Tag Archives: AJS 2019

Regenerasi Petani Kakao Jembrana Terancam Mati

Oleh Rischa Sasmita

Hampir 100 persen siswa di Jembrana enggan bertani.

Keberhasilan kakao Jembrana menembus pasar dunia tidak lepas dari proses fermentasi. Walaupun Jembrana hanya memiliki 800 ha lahan kering dengan produksi kakao kurang dari 2.000 ton, tetapi biji kakao Jembrana diminati oleh produsen cokelat lokal hingga dunia.

Negara seperti Jepang, Belanda, sampai Perancis antre untuk mendapat biji kakao Jembrana. Negara-negara tersebut jatuh cinta dengan biji kakao Jembrana.

Proses fermentasi sangat berpengaruh pada kualitas biji kakao yang akan dipasarkan. Kakao Jembrana terkenal dan dicintai produsen cokelat karena diproses melalui fermentasi. Proses ini membuat biji kakao sehat dan menciptakan aroma (bunga, buah, rempah dan madu) sekaligus menghilangkan rasa pahit dan memunculkan nutrisi.

Biji kakao Jembrana menjadi pusat perhatian pembeli hingga menerobos pasar dunia. Harganya pun termasuk mahal. Produsen memilih biji kakao Jembrana karena memiliki keunikan aroma. Hanya biji kakao Jembrana yang dapat memberi empat aroma sekaligus.

Menurut Pak Wayan Rata, petani asal Melaya yang sudah lama berkecimpung di pertanian kakao, fermentasi sangat berpengaruh terhadap kualitas biji kakao. Tidak kalah pentingnya adalah perawatan kakao sejak di kebun. “Tanaman kakao hendaknya dirawat layaknya anak,” kata Pak Rata.

Pak Rata berhasil mengelola kebun kakaonya karena merawat tanaman kakao dengan baik, mulai dari memotong cabang pohon, menerapkan sistem sambung dan menggunakan pupuk organik. Pemangkasan untuk menghindari adanya buah di cabang karena buah kakao yang baik adalah buah yang dekat dengan akar serta menggunakan pupuk organik. Adapun pemupukan yang baik dilakukan di awal dan di akhir musim hujan dengan menanam pupuk di area dekat tanaman kakao. Penanaman pupuk bertujuan menghindari penguapan dan dirusak ayam atau ternak lain. Begitu pula yang dilakukan petani kakao di Jembrana lainnya.

Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) didampingi Kalimajari meraih sertifikat komoditas UTZ Certified pertama di Indonesia karena telah memenuhi standar. UTZ Certified adalah standar yang dikembangkan oleh organisasi swasta dengan kantor pusat di Belanda. Selain itu kakao di Jembrana juga memiliki sertifikat dari Lembaga Pengawasan Uni Eropa (UE) sebagai pengakuan kualitas produk kakao di Jembarana. United state department of agriculture (USDA) juga dipegang kakao di Jembrana. Terlebih lagi kakao Jembrana lolos dalam 50 besar dari 166 sample dari 44 negara diajang Cocoa Excellent Award 2017. Penghargaan sangat hebat dan dapat dijadikan motivasi.

Generasi Enggan Bertani

Potensi dan prestasi yang mampu diraih sampai saat ini hendaknya perlu dipertahankan hingga nanti. Karena itu, keberhasilan petani kakao Jembrana memasarkan produknya hingga luar negeri terasa ironis karena berbanding terbalik dengan regenerasi petani kakao di Jembrana. Sebanyak 98 persen anak muda di kabupaten ini enggan bertani. Generasi yang terputus menjadi ancaman petani kakao Jembrana.

Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara di SMP Negeri 4 Negara mengenai peminatan siswa. Ternyata 98 persen siswa laki-laki di Jembrana tidak ingin menjadi petani. Hanya 2 persen yang ingin menjadi petani. Itu pun karena hobi bercocok tanam. Adapun siswa perempuan sebanyak 95 persen tidak ingin menjadi petani. Hanya 5 persen yang ingin menjadi petani karena membantu orang tuanya. Lebih besar lagi, 99 persen siswa di Jembrana tidak faham tentang kakao, tata cara bertani kakao dan potensi serta prestasi yang sudah diraih kakao di Jembrana.

Salah satunya siswa SMP Negeri 4 Negara I Gede Budi Astudiarta yang berasal dari Desa Baluk tepatnya Banjar Baluk Rening. Orang tuanya bekerja sebagai guru yang dimiliki lahan cukup luas untuk bertani. Namun, ia tidak memiliki minat di bidang pertanian karena alasan capek, kotor, malas, panas dan juga penghasilan yang tidak menjanjikan.

Men ngidang sugih ulian megae aluh di kantor. Ngengken kenyel dadi petani. Adenan asana adep tanah 1 hektar. Enggalan maan pis. Men ngantia cokelat mabuah enggala be mati,” kata Gede.

Kentalnya budaya patriaki dalam tradisi Bali, ditambah minimnya minat siswa di bidang pertanian khususnya pertanian kakao, membuat masa depan pertanian dalam ancaman. Lahan yang menyusut, regenerasi petani yang terputus karena kurangnya sosialisasi budaya agraris tanpa disadari tetapi pasti telah mengarahkan terjadinya pergeseran dan sudah dapat diprediksi dari tahun ke tahun akan punah.

Indonesia dikenal dengan negara agraris, mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. Kondisi alam mendukung, lahan luas serta iklim tropis dimana sinar matahari terlihat sepanjang tahun menjadi peluang petani untuk bertani sepanjang tahun. Seiring berjalannya waktu lahan pertanian di Indonesia makin menyusut karena kurangnya minat regenerasi di bidang pertanian. Kurangnya minat ini menjadi masalah besar jika terus dibiarkan. Indonesia akan kehilangan gelar negara agrarisnya.

Budaya patriaki sudah berlangsung dari masa lampau di mana laki-laki ditempatkan di hierarki teratas sedangkan perempuan ditempatkan pada nomor dua. Adanya konsep purusa pradhana yang dianut masyarakat Bali, mengakibatkan perempuan di Bali sering dijuluki “pewaris tanpa warisan”. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan kesetaraan gender. “Untuk kesetaraan gender, tidak setuju jika semua jatuh ke tangan laki-laki termasuk lahan untuk bertani. Padahal realita di Bali banyak petani perempuan yang aktif. Bahkan perempuan terlihat lebih banyak dari pada laki-laki,” kata Ibu Ni Ketut Arwati, dari Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) Kabupaten Jembrana.

Bu Ketut bekerja di bidang ini sejak 31 Desember 2016. Pengalaman kegiatannya lebih sering terjun ke lapangan seperti memberikan sosialisasi bahwa PPPA bukan laki-laki saja, perempuan pun mampu. Masalah lain yang pernah diterima adalah pertengkaran istri dengan suami akibat media sosial dan kecurigaan.

Menurut Ibu Ni Ketut Arwati, budaya adat purusa pradhana di Bali membuatnya sulit untuk membela perempuan dalam hal hak waris. Namun, ia kagum dengan sosok perempuan yang mampu di bidang pertanian. Masalah patriaki, perempuan tidak mendapat hak waris dalam hal lahan untuk bertani, dapat diminimalisir dengan cara perempuan bekerja sama dengan laki-laki. Wanita harus meyakinkan suami untuk tidak menjual tanahnya dan memintanya untuk mengurus bersama suami. Apabila hal tersebut dapat diterapkan, Bu Arwati yakin 99 persen pertanian khususnya pertanian kakao di Bali tetap berkembang dari tahun ke tahun.

Guru Eka belajar budi daya kakao selama program kakao lestari. Foto Anton Muhajir.

Petani itu Miskin?

Potensi dan prestasi yang mampu diraih kakao di Jembrana akan menurun apabila masyarakat masih takut akan pertanian membawa kemiskinan. Ketakutan masyarakat menjadi masalah besar dalam mempertahankan potensi dan prestasi kakao di Jembrana. Padahal anggapan petani itu miskin tidak selalu benar. Petani akan berhasil apabila bekerja dan bekerja sama secara serius. Kesetaraan gender sangat diperlukan dalam pertanian. Apabila kaum laki-laki dan perempuan mampu bekerja sama secara maksimal, maka hasil pertanian akan memuaskan. Salah satu contoh pertanian yang mampu membawa petani keranah sukses misalnya pertanian kakao.

Contohnya adalah pasangan suami-istri (pasutri) I Gede Eka Arsana, biasa dipanggil Guru Eka (50), dengan istrinya bernama Ni Made Ayu Budi Anggreni (39), biasa dipanggil Ibu Ayu. Pasangan yang memiliki 3 orang putri ini sukses menyekolahkan anaknya karena optimis pada hasil kebun. Pasangan ini kompak dalam menjalankan usaha pertanian kakao. Anggapan bahwa petani itu miskin yang kerap hadir di tengah telinga masyarakat tidak menjadi penghalang bagi pasutri untuk bertani.

“Dengan bermodalkan niat, fokus dan serius, tidak akan membawa kita pada hasil yang buruk,” kata Ibu Ayu.

Ibu Ayu adalah sosok wanita yang awalnya tidak mempunyai kemampuan mendalam tentang pertanian. Dia terjun di bidang pertanian semenjak awal menikah sekitar 25 tahun lalu. Ketika itu dia tidak mempunyai pikiran untuk bertani. Karena saat itu tidak ada yang membantu suaminya, dia pun ikut terjun ke kebun. Awalnya hanya membantu memetik dan mengangkat biji kakao.

“Saya mengalami banyak keluhan. Mulai dari kesusahan jalan, melihat tebing cukup tinggi dan haluan jalan rumit membuat saya sering terpeleset jatuh. Saat itu saya belum terbiasa menyeberang sungai. Sampai saya sempat jatuh terpeleset di sungai karena tidak bisa memilih haluan hingga nasi bekal ke kebun hanyut terbawa air,” katanya.

Pelan-pelan, Ibu Ayu pun kian paham tentang kakao. Misalnya bahwa buah kakao memiliki kulit tebal sekitar 3 cm. Bahwa setiap buah kako mengandung biji sebanyak 30-50 biji. Bahwa warna biji sebelum proses fermentasi dan pengeringan adalah putih yang lalu berubah mejadi keunguan atau merah kecokelatan.

“Parahnya lagi saya awam akan biji kakao. Pernah sekali memungut biji nangka saya kira biji kakao. Bentuk hampir sama membuat saya mengira biji nangka itu biji kakao. Lumayan si maan a ember. Kejadian tersebut membuat saya beranggapan bahwa cantik tidak menjamin hidup. Walaupun wanita ke kebun panas-panasan, kotor dan mengalami beraneka kejadian tidak menutup kemungkinan untuk bisa maju,” tambahnya lagi.

Pelajaran lain yang dia pelajari adalah sistem tanam. Tumpang sari merupakan suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tanaman kakao dengan tanaman lain sangat mempengaruhi hasil produksi kakao oleh karena itu, tata tanam memberikan hasil optimal.

Pasutri ini memiliki kebun seluas 5 hektar jenis tumpang sari, namun lebih banyak pohon kakao diurus bersama. “Panen kakao tidak menentu tergantung cuaca, jika cuaca mendukung setiap minggunya menghasilkan 2 kuintal biji kakao basah. Biji kakao basah dibeli oleh Koperasi KSS dengan harga per kilo Rp. 11.000, jadi dalam satu minggu pendapatan kotor kurang lebih Rp. 2.200.000,’’ katanya.

Suksesnya pasutri ini tidak hanya kompak dalam hal berkebun. Mereka kompak dalam segala bidang. Pasutri ini kompak mengerjakan pekerjaan rumah dan juga kompak dalam mengambil keputusan saat ada perbedaan pendapat. Guru Eka tidak pernah mengabaikan pendapat istrinya. Dia selalu menerima dan mencari jalan tengah apabila ada perbedaan pendapat untuk hal yang lebih positif. Kesetaraan gender membalut kekompakan pasutri ini.

KSS Peduli Petani

Tidak kalah penting suksesnya pasutri ini dari peran Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS). Koperasi ini didirikan dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga, meningkatkan produktivitas, dan kesejateraan petani. Selain itu Koperasi KSS bekerja sama dengan Kalimajari menyediakan bibit kakao berkualitas untuk menghasilkan kakao yang semakin baik. Koperasi KSS pernah mengekspor biji kakao ke pembeli domestik maupun pembeli internasional. Saat ini Koperasi KSS mengayomi 609 petani dari 38 subak abian.

