Tag Archives: AJW 2019

Berkah dan Kisah Anugerah Jurnalisme Warga 2019

Penerima AJW kategori video, Sugiehermanto.

Ada banyak berkah di malam Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019 ini. Selain masih bisa magibung (bancakan), meplailanan (dolanan), tahun ini ada Combine RI, Kacak Kicak, dan Made Mawut si blues krisis.

Dua hari sebelum malam AJW, tim Kacak Kicak teater boneka anyar ini sudah memasang sejumlah instalasi di Taman Baca Kesiman, lokasi langganan AJW tiap tahun. Puluhan burung dari jerami di jalan setapak, di antara hamparan kebun organik TBK.

Setelah itu di halaman rumput sisi Utara, ada tenda hitam dengan belasan kotak-kotak kardus kosong. Ini play ground anak, mereka dipersilakan berkreasi membangun dari balok-balok kardus, atau mendongeng bersama beberapa instalasi kandang burung hantu.

Instalasi kardus KacakKicak

Setelah itu di halaman tengah, tergantung beberapa boneka kombinasi kayu dan jerami. Inilah panggung utama AJW sekaligus panggung teater boneka Kacak Kicak. Kicak adalah istilah lokal desa Pedawa, Buleleng, untuk anak-anak. Santiasa aka Jong, pendiri Kacak Kicak menjadikan AJW momentum kelahiran teater boneka ini.

Jong dan rekan-rekan teaternya di Kacak Kicak bukan seniman baru. Mereka terbilang eksis, rajin membuat garapan di event-event sosial budaya di Bali melalui teater Kalangan, juga dengan nama kelompok lainnya. Di AJW, seluruh rangkaian kegiatan dipandu tokoh-tokoh Kacak Kicak seperti Pak De yang memandu magibung, Tut Mertha memandu maplalianan, sampai pertunjukan utama mereka bertajuk Tut Mertha dan I Cepuk.

Ternyata Kacak Kicak merespon satu sesi melali di dusun Pagi, suka duka burung hantu. Adegan demi adegan selama 24 menit dinikmati dengan khusyuk oleh pengunjung, termasuk anak-anak di baris terdepan. Tikus-tikus di sawah, celepuk terbang rendah, ditembak pemburu, tersungkur, sedih, haru, penyesalan, dan jiwa baru I Cepuk.

Tim teater boneka KacakKicak

Teater boneka ini merundukkan ego, tersungkur di kaki kejujuran, dan melayang bersama imaji. Pengisi ruh para tokoh boneka tak nampak dominan, mereka berhasil berada di belakang bayang-bayang dan rona wajah kalem Tut Mertha, kecerian Pak De, dan keberanian I Cepuk.

Pada sesi yang serius seperti diskusi media warga Jer Basuki Mawa Desa pun tokoh ini hadir. Donny BU perwakilan Kemkominfo, Ferdhi dari Combine, media Warta Desa, dan Marsinah FM mendiskusikan dampak dan tantangan menuju warga berdaya atas informasi. Sebelumnya dibuka oleh Imung Yuniardi dan Kepala Seksi Sumber Daya Komunikasi Publik Dinas Kominfo dan Statistik Provinsi Bali, IB Ludra.

Setelah melalui serangkaian apresiasi oleh juri terdiridari BaleBengong, Dandhy D. Laksono (WatchDoc), Ahmad Nasir (pegiat media warga), dan Widuri (ICT Watch), terpilih 5 pemenang di tiap kategori.

Kategori Pewarta Warga bisa diikuti siapa saja yang memiliki produk jurnalistik yang dipublikasikan melalui media daring (online) dan non daring (offline) tergantung aksesibilitas di media warga seluruh Indonesia. Pendaftar menunjukkan minimal satu produk jurnalistik yang dinilai telah membawa perubahan bagi komunitasnya. Karya dapat berupa tulisan, video, foto, dan ilustrasi (komik, infografis, dll).

Pemenang di kategori ini untuk format artikel adalah I Wayan Suardana (Denpasar) dengan tulisan Peladung, Jejak Awal Mekanisme Adat Menyikapi Investasi.

Dandhy D. Laksono mengatakan karya Suardana adalah sebuah jejak sejarah penting dalam gerakan warga adat di Bali menghadapi investor air kemasan, dikisahkan oleh pelakunya sendiri. Dua pemenang pewarta warga kategori video dan artikel ini kuat dari segi ide dan prosesnya. “Bagaimana tuna netra menggunakan inderanya menikmati keramaian dalam kegelapan, sebuah paradoks,” katanya tentang cara tuna netra mengakses pantai sebagai fasilitas publik.

Karya kategori artikel lain yang masuk dalam sepuluh finalis adalah Ni Nyoman Ayu Suciartini (Bali Menggugah, Kini Harus Tabah), I Made Julio Saputra (Rare Segara), Dian Suryantini (Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan), Kardian Narayana (Sidatapa, Berkabar Lewat Burung Yang Dilepasliarkan), Tobing Crysnanjaya (Rumah Intaran, Inspirasi Kearifan Lokal dari Desa Bengkala), Diana Pramesti (Kisah Mewujudkan Mimpi, Desa yang Berdiri Sendiri), I Wayan Junaedy (Selamat Pagi Burung Hantu di Banjar Pagi, Selalulah jadi Sahabat Petani), Isun (Warung Subuh, Napas Dusun dalam Semangat Anak Muda), dan Intan Rastini (Membangkitkan Kesadaran Lingkungan dari Hulu).

Untuk kategori Pewarta Warga format Video pemenangnya adalah Sugihermanto (Surabaya) dengan video Pantai Parang Tritis, Keindahan dalam Kegelapan. Sugi yang mengalami low vision, konsisten membuat video di Youtube pengalaman tuna netra dengan akun Mlaku mlaku. “Media mainstream tak mempekerjakan disabilitas. Ayo isi channel Youtube, ruang kebebasan untuk jadi content creator,” ajak Sugie. 

Tiga karya lain adalah I Made Argawa (Obyek Wisata Selfie Sebagai Pelestari Sungai di Tabanan), Lanang Taji (Memanen Hujan), Fanky Catur Nugraha (Pilot Inkubasi Inovasi Desa Pengembangan Ekonomi Lokal)

Diskusi Media Warga bersama Donny BU (Tenaga Ahli Kemkominfo), Ferdhi (Combine RI), Warta Desa, dan Marsinah FM.

Media warga adalah media yang diprakarsai dan dikelola secara mandiri oleh kelompok warga non-perusahaan pers (non profit), tidak berafiliasi dengan partai politik, maupun pejabat publik. Selain mendaftarkan diri, warga juga bisa mengusulkan media warga favoritnya yang berkontribusi terhadap perubahan sosial di komunitasnya. Pemenang Kategori Media Warga format Daring adalah Warta Desa (Pekalongan). Didik Harahap, pengelola Warta Desa menyebut pernah jual motor untuk menghidupi media yang mempublikasikan berita peristiwa dan feature sekitar Pekalongan. M. Nasir, juri lain menyebut Warta Desa bereksperimen dengan banyak medium, radio, dan cetak.

Adapun media warga lain yang masuk 10 besar lain adalah BAFE, buruh.co, tatkala.co, Terune.id, Speaker Kampung, Merapi News, Forbanyuwangi, Ciamis.info, dan Mercusuar.

