Tag Archives: Agama

(Dongeng) Agama Tirta Versus (Realitas) “Agama Pariwisata”

Demi pariwisata, kita biarkan investor memakan apa saja yang ada di Bali. Kartun Gus Dark.

Pelan tetapi pasti, muncul “agama pariwisata” dan para pengikutnya.

Sontak kita terkejut setelah sebuah hasil penelitian menyebutkan bahwa Pulau Bali sedang menuju kepada krisis air. Seolah kita tidak percaya, bahwa pulau dengan agama tirta, pemujaan terhadap air, justru kini bersiap akan kekurangan air.

Bentang persawahan melahirkan kebudayaan pertanian sekaligus sumber penghidupan pada masanya. Tatanan kebudayaan juga tercipta melalui pertanian, yang salah satu unsur pentingnya adalah pemujaan terhadap air dalam rangkaian ritual-ritual.

Namun, itu dulu.

Pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi perumahan dan sarana pariwisata tidak terelakkan. Mungkin sebuah keniscayaan, kebudayaan air tergerus oleh modernitas bernama pembangunan dan pariwisata.

Kita seolah terpapar kepada kondisi yang menuntut untuk semuanya mengabdi kepada pariwisata. Kerusakan lingkungan dengan demikian hanya menunggu waktu.

Sudah lama saya mendengar ungkapan tentang budaya air dan budaya jalan yang bertubrukan dalam realitas kontemporer Bali. Saya rasa tidak hanya di Bali. Pengalaman saya dalam memahami kondisi di Papua beberapa tahun belakangan ini mungkin lebih dramatis. Kita terpaksa berhadapan dengan ironi-ironi antara cerita kejayaan (dongeng) masa lalu dan kenyataannya kini.

Budaya air tumbuh dari keseluruhan kehidupan manusia Bali, terutama dalam ritual agama. Foto Anton Muhajir.

Agama (Kebudayaan) Tirta

Teks-teks tradisi tidak menemukan konteksnya dalam realitas kontemporer Bali. Perubahan melaju kencang menerabas semuanya, tanpa kecuali. Tersedia berbagai macam pilihan yang harus dipilih. Pilihan-pilihan sulit dan tantangan yang harus dihadapi itulah yang menandai perubahan Bali.

Teks-teks sejatinya berguna sebagai pondasi dan suluh untuk mengenali posisi dan identitas kita. Selebihnya, kita sepatutnya mengisi teks tersebut dengan semangat zaman (baca: konteks) kita hidup saat ini. Dengan demikian teks akan berubah menjadi spirit. Spirit teks tersebut adalah perubahan itu sendiri. Dengan demikian pulalah kita akan menjadi eling dalam dunia yang berlari kencang ini.

Bagaimana mengkontekstualisasikan teks dalam kehidupan rakyat Bali yang berubah? Bagaimana memaknai sumber-sumber air penghidupan terancam pencemaran dan kekeringan? Kisah peradaban air yang perlahan-lahan tergerus peradaban jalan (infrastruktur secara luas)?

Perubahan-perubahan itulah yang melanda Bali dan daerah-daerah lain di negeri ini. Dongeng peradaban air perlahan tergantikan dengan peradaban pembangunan pariwisata. Yang tidak ikut serta seolah-olah akan terlindas tewas peradaban yang melaju kencang tanpa henti. Infrastruktur seolah menjadi ideologi yang menandai kemajuan.

Budaya air tumbuh dari kesuluruhan kehidupan manusia Bali. Filsafat keagamaan manusia Bali memandang laut dengan pantainya sebagai kawasan suci. Maka, bukanlah kebetulan jika kawasan pantai yang mengitari tanah Bali “dipagari” dengan pura. Dari beragam pura inilah diharapkan vibrasi kesucian dan kemurnian itu mengalir, menyusup ke puncak pikir, ke kedalaman hati, hingga ke relung batin umat manusia.

Siklus air dalam kebudayaan Bali bermula dari pegunungan, lantas menembus ke dalam bumi, menyembul lagi menjadi mata air, yang kemudian mengalirkan air ke sungai-sungai, menyejahterakan umat manusia dengan segenap mahluk seisi semestaraya, hingga akhirnya semua bermuara ke laut (Sumarta, 2015: 103-105).

Penelitian awal saya di Batur memberikan potret bahwa air begitu pentingnya dalam tataran religius juga budaya kemasyarakatan. Tidak salah yang menyebut bahwa Danau Batur, salah satunya, adalah sumber air di Balidwipa.

