Tag Archives: Agenda

Mengungkap Sisi Lain Bali lewat Seni Video


Lokakarya seni media untuk beradaptasi dengan teknologi baru. Foto Bentara Budaya Bali.

Media-media baru seringkali menghadirkan realitas virtual semu.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kembali melaksanakan kegiatan Workshop Seni Media. Tentang bagaimana membuat video dalam berbagai lingkup gagasan, medium, konten dan penyajiannya.

Tahun ini kegiatan diadakan di Bandung, Tangerang Selatan, Surabaya dan Bali. Kegiatan di Bali bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali (BBB) dan SEHATI Films pada 21 – 24 Maret 2019.

Kegiatan ini bertajuk “Sisi Bali”. Dia berfokus pada pembekalan dan praktik seputar Video Editing, Estetika Video Art, dan Kolaborasi Intermedia. Narasumbernya Bandu Darmawan (seniman visual dan video art), Dr. I Wayan Kun Adnyana (Kurator, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar) dan Hanne Ara (sutradara, editor).

Hadir pula perupa Nyoman Erawan yang membagi pengalaman sebagai kreator. Erawan kerap kali mengaplikasikan seni multimedia atau video art dalam bidang seni rupa.

Seni media dapat diartikan sebagai gabungan dari seni visual dan teknologi atau sebuah karya seni berbasis teknologi digital. Namun, lokakarya kali ini bukan semata membahas pemanfaatan teknologi digital terkini. Ada pula pendalaman pengalaman sewaktu proses cipta. Juga bagaimana dalam video pendek, kuasa menampilkan keutuhan visual dan menyampaikan pesan pentingnya.

Adapun Workshop Seni Media untuk memfasilitasi dan mengapresiasi keberadaan dan kemandirian para komunitas, pelaku dan penggiat seni media. Kegiatan ini mewadahi kreativitas generasi milenial dan mengembangkan dunia seni media di tanah air.

Workshop ini diharapkan dapat mengakomodir dan mentransformasikan potensi dan minat publik pada seni media. Dia sekaligus menjadi media pengenalan pengetahuan dan praktik seni media di kalangan dunia pendidikan.

Rangkaian

Rangkaian workshop ini telah dimulai di Bandung pada 18-21 Maret 2019. Selanjutnya akan berlangsung di Tangerang Selatan (4-7 April 2019) dan Surabaya (23-26 April 2019).

Workshop melibatkan peserta dari kalangan praktisi, seniman, mahasiswa, guru, dan peminat seni media. Beberapa narasumber di kota-kota lain adalah Andang Iskandar, Helmi Hardian, Benny Wicaksono, Hilmi Fabeta, Banna Rush, Edi Bonetski, dan Popomangun.

Direktur Kesenian, Restu Gunawan menaruh perhatian khusus terhadap eksistensi seni media sebagai bentuk ekspresi seni masa depan. Menurutnya workshop seni media ini sejalan dengan agenda strategis pemerintah sebagai fasilitator pemajuan kebudayaan. Utamanya dalam hal meningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Restu mengatakan perlu upaya terus menerus untuk memberi ruang ekspresi dan ruang presentasi bagi para praktisi seni media. Hal ini diimbangi pula dengan menumbuhkan dan meningkatkan daya apresiasi masyarakat terhadap karya seni media dalam berbagai penciptaan.

Lokakarya video art kali ini akan mengetengahkan pembekalan teori, diskusi, praktik pengambilan gambar di sekitar lokasi, hingga penyuntingan video yang diakhiri evaluasi dan pemutaran video hasil peserta workshop.

Pada acara penutupan, video art karya peserta diputar secara khusus dan diselenggarakan secara terbuka untuk umum. Ada pula pertunjukan kolaborasi seni, sastra, teater, dan multimedia oleh sanggar/ komunitas setempat. Boleh dikata merupakan pra-acara menuju Festival Video Art 2019/2020 di BBB.

