Tag Archives: Agama

Inilah Sejumlah Mitos tentang Tanah Lot

Tanah Lot menjadi salah satu tempat wisata populer di Bali. Foto Komang Putrayasa (Flickr).

Apakah kalian pernah mengunjungi Pura Tanah Lot?

Rasanya kurang lengkap kalau ke Bali tidak mampir ke tempat ini. Pura Tanah Lot merupakan tempa persembahyangan bagi umat Hindu Bali. Di tempat ini ada dua pura. Satu di atas bongkahan batu dan yang satu berada di atas tebing di pinggir pantai.

Tanah Lot merupakan tempat wisata eksotis dengan pemandangan laut dan keindahan matahari tenggelamnya. Namun, pernahkah kalian mendengar mitos tentang tempat tersebut?

Ada beberapa mitos tersebar di kalangan masyarakat sekitar. Nah, kali ini kita akan membahas beberapa mitos tersebut, tetapi sebelumnya mari kita lihat sejarah tempat ini.

Sejarah Pura Tanah lot

Menurut legenda, dikisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Hyang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari Jawa ke Bali.

Yang berkuasa di pulau Bali pada saat itu ialah Raja Dalem Waturenggong. Beliau menyambut baik dengan kedatangan dari Dang Hyang Nirartha dalam menjalankan misinya. Penyebaran agama Hindu pun berhasil sampai ke pelosok-pelosok desa di Pulau Bali.

Dikisahkan, Dang Hyang Nirartha melihat sinar suci dari arah laut selatan Bali. Maka Dang Hyang Nirartha mencari lokasi sinar tersebut. Tibalah beliau di sebuah pantai di Desa Beraban Tabanan.

Pada masa itu Desa Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, yang sangat menentang ajaran dari Dang Hyang Nirartha dalam menyebarkan agama Hindu. Bendesa Beraban Sakti menganut aliran monotheisme.

Lalu Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi di atas batu karang yang menyerupai bentuk burung beo. Saat itu batu karang tersebut berada di daratan.

Dengan berbagai cara Bendesa Beraban Berusaha mengusir Dang Hyang Nirartha dari tempat meditasinya.

Berdasarkan legenda, Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batukarang di tengah lautan.

Setelah peristiwa itu Bendesa Beraban Sakti kemudian mengakui kesaktian Dang Hyang Nirartha. Dia pun menjadi pengikutnya untuk memeluk agama Hindu bersama dengan seluruh penduduk setempat.

Sebelum meninggalkan Desa Beraban, Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada bendesa Beraban. Keris tersebut memiliki kekuatan untuk menghilangkan segala penyakit yang menyerang tanaman.

Keris tersebut disimpan di Puri Kediri dan dibuatkan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot setiap enam bulan sekali.

Semenjak upacara tersebut rutin dilakukan penduduk Desa Beraban, kesejahteraan penduduk pun meningkat dengan pesat. Hasil panen pertanian melimpah dan mereka hidup dengan saling menghormati.

Adanya Tanah Lot sebagai tempat wisata populer di Bali saat ini turut meningkatkan kesejahteraan warga Desa Beraban. Namun, hati-hati. Tanah Lot juga memiliki sejumlah mitos.

Apa saja itu?

1. Membawa pasangan akan membuat hubungan cepat berakhir.

Konon, kalau kita membawa pasangan ke Tanah Lot, hubungan cepat berakhir. Menurut saya mitos ini rasanya kurang tepat karena banyak pasangan yang datang ke tempat ini mengaku hubungan mereka baik-baik saja.

Bahkan teman saya yang sering pergi melakukan persembahyangan ke sana dengan pacarnya baik-baik saja. Mungkin mitos ini berkembang untuk menjaga kesucian agar tempat itu tidak digunakan untuk hal yang negatif.

2. Ular Suci Penjaga pura Tanah Lot

Selain itu ada juga mitos tentang ular suci penjaga pura. Ular yang berada di tempat ini berjenis ular laut yang bisanya sangat mematikan.

Kenyataannya, ular di sana sangat jinak. Malah, konon katanya ular yang berada di dalam sebuah goa ini bisa mengabulkan permintaan sekaligus sebagai penjaga pura tersebut.

