Tag Archives: Activity

Melihat Indonesia yang Adil di #FlashBloggingKupang




*Tulisan ini bernilai LIMA BELAS LEMBAR UANG SERATUS RIBU RUPIAH dan SEBUAH PIAGAM PENGHARGAAN sebagai Kompensasi dari Gelar "TERBAIK 1" Sesi Kompetisi Menulis di Acara #FlashBloggingKupang #MenujuIndonesiaMaju - Aston Hotel Kupang, 20 Juli 2018


Adalah sebuah kebetulan yang menyenangkan, saat saya kembali ke Kupang untuk mengikuti tes lanjutan Beasiswa Bahasa Inggris, sebuah kegiatan dari  Direktorat Kemitraan Komunikasi (Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo) yang bekerja sama dengan Dinas Kominfo Provinsi Nusa Tenggara Timur, juga diadakan di kota ini. Tepat tiga hari setelah tes tersebut selesai dilaksanakan.

Saya pikir, ini kesempatan yang baik untuk bergabung pada acara #flashbloggingkupang #menujuindonesiamaju sebelum menentukan jadwal kembali ke Ende. Maka dari itu, ketika saya mendapatkan pengumuman kegiatan yang dibagikan kawan-kawan di beberapa grup, saya memutuskan untuk mendaftar.


Poster Kegiatan #FlashBloggingKupang #MenujuIndonesiaMaju



#flashbloggingkupang #menujuindoensiamaju merupakan sebuah acara yang mengajak generasi muda Indonesia yang senang menulis di blog untuk berkumpul bersama dan saling berbagi. Demikian ungkap Ibu Niken Widiastuti selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo, pada sambutan yang beliau berikan.

Lebih lanjut, Ibu Niken menyampaikan, sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa saat ini arus informasi begitu deras terjadi. Baik yang berisi konten positif, maupun juga konten negatif. Blogger dapat mengambil peranan penting dalam deseminasi informasi dengan menyebarkan kebaikan seperti etika penulisan dan penyebaran informasi yang baik di dunia digital.

Ke depannya, Ibu Niken berharap, para blogger memiliki kontribusi lebih dalam menyebarkan informasi positif dan mendukung kemajuan Indonesia tak hanya di bidang teknologi saja.

Nah, di acara ini, saya menemukan satu hal menarik yang patut saya bagikan kepada kawan-kawan. Jadi, acara #flashbloggingkupang terdiri atas beberapa sesi yang dibawakan oleh Pemateri yang berbeda.

Salah satu sesi yang cukup menancap dalam hati saya, ugh, soalnya saya sampai menitikkan air mata haru pada laki-laki bertubuh ceking dan baik hati itu. Yap, siapa lagi kalau bukan Presiden kita tertjinta, Bapak Ir. Joko Widodo. Sesi ini dibawakan oleh Bapak Andoko Arta, Tim Komunikasi Presiden, “Sudut Istana.”

Padahal sejujurnya, belakangan, saya agak susah terharu dan berderai air mata, saking jenuhnya melihat hal yang sama di hidup ini #eh.

Di tengah sesi ini, Bapak Andoko, menayangkan sebuah video yang tautannya bisa kawan-kawan tonton di sini: SATU HARGA, SATU INDONESIA



Saya kutip cerita Bapak Joko Widodo yang tertulis pada tautan tersebut:

Bertahun-tahun lamanya, warga daerah arah hulu Sungai Mahakam di Kalimantan membeli bahan bakar minyak dengan harga berkali-kali lipat dari harga BBM di kota besar. Sebagaimana yang dialami warga di sebagian besar Papua, satu liter bensin di punggung Kalimantan ini pernah mencapai Rp45.000. 

Masalahnya di distribusi BBM yang tidak mudah karena medan yang tak ramah. Tapi apa pun taruhannya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus kita wujudkan. Daerah yang terpencil, daerah terdepan, daerah terluar, tetaplah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kini, warga di wilayah terpencil di sekitar hulu Sungai Mahakam menikmati harga BBM yang sama dengan kota-kota lain di Indonesia.

Dan inilah perjuangan mendistribusikan BBM dari Samarinda ke Long Apari di pelosok Kalimantan Timur, dengan kapal dan perahu yang menyusuri sungai berair deras sejauh ratusan kilometer.