Menurut Guru Eka pada tahun 2015 silam diadakan pelatihan pertanian kakao di subak abian. Subak abian merupakan istilah untuk kelompok tani daerah kering di Bali. Berbeda dengan subak di Bali yang pada umumnya di daerah persawahan. Kakao termasuk komoditas pertanian lahan kering.

Saat itu ia mengikuti dengan semangat hingga tertarik untuk bergabung di Koperasi KSS. Sebelum bergabung di Koperasi KSS, Guru Eka menjual biji kakao asalan yaitu biji kakao dijual dengan harga murah. Biji kakao dijual murah karena kualitasnya kurang baik dan tidak ada proses fermentasi. Karena merasa ada ikatan kemitraan atau sama-sama diuntungkan ia menjual biji kakao ke Koperasi KSS.

Menurut Guru Eka, petani konvensional yang saklek atau keras kepala akan mempengaruhi hasil pertanian kakao di Jembrana. Dia sendiri mengaku selalu cepat menerima informasi mengenai pertanian khususnya pertanian kakao. Saat mendapat informasi mengenai sistem potong, Gur Eka langsung mengambil tindakan. Beda halnya dengan petani keras kepala. Saat mendapat informasi mengenai sistem potong cabang, mereka memiliki banyak pendapat untuk membantah anggapan tersebut

“Nah depin gen. Nak nu liu buah pedalem ngetep. Mase batun nu payu adep,” ungkapan seperti itu kerap dikatakan petani konvensional. Petani konvensional lebih memilih membiarkan pohon kakao bercabang karena di cabangnya tumbuh buah kakao yang laku dijual secara asalan dengan harga murah.

Buah kakao pada cabang pohon tidak sama kualitasnya dengan buah kakao pada batang, hal ini menjadi alasan mengapa dilaksankan sistem potong agar menghasilan buah kakao berkualitas, banyak nurisi, harga dari biji kakao tinggi. “Buah yang baik adalah buah yang dekat dengan akar,” kata Bapak I Ketut Wiadnyana selaku Kepala Pengurus di Koperasi KSS (Senin, 5/8/2019).

Pasutri Sukses

Kegiatan bersamaan untuk mendapatkan hasil maksimal merupakan modal petani untuk meraih sukses khususnya pertanian kakao. Contohnya pasutri-pasutri di Jembrana yang berhasil dalam bertani. Kerja sama tidak lepas dari kesetaraan gender yang merupakan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Merujuk pada keadaan di mana laki-laki dan perempuan memperoleh hak dan kewajiban setara. Kesetaraan gender sangat berpengaruh pada perkembangan pertanian di Indonesia dan masalah kemiskinan. Apabila diskriminasi berdasarkan gender terus terjadi maka akan berpengaruh buruk pada perkembangan Indonesia sebagai negara agraris.

Masyarakat hendaknya sadar akan kesetaraan gender dan tidak lagi mendiskriminasi kaum perempuan. Kaum perempuan dan kaum laki-laki saling bekerja sama agar mencapai titik keharmonisan dan keberhasilan di segala bidang, baik bidang rumah tangga maupun pertanian khususnya pertanian kakao. Jika kesetaraan gender diterapkan oleh seluruh pihak maka kehilangan gelar negara agraris tidak akan terjadi. Bahkan akan mengembangkan potensi agraris Indonesia termasuk potensi serta prestasi kakao di Jembrana.

Kesuksesan pasutri di Jembrana telah mengubah image petani dari yang selama ini diidentikkan dengan tua, miskin, pekerjaan kotor, dan kurang berpenghasilan menjadi petani muda, keren, menguntungkan, kekinian, dan tentunya kaya. Maka jadilah petani modern yang mau berubah, bukan petani kovensional. Dengan bertani berarti bersahabat dengan alam. Bila menghargai alam maka alampun memberikan kesejukan, kedamaian dan kekuatan serta memberikan manfaat pada manusia dan isinya.

Jika lahan pertanian tidak digunakan bertani, maka lahan yang ada lama-kelamaan bisa habis. Masyarakat Jembrana harusnya lebih melek informasi mengenai pertanian khususnya kakao karena kakao Jembrana diminati produsen cokelat dan mampu memiliki prestasi yang baik. Bukan lagi menanam beton-beton yang sudah pasti akan merusak citra agraris dan kakao Jembrana yang sudah mendunia. [b]

The post Regenerasi Petani Kakao Jembrana Terancam Mati appeared first on BaleBengong.

Kakao Fermentasi pun Terbang Tinggi Hingga Luar Negeri

Pengolahan dengan cara fermentasi meningkatkan kualitas kakao Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Oleh: Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum

“Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”

Hai.. Saya ingin menceritakan curahan hati selama ini. Ini pertama kali saya menceritakan apa yang selama ini saya pendam. Jadi kalian harus bersyukur, ya. Saya kasih tahu pertama kali dan jangan kasih tahu siapa-siapa ya.

Sekarang saya ingin menceritakan tentang awal mula saya biasa masuk ke dalam dunia tulis menulis dengan bumbu yang beragam di dalamnya.

Awal saya menulis itu karena saya dipercaya mewakili sekolah dalam lomba esai bertajuk “Gelora Esai” yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja. Masalahnya, waktu itu saya sama sekali tidak tahu apa itu esai. Bagaimana caranya, apa perbedaannya sama tulisan-tulisan lain, dan segala tetek bengeknya. Itu semua tidak ada yang saya mengerti.

Lebih parahnya lagi temanya itu, loh, yang bikin pusing tujuh keliling, tentang politik. Wong saya saja tidak pernah tahu tentang politik, eh, malah diminta buat menulis esai lagi. Ya bagaimana mau tahu, kalau ibu lagi menonton TV yang politik saja saya langsung “ngamar”.

Eitts! Tapi bukan yang negatif ya. Saya lebih memilih untuk tidur daripada mendengarkan tokoh-tokoh yang mendebat untuk mempertahankan pilihannya. Akhirnya, saya memilih untuk menggunakan cara instan yaitu menjiplak sebagian informasi yang saya temukan di Google.

Ya, namanya juga masih awal, masih coba- coba.

Dipermalukan

Singkat cerita, tidak pernah dibayangkan sebelumnya ternyata saya dikabarkan oleh salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di sana, Kak Made Ginastra. Saking senangnya, saya hampir terserempet mobil karena saya ingin memberitahukan guru yang juga pembina saya Bu Indra.

Saat final, saya makin minder karena ternyata yang lolos adalah anak-anak berpengalaman dalam bidang ini. Sejak masuk ruang presentasi keringat dingin sudah membasahi punggung saya. Padahal di sana disediakan pendingin ruangan yang jumlahnya dua, tapi tetap tidak mampu untuk menghilangkan keringat itu.

Yang paling saya ingat adalah saat saya selesai menjelaskan dan masuk sesi tanya jawab. Di sana saya benar-benar merasa dipermalukan karena para dewan juri saat itu sangat pedas komentarnya. Saya merasa lebih malu saat hampir semua orang di ruangan itu menertawakan presentasi saya. Rasanya ingin cepat- cepat pulang dan menangis sejadi-jadinya.

Namun, yang saya syukuri dari peristiwa itu, ada satu juri penulis esai dan juga wartawan yang mencoba menghibur saya. Lebih baiknya lagi dari beliau ialah setelah selesai dari perlombaan itu kami para peserta final dibuatkan satu grup yang di dalamnya membahas tentang tata cara penulisan esai. Beliau juga dengan sabar menanggapi komentar-komentar dari kami. Beliau adalah Pak Kadek Surya. Beliau juga yang menginspirasi saya untuk terus membuat lebih banyak lagi esai.

Dari beliau juga saya jadi percaya diri untuk mengikuti lomba-lomba esai yang lain. Sampai akhirnya, saya mendapatkan kabar ada satu lomba esai bertema kakao yang diselenggarakan oleh Yayasan Kalimajari dan Koperasi Samaya Samaniya (KSS). Lokasinya di SMKN 2 Negara. Dari sana juga saya mendapatkan banyak ilmu baru yang membuat saya sadar akan sekitar.

Informasi lomba esai ini saya dapatkan dari guru saya, Bu Indra. Awalnya saya ditunjuk bersama dengan teman saya, Rama, bukan Desita. Namun, saat itu guru saya salah membaca informasi. Babak penyisihan tahap awal yang seharusnya diselenggarakan padal 2 Juli 2019, tapi guru saya membacanya tanggal 2 Juni 2019.

Saat itu Rama sedang sakit sehingga tidak bisa mengikuti penyisihan itu. Saya dan guru saya bingung siapa yang bisa menggantikan Rama. Akhirnya Desita dipilih untuk menggantikannya. Saat besoknya kami sampai di SMKN 2 Negara ternyata di sana sepi. Tidak ada seorang pun.

Kami sempat berpikir apa kami yang terlalu pagi atau bagaimana. Saya bersama Desita di sana mondar-mandir seperti orang hilang. Kami menunggu berjam-jam. Tapi tidak ada tanda- tanda panitia muncul. Akhirnya saya menelepon guru saya untuk memastikan tanggalnya benar atau salah.

Benar saja. Guru kami itu salah membaca informasi tanggal penyisihan tersebut. Akhirnya kami pulang dengan tangan kosong.

Saya dan Desita kembali lagi ke SMKN 2 Negara pada 2 Juli. Di sana saya mendapatkan informasi tentang cokelat. Ada salah satu informasi yang saya dapatkan, ternyata kakek Desita, Pak Wayan Rata merupakan salah satu petani kakao yang berhasil menciptakan klon baru kakao. Hebat yahh.. Ini juga yang membuat saya semakin tertarik mendalami tentang kakao.

Dari lima tema yang disiapkan panitia saat itu, saya lebih memilih untuk menggunakan tema kesehatan sesuai dasar pendidikan saya. Untuk kedua kalinya hal yang tidak pernah saya bayangkan terjadi, saya lolos ke babak selanjutnya. Dari hari di mana saya mendapatkan kabar tersebut, saya jadi tidak sabar untuk menanti hari pelatihan sebagai bagian dari tahap final.

Terbuktilah hari pertama mulai pelatihan kemarin saya mendapatkan lebih banyak lagi ilmu- ilmu yang diberikan oleh Pak I Ketut Wiyadnyana selaku ketua KSS.

Setengah hati

Di hari pertama itu juga kami diundi untuk mendapatkan tema penulisan selanjutnya. Namun, tema itu harus saya terima dengan setengah hati dan membuat saya ingin menangis karena tema itu saya tidak tahu menahu cara memulainya. Tema tersebut ialah manajemen koperasi. Namun, dengan sabar Kak Sri Auditya Sari atau biasa dipanggil Kak Tya selaku anggota dari Kalimajari menjelaskan apa sih yang dilakukan di manajemen koperasi. Dia berhasil mematahkan opini saya tentang manajemen yang saya tahu hanya angka, angka, dan angka.

Kami juga diberikan fasilitas untuk jalan-jalan sekaligus belajar lebih dalam tentang kakao. Terima kasih Kak Tya, panitia, Koperasi KSS dan Kalimajari atas semua kesempatan dan ilmunya. Saya harap saya bisa diberikan kepercayaan lagi untuk mendapatkan yang saya harapkan. He.he.he..

Setelah tiga hari mendapatkan banyak ilmu bermanfaat selama pelatihan, kami diberikan waktu untuk mewawancarai sumber-sumber yang sudah kami siapkan. Lagi-lagi kami diberi fasilitas berupa surat dispensasi. Sebenarnya saya merasa lelah, sih, karena harus pergi ke kantor beberapa kali akibat beberapa kendala yang mengakibatkan saya dan Bintang selaku teman satu tema harus kembali pergi ke kantor dinas. Tapi, tidak apa untuk cuci mata. Supaya segar melihat cowok bening dulu biar semangat lagi buat mengetik. Hahaha..

Mulai Bangkit

“Jatuh bangun aku sendiri……”

Dari sekian narasumber yang saya wawancara, hampir semua mengatakan bahwa Koperasi KSS ini koperasi yang pernah berada di titik terendah. Koperasi ini pernah “kecolongan” karena salah satu anggotanya ada yang menggelapkan dana. Melihat itu akhirnya Kalimajari tergerak untuk mendampingi.

Kenapa Kalimajari tertarik bekerja sama dengan KSS? Direktur Kalimajari, Bu I Gusti Agung Ayu Widiastuti, mengatakan alasan tertarik karena KSS ini merupakan satu-satunya koperasi kakao di Jembrana. Maka, Kalimajari pun mendampingi mereka. Penguatan tidak hanya budidaya tapi juga kelembagaan.

Nah, bagaimana perasaan kalian yang tinggal di Jembrana? Pastinya bangga kan. Bangga, dong.

Tahun 2011 Kalimajari mulai mendampingi bersama dengan dinas yang sudah mendampingi koperasi ini sejak lahir tahun 2006. Mereka mengawalinya dengan mengadakan Rapat Akhir Tahunan (RAT) luar biasa. Dalam rapat ini mereka selaku pendamping bermusyawarah pada anggota pengurus untuk membentuk pengurus baru.Rapat juga memutuskan bahwa pengurus lama setuju diganti dengan pengurus baru.

Setelah berhasil membentuk pengurus baru, di sini semua dimulai. Semuanya mulai bekerja, bekerja untuk maju. Inilah titik di mana KSS mulai bangkit.

Mulai Berjalan

Dalam hidup itu tidak ada yang mudah. Begitupun dengan KSS baru. Emm, kita panggil Baby K saja ya. Biar kesannya baru. Kan KSS baru lahir kembali. Oke?

Bu Agung Widiastuti bercerita mereka mengalami banyak kendala cukup rumit. Misalnya harus mengembalikan kembali jiwa yang sempat hilang pada diri Baby K. Mengembalikan kembali kepercayaan masyarakat. Saat itu subak-subak yang pernah bekerja sama dengan KSS sudah telanjur sakit hati. Sebab, bukannya untung yang mereka dapat, tetapi hanya buntung yang mereka tuai.

Karena para anggota subak dan petani telanjur sakit hati, mereka pernah memanggil KSS dengan sebutan “koperasi sakit- sakitan”. Hal inilah yang menjadi permasalahan, sulitnya pengurus dan Kalimajari untuk mengajak anggota subak dan petani untuk kembali melakukan fermentasi. Jangankan mengajak para petani untuk kembali, untuk mengubah mindset petani saat itu pun sulit.

Saat sudah berhasil mengubah mindset petani, terjadilah penumpukan biji kakao fermentasi karena tidak pernah tahu adanya pembeli biji fermentasi saat itu.

Melihat hal itu, Bu Gung selaku Direktur Kalimajari dan Pak Ketut selaku Ketua Koperasi KSS menunjuk salah satu anggota untuk menjadi petugas quality control. Namun, anggota itu tak bertahan lama. Tahun 2017 posisi tersebut digantikan oleh Putu Dian P atau sering dipanggil Pepeng. Diberi pekerjaan tersebut tidak membuat Kak Pepeng tahu dan paham akan kakao. Justru pada awalnya dia sangat awam dengan kakao.

Selaku petugas quality control atau QC, Kak Pepeng bertugas mengecek semua alur yang terjadi ke koperasi. Mulai dari kakao masuk ke koperasi, kakao disimpan, sampai kakao keluar semua dicek oleh QC.

Tidak hanya itu, tim manajemen koperasi pun dibentuk. Manajemen sendiri merupakan seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Di Koperasi KSS kini dijalankan oleh Wayan Diana yang dahulunya juga merupakan petani kakao. Beliau juga sempat bercerita awal bagaimana ia menjadi petani karena orang tuanya memiliki lahan dengan luas 8 hektar, tapi kurang terurus.

Dari sanalah ia mulai menjadi seorang petani kakao dan dari orang tuanya pula ia mengetahui keberadaan KSS. Ia juga mengungkapkan bahwa manajemen di koperasi menangani semua yang terjadi di dalam koperasi. Misalnya pengarsipan data yang baik, pengelolaan keuangan, produksi, menganalisis keuntungan dan kerugian, dan marketing.

“Penguatan bukan hanya budidaya, tapi juga kelembagaan yang berkelanjutan,” kata Bu Gung.

Untuk modal, KSS mendapatkan dana talangan dari Dinas Koperasi Jembrana tiga tahun belakangan. Sejak tahun 2017 Dinas Koperasi mulai memberikan dana talangan senilai Rp 200 juta. Dana tersebut bukanlah dana cuma-cuma melainkan harus dikembalikan setiap tahun dengan kontribusi sebanyak 2 persen. Begitu pun dengan tahun 2018. Dinas Koperasi juga memberikan dana Rp 200 juta kepada koperasi dan untuk tahun 2019 dinas memberikan dana senilai Rp 300 juta.

Permodalan tidak hanya berasal dari pemerintah. Koperasi juga meminjam modal dari Bank BRI senilai Rp 500 juta. Bank BPD pun juga dijadikan tempat untuk meminjam dana loh. Dana modal yang dipinjam yakni senilai Rp 250 juta. Wah, kalo dihitung-hitung, utang KSS bisa membelikan pizza sekampung, yah. Lebih malah.. Hehehe…

Tapi tidak apa-apa kan? Koperasi KSS ini menghasilkan sesuatu yang dapat dibanggakan masyarakat Jembrana. Jad,i tak apalah berhutang dahulu pelunasan kemudian. Hehe. Bahkan akan dilunaskan dengan hal sangat membanggakan bagi warga Jembrana sekali lagi. Yap. Apa lagi kalo bukan kakao fermentasi terbaik yang ada di Indonesia?

Koperasi ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dari koperasi kakao lain di Indonesia. Akhirnya, fermentasi dipilih untuk itu. Bukan hanya untuk membuat Koperasi KSS beda, tapi fermentasi juga merupakan kunci utama menghasilkan aroma yang khas. Seperti di KSS yang mempunyai aroma khasnya yakni aroma madu.

Setelah menguatkan kelembagaan di KSS, Kalimajari memulai mencari para pembeli yang mencari kakao berfermentasi. Namun, usaha itu tidaklah berjalan mulus. Bahkan Bu Gung saja hampir tidak lagi percaya ada pasar fermentasi. Hingga beliau menemukan satu pembeli yang menghargai pasar itu.

“Untuk mencapai sesuatu yang unik dan berkarakter, kita harus thingking out of the box,” ujar Bu Agung saat itu.

Pelepasan biji kakao dari Jembrana ke pembeli.

Begin to Fly

Sebelum menemukan pembeli tersebut, koperasi harus merasakan sakit hati dahulu. Sakit hati karena tidak dihargai seseorang. Saat itu tahun 2012 KSS memiliki 1,8 ton kakao bersertifikat UTZ yang dibeli perusahaan tetapi harganya kecil. Perusahaan itu tidak memberikan harga lebih meskipun koperasi sudah memiliki sertifikat. Untuk itu Bu Agung kembali mengatakan bahwa jika kita masih berjalan sendiri-sendiri maka posisi tawar kita tidak akan pernah kuat.

Setelah kejadian tersebut, KSS berjuang kembali dengan jalan fermentasi. Pada tahun 2013, Koperasi KSS melakukan presentasi pertama di Jakarta dan bertemu pembeli dari Bandung. Setelah pertemuan itu pun tidak langsung sepakat, tetapi KSS harus mengirimkan dua kali contoh. Itu pun baru dikonfirmasi setelah pengiriman kedua. Setelah proses tersebut akhirnya didapatkan kesepakatan. Inilah pembeli pertama yang menghargai dan membuat koperasi kembali percaya akan adanya pasar fermentasi.

Tahun 2014 barulah Koperasi KSS bertemu dengan pihak Valrhona, pabrik cokelat terbaik di Perancis, Eropa. Lagi-lagi untuk mendapatkan kesepakatan harus membutuhkan proses. Bedanya untuk pihak Valrhona KSS membutuhkan waktu hampir dua tahun yakni 18 bulan lamanya dan harus melewati lima kali pertemuan untuk mendapatkan kepercayaan dan kesepakatan.

Oktober 2015 merupakan bulan yang membanggakan bagi Koperasi Kerta Samaya Samaniya karena pada bulan itu KSS memberangkatkan kontainer pertama ke Eropa. Bayangkan betapa bangganya kita bukan?

Bahkan coklat Valrhona tidak hanya menyediakan bean to bar alias pengolahan dari kebun hingga menjadi cokelat siap saji. Restoran-restoran mahal yang ada di Prancis hampir semua menggunakan coklat Valrhona. Sekali lagi saya tanya, bangga tidak sih kalian menjadi warga Jembrana? Pastinya bangga dong…

Tahun 2018 KSS melebarkan sayapnya kembali. Kali ini pabrik Cau Chocolate International di Tabanan bekerja sama dengan KSS. Pertemuannya kala itu terjadi di Kuta, Bali. Kenapa Cau Chocolate tergerak untuk ikut bergabung? Karena Pak I Wayan Alit Arta Wiguna selaku pemilik dan pembeli mengaku kagum dengan Koperasi KSS yang merupakan koperasi penghasil biji kakao pertama yang memiliki tiga sertifikat internasional. Yakni sertifikat UTZ di Belanda, Organic USDA di Amerika Serikat, dan UE di Eropa. Kerja sama itu masih terjalin hingga sekarang.

Hope for Us

Semua orang pasti menginginkan yang terbaik untuk segalanya. Begitu pun dengan Bu Agung selaku Direktur Kalimajari. Ia berharap KSS suatu saat nanti bisa menghasilkan produk turunan yakni produk dengan nama sendiri. Nama yang bisa dibanggakan bukan hanya para petani, melainkan semua kalangan dari anak kecil hingga lansia. Bukan hanya Jembrana tapi seluruh Indonesia.

Beliau juga berharap KSS ini bisa mandiri baik dari segi finansial maupun manajemen. Harapan terakhirnya ialah semoga lebih banyak lagi petani kakao yang sadar dan tergerak hatinya untuk bergabung dengan KSS.

Tidak hanya Kalimajari saja yang berharap kepada KSS. Namun, Dinas Koperasi selaku pembina dari pihak pemerintah berharap bahwa koperasi ini dapat membentuk lembaga yang profesional. Serta menunjuk pengelola KSS yang profesional dan juga bertanggung jawab.

Harapan kali ini bukan dari dinas maupun yayasan. Harapan kali ini berasal dari seorang anak SMK kelas XI yang begitu menyukai cokelat dan terinspirasi dari kisahnya. Siapa dia? Dia adalah saya. He.he.he..

Saya Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum, salah satu peserta yang banyak bertanya dan kadang suka bikin rusuh dan cerewet ini, berharap bahwa program di KSS berjalan semua khususnya program beasiswa yang sedang saya ikuti. Saya ingin lebih banyak lagi generasi milenial yang tahu keberadaan koperasi yang bisa membantu keluarga.

Ada juga pesan dari Pak Wayan Rata. Beliau merupakan seorang petani kakao yang sangat menginspirasi saya. Pesannya ini singkat, padat, namun sangat bermakna. Pesannya, kunci sukses hanya ada 3, yaitu tekun, sabar, dan kreatif. [b]

The post Kakao Fermentasi pun Terbang Tinggi Hingga Luar Negeri appeared first on BaleBengong.

Kakao Menyehatkan dari Gumi Mekepung

Pengolahan cokelat siap saji di Puslitkoka. Foto Anton Muhajir.

Oleh I Made Dwi Mertha Mahendra

“Tilulit.. Tilulitt.. Tilulittt…” Telepon seluler saya berbunyi. Dengan ragu saya menjawab telepon dari nomor asing tersebut. Saya beranikan diri untuk menjawabnya. “Haloo..” Hanya satu kata itu saja yang saya katakan.

Suara perempuan terdengar dari seberang telepon sana, “Selamat yaa, Mahendra. Kamu lolos program AJS 2019.”

Dengan rasa terkejut saya pun menjawab, “Oh ya, Kak? Benar, Kak? Bisa diulang gak? Mau direkam ini.”

