Tag Archives: Agenda

Bali Tatto Expo, Pameran Tato Pertama di Indonesia

Bali Tattoo Expo menjadi ajang pameran tato pertama dan terbesar di Indonesia.

Tato salah satu budaya paling tua di dunia. 

Begitu pula di Indonesia. Dia merupakan budaya yang sudah hidup cukup lama. Namun, beberapa ‘memori’ masa lalu membuat tato di negara ini identik dengan dunia kriminalitas. Tato pun mendapat citra buruk di masyarakat.

Hal ini berdampak pada termarjinalkannya para seniman serta penggemar tato di mata masyarakat umum.

Seiring berjalannya waktu, tato kembali menempati jalurnya. Tato beranjak menjadi counter culture, bahkan pop culture. Kini tato adalah sebuah spiritualitas, seni, ekspresi diri, bahkan dianggap sebagai gaya hidup oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Bisa kita lihat saat ini penggemar tato berasal dari berbagai kalangan seperti pengusaha, musisi, olahragawan, model, dan artis. Menariknya, tato tidak hanya didominasi oleh kaum laki-laki. Kaum hawa pun mulai berani menunjukan tato di tubuh mereka.

Hal ini berdampak pada industri tato yang mulai bergeliat kembali.

Bali merupakan daerah dengan industri tato paling maju di Indonesia sementara ini. Industri tato di Pulau Bali terus berjalan seiring dengan kemajuan dunia pariwisata.

Dengan latar belakang tersebut, kami kembali menghadirkan BALI TATTOO EXPO sebagai acara pertama yang diadakan dalam bentuk eksebisi. Selain sebagai ajang pameran, acara ini juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar seniman tato, serta menjadi ajang titik temu terbesar antara pelaku industri tato dengan penikmat seni tato.

Bagus Ferry, Penyelenggara Bali Tattoo Expo 2017, mengungkapkan secara konsep dan konten, Bali Tattoo Expo 2017 tidak akan berbeda dengan Bali Tattoo Expo yang telah berlangsung tahun sebelumnya.

“Namun tahun ini kami menghadirkan Bali Tattoo Expo 2017 dengan waktu lebih lama yakni selama 3 hari, dibandingkan tahun lalu yang hanya digelar selama 2 hari saja,” kata Ferry.

Bali Tattoo Expo 2017 berlangsung pada 12 Mei 2017 – 14 Mei 2017 mulai pukul 10.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita, dan bertempat di gedung Bali Creative Industry Center (BCIC).

Acara tato pertama di Indonesia selama 3 hari ini menghadirkan 88 booth yang terdiri booth tattoo studio dan booth non tattoo studio di dalam ruangan.

Selain booth tattoo studio maupun non tattoo studio, dalam Bali Tattoo Expo 2017 juga akan tersedia booth makanan dan minuman dengan lokasi di luar ruangan, dan pertunjukan musik yang akan digelar setiap hari mulai pukul 16.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita.

Acara ini juga mengundang beberapa teman-teman komunitas di Bali untuk berpartisipasi, sehingga menjadi ajang berkumpulnya banyak komunitas di Bali. [b]

The post Bali Tatto Expo, Pameran Tato Pertama di Indonesia appeared first on BaleBengong.

Eksplorasi Tiada Henti Pegrafis Bali Utara

Komunitas Studio Grafis Undiksha akan berpameran di Bentara Budaya Bali.

Mereka akan menampilkan seni grafis bertema “Explora(c)tion”. Pameran ini akan dibuka pada Sabtu (13/05) pukul 19.00 WITA di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Gianyar.

Merujuk tajuknya, yakni “Explora(c)tion”, pameran ini berupaya mempertautkan semangat penjelajahan aksi melalui Studio Grafis Undiksha, wahana pergaulan kreatif yang guyub gayeng itu.

