Tag Archives: Alternative & Punk

POMPADOUR COMMODORES

Rudolf Dethu Showbiz and RMBL present:

POMPADOUR COMMODORES
A Night of Swing Boogie & Rockabilly Revue!
feat.
THE HYDRANT
LEONARDO & HIS IMPECCABLE SIX

Thursday, 23 March 2017
Noname Bar, Lebak Bulus
8-11pm
Ticket Rp50k incl. beer

MUSIC WITH A MESSAGE: MARJINAL

Rudolf Dethu Showbiz and @america mempersembahkan:

Musik dengan Pesan Perubahan − MARJINAL.

Bagaimana beberapa aktivis begitu berdedikasi memakai musik untuk membuat perubahan positif di komunitas mereka? Untuk lebih jauh, bergabunglah dalam diskusi spesial disertai pertunjukan yang menampilkan band punk serta kumpulan seniman kawakan Jakarta serta saksikan cuplikan film dokumenter Ayumi Nakanishi Jakarta: Where Punk Lives – MARJINAL.

Moderator: RUDOLF DETHU.

Kamis, 16 Februari 2017
19.00-20.30 WIB
@america, Pacific Place, lantai 3
Gratis!

Rudolf Dethu Showbiz and @america present:

Music with a Message − MARJINAL.

How do some of Indonesia’s most dedicated activists use music to make a positive difference in their communities? Join a special disuccion and performance featuring Jakarta’s legendary punk band and art collective to find out, and get a sneak preview of Ayumi Nakanishi’s documentary “Jakarta: Where Punk Lives – MARJINAL”.

Moderator: RUDOLF DETHU.

Thursday, 16 Feb 2017
7.00-8.30pm
@america, Pacific Place, level 3
Free!

Rock-n-Roll Exhibition: INDRA7

Edition: February 03, 2010

Rock-n-Roll Exhibition: INDRA7
Join Me in Death & Destruction: Symphony of Manic Street Preachers

:: Playlist, notes and (most) photos, written and handpicked by Indra Himself ::

No matter what music that I hear
No matter what music that I play
I don’t give a damn with all restrictions and labels attached to me
This is me, this is my music

The Playlist:


01. Kickstart My Heart – Motley Crue
Salah satu anthem klasik yang selalu saya putar sebagai lagu pembuka ketika Monday Mayhem masih berjaya pada masa itu. Cepat, keras, tanpa tedeng aling. Mari kita ugal-ugalan.

02. Symphony Of Destruction – Megadeth
Fuck “Guitar Hero”. Play the real thing!


03. Authority – Biohazard
Semangat Hardcore saat SMA. Memakai hoodie Thrasher Magazine walaupun cuaca Jakarta siang itu hampir 34’C. Fuck the rules!


04. Nutshell – Alice In Chains
Saya menyebutnya sebagai “rock suntik.” Saya tidak menggunakan substansi dengan jarum suntik, tapi apabila saya terkapar di UGD RSKO Fatmawati dengan jarum menancap di tangan, bisa dipastikan earphone yang menempel di kuping saya berisikan lagu ini.


05. Raining Blood – Tori Amos
Tori Amos sepertinya mengerti essensi dari sebuah cover version yang baik dan benar. Jika Raining Blood versi Slayer adalah soundtrack yang tepat untuk pergi membunuh, maka versi Tori Amos ini lebih tepat didengarkan untuk mereka yang ingin mati muda.


06. Coma – Sasha
Taken from The emFire Collection LP. Sasha is the Trent Reznor of dance music. Sasha is a genre. Period.

07. Roar – Patrice Baumel
Sebuah komposisi electronic music yang sangat tidak lazim menurut saya. Musik ini tidaklah danceable, tapi cukup dapat “memeras otak” pendengarnya. Jika Mike Patton meracau lewat teknik vokalnya, Patrice Baumel pun tidak kalah berkoar lewat perangkat Ableton Live 8


08. Born Slippy – Underworld
Siapa pun yang besar di era 90-an dan menganggap Mark Renton adalah nabi pasti akan sepakat bahwa lagu ini timeless.

09. Voodoo People – The Prodigy
Adalah Agus Sasongko yang pertama kali meracuni saya untuk menyimak The Prodigy. Dan seketika itu juga saya jatuh cinta dengan electronic music, dengan tidak berkhianat kepada para pejuang Sunset Strip. The Prodigy mengajarkan saya bagaimana attitude techno rock yang sesungguhnya.


10. Slip Slide Melting – For Love Not Lisa
Diambil dari salah satu album soundtrack terbaik yang pernah dirilis, The Crow, track no. 10.


11. Rocket Queen – Guns ‘N Roses
Ultra sensation of cheap vodka and a quick blow job in 6 minutes and 13 seconds

12. Hyperballad – Bjork
Soundtrack saya kelak di hari tua nanti.


13. Star Guitar – The Chemical Brothers
Ingin merasakan efek candy flip yang luar biasa? Star Guitar jawabannya.


14. Vapour Trail – Ride
Dengarkan di saat tenang.


15. Mayonaise – The Smashing Pumpkins
My interest in (rock) music stops at the 90’s era. Where everything were original unlike now.

16. Life Goes On – Poison
Pedoman cantik bagi mereka yang menganut paham SLJJ (Sambungan Love Jarak Jauh).


17. Wasted Time – Skid Row
An anti-Bon Jovi love song. Sayang tidak dibawakan sewaktu mereka manggung di Ancol


18. Motorcycle Emptiness – Manic Street Preachers
Manic Street Preachers at its best. No doubt about it

19. Lurgee – Radiohead
Thom Yorke dan Jonny Greenwood tenggelam dalam larutan beer + Prozac.


20. Burn One Down – Ben Harper
Satu dari sekian mars “Dukung Legalisasi Ganja.”

…If you don’t like my fire
Then don’t come around
Cause I’m gonna burn one down
Yes I’m gonna burn one down…


21. This Guy’s In Love With You – Faith No More
A cover version from Herb Alpert’s, written by Burt Bacharach and Hal David. Too bad I forgot to include this on my wedding song.


22. Join Me In Death – HIM
Romantika bunuh diri Made In Finland


23. Hurt – Nine Inch Nails
NIN sukses menutup konser Wave Goodbye 1989 – 2009 di Singapura beberapa waktu lalu dengan lagu ini. Dan sampai saat ini pun saya masih merinding membayangkannya.

Note: Indra7 is part Metal, part House. Part Sunset Strip Sleaze-Rock, part Detroit Techno. Part Microchip, part Media Distorsi. All Obsessive Compulsive Disorder.

_________________

See y’all again next Wednesday!

Boozed, Broozed, and Broken-boned,
RUDOLF DETHU

___________________

The Block Rockin’ Beats
Every Wednesday, 8 – 10 PM
The Beat Radio Plus – Bali, 98.5 FM

120 minutes of cock-melting tunes.
No bullcrap.
Zero horse shit.
Rad-ass rebel without a pause.

Shut up and slamdance!

Rock-n-Roll Exhibition: INDRA7

Edition: February 03, 2010

Rock-n-Roll Exhibition: INDRA7
Join Me in Death & Destruction: Symphony of Manic Street Preachers

:: Playlist, notes and (most) photos, written and handpicked by Indra Himself ::

No matter what music that I hear
No matter what music that I play
I don’t give a damn with all restrictions and labels attached to me
This is me, this is my music

The Playlist:


01. Kickstart My Heart – Motley Crue
Salah satu anthem klasik yang selalu saya putar sebagai lagu pembuka ketika Monday Mayhem masih berjaya pada masa itu. Cepat, keras, tanpa tedeng aling. Mari kita ugal-ugalan.

02. Symphony Of Destruction – Megadeth
Fuck “Guitar Hero”. Play the real thing!


03. Authority – Biohazard
Semangat Hardcore saat SMA. Memakai hoodie Thrasher Magazine walaupun cuaca Jakarta siang itu hampir 34’C. Fuck the rules!


04. Nutshell – Alice In Chains
Saya menyebutnya sebagai “rock suntik.” Saya tidak menggunakan substansi dengan jarum suntik, tapi apabila saya terkapar di UGD RSKO Fatmawati dengan jarum menancap di tangan, bisa dipastikan earphone yang menempel di kuping saya berisikan lagu ini.


05. Raining Blood – Tori Amos
Tori Amos sepertinya mengerti essensi dari sebuah cover version yang baik dan benar. Jika Raining Blood versi Slayer adalah soundtrack yang tepat untuk pergi membunuh, maka versi Tori Amos ini lebih tepat didengarkan untuk mereka yang ingin mati muda.