Tempat ular ini biasanya dijaga pawangnya. Kita dikenakan biaya untuk bisa memegang dan berfoto dengannya.

3. Air suci yang membuat awet muda

Mitos lain yang dipercaya masyarakat adalah air di Tanah Lot bisa membuat orang awet muda. Banyak pengunjung datang untuk membuktikan mitos itu sendiri, tetapi belum ada penelitian tentang kebenaran air suci ini.

Nah, itulah tadi mitos yang melekat pada Pura Tanah Lot. Untuk kalian yang ingin liburan di Bali jangan lupa mampir ke obyek wisata ini. [b]

The post Inilah Sejumlah Mitos tentang Tanah Lot appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Toa

Foto https://islamreformis.wordpress.com

MEN COBLONG saat ini mulai agak malas membuka beberapa akun media sosialnya.

Bahkan sepuluh lebih grup WA di ponsel miliknya sering tidak dibaca, langsung dihapus. Beragam caci-maki dan permusuhan makin membuat Men Coblong merasa tidak nyaman, terlebih dengan munculnya kasus Meliana.

Hyang Jagat, hanya karena masalah toa? Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai kasus Meliana, yang divonis 18 bulan penjara karena kasus penistaan agama perlu dilihat saksama. Meliana divonis bersalah setelah meminta masjid di dekat rumahnya mengecilkan suara azan.

“Apa yang diprotes Ibu Meiliana saya tidak paham, apakah pengajiannya atau azannya, tapi tentu apabila ada masyarakat yang meminta begitu tidak seharusnya dipidana,” kata Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu, 23 Agustus 2018.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu akan melihat lebih rinci masalah tersebut. Ia menilai tak ada yang salah jika Meiliana hanya meminta pengeras suara yang digunakan masjid dikecilkan volumenya.
DMI pun telah berulang kali meminta masjid di seluruh Indonesia menyesuaikan volume pengeras suara. Suara dari pelantang yang digunakan di masjid tak boleh melampui masjid lain.

Apalagi, rata-rata jarak antar-masjid di daerah padat penduduk sekitar 500 meter. Masjid pun tak diperkenankan menggunakan rekaman suara pengajian.

“Harus mengaji langsung, karena kalau pakai tape (pemutar suara) yang mengaji nanti amalnya orang Jepang saja, yang bikin tape itu kan (orang Jepang), jadi harus langsung,” jelas Kalla.

Meiliana divonis penjara 18 bulan oleh Pengadilan Negeri Sumatera Utara pada Selasa, 21 Agustus 2018. Perempuan asal Tanjungbalai, Sumatera Utara, itu dinilai terbukti melanggar Pasal 156 KUHP tentang penghinaan suatu golongan di Indonesia terkait ras, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan, atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Men Coblong terperangah. Masa kanak-kanaknya berloncatan ketika dia masih seorang bocah lugu duduk di bangku SD. Guru di sekolah olahraga selalu menggunakan toa jika mengatur murid-muridnya lomba lari, atau beragam lomba di hari HUT Kemerdekaan RI.

Semua riang, semua bisa tersenyum girang.

Suara toa waktu itu seperti semangat yang membakar. Men Coblong pun sering diperkenankan guru untuk mencoba toa milik sekolah jika latihan upacara, tujuannya agar terbiasa bersuara lantang jika menjadi petugas upacara setiap hari Senin.

Tiba-tiba saja saat ini suara-suara dari toa saat ini justru menimbulkan masalah. Banyak yang memberi saran ini-itu. Kita baru saja merayakan “kemerdekaan” kita juga baru saja merasakan gemilangnya anak negeri bertarung di ajang Asian Games 2018. Lalu muncul si Toa yang melukai “kebersamaan”, “kemajemukan”, “keberagaman”, “toleransi”.

Yang ada di otak Men Coblong kenapa kasus-kasus seperti ini tidak dicarikan solusi oleh pemerintah. Padahal, kasus-kasus seperti inilah embrio retaknya tenun kebangsaan. Harus segera dicarikan obatnya. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Toa appeared first on BaleBengong.

Hari Raya Kurban dan Dialog Antar-Iman

Hari Raya Kurban bisa menjadi momentum untuk melakukan dialog antar-iman.

Seminggu terakhir ini saya membaca kembali novel Supernova; Akar.

Sebelumnya saya sudah pernah membaca novel karya Dewi Lestari (Dee) ini. Sebuah novel spiritual yang mengangkat nilai-nilai buddhisme, dengan tokoh utama Bodhi yang digambarkan memiliki kelainan karena sangat peka.

Banyak orang menyebut mempunyai indera keenam atau yang kini dikenal dengan istilah “indigo”. Sejak bayi ia diasuh oleh Zang Ta Long, akrab dipanggil Guru Liong, seorang biksu asal Cina yang mengabdi di vihara Pit Yong Kiong di daerah Lawang, 60-an kilometer dari Surabaya ke arah selatan.

Guru Liong menemukan Bodhi di halaman depan vihara, terbungkus sarung dalam kotak kardus rokok bekas yang diletakkan di bawah pohon pada waktu subuh. Waktu itu Bodhi menangis keras sekali, dibarengi angin ribut yang membikin setiap lembar daun berisik. Menurut Guru Liong, alam seperti ikut memerintahkannya untuk datang ke pohon itu. Dan, bayi itu dinamai Bodhi.

Sebenarnya, peristiwa itu sudah diketahui oleh Guru Liong lewat mimpi-mimpi dua tahun sebelumnya. Mimpi itu berulang terus setiap hari, pada seminggu terakhir sebelum Bodhi ditemukan.

Dalam mimpinya, ada sebuah pohon bodhi betulan menaungi satu peti besar berisi cahaya. Ketika dia mengintip ke dalam peti, tiba-tiba cahaya itu menjelma menjadi bayi yang sudah bisa jalan dan bicara, seperti Siddharta Gautama. Dan, bayi itu melayang di atas tanah dan membakar pohon itu dengan jarinya.

Pada umur enam tahun, Bodhi menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya. Dunia yang tertangkap panca indranya ternyata berbeda dengan orang lain. Terkadang, ia harus berjalan sambil terus meraba tembok, supaya bisa tetap mengukur dimensi panjang-lebar-tinggi, sesuatu yang orang lain lakukan tanpa usaha.

Ketika lantai yang ia pijak mendadak hilang dan berubah menjadi pusaran api, ia bingung mana yang harus dipercaya. Memejamkan mata dirasakannya percuma. Seringnya, kelopak matanya tak berfungsi. Apa yang ia lihat dengan mata terbuka dan terpejam sama. Kalau sudah tak kuat, ia cuma bisa bisa menangis. Atau ngompol.

Banyak lagi kejadian aneh lainnya seiring Bodhi tumbuh dewasa. Banyak yang mengira ia gila, epilepsi, halusinasi berat dan sebagainya. Termasuk Guru Liong. Sepertinya dia tahu sesuatu, tapi memilih diam. Rupanya waktu itu ia masih belum yakin.

Satu hari, Bodhi melewati lapangan besar yang sedang ada upacara kurban. Tak disengaja, matanya beradu dengan dengan sapi yang hendak disembelih. Dan….”badan saya tiba-tiba kaku. Saya tak bisa menjabarkan. Pokoknya ingin meledak. Air mata dan keringat dingin banjir jadi satu, Badan ini kayak dilem di tembok, tak bisa bicara, rahang kejang, Dan, makin-makin gawat karena ada puluhan hewan kurban di sana! Kambing, domba, sapi,…semuanya mengirimkan getaran yang sama, ketakutan dan kesedihan yang sama dashyat. Akhirnya, saya meletus, meraung-raung, histeris, rubuh, kejang-kejang, ngompol dan berak di celana, sampai akhirnya pingsan. Sadar-sadar sudah di rumah sakit…..” Begitu Dee menulis dalam novelnya.

Adegan Bodhi saat melewati lapangan tempat upacara kurban berlangsung dan reaksinya saat melihat puluhan hewan disembelih menarik dicermati. Bagi orang biasa, melihat hewan disembelih saat upacara kurban hal yang biasa, namun bagi Bodhi yang memiliki kelainan menjadi hal berbeda. Ia mampu menangkap dan merasakan getaran kesedihan dan ketakutan hewan yang akan disembelih.

Hal ini tentu bisa menjadi perdebatan, jika sebuah karya sastra yang notabena fiksi dibawa ke ranah agama, terlebih jika dikaitkan dengan latar belakang penulis novel yang bukan muslim.

Dialog Antar-Iman

Menurut saya, sebagai sebuah karya sastra seorang penulis bebas untuk menulis berbagai tema termasuk spiritualitas. Pada novel Dee ini mengacu pada spiritualitas lintas-agama yang bersifat terbuka dan mengangkat nilai-nilai universal serta masih jarang ditulis penulis Indonesia.

Dee menyampaikan pandangan lain tentang upacara kurban pada hari raya Idul Adha berangkat dari penafsiran di luar agama Islam. Ini sebuah tonggak baru, di mana interfaith atau dialog antariman menjadi hal yang penting dilakukan di negeri majemuk seperti Indonesia. Tak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi di media sosial, tetapi lebih pada dialog nyata di forum resmi seperti diskusi dan seminar yang bahkan bisa dilakukan di tempat-tempat ibadah misalnya menjelang hari besar keagamaan. Tujuannya tidak lain adalah membangun sikap apresiatif antar pemeluk agama. Tak hanya sekadar toleransi yang kadang bersifat semu dan hanya di permukaan.

Dengan dialog antar-iman, umat non-muslim bisa lebih paham makna Idul Adha secara mendalam, termasuk dilihat dari sejarah dan filsafat yang mendasarinya. Jika ada pandangan lain terhadap Idul Adha, itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan menjadi kewajiban umat muslim untuk menjelaskannya. Tak bersikap apriori dan anti terhadap kritik namun melihatnya sebagai sebuah keniscayaan di negara demokrasi.

Ijtihad, begitu istilah yang pernah saya dengar untuk menyebut sebuah usaha yang sungguh-sungguh yang sebenarnya bisa dilaksanakan siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

Di Bali, sejak beberapa tahun lalu tiap menjelang Idul Adha ada saja yang memantik pertentangan soal sapi yang dianggap hewan suci dalam agama Hindu yang dijadikan hewan kurban pada saat Idul Adha.

Saya berpikir, jika ini tak diakomodir bisa menyebabkan masalah rasial, seperti yang terjadi di Pakistan antara pemeluk Hindu dan Muslim. Sudah saatnya dialog antar-iman digalakkan agar sekat-sekat antar pemeluk agama bisa dibuka dengan mengadakan dialog, duduk bersama dengan pikiran terbuka mencari titik temu berbagi hal antar pemeluk agama yang berbeda.

Terkait kurban, bukankan di Bali juga ada upacara di mana hewan dikurbankan seperti pada upacara mecaru atau pakelem? Saya pikir ritual kurban ada di banyak agama. Jadi tak perlu meributkan hal yang hanya dilihat dari satu sudut pandang. Mari saling mengapresiasi ajaran agama dengan melakukan dialog antar-iman. Tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan, tentu dengan dialog dan musyawarah seperti para pendahulu dan leluhur kita lakukan di masa lalu. [b]

The post Hari Raya Kurban dan Dialog Antar-Iman appeared first on BaleBengong.

Menggali Makna Tumpek Landep Sebenarnya

Upacara tumpek landep saat ini telanjur dipahami sebagai odalan besi. Foto Anton Muhajir.

Benarkah anggapan bahwa tumpek landep adalah odalan besi?

Agama Hindu di Bali sebagaimana pandangan Stutterheim adalah rajutan antara agama Hindu dari pusat (India) berbaur dengan tradisi lokal yang telah berkembang sebelumnya. Mulai dari aspek teologis sampai praktis, pembauran tersebut menjadi rajutan indah. Aspek kepercayaan lokal tidak serta-merta dinegasikan melainkan dianyam menjadi suatu perpaduan.

Kedatangan agama Hindu terjadi dalam rentang sejarah panjang dan bertahap berbaur dengan kepercayaan lokal. Sehingga dapat dipastikan tidak ada kolonialisasi agama yang datang belakangan, tetapi semacam lokalisasi agama yang datang dari luar dengan bentuknya sesuai dengan tradisi lokal.

