Tag Archives: Agenda

Olikasi, Mengubah Sampah Menjadi Emas

Mengubah sampah jadi emas bukanlah jargon dan isapan jempol semata.

Program kolaborasi Pegadaian dengan Rumah Sanur Creative Hub berusaha mewujudkan tersebut. Kolaborasi ini berusaha mewujudkan kiasan itu melalui aktivitas pengolahan dan pengembangan sampah atau limbah.

Kiasan itu berkembang menjadi sesuatu yang nyata bagi Pegadaian. Hasil pengolahan sampah ditabung sebagai emas. Wakil Presiden Pegadaian Area Denpasar Kanwil VII Denpasar Sucahya Prabawa Laksana menjelaskan lebih lanjut. “Benar, sebagai BUMN yang memiliki kinerja dalam kategori baik, Pegadaian selalu tertantang melakukan inovasi dalam produk dan programnya,” kata Sucahya.

Tabungan Emas adalah salah satu produk Pegadaian yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memiliki emas dengan cara menabung. Hal ini nilai emas lebih stabil dan memiliki kecenderungan meningkat nilainya.

Olah Limbah Reka Kreasi (OLIKASI) yang bekerja sama dengan Rumah Sanur Creative Hub menurutnya merupakan upaya Pegadaian untuk berkontribusi dalam masalah sosial, khususnya pengolahan limbah menjadi nilai baru melalui sentuhan kreativitas.

Ia juga menambahkan bahwa para peserta akan menerima insentif yang dapat dipergunakan untuk menabung atau menambah modal usaha melalui Tabungan Emas Pegadaian. Kegiatan ini bukan yang pertama kali diselenggarakan Pegadaian untuk mendukung kegiatan kreatif anak negeri.

Sebelumnya, Pegadaian mendukung program ArtJog dan ArtBali, dan memopulerkan The Gade sebagai kedai kopi emas.

Selain penciptaan nilai sosial dan bisnis, titik berat program OLIKASI adalah mengintegrasikan program yang dimiliki Pegadaian dalam produk-produk utamanya, seperti menunjang bisnis para peserta lewat produk Tabungan Emas dan kemudahan memperoleh fasilitas dalam pengembangan bisnis.

OLIKASI merupakan penciptaan ekosistem dari hulu ke hilir yang terintegrasi dengan produk Pegadaian.

Sasaran yang ingin dicapai melalui program OLIKASI adalah memperoleh produk dengan kualitas pengerjaan dan desain yang baik dan memiliki nilai ekonomi maupun sosial. Para peserta ditantang mengolah dan mengembangkan limbah menjadi produk yang memiliki fungsi dan mengandung nilai-nilai dalam wujud produk gaya hidup, fashion dan aksesori, dekorasi rumah, atau kriya.

Peserta OLIKASI terdiri atas desainer dan seniman rofesional untuk mempermudah proses membangun citra (image) program melalui reputasi yang mereka miliki.

Kegiatan yang terangkum dalam OLIKASI mencakup riset dan pengembangan; dua lokakarya pada Januari; tahap produksi pada Februari; pameran pada Maret; dan penjualan produk pada Maret (ongoing).

Program dimulai dengan lokakarya pertama pada 11 Januari 2019 dengan materi membuat kriteria produk dan proses produksidalam program upcycling. Lokakarya juga memperkenalkan tahapan dan struktur program kepada peserta, lima orang atau grup dari berbagai bidang.

Pada seri pertama ini para peserta akan memperoleh pemikiran ekosistem makro dan mikro, dasar-dasar upcycling, karakter material, nilai-nilai produk, riset dan pengembangan yang dilakukan, serta tren sebagai referensi.

Para peserta akan didorong mengenal dan mempersiapkan rencana bisnis maupun pengembangan produk yang setidaknya memuat tiga nilai penting: nilai sosial, nilai bisnis, dan nilai produk.

Nilai sosial mencakup penggunaan limbah, proses produksi, dan proses penjualan dengan pola perdagangan yang adil (fair trade). Nilai bisnis mencakup kualitas desain dan produksi, pemenuhan aspek tren, dan lain-lain. Adapun nilai produk yang melekatkan aspek fungsional, simbolis atau atributif, dan pengalaman.

