta). “Pembersihan di laut bertujuan untuk membersihkan secara fisik sedangkan upacara di Pura Segara dengan memercikkan tirta untuk menyucikan secara spiritual,” kata Mertha.

Bagi warga ritual mebuug-buug adalah kegembiraan sekaligus pembersihan. “Ini bagus sekali untuk membersihkan diri kami setelah Nyepi,” kata Ketut Sukarta, salah satu warga.

Warga membersihkan lumpur di pantai sebagai bagian dari ritual mebuug-buug di Kedonganan. Foto Anton Muhajir.

Simbol Harapan

Mebuug-buug merupakan salah satu ritual yang sudah lama mati, tetapi kemudian dihidupkan lagi oleh warga setempat. Ritual ini dilaksanakan sehari setelah Nyepi atau Ngembak Geni.

Dalam pandangan Dosen Filsafat Universitas Indonesia Luh Gede Saraswati Putri, mebuug-buugan termasuk ritual yang mendekatkan masyarakat pada alam, seperti juga ritual Bali pada umumnya. Apalagi ketika ritual itu dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian Nyepi, puasa 24 jam di Bali dengan tidak menyalakan lampu (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bersenang-senang (amati lelanguan), dan tidak bepergian (amati lelungan).

Menurut Saras Dewi, panggilan akrabnya, Nyepi menunjukkan bahwa Bali masih menjadi simbol harapan. Ada perubahan yang berorientasi lingkungan oleh warga secara luas dan sadar. Partisipasi publiknya besar.

“Nyepi itu menjadi oase di antara begitu banyak problem dan karut marutnya lingkungan,” ujar Saras Dewi.

Saras mengatakan seiring dengan masifnya pariwisata massal, Bali makin menghadapi masalah lingkungan di tiga wilayah utama: pedesaan, perkotaan, dan pesisir. Namun, akhir-akhir ini dia melihat ada kesadaran publik untuk merehabilitasi lingkungan.

“Saya keinginan untuk memperbaiki lingkungan itu puncaknya ada di Nyepi,” katanya.

Saras memberikan contoh pada munculnya revitalisasi ritual-ritual tua, seperti Sang Hyang Dedari di Karangasem dan mebuug-buug di Kedonganan, sebagai upaya menemukan kembali hubungan antara ritual dengan alam.

Sang Hyang Dedari merupakan tarian sakral yang digelar sejalan dengan kalender agraris petani di Desa Duda Utara, Karangasem. Adapun mebuug-buug dilakukan masyarakat dengan budaya pesisir.

“Ada upaya sporadis bahwa mereka mau melakukan sesuatu,” lanjutnya.

Tidak hanya melalui ritual-ritual kuno yang dihidupkan lagi, Saras melihat upaya memperbaiki lingkungan itu juga terlihat dalam kebijakan Wali Kota Denpasar yang melarang penggunaan plastik sekali pakai ataupun anak-anak muda yang tidak lagi menggunakan gabus ketika membuat ogoh-ogoh.

“Saya lihat ada upaya pembenahan meskipun tertatih-tatih. Ada harapan di masa depan,” ucapnya. [b]

Keterangan: versi lain tulisan ini terbit di Beritagar.

The post Mabuug-buugan, Mandi Lumpur untuk Sucikan Diri appeared first on BaleBengong.