Tradisi, menurut Giddens (2003), adalah sebuah orientasi ke masa lalu. Bahwa masa lalu memiliki pengaruh signifikan atau masa lalu dibuat memiliki pengaruh besar di masa sekarang. Jadi masa lalu diambil untuk mengkonstruksi masa depan.

Terkait dengan itu, tradisi lokal yang berorientasi masa lalu memiliki pengaruh terhadap beragam ritual keagamaan yang dijalankan masyarakat hingga kini. Tradisi agraris dilanjutkan atau diadopsi dalam menjalankan kehidupan agama hingga menginjak ke tradisi industri.

Hal ini dapat dilihat dari salah satu upacara keagamaan yaitu tumpek landep. Setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep diperingatai sebagai Tumpek Landep bagi masyarakat Hindu di Bali. Diperingati setiap enam bulan sekali sesuai kalender saka atau 210 hari sekali. Tepatnya satu kali perputaran wuku yang jumlahnya 30 wuku. Landep adalah wuku kedua setelah wuku sinta.

Merujuk pada teks Sundarigama tumpek landep merupakan pujawali Bhatara Siwa dalam aspeknya sebagai Sang Hyang Pasupati penguasa alam dengan tujuan memohon ketajaman pikiran (sesuai difinisi landep yaitu lancip). Proses upacara dan upakara ditujukan di Kamulan.

Benih-benih tradisi dalam ritual tumpek landep telah ada pada masa agraris. Teknologi yang digunakan pada masa agraris (benda-benda tajam) dan hakekat manusia yang memiliki suatu emosi mistikal mendorongnya untuk berbhakti kepada kekuatan tinggi yang tampak konkret di sekitarnya dalam bentuk keteraturan alam, pergantian musiam dan kedahsyatan alam dalam hubungannya dengan kehidupan dan maut.

Singkatnya manusia dalam menjalani kehidupannya diliputi oleh rasa takjub terhadap kekuatan adikodrati di setiap benda. Baik benda pusaka maupun benda yang dipakai sehari-hari dan telah membantu manusia dalam mengolah alam lingkungannya. Ketakjuban atas aspek dinamis tersebut dilanjutkan dalam bentuk pemujaan Bhatara Siwa dalam manifestasinya sebagai Dewa Pasupati Pengausa alam jagat raya.

Tumpek landep pada hakikatnya upacara untuk memohon ketajaman pikiran. Foto Anton Muhajir.

Namun, fakta di masyarakat upacara tumpek landep lebih dikenal odalan besi. Umat Hindu Bali lebih terkonsentrasi kepada berbagai benda terbuat dari besi, seperti benda pusaka yaitu keris, dan pedang. Juga berbagai benda keseharian yang membantu kerja manusia misalnya motor, komputer, dan pisau.

Pandangan tersebut menjadikan tumpek landep seringkali menerima arti peyoratif, yang bernuansa material atau bahkan paganistik sebagai harinya besi atau otonan motor. Pemaknaan tersebut tidak dapat disangkal.

Benda pusaka maupun benda yang memudahkan kehidupan manusia diberikan porsi utama dalam pelaksanaan upacara tumpek landep atau peletakan upakara yang telah dijabarkan dalan pustaka Sundarigama. Akibatnya, sejauh konsumsi mata memandang implus-implus tersebut membuat terbentuknya makna sebagai harinya besi atau otonan motor.

Upaya mengedepankan makna tekstual selain untuk menangkal penghayatan yang dangkal dalam kehidupan beragama (bernuansa material) yang sakral juga merupakan upaya politis untuk menguatkan kembali nilai-nilai religius dalam norma sosial yang aktual dengan kehidupan masyarakat. Agama diharapkan memberikan sumbangsih dalam kehidupan masyarakat baik dalam penguatan konsensus maupun menumbuhkembangkan sikap-sikap yang dibutuhkan masyarakat dalam konteks kehidupan bersama.

Di tengah masyarakat yang terkurung dalam berbagai rasionalitas, agama berdiri menjadi salah satu referensi dalam menyediakan berbagai perspektif penyelesaian maslah kehidupan. Karena sebagaimana pandangan Hall (1985) tidak semua masalah yang ada dalam kehidupan manusia dapat diukur dan diselesaikan dengan akal.