Ketika menonton video ini, hati saya haru biru, saya lalu teringat dua perjalanan yang saya lakukan ke Sumba pada tahun 2016 bersama kawan-kawan GAMASTIM BALI, ceritanya bisa kalian baca di sini: MAIWA LA HUMBA, MARI MEMBANGUN YANG BAIK dan ke Fatule’u beberapa bulan lalu bersama kawan-kawan Komunitas Buku Bagi NTT, ceritanya bisa kalian baca di sini: MENGHIDUPI LITERASI, SUSAH-SUSAH GAMPANG


Saya pikir, ini hal yang menarik bahwa di tahun 2018 ini, masih ada masyarakat di beberapa daerah di Indonesia yang tidak bisa mengalami kehidupan nyaman dan sejahtera sebagaimana saudara-saudaranya di kota, atau meskipun daerah terpencil, tetapi sudah mendapatkan perhatian dari Pemerintah. Baik Pemerintah Pusat, maupun juga Pemerintah Daerah setempat. Jalanan masih buruk, tak ada listrik, tak ada air bersih dan jauh dari pusat teknologi.

Video ini memacu semangat saya untuk mengunggah tulisan ini. Selain sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras Pemerintah di masa Bapak Presiden Ir. Joko Widodo, sekaligus memohon perhatian kepada Beliau (semoga beliau memiliki kesempatan untuk membaca, akan baik jika Panitia berkenan meneruskannya).

Harapan saya, Bapak Jokowi memiliki kesempatan yang lain atau mendelegasikan tim terkait untuk meninjau kerja Pemerintah Provinsi maupun juga Kabupaten di daerah-daerah pelosok di Nusa Tenggara Timur. 

Bagaimanapun juga, salah satu fokus Pembangunan Bapak Jokowi adalah Infrastruktur, mengutip apa yang diungkapkan oleh Bapak Maxi Manafe selaku Moderator pada #flashbloggingkupang hari ini, "Jika ingin Indonesia maju, harus membangun Nusa Tenggara Timur. Kemajuan NTT, juga merupakan kemajuan Indonesia."

Dua cerita yang saya sertakan melalui tautan pada tulisan ini, hanyalah segelintir dari sekian banyaknya pekerjaan yang belum dilaksanakan secara maksimal di Provinsi ini.

Dengan itu, bukan hanya warga wilayah terpencil di sekitar Hulu Sungai Mahakam seperti Long Bagun, Ulu Riam dan Long Apari, tetapi juga, kaka-adik, bapa-mama, nona-nyong di Amfoang, Timor atau Umbu dan Rambu di Kambata Mbapa Mbuhang, Sumba, memiliki kesempatan yang sama menikmati Indonesia yang Satu dan Indonesia yang Adil. Bukan hanya Satu Harga, Satu Indonesia. Tetapi juga, Satu Jalan, Satu Indonesia.


SALAM INDONESIA RAYA!!! 


Yuhuuu, dapat payung :) gara-gara jempol sekseh di twitter


Yeah jadi yang TERBAIK 1 ^^


Meratapi Kristus di Noemuti



Sore itu, awan hitam menggantung di atas langit Bijeli, nama tempat di mana rumah kami menginap. Pukul 15.00, kami berangkat menuju Gereja Satu Hati, Satu Cinta, Satu Keluarga, Noemuti untuk mengikuti Ibadat Cium Salib dan Perayaan Ekaristi Jumat Agung.

 (Hah? Kenapa? Nama Gerejanya panjang? hahaha Ember, tetapi itu beneran. Serius).

Tiba di gereja, misa baru saja dimulai. Beruntung, kami masih mendapat tempat di dalam gereja, meskipun di bangku paling jauh dari altar. Saya dan salah satu teman saya, menempati satu bangku bersama dua orang bapak dan seorang wanita paruh baya, mungkin dia seumuran saya. Hm…

Beberapa menit sebelum Passio Injil Tuhan dimulai pada Perayaan Jumat Agung yang muram, terdengar guntur yang menggelegar dengan dahsyatnya. Ini terjadi sepanjang bacaan injil yang dinyanyikan tersebut berlangsung di atas altar.

Demikian, supaya genaplah isi Kitab Suci, “ketika Yesus mati di kayu salib, langit seketika menjadi gelap gulita, terjadi gempa bumi yang hebat, Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.” (Matius, 27: 51-52)


Yah tidak sehoror isi Kitab Suci juga. Masih dalam taraf yang bisa diterima dan dihadapi.