Hal yang tidak saya sangka-sangka. Saya lolos tahap final dalam program beasiswa Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) 2019. Padahal saya hanya berbekal paksaan dan rasa malas yang luar biasa serta roti serta air putih saja.

Setelah melalui proses seleksi pertama pada Juli 2019, saya ternyata lolos ke tahap final dengan sepuluh finalis dari sekolah SMA/SMK se-Kabupaten Jembrana. Para finalis lalu diseleksi lagi untuk mencari tiga karya terbaik, tetapi harus mengikuti pelatihan dulu. Lokasi pelatihan di kantor koperasi di Melaya, bagian barat Jembrana.

Tepat di hari itu, saat pelatihan pada Agustus 2019 lalu, raga sulit sekali untuk bangun dari tempat tidur. Mungkin masih kepikiran tantangan yang akan dihadapi dengan teman beda sekolah. Hal yang membuat kepikiran sampai di perjalanan menuju lokasi. Apa lagi beban tugas organisasi di sekolah yang membuat gagal fokus dan panik saat kegiatan pelatihan berlangsung. Sangat mengganggu.

Tentu saja hal tersebut menjadi beban terpendam dalam diri. Di satu sisi memikirkan tugas di bagian timur, di sisi lain memikirkan tugas di bagian barat. Saya tidak bisa memilih satu di antaranya. Ingin sekali menyelesaikan satu per satu dengan maksimal. Semoga yaa..

Beradaptasi

Rasa lesu dan beban pikiran tadi terasa hilang ketika matahari menyinari. Seakan memberi semangat, mulailah! Saya pun mulai menyesuaikan untuk bisa beradaptasi dengan teman baru serta mencoba.

“Jalani saja dahulu. Hidup ini pembelajaran,” kata yang pernah terdengar di telinga untuk menjadi penyemangat belajar walaupun belum memahami betul. Yaa namanya juga belajar.

Masih di hari pertama saya diperkenankan bertatap muka dengan Pak Ketut Wiadnyana, orang nomor satu di Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS). Bukan hanya tatap saling menatap saya juga berkesempatan untuk bertukar pikiran dengannya.

Di tengah acara tatap muka langsung itu Pak Tut menceritakan bagaimana sejarah usahanya hingga saya sangat terngiang dengan kata beliau. “Bersatu, bersama.” Itu yang beliau katakan sebagai modal untuk sukses di usahanya.

Ketua Koperasi KSS ini menjelaskan arti nama koperasinya yaitu sejahtera, berjanji, bersatu atau bersama. Arti itu bukan sembarang arti, Pak Tut bercerita, tetapi memang diperuntukkan untuk petani yang mau berubah di tengah susahnya mengubah cara pandang para petani. Jika ingin maju di bidang kakao, khususnya di Jembrana, caranya adalah dengan cara bersatu dan bersama.

Saya sungguh terkejut mendengar pernyataan Pak Tut tadi. Di tanah kelahiran saya ternyata masih terdapat orang-orang yang peduli kepada rakyat kecil dan ingin bangkit bersama-sama dengan cara memberikan pemahaman kepada mereka yang belum paham di bidang tersebut. Mengubah mindset para petani kakao untuk menuju kesuksesan sangat susah. Sebab petani di sekitar kita belum memahami betul proses yang bisa dilakukan untuk mendapat lebih banyak keuntungan.

“Masyarakat cenderung terlalu berpikir instan. Contohnya hanya menjemur biji kakao dari kebunnya. Padahal, jika menggunakan metode fermentasi jelas keuntungan mereka akan bisa membantu perekonomian petani kakao di Jembrana,” kata Pak Ketut.

Muda, Beda, dan Berkarya

Saat program seleksi beasiswa AJS pada Juli 2019 panitia pernah mensosialisasikan bahwa kakao Jembrana adalah kakao yang terbaik di Indonesia. Bahkan, dia diekspor ke negara-negara asing. Cerita panitia itu sungguh membuat saya heran. Saya teruna (remaja) Jembrana malah tidak pernah tahu kekayaan yang dimiliki di tanah tempat saya dibesarkan.

Melihat peluang di sekitar bisa menjadi modal efektif bagi generasi muda berbisnis dengan bahan lokal. Mereka juga harus berinovasi dan memikirkan kualitas produk yang akan diterima konsumen serta pantang menyerah untuk mau maju.

Maka dari itu kita harus bisa bersinergi membangkitkan kakao Jembrana sehingga bisa menciptakan kakao yang menjamin kesehatan pengonsumsinya. Sinergi itu mulai dari cara penjemuran, alat, dan proses untuk mencapai hasil berkualitas dan sehat. Salah satu caranya adalah melalui fermentasi karena dia bisa menciptakan aroma khas sehingga permintaan dari pasar pun meningkat. Harapannya, ekonomi petani kakao juga akan meningkat.

Selain menciptakan aroma khas, petani juga memikirkan kesehatan produk yang akan dibuat dengan menjaga kebersihan.

Hari Kedua

Di hari kedua, saya dan teman-teman berkesempatan mengunjungi agrowisata yang juga pembeli kakao produksi Koperasi KSS. Lokasi agrowisata ini di Desa Cau, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan.

Di sana kami disambut dengan senyuman oleh pegawai. Kami diajak keliling di agrowisata, melihat pohon kakao beserta buahnya. Pemandangan yang asri dan sejuk itu membuat kami menyempatkan untuk berselfie ria mengabadikan momen menyenangkan ini. Setelah capek berfotoria, saya dan teman-teman diajak untuk makan siang ditambah untuk berbincang-bincang dengan pemilik agrowisata tersebut. Saya menanyakan beberapa pertanyaan mengenai manfaat cokelat bagi kesehatan.

Info yang saya dapat dari Bapak Alit Artha Wiguna, pemilik Cau Chocolate, adalah cokelat juga bisa digunakan produk kecantikan seperti lulur danmasker untuk mempercantik tubuh. Bukan hanya itu, kulit kakao juga bisa digunakan untuk teh yang menyehatkan selama diolah dengan baik.

Selain kepada Pak Alit, saya juga menanyakan manfaat cokelat itu kepada narasumber lain yaitu Kakak Sri Auditya Sari dari Yayasan Kalimajari, Luh Komang Desita Anggraeni yang juga finalis AJS 2019, dan pegawai spa yang menggunakan cokelat untuk layanannya.

Pengolahan cokelat di pabrik Chau Chocolate. Foto Bagus Ryan.

Sehat dan Cantik

Menurut Kak Tya, mengonsumsi olahan kakao dari segi kesehatan ternyata bisa membuat kita senang dan itu sudah terbukti secara sains. Karena di dalam olahan kakao, khususnya cokelat murni, banyak mengandung senyawa kimia. Pertama, flavonols yang mempercepat metabolisme tubuh. Jadi tubuh lebih cepat memproses makanan yang masuk menjadi energi. Kita jadi lebih aktif sehari-harinya.

Kedua, theobroma yang merangsang otak untuk memproduksi hormon endorfine, serotonin dan dopamine. Ketiga hormon ini memegang kendali atas perasaan bahagia, tingkat komunikasi verbal dan kinetis. “Senyawa ini bisa membuat konsumennya bisa lebih aktif, ceria dan bahagia,” kata Kak Tya.

Menurut Kak Tya, kakao Jembrana adalah kakao spesial. Kenapa begitu? Bukan hanya karena Jembrana secara alami sudah dikaruniai nutrisi tanah yang luar biasa kaya, Tapi juga karena rantai nilai yang sarat akan kualitas, dan aspek pemberdayaan.

Kakao Lestari Jembrana bukan hanya bicara tentang kualitas produk cokelat, tetapi juga tentang kualitas petani kakaonya. Contohnya adalah proses fermentasi yang menjadi sebuah senjata besar mengantarkan Jembrana untuk diakui sebagai Cacao Of Excellence secara internasional.

Enak atau tidaknya cokelat bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang asa petani sebagai produsen utama produksi cokelat. Kualitas produk sudah jelas menjadi fokus program kakao lestari melalui fermentasi. Namun, pendampingan petani agar lebih berdaya dan mampu bersaing di pasar global adalah cita-cita yang harus diwujudkan. “Cita-cita itu dimulai dari Jembrana, kemudian Bali, dan semoga mimpi Kakao Lestari ini dapat diadaptasi oleh semua petani kakao di Indonesia,” kata Kak Tya.

Olahan kakao juga bisa digunakan produk kecantikan, lhoo, sahabat. Dengan menggunakan masker cokelat dua bulan sekali dan lulur cokelat selama dua minggu sekali. Selain itu cokelat juga bisa diolah sebagai lulur. Apa lagi narasumber menceritakan bahwa bahan yang digunakan sebagai lulur tersebut dipakai dari biji cokelat sisa buangan dari seleksi biji yang ada di Koperasi KSS.

Selain lulur cokelat juga bisa digunakan sebagai masker organik teman-teman. Lagi-lagi narasumber mengatakan bahwa masker cokelat yang digunakan 100 persen organik dan membuat sendiri dari bahan biji kakao yang tidak layak jual atau bahan contoh yang sudah selesai dipakai.

Narasumber memberikan testimoni setelah memakai produk kecantikan dari cokelat, wahh ternyata tidak mengecewakan.
Enak banget, kulit rasanya halus. Karena mengandung lemak nabati (chocolate butter), dan itu bisa mengecilkan pori-pori. Selain itu, antioksidan yang dikandung di dalam cokelat bisa menghambat pertumbuhan radikal bebas di dalam tubuh. Jadi kulit lebih sehat dan terlihat lebih muda.

Wah tidak terduga. Kandungan di dalam cokelat ternyata sangat ampuh untuk mempercantik diri.

Namun, manfaat itu bisa berkurang kalau ada hama masuk ke dalam kakao. Maka dari itu, pemeliharaan harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Dari masa pembibitan, perawatan sampai panen juga harus diperhatikan untuk menciptakan olahan kakao berkualitas. Jawaban sangat jelas dan padat, ya. Maka dari itu kesehatan pohon dan buah kakao sangat penting untuk kualitas produk dari buah kakao tersebut.

Ter.. Terr.. Ternyata lagi cokelat juga bisa digunakan untuk diet karena memiliki kandungan senyawa kimia flavanoit, khusus di buah kakao itu disebut flavanol yang mengakibatkan tubuh lebih giat bermetabolisme. Pencernaan menjadi lebih bagus dan lancar. Senyawa kedua adalah teobroma yang membuat otak memproduksi hormon serotonik, dopamin, dan endorvin. Kandungan itulah membuat orang yang memakan biji kakao dan cokelat menjadi lebih bahagia serta semangat dalam beraktivitas dan mengeluarkan keringat.

Dari energi berlimpah tersebut kita bisa beraktivitas dan mengeluarkan keringat dan aktif berkegiatan, kalau kita aktif berkegiatan otomatis lemak akan keluar lewat keringat yang kita keluarkan dan juga sangat berpengaruh terhadap metabolisme dikarenakan sebenarnya diet tersebut adalah sarana memperlancar metabolisme tubuh.

Bukan berarti saat diet kita hanya mengonsumsi cokelat berkualitas premium, tetapi juga harus diseimbangi dengan karbohidrat serta buah-buahan dan butuh olahraga teratur.

Hitam atau Putih?

Gengs… Kalo pilih warna, hitam atau putih? Wkwkwk. Maksudnya lebih sehat mana yaa.. dark chocolate atau white chocolate?

Begini, gengs. Dark chocolate bisa dianggap cokelat dalam bentuk paling murni. Dia mengandung persentase padatan kakao dan cocoa butter tertinggi. Bahan tambahan lainnya adalah bubuk biji kakao dan gula.

Milk chocolate mengandung padatan cokelat dan cocoa butter, tetapi dalam persentase yang jauh lebih kecil. Ini juga mengandung susu bubuk dan gula yang memberikan rasa lebih halus, lembut dan manis. Tetapi, orang mungkin bertanya apakah white chocolate itu cokelat asli? Sejujurnya, cokelat putih tidak mengandung padatan kakao sama sekali. Hanya mengandung sebagian kecil mentega kakao dengan gula dan susu.

Jadi intinya dari segi kesehatan dark chocolate mengandung banyak nutrisi yang baik buat tubuh dibandingkan dengan jenis cokelat lainnya.

