Tag Archives: Agenda

Lifetime Achievement Award untuk Made Taro di UWRF 2019

Made Taro, seorang pendongeng, penulis, dan pegiat permainan tradisional Bali mendapat penghargaan sepanjang masa di Ubud Writers and Readers Festival 2019 ini.

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang ke-16 dimulai pada Rabu (23/10/2019). Pada Gala Opening ini, UWRF kembali memberikan penghargaan sepanjang masa atau Lifetime Achievement Award kepada sosok sastra terpilih. Tahun ini, penerima Lifetime Achievement Award UWRF adalah Made Taro, seorang pedongeng legendaris asal Bali yang telah berjasa dalam melestarikan cerita rakyat dan dongeng lisan khususnya di Bali.

Penghargaan ini pernah diberikan oleh UWRF kepada Sapardi Djoko Damono pada tahun 2018 dan Almarhumah NH. Dini pada tahun 2017.

Lahir pada tahun 1939 di Sengkidu, Bali Timur, Made Taro awalnya mempelajari arsitektur, tetapi menemukan panggilannya untuk menulis puisi dan dongeng anak-anak. Ia telah menulis berbagai buku mengenai dongeng tradisional, begitu pula lagu dan permainan yang terinspirasi dari kisah dongeng. Beberapa judul buku yang ia tulis antara lain Dari Goak Maling Taruh Sampai Goak Maling Pitik, Dari Ngejuk Capung Sampai Ngejuk Lindung, Mengapa Manusia Tidak Melihat Dewa?, dan Mendongeng Lima Menit. Made Taro juga telah kerap menerima penghargaan untuk karyanya dalam pelestarian dan usahanya mempopulerkan kembali dongeng-dongeng tradisional.

“Menerima penghargaan ini, saya terkejut sekaligus gembira. Namun, dalam hati saya juga bertanya-tanya apa sebabnya saya diberi penghargaan. Memang sudah 46 tahun saya berkarya, tapi mungkin sampai sekarang masih banyak kalangan masyarakat yang menganggap remeh, ujar Made Taro.

“Apa yang saya kerjakan sejak tahun 1973 ini sudah saya terbitkan dalam bentuk buku. Jika dijumlah, mungkin ada lebih dari 40 buku. Dua dari buku-buku tersebut mendapat perhatian dari luar negeri, diterbitkan di Amerika Serikat dan Thailand. Tahun ini, karya saya mendapat perhatian dari UWRF. Saya tambah semangat. Semoga dengan adanya penghargaan ini, saya menjadi lebih bersemangat berkarya. Jadi, UWRF membuat saya semangat sehingga saya lupa saya sudah tua,” tutup Made Taro yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para hadirin Gala Opening.

Secara khusus, UWRF akan menghadirkan panel diskusi mendalam bersama Made Taro dalam sesi A Lifetime of Storytelling pada Minggu (27/10/2019) pukul 15.45-17.00 WITA di Indus Restaurant. Di tengah gempuran gadget dan permainan digital yang sangat membuat ketagihan, Made Taro melakukan perjalanan ke seluruh Bali dan sekitarnya, mengajar anak-anak tentang keajaiban permainan, lagu, dan cerita rakyat nasional. Dalam panel tersebut, Made Taro akan mengisahkan hampir empat dekade perjalanannya dalam merayakan cerita rakyat dan dongeng lisan.

Setelah Made Taro menerima penghargaan, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Cynthia Dewi Oka dan ditutup dengan pementasan tari Japatuwan yang dibawakan oleh kelompok tari Bumi Bajra dengan koreografer Dayu Ani.

Sebagai satu dari lima festival sastra terbaik dunia untuk tahun 2019 versi The Telegraph UK, Festival tahun ini menghadirkan lebih dari 180 pembicara yang datang dari 30 negara. Mereka akan bergiliran tampil dalam 70 sesi diskusi menarik yang dingkat dan dikembangkan dari tema tahun ini, Karma.

Dimulai hari Rabu (23/10/19) sore, UWRF menggelar Press Call di Indus Restaurant @ Taman Baca, Ubud, bersama pembicara-pembicara utama seperti peneliti senior Human Rights Watch Andreas Harsono, penulis buku sekaligus jurnalis BBC Indonesia Famega Syavira Putri, dan penulis Zimbabwe-Amerika Serikat peraih berbagai penghargaan Novuyo Rosa Tshuma. Dalam Press Call tersebut, hadir pula Pendiri dan Direktur UWRF Janet DeNeefe dan Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana.

Pengertian Karma secara singkat dan alasan di balik pemilihan tema tahun ini dijabarkan oleh Ketut Suardana, sementara Janet DeNeefe berbagi mengenai aspek yang menjadikan UWRF semakin dikenal secara internasional. Beliau pun menambahkan beberapa saran bagi mereka yang ingin mulai menciptakan festival sastra di daerahnya masing-masing. “Saat akan memulai, Anda harus tahu kalau nantinya Anda akan bekerja keras untuk Festival,” ujarnya.

