Tag Archives: Agenda

Merayakan Solidaritas dan Kabar dari Akar di Anugerah Jurnalisme Warga 2018

Klik untuk melihat slideshow

Apa yang bisa melawan berita bohong (hoaks) dan penyebar kebencian? Salah satunya memproduksi dan menyebarkan konten-konten yang lebih berguna untuk orang banyak dan diri sendiri.

Sebanyak lima tim anak muda Bali berusia di bawah 25 tahun menerima beasiswa Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2018 untuk mendokumentasikan kabar hutan, kaki gunung, laut, dan kebun dari sejumlah desa di Bali.

Koordinatornya adalah empat perempuan muda Ni Luh Putu Anjany Putri Suryaningsih, Made Daivi Candrika Seputri, Luh Putu Sugiari, Ni Luh Putu Murni Oktaviani, dan satu laki-laki Nyoman Gede Pandu Nujaya. Semuanya mahasiswa kecuali Anjany siswa SMAN 3 Denpasar.

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW), sebuah apresiasi untuk pewarta warga di Indonesia merayakan semangat warganet pada malam apresiasi Minggu (11/11) malam di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali. Ada bedah karya penerima beasiswa liputan mendalam yang menyelesaikan karya multiplatform tentang isu pertanian, gunung, laut, pariwisata berkelanjutan, dan tanggap bencana. Mereka adalah 5 tim anak muda berusia 20-30 tahun yang terpilih dari puluhan usulan.

Sebelumnya para pewarta warga di mana saja diajak mengirim usulan beasiswa liputan mendalam total Rp 12,5 juta dengan tema Mendengar Kabar dari Akar. BaleBengong, portal jurnalisme warga sejak 2007 ini bekerja sama dengan sejumlah kolaborator memberi apreasiasi untuk warga dan warganet melalui AJW.

Ini adalah AJW yang ketiga, sejak diluncurkan pada 2016. Tahun ini berbeda karena warga diundang mendaftarkan diri atau tim untuk mendapat beasiswa liputan mendalam. Jika terpilih sebagai penerima beasiswa, ada empat topik yang bisa dikembangkan menjadi aneka karya dalam bentuk tulisan, video pendek, esai foto, infografis, ilustrasi, dan lainnya.

Sejumlah lembaga mendukung sebagai kolaborator pemberian beasiswa AJW yakni lembaga-lembaga pemberdayaan yang bekerja di akar rumput. Mereka adalah Conservation International (CI) Indonesia, WWF Indonesia, Yayasan Kalimajari, dan Mongabay Indonesia.

Topik liputan beragam seperti petani kakao lestari Jembrana menembus manisnya pasar dunia. Kedua, Nyegara gunung melestarikan lingkungan gunung dan perairan di Karangasem. Ketiga, Signing Blue, wadah bagi pelaku wisata untuk mewujudkan pariwisata bahari yang bertanggung jawab di Bali, dan keempat tentang kesiapan tanggap bencana warga di Pulau Dewata.

Pada malam apresiasi AJW ini, warga diajak bergabung untuk Meplailanan (main bersama), Megibung (makan bersama tradisi Bali), Bedah Karya Beasiswa, HUT ke-11 Bali Blogger Community, dan Musik Bersuara bersama band Zat Kimia. “Kami senang terlibat di AJW, untuk pertama kali kami diundang mendiskusikan karya,” kata Ian J. Stevenson, vokalis Zat Kimia, band yang menyuarakan literasi digital melalui lagu Candu Baru dalam albumnya yang baru dirilis tahun ini.

Ada juga lapak dan kopdar bersama petani dan produsen sembako Bali seperti garam Amed, beras merah Tabanan, gula merah Klungkung, minyak kelapa Karangasem, dan olahan pangan sehat dari kelompok perempuan Dewi Umbi.

BaleBengong adalah portal jurnalisme warga di Bali. Sejak tahun 2007, BaleBengong hadir sebagai media alternatif di tengah derasnya arus informasi media arus utama. Dalam portal ini warga bebas menulis atau merespon sebuah kabar. Warga tidak hanya menjadi obyek, tetapi subyek berita.

Portal yang dikelola Sloka Institute dan Bali Blogger Community ini memuat berbagai topik mulai dari lingkungan, gaya hidup, sosial budaya dan lain-lain. Selain portal, BaleBengong juga aktif berbagi informasi melalui akun Twitter dan Instagram @BaleBengong maupun Facebook Page @BaleBengong.id. Kami membagi dan meneruskan setiap informasi yang dianggap layak untuk diketahui warga. Kami juga menjadi wadah warga untuk berdiskusi dan berbagi informasi.

Juni tahun ini, BaleBengong, media jurnalisme warga berbasis di Bali, merayakan ulang tahun kesebelas. Perjalanan hingga tahun kesebelas menjadi pencapaian tersendiri bagi media yang dikelola oleh komunitas secara nirlaba. “Dia menunjukkan bahwa publik pun bisa mengelola media berkualitas dan independen tanpa harus terikat pada modal kapital besar,” kata Anton Muhajir, Pemimpin Redaksi.

Sejumlah penelitian tentang BaleBengong menunjukkan bahwa media ini bisa menjadi ruang bagi warga untuk berekspresi secara bebas. Di sisi lain, warga juga bisa berbagi informasi terutama mengenai isu-isu berbeda dengan media arus utama terutama di Bali. Sebagai media jurnalisme warga, BaleBengong bisa menunjukkan bahwa publik bisa mengelola media sendiri dengan informasi-informasi yang bersumber dari warga biasa.

Pencapaian dan posisi itu menjadi berarti ketika wacana media arus utama ataupun media sosial dipenuhi dengan bahaya tentang berita dusta (hoax). Berita-berita dusta memenuhi ruang-ruang perbincangan publik seperti grup pesan ringkas dan media sosial. Mereka tak hanya menyebarkan berita-berita yang tak bisa dipertanggungjawabkan, tetapi pada saat yang sama juga membangun kebencian berbasis identitas pada kelompok lain.

Munculnya media jurnalisme warga sedari awal adalah menyediakan ruang bagi warga agar bisa memproduksi informasi-informasi alternatif yang bisa dipertanggungjawabkan. Kami percaya bahwa melawan maraknya berita-berita dusta tidak bisa dilakukan hanya dengan membangun kesadaran tapi juga dengan mengajak warga untuk memproduksi informasi itu sendiri dan menyediakan ruang bagi mereka.

Pada AJW 2016 dengan tema Menyuarakan yang tak terdengar diikuti 44 karya (teks, foto, video, ilustrasi). Kemudian AJW 2017 dengan tema Bhinneka Tunggal Media, Merayakan Keberagaman Indonesia melalui Jurnalisme Warga diikuti 35 karya tersebar di 12 media komunitas selain BaleBengong (Bali) adalah Lingkar Papua (Papua), Kampung Media (NTB), Kabar Desa (Jawa Tengah), Plimbi (Bandung), Kilas Jambi (Jambi-Sumatera), Tatkala (Buleleng-Bali), Nyegara Gunung (Bali), Nusa Penida Media (Klungkung-Bali), Sudut Ruang (Bengkulu), Peladang Kata (Kalimantan Barat), dan Noong (Bandung). BaleBengong melibatkan 11 media alternatif dari seluruh Indonesia. Pewarta warga bersaing di tingkat nasional.

Makin banyak informasi yang jernih dan dari sekitar kita, makin mudah memetakan masalah dan solusinya. Agar akses internet berguna bagi kebaikan dan pemberdayaan.

Foto-foto: Wayan Martino

 

The post Merayakan Solidaritas dan Kabar dari Akar di Anugerah Jurnalisme Warga 2018 appeared first on BaleBengong.

Ini Zat Kimia, Awas Terpapar Racunnya (Sebuah cerita kolaborasi netijen)

Stoned Faces Don’t Lie pada sebuah malam yang jauh terentang ke sekitar empat tahunan lalu saya temukan di platform Soundcloud. Nama bandnya adalah Zat Kimia. Klak klik sana sini bertemulah nama Ian J. Stevenson. Akunnya di platform itu adalah Wayan Jos.

Di sana, lagu berikutnya yang jadi favorit adalah Di sana Di mana dan Sandiwara Paranoia. Halaman itu membawa saya bergeser ke fanpage Zat Kimia, merunut tiap jadwal manggung, info hingga lagu-lagu yang dilepas ke media sosial. Pertemuan penggemar dan idolanya terjadi, di satu panggung di Antida dan gigs gigs lain. Stoned Faces Don’t Lie memikat saya lagi, ia seperti cinta pertama.

Jong, si seniman teater yang beken dengan Teater Kalangan-nya, jejingkrakan tak keruan ketika Zat Kimia main di Rumah Sanur. Entah kapan saya lupa. Setelahnya doi membuat tulisan panjang, isinya analisis lirik lagu Euforia Ku Hampa. Doi mendedah baris per baris, rinci lengkap dengan dagelan berbahasa Balinya juga kutipan kutipan penyair. Curcolnya bisa disimak di sini. Seorang penggemar berat.

Euforia Ku Hampa, adalah lagu kelima di album Candu Baru. Lagu soal patah hati? Barangkali. Album Candu Baru dilepas pada akhir September 2017. Ada 10 lagu menggenapi album ini. Sayang Stoned Faces Don’t Lie sang cinta pertama, tidak nongol di album ini atau lagu-lagu favorit lainnya. Materi di Album Candu Baru sempat dikerjakan bareng Mark Liepmann karib Ian, juga Onki personil gitar Zat Kimia sebelum Bimo.

Ada juga Dadang-Dialog Dini Hari yang turut menulis lirik lagu Frekuensi bareng Ian. Beberapa lagu sudah dilepasdengarkan ke publik jauh sebelum album ini dirilis. Dalam Diam salah satunya, lagu yang merespon kearifan Nyepi. Lalu Feromon, lagu yang sempat dijagokan dalam perhelatan Rock In Battle Super Music.ID. Reaktan adalah lagu yang muncul di barisan pertama. Intro yang catchy. Ada ketukan drummer Kiki yang padat, lalu suara serak Ian yang harmonis dengan permainan gitar Bimo dan petikan bass Edi.

“Terinspirasi dari Grand Design-nya Stephen Hawking”, kata Ian soal buku yang dibacanya. Reaktan, lagu yang lirik-liriknya berisi kata kata semacam: semesta vibrasi bereaksi, terinspirasi pasca Ian membaca buku sang penulis kosmologi cum fisikawan beken itu. Dan lanjut Ian, ada bantuan dari buku The Secret juga. Doi juga memfavoritkan film Interstellar, The Godfather, dan Kungfu Boy.

 

Zat Kimia menerima ajakan bersua para relawan Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) BaleBengong awal pekan lalu. Empat lelaki itu, yang biasanya tak banyak bicara di atas panggung, ternyata senang ngobrol. Bercerita soal Zat Kimia, pengalaman personal, dan inspirasi lagu-lagu mereka. Mulai dari jaket merah Ian di Kaimsasikun yang ala-ala emo, video klip Ian menuntun sepeda di klip Dialog Dini Hari yang berjudul Pagi, Mark Liepmann, Dewiq, Dua Lipa, Guruh Gypsi hingga tips membuat bubur bayi dan pesan jauhi susu formula dari Edi, bapak baru :))

Zat Kimia buat saya pribadi lekat dengan Reaktan, Candu Baru, Frekwensi, Feromon dan Ennui. Mereka seperti Creep yang mengingatkan pada Radiohead atau Don’t Look Back Angernya Oasis. Everlasting.

Zat Kimia, seperti tagline mereka ada dimana-mana akan mengada bagi kita penikmat musik di akhir pekan ini. Wayan Jos aka Ian, Bimo, Edi dan Kiki, pada Minggu, 11 November di Taman Baca Kesiman akan ngobrol lebih intim dan main secara live. Ayo mention #TanyaZatKimia di akun twitter dan IG @BaleBengong. Mari sama-sama menikmati daya eksplosif Zat Kimia.

Ini adalah kisah rintisan yang dimulai dari @AsthaDitha. Silakan kirim cerita versimu juga tentang Zat Kimia, kita kolaborasi di sini. Bisa video, diskografi, ilustrasi, komik, apa saja. Karena Reaktan kan menjelma sesuai ruang jiwamu.

The post Ini Zat Kimia, Awas Terpapar Racunnya (Sebuah cerita kolaborasi netijen) appeared first on BaleBengong.

Sorotan Sinar UWRF untuk Penulis Muda dan Perempuan

Sapardi mendapat penghargaan pencapaian hidup. Foto UWRF

 Bagaimana perjalanan dan arah lampu sorot festival sastra besar tahun ini?

UWRF menganugerahkan Lifetime Achievement Award kepada salah satu penulis paling dicintai di Indonesia yang masih berkarya hingga usia senja Sapardi Djoko Damono. Pembaca dan penulis belia mengenal dan menikmati karya penulis 87 tahun yang sigap berdialog dengan pembaca mudanya ini.

Penghargaan ini diberikan atas dedikasi Sapardi di dunia sastra Indonesia dan karya-karyanya yang luar biasa. Sapardi mengisahkan perjalanan sastranya dan mengungkapkan ucapan terima kasih kepada para penyunting buku-bukunya, yang baginya juga memiliki peran besar dalam karir kepenulisannya. Sapardi juga berharap UWRF menjadi festival sastra yang lebih besar dan dikenal. “Terima kasih atas penghargaannya dan saya berharap UWRF akan semakin besar dan dikenal di masa mendatang,” ujar Sapardi.

Pada Kamis (25/10/18) di Neka Museum, UWRF dibuka dengan sambutan dari Susi Pudjiastuti. Kehadiran Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia ini dalam panel diskusi Sink It juga menjadi magnet tersendiri bagi UWRF 2018. Dimoderatori oleh Rebecca Henschke dari BBC News Indonesia, sesi ini membahas berbagai hal menarik mulai dari kasus kapal pemancingan ilegal, pentingnya kekuatan maritim di Indonesia, polusidan limbah di laut Indonesia, hingga isu maritim internasional.

Menteri KKP Susi Pudjiastuti. Foto UWRF

Hari pertama UWRF juga semakin semarak dengan kehadiran Sapardi Djoko Damono, Warih Wisatsana, Gratiagusti Channaya Rompas, dan Andre Septiawan dalam panel diskusi Higher Self. Para penyair dari generasi berbeda ini mengungkapkan sumber inspirasi penciptaan puisi, penemuan jati diri lewat puisi, hingga isu-isu menarik yang bisa diolah menjadi sebuah puisi.

Pada Jumat (26/10/18), UWRF menghadirkan sesi Twenty Years Later bersama penyair sekaligus pegiat asal Bali Saras Dewi dan Presiden Direktur Mizan Group sekaligus penulis buku Islam: The Faith of Love and Happiness Haidar Bagir. Sesi ini secara khusus mendiskusikan mengenai hal-hal yang belum berhasil dicapai Indonesia dalam era reformasi, kebebasan politik di Indonesia, hingga tingginya tingkat intoleransi di negeri kita tercinta.

Sesi Envolving Islam yang menghadirkan Janet Steele, Sidney Jones, Haidar Bagir, dan Dina Zaman juga cukup menyita perhatian. Pembahasan mengenai kemiripan dan perbedaan Islam di Indonesia dan Malaysia hingga kebijakan politik yang dibuat berdasarkan Islam didiskusikan secara mendalam oleh para pembiacara ahli tersebut.

Di samping pembahasan politik dan agama, para pencinta film juga cukup dimanjakan dengan sesi mengenai film, yaitu sesi The Seen and Unseen bersama sutradara berbakat Kamila Andini. Sesi yang dimoderatori oleh Uphie Abdurrahman ini mengulik alasan Kamila membuat film yang emosional dan menyentuh hati, tema serta visualisasi film Sekala Niskala, hingga perjalanannya dalam mendanai film tersebut.

Pada Sabtu (27/10/18), UWRF menggelar sesi The Pledge di Taman Baca bersama peraih Online Indonesian Language Reviewer Award dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Ivan Lanin, penulis esai berbahasa Inggris In The Hands Of a Mischievous God Theodora Sarah Abigail, penulis sekaligus pendiri Comma Books Rain Chudori, penulis Myth, Magic dan Mystery in Bali Jean Couteau. Sesi ini mengulik penyebab kesalahan berbahasa hingga banyaknya generasi muda Indonesia yang kini lebih memilih untuk bercakap dalam bahasa asing di kehidupan sehari-hari mereka. “Akan sangat tepat jika di Indonesia ini diterapkan perencanaan bahasa.

Karena tanpa perencanaan bahasa, membiarkan orang berbahasa seenaknya seperti membiarkan orang mengemudi seenaknya, ujar Ivan Lanin. “Para milenial menganggap rendah bahasa Indonesia dan bahasa daerah karena mereka tidak tahu apa yang bisa dibanggakan dari bahasa tersebut.
Untuk itu, kita harus mengingatkan kembali bahwa bahasa kita pantas untuk dicintai. Tidak hanya membuat mereka peduli pada bahasa kita tetapi yang juga kepada negara kita,” sambung Theodora Sarah Abigail.

Yang juga menjadi highlight dari UWRF 2018 adalah hadirnya lima penulis emerging yang dipilih dari Seleksi Penulis Emerging Indonesia yang datang dari beberapa kota di pelosok Indonesia, untuk tampil dalam sesi-sesi diskusi bersama pembicara-pembicara terkenal dunia dan meluncurkan buku Antologi 2018. Andre Septiawan dari Pariaman, Reni Nuryanti dari Aceh, Rosyid H. Dimas dari Yogyakarta, Darmawati Majid dari Gorontalo, dan Pratiwi Juliani dari Rantau hadir dalam sesi UWRF Indonesian Emerging Writers 2018 pada Minggu (28/10/18).

Yenny Wahid, anak perempuan Gus Dur di UWRF. Foto: arsip UWRF

Pada hari terakhir, UWRF 2018 juga menghadirkan Against All Odds bersama Yenny Wahid. Tingginya antusiasme dan banyaknya pertanyaan dari para peserta festival yang hadir membuat sesi tanya jawab dengan Yenny Wahid dilanjutkan di Green Room Neka Museum.

Panel diskusi penutup yang digelar di Indus Restaurant menghadirkan Fifteen Years of UWRF sebagai perayaan tahun ke-15 UWRF. Janet DeNeefe menjadi panelis sesi, ditemani oleh Ketut Suardana, Kadek Purnami, dan I Wayan Juniarta. Dengan dimoderatori oleh Alistair Speirs, sesi ini mengungkapkan bagaimana perjalanan UWRF sejak 15 tahun yang lalu, bagaimana program-program diolah sebelum disajikan untuk para pencinta sastra dan penggemar seni, bagaimana orang-orangdi balik festival bekerja keras untuk menghadirkan festival agar dapat diterima oleh semua kalangan dan generasi.

“Kami menghadirkan panel untuk melihat bagaimana efek dari sosial media terhadap lanskap sastra. Jika kalian melihat buku program kami tahun ini, kalian bisa melihat meningkatnya jumlah penulis muda dan penulis wanita dari yang sudah mendapat nama maupun yang masih merintis karir kepenulisannya. Meski orang-orang di balik festival ini menua, tetapi festival ini sendiri justru semakin muda. Kita mengadaptasi demografi baru para peserta festival. Festival ini pun tidak akan selamanya menjadi festival sastra, seni, dan budaya saja. Suatu hari nanti, bisa saja Ubud Writers & Readers Festival menjadi sebuah festival multidisiplin yang paling dinantikan di dunia,” ujar I Wayan Juniarta selaku Indonesian Program Manager UWRF.

“Bagi saya festival ini lebih dari sekedar festival kepenulisan. Ini juga merupakan festival yang membahas isu global seperti hak asasi manusia, festival yang juga menampilkan kesenian. Di sini, ada banyak hal yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Kami semua berharap festival ini akan semakin besar dan berkembang dengan program-program yang lebih kaya dan beragam,” tutup Janet DeNeefe selaku Co-Founder & Director UWRF.

Lima belas tahun yang lalu, Ubud Writers & Readers Festival diselenggarakan pertama kali sebagai upaya penyembuhan atas tragedi dari bom Bali. Kini, UWRF telah menjadi wadah bagi para penulis, seniman, sutradara, pegiat, dan cendekiawan dari seluruh dunia untuk merayakan gagasan, ide, serta kisah-kisah hebat mereka.

Dari Indonesia ke Jepang, Pakistan ke Inggris, Spanyol ke Vietnam, lebih dari 180 pembicara dari 30 negara termasukIndonesia berkumpul di UWRF untuk merayakan tahun ke-15 festival. Pada tanggal 24-28Oktober lalu, UWRF telah berhasil menghadirkan lebih dari 200 program acara mulai dari panel diskusi, lokakarya, acara spesial, pemutaran film, peluncuran buku, pameran seni, pertunjukkan musik, dan masih banyak lagi.

Dimulai pada hari Rabu (24/10/18) sore, UWRF menggelar Press Call di Desa Visesa Ubud bersama Founder Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana dan Janet DeNeefe serta pembicara-pembicara utama UWRF 2018 seperti salah satu penulis terbaik dari Inggris Hanif Kureishi, penulis dan jurnalis pemenang penghargaan Reni Eddo-Lodge, penulis sekaligus arsitek Avianti Armand, dan penulis muda Indonesia berbakat Norman Erikson Pasaribu. Pembahasan mengenai feminisme, keberagaman, kebebasan berekspresi, sastra yang berkembang dan manfaatnya yang meluas terangkat pun dalam tanya jawab bersama para pembicara dan jurnalis yang hadir dalam Press Call tersebut.

Selain itu, Press Call ini juga menjabarkan penjelasan menarik mengenai ‘Jagadhita’ atau ‘The World We Create’ sebagai tema yang diangkat tahun ini, yaitu tentang pencarian manusia akan kebahagiaan di dalam dunia yang kita ciptakan. Janet DeNeefe juga menceritakan perjalanan festival hingga telah memenuhi salah satu misinya menjadi jembatan bagi para penulis Indonesia agar karyanya lebih dikenal dunia.

“Ketika kita merenungkan 15 tahun terakhir dan bagaimana festival telah berkembang, ketika kita melihat kembali interaksi antara para penulis dan pembaca Indonesia dan internasional, sekiranya ada satu hal yang cukup jelas. Sebagian besar peserta festival awalnya mengatakan bahwa mereka tidak tahu apapun tentang penulis Indonesia, tetapi sekarang telah berubah. Orang-orang duduk [di panel diskusi UWRF] dan benar-benar memperhatikan,” ujarnya.

UWRF resmi dibuka dalam acara Gala Opening pada Rabu (24/10/18) malam di Puri Agung Ubud. Menteri Luar Negeri Indonesia tahun 2009-2014 sekaligus penulis Does ASEAN Matter: A View From Within Marty Natalegawa hadir dalam acara tersebut untuk memberikan sambutan dan membuka perayaan sastra, seni, dan budaya terbesar di Asia Tenggara ini.

The post Sorotan Sinar UWRF untuk Penulis Muda dan Perempuan appeared first on BaleBengong.

DenPasar2018: Pameran dan Gerakan dalam JINGGA

Beragam agenda dan karya akan berpadu dalam program bertema JINGGA.

Program tahunan DenPasar Art+Design kembali lagi. Melanjutkan keberhasilan sebelumnya yang bertema “Bahasa Pasar”, kali ini dengan tema “JINGGA”.

Dikenal juga sebagai semburat oranye kekuningan, jingga merepresentasikan berbagai rona yang bercampur di kala terbit dan terbenamnya matahari. Saat terang dan gelap melebur satu sama lain.

Terinspirasi kekayaan warna pada momen-momen itu, DenPasar2018 ingin menangkap berbagai perspektif dalam realitas Bali yang beragam dan berlapis.

Pameran bersama selama tiga bulan akan menampilkan karya-karya seniman, desainer, arsitek, dan penampil. Selama pameran, DenPasar2018 juga akan merangkul individu maupun komunitas kreatif, dari dalam maupun luar Bali. Mereka akan melibatkan partisipasi masyarakat dalam acara DesignTalk serta kegiatan kreatif lain. Dia akan menjadi bagian dari gerakan dalam DenPasar Art+Design Map 2018-2019.

Melalui pameran, kegiatan, dan pemetaan entitas-entitas sosial dan kreatif beragam, peserta maupun pengunjung diundang menyelidiki citra Bali yang telah terbentuk. Juga menjelajahi berbagai sisi kehidupan masyarakat Bali yang tradisional, yakni yang dirayakan dan yang disisihkan, seraya mereka beradaptasi untuk memenuhi tuntutan era kontemporer.

Diinisiasi CushCush Gallery, pameran eponim DenPasar2018 dan aktivitasnya akan digelar di jantung ibukota Bali Oktober mendatang. Program ini diharapkan bisa melengkapi inisiatif-inisiatif yang telah lama berlangsung, yakni Pesta Kesenian Bali, serta Festival Denpasar yang juga dikenal sebagai Festival Gajah Mada.

DenPasar2018 hendak mempromosikan kota Denpasar sebagai bingkai bagi kesenian, desain, dan pergerakan kebudayaan kontemporer di Bali.

Secara harfiah berarti “Pasar Utara”, Denpasar adalah pusat perdagangan dan pemerintahan di Provinsi Bali. Juga rumah bagi cabang Institut Seni Indonesia (ISI) di Bali. Kota ini juga dilimpahi berbagai sumber daya strategis, serta semangat berkarya yang konstan.

DenPasar2018 merupakan usaha kolektif untuk menandai sebuah kota sebagai titik temu kesenian, desain, dan kebudayaan yang memiliki karakternya sendiri.

Acara

DenPasar2018 terdiri dari pameran kelompok, DesignTalk, dan program-program publik. Agenda ini merangkul berbagai bentuk ekspresi kreatif melalui para praktisi yang telah terhubung ke Bali dalam perjalanannya masing-masing.

Karya-karya seni dari berbagai asal akan mendiami ruang pameran CushCush Gallery yang berlimpah penerangan alami. Kuratornya penemu dan pemilik CushCush Gallery Suriawati Qiu dan Jindee Chua serta kurator independen Stella Katherine. Partisipan terdiri dari tiga undangan terhormat serta dua belas seniman terpilih dari panggilan terbuka yang menjangkau berbagai daerah di Indonesia.