Dari Danau Batur lah air terbagi ke seluruh pelosok Bali. Air mengairi sawah-sawah, lahan pertanian, disedot industri pariwisata, hingga detak kehidupan rumah tangga manusia Bali. Pondasi kehidupan pertanian yang menjadi asal-muasal kehidupan manusia Bali tidak bisa dilepaskan dari peradaban air ini.

Sekaa Subak menjadi institusi penting yang memastikan berjalannya peradaban air pada lahan-lahan pertanian masyarakat. Selain sebagai jantung kehidupan, air menciptakan filosofinya sendiri. Totalitas kehidupan keagamaan manusia Bali dinapasi salah satunya oleh air. Dan Batur, dengan Gunung Batur, Danau Batur, dan Pura Ulun Danu Batur menjalani ritual penyembahan utama, salah satunya terhadap air.

Denyut peradaban air yang berorientasi ke Danau Batur dan Pura Ulun Danu Batur itulah yang menciptakan Pasihan, aliansi jejaring Subak-Subak yang memohon kesuburan lahan pertanian mereka melalui tirta dari Batur. Jaringan Pasihan inilah yang menghubungkan Pura Ulun Danu Batur dengan 45 subak bahkan kini mungkin lebih di Balidwipa.

Pasihan inilah yang merupakan penyokong dari pelaksanaan Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Dan bukan hanya di Danau Batur, danau-danau lainnya di Bali—Tamblingan dan Buyan—juga mempunyai jaringan subak tersendiri.

Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, menjadi ekspresi ritual dari para penyungsung Subak yang menyembah Ida Bhatari Dewi Danu di Pura Ulun Danu Batur. Sebagai bentuk rasa syukur, penyungsung Subak mempersembahkan hasil buminya (ngaturang sawinih atau sarin tahun) sebelum pelaksanaan Ngusaba Kadasa. Persembahan inilah yang digunakan sebagai bahan ritual Ngusaba Kadasa.

Pasihan adalah jaringan sosial budaya dengan orientasi ritual ke Pura Ulun Danu Batur, sebagai pura penting dalam pemujaan air. Pusat orientasi ritual memiliki legitimasi yang menjadi panduan bagi masyarakat pengikutnya (Majalah Batur, Pasihan: Aliran Peradaban Air Batur, Edisi 2 Maret 2019).

Sebuah proyek hotel sedang mangkrak di Bukit Timbis, Desa Kutuh, Badung, Bali. Foto Anton Muhajir.

Tubrukan

Transformasi global berimplikasi dengan semakin memuncaknya pengaruh pembangunan yang menenggelamkan kebudayaan air. Salah satu rekayasa sosial terpenting Bali pasca kolonial adalah hasrat kuasa pariwisata yang sejatinya sudah terbentuk sejak rezim kolonial Belanda menduduki Indonesia.

Hasrat baru “ideologi kenikmatan” ini berlangsung “berkelanjutan” di berbagai wilayah di Indonesia, terutama juga di Bali. Seluruh energi dikerahkan untuk sektor yang kemudian perlahan-lahan menyingkirkan bidang pertanian.

Pembangunan pascakolonial menitikberatkan kepada pariwisata yang menyulap segala macam kerikil-kerikil tajam menjadi properti-properti pentas pariwisata. Pondasi yang membangunnya adalah otentisitas (keaslian atau keeksotisan) budaya. Orientasi dan distribusi sosial ekonomi dengan demikian juga ikut berubah.

Sumarta (2015: 106) dengan detail menarasikan bahwa dalam budaya air, pusat distribusi sosial ekonomi berorientasi pada gunung dengan ulun danu sebagai pusat.

Saat budaya jalan menerjang, pusat perputaran sosial ekonomi berubah menjadi Bandara I Gusti Ngurah Rai di Tuban yang berada di kaki Pulau Bali. Dari kaki Bali inilah para wisatawan didistribusikan menuju ke berbagai daerah di Bali. Dan mereka juga dipulangkan kembali melalui kaki Pulau Bali.

Rakyat Bali yang menjadi serdadunya dibuat tanpa jeda memikirkan pariwisata. Adakah yang kritis terhadap pariwisata?

Palguna (2007:28) mengungkapkan dengan tepat sekali. “Memang satu dua orang pernah mencoba berperan kritis. Yang dikiritik bukan pariwisata, tapi investor atau pelaku-pelaku di tingkat bawah. Tapi jarang sekali kami mengetahui bagaimana cara investor mendiamkan orang-orang kritis. Karena investor itu bekerja seperti mahluk halus. Ia ada di mana-mana tapi tidak kelihatan. Tiba-tiba sebuah kawasan telah dikuasainya.”