Sementara itu, Andreas Harsono memaparkan mengenai harapannya akan pelaporan yang jujur dan jurnalisme yang tidak memihak dalam industri media dengan banyaknya berita palsu yang ada. “Saya rasa, selama para jurnalis, terutama mereka yang masih muda, masih mau melakukan riset, pasti ada harapan,” tuturnya.

Famega Syavira Putri, yang telah menuliskan perjalanan daratnya dari Indonesia ke Afrika seorang diri juga berbagi momen berharga selama melakukan perjalanan. Sementara Novuyo Rosa Tshuma menjabarkan bahwa sejarah pun dapat dituturkan dalam kisah fiksi yang indah.

Pada malam harinya, UWRF resmi dibuka pada acara Gala Opening yang berlokasi di Puri Ubud. Malam Gala Opening dibuka oleh tari penyambutan dari Sekhaa Tabuh dan dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak termasuk Penglingsir Puri Ubud Tjokorda Gde Putra Sukawati dan Pendiri & Direktur UWRF Janet DeNeefe.

“Banyak orang yang berkata bahwa kita perlu sebuah komunitas untuk menciptakan sesuatu. Seperti yang Anda lihat, itulah yang telah menciptakan Ubud Writers & Readers Festival dan kami merasa sangat berterima kasih karena komunitas di sini telah medukung kami. Saya harap Anda dapat menikmati empat hari ke depan dan benar-benar merasakan apa yang ditawarkan oleh Ubud,” ujar Janet DeNeefe dalam sambutannya.

Selanjutnya, sambutan dilanjutkan oleh Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calender of Events Kementerian Pariwisata Republik Indonesia Dra. Esthy Reko Astuty M.Si dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Ardana Sukawati. Main Program UWRF dihadirkan pada hari beikutnya, Kamis (24/10/2019) setelah Festival Welcome di NEKA Museum dari Janet DeNeefe, Guy Gunaratne, dan Nirwan Dewanto.

Main Program UWRF akan hadir mulai 24-27 Oktober di tiga venue utama, yaitu Festival Hub @ Taman Baca, Indus Restaurant, dan NEKA Museum. Berbagai panel diskusi menarik dengan berbagai topik dapat dinikmati pengunjung Festival, misalnya sesi Rise of the Tiger, Imagining the Past, Precious Peatlands, dan masih banyak lagi. Selain itu akan ada pula 100 lebih program lainnya seperti Special Events, lokakarya, lokakarya budaya, pemutaran film, pameran seni, peluncuran buku, pertunjukan musik, dan lainnya.

“Ketika kami merenungkan 16 tahun terakhir dan tentang bagaimana Festival telah berkembang menjadi salah satu acara sastra terbaik dunia, kami dapat menghargai maknanya sebagai wadah untuk pertukaran lintas budaya,” ujar Pendiri & Direktur UWRF Janet DeNeefe.

“Melalui tema Karma tahun ini, kami merayakan para penulis, seniman, dan pegiat dari seluruh Indonesia dan dunia yang sangat menyadari konsekuensi dari tindakan mereka, dan bagaimana konsekuensi tersebut akan berdampak pada masa depan kita bersama,” lanjutnya.

“Jika Anda menyukai kisah yang luar biasa, jika Anda terbuka untuk ide-ide inovatif, jika Anda ingin belajar lebih banyak tentang Indonesia dan sekitarnya, atau jika Anda percaya akan kekuatan kreativitas untuk menghasilkan perubahan yang nyata, maka datang dan nikmati keajaiban yang kini membuat UWRF lebih dikenal. Bagi banyak orang, UWRF telah mengubah hidup. Hal ini berlaku untuk saya, dan saya harap hal tersebut juga berlaku untuk Anda,” tutup DeNeefe.

The post Lifetime Achievement Award untuk Made Taro di UWRF 2019 appeared first on BaleBengong.

Merayakan Seni Kontemporer dengan Ingatan-Ingatan Spekulatif

Penyelenggara dan perupa di ART BALI 2019 setelah jumpa pers.

Pameran seni rupa kontemporer tahunan di Bali kembali diselenggarakan.

Pada edisi keduanya tahun ini, Art Bali mengusung tajuk “Speculative Memories” (Ingatan-Ingatan Spekulatif). Pameran seni rupa kontemporer ini mempresentasikan karya-karya terpilih dari 32 seniman Indonesia dan mancanegara.

Pameran yang dibuka pada Sabtu (12/10/2019) ini akan berlangsung selama tiga bulan. Dari 13 Oktober 2019 hingga 13 Januari 2020.

Art Bali 2019 berangkat dari gagasan mengenai penggalian narasi di garis waktu, khususnya dari aspek kesejarahan dalam berbagai pendekatan yang ditafsir dalam ‘ingatan-ingatan spekulatif’. Gagasan ini tidak lepas dari penyajian realita yang dikonstruksi oleh metode kognitif dan empiris.

Di sisi lain, ingatan seringkali lahir dengan kenyataan yang berbeda, dicatat dan kemudian menjadi perwujudan dan pemahaman berbeda serta memungkinkan hadir kembali di satu ruang yang sama, tetapi juga seringkali melahirkan paradoks karena suatu ingatan tentang hal-hal tiba-tiba dapat menjadi sebuah kontradiksi.

