Tag Archives: alam

Trekking Danau Buyan dan Hutan Tamblingan – Bali

Setelah 13 tahun kemudian saya bisa mengulangi kembali trekking dari Danau Buyan membelah hutan Tamblingan, ketemu Danau Tamblingan dan kembali pulang ke Danau Buyan lagi. Berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2020 bersama istri tercinta Shinta Dyan K dan pasangan suami istri Om Decy dan Mbak Uci.

Hutan Tamblingan

Butuh waktu 6 jam pulang pergi dengan posisi awal (start) di parkiran Danau Buyan. Pukul 08.00 WITA berangkat dan kembali sampai di parkiran Danau Buyan pukul 14.00 WITA, menghasilkan 3 destinasi yang mrinding!

Peta Danau Buyan dan Danau Tamblingan

1. Ujung Barat Danau Buyan

Posisi berangkat bisa dikatakan berada di pertengahan Danau Buyan. Trekking masuk hutan yang pepohonannya rapi seperti di perkebunan. Mungkin usianya baru puluhan tahun tapi cukup rapat jaraknya. Kesan gelab syahdu cukup terasa disini.

Sempat keluar hutan sejenak untuk bertemu padang rumput luas. Dulu biasanya dipakai spot untuk event tertentu. 13 tahun silam pernah lewat situ banyak tenda-tenda besar ukuran barak tentara. Spot ini namanya Camping Ground Buyan II.

Masuk lagi hutan yang komposisi pohon nya masih sama berbaris rapi hasil settingan manusia hehehe. Mungkin ulah dinas kehutanan ya. Mulailah ketemu sama indukan ayam dan anak-anaknya. Cukup aneh kok ada di hutan. Ternyata disekitaran situ ada rumah penduduk. Cuma satu aja. MasyaAllah bisa juga hidup ya. Jauh banget dari keramaian.

Trekking Danau Buyan dan Hutan Tamblingan

Melewati rumah itu disertai lolongan anjing. Maklum lah si anjing ketemu orang asing. Si pemilik rumah berusaha mendiamkannya. Ada satu anjing yang rupanya jinak mengikuti kami untuk menikmati ujung barat Danau Buyan. Ada bebatuan disana yang instagramable. Eksotis lah! Bikin konten lah kita hehehe.

2. Danau Tamblingan Sisi Tengah

Perjalanan berlanjut masuk hutan yang berisi pohon-pohon super besar. Ya, seperti tempat yang tak terjamah manusia. Diameter pohon ada yang seukuran 4 hingga 10 orang yang berjajar. AllahuAkbar!

Pohon di Hutan Tamblingan

Cukup lama membelah hutan ini dan keluar di Pura Dalem Tamblingan. Kalau lihat di Google Maps, letak pura ini di sisi tengah danau. Kami turun dan menyusuri pinggiran danau.

Terdapat gubung-gubung dengan pondasi tinggi dari kayu di pinggiran danau. Sempat menebak sendiri fungsinya. Mungkin untuk upacara. Tebakan saya salah!

Untung ada pemancing disitu dan saya tanya fungsi gubug itu. Ternyata untuk memancing jikalau air danau pasang. Debit air tinggi bila musim penghujan datang. Wah saat ini sudah masuk musim penghujan.

Cukup jauh kami menyisiri pinggir danau tersebut. Saya mikir apakah pulang nya bakal balik lagi gunakan jalur Pura Dalem tadi? Saya ajak Om Decy pimpinan trekking untuk menjajal rute baru. Kebetulan hasil penyisiran menemukan celah jalan naik keatas.

Tapi kami istirahat dulu menikmati keberhasilan sampai di Danau Tamblingan. Setelah merenung, jeprat-jepret bikin konten, kami langsung naik keatas. Tak jauh dari tempat istirahat tadi ada celah untuk naik keatas.