Pelan namun pasti, muncullah “agama pariwisata” yang memiliki banyak pengikutnya. Mereka adalah para serdadu yang siap mati demi pariwisata, yang memang menggantungkan hidupnya dari pariwisata. Dari mulai manajer hotel berbintang, pegawainya, tukang kebun, dosen dan profesor pariwisata di perguruan tinggi, hingga bendesa adat dan perempuan front office di sebuah villa mewah di Ubud.

“Agama pariwisata” telah menerjemahkan dirinya begitu cair dan menjadi saudara, rekan kerja bahkan tetangga dan krama di banjar. Oleh sebab itulah, “agama pariwisata” telah mewariskan cara berpikir dan (seolah-oleh) ketergantungan terhadap kehadirannya yang merasuk dalam setiap tempat dan waktu.

Kita menyaksikan arus padat pariwisata dimulai di kaki Pulau Bali. Di kaki Pulau Bali jugalah kawasan ekslusif pariwisata hadir di Nusa Dua dengan berbagai hotel bintang lima dan fasilitas pariwisata mewah yang mengelilinginya. Di kaki Pulau Bali telah menjadi simbol terikatnya manusia Bali dengan pariwisata dan pernak-pernik di dalamnya.

Terikatnya kaki Bali menjadi cerminan penting bahwa kita masih kehilangan siasat untuk memikirkan satu hal penting: apa daya kita (selain) setelah pariwisata? [b]

The post (Dongeng) Agama Tirta Versus (Realitas) “Agama Pariwisata” appeared first on BaleBengong.

Menyesapi Akulturasi Hindu – Budha di Baturiti

Umat Hindu dan Budha beriringan menuju tempat kremasi. Inilah contoh akulturasi di Baturiti.
Umat Hindu dan Budha beriringan menuju tempat kremasi. Foto Anton Muhajir.

Kematian di Baturiti bisa menjadi perayaan atas keberagaman.

Sebuah peti dihiasi rangkaian bunga, boneka bidadari, dan kupu-kupu. Ini altar almarhum Ong Kie Bing (I Putu Yasa). Laki-laki tua sekitar 85 tahun ini meninggal pada 12 Mei 2019 lalu.

Hampir dua minggu setelah kematian Yasa, keluarganya menggelar upacara kremasi di tempat lahirnya, Banjar Pekarangan, Baturiti, Tabanan, Bali.

Ruang penghormatan ada di depan rumah, setelah pintu gerbang masuk. Warga Banjar Pekarangan yang mayoritas Hindu sibuk membagi tugas untuk mengurus ritual kremasi Yasa, penganut Budha yang menjadi anggota adat banjar ini.

Banjar adalah unit sosial terkecil dalam sistem kemasyarakatan di Bali. Seperti dusun atau RT/RW. Warga non-Hindu yang bermukim di sebuah banjar bisa menjadi warga dinas. Hak dan kewajibannya sebatas administrasi kependudukan.

Sementara warga beragama Hindu menjadi warga dinas dan adat. Mereka memiliki hak dan kewajiban adat istiadat.

Namun, kebiasaan umum itu tidak berlaku di Baturiti. Umat Budha pun bisa menjadi warga adat.

Kasus pada Ong hanya salah satu contohnya. Walau beragama Budha, beretnis Tionghoa. Tak heran, sekitar 167 kepala keluarga (KK) warga Banjar Pekarangan mengurus upacara kematiannya.

“Ini pembauran dari zaman dahulu. Perbedaan yang baik,” ujar Ida Bagus Pandu Manuaba, Kelian (kepala) Adat Banjar Pekarangan.

Pandu mengatakan, dari 167 KK, umat Budha yang menjadi warga adat hanya sekitar 5 KK. Sangat sedikit, tapi mendapatkan hak setara. Tidak ada diskriminasi. Pandu menyebut tak ada perbedaan hak dan kewajiban adat.

Begitulah wujud akulturasi di Baturiti berlangsung secara turun temurun.

Umat Hindu dan Budha beriringan menuju tempat kremasi. Inilah contoh akulturasi di Baturiti.
Keluarga almarhum membawakan beragam perlengkapan menemani perjalanan ke tempat kremasi. Foto Anton Muhajir.

Perayaan

Upacara kematian Ong dua bulan lalu bisa menjadi wujudnya.

Warga adat laki-laki terlihat sibuk menyiapkan rakitan bambu untuk membawa peti. Sementara warga adat perempuan fokus di dapur, menyiapkan teh, kopi, serta kue untuk yang datang menyampaikan duka cita.

Para perempuan berpakaian adat Bali seperti kebaya, kain, dan selendang. Laki-laki mengenakan udeng, kain, dan selendang.

