Tag Archives: AJS 2019

Budidaya yang Baik, Jadikan Kakao Jembrana Meroket

Wayan Rata, petani penemu klon RTNJ01.

Oleh I Putu Angga Ardi Wilyandika

“Angga, kamu ikut sosialisasi, yaa, di SMK Negeri 2 Negara.”

Saya pikir apa, ternyata saya ditelepon hanya untuk mengikuti sosialisasi di SMK 2 oleh guru saya di masa istirahatnya para siswa. Di pertengahan liburan seperti itu agak malas rasanya untuk mengikuti kegiatan lain di luar rumah. Tapi, mau bagaimana lagi, sudah telanjur ditunjuk oleh guru.

Bayangkan jika saya menolaknya. Pasti saya dicap jelek oleh guru. Lalu bagaimana juga dengan nilai pelajaran jika saya tolak perintahnya? Maka dari itu, tanpa usaha untuk mengelak, saya pun menerimanya.

Selama liburan, saya sempatkan diri menemui guru yang menelepon saat itu dan bertanya mengenai sosialisasi apa yang dimaksud. “Sosialisasinya nanti akan ada penilaian juga.” HAAH?! Sosialisasi macam apa itu? Baru tahu kalau mendengar sosialisasi itu dinilai juga. Guru saya juga mengatakan akan ada sekitar 60 peserta mengikuti sosialisasi ini, tapi akan dibagi selama 3 hari. Terserahlah! Saya ikuti saja.

Bulan Juli entah tanggal berapa tepatnya, saya dan teman saya menghadiri sosialisasi di SMK Negeri 2 Negara, Baluk, mewakili SMA Negeri 1 Melaya. Sosialisasi dimulai sedikit lambat dari jadwal yang diinformasikan. Saya dan siswa dari sekolah lain dikumpulkan di satu ruangan tidak begitu lebar tapi cukup untuk kami tempati.

Sebanyak 16 orang peserta dalam ruangan itu mengikuti sosialisasi selama kurang lebih 4 jam. Mereka mensosialisasikan mengenai potensi kakao di Kabupaten Jembrana. “Kenapa harus kakao? Kenapa tidak pohon kelapa atau semacamnya? Atau mungkin si sumber beras saja?” Pikir saya saat sosialisasi baru dimulai.

Namun, setelah mendengarkan sosialisasi, yang pasti saya sedikit terkejut oleh pencapaian kakao Jembrana. Bagaimana tidak? Biji kakao yang selama ini saya acuhkan ternyata memiliki harga di mata dunia. Inilah yang menjadi penarik perhatian saya untuk fokus mendengarkan sosialisasi yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS).

Lalu bagaimana dengan penilaiannya? Penilaian yang dimaksud ternyata berupa tulisan. Kami diberi dua tema, yaitu “Apa yang akan saya lakukan jika saya seorang petani kakao” dan “Impian saya untuk kakao Jembrana”. Tiap peserta harus memilih salah satu dari dua tema tersebut dan menulis sesuai dengan tema yang telah dipilih.

Untuk menulis, kami diberi waktu 1,5 jam. Sebenarnya 1,5 jam itu tidak cukup bagi saya untuk menulis. Paling tidak saya perlu 4 jam untuk menulis 2 halaman penuh. Baru kali ini saya dikejar hanya untuk menulis. :’)

Tema yang saya pilih saat itu adalah “Impian saya untuk kakao Jembrana”. Menurut saya, tema ini yang paling mudah untuk disampaikan lewat tulisan. Awalnya saya terus berpikir saya akan kekurangan waktu. Apalagi jika saya membuat tulisannya di dalam buku terlebih dahulu lalu disalin ke kertas folio. Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung menumpahkan segala yang ada di pikiran saya di kertas folio yang sebelumnya diserahkan panitia untuk seluruh peserta. Dan, tak disangka saya mampu menyelesaikan tulisan saya dalam waktu cukup singkat bagi saya.

Usai menulis, kami mengumpulkannya. Tulisan kami tadi akan dijadikan bahan untuk seleksi peserta yang akan menjadi finalis penerima beasiswa. WOW…! Beasiswa ini membuat kami penasaran, karena begitu dirahasiakan oleh panitia.

Saat itu saya sangat berharap untuk bisa lolos sebagai 10 besar finalis penerima beasiswa. Saya optimis karena saya sudah aktif menulis sejak 2 tahun sebelumnya. Tapi pikiran pesimis juga menyelubungi kepala saya. Masalahnya ada 60 siswa lainnya dari seluruh sekolah di Jembrana yang saya belum tahu potensi yang mereka miliki.

Pengumuman 10 besar finalis penerima beasiswa dengan tajuk Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) ini akan disampaikan melalui telepon setelah semua karya selesai di seleksi oleh para juri.

Tak Disangka

Selama berminggu-minggu saya menunggu pengumuman peserta yang lolos. Saya sangat berharap menjadi salah satunya. Saya sering berpikir kalau saya tak akan lolos. Pasalnya sudah beberapa hari sejak kegiatan sosialisasi usai saya tidak mendapat panggilan. Saking penasarannya, saya juga mencari informasi dari teman saya yang berada di daerah Pekutatan yang juga mengikuti seleksi, tetapi belum menemukan jawaban pasti.

Hingga pada suatu hari, saya mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal dan bertuliskan “Denpasar”. “Halo Angga, selamat yaa kamu lolos ke tahap selanjutnya.” Ternyata sebuah panggilan dari kak Sri Auditya Sari, salah satu panitia di AJS, yang biasa disapa kak Tya. Kalau ditanya bagaimana perasaan saya, ya sudah pasti senang. Saat telepon ditutup, teriakan saya berada di whistle register (suara layaknya peluit).

Kami para peserta yang lolos tahap seleksi dikumpulkan di satu grup WhatsApp untuk memudahkan komunikasi. Segala informasi termasuk jadwal kegiatan yang akan diadakan diinformasikan melalui grup ini.

Kegiatan seleksi untuk finalis diadakan selama tiga hari, yakni tanggal 5 – 7 Agustus. Lokasi utamanya berada di koperasi KSS di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya.

Hari pertama saya sedikit terlambat datang ke koperasi, didahului peserta lainnya. Judes, itu yang terlintas di pikiran saya mengenai mereka. Maka dari itu saya sedikit kaku saat pertama bertemu mereka. Apalagi teman saya yang dulunya 1 organisasi, tetapi tak saling sapa dengan saya ikut lolos 10 besar penerima beasiswa AJS ini.

Hari semakin menjauhi pagi. Kami pun mulai berkenalan satu sama lain. Dan teman lama saya, yaa kami mengulang untuk berkenalan lagi seperti belum pernah mengenal sebelumnya. Kami sempat berjalan-jalan sebentar berkeliling koperasi sebelum pemberian materi oleh Pak Ketut Wiadnyana, Bu Agung Widiastuti dan Mas Anton Muhajir.

Usai pemberian materi oleh seluruh pemateri, kami menuju kebun salah satu petani Jembrana yang telah menjadi local champion, Wayan Rata. Tak telalu jauh, hanya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit dari koperasi KSS menuju kebun kakao Pak Rata di Dusun Nusa Sakti, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya. Kami banyak mempelajari mengenai tanaman kakao di sini.

Di penghujung hari, saatnya untuk mendapatkan tema penulisan seleksi final. Ada empat tema yaitu budidaya, cokelat & kesehatan, fermentasi & sertifikasi, manajemen koperasi dan gender. Setiap tema akan dipegang dua peserta. Selanjutnya setiap dua peserta akan menjadi satu kelompok untuk mengadakan penelitian, tapi tetap membuat karya secara individu.

Di hari kedua, seluruh peserta diajak ke Desa Cau, Kecamatan Marga, Tabanan, untuk melihat proses pengolahan bean to bar di Cau Chocolates. Kami menghabiskan banyak waktu yang sangat bermanfaat di salah satu pembeli kakao koperasi KSS ini.

Hari terakhir, berlokasi di koperasi Kerta Semaya Samaniya. Kami 10 finalis membicarakan rencana satu bulan ke depan untuk penelitian dan narasumber yang dituju bersama dengan kak Tya. Selanjutnya kami diberi materi mengenai kepenulisan oleh mas Anton.

Tiga hari berlangsung sangat singkat. Pengalaman, ilmu, dan teman adalah hal istimewa yang saya dapatkan.

Tahap selanjutnya adalah memulai penelitian objek. Sesuai dengan tema yang saya dapat, budidaya, sebagian besar narasumber yang saya tuju adalah petani. Namun, dari sekian petani kakao Jembrana, Pak Rata yang menarik perhatian saya. Oleh karena itu, Pak Rata yang menjadi narasumber utama saya kali ini dengan beberapa narasumber lain melengkapi.

Terjun

Sejuknya perkebunan kakao tetap terasa walaupun saat itu seharusnya sinar mentari sudah menyentuh tanah. Bagaimana tidak, sebanyak 550 pohon yang tertanam di tanah seluas 75 are ini membuat suasana begitu sejuk.

Wayan Rata atau yang biasa disapa Pak Rata ini telah berhasil menanam pohon kakao yang jumlahnya tidak sedikit. Keseluruhan pohon milik Pak Rata adalah tanaman kakao yang berkualitas. Tak salah jika Pak Rata diberikan gelar local champion. Apalagi kini kakek 11 cucu ini memiliki klon kakao hasil karyanya sendiri.

Mendengar kesuksesan pak Rata membuat saya makin penasaran dengan setiap langkah yang dilaluiya. Saya dan pak Rata duduk di sakepat ditemani suasana kebun yang sejuk membawa kami kembali ke masa lalu milik pak Rata.

“Kalau gak kamu, siapa yang mau ngurus kebunnya nanti?” ucapan inilah yang terlontar dari orang tua Pak Rata. Menanggapi hal itu, Pak Rata akhirnya berhenti bersekolah saat naik kelas 3 sekolah dasar dan membantu orang tuanya berkebun. “Yaa, seperti orang tua zaman dulu, harus ikut kerja sama mereka,” katanya.

Suatu ketika puluhan tahun lalu, pria kelahiran 1950 ini menikahi seorang gadis di tempat sama ketika ia dilahirkan dan tempat tinggalnya kini, Dusun Nusasakti. Kebetulan mertuanya memiliki tanah yang diwariskan. Pak Rata pun memanfaatkan tanah warisan mertuanya untuk berkebun. Awalnya tanah itu dipenuhi jagung, padi, kelapa dan ada juga ketela pohon.

“Jika menanam jagung, hanya sekali panen. Sudah begitu kalau mau menanam lagi harus menunggu hujan,” keluh Pak Rata di atas sakepat dikelilingi oleh hasil kerja kerasnya. Hal inilah yang membuat Pak Rata beralih ke kakao sebagai tanaman yang berbuah terus dan hanya perlu ditanam sekali, sisanya hanya merawat. Pada 1984-1985, Pak Rata mulai menanami sebagian besar tanah warisan itu dengan kakao.

Pada awalnya kebanyakan yang ditanam adalah klon dari Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI) atau Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember dan lindak, klon lokal. “Dulu cara menanamnya mudah. Bikin lubang, beri pupuk lalu tanam bibitnya.,” ujar sang local champion sembari memainkan tangannya memperagakan kegiatan menanam bibit.

Bibit yang ditanam adalah pemberian teman dan beberapa dari dinas. Pada saat itu masih banyak petani yang tidak tekun dengan kebun kakaonya. Karena harga kakao yang masih murah dan banyak buah dimakan tupai, banyak petani kakao menebang pohon kakaonya karena dianggap tak menguntungkan. Melihat teman-temannya banyak yang menyerah tak membuat Pak Rata ikut-ikutan menebang pohonnya. Dia berusaha bertahan.

Sampai saatnya penyakit Helopeltis dan penggerek buah kakao (PBK) secara besar-besaran menyerang pohon kakao milik Pak Rata. Helopeltis adalah hama pengisap buah kakao, bisa menurunkan 50-60 persen produktivitas buah. Adapun PBK atau yang sering disebut petani sebagai kankernya kakao adalah hama utama pada tumbuhan kakao. PBK menyebabkan biji yang melekat satu sama lain, ukurannya kecil dan kehitaman.

“Saya baru fokus ke kakao pada tahun 2001, tiba-tiba diserang hama penyakit di tahun 2002-2003. Itu hampir membuat saya stres. Mana saya belum paham jenis penyakit dan penanggulangannya,” kata ayah lima anak ini. “Untung saja saya tidak diganggu orang. Kalau diganggu bisa stres beneran saya,” imbuhnya.

Pada tahun yang sama pula Pak Rata mulai mencari solusi mengenai penyakit ini. Memiliki teman seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Sulawesi kebetulan sedang ke Bali, Pak Rata mulai untuk konsultasi. Akhirnya pada tahun 2003 penyakit Helopeltis dan PBK di kebun kakao Pak Rata bisa dihilangkan dengan bantuan obat kimia yang penggunaannya dengan cara disemprot.

Beralih Lebih Baik

Masa lalu merupakan pelajaran yang sangat berharga baginya. Hikmah dari semua yang ia hadapi, kini Pak Rata sadar bahwa tanaman juga perlu diperhatikan. Dengan ini semua, Pak Rata mengubah cara budidaya lama yang hanya tanam, siram dan tunggu hasil menjadi pola budidaya yang baru.

Setelah hilangnya hama, peremajaan pun dilakukan. Baik melalui pemangkasan, sambung maupun penanaman dari biji.

Dengan pola budidaya yang baru, menanam biji tidak boleh sembarangan. Biji harus dipilih dari pohon berkualitas atau buahnya bagus. Hari ini dibuka buahnya, besoknya dicuci sampai tiga kali ganti air, jemur 2 sampai 3 jam, setelah itu rendam dengan air kelapa muda sekitar 15 menit sebagai perangsang pertumbuhan. Setelah itu baru ditanam. Dari biji hingga ke buah paling cepat 3 tahun setelah penanaman.

“Karena banyak pohon dan belum ada sumber air, untuk penyiraman saya hanya menunggu hujan datang,” ungkapnya. Di musim kemarau, dedaunan yang berjatuhan dibiarkan menutupi tanah untuk mengurangi penguapan yang terjadi. Jika hujan datang, dedaunan tadi harus dibawa ke rorak (lubang untuk menampung air aliran permukaan dan bahan organik sebagai sumber hara tanaman) dan dibiarkan membusuk hingga menjadi pupuk.

Untuk pemupukan, Pak Rata lebih dominan menggunakan pupuk organik. Pak Rata pernah membuat pupuk organik sendiri menggunakan kotoran sapi. Penggunaan pupuk 10 sampai 20 kilogram perpohon dalam setahun. Kalau organik makin banyak makin baik. Aplikasinya dilakukan pada awal dan akhir penghujan. Pupuk kimia juga digunakan sedikit, 300 gram perpohon untuk perangsang.

Selain Pak Rata, narasumber saya lainnya, I Gede Eka Aryasa atau yang biasa dipanggil Guru Eka, mengiyakan pendapat tersebut. Ia mengatakan bahwa sekarang ini pasar kebanyakan menerima kakao yang organik. Selain untuk pemasaran, perawatan secara organik juga akan menghasilkan efek bagus untuk jangka panjang. Baiknya juga pemupukan dilakukan melalui lubang di sekitar tanaman.

“Maaf ini, saya hanya lulusan SD, tidak tahu apa,” kata pak Rata menyelingi perbincangan kami di tengah kebun kakaonya. “Lulusan SD saja bisa sukses dan menjadi local champion, apalagi jika lulus perguruan tinggi,” begitu pikiran yang selalu ada mengingat pencapaian seorang petani Jembrana lulusan Sekolah Dasar.

Saya juga sempat diajak melihat-lihat seisi kebun milik pak Rata sembari mendengarkan caranya berbudidaya yang baik. “Memelihara sampai 3 tahun itu masih mudah, di atas 10 tahun baru akan terlihat rumitnya.” Rumit yang dimaksudnya adalah pemangkasan.

“Saya pernah lihat buah yang tumbuh di rantingnya itu, Pak. Kenapa kakao milik bapak sebagian besar ada di batang?” tanya saya sebagai orang yang sama sekali tanpa latar belakang pertanian.

Pertanyaan saya langsung disambut olehnya sembari tersenyum, “Itulah fungsinya pemangkasan, supaya tidak ada buah yang tumbuh di ranting. Supaya buah kakaonya tumbuh di batang.” Para petani mengutamakan buah yang ada di batang karena nutrisinya lebih baik.

“Selain mencegah buah ke ranting, pemangkasan juga untuk memenuhi standar perawatan yang mengharuskan 30-40 persen sinar matahari masuk, ” ujar Guru Eka, petani sukses yang tinggal di bagian Timur Jembrana, melengkapi jawab Pak Rata.

Sebelum melakukan pemangkasan, panen hanya 2 sampai 4 kali habis. Buahnya kecil karena berada di ranting. Berbeda dengan buah di batang. Semakin dekat dengan akar akan semakin banyak nutrisi yang diperoleh si buah kakao.

Yang dipangkas adalah ranting yang berlebih dan cabang cacing. Batas pemangkasan adalah 4 meter dari atas tanah. Sisa pemangkasan akan ditaruh di rorak, dijadikan pupuk kompos.

Pola budidaya yang baru juga ditunjukan dengan cara menyambung. Teknik sambung ada 3 macam, yakni okulasi (mata tunas), sambung pucuk, dan sambung samping.

Okulasi atau sambung mata tunas adalah teknik yang perlu hati-hati. Sambungan mata tunas hanya boleh menggunakan satu sambungan pada satu mata tunas. Teknik berikutnya sambung pucuk, sudah jelas dilakukan di pucuk pohon, bagian yang masih sebesar pensil. Terakhir adalah sambung samping, teknik ini dipraktikkan di batang besar pohon kakao.

Komang Sindu merupakan petani Jembrana yang juga melakukan kegiatan menyambung untuk peremajaan selain Pak Rata. “Karena sudah tua, harus dilakukan peremajaan. Kalau saya sendiri melakukan peremajaan dengan metode menyambung, utamanya sambung pucuk,” ucap petani muda yang akrab disapa Mang Sindu ini.

Teknik ini digunakan untuk menjaga kualitas tanaman dengan cara menyambungkan bibit unggul dengan tanaman induk yang juga unggulan untuk mendapatkan kualitas baik, bahkan lebih dari induk sebelumnya.

Lama waktu tumbuh tanaman kakao dengan cara menyambung beragam. Ada yang 3 tahun, 2 tahun hingga yang paling cepat 1 tahun yang dimiliki oleh RTNJ 01, kepanjangan Rata Nusa Jembrana 01.

“RTNJ 01” yang sedari awal mengikat perhatian saya ternyata dari sinilah awal mulanya. “Awal terciptanya klon ini karena kesenangan saya coba-coba. Ingin tahu,” katanya. RTNJ 01 adalah hasil gabungan dari 3 klon. Batang bawahnya lindak, lalu ICCRI dan 7 tahun yang lalu dapat kiriman panter, sambung lagi di ICCRI. Buah pertama hasil dari sambungan 3 klon itu dijadikan bibit sebanyak 25 biji. Yang sesuai dan berhasil hanya 1 biji, dari situlah terlahir klon RTNJ 01.

Sata lagi adalah cangkok. “Saya baru mengetahui metode cangkok ini saat ada mahasiswa yang berkunjung ke sini dan berbagi ilmu,” ucap pria yang dipanggil profesor oleh seorang dosen ini. Ada 2 jenis cangkok yang Pak Rata tahu, cangkok biasa dan cangkok susu.
Perbedaan cangkok biasa dengan susu hanya terletak pada saat dibungkus. Cangkok susu hanya ditambahkan akar dari tanaman yang dicangkok, agar akarnya cepat keluar dari bagian yang dikupas.

Jika akar pada bagian yang dibungkus sudah banyak, batang bagian bawah pembungkus dipotong, lalu direndam selama 1 jam dengan lubang-lubang di plastik pembungkusnya. Buatkan lubang yang diisi pupuk. Setelah itu, buka plastiknya lalu tanam. “Kakek baru saja menggunakan teknik cangkok ini selama beberapa bulan. Jadi belum tahu hasilnya,” ungkap Pak Rata.

Saya sering kali mendengar Pak Rata mengulang kalimat pengendalian hama. Begitu pentingnya pengendalian hama untuknya. Sudah pasti penting, pasalnya masalah inilah yang pernah membuat seorang local champion hampir stres.

Dengan tegas pak Rata berkata, “Pengendalian hama itu tak kalah penting. Jika sudah melihat tanda-tandanya, langsung saya semprot dengan obat.” Ia juga mengatakan saran dari dinas untuk menggunakan semut dari sarang yang dibuat sendiri dengan cara menaruh daun kelapa tua diberi gula merah di pohon kakao yang diserang penyakit Helopeltis.

Tidak salah jika Pak Rata sangat menekankan pengendalian hama. Karena hal inilah yang membuatnya hampir stres.

Maunya Panen Terus

Berkat seluruh pola budidaya yang diterapkan oleh Pak Rata, kini ia berhasil menjadi salah satu petani sukses di Jembrana. Ia berhasil merawat 550 pohon dengan baik. 550 pohon tersebut terbagi menjadi 5 klon utama. Klon itu adalah Panter, BLB, MCC 01, MCC 02, dan RTNJ 01 miliknya.

Masing-masing dari klon tersebut memiliki ciri dan keunggulannya. Contohnya saja dari segi warna, ada yang hijau dan merah. Yang berwarna hijau ada MCC 01, Panter dan RTNJ 01. Sedangkan yang berwarna merah ada BLB dan MCC 02.

Selain warna, bentuk juga berbeda. Jika dilihat secara saksama kalian akan melihat perbedaan yang jelas dari masing-masing klon.

Bentuk biji mereka pun berbeda. Panter memiliki ukuran biji paling besar dari klon yang lain, walaupun bentuknya gepeng. Bentuk dari biji MCC juga bak uang gepeng, tapi tidak sebesar biji Panter. Biji dari klon RTNJ dan BLB berbentuk bulat.

“Kalau orang lain bilang Panter itu panen terakhir, tapi saya tidak mau. Menurut saya Panter itu panen terus,” gurauan Pak Rata lagi-lagi membuat selingan dalam perbincangan kami. Gurauan yang selalu membuat saya tertawa.

Jika dibandingkan dengan jumlah biji, RTNJ lah yang unggul dengan 45 biji per buahnya. Disusul dengan BLB dan MCC sekitar 38-40 biji per buahnya. Di posisi terakhir ada Panter dengan 35 biji per buahnya.

Hama, mungkin Pak Rata akan sedikit sensitif jika membicarakan hama penyakit. “Kalau yang paling rentan itu ada 2 klon, tapi penyakit mereka beda. Yang pertama itu rentan sama Helopeltis tapi kuat dengan jamur. Kalau Panter sebaliknya.”

“Cara petik dan bukanya juga harus diperhatikan.” Pak Rata menyarankan saya untuk memetik buah dengan pisau ataupun arit dengan menyisakan setidaknya 1 cm bekas potongan untuk dijadikan bantalan bunganya nanti (bakal buah).

Cara membuka juga tidak sembarangan. Pak Rata membuka buah kakao ini tanpa pisau, karena takutnya biji kakao yang ada di dalamnya terluka. Jika terluka, biji kakao akan berjamur saat fermentasi. Maka dari itu pak Rata memilih untuk menggunakan kayu sebagai pengeplok (pembuka) buah kakaonya.

Keseluruhan sekali panennya itu bisa 5 sampai 10 buah per pohon saat musimnya panen raya. Jika tidak panen raya cuma 1 sampai 2 buah. Bahkan ada yang tidak menghasilkan buah di satu pohon saat tidak musimnya panen. Saat panen raya, Pak Rata bisa mendapat 2 kg biji kakao kering perpohonnya. Itu sekitar 11 kwintal di satu kebun kakao milik Pak Rata.

“Bisa menghasilkan sebanyak itu, bagaimana dengan biayanya?” pertanyaan itu sontak saja saya keluarkan.

Pak Rata menjelaskan, pupuk saja bisa 2 kali pakai itu 20 kg per tahun per pohonnya, itu biayanya Rp 1,4 juta. Lalu untuk pengendalian hama, penyemprotannya membutuhkan dana Rp 530 ribu. Jadi, total biaya perawatan adalah Rp 1.930.000 per tahun.

Namun, biaya itu termasuk kecil jika dibandingkan dengan penghasilannya. Jika dijual ke Koperasi KSS, Pak Rata akan mendapatkan Rp 38.000 per kg. Karena setahun mendapatkan sekira 1 ton, maka pendapatannya sekitar Rp 38 juta. Jika dihitung per bulan, maka Pak Rata akan menerima gaji sebesar Rp 3,1 jutaan dari kebun kakaonya.

“Kerjanya santai tapi dapat penghasilan yang lumayan, yang sulit hanya beberapa saat seperti pemangkasan,” ungkapnya.

Lepas Landas

Kini para petani Jembrana telah berhasil menciptakan kakao berkualitas, hingga bisa diakui negara-negara besar di dunia seperti negara penghasil coklat Valrhona, Perancis. Ini semua berkat koperasi KSS, Yayasan Kalimajari dan para petani kakao Jembrana yang tak henti memberikan yang terbaik. Bahkan hingga berhasil memperoleh beragam prestasi di tingkat internasional.

Kini koperasi harus menyediakan berton-ton biji kakao hasil petani Jembrana untuk diekspor ke berbagai tempat, baik itu di lingkup nasional maupun internasional.

Ini semua membuktikan bahwa nasib petani itu tak selamanya buruk. Contohnya saja para petani kakao Jembrana yang telah dikenal masyarakat dunia. Para petani yang biasanya dipandang sebelah mata kini berhasil membuat nama Kabupaten Jembrana meroket di tingkat nasional maupun internasional.

Jangan pernah ragu untuk memulai hal baru selagi positif, seperti mengubah pola budidaya lama dengan pola budidaya baru. Dengan cara budidaya yang benar dan perawatan yang baik bisa menghasilkan hal yang baik pula.

“Marilah kita bersama-sama menjaga dan memelihara kebun kita, karena menurut saya kakao ini sangat menjanjikan untuk masa depan,” pesan seorang local champion Jembrana, Wayan Rata. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan salah satu dari tiga karya terbaik dalam Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) 2019 yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

The post Budidaya yang Baik, Jadikan Kakao Jembrana Meroket appeared first on BaleBengong.

Kakao Berkualitas dan Cokelat Menyehatkan

Olahan buah kakao dalam bentuk es krim.

Oleh Dewa Ayu Komang Tri Aprilliani

“Tak kenal maka tak sayang”

Mungkin itulah ungkapan yang cocok untuk saya sebagai warga Jembrana yang tidak tahu potensi kakaonya. Selama ini saya hanya memandang kakao sebagai tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomi tidak stabil.

Kadang-kadang harganya naik. Kadang-kadang turun. Itulah yang menyebabkan masyarakat Jembrana termasuk orang tua saya tidak merawat tanaman kakao mereka.

Namun, semakin saya mengenal kakao, semakin berubah pandangan saya tentangnya. Semua berawal dari 18 September 2018 lalu.

Ketika itu, SMKN 2 Negara, khususnya jurusan pertanian mendapat undangan seremonial pelepasan biji kakao ke Perancis di Gedung Kesenian Soekarno, Negara. Bukan hanya SMKN 2 Negara, SMAN 1 Negara dan SMAN 2 Negara juga diundang. Dari situlah saya mulai melihat potensi kakao Jembrana.

Bahkan, saya sendiri baru mengetahui rasa cokelat yang sebenarnya. Iya, pahit.

Entah ini hanya kebetulan atau tidak, saya memilih magang di Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS) yang berlokasi di Kecamatan Melaya. Koperasi ini yang menangani pengolahan pascapanen kakao Jembrana. Di pikiran saya langsung terlintas acara seremoni itu. Saya juga berpikir untuk melihat dan mempelajari tentang kakao.

Tidak disangka-sangka saya lolos sepuluh besar dalam lomba bertajuk Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) yang diadakan di koperasi KSS pada Agustus 2019 lalu. Ternyata tulisan amatiran saya juga bisa lolos, sebuah keberuntungan.

Hari pertama mengikuti pelatihan AJS, saya dan peserta lainnya diajak ke kebun kakao milik Wayan Rata, seorang petani yang saat ini memiliki kurang lebih lima belas cucu. Beliau sudah aktif membudidayakan kakao pada tahun 2002-2003. Dalam berbudidaya beliau belajar secara otodidak, yang diwarnai dengan jatuh bangunnya usaha beliau.

“Sebenarnya saya merasa sedikit malu ketika berbicara di depan siswa SMK dan SMA, karena saya tidak tamat SD,” ucapnya dengan sedikit tersenyum dan menunduk malu, ketika kami ramai-ramai mengajukan pertanyaan kepada beliau.

WOW! Kata itulah yang pertama kali terbesit dipikiran saya. Saya seorang siswi pertanian belum tentu bisa menandingi beliau. Terlebih lagi beliau sudah berhasil menemukan klon baru yang diberi nama RTNJ 01, singkatan dari Rata Nusa Jembrana 0. Kenapa 01? Karena ini adalah klon pertama yang ditemukan oleh Pak Rata.

Karena kerja sama antara petani dan koperasi KSS dengan didampingi oleh Yayasan Kalimajari, dapat menghasilkan kakao fermentasi dengan aroma khas dan berkualitas sampai dikenal dunia. Kuncinya pada penanganan pascapanen yaitu fermentasi untuk meningkatkan kualitas kakao.

Kakao fermentasi ternyata telah berhasil membawa nama Jembrana ke ajang bergengsi dunia yaitu Cocoa Excellence di Perancis pada tahun 2017. Kakao Jembrana bahkan masuk 50 besar kakao terbaik dari 166 sampel dari 44 negara. Kakao Jembrana juga telah berhasil mendapatkan sertifikat UTZ, USDA Organic, dan EU.

“Sertifikat UTZ adalah sertifikat yang dilihat dari budidaya yang baik, penanganan yang baik, petani yang baik dan proses yang baik,” ujar I Ketut Wiadnyana, atau kerap disapa Pak Mancrut, selaku Ketua Koperasi KSS.

Sedangkan sertifikat USDA Organik (Amerika Serikat) dan EU (Eropa) merupakan sertifikat organik yang mendampingi para petani agar tetap menggunakan bahan organik tanpa bahan kimia tambahan. Jadi koperasi KSS dapat mengimpor kakao mereka ke Amerika Serikat dan Eropa.

Kenapa perlu sertifikat? Karena untuk menghasilkan kakao yang terjamin kesehatannya. Koperasi KSS memerlukan sertifikat seperti EU dan USDA Organic untuk membuktikan kepada pembeli bahwa biji kakao fermentasi yang dihasilkan di koperasi KSS tidak terkontaminasi atau terdeteksi bahan kimia berbahaya, baik oleh proses budidaya maupun lingkungan kakao.

Rahasia Kakao Menyehatkan

Di sini saya juga mulai mengenal tentang fermentasi kakao. Caranya pun cukup sederhana yaitu dengan meletakkan biji kakao dalam kotak fermentasi yang terbuat dari kayu. Kakao di balik setiap 2 hari sekali dalam 3 kali pembalikan. Setelah itu dijemur selama 4-6 hari di bawah sinar matahari.

Kenapa perlu difermentasi? Pertanyaan pertama yang muncul tanpa diundang. Yang saya tahu jika sudah panen kakao cukup dibelah, jemur, jual dan uang. Praktis dan simpel. “Kakao yang baik adalah kakao dengan proses fermentasi,” ujar I Gusti Agung Widiastuti atau kerap disapa Gung Widi, Direktur Yayasan Kalimajari yang mendampingi langsung Koperasi KSS.

Tujuannya tidak hanya menghilangkan daging buah, tetapi juga untuk menciptakan aroma kakao yang sebenarnya, membuat kakao menjadi lebih sehat, mengurangi pahit dan asam pada kakao.

Indonesia adalah penghasil biji kakao terbesar ketiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia adalah Sulawesi (dipetik dari laman GenPI.co). Namun, Jembrana adalah penghasil kakao fermentasi yang berhasil menembus pasar internasional (dipetik dari Feri Kristianto-Bisnis.com)

Petani kakao di sini juga mendapatkan harga sesuai kualitas kakao mereka. Semakin bagus kualitasnya, makin mahal harganya. Petani pun menjadi lebih sejahtera dengan meningkatkan kualitas kakao melalui proses fermentasi.

Wah, selain itu dengan menambahkan proses fermentasi kakao, Jembrana bisa go international dan menambah nilai ekonomis serta nutrisi pada kakao. Karena pada proses fermentasi, nutrisi yang ada pada biji kakao akan keluar.

“Di dalam biji kakao terdapat polifenol yang berwarna ungu. Polifenol inilah yang diindikasi sebagai obat anti kanker,” ucap Bu Agung Widi.

Pada saat kakao difermentasi, bagian atas ditutupi daun pisang dan pandan sebagai penambah aroma dan juga sebagai penahan panas. Sebenarnya ini merupakan kreasi dari setiap petani. Tetapi di Koperasi KSS sendiri menggunakan daun pisang dan pandan. Penambahan bahan ini, tidak ada kaitannya dengan kesehatan.

Kakao dengan proses fermentasi lebih menyehatkan dari pada kakao yang nonfermentasi. Tidak heran jika kakao disebut sebagai salah satu super food, yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Karena, manfaatnya dapat diambil ketika sebelum diolah maupun sesudah diolah.

“Seorang pasien menderita penyakit jantung, disarankan memakan 2 biji kakao yang fermentasi dan kering. Untuk terapi penguatan jantung,” jelas Bu Gung.

Bahkan ketika tamu dari perusahaan produsen cokelat Valrhona datang mengunjungi KSS, mereka tidak ragu untuk memakan nibs di botol. Ada pula yang memakan biji kakao yang masih dalam proses penjemuran, yang pastinya sudah kering. Masyarakat awam seperti saya merasa aneh melihatnya. Namun, lain halnya dengan mereka yang sudah tahu manfaat dari kakao yang sudah difermentasi.

Valrhona merupakan salah satu pembeli biji kakao fermentasi di Koperasi KSS. Selain sebagai pembeli, mereka juga sebagai guru. Mereka mengajarkan tentang proses-proses pengolahan kakao yang baik, dan membuat kualitas kakao semakin baik. Mereka juga menjadi jaminan para pembeli kakao, bahwa kakao dari koperasi KSS merupakan kakao berkualitas. Jika petani mau membuat kakao yang baik, maka para pembeli akan mau membeli kakao mereka.

Pada saat Valrhona berkunjung pada Sabtu, 20 Juli 2019, saya baru saja magang di Koperasi KSS. Saya masih awam tentang kakao maupun pembeli. Saya merasa beruntung dapat bertemu langsung dengan CEO dari Valrhona.

Hari kedua saat pelatihan AJS, saya diajak berkeliling pabrik cokelat yaitu Cau Chocolates yang belokasi di Jl. Raya Marga-Apuan, Cau, Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Saya merasa menjadi orang yang beruntung mendapatkan golden ticket, dan diajak berkeliling pabrik cokelat. Seperti film Charlie And Chocolate Factory. Baik, lupakan tentang film.

Di sana terdapat berbagai macam cokelat dari ukuran, rasa, dan yang pastinya harga beragam. Karena harga per cokelat itu lumayan, saya mengurungkan niat untuk membelinya. Lumayan menguras kantong maksudnya. Tidak hanya melihat cokelat yang sudah jadi, saya juga melihat proses pembuatan kakao menjadi cokelat siap santap.

Di hari ketiga saya mulai menulis tentang cokelat dan kesehatan. Dan dari sinilah saya mulai mencari tentang apa saja manfaat dari cokelat.

Kandungan Cokelat

Masyarakat pada umumnya mengira cokelat mengandung banyak gula dan susu, yang bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Pernyataan tersebut tidak semua benar. Jika tahu kandungan cokelat secara detail, maka anggapan tersebut bisa dibilang hoax separuh. Ingat masih separuh. Jadi tidak semuanya tidak benar.

Di dalam cokelat terdapat zat kimia yang bernama flavanoid, khusus pada cokelat bernama flavanol. Yang berfungsi untuk merangsang metabolisme dalam tubuh. Metabolisme dan pencernaan yang bagus akan mudah diekstraksi menjadi tenaga. Begitu menurut Sri Auditya Sari, Koordinator Program SUBAK Yayasan Kalimajari, yang kerap disapa Tya.

Alit Artha Wiguna, pemilik Cau Chocolate, menamnah, antioksidan yang tinggi pada cokelat dapat menangkal radikal bebas penyebab kanker. Selain kanker, cokelat juga dapat mencegah penuaan dini, kulit kusam, dan pori-pori besar. Maka dari itu cokelat cocok digunakan sebagai produk kecantikan. Hal ini karena dalam cokelat premium terkandung vitamin E dan antioksidan. Selain bisa menjadi penyambung rantai nilai, produk olahan juga bisa mengurangi limbah.

Dr. Soetanto Abdoellah, Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia, menuturkan bahwa cokelat mengandung karbohidrat, protein, lemak kakao, antioksidan dan lain-lain. Lemak kakao dapat meningkatkan kolesterol baik. Antioksidan yang banyak terdapat di kakao dapat meningkatkan insulin, mengurangi penyakit jantung, dan stres.

Kandungan lainnya yaitu theobroma untuk merangsang otak menghasilkan serotonin, dopamin, dan endorphin. Hormon-hormon tersebutlah yang mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Kandungan ini membuat orang yang memakan cokelat menjadi lebih bahagia. Ketika seseorang bahagia, maka ia bisa mengerjakan sesuatu menjadi lebih optimal. Hal ini bisa membakar kalori dan lemak dalam tubuh.

Dark chocolate di Cau Chocolate.

Nikmat sekaligus Menyehatkan

Cokelat juga membuat konsumen menjadi lebih bergairah dan semangat. Memakan cokelat sebelum belajar juga dapat meningkatkan daya ingat kita. Setelah ini, jika tiba musim ulangan saya akan menambah stok cokelat di rumah.

Dikutip dari laman CNN Indonesia, di dalam cokelat terdapat zat kimia phenylethylalanine. Ini merupakan senyawa yang sama dengan diproduksi otak saat jatuh cinta. Terkadang senyawa ini disebut obat cinta, karena membangkitkan perasaan mirip ketika seseorang jatuh cinta. Pantas saja, ketika hari Valentine banyak pasangan yang saling menukar cokelat mereka.

Hati yang senang dan gembira dapat membuat seseorang menjadi lebih semangat dalam menjalani hari-harinya. Serotonin antidepresi merupakan zat pada kakao yang dapat mengurangi stres dan depresi.

Menurut Soetanto, zat yang dapat membuat konsumen bahagia tentu saja berbeda dengan zat pada obat-obatan terlarang. Karena ini merupakan zat alami yang hampir tidak mempunyai efek samping dan dosisnya juga alami. Lain halnya dengan narkoba yang sudah dicampur dengan bahan-bahan lain yang tentunya dapat berefek buruk bagi si konsumen.

Jadi, jika depresi jangan sekali-kali melirik atau malah jatuh hati dengan racun mematikan si narkoba, karena dia bukanlah yang terbaik didunia ini.

Tanggapan Berbeda-beda

Tanggapan mengenai cokelat pada setiap orang pun berbeda. Ada yang menyukai cokelat karena rasanya dan ada pula yang tidak menyukainya. Saya mencoba menanyakan pertanyaan sederhana kepada teman saya, yang kebetulan suka cokelat dan tidak suka cokelat.

Suka cokelat? Kenapa?

”Karena rasanya manis, gurih, lembut dan juga kalau gratis memang paling enak,” ucap Pasek Sujana, salah satu teman saya yang memang suka cokelat.

“Enggak, karena cokelat membuat saya gendut,” ucap Aris Budi, teman saya yang tidak terlalu suka cokelat.

Pemikiran kalian pasti tidak jauh berbeda kan dengan teman-teman saya, tetapi jawaban mereka tidak semua benar dan salah. Cokelat dengan rasa manis merupakan cokelat dengan campuran susu dan gula. Jadi yang kalian makan dengan rasa manis itu dominan susu dan gula, bukan cokelat.

Jika terlalu sering, tubuh kalian tidak menerima asupan gizi dari cokelat melainkan efek samping dari campuran cokelat dan susu.

Bagi kalian yang menyukai cokelat manis, sebaiknya dikurangi, ya. Terlebih lagi yang menderita penyakit obesitas dan diabetes, sebaiknya kalian memakan cokelat dengan kadar kakaonya 70 persen. Rasanya akan terasa sedikit lebih pahit, tetapi baik untuk kesehatan. Untuk dikonsumsi anak-anak juga aman, tidak akan menyebabkan gigi anak berlubang.

”Cokelat murni adalah cokelat yang pahit. Para konsumen lebih menyukai cokelat manis. Padahal cokelat ditambah susu kurang bagus,” ucap Pak Alit.

Menurut I Nengah Kardika, Bendahara Koperasi KSS, beberapa perusahaan mengganti lemak kakao dengan lemak nabati, karena lemak nabati jauh lebih murah dari pada lemak kakao. Namun, lemak nabati merupakan lemak jenuh yang kurang baik dikonsumsi. Terlebih lagi dengan ditambahkan susu yang juga merupakan lemak jenuh.

Untuk jawaban dari teman saya Aris Budi, sebenarnya makan cokelat itu tidak membuat tubuh tambah gendut. Tapi, campuran gula dan lemak nabati pada cokelat yang menambah berat badan kamu. Lain kali, pilihlah cokelat yang memiliki kadar gula dan lemak nabati lebih sedikit.

“Cokelat dengan sedikit kakaonya kemungkinan bisa menambah berat badan, jadi pilih-pilihlah cokelatnya,” ucap Pak Tanto, panggilan akrab Soetanto, saat itu saya wawancarai lewat telepon.
Eits, cokelat sehat yang saya maksud di sini adalah cokelat premium ya, bukan cokelat asalan. Cokelat yang sehat itu, adalah cokelat yang berasal dari kakao yang telah difermentasi. Tanpa fermentasi, tidak akan ada cokelat yang berkualitas dan sehat.

Ketika sudah mengetahui bahwa cokelat itu sehat, jadi jangan takut lagi ketika memakan cokelat. Jangan takut akan isu-isu miring cokelat yang beterbaran di mana-mana.

Cara Memilih Cokelat

Cara untuk memilih cokelat sehat yaitu dengan memilih dark chocolate. Sebenarnya ini sesuai selera masing-masing orang, tetapi kandungan cokelat murni dalam dark chocolate lebih banyak dari pada white chocolate.

Lalu cek label kemasan berapa persen kandungan kakao yang tedapat dalam cokelat tersebut. Dipetik dari laman mybest, biasanya cokelat premium memiliki persentase 70 persen ke atas. Cokelat biasa hanya 30 persen sampai dengan 40 persen, sedangkan untuk snack rasa cokelat mengandung 10 persen atau kurang.

Maka dari itu cokelat yang mengandung 70 persen kakao cenderung terasa pahit. Tetapi cokelat ini baik untuk kesehatan karena kandungan gula dan susunya lebih sedikit. Bagi yang menderita diabetes tidak ada salahnya mencoba dark chocolate. Malah disarankan memakannya.

Kenapa? Menurut penuturan Pak Tanto, orang yang menderita diabetes sejatinya kekurangan insulin. Dark chocolate dapat membantu memacu insulin dalam tubuh. Memang rasanya pahit, tapi bermamfaat.

Ingat, yang manis-manis belum tentu menyehatkan.

Selanjutnya lihat lemak nabati yang digunakan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa ada produk cokelat yang dicampur dengan lemak nabati. Beberapa produsen menggunakan lemak nabati agar tekstur cokelat menjadi lembut. Biasanya digunakan sebagai campuran kue. Jadi jika dikonsumsi sebaiknya pilihlah cokelat yang memiliki sedikit lemak nabati.

“Cokelat yang bagus, adalah dark chocolate. Dengan kandungan kakao 50 persen ke atas, berkomposisi pasta dan lemak kakao di atas 50 persen juga,” ucap Pak Tanto.

Ribet kah? Pasti! Karena sehat itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Tapi, ketika kalian tahu bahwa makan cokelat itu sehat, bukan berarti kalian harus makan cokelat setiap hari. Itu juga salah.

Apapun yang berlebihan pastinya tidak baik. Bukan hanya makan cokelat saja, makan nasi yang berlebihan juga bisa membuat perut sakit.

Karena di dalam cokelat juga mengandung kadmium, yaitu logam berat yang bersifat karsiogenik (penyebab kanker). Pada pohon kakao dapat mengandung kadmium dari nutrisi tanah yang terpapar senyawa kimia ini.

Dalam sertifikat UTZ dan organik European Union (EU) yang dimiliki oleh Koperasi KSS ada batasan kandungan kadmium, yaitu:

1. Batasan kandungan kadmium untuk produk cokelat susu <30% dari total padatan kakao : 0,10 mg/kg

2. Batasan kandungan kadmium untuk produk cokelat murni <50% : 0,30 mg/kg

3. Batasan kandungan kadmium untuk produk cokelat murni >=50%: 0.80 mg/kg

4. Batasan kandungan kadmium untuk produk cokelat bubuk 0.6 mg/kg

Informasi di atas saya dapatkan dari Kak Tya. Terlalu banyak mengkonsumsi cokelat pun tidak baik, karena zat tersebut bisa menumpuk dan terakumulasi di dalam tubuh.

Jika tetap ingin memakan cokelat setiap hari, berarti dosisnya yang perlu dikurangi. Misalnya 1 bar, dimakan sedikit-sedikit dan dihabiskan dalam waktu satu minggu. Jika memakan cokelat 1 bar setiap hari porsi di dalam tubuh tidak seimbang.

Kebutuhan tubuh agar tetap seimbang itu sangat perlu diperhatikan, walaupun tahu tentang manfaat dari cokelat premium. Apabila menderita alergi terhadap cokelat sebaiknya jangan dipaksakan untuk mengkonsumsinya. Waktu mengkonsumsinya juga perlu diperhatikan. Makanlah cokelat di saat waktu luang. Jangan makan cokelat sambil berenang apalagi salto. Kan susah..

Produk Kakao dan Cokelat

Tidak hanya enak disantap, cokelat juga bisa digunakan sebagai produk kecantikan remaja kekinian.

“Kulit biji kakao kebanyakan digunakan untuk pupuk. Untuk scrub dicampur butter, susu, cendana hasilnya cukup bagus,” ucap Pak Alit.

Namun, saat ini beliau belum tahu kandungan apa saja yang ada didalam kulit biji kakao. Inovasi lainnya dengan menggunakan kulit biji kakao adalah untuk pembuatan teh herbal. Cukup ambil kulit biji kakao satu sendok teh dalam gelas, tambahkan gula (bila perlu), tuang air hangat, saring dan sajikan. Cukup mudah kan?

Bahkan di Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI) menggunakan daging buahnya sebagai jus. Wah, memang kreatif dan bermanfaat. Tapi jika di sini masih pro dan kontra, karena pada proses fermentasi diperlukan daging buah itu untuk menguraikannya. Dan tingkat kestrilisasiannya juga harus tinggi.

Nah, ada juga yang menjadikannya sebagai masker dan scrub wajah karena adanya antioksidan ini. Antioksidan mampu menutup pori-pori wajah, mengurangi wajah kusam, melembabkan kulit, dan mendetoks kulit.

Adapula sabun yang terbuat dari lemak kakao dan juga mempunyai fungsi untuk mengurangi penguapan yang berlebihan pada kulit. Jika mengoleskan lemak cokelat di bibir sesudah menggunakan lipstik, maka lipstik tersebut akan mampu bertahan lebih lama. Karena dapat menjaga kelembaban bibir. Nah, jika ingin naik haji ke Arab disarankan untuk memakai produk lotion atau sabun berbahan lemak kakao. Informasi ini saya dapatkan dari Pak Tanto sendiri.

Selain itu, produk kecantikan yang dihasilkan oleh kakao dan cokelat bisa menjadi solusi zero (nol limbah) karena produk tersebut dibuat dengan cokelat grade C (non food), yang biasanya dijual murah oleh para produsen atau koperasi cokelat seperti di KSS.

Menjadi penyambung rantai nilai produk olahan. Semakin banyak produk olahan dari cokelat, akan menambah nilai dari konsep keberlanjutan yang dianut KSS. Salah satunya dijadikan produk kecantikan.

Remaja kekinian pastinya sudah sadar dan tahu manfaat dari cokelat untuk kecantikan. Tetapi untuk membeli cokelat premium dengan 100 persen cokelat murni, tentunya tidak murah. Semoga saja ke depannya tersedia produk kecantikan dari cokelat, khusus untuk kecantikan.

Karena cokelat yang baik untuk kecantikan bukan cokelat yang biasanya dikonsumsi. Dalam cokelat itu sudah tercampur berbagai bahan lain, seperti gula dan susu. Carilah pasta cokelat yang murni, jika memang akan digunakan sebagai produk kecantikan.

Tentunya dengan kualitas kakao yang baik, yaitu dengan melaui proses fermentasi. Sekali lagi, tidak ada cokelat terbaik tanpa fermentasi. Seperti kakao di Koperasi KSS misalnya.

Saya berharap ke depannya Koperasi KSS bisa lebih maju lagi. Dengan peningkatan kualitas kakao dan menjadi pelopor kakao berkualitas bagi koperasi-koperasi kakao di Indonesia. Mendapat pengakuan dunia pastilah bukan hal yang mudah, semangat terus Koperasi KSS. [b]

Keterangan: Artikel ini salah satu dari tiga karya terbaik dalam Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) 2019 yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

The post Kakao Berkualitas dan Cokelat Menyehatkan appeared first on BaleBengong.

Kecantikan Bukan sebagai Standar Kesuksesan Perempuan

Pekerja perempuan di Koperasi Kerta Samaya Samaniya Jembrana memilah kakao hasil fermentasi. Foto Anton Muhajir.

Oleh Gladis Desyani Putri

“Kopi cokelat” begitu kerap saya menyebutnya ketika masih belia.

Tidak pernah terpikirkan bahwa buah berbentuk oval dan dominan berwarna hijau ini ternyata memiliki segudang manfaat dan peran. Siapa yang tidak mengenal cokelat? Remaja Indonesia tentu sangat menyukai olahan pabrik satu ini. Bukan hanya manis, tetapi juga lezat. Buah ini juga telah diteliti mampu melepaskan hormon endorfin ke otak sehingga memicu perasaan bahagia pada konsumenya.

Kabupaten Jembrana merupakan salah satu penghasil buah kakao di Bali. Sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Bali, Jembrana bukanlah tempat ramai atau sarat dengan kemacetan. Kabupaten ini lebih terasa sunyi dan tenang. Seolah semua penduduknya bergerak perlahan.

Namun, kini Jembrana tidak akan lagi dipandang sebelah mata karena buah kakao.

Buah yang disebut “makanan para dewa” (the food of the gods) ini dikenal sebagai bahan pembuat makanan seperti bubuk cokelat yang dipakai dalam pembuatan kue, dan permen cokelat. Carolus Linnaeus, ahli botani dari Swedia, memberikan nama Latin “Theobroma cacao” untuk tanaman kakao pada 1735. “Theobroma” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “makanan para dewa” sedangkan “cacao” adalah bahasa Maya yang merujuk pada tanaman kakao.

Linnaeus menggunakan nama ini karena pengaruh literatur Bangsa Spanyol yang menceritakan mengenai bangsa Maya dan Aztek. Mereka mengasosiasikan kakao dengan para dewa dan sering menggunakannya dalam ritual keagamaan. Meskipun berasal dari dataran Amerika, kakao kini ditanam di kawasan tropis, termasuk Indonesia. Kakao telah dibudidayakan secara luas di Indonesia sejak tahun 1970. Kakao menjadi salah satu andalan ekspor non migas milik Indonesia (Wardani, 1988).

Menurut Morganelli (2006) cokelat merupakan hasil olahan biji kakao (Theobroma cacao) yang tumbuh pertama kali di hutan hujan di Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Sejarah mengenai cokelat dimulai dari ditemukanya cokelat oleh Bangsa Olmek di Amerika Selatan tiga ribu tahun lalu. Bertahun-tahun setelah bangsa Olmek punah, cokelat pun masih dinikmati Bangsa Maya yang menghuni Amerika Selatan. Olahan dari tanaman kakao ini, secara historis berasal dari Amerika dan disebarkan ke wilayah Indonesia akibat pengaruh Spanyol pada tahun 1560 tepatnya di Minahasa.

Setelah membaca dari beberapa literatur, saya menyimpulkan bahwa tingkah petani yang hanya kenal instan dan sukar menerima perubahan menyebabkan kualitas kakao di Indonesia tidak pernah meningkat. Hingga saat ini, Indonesia menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana di Afrika Barat.

Namun, sayangnya, kualitas kakao Indonesia masih rendah di pasar internasional. Kakao Indonesia didominasi oleh biji-biji tanpa fermentasi, biji dengan kadar kotoran tinggi serta terkontaminasi serangga, jamur dan mikotoksin (Wahyudi, et al., 2007).

Untuk menghasilkan produk cokelat berkualitas, diperlukan sebuah perhatian khusus terutama dalam tahap fermentasi. Fermentasi merupakan inti dari proses pengolahan biji kakao. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk membebaskan biji kakao dari pulp (daging buah) dan mematikan biji, tapi juga memperbaiki dan membentuk cita rasa cokelat yang enak serta mengurangi rasa sepat dan pahit.

Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Savitri, kurangnya perhatian para petani pada proses fermentasi inilah yang menyebabkan produksi biji kakao Indonesia kalah dengan produksi Pantai Gading, Ghana, dan Nigeria. Bahkan, di Jepang, biji coklat dari Indonesia hanya untuk makanan ternak karena kualitasnya rendah.

Dewi dalam Keluarga

Bali telah banyak dikenal hingga kancah internasional sebagai daerah pariwisata. Kultur budaya dan keindahan alamnya menarik turis domestik dan mancanegara untuk bertandang ke Bali. Namun, kini Bali juga memiliki potensi lain yang tak kalah menarik, kakao fermentasi dari Jembrana. Kabupaten di ujung barat Bali ini telah mengirim 11 ton kakao fermentasi dengan tujuan 5 ton ke Perancis, 2 ton ke Jepang, dan 4 ton. Semuanya adalah simbol keberhasilan usaha petani anggota Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

Petani kakao yang tidak mengenal lelah dan terus memupuk semangat untuk lebih baik adalah kunci sukses utama keberhasilan Jembrana. Mendengar kata “petani”, masyarakat mungkin akan cenderung terbayang dengan kehidupan penuh peluh, kotor, dan tentu saja seorang laki-laki dengan cangkul sebagai senjata utamanya. Namun, di era globalisasi yang sudah mengakui emansipasi wanita, peran petani tidak hanya diambil laki-laki.

Ungkapan perempuan sebagai dewi dalam keluarga mungkin cocok dikenakan pada kaum hawa di seluruh dunia. Standar yang sedari dulu dipergunakan oleh perempuan hanya tentang kecantikan dan ketrampilan dalam mengurus suami beserta anak. Namun, tidakkah perlu untuk memberikan kesempatan lebih bagi kaum hawa untuk merentangkan sayapnya? Terutama wanita yang gemar bertani.

Menjadi petani tidak hanya tentang mencangkul di sawah atau pulang dengan baju lusuh dan kotor. Seorang petani juga memiliki harkat dan martabat sendiri. Tidak dipungkiri bahwa seorang petani merupakan seorang pengusaha bertamengkan kebun dan lahan.

Seorang petani kakao dituntut untuk tekun dan sabar. Perempuan sebagai insan yang lembut tentu saja memiliki kemampuan jika diberikan kesempatan untuk menekuni bidang ini. Bukan karena keterpaksaan, tetapi dari hati nurani murni ingin mandiri. Seperti dilansir dari sumber-sumber di Internet, diskriminasi gender masih kerap terjadi. Misalnya dalam hal perbedaan penentuan tugas karena jenis kelamin, bukan berdasarkan kompetensi dan kemampuan. Adapun kesetaraan gender merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban.

Menjadi petani tidak mesti tampak lusuh, tapi tidak juga takut kotor. Sebuah kerja keras tidak bisa didapat jika setengah-setengah. Karena itu, perempuan belia seperti saya ini supaya jangan takut mencoba hal baru. Para petani kakao Jembrana telah membuktikanya. Kerja keras dan kuatnya pemberdayaan perempuan sehingga timbul hubungan kerja sama yang timbal balik, membuahkan hasil hingga ke kancah dunia.

Pahlawan Agronomi

Secara khusus saya sempat berbincang dengan salah satu petani wanita yang sudah terjun ke bidang ini sejak ia menikah. “Pernah belajar akuntansi pada salah satu universitas di Jakarta, eh, tidak disangka malah menjadi petani kakao untuk membantu suami,” ungkap Ni Made Budi Ayu Anggreni saat kami datangi di kediamanya.

Beliau menceritakan pengalaman pertamanya saat menginjakkan kaki di kebun. Sedari kecil ia hanya fokus pada pendidikan dan sesekali membantu keluarga berdagang. Sama sekali tidak pernah beroikir akan menjadi seorang petani seperti sekarang membuat Kadek Ayu, begitu kerap ia disapa, tidak memiliki pengalaman dan gambaran pasti mengenai dunia pertanian.

Pengalaman menggelikan pun tidak luput ia rasakan ketika pertama kali berada di kebun suami yang diwariskan turun temurun tersebut. Salah satunya saat salah mengira biji nangka sebagai biji kakao. Kedua biji ini memang agak mirip hanya saja memiliki perbedaan dari segi ukuran. Biji nangka lebih besar daripada biji kakao.

“Suami saya sampai tertawa, padahal sudah dapat satu ember,” ucap Kadek Ayu sambil tertawa geli mengingat kejadian itu. Memulai sesuatu dari dasar ketika sudah menikah begini merupakan sesuatu yang unik dan menantang untuk Kadek Ayu. Dia menerangkan, awal mula niatnya hanya untuk membantu suami karena mertua tidak di rumah dan dia sendirian. Bahkan ketika telah dikaruniai seorang putri yang cantik jelita, Kadek Ayu tidak vakum dari kegiatanya bertani kakao.

Kadek Ayu menuturkan dengan senyum semringah mengingat momen pertama ia mengajak kedua putrinya ke kebun. Keduanya tampak senang dan tidak lupa pula ikut membantu. Kedua malaikatnya itu akan mengumpulkan biji kakao kemudian dibawa pulang dan dijemurnya. Setelah itu mereka sepakat menjual biji tersebut kepada guru di sekolah mereka yang juga kebetulan pedagang biji kakao.

Uang hasil penjualan ditabung di bank. Inginnya digunakan untuk keperluan masa depan. Kadek Ayu dan suami telah mengajarkan buah hatinya untuk hidup mandiri dan mencintai pekerjaan kedua orang tuanya.

Kadek Ayu tersenyum sendu sambil menatap kami. “Saya nggak mau mereka merasa malu dan terintimidasi oleh ejekan dari teman-temanya karena kami hanyalah petani kakao. Saya dan suami ingin menanamkan pada mereka bahwa petani kakao juga pahlawan, tapi di ladang,” ujarnya.

Ajaran itu pun tidak sia-sia karena kedua putri mereka kini telah sukses dengan jalan masing-masing. Kini tinggal si bungsu yang masih duduk di sekolah menengah pertama.

Seorang ibu, istri, sekaligus petani wanita yang mengurus kebun bukanlah pekerjaan yang dibilang mudah. Bangun di pagi hari, menyiapkan sarapan untuk anak-anak sekolah. Lalu siangnya berangkat ke kebun hingga sore menjelang. Belum lagi mengurus pekerjaan rumah seperti bersih-bersih, mencuci, dan memasak merupakan tanggung jawab besar bagi Kadek Ayu. Beliau tidak ingin hal tersebut menghalangi jalanya untuk tetap bertani kakao.

Ibu beranak tiga itu yakin jika sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesabaran, sesulit apapun itu pasti akan diberikan jalan oleh-Nya. Benar saja, masa-masa penuh tantangan ketika harus mengurus si kecil di rumah dan bertani kakao berhasil Kadek Ayu lewati dengan lancar.

“Dulu saya ini juga termasuk perempuan manja di masa muda. Suka belanja, berpenampilan cantik. Ah, pokoknya yang kayak gitu! Tapi sekarang saya sadar bahwa itu semua bukan segalanya,” tuturnya. Lagi-lagi dengan senyum khas di wajahnya.

Kadek Ayu menyayangkan pendidikanya yang tidak bisa lancar hingga usai dikarenakan sakit. Namun, kini ia tidak lagi menyesal karena menyadari bahwa inilah jalan yang ditunjukkan Tuhan. Memiliki suami, tiga anak yang jelita, dan menjadi petani wanita kakao yang berperan dalam memajukan kakao Jembrana merupakan jawaban Tuhan atas hal-hal malang yang menimpanya dahulu. Ia sangat bersyukur.

Wanita berumur 45 tahun ini merasa tidak terbebani dengan profesinya sebagai petani. Malahan merasa sangat menikmatinya. Menurut Kadek Ayu, petani meskipun lusuh-lusuh begitu sebenarnya juga berjasa dalam menghasilkan bahan pangan. Penghasilannya pun tidak kalah dengan pekerjaan orang elite jika musim panen tiba.

Intinya adalah tentang kesabaran dan tekun. Apalagi saat serangan hama beberapa tahun silam. Kala itu keadaan sungguh kacau. Kadek dan suami kebingungan, padahal sudah mencari di berbagai sumber, tidak juga membuahkan hasil. Hingga akhirnya kedua pasangan petani ini mengenal sistem sambung pucuk, samping, dan batang. Keadaan pun kembali pulih.

Lagi-lagi bicara soal takdir. Tidak lama setelah itu, tepatnya akhir 2015, mereka dipertemukan dengan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) dan Yayasan Kalimajari. Mulai dari sini kerja sama dan kerja keras kedua belah pihak digencarkan. Lika-liku akibat musim yang tidak stabil, serangan hama penggerek buah kakao (PBK), dan belum ditemukanya skill yang tepat dalam memfermentasi biji kakao pun dihadapi.

Sampai akhirnya kakao fermentasi Jembrana berhasil mendapatkan perhatian dunia. Sejumlah besar buah kakao hasil fermentasi dari Jembrana diekspor ke luar negeri dan berhasil menyabet sertifikat Cacao Excellent 2017, di Paris, Perancis.

Kabupaten Jembrana, khususnya di Koperasi KSS menjadi daerah pertama di Indonesia yang berhasil menyabet penghargaan kelas dunia dalam hal fermentasi kakao. Hal ini merupakan sesuatu yang membanggakan sekaligus mengharukan, mengingat segala dan serta pengorbanan sejumlah komponen koperasi yang terlibat dalam keberhasilan ini. Tidak luput juga peran petani kakao yang atas kerja kerasnya mampu menghasilkan biji berkualitas dan mempertahankan kebun yang terserang hama kala itu. Dalam konteks lebih khusus dari topik yang sedang saya bicarakan, petani wanita juga memegang andil penting.

Kala itu saya dan rekan saya mengunjungi Koperasi KSS. Kami bertemu dengan beberapa petani wanita yang bertugas di penyortiran biji. Semua petani tersebut sangat ramah dan menerima kehadiran kami dengan tangan terbuka. Ketika ditanya soal peran wanita dalam program kakao lestari, mereka memberikan jawaban sederhana namun membuat diri saya baru sadar akan potensi yang dimiliki wanita.

Salah satu petani wanita, Ibu Kerti, menuturkan bahwa penyortiran biji memerlukan kesabaran dan ketelitian. Seorang laki-laki mungkin bisa melakukanya juga, akan tetapi bakat wanita yang merupakan bawaanya dari lahir tentang keterampilan semacam itu tidak bisa diremehkan. Petani wanita ini secara khusus terjun di bidang pengolahan biji kakao sedangkan Ibu Kadek Ayu yang merawat pohon kakao di kebun. Keduanya sama-sama petani wanita kakao di Jembrana dengan peran yang berbeda namun untuk tujuan yang sama.

Kenapa Tidak?

Tingginya peran perempuan di Koperasi KSS, baik dari kebun maupun pengolahan, menunjukkan pentingnya kesetaraan gender dalam pertanian, termasuk kakao berkelanjutan di Jembrana. Petani laki-laki dan perempuan tidak boleh dibeda-bedakan haknya. Kepala Bidang Dinas Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Jembrana, Ni Ketut Arwati, S.Pd, menyatakan ketidaksetujuanya tentang perbedaan hak antara perempuan dan laki-laki pada beberapa aspek kehidupan. Salah satunya dalam memilih pekerjaan dan meneruskan kehidupan.

“Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan, sih. Adat purusa di Bali membuat ini susah,” pungkas ibu dua orang anak ini. Budaya yang telah masyarakat yakini sejak dahulu sungguh sulit untuk diubah, meski demi kebaikan dan merupakan bentuk dari proses penyesuaian terhadap globalisasi.

Bagaimanapun, salah merombak tradisi di masyarakat akan menimbulkan perpecahan dan konflik. Anggapan bahwa perempuan hanya bertugas melayani suami dan tidak diberi kesempatan bekerja serta memperluas pengetahuan, sampai saat ini masih saja tertanam dalam benak masyarakat. Mereka belum memahami situasi dunia yang tidak bisa kaku semacam itu.

Akan tetapi, suasana menjadi sedikit canggung setelah membicarakan adat dan nasib perempuan di masa lalu. Ibu Arwati tersenyum dan menatap kami, seolah tidak ingin membuat kami yang masih menempuh pendidikan ini ikut terseret arus. Melihat suasana telah kembali normal, akhirnya kami mulai pada bagian inti yaitu mengenai petani wanita kakao di Jembrana.

“Saya sih setuju-setuju saja dengan wanita yang bertani. Kenapa tidak? Kalau karena gengsi dan takut kotor, itu sih cuma kedok supaya bisa malas-malasan di rumah,” ujarnya sambil mengerling pada kami berdua. Melihat reaksi kami yang salah tingkah, beliau melanjutkan. “Maksud ibu, perempuan juga bisa. Srikandi bahkan bisa membunuh ksatria termasyur semacam Bhisma bukan? Saran saya, tidak perlu gengsi asalkan pekerjaanya positif,” ujarnya.

Banyak pengaduan yang pernah Ibu Arwati terima, tapi yang paling melankolis adalah kasus sepasang suami istri berseteru karena dimulai dari media sosial. Sambil menceritakanya, wanita umur 53 tahun itu menyuguhkan kami segelas air dan beberapa kali bertanya mengenai prospek kami ke depan. Pembicaraan dengan beliau sungguh ringan dan keibuan. Tidak lupa, di akhir percakapan kami Ibu Arwati kembali membuka suaranya.

“Kapan-kapan saya mau, deh, berkunjung ke kebun kakaonya. Siapa tahu tertarik bertani juga!” Kami berdua tersenyum mendapat respon menyenangkan tersebut.

Meninjau hal yang telah saya paparkan, menurut saya pemberdayaan perempuan perlu lebih digencarkan lagi dengan menyadari kelebihan yang dimiliki insan bernama wanita ini. Dengan memberikan kesempatan untuk berkembang. Tidak memandangnya sebelah mata seolah wanita hanya pelengkap dan tidak bisa berdikari. Saya rasa cukup dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Dari diri saya sendiri yang kebetulan juga merupakan seorang perempuan yang masih menuntut pendidikan, saya menyadari betapa pentingnya pendidikan dan kerja keras. Menekuni bidang yang diminati adalah sebuah pilihan tersendiri. Bila minat saya berada di pertanian kakao, mengapa tidak?

Sedangkan dari lingkungan sekitar saya rasa lebih banyak untuk melibatkan wanita dalam setiap program, khususnya dalam hal ini yaitu program kakao lestari. Bahwa potensi yang ada pada diri wanita tidak akan pernah mencuat jika tidak ada rasa saling menghargai dan membutuhkan. Seseorang akan memberikan hal lebih dari kemampuanya ketika merasa dihargai.

Harapannya, semoga peran perempuan dalam program kakao lestari dapat lebih diapresiasi lagi. Misalkan dengan tidak mencibir setiap langkah yang ia tempuh jika tidak merugikan siapapun. Karena sosok dewi ini pun dapat memimpin tanpa terus harus dipimpin. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan salah satu dari tiga karya terbaik dalam Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) 2019 yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS)

The post Kecantikan Bukan sebagai Standar Kesuksesan Perempuan appeared first on BaleBengong.