Kita lanjut ke narasumber yang milenial abis yukk.. Bersama Desita, yang juga cucu petani kakao di Melaya sekaligus milenial yang menggemari cokelat.

Saya sangat penasaran dengan sosok satu ini. Dia sangat menarik perhatian saya ketika ia mengatakan suka sekali dengan produk cokelat. Saya pun menanyakan beberapa pertanyaan dan langsung saya jabarkan di sini ya..

Desita sangat suka mengkonsumsi cokelat dari umur lima tahun. Mungkin bukan Desita saja anak-anak yang dulu umurnya 5 tahun ke atas suka mengonsumsi cokelat.

Desita suka mengonsumsi cokelat karena harganya sangat terjangkau dan rasanya enak. Beberapa merk cokelat yang pernah ia konsumsi. Satu yang paling ia cintai adalah produk cokelat dari Cau di daerah Tabanan yang pernah ia kunjungi bersama teman-temannya saat mencari data di sana.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Desita sangat menyukai cokelat, tetapi dia tidak pernah sakit karena mengonsumsi cokelat. Hal itu karena Desita menjaga asupan yang masuk di dalam tubuhnya. Apalagi Desita sangat takut untuk mengonsumsinya saat pemilik Cau Chocolate bilang, cokelat yang dicampur dengan gula dan susu tersebut sangat tidak baik bila dikonsumsi oleh tubuh.

Namun, Desita tidak pantang mundur untuk menyukai cokelat. Hanya saja dia lebih selektif dalam membeli cokelat dengan cara melihat komposisinya terlebih dahulu. Menurut Desita cokelat membuat dirinya senang, menghilangkan stres dan membuat bahagia karena sensasi yang ia dapatkan dari memakan cokelat tersebut.

Desita memberikan cara ampuh untuk mengkonsumsi cokelat agar bermanfaat bagi tubuh. Caranya dengan cara lebih memperhitungkan kandungan cokelat yang kita makan karena semakin pahit cokelat semakin bagus kandungan kesehatan di dalamnya.

Sangat menarik wawancara di atas, ya, guys.

Saya juga ingin menyampaikan informasi tentang olahan cokelat yang bisa digunakan untuk kecantikan kulit. Saya mencari informasi tentang Spa Cokelat yang sangat baik untuk anak berusia 5-10 tahun dengan terapis cokelat di Jembrana.

Menurut terapis tersebut cokelat memiliki kandungan antioksidan khususnya dark chocolate yang bisa membantu menjaga kulit wajah dari serangan racun maupun kuman yang kerap hinggap pada kulit. Menggunakan bahan baku cokelat untuk kesehatan kulit anak berumur 5-10 tahun yang bisa menyehatkan kulit mereka.

Tempat spa anak ini sangat jarang ditemui. Mungkin hanya ada di kota besar. “Andaikan pemahaman menggunakan cokelat sebagai penyehatan kulit ini sudah banyak yang tahu tidak memungkiri banyak yang membuka jasa spa anak,” kata seorang terapis yang pernah mengikuti seminar dan pelatihan spa.

Sumber lainnya, menurut para ahli dari American Health Foundation, antioksidan utama dalam cokelat hitam mampu melindungi kulit tubuh hampir 100 kali lebih efektif dari pada vitamin C dan 25 kali lebih ampuh dari vitamin E. Selain itu cokelat juga bisa menutrisi dan mencerahkan kulit wajah dan tubuh.

Jadi, untuk teman-teman, cokelat juga bisa menjadi bahan baku kesehatan kulit anak. Bukan hanya remaja dan orang dewasa saja, tetapi anak juga bisa menggunakan jasa tersebut sebagai pencegahan penyakit kulit.

Wahh… Begitu besar kandungan buah kakao yang bisa kita manfaatkan. Ayo! Maju terus kakao Gumi Mekepung! [b]

The post Kakao Menyehatkan dari Gumi Mekepung appeared first on BaleBengong.

Koperasi KSS Pembangkit Kakao di Bumi Makepung

Penandatanganan MoU antara petani kakao dengan pembeli.

Oleh Ni Komang Bintang Kosiki

Petani Jembrana mampu membuktikan mereka bisa sejahtera bersama koperasi.

Masyarakat zaman sekarang lebih memilih bekerja di perusahaan atau toko dibandingkan menjadi petani. Sebagian besar masyarakat memandang seorang petani sebagai pekerjaan rendah dan berpenghasilan kecil.

Eitsssss.. Jangan salah dulu. Justru jasa petani itu sangat besar dan tidak semua petani itu miskin.

Contohnya saja I Wayan Rata, yang sering disebut Pak Rata, petani di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Beliau memiliki kebun kakao sendiri yang ia kelola bersama menantu dan cucunya. Dan, ternyata, cucunya yang bernama Desita juga mengikuti seleksi Anugrah Jurnalistik Siswa (AJS) yang sedang saya ikuti saat ini bersama 9 peserta lain.

Kami bersepuluh mengumpulkan informasi tentang Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) dan kakao Jembrana. Sepuluh peserta itu terdiri dari saya sendiri, I Putu Angga Ardi Wilyandika, Ni Made Gladis Desyani, Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum, Pajar Rizkian, I Made Dwi Mertha Mahendra, Dewa Ayu Komang Tri Aprilliani, Ni Putu Ayu Rischa Sasmita Yanti, Luh Komang Desita Anggreni, dan Ni Putu Wulan Prima Dewi. Kami berasal dari berbagai sekolah SMA/SMK di kabupaten Jembrana.

Kami dibagi menjadi lima kelompok dengan masing-masing tema berbeda. Saya sendiri mendapat tema manajemen koperasi bersama dengan Retno dari SMKN 4 Negara. Cerita yang membuat saya agak kesal sekaligus tertawa yaitu di mana saat saya dan Retno akan melakukan wawancara, kami membuat janji akan bertemu di Taman Pecangakan, Negara.

Tetapi, saya tidak menemukan Retno di manapun. Sudah keliling saya mencarinya. Saat saya telepon, HP Retno tidak aktif. Saya menelpon hingga belasan kali, tapi tetap tak dijawab. Saya pun mulai panik. Akhirnya saat saya mencoba menelpon Retno ke sekian kalinya. Syukurlah telepon saya dijawab. Ternyata, Retno dari tadi berada di patung kuda tepatnya di barat taman.

Saat saya dan Retno hendak wawancara ke Dinas Koperasi, ternyata beliau yang bersangkutan sedang ada acara di luar. Huhhhh… Sudah panik mencari Retno ditambah lagi kepala dinasnya tidak ada saat kami cari. Saya sedikit kesal. Kami pun menjadwal ulang untuk mewawancarai Dinas Koperasi, nasib saya memang tak beruntung kala itu. Saya malah ditinggal Retno. Padahal saya sudah menunggu Retno cukup lama di Taman Pecangakan. Pada jadwal selanjutnya akhirnya kami dapat mewawancarai Dinas Koperasi bersama-sama.

Lanjut lagi mengenai Pak Rata. Dengan luas kebun seluas 75 are di kebun Pak Rata terdapat 5 klon kakao antara lain panter, MCC 01, MCC 02, BLB, dan RTNJ 01. Menurut Pak Rata, budidaya tanaman kakao sama seperti mengurus anak, harus dengan kesabaran ekstra. Dalam mengurus pohonnya pun hal lain harus diperhatikan. Misalnya dalam pemangkasan, ada beberapa cabang harus dipangkas antara lain cabang mati, cabang air, cabang gantung, cabang selingkuh, cabang tumpuk, dan cabang balik.

Dulunya Pak Rata tidak tahu menahu mengenai kakao sampai akhirnya ia bertemu dan bekerja sama dengan Koperasi KSS. Koperasi ini bertujuan untuk menyejahterakan dan memberi harga pantas bagi para petani. Dengan demikian jasa petani mulai dipandang dan dihargai di masyarakat. Koperasi KSS menerapkan teknik fermentasi dalam pengolahannya sehingga menghasilkan biji kakao berkualitas baik.

Selain itu proses fermentasi ini juga menghasilkan aroma-aroma yang khas. Salah satunya aroma madu yang berhasil menarik hati perusahaan cokelat ternama di dunia maupun lokal. Bisa dibilang bahwa proses fermentasi ini menjadi kunci rasa dari coklat.

Sebuah Ide

Fermentasi merupakan teknik pengolahan makanan dari bahan pokok menjadi makanan siap saji dengan menggunakan mikroorganisme tertentu. Pengertian lain menyebutkan bahwa fermentasi merupakan proses produksi energi dalam sel pada suatu keadaan anaerobik (tanpa menggunakan oksigen) atau pembebasan energi tanpa adanya oksigen. Fermentasi dapat terjadi karena adanya aktivitas mikroba pada substrat organik.

Fermentasi dilakukan dengan meletakkan biji-biji kakao ke dalam kotak kayu yang sudah dilubangi bawahnya. Ingat, dalam melakukan fermentasi sebaiknya menggunakan biji kakao yang segar agar menghasilkan hasil terbaik dan mengurangi kegagalan saat proses fermentasi. Lubang pada bagian bawah kotak kayu memiliki fungsi sebagai jalan keluar masuknya oksigen, karbondioksida, dan air yang dihasilkan dari proses fermentasi.

Selanjutnya tumpukan biji kakao di dalam kotak bisa ditutup menggunakan karung goni, daun pisang, atau penutup lain. Selama fermentasi berlangsung, biji kakao diaduk atau dibalik setiap 1-2 hari sekali agar panas yang dihasilkan dari biji kakao fermentasi dapat merata.

Manfaat proses fermentasi ini antara lain memperkaya atau memperkuat rasa, aroma, dan komposisi makanan atau biji kakao. Dia juga bisa memperkaya nutrisi makanan, menghilangkan senyawa anti nutrien, dan meningkatkan nilai gizi. Makanan, minuman, atau olahan lain hasil fermentasi dapat meningkatkan kesehatan karena mengandung probiotik.

Dalam mengolah biji kakao pun tidak boleh asal-asalan. Contohnya dalam proses membelah buah kakao. Membelah buah kakao tidak boleh menggunakan pisau, parang, besi, atau benda tajam lain yang dapat melukai biji kakao. Disarankan menggunakan kayu karena tidak akan menyebabkan luka pada biji. Mengapa biji tidak boleh terluka? Karena dalam proses pengolahannya nanti, biji kakao yang terbelah atau luka akan ditumbuhi jamur di dalamnya. Tentu saja hal itu akan mempengaruhi proses produksi.

Biji kakao fermentasi hasil petani Jembrana ini telah mendapat tiga sertifikat yaitu UTZ, EU, dan Organic USDA. Hal ini yang memungkinkan untuk mengumpulkan 38 subak abian atau subak di lahan kering sehingga menjalin kerja sama dengan koperasi KSS. Sertifikat UTZ merupakan sebuah standar yang dikembangkan organisasi dengan kantor pusat di Belanda. Sertifikat EU yaitu sertifikat yang bisa diperoleh apabila produk yang dihasilkan berkualitas baik.

Adapun sertifikat Organic USDA diperoleh melalui proses berkelanjutan yang memerlukan dedikasi. Standar program organik internasional ini menyatakan bahwa tanaman organik harus ditanam di lahan bebas pestisida, herbisida, pupuk sintetis, dan bahan kimia lain yang penggunaannya tidak diperkenankan selama tiga tahun pertumbuhan.

Semua proses itu bisa dilakukan Koperasi KSS berkat dukungan Yayasan Kalimajari, organisasi di Denpasar yang mendampingi petani-petani kecil. Merekalah yang membantu KSS bisa mendapatkan tiga sertifikat tersebut.

Ketika berbicara soal koperasi, proses penguatan tidak hanya pada petani, tetapi juga pada tingkat koperasi. Bagusnya lagi, pemegang sertifikat di Koperasi KSS adalah koperasi itu sendiri, bukan pembeli. Lain halnya dengan di Sulawesi pemegang sertifikatnya yaitu pembeli. Jadi seluruh biaya dan segala macam akan ditanggung oleh pembeli. Namun, koperasi dan petani tidak boleh menjual biji ke manapun. Artinya koperasi dan petaninya tidak independen.