3. Danau Tamblingan Sisi Timur

Allah Maha Keren! Ajakan saya tepat. Jalur baru tadi ternyata pernah kita lewati sebelumnya. Lumayan bisa memotong jarak dan waktu. Alhamdulillah.

Hutan Tamblingan

Om Decy menawarkan untuk naik bukit melihat kedua danau. Kami ambil arah yang berbeda dari jalur pulang. Eh ternyata bertemu Pura Ulun Danu Tamblingan!

Pura ini pernah saya kunjungi bersama teman-teman Bali Outbound 13 tahun silam. Saya bilang ke Om Decy bahwa dibawahnya ada jalan menuju danau lagi. Akhirnya kita turun dan menikmati sisi timur Danau Tamblingan. Lebih syahdu disitu.

Danau Tamblingan

Mungkin 30 menit kami disitu dan konsentrasi agak buyar karena salah satu dari kami merasakan rintik air dari atas. Ya, bakal hujan!

Benarlah hujan. Kami pulang diguyur air dari langit. Untung bawa jas hujan.

Trekking kali ini penuh tantangan! Saya bersyukur masih hidup. Waaaa. Bagi yang membaca tulisan ini dan trekking di musim-musim penghujan, hati-hati pacet dan ular! Mereka suka dengan yang lembab-lembab.

Diawal perjalanan memasuki hutan, saya sempat bilang ke rombongan kalau trekking disini kayaknya cocok untuk family termasuk anak-anak. Mohon maaf akhirnya saya cabut. Jika berbanyak, mungkin lebih dari 10 orang, berpotensi membangunkan ular. Bersepatu dan berkaus kaki pun tidak jaminan bebas pacet. Bisa masuk!

Trekking yang cocok untuk family dan anak-anak hanyalah sebatas Camping Ground Buyan II saja. Selebihnya harus punya persiapan dan bekal khusus.

Satu lagi, tantangannya adalah tersesat. Tidak ada penunjuk arah dalam hutan sana. Banyak persimpangan. Om Decy sebagai penunjuk jalan berbekal pengalaman pernah bersepeda disana. Kemudian dia bawa alat penunjuk arah (Garmin). Itupun masih tersesat hehehe. Ikhlaaaas hehehe.

Ya Allah terima kasih atas keselamatan yang Engkau berikan kepada kami.

Tonton aja video saya ya. Cukup mewakili tulisan saya kecuali pacet dan ular hehehe.

Hiking Mengejar Cinta di Bukit Campuhan Ubud

Ikutan yuk sama teman-temanku lari di Ubud?” Itu ajakan cinta saya, si istri 🙂 Setelah diskusi lebih dalam ternyata trek nya di Bukit Cinta, Campuhan Ubud – Bali. Yay! Saya belum pernah kesana. Jangan ketawa ya wkwkwk.

Bukit Cinta Campuhan Ubud

Berangkat dari Denpasar selepas subuh saya, istri dan Altaf (anak lelaki kami paling bontot) serta teman-teman istri di komunitas Pelari Hore. Ya, kumpulan orang-orang pecinta olah raga lari.

Hiking ini olah raga yang cukup terjangkau secara budget. Tinggal siapin kendaraan, bawa bekal minum dan makanan dari rumah, jadi deh olah raga.

Waktu itu hari Minggu, 18 Oktober 2020. Setiba di Campuhan – Ubud, kami parkir kendaraan di pelataran SMK Pariwisata Putra Bangsa. Lokasinya dibawah jembatan Campuhan. SMK itu ada kok di Google Maps. Salah satu parkir yang paling dekat ke Bukit Cinta, Campuhan – Ubud.

Bukit Cinta Campuhan Ubud

Kami langsung cuss ke arah bukit. Cukup mudah dikenali jalan nya. Setapak tapi sudah di beton dan akan ketemu jalanan berpaving yang membelah punggung Bukit Campuhan. Makanya klo di Google Maps, kawasan Bukit Cinta ini bernama Campuhan Ridge Walk.

