Tag Archives: Agenda

UFF 2020 Akan Hadirkan Lebih dari 90 Pembicara

Suasana UFF 2019. Foto UFF.

Masakan dari berbagai daerah yang kurang dikenal pun hadir.

Festival kuliner terkemuka di Indonesia, Ubud Food Festival 2020 Presented by ABC (UFF) mengumumkan jajaran nama-nama pengisinya. Lebih dari 90 pembicara seperti koki, pemilik restoran, pengusaha makanan, petani, penulis buku masak, peneliti, dan pegiat kuliner akan hadir April nanti.

Pada 17-19 April mendatang, penjelajahan kuliner lintas budaya ini akan diisi dengan program-program menarik. Ada demo masak, acara spesial, jalan-jalan kuliner, masterclass, dan masih banyak lagi. Festival akan digelar di lebih dari 30 lokasi di Ubud dan sekitarnya dengan lokasi utama terletak di Taman Kuliner, Jl. Raya Sanggingan Ubud, Bali.

Pada tahun keenam, Festival telah berkembang menjadi salah satu ajang gourmet paling populer di Asia Tenggara. Dia menjadi platform utama bangsa ini untuk berbagi budaya kulinernya yang beragam, produk lokal yang unik, dan deretan menu spesial dari restoran-restoran terkemuka ke hadapan dunia.

Tahun ini, UFF20 hadir untuk menginspirasi para penggemar makanan baik nasional dan internasional dengan tema Heroes. Menurut Pendiri dan Direktur UFF Janet DeNeefe, salah satu aspek terpenting dari makanan yang tersaji di meja-meja adalah orang-orang di balik proses pembuatannya. Saat makan, kita cenderung lupa jika ada cerita di balik setiap makanan, setiap hidangan, setiap masakan.

“Kami ingin menyoroti orang-orang di balik proses pembuatan makanan dan peran penting yang mereka mainkan dalam menghadirkan cita rasa yang dapat kita nikmati saat ini,” katanya.

Sosok Pahlawan

Sejalan dengan tema tahun ini, UFF menyatukan sosok-sosok pahlawan makanan lokal untuk berkolaborasi dengan koki terkenal dari seluruh dunia, mendorong pertukaran lintas budaya dan menciptakan kreasi baru. Dari Amsterdam ke Adelaide, Bangka ke Banjarmasin, Düsseldorf ke Dubai, Maluku ke Manila, dan dari seluruh Bali, para koki yang hadir ke UFF20 merupakan bukti meningkatnya status makanan Indonesia di panggung kuliner dunia.

UFF20 akan menghadirkan dua koki selebriti sekaligus juri MasterChef Indonesia tahun ini, Juna Rorimpandey dan Renatta Moeloek. Mereka untuk pertama kali hadir di UFF. Presiden Indonesian Chef Association (ICA), Henry Alexie Bloem juga akan hadir mengisi program-program UFF. Ada pula pendiri Pasar Papringan di Temanggung, Jawa Tengah, Singgih Susilo Kartono dan penulis makanan sekaligus pendiri panduan digital makanan Indonesia bernama TopTables Indonesia Kevindra P. Soemantri.

Selain itu, UFF20 akan menghadirkan sosok-sosok kuliner dari berbagai penjuru nusantara. Mulai dari koki sekaligus pemandu acara TV Eddrian Tjhia dari Bangka, penulis 14 buku masak sekaligus konsultan makanan Agus Sasirangan dari Banjarmasin, hingga pemilik Warung Mbah Jingkrak yang populer dengan menu-menu pedasnya Ajeng Astri Denaya dari Semarang.

Beberapa nama yang merupakan peneliti dan pegiat makanan pun akan berbagi ilmunya di UFF. Misalnya Dr. Fenny M. Dwivany yang meneliti mengenai pisang bersama timnya The Banana Group, I Gede Artha Sudiarsana yang mendirikan agribisnis jamur untuk menghasilkan berbagai benih dan jenis jamur, serta Gede Yudiawan yang mengembangkan Dapur Bali Mula, dapur otentik Bali yang memproduksi arak Bali dan garam tradisional.

Dari kancah internasional, UFF20 menyambut deretan koki terkemuka. Ada koki kelahiran Barbados yang dinobatkan sebagai Chef of the Year oleh Gourmet Traveler Restaurant Award 2020 Paul Carmichael. Juga pendiri restoran Ministry of Crab yang berturut-turut masuk dalam Daftar Asia’s 50 Best Restaurant sejak 2015 Dharshan Munidasa. Hadir juga koki Vietnam-Australia yang mengepalai Sunda di Melbourne Khanh Nguyen.