Sementara keluarga besar Ong mengenakan baju katun yang dipakai terbalik warna putih-krem, celana panjang, dengan sobekan kain terikat di kepala. Ada alasan sendiri kenapa baju itu dikenakan terbalk.

“Konon, saat mengurus upacara kematian, nenek moyang tak peduli dengan kondisi pakaiannya, dalam kondisi prihatin,” Sudiarta, anak laki-laki almarhum Ong.

Anak-anak Ong mengenakan ikan kepala putih, sementara cucu-cicit kain merah.

Sebelum peti diangkat, ada upacara penghormatan terakhir. Di atas meja disediakan macam-macam jenis makanan dan buah-buahan. Pada bagian depan meja diletakkan kepala babi.

Makanan yang harus ada pada setiap upacara kematian adalah “sam seng”, terdiri dari lapisan daging dan minyak babi (Samcan), seekor ayam yang sudah dikuliti, darah babi, dan telur bebek. Semuanya direbus dan diletakkan dalam sebuah piring besar.

Sebelum menuju kuburan, ada upacara Hoe. Putra tertua memegang photo almarhum dan sebatang bambu diberi sepotong kertas putih yang bertuliskan huruf Cina, biasa disebut “Hoe”. Ia harus berjalan dekat peti mati, diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain.

Semangka dibanting sebagai tanda kehidupan almarhum di dunia sudah selesai. Foto Anton Muhajir.

Dibanting

Begitu peti mati diangkat keluar rumah, sebuah semangka dibanting hingga pecah sebagai tanda bahwa kehidupan almarhum di dunia ini sudah selesai.

Pecahan semangka ini diikuti suara gamelan yang dimainkan warga adat. Lebih dari 200 orang membuat barisan sesuai tahapan tradisi Budha-Tionghoa, paling depan adalah keluarga besar dengan sarana ritualnya. Diiringi warga adat, beberapa orang di antaranya ikut mengangkat peti jenazah.

Barisan warga menuruni bukit dan kebun sayuran menuju jalan raya. Perjalanan sekitar 5 kilometer ditempuh dengan jalan kaki. Para pecalang, petugas keamanan adat yang berpakaian hitam sudah siap mengatur lalu lintas, jalan raya rute Denpasar-Bedugul-Singaraja yang cukup ramai.

Dalam perjalanan menuju kuburan, di setiap persimpangan, anak-anak laki almarhum berlutut menghadap orang-orang yang mengantar jenazah. Ini simbol menutup persimpangan agar almarhum tidak tersesat di jalan. Sekitar 30 menit jalan kaki cepat, tibalah di sebuah kuburan Cina, yang dikelola Suka Duka Kertha Yadnya, warga Baturiti etnis Tionghoa.

Almarhum kembali didoakan oleh keluarga besarnya sebelum peti dimasukkan ke ruang pembakaran. Persembahyangan kepada Dewa Api. Saat bersamaan, kidung dan angklung khas ritual Ngaben umat Hindu di Bali mengalun mengiringi dengan lirih. Mengucapkan salam perpisahan.

Pendeta Budha, pemimpin upacara melontarkan gandum, koin, kacang ijo, jagung sebagai simbol almarhum memberikan berkah kepada pihak keluarga. Usai dibakar, abunya dihanyutkan di laut, keluarga bersembahyang pada Dewa Laut.

“Keluarga berencana ke kuburan naik mobil yayasan suka duka dengan sejumlah pertimbangan, tapi krama banjar sendiri minta tetep digotong, katanya sebagai penghormatan terakhir mereka buat almarhum kakek saya,” cerita Julio Saputra, cucu laki-laki almarhum.

Ia merasa tradisi multikultural wujud akulturasi di Baturiti, desa kelahirannya, sangat menyenangkan. Namun, Julio kadang masih mempertanyakan akar identitasnya, karena Julio dan keluarga besarnya melakukan ritual lintas agama dan etnis seperti Hindu, Budha, dan Tionghoa.

Pecalang mengabadikan jenazah sebelum dibakar di tempat kremasi. Foto Anton Muhajir.

Dasarnya Sama

Han Tay Piao (Putu Mangku Anwidana), pendeta yang memimpin upacara ini juga menjadi salah satu pengelola Pura Batu Meringgit di dalam Kebun Raya Bedugul. Pura ini simbol akulturasi karena di dalamnya ada kongco. Menurutnya tahapan ritual Hindu dan Budha pada dasarnya sama.

“Masih ada yang bilang bukan Bali. Padahal lahir dari ibu Bali,” pria tua ini berkisah suka dukanya. Warga Hindu masih banyak mengelompokkan agama jadi dua, orang Bali dan non Bali. Mengaburkan perbedaan makna suku dan agama.

