Tag Archives: Agenda

AJW 2020, Urun Daya Warga Menghadapi Corona

Kirimkan karya terbaikmu untuk merespon pandemi COVID-19.

Menyikapi pandemi COVID-19 saat ini, media jurnalisme warga BaleBengong memberikan tempat dan apresiasi terhadap semua upaya warga untuk menghadapi pandemi tersebut. Dalam AJW 2020, BaleBengong pun mengambil tema Urun Daya Warga Menghadapi Corona.

Apresiasi ini selain untuk mendokumentasikan upaya-upaya tersebut juga sebagai pembelajaran di masa depan. Untuk itulah, BaleBengong mengundang para pewarta warga ataupun warganet lain di Indonesia untuk ikut dalam AJW 2020 dengan mengirim karya-karya terbaiknya.

Kategori
a. Artikel
b. Video
c. Ilustrasi

Kategori: Artikel

Ketentuan
• AJW 2020 terbuka untuk seluruh warga Indonesia, baik pribadi maupun kelompok.
• Peserta terdaftar sebagai kontributor BaleBengong. Klik https://s.id/daftarbalebengong untuk mendaftar;
• Peserta mengunggah karya di situs BaleBengong ATAU media warga lain dan mengirimnya dengan mengisi form di https://s.id/daftarAJW2020;
• Peserta bisa mengikuti salah satu atau semua kategori, tetapi hanya satu karya di masing-masing kategori;
• Karya yang dikirim sesuai tema yaitu terkait upaya warga dalam menghadapi COVID-19;
• Artikel bisa berupa feature, laporan mendalam, ataupun opini;
• Panjang karya 1.000 – 2.000 kata dan disertai minimal 3 foto;
• Keputusan juri untuk semua kategori bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat.

Kategori: Video

Ketentuan
• AJW 2020 terbuka untuk seluruh warga Indonesia, baik pribadi maupun kelompok;
• Peserta terdaftar sebagai kontributor BaleBengong. Klik https://s.id/daftarbalebengong untuk mendaftar;
• Peserta mengunggah karya di link https://s.id/unggahAJW2020 ATAU media warga lain dan mengisi form di https://s.id/daftarAJW2020;
• Peserta bisa mengikuti salah satu atau semua kategori, tetapi hanya satu karya di masing-masing kategori;
• Karya yang dikirim sesuai tema yaitu terkait upaya warga dalam menghadapi COVID-19;
• Panjang video maksimal 8 menit dengan orientasi landscape dan dalam format .mp4;
• Format penamaan file video: nama peserta_judulvideo.mp4;
• Keputusan juri untuk semua kategori bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat.

Kategori: Ilustrasi

Ketentuan
• AJW 2020 terbuka untuk seluruh warga Indonesia, baik pribadi maupun kelompok;
• Peserta terdaftar sebagai kontributor BaleBengong. Klik https://s.id/daftarbalebengong untuk mendaftar;
• Peserta bisa mengikuti salah satu atau semua kategori, tetapi hanya satu karya di masing-masing kategori;
• Peserta mengunggah karya dalam format JPG atau PNG di link https://s.id/unggahAJW2020 ATAU media warga lain dan mengisi form di https://s.id/daftarAJW2020;
• Karya yang dikirim sesuai tema yaitu terkait upaya warga dalam menghadapi COVID-19;
• Ilustrasi bisa berupa kartun, karikatur, infografis, atau komik;
• Format karya yang dikirim adalah 1:1 (square);
• Keputusan juri untuk semua kategori bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat.

Tenggat
Karya diterima paling lambat 31 Mei 2020 pukul 23.00 WITA

Hadiah
Uang tunai Rp 3 juta untuk 1 karya terbaik di masing-masing kategori

Info Lebih Lanjut
Surel: kabar@balebengong.id
Narahubung: Iin Valentine (+62 895-4124-01122)

Unjuk Nada Pohontua Creatorium Seri Pertama

Pohontua Creatorium memulai upaya menghunjamkan akarnya.

Pohontua Creatorium, sebuah label rekaman independen dari Bali, akan mengadakan acara musik “Pohontua Creatorium, The Participles Vol. 01” pada Jumat, 6 Maret 2020 di The Orchard Bar & Resto.