Nama lainnya adalah peraih gelar koki bintang Michelin wanita termuda di Jerman Julia Komp hingga juri MasterChef Singapore yang memiliki serial memasak populer Tasty Conversations Audra Morrice.

FoodLover Pass

Selain mengumumkan jajaran nama pembicaranya, UFF20 juga meluncurkan FoodLover Pass yang dapat digunakan untuk mengakses Kitchen Stage, Masterclasses, Food Tours, dan Special Events yang nantinya dapat dinikmati para penggemar makanan. Demo masak dari para koki favorit hingga jalan-jalan ke pusat kuliner lokal akan melengkapi wawasan gastronomi pengunjung Festival. Begitu pula dengan kolaborasi para koki ternama dari dapur-dapur restoran terkemuka di dunia, akan menghadirkan pengalaman bersantap yang istimewa.

Dalam Kitchen Stage: Origins, koki yang dinobatkan oleh panduan restoran Prancis Gault Millau sebagai Most Talented Chef 2018 Dennis Huwaë, akan memasak sajian yang terinspirasi oleh warisan budaya Indonesia-Belanda. Sementara itu, pengunjung Festival dapat menikmati sesi demo masak a la Korea menggunakan daging premium dan bahan-bahan alami bersama koki sekaligus pemilik restoran SI JIN Steakhouse, Joel Lim Si Jin, dalam Kitchen Stage: Sizzle with SI JIN.

Untuk pertama kalinya, Festival menghadirkan Food Tour: Behind Men Juwel’s Kitchen Doors. Pengunjung Festival berkesempatan untuk melihat bagaimana juru masak dari Desa Sayan, Ubud, menyiapkan masakan ayam tradisional yang lezat, kemudian menyantapnya sembari menikmati pemandangan sawah yang indah.

Untuk program Special Event: Best of the Fest, Paul Carmichael dan Khanh Nguyen akan berkolaborasi dengan koki sekaligus penulis buku Chicken and Charcoal Matt Abergel dan koki terkemuka Chris Salans untuk menyajikan delapan menu kreasi masakan Karibia-Jepang-Indonesia. Sementara itu, Renatta Moeloek akan menyajikan masakan modern Prancis-Indonesia yang lezat bersama Wayan Sukarta, Head Chef bridges dalam Special Event: From Paris with Love.

Salah satu tujuan utama Festival adalah untuk menyoroti masakan dari berbagai daerah Indonesia yang kurang dikenal. Long Table Lunch di Casa Luna kembali melalui Special Event: Maluku, the Spice Islands. Jamuan makan spesial ini akan memperkenalkan makanan laut dan bahan-bahan lokal dari Kepulauan Maluku, Ambon, dan Banda Neira di Indonesia Timur.

Dalam sebuah misi untuk membawa makanan Indonesia ke hadapan dunia, Eddrian Tjhia juga akan menghadirkan sebuah perayaan luar biasa dari masakan tradisional asal Bangka dalam Special Event: Bangka at Plataran.

“Kami sangat senang mengumumkan jajaran lengkap pembicara yang bergabung dengan kami untuk tahun keenam ini,” ujar Janet DeNeefe.

“Kami juga sangat antusias dengan adanya lebih banyak masakan daerah-daerah di Indonesia daripada tahun sebelumnya. Dari warung lokal, petani, produsen artisan, dan juru masak dari pelosok desa hingga tempat-tempat menakjubkan, serta koki kelas dunia, kami memiliki ragam aspek gastronomi yang ingin Anda kenal di UFF20,” lanjutnya.

FoodLover Pass yang dapat digunakan untuk mengakses Kitchen Stage, serta tiket untuk Masterclasses, Food Tours, dan Special Events sudah dapat dibeli melalui situs web UFF. Free Events atau program tidak berbayar akan diumumkan pada akhir bulan Februari 2020.

Kunjungi www.ubudfoodfestival.com untuk informasi selengkapnya. [b]

Arti Keluarga dalam Memento Ketut Sedana

Ketut mencoba membentangkan kenangan-kenangan pada keluarga.

Seniman muda Ketut Sedana menggelar pameran bertajuk Memento di Warung Men Brayut selama satu bulan, pada 9 Februari – 8 Maret 2020. Pameran tunggal ini hanya menampilkan 7 karya intim dan kontemplatif.

