Tag Archives: Agenda

Menghormati “Ibu” lewat Pameran Ibu Rupa Batuan

Batubulan adalah tempat lahirnya beragam kesenian.

Seniman lukis dan topeng Batuan yang tergabung dalam Kelompok Baturulangun berpameran bersama di Bentara Budaya Bali (BBB). Pameran bertajuk “Ibu Rupa Batuan” ini menghadirkan karya-karya lintas generasi ini adalah sebentuk penghormatan terhadap ibu.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr I Wayan Adnyana membuka pameran pada Minggu (08/09), pukul 18.30 WITA di BBB. Pameran akan berlangsung hingga 18 September 2019.

Pameran yang dikuratori Wayan Jengki Sunarta ini menampilkan 76 karya, terdiri dari 52 seni lukis dan 24 seni topeng. Terkait tematik, Jengki menjelaskan, Ibu Rupa Batuan merujuk pada konteks harfiah sekaligus juga filosofis. “Ibu” menjadi metafora atau simbolisasi terkait spirit penciptaan, olah batin, untuk menghasilkan suatu karya yang memesona dan membuka ruang renung bagi khalayak pecinta seni.

“Ibu adalah kosa kata yang sangat akrab dengan kehidupan kita. Secara biologis, ibu adalah sosok yang melahirkan, mengasuh, dan membesarkan kita,” ungkapnya.

Menurut Jengki ikatan batin antara ibu dan anak adalah suatu keniscayaan yang tidak luntur digerus waktu. Ibu bisa juga dimaknai sebagai suatu pusat, ikatan, atau muasal. Pada tataran yang lebih luas, lanjutnya, bumi (tanah dan air) sering disebut “ibu pertiwi” di mana setiap penghuninya saling terhubung dalam satu kesatuan kosmologi.

Sebagai wilayah budaya, Desa Batuan bisa disebut ibu yang melahirkan dan memelihara aneka ragam kesenian yang bisa dinikmati hingga kini. Selain seni lukis, di Batuan juga lahir seni pahat topeng, ukiran, dan dramatari Gambuh. Bahkan seni lukis tradisional gaya Batuan telah ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2018.

Seniman generasi tertua adalah Ida Bagus Made Widja (1912-1992), Ida Bagus Made Togog (1913-1989), Nyoman Ngendon (1920-1947), I Made Djata (1920-2001). Sementara generasi termuda adalah I Wayan Aris Sarmanta (1995). Dari perbedaan generasi tersebut, tecermin bagaimana perkembangan serta pertumbuhan seni lukis dan topeng di Desa Batuan.

Karya sekitar 50 pelukis dari Batubulan dipamerkan, termasuk Ketut Tomblos (1922-2009) hingga Dewa Made Virayuga (1981).

Menurut Jengki, pameran ini membuktikan bahwa seni tradisi di Batuan masih tetap tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni tersebut diwariskan secara masif dari generasi ke generasi.

“Upaya-upaya pewarisan itu sangat memungkinkan terjaganya spirit penciptaan seni di Desa Batuan,” ujar Jengki. [b]

The post Menghormati “Ibu” lewat Pameran Ibu Rupa Batuan appeared first on BaleBengong.

Energi Kosmik Gigantik dalam Kanvas Sumadiyasa

Energi kosmik itu ditampilkan dalam ukuran ekstra besar.

Bentara Budaya Bali (BBB) mengetengahkan pameran tunggal seniman Bali beraliran abstrak I Madè Sumadiyasa. Eksibisi bertajuk “Sacred Energy” MetaRupa I Madè Sumadiyasa akan dibuka secara resmi pada Minggu (28/07) pukul 18.30 WITA.

Pameran ini menghadirkan pembacaan atas periode terkini dan kilas balik proses kreatif I Madè Sumadiyasa terdahulu melalui sejumlah karya terpilih. Pameran akan berlangsung hingga 5 Agustus 2019.

I Madè Sumadiyasa, yang selama ini konsisten mengusung langgam abstrak, dikenal dengan lukisan-lukisannya yang gigantik. Pameran ini hakikatnya hendak mencermati konsistensi dan pergumulan berkaya Sumadiyasa selama ini sehingga menemu langgam abstraknya yang mempribadi.

Diharapkan pula pameran kali ini dapat memberikan gambaran utuh menyeluruh tentang tahapan cipta sang kreator, terutama mengacu pada pembacaan atas karya-karya periode terkini dan kilas balik pada proses kreatif I Madè Sumadiyasa terdahulu.