Lain halnya dengan koperasi KSS Jembrana yang sertifikatnya dipegang langsung Koperasi KSS. Jadi koperasi punya posisi tawar kuat serta bisa menjual biji kakaonya ke mana saja. Dengan catatan proses komunikasinya baik dan koperasi tidak selalu menuntut harga yang tinggi tetapi harga yang segnifikan yaitu harga yang pantas untuk perjuangan para petani. Oleh karena itu mengapa koperasi menjadi sesuatu yang sangat penting.

Pengurus koperasi KSS terdiri dari ketua I Ketut wiadnyana, sekertaris I Wayan Diana, sekretaris I Nengah Kardika, serta pengurus-pengurus lain yang membidangi bidangnya masing-masing.

Kepercayaan yang Hilang

Sebelum terkenal seperti sekarang, Koperasi KSS dulunya banyak menemukan kendala. Contohnya, bagaimana mengembalikan kepercayaan petani kepada koperasi KSS? Mengapa petani tidak percaya pada koperasi KSS ?

Koperasi KSS ini pertama kali beroperasi pada tahun 2006. Pada saat itu pengurus koperasi tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya. Dari situlah masyarakat mulai tak mempercayai koperasi tersebut sehingga ditutup. Akhirnya beroperasi kembali pada tahun 2011 dengan pengurus koperasi dan nama baru, tetapi dengan tempat atau bangunan sama.

Dari situlah tantangan terbesar dimulai. Masyarakat masih tidak percaya pada koperasi tersebut. Butuh kesabaran besar dan proses lumayan panjang untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terutama para petani. Salah satu cara koperasi KSS meyakinkan masyarakat dan petani yaitu dengan cara mensosialisasikan kepada mereka tentang koperasi baru. Pada akhirnya para petani mulai percaya kembali pada koperasi KSS.

Dalam proses ini koperasi KSS juga dibantu Yayasan Kalimajari untuk bangkit dari keterpurukan dan membimbing koperasi KSS agar lebih mandiri ke depanya. Saat ini koperasi KSS memiliki sekitar 609 petani dan juga terdiri dari 38 subak Abian.

Direktur Yayasan Kalimajari I Gusti Agung Ayu Widiastuti, yang kerap disapa Bu Agung, mempunyai peran penting dalam proses membangkitkan koperasi KSS menjadi lebih baik. Mengapa Bu Agung tertarik bekerja sama dengan koperasi KSS? Bu Agung mengaku tertarik menjalin kerja sama dengan KSS karena koperasi inilah satu-satunya koperasi kakao di Bali yang konsentrasinya pada komunitas.

“Koperasi itu harus ada sebagai wadah untuk menyatukan petani. Kalian tahu sendiri, dulunya petani di Jembrana hampir semua bekerja secara individual. Tidak ada yang mau berkolaborasi,” tutur Bu Agung saat kami wawancarai.

Menurut Bu Agung, penguatan tidak hanya dilakukan pada budidaya, tetapi juga di tingkat kelembagaan. Maka dari itulah harus ada sebuah lembaga yang kuat dan solid. “Ketika sebuah bisnis harus berjalan, pilihannya cuma dua, apakah dalam bentuk koperasi atau private sector. Kalau dalam bentuk private sector, seperti PT atau CV, itu gak mungkin karena itu harus ada penyertaan modal. Modalnya cukup gede dan petani tidak punya itu. Akhirnya kita pilih bahwa koperasilah satu-satunya keputusan yang paling tepat ketika berbicara wadah untuk komunitas,” lanjut Bu Agung kembali.

Dahulunya koperasi KSS seperti tidak memiliki jiwa. Ada beberapa tantangan terbesar koperasi KSS saat baru beroperasi. Misalnya bagaimana cara mengembalikan kepercayaan masyarakat dan petani pada koperasi KSS. Bagaimana mengajak Subak Abian dan petani mau kembali mempercayai KSS dan mulai memikirkan fermentasi. Tantangan lainnya, mengubah pola pikir petani dari yang tidak ingin berubah menjadi ingin berubah serta meyakinkan petani bahwa biji fermentasi itu ada pasarnya.

Bu Agung mengaku terinspirasi dari semangat para petani yang ingin maju dan ingin bangkit selain juga karena tanggung jawab moral. “Ada harapan bahwa nantinya petani menjadikan kakao sebagai tabungan masa depan. Problem petani hanya satu, bagaimana mereka dihargai dengan sesuatu yang pantas dalam bentuk harga. Dan jawabannya hanya satu yaitu lewat fermentasi,” kata Bu Agung.

Dia melanjutkan melalui fermentasi dengan selisih harga yang cukup tinggi antara kakao fermentasi dengan yang non-fermentasi, petani juga bisa mengembalikan hak kebun yang telah mereka ambil. Artinya jangan hanya mengambil, tetapi juga mengembalikan apa yang sudah kita ambil. Kembalikan sekian persen dalam bentuk pupuk atau apa saja yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas kebun.

Kesulitan dan Tantangan

Saat kami ingin mewawancarai Pak Ketut Wiadnyana selaku ketua koperasi KSS, ternyata Pak Ketut sedang ada upacara agama, jadi kami memutuskan untuk mewawancarai Wayan Diana, yang akrab dipanggil Kak Andi. Kak Andi merupakan salah satu anggota pengurus KSS yang senang berbisnis. Die mengenal Koperasi KSS setelah diperkenalkan oleh orangtuanya. Sejak Maret 2018 dia menjadi anggota. Karena aktif dalam organisasi, Kak Andi pun diangkat menjadi pengurus koperasi.

Sumber modal Koperasi KSS awalnya sebanyak Rp 4.970.300.00. Kemudian ada modalnya dari bank BRI sebanyak Rp 500 juta dan dari bank BPD Rp 260 juta. Ada pula bantuan dari Dinas Koperasi Rp 300 juta. Menurut Kepala Bidang Koperasi I Puti Eka Artha, pemerintah memberikan talangan pada tahun 2017 dan 2018 masing-masing sebanyak Rp 200 juta dan Rp 300 juta pada tahun ini. Semua sumber modal KSS merupakan pinjaman yang harus di ganti suatu saat.

Putu Eka Artha mengatakan pemerintah akan terus melakukan pembinaan dan monitoring. Pak Putu berharap dari segi kelembagaan, nantinya koperasi KSS ini bisa lebih profesional. Dari segi pengurus, ia berharap nantinya pengurus Koperasi KSS bisa lebih baik.

Setiap minimal setahun sekali koperasi KSS bersama para petani dan perwakilan di masing-masing subak Abian akan melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Rapat ini membahas perkembangan, pemasukan, pengeluaran, keuntungan serta membahas segala sesuatu yang menyangkut koperasi KSS dan kakao.

Ada tiga prinsip operasi KSS yaitu transparansi, keberlanjutan, dan tracebility atau keterlacakan. Prinsip transparansi merupakan laporan seperti contohnya mengadakan RAT. Prinsip keberlanjutan mengenai bagaimana keterlibatan anak muda dalam perkembangan kakao atau pertanian. Prinsip tracebility membahas tentang data.

Buyer KSS saat ini berjumlah 20 terdiri dari lokal dan ekspor. Salah satunya perusahaan cokelat ternama di dunia, Valrhona dari Prancis. Cokelat Valrhona ini merupakan coklat terbaik dunia. Kakao yang dipilih dalam pengolahannya pun tidak sembarangan.

Dalam menjalin kerja sama dengan pembeli, koperasi KSS tidak sembarang pilih. Koperasi KSS mempunyai kriteria pembeli yang harus dipenuhi. Banyak pembeli yang ditolak karena dianggap tidak sportif. Kriteria lainnya, pembeli juga harus peduli dengan nasib petani.

Dalam pemasaran, jasa Bu Agung cukup besar. Dialah yang berusaha mencari pembeli agar mau bekerja sama hingga akhirnya berita tentang kakao fermentasi Jembrana ini terdengar sampai di perusahaan cokelat ternama dunia yaitu Valrhona. Karena kakao fermentasi Jembrana ini sudah menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan coklat terbaik dunia, maka tidak heran perusahaan cokelat ekspor maupun lokal yang lain mulai melirik kakao fermentasi Jembrana.

Salah satu pembeli lokal KSS yang kami wawancarai adalah I Wayan Alit Arthawiguna. Bapak yang sering disapa dengan Pak Alit ini merupakan pemilik perusahaan cokelat di daerah Tabanan. Dulu, perusahaannya bernama PT Agri Wisata Jaya Kencana lalu berganti nama menjadi PT Cau Chocolate pada tahun 2017.

Menurut saya, Pak Alit ini dapat memanfaatkan lingkungan dengan baik. Contohnya, Pak Alit tidak hanya melihat pada aspek produksi, tetapi juga melihat potensi lain dari kebun dan pabriknya. Dia pun mengembangkan agrowisata berbasis kakao yaitu Chocolate Tour dan Subak Tour. Selain itu Pak Alit juga melakukan penelitian atau riset kecil terhadap kulit kakao. Selain sebagai pakan ternak, ternyata kulit kakao bisa juga diseduh layaknya teh. Kulit biji kakao banyak digunakan untuk pupuk dan ternyata bisa juga digunakan sebagai bahan scrub.

Menakjubkan bukan?

Kini perusahaan coklat milik Pak Alit diurus oleh Kadek Surya Prasetya Wiguna, salah satu anaknya. Pak Alit menuturkan awal mula kerja samanya dengan Koperasi KSS. Saat bertemu dengan pihak KSS awalnya mereka berbincang mengenai kakao kemudian terjalinlah kerja sama antara KSS dengan PT Cau Chocolate. Menurut Pak Alit, Cau Chocolate memiliki misi untuk produksi (temoat menghasilkan cokelat), edukasi (tempat belajar tentang kakao dan cokelat), serta destinasi (sebagai tempat tujuanwisata). Rencananya juga akan dibuka koperasi kakao di Tabanan bernama Masako.

Kendali Mutu

Mengecek kualitas dan mengecek semua alur di koperasi, mulai dari masuknya biji hingga keluar, merupakan tugas seorang petugas kendali mutu (quality control). Posisi ini ditempati oleh I Puti Dian Pratama yang akrab dipanggil Kak Pepeng. Kak Pepeng ini sudah bergabung di KSS mulai dari Agustus 2017. Saat bergabung di KSS dia tidak tahu menahu mengenai kakao.

Menurut penuturan Kak Pepeng, syarat biji kakao yang bisa masuk koperasi KSS yaitu biji yang sudah melalui proses fermentasi. Jika tidak difermentasi, Koperasi KSS tidak akan menerima biji tersebut. Di Koperasi KSS biji kakao yang dijemur sembarangan dan tanpa proses fermentasi biasanya disebut dengan biji preman.

Ada dua sistem dalam pengambilan atau penerimaan biji. Pertama sistem pengambilan biji basah. Dalam sistem ini biasanya dilihat dari bijinya apakah bijinya masih fresh (segar) ataukah sudah lebih dari dua hari. Biasanya akan terlihat dari warna. Biji yang tidak fresh biasanya akan berwarna cokelat sedangkan biji yang baik akan berwarna putih.

Biasanya ada juga biji yang terserang penyakit penggerek buah kakao (PBK). Ciri-ciri bijinya dempet (double). Jika bagus, biji tersebut akan berbentuk butiran. Untuk harga plafon (harga maksimal) dari biji basah ini biasanya diambil Rp 12.000. Jika organik sedang jika biji RA (biji yang tercampur kimia) dihargai dengan harga Rp 11.000.

Kedua, sistem pengambilan biji biji kering yang sudah difermentasi. Biji fermentasi yang berhasil akan berwarna cokelat dan di dalamnya berongga. Sedangkan biji yang tidak difermentasi akan berwarna ungu. Untuk masalah harga sendiri biji kering fermentasi yang organik biasanya dihargai dengan harga Rp 38.000 sedangkan biji fermentasi yang RA dihargai dengan harga Rp 36.000. Keputusan tentang harga tidak hanya ada di tangan pengurus koperasi, tetapi juga anggota. Biasanya akan dibahas bersama dengan anggota, baik petani maupun subak abian.

Mengapa harga biji organik lebih tinggi dibandingkan dengan harga biji RA atau bahan kimia? Karena biji organik lebih sehat. Ini dikarenakan dalam budidayanya menggunakan bahan-bahan organik yang sudah pasti bebas dari bahan kimia. Adapun harga biji RA lebih rendah dikarenakan dalam budidayanya menggunakan bahan kimia sehingga dinilai kurang sehat.