Sebab, semua karya Ketut mencoba membentangkan kenangan-kenangan Ketut terhadap anggota keluarganya melalui kolase benda-benda tertentu. Baginya setiap benda memiliki kisahnya masing-masing, baik kenangan baik, buruk, mengecewakan, bahkan kenangan yang membekas bahkan mampu menimbulkan trauma.

Tujuh karya tersebut berjudul Canang Sari, Lamak Buda Taylor, Periangan, Sampat Lidi, Simpul dan Living English-Soul Jah, ide-ide karya ini mulai digodok Ketut dari bulan November 2019 hingga Januari 2020. Bentuknya ialah kolase benda-benda, instalasi berukuran kecil, serta dibeberapa bagian karya dilukis dengan gaya khas Ketut.

Benda-benda yang dipamerkan tidak asal pilih. Benda tersebut memiliki nilai sejarah yang mungkin saja mencatat perjalanan keluarganya hingga generasi kini. Misalnya dulang yang digunakan untuk karya Periangan. Ketut mengisahkan dulang dengan ornamen bunga sederhana itu digunakan oleh alm kakek hingga ibunya.

Pada bidang datar dulang terdapat cekungan-cekungan yang tidak sengaja terbentuk karena termakan rayap. Melihat benda itu saja, pengunjung pasti dibawa menelusur waktu lampau sesuai pengalaman masing-masing.

Namun, jika ditilik lebih jauh karya Periangan itu termasuk karya autokritik kebudayaan hari ini, terutama pembuatan gebogan buah oleh ibu-ibu. Hari ini ibu-ibu lebih suka menggunakan dulang bertumpuk dengan ornamen emas cetar membahana. Buahnya tinggal diletakkan sesuai jenis yang sama, lalu di susun berdasarkan ukurannya.

Hal ini berbeda seperti dulu. Dulang yang digunakan untuk membuat gebogan buah menggunakan batang pisang muda (gedebong). Buahnya ditusuk menggunkan katik sate. Lalu baru disusun melingkar ke atas. Ya, namanya juga perubahan zaman, semua menuntut kecepatan dan instan.

Ketut Sedana yang tergabung dalam komunitas Baligrafi ini mengurai secara implisit arti keluarga dalam konteks kini. Apalagi anak-anak muda yang berkeinginan hidup bebas seolah lupa memiliki keluarga di rumah.

Namun, cara pandang inipun ia dapat ketika berjarak dengan keluarganya. Misalnya ia mengenang kembali cerita alm kakek dan alm neneknya ketika kedua sosok tersebut sudah tiada. Alih-alih larut dalam kenangan berulang, Ketut memanipulasi hal tersebut menjadi energi dalam berkarya. Lahirlah karya berjudul Lamak.

Baginya keluarga adalah tempat perdana untuk menimba ilmu, tempat akar pemahaman, tempat yang sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, hal ini karena keluargalah orang-orang yang pertama kali bersentuhan dengan kita.

Kebingungan

Jika dikaitkan pada kecepatan laju teknologi hari ini, terutama media sosial, riuh informasi berkelindan di dalamnya, realitas seolah dipertanyakan ulang sebagai upaya berkehidupan. Sebenarnya kita di mana, apa yang lebih penting, mana yang lebih prioritas, membeli kuota agar bisa berkoneksi dengan teman-teman lewat teks, atau yang realitas nyata dan pertemuan sehari-hari.

Kebingungan semacam ini dapat diluruskan dilingkungan keluarga, memberi arahan pada kaum-kaum muda, agar berjalan dalam pilihan yang teguh dan tegas.

Tujuh karya ini mungkin bisa dikatakan sedikit dalam pameran tunggalnya ini. Namun, dari titik kecil inilah Ketut akan beranjak. Jika datang ke pamerannya selain melihat benda-benda sakral ala Ketut, teman-teman tentunya akan disajikan cerita-cerita akar atas karya tersebut. Pengunjung pun diberlakukan seintim itu. Seperti hubungan Ketut dengan karya-karyanya.

Selain sibuk berkarya pribadi, Ketut Sedana yang berambut gondrong ini juga tergabung dalam kelompok seni pertunjukan teater boneka, Kacak Kicak Puppet Theater, sejumlah even mural lepas, dan bekerja sebagai pelukis lepas di beberapa café di Denpasar.