Ini mungkin salah satu tantangan akulturasi di Baturiti.

Gusti Biang, salah satu warga Banjar Pekarangan menyebut pembauran ini sudah jadi kesehariannya. Sesuai kesepakatan adat, saat ada kematian, tiap warga menyumbang Rp 45 ribu per KK.

Baturiti, salah satu kawasan dengan hamparan areal pertanian adalah salah satu pemasok besar sayuran di pasar-pasar dan supermarket Bali. Dari Kota Denpasar, sekitar 2 jam berkendara ke arah obyek wisata Bedugul.

Selain kelompok Hindu dan Budha, ada juga Islam dan Kristen yang sampai kini hidup berdampingan. Pembauran ini menghasilkan kekayaan kuliner khas, misalnya kue pia dan bakso bubur. Kerenyahan, manis, dan gurih kehidupan. [b]

The post Menyesapi Akulturasi Hindu – Budha di Baturiti appeared first on BaleBengong.

Menyesapi Akulturasi Hindu – Budha di Baturiti

Umat Hindu dan Budha beriringan menuju tempat kremasi. Inilah contoh akulturasi di Baturiti.
Umat Hindu dan Budha beriringan menuju tempat kremasi. Foto Anton Muhajir.

Kematian di Baturiti bisa menjadi perayaan atas keberagaman.

Sebuah peti dihiasi rangkaian bunga, boneka bidadari, dan kupu-kupu. Ini altar almarhum Ong Kie Bing (I Putu Yasa). Laki-laki tua sekitar 85 tahun ini meninggal pada 12 Mei 2019 lalu.

Hampir dua minggu setelah kematian Yasa, keluarganya menggelar upacara kremasi di tempat lahirnya, Banjar Pekarangan, Baturiti, Tabanan, Bali.

Ruang penghormatan ada di depan rumah, setelah pintu gerbang masuk. Warga Banjar Pekarangan yang mayoritas Hindu sibuk membagi tugas untuk mengurus ritual kremasi Yasa, penganut Budha yang menjadi anggota adat banjar ini.

Banjar adalah unit sosial terkecil dalam sistem kemasyarakatan di Bali. Seperti dusun atau RT/RW. Warga non-Hindu yang bermukim di sebuah banjar bisa menjadi warga dinas. Hak dan kewajibannya sebatas administrasi kependudukan.

Sementara warga beragama Hindu menjadi warga dinas dan adat. Mereka memiliki hak dan kewajiban adat istiadat.

Namun, kebiasaan umum itu tidak berlaku di Baturiti. Umat Budha pun bisa menjadi warga adat.

Kasus pada Ong hanya salah satu contohnya. Walau beragama Budha, beretnis Tionghoa. Tak heran, sekitar 167 kepala keluarga (KK) warga Banjar Pekarangan mengurus upacara kematiannya.

“Ini pembauran dari zaman dahulu. Perbedaan yang baik,” ujar Ida Bagus Pandu Manuaba, Kelian (kepala) Adat Banjar Pekarangan.

Pandu mengatakan, dari 167 KK, umat Budha yang menjadi warga adat hanya sekitar 5 KK. Sangat sedikit, tapi mendapatkan hak setara. Tidak ada diskriminasi. Pandu menyebut tak ada perbedaan hak dan kewajiban adat.

Begitulah wujud akulturasi di Baturiti berlangsung secara turun temurun.

Umat Hindu dan Budha beriringan menuju tempat kremasi. Inilah contoh akulturasi di Baturiti.
Keluarga almarhum membawakan beragam perlengkapan menemani perjalanan ke tempat kremasi. Foto Anton Muhajir.

Perayaan

Upacara kematian Ong dua bulan lalu bisa menjadi wujudnya.

Warga adat laki-laki terlihat sibuk menyiapkan rakitan bambu untuk membawa peti. Sementara warga adat perempuan fokus di dapur, menyiapkan teh, kopi, serta kue untuk yang datang menyampaikan duka cita.

Para perempuan berpakaian adat Bali seperti kebaya, kain, dan selendang. Laki-laki mengenakan udeng, kain, dan selendang.

Sementara keluarga besar Ong mengenakan baju katun yang dipakai terbalik warna putih-krem, celana panjang, dengan sobekan kain terikat di kepala. Ada alasan sendiri kenapa baju itu dikenakan terbalk.

“Konon, saat mengurus upacara kematian, nenek moyang tak peduli dengan kondisi pakaiannya, dalam kondisi prihatin,” Sudiarta, anak laki-laki almarhum Ong.

Anak-anak Ong mengenakan ikan kepala putih, sementara cucu-cicit kain merah.