Hal yang sama terjadi, terdengar dentuman keras dari langit, tepat di atas gereja, hanya sepersekian detik ketika barisan wanita dan Patung Yesus tiba di pintu masuk gereja menuju altar untuk memulai RATAPAN. Setelah Passio selesai, upacara dilanjutkan dengan RATAPAN. Tradisi meratapi kematian Kristus di Hari Jumat Agung setelah Kisah Sengsara selesai dinyanyikan ini, terdapat di beberapa Paroki di Keuskupan Atambua maupun juga Keuskupan Agung Kupang.

Disebut ratapan, sebab syair yang dinyanyikan dalam bahasa Dawan ini berisi tentang kesedihan dan duka yang mendalam akan kematian Kristus. Orang Dawan, sebagaimana juga beberapa suku lain di Nusa Tenggara Timur, memiliki kebiasaan menangis di samping jenazah yang telah meninggal dunia. Tangisan tersebut memiliki nada dan akan terdengar seperti nyanyian yang sedih menyayat hati. Saat menangis itu, kenangan-kenangan yang sudah terjadi di masa hidup Almarhum akan diungkapkan melalui ratapan tersebut.

Ketimbang panik dengan bunyi-bunyi alam dari langit, umat di dalam gereja memilih tetap khusyuk dan tenang. Sepertinya ini fenomena alam yang sudah lumrah terjadi setiap tahunnya di sini.

Ketika ratapan dimulai, seluruh gereja hening, masing-masing sibuk dengan isi di dalam hatinya (bukan kepala, saya yakin begitu). Di luar dugaan, pada ratapan yang memilukan ini, terdapat satu bagian yang dinyanyikan bersama-sama dengan UMAT.

Tidak ada bahasa yang tepat untuk menjelaskan suasana serta perasaan untuk kejadian ini. Jika kau mungkin ingin tahu, apa yang saya lakukan saat itu; saya menutup Novel Cannery Row yang tengah saya baca sejak Passio mencapai pertengahan tadi (karena saya sungguh mulai bosan dengan Kisah Sengsara yang diulang-ulang sejak saya belum mengerti hingga khatam Kitab Suci).

Saya kemudian terdiam, tenggelam bersama ratapan. Tanpa sadar, mata saya basah. Biasanya, untuk hal-hal semacam ini, saya tidak pernah punya cukup alasan untuk hal-hal yang terjadi dengan tubuh saya, apalagi ini berada di luar kendali saya. Menalarnya dengan cara apa pun, saya tak mampu. Maka, saya memilih diam sembari membiarkan pipi, rambut hingga bahu saya kebanjiran.

Saya teringat anjuran Yesus yang dahulu, waktu saya masih kanak-kanak, yang saya nilai sungguh angkuh sekali: “Jang ko menangis saya. Menangis untuk ko, ko pu suami dan ko pu anak-anak.”

(yang single, dikondisikan aja yah :D)

Hingga saat ini, saya masih kepo, sungguhkah Tuhan ada? Benarkah Yesus, PuteraNya?

(24 Jam kemudian, saya tetap menyatakan Percaya bahwa Ia sungguh ada dan Yesus sungguh Puteranya pada Pembaharuan Janji Baptis di Perayaan Ekaristi Sabtu Alleluya).

Saya kadang dijuluki sangat kekanak-kanakan di usia yang sebegini ini, masih saja meragukan Tuhan dan semua sepak terjang Beliau.

Kisahnya tak lekang oleh waktu, meski sampai detik ini, tidak ada satu pun yang bisa memastikan “Apa agama Yesus?”

Yesus hanya menyebarkan sebuah ajaran yang kadang sangat menguras tenaga, waktu dan perasaan: “CINTA KASIH.”

Dan saya, masih terduduk di antara ratusan umat di gereja ini, meratapi kematian laki-laki seksi berambut sebahu, sebab siang kemarin Ia dibiarkan telanjang di tiang gantungan. Ia dengan tegas membalikkan makna tiang penyiksaan tersebut dari simbol keterpurukan, penyiksaan yang hina dina menjadi sebuah tanda kemenangan, yang entah mengapa, hingga saat ini, masih menjadi gerakan sekaligus mantra utama dalam setiap kondisi.