Pembukaan pameran akan dimeriahkan oleh lagu-lagu hiperaktif oleh Badiktilu, pilihan list oleh Falsafah Tinu Maha dan Performing Art oleh Teater Kalangan. Selama pameran sebulan akan diadakan sejumlah acara. Pertama, lokakarya membuat boneka dari benda kesayangan bersama Kacak Kicak Puppet Theater pada 16 Februari. Kedua, lokakarya penulisan kritik karya seni rupa pada 23 Februari. Terakhir, penutupan, masak-makan bersama kawan-kawan kemudian akan dimeriahkan oleh solois Karna, Pandu Suksma dan Pekat Terakhir pada 8 Maret 2020.

Selamat berpameran. Mari datang.

Retreat KISARA 2020: Sharing dalam Kebersamaan dan Kesenangan

Halo sahabat Kisara, pada tahun 2020 ini Kisara kembali mengadakan retreat lo pada weekend 11-12 Januari kemarin. Selain menjadi kegiatan yang paling ditunggu setiap tahunnya, retreat juga menjadi kegiatan yang pas untuk sharing, refreshing, sampai evaluasi untuk tahun sebelumnya. Retreat yang biasanya diadakan dipenghujung tahun sebagai kegiatan untuk melepas penat para relawan di tahun 2019...

Lifetime Achievement Award untuk Made Taro di UWRF 2019

Made Taro, seorang pendongeng, penulis, dan pegiat permainan tradisional Bali mendapat penghargaan sepanjang masa di Ubud Writers and Readers Festival 2019 ini.

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang ke-16 dimulai pada Rabu (23/10/2019). Pada Gala Opening ini, UWRF kembali memberikan penghargaan sepanjang masa atau Lifetime Achievement Award kepada sosok sastra terpilih. Tahun ini, penerima Lifetime Achievement Award UWRF adalah Made Taro, seorang pedongeng legendaris asal Bali yang telah berjasa dalam melestarikan cerita rakyat dan dongeng lisan khususnya di Bali.

Penghargaan ini pernah diberikan oleh UWRF kepada Sapardi Djoko Damono pada tahun 2018 dan Almarhumah NH. Dini pada tahun 2017.

Lahir pada tahun 1939 di Sengkidu, Bali Timur, Made Taro awalnya mempelajari arsitektur, tetapi menemukan panggilannya untuk menulis puisi dan dongeng anak-anak. Ia telah menulis berbagai buku mengenai dongeng tradisional, begitu pula lagu dan permainan yang terinspirasi dari kisah dongeng. Beberapa judul buku yang ia tulis antara lain Dari Goak Maling Taruh Sampai Goak Maling Pitik, Dari Ngejuk Capung Sampai Ngejuk Lindung, Mengapa Manusia Tidak Melihat Dewa?, dan Mendongeng Lima Menit. Made Taro juga telah kerap menerima penghargaan untuk karyanya dalam pelestarian dan usahanya mempopulerkan kembali dongeng-dongeng tradisional.

“Menerima penghargaan ini, saya terkejut sekaligus gembira. Namun, dalam hati saya juga bertanya-tanya apa sebabnya saya diberi penghargaan. Memang sudah 46 tahun saya berkarya, tapi mungkin sampai sekarang masih banyak kalangan masyarakat yang menganggap remeh, ujar Made Taro.

“Apa yang saya kerjakan sejak tahun 1973 ini sudah saya terbitkan dalam bentuk buku. Jika dijumlah, mungkin ada lebih dari 40 buku. Dua dari buku-buku tersebut mendapat perhatian dari luar negeri, diterbitkan di Amerika Serikat dan Thailand. Tahun ini, karya saya mendapat perhatian dari UWRF. Saya tambah semangat. Semoga dengan adanya penghargaan ini, saya menjadi lebih bersemangat berkarya. Jadi, UWRF membuat saya semangat sehingga saya lupa saya sudah tua,” tutup Made Taro yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para hadirin Gala Opening.

Secara khusus, UWRF akan menghadirkan panel diskusi mendalam bersama Made Taro dalam sesi A Lifetime of Storytelling pada Minggu (27/10/2019) pukul 15.45-17.00 WITA di Indus Restaurant. Di tengah gempuran gadget dan permainan digital yang sangat membuat ketagihan, Made Taro melakukan perjalanan ke seluruh Bali dan sekitarnya, mengajar anak-anak tentang keajaiban permainan, lagu, dan cerita rakyat nasional. Dalam panel tersebut, Made Taro akan mengisahkan hampir empat dekade perjalanannya dalam merayakan cerita rakyat dan dongeng lisan.

Setelah Made Taro menerima penghargaan, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Cynthia Dewi Oka dan ditutup dengan pementasan tari Japatuwan yang dibawakan oleh kelompok tari Bumi Bajra dengan koreografer Dayu Ani.

Sebagai satu dari lima festival sastra terbaik dunia untuk tahun 2019 versi The Telegraph UK, Festival tahun ini menghadirkan lebih dari 180 pembicara yang datang dari 30 negara. Mereka akan bergiliran tampil dalam 70 sesi diskusi menarik yang dingkat dan dikembangkan dari tema tahun ini, Karma.

Dimulai hari Rabu (23/10/19) sore, UWRF menggelar Press Call di Indus Restaurant @ Taman Baca, Ubud, bersama pembicara-pembicara utama seperti peneliti senior Human Rights Watch Andreas Harsono, penulis buku sekaligus jurnalis BBC Indonesia Famega Syavira Putri, dan penulis Zimbabwe-Amerika Serikat peraih berbagai penghargaan Novuyo Rosa Tshuma. Dalam Press Call tersebut, hadir pula Pendiri dan Direktur UWRF Janet DeNeefe dan Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana.

Pengertian Karma secara singkat dan alasan di balik pemilihan tema tahun ini dijabarkan oleh Ketut Suardana, sementara Janet DeNeefe berbagi mengenai aspek yang menjadikan UWRF semakin dikenal secara internasional. Beliau pun menambahkan beberapa saran bagi mereka yang ingin mulai menciptakan festival sastra di daerahnya masing-masing. “Saat akan memulai, Anda harus tahu kalau nantinya Anda akan bekerja keras untuk Festival,” ujarnya.

Sementara itu, Andreas Harsono memaparkan mengenai harapannya akan pelaporan yang jujur dan jurnalisme yang tidak memihak dalam industri media dengan banyaknya berita palsu yang ada. “Saya rasa, selama para jurnalis, terutama mereka yang masih muda, masih mau melakukan riset, pasti ada harapan,” tuturnya.

Famega Syavira Putri, yang telah menuliskan perjalanan daratnya dari Indonesia ke Afrika seorang diri juga berbagi momen berharga selama melakukan perjalanan. Sementara Novuyo Rosa Tshuma menjabarkan bahwa sejarah pun dapat dituturkan dalam kisah fiksi yang indah.

Pada malam harinya, UWRF resmi dibuka pada acara Gala Opening yang berlokasi di Puri Ubud. Malam Gala Opening dibuka oleh tari penyambutan dari Sekhaa Tabuh dan dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak termasuk Penglingsir Puri Ubud Tjokorda Gde Putra Sukawati dan Pendiri & Direktur UWRF Janet DeNeefe.

“Banyak orang yang berkata bahwa kita perlu sebuah komunitas untuk menciptakan sesuatu. Seperti yang Anda lihat, itulah yang telah menciptakan Ubud Writers & Readers Festival dan kami merasa sangat berterima kasih karena komunitas di sini telah medukung kami. Saya harap Anda dapat menikmati empat hari ke depan dan benar-benar merasakan apa yang ditawarkan oleh Ubud,” ujar Janet DeNeefe dalam sambutannya.

Selanjutnya, sambutan dilanjutkan oleh Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calender of Events Kementerian Pariwisata Republik Indonesia Dra. Esthy Reko Astuty M.Si dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Ardana Sukawati. Main Program UWRF dihadirkan pada hari beikutnya, Kamis (24/10/2019) setelah Festival Welcome di NEKA Museum dari Janet DeNeefe, Guy Gunaratne, dan Nirwan Dewanto.

Main Program UWRF akan hadir mulai 24-27 Oktober di tiga venue utama, yaitu Festival Hub @ Taman Baca, Indus Restaurant, dan NEKA Museum. Berbagai panel diskusi menarik dengan berbagai topik dapat dinikmati pengunjung Festival, misalnya sesi Rise of the Tiger, Imagining the Past, Precious Peatlands, dan masih banyak lagi. Selain itu akan ada pula 100 lebih program lainnya seperti Special Events, lokakarya, lokakarya budaya, pemutaran film, pameran seni, peluncuran buku, pertunjukan musik, dan lainnya.