Untuk kategori Media Warga format Radio pemenangnya adalah Radio Komunitas Marsinah FM (Jakarta). Dia bersaing dengan satu radio lain yaitu Rakom Suandri FM (Sumatera Barat). Dian, penerima penghargaan di malam AJW punya banyak cerita pengorbanan pengelola media berbasis elektronik dan daring ini melakukan advokasi dan pendampingan buruh. “Buat tenda depan perusahaan atau ditangkap karena aksi lewat jam malam,” kisahnya.

Kategori Pegiat Literasi Digital adalah individu atau komunitas yang mendorong perubahan aktif dan memadukan penggunaan media daring (online) dan aktivitas luring (offline). Perubahan aktif ini terkait praktik baik dan inspiratif dari desa, atau menyebarkan literasi digital yang dilakukan atau digaungkan melalui media daring seperti media sosial, blog, dan lainnya.

Pemenang di kategori ini adalah Rumah Literasi Indonesia (Banyuwangi). Komunitas ini aktif dalam kegiatan literasi baik daring maupun luring. Kegiatan komunitas ini antara lain mengadakan talk show online, kelas literasi digital online, gerakan literasi melalui medsos, penggalangan iuran publik untuk gerakan literasi, dan menyediakan informasi terkini tentang isu pendidikan melalui website.

Pegiat media dan pewarta warga sejumlah daerah di Indonesia bermain bersama di Maplalianan.

Mereka juga mengadakan kelas film di sekolah-sekolah dan komunitas, seminar literasi digital di sekolah, kampus dan komunitas, memproduksi konten positif, serta pelatihan dan pemberdayaan masyarakat tentang jurnalisme warga. “Sejak 2014, menjangkau 57 taman baca, dan relawan 500. Kami juga pernah mengajak geng motor mendistribusikan buku,” papar Tunggul Hermanto, pendiri Rumah Literasi Indonesia.

Komunitas lain yang masuk dalam sepuluh besar adalah Yayasan Klub Buku Petra, Panti Digital Sulawesi Selatan, Hidden Gems Story, Tunanetra Sighted Network, Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri, Jawasastra Culture Movement, Bumi Setara, Bali Mendongeng, dan Pemuda Mendesa.

Kelima pemenang tiap kategori mendapatkan uang penghargaan Rp 2.500.000, piagam, plakat, serta beasiswa pelatihan membuat video di Denpasar, Bali bersama Dandhy D. Laksono, pegiat Watch Doc.

Diskusi media warga

FGD Pegiat Media Warga

AJW tak sekadar apresiasi, juga mempertemukan sejumlah pegiat media warga dalam diskusi terfokus tentang perlindungan hukum. Kegiatan ini dihelat sehari sebelum malam AJW di Denpasar. Diskusi ini menindaklanjuti kedatangan Direktur Combine, Imung Yuniardi dan Ferdhi ke gudang lama BaleBengong di Jl Noja Ayung, Denpasar yang berbuah kolaborasi AJW ini. Diskusinya saat itu serius, apa dan siapa itu media warga? Lembaga pendampingan media komunitas berusia 18 tahun bermarkas di Jogja ini memiliki kerisauan sekaligus harapan untuk penguatan media dan pewarta warga.

Wah senang sekali ada yang kan mengayuh perahu ini bersama. Sejak awal AJW dihelat, kami selalu membuka kolaborasi terbuka. Tak hanya sekadar sponsor atau donatur tapi juga pemikiran, dan pelaksana dari nol bersama.

Dengan dukungan Combine, skala penjaringan karya kembali dibuka secara nasional. Sebelumnya AJW 2017 juga pernah mengundang peserta dari luar Bali dengan berkolaborasi dengan 11 media warga/komunitas. Pewarta warga bisa mendaftarkan karyanya yang sudah terpublikasikan di 12 media yang terlibat dalam AJW. Namun, kolaborasi ini kurang erat, karena sekadar partisipan. Tak terlibat menyiapkan dan melaksanakan seluruh tahapan kegiatan AJW.

Namun, tahun ini, AJW 2019 hampir mendekati harapan, Combine dan BaleBengong patungan pembiayaan. Baik dari kas sendiri atau menggalang donasi tambahan dari pihak lain. Seperti tahun lalu, BaleBengong membuat Bazar Sembako. Menyatukan produk-produk pangan lokal berkualitas dari sejumlah desa di Bali, yakni garam laut dari Amed dan minyak kelapa Nyuhetebel (Karangasem), gula aren Besan (Klungkung), dan beras merah dusun Pagi (Tabanan).

Program rintisan adalah Melali Bareng Musisi ke dua desa produsen bazar sembako, Nyuhtebel dan Pagi. Bersama dua biduan folk indie Bali, Dadang SH Pranoto (vokalis Dialog Dini Hari) dan Guna Warma (Nosstress). Sebuah perjalanan Jer Basuki Mawa Desa sekaligus penelusuran produk bazar sembako dengan berkunjung langsung ke petani dan desanya.

Tak hanya musisi yang terlibat, namun banyak pihak yang melengkapi kisah perjalanan Melali ini. Misalnya mengajak GoodFriendBali, sebuah travel agent anyar, dirintis dua anak muda yang mengampanyekan tur beretika, ramah lingkungan, dan adil.

Kemudian pembelajaran tambahan dari penggunaan SunZet, generator listrik dari tenaga surya yang bisa mengakses area outdoor untuk memasok listrik konser mini. Di Dusun Pagi, konser dihelat di tengah sawah yang baru saja panen padi merah atau padi tinggi, pertanian yang terus dilestarikan secara ekologis. Tim SunZet dikomando Gung Kayon sudah menjemur panel di tengah sawah sejak pagi untuk menabung energi yang akan digunakan mulai sore hingga petang.

Melali di Pagi terasa kurang lama, karena rangkaian kisah sambung menyambung, dari praktik koservasi burung hantu (celepuk) sebagai predator alami tikus sawah, keberadaan sarang celepuk sebagai penanda sumber air, sampai filosofi padi Bali. Matahari sudah menggelincir ke horison, Dadang mulai memetik gitarnya ditemani aroma padi yang sedang dijemur. Puluhan warga mendekat, menikmati lagu-lagu Kubu Carik dan Dialog Dini Hari.

Melali di Dusun Pagi, Tabanan bareng Dadang-Dialog DIni Hari

Melali di Karangasem pun seperti kekurangan waktu. Mulai dari sejarah lokasi ngopi yakni Banjar Karangsari yang unik, mengenal belasan jenis pohon kelapa di kebun, sampai pembuatan minyak kelapa.

Diskusi kelapa harus dipotong untuk menyongsong sisa senja di Bukit Pekarangan, Ngis. Makan bersama, megibung dengan menu sate pepes ikan Mendira sebelum menikmati suara merdu Guna Warma Kupit. Melali Karangasem melintas dua desa bertetangga. SunZet knock down pun berperan sentral, karena outlet listrik terdekat di kaki bukit, sekitar 100 meter.

Melali bareng Guna Warma-Nosstress di Karangasem

Fiuh, perjalanan AJW 2019 yang cukup panjang dan mengejutkan. Sampai jumpa di AJW 2020, siap berkolaborasi?

Foto-foto: Risky, Vifick, dan Fauzi.

The post Berkah dan Kisah Anugerah Jurnalisme Warga 2019 appeared first on BaleBengong.

