Tag Archives: Alternative & Punk

SOFTEXCORE: RIOT GRRRL, ROCK ‘N’ ROLL, REVOLUSI

Bikini Kill | Foto: PicsWe

Musik, harus diakui, punya peran signfikan dalam mempopulerkan feminisme, pemahaman pada kesetaraan gender. Bahwa laki-laki dan perempuan pada hakikatnya sepadan.

Yang masih lekat di ingatan barangkali gerakan Riot Grrrl beberapa dasawarsa silam, di awal 90an.

Dipercaya pertama kali bermula di Olympia, negara bagian Washington, Amerika Serikat; manuver musikal ini melahirkan nama-nama seperti Bikini Kill, Bratmobile, Heavens to Betsy, Huggy Bear, Team Dresch, The Third Sex, hingga Sleater-Kinney.

Allison Wolfe (Bratmobile) | Foto: Albert Licano

Riot Grrrl ini memiliki akar punk rock yang kuat. Etos kerjanya segendang sepenarian: Do-It-Yourself, semangat merdeka-mandiri, rutin menerbitkan zine, campur sari kegiatan sosial dengan seni serta politik, pula pekat nafas aktivisme—dalam konteks ini: musik dan feminisme.

Selain aksi nyata turun ke jalan di era Riot Grrrl inilah internet mulai dilibatkan. Antara aspal dan virtual. Isu-isu yang diangkat umumnya menyangkut seksisme, rasisme, homofobia, kekerasan dalam masa pacaran. Pun para pegiat dan penggiatnya rajin menyelenggarakan pertemuan, konferensi, juga konser yang mengedepankan partisipasi perempuan.

Pertunjukan musik skala cukup besar yang jadi penanda lahirnya Riot Grrrl adalah International Pop Underground Convention. Festival yang berlangsung selama enam hari ini di hari pertamanya khusus menyasar perempuan. Perhatikan saja tajuknya: Love Rock Revolution Girl Style Now. Para seniwati punk rock dan queercore tampil sepanjang malam: Bikini Kill, Bratmobile, Heavens to Betsy, 7 Year Bitch, Kicking Giant, dan banyak lagi.

Riot Grrrl Zine, July 1991 edition | Foto: The Guardian

Istilah Riot Grrrl sendiri konon berawal dari surat Jen Smith kepada Allison Wolfe (keduanya anggota Bratmobile) soal kerusuhan rasial di Mount Pleasant, Washington, AS; pada 1991. Jen Smith kala itu sudah menyebut frasa “girl riot”. Berikutnya Allison Wolfe berkolaborasi dengan Kathleen Hanna dan Tobi Vail membuat zine yang dinamai Riot Grrrl. Penggunaan tiga huruf “r” memang sengaja dengan maksud menghindari kata “girl” yang kerap diposisikan rendah atau sengaja direndahkan.

Bikini Kill saat ditanya apa sejatinya makna Riot Grrrl menjabarkannya gamblang: “Kami perempuan ingin mencipta alat perantara yang menyuarakan siapa kami dengan cara kami. Untuk perempuan dan oleh perempuan. Kami lelah dengan skena yang melulu isinya laki-laki, didominasi cowok. Sementara media-media yang ada hampir selalu menjadikan kami objek—ditampar, dibungkam, ditertawai, dirisak, diperkosa. Mesti ada ruang aman dan nyaman bagi perempuan.”

Eksistensi Riot Grrrl sering dikaitkan dengan feminisme gelombang ke-3 yang menyeruak pada awal-awal 90an di Amerika Serikat. Gerakan ini bercirikan individualisme serta keberagaman. Penghargaan tinggi pada kebebasan pribadi yang berlanjut penghargaan pada keberagaman—bahwa pilihan pribadi tersebut (heteroseksual, homoseksual, aborsi, vegetarian, anggota band seluruhnya perempuan, dsb) adalah bagian dari kebinekaan.

Asal Muasal

Munculnya fenomena Riot Grrrl ini kuat terinspirasi dari sosok-sosok pemberontak di era sebelumnya, tahun 70an dan 80an. Sebut saja misalnya Debbie Harry, Siouxsie Sioux, Poly Styrene, The Slits, Au Pairs, The Raincoats, Patti Smith, Chrissie Hynde, The Runaways/Joan Jett, Lydia Lunch, Exene Cervenka, dsb.

Chrissie Hynde bersama grupnya, The Pretenders | Foto: The Fat Angel Sings

Kenekatan Ari Up, Palmolive, dan Viv Albertine yang berfoto tanpa busana (hanya ditutupi lumpur sekujur tubuh) untuk sampul album Cut pada 1979 diikuti dengan aksi yang lebih vulgar oleh L7. Saat unjuk gigi di Reading Festival, 1992, biduanita Donita Sparks melemparkan Softex/pembalut dari selangkangannya, sebagai bentuk balasan kepada penonton yang sedang memborbardir L7 dengan sambitan lumpur.

Keberanian Poly Styrene (X-Ray Spex) menjadi perempuan yang bertindak sebagai kapten di band di masa skena punk rock dikuasai lelaki secara tidak langsung menginspirasi Kathleen Hanna (Bikini Kill) yang terus menerus meminta audiens perempuan untuk maju ke barisan depan dan menyanyi bersama dia diikuti dengan tanpa ragu stage diving ke kumpulan penonton laki-laki.

Riot Grrrl yang bisa dibilang paling menonjol di masa kini? Pussy Riot, siapa lagi.

Segala persyaratan agar “lulus” dianugerahi gelar RG (Riot Grrrl) di belakang nama masing-masing sukses terpenuhi: kritis, sinis, vokal, frontal, bandel, berani.

Riot Grrrl Nusantara

Grup musik Indonesia yang seluruhnya beranggotakan perempuan dan liriknya bernuansa politik atau protes sosial pada dekade 90an tampaknya nihil. Wondergel (Jakarta) dan Boys Are Toys (Bandung), dua all-female group yang saya ingat di jaman itu, lebih berkisah tentang romansa cinta serta bersenang-senang.

Malah justru penyanyi dari era 70-80an, Ully Sigar Rusadi, lebih tepat dicap sebagai (proto-)Riot Grrrl mengingat kepeduliannya yang kolosal pada lingkungan hidup.

Kartika Jahja dan Yacko adalah dua nama yang pantas diberi predikat Riot Grrrl mutakhir. Mereka berdua selain tergabung di Bersama Project yang giat menggaungkan kesetaraan lewat musik juga memang dalam kapasitas pribadi selalu vokal menyuarakan soal posisi sepadan laki-laki dengan perempuan.

Selamat Hari Kartini! Kesetaraan! Sekarang!

Berikut adalah playlist yang berfokus pada Riot Grrrl. Para pelakunya, pihak-pihak yang punya pengaruh kuat, dianggap suri tauladan dalam fenomena Riot Grrrl, serta para penerusnya.

__________

*Artikel ini saya tulis untuk DCDC. Judulnya saya ubah sedikit. Ada juga beberapa kata yang saya ubah.
*Foto di featured image adalah milik 8tracks

DRINKING RESPONSIBLY

DRINKING RESPONSIBLY—Stay Sane, Safe, and Sensible!

Sampai jumpa Jumat depan di acara temu wicara dengan sponsor utama Diageo dan berfokus pada isu mengkonsumsi minuman beralkohol secara bertanggungjawab.

Acara edukasional berpadu dengan hiburan musik ini adalah edisi ke-2 setelah sebelumnya diadakan pada pertengahan Februari lalu.

Akan hadir para nara sumber dengan beragam latar belakang:
1. Dendy Borman – Corporate Relation Director Diageo Indonesia
2. Ngurah Arya Wayushantika – District Operations for GO-CAR
3. Sugi Lanus – Founder of Hanacaraka Society
4. Venusia Indah – Music Curator and Creative at Single Fin & The Lawn
5. Brigadir Putu Vindi Mahendra – Dit Pamobvit Polda Bali

Lalu dilanjutkan dengan hiburan musik, menampilkan:
1. DJ Marlowe Bandem
2. Sendawa
3. The Hydrant

15 Mar 2019
Rumah Sanur
18.00-23.00

Ini sekaligus untuk mengenang kepergian karib tercinta kita semua, almarhum Made Indra dan Afi, yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, setahun lalu.

Pasca kejadian memilukan tersebut saya beserta Ewa Wojkowska berjanji untuk menebus kesedihan dengan menyebarkan pemahaman serta kiat-kiat soal minum bertanggungjawab. Menikmati minuman beralkohol seraya selalu mawas diri.

Senang sekali kami berdua bisa menepati janji pada Made serta Afi. Setelah yang kedua ini semoga bisa terus berkeliling berbagi pengetahuan tentang minum bertanggungjawab.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Enjoy alcohol and drink responsibly!

DWI DOMINASI DI ANUGERAH MUSIK BALI

Ada dua nama yang amat menonjol di acara Anugerah Musik Bali pada Senin silam, 18 Feb. Paling pertama adalah pendatang baru yang sedang jadi buah bibir di skena musik Pulau Dewata akibat bakatnya yang luar biasa, Alien Child. Berikutnya Navicula, paguyuban musisi veteran yang telah lantang berteriak soal lingkungan jauh sebelum aksi membela bumi menjadi tren dan dianggap seksi.

Keduanya masuk nominasi di banyak sekali kategori lalu berlimpah memenanginya.

Tentang Navicula, barangkali tak perlu bejibun basa-basi, publik Nusantara rata-rata telah mahfum apa-siapa-kenapa kuartet ini begitu dihormati. Matang pengalaman, lirik yang bernas, kemampuan bermusik nan sakti mandraguna, kepedulian gigantik pada keadilan sosial, kepribadian yang hangat, pokoknya nyaris sempurna (yang sepenuhnya sempurna cuma Lagavulin 16) alias memang pantas diberi respek lebih.

Bicara Alien Child sama dengan bicara keajaiban. Kakak-adik Aya dan Laras yang menghabiskan masa kecilnya di Vancouver, Kanada, relatif belum terlalu lama wira-wiri di skena berkesenian Bali. Namun saking menonjol talenta duo remaja yang baru lewat akil balik ini—mutu bersenandung sungguh istimewa, menulis lirik duh-gusti brilian, mencipta lagu yang nyaman didengar kuping—segera saja menggaet perhatian publik. Tawaran manggung kian sering, lagu-lagunya makin jadi favorit, pula barisan aliens—julukan untuk penggemarnya—mulai pesat bertumbuh.

Saat semua semakin lambat, Bali berani cepat, dan penuh percaya diri.

MERRY BIRTHDAY, MR. SYLVIAN

Photo: last.fm

Oh, is that Nick Rhodes? He’s the lead singer? It’s his side project?

…No! It’s David Sylvian, the frontman of Japan. And today, 23 Feb, is his birthday.

Thanks to Nick Rhodes and New Romantic movement, though. That’s how I was introduced to David Sylvian and his band, Japan. However, David Sylvian is more avant-garde, more Roxy Music than Duran Duran pretty boys, sexed up synth-pop; and hated himself playing the uncomfortable role of young pop icon.

After the breakup of Japan, this reluctant star retreated into a series of four albums—including his masterpiece, Secrets of the Beehive—built on noir balladry, instrumental abstraction, and an abiding sense of distance. He also worked with Ryuichi Sakamoto on the UK Top 20 song “Forbidden Colours” for the 1983 Nagisa Oshima film Merry Christmas, Mr. Lawrence.

This song here, “Quiet Life” from Japan’s album with the same title has been described as one the first albums of the New Romantic movement, though Japan always flatly denied they were New Romantics.

Merry birthday, Mr. Sylvian!