Menurut kurator, Made Susanta Dwitanaya, setiap kreator yang terlibat di dalam program ini dibebaskan mengekspresikan pencarian masing-masing, seturut pilihan teknik, ragam stilistik, maupun estetiknya.

Para pegrafis Bali Utara yang berpameran kali ini antara lain: Hardiman, Kadek Septa Adi, I Nyoman Sukerta Yasa, I Putu Aditya Diatmika, Ni Luh Pangestu Widya Sari, I Gede Riski Soma Himawan, Ni Luh Ekmi Jayanti, Dewa Made Johana, Gde Deny Gita Pramana, Irma Dwi Noviani, I Kadek Budiana, I Putu Nana Partha Wijaya, I Kadek Susila Priangga, Mirza Prastyo, Pande Putu Darmayana, I Nyoman Putra Purbawa, Saupi, I Gede Dwitra Natur Artista, Kholilulloh.

Serangkaian pameran yang berlangsung hingga 25 Mei 2017 ini diselenggarakan pula Workshop serta Diskusi Seni Rupa pada Selasa (23/05). Secara khusus workshop akan mengulas mengenai teknik linocut (cukil kayu). Workshop yang ditujukan bagi pelajar dan mahasiswa ini dipandu oleh I Nyoman Putra Purbawa bersama para pegrafis lainnya.

Sedangkan dalam diskusi akan dibahas mengenai Seni Grafis dalam Pendidikan Seni bersama Hardiman Adiwinata dan I Made Susanta Dwitanaya.

Seni grafis terbukti telah turut mewarnai konstelasi seni rupa kontemporer Indonesia. Kehadirannya kini memiliki peluang yang besar untuk berkembang secara dinamis melalui berbagai ragam medium berikut presentasinya; mulai dari karya- karya cukil, stensil, etsa, sablon, serta cetak digital, tentu dengan tetap mengacu dan berpegang pada konvensi seni grafis sebagai seni cetak.

Namun menurut Susanta, dalam konteks seni rupa Bali aktivitas seni grafis tampaknya masih belum begitu menggeliat jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia sebut saja di Yogyakarta ataupun Bandung. Agenda-agenda seni rupa di Bali yang khusus menampilkan karya- karya seni grafis masih terbilang minim, sehingga pewacanaan tentang seni grafis di Bali nyaris sangat jarang terdengar.

Minimnya pewacanaan terhadap perkembangan seni grafis di Bali secara tidak langsung juga menjadi sebuah ruang untuk mempertanyakan ihwal proses regenerasi dalam perkembangan seni grafis di Bali. Di Bali ada beberapa perguruan tinggi ataupun lembaga pendidikan dengan basis kesenirupaan di dalamnya, dan hal ini tentu saja adalah salah satu potensi yang bisa digerakkan lebih jauh untuk melakukan proses tranfer pengetahuan yang dapat menstimulus dalam menggeliatkan gairah para pegrafis pegrafis muda untuk berkarya pada jalur seni grafis.

Peran lembaga pendidikan kesenirupaan di Bali bisa menjadi salah satu ranah yang penting dalam mengembangkan seni grafis di Bali. namun dari beberapa lembaga pendidikan kesenirupaan di Bali sampai saat ini masih belum ada yang memiiki program studi ataupun jurusan yang khusus seni grafis.

Seni grafis baru menjadi mata kuliah dengan jumlah SKS yang minim, ataupun baru menjadi salah satu pilihan konsentrasi pada mata kuliah Tugas Akhir seperti yang diterapkan di Prodi Pendidikan Seni Rupa Undiksha Singaraja.

Berangkat dari hal tersebut, maka para perupa yang berasal dari Dosen, Mahasiswa dan Alumni Prodi Seni Rupa Undiksha yang memilih untuk menekuni seni grafis sebagai pilihan kreatif mereka dalam berkarya seni rupa, menggagas sebuah pameran bersama yang terbingkai dalam tema kuratorial “Explora(c)tion”.

Pameran ini menghadirkan bingkai kuratorial yang sedemikian cair dalam artian tidak menghadirkan isu atau tema yang spesifik, hal ini bertimbang pada sangat beragamnya kecenderungan gagasan masing-masing perupa yang tidak mungkin dapat diringkas dalam satu tema yang spesifik.

Dengan demikian bingkai kuratorial ini diarahkan pada usaha untuk merayakan keberagaman gagasan tematik serta upaya untuk menelisik dan mempresentasikan bagaimana ihwal proses eksplorasi gagasan, medium, dan teknik pada karya para perupa masing masing.

Bentara Budaya sendiri secara konsisten menyelenggarakan Kompetisi Trienal Seni Grafis Indonesia sedini tahun 2003 dengan beragam tematik yang terbukti memicu kreativitas para pegrafis. Bahkan pada penyelenggaraan ke-5 tahun 2015 lalu, kompetisi itu diperluas, berskala internasional.

Tercatat 355 karya dari 198 peserta, berasal dari berbagai kota di Tanah Air dan luar negeri meliputi sejumlah negara di Amerika Latin, semisal: Argentina, Brazil, Peru, Kolombia, serta negara-negara lain seperti: Kroasia, Australia, Belgia, Bulgaria, Kanada, Cina, Italia, India, Jepang, Jerman, Malaysia, Mesir, Polandia, Serbia, Spanyol, Swedia, Thailand dan Turki.

Pemenang pertama diraih oleh Jayanta Naskar (India), pemenang kedua adalah Puritip Suriyapatarapun (Thailand) dan pemenang ketiga yakni Muhlis Lugis (Indonesia). Karya-karya seni grafis Jayanta Naskar termasuk yang meraih juara pertama telah dipamerkan di empat venue Bentara Budaya sepanjang tahun 2016, khusus di Bentara Budaya Bali berlangsung 14-27 Januari 2017. Demikian juga pemenang kedua dan ketiga berkesempatan menyelenggarakan pameran tunggal grafis di empat venue Bentara Budaya. [b]

The post Eksplorasi Tiada Henti Pegrafis Bali Utara appeared first on BaleBengong.

Festival Tepi Sawah, Seni untuk Lingkungan

Satu lagi even menarik bakal digelar di Bali.

Acara bertajuk Festival Tepi Sawah akan digelar di Omah Apik, Ubud pada 3-4 Juni mendatang. Dengan semangat collaborative art, beragam agenda akan hadir seperti workshop seni dan pendidikan lingkungan, serta penampilan seni musik, gerak dan tari.

Di dalamnya juga aka nada kolaborasi antara pelaku seni dan pekerja kreatif dari berbagai cabang seni seperti musik, tari, theater, sinematografi, visual arts, kerajinan, serta berbagai cabang seni lainnya.

Sesuai namanya, Festival Tepi Sawah akan memanfaatkan area di tepi sawah sebagai tempat utama kegiatan terutama kegiatan musik dan pertunjukan seni lainnya. Di tempat acara yang unik di pinggiran desa ini, penyelenggara akan merancang panggung khusus, Uma, yang melatar-depani panorama simbolik tempat aspirasi ini terlahir, di tepi sawah.

Sejumlah seniman yang akan mengisi acara antara lain Tompi, Dewa Alit, Bona Alit, Sisca Guzheng, Brahma Diva Kencana, Nita Aartsen, Jasmine Okubo, Gustu Bramanta, Tebo Aumbara, Dodi Sambodo, dan Fascinating Rhytm Community.

Festival Tepi Sawah digagas tiga pelaku seni, Anom Darsana, Nita Aartsen, dan Etha Widiyanto. Tiga tokoh dari latar belakang yang berbeda ini mencoba memberi perhatian khusus terhadap perpaduan elemen kreatif dengan pendidikan serta penerapan akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup.

“Kami akan mewujudkan festival ini dengan mengajak berbagai komunitas seni serta membangun beberapa relasi dan networking yang mendukung acara ini. Memberikan kesempatan kepada semua orang kreatif untuk berkarya adalah tujuan kami,” jelas Anom Darsana.

Anom menambahkan keseluruhan festival akan mencerminkan serta membawa pesan kesadaran akan kelestarian lingkungan dan prinsip reduce, reuse, recycle (kurangi, gunakan kembali, dan daur ulang) baik dalam hal produksi, penjualan makanan dan minuman, penangan sampah, pembuangan limpah, dan sebagainya.

Munculnya ide untuk menggelar Festival Tepi Sawah didasari pemahaman akan masyarakat Bali yang telah meleburkan diri ke dalam proses berkesenian. Pertunjukan seni musik, tari dan drama, adalah ekspresi yang tidak terpisahkan dari budaya hidup keseharian mereka dalam menjalankan prinsip Tri Hita Karana, yang mengedepankan keselarasan hubungan antar manusia, dengan alam sekitar, dan dengan Tuhannya.

Begitulah, Festival Tepi Sawah yang terbilang unik terinspirasi dari siklus dan irama kehidupan masyarakat desa agraria di Bali, yang mewarnai hari-hari mereka dengan kesederhanaan damai dan kebersamaan selaras, dalam menanam harapannya, memupuk kesejahteraannya, bersabar menunggu hujan berhari-hari; sampai saat ketika bulir padi mulai menguning, mereka bersorak-sorai merayakannya.

Terkait itu pula, Festival Tepi Sawah dimaksudkan sebagai bagian dari sorak sorai itu. Festival ini mendamaikan dikotomi modern versus tradisional dengan mengupayakan collaborative art. Semangat kolektif khas masyarakat Bali menjadi semangat utama acara ini.

Ke depannya, Festival Tepi Sawah diproyeksikan sebagai sebuah acara kesenian tahunan berorientasi ramah lingkungan, yang akan melibatkan dan menghadirkan seniman-seniman dari berbagai cabang seni, untuk berkolaborasi dan berkarya dalam kebersamaan.

Dalam gerakan kesadaran lingkungan ini, Festival Tepi Sawah berkolaborasi dengan Clean Bali Series, sebuah program buku dan pendidikan tentang kesadaran lingkungan untuk anak-anak, yang sudah dimulai sejak tahun 2006. Program ini telah aktif menggalang program bulanan “Bali Bersih” di venue festival, Omah Apik, bersama beberapa organisasi dan aktivis lingkungan, pendidikan, seni dan budaya, untuk memberikan ruang belajar kepada anak-anak setempat tentang Kesadaran Lingkungan. [b]

The post Festival Tepi Sawah, Seni untuk Lingkungan appeared first on BaleBengong.

Oka Blangsinga, Menari di Istana hingga Medan Perang

Oka Blangsinga menari sejak belia hingga akhir hidupnya.

Ida Bagus Oka Wirjana meninggalkan jejak nama besar. 

Penari yang lebih dikenal dengan nama Ida Bagus Oka Blangsinga ini berpulang 3 Februari 2017 lalu. Menghormati dedikasi maestro tari Kebyar Duduk itu, Bentara Budaya Bali akan menggelar acara Obituari.

Obituari tentang Oka Blangsinga yang meninggal pada usia 87 tahun itu akan diadakan pada Sabtu (29/4) pukul 18.30 WITA di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar.

Oka Blangsinga lahir pada 1929. Sejak belia ia belajar menari Baris di bawah bimbingan pamannya Ida Bagus Kompiang. Dia juga telah tampil menari di Istana Kepresidenan masa Soekarno dan menjadi duta negara dalam kunjungan di Eropa, Asia, Amerika, dan Jepang.

Perjalanannya sebagai penari juga tak lepas dari kisah heroik. Dalam sebuah wawacara, Oka Blangsinga mengaku pernah menjadi penari Angkatan Perang pada 1950-an. Kala itu ia sempat mengalami situasi terjebak selama empat jam dalam suasana perang di mana peluru bersliweran di atas kepala.

Di kancah kesenian Bali dan internasional, Oka Blangsinga paling sohor sebagai penari Kebyar Duduk yang mumpuni. Ia mempelajari Tari Kebyar Duduk secara diam-diam, otodidak, melalui pengamatan langsung sewaktu maestro I Ketut Marya (Mario) berlatih atau pentas.

Kala itu semasa penjajahan Jepang dan Ida Bagus Oka Wirjana masih duduk di Sekolah Rakyat di Tabanan. Sewaktu mempelajari secara mendalam Kebyar Duduk, Ida Bagus Oka Wirjana kemudian banyak mendapatkan bimbingan dari tokoh-tokoh kesenian di Gianyar seperti Anak Agung Gede (Puri Sukawati), Cokorde Oka (Puri Singapadu), Bapak Geriya, dan Bapak Geredek (Singapadu).

Dalam agenda Obituari kali ini akan ditayangkan dokumenter sosok Oka Blangsinga yang merangkum kiprah serta proses berkesenian sang maestro selama ini. Selain itu dipertunjukan pula Tari Baris oleh I Wayan Purwanto serta Tari Kebyar Duduk oleh Ida Ayu Triana Titania Manuaba, yang merupakan murid serta cucu Oka Blangsinga. Pertunjukan tari ini akan diiringi sekaa gong Pinda pimpinan I Ketut Cater.

Oka Blangsinga membawakan tari Kebyar Duduk yang tersohor.

Turut memperkaya bacaan serta pemahaman kita terhadap sosok seniman kelahiran Banjar Blangsinga, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar ini, dihadirkan juga pameran foto memorabilia Ida Bagus Oka Blangsinga, serta testimoni dari keluarga serta sahabat.

Pameran diikuti oleh Doddy Obenk, Tjandra Hutama K, D P Arsa Putra, Komang Parwata SSn., I Gusti Agung Wijaya Utama SSn., Dechi IDK Rudita Widia Putra, Windujati, I Putu Apriwidana, Adriaan Palar, Ida Bagus Alit, Carola Vooges, Irina, Miranda Risang Ayu Palar, Dushanka,Luciana Ferrero dan Yoko Yamada.

Program kerja sama dengan Yayasan Ida Bagus Blangsinga ini secara khusus juga menghadirkan Prof. Dr. I Made Bandem, MA. dan Prof. Dr. I Wayan Dibya, SST., MA. Dua budayawan sekaligus maestro seni Bali akan berbagi pandangannya perihal kiprah serta capaian Ida Bagus Oka Wirjana selama ini, berikut sumbangsihnya terhadap dunia kesenian di Bali.

Pada 1954, bersama Made Darmi Rupawati, Gadung Arwati dan Gusti Ayu Manjawati, Oka Blangsinga mewakili Indonesia dalam sebuah Festival Tari di Pakistan. Ia juga pernah tampil di Hawai, Tokyo, Hongkong, Singapura bersama Sekaa Gong Sanur (1962), juga ke Swedia (Stockholm) pada tahun 1991.

Atas dedikasinya berkesenian, Ida Bagus Oka Wirjana memperoleh sejumlah penghargaan antara lain dari Panglima Daerah Angkatan Kepolisian XVI Nusa Tenggara Barat (1969), sekolah-sekolah di Kota Nara Jepang (1981), Wija-Kesuma dari Bupati Gianyar (1985), Dharma Kusuma Media dari Gubernur Bali (1987), Penghargaan dari Gubernur Sapporo Jepang (1988), Penghargaan dari Dewan Kesenian Pusat Jakarta (1999), SIWA NATARAJA dari Institut Seni Indonesia Denpasar (2008).

Pada tahun 2013 lalu sempat pula digelar di Bentara Budaya Bali sebuah acara bertajuk “Tribute to Maestro Blangsinga: 75 Tahun Berkarya”. Selain pertunjukan tari alih generasi, dimaknai pula berbagai respon kreatif dari sejumlah perupa dan fotografer.

Obituari adalah sebuah program penghormatan pada dedikasi, totalitas dan capaian para seniman lintas bidang. Selain menghadirkan kembali karya-karya masterpieces yang bersangkutan, dibincangkan juga warisan kreativitas sang seniman, berikut sumbangsihnya pada kemajuan seni budaya.

Program Obituari ini ditandai pula acara testimoni dari rekan dan sahabat, yang merefleksikan kehangatan persahabatan serta pergaulan kreatif mereka selama ini.

Bentara Budaya Bali pernah menggelar acara Obituari bagi penyair Wayan Arthawa, pelukis Wahyoe Wijaya, kurator seni rupa Thomas Freitag, koreografer dan penari I Nyoman Sura, pematung I Ketut Muja, serta kartunis dan cerpenis I Wayan Sadha, aktor teater Kaseno dan pelukis Tedja Suminar. [b]

The post Oka Blangsinga, Menari di Istana hingga Medan Perang appeared first on BaleBengong.

BEKRAF Developer Day Segera Hadir di Bali

Bekraf Developer Day Bali

Bekraf Developer Day bertujuan mendukung para pelaku ekonomi kreatif.

Dengan dukungan khususnya di subsektor aplikasi, web, IoT dan game, Bekraf Developer Day diharapkan mampu menginspirasi dengan pengalaman para developer yang telah sukses. Membuat komitmen dari industri untuk memicu semangat kemandirian kewirausahaan developer atau pengembang piranti lunak.

Bekraf Developer Day adalah acara dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia untuk mendukung tumbuh kembangnya dan mewujudkan kemandirian Bangsa melalui sektor industri kreatif (Web Developer / App Developer / Game Developer / IoT). Bekraf Developer Day sudah diadakan di kota-kota besar diseluruh Indonesia, dan sudah banyak membantu para developer muda Indonesia.

Mei ini BDD akan diadakan di Bali. Ini adalah BDD pertama yang dihadiri Google, Microsoft, IBM, dan Samsung dalam satu panggung.

Acara ini bersifat gratis dan dapat dihadiri oleh seluruh developer tanpa kecuali yang akan diadakan pada:

Jadwal Pelaksanaan 06 May 2017 07:00 s/d 06 May 2017 18:00
Lokasi Aston Denpasar Hotel & Convention Center, Jl. Gatot Subroto Barat No.283, Denpasar – Bali, Google Maps: https://goo.gl/LWmrjT
Tema dari acara Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Digital
Link Pendaftaran https://dicoding.id/e/577

Peserta akan mendapatkan update teknis dari para praktisi yang telah sukses dalam pengembangan aplikasi, web, game, dan Internet of Things yang dikemas dalam sesi inspirasi, workshop/masterclass, live coding, dan talkshow.

Tidak lupa juga akan ada banyak workshop/masterclass bagi teman-teman yang ingin belajar mengenai (Web Developer / App Developer / Game Developer / IoT) :

Talkshow Industri mengenai Dukungan Industri untuk Pengembang Lokal dari :

  • IBM Indonesia
  • Samsung Indonesia
  • Microsoft
  • Google
  • Dicoding

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Dicoding dengan dukungan Asosiasi Game Indonesia, Codepolitan, Dicoding Elite, Google, Google Developer Expert, IBM Indonesia Intel Innovator, Komunitas ID-Android, Microsoft Indonesia, Samsung Indonesia, dan perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia.

Event Bekraf Developer Day 2017 ini juga didukung oleh Komunitas Lokal :
Startup Bali (SuBali) : https://www.facebook.com/groups/subali/
Game Developer Bali (Gamedev) : https://www.facebook.com/groups/gamedevbali/
BaliJS : https://www.facebook.com/groups/923989567684064/

The post BEKRAF Developer Day Segera Hadir di Bali appeared first on BaleBengong.