Pada konferensi pers kurator menyatakan bahwa “Speculative Memories” mencoba memaknai dan mengelaborasi peristiwa di Indonesia maupun secara global. Titik beratnya adalah menggali apa yang terjadi pada konteks waktu serta hubungannya dengan narasi sejarah. Ini adalah upaya mengeksplorasi dan mencari cara berbeda untuk mereposisi atau mendeformasi narasi yang muncul di waktu lampau, hari ini, maupun hal yang prediktif di masa depan.

Dikuratori oleh Rifky Effendy dan Ignatia Nilu, pameran Art Bali kali ini menghadirkan karya-karya seni visual dalam pelbagai presentasi medium seperti lukisan, instalasi, dan karya-karya dengan media seni baru. Total karya adalah 49, terdiri dari 25 karya dua dimensi dan 5 karya tiga dimensi serta 19 karya merupakan instalasi/multimedia/video/dan media lainnya.

“Karya-karya di pameran ini melahirkan peristiwanya sendiri. Ia telah membentuk banyak realitas dengan berbagai peralihan kemungkinan. Ingatan atas waktu memiliki perspektif yang tidak melulu dinyatakan oleh kekuatan yang besar tetapi menampilkan potongan-potongan kecil yang belum sempat tergali bahkan belum ditemukan. Kita senantiasa membutuhkan upaya baru untuk memahami realitas yang terjadi hari-hari ini demi mewujudkan dan merayakan kemanusiaan,” ujar Ignatia Nilu.

“Memori bisa diterjemahkan sebagai ingatan. Ingatan ini muncul secara neurotik, tetapi hari-hari ini ingatan sudah bergeser, khususnya karena teknologi, ingatan kita tidak lagi ditentukan oleh apa yang bisa kita ingat tetapi apa yang ada di cloud. Teknologi adalah perpanjangan baru dari memori kita. Ingatan kita akan sejarah sangat ditentukan oleh bagaimana ia dituliskan di era modern terutama di era internet. Ini salah satu yang menyebabkan ingatan-ingatan atau catatan sejarah menjadi sangat arbitrer dan memunculkan neo-konservativisme baru,” tambahnya.

Karya Putu Sutawijaya Sekurus apapaun Kau tetap Garudaku (2019)

Sebagian karya-karya yang dipamerkan juga menghadirkan gugatan atas memori kolektif. “Para seniman menafsirkan dan menghadirkan wacana dalam karya-karyanya yang berkorelasi dengan persoalan-persoalan di sekitar. Wacana reliji dan toleransi sangat mendominasi karya-karya di Art Bali kali ini,” kata Rifky Effendy.

Selain itu, seniman I Wayan Sujana ‘Suklu’ misalnya, merespon tema pameran dengan mengeksplorasi memori personalnya atas memori kultural agraris. Ia menggunakan bambu sebagai medium ungkap. “Karya saya masih dalam proses. Ini adalah suatu karya yang bersenyawa dengan konsep ruang, kosmologi dan situasi sehari-hari yang ada di Art Bali. 50% bentuk yang muncul akan dipengaruhi oleh bukan hanya memori saya, tetapi juga memori tumbuhan, hingga memori teman-teman yang saya temui ketika proses penciptaan,” ujar Suklu pada jumpa pers.

Sebagai penyelenggara Art Bali, Heri Pemad Manajemen, juga menaungi pameran seni Art Jog yang diselenggarakan di Yogyakarta; sebuah peristiwa seni yang telah berlangsung selama 12 tahun berturut-turut. Art Bali dirancang sebagai salah satu pameran seni berskala besar dan bertaraf internasional di Indonesia dengan tujuan untuk membangun dan mengembangkan ekosistem seni dan budaya di Bali pada khususnya.

“Art Bali juga ditujukan untuk menginspirasi dan menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap perkembangan karya artistik seniman dan meningkatkan minat masyarakat agar selalu mengunjungi peristiwa seni termasuk seni rupa kontemporer. Art Bali boleh dikata adalah salah satu pintu masuk, yang semoga bisa memicu lahirnya peristiwa- peristiwa lain,” ujar Heri Pemad.

Selain sebagai edukasi publik, ia juga menambahkan bahwa Art Bali dimaksudkan untuk ikut mendorong pariwisata Bali. Oleh karena itu, pameran ini dilangsungkan selama tiga bulan.

Pada pembukaan pameran, ART • BALI 2019 juga berkolaborasi dengan Fashion Council Western Australia yang setiap tahunnya menggelar Perth Fashion Festival (PFF). Salah satu agenda PFF adalah Asia Cultural Exchange yang mewadahi pertukaran budaya antara berbagai negara melalui fashion sebagai platform untuk mengkomunikasikan hubungan yang kuat antara kultur dan inovasi.

Pada pembukaan Art Bali, Asia Cultural Exchange menampilkan fashion show dari dua brand Indonesia (Ali Charisma dan Quarzia) serta dua brand Australia (33 POETS dan REIGN THE LABEL). Selain fashion show, melalui tema “Fashion: a discussion about selfie in the art exhibition” mereka juga akan menampilkan sebuah performance dengan membawakan konsep tentang pengaruh selfie (swafoto) dan media sosial terhadap budaya modern.

“Program ini ingin memberi ruang kolaborasi kepada desainer Indonesia dan Australia. Selain itu diharapkan bisa ikut memacu kreativitas dan ekonomi di dua negara,” tutur Gwen The, wakil Indonesia di Fashion Council Western Australia.

Setelah malam pembukaan, berlaku tiket masuk untuk pameran antara lain Rp 150.000 untuk warga negara asing, Rp 100.000 untuk warga negara Indonesia dan pemegang Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS), serta Rp 50.000 khusus hari Minggu untuk pemilik KTP Bali dan pelajar Bali. Cashback 50 persen bila menggunakan DANA Indonesia e-money. [b]

The post Merayakan Seni Kontemporer dengan Ingatan-Ingatan Spekulatif appeared first on BaleBengong.

Minikino Film Week yang Kian Memperluas Jaringan

Minikino Film Week akan kembali diadakan kelima kalinya pada 5-12 Oktober 2019. Foto Panitia MFW.

Festival ini memperlihatkan jaringan kerja yang makin kuat.

Minikino Film Week (MFW) Bali International Short Film Festival akan kembali digelar seminggu penuh, 5-12 Oktober 2019 nanti. Pada tahun kelima, festival film pendek internasional yang diinisiasi Minikino ini memperlihatkan jaringan kerjanya yang semakin kuat di Asia. Bahkan kali ini diperluas sampai Eropa.

Tahun ini, Minikino menampilkan beberapa program dari Image Forum Festival di Jepang, Clermont-Ferrand International Short Film Festival (Prancis), Tampere Film Festival (Finland) dan juga La Guarimba Film Festival (Italia). Hal ini menindaklanjuti kunjungan kerja Edo Wulia, Direktur Minikino di Short Film Market CFISFF dan menjadi panelis dalam diskusi budaya di La Guarimba FIlm Festival.

Sebaliknya, program film pendek eksperimental Indonesia atas seleksi Minikino juga diberi kehormatan untuk tayang di Tokyo, Jepang dalam rangkaian 33rd Image Forum Festival. Sebelumnya, Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino juga diundang menjadi juri dalam sesi kompetisi film pendek eksperimental Asia Timur.

Berbagai kemungkinan pengembangan kerja sama di masa depan juga tetap dipikirkan.

Tahun ini Minikino juga resmi menjadi anggota Short Film Conference, satu-satunya lembaga konferensi internasional untuk jaringan kerja global film pendek. Direktur Festival Minikino Film Week 5 Edo Wulia mengungkapkan, jaringan kerja antar-festival ini penting sebagai pondasi bagi bentuk kerja sama lain yang mutual dan memberikan manfaat bagi semua pihak.

Dengan pengakuan Short Film Conference, Minikino ikut menentukan, membantu, serta berkembang bersama festival-festival film pendek internasional lain di dunia. Lebih jauh lagi, membawa informasi tentang kondisi di Asia Tenggara dan Indonesia khususnya untuk ikut diperhatikan dalam konferensi dan penyusunan kode etik festival.

Lokasi acara Minikino Film Week tahun ini bekerja sama dengan 12 lokasi yaitu 9 titik di berbagai penjuru Pulau Bali berfungsi sebagai Micro Cinema dan 3 (tiga) lokasi lainnya menjadi Pop-Up Cinema.

Tahun ini, festival lounge bertempat di MASH Denpasar, Jalan Pulau Madura no. 3, Denpasar. Di lokasi ini meja informasi, registrasi, titik temu serta perpustakaan film pendek diaktifkan. Berbagai program pemutaran serta presentasi akan dilaksanakan di ruang Art-House Cinema.

Seluruh lokasi selengkapnya: Alliance Francaise Bali, Irama Indah Music Centre, MASH Denpasar, Rumah Sanur Creative Hub, Vivere Gallery & Kolega, Uma Seminyak, Umah Nusa Dua, Omah Apik Pejeng, dan Rumah Film Sang Karsa Buleleng.

Sementara Pop Up Cinema atau lebih akrabnya disebut Layar Tancep, akan digelar di Banjar Kawan, Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung; Wantilan Desa Pedawa, Buleleng; dan Dusun Senja, Jembrana.

Jadwal lengkap juga sudah dibuka kepada umum melalui website https://minikino.org/filmweek

Pop-up cinema alias layar tancap ala MFW digelar di Lombok. Foto Panitia MFW.

Berbagi Pengalaman

Direktur Program Minikino Film Week 5 Fransiska Prihadi memaparkan, ada lebih dari 300 film pendek yang tersebar dalam 46 program film pendek. Ada 7 (tujuh) program tamu, 29 program Internasional, 10 program S-Express 2019, serta 10 program Indonesia Raja 2019.

Tahun ini, program MFW 5 Made in Indonesia mempersembahkan karya sutradara Indonesia Lucky Kuswandi yang secara konsisten menampilkan gambaran Indonesia kontemporer dalam medium film pendek.