Nikiniki, 31 Maret 2018
Dari sebuah Perayaan Malam Paskah yang melelahkan
Saya memilih untuk belum move on dan mencatat ini pada Jurnal
*Akhir bulan ini, saya cerewet sekali.


Barisan Wanita yang Meratap. Foto: Eko Ninu







Surga Tersembunyi Lakolat di Maidang



"Lakolat"
Sudah pernah ke Sumba? Atau paling tidak, pernah mendengar tentang SUMBA? Sebuah pulau dengan bentangan Padang Sabana yang maha luas di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang gencar wisatawan, baik lokal maupun internasional yang mengatur perjalanan ke SUMBA. Sebagian besar pengunjung tertarik akan bukit-bukit sabananya, juga pantai-pantai di Sumba yang luar biasa eksotis, sebagiannya lagi ingin berburu tenun ikat Sumba yang memang terkenal unik.

Padahal selain padang rumput yang luas, pantai dan tenun ikat, ada banyak surga tersembunyi lain yang bisa kita temukan di Sumba, yang belum diketahui banyak orang dan sama sekali belum terjamah. Tentu saja dibutuhkan kesabaran dan tenaga yang mumpuni serta waktu yang memadahi, sebab jika kita ingin pergi ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi orang lain, atau masih jarang diketahui banyak orang, ada banyak tantangan dan hal baru yang akan kita temukan. Selain itu, jika ke Sumba, tak cukup waktu tiga atau empat hari saja. Minimal satu minggu dan maksimal satu bulan untuk berkeliling mendatangi semua tempat indah tersebut.

Pada tulisan saya kali ini, saya akan merekomendasikan sebuah tempat yang menentramkan hati, sangat jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Masih begitu alami dan cocok untuk kalian yang gemar bermain air sembari berkhayal, berendam sampai lama untuk mencari inspirasi atau mencoba hal menantang seperti terjun ke dalam air dari ketinggian. Nama tempat tersebut adalah “Air Terjun Lakolat”

Keheningan di Lakolat

Air Terjun Lakolat terletak di Desa Maidang, Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang, Kabupaten Sumba Timur. Apabila kalian datang dari luar Pulau Sumba, kalian dapat menggunakan Penerbangan menuju Bandara Umbu Mehang Kunda di Kota Waingapu. Sudah ada beberapa penerbangan yang melayani rute menuju Ibu Kota Sumba Timur tersebut. Nah, zaman sekarang tidak perlu susah-susah kalau mau cek jadwal penerbangan atau maskapai apa yang memiliki rute ke Indonesia bagian Timur, Khususnya Kupang atau Waingapu. Kalian bisa gunakan layanan aplikasi online tiket.com yang selengkapnya bisa kalian klik di sini: @tiket.com (Twitter: @tiket dan Instagram: @tiket.com ).


Jalan menuju Lakolat
dua gambar atas, dari Rumah Kepala Desa Maidang || dua gambar bawah, dari SDN Lumbung

Jarak dari Waingapu menuju Desa Maidang, tempat Air Terjun Lakolat berada, dapat ditempuh selama kurang lebih dua (2) jam menggunakan mobil atau sepeda motor. Sebagaimana jalanan di Nusa Tenggara yang selalu membelah bukit, mengulari lembah, begitu pula perjalanan ke Pelosok Utara Sumba Timur ini. Kita akan melalui jalan yang berkelok-kelok tetapi menjadi puas sebab sepanjang jalan terpampang pemandangan yang menakjubkan.

Tiba di Desa Maidang, kita bisa memulai rute trackingyang cukup menantang. Yah, belum ada jalan yang bisa dilalui kendaraan langsung menuju Air Terjun Lakolat. Kita akan melewati turunan tangga tanah, menyebrangi aliran sungai yang cukup deras, hutan dan juga ladang masyarakat setempat. Semua itu akan setimpal dengan Pemandangan yang disuguhkan setelah tiba di tempat tujuan.

Hutan menuju Lakolat

Pemandangan dalam perjalanan menuju Lakolat
Saat tiba di pintu masuk, kita akan disambut barisan pepohonan bambu dan lagi-lagi tangga menurun dari tanah. Terus ke bawah , menuju areal sungai, di sisi kiri, ada sebidang tanah yang cukup lapang yang dapat digunakan untuk berkemah atau piknik bersama keluarga dan teman-teman.