Inilah Para Penerima Anugerah Jurnalisme Warga 2019

dav

Ada yang menulis tentang advokasi dan aktif melakukan literasi.

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) adalah agenda tahunan BaleBengong, salah satu media warga di Bali, untuk mengapresiasi pegiat jurnalis dan media warga. Pada tahun 2019, BaleBengong kembali menyelenggarakan AJW dengan berkolaborasi bersama Combine Resource Institution (CRI).

Melalui kolaborasi ini, AJW 2019 digelar dengan menambah dua kategori nominasi, yakni media warga dan pegiat literasi digital.

Sejak April 2019, kami membuka pengumpulan karya bagi media warga, pewarta warga, dan pegiat literasi digital. Setidaknya, terdapat total 87 yang mengirimkan karya dan mengajukan diri dengan masing-masing: Media Warga (24), Pewarta Warga (16), dan Pegiat Literasi Digital (47).

Rangkaian prosesnya meliputi seleksi administrasi dan penilaian oleh juri terdiri dari Luh De Suriyani (BaleBengong), Dandhy D. Laksono (sutradara, WatchDoc), Ahmad Nasir (pegiat media warga), dan Widuri (ICT Watch).

Melalui proses tersebut, juri dan panitia memutuskan pemenang sebagai berikut:

Kategori Pewarta Warga

Kategori Pewarta Warga bisa diikuti siapa saja yang memiliki produk jurnalistik yang dipublikasikan melalui media daring (online) dan non daring (offline) tergantung aksesibilitas di media warga seluruh Indonesia. Pendaftar menunjukkan minimal satu produk jurnalistik yang dinilai telah membawa perubahan bagi komunitasnya.

Karya dapat berupa tulisan, video, foto, dan ilustrasi (komik, infografis, dll).

Pemenang di kategori ini untuk format cetak adalah I Wayan Suardana (Denpasar) dengan tulisan Peladung, Jejak Awal Mekanisme Adat Menyikapi Investasi.

Adapun yang masuk dalam sepuluh finalis adalah:

Untuk kategori Pewarta Warga format Video adalah Sugihermanto (Surabaya) dengan video Pantai Parang Tritis, Keindahan dalam Kegelapan.

Tiga karya lain yang masuk empat besar adalah

Kategori Media Warga

Sebagai catatan, media warga adalah media yang diprakarsai dan dikelola secara mandiri oleh kelompok warga non-perusahaan pers (non profit), tidak berafiliasi dengan partai politik, maupun pejabat publik. Selain mendaftarkan diri, warga juga bisa mengusulkan media warga favoritnya yang berkontribusi terhadap perubahan sosial di komunitasnya.

Pemenang Kategori Media Warga format Daring adalah Warta Desa (Pekalongan).

Media warga yang masuk 10 besar lain adalah:

Untuk Kategori Media Warga format Radio adalah Radio Komunitas Marsinah FM (Jakarta). Dia bersaing dengan satu radio lain yaitu Rakom Suandri FM (Sumatera Barat).

Kategori Literasi Digital

Kategori Pegiat Literasi Digital adalah individu atau komunitas yang mendorong perubahan aktif dan memadukan penggunaan media daring (online) dan aktivitas luring (offline). Perubahan aktif ini terkait praktik baik dan inspiratif dari desa, atau menyebarkan literasi digital yang dilakukan atau digaungkan melalui media daring seperti media sosial, blog, dan lainnya.

Pemenang di kategori ini adalah Rumah Literasi Indonesia (Banyuwangi). Komunitas ini aktif dalam kegiatan literasi baik daring maupun luring.

Kegiatan komunitas ini antara lain mengadakan talk show online, kelas literasi digital online, gerakan literasi melalui medsos, penggalangan iuran publik untuk gerakan literasi, dan menyediakan informasi terkini tentang isu pendidikan melalui website.

Adapun kegiatan luringnya mengadakan kelas film di sekolah-sekolah dan komunitas; seminar literasi digital di sekolah, kampus dan komunitas; memproduksi konten positif; serta pelatihan dan pemberdayaan masyarakat tentang jurnalisme warga.

  • Komunitas lain yang masuk dalam sepuluh besar adalah:
  • Yayasan Klub Buku Petra
  • Panti Digital Sulawesi Selatan
  • Hidden Gems Story
  • Tunanetra Sighted Network
  • Komunitas Blogger Makassar Anging Mamiri
  • Jawasastra Culture Movement
  • Bumi Setara
  • Bali Mendongeng
  • Pemuda Mendesa

The post Inilah Para Penerima Anugerah Jurnalisme Warga 2019 appeared first on BaleBengong.

Kisah Mewujudkan Mimpi, Desa yang Berdiri Sendiri

Salah satu gambar unggahan Dicky saat mempersiapkan bahan terbaik untuk perayaan Musim Panen Mnahatfeu di Komunitas Lakoat Kujawas. Ilustrasi: Deny Pratama.

Saat memikirkan ide tulisan tentang desa, saya terngiang-ngiang Ibu saya.

Dia selalu mengatakan pada saya, ia akan bahagia hidup sederhana di desa dengan tanaman-tanaman yang bisa diolahnya jadi makanan. “Ih asyik sekali pasti, Dek. Buat gubuk kecil di kebun juga sudah cukup.”

Ibu hampir tak pernah absen menyebut impiannya ini tiap kali kami menyantap makanan olahannya: jaje timus, kolak, pisang goreng, bolu pandan dengan daun pandan dan kayu suji yang tinggal dipetik di halaman rumah. Saat-saat di rumah dan sering mendengarkan ia bercerita soal mimpinya itu, saya hanya mendengarkan sepintas lalu.

Beberapa tahun kemudian, saat menyaksikan seorang teman, Christian Dicky Senda, memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Desa Taiftob, Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur barulah saya paham kesungguhan mimpi Ibu saya. Niat awal melakukan riset di kampung halaman berujung kemantapan hati Dicky untuk tinggal.

Sebelumnya, saya melihat cuitannya di Twitter pada 27 April 2016; Mimpi saat ini. Pulang kampung ke Mollo, Timor, beli tanah, jadi petani kopi, bikin homestay, bikin perpus dan sekolah alam, menulis buku. Kemudian tak lama, Dicky membangun komunitas Lakoat Kujawas di desanya.

Lakoat Kujawas, komunitas dengan konsep social enterprise yang dikembangkan untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya anak-anak muda Mollo. Fokus kegiatannya di bidang literasi, kesenian, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.

Hingga saya menulis ini, saya melihat Lakoat Kujawas terus bertumbuh bersamaan dengan semangat Dicky untuk desa kelahirannya. Saya pikir, mimpinya perlahan-lahan menjadi nyata dan semoga tetap didukung semesta.

Saya bertemu Dicky untuk kali pertama pada 2015, saat kami sama-sama mengikuti Youth Adventure dan Youth Leader Forum yang diselenggarakan oleh Gerakan Mari Berbagi di Cibubur. Setelah itu, sekali pun kami belum pernah bertemu lagi. Kami hanya saling berkabar secara tidak langsung melalui Instagram, tempat di mana saya bisa menyaksikan pergerakan Dicky dan Lakoat Kujawas.

Cerita saya tentang Dicky kali ini juga merupakan hasil amatan saya di media sosial. Semoga kelak ada kesempatan saya mengobrol lebih jauh dengannya.