Ada tiga tamu terhormat yang diundang ke pameran ini. Pertama pelukis, dalang dan penampil, serta perantau berkediaman Sydney, Jumaadi yang bekerja sama dengan para pelukis Kamasan.

Kedua, desainer dan aktivis Alit Ambara. Karya-karyanya merupakan manifestasi kekuatan visual dalam pergerakan sosial.

Ketiga, arsitek serta seniman masyhur Yoka Sara. Dia merupakan pendiri serta pemimpin SPRITES ART & CREATIVE BIENNALE (2013–) yang masih berjalan hingga kini.

Menanggapi panggilan terbuka untuk berpartisipasi dalam pameran kelompok, 12 seniman telah terpilih untuk menyajikan interpretasi mereka masing-masing terhadap tema JINGGA. Mereka menggunakan beragam teknik dan medium dari lukisan dan cetak, hingga instalasi interaktif.

Di antara keberagaman karya lain Kuncir Satya Vikhu membuat sebuah spanduk khas kedai makanan kaki-lima atau angkringan. Renee Melchert Thorpe mengapresiasi industri cat lokal melalui contoh atau sample pigmen “khas” Denpasar, yang juga berfungsi sebagai kartu pos. Ada pula Putra Wali Aco menyorot kehidupan dan perasaan etnis minoritas Bugis di Bali, untuk membuka percakapan mengenai migrasi.

Agenda ini juga akan mengikutsertakan para pengunjung pada akhir minggu. Ada diskusi ringan dengan para seniman dan kurator. Juga pertunjukan berbasis proses mengenai momen-momen transisi Sprite oleh kelompok skenografi Yoka Sara. Juga lokakarya melukis keramik oleh Mia Diwasastri dan banyak lagi.

Para pengunjung dipersilakan berinteraksi dengan para seniman. Mereka bisa berbincang mengenai minat, pemikiran, dan praktik kesenian masing-masing. Juga menyampaikan pendapat dan pemikiran. Dengan demikian publik bisa secara langsung berpartisipasi dalam pergerakan membentuk seni dan kebudayaan kontemporer di Bali.

Melengkapi agenda tahunan ini akan ada pula DesignTalk. Kali ini bersama Suzy Annetta, Pemimpin Redaksi majalah Design Anthology. Menjelajahi tema “Bali Inside:Out”, acara ini mengundang para praktisi serta pengajar ternama dalam bidang arsitektur dan desain. Di antaranya Budiman Hendropurnomo, pendiri dan pemimpin DCM Indonesia; Maximilian Jencquel, pendiri dan pemilik Studio Jencquel; Magat Kristianto dan Japa Wibisana yang mewakili IYA (Indonesian Young Architects); serta dosen dan peneliti Gede Maha Putra dari Universitas Warmadewa. Mereka akan berbagi masing-masing sudut pandang serta kepiawaiannya, mengenai evolusi dan transformasi arsitektur di Bali.

Malam pembukaan bagi DenPasar2018 akan digelar dengan pertunjukan khusus komposer berkediaman Bali, Miyoshi Masato, pada Jumat, 5 Oktober 2018. Acara akan dimulai pukul 7 malam hingga selesai, dan diadakan di CushCush Gallery, Jl. Teuku Umar, Gg. Rajawali No. 1A, Denpasar, Bali.

Setelahnya, pameran akan berlangsung dan terbuka untuk umum setiap Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00; serta setiap Sabtu, pukul 09.00-12.00.

Informasi serta rincian lebih lanjut mengenai kelangsungan acara, program, dan staf yang dapat dihubungi bisa diakses di situs CushCush Gallery. Materi cetak akan dibagikan pada tempat-tempat terpilih di seluruh dan di luar Bali. Informasi juga bisa diakses dari artikel-artikel oleh media mitra.

The post DenPasar2018: Pameran dan Gerakan dalam JINGGA appeared first on BaleBengong.

Dibuka: Seleksi Peserta Karya Latihan Bantuan Hukum VI

Tak hanya belajar di kelas, peserta juga akan terjun langsung ke masyarakat.

Setelah terakhir kali diadakan pada Januari 2017, YLBHI-LBH Bali memandang perlu untuk diadakan KALABAHU di paruh kedua tahun 2018. Agenda ini sebagai sarana penguatan organisasi sekaligus kaderisasi.

Karya Latihan Bantuan Hukum (KALABAHU) diharapkan menjawab kebutuhan dan tantangan bila dilaksanakan secara konsisten dari waktu ke waktu oleh masing masing LBH Kantor, khususnya YLBHI-LBH Bali.

