Tag Archives: Agenda

DenPasar2018: Pameran dan Gerakan dalam JINGGA

Beragam agenda dan karya akan berpadu dalam program bertema JINGGA.

Program tahunan DenPasar Art+Design kembali lagi. Melanjutkan keberhasilan sebelumnya yang bertema “Bahasa Pasar”, kali ini dengan tema “JINGGA”.

Dikenal juga sebagai semburat oranye kekuningan, jingga merepresentasikan berbagai rona yang bercampur di kala terbit dan terbenamnya matahari. Saat terang dan gelap melebur satu sama lain.

Terinspirasi kekayaan warna pada momen-momen itu, DenPasar2018 ingin menangkap berbagai perspektif dalam realitas Bali yang beragam dan berlapis.

Pameran bersama selama tiga bulan akan menampilkan karya-karya seniman, desainer, arsitek, dan penampil. Selama pameran, DenPasar2018 juga akan merangkul individu maupun komunitas kreatif, dari dalam maupun luar Bali. Mereka akan melibatkan partisipasi masyarakat dalam acara DesignTalk serta kegiatan kreatif lain. Dia akan menjadi bagian dari gerakan dalam DenPasar Art+Design Map 2018-2019.

Melalui pameran, kegiatan, dan pemetaan entitas-entitas sosial dan kreatif beragam, peserta maupun pengunjung diundang menyelidiki citra Bali yang telah terbentuk. Juga menjelajahi berbagai sisi kehidupan masyarakat Bali yang tradisional, yakni yang dirayakan dan yang disisihkan, seraya mereka beradaptasi untuk memenuhi tuntutan era kontemporer.

Diinisiasi CushCush Gallery, pameran eponim DenPasar2018 dan aktivitasnya akan digelar di jantung ibukota Bali Oktober mendatang. Program ini diharapkan bisa melengkapi inisiatif-inisiatif yang telah lama berlangsung, yakni Pesta Kesenian Bali, serta Festival Denpasar yang juga dikenal sebagai Festival Gajah Mada.

DenPasar2018 hendak mempromosikan kota Denpasar sebagai bingkai bagi kesenian, desain, dan pergerakan kebudayaan kontemporer di Bali.

Secara harfiah berarti “Pasar Utara”, Denpasar adalah pusat perdagangan dan pemerintahan di Provinsi Bali. Juga rumah bagi cabang Institut Seni Indonesia (ISI) di Bali. Kota ini juga dilimpahi berbagai sumber daya strategis, serta semangat berkarya yang konstan.

DenPasar2018 merupakan usaha kolektif untuk menandai sebuah kota sebagai titik temu kesenian, desain, dan kebudayaan yang memiliki karakternya sendiri.

Acara

DenPasar2018 terdiri dari pameran kelompok, DesignTalk, dan program-program publik. Agenda ini merangkul berbagai bentuk ekspresi kreatif melalui para praktisi yang telah terhubung ke Bali dalam perjalanannya masing-masing.

Karya-karya seni dari berbagai asal akan mendiami ruang pameran CushCush Gallery yang berlimpah penerangan alami. Kuratornya penemu dan pemilik CushCush Gallery Suriawati Qiu dan Jindee Chua serta kurator independen Stella Katherine. Partisipan terdiri dari tiga undangan terhormat serta dua belas seniman terpilih dari panggilan terbuka yang menjangkau berbagai daerah di Indonesia.

Ada tiga tamu terhormat yang diundang ke pameran ini. Pertama pelukis, dalang dan penampil, serta perantau berkediaman Sydney, Jumaadi yang bekerja sama dengan para pelukis Kamasan.

Kedua, desainer dan aktivis Alit Ambara. Karya-karyanya merupakan manifestasi kekuatan visual dalam pergerakan sosial.

Ketiga, arsitek serta seniman masyhur Yoka Sara. Dia merupakan pendiri serta pemimpin SPRITES ART & CREATIVE BIENNALE (2013–) yang masih berjalan hingga kini.

Menanggapi panggilan terbuka untuk berpartisipasi dalam pameran kelompok, 12 seniman telah terpilih untuk menyajikan interpretasi mereka masing-masing terhadap tema JINGGA. Mereka menggunakan beragam teknik dan medium dari lukisan dan cetak, hingga instalasi interaktif.

Di antara keberagaman karya lain Kuncir Satya Vikhu membuat sebuah spanduk khas kedai makanan kaki-lima atau angkringan. Renee Melchert Thorpe mengapresiasi industri cat lokal melalui contoh atau sample pigmen “khas” Denpasar, yang juga berfungsi sebagai kartu pos. Ada pula Putra Wali Aco menyorot kehidupan dan perasaan etnis minoritas Bugis di Bali, untuk membuka percakapan mengenai migrasi.

Agenda ini juga akan mengikutsertakan para pengunjung pada akhir minggu. Ada diskusi ringan dengan para seniman dan kurator. Juga pertunjukan berbasis proses mengenai momen-momen transisi Sprite oleh kelompok skenografi Yoka Sara. Juga lokakarya melukis keramik oleh Mia Diwasastri dan banyak lagi.

Para pengunjung dipersilakan berinteraksi dengan para seniman. Mereka bisa berbincang mengenai minat, pemikiran, dan praktik kesenian masing-masing. Juga menyampaikan pendapat dan pemikiran. Dengan demikian publik bisa secara langsung berpartisipasi dalam pergerakan membentuk seni dan kebudayaan kontemporer di Bali.

Melengkapi agenda tahunan ini akan ada pula DesignTalk. Kali ini bersama Suzy Annetta, Pemimpin Redaksi majalah Design Anthology. Menjelajahi tema “Bali Inside:Out”, acara ini mengundang para praktisi serta pengajar ternama dalam bidang arsitektur dan desain. Di antaranya Budiman Hendropurnomo, pendiri dan pemimpin DCM Indonesia; Maximilian Jencquel, pendiri dan pemilik Studio Jencquel; Magat Kristianto dan Japa Wibisana yang mewakili IYA (Indonesian Young Architects); serta dosen dan peneliti Gede Maha Putra dari Universitas Warmadewa. Mereka akan berbagi masing-masing sudut pandang serta kepiawaiannya, mengenai evolusi dan transformasi arsitektur di Bali.

Malam pembukaan bagi DenPasar2018 akan digelar dengan pertunjukan khusus komposer berkediaman Bali, Miyoshi Masato, pada Jumat, 5 Oktober 2018. Acara akan dimulai pukul 7 malam hingga selesai, dan diadakan di CushCush Gallery, Jl. Teuku Umar, Gg. Rajawali No. 1A, Denpasar, Bali.

Setelahnya, pameran akan berlangsung dan terbuka untuk umum setiap Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00; serta setiap Sabtu, pukul 09.00-12.00.

Informasi serta rincian lebih lanjut mengenai kelangsungan acara, program, dan staf yang dapat dihubungi bisa diakses di situs CushCush Gallery. Materi cetak akan dibagikan pada tempat-tempat terpilih di seluruh dan di luar Bali. Informasi juga bisa diakses dari artikel-artikel oleh media mitra.

The post DenPasar2018: Pameran dan Gerakan dalam JINGGA appeared first on BaleBengong.

Dibuka: Seleksi Peserta Karya Latihan Bantuan Hukum VI

Tak hanya belajar di kelas, peserta juga akan terjun langsung ke masyarakat.

Setelah terakhir kali diadakan pada Januari 2017, YLBHI-LBH Bali memandang perlu untuk diadakan KALABAHU di paruh kedua tahun 2018. Agenda ini sebagai sarana penguatan organisasi sekaligus kaderisasi.

Karya Latihan Bantuan Hukum (KALABAHU) diharapkan menjawab kebutuhan dan tantangan bila dilaksanakan secara konsisten dari waktu ke waktu oleh masing masing LBH Kantor, khususnya YLBHI-LBH Bali.

Tema KALABAHU tahun ini adalah “Memperluas Gerakan Bantuan Hukum Struktural melalui Pengabdi Bantuan Hukum yang berintegritas, progresif, andal dan tangguh untuk mewujudkan Negara hukum yang adil dan demokratis berlandaskan HAM”.

Ketua Panitia KALABAHU VI Ni Kadek Vany Primaliraning mengatakan bentuk KALABAHU VI berupa rangkaian workshop dalam kelas selama tujuh oleh narasumber berkompeten di bidangnya masing-masing. Setelah dilanjutkan dengan praktik di luar kelas. Peserta akan terjun langsung ke basis-basis maupun jaringan yang selama ini telah didampingi oleh YLBHI-LBH Bal.

Prakitik itu akan dilaksanakan dalam waktu kurang lebih selama sebulan.

Sejumlah narasumber kelas adalah Asfinawati (Ketua Umum YLBHI), Arip Yogiawan (Ketua Bidang Jaringan dan Kampanye YLBHI), Dewa Putu Adnyana (Direktur YLBHI-LBH Bali), Zainal Arifin (Direktur LBH Semarang), dan Alldo Fellix Januardy.

Ada pula Risnawati Utami (Komisi Hak Disabilitas dari Indonesia di PBB), Choky Ramadhan (MAPPi), Lalola Kaban (ICW) dan masih banyak narasumber lain sesuai isu terkini dalam penegakann hak asasi manusia (HAM)

Beberapa kriteria di bawah ini perlu dimiliki oleh peserta KALABAHU:
– Sarjana Ilmu Hukum (diutamakan) atau Sarjana disiplin ilmu lainnya tanpa memandang latar belakang Suku, Agama, Ras maupun preferensi seksual;
– Mahasiswa yang telah menempuh minimal 7 semester dan 120 SKS;
– Maksimal berusia 25 tahun terhitung tanggal 31 September 2018, apabila lebih harus mendapatkan surat persetujuan dari Direktur YLBHI-LBH Bali;
– Memiliki kepedulian terhadap isu-isu keadilan sosial dan pembelaan masyarakat kecil;
– Memiliki penalaran yang baik dengan menulis essay sesuai beberapa topik pilihan

Tema esay meliputi:
1. Perlindungan Kesehatan Bagi ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)
2. Perlindungan pemanfaatan Kawasan Pesisir Bagi Nelayan
3. Pemberangusan Serikat Pekerja (Union Busting) serta Kaitannya dengan Hak Berserikat dan Berkumpul
a) Font yang digunakan adalah Georgia 12 pt.
b) Margin atas dan bawah 2 cm, margin kiri 2,5 cm, dan margin kanan 2 cm.
c) Minimal 2 halaman dan maksimal 5 halaman
d) Essay diketik dalam format MS Word pada satu halaman A4

  • Memiliki kemauan belajar yang kuat
  • Memiliki jiwa kesukarelawanan
  • Memiliki pengetahuan dasar mengenai hukum dan hak asasi manusia
  • Bukan Pegawai di institusi PNS/TNI/POLRI
  • Tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi, kejahatan terhadap anak, KDRT dan Pelanggaran HAM

Biaya:
1. Kontribusi Rp 200.000,-
2. Dibayarkan pada saat peserta sudah dinyatakan lulus sebagai peserta
Kalabahu 2018;
3. Pembayaran dilakukan saat daftar ulang secara langsung ke panitia.
4. Keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat;
a) Bagi calon peserta yang kurang mampu dapat melakukan pembayaran secara mencicil (3 x cicilan) atau mengajukan permohonan beasiswa.
b) Pengajuan beasiswa/ keringanan biaya/ cicilan pembayaran dilakukan melalui surat permohonan yang ditujukan kepada ketua panitia selama.
c) PengajuanbeasiswaharusmelampirkanSKTM/buktirekeninglistrik/rekeningair/ bukti lainnya yang mendukung.
d) Bagi calon penerima beasiswa yang dinyatakan lulus seleksi, akan dilakukan wawancara pada waktu yang ditentukan oleh panitia.

Demi efektivitas penyelenggaraan KALABAHU, peserta yang dapat mengikuti KALABAHU VI YLBHI LBH Bali dibatasi sebanyak 25 orang.

Info selengkapnya di situs web LBH Bali di www.lbhbali.or.id dan lewat narahubung Candra (085792374635) atau Vany (082144707017). [b]

The post Dibuka: Seleksi Peserta Karya Latihan Bantuan Hukum VI appeared first on BaleBengong.

Sinema Lintas Zaman tentang Semangat Kebangsaan

Enam film bertema kebangsaan siap diputar sambil merayakan kemerdekaan.

Program Sinema Bentara di Bentara Budaya Bali (BBB) setiap bulan mengetengahkan tematik khusus selaras upaya mengkontekstualkan film-film yang dihadirkan dengan situasi atau momentum penting yang tengah berlangsung.

Kali ini, Sinema Bentara mengetengahkan tajuk “Pujian Bagi Tanah Air” memaknai Kemerdekaan Republik Indonesia. Pemutaran film akan berlangsung pada 18 – 19 Agustus 2018 di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Sukawati, Gianyar.

Film-film yang ditayangkan bukan saja dari Indonesia, tetapi juga mancanegara. Mereka sama-sama mengkritisi dan menimbang ulang apa itu nilai-nilai kebangsaan serta nasionalisme, di tengah perjuangan penegakan kemanusiaan yang bersifat lintas bangsa.

Selama dua hari, publik dalam menyaksikan sinema pilihan yang boleh dikata lintas zaman, yakni diproduksi tahun 1948 hingga yang terkini 2015. Film-film tersebut antara lain Enam Djam Di Djogja, karya sutradara Usmar Ismail, diproduksi tahun 1951.

Sebagai film kedua yang diproduksi oleh PERFINI, Enam Djam Di Djogja sempat mendulang kesuksesan besar di Indonesia serta terus ditayangkan di TVRI sampai tahun 1980-an.

Selain itu, akan ditayangkan pula Merah Putih (2009) yang disutradarai Yadi Sugandi. Sedangkan untuk film mancanegara yang ditayangkan yaitu dari Perancis, berjudul Les Chevaliers Blancs (2015), disutradarai Joachim Lafosse. Juga karya sutradara legendaris Italia, Vittorio De Sica, yang berjudul Shoeshine (1948).

Judul-judul film itu juga berjaya di berbagai ajang penghargaaan. Misalnya saja film Merah Putih, yang telah diputar di berbagai festival dunia, seperti: Festival Film Busan, Berlin, Cannes, Moscow, Perth, Sydney, Hongkong, Bangkok, dan Amsterdam dengan catatan terpuji.

Di dalam negeri film ini menerima empat penghargaan utama dalam Bali Internasional Film Festival 2009, memenangkan Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Yadi Sugandi), Aktris Terbaik (Rahayu Saraswati), dan Tempat Pertama Pilihan Penonton, dan masuk nominasi Aktor Terbaik (Donny Alamsyah) dalam Festival Film Bandung 2010.

Atau Les Chevaliers Blancs, yang dinominasikan pada Toronto International Film Festival 2015, Philadelphia Film Festival 2015, Jerusalem Film Festival 2016, Hong Kong International Film Festival 2016, serta menerima penghargaan sutradara terbaik pada San Sebastián International Film Festival 2015.

Demikian pula Shoeshine, yang hingga kini dianggap sebagai salah satu film neorealis pertama di Italia. Pada tahun 1948, film ini menerima Penghargaan Kehormatan di Academy Awards.

Film-film di atas bukan saja berkisah tentang masa-masa merebut kemerdekaan bangsa, atau berlatar suasana perang dunia, namun yang juga menggambarkan perjuangan kemanusiaan.

Dengan demikian, publik dapat memahami nilai-nilai kepahlawan ataupun kebangsaan yang bersifat positif. Hal ini sekaligus juga upaya untuk terhindar dari fanatisme atau chauvinisme, yang mudah dikobarkan melalui berita-berita hoaks di media sosial yang memungkinkan timbulnya pribadi yang terjangkiti virus radikalisme dan kekerasan dalam bentuk apapun.

Sebagaimana sebelumnya, acara ini masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang akrab, guyub, dan hangat. Selain itu dihadirkan pula diskusi sinema, Minggu (19/08) bersama narasumber Sofyan Syamsul, seorang sinematografer yang pernah terlibat sebagai still photographer dalam film Memburu Harimau, Sepatu Baru, Ada Apa Dengan Cinta? 2, Athirah, Kulari ke Pantai dan The Seen and Unseen.

Adapun program kali ini didukung oleh Sinematek Indonesia, Bioskop Keliling BPNB Bali Kemendikbud RI, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Prancis Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, dan Udayana Science Club. [b]

The post Sinema Lintas Zaman tentang Semangat Kebangsaan appeared first on BaleBengong.

Tur SOB Bersama Honda Rocking School 2018

SMA Negeri 2 Bangli menjadi titik mulai tur Scared Of Bums bersama Honda Bali.

Tur bertajuk “Honda Rockin School 2018” yang digagas bersama Honda Bali ini dimulai pada 23 Juli 201 lalu. Tur ini untuk memberikan apresiasi kepada anak muda Bali. Rangkaian tur ini tidak hanya melulu tentang konser, tetapi ada materi-materi workshop gratis kepada siswa-siswa di sekolah-sekolah yang menjadi tempat penyelenggaraan acara.

Di awal acara Honda Rockin School 2018 memberikan pembekalan para siswa tentang “Safety Riding” yang diselingi permainan-permainan berhadiah, sehingga penyampaian materi mudah diterima oleh para siswa.

Scared Of Bums(SOB) sendiri menunjuk Nova (drummer) untuk memberikan workshop teknik memainkan drum. Workshop interaktif dan intim ini memberikan kesempatan siswa untuk melihat secara dekat dan langsung berinteraksi dengan Nova sabagai pemateri.

Selain Drum Coaching, “Honda Rockin School 2018” juga mengikut sertakan Blabar yaitu singkatan dari “Belozz & Bluluk Menggambar” untuk memberikan workshop menggambar. Kemudian ada juga keterlibatan Persatuan Skateboarders Bali atau lebih dikenal dengan Bali Skater yang memberikan pelatihan dasar-dasar skateboarding.

Yang menarik dari tur ini, di setiap sekolah penyelenggara dipilih 2 siswa yang layak untuk mendapatkan beasiswa.

Tur ini sangat ideal untuk sebuah pensi di mana menunjukan sebuah kolaborasi kreatif untuk dapat memberi dan meninggalkan hal bermanfaat bagi masyarakat, tidak melulu konser yang hanya mengambil keuntungan dari masyarakat.

Jadwal “Honda Rockin School” berikutnya adalah:

1 Agustus 2018, 11.00 di SMKN 2 Singaraja
3 Agustus 2018, 08.00 di SMKN 4 Denpasar
4 Agustus 2018, 10.00 di SMKN 1 Amlapura

Awasi timeline sosial media Scared Of Bums untuk jadwal berikutnya.

Nantikan #HondaRockinSchool berikutnya di sekolahmu.

#HondaUntukBali #cari_AMAN #OneHeart #ASTRAMOTOR #SOB #ScaredOfBums #5013Crew #5013Official

The post Tur SOB Bersama Honda Rocking School 2018 appeared first on BaleBengong.

Bebas Berekspresi dalam Ubud Village Jazz Festival 2018

Bali menjadi langganan banyak festival bergengsi. Salah satunya Ubud Village Jazz Festival.

Tahun ini festival jazz tahunan tersebut masuk tahun keenam. Festival bergengsi ini akan digelar pada 10 – 11 Agustus 2018 di Museum ARMA (Agung Rai Museum of Art) Ubud. Dari pukul 3 sore hingga 11.30 malam tiap harinya, para pecinta musik jazz akan dimajakan dengan alunan nada dari musisi-musisi ternama.

UVJF yang lahir dari inisiatif para musisi jazz dan pemerhati musik serta insan kreatif yang berbasis di Bali selalu memberi ruang dan turut mempromosikan musisi-musisi muda Indonesia untuk berekspresi dalam ajang internasional ini. Di samping tentu saja nama-nama besar dan melegenda seperti Idang Rasjidi Syndicate, musisi jazz legendaris dari Indonesia, yang telah menginspirasi ratusan musisi jazz Indonesia dari generasi di bawahnya. Juga akan tampil musisi jazz dari Amerika yang disegani di panggung jazz dunia, Benny Green Trio. “

Adalah sesuatu yang amat ditunggu oleh para pecinta jazz, melihat mereka tampil dalam satu perhelatan yang sama, mengingat mereka adalah musisi-musisi jazz papan atas,” kata Yuri mahatma, Co-founder dari UVJF.

Press Conference UVJF 2018 di Rumah Sanur Creative Hub. Foto Iin Valentine

UVJF 2018 mengangkat tema “Kebebasan Berekspresi”. Lebih lanjut, Yuri mengatakan bahwa kebebasan itu sangat penting dalam jazz. Kebebasan yang dimaksud tidak serta merta tanpa batas, melainkan tetap harus berdasarkan pengetahuan, suatu bentuk kebebasan yang bertanggung jawab. “Nggak asal bunyi,” imbuhnya.

Dalam rentang waktu cukup singkat UVJF telah mendapatkan reputasi membanggakan dalam lingkup lokal maupun global baik dari para seniman jazz, penikmat,  pecandu jazz serta dari pihak-pihak sponsor sebagai salah satu festival jazz terbaik.

Tahun sebelumnya, ajang ini mengalami peningkatan pengunjung sekitar 40%. Sementara, untuk tahun ini, penyelenggara menarget pengunjung sebanyak 4.000 orang dalam 2 hari penyelenggaraannya.

Sebagai salah satu festival bergengsi yang mempunyai nama hingga tingkat internasional, penyelenggara UVJF tetap melibatkan masyarakat lokal Ubud sebagai partisipan. Mereka dilibatkan dalam pembuatan instalasi di venue juga penyedia penyewaan mobil dan motor untuk keperluan festival. Mobil dan motor ini disewa dari koperasi lokal untuk membantu perekonomian sekitar.

Selain memberi ruang untuk berpartisipasi, penyelenggara UVJF juga memberikan dana punia kepada desa-desa yang dekat lokasi acara, seperti Desa Pengosekan dan Padang Tegal. Bagi masyarakat Ubud sendiri, UVJF dipandang sebagai festival yang dapat dinikmati segala golongan.

Selain didukung oleh volunteer dan komunitas, kali ini UVJF juga didukung Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Kementrian Koperasi dan UMKM, dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, serta dari beberapa kedutaan besar negara-negara sahabat seperti Kedutaan Besar Austria, Kedutaan Besar Belanda, Institut Francais d’Indonesie, Goethe Institute, juga dari Keluarga Kerajaan Ubud (Ubud Royal Family). Dukungan ini yang memberi semangat bagi penyelenggara untuk menjadikan UVJF sebagai ajang perhelatan Jazz yang UNIVERSAL.

Suatu perpaduan yang amat menarik di mana nama-nama besar akan berbaur dengan jazzer-jazzer lainnya yang tidak kalah unik. “Jazz amat beragam, tujuan kami adalah menyebarkan cinta yang terpancar dari musik ini dalam segala bentuk ekspresinya,” kata Anom Darsana, juga co-founder dari UVJF.

Tak kurang dari 20 pertunjukan akan meramaikan panggung UVJF. Dari tanah air akan tampil kolaborasi dari Pianist latin jazz Nita Aartsen yang baru saja kembali dari tour Eropanya dengan drummer handal dari Belanda, Olaf Keus dan Dian Pratiwi (vocal), Ito Kurdhi, basis andal dari Bali, serta Ade Irawan, pianist tuna netra genius yang telah diakui oleh khalayak jazz dunia. Mereka akan tampil berkolaborasi dengan musisi-musisi jazz dari berbagai belahan dunia.