Kalian kalau cari nama Bukit Cinta di Google Maps, akan diberikan display Bukit Campuhan oleh Google. Trus nama jalanan yang berada di punggung bukit itu adalah Jalan Bangkiang Sidem. Coba cek aja di Google Maps.

Mayoritas kami ternyata tidak lari. Jalan kaki alias hiking saja wkwkwk. Ealah. Namun 2 km sebelum finish, para srikandi Pelari Hore rupanya gatal untuk berlari. Wuzz berlarilah mereka. Saya terpaksa ngalah dengan permintaan Altaf, dia nggak kuat dan akhirnya naik Go-Jek wkwkwk. Sempat minta Om Fuad menemani Altaf tapi ternyata memilih untuk lanjutkan hiking.

Pelari Hore

Kembali ke awal perjalanan hiking. Kami menelusuri jalanan di Bukit Cinta Campuhan sampai ketemu perkampungan. Selain rumah penduduk, berjajar cafe, homestay, dan vila dengan diiringi pemandangan yang menakjubkan. Persawahan, padi yang menghijau dan menguning, hijaunya pepohonan di lembah dan perbukitan. MasyaAllah indah di mata dan di hati. (Lihat foto-fotonya dibawah)

Sampailah kami di pertigaan Jannata Resort and Spa kemudian belok ke kiri. Menyusuri jalanan aspal satu-satu nya disana. Kalau di Google Maps, jalan itu bernama Jl. RSI Markandya II hingga ke RSI Markandya I. Jalan teruuuus hingga ketemu pertigaan dan belok kiri menyusuri Jl. Raya Campuhan. Hingga ketemu kembali dengan jembatan Campuhan dan turun kebawah menuju pelataran SMK Pariwisata Putra Bangsa.

Peta ke Bukit Cinta Campuhan Ubud

Kurang lebih 7 km jarak total hiking ini. Kata teman istri yang punya alat ukur nya. Jam tangan Garmin kayaknya. Waw mrinding! Itu peta diatas bisa klik dan diperbesar. Bisa jadi panduan bagi yang belum pernah kesana.

Saya sempatkan diri kebawah menuju sungai yang debit air nya kecil. Berada dibawah jembatan Campuhan, ternyata masih bernuansa eksotis. Ada bebatuan dan ada semeton Bali sedang upacara di pinggir sungai. Ada Pura kecil di pinggir sungai itu.

Sungai di Bukit Cinta Campuhan Ubud

Keajaiban 3 butir batu kerikil

Saya sama Altaf jalan paling belakang. Anak saya nggak mood dari berangkat. Mecucu terus dan mengeluh. Tugas saya untuk semangati dia. Saya hibur dan beri edukasi bahwa hiking haruslah riang gembira dan berfikiran positif. Itu buat kuat tenaga kita. Yah namanya anak kecil (kelas 4 SD), mood itu datang dan pergi. Tibalah ujian itu datang. Ditengah perjalanan Altaf bilang:

Pi aku kebelet ngengek (Buang Air Besar)!” Duh …

Langsung saya bilang, “Tahan dek, bentar papi carikan 3 butir batu kerikil. Nah ini dapat, satu, dua, tiga. Nih pegang dan simpan di saku celana pendek mu. Itu akan hilangkan rasa kebelet ngengek mu.”

Altaf agak bengong sambil tanya ala Surabaya’an, “Hah iya ta?

Iya, papi dulu kalau kebelet ngengek langsung cari 3 batu kerikil dan simpan di saku celana. Jalan lagi dan mampet.” Jawab saya meyakinkan Altaf.

Yuk jalan lagi, nanti mampet!” ucap saya cepat. Dan kami jalan lagi sambil obrol dan nggak ingat lagi soal ngengek.

Hendra dan Altaf

Sesampai di tujuan Altaf saya tanya, “Masih kebelet ngengek dek?” Altaf bilang tidak dan juga merasa heran. Teman-teman istri pun tertawa dengar nya. Antara tak percaya dan merasa dejavu. Ya, cara ini sudah jadi rahasia umum untuk cegah rasa kebelet BAB di jalanan.

Sebenarnya ini cara diri mendapat sugesti dari batu kerikil tadi. Perintahkan syaraf-syaraf tubuh untuk menghentikan rasa mules.

Saya pribadi sih antara percaya dan tidak tapi faktanya berhasil lho. Dulu semasa kecil juga pakai cara itu dan berhasil. Altaf juga berhasil. Aneh tapi nyata wkwkwk.

Kejadian lucu pas waktu kami makan bersama di warung Nasi Kedewatan. Altaf sehabis makan kebelet ngengek bilang, “Pi aku kebelet ngengek, mana kerikilnya tadi?

Meledaklah tawa saya dan teman-teman! Kalau sudah ada toilet ya jangan ditahan. Kerikil itu dipakai jika kamu kebelet dan tidak ada toilet.

Dah sana dibelakang ada toilet. Keluarin sebanyak-banyaknya dah hahaha.” Perintah saya wkwkwk.

Alhamdulillah masih bisa berolahraga sambil berwisata selama pandemi corona covid-19 berlangsung. Salah satunya menjaga kewarasan juga siy 🙂

Bukit Cinta Campuhan Ubud Bukit Cinta Campuhan Ubud Bukit Cinta Campuhan Ubud Bukit Cinta Campuhan Ubud Bukit Cinta Campuhan Ubud Bukit Cinta Campuhan Ubud Bukit Cinta Campuhan Ubud Bukit Cinta Campuhan Ubud Hiking di Bukit Cinta Campuhan Ubud Hiking di Bukit Cinta Campuhan Ubud Hiking di Bukit Cinta Campuhan Ubud Hiking di Bukit Cinta Campuhan Ubud Shinta dan Altaf Pelari Hore Pelari Hore Hendra dan Altaf Pelari Hore Pemandangan Bukit Cinta Campuhan Ubud Jembatan di Bukit Cinta Campuhan Ubud Sungai di Bukit Cinta Campuhan Ubud Sungai di Bukit Cinta Campuhan Ubud Hendra Shinta

Keruk-Keruk Mrinding Tanpa Reklamasi!

Sebuah kontemplasi dari perjalanan Denpasar ke Bedugul, Tabanan. Untuk Bali kita semua!

Pak Presiden Joko Widodo, Merdeka! Salam Bhinneka! Semoga selalu sehat dan penuh dengan kemuliaan. Amin. Selamat datang di Bali! Wah sudah jalan-jalan ke Sukawati, Bangli dan Nusa Dua ya Pak. Nanti akan buka Pesta Kesenian Rakyat Bali (PKB). Semoga lancar ya Pak 🙂

Btw Bapak kemarin ditanya wartawan soal rencana reklamasi Teluk Benoa. Bapak malah bertanya balik, “Lima tahun sudah jalan enggak (reklamasi). Pertanyaannya lima tahun sudah jalan enggak? Iya kan.” Sepertinya Bapak nggak singkron dengan bawahannya. Izin lokasi reklamasi Teluk Benoa telah diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pimpinan Menteri Susi Pudjiastuti pada 29 November 2018. Duit Rp. 13,076 miliar telah disetor ke negara untuk si investor menuju proses selanjutnya. Kenken nike Pak?

Kita di Bali bakal sisihkan waktu dan konsentrasi untuk menangkal proses itu Pak. Para warga Bali bakal ‘berdarah-darah’ lagi. Lha Bapak sepertinya enak tinggal menonton saja pertarungan kami, sesama warga negara NKRI. Yang kami butuhkan aksi kongkrit! Hadir ketika rakyat merasa kawatir dengan penolakannya.

Baik lah Pak. Tulisan ini salah satu perjuangan juga. Agar terlepas dari intimidasi psikologis dari investor dan Perpres nya Bapak. Saya mau cerita tentang keruk mengeruk ya Pak. Tanpa reklamasi secuil pun!