Sejak 2016, Dicky sangat konsisten mengunggah foto berisi keterangan singkat ataupun panjang prihal aktivitasnya di Lakoat Kujawas. Tentang perpustakaan yang dibangunnya di co-working space Lakoat Kujawas—begitu ia kerap menyebut.

Saya turut senang menyaksikan bahwa semangat Dicky di Lakoat Kujawas menular, kawan-kawannya, komunitas lain turut berkolaborasi dengan menyumbangkan buku untuk perpustakaan ini. Anak-anak Mollo semakin giat membaca.

Dicky juga memberikan apresiasi untuk anak-anak yang paling rajin meminjam buku. Baru-baru ini ia meneritakan tiga anak paling banyak meminjam buku, Dino, Edo Sesfaot dan Dimi Otemusu. Rata-rata meminjam lebih dari 75 buku per tahun.

“Memang angka bukan segalanya. Dino tahun ini lulus dengan nilai bahasa Indonesia terbaik di sekolahnya, pernah diliput Tempo English, dan tulisannya ada di tiga buku terbitan Lakoat Kujawas,” tulis Dicky pada foto yang memperlihatkan ketiga anak ini sedang duduk di teras sambil membawa buku.

Impian di Mollo

Hal-hal yang membuat saya tertarik, sekaligus ngiler, adalah saat Dicky mengunggah makanan khas Mollo dengan bahan-bahan dari kebun Lakoat Kujawas dan petani Mollo. Sekali waktu, saya melihat pisang Deli dan ubi kapuk bakar yang dijual di Pasar Kapan. Saya membayangkan, nagasari dimasak dengan pisang Deli itu atau makan ubi kapuk bakar saat Mollo sedang dingin-dinginnya.

Ada juga jagung bunga atau popcorn, bisa saya rasakan kenikmatannya sambil melumat film-film di Netflix sambil bersantai di hari Minggu. Belum lagi, sambal Lu’at organik produksi Lakoat Kujawas yang terlihat menggoda itu, sungguh benar-benar menggiurkan.

Belum sampai di sana. Ada ubi jalar ketan hitam, singkong rebus dan pisang Luang yang dimakan dengan madu asli Mollo, dan berbagai panganan lokal pengganti nasi seperti bose, ubi, jali, krotok, tewawut, pisang, keladi, sorgum, dan makanan lain yang diolah Dicky dari bahan-bahan organik di kebun Lakoat Kujawas.

Saya membuat daftar sendiri di buku saya berjudul, Impian di Mollo, berisi hal-hal yang ingin saya makan dan ingin saya lakukan ketika kelak saya bisa bertandang ke Lakoat Kujawas.

Dicky tertarik dengan pangan, terutama makanan khas Mollo yang sudah ada sejak zaman nenek moyangnya di sana. Ia pernah menulis impiannya melalui akun Lakoat Kujawas di Facebook. Mimpinya begini; Lagi berpikir untuk menulis buku resep makanan khas Mollo tapi ditulis ala buku sastra. Atau sebaliknya, menulis cerpen atau puisi tapi sebenarnya resep masakan (plus mitos-mitosnya). Selain itu, ia juga jago masak, tak diragukan lagi!

Lewat berbagai makanan yang dihasilkan di Lakoat Kujawas, saya bisa menjamin bahwa masyarakat Mollo tak akan kelaparan dengan berbagai tanaman dan hasil alam yang Mollo suguhkan. Pisang ambon, alpukat, kujawas/guava, kopi Kartika khas Mollo, lakoat/loquat, lemun asam, labu siam, onat lau/daun mint lokal, dan masih banyak lagi warna-warni tanaman yang tumbuh di kebun Lakoat Kujawas.

Nama Lakoat Kujawas sendiri diambil dari dua tanaman yang dekat dengan masa kecil masyarakat Mollo; lakuat dan kujawas. Dua tanaman yang selalu ada dan dekat dengan Mollo.

Ilustrasi Ukke dan aktivitasnya di Circa. Ilustrasi oleh: Deny Pratama

Kenapa Mesti Balik?

Dengan segala hal-hal inspiratif yang saya lihat dari Dicky di Lakuat Kujawas, tiba-tiba saya dialihkan oleh pertanyaan Ukke Kosasih pada Januari lalu. Menurut Diana, kenapa orang-orang mesti pindah dan balik ke kampung?

Pertanyaan ini membuat saya berpikir sejenak. Sebagai penduduk asal Bali yang sudah lima tahun di Bandung dan Jakarta, tentu ini pertanyaan yang memberikan saya ruang untuk berpikir. Pertama, ada kemungkinan sulit untuk melepaskan peluang yang kita dapat di kota. Kedua, teman-teman dan jejaring lebih kuat terbentuk di kota. Pertanyaan ini sungguh membuat saya bimbang.

Hal-hal yang kemudian, pada hari ini, memberi saya kekuatan bahwa kelak saya tetap harus pulang. Mengingat kembali tujuan saya bersekolah sejauh-jauh, setinggi-tingginya—meski tak harus, untuk bekal saya pulang dan bisa menjadi lebih baik buat orang-orang di rumah. Lebih-lebih jika saya bisa melakukan hal yang dilakukan oleh Dicky di kampung saya sendiri, di Bali.

Sedikit cerita, Ukke merupakan pendiri Circa Handmade. Sebuah komunitas dengan konsep serupa yang dilakukan Dicky, social enterprise dengan produk utamanya adalah boneka dengan karakter unik yang dibuat oleh para perempuan di desa Cihanjuang, Bandung.

Berbeda dengan Dicky, Cihanjuang bukan kampung Ukke. Ia memutuskan untuk membentuk Circa atas dasar kesenjangan desa-kota yang dilihatnya, utamanya terkait isu perempuan. Terutama pernikahan dini dan kekerasan domestik yang terjadi dalam rumah tangga.

Pada 2006, ketika kredit mikro banyak diberikan oleh pemerintah untuk pemberdayaan perempuan, Ukke tak berpikir ini cara yang tepat untuk melakukan pemberdayaan perempuan. “Tapi apakah dengan cara itu? Karena ternyata ketika perempuan tidak memiliki self esteem, tidak mempunyai self existence, tidak bisa membayangkan mimpinya apa, uang yang di tangan pun nggak akan jadi apa-apa,” ujarnya melalui pembicaraan di telepon.

Saat wawancara via telepon pada Januari lalu, Ukke menjelaskan Circa dalam sebulan bisa menerima sebanyak 400 boneka. Penjualan bonekanya pun sudah merambah Australia. Namun, apa yang lebih penting dalam pencapaian ini bahwa salah satu dari perempuan yang ada dalam Circa, Wati, sudah bisa melakukan pekerjaan secara mandiri. Beberapa pekerjaan administratif yang dulu dikerjakan oleh Ukke, kini sudah bisa ditangani Wati.

Hal ini membuat Ukke yakin, bahwa tanpa dirinya pun Circa tetap bisa berkembang. Ia juga mengatakan bahwa pencapaian yang membuatnya senang adalah ketika melihat teman-teman Circa sudah bisa membuat inovasi produk, berani mempresentasikan karyanya, dan bisa dengan bangga menghargai hasil karyanya. Buat Ukke hal ini menjadi bagian yang paling penting dalam proses pemberdayaan komunitas.