Sebelum peti diangkat, ada upacara penghormatan terakhir. Di atas meja disediakan macam-macam jenis makanan dan buah-buahan. Pada bagian depan meja diletakkan kepala babi.

Makanan yang harus ada pada setiap upacara kematian adalah “sam seng”, terdiri dari lapisan daging dan minyak babi (Samcan), seekor ayam yang sudah dikuliti, darah babi, dan telur bebek. Semuanya direbus dan diletakkan dalam sebuah piring besar.

Sebelum menuju kuburan, ada upacara Hoe. Putra tertua memegang photo almarhum dan sebatang bambu diberi sepotong kertas putih yang bertuliskan huruf Cina, biasa disebut “Hoe”. Ia harus berjalan dekat peti mati, diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain.

Semangka dibanting sebagai tanda kehidupan almarhum di dunia sudah selesai. Foto Anton Muhajir.

Dibanting

Begitu peti mati diangkat keluar rumah, sebuah semangka dibanting hingga pecah sebagai tanda bahwa kehidupan almarhum di dunia ini sudah selesai.

Pecahan semangka ini diikuti suara gamelan yang dimainkan warga adat. Lebih dari 200 orang membuat barisan sesuai tahapan tradisi Budha-Tionghoa, paling depan adalah keluarga besar dengan sarana ritualnya. Diiringi warga adat, beberapa orang di antaranya ikut mengangkat peti jenazah.

Barisan warga menuruni bukit dan kebun sayuran menuju jalan raya. Perjalanan sekitar 5 kilometer ditempuh dengan jalan kaki. Para pecalang, petugas keamanan adat yang berpakaian hitam sudah siap mengatur lalu lintas, jalan raya rute Denpasar-Bedugul-Singaraja yang cukup ramai.

Dalam perjalanan menuju kuburan, di setiap persimpangan, anak-anak laki almarhum berlutut menghadap orang-orang yang mengantar jenazah. Ini simbol menutup persimpangan agar almarhum tidak tersesat di jalan. Sekitar 30 menit jalan kaki cepat, tibalah di sebuah kuburan Cina, yang dikelola Suka Duka Kertha Yadnya, warga Baturiti etnis Tionghoa.

Almarhum kembali didoakan oleh keluarga besarnya sebelum peti dimasukkan ke ruang pembakaran. Persembahyangan kepada Dewa Api. Saat bersamaan, kidung dan angklung khas ritual Ngaben umat Hindu di Bali mengalun mengiringi dengan lirih. Mengucapkan salam perpisahan.

Pendeta Budha, pemimpin upacara melontarkan gandum, koin, kacang ijo, jagung sebagai simbol almarhum memberikan berkah kepada pihak keluarga. Usai dibakar, abunya dihanyutkan di laut, keluarga bersembahyang pada Dewa Laut.

“Keluarga berencana ke kuburan naik mobil yayasan suka duka dengan sejumlah pertimbangan, tapi krama banjar sendiri minta tetep digotong, katanya sebagai penghormatan terakhir mereka buat almarhum kakek saya,” cerita Julio Saputra, cucu laki-laki almarhum.

Ia merasa tradisi multikultural wujud akulturasi di Baturiti, desa kelahirannya, sangat menyenangkan. Namun, Julio kadang masih mempertanyakan akar identitasnya, karena Julio dan keluarga besarnya melakukan ritual lintas agama dan etnis seperti Hindu, Budha, dan Tionghoa.

Pecalang mengabadikan jenazah sebelum dibakar di tempat kremasi. Foto Anton Muhajir.

Dasarnya Sama

Han Tay Piao (Putu Mangku Anwidana), pendeta yang memimpin upacara ini juga menjadi salah satu pengelola Pura Batu Meringgit di dalam Kebun Raya Bedugul. Pura ini simbol akulturasi karena di dalamnya ada kongco. Menurutnya tahapan ritual Hindu dan Budha pada dasarnya sama.

“Masih ada yang bilang bukan Bali. Padahal lahir dari ibu Bali,” pria tua ini berkisah suka dukanya. Warga Hindu masih banyak mengelompokkan agama jadi dua, orang Bali dan non Bali. Mengaburkan perbedaan makna suku dan agama.

Ini mungkin salah satu tantangan akulturasi di Baturiti.

Gusti Biang, salah satu warga Banjar Pekarangan menyebut pembauran ini sudah jadi kesehariannya. Sesuai kesepakatan adat, saat ada kematian, tiap warga menyumbang Rp 45 ribu per KK.

Baturiti, salah satu kawasan dengan hamparan areal pertanian adalah salah satu pemasok besar sayuran di pasar-pasar dan supermarket Bali. Dari Kota Denpasar, sekitar 2 jam berkendara ke arah obyek wisata Bedugul.