Pengecekan biji organik sangatlah ketat hingga laboratorium. Bahkan dari pupuknya pun harus organik sehingga biasanya petani membeli pupuk di SIMANTRI. Untuk memastikan biji kakao tersebut organik sampai-sampai tanah, pupuk buah dan daunya diambil untuk diteliti. Untuk biji yang kecil, kempes, luka, terkena penyakit dan lain sebagainya tidak akan diterima di koperasi KSS.

“Kita sudah nggak menerima biji yang non fermentasi,” tutur Kak Pepeng saat berbincang dengan kami. Jika biji kakao fresh maka keberhasilan dalam fermentasi akan semakin besar.

Dalam penerimaan biji kakao dari Subak Abian yang pertama dilakukan adalah mengecek kadar airnya. Jika kadar airnya tinggi kemungkinan besar biji kakao tersebut akan ditumbuhi jamur. Biasanya para petani dari Subak Abian akan memasok biji kakao mereka karena biaya transportasi. Jika mereka sering mengirim hasil panen, biaya transportasi juga akan sering dikeluarkan. Maka dari itu petani menstok biji kakao mereka.

Namun, biasanya ada saja petani yang tidak menjemur biji kakaonya kembali sehingga adar air pada biji naik sedikit demi sedikit. Apalagi jika dalam penyimpannya tidak menggunakan alas. Hal ini akan membuat kadar air meningkat dan hal itu menyebabkan tumbuhnya jamur pada biji. Para pembeli biasanya akan komplain jika terdapat jamur di dalam biji kakao.

Sebuah Proses

Ada beberapa tahap atau proses pengecekan biji kakao hingga dikirim kepada pembeli. Pertama saat barang masuk. Barang terlebih dahulu dicek berat dan kadar airnya, kemudian biji kakao yang sudah dicek diberi label asal biji pada setiap karung. Apabila ada indikasi jamur dalam atau terkena serangan serangga, maka barang tersebut akan dikembalikan langsung dan diberi pemahaman kembali pada petani atau Subak Abian yang menjual biji tersebut.

Kedua merupakan proses sortasi. Sortasi ini bertujuan untuk menyamakan kualitas dan menghilangkan biji-biji yang rusak, pipih, terlalu kecil, dempet (menyatu), dan terbebas dari benda asing dalam artian non biji kakao. Isi label kembali asal biji dan tanggal barang masuk agar mempermudah dalam pengecekan dan penelusuran barang. Jika sudah tersortasi akan dimasukan ke gudang.

Ketiga yaitu proses pengiriman. Setiap karung yang akan di kirim akan di cek kembali kadar airnya, maksimal 6,5 persen. Pastikan asal biji jelas, barangnya dari Subak Abian mana agar mudah menelusuri. Kemudian timbang berat per karung. Tahap terakhir yaitu packing kembali dengan karung baru dan dijarit (dijahit) rapi serta setiap karungnya diberi label tanggal pengemasan dan nomer karung.

Melalui semua proses tersebut, anggota Koperasi KSS bisa menjamin kualitas kakaonya dan mendapatkan kepercayaan dari pembeli. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan bagian dari Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

The post Koperasi KSS Pembangkit Kakao di Bumi Makepung appeared first on BaleBengong.

Satu Cara dan Selembar Kertas Membawa Sejuta Dolar

Ketua Koperasi KSS menunjukkan cokelat olahan anggota koperasi.

Oleh Luh Komang Desita Anggraeni

Suatu ketika tiba-tiba saya dipanggil ibu guru ke depan kelas. Saya kira mau diberikan uang. Eeeehh, ternyata saya disuruh untuk mengikuti suatau kegiatan bersama teman satu kelompok ekstrakulikuler jurnalistik di sekolah.

Awalnya saya merasa kurang yakin untuk mengikuti kegiatan itu. Karena, dari judulnya saja, kegiatan sudah kelihatan bergengsi sekali. Nama kegiatan tersebut Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) yang diadakan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) bersama Yayasan Kalimajari.

Setelah saya mencari tahu, ternyata benar bukan saya yang awalnya dipilih untuk mengikuti kegiatan tersebut tetapi teman lain. Karena dia sakit, akhirnya sayalah yang ditunjuk untuk menggantikanya. Karena alasan tersebut, saya pun mau dan mengiyakannya.

Terlalu Bersemangat

Awalnya saya diberitahukan untuk datang pada 2 Juni 2019 di SMKN 2 Negara. Datanglah saya dan teman ke sana. Kami berangkat pukul 06.00 WITA. Sesampainya di sana kami tidak melihat adanya kehidupan. Hanya ada keheningan dan kesunyian. Kami bingung bagaikan anak kehilangan induknya. Entah harus berbuat apa kami di sana.

Setelah menanti hampir tiga jam, kami memutuskan untuk menelepon ibu guru. Ternyata kami salah tanggal. “Ya ampuuuun…,” kami berteriak. Tanggal yang seharusnya itu 2 Juli 2019. Guru kami ternyata salah melihat jadwal. Maklum akibat faktor umur. Saking kesalnya kami memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing-masing. Tapi, ada enaknya juga dari kejadian ini, kami dapat bensin gratis.

Akhirnya pada tanggal sesuai jadwal, kami datang kembali ke SMKN 2 Negara. Tepat pukul 06.00 WITA kami sampai di lokasi. Kami datang sepagi itu karena saking semangatnya untuk mengikuti kegiatan ini. Sembari menunggu peserta lainnya, kami memutuskan untuk berkeliling sekolah.

Di sana kami bertemu seorang ibu yang sedang membersihkan salah satu ruangan. Kami bertanya kepada ibu itu. “Permisi, Ibu.. Mau tanya. Benar di sini tempat seleksi beasiswa AJS?” tanya Naning teman saya.

Si ibu menjawab, “Iya benar, Dik. Tunggu dulu ya ruangannya masih dibersihkan,” sahut ibu itu dengan tergesa-gesa.

Waktu berlalu. Tidak terasa kami sudah menunggu cukup lama di depan ruangan itu. Tapi, ternyata ruangan tersebut digunakan untuk pendaftaran siswa baru. Ibu itu mengira kami mau mendaftar di SMKN 2 Negara. Kami bertanya pada salah satu OSIS di sana. Dia menjawab sebenarnya ruangan seleksinya di dalam. Pas masuk kami melihat presentasi yang sedang ditanyangkan, kebetulan di presentasi itu ada foto kakek saya, Wayan Rata. Dari sanalah saya dikenal dengan, “Cucunya kakek Rata”.

Kami pun mengikuti kegiatan seleksi tersebut dengan baik. Bersaing dengan teman-teman dari sekolah lain jugayang memiliki bakat luar biasa. Dalam kegiatan itu kami menuliskan tentang dua tema yang telah diberikan panitia AJS.

Setelah menunggu cukup lama, sebulan setelah seleksi lomba dilakukan saya menerima telpon dari Auditya Sari atau Kakak Tya, selaku panitia AJS mengabarkan bahwa saya lolos ke tahap selanjutnya, 10 besar.

Kami para finalis diundang kembali mengikuti tiga hari penelitian kakao lestari Jembrana. Dari sepuluh besar kemudian diseleksi kembali mencari tiga besar sebagai pemenang untuk menerima beasiswa AJS.

Kurang Peka

Dari AJS inilah saya tahu hebatnya kakao Jembrana padahal saya sendiri berdampingan langsung dengan kakao. Kebetulan juga kakek saya seorang petani kakao asli Jembrana. Baru saya berpikir kenapa tidak dari dulu belajar tentang kakao. Padahal hasil bertani kakao lumayan menjanjikan, dengan proses fermentasi tentu saja.

Selama ini saya hanya membantu kakek memupuk kakao serta mengangkut air sebagai pelarut obat hama kakao serta memanen buah kakao. Itupun saya lakukan saat ada waktu luang.

Sebenarnya bukannya saya tidak berminat menangani kakao, tapi karena saking sibuknya harus sekolah full day sehingga tidak sempat untuk ikut membudidayakan kakao Jembrana. Saya hanya bisa membantu kegiatan-kegiatan ringan. Saya juga masih belum mengerti dan paham tentang cara membudidayakan kakao.

Berharga

Pada awal Agustus 2019, kami dikumpulkan kembali untuk mengikuti tiga hari pelatihan. Kali ini untuk lebih mendalami kakao Jembrana sekaligus menyeleksi finalis yang akan mendapatkan tiga terbaik dari yang terbaik.

Selama tiga hari pelatihan saya banyak sekali mendapatkan ilmu terutama tentang mengolah dari kakao sampai menjadi coklat siap makan (bean to bar). Selama pelatihan juga kami bisa lebih mengenal anggota peserta lain dan membangun tali persahabatan. Tawa riang kami rasakan semua selama pelatihan berlangsung dan lebih mengenal satu sama lain.

Pada hari pertama pelatihan kami diajarkan tentang proses fermentasi, penghasilan petani kakao dalam sebulan, budidaya kakao Jembrana dan banyak hal lain lagi.

Di hari kedua kami diajak berkunjung ke Cau Chocolate di Desa Cau, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Di sana kami belajar proses pengolahan kakao menjadi cokelat siap makan di mana kakao yang digunakan murni kakao Jembrana dan bersertifikat organik.

Tibalah saatnya kami para semifinalis untuk menulis apa yang didapat dari pelatihan tiga hari tersebut. Temanya sesuai yang kami dapatkan masing-masing. Tulisan itu digunakan sebagai bahan seleksi juga di hari ketiga.

Banyak hal kami dapatkan selama pelatihan ini. Misalnya informasi bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi yang memiliki harga jual tinggi. Hal ini merupakan hasil kerja keras Koperasi Kerta Samaya Samaniya (KS) bekerja sama dengan Kalimajari. Ini membuktikan bahwa kakao Jembrana mampu menembus pasar Internasional.

Bahkan Koperasi KSS memiliki tiga sertifikat yaitu UTZ, EU, dan Organic USDA. Ketiga sertifikat organik ini berguna untuk memenuhi kebutuhan kakao organik internasional, terutama Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini membuktikan bahwa walaupun bertempat di daerah terpencil, Jembrana memiliki sebuah komoditas yang menghasilkan banyak dolar dan memiliki nilai gizi untuk kesehatan. Kakao Jembrana telah membuktikan bahwa kami bisa dan mampu untuk melakukannya.

Saya sebagai generasi penerus bangsa yang tinggal di Jembrana bangga tinggal di sini. Saya ingin mengembangkan lebih banyak lagi perusahaan cokelat terutama di Jembrana dan lebih memperkenalkan lebih luas tentang betapa hebatnya kakao Jembrana.

Satu Kata Kunci

Agar kakao Jembrana bisa menembus pasar internasional ada satu kata kunci yang bisa kita gunakan yaitu “FERMENTASI”. Dari proses inilah kakao Jembrana sudah terkenal sampai ke dunia Internasional dan patut di perhitungkan untuk nilai jualnnya. Banyak pembeli dari luar negeri berdatangan untuk melihat, menjalin kerja sama, atau membeli kakao Jembrana. Mungkin mereka penasaran bagaimana kakao Jembrana bisa sehebat itu.

Para pembeli tersebut datang dari berbagai negara di seluruh dunia. Ada beberapa pembeli yang bekerja sama dengan Koperasi KSS, seperti Valrhona dari Perancis, Ubud Raw dari Gianyar, Cracacoa, Cau Cocolate dari Tabanan, dan Pod dari Badung.

Banyaknya pembeli kakao Jembrana membuktikan bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi dan mutu terjamin. Hal ini karena Koperasi KSS mampu memenuhi syarat-syarat yang diberikan pembeli sehingga pembeli pun percaya dan berani membeli biji kakao Jembrana. Sertifikat juga sebagai kunci utama untuk menarik pembeli dan sebagai pembuktian bahwa kakao Jembrana hebat setelah difermentasi.

Fermentasi. Apa sih fermentasi? Yang saya tahu, fermentasi adalah pematangan biji kakao supaya bagian dalam biji kakao ketika dijemur akan kering sempurna antara kulit dan daging dalam biji kakao.