Pak, ketika on the way dari Denpasar ke Bedugul untuk prepare kegiatan Pesantren Digital Indonesia Camp V, saya melihat banyak perubahan dan geliat ekonomi di sepanjang jalanan yang masuk wilayah Kabupaten Tabanan itu.

Bermobil bersama Presiden Pesantren Digital Indonesia Mas Khairul Mahfuz, saya menjumpai lokasi wisata besar bernama Joger Luwus dan Secret Garden. Apa itu? Pastinya staf ahli Bapak tahu lah tentang mereka. Disekitarnya Pak, ibarat satelit banyak properti komersial bermunculan penyemarak properti wisata utama.

Hendra Khairul

Dampak sosial ekonomis terdengar seperti cerita manis disana. Banyak warga sana yang mendulang profit akibat dari jualan makanan, minuman, clothing, dan oleh-oleh khas Bali lainnya. Bahkan jasa sekunder pun laris seperti parkir dan toilet. Belum lagi, harga sewa/jual properti disana pun terdongkrak naik. Wow! Continue reading

99% Reklamasi Teluk Benoa Batal!

Kawal 1% nya hingga pukul 01.00 WITA dini hari nanti!

* Apa muatan demo 25 Agustus 2018 tadi sore?
Menurut Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Wayan Gendo Suardana: Ingatkah 25 Agustus 2014, ijin lokasi diterbitkan Menteri kelautan era SBY. Inilah dasar hukum Investor (PT. TWBI) menyusun AMDAL. Lalu AMDAL tersebut dikritisi sehingga akhirnya tidak lolos sampai ijin lokasi berakhir 2016.

Bali Tolak Reklamasi

Ijin lokasi ternyata diperpanjang karena Meteri Susi Pudjiastuti tidak menjawab permohonan dari investor. Sehingga secara hukum, otomatis diperpanjang sampai 25 Agustus 2018.

Kalau 25 Agustus 2018 AMDAL belum dinilai layak maka proyek berhenti karena ijin lokasi sebagai alas hukumnya sudah kadalauarsa. Ijin lokasi sudah tidak bisa diperpanjang karena secara hukum, ijin lokasi reklamasi hanya bisa diperpanjang 1x (dan itu sudah dilakukan pada 25 Agustus 2016 lalu).

Ini hari sabtu dan institusi pemerintahan harus nya libur. Bisa dikatakan 99% harusnya pengajuan proyek reklamasi Teluk Benoa batal! Namun tanggal 25 Agustus 2018 masihlah sampai nanti pukul 00.00 WIB atau 01.00 WITA. Maka jagalah 1% nya ini di daerah masing-masing. Siaga tetap ada. Bawa dalam doa.

* Ada apa dengan Perpres no. 51 Tahun 2014?
Perpres ini digugat agar dibatalkan oleh Presiden RI yang menjabat. Apa urgensinya harus batal? Karena Perpres itu mengatur kawasan Teluk Benoa. Isinya ubah status Teluk Benoa dari kawasan konservasi menjadi non konservasi alias kawasan yang potensial guna pengembangan kegiatan ekonomi.

Sumber: http://bit.ly/perpres51th2014

Pak Wayan Koster (gubernur Bali terpilih) mengatakan: Perpres No 51 Dicabut Akan Rugikan Daerah Lain. Sepertinya Bapak ini salah baca. Perpres no. 51 Tahun 2014 jelas sebutkan pemanfaatan kawasan Teluk Benoa termasuk penyelenggaraan reklamasi paling luas 700 (tujuh ratus).

Meski ijin investor pertama (PT. TWBI) yang rencananya hangus malam nanti, bisa jadi atas dasar Perpres itu akan lahir PT PT lainnya yang akan mencaplok Teluk Benoa. Perjuangan belum terhenti kawan!