“Ketika kami merenungkan 16 tahun terakhir dan tentang bagaimana Festival telah berkembang menjadi salah satu acara sastra terbaik dunia, kami dapat menghargai maknanya sebagai wadah untuk pertukaran lintas budaya,” ujar Pendiri & Direktur UWRF Janet DeNeefe.

“Melalui tema Karma tahun ini, kami merayakan para penulis, seniman, dan pegiat dari seluruh Indonesia dan dunia yang sangat menyadari konsekuensi dari tindakan mereka, dan bagaimana konsekuensi tersebut akan berdampak pada masa depan kita bersama,” lanjutnya.

“Jika Anda menyukai kisah yang luar biasa, jika Anda terbuka untuk ide-ide inovatif, jika Anda ingin belajar lebih banyak tentang Indonesia dan sekitarnya, atau jika Anda percaya akan kekuatan kreativitas untuk menghasilkan perubahan yang nyata, maka datang dan nikmati keajaiban yang kini membuat UWRF lebih dikenal. Bagi banyak orang, UWRF telah mengubah hidup. Hal ini berlaku untuk saya, dan saya harap hal tersebut juga berlaku untuk Anda,” tutup DeNeefe.

The post Lifetime Achievement Award untuk Made Taro di UWRF 2019 appeared first on BaleBengong.

Merayakan Seni Kontemporer dengan Ingatan-Ingatan Spekulatif

Penyelenggara dan perupa di ART BALI 2019 setelah jumpa pers.

Pameran seni rupa kontemporer tahunan di Bali kembali diselenggarakan.

Pada edisi keduanya tahun ini, Art Bali mengusung tajuk “Speculative Memories” (Ingatan-Ingatan Spekulatif). Pameran seni rupa kontemporer ini mempresentasikan karya-karya terpilih dari 32 seniman Indonesia dan mancanegara.

Pameran yang dibuka pada Sabtu (12/10/2019) ini akan berlangsung selama tiga bulan. Dari 13 Oktober 2019 hingga 13 Januari 2020.

Art Bali 2019 berangkat dari gagasan mengenai penggalian narasi di garis waktu, khususnya dari aspek kesejarahan dalam berbagai pendekatan yang ditafsir dalam ‘ingatan-ingatan spekulatif’. Gagasan ini tidak lepas dari penyajian realita yang dikonstruksi oleh metode kognitif dan empiris.

Di sisi lain, ingatan seringkali lahir dengan kenyataan yang berbeda, dicatat dan kemudian menjadi perwujudan dan pemahaman berbeda serta memungkinkan hadir kembali di satu ruang yang sama, tetapi juga seringkali melahirkan paradoks karena suatu ingatan tentang hal-hal tiba-tiba dapat menjadi sebuah kontradiksi.

Pada konferensi pers kurator menyatakan bahwa “Speculative Memories” mencoba memaknai dan mengelaborasi peristiwa di Indonesia maupun secara global. Titik beratnya adalah menggali apa yang terjadi pada konteks waktu serta hubungannya dengan narasi sejarah. Ini adalah upaya mengeksplorasi dan mencari cara berbeda untuk mereposisi atau mendeformasi narasi yang muncul di waktu lampau, hari ini, maupun hal yang prediktif di masa depan.

Dikuratori oleh Rifky Effendy dan Ignatia Nilu, pameran Art Bali kali ini menghadirkan karya-karya seni visual dalam pelbagai presentasi medium seperti lukisan, instalasi, dan karya-karya dengan media seni baru. Total karya adalah 49, terdiri dari 25 karya dua dimensi dan 5 karya tiga dimensi serta 19 karya merupakan instalasi/multimedia/video/dan media lainnya.

“Karya-karya di pameran ini melahirkan peristiwanya sendiri. Ia telah membentuk banyak realitas dengan berbagai peralihan kemungkinan. Ingatan atas waktu memiliki perspektif yang tidak melulu dinyatakan oleh kekuatan yang besar tetapi menampilkan potongan-potongan kecil yang belum sempat tergali bahkan belum ditemukan. Kita senantiasa membutuhkan upaya baru untuk memahami realitas yang terjadi hari-hari ini demi mewujudkan dan merayakan kemanusiaan,” ujar Ignatia Nilu.