Seniman asal Tabanan ini telah menggelar banyak pameran tunggal maupun bersama, baik di Indonesia atau di luar negeri. Beberapa pameran terpilihnya antara lain: “Songs of the Rainbow”, MADE at Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2008), “Sunrise”, MADE at Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2005),”One World, One Heart”, MADE at ARMA Museum, Bali, Indonesia (2004), “Journeys”, MADE (simultaneously) at the Neka Art Museum, Bamboo Gallery and Komaneka Fine Art Gallery, Ubud – Bali, Indonesia.

Wicaksono Adi, kurator pameran ini, mengungkapkan bahwa abstrak-ekspresionisme Sumadiyasa bertumpu pada unsur-unsur emotif dan “abstraksi” bentuk-bentuk, lalu transisi menuju aspek immaterial objek-objek dan akhirnya merasuk dalam pusaran energi alam yang melampaui “abstraksi-abstraksi” itu sendiri. Suatu drama piktorial yang sangat dinamis dari situasi (state of) energi alam sekaligus tilikan subjektif yang termanifestasikan secara bebas dan spontan.

“Karya-karya Sumadiyasa boleh dikata sebuah upaya untuk menggambarkan daya-daya suci (sacred energy) sebagai energi ‘primal’ dalam cara pandang ‘kosmosentris’ di mana manusia tidak dipandang sebagai pusat dunia dan kehidupan,“ cetus Wicaksono Adi.

Dengan karya-karya abstrak ekspresionistik itu, pada awal dekade 1990, seniman kelahiran 1971 dan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, telah mengejutkan publik dan memperoleh apresiasi internasional. Sidini mahasiswa, pada tahun 1995, ia telah diundang dalam pameran Art Asia, International Fine Art Exhibition, cikal bakal Art Basel Hongkong. Salah satu karyanya dijadikan cover majalah Asian Art News, sebuah media seni penting di kawasan Asia (1996).

Ekspresi Kosmik

Mula-mula Sumadiyasa banyak mengeksplorasi bentuk-bentuk semi representasional objek-objek, baik sosok-sosok manusia maupun bentuk-bentuk ideoreligius tradisional Bali seperti barong, ikon-ikon maupun figur-figur simbolik dunia perwayangan dan sejenisnya. Ekspresionisme Sumadiyasa pada fase ini bertumpu pada aspek emotif dari objek-objek berikut gambaran atmosfer di mana objek-objek itu hadir.

Setelah itu muncul “abstraksi” bentuk-bentuk yang menggantikan drama piktorial alamiah ke dalam konstelasi gerak objek-objek nan bebas sekaligus mengesankan keteraturan yang bersifat menyeluruh-utuh.

Karya-karya abstrak ekspresionistik I Madè Sumadiyasa tidak hanya objek retinal belaka. Pun bukan gambaran visual tentang kedahsyatan energi alam, tapi sudah menjadi wujud dari gelora energi itu sendiri.

Ia bukan sekadar drama piktorial tentang gejolak batin sang subjek pembuatnya, atau gambaran ekspresi daya-daya kosmik, melainkan juga wujud dari energi alam itu sendiri.

Di sana-sini energi kosmik itu ditampilkan dalam ukuran ekstra besar sehingga akan menimbulkan efek “totalitas performatif” yang lebih kuat pula. Yaitu efek pemaknaan intensional yang melebihi dimensi visual an sich, karena hal itu akan menimbulkan getaran yang lebih kuat pada si pemandang.

Melalui drama piktorial spektakuler itu gelora dan kebesaran ”energi kosmik”-nya tampil dalam wujud yang benar-benar nyata.

“Pameran ini mengajak hadirin untuk dapat melatih kepekaan terhadap kekuatan alam yang dahsyat itu. Apalagi bagi orang orang Indonesia yang hidup dalam rangkaian cincin api (ring of fire) dengan alam yang terus bergejolak, plus kehidupan yang dipenuhi kekerasan, fragmentasi dan konfrontasi brutal yang menjalar ke mana-mana,“ ujar Wicaksono Adi.

I Madè Sumadiyasa juga meraih berbagai penghargaan, diantaranya: Finalist Indonesia Art Awards, Indonesia Art Foundation, Jakarta, Indonesia (2003), Finalist Phillip Morris ‘Indonesia Art Award (1996 & 1997), Best Still Life painting, Indonesia Institute of Art (ISI) Yogyakarta, Indonesia (1996), Best painting, Lustrum II, Indonesia Institute of Art (ISI), Yogyakarta, Indonesia (1994), Honorable mention for painting, Indonesia Institute of Art (STSI) Denpasar, Bali, Indonesia (1993) dan lain-lain. [b]

The post Energi Kosmik Gigantik dalam Kanvas Sumadiyasa appeared first on BaleBengong.

SAKTI, Mengajak Anak Muda Bali Melawan Korupsi

Korupsi kini tidak lagi hanya melibatkan orang-orang tua.

Fakta menunjukkan bahwa korupsi telah menjangkit mereka yang berusia lebih muda. Pergeseran pelaku korupsi tersebut menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terlihat dari kasus yang ditangani.

Dalam catatan KPK selama 2003-2016 tak kurang dari 71 pelaku korupsi masih berusia muda. Rentang usianya 31-40 tahun.

“Kondisi tersebut menjadi anomali saat harapan diberikan kepada generasi muda untuk mendukung pemberantasan korupsi,” sebut Nisa Rizkiah dari Indonesia Corruption Watch (ICW). Dengan kata lain upaya melahirkan generasi baru antikorupsi, menjadi penting untuk dilakukan agar melawan korupsi terus berjalan dan generasi masa depan bisa terselamatkan.

Tidak hanya dari sisi usia pelaku, kasus-kasus korupsi kini juga makin banyak menyebar ke daerah-daerah maupun berbagai jabatan, termasuk di Bali. Dalam catatan ICW, Bali termasuk salah satu provinsi dengan rekam kasus-kasus korupsi.

Di antaranya adalah kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang diduga dilakukan mantan Wakil Gubernur Provinsi Bali I Ketut Sudikerta. Selain itu, adapula kasus korupsi yang dilakukan oleh PNS anggota staf UPT PBB, I Ketut Suryana, di Kecamatan Selamadeg Timur, Tabanan.

Sebagai daerah pariwisata, Bali juga rentan menjadi lokasi pencucian uang (money laundery) hasil korupsi. Hal ini terlihat dari terungkapnya aset-aset milik terpidana kasus korupsi, seperti Tubagus Chaeri Wardana, Angelina Sondakh, Fuad Amien, dan lain-lain di berbagai lokasi di Bali .

Melihat beberapa alasan di atas, maka perlu anak muda Bali untuk mengikuti SAKTI. Anak muda Bali diundang mendaftarkan diri sampai 24 Juli 2019, dengan mengisi formulir yang bisa diakses icw.or.id/Form-SAKTI-2019.

Info lebih lanjut ada di laman ICW.

Alumni SAKTI saat beraksi menuntut pengusutan kasus kekerasan pada Novel Baswedan. Foto ICW.

Kader Antikorupsi

Sebagai organisasi non-pemerintah yang fokus pada kampanye antikorupsi, ICW menginisiasi kegiatan Sekolah Antikorupsi (SAKTI). Pada tahun 2019 SAKTI Pemuda akan dilakukan di Bali dan berkolaborasi dengan BaleBengong, media jurnalisme warga.

“Bali memiliki banyak komunitas anak muda dan memiliki gerakan yang cukup besar seperti gerakan menolak rencana reklamasi Teluk Benoa,” lanjut Nisa.

Kegiatan SAKTI ini sudah dilakukan sejak tahun 2013. Dilanjutkan pada 2015 sampai 2019. Setiap tahunnya ICW membuat SAKTI untuk pemuda dari seluruh Indonesia.

Pada tahun 2018, ICW mencoba melebarkan sayap dengan membuat SAKTI untuk Aparat Sipil Negara di Jakarta dan SAKTI Aparatur Desa di Larantuka, NTT. Pada Maret 2019 diadakan SAKTI untuk Guru dari seluruh Indonesia di Jakarta.

Kali ini giliran di Bali. Nantinya, peserta terpilih SAKTI Pemuda Bali 2019 akan mendapatkan materi terkait antikorupsi, demokrasi, dana desa, dan lainnya. Selain itu, akan mendapat kesempatan membuat program antikorupsi di Provinsi Bali. Tidak hanya itu, peserta terpilih akan mendapatkan kesempatan berjejaring lebih luas.

“Peserta terpilih nantinya juga diharapkan bisa melakukan advokasi terhadap pelayanan publik dan melakukan pengawasan terhadap dana desa,” kata Iin Valentine dari BaleBengong.