Acara off air perdana dari Pohontua Creatorium ini akan menampilkan band-band di bawah naungan label ini yaitu Made Mawut, Soul & Kith, Rivaba, dan Electric Gypsy.

Acara “Pohontua Creatorium, The Participles Vol. 01” akan dimulai pukul 19.00 WITA. Akan ada pemutaran perdana video musik “The Fear”, single perdana dari mini album “Soulitude” milik Rivaba.

Keberlangsungan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak di antaranya Bintang Riyadi dari (Sing Your Life), Pica Magz, Dadang Pranoto (Pohontua Creatorium) dan Greame pemilik dari venue The Orchard Bar & Resto.

Tentu saja kesempatan ini terbuka bagi band-band lain untuk berpartisipasi di panggung volume berikutnya. Anggap saja ini sebagai sebuah perayaan musik berkualitas yang mengedepankan musisi Bali yang memiliki karya sendiri. Bukankah itu yang kita butuhkan saat ini? Menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Tentang Pohontua Creatorium

Di tengah bergeliatnya musik di Bali, lahir sebuah label bernama Pohontua Creatorium yang digawangi Dadang Pranoto dan Cipta Gunawan. Dua nama ini tidak asing di dunia permusikan di Bali. Keduanya sudah lebih dari 20 tahun berkecimpung di dunia musik Indonesia.

Dadang Pranoto adalah gitaris Navicula, frontman Dialog Dini Hari, mind master duo Electric Gypsy, dan berdiri sendiri sebagai Pohon Tua dalam berbagai bentuk kolaborasi. Cipta Gunawan adalah seorang jenius yang berdiri di balik bunyi-bunyian apik pada penampilan Navicula, dan banyak album rekaman musisi-musisi Bali.

Sejak tahun 2019, secara diam tapi pasti, Pohontua Creatorium telah membidani karya-karya musisi Bali dengan apik. Sebut saja album “Merdeka 100% dari musisi delta blues Made Mawut, yang cukup menjadi perbincangan di banyak wilayah skena independen karena karyanya yang cukup unik dan otentik. Album “Merdeka 100%” menjadi nominasi album terbaik di Anugerah Musik Bali.

Pohontua Creatorium juga membantu duo gloomy folk Soul & Kith mengasah serta mempertajam bakat mereka yang bisa kita dengar dari single “Hujan” yang sudah rilis secara digital. Tahun 2020, Pohontua Creatorium membantu musisi blues Rivaba merilis mini albumnya berjudul “Soulitude”.

Masih ada beberapa rilisan di waktu mendatang dengan nama-nama mengejutkan yang masih dirahasiakan sebagai bukti bahwa Pohontua Creatorium akan terus menghujamkan akarnya lebih kuat ke poros bumi. [b]

UFF 2020 Akan Hadirkan Lebih dari 90 Pembicara

Suasana UFF 2019. Foto UFF.

Masakan dari berbagai daerah yang kurang dikenal pun hadir.

Festival kuliner terkemuka di Indonesia, Ubud Food Festival 2020 Presented by ABC (UFF) mengumumkan jajaran nama-nama pengisinya. Lebih dari 90 pembicara seperti koki, pemilik restoran, pengusaha makanan, petani, penulis buku masak, peneliti, dan pegiat kuliner akan hadir April nanti.

Pada 17-19 April mendatang, penjelajahan kuliner lintas budaya ini akan diisi dengan program-program menarik. Ada demo masak, acara spesial, jalan-jalan kuliner, masterclass, dan masih banyak lagi. Festival akan digelar di lebih dari 30 lokasi di Ubud dan sekitarnya dengan lokasi utama terletak di Taman Kuliner, Jl. Raya Sanggingan Ubud, Bali.

Pada tahun keenam, Festival telah berkembang menjadi salah satu ajang gourmet paling populer di Asia Tenggara. Dia menjadi platform utama bangsa ini untuk berbagi budaya kulinernya yang beragam, produk lokal yang unik, dan deretan menu spesial dari restoran-restoran terkemuka ke hadapan dunia.

Tahun ini, UFF20 hadir untuk menginspirasi para penggemar makanan baik nasional dan internasional dengan tema Heroes. Menurut Pendiri dan Direktur UFF Janet DeNeefe, salah satu aspek terpenting dari makanan yang tersaji di meja-meja adalah orang-orang di balik proses pembuatannya. Saat makan, kita cenderung lupa jika ada cerita di balik setiap makanan, setiap hidangan, setiap masakan.

“Kami ingin menyoroti orang-orang di balik proses pembuatan makanan dan peran penting yang mereka mainkan dalam menghadirkan cita rasa yang dapat kita nikmati saat ini,” katanya.

Sosok Pahlawan

Sejalan dengan tema tahun ini, UFF menyatukan sosok-sosok pahlawan makanan lokal untuk berkolaborasi dengan koki terkenal dari seluruh dunia, mendorong pertukaran lintas budaya dan menciptakan kreasi baru. Dari Amsterdam ke Adelaide, Bangka ke Banjarmasin, Düsseldorf ke Dubai, Maluku ke Manila, dan dari seluruh Bali, para koki yang hadir ke UFF20 merupakan bukti meningkatnya status makanan Indonesia di panggung kuliner dunia.

UFF20 akan menghadirkan dua koki selebriti sekaligus juri MasterChef Indonesia tahun ini, Juna Rorimpandey dan Renatta Moeloek. Mereka untuk pertama kali hadir di UFF. Presiden Indonesian Chef Association (ICA), Henry Alexie Bloem juga akan hadir mengisi program-program UFF. Ada pula pendiri Pasar Papringan di Temanggung, Jawa Tengah, Singgih Susilo Kartono dan penulis makanan sekaligus pendiri panduan digital makanan Indonesia bernama TopTables Indonesia Kevindra P. Soemantri.

Selain itu, UFF20 akan menghadirkan sosok-sosok kuliner dari berbagai penjuru nusantara. Mulai dari koki sekaligus pemandu acara TV Eddrian Tjhia dari Bangka, penulis 14 buku masak sekaligus konsultan makanan Agus Sasirangan dari Banjarmasin, hingga pemilik Warung Mbah Jingkrak yang populer dengan menu-menu pedasnya Ajeng Astri Denaya dari Semarang.

Beberapa nama yang merupakan peneliti dan pegiat makanan pun akan berbagi ilmunya di UFF. Misalnya Dr. Fenny M. Dwivany yang meneliti mengenai pisang bersama timnya The Banana Group, I Gede Artha Sudiarsana yang mendirikan agribisnis jamur untuk menghasilkan berbagai benih dan jenis jamur, serta Gede Yudiawan yang mengembangkan Dapur Bali Mula, dapur otentik Bali yang memproduksi arak Bali dan garam tradisional.

Dari kancah internasional, UFF20 menyambut deretan koki terkemuka. Ada koki kelahiran Barbados yang dinobatkan sebagai Chef of the Year oleh Gourmet Traveler Restaurant Award 2020 Paul Carmichael. Juga pendiri restoran Ministry of Crab yang berturut-turut masuk dalam Daftar Asia’s 50 Best Restaurant sejak 2015 Dharshan Munidasa. Hadir juga koki Vietnam-Australia yang mengepalai Sunda di Melbourne Khanh Nguyen.

Nama lainnya adalah peraih gelar koki bintang Michelin wanita termuda di Jerman Julia Komp hingga juri MasterChef Singapore yang memiliki serial memasak populer Tasty Conversations Audra Morrice.

FoodLover Pass

Selain mengumumkan jajaran nama pembicaranya, UFF20 juga meluncurkan FoodLover Pass yang dapat digunakan untuk mengakses Kitchen Stage, Masterclasses, Food Tours, dan Special Events yang nantinya dapat dinikmati para penggemar makanan. Demo masak dari para koki favorit hingga jalan-jalan ke pusat kuliner lokal akan melengkapi wawasan gastronomi pengunjung Festival. Begitu pula dengan kolaborasi para koki ternama dari dapur-dapur restoran terkemuka di dunia, akan menghadirkan pengalaman bersantap yang istimewa.

Dalam Kitchen Stage: Origins, koki yang dinobatkan oleh panduan restoran Prancis Gault Millau sebagai Most Talented Chef 2018 Dennis Huwaë, akan memasak sajian yang terinspirasi oleh warisan budaya Indonesia-Belanda. Sementara itu, pengunjung Festival dapat menikmati sesi demo masak a la Korea menggunakan daging premium dan bahan-bahan alami bersama koki sekaligus pemilik restoran SI JIN Steakhouse, Joel Lim Si Jin, dalam Kitchen Stage: Sizzle with SI JIN.