Sisi Kiri Lakolat, tempat kita bisa duduk bersantai dan bercengkrama

Suasana Lakolat pada sore hari ketika matahari beranjak turun
Berada di sini, kita seolah-olah terlempar ke Negeri para peri atau dunia dongeng anak-anak. Di mana hanya terdengar gemericik air yang mengalir, ceruk-ceruk batu alam yang membentuk kolam pemandian alami, suara kicau burung dan desau angin di pucuk pepohonan.

Ketika sore tiba, pantulan sinar matahari di atas bebatuan dan air, akan menambah kesan indah lainnya dari Air Terjun Lakolat. Kenangan tersebut masih membekas di kepala saya hingga saat ini.

Ceruk Batu Lakolat

Pemandangan dari atas bebatuan di Lakolat

Pada akhir bulan Agustus 2016 yang lalu, saya bersama teman-teman Gabungan Mahasiswa Sumba Timur (GAMASTIM) di Bali, melakukan sebuah kegiatan sosial yang kami beri judul “1000 Buku Untuk Sumba”. Kegiatan tersebut di laksanakan di SD Negeri Lumbung. Salah satu Sekolah Dasar yang menampung para Siswa/I dari tiga desa di Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang. Sekolah ini masih bertahan tanpa Listrik, para siswa/inya pun kadang tidak bersepatu dan berseragam lengkap saat ke sekolah. Selain membagikan Buku dan Alat tulis, kami menyempatkan diri mengadakan kelas inspirasi bersama 73 Siswa/I di SDN Lumbung saat itu. Selengkapnya tentang kegiatan ini bisa dibaca di: Maiwa La Humba Setelah kegiatan tersebut, kami menyempatkan diri, menghabiskan sisa waktu di Air Terjun Lakolat, sebelum malam tiba dan membawa kami kembali ke Waingapu. Foto-foto yang diunggah di tulisan ini merupakan dokumentasi perjalanan tahun lalu yang sebagian belum sempat saya unggah karena menunggu waktu yang tepat.

Kegiatan bersama GAMASTIM BALI di SDN Lumbung (Agustus 2016)
Foto Bersama GAMASTIM BALI di Lakolat

Adalah pengalaman yang luar biasa menyenangkan dan jelas tidak terlupakan. Saya berharap dapat kembali lagi ke SDN Lumbung dan Air Terjun Lakolat, untuk sekedar bernostalgia maupun juga menikmati kebesaran Tuhan melalui Alam Raya yang indah ini. Satu hal, jika kalian ke sini, JANGAN MENINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK DAN KENANGAN! Sesungguhnya, Wisata Dunia, semuanya ada di Indonesia.

***

PS. Ada satu pertanyaan penting yang masih saya simpan hingga saat ini, apa sebenarnya makna harafiah dari Lakolat dan mengapa air terjun tersebut diberi nama Lakolat?

Saya tidak sempat menanyakan pada penduduk setempat saat itu. Mungkin ini akan menjadi agenda pada perjalanan saya selanjutnya. Terima Kasih sudah membaca sampai selesai ^^


Saya :)




#BreakTheSilence Seminar; How to Use Your Voice Wisely



Have you ever heard of Facebook Global Digital Challenge (FGDC)?

The great campaign from the largest social media platform, Facebook

This social networking platform invites students around the world to show the public that social media can be a positive media that provides many advantages if used wisely.

One of Indonesia College is selected to participate in this joint venture program with EdVenture Partners is Undiknas University, Denpasar. Five of Undiknas students who passed the selection at the registration stage are selected as program participant , the participants are; Sean Conti from Business Management Study, Deviyanti Putri and Upayana Wiguna from Accounting Study, Faculty of Economics and Business. There is Pipin Carolina from the Law Science Study, Faculty of Law and Maria Pankratia from the Communication Science Study, Faculty of Social and Political Sciences.

This activity begins with a selection phase since January 2017 and will end with submission of activity reports by June 2017. Participants are required to submit essays explaining their motivation to engage in this activity.

All five were selected after going through a tight selection process from the EdVenture Partners. In February 2017, this team began to work. Together, with Luh Putu Mahyuni, Ph. D., CA, as the Director of Academic/Dean of Economics and Business Faculty and Ida Nyoman Basmantra, MPD as the Team Manager who is also the Head of International Office, Undiknas Denpasar. The team discussed the major themes, what should be raised in this campaign.