Ada lima narasumber lokakarya pertama: Paola Cannucciari dari EcoBali yang akan berbicara tentang ekonomi melingkar dan dasar ekonomi nol sampah; Ayip Budiman dari Rumah Sanur tentang studi kasus pengembangan upcycling; Harry Anugrah Mawardi dari Amygdala tentang sifat dan karakter material; serta pakar tren Isti Dhaniswari yang membahas tren desain dan relasinya dengan upcycling.

Lokakarya kedua akan berlangsung pada 27 Januari 2019 dengan materi lanjutan yang mengintegrasikan hasil dan proses dari riset dan pengembangan materi limbah berupa kertas dan karton bekas, paper tube, kain sisa, kayu sisa, botol kaca, plastik, dan lain-lain. Para peserta akan diajak mengenal sifat, karakter, dan kemampuan masing-masing limbah; menelaah, bereksperimen, dan mengeksploitasi berbagai kemungkinan dengan limbah tersebut; dan mengenali karakter pasar dan tren produk gaya hidup.

Lokakarya kedua akan diisi oleh narasumber yang terdiri atas Adhi Nugraha (praktisi desain produk dan pengajar) dan Edward Hutabarat (praktisi desain fashion dan pengamat budaya). Proses lanjutan dari program ini adalah tahap mendesain dan produksi yang kemudian diakhiri dengan pameran produk hasil olahan para peserta pada Maret 2019.

Program ini menekankan pada keberhasilan bisnis dari hasil mengolah limbah (upcycling), sehingga para peserta dan karyanya betul-betul akan difasilitasi hingga praktik bisnis dan pemasarannya.

Permodelan berupa program OLIKASI ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak kalangan untuk turut mengolah limbah sehingga memiliki manfaat nilai-nilai baru. Pola ini juga diharapkan dapat membangkitkan dan meningkatkan kesadaran untuk mengelola dan memanfaatkan sampah.

Rumah Sanur Creative Hub telah menetapkan untuk menjadi yang terdepan dalam program Upcycling. Telah memulai program ini di tahun 2011 dengan memamerkan 12 hasil karya upcycling para desainer Indonesia. Juga kerap membuat workshop Upcycling dan memasarkan produk-produk upcycling di to~ko Concept Store yang menjadi gerai retail produk-produk karya UMKM dan desainer di Rumah Sanur Creative Hub.

[b]

The post Olikasi, Mengubah Sampah Menjadi Emas appeared first on BaleBengong.

“Memanen Hujan” sebelum Ditelan Pesta Kembang Api

Kalender tahun 2018 telah memasuki lembar terakhir.

Namun, tidak banyak hujan yang turun tahun ini. Buku SD zaman dahulu yang mengatakan bahwa musim penghujan akan hadir ketika memasuki bulan yang berakiran “er” mungkin sudah tidak relevan.

Hujan baru mulai turun saat memasuki November. Itupun hanya beberapa hari sekali hadir kemudian hilang.

Hujan yang turun pun memicu beragam reaksi. Mulai dari mengisi jok motor dengan mantel yang kemudian siap dikenakan ketika hujan turun, menepi untuk menghindarinya, mengambil payung kemudian menggunakan kesempatan ketika hujan untuk membuang sampah di selokan.

Terjebak kemacetan akibat air hujan menggenangi jalan raya atau bahkan bangun dini hari untuk menyelamatkan barang-barang dari genangan hujan yang masuk bertamu ke dalam rumah.

Setidaknya itu merupakan sekelumit cerita kasar ketika hujan turun di area perkotaan. Ketika hujan menjadi momok yang bisa mengacaukan segala rencana yang disusun rapi.

Hal berbeda terjadi di belahan timur Bali. Mereka menunggu hujan turun. Ketika di Tulamben, Kubu, Karangasem sebagai sebuah desa tujuan turis memiliki air bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjamu turis, di salah satu dusun yang jaraknya hanya sekitar 8 km warga harus bersabar.

Menandai purnama untuk bisa mengumpulkan air hujan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka akan air. Ketika lumbung-lumbung air mereka kosong, maka bergantung pada air tangkian menjadi jalan keluar untuk tetap bisa bertahan.

Masuk lebih ke dalam ke sisi utara kaki Gunung Agung, situasi warga yang menunggu hujan turun juga terjadi. Lumbung air hujan seolah menjadi hal wajib dimiliki untuk mengurangi biaya membeli air bersih.

Cerita-cerita dari bagian timur Bali tentang warga menunggu hujan yang tidak datang seperti biasanya, apa yang mereka gunakan untuk menandai kapan hujan akan turun, hubungan hujan dengan profesi mereka dan bagaimana mereka bertahan dengan tetap menggantungkan kebutuhan airnya dari hujan secara turun-temurun.

Kesulitan Akses

Narasi sebuah perjalanan dan berhasil terkumpul, dirajut dengan terburu-buru dan ala kadarnya oleh I Ni timpal kopi dalam sebuah video dan kumpulan tulisan berjudul “Memanen Hujan”.

Di tengah pesatnya kemajuan industri pariwisata yang mengonsumsi air bersih (air sungai dan atau air tanah) ternyata di beberapa wilayah di Bali masih kesulitan untuk mendapatkan akses akan ketersediaan air untuk kebutuhan hidup mereka.

Lalu seberapa layakkah air hujan dikonsumsi ketika definisi air bersih layak minum membuat ada istilah air mentah dan air matang? Serangkaian pertanyaan yang kemudian membuat I Ni timpal kopi bersama Taman Baca Kesiman (TBK) dan Teater Kalangan membuat sebuah acara kecil akhir tahun bertajuk “Memanen Hujan”.

Narasi kecil warga tentang hujan yang berhasil dirajut (I Ni Timpal Kopi) coba untuk dibicarakan dalam sebuah ruang dialog (Taman Baca Kesiman) dan kemudian bagaimana hujan diterjemahkan dalam pertunjukan (Teater Kalangan).

Acara “Memanen Hujan” akan berlangsung pada 22 Desember 2018, di Taman Baca Kesiman jalan Sedap Malam 234, Kesiman, Denpasar. Acara yang bertepatan dengan Hari Ibu akan dibuka pukul 16.00 WITA dengan kegiatan mendongeng oleh Daivi C.

Pukul 18.00 acara akan dilanjutkan dengan pemutaran video berjudul “Memanen Hujan”, dilanjutkan dengan obrolan tentang “hujan, air dan ceritanya” bersama Arya “Boby” Ganaris (aktivis lingkungan dan Direktur Manikaya Kauci), Roberto Hutabarat (antropolog dan penggiat pertanian) dan Petra Schneider (eco development) yang dipandu Adi Apriayantha.

Setelah obrolan santai acara akan dilanjutkan dengan pementasan Teater Kalangan berjudul TU.BUHU.Jan. pada pukul 20.30 WITA.
Acara “memanen hujan” akan ditutup dengan penampilan akustik dari; Rimbahera, Ayik&Iam, Soul and Kith serta music selector Lokasvara.

Selain itu akan nada rilisan zine dari I Ni timpal kopi edisi 36 yang merangkum narasi dalam bentuk kumpulan tulisan dan bisa dibawa pulang.

“Memanen Hujan” mencoba merayakan musim hujan yang tidak lagi bisa diduga dan membuka segala obrolan yang mungkin bisa dibangun dari Hujan yang turun. Jadi, mari bergabung berbagi kisah sebelum gelegar kebisingan kembang api dan pesta akhir tahun menelan semua suara kecil.

Informasi serta rincian lebih lanjut mengenai kelangsungan acara, bisa menghubungi I Ni timpal kopi instagram @initimpalkopi. [b]

The post “Memanen Hujan” sebelum Ditelan Pesta Kembang Api appeared first on BaleBengong.

Ada Foto Bertutur di Jah Magesah Vol 2 oleh Komunitas Kreatif Jembrana

Bagaimana mengisahkan foto dengan menarik? Masukkan kisah dan perjalanannya.

Oleh Wendra Wijaya

Sebuah foto menyimpan seribu kata. Sementara teks memberi penekanan pada pemaknaannya. Segalanya bersinergi untuk menciptakan sesuatu yang lebih memiliki nilai.

Hal-hal yang selama ini dipandang sederhana sesungguhnya memiliki nilainya sendiri. Taruhlah itu nasi putih. Barangkali tanpa teknik pengisahan yang menarik, makanan pokok ini hanyalah menjadi sesuatu yang biasa karena begitu akrab dengan keseharian. Melalui storytelling, didukung oleh kreasi sebuah foto, seseorang bisa saja dengan ringan menceritakan tentang kisah perjalanan padi menjadi nasi, termasuk juga informasi mengenai di mana padi itu ditanam, bagaimana kultur petani hingga metode penanamannya.

“Dasarnya, sudah tentu adalah literasi dan wawancara. Dari sanalah penggalian informasi bisa dilakukan lebih mendalam. Dengan mengetahui proses hingga terciptanya, diharapkan kita bisa lebih menghargai makanan,” ungkap Culinary Story Teller dan Food Stylist, Ade Putri Paramadita, dalam Jah Megesah Vol. 02: Commercial Photography – The Magic of Story Telling, Sabtu (17/11) di Gedung Mendopo Ksari, Negara.

Kisah-kisah yang muncul dalam karya fotografi adalah media untuk berbagi. Berbagi di sini tentu tidak hanya berada dalam wilayah idealisme semata, namun bergerak cepat menuju komersialisasi. Setiap saat, standar ideal juga berlaku dinamis, berubah sesuai pergerakan jamannya. Dan hari ini, mengemas informasi dengan teknik storytelling dipandang efektif untuk mempromosikan sebuah produk. “Ini tidak hanya berlaku untuk kuliner saja. Fashion, handycraft, apa saja bisa diceritakan agar lebih menarik,” katanya.

Saat ini, tambah moderator Wena Wahyudi sekaligus penggagas Jah Megesah, sudah tidak jaman lagi mempromosikan produk dengan informasi yang “padat”. Justru teknik pengisahan dengan mengambil sudut pandang yang berbeda dari suatu produk, hari ini, jauh lebih berhasil mendekatkan produk tersebut dengan calon konsumennya. Segalanya tergantung kreativitas dan kemampuan untuk menemukan keunikan produk yang akan dipromosikan.

Dalam Jah Megesah Vol. 02 yang digagas Jimbarwana Creative Movement, Ade tidaklah sendiri. Ia ditemani Dibal Ranuh, seorang fotografer profesional yang dikenal dengan karya-karyanya unik dan menarik secara komposisi. Kreativitas adalah dasar dari segalanya yang menjadi pondasi sebuah karya. Kejelian memandang objek dan kemampuan mewujudkannya menjadi sesuatu yang menarik mutlak mesti dimiliki seorang fotografer.

“Sama halnya dengan storytelling, kita mesti jeli mengambil angle suatu objek. Jika sudah peka, kita bisa lebih mudah memilah sisi mana yang akan kita gunakan untuk menghasilkan karya yang kuat, baik secara visual maupun pesan,” ucap Dibal.

Di tengah kemajuan teknologi, Dibal berupaya memberikan pemahaman bahwa terkadang keberadaan alat tak penting lagi. Dengan catatan, seseorang mesti mengetahui peruntukan foto tersebut. “Jika untuk pribadi atau sifatnya personal branding, tak masalah memakai kamera handphone. Tapi jika digunakan untuk tujuan komersil yang lebih luas, menghadapi client, setidaknya gunakan device yang benar-benar layak untuk menghasilkan karya hires. Karena nantinya, hasil foto tidak hanya berhenti sebatas informasi online semata,” ucapnya.

Selain membahas tuntas mengenai fotografi, Dibal juga mengajak peserta Jah Megesah untuk mengikuti workshop mengenai teknik menghasilkan foto komersial, utamanya pengambilan angle dan pencahayaan. “Dalam food photography, misalnya, fotografer tidak bekerja sendiri. Tapi mesti bekerja sama dengan food stylist untuk menghasilkan komposisi yang menarik dan masuk akal. Nah, kebetulan Mbak Ade (Ade Putri Paramadita) adalah seorang food stylist, kita minta bantuannya untuk menata makanan secara artistik,” ucapnya.

Terik di luar berimbas juga pada bangunan Mendopo Ksari yang semi terbuka. Namun gerah itu tak menyurutkan minat peserta Jah Megesah untuk mengikuti workshop yang diadakan. Selain mengangkat food photography, Dibal juga memberikan workshop tentang fashion photography, utamanya mengenai pengambilan angle yang menarik untuk materi promosi.

Budayawan DS Putra mengapresiasi Jah Megesah Vol 02 sebagai upaya edukasi bagi masyarakat Jembrana. Ia hanya menyayangkan masyarakat, utamanya pemuda Jembrana yang kurang peka dengan adanya peristiwa budaya tersebut. “Kalau ada yang harus disayangkan, anak muda Jembrana kurang tanggap, atau Jimbarwana Creative (Movement) yang kurang berkoar?” katanya.

Dalam sesi diskusi, ia juga menekankan pentingnya mengelola cultural shock menjadi sesuatu yang lebih kreatif sebagai wujud apresiasi terhadap apa pun juga. Rasa takjub inilah yang mesti harus dimiliki untuk menumbuhkan apresiasi terhadap apa pun itu. “Terima kasih kepada narasumber yang berkenan mampir ke Gumi Wayah Tanah Mekepung Jimbarwana yang selama ini menjadi peta buta Bali,” demikian DS Putra.

The post Ada Foto Bertutur di Jah Magesah Vol 2 oleh Komunitas Kreatif Jembrana appeared first on BaleBengong.

Merayakan Solidaritas dan Kabar dari Akar di Anugerah Jurnalisme Warga 2018

Klik untuk melihat slideshow

Apa yang bisa melawan berita bohong (hoaks) dan penyebar kebencian? Salah satunya memproduksi dan menyebarkan konten-konten yang lebih berguna untuk orang banyak dan diri sendiri.

Sebanyak lima tim anak muda Bali berusia di bawah 25 tahun menerima beasiswa Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2018 untuk mendokumentasikan kabar hutan, kaki gunung, laut, dan kebun dari sejumlah desa di Bali.

Koordinatornya adalah empat perempuan muda Ni Luh Putu Anjany Putri Suryaningsih, Made Daivi Candrika Seputri, Luh Putu Sugiari, Ni Luh Putu Murni Oktaviani, dan satu laki-laki Nyoman Gede Pandu Nujaya. Semuanya mahasiswa kecuali Anjany siswa SMAN 3 Denpasar.

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW), sebuah apresiasi untuk pewarta warga di Indonesia merayakan semangat warganet pada malam apresiasi Minggu (11/11) malam di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali. Ada bedah karya penerima beasiswa liputan mendalam yang menyelesaikan karya multiplatform tentang isu pertanian, gunung, laut, pariwisata berkelanjutan, dan tanggap bencana. Mereka adalah 5 tim anak muda berusia 20-30 tahun yang terpilih dari puluhan usulan.

Sebelumnya para pewarta warga di mana saja diajak mengirim usulan beasiswa liputan mendalam total Rp 12,5 juta dengan tema Mendengar Kabar dari Akar. BaleBengong, portal jurnalisme warga sejak 2007 ini bekerja sama dengan sejumlah kolaborator memberi apreasiasi untuk warga dan warganet melalui AJW.

Ini adalah AJW yang ketiga, sejak diluncurkan pada 2016. Tahun ini berbeda karena warga diundang mendaftarkan diri atau tim untuk mendapat beasiswa liputan mendalam. Jika terpilih sebagai penerima beasiswa, ada empat topik yang bisa dikembangkan menjadi aneka karya dalam bentuk tulisan, video pendek, esai foto, infografis, ilustrasi, dan lainnya.

Sejumlah lembaga mendukung sebagai kolaborator pemberian beasiswa AJW yakni lembaga-lembaga pemberdayaan yang bekerja di akar rumput. Mereka adalah Conservation International (CI) Indonesia, WWF Indonesia, Yayasan Kalimajari, dan Mongabay Indonesia.

Topik liputan beragam seperti petani kakao lestari Jembrana menembus manisnya pasar dunia. Kedua, Nyegara gunung melestarikan lingkungan gunung dan perairan di Karangasem. Ketiga, Signing Blue, wadah bagi pelaku wisata untuk mewujudkan pariwisata bahari yang bertanggung jawab di Bali, dan keempat tentang kesiapan tanggap bencana warga di Pulau Dewata.

Pada malam apresiasi AJW ini, warga diajak bergabung untuk Meplailanan (main bersama), Megibung (makan bersama tradisi Bali), Bedah Karya Beasiswa, HUT ke-11 Bali Blogger Community, dan Musik Bersuara bersama band Zat Kimia. “Kami senang terlibat di AJW, untuk pertama kali kami diundang mendiskusikan karya,” kata Ian J. Stevenson, vokalis Zat Kimia, band yang menyuarakan literasi digital melalui lagu Candu Baru dalam albumnya yang baru dirilis tahun ini.

Ada juga lapak dan kopdar bersama petani dan produsen sembako Bali seperti garam Amed, beras merah Tabanan, gula merah Klungkung, minyak kelapa Karangasem, dan olahan pangan sehat dari kelompok perempuan Dewi Umbi.