Untuk pertama kalinya, Festival menghadirkan Food Tour: Behind Men Juwel’s Kitchen Doors. Pengunjung Festival berkesempatan untuk melihat bagaimana juru masak dari Desa Sayan, Ubud, menyiapkan masakan ayam tradisional yang lezat, kemudian menyantapnya sembari menikmati pemandangan sawah yang indah.

Untuk program Special Event: Best of the Fest, Paul Carmichael dan Khanh Nguyen akan berkolaborasi dengan koki sekaligus penulis buku Chicken and Charcoal Matt Abergel dan koki terkemuka Chris Salans untuk menyajikan delapan menu kreasi masakan Karibia-Jepang-Indonesia. Sementara itu, Renatta Moeloek akan menyajikan masakan modern Prancis-Indonesia yang lezat bersama Wayan Sukarta, Head Chef bridges dalam Special Event: From Paris with Love.

Salah satu tujuan utama Festival adalah untuk menyoroti masakan dari berbagai daerah Indonesia yang kurang dikenal. Long Table Lunch di Casa Luna kembali melalui Special Event: Maluku, the Spice Islands. Jamuan makan spesial ini akan memperkenalkan makanan laut dan bahan-bahan lokal dari Kepulauan Maluku, Ambon, dan Banda Neira di Indonesia Timur.

Dalam sebuah misi untuk membawa makanan Indonesia ke hadapan dunia, Eddrian Tjhia juga akan menghadirkan sebuah perayaan luar biasa dari masakan tradisional asal Bangka dalam Special Event: Bangka at Plataran.

“Kami sangat senang mengumumkan jajaran lengkap pembicara yang bergabung dengan kami untuk tahun keenam ini,” ujar Janet DeNeefe.

“Kami juga sangat antusias dengan adanya lebih banyak masakan daerah-daerah di Indonesia daripada tahun sebelumnya. Dari warung lokal, petani, produsen artisan, dan juru masak dari pelosok desa hingga tempat-tempat menakjubkan, serta koki kelas dunia, kami memiliki ragam aspek gastronomi yang ingin Anda kenal di UFF20,” lanjutnya.

FoodLover Pass yang dapat digunakan untuk mengakses Kitchen Stage, serta tiket untuk Masterclasses, Food Tours, dan Special Events sudah dapat dibeli melalui situs web UFF. Free Events atau program tidak berbayar akan diumumkan pada akhir bulan Februari 2020.

Kunjungi www.ubudfoodfestival.com untuk informasi selengkapnya. [b]

Arti Keluarga dalam Memento Ketut Sedana

Ketut mencoba membentangkan kenangan-kenangan pada keluarga.

Seniman muda Ketut Sedana menggelar pameran bertajuk Memento di Warung Men Brayut selama satu bulan, pada 9 Februari – 8 Maret 2020. Pameran tunggal ini hanya menampilkan 7 karya intim dan kontemplatif.

Sebab, semua karya Ketut mencoba membentangkan kenangan-kenangan Ketut terhadap anggota keluarganya melalui kolase benda-benda tertentu. Baginya setiap benda memiliki kisahnya masing-masing, baik kenangan baik, buruk, mengecewakan, bahkan kenangan yang membekas bahkan mampu menimbulkan trauma.

Tujuh karya tersebut berjudul Canang Sari, Lamak Buda Taylor, Periangan, Sampat Lidi, Simpul dan Living English-Soul Jah, ide-ide karya ini mulai digodok Ketut dari bulan November 2019 hingga Januari 2020. Bentuknya ialah kolase benda-benda, instalasi berukuran kecil, serta dibeberapa bagian karya dilukis dengan gaya khas Ketut.

Benda-benda yang dipamerkan tidak asal pilih. Benda tersebut memiliki nilai sejarah yang mungkin saja mencatat perjalanan keluarganya hingga generasi kini. Misalnya dulang yang digunakan untuk karya Periangan. Ketut mengisahkan dulang dengan ornamen bunga sederhana itu digunakan oleh alm kakek hingga ibunya.

Pada bidang datar dulang terdapat cekungan-cekungan yang tidak sengaja terbentuk karena termakan rayap. Melihat benda itu saja, pengunjung pasti dibawa menelusur waktu lampau sesuai pengalaman masing-masing.

Namun, jika ditilik lebih jauh karya Periangan itu termasuk karya autokritik kebudayaan hari ini, terutama pembuatan gebogan buah oleh ibu-ibu. Hari ini ibu-ibu lebih suka menggunakan dulang bertumpuk dengan ornamen emas cetar membahana. Buahnya tinggal diletakkan sesuai jenis yang sama, lalu di susun berdasarkan ukurannya.

Hal ini berbeda seperti dulu. Dulang yang digunakan untuk membuat gebogan buah menggunakan batang pisang muda (gedebong). Buahnya ditusuk menggunkan katik sate. Lalu baru disusun melingkar ke atas. Ya, namanya juga perubahan zaman, semua menuntut kecepatan dan instan.

Ketut Sedana yang tergabung dalam komunitas Baligrafi ini mengurai secara implisit arti keluarga dalam konteks kini. Apalagi anak-anak muda yang berkeinginan hidup bebas seolah lupa memiliki keluarga di rumah.

Namun, cara pandang inipun ia dapat ketika berjarak dengan keluarganya. Misalnya ia mengenang kembali cerita alm kakek dan alm neneknya ketika kedua sosok tersebut sudah tiada. Alih-alih larut dalam kenangan berulang, Ketut memanipulasi hal tersebut menjadi energi dalam berkarya. Lahirlah karya berjudul Lamak.

Baginya keluarga adalah tempat perdana untuk menimba ilmu, tempat akar pemahaman, tempat yang sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, hal ini karena keluargalah orang-orang yang pertama kali bersentuhan dengan kita.

Kebingungan

Jika dikaitkan pada kecepatan laju teknologi hari ini, terutama media sosial, riuh informasi berkelindan di dalamnya, realitas seolah dipertanyakan ulang sebagai upaya berkehidupan. Sebenarnya kita di mana, apa yang lebih penting, mana yang lebih prioritas, membeli kuota agar bisa berkoneksi dengan teman-teman lewat teks, atau yang realitas nyata dan pertemuan sehari-hari.

Kebingungan semacam ini dapat diluruskan dilingkungan keluarga, memberi arahan pada kaum-kaum muda, agar berjalan dalam pilihan yang teguh dan tegas.

Tujuh karya ini mungkin bisa dikatakan sedikit dalam pameran tunggalnya ini. Namun, dari titik kecil inilah Ketut akan beranjak. Jika datang ke pamerannya selain melihat benda-benda sakral ala Ketut, teman-teman tentunya akan disajikan cerita-cerita akar atas karya tersebut. Pengunjung pun diberlakukan seintim itu. Seperti hubungan Ketut dengan karya-karyanya.

Selain sibuk berkarya pribadi, Ketut Sedana yang berambut gondrong ini juga tergabung dalam kelompok seni pertunjukan teater boneka, Kacak Kicak Puppet Theater, sejumlah even mural lepas, dan bekerja sebagai pelukis lepas di beberapa café di Denpasar.

Pembukaan pameran akan dimeriahkan oleh lagu-lagu hiperaktif oleh Badiktilu, pilihan list oleh Falsafah Tinu Maha dan Performing Art oleh Teater Kalangan. Selama pameran sebulan akan diadakan sejumlah acara. Pertama, lokakarya membuat boneka dari benda kesayangan bersama Kacak Kicak Puppet Theater pada 16 Februari. Kedua, lokakarya penulisan kritik karya seni rupa pada 23 Februari. Terakhir, penutupan, masak-makan bersama kawan-kawan kemudian akan dimeriahkan oleh solois Karna, Pandu Suksma dan Pekat Terakhir pada 8 Maret 2020.

Selamat berpameran. Mari datang.

Retreat KISARA 2020: Sharing dalam Kebersamaan dan Kesenangan

Halo sahabat Kisara, pada tahun 2020 ini Kisara kembali mengadakan retreat lo pada weekend 11-12 Januari kemarin. Selain menjadi kegiatan yang paling ditunggu setiap tahunnya, retreat juga menjadi kegiatan yang pas untuk sharing, refreshing, sampai evaluasi untuk tahun sebelumnya. Retreat yang biasanya diadakan dipenghujung tahun sebagai kegiatan untuk melepas penat para relawan di tahun 2019...