Seeing the situation of the Nation and the State of Indonesia which began to be attacked various kinds of radicalism issues, in the end an idea about #BreakTheSilence emerged. A campaign targeting the silence majority, people who have had enough insight and understand the situation but prefer to be silence.

As there is a phrase that says, "In a war situation, when you are impartial to anyone, you are actually supporting the ruling party." This campaign seeks to invite more people to care and determine the attitude so that no more narrow-minded people that take this opportunity to destroy everything that has been painfully built by the predecessors.
Following up on this idea, several concept activities are designed. There are visits to the orphanage, photo competition and video storytelling, making video testimonials and social experiment and film production.

There is also a Seminar titled "Pluralism in Relation to Social Media." The seminar was held on May 29, 2017, attended by 234 Students of Undiknas Denpasar and involving 30 people as committee to working together and organize the activities.

The #BreakTheSilence seminar discusses "How to interpret Diversity and speak wisely through the existing Social Media so that it has a great impact on the whole world."
Present as Speakers, there is Dea Rangga, celebgram; Yoga Arsana and Sugi Suartanaya , the Youtubers; And Anton Muhajir, Editor, Journalist and Blogger. the four speakers and the Facebook Team Global Digital Challenge share experiences and suggestions about how to use social media in the midst of the current excessive information flow.

Through this seminar, it is expected that more and more students are inspired to use the internet and social media wisely; also not negligent to forward this good message to the people they meet in their neighborhood. It's time to be, care and use your opinion wisely! More details about this campaign, #BreakTheSilence Team, Undiknas Denpasar, can be seen at:

Facebook Page: Break The Silence
Instagram: @undiknasfgdc_
Twitter: @BreakUrSilence
Channel Youtube: Undiknas FGDC


Do not forget to Follow and Subscribe the above accounts. Thanks. Regards, Bhineka Tunggal Ika. Break The Silence by Breaking Your Silence!




2016; A Golden Year




365 hari yang lalu, saya tidak memiliki resolusi apa pun untuk 365 hari berikutnya. Saya masih tetap hidup, sehat dan waras saja sudah merupakan sebuah keuntungan. 2015 dan 2014 adalah tahun yang cukup luluh lantak sebagaimana kemudi kapal yang dibajak sehingga nakhodanya tidak memiliki kendali penuh untuk menentukan ke mana menuju. Namun, pada akhirnya, saya menemukan titik balik. Benar adanya, seseorang yang kembali bangkit dari kejatuhan, kekuatannya berkali lipat.

Sekuat tenaga saya menemukan diri saya kembali dan bertanya sesering mungkin “mau apa aku dengan hidupku ini?” iyah persis lirik lagunya Nosstress, itu padanan refleksi yang klop! Refleksi singkat akhir tahun lalu itu, saya temukan kembali di sini

Memulai langkah di 1 Januari 2016 tanpa persiapan apa pun! Kabur, meraba-raba.
Resign dari pekerjaan yang menjadi sumber hidup dan eksistensi, terjun ke lapangan tanpa visi sebagai mahasiswi KKN lalu PKL. Masih saja percaya diri mengkoordinasi Persiapan Misa Pra-IYD2 Keuskupan Denpasar, bersedia jadi Fasilitator Kelompok tanpa pengalaman untuk Kelas Inspirasi Bali 03, terlibat lagi di Denpasar Film Festival. Menyanggupi hadir di Pelatihan Menulis Kompas (lagi), nyasar di Ubud Writers and Readers Festival ke-13 dan Citizen Journalism Day kerja sama Balebengong dan Bali Blogger Community, serta menjadi Juara Regional Maluku dan Nusa Tenggara Blog Competition oleh Government Public Relations. Berani-beraninya menyanggupi jadi auditor untuk sebuah project yang jauh dari bayangan dan dari kamar tidur yang nyaman. Situasi tersebut cukup ngeri-ngeri sedap. Belum pernah saya begitu takut tetapi juga penasaran, antusias diikuti rendah diri yang kalap. Lampung, selama delapan hari merubah sudut pandang saya hampir 75% tentang hidup. Di tahun ini juga, untuk pertama kalinya, saya berani mengirimkan karya saya ke media dan dimuat!