Cerita panjang tentang Dicky dan sedikit cerita tentang Ukke yang sampaikan dalam tulisan ini membawa saya kembali pada mimpi Ibu saya. Bahwa cerita dari desa yang saya kabarkan ini membuat saya yakin bahwa desa kelak tidak akan menjadi rumah untuk pulang. Desa bisa berdiri sendiri, desa bisa berdaya.

Benar kata Dicky, kelak kita tak perlu lagi pergi ke kota untuk iming-iming pekerjaan di kota. Atau ke luar negeri untuk iming-iming gaji tinggi puluhan juta.

Semoga kelak semakin banyak kabar dari desa yang bisa saya sampaikan. Salam. [b]

The post Kisah Mewujudkan Mimpi, Desa yang Berdiri Sendiri appeared first on BaleBengong.

Peladung, Jejak Awal Mekanisme Adat Menyikapi Investasi

Warga Desa Peladungan dan Walhi Bali memeriksa lokasi eksplorasi oleh investor. Foto Walhi Bali.

Desa Peladung mungkin saja tidak seterkenal desa lain di Bali.

Desa Kuta, misalnya, adalah pusat pariwisata Bali. Atau Desa Adat Tanjung Benoa yang belakangan sangat populer karena isu kontroversi proyek reklamasi Teluk Benoa yang berjalan sepanjang tahun.

Namun, bila menilik ke belakang, beberapa bulan sebelum kasus reklamasi Teluk Benoa mencuat, sejatinya ada peristiwa menarik terjadi di sana, yakni sebuah advokasi damai oleh warga Desa Adat Peladung dengan mekanisme adat. Dalam catatan saya, peristiwa ini adalah upaya penyelesaian konfik atas upaya investasi yang dilakukan dengan mekanisme adat. Bagi saya, peristiwa ini adalah sesuatu yang baru dan menginspirasi.

Nampaknya, hal ini pula yang menginsipirasi metode penolakan reklamasi Teluk Benoa, yang akhirnya menggunakan mekanisme adat. Kurang lebih sama dengan peristiwa di Desa Adat Peladung, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem.

Secara geografis Desa Adat Peladung sangat strategis, berada di bawah dua gunung yaitu Gunung Abang dan Gunung Agung. Di antara dua gunung tersebut, berturut-turut ada empat sumber mata air yang cukup penting bagi Desa Adat Peladung yang sebagian besar masyarakatnya bertani.

Empat mata air tersebut adalah mata air Ababi, mata air Yeh Ketipat, mata air Tahuka dan yang paling bawah adalah mata air Tirta Gangga. Mata air terakhir terkenal sebagai salah satu destinasi wisata di Karangasem Bali. Mata air ini juga yang selama ini menjadi sumber air untuk mengairi persawahan begitu luas dan produktif di Desa Adat Peladung.

Nampaknya posisi strategis itulah yang dilirik perusaahan air kemasan, PT Tirta Investama, pemilik merek terkenal Aqua. Pada 9 Oktober 2012 mereka mendapatkan surat izin ekplorasi air tanah dari Bupati Karangasem saat itu, I Wayan Geredeg, melalui Surat No 1 tahun 2012. Berdasarkan surat itulah PT Tirta Investama melakukan pengeboran di dua titik berdekatan terletak di dalam areal persawahan Subak Bungbung. Kedalaman pengeboran kira-kira 150 m. Pengeboran terdalamnya diperkirakan berada tepat 50 m di atas Kota Karangasem.

Kegiatan ini meresahkan warga, terutama yang menggantungkan hidupnya dari pertanian. Begitu juga masyarakat non-petani yang khawatir jika proses ini berlanjut sampai tahap ekploitasi, desa mereka akan mengalami kekeringan atau setidakknya kekurangan air dibanding sebelum ada ekploitasi air tanah.

Pecah dan Mencari Sekutu

Sebagaimana situasi dalam setiap kegiatan investasi, selain ada yang khawatir dan akhirnya bersikap menolak investasi air minum dalam kemasan (AMDK) ini, terdapat juga kelompok masyarakat yang pro atau setuju dengan investasi ini.

Menurut keterangan warga yang mendatangi kami, persetujuan itu dilatarabelakangi anggapan bahwa investasi Aqua akan menguntungkan secara ekonomi. Misalnya, menambah lapangan pekerjaan dan memberikan pendapatan bagi desa. Semua paparan itu saya dapatkan setelah sebagian masyarakat, yang merasa khawatir dan resah dengan kegiatan pengeboran guna ekplorasi air tanah, datang ke Kantor Walhi Bali.

Mereka ke kantor Walhi Bali untuk mencari tahu mengenai operasi Aqua sekaligus mencari dukungan untuk berjuang bersama menolak eksplorasi, eksploitasi dan pembangunan pabrik Aqua di desa mereka.

Dalam waktu cepat, kami mengajak mereka berdiskusi setelah melihat antusiame mereka. Kami memutuskan bekerja bersama-sama mengadvoaksinya. Menariknya, warga yang datang dari berbagai umur dan latar belakang pekerjaan: pengusaha, pekerja swasta, sampai sopir taksi.

Sebagian besar berdomisili di Denpasar. Adapun yang di kampung sebagian besar berkerja sebagai petani. Meskipun demikian, mereka membawa mandat dari kelompok masyarkat yang menolak Aqua yang tidak bisa hadir di kantor Walhi Bali.

Dari cerita merekalah kami mengetahui bahwa ternyata situasi di desa adat mereka telah terbelah. Terdapat tiga blok besar di Desa Adat Peladung dalam menyikapi rencana investasi Aqua yakni: kelompok setuju Aqua, kelompok menolak Aqua dan kelompok yang masih belum menentukan sikap.

Di sisi lain, laju investor dalam melaksanakan proyeknya sangat cepat. Mereka sudah membeli yang digunakan tapak pengeboran air. Dalam waktu cepat mereka sudah melakukan pengboran dua titik. Saat warga hadir ke kantor Walhi Bali, pengeboran sudah dilakukan. Saat itu warga menyatakan satu lobang pengeborannya sempat mengeluarkan air.

Menyikapi situasi yang sudah berkualifikasii pelik, kami segera menyusun agenda pertemuan membahasa situasi dan mempelajarinya dengan saksama. Syukurnya, warga yang datang tersebut bersedia dengan tertib untuk mengikuti agenda-agenda rapat advokasi. Sedari awal terlihat mereka memang antusias.

Menariknya, saya ingat betul, salah satu orang yang terlibat sudah berumur sepuh. Hampir mendekati usia 80 tahun. Beliau aktif dalam rapat-rapat advokasi bahkan sampai dini hari. Dipersilakan pulang duluan pun beliau tidak mau. Setiap rapat berbekal 1 botol air saja, tidak mengkonsumsi apapun. Rupa-rupanya diabetes menjadi alasan beliau berlaku seperti itu.

Semangat beliaulah yang menyemangati tim warga lain, yang rata-rata masih muda berumur 40an tahun. Sebenarnya dengan situasi di desa seperti itu, kami di Kelompok Kerja Advokasi Lingkungan (KEKAL) Bali, aliansi strategis bersama Walhi Bali, mempunyai pekerjaan cukup berat. Dalam waktu cepat kami harus meng-up grade kapasitas warga di tim ini.

Pertemuan warga Peladung bersama Walhi Bali. Foto Walhi Bali.

Berkejaran

Untungnya, kemauan belajar yang begitu kuat dari tim warga membuat hal berat menjadi lebih ringan. Dibantu Walhi Nasional dan jaringan Kruha di Jakarta, kami bertukar informasi. Laporan dilakukan dengan cepat karena berkejaran dengan aktivitas pengeboran yang sedang masif dilakukan oleh Aqua di lapangan.

Secara singkat, segala sesuatu yang terkait advoaksi dalam dalam hitungan dua minggu berjalan dengan baik. Proses up grading warga menjadi cukup baik. Selanjutnya mereka bekerja bahu membahu. Mulai dari membentuk tim di desa guna melakukan sosialissasi dari rumah ke rumah. Menyebarluaskan dampak buruk operasioal perusahaan AMDK. Tim warga menjelskan dengan data dan informasi yang mereka punya.

Ditambah lagi dengan cerita mengenai sejarah situasi air di desa mereka, saat dua sumber air di desa mereka diekploitasi oleh perusahaan daerah dan berakibat pada matinya sumber air tersebut. Refleksi situasi air dan kondisi desa ini memberikan kontribusi baik bagi penyadaran warga desa.

Secara perlahan, situasi berbalik. Masyarakat yang awalnya bersikap ragu karena kekurangan informasi menjadi melek. Akhirnya mereka bersikap mendukung perlawanan warga yang besikap menolak Aqua.

Secara keseluruhan, proses advokasi yang dilakukan warga desa yang menolak Aqua juga cukup terbantu dengan adanya kampanye-kampanye mengenai situasi krisis air di Bali. Dalam kurun waktu 2011-2012, isu mengenai krisis air di Bali begitu masif sehingga membuat masyarakat di Desa Adat Peladung lebih cepat waspada dan sadar.

Selain itu beberapa waktu sebelumnya, berita mengenai ditolaknya pabrik Aqua di Serang, Banten juga memberikan motivasi bagi warga untuk mencari informasi dan bersekutu dengan pihak-pihak yang dianggap punya keberpihakan terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Di saat proses sosialisasi sudah berhasil membuka kesadaran warga, di sisi lain terjadi juga reaksi dari pihak yang pro Aqua. Pada titik inilah situasi menjadi rumit terlebih untuk menjalankan prinsip-prinsip advokasi damai.

Solusi Penyelesaian Konflik

Dalam situasi itu tercetuslah ide bersama untuk mendorong proses ini diselesaikan melalui mekanisme adat. Ide ini awalnya muncul dari kekhawatiran atas potensi gesekan fisik antara kelompok pro dan kelompok kontra. Sementara kami semua sudah sepakat bahwa advokasi wajib berprinsip damai dan non kekerasan. Prinsip itu menjadi nilai dasar bagi perjuangan kami.

Ide ini selanjutnya coba didorong oleh warga di tim kami kepada pimpinan desa adat. Gayung Bersambut. Bendesa Adat Peladung ternyata menyambut dengan baik gagasan ini dengan kosekuensi logis, apapun hasilnya wajib diterima dengan damai dan konsisten.

Sampailah pada kesimpulan bahwa Desa Adat Peladung akan memfasilitasi aspirasi rakyat yang pro dan kontra dalam Paruman Desa Adat pada 8 Januari 2013. Setiap kelompok masyarakat baik yang pro maupun kontra diperbolehkan membawa narasumber yang bisa mewakili aspirasi mereka.

Singkat cerita, tibalah saatnya paruman (rapat) desa adat.

Suasana cukup menegangkan. Paruman dipimpin Sekretaris Desa Adat. Pihak pro Aqua menghadirkan banyak narasumber, di antaranya ahli dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bali, Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten Kararangsem, dan PT Tirta Investama sendiri. Pertemuan juga dihadiri Lurah Padangkerta. Sedangkan warga yang menolak Aqua menghadirkan narasumber Walhi Bali.

Sekretaris Desa Adat mempersilakan kelompok pro terlebih dahulu memaparkan materinya. Ahli dari IAGI Bali memaparkan bahwa situasi air di Karangasem surplus. Intinya investasi AMDK tidak akan merugikan situasi air di Karangasem, termasuk di Peladung.

Selanjutnya Pemkab Karangasem menjelaskan dasar izin ekplorasi yang diterbitkan Bupati dan memberikan pesan bahwa perizinan itu dipandang akan menguntungkan rakyat dari segi ekonomi. Demikian pula, saat PT Tirta Investama menjelaskan rencana proyeknya. Normatif saja, sama seperti komitmen-komitmen investasi lainnya.

Selanjutnya, tibalah giliran kami. Sebagai “ahlinya” warga yang menolak Aqua, saya memperkenalkan diri lalu menjelaskan situasi krisis air di Bali dari berbagai data yang saya peroleh sebagai refrensi.

Selanjutnya Suriadi Darmoko yang juga dari Walhi Bali. Dialah yang bertugas menelusuri sejarah air di Desa Adat Peladung lalu memateriilkan dalam bentuk “peta air”. “Peta” itu dikomparasikan dengan berbagai referensi. Terakhir ditutup dengan perbandingan praktik-praktik Aqua di beberapa daerah.

Hasilnya, Sudarmoko mendapatkan apresiasi luar biasa dari warga. Penjelasannya mengena pada nalar warga. Situasi ini nampaknya tidak diterima oleh ahli dari IAGI. Dia meminta waktu kembali melakukan bantahan.

“Walhi kalau mau memaparkan situasi air, jangan pakai data tahun 1945,” katanya lalu menjelaskan kembali data-data situasi air yang dia miliki. Tentu dengan kertas peta sebesar papan tulis jumbo. Namun, terlambat. Dia telanjur kalah langkah.

Tiba saat sesi diskusi. Warga nampaknya tidak sabar untuk masuk sesi ini. Kami yang sedang memutar film diinterupsi oleh warga. Akhirnya kami mengalah dan sesi diskusi dimulai. Kami sedari awal sudah diberitahu tim warga dan mengidentifikasi warga yang pro Aqua.

Saya cukup kaget saat yang bertanya pertamakali justru warga yang diidentifikasi sebagai kelompok pro. Saya ingat dia memakai polo shirt dengan warna merah bata. “Saya adalah warga yang mendukung Aqua,” kata pembuka yang membuat kami was-was.

“Namun, setelah mendengar pemaparan Walhi Bali berikut data dan film yang diputarkan, saya menyatakan menolak Aqua,” lanjutnya.

Plong! Tepuk tangan bergemuruh. Teriakan penolakan membahana.

Selanjutnya tidak ada satupun yang mampu menyetop saran pendapat yang semuanya menolak Aqua. Seolah-olah tidak ada lagi opsi mendukung Aqua. Euforia luar biasa. Sementara itu, di belakang piminan rapat, duduk para ahli dan pihak yang berkepentingan dengan Aqua terlihat kecewa. Beberapa orang terlihat menggerutu.

Buruh investor membongkar peralatan eksplorasi sumber air. Foto Walhi Bali.

Bupati Menyerah

Semakin siang semakin panas. Posisi warga penolak Aqua di atas angin, tetapi belum selesai. Saat warga meminta kepada pimpinan rapat agar saat itu dilakukan pengambilan keputusan, situasi semakin menegangkan.

Sekretaris Desa Adat tidak bersedia menjalankan agenda pengambilan keputusan. Alasannya, agenda rapat saat itu hanya untuk sosialisasi. Pengambilan keputusan akan dilakukan dua hari setelahnya.

Situasi memanas. Desakan warga semakin kuat, tetapi sekretaris adat bergeming. Nampak di belakang pipinan rapat gerutuan mengarah pada dukungan persetujuan atas sikap sekretaris adat untuk menunda agenda pengambilan kuputusan.

Saya yang saat itu berada di samping Bendesa Adat sempat berdiskusi dengan beliau. Tiba-tiba di luar dugaan beliau mencolek pinggang Sekretaris Desa Adat yang sedang bersitegang dengan warga. Dia lalu berbisik sebentar ke telinga Sekretaris Adat.

Saya tidak tahu persis apa yang dibisikan, tetapi dari gestur Bendesa Adat, terlihat beliau akan mengambil alih rapat. Benar saja, tiba-tiba beliau berpindah posisi dengan Sekretaris Desa Adat.

Dengan berbahasa Bali halus beliau membuka pernyataanya. “Saudara-Saudara, sebagai Bendesa Adat Peladung Saya mengambil alih rapat ini.”

Suasana hening.

“Oleh karena Saudara-saudara meminta agar hari ini dilakukan pengambilan keputusan, maka saya putuskan bahwa sekarang kita ambil keputusan,” lanjutnya.

Suasana bergemuruh. Keputusan Bendesa Adat disambut antusias warga. Tanpa basa-basi Bendesa adat menyatakan bahwa pengambilan keputusan akan dilakukan dengan voting terbuka, dengan cara angkat tangan.

“Saya tanyakan siapa saja yang menolak Aqua?” tanya beliau.

Warga yang menolak Aqua menaikan tangan dengan tegas. Terlihat sebagian besar menaikan tangan tanda tidak setuju dengan Aqua.

Selanjutnya Bendesa Adat berkata, “Oleh karena yang menaikkan tangan sudah sekitar 95 persen, maka saya tidak bertanya lagi siapa saya yang setuju Aqua. Dengan ini saya menyatakan, Desa Adat Peladung menolak Aqua!”.

Warga kembali bergermuruh. Saya dan Darmoko serta kawan-kawan lain terpana. Di luar dugaan, Bendesa Adat yang sedari awal duduk di belakang langsung mengambil alih rapat dan memutuskan untuk voting. Warga nampak bersorak gembira terutama tim yang bekerja sebulan lebih. Mereka berpelukan.

Saya tidak memperhatikan baagimana raut wajah para ahli dan pejabat yang pro Aqua. Saya larut dalam kegembiraan. Rapat ditutup dan perjuangan warga mengandaskan Aqua berhasil. Istimewanya dimenangkan dengan menggunakan mekanisme adat.

Setelah selesai rapat, warga bubar. Namun, kami bertahan sejenak.

Beberapa kawan jurnalis terlihat datang terlambat dan penasaran dengan hasilnya. Seorang kawan periset, Hendro Sangkoyo alias Mas Yoyo, juga masih belum percaya dengan hasil proses ini. Kami berbincang sebentar. Lalu warga dan beberapa perangkat adat mengajak kami menuju lokasi.

Sesampainya di lokasi ternyata, pekerja pengeboran sedang merapikan alat-alat. Ketika ditanya mereka menjawab bahwa mereka diperintahkan mengangkat alat pengeborannya. “Tidak dapat air, Pak. Pengeboran dihentikan,” ujar mereka.

Proses luar biasa ini dilanjutkan dengan membuat surat pernyataan Desa Adat Peladung Karangasem yang menyatakan menolak kegiatan eksplorasi, eksploitasi dan pembangunan pabrik Aqua di Desa adat Peladung sekaligus hal yang sama berlaku bagi perusahaan AMDK.

Sikap tersebut selanjutnya disampaikan dalam jumpa pers di Denpasar oleh perwakilan Prajuru Desa Adat Peladung didampingi Kekal Bali pada 14 Januari 2013. Surat tersebut telah disampaikan ke pada Bupati tetapi saat disampaikan ke media, Bupati Karangsem belum memberikan respon.

Namun, pada 15 Januari 2013 melalui keterangan tertulisnya, Wakil Bupati Karangasem I Made Sukerena menyatakan menghargai aspirasi warga dan menghentikan izin ekplorasi yang diberikan keapda PT. Tirta Investama.

Seluruh cerita yang saya paparkan di atas hanyalah rangkaian besar dari peristiwa yang sungguh menarik dan menginspirasi. Kemenangan melawan PT. Tirta Investama melalui mekanisme adat selanjutnya mengilhami gerakan yang kami lakukan, terutama dalam advokasi penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Menurut saya, 8 Januari 2013 adalah peristiwa monumental bagi gerakan advokasi. Sebab, Desa Adat Peladung secara nyata telah membuat referendum adat dalam menyikapi investasi yang masuk dan beroperasi di wilayah adatnya. Setelahnya pemerintah pun mau tidak mau harus menuruti keputusan yang diambil secara kolektif dalam mekanisme adat Bali. [b]

The post Peladung, Jejak Awal Mekanisme Adat Menyikapi Investasi appeared first on BaleBengong.

Membangkitkan Kesadaran Lingkungan dari Hulu

Setiap rumah tangga bertanggung jawab terhadap sampah masing-masing. Foto Intan Rastini.

Sudah begitu banyak sampah plastik terakumulasi di lautan.

Apakah ini akibat aktivitas warga yang tinggal di area sekitar pesisir atau pengunjung yang berplesir ke pantai? Apakah semua sampah plastik yang membahayakan ekosistem laut hanya berasal dari aktivitas manusia di sekitar pantai?

Tentu jawabannya tidak.

Semua manusia di manapun ia berada, bahkan yang di pegunungan pun patut bertanggung jawab terhadap sampah plastik yang terakumulasi di lautan. Mengapa? Karena semua sampah plastik yang turun ke laut, bisa terbawa melalu sungai dari hulu ke hilir.

Daerah yang merupakan puncak atau awal aliran sungai disebut sebagai hulu, sedangkan akhir dari aliran sungai disebut dengan hilir. Hilir akan bermuara ke lautan dimana aliran air sungai bertemu dengan air lautan yang luas.

Kita semua saling terhubung. Tidak hanya melalui aliran sungai, tetapi juga berpijak di planet yang sama. Daratan di Bumi hanya 29,2 persen sedangkan luas perairan 70,8 persen. Sampah plastik tidak hanya terakumulasi di daratan saja tetapi sudah tersebar di perairan.

Mamalia laut besar yang terdampar ke daratan pun sudah terbukti menjadi korban karena tidak mampu membedakan mana makanan dan yang mana sampah plastik. Sudah terkuak bahwa mereka menelan berbagai sampah plastik sehingga terakumulasi sampah di perutnya. Sampah plastik tersebut menyebabkan mamalia seperti paus merasa kenyang padahal mereka tidak dapat mencerna plastik.

Apa yang dapat saya perbuat? Tidak banyak.

Saya tidak mampu menolong paus-paus tersebut agar habitatnya bersih dari sampah plastik saat ini. Yang bisa saya lakukan adalah mengurangi agar sampah tersebut tidak menambah keadaan yang sudah memprihatinkan ini bertambah menjadi lebih buruk.

Saya tinggal di sebuah desa yang terletak di antara gunung Batukaru dan pesisir pulau Bali di sebelah barat daya. Desa saya berkontur perbukitan, dilalui sebuah sungai dan memiliki sebuah air terjun yang indah. Desa tempat tinggal saya ini bernama Desa Angkah.

Sungai yang mengalir di desa saya bernama Tukad Balian. Airnya cukup deras. Bahkan kami memiliki Bendungan Balian. Desa saya tidak memiliki lahan yang merupakan tempat pembuangan sampah akhir. Tidak ada tempat pembuangan akhir (TPA). Tidak ada tukang sampah.

Di desa, setiap rumah tangga bertanggung jawab terhadap sampah masing-masing. Hal ini yang membuat saya tertegun saat pindah domisili ke desa ini karena menikah dengan suami saya.

Memperkenalkan kesadaran lingkungan kepada anak-anak mengenai keadaan lingkungan. Foto Intan Rastini.

Tidak Mudah

Saya seorang wanita dan tentu saja setiap datang bulan akan menghasilkan sampah pembalut sekali pakai. Ini tidak mudah apalagi membuang sampah tersebut secara sembarangan bisa diacak-acak oleh anjing hingga tercecer ke jalan.

Dari sanalah saya mulai berpikir mengenai permasalahan sampah plastik. Masalah sampah pembalut, sampah popok sekali pakai anak saya, hingga ke masalah sampah plastik lain yang terus dihasilkan selama kegiatan konsumsi saya. Saya mulai berpikir bahwa sampah ini bisa dikurangi dengan penggunan alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Maka saya pun menggunakan pembalut dari kain yang bisa dicuci lalu dipakai kembali. Anak-anak saya saat bayi saya pakaikan popok kain yang memiliki kemampuan antibocor yang saya sebut clodi, singkatan dari cloth diaper. Perlahan-lahan saya terus memikirkan apa-apa saja yang tersedia alternatifnya agar tidak banyak sampah yang bisa dihasilkan di rumah.

Saya juga mendapat kesempatan untuk bisa mengajar bahasa Inggris di sebuah yayasan sosial di desa saya. Namanya Yayasan Eka Chita Pradnyan. Di sanalah saya belajar mendidik anak-anak di desa agar mendapatkan akses tambahan ilmu bahasa asing, olah raga, budaya, komputer dan ilmu tentang lingkungan yang berkelanjutan.

Saya pergunakan kesempatan ini sebagai tenaga pengajar untuk memperkenalkan kesadaran lingkungan kepada anak-anak mengenai keadaan lingkungan yang tercemar sampah plastik. Bagaimana plastik itu dapat mempermudah kehidupan kita untuk sesaat namun setelah tidak kita pergunakan, untuk jangka panjang dampaknya bisa sangat merugikan.

Sebagai desa dengan mayoritas masyarakat sebagai petani, kami bisa mendapat dampak dari pencemaran sampah plastik ini.

Berkurangnya kesuburan tanah akibat pencemaran plastik di tanah adalah salah satunya. Plastik susah terurai, jika dibiarkan di tanah akan tetap bertahan bentuknya dan mengganggu daya resap tanah terhadap air. Jika air tanah berkurang sama dengan cadangan air di tanah menipis, maka sumber air yang mengalir dari mata air bisa semakin menurun.

Selain itu keberadaan plastik di tanah yang merupakan materi anorganik akan terurai dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun, setelah itu plastik akan menyerpih menjadi mikroplastik. Mikroplastik dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme pengurai di tanah, inilah yang menyebabkan kesuburan tanah dapat berkurang. Alhasil panen petani tentu dapat mengalami penurunan.

Apa yang dapat saya tawarkan kepada anak-anak pada saat itu adalah berjalan-jalan keliling sawah dan perkebunan di Banjar Samsaman tempat pusat belajar yayasan berada. Sambil berjalan-jalan, saya ajak anak-anak untuk membawa kampil atau kantong kresek besar sebagai wadah sampah plastik yang dapat dipungut di sepanjang perjalanan.

Di mana pun kita berada, kita perlu memiliki kesadaran akan ke mana sampah yang kita hasilkan. Foto Intan Rastini.

Perlu Pembiasaan

Anak-anak memang senang melakukan jalan-jalan, tetapi tidak semua mau memungut sampah plastik. Mereka sudah tahu sampah plastik itu buruk bagi keindahan desa mereka. Mereka akan belajar bahwa dampak jangka panjang dari pencemaran sampah plastik akan berpengaruh besar pula pada keberlangsungan masa depan mereka kelak.

Beberapa relawan asing yang pernah datang di pusat belajar yayasan di desa saya sudah mengerti betul mengenai dampak pencemaran plastik. Mereka bahkan ikut senang melakukan jalan-jalan keliling seputar banjar Samsaman untuk menikmati alam sambil memungut sampah plastik.

Beberapa relawan juga mengajak anak-anak untuk membuat kerajinan dari sedotan plastik bekas dan tutup botol bekas menjadi tirai, membuat botol kemasan air mineral menjadi dekorasi, pot gantung, dan tempat pensil.

Selain itu saya juga mengundang sebuah komunitas di Denpasar yang digagas oleh anak-anak muda peduli lingkungan untuk menjadi relawan membawakan kegiatan berkaitan dengan lingkungan dan mengajarkan cara membuat eco-brick untuk membuat tempat duduk.

Anak-anak di yayasan pun saya berikan contoh bahwa menangani pencemaran sampah plastik bukan hanya dengan membersihkan sampah yang sudah ada, tetapi juga dengan mengurangi timbulnya sampah plastik dari awal.

Saya selalu datang mengajar dengan membawa botol minum. Saya katakan kepada mereka bahwa dengan membawa botol minum kita dapat mengurangi sampah air minum kemasan dan lebih hemat uang jajan juga.

Selain itu saya menjadwalkan grup anak didik saya di yayasan agar masing-masing anak membawa buah dan kami dapat makan buah bersama di kelas. Makan buah potong bersama selain sehat juga bisa mengurangi timbulan sampah plastik akibat jajan makanan ringan.

Banyak hal dapat dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah plastik dari awal. Semua itu perlu pembiasaan dan jika sudah terbiasa semua akan terasa mudah dan berjalan otomatis. Saya rasa di mana pun kita berada, kita perlu memiliki kesadaran akan ke mana sampah yang kita hasilkan ini berada. Baik kita berada di gunung, di pesisir ataupun di antaranya, umumnya sampah bisa hanyut terbawa oleh aliran sungai.

Untuk itu diperlukan pula pengelolaan sampah yang baik, pemisahan sampah organik dan anorganik juga diperlukan. Saya telah membuat lubang kompos di rumah untuk menampung sampah organik rumah tangga.

Selanjutnya pengelola yayasan pun setuju dan membuat lubang kompos juga di pusat belajar. Saya harap ke depannya desa saya akan bisa menjadi desa komposter dan memiliki bank sampah untuk menampung sampah-sampah anorganik terpilah yang bisa didaur ulang kembali. Di mana setiap warga desa yang sudah bertanggung jawab atas sampah rumah tangga masing-masing mengelola sampahnya dengan baik dan lebih baik lagi dengan mengurangi timbulnya sampahnya dari awal, dari hulu. [b]

The post Membangkitkan Kesadaran Lingkungan dari Hulu appeared first on BaleBengong.