06. Coma – Sasha
Taken from The emFire Collection LP. Sasha is the Trent Reznor of dance music. Sasha is a genre. Period.

07. Roar – Patrice Baumel
Sebuah komposisi electronic music yang sangat tidak lazim menurut saya. Musik ini tidaklah danceable, tapi cukup dapat “memeras otak” pendengarnya. Jika Mike Patton meracau lewat teknik vokalnya, Patrice Baumel pun tidak kalah berkoar lewat perangkat Ableton Live 8


08. Born Slippy – Underworld
Siapa pun yang besar di era 90-an dan menganggap Mark Renton adalah nabi pasti akan sepakat bahwa lagu ini timeless.

09. Voodoo People – The Prodigy
Adalah Agus Sasongko yang pertama kali meracuni saya untuk menyimak The Prodigy. Dan seketika itu juga saya jatuh cinta dengan electronic music, dengan tidak berkhianat kepada para pejuang Sunset Strip. The Prodigy mengajarkan saya bagaimana attitude techno rock yang sesungguhnya.


10. Slip Slide Melting – For Love Not Lisa
Diambil dari salah satu album soundtrack terbaik yang pernah dirilis, The Crow, track no. 10.


11. Rocket Queen – Guns ‘N Roses
Ultra sensation of cheap vodka and a quick blow job in 6 minutes and 13 seconds

12. Hyperballad – Bjork
Soundtrack saya kelak di hari tua nanti.


13. Star Guitar – The Chemical Brothers
Ingin merasakan efek candy flip yang luar biasa? Star Guitar jawabannya.


14. Vapour Trail – Ride
Dengarkan di saat tenang.


15. Mayonaise – The Smashing Pumpkins
My interest in (rock) music stops at the 90’s era. Where everything were original unlike now.

16. Life Goes On – Poison
Pedoman cantik bagi mereka yang menganut paham SLJJ (Sambungan Love Jarak Jauh).


17. Wasted Time – Skid Row
An anti-Bon Jovi love song. Sayang tidak dibawakan sewaktu mereka manggung di Ancol


18. Motorcycle Emptiness – Manic Street Preachers
Manic Street Preachers at its best. No doubt about it

19. Lurgee – Radiohead
Thom Yorke dan Jonny Greenwood tenggelam dalam larutan beer + Prozac.


20. Burn One Down – Ben Harper
Satu dari sekian mars “Dukung Legalisasi Ganja.”

…If you don’t like my fire
Then don’t come around
Cause I’m gonna burn one down
Yes I’m gonna burn one down…


21. This Guy’s In Love With You – Faith No More
A cover version from Herb Alpert’s, written by Burt Bacharach and Hal David. Too bad I forgot to include this on my wedding song.


22. Join Me In Death – HIM
Romantika bunuh diri Made In Finland


23. Hurt – Nine Inch Nails
NIN sukses menutup konser Wave Goodbye 1989 – 2009 di Singapura beberapa waktu lalu dengan lagu ini. Dan sampai saat ini pun saya masih merinding membayangkannya.

Note: Indra7 is part Metal, part House. Part Sunset Strip Sleaze-Rock, part Detroit Techno. Part Microchip, part Media Distorsi. All Obsessive Compulsive Disorder.

_________________

See y’all again next Wednesday!

Boozed, Broozed, and Broken-boned,
RUDOLF DETHU

___________________

The Block Rockin’ Beats
Every Wednesday, 8 – 10 PM
The Beat Radio Plus – Bali, 98.5 FM

120 minutes of cock-melting tunes.
No bullcrap.
Zero horse shit.
Rad-ass rebel without a pause.

Shut up and slamdance!

PRISON OF BLUES: GRAVEYARD PARTY


Kian horor dan lebih eksplor. Garang, lugas, menderu-deru, rock-n-roll kotor.

Demikian deskripsi Graveyard Party dalam 2 kalimat ringkas-padat. Album kedua Prison of Blues setelah EP Trick or Threat ini bertaburkan 12 tembang khas psychobilly, 10 bersyair Bahasa Inggris, sisanya Bahasa Indonesia. Pula band asal Temanggung ini mengajak 3 penyanyi tamu: 2 WNA, 1 WNI.

Memilih “Horrible Dorms” sebagai single pertama, kuartet ini masih asik bermain-main di sekitar kuburan, peti jenazah, makam, dan gagak hitam, banyak kisah mencekam berjejer mengitari Graveyard Party.