Tahun 2016 saya juga mengalami banyak kepiluan. Saya memang gemar menangis. Bukan hanya dalam situasi sedih atau terharu tetapi juga saat bahagia. Akan tetapi, menangis karena ditinggal pergi untuk selamanya oleh tokoh-tokoh yang menginspirasi hidup saya selama beberapa tahun ini, itu memilukan. Terguguh dan lama. Tidak pernah sekalipun saya meluangkan waktu untuk berpikir bahwa bumi dan manusia terus bertambah tua. Di suatu masa, kita harus menerima kenyataan bahwa jiwa dan pikiran memang tidak pernah mati namun raga pada hakekatnya tidak abadi. Kita harus siap menghadapi kehilangan demi kehilangan. Untuk Ama Petu, Om Boni dan Bapak Agustinus Prajitno, Hormat setinggi-tingginya!

Tahun 2016 saya juga ditinggal nikah oleh sahabat-sahabat terbaik saya. Hebat mereka, mampu mengambil keputusan serumit itu hahaha. Sementara saya masih berkubang, terjebak dalam kecemasan “Bagaimana saya dapat berbagi seluruh pikiran saya seumur hidup hanya dengan satu orang laki-laki saja? Berbagi tubuh saja, saya tak rela. Mana puas kalo cuma sama satu orang?” #Eh wkwkwkkw…

Pada tahun ini pula, saya merasakan dampak arus informasi yang begitu deras akibat kemajuan teknologi yang membabi buta. Segalanya jadi canggih termasuk manusianya. Banyak tontonan dan pengetahuan menarik yang menyenangkan tetapi juga peristiwa yang sulit dilupakan untuk beberapa tahun ke depan. Begitu lah dunia dan Indonesia sejak dulu. Yang selalu keren di sebelah sini sementara terpuruk di sebelah sana. Tidak ada yang betul-betul sempurna emang!

Tahun 2016 saya sapa dengan tahun emas bagi saya. A golden year. Sebab di tahun ini, saya memikul banyak berkat dan rejeki. Saya bepergian ke berbagai tempat dan bertemu macam-macam pribadi. Semua mereka adalah orang-orang HEBAT, PENTING dan MEMILIKI ANDIL bagi dunia yang mereka tinggali. Saya bangga bisa mengenal kalian semua. Tidak dapat saya sebutkan satu per satu, tetapi saya berharap ketika membaca ini, kalian tahu bahwa ANDA-KAMU-KAU-DIRIMU-SAMPEAN-ENGKO yang saya maksudkan!

BALI!

Jakarta-Soekarno Hatta-Lampung-Metro-Tulang Bawang-Raden Inten II

Benoa-Bima-Sape-Sumba Timur-Waingapu-Kambata Mapa Mbuhang-Lumbung-Kadahang-Sumba Tengah-Anakalang-Katikuloku-Sumba Barat-Waikabubak-Sumba Barat Daya-Kodi-Labuan Bajo-Watulangkas-Ruteng-Bajawa-Langa-Mataloko-Ende-Paupire-Detusoko-Nita-Ledalero-Maumere-Lokaria-Wairhubing-Magepanda.

SEMUANYA! Kalian pasti sudah mulai lupa tetapi jejak kalian seperti materai permanen yang basah dan lengket lalu mengering tak bisa luntur atau pun terangkat bahkan dikorek paksa sekalipun.

2016 adalah tahun yang luar biasa bagi saya yang kesadaran afektifnya sangat ngotot dan terjaga selama 24J/7H. Perlahan-lahan semuanya digenapi. Khususnya perihal “Melakukan apa yang sungguh-sungguh ingin saya lakukan.” (Bertemu banyak orang, menjalin relasi dan persahabatan//Tjipok basah sekali untuk Ibuk Semesta Ambara BegituSaja dan Tante George Yustina Liarian Eto, berbagi dan saling memberi dari yang sederhana sampai yang luar biasa. Menulis banyak cerita. Terlalu amat sangat banyak sekali. Mendapatkan beberapa pencapaian yang cukup membanggakan. Menghasilkan sejarah).

Lalu, hm “Menemukan laki-laki yang benar-benar ingin saya cintai” AHAI!

Kemarin, ketika sedang bingung hendak menulis apa untuk refleksi akhir tahun ini, (Sebagian orