Tag Archives: anak anak

Organisasi Ini Akhirnya Menyatakan Pewarna Makanan Berbahaya Bagi Anak Anak

Sebelum membelikan anak anak makanan atau kue yang berwarna warni, ada baiknya para orang tua membaca dulu tulisan saya ini. Mengapa? Karena ada penelitian terbaru yang membeberkan dampak pewarna makanan bagi kesehatan anak anak.

Baca juga: Ini Bahayanya Anak Anak Yang Gemar Menonton TV

Setelah sekian tahun mengadakan penelitian untuk mencari hubungan antara pewarna makanan dengan dampak kesehatan pada anak, American Academy of Pediatrics akhirnya mengakui bahwa pewarna makanan memiliki dampak yang buruk terhadap kesehatan anak anak. Padahal selama ini banyak yang menganggap pewarna makanan tidak berbahaya bagi anak anak.

Pada penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics, AAP menjadikan dampak pewarna makanan sebagai salah satu isu utama. Disebutkan, pewarna makanan berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan pada anak, diantaranya gangguan perhatian, masalah memori dan bahkan kanker.

Karena penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat maka pewarna makanan yang diteliti adalah pewarna makanan yang beredar secara resmi di negara itu. Ada beberapa jenis pewarna makanan yang secara resmi beredar di Amerika Serikat, diantaranya Blue 1, Blue 2, Green 3, Yellow 5, Yellow 6, Red 3, Red 40, Citrus Red 2 dan Orange B. Penggunaan pewarna makanan ini meningkat drastis (500%) dalam rentang tahun 1950 sampai 2012. Pewarna makanan ini kebanyakan digunakan untuk mewarnai kue dan permen, terutama yang dipasarkan untuk anak anak.

Pewarna makanan Blue 1 memiliki kemampuan menembus sawar darah otak (lapisan pelindung otak dari bahan kimia berbahaya). Di otak, pewarna makanan Blue 1 dapat menyebabkan reaksi inflamasi dan bisa berfungsi sebagai eksitoksins yang secara teori dapat menyebabkan kematian sel sel otak. Masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan mekanisme kematian sel sel otak yang disebabkan oleh pewarna makanan Blue 1.

Sebelum adanya publikasi AAP tentang bahaya pewarna makanan, penelitian sebelumnya yang dipublikasikan dalam jurnal Prescrire International telah menyimpulkan hubungan antara pewarna makanan dengan risiko hiperaktivitas pada anak. Pewarna makanan juga dihubungkan dengan kasus ADHD dan gangguan tumbuh kembang pada anak anak.

Penelitian lain yang dipublikasikan 24 tahun yang lalu dalam Annals of Allergy menyebutkan, pewarna makanan memiliki hubungan langsung dengan gangguan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) pada anak anak. Sebagaimana diketahui, sekitar 6,4 juta anak anak yang berusia 4 sampai 17 tahun di Amerika Serikat sedang menjalani terapi untuk mengatasi ADHD. Angka kejadian ADHD sendiri meningkat 42% dalam kurun waktu 2003 sampai dengan 2011.

Gangguan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) ditandai dengan kesulitan berkonsentrasi atau fokus, kesulitan berdiam diri dalam waktu lama, sulit diatur dan sering melupakan tugas. ADHD kerap disertai dengan masalah kesehatan yang lain seperti gangguan belajar, ngompol, perilaku anti sosial, penyalahgunaan zat terlarang, dan lain lain.

Baca juga: 9 Butir Telur Sehari Untuk IQ Anak Yang Lebih Tinggi

Sayangnya pewarna makanan yang diteliti dan diketahui hanya sedikit dari zat kimia yang masuk ke dalam tubuh anak. AAP memperkirakan ada sekitar 93% zat kimia yang tidak diketahui jenisnya masuk ke dalam tubuh anak dengan berbagai dampak kesehatan yang bisa terjadi. Disini dibutuhkan peranan pemerintah sebagai regulator untuk membatasi peredaran zat kimia berbahaya yang rentan masuk ke dalam tubuh anak anak.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Catatan Mingguan Men Coblong: Lancung

Masa kanak-kanak dikenal sebagai masa bermain.

SEKOLAH bagi Men Coblong adalah tempat untuk bersosialisasi yang paling nyaman.

Sekolah ketika kanak-kanak merupakan tempat bermain sekaligus belajar yang membuat girang dan senang. Rasanya pada masa itu, setahu Men Coblong, anak-anak justru merasa sedih jika libur terlalu panjang. Rasanya bosan di rumah. Rindu bertengkar dengan teman.

Pokoknya pada masa tahun 70-an sekolah adalah tempat “piknik” paling menyenangkan. Anak-anak pada masa itu selalu aktif dan tidak pernah merasa jenuh. Setahu Men Coblong tidak ada temannya semasa SD yang menjadi penyendiri. Waktu paling ditunggu adalah jam istirahat.

Wah, suasana pada masa itu benar- benar lebih heboh dari Pasar Badung. Semua bicara, semua teriak, semua ingin dapat tempat. Pokoknya semua ingin eksis.

Jenis permainannya juga beragam. Ada lompat tali menggunakan tali karet yang dijalin dengan sangat kuat sehingga berbentuk tali lentur dan kokoh. Ada bola gebok. Ini biasanya dimainkan anak lelaki. Bola dibuat dari kertas bekas bisa juga kertas koran. Ada gatrik, permainan dari bilah bambu. Ada bola bekel. Ini permainan favorit anak perempuan. Men Coblong lebih suka main congklak, berisi biji-biji kerang yang lucu.

Pokoknya, pada jam istirahat semua anak-anak turun ke halaman atau bermain di lantai kelas. Susana hiruk-pikuk dan gaduh itu justru membuat Men Coblong rindu masa kanak-kanak semasa hidup dan tumbuh besar di Jakarta.

Jauh sekali berbeda masa kanak-kanak yang dijalani anak-anak pada masa kini. Anak semata wayang Men Coblong justru sibuk dengan iPad ketika duduk di kelas tiga SD. Apa pun bisa didapatkan anak-anak itu dari alat berbentuk kotak yang sangat canggih, dengan harga juga “canggih” itu.

Melihat permainan anak-anak masa kini Men Coblong merasa seolah masa lalunya tercerabut.
“Jangan pernah membandingkan anak-anak pada masa kini dengan zamanmu yang jadul dan kuno itu. Harus punya cara pandang berbeda melihat hidup anak-anak pada masa kini. Jangan juga pernah mencocokkan.”

Men Coblong terdiam mendengar “ceramah budaya” sahabatnya itu dengan memoyongkan bibirnya sambil menarik napas pelan-pelan. Ada yang tidak bisa diterima Men Coblong pada proses pertumbuhan anak-anak masa kini atau yang disebut generasi milineal.

Anak-anak yang tumbuh senyap dengan alat-alat yang seringkali tidak bisa mereka tinggalkan. Anak-anak itu seperti sibuk dengan dirinya. Hidupnya kadang-kadang disita dan diperas oleh ponsel (HP) yang tidak bisa lepas dari hidup mereka.

Bahkan, ketika acara keluarga untuk sekadar makan siang, atau merayakan hari-hari penting keluarga Men Coblong merasa sudah seperti “petugas keamanan” yang ceriwis dan menyebalkan. Biasanya Men coblong selalu berkata begini, “Selama acara keluarga dan makan, teman kalian yang bernama HP harus disingkirkan dulu. Minimal silent.“ Itu kalimat yang terus berulang-ulang dikatakan Men Coblong.

Bahkan, ketika ada acara keluarga menemani ayah Men coblong yang sudah sepuh, biasanya kalimat itu diulang kembali. Bahkan, jika anak Men Coblong bergabung dengan para sepupu untuk mengunjungi ayah Men Coblong, kalimat itu diulang-ulang seperti kaset rusak yang sebetulnya menyebalkan juga. Yang mengucapkan bosan, yang mendengar dijamin super bosan juga! Karena kalimat-kalimat yang disampaikan itu-itu saja. Tidak ada peningkatan. Juga tidak memiliki estetika bahasa.

Parahnya belakangan ini kalimat jauhkan diri dari ponsel sudah seperti mantra yang harus diucapkan setiap menit. Biasanya menimbulkan efek pertengkaran dengan anak.

“Handphone tidak hanya dipakai untuk main. Bisa juga dipakai untuk belajar,” papar anak semata wayang Men Coblong bersungut-sungut dan berbisik dan mengeluh sambil mendengus dengan suara tidak jelas. Biasanya jika anak semata wayangnya mulai mendengus seperti itu, omelan Men Coblong akan muncrat seperti hujan yang kalap dan tidak bisa berhenti.

“Aku sudah capek bertengkar dengan anak soal itu,” suatu hari sahabat Men Coblong semasa SMA berkata lirih dan putus asa.

Men Coblong terdiam. Teringat kata-kata anak semata wayangnya yang berkata bahwa permainan di beragam peralatan canggihnya (handphone, laptop, dan iPad) adalah cara generasinya belajar banyak hal. Belajar bahasa Inggris juga menyusun puzzle pergaulan.

“Kalau menghidupkan laptop, bukan berarti main saja. Bisa juga berkomunikasi dengan orang-orang yang berada puluhan mil jauhnya. Bisa berdialog, dialog tidak dengan bahasa Bali atau bahasa Indonesia. Kita semua bermain bersama dengan orang-orang di seluruh dunia. Bahasa yang digunakan bahasa Inggris. Ini kan sama juga belajar bahasa Inggris,” papar anak Men Coblong serius.

Memang sih, bahasa Inggris anak Men Coblong lumayan secara akademik prestasinya juga “lumayan” karena selama ini bisa masuk sekolah-sekolah favorit dengan nilai murni hasil kerja kerasnya sendiri. Jadi Men Coblong tidak perlu mengeluarkan ID (Identitas Diri) — atau mencari beragam cara bahkan dengan tega para orangtua mencari surat miskin untuk bisa dapat kursi di sekolah favorit.

Tapi, tapi apakah anak-anak itu tidak ingin bermain di luar? Berteriak, berlumuran debu dan lumpur?

“Ah, kita harus jadi orangtua yang fleksibel. Jaman sudah jauh berubah. Biar puzzle-puzzle hidup disusun dengan cara mereka. Yang penting jauh dari narkoba,” suara lirih sahabat Men Coblong belum juga bisa mengusir kepandiran Men Coblong tentang gaya hidup anak-anak masa kini.

Yang pasti selamat Hari Anak Nasional 23 Juli. Jadilah generasi terbaik untuk membangun bangsa ini. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Lancung appeared first on BaleBengong.

Mereka Cahaya yang selalu Ada

Hari masih gelap, hanya ada sedikit penerangan yang masih menyala disekitaran rumah. Satu persatu langkah kaki perlahan menyusuri paving lama menunaikan tugas rutin pagi sebelum berangkat kerja. Tawa anak-anak terdengar nyaring dari kejauhan. Ara dan Intan sudah bangun rupanya. Dua wajah mungil itu hadir di kaca jendela memanggil-manggil Bapak dengan nada yang riang. Sesekali neneknya […]