Selain kelompok Hindu dan Budha, ada juga Islam dan Kristen yang sampai kini hidup berdampingan. Pembauran ini menghasilkan kekayaan kuliner khas, misalnya kue pia dan bakso bubur. Kerenyahan, manis, dan gurih kehidupan. [b]

The post Menyesapi Akulturasi Hindu – Budha di Baturiti appeared first on BaleBengong.

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini


Melasti sebagai salah satu rangkaian pelaksanaan Nyepi. Foto Anton Muhajir.

Berikut adalah sejumlah seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi tahun ini.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali menyampaikan pedoman pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941 atau kalender masehi 2019 ini. Panduan ini disebarluaskan termasuk ke media sosial oleh PHDI Bali.

Ketua PHDI I Gusti Ngurah Sudiana dan majelis-majelis agama dan keagamaan di Bali menyatakan seruan bersama seperti tahun-tahun sebelumnya. Di antaranya penyedia jasa transportasi laut, darat, dan udara tidak diperkenankan beroperasi selama Hari Raya Nyepi. Demikian juga lembaga penyiaran televisi dan radio. Penyedia jasa selular pun diharapkan mematikan data selulernya.

Seruan ini direspon Kemenkominfo dengan Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika No 3 tahun 2019. Seluruh penyelenggara telekomunikasi yang menyediakan akses internet di Bali mendukung seruan kecuali di obyek vital dan sarana darurat. Misalnya rumah sakit, kantor polisi, militer, BPBD, BMKG, Basrnas, dan lainnya.

Rangkaian Nyepi dimulai dengan Melis/Melasti/Mekiyis sampai 6 Maret yang pelaksanaannya disesuaikan dengan desa setempat.
Selanjutnya adalah upacara Tawur Kesanga yang dilakukan dengan sejumpah prosesi.

Pertama, perwakilan dari masing-masing desa/kecamatan datang ke Pura Besakih membawa perlengkapan persembahyanganuntuk mohon Nasi Tawur dan Tirtha Tawur untuk disebarkan dan dipercikkan di wilayah masing-masing.

Selanjutnya tiap desa menggunakan Upakara Tawur Agung dengan segala kelengkapannya. Dilaksanakan dengan mengambil tempat pada Catuspata (perempatan utama) pada waktu tengai tepet (sekitar pukul 12.00 Wita).

Berlanjut sampai tingkat rumah tangga dengan sarana persembahyangan lebih sederhana. Misalnya menghaturkan Segehan Manca Warna 9 (sembilan) dengan olahan ayam brumbun, disertai tetabuhan tuak, arak, berem, dan air yang didapatkan dari desa setempat, dihaturkan ke hadapan Sang Bhuta Raja dan Sang Kala Raja.

Keramaian kemudian berpindah ke jalan-jalan, disebut Pangerupukan, saat ribuan ogoh-ogoh dari ukuran kecil sampai 6 meter diarak oleh anak-anak dan orang tua. Dilengkapi aapi (obor), bunyi-bunyian seperti baleganjur dan lainnya. Ngerupuk dilakukan dengan keliling desa, dan parade ogoh-ogoh ini bisa sampai tengah malam.

Hingga Kamis pagi, pukul 6, petugas keamanan tradisional (pecalang) sudah berjaga-jaga di tiap pemukiman dan jalan. Keriuhan Pangerupukan berganti dengan sunyi, sepi. Nyepi Sipeng dilaksanakan 24 jam sejak jam 06.00 Wita sampai dengan jam 06.00 Wita keesokan harinya, dengan melaksakan Catur Brata Penyepian.

Di antaranya Amati Gni, yaitu tidak menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka. Amati Karya, tidak melakukan kegiatan fisik/kerja namun melakukan aktivitas rohani untuk refleksi diri. Amati Lelungan, tidak berpergian, dan Amati Lelanguan, tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang, melainkan tekun melatih batin.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali juga menyepakati agar penganut agama dan keyakinan lain menyesuaikan pelaksanaan Brata Penyepian seperti tidak ada bunyi pengeras suara misalnya saat Sholat dan tidak menyalakan lampu pada waktu malam hari. Dapat diberikan pengecualian bagi yang menderita atau sakit dan membutuhkan layanan untuk keselamatan. [b]

The post Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini appeared first on BaleBengong.

Inilah Sejumlah Mitos tentang Tanah Lot

Tanah Lot menjadi salah satu tempat wisata populer di Bali. Foto Komang Putrayasa (Flickr).

Apakah kalian pernah mengunjungi Pura Tanah Lot?