Selain pemutaran film pendek, MFW5 juga memberi perhatian lebih pada divisi pelatihan dan pendidikan, dengan kehadiran nara sumber dari dalam negeri maupun mancanegara. Sebagian dukungan biaya perjalanan para tamu ini berasal dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Republik Indonesia.

MFW5 memiliki program workshop akting bersama Putri Ayudya dan upcycle fashion untuk tas festival tahun ini bersama Myra Juliarti & Eta Sipayung. Forum Diskusi meliputi topik tentang pentingnya festival film, preservasi dan promosi pustaka film oleh Sanchai Chotirosseranae dari Thai Film Archive dan Kiki Muchtar yang menggeluti bidang preservasi film di Indonesia.

Diskusi seni sulih bahasa dan suara dalam film bersama Tim Subtitling Minikino dan Teater Kalangan, sejarah proyektor di abad 18 dan 19 yang dipaparkan oleh Roger Gonin dari Prancis, berbagai pengalaman pembuatan film mempertemukan pembuat film lokal, nasional dan internasional dalam satu forum, serta masa depan nilai ekonomi film pendek.

Talks atau sesi presentasi menghadirkan variasi topik dari mulai talkshow pemberi inspirasi dari pengalaman seniman multidisiplin Paul Amron Yuwono, pembahasan tentang festival film palsu oleh Jukka-Pekka Laakso dari Finlandia, literasi film dibahas bersama John Badalu, produksi film di Indonesia oleh Mandy Marahimin.

Memperjuangkan nilai kemanusiaan untuk transgender oleh pembuat film dokumenter transgender perempuan Anggun Pradesha, kekuatan desain visual dalam kasus Petualangan Menuju Sesuatu, serta presentasi dari Tampere Film Festival dan pasar film pendek Clermont-Ferrand International Short Film Festival.

Fringe events atau acara di luar program utama tahun ini juga menghadirkan yukhenna.id

Bumi Setara yang mempromosikan inklusivitas dan hak atas pendidikan kesehatan reproduksi seksual untuk anak dan remaja, serta Viu Pitching Forum for Short Films.

Tahun ini telah terlaksana pula serangkaian acara pra-festival. Workshop One-Shot Filmmaking di Desa Pedawa pada 1-2 Juni, Youth Jury Camp pada 21-23 Juni di MASH Denpasar, kemudian aktivitas kompetisi nasional Begadang Filmmaking Competition pada 7-8 September lalu.

Sebanyak 22 tim produksi dari berbagai penjuru Indonesia hingga di filmmaker Indonesia yang sedang berada di New York mengikuti Begadang Filmmaking Competition. Telah terpilih 4 film pendek yang masuk sebagai nominasi untuk memperebutkan juara utama dalam Begadang Filmmaking Awards 2019. Pemenang diumumkan pada International Awarding Night MFW5.

Tahun ini MFW 5 membuat Short Film Market sebagai salah satu sub-event yang menyediakan fasilitas untuk meeting, berjejaring dan saling mempromosikan aktifitas film pendek, berusaha merangsang interaksi antar profesional dalam produksi, distribusi dan diseminasi film. Short Film Market ini meliputi Short Film Library yang bisa diakses khusus oleh pemegang festival pass berlokasi di MASH Denpasar, Pameran Poster Film, MFW Open Screen yang terbuka untuk umum dan dihadiri langsung oleh para pembuat film, Media Center & Gathering, serta Filmmaker Forum.

Pada 31 Oktober sampai 5 November 2019 seluruh rangkaian MFW akan diakhiri dengan kegiatan pasca-festival berupa workshop film dan pop-up cinema yang diselenggarakan di Lombok, di lokasi pasca gempa 2018 lalu atas dukungan Purin Pictures dan Rotary Disaster Relief D3420.

Direktur Eksekutif Minikino Film Week 5 Made Suarbawa kembali menekankan bahwa, Minikino Film Week sejak awal dirancang sebagai kegiatan yang masuk ke dalam keseharian masyarakat, di mana layar-layar film dikembangkan untuk membangun kembali suasana menonton film bersama, tempat bertemu untuk membicarakan pengalaman menonton, dan merangsang sikap kritis terhadap apa yang baru saja mereka tonton.

Seluruh rangkaian program dapat dinikmati bebas biaya oleh umum dengan panduan usia penonton untuk tiap program. Festival Pass Supreme atau Mezzo juga tersedia selama 5-11 Oktober 2019 di Festival Lounge MFW 5 – MASH Denpasar, menawarkan akses prioritas untuk program edukasi serta Short Film Library serta beberapa event khusus lainnya. [b]

The post Minikino Film Week yang Kian Memperluas Jaringan appeared first on BaleBengong.

Lebih dari 170 Program Menarik di UWRF 2019

Kurang empat minggu lagi, UWRF 2019 akan kembali diseleggarakan.

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang dijadwalkan pada 23-27 Oktober ini adalah salah satu dari lima festival sastra terbaik dunia untuk tahun 2019 versi The Telegraph UK. Kali ini UWRF mengusung tema “Karma”.

Festival yang diprakarsai Yayasan Mudra Swari Saraswati ini kian diminati banyak kalangan. Bukan hanya para pencinta sastra, penggemar seni, dan pemerhati budaya, tetapi juga warga yang tertarik isu-isu global, politik, hingga lingkungan. Mereka pun menghadiri pusat Ubud yang asri untuk bergabung dengan ratusan pembicara UWRF.

Tahun ini, UWRF akan menyambut lebih dari 180 pembicara dari 30 negara. Ada lebih dari 170 program seperti diskusi mendalam, acara spesial, lokakarya penulisan dan budaya, peluncuran buku, pemutaran film, pameran seni hingga pertunjukan musik. UWRF menjadi wadah tepat bagi pengunjung Festival yang ingin berjumpa dan mendengarkan kisah-kisah luar biasa para penulis dan pembicara dari seluruh dunia.

Mereka juga bisa mengasah kemampuan menulis dan bidang kreatif lainnya melalui berbagi lokakarya, mengagumi beragam instalasi seni, serta larut dalam alunan harmoni para musisi favoritnya. Lebih intens lagi, pengunjung Festival juga dapat menghadiri peluncuran berbagai buku terbaru dan berkesempatan untuk berbincang dengan dengan sosok-sosok hebat di balik film terbaik Indonesia seusai pemutaran film.

Dari Main Program hingga Live Music & Arts, para pengujung akan dapat menikmati deretan program UWRF yang akan diselenggarakan di puluhan lokasi yang tersebar di Ubud. Nantinya, ada tiga lokasi utama penyelenggaraan Main Program yaitu Festival Hub @ Taman Baca, Indus Restaurant, dan NEKA Art Museum. Ketiganya berlokasi di Jl. Raya Sanggingan, Ubud, Bali.

Main Program UWRF akan dimulai pada Kamis (24/10/2019) dengan tiga panel berbeda. The Price of Democracy akan menelisik harga yang harus dibayar demi demokasi. Asia Pasific Futures on the Page, Stage, and Screen mengenai masa depan sastra Asia Pasifik. Adapun Karma and Kindness mengenai hubungan antara karma dan kebaikan.

Selain tiga panel diskusi tersebut, masih banyak panel diskusi lain seperti Indonesian Emerging Writers 2019 yang menghadirkan kisah lima penulis emerging UWRF terpilih, hingga Islam Today di mana para panelis akan berbagi wawasannya mengenai persimpangan agama, identitas dan politik.

Mendunia

Berbagai pembahasan berbobot menarik untuk didengar, dibahas, dan ditelaah, akan mengisi ruang-ruang diskusi UWRF. Pengunjung Festival dapat bergabung dalam sesi Rise of the Tiger yang membicarakan hal-hal yang diperlukan Indonesia untuk menjadi ‘harimau Asia’ berikutnya. Life After #MeToo yang membahas kehidupan setelah gerakan #MeToo yang mendunia. Juga Precious Peatlands yang mempelajari upaya konservasi, perlindungan, dan restorasi lahan gambut, serta bagaimana sastra berperan dalam menghubungkan manusia dengan alam.

Selain itu, pengunjung Festival juga dapat menikmati tiga panel tentang Bali. Bali’s Art Activist bersama para pegiat seni Bali. How Can Bali Survive? yang membahas langkah-langkah untuk bertahan dari perubahan sosial, budaya, dan ekologis yang masif di Bali. Juga Bali’s Poet Priests yang merefleksikan pengaruh dan peninggalan para kawi-wiku (penyair-pendeta), terutama dalam penggunaan sastra sebagai media untuk mengasah pikiran dan menenangkan jiwa.

Di UWRF, para penikmat film dapat bergabung dalam sesi Indonesian Cinema as Soft Power untuk membedah masa depan film-film dalam negeri bersama sosok-sosok ternama perfilman Indonesia. Para pencinta fesyen pun mendapat tempat untuk bergabung dalam sesi Sartorial Art for Impact di mana para panelis akan berbagi kisah-kisah luar biasa mengenai tekstil dan belajar seni berbusana yang berguna bagi dampak sosial.

Sementara itu, para pencinta sastra bisa ikut larut dalam sesi Imagining the Past bersama para panelis yang telah terbiasa menenun fiksi berdasarkan sejarah. Juga panel yang tidak boleh dilewatkan yaitu Made Taro: A Lifetime of Storytelling, yang menghadirkan pendongeng legendaris Bali Made Taro untuk menceritakan kisahnya dalam merayakan cerita rakyat dan dongeng lisan selama hampir empat dekade.

Pengunjung Festival juga dapat menikmati beberapa Special Events. Misalnya Arts of the Archipelago di Padma Resorts Ubud yang akan yang akan menghadirkan pianis Indonesia berbakat, Ananda Sukarlan. Ada pula dua Special Events yang melibatkan Yotam Ottolenghi, penulis sekaligus chef asal Inggris yang populer dengan buku masak terbarunya SIMPLE. Ia akan hadir dalam Special Events bertajuk A Foodie’s Lunch with Yotam Ottolenghi di Casa Luna dan Cocktail Hour with Yotam Ottolenghi di Indus Restaurant.

Bagi pengunjung Festival yang ingin mengasah keterampilan dalam bidang penulisan dan bidang kreatif lainnya, UWRF menyediakan berbagai lokakarya seperti Mengabadikan Kisah Kelana bersama Famega Syavira Putri, Writing and Performing Stand Up Comedy bersama James Roque, hingga Investigative Writing bersama Pailin Wedel dan Patrick Winn.

Jika lebih tertarik dengan lokakarya budaya, Festival juga menghadirkan sederet pilihan seperti Batik Painting atau lokakarya membuat batik di Nirvana Pension, Herb Walk bagi pengunjung Festival yang ingin mengenal kekayaan alam terbaik yang tumbuh liar di sekitar kawasan Ubud, maupun lokarya budaya paling populer UWRF Culinary Jalan-Jalan.

Anak-anak dan Remaja

Tidak terlewat, UWRF menyediakan program untuk anak-anak dan remaja dalam Children & Youth Program. Dari 15 program Children & Youth Program tahun ini, beberapa di antaranya yaitu belajar proses pembuatan komik superhero dalam sesi Create Your Own Superhero bersama anggota Bumilangit Comics Rizqi M. Mosmarth dan belajar jurnalistik dalam sesi Young Journalists Club bersama jurnalis The Jakarta Post Sebastian Partogi.

Selain itu ada pula belajar membuat boneka mini dari bahan daur ulang dan merekamnya dalam cerita digital pendek dalam sesi Sampah Puppets bersama Super Funky Artists. Juga dan belajar dasar anyaman bambu dengan kertas daur ulang untuk membuat ogoh-ogoh dalam Eco-Friendly Ogoh-Ogoh bersama seniman Marmar Herayukti.

Semua sesi Children & Youth Program ini merupakan program tidak berbayar. Meski demikian, peserta tetap harus melakukan registrasi terlebih dulu melalui situs UWRF.

UWRF juga akan memuaskan hasrat para pencinta buku dengan menggelar peluncuran buku. Beberapa di antaranya adalah Nagabumi III: Hidup dan Mati di Chang’an oleh Seno Gumira Ajidarma, Sambal Nation oleh Bara Pattiradjawane, Fall Baby oleh Laksmi Pamuntjak, dan UWRF19 Bilingual Antology yang merupakan buku antologi yang memuat karya lima penulis emerging UWRF19 dan karya sepuluh penulis pilihan tim kurator UWRF.

Selain keempat buku tersebut, masih banyak buku lain yang akan diluncurkan dalam rangkaian acara UWRF. Tema dan jenis bukunya pun beragam, dari perjalanan hingga kuliner, novel hingga buku mewarnai.

Pengunjung bisa menikmati pameran seni Gundala: A 50 Year Journey yang akan memamerkan karya seni Gundala dari Hasmi, pencipta asli, dan banyak seniman muda yang sekarang meneruskan warisannya, Karma Phala yang akan menampilkan karya seni bertajuk karma dari pembuat karya seni UWRF 2019, Samuel Indratma. Tidak terlewat, pameran seni Maladjusment yang menyatukan karya-karya utama dari seniman wanita Arahmaiani, I GAK Murniasih, dan Mary Lou Pavlovic. Maladjusment mengeksplorasi kekerasan terhadap perempuan dan feminisme antar budaya.

Selepas seharian menikmati sajian menarik dari UWRF, para pengunjung Festival juga akan dimanjakan oleh After Dark Events yang terdiri dari Film Program, Festival Club @ Bar Luna, dan Live Music & Arts.

Pengunjung Festival dapat menikmati film Kucumbu Tubuh Indahku (2018). Film karya sutradara legendaris Garin Nugroho ini mengeksplorasi perjalanan batin berliku seorang penari Lengger Lanang. Baru-baru ini film tersebut dipilih oleh Indonesian Academy Awards 2019 sebagai film yang berhak mewakili Indonesia ke Academy Awards ke-92 untuk kategori International Feature Film.

Ada pula pemutaran film Aruna dan Lidahnya (2018). Film ini diadaptasi berdasarkan novel karya Laksmi Pamuntjak. Selama pemutaran film Aruna dan Lidahnya, penonton bisa mencicipi sejumlah hidangan khusus kreasi Chef Bara Pattiradwajane yang terilhami oleh novel dan film tersebut.

UWRF juga menghadirkan film-film spektakuler lainnya seperti 27 Steps of May (2018) yang disutradarai oleh Ravi Bharwani dan ditulis oleh Rayya Makarim. Ada juga The Woven Path: Perempuan Tana Humba (2019). Film dokumenter dua bagian karya sutradara Lasja F. Susatyo dan produser Olin Monterio yang mengisahkan perjuangan dan impian para wanita di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Seusai pemutaran film, UWRF akan menghadirkan sesi tanya jawab dengan sosok-sosok di balik pembuatan film-film itu. Misalnya sutradara, penulis naskah, produser dan lainnya.

Untuk Festival Club @ Bar Luna, ada beragam diskusi kasual dengan tema-tema menarik. Di antaranya Didiet Maulana: Indonesian Chic bersama perancang bertalenta Didiet Maulana, On The Road Again dengan sederet penjelajah dunia terbaik UWRF yang membawa kisah-kisah perjalanan yang mengesankan dan menegangkan, hingga A Shared Past and Future bersama empat pendongeng dari Belanda dengan sejarah keluarga di Indonesia, di mana mereka mengeksplorasi pengaruh akar Indo-Belanda, kolonialisme dan migrasi dalam karya mereka.

Live Music & Arts di UWRF juga tidak kalah seru. Tahun ini, Festival meghadirkan kembali acara tahunan Poetry Slam atau adu berpuisi yang selalu mendebarkan dan penuh kejutan. Piknik Puisi dan Ekspresi juga masih tersedia sebagai wadah para perangkai kata untuk mempertunjukkan karya-karya terbaiknya.

Tahun ini UWRF juga akan menghadirkan Simi’s Circus yang menghadirkan keajaiban sirkus dari Simi Genziuk, Poétique Ensemble berupa kolaborasi musik dan puisi yang menakjubkan, Moe Clark: Poetic Transformation persembahan artis pertunjukan Métis, Moe Clark, yang menganyam pertunjukannya dari lirik multibahasa, dan masih banyak lagi.

Sebagai penutup perhelatan festival sastra ini, UWRF akan menghadirkan penampilan terbaik dari Akala, Irvine Welsh, The Hydrant, dan Celtic Room. Closing Night Party UWRF merupakan acara kesenian yang penuh dengan musik, tari, dan apresiasi, yang dapat dinikmati pukul 19.00-23.00 WITA pada Minggu (27/10/19) di Blanco Renaissance Museum.

Selain kategori program yang telah disebutkan di atas, ada pula program Fringe Events yang diselenggarakan di luar Ubud dan Satellite Events yang diselenggarakan di luar Pulau Bali. Informasi selengkapnya mengenai nama pembicara dan deretan program UWRF yang berbayar maupun tidak berbayar dapat diakses melalui situs http://www.ubudwritersfestival.com. [b]

The post Lebih dari 170 Program Menarik di UWRF 2019 appeared first on BaleBengong.

Menghormati “Ibu” lewat Pameran Ibu Rupa Batuan

Batubulan adalah tempat lahirnya beragam kesenian.

Seniman lukis dan topeng Batuan yang tergabung dalam Kelompok Baturulangun berpameran bersama di Bentara Budaya Bali (BBB). Pameran bertajuk “Ibu Rupa Batuan” ini menghadirkan karya-karya lintas generasi ini adalah sebentuk penghormatan terhadap ibu.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr I Wayan Adnyana membuka pameran pada Minggu (08/09), pukul 18.30 WITA di BBB. Pameran akan berlangsung hingga 18 September 2019.

Pameran yang dikuratori Wayan Jengki Sunarta ini menampilkan 76 karya, terdiri dari 52 seni lukis dan 24 seni topeng. Terkait tematik, Jengki menjelaskan, Ibu Rupa Batuan merujuk pada konteks harfiah sekaligus juga filosofis. “Ibu” menjadi metafora atau simbolisasi terkait spirit penciptaan, olah batin, untuk menghasilkan suatu karya yang memesona dan membuka ruang renung bagi khalayak pecinta seni.

“Ibu adalah kosa kata yang sangat akrab dengan kehidupan kita. Secara biologis, ibu adalah sosok yang melahirkan, mengasuh, dan membesarkan kita,” ungkapnya.

Menurut Jengki ikatan batin antara ibu dan anak adalah suatu keniscayaan yang tidak luntur digerus waktu. Ibu bisa juga dimaknai sebagai suatu pusat, ikatan, atau muasal. Pada tataran yang lebih luas, lanjutnya, bumi (tanah dan air) sering disebut “ibu pertiwi” di mana setiap penghuninya saling terhubung dalam satu kesatuan kosmologi.

Sebagai wilayah budaya, Desa Batuan bisa disebut ibu yang melahirkan dan memelihara aneka ragam kesenian yang bisa dinikmati hingga kini. Selain seni lukis, di Batuan juga lahir seni pahat topeng, ukiran, dan dramatari Gambuh. Bahkan seni lukis tradisional gaya Batuan telah ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2018.

Seniman generasi tertua adalah Ida Bagus Made Widja (1912-1992), Ida Bagus Made Togog (1913-1989), Nyoman Ngendon (1920-1947), I Made Djata (1920-2001). Sementara generasi termuda adalah I Wayan Aris Sarmanta (1995). Dari perbedaan generasi tersebut, tecermin bagaimana perkembangan serta pertumbuhan seni lukis dan topeng di Desa Batuan.

Karya sekitar 50 pelukis dari Batubulan dipamerkan, termasuk Ketut Tomblos (1922-2009) hingga Dewa Made Virayuga (1981).

Menurut Jengki, pameran ini membuktikan bahwa seni tradisi di Batuan masih tetap tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni tersebut diwariskan secara masif dari generasi ke generasi.

“Upaya-upaya pewarisan itu sangat memungkinkan terjaganya spirit penciptaan seni di Desa Batuan,” ujar Jengki. [b]

The post Menghormati “Ibu” lewat Pameran Ibu Rupa Batuan appeared first on BaleBengong.