Tujuan fermentasi adalah meningkatkan kualitas biji kakao, membangkitkan aroma khas biji kakao, serta mengurangi rasa pahit biji kakao. Dengan demikian saat pengolahan menjadi cokelat rasa pahit yang timbul tidak terlalau kuat. Sebab, rasa pahit biji kakao yang belum difermentasi akan membuat yang memakannya merasa mual. Tujuan lain fermentasi adalah mengurangi kadar air dari kakao tersebut.

Proses fermentasi dimulai dari biji basah setelah panen dilakukan. Fermentasi dilakukan selama 6-7 hari, tergantung ukuran biji kakao itu. Jika biji kakao berukuran sedang, proses fermentasi dilakukan 6 hari dengan pembalikan biji kakao 2 kali selama 2 hari dihitung setelah biji kakao sudah masuk ke kotak fermentasi. Sedangkan untuk biji kakao berukuran besar proses pembalikannya dilakukan 3 kali selama 2 hari dan bertambah waktu fermentasi menjadi 7 hari (1 minggu).

Proses pembalikan juga berbeda-beda. Jika ukuran kotak fermentasi itu 40 cm, pengadukan dilakukan sedalam 20 cm dari bibir kotak fermentasi. Kemudian yang mengalami proses pengadukan paling atas dipindahkan ke paling bawah. Kegiatan ini dilakukan agar biji kakao mengalami proses fermentasi secara lancar dan merata. Untuk membantu penghangatan dan membangkitkan aroma, setelah kotak fermentasi penuh terisi biji kakao ditambahkan daun pisang di kotak paling atas.

Saat melakukan fermentasi, pastikan kotoran dalam lubang-lubang di kotak dibersihkan terlebih dahulu. Tujuannya agar pada saat penyusutan atau air yang keluar dari biji kakao dapat mengalir lancar dan tidak tersendat di dalam kotak. Jika tidak dibersihkan dia bisa mengakibatkan air yang keluar akan tertampung di dalam kotak fermentasi. Proses fermentasi akan gagal dan dapat mempengaruhi kualitas dari biji kakao itu sendiri.

Pembersihan kotoran dari lubang kotak fermentasi sebaiknya tidak menggunakan deterjen ataupun pewangi lain. Cukup bersihkan dengan air. Membersihkan menggunakan pewangi akan mengakibatkan rasa, aroma, dan kualitas kakao tersebut menurun dan jamur akan berkembang biak nanti. Alat yang digunakan pun tidak sembarangan. Cukup dengan serabut kelapa saja kita sudah dapat membersihkan kotoran yang menempel pada kotak fermentasi.

Sesudah melakukan proses fermentasi biji kakaonya pasti akan kotor. Betul tidak? Pastinya! Pasti diri setiap orang menginginkan agar semua terlihat bersih. Seperti saya contohnya jika melihat biji kakao kotor, ada keinginan dalam hati saya untuk mencucinya supaya terlihat bersih.

Tapiiii, Kakak Pepeng, salah satu pegawai Koperasi KSS yang ahli fermentasi, menyarankan agar biji kakao yang kotor tidak usah dicuci. Hal ini karena akan mengakibatkan aroma biji kako tersebut menghilang dan tidak ada aroma yang timbul. Akibat lainnya, biji kakao akan rentan terkena jamur dalam yang akan mengakibatkan harga jual kakao menurun.

Malaikat Membantu

Para petani kakao Jembrana terutama di sekitar Melaya yang melakukan proses fermentasi biasanya menjual biji kakao mereka di Koperasi KSS. Kantor Koperasi KSS di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya. Lokasinya strategis dan mudah untuk dicari karena berada di pinggir jalan raya Gilimanuk – Denpasar, tepatnya di depan gedung olahraga Yowana Mandala.

Adanya Koperasi KSS membantu petani kakao dengan cara membeli kakao mereka dan langsung memasarakan kepada para pembeli. Sebelum ada Koperasi KSS, para petani kakao Jembrana membawa biji kakao mereka ke pedagang biasa. Itu pun tanpa proses fermentasi. Harga yang diberikan pun sangat rendah, berkisar Rp 25.000 sampai Rp 26.000 per kilogram sesuai dengan daerah masing-masing.

Para petani kakao kurang puas dengan hasil yang didapat karena biji kakao yang mereka jual tidak dapat menutupi biaya budidaya. Para petani mengeluh karena murahnya harga yang diberikan. Itu pun belum dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena itulah para petani kakao mau membawa hasil panen mereka ke Koperasi KSS karena koperasi mampu menjamin harga dan memenuhi keinginan para petani. Koperasi juga bisa memotivasi dan mengajak para petani melakukan proses fermentasi untuk meningkatan nilai jual biji kako.

Terkait harga yang diberikan pada anggota Koperasi KSS, biasanya para anggota akan rapat terlebih dahulu untuk menentukan harga. Dalam rapat, para anggota akan menyampaikan pendapat sampai mendapat kesepakatan bersama. Kesepakatan hasil rapat akan dijadikan sebagai harga tetap dan menjadi harga beli tertinggi (plafon) dalam membeli biji kakao dari petani.

Pada tahun 2019 harga jual kakao kering dan difermentasi yang sudah tersertifikasi UTZ akan dihargai Rp 36.000 per kg. Kakao organik kering dan sudah difermentasi seharga Rp 38.000 per kg sedangkan basah organik dibeli Rp 12.000 per kg. Adapun kakao basah non-organik Rp 11.000 per kg. Harga kakao dapat diturunkan sesuai kualitas.

Salah satu petani, I Wayan Rata, kurang setuju dengan harga yang diberikan Koperasi KSS karena proses fermentasi dan perawatan menghabiskan cukup banyak biaya. Harga tersebut belum dapat menyeimbangkan antara pengeluaran perawatan si kakao dan pemasukannya.

Koperasi KSS membantu para petani untuk meningkatkan dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Membantu perekonomian petani yang hanya bergantung dari hasil kebun mereka. Koperasi mau memberikan harga tinggi untuk biji kako berkualitas dan menggunakan pupuk organik. Petani yang mau melakukan fermentasi dan saran-saran dari Koperasi KSS pasti akan mendapatkan harga yang layak.

Koperasi KSS bekerja sama dengan Yayasan Kalimajari memberi inovasi untuk melakukan suatu proses yaitu fermentasi. Awalnya petani tidak mau melakukan fermentasi karena kata petani hanya berpikir instan. Tidak mudah bagi Koperasi KSS untuk mengajak para petani agar mau melakukan fermentasi, tetapi dengan seiringnya waktu para petani mau melakukan fermentasi.

Para petani yang mau melakukan proses fermentasi pun sekarang perekenomian mereka agak meningkat dan terbantu dengan adanya Koperasi KSS.

Sejuta Harapan

Adalah selembar kertas yang mampu membawa para pembeli luar negeri berdatangan untuk membeli kakao Jembrana. Kertas itu adalah sebuah gambaran dan pembuktian bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi.

Seperti kata I Gusti Agung Widiastuti, Direktur Kalimajari, banyak sekali biji kakao di Indonesia dan seluruh dunia, akan tetapi orang tidak akan peduli kakaonya ini dari mana. Mereka hanya melihat kualitas dari biji kakao tersebut. Para pembeli pun bertanya-tanya, “Apa yang Anda miliki sehingga percaya diri sekali?”. Sertifikasi inilah yang membuktikan dan meyakinkan pembeli bahwa kakao Jembrana ini memiliki kualitas tinggi.

Lembaran kertas itu adalah sertifikat UTZ, Organic USDA, dan Organic EU. Di balik kertas ini terlihat bagaimana perjalanan dan proses dari biji kakao sekaligus membuktikan kepada pembeli dari mana asalnya dan bagaimana pengelolaan dari kebun hingga koperasi. Sertifikasi ini juga membuktikan bahwa makanan yang dimakan kakao ini memang dari bahan organik tanpa tercampur dengan bahan kimia (pestisida). Sertifikat seolah berbicara kepada orang sehingga orang baru itu tertarik. Dari sertifikasi inilah pembeli dapat memilih kriteria seperti apa yang mereka inginkan. Dengan sertifikat ini pembeli bisa menilai bahwa kakao Koperasi KSS sudah lolos kriteria yang mereka inginkan.

Hebatnya lagi, pemilik sertifikat ini adalah koperasi itu sendiri. Bukan di pembeli, seperti halnya terjadi di Sulawesi. Ini menunjukkan perbedaannya. Kalau sertifikasi berada di tangan pembeli, maka petani bekerja hanya untuk kepentingan mereka, sedangkan jika di tangan koperasi, maka koperasilah yang menyejahterakan para petani kakao.

Meskipun demikian, adanya sertifikasi juga menambah tanggung jawab Koperasi KSS untuk bisa mempertahankannya. Ini bukan perkara mudah. Di dalam sertifikasi terdapat informasi bagaimana caranya agar dapat melanjutkan sertifikasi tersebut, baik dari sisi kualitas ataupun tanggung jawab terhadap seluruh mekanisme sertifikat. Tanggung jawab tersebut ada di level koperasi maupun petani.

Untuk tetap mempertahankan sertifikasi itu, Koperasi harus bisa membuktikan bahwa mereka tetap mampu memenuhi kriteria yang diminta dari waktu ke waktu. Pihak pembeli akan membuktikan sendiri apakah kakao Jembrana memang organik atau tidak. Caranya antara lain dengan menguji sampel biji, daun, batang, dan dicampur dengan bahan lainnya kemudian dikirim ke laboratorium di Belanda.

“Kenapa di Belanda? Karena laboratoriumnya independen. Ketika laboratorium di Belanda mengatakan lolos, barulah Koperasi KSS bisa mendapat sertifikat tersebut,” kata Bu Agung.

Bu Agung menambahkan tidak mudah untuk mendapatkan sertifikat ini. Banyak hambatan, seperti kurangnya pola pikir petani, mahalnya dana sertifikasi, dan belum optimalnya sosialisasi.

Koperasi KSS juga memiliki sertifikasi UTZ dari Belanda. UTZ berbicara soal produk-produk yang dihasilkan secara berkelanjutan, berbicara tentang stabilitas serta akuntabilitas, sosial dan ekonomi bahwa biji kakao yang dihasilkan bukan dari hutan lindung.

Jadi, dengan adanya sertifikasi tersebut Koperasi sudah bisa berjualan berdasarkan standar organik yang benar. Tidak hanya sertifikat abal-abal. Koperasi akan menjual barangnya kepada pembeli yang juga punya sertifikat sama. Koperasi KSS akan mengeluarkan satu surat bernama transaction certificate (TC) yang hanya boleh dikeluarkan apabila produsen telah sah memiliki sertifikat organik. Itu pun hanya untuk pembeli tertentu.

Sertifikat yang dimiliki Koperasi Koperasi KSS tidak bisa dicabut oleh orang lain, karena sertifikat tersebut sudah dipatenkan. Kecuali sertifikat ini dipegang oleh pembeli baru bisa dicabut. Kecuali Koperasi KSS membuat kesalahan pada waktu perpanjangan sertifikat dan saat itu melakukan transaksi jual beli, tetapi tidak bisa dicabut juga.

Sedikit Saja

Dengan semua hal yang tidak mudah untuk dilalui ini, petani kakao Jembrana tetap semangat dan semakin maju.

Harapan saya sebagai generasi penerus pertanian di Jembrana, semoga semakin banyak pembeli yang datang ke Jembrana untuk menjalin kerja sama agar dapat meningkatkan perekonomian para petani.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita mau berusaha dan sungguh-sungguh melakukannya, seperti halnya petani di Jembrana. Kunci menuju sukses adalah rajin, tekun, kreatif, dan displin.

Berakit-berakit kita kehulu, berenang-renang kita ketepian. Bersakit- sakit kita dahulu, bersenang-senang kita kemudian. Berjuanglah kita dahulu, merasakan sakit, sedih, nanti hasilnya akan memuaskan hati dan kemudian baru merasakan senang dan beruntung. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan karya favorit dalam Anugerah Jurnalisme Warga (AJS) 2019 yang diadakan Yayasan Kalimajari dengan Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

The post Satu Cara dan Selembar Kertas Membawa Sejuta Dolar appeared first on BaleBengong.