BaleBengong adalah portal jurnalisme warga di Bali. Sejak tahun 2007, BaleBengong hadir sebagai media alternatif di tengah derasnya arus informasi media arus utama. Dalam portal ini warga bebas menulis atau merespon sebuah kabar. Warga tidak hanya menjadi obyek, tetapi subyek berita.

Portal yang dikelola Sloka Institute dan Bali Blogger Community ini memuat berbagai topik mulai dari lingkungan, gaya hidup, sosial budaya dan lain-lain. Selain portal, BaleBengong juga aktif berbagi informasi melalui akun Twitter dan Instagram @BaleBengong maupun Facebook Page @BaleBengong.id. Kami membagi dan meneruskan setiap informasi yang dianggap layak untuk diketahui warga. Kami juga menjadi wadah warga untuk berdiskusi dan berbagi informasi.

Juni tahun ini, BaleBengong, media jurnalisme warga berbasis di Bali, merayakan ulang tahun kesebelas. Perjalanan hingga tahun kesebelas menjadi pencapaian tersendiri bagi media yang dikelola oleh komunitas secara nirlaba. “Dia menunjukkan bahwa publik pun bisa mengelola media berkualitas dan independen tanpa harus terikat pada modal kapital besar,” kata Anton Muhajir, Pemimpin Redaksi.

Sejumlah penelitian tentang BaleBengong menunjukkan bahwa media ini bisa menjadi ruang bagi warga untuk berekspresi secara bebas. Di sisi lain, warga juga bisa berbagi informasi terutama mengenai isu-isu berbeda dengan media arus utama terutama di Bali. Sebagai media jurnalisme warga, BaleBengong bisa menunjukkan bahwa publik bisa mengelola media sendiri dengan informasi-informasi yang bersumber dari warga biasa.

Pencapaian dan posisi itu menjadi berarti ketika wacana media arus utama ataupun media sosial dipenuhi dengan bahaya tentang berita dusta (hoax). Berita-berita dusta memenuhi ruang-ruang perbincangan publik seperti grup pesan ringkas dan media sosial. Mereka tak hanya menyebarkan berita-berita yang tak bisa dipertanggungjawabkan, tetapi pada saat yang sama juga membangun kebencian berbasis identitas pada kelompok lain.

Munculnya media jurnalisme warga sedari awal adalah menyediakan ruang bagi warga agar bisa memproduksi informasi-informasi alternatif yang bisa dipertanggungjawabkan. Kami percaya bahwa melawan maraknya berita-berita dusta tidak bisa dilakukan hanya dengan membangun kesadaran tapi juga dengan mengajak warga untuk memproduksi informasi itu sendiri dan menyediakan ruang bagi mereka.

Pada AJW 2016 dengan tema Menyuarakan yang tak terdengar diikuti 44 karya (teks, foto, video, ilustrasi). Kemudian AJW 2017 dengan tema Bhinneka Tunggal Media, Merayakan Keberagaman Indonesia melalui Jurnalisme Warga diikuti 35 karya tersebar di 12 media komunitas selain BaleBengong (Bali) adalah Lingkar Papua (Papua), Kampung Media (NTB), Kabar Desa (Jawa Tengah), Plimbi (Bandung), Kilas Jambi (Jambi-Sumatera), Tatkala (Buleleng-Bali), Nyegara Gunung (Bali), Nusa Penida Media (Klungkung-Bali), Sudut Ruang (Bengkulu), Peladang Kata (Kalimantan Barat), dan Noong (Bandung). BaleBengong melibatkan 11 media alternatif dari seluruh Indonesia. Pewarta warga bersaing di tingkat nasional.

Makin banyak informasi yang jernih dan dari sekitar kita, makin mudah memetakan masalah dan solusinya. Agar akses internet berguna bagi kebaikan dan pemberdayaan.

Foto-foto: Wayan Martino

 

The post Merayakan Solidaritas dan Kabar dari Akar di Anugerah Jurnalisme Warga 2018 appeared first on BaleBengong.

Ini Zat Kimia, Awas Terpapar Racunnya (Sebuah cerita kolaborasi netijen)

Stoned Faces Don’t Lie pada sebuah malam yang jauh terentang ke sekitar empat tahunan lalu saya temukan di platform Soundcloud. Nama bandnya adalah Zat Kimia. Klak klik sana sini bertemulah nama Ian J. Stevenson. Akunnya di platform itu adalah Wayan Jos.