Akan tampil juga Idang Rasjidi Syndicate, seorang pianist dan entertainer sejati yang melalui permainan dan interpretasinya yang energik selalu berusaha menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan persatuan dalam keragaman, suatu yang selamanya relevan, bahkan harus makin sering kita dengungkan. Idang akan bermain dengan musisi-musisi yang muda belia sebagai generasi penerus.

Sedangkan dari manca negara akan tampil untuk pertama kalinya di Bali sebuah group fusion jazz dari Korea Selatan yang beranggotakan 4  wanita, A-FUZZ. Dari Autralia Emilia Schnall, seorang vocalis, pianist dan composer: Gerard Kleijn, salah seorang trumpeter andal dari Belanda, Judith Nijland, Vocalist jazz kenamaan Belanda, yang berkolaborasi dengan Astrid Sulaiman Trio, yang akan tampil membawakan beberapa aransemen dari album larisnya :”Jazz tribute to ABBA”, Insula, sebuah group world-jazz-fusion yang unik yang didatangkan khusus oleh lembaga kebudayaan perancis (Institut Francais), Triple Ace-Colours in jazz yang siap terbang ke Bali dari Vienna, Austria. Juga ada Sebastian Gramms, pemain kontra bass legendaris di Jerman yang akan membawa projectnya yang dinamakan FOSSILE 3.

Yang tak kalah istimewanya dari UVJF ke 6 ini adalah hadirnya musisi jazz kenamaan dari USA yaitu Benny Green Trio. Benny adalah satu dari sedikit musisi jazz sarat pengalaman dan yang masih mengalami langsung belajar,  berinteraksi dan berkolaborasi dengan raksasa-raksasa jazz dunia seperti Oscar Peterson, Vocalist jazz Betty Carter, drummer legendaris Art Blakey, dan mahaguru dari seluruh pemain bass era modern Ray Brown.

Untuk pertama kalinya juga, tahun ini UVJF telah menyelenggarakan kompetisi jazz band untuk para musisi muda pada tanggal 29 April 2018 bertempat di COLONY Creative Hub, Plaza Renon Denpasar. Acara ini diselenggarakan sekaligus sebagai acara memperigati hari jazz internasional yang telah ditetapkan oeh UNESCO (PBB) jatuh pada tanggal 30 April tiap tahunnya.

JODA BAND, yang digawangi musisi berusia 12-17 tahun, menjadi pemenang lomba tersebut. Mereka berhak atas 1 slot performance di salah satu panggung UVJF dan merekam 1 single yang dipersembahkan  oleh ANTIDA Music Studio.

Selain pertunjukan jazz, UVJF akan dilengkapi dengan Wifi provider gratis, stall makanan dan minuman, juga ada area VIP.

Mulai tahun ini, Ubud Village Jazz Festival menjalin kerja sama dengan Castlemaine Jazz Festival, Australia dimana diharapkan ke depan CJF dan UVJF dapat bersinergi dalam berkarya, saling mempromosikan, bertukar pengalaman dan merintis terjadinya pertukaran musisi jazz antara Bali-Castlemaine, yaitu Yuri Mahatma-Astrid Sulaiman Jazz Quartet untuk CJF dan Ade Ishs Trio untuk UVJF.

Informasi lengkap perihal pre-event, tiket, dan jadwal serta artis UVJF 2018 dapat dipantau di akun berikut:

www.ubudvillagejazzfestival.com

Follow us on social media?#UVJF2018

Facebook: Ubud Village Jazz Festival

Instagram: Ubud Village Jazz Festival

Twitter: @ubudvillagejazz

YouTube: UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL

The post Bebas Berekspresi dalam Ubud Village Jazz Festival 2018 appeared first on BaleBengong.