* Memang nya apa sih kerugian Bali jika Teluk Benoa direklamasi?
Banyak! Rentan bencana, abrasi, banjir dll yang semuanya bisa dibaca di: http://bit.ly/bahayareklamasibenoa

Mari membawanya dalam doa dan tetap berjuang!

Salam #BaliTolakReklamasi
www.hendra.ws
Bukan Pebisnis Demo tapi Pebisnis Web :p

Memburu Tenggelamnya Matahari di Bukit Kursi

Pengunjung dapat menikmati momen matahari terbit maupun tenggelam. Foto Ahmad Muzakky.

Muhammad Naufal Khaqi bergegas memacu sepeda motornya sedikit lebih kencang.

Ia melaju ke barat seirama matahari yang beranjak pulang.Tempat yang dituju Khaqi adalah Bukit Kursi ia berangkat dari Kota Singaraja, di Bali bagian utara. Untuk menuju Bukit Kursi, ia harus menempuh jarak hampir 60 km, memakan waktu kurang lebih satu setengah jam.

Khaqi, wisatawan asal Jawa Timur yang sedang berlibur ke Bali memutuskan mengunjungi Bukit Kursi akhir Juli lalu setelah mendapatkan rekomendasi dari temannya.

Karena perjalanan memakan waktu yang lumayan lama, Khaqi memilih berangkat lebih awal, pukul tiga menjelang sore. Hal tersebut ia lakukan agar tak ketinggalan momen-momen saat matahari tenggelam.

Sesampainya di loket pintu masuk bukit ini Khaqi mencatat namanya di daftar pengunjung yang sudah disediakan oleh pengelola. Sore itu, ia adalah wisatawan ke-107 yang berkunjung ke lokasi tersebut. Di hari libur, menurut Sumiarti, petugas yang berjaga di loket saat itu, wisatawan yang berkunjung ke sini bisa mencapai 300 orang.

Usai mengisi buku daftar pengunjung, Khaqi membayar uang donasi sebesar Rp10.000 kepada petugas penjaga. Wisatawan yang datang ke Bukit Kursi tidak dikenakan biaya masuk. Wisatawan hanya perlu membayar uang donasi seikhlasnya.

“Uang donasi tersebut digunakan untuk mengembangkan fasilitas wisata Bukit Kursi. Seperti pengadaan toilet dan tong sampah, membangun araeal parkir, memperbaiki tangga yang rusak,” ujar Sumiarti.

Seorang pengunjung menikmati momen matahari tenggelam di atas Ayunan Cinta. Foto Ahmad Muzakky.

Spot Sunrise dan Sunset

Dua hal yang biasa dilakukan wisatawan ketika berkunjung ke Bali adalah menikmati momen terbit dan tenggelamnya matahari. Hal tersebut tak ingin dilewatkan oleh Khaqi.

Pemandangan matahari terbit atau tenggelam memang memiliki daya pikat tersendiri bagi penikmatnya. Bulatan matahari yang kuning dengan cipratan semburat oranye di langit seperti mampu menyihir mata yang memandangnya.

Sebagian wisatawan tak akan melewatkan ini. Hal itu yang kemudian memunculkan beberapa sunrise dan sunset spot, istilah untuk menyebut tempat yang ramai dikunjungi untuk menikmati momen matahari terbit dan tenggelam.

Di Bali spot-spot seperti ini biasa ditemui di pantai. Pantai Sanur atau Serangan untuk memburu matahari terbit, pantai Kuta atau Tanah Lot untuk memburu matahari tenggelam.

Khaqi memilih Bukit Kursi untuk menikmati sunset bukan tanpa alasan. “Kalau ke pantai Sanur dan Kuta kan sudah terlalu mainstream. Pemandangan sunset di sini tidak kalah indahnya dengan di sana,” ujar Khaqi merujuk pada spot sunset popular yang ada di Bali.

Dengan ketinggian hanya 700 meter Bukit Kursi cocok digunakan untuk wisata berburu matahari terbit dan tenggelam bagi siapan saja. Wisatawan hanya perlu mendaki sekitar setengah jam hingga puncak.

Jalur treking sepanjang Bukit Kursi tidak merepotkan. Pengelola membangun anak tangga sepanjang trek utama untuk memudahkan pengunjung ketika mendaki. Namun jika ingin yang lebih menantang wisatawan bisa mendaki Bukit Kursi dengan jalur berbeda.

Lelah ketika mendaki pun tidak akan terasa. Pasalnya mata pengunjung akan dimanjakan dengan lansekap menawan dari atas ketinggian. Jika memandang ke utara dari Bukit Kursi akan terlihat birunya Teluk Pemuteran, pusat wisata menyelam dan spiritual terkenal di Bali bagian utara. Di sisi selatannya menjulang barisan perbukitan.

Meski begitu saat akan mendaki Bukit Kursi Karena tetap perlu stamina yang fit. Siapkan bekal sendiri seperti air mineral dan camilan karena di areal Bukit Kursi tidak ada pedagang.

Bukit Kursi adalah wisata dua musim. Jika berkunjung pada musim hujan hamparan bukit akan berwarna hijau menyegarkan mata. Pada musim kemarau hamparan bukit akan berubah warna menjadi coklat. Namun hal tersebut tidak akan mengurangi keelokannya. Apalagi jika ditambah dengan cahaya emas matahari kala sore atau pagi.

Di puncak bukit kursi terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu yang oleh pihak pengelola dinamakan Ayunan Cinta. Pengunjung bisa berfoto di sana dengan latar hamparan bukit di sisi barat, hamparan lautan di sisi utara, serta matahari terbit atau terbenam.

Di atas bukit terdapat Pura yang digunakan oleh umat Hindu bersembahyang. Foto Ahmad Muzakky.

Wisata Spiritual

Di atas Bukit Kursi terdapat pura yang disucikan oleh umat Hindu. Di dalam pura tersebut terdapat batu yang berbentuk kursi.

“Pada tahun 1984 areal pura tersebut merupakan batu biasa. Kemudian oleh pelingsir Desa Pemuteran pura tersebut dinamakan Pura Bukit Batu Kursi,” ujar Ketut Wirdika, tokoh adat Desa Pemuteran.

Berada di Bali Utara, topografi Desa Pemuteran merupakan kawasan pesisir laut utara yang dikelilingi perbukitan di sisi selatannya. Di sepanjang perbukitan inilah berdiri beberapa pura yang digunakan sembahyang oleh umat Hindu. Pura tersebut di antaranya adalah Pura Pulaki dan Pura Melanting yang bersebelahan dengan Pura Bukit Batu Kursi.

Menurut Wirdika, awalnya Bukit Kursi hanya diperuntukkan bagi orang yang akan bersembahyang. Sejak awal tahun 2000-an, Bukit Kursi mulai dibuka untuk tujuan wisata.

Kini Pura Bukit Batu Kursi tak hanya ramai dikunjungi oleh umat Hindu yang akan bersembahyang. Pura Bukit Batu Kursi juga dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Dengan demikian berwisata di Bukit Kursi merupakan gabungan wisata alam, wisata petualangan, wisata spiritual.

Karena terletak di areal sekitar pura, wisatawan yang berkunjung ke Bukit Kursi diharuskan menjaga tindak-tanduknya. Pengunjung yang ingin melihat batu kursi harus memakai pakaian adat karena memasuki kawasan pura.

Mendaki Bukit Kursi terdapat beberapa peraturan yang harus ditaati oleh pengunjung. Salah satunya adalah aturan mengenai bendera kuning dan merah di jalur yang dilalui. Jalur yang terdapat bendera kuning artinya aman untuk dilalui, sementara terdapat bendera merah tidak aman dilalui.

Bagaimana? Tertarik untuk ke sana? [b]

Catatan: tulisan ini juga pernah dimuat Mongabay Indonesia.

The post Memburu Tenggelamnya Matahari di Bukit Kursi appeared first on BaleBengong.