Sebut saja Daniel Deleon, misalnya. Biduan Rezurex asal Los Angeles ini bisa dibilang punya peran “mengerikan” untuk lahirnya album ini. Sahabat pena Bowo, biduan Prison of Blues, tersebutlah yang mengusulkan pertama kali untuk duet bareng. Sepucuk tawaran yang sulit ditolak. Bowo mengiyakan seraya terinspirasi untuk melakukan hal senada−selain terdorong untuk kenapa tidak sekalian saja menerbitkan album penuh perdana. Temanggung Danse Macabre ini lalu mengajak tokoh kawakan kancah psychobilly, Titch, untuk berkolaborasi. Ternyata vokalis Klingonz itu menyambar dengan cepat, menyambut hangat.

Agar lebih durjana digamit juga Ika Zidane. Perempuan pendekar punk rock dari Havinhell ini dianggap klop sebagai pasangan berdendang. “Karakter vokalnya pas untuk lagu Killer Illusion,” terang Bowo.

Pengerjaan album yang sebagian besar dikerjakan di Blast Off Studio, Temanggung, ini termasuk lama, lebih dari setahun. Ada beberapa faktor penyebab. Sang pembetot contrabass tinggal di Jakarta. Lokasi yang berjauhan ini membuat susah untuk berkoordinasi sehingga cukup banyak makan waktu. Ditimpali dengan belasan kali retake vokal, drum, organ, gitar; yang membuat peluncurannya molor terus.

Bowo, penanggung jawab departemen senandung serta penulis sebagian besar lirik dan musik, mengakui proses penyelesaian yang berlarut-larut. “Kepulangan kami dari konser di Inggris tambah membuka mata kami soal kompetisi yang ketat. Tidak bisa lagi kami asal-asalan dalam bermusik. Saingannya gila-gila. Makanya kami kali ini jauh lebih teliti dalam pengerjaan album. Maunya biar benar-benar maksimal hasilnya. Harus berkelas. Nah, setelah kami merasa puas baru deh album dirilis.”

Berdiri sejak 2007, Prison of Blues menjadi satu dari sedikit pemain lama di kancah psychobilly. Mereka termasuk pionir di skenanya, merupakan grup psychobilly yang kedua terbentuk−setelah Suicidal Sinatra. Penampilan mereka di festival Bedlam Breakout di Northampton, sejam dari kota London jika naik kereta api, menjadi sejarah tersendiri sebagai band psychobilly Indonesia−atau malah di Asia−pertama yang tampil di festival psychobilly terkemuka di manca negara. Personel termutakhir Prison of Blues adalah Bowo Prisoner (vokal, gitar), Nho Heart (gitar utama), Aldino (contrabass), dan Joe Hard (drum).

Y’all ghoul greasers! Pack up your coffins, let’s go to the graveyard and psycho-wrecking party!

Susunan lagu Graveyard Party:
01. Straight From Hell
02. City Of The Dead feat. Daniel Deleon
03. Mimpi Buruk
04. Graveyard Party
05. Strangers
06. Sindrom Likantrof
07. Black Xmas
08. Horrible Dorms feat. Titch
09. Killer Illusion feat. Ika Zidane
10. Schizophrenic Doctor
11. Psychoprisonphobia
12. Who Killed Your Friends

Studio: Blast Off Studio Recording
Mixing & Mastering: Ardi
Label: Zombie Attacks Records

Videoklip “Horrible Dorms” adalah sekaligus single pertama dari album penuh perdana milik Prison of Blues, Graveyard Party. Di video tersebut tampak juga Titch, biduan dari grup veteran psychobilly asal Inggris, Klingonz.

Memang, konsep lagu “Horrible Dorms” adalah Bowo berduet dengan penyanyi tamu. Di Graveyard Party sendiri ada 2 lagi lagu lain dengan konsep serupa.

Video oleh grup asal Temanggung bentukan 2007 ini seluruhnya mengambil lokasi di Inggris tepatnya London dan Northampton—sejam berkereta dari London. Syuting dilaksanakan ketika mereka menghadiri festival psychobilly Bedlam Breakout di Northampton.

Gambar hidup yang disutradarai oleh videografer kepercayaan SID dan Navicula, Erick EST, ini resmi tayang pertama kali hari Sabtu silam, 7 Januari 2017, berbarengan dengan pesta peluncuran Graveyard Party yang diadakan di Temanggung.