Perspektif Baru

Kepala Pengelola BBB, Warih Wisatsana mengatakan lokakarya ini untuk memperkenalkan ragam video art, kreativitas, dan kerja seni, berikut penggalian wacana dalam konteks lebih luas, internasional. Dengan demikian generasi muda bisa menemukan perspektif baru di tengah penggunaan video dan teknologi canggih. Tidak semata hanya untuk memuaskan gaya hidup dan hal-hal yang cenderung tidak kreatif.

Hal ini berangkat dari kesadaran bahwa media-media modern audio-visual, terlebih televisi, media online, cenderung lebih menyuguhkan realitas imajiner, dunia rekaan yang seakan-akan lebih nyata dari kenyataan yang sebenarnya. Tak heran, bila citraan-citraan semu ini ‘mencekam’ sebagian masyarakat dengan aneka peristiwa rekayasa yang manipulatif atau ‘hoax’, dipenuhi sosok-sosok ‘fiktif’ yang tiba-tiba menjadi figur-figur publik, serta hal-hal sebaliknya—di mana tokoh dan pelaku sesungguhnya malah terpinggirkan, tak memperoleh pemberitaan adil dan semestinya.

Editing dan framing atau pembingkaian yang (sengaja) tak akurat, membuahkan sederet gambar yang bersifat mimikri dan cenderung mengelabui, mungkin elok dan molek, tetapi sesungguhnya berlebihan. Giliran berikutnya, karena tampil berulang secara ritmis dan sugestif, gambar-gambar itu seolah menjelma mantra yang lambat laun ‘menyulap’ penonton— terutama pemirsa televisi, pengguna dunia maya dan gawai—dari sang subyek yang merdeka berubah menjadi obyek yang tersandera.

Tanpa kontrol publik, media-media tersebut seringkali terbawa hanyut ke dalam pusaran realitas virtual ciptaannya sendiri. Entah karena pertimbangan rating atau perolehan iklan, akhirnya tergelincir menjadi media partisan yang tak jelas juntrungannya.

Sebelumnya, Bentara Budaya Bali pernah menyelenggarakan Kelas Kreatif Bentara “Workshop Video Mapping” bersama Jonas Sestakresna dan Bimo Dwipoalam (26 November 2017), Kelas Kreatif Bentara “Workshop Video Pendek” bersama kreator Krisna Murti (8-9 Februari 2018), serta dilanjutkan “Workshop Video Art: Rancang Festival dan Komunitas” (11 Maret 2018).

Program-program kolaboratif dan lintas bidang ini, kata Warih, diharapkan dapat mendorong terjadinya perubahan sosial kultural masyarakat menuju kehidupan lebih terbuka. Program itu sekaligus menjadi sarana pergaulan sosial untuk membangun kolaborasi kreatif yang mengedepankan nilai-nilai toleransi, solidaritas, dan kemanusiaan melalui capaian karya seni unggul. [b]

The post Mengungkap Sisi Lain Bali lewat Seni Video appeared first on BaleBengong.

Inilah Nama-nama Pengisi di Ubud Food Festival 2019


UFF 2019 mengumumkan jajaran lengkap nama pengisinya.

Chef, pemilik restoran, pengusaha, petani, penulis buku makanan, dan pegiat akan turut merayakan tahun kelima UFF pada 26-28 April mendatang. UFF merupakan tiga hari penjelajahan kuliner lintas budaya dengan kuliner Indonesia sebagai bintangnya.

Menghadirkan pelaku industri kuliner dari seluruh Indonesia, Asia Tenggara dan sekitarnya, UFF akan menampilkan program-program menarik. Ada demo masak, acara spesial, diskusi makanan, masterclass, pemutaran film, dan masih banyak lagi.