Sebagai media jurnalisme warga, BaleBengong selama ini sudah melibatkan warga dalam pengawasan layanan publik melalui penggunaan media sosial, terutama Twitter, maupun situsweb. Menurut Iin, partisipasi anak-anak muda dalam SAKTI di Bali sangat penting agar anak-anak muda di pulau ini memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengawasi layanan publik, terutama kasus-kasus korupsi.

ICW dan BaleBengong mengajak Pemuda Bali untuk mendaftar SAKTI mulai tanggal 1-24 Juli 2019. Para pendaftar nantinya akan diseleksi oleh ICW dan BaleBengong. Adapun kegiatan SAKTI Pemuda Bali akan dilaksanakan pada tanggal 19-23 Agustus 2019. Kegiatan SAKTI Pemuda Bali tidak dipungut biaya apapun. GRATIS! [b]

The post SAKTI, Mengajak Anak Muda Bali Melawan Korupsi appeared first on BaleBengong.

Perempuan Tana Humba Diputar di Bali dan Sumba

Setelah dirilis di Jakarta pada tanggal 10 Mei 2019 lalu, film dokumenter The Woven Path: Perempuan Tana Humba untuk pertama kalinya diputar di Bali dan Sumba.

Pemutaran dilakukan Tanakhir Films bekerja sama dengan Jatijagat Kampung Puisi dan Rumah Sanur di Bali, Masyarakat Kampung Adat Raja Prailiu dan Masyarakat Kampung Praiyawang, Kampung Adat Raja Rende di Sumba Timur, dan SMAN 1 Waikabubak di Sumba Barat selama tanggal 19-26 Juli 2019. Pemutaran tersebut disertai dengan diskusi terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran.

The Woven Path: Perempuan Tana Humba adalah dua film pendek dokumenter terbaru produksi Tanakhir Films, yang disutradarai oleh Lasja F. Susatyo dan diproduseri oleh Mandy Marahimin. Film yang didanai dari grant Ford Foundation ini adalah film dokumenter ke-5 dari Lasja F. Susatyo.

The Woven Path (10 menit) merupakan dokumenter puitis tentang dua puisi bertema Ibu yang ditulis oleh dua penyair dari dua generasi berbeda, Diana Timoria dan Umbu Landu Paranggi. Sementara Perempuan Tana Humba (30 menit) bercerita tentang tradisi dan budaya di Sumba dan dampaknya terhadap perempuan.

Film ini terbagi dalam tiga babak, yaitu Marapu, Belis, dan Perkawinan. Melalui babak Marapu, kita mengikuti rangkaian upacara yang dilakukan di Sumba mulai dari ritual perkawinan hingga ritual kematian. Melalui rangkaian ritual tersebut, penonton diharapkan dapat memahami betapa pentingnya tahapan-tahapan ritual tersebut bagi masyarakat Sumba.

Dalam babak Belis, kita akan mengikuti secara detail apa yang disebut belis, atau mas kawin dalam bahasa Sumba. Sistem yang terjadi lebih dikenal sebagai sistem jual beli, dimana setelah pemberian belis pengantin perempuan menjadi hak dari keluarga pengantin laki-laki. Melalui babak ini kita akan melihat bagaimana pengaruh belis terhadap posisi perempuan Sumba dalam keluarga dan masyarakat. Babak Perkawinan merupakan babak yang menunjukkan bagaimana ritual perkawinan dijalankan di Sumba, dan apa dampaknya bagi peran perempuan dalam keluarga.

Saya ingin mengangkat tema perempuan dalam adat tradisi di Sumba (timur) hari ini, terutama kaitannya dengan belis (mahar) dan perkawinan yang kerap masih sangat memberatkan. Perubahan dan perbaikan tak terelakkan, seiring dengan kemajuan zaman. Namun, perbaikan harus dilakukan dengan bijaksana karena tatanan satu berpengaruh terhadap tatanan kehidupan lainnya. Film ini bermaksud membagi pengalaman para ibu Sumba dan mengangkatnya dalam puisi mengenai perempuan, ibu, dan Ibu Pertiwi,” ungkap sutradara film The Woven Path: Perempuan Tana Humba, Lasja F. Susatyo.