Di sana, lagu berikutnya yang jadi favorit adalah Di sana Di mana dan Sandiwara Paranoia. Halaman itu membawa saya bergeser ke fanpage Zat Kimia, merunut tiap jadwal manggung, info hingga lagu-lagu yang dilepas ke media sosial. Pertemuan penggemar dan idolanya terjadi, di satu panggung di Antida dan gigs gigs lain. Stoned Faces Don’t Lie memikat saya lagi, ia seperti cinta pertama.

Jong, si seniman teater yang beken dengan Teater Kalangan-nya, jejingkrakan tak keruan ketika Zat Kimia main di Rumah Sanur. Entah kapan saya lupa. Setelahnya doi membuat tulisan panjang, isinya analisis lirik lagu Euforia Ku Hampa. Doi mendedah baris per baris, rinci lengkap dengan dagelan berbahasa Balinya juga kutipan kutipan penyair. Curcolnya bisa disimak di sini. Seorang penggemar berat.

Euforia Ku Hampa, adalah lagu kelima di album Candu Baru. Lagu soal patah hati? Barangkali. Album Candu Baru dilepas pada akhir September 2017. Ada 10 lagu menggenapi album ini. Sayang Stoned Faces Don’t Lie sang cinta pertama, tidak nongol di album ini atau lagu-lagu favorit lainnya. Materi di Album Candu Baru sempat dikerjakan bareng Mark Liepmann karib Ian, juga Onki personil gitar Zat Kimia sebelum Bimo.

Ada juga Dadang-Dialog Dini Hari yang turut menulis lirik lagu Frekuensi bareng Ian. Beberapa lagu sudah dilepasdengarkan ke publik jauh sebelum album ini dirilis. Dalam Diam salah satunya, lagu yang merespon kearifan Nyepi. Lalu Feromon, lagu yang sempat dijagokan dalam perhelatan Rock In Battle Super Music.ID. Reaktan adalah lagu yang muncul di barisan pertama. Intro yang catchy. Ada ketukan drummer Kiki yang padat, lalu suara serak Ian yang harmonis dengan permainan gitar Bimo dan petikan bass Edi.

“Terinspirasi dari Grand Design-nya Stephen Hawking”, kata Ian soal buku yang dibacanya. Reaktan, lagu yang lirik-liriknya berisi kata kata semacam: semesta vibrasi bereaksi, terinspirasi pasca Ian membaca buku sang penulis kosmologi cum fisikawan beken itu. Dan lanjut Ian, ada bantuan dari buku The Secret juga. Doi juga memfavoritkan film Interstellar, The Godfather, dan Kungfu Boy.

 

Zat Kimia menerima ajakan bersua para relawan Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) BaleBengong awal pekan lalu. Empat lelaki itu, yang biasanya tak banyak bicara di atas panggung, ternyata senang ngobrol. Bercerita soal Zat Kimia, pengalaman personal, dan inspirasi lagu-lagu mereka. Mulai dari jaket merah Ian di Kaimsasikun yang ala-ala emo, video klip Ian menuntun sepeda di klip Dialog Dini Hari yang berjudul Pagi, Mark Liepmann, Dewiq, Dua Lipa, Guruh Gypsi hingga tips membuat bubur bayi dan pesan jauhi susu formula dari Edi, bapak baru :))

Zat Kimia buat saya pribadi lekat dengan Reaktan, Candu Baru, Frekwensi, Feromon dan Ennui. Mereka seperti Creep yang mengingatkan pada Radiohead atau Don’t Look Back Angernya Oasis. Everlasting.

Zat Kimia, seperti tagline mereka ada dimana-mana akan mengada bagi kita penikmat musik di akhir pekan ini. Wayan Jos aka Ian, Bimo, Edi dan Kiki, pada Minggu, 11 November di Taman Baca Kesiman akan ngobrol lebih intim dan main secara live. Ayo mention #TanyaZatKimia di akun twitter dan IG @BaleBengong. Mari sama-sama menikmati daya eksplosif Zat Kimia.

Ini adalah kisah rintisan yang dimulai dari @AsthaDitha. Silakan kirim cerita versimu juga tentang Zat Kimia, kita kolaborasi di sini. Bisa video, diskografi, ilustrasi, komik, apa saja. Karena Reaktan kan menjelma sesuai ruang jiwamu.

The post Ini Zat Kimia, Awas Terpapar Racunnya (Sebuah cerita kolaborasi netijen) appeared first on BaleBengong.