Agama yang menyediakan hubungan transendental melalui upacara atau pemujaan yang mampu memberikan dasar emosional bagi rasa aman serta identitas kelompok yang kuat. Dalam pengertian lain agama memberikan makna signifikan dalam menjalani kehidupan sebagai perintah Tuhan yang wajib dijpatuhi untuk kehidupan suci di masyarakat.

Makna memiliki sifat produktif dan terbuka. Makna bersifat terbuka karena ketergantungan tidak terpusat tetapi menyebar. Pemaknaan dapat tergantung pada si pemberi makna dengan berbagai latar belakang yang dimiliki. Makna juga tergantung pada konteks (gerak sejarah) dan kepentingan.

Karena itu makna aktual dari suatu teks sosial dalam hal ini tumpek landep tergantung pada yang memberi makna dengan gajala-gejala yang melekat padanya.

Konsekuensinya, makna bersifat produktif selalu dapat diperbaharui, diremajakan atau direvitalisasi. Namun, harus diingat makna yang aktual adalah yang menyebar di masyarakat bukan makna pada pustaka atau teks. Sebab, masyarakat merupakan letak dari praktis kehidupan sedangkan teks atau pustaka hanya suatu ide. Ide harus dipraktiskan.

Di sinilah signifikansi revitalisasi makna mendapatkan akar aksiologisnya. Tumpek landep tidak hanya sebagai hari teknologi yang membantu kehidupan manusia tetapi juga hari di mana pikiran sebagai tonggak perubahan dapat menciptakan kehidupan layak dan harmonis dengan alam. Sesuai dengan pusat pemujaannya dihaturkan kepada Sang Hyang Pasupati penguasa alam. [b]

The post Menggali Makna Tumpek Landep Sebenarnya appeared first on BaleBengong.

Hari Raya Nyepi, Bali Hening dalam Penyepian

Untuk pertama kali Nyepi di Bali tahun ini juga tanpa Internet. Foto Herdian Armandhani.

Selama Nyepi, Bali menjadi lebih hening dan tenang.

Hari Raya Nyepi 1940 Caka tahun ini jatuh pada Sabtu (17/3). Selama 24 jam, umat Hindu di Bali melakukan empat pantangan yang biasa disebut Catur Brata Penyepian.

Catur Brata Penyepian merupakan pantangan yang wajib dilakukan saat Nyepi yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api, listrik, lampu, alat elektronik yang mengahsilkan cahaya), Amati Karya (tidak melakukan pekerjaaan atau aktivitas fisik seperti bekerja dan sekolah), Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang atau melakukanan kesenangan), dan Amati Lelungaan (tidak bepergian selama Nyepi).

Seluruh jalan di Bali pun sama sekali kosong tanpa kendaraan yang melintas untuk menghormati Hari Raya Nyepi. Termasuk pelabuhan dan bandara pun tidak beroperasional selama 24 Jam.Stasiun televisi dan radio bahkan televisi kabel berlangganan juga tidak bersiaran.

Mulai tahun ini Hari Raya Nyepi semakin istimewa karena seluruh perusahaan telekomunikasi yang menawarkan faisiltas Internet pun selama 24 jam mematikan jaringan. Pengguna jasa telekomunikasi hanya bisa melakukan kirim pesan dan telepon saja.

Meski menjadi sebuah pro dan kontra terkait aturan ini tetapi dengan mematikan jaringan penyedia jasa Internet sejatinya agar Umat Hindu di Bali menjadi lebih fokus untuk menjalankan Catur Brata Penyepian. Umat non-Hindu pun menghormati aturan yang telah disepakati oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali itu.

Hari Raya Nyepi juga secara tidak langsung menghemat pemakaian energi listrik yang cukup besar karena Bali merupakan daerah pariwisata dan berkurangnya emisi karbon yang ditimbulkan oleh asap kendaraan bermotor. Udara menjadi lebih segar dan kebisingan menjadi tidak terdengar lagi. Para wisatawan yang kebetulan berlibur ke Bali juga memilih berdiam di dalam hotel. [b]

The post Hari Raya Nyepi, Bali Hening dalam Penyepian appeared first on BaleBengong.