Rasanya kurang lengkap kalau ke Bali tidak mampir ke tempat ini. Pura Tanah Lot merupakan tempa persembahyangan bagi umat Hindu Bali. Di tempat ini ada dua pura. Satu di atas bongkahan batu dan yang satu berada di atas tebing di pinggir pantai.

Tanah Lot merupakan tempat wisata eksotis dengan pemandangan laut dan keindahan matahari tenggelamnya. Namun, pernahkah kalian mendengar mitos tentang tempat tersebut?

Ada beberapa mitos tersebar di kalangan masyarakat sekitar. Nah, kali ini kita akan membahas beberapa mitos tersebut, tetapi sebelumnya mari kita lihat sejarah tempat ini.

Sejarah Pura Tanah lot

Menurut legenda, dikisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Hyang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari Jawa ke Bali.

Yang berkuasa di pulau Bali pada saat itu ialah Raja Dalem Waturenggong. Beliau menyambut baik dengan kedatangan dari Dang Hyang Nirartha dalam menjalankan misinya. Penyebaran agama Hindu pun berhasil sampai ke pelosok-pelosok desa di Pulau Bali.

Dikisahkan, Dang Hyang Nirartha melihat sinar suci dari arah laut selatan Bali. Maka Dang Hyang Nirartha mencari lokasi sinar tersebut. Tibalah beliau di sebuah pantai di Desa Beraban Tabanan.

Pada masa itu Desa Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, yang sangat menentang ajaran dari Dang Hyang Nirartha dalam menyebarkan agama Hindu. Bendesa Beraban Sakti menganut aliran monotheisme.

Lalu Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi di atas batu karang yang menyerupai bentuk burung beo. Saat itu batu karang tersebut berada di daratan.

Dengan berbagai cara Bendesa Beraban Berusaha mengusir Dang Hyang Nirartha dari tempat meditasinya.

Berdasarkan legenda, Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batukarang di tengah lautan.

Setelah peristiwa itu Bendesa Beraban Sakti kemudian mengakui kesaktian Dang Hyang Nirartha. Dia pun menjadi pengikutnya untuk memeluk agama Hindu bersama dengan seluruh penduduk setempat.

Sebelum meninggalkan Desa Beraban, Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada bendesa Beraban. Keris tersebut memiliki kekuatan untuk menghilangkan segala penyakit yang menyerang tanaman.

Keris tersebut disimpan di Puri Kediri dan dibuatkan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot setiap enam bulan sekali.

Semenjak upacara tersebut rutin dilakukan penduduk Desa Beraban, kesejahteraan penduduk pun meningkat dengan pesat. Hasil panen pertanian melimpah dan mereka hidup dengan saling menghormati.

Adanya Tanah Lot sebagai tempat wisata populer di Bali saat ini turut meningkatkan kesejahteraan warga Desa Beraban. Namun, hati-hati. Tanah Lot juga memiliki sejumlah mitos.

Apa saja itu?

1. Membawa pasangan akan membuat hubungan cepat berakhir.

Konon, kalau kita membawa pasangan ke Tanah Lot, hubungan cepat berakhir. Menurut saya mitos ini rasanya kurang tepat karena banyak pasangan yang datang ke tempat ini mengaku hubungan mereka baik-baik saja.

Bahkan teman saya yang sering pergi melakukan persembahyangan ke sana dengan pacarnya baik-baik saja. Mungkin mitos ini berkembang untuk menjaga kesucian agar tempat itu tidak digunakan untuk hal yang negatif.

2. Ular Suci Penjaga pura Tanah Lot

Selain itu ada juga mitos tentang ular suci penjaga pura. Ular yang berada di tempat ini berjenis ular laut yang bisanya sangat mematikan.

Kenyataannya, ular di sana sangat jinak. Malah, konon katanya ular yang berada di dalam sebuah goa ini bisa mengabulkan permintaan sekaligus sebagai penjaga pura tersebut.

Tempat ular ini biasanya dijaga pawangnya. Kita dikenakan biaya untuk bisa memegang dan berfoto dengannya.

3. Air suci yang membuat awet muda

Mitos lain yang dipercaya masyarakat adalah air di Tanah Lot bisa membuat orang awet muda. Banyak pengunjung datang untuk membuktikan mitos itu sendiri, tetapi belum ada penelitian tentang kebenaran air suci ini.

Nah, itulah tadi mitos yang melekat pada Pura Tanah Lot. Untuk kalian yang ingin liburan di Bali jangan lupa mampir ke obyek wisata ini. [b]

The post Inilah Sejumlah Mitos tentang Tanah Lot appeared first on BaleBengong.