Selama lima tahun berjalan, festival ini telah berkembang menjadi salah satu festival kuliner terkemuka di Indonesia. Dia juga menjadi wadah berbagi informasi mengenai budaya kuliner yang beragam, produksi lokal yang unik, dan restoran-restoran terbaik ke hadapan dunia.

Tahun ini, UFF19 Presented by ABC akan merayakan tema Spice Up the World yaitu ide untuk menjadikan kuliner Indonesia mendunia.

Penggagas dan Direktur UFF Janet DeNeefe mengatakan memilih tema itu untuk menunjukkan kepada para pecinta kuliner di seluruh dunia bahwa sudah waktunya mereka menambahkan beberapa hidangan Indonesia ke dalam daftar favorit mereka.

“Melalui festival tahun ini, mereka juga bisa belajar sesuatu tentang Indonesia,” kata Janet.

“Makanan, bagaimanapun, adalah cara termudah untuk mempelajari suatu budaya,” lanjutnya.

UFF dikenal luas karena berhasil menyatukan sosok-sosok penting yang selama ini memperjuangkan makanan lokal untuk berkolaborasi dengan chef terbaik dari seluruh dunia. Dari Jakarta ke New Jersey, Bangkok ke Barcelona, Sydney ke Singapura, dan tentu saja dari seluruh Bali, para pelaku industri kuliner yang hadir dalam UFF ini akan membawa kuliner Indonesia ke panggung kuliner dunia.

Dengan bangga, Festival akan menyambut pakar kuliner Indonesia yang sangat dicintai para penggemar makanan sekaligus penerima UFF Lifetime Achievement Award 2018 Sisca Soewitomo dan penulis lebih dari 60 buku mengenai budaya kuliner Indonesia Murdijati Gardjito.

Peraih Penghargaan

Festival juga akan menghadirkan peraih penghargaan Chef of the Year Bali’s Best Eats Award 2018, Wayan Kresna Yasa. Global Executive Chef dari Potato Head Beach Club dan KAUM ini telah berhasil memainkan peran penting dalam menempatkan masakan Indonesia dalam peta dunia.

Tidak telewat pula Ragil Imam Wibowo, Chef of the Year Jakarta’s Best Eats Award 2018 dan Asian Cuisine Chef of the Year 2018 (Regional) dari World Gourmet Summit – Award of Excellent 2018 di Singapura. Pada UFF19, chef yang berdedikasi melestarikan kuliner nusantara ini akan berbagi hidangan Aceh menggunakan 20 rempah.

Dengan misi untuk membawa hidangan, budaya, dan seni Indonesia ke hadapan dunia, UFF kembali menyambut mantan juri MasterChef Indonesia yang kerap mempromosikan kuliner Indonesia melalui acara Asian Food Channel Rinrin Marinka. Chef Marinka akan bergabung dengan Gerry Girianza, chef sekaligus pembawa acara Exploresep by Kecap ABC, acara perjalanan yang menampilkan keindahan Indonesia dan masakan Indonesia sehari-hari.

Hadir pula Ade Putri Paramadita, pembawa acara Akarasa dari seri web VICE Indonesia sekaligus bagian dari Aku Cinta Makanan Indonesia, yang mempromosikan pelestarian kuliner tradisional Indonesia.

Beberapa chef dari Jakarta juga ikut hadir untuk memeriahkan UFF tahun ini. Salah satunya Chef de Cuisine di 1945 Restaurant – Fairmont Jakarta, Adhitia Julisiandi. Dia akan menyajikan kuliner Batak Toba yang istimewa.

Ada pula Chef de Cuisine di View Restaurant – Fairmont Jakarta Hans Christian, Executive Chef di Cork & Screw Country Club Fernando Sindu, Executive Chef di Mr. Fox Vebrina Hadi, Head Chef di Mother Monster Gloria Susindra dan masih banyak lagi.

Selain itu, UFF akan menghadirkan pendiri eko-wisata Cengkeh Afo dan Gamalama Spices di Ternate Kris Syamsudin, sosok di balik Indonesian Tempe Movement dan Fit & Healthy Community Wida Winarno, serta spesialis pengelolaan limbah dan energi Aretha Aprilia.

Dari kancah internasional, Thitid Tassanakajohn (Chef Ton) yang mengepalai Le Du di Bangkok, Thailand (#14 dari 50 Restoran Terbaik di Asia 2018) akan bergabung dengan chef Amerika Serikat-Korea Judy Joo yang populer dengan acaranya Korean Food Made Simple.

Seluruh Dunia

UFF kali ini juga merayakan kehadiran chef yang telah berhasil mengembangkan kuliner lintas budaya dari dapur-dapur di mana mereka biasa berkreasi dengan masakan-masakannya.

Debbie Teoh asal Malaysia, telah berhasil melestarikan hidangan Peranakan dan menyampaikan diskusi tentang warisan budaya Malaysia dalam berbagai acara di seluruh dunia. Luca Fantin, satu-satunya chef Italia di Jepang yang meraih bintang Michelin dan dijuluki sebagai “Chef Italia Terbaik di Dunia” oleh majalah Identità Golose pada tahun 2017.

Hadir pula Carlos Montobbio, yang berhasil membawa cita rasa Spanyol ke Esquina di Singapura.

UFF juga akan menyambut Jordy Navarra yang menyajikan hidangan bercita rasa Filipina dalam menu-menunya di Toyo Eatery di Manila. Sementara itu, Darren Teoh dari Dewakan di Kuala Lumpur, berhasil menciptakan hidangan Malaysia modern dengan menggabungkan cita rasa dan budaya Malaysia.

Mereka akan bergabung dengan Jimmy Lim Tyan Yaw, yang memadukan warisan kuliner Singapura dan kreasi kuliner Taiwan di JL Studio di Taipei.

Nama-nama di atas juga akan tampil berdampingan dengan para pionir kuliner yang selalu konsisten mendukung UFF seperti Petty Elliot, Chris Salans, Eelke Plasmeijer dan lainnya.

“Kami sangat antusias mengumumkan jajaran lengkap pembicara yang akan bergabung dalam festival untuk tahun kelima ini,” ujar Janet DeNeefe.

Menurut Janet kolaborasi kuliner antara chef internasional dan Indonesia di restoran dan resort terbaik di Ubud akan mendorong pertukaran lintas budaya dan meningkatkan kesempatan bagi para profesional industri kuliner.

Dari Aceh ke Ternate, UFF akan memiliki lebih banyak hidangan Indonesia yang disajikan di atas meja dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. “Bali layak menjadi salah satu destinasi kuliner terbaik di dunia dan kami akan mencicipi kuliner terbaik dari pulau ini di Ubud Food Festival 2019 Presented by ABC. Semuanya akan menjadi sangat, sangat spesial!” tegasnya. [b]

The post Inilah Nama-nama Pengisi di Ubud Food Festival 2019 appeared first on BaleBengong.

K-Day, Merayakan Dua Tahun Eksperimen di Daerah Terpencil


Filter air Nazava di kios Kopernik. Foto Anton Muhajir.

Dua hari untuk berbagi pengalaman mengurangi kemiskinan.

Kopernik Day (K-Day) adalah perayaan dua tahun Kopernik dalam melakukan eksperimentasi untuk menemukan solusi dalam upaya pengurangan kemiskinan. Acara yang berlangsung pada 14-15 Februari nanti akan menampilkan diskusi tentang solusi inovatif di bidang pertanian dan upaya untuk mengurangi limbah plastik sekali pakai di pulau Bali, serta pertunjukan musik oleh seniman-seniman terbaik Bali.

Untuk pertama kalinya, perayaan K-Day akan dilakukan selama dua hari berturut-turut untuk memberikan ruang bagi komunitas lokal untuk mendapatkan informasi dan pengalaman langsung mengenai proyek yang dikerjakan oleh Kopernik terkait eksperimentasi.

Pada 14 Februari, K-Day akan mengadakan lokakarya yang menjelaskan mengenai Sistem Irigasi Tetes ?Solutions Lab Kopernik, sebuah solusi bagi petani di daerah tandus untuk membantu meningkatkan produksi selama musim kering. Lokakarya ini juga akan membahas mesin injeksi yang merupakan mesin daur ulang plastik skala rumah tangga yang dibangun bekerja sama dengan ?Precious Plastic ?Bali.

“Sebagai organisasi yang berbasis di Bali, penting bagi kami untuk memberikan kontribusi untuk mengatasi tantangan utama yang dihadapi pulau ini dan salah satu area fokus kami di sini adalah masalah plastik sekali pakai. Kopernik percaya akan pentingnya fokus terhadap solusi dan kolaborasi dalam bekerja dengan pihak lain termasuk pemerintah, perusahaan, akademisi, masyarakat sipil, dan industri kreatif,” kata ?Ewa Wojkowska, Co-Founder dan
COO Kopernik ?.

Gelar wicara yang mengeksplorasi solusi inovatif di bidang pertanian pada 14 Februari akan menghadirkan pakar dan mitra Kopernik seperti ?Arianty Zakaria dari Dewan Sertifikasi UTZ. Akan ada juga gelar wicara yang membahas kampanye untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai di Bali bersama ?Pemerintah Daerah Gianyar, vokalis Navicula dan salah satu pencipta Pulau Plastik Gede Robi, Zakiyus Shadicky dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik dan Andre Dananjaya dari Kopernik. ?

Pada tahun 2010, Kopernik didirikan dengan keyakinan bahwa solusi yang lebih efektif sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah pembangunan agar lebih berkelanjutan.

Pada awal 2017, Kopernik mendedikasikan sumber dayanya untuk ‘eksperimentasi singkat’ dalam menemukan solusi yang efektif untuk mengurangi kemiskinan dan mengatasi beberapa tantangan sosial dan lingkungan utama di Indonesia. Eksperimentasi tersebut meliputi pengembangan dan pengujian produk serta pelayanan dengan mitra seperti Koperasi Madu Hutan Senoesa, UNICEF, UN Pulse Lab, dan mitra pemerintah seperti Dinas Koperasi Flores Timur.

Selain itu, hari kedua K-Day pada tanggal 15 Februari sebagai puncak acara akan menampilkan Navicula, The Hydrant, Nosstress, Zat Kimia, Celtic Room, Sandrayati Fay, Manja, Nymphea, Rasta Flute, dan DJ Marlowe. Acara ini juga akan menampilkan pasar komunitas yang menjajakan makanan ringan, pernak-pernik kesenian, dan kerajinan.

Acara ini juga akan menampilkan gelar wicara mengenai konsumsi alkohol yang bertanggung jawab yang disponsori oleh Diageo dan Rumah Sanur, dan para tamu dapat pulang dengan selamat bersama GO-JEK yang menyediakan diskon 50% untuk semua perjalanan GO-RIDE dan GO-CAR ke dan dari K-Day pada tanggal 14 dan 15 Februari dengan menggunakan kode GORIDEXKDAY dan GOCARXKDAY. [b]

The post K-Day, Merayakan Dua Tahun Eksperimen di Daerah Terpencil appeared first on BaleBengong.

Olikasi, Mengubah Sampah Menjadi Emas

Mengubah sampah jadi emas bukanlah jargon dan isapan jempol semata.

Program kolaborasi Pegadaian dengan Rumah Sanur Creative Hub berusaha mewujudkan tersebut. Kolaborasi ini berusaha mewujudkan kiasan itu melalui aktivitas pengolahan dan pengembangan sampah atau limbah.

Kiasan itu berkembang menjadi sesuatu yang nyata bagi Pegadaian. Hasil pengolahan sampah ditabung sebagai emas. Wakil Presiden Pegadaian Area Denpasar Kanwil VII Denpasar Sucahya Prabawa Laksana menjelaskan lebih lanjut. “Benar, sebagai BUMN yang memiliki kinerja dalam kategori baik, Pegadaian selalu tertantang melakukan inovasi dalam produk dan programnya,” kata Sucahya.

Tabungan Emas adalah salah satu produk Pegadaian yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memiliki emas dengan cara menabung. Hal ini nilai emas lebih stabil dan memiliki kecenderungan meningkat nilainya.

Olah Limbah Reka Kreasi (OLIKASI) yang bekerja sama dengan Rumah Sanur Creative Hub menurutnya merupakan upaya Pegadaian untuk berkontribusi dalam masalah sosial, khususnya pengolahan limbah menjadi nilai baru melalui sentuhan kreativitas.

Ia juga menambahkan bahwa para peserta akan menerima insentif yang dapat dipergunakan untuk menabung atau menambah modal usaha melalui Tabungan Emas Pegadaian. Kegiatan ini bukan yang pertama kali diselenggarakan Pegadaian untuk mendukung kegiatan kreatif anak negeri.

Sebelumnya, Pegadaian mendukung program ArtJog dan ArtBali, dan memopulerkan The Gade sebagai kedai kopi emas.

Selain penciptaan nilai sosial dan bisnis, titik berat program OLIKASI adalah mengintegrasikan program yang dimiliki Pegadaian dalam produk-produk utamanya, seperti menunjang bisnis para peserta lewat produk Tabungan Emas dan kemudahan memperoleh fasilitas dalam pengembangan bisnis.

OLIKASI merupakan penciptaan ekosistem dari hulu ke hilir yang terintegrasi dengan produk Pegadaian.

Sasaran yang ingin dicapai melalui program OLIKASI adalah memperoleh produk dengan kualitas pengerjaan dan desain yang baik dan memiliki nilai ekonomi maupun sosial. Para peserta ditantang mengolah dan mengembangkan limbah menjadi produk yang memiliki fungsi dan mengandung nilai-nilai dalam wujud produk gaya hidup, fashion dan aksesori, dekorasi rumah, atau kriya.

Peserta OLIKASI terdiri atas desainer dan seniman rofesional untuk mempermudah proses membangun citra (image) program melalui reputasi yang mereka miliki.

Kegiatan yang terangkum dalam OLIKASI mencakup riset dan pengembangan; dua lokakarya pada Januari; tahap produksi pada Februari; pameran pada Maret; dan penjualan produk pada Maret (ongoing).

Program dimulai dengan lokakarya pertama pada 11 Januari 2019 dengan materi membuat kriteria produk dan proses produksidalam program upcycling. Lokakarya juga memperkenalkan tahapan dan struktur program kepada peserta, lima orang atau grup dari berbagai bidang.

Pada seri pertama ini para peserta akan memperoleh pemikiran ekosistem makro dan mikro, dasar-dasar upcycling, karakter material, nilai-nilai produk, riset dan pengembangan yang dilakukan, serta tren sebagai referensi.

Para peserta akan didorong mengenal dan mempersiapkan rencana bisnis maupun pengembangan produk yang setidaknya memuat tiga nilai penting: nilai sosial, nilai bisnis, dan nilai produk.

Nilai sosial mencakup penggunaan limbah, proses produksi, dan proses penjualan dengan pola perdagangan yang adil (fair trade). Nilai bisnis mencakup kualitas desain dan produksi, pemenuhan aspek tren, dan lain-lain. Adapun nilai produk yang melekatkan aspek fungsional, simbolis atau atributif, dan pengalaman.

Ada lima narasumber lokakarya pertama: Paola Cannucciari dari EcoBali yang akan berbicara tentang ekonomi melingkar dan dasar ekonomi nol sampah; Ayip Budiman dari Rumah Sanur tentang studi kasus pengembangan upcycling; Harry Anugrah Mawardi dari Amygdala tentang sifat dan karakter material; serta pakar tren Isti Dhaniswari yang membahas tren desain dan relasinya dengan upcycling.

Lokakarya kedua akan berlangsung pada 27 Januari 2019 dengan materi lanjutan yang mengintegrasikan hasil dan proses dari riset dan pengembangan materi limbah berupa kertas dan karton bekas, paper tube, kain sisa, kayu sisa, botol kaca, plastik, dan lain-lain. Para peserta akan diajak mengenal sifat, karakter, dan kemampuan masing-masing limbah; menelaah, bereksperimen, dan mengeksploitasi berbagai kemungkinan dengan limbah tersebut; dan mengenali karakter pasar dan tren produk gaya hidup.

Lokakarya kedua akan diisi oleh narasumber yang terdiri atas Adhi Nugraha (praktisi desain produk dan pengajar) dan Edward Hutabarat (praktisi desain fashion dan pengamat budaya). Proses lanjutan dari program ini adalah tahap mendesain dan produksi yang kemudian diakhiri dengan pameran produk hasil olahan para peserta pada Maret 2019.

Program ini menekankan pada keberhasilan bisnis dari hasil mengolah limbah (upcycling), sehingga para peserta dan karyanya betul-betul akan difasilitasi hingga praktik bisnis dan pemasarannya.

Permodelan berupa program OLIKASI ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak kalangan untuk turut mengolah limbah sehingga memiliki manfaat nilai-nilai baru. Pola ini juga diharapkan dapat membangkitkan dan meningkatkan kesadaran untuk mengelola dan memanfaatkan sampah.

Rumah Sanur Creative Hub telah menetapkan untuk menjadi yang terdepan dalam program Upcycling. Telah memulai program ini di tahun 2011 dengan memamerkan 12 hasil karya upcycling para desainer Indonesia. Juga kerap membuat workshop Upcycling dan memasarkan produk-produk upcycling di to~ko Concept Store yang menjadi gerai retail produk-produk karya UMKM dan desainer di Rumah Sanur Creative Hub.

[b]

The post Olikasi, Mengubah Sampah Menjadi Emas appeared first on BaleBengong.

“Memanen Hujan” sebelum Ditelan Pesta Kembang Api

Kalender tahun 2018 telah memasuki lembar terakhir.

Namun, tidak banyak hujan yang turun tahun ini. Buku SD zaman dahulu yang mengatakan bahwa musim penghujan akan hadir ketika memasuki bulan yang berakiran “er” mungkin sudah tidak relevan.

Hujan baru mulai turun saat memasuki November. Itupun hanya beberapa hari sekali hadir kemudian hilang.

Hujan yang turun pun memicu beragam reaksi. Mulai dari mengisi jok motor dengan mantel yang kemudian siap dikenakan ketika hujan turun, menepi untuk menghindarinya, mengambil payung kemudian menggunakan kesempatan ketika hujan untuk membuang sampah di selokan.

Terjebak kemacetan akibat air hujan menggenangi jalan raya atau bahkan bangun dini hari untuk menyelamatkan barang-barang dari genangan hujan yang masuk bertamu ke dalam rumah.

Setidaknya itu merupakan sekelumit cerita kasar ketika hujan turun di area perkotaan. Ketika hujan menjadi momok yang bisa mengacaukan segala rencana yang disusun rapi.

Hal berbeda terjadi di belahan timur Bali. Mereka menunggu hujan turun. Ketika di Tulamben, Kubu, Karangasem sebagai sebuah desa tujuan turis memiliki air bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjamu turis, di salah satu dusun yang jaraknya hanya sekitar 8 km warga harus bersabar.

Menandai purnama untuk bisa mengumpulkan air hujan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka akan air. Ketika lumbung-lumbung air mereka kosong, maka bergantung pada air tangkian menjadi jalan keluar untuk tetap bisa bertahan.

Masuk lebih ke dalam ke sisi utara kaki Gunung Agung, situasi warga yang menunggu hujan turun juga terjadi. Lumbung air hujan seolah menjadi hal wajib dimiliki untuk mengurangi biaya membeli air bersih.

Cerita-cerita dari bagian timur Bali tentang warga menunggu hujan yang tidak datang seperti biasanya, apa yang mereka gunakan untuk menandai kapan hujan akan turun, hubungan hujan dengan profesi mereka dan bagaimana mereka bertahan dengan tetap menggantungkan kebutuhan airnya dari hujan secara turun-temurun.

Kesulitan Akses

Narasi sebuah perjalanan dan berhasil terkumpul, dirajut dengan terburu-buru dan ala kadarnya oleh I Ni timpal kopi dalam sebuah video dan kumpulan tulisan berjudul “Memanen Hujan”.

Di tengah pesatnya kemajuan industri pariwisata yang mengonsumsi air bersih (air sungai dan atau air tanah) ternyata di beberapa wilayah di Bali masih kesulitan untuk mendapatkan akses akan ketersediaan air untuk kebutuhan hidup mereka.

Lalu seberapa layakkah air hujan dikonsumsi ketika definisi air bersih layak minum membuat ada istilah air mentah dan air matang? Serangkaian pertanyaan yang kemudian membuat I Ni timpal kopi bersama Taman Baca Kesiman (TBK) dan Teater Kalangan membuat sebuah acara kecil akhir tahun bertajuk “Memanen Hujan”.

Narasi kecil warga tentang hujan yang berhasil dirajut (I Ni Timpal Kopi) coba untuk dibicarakan dalam sebuah ruang dialog (Taman Baca Kesiman) dan kemudian bagaimana hujan diterjemahkan dalam pertunjukan (Teater Kalangan).

Acara “Memanen Hujan” akan berlangsung pada 22 Desember 2018, di Taman Baca Kesiman jalan Sedap Malam 234, Kesiman, Denpasar. Acara yang bertepatan dengan Hari Ibu akan dibuka pukul 16.00 WITA dengan kegiatan mendongeng oleh Daivi C.

Pukul 18.00 acara akan dilanjutkan dengan pemutaran video berjudul “Memanen Hujan”, dilanjutkan dengan obrolan tentang “hujan, air dan ceritanya” bersama Arya “Boby” Ganaris (aktivis lingkungan dan Direktur Manikaya Kauci), Roberto Hutabarat (antropolog dan penggiat pertanian) dan Petra Schneider (eco development) yang dipandu Adi Apriayantha.

Setelah obrolan santai acara akan dilanjutkan dengan pementasan Teater Kalangan berjudul TU.BUHU.Jan. pada pukul 20.30 WITA.
Acara “memanen hujan” akan ditutup dengan penampilan akustik dari; Rimbahera, Ayik&Iam, Soul and Kith serta music selector Lokasvara.

Selain itu akan nada rilisan zine dari I Ni timpal kopi edisi 36 yang merangkum narasi dalam bentuk kumpulan tulisan dan bisa dibawa pulang.

“Memanen Hujan” mencoba merayakan musim hujan yang tidak lagi bisa diduga dan membuka segala obrolan yang mungkin bisa dibangun dari Hujan yang turun. Jadi, mari bergabung berbagi kisah sebelum gelegar kebisingan kembang api dan pesta akhir tahun menelan semua suara kecil.

Informasi serta rincian lebih lanjut mengenai kelangsungan acara, bisa menghubungi I Ni timpal kopi instagram @initimpalkopi. [b]

The post “Memanen Hujan” sebelum Ditelan Pesta Kembang Api appeared first on BaleBengong.