“Memori bisa diterjemahkan sebagai ingatan. Ingatan ini muncul secara neurotik, tetapi hari-hari ini ingatan sudah bergeser, khususnya karena teknologi, ingatan kita tidak lagi ditentukan oleh apa yang bisa kita ingat tetapi apa yang ada di cloud. Teknologi adalah perpanjangan baru dari memori kita. Ingatan kita akan sejarah sangat ditentukan oleh bagaimana ia dituliskan di era modern terutama di era internet. Ini salah satu yang menyebabkan ingatan-ingatan atau catatan sejarah menjadi sangat arbitrer dan memunculkan neo-konservativisme baru,” tambahnya.

Karya Putu Sutawijaya Sekurus apapaun Kau tetap Garudaku (2019)

Sebagian karya-karya yang dipamerkan juga menghadirkan gugatan atas memori kolektif. “Para seniman menafsirkan dan menghadirkan wacana dalam karya-karyanya yang berkorelasi dengan persoalan-persoalan di sekitar. Wacana reliji dan toleransi sangat mendominasi karya-karya di Art Bali kali ini,” kata Rifky Effendy.

Selain itu, seniman I Wayan Sujana ‘Suklu’ misalnya, merespon tema pameran dengan mengeksplorasi memori personalnya atas memori kultural agraris. Ia menggunakan bambu sebagai medium ungkap. “Karya saya masih dalam proses. Ini adalah suatu karya yang bersenyawa dengan konsep ruang, kosmologi dan situasi sehari-hari yang ada di Art Bali. 50% bentuk yang muncul akan dipengaruhi oleh bukan hanya memori saya, tetapi juga memori tumbuhan, hingga memori teman-teman yang saya temui ketika proses penciptaan,” ujar Suklu pada jumpa pers.

Sebagai penyelenggara Art Bali, Heri Pemad Manajemen, juga menaungi pameran seni Art Jog yang diselenggarakan di Yogyakarta; sebuah peristiwa seni yang telah berlangsung selama 12 tahun berturut-turut. Art Bali dirancang sebagai salah satu pameran seni berskala besar dan bertaraf internasional di Indonesia dengan tujuan untuk membangun dan mengembangkan ekosistem seni dan budaya di Bali pada khususnya.

“Art Bali juga ditujukan untuk menginspirasi dan menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap perkembangan karya artistik seniman dan meningkatkan minat masyarakat agar selalu mengunjungi peristiwa seni termasuk seni rupa kontemporer. Art Bali boleh dikata adalah salah satu pintu masuk, yang semoga bisa memicu lahirnya peristiwa- peristiwa lain,” ujar Heri Pemad.

Selain sebagai edukasi publik, ia juga menambahkan bahwa Art Bali dimaksudkan untuk ikut mendorong pariwisata Bali. Oleh karena itu, pameran ini dilangsungkan selama tiga bulan.

Pada pembukaan pameran, ART • BALI 2019 juga berkolaborasi dengan Fashion Council Western Australia yang setiap tahunnya menggelar Perth Fashion Festival (PFF). Salah satu agenda PFF adalah Asia Cultural Exchange yang mewadahi pertukaran budaya antara berbagai negara melalui fashion sebagai platform untuk mengkomunikasikan hubungan yang kuat antara kultur dan inovasi.

Pada pembukaan Art Bali, Asia Cultural Exchange menampilkan fashion show dari dua brand Indonesia (Ali Charisma dan Quarzia) serta dua brand Australia (33 POETS dan REIGN THE LABEL). Selain fashion show, melalui tema “Fashion: a discussion about selfie in the art exhibition” mereka juga akan menampilkan sebuah performance dengan membawakan konsep tentang pengaruh selfie (swafoto) dan media sosial terhadap budaya modern.

“Program ini ingin memberi ruang kolaborasi kepada desainer Indonesia dan Australia. Selain itu diharapkan bisa ikut memacu kreativitas dan ekonomi di dua negara,” tutur Gwen The, wakil Indonesia di Fashion Council Western Australia.

Setelah malam pembukaan, berlaku tiket masuk untuk pameran antara lain Rp 150.000 untuk warga negara asing, Rp 100.000 untuk warga negara Indonesia dan pemegang Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS), serta Rp 50.000 khusus hari Minggu untuk pemilik KTP Bali dan pelajar Bali. Cashback 50 persen bila menggunakan DANA Indonesia e-money. [b]

The post Merayakan Seni Kontemporer dengan Ingatan-Ingatan Spekulatif appeared first on BaleBengong.