Saya selalu cinta dengan Tana Humba. Alamnya, tenunnya, masyarakatnya, dan budayanya. Jadi ketika Lasja mengajukan ide film ini, saya langsung menyetujuinya. Harapan saya film ini bisa menunjukkan betapa indahnya Sumba, dan juga membuka diskusi tentang posisi perempuan di sana,” jelas Mandy Marahimin sebagai produser.

Film ini didukung oleh Nur Hidayat sebagai sinematografer, Wawan I. Wibowo sebagai editor, Thoersi Argeswara sebagai penata musik, Satrio Budiono sebagai penata suara, dan Olin Monteiro sebagai peneliti. Selain itu, film ini juga melibatkan Jefri Nichol dan Aurora Ribero sebagai pembaca puisi. Film ini juga didukung oleh Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Film ini diharapkan dapat menggugah kesadaran dan memulai dialog mengenai isu peran perempuan dalam tradisi dan masyarakat. Setelah di Bali dan Sumba, film The Woven Path: Perempuan Tana Humba akan diputar keliling ke sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas budaya dan film di wilayah lain di Indonesia.

Tanakhir Films didirikan pada tahun 2013 oleh dua produser, Mandy Marahimin dan Nicholas Saputra. Rumah produksi audio-visual ini memproduksi konten orisinil untuk bioskop, TV, dan website. Tanakhir Films telah memproduksi satu film panjang, “Cinta Dari Wamena” (2013), dan menjadi production service untuk “Ada Apa dengan Cinta 2” (2016). Selain itu, Tanakhir Films banyak memproduksi dokumenter, baik berdurasi pendek maupun panjang. Satu dokumenter panjang yang telah diproduksi berjudul “Semesta” (2018) yang bercerita tentang tujuh climate warriors yang beraktivitas melawan dampak perubahan iklim berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing. Sementara salah satu dokumenter pendek yang telah diproduksi, “A Man with 12 Wives” (2017) telah ditayangkan di NHK World.

Saat ini Tanakhir Films tengah menyiapkan sebuah dokumenter panjang berjudul “My Big Sumba Family”, dan dua film fiksi panjang berjudul “Crocodile Tears” dan “Puno: Letters To The Sky”. Khusus untuk “Crocodile Tears”, film yang akan diproduksi pada 2020 ini telah terpilih ke dalam program La Fabrique di Cannes Film Festival dan Torino Feature Lab.

The post Perempuan Tana Humba Diputar di Bali dan Sumba appeared first on BaleBengong.

Anak Muda Bali, Inilah Saatnya Ikut Sekolah Antikorupsi

Tahun ini ICW kembali adakan kegiatan SAKTI untuk pemuda.

Namun, tahun ini dengan konsep sedikit berbeda. Biasanya SAKTI diikuti pemuda dari seluruh Indonesia dan dilaksanakan di Jakarta. Sedangkan SAKTI 2019 akan dilaksanakan di Bali dan bisa diikuti oleh pemuda dari seluruh Pulau Bali.

Syaratnya berusia maksimal 25 tahun dan memiliki minat untuk belajar memberantas korupsi.

Dengan mengikuti SAKTI Pemuda Bali 2019, peserta akan mendapat kesempatan untuk belajar dari para expert dengan materi-materi seperti Analisis Anggaran, Demokrasi dan Antikorupsi, Pemantauan Pengadaan Barang dan Jasa, Memahami Dana Desa dan masih banyak materi menarik lainnya.

Syarat Peserta:

  • Berdomisili di Pulau Bali
  • Usia 17-25 tahun dan terbuka bagi seluruh bidang akademik
  • Melampirkan daftar riwayat hidup (Curriculum Vitae) dengan foto diri terbaru
  • Menulis esai tentang “Mengapa kamu ingin mengikuti Sekolah Antikorupsi dan peran Kamu dalam gerakan antikorupsi di masa depan”. (minimal 300 kata maximal 500 kata)
  • Mengikuti dan lulus seluruh tahapan seleksi
  • Bagi peserta yang lolos bersedia membayar biaya komitmen sebesar Rp 250.000 GRATIS!

Cara Mendaftar:
Isi formulir dan lampirkan dokumen data diri kamu dalam tautan icw.or.id/Form-SAKTI-2019

Batas Pendaftaran:
14 Juli 2019

Pelaksanaan SAKTI:
Bali, 19-23 Agustus 2019

Info Pendaftaran:
Nisa Zonzoa (WhatsApp 08111622306)

The post Anak Muda Bali, Inilah Saatnya Ikut Sekolah Antikorupsi appeared first on BaleBengong.