Tema KALABAHU tahun ini adalah “Memperluas Gerakan Bantuan Hukum Struktural melalui Pengabdi Bantuan Hukum yang berintegritas, progresif, andal dan tangguh untuk mewujudkan Negara hukum yang adil dan demokratis berlandaskan HAM”.

Ketua Panitia KALABAHU VI Ni Kadek Vany Primaliraning mengatakan bentuk KALABAHU VI berupa rangkaian workshop dalam kelas selama tujuh oleh narasumber berkompeten di bidangnya masing-masing. Setelah dilanjutkan dengan praktik di luar kelas. Peserta akan terjun langsung ke basis-basis maupun jaringan yang selama ini telah didampingi oleh YLBHI-LBH Bal.

Prakitik itu akan dilaksanakan dalam waktu kurang lebih selama sebulan.

Sejumlah narasumber kelas adalah Asfinawati (Ketua Umum YLBHI), Arip Yogiawan (Ketua Bidang Jaringan dan Kampanye YLBHI), Dewa Putu Adnyana (Direktur YLBHI-LBH Bali), Zainal Arifin (Direktur LBH Semarang), dan Alldo Fellix Januardy.

Ada pula Risnawati Utami (Komisi Hak Disabilitas dari Indonesia di PBB), Choky Ramadhan (MAPPi), Lalola Kaban (ICW) dan masih banyak narasumber lain sesuai isu terkini dalam penegakann hak asasi manusia (HAM)

Beberapa kriteria di bawah ini perlu dimiliki oleh peserta KALABAHU:
– Sarjana Ilmu Hukum (diutamakan) atau Sarjana disiplin ilmu lainnya tanpa memandang latar belakang Suku, Agama, Ras maupun preferensi seksual;
– Mahasiswa yang telah menempuh minimal 7 semester dan 120 SKS;
– Maksimal berusia 25 tahun terhitung tanggal 31 September 2018, apabila lebih harus mendapatkan surat persetujuan dari Direktur YLBHI-LBH Bali;
– Memiliki kepedulian terhadap isu-isu keadilan sosial dan pembelaan masyarakat kecil;
– Memiliki penalaran yang baik dengan menulis essay sesuai beberapa topik pilihan

Tema esay meliputi:
1. Perlindungan Kesehatan Bagi ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)
2. Perlindungan pemanfaatan Kawasan Pesisir Bagi Nelayan
3. Pemberangusan Serikat Pekerja (Union Busting) serta Kaitannya dengan Hak Berserikat dan Berkumpul
a) Font yang digunakan adalah Georgia 12 pt.
b) Margin atas dan bawah 2 cm, margin kiri 2,5 cm, dan margin kanan 2 cm.
c) Minimal 2 halaman dan maksimal 5 halaman
d) Essay diketik dalam format MS Word pada satu halaman A4

  • Memiliki kemauan belajar yang kuat
  • Memiliki jiwa kesukarelawanan
  • Memiliki pengetahuan dasar mengenai hukum dan hak asasi manusia
  • Bukan Pegawai di institusi PNS/TNI/POLRI
  • Tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi, kejahatan terhadap anak, KDRT dan Pelanggaran HAM

Biaya:
1. Kontribusi Rp 200.000,-
2. Dibayarkan pada saat peserta sudah dinyatakan lulus sebagai peserta
Kalabahu 2018;
3. Pembayaran dilakukan saat daftar ulang secara langsung ke panitia.
4. Keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat;
a) Bagi calon peserta yang kurang mampu dapat melakukan pembayaran secara mencicil (3 x cicilan) atau mengajukan permohonan beasiswa.
b) Pengajuan beasiswa/ keringanan biaya/ cicilan pembayaran dilakukan melalui surat permohonan yang ditujukan kepada ketua panitia selama.
c) PengajuanbeasiswaharusmelampirkanSKTM/buktirekeninglistrik/rekeningair/ bukti lainnya yang mendukung.
d) Bagi calon penerima beasiswa yang dinyatakan lulus seleksi, akan dilakukan wawancara pada waktu yang ditentukan oleh panitia.

Demi efektivitas penyelenggaraan KALABAHU, peserta yang dapat mengikuti KALABAHU VI YLBHI LBH Bali dibatasi sebanyak 25 orang.

Info selengkapnya di situs web LBH Bali di www.lbhbali.or.id dan lewat narahubung Candra (085792374635) atau Vany (082144707017). [b]

The post Dibuka: Seleksi Peserta Karya Latihan Bantuan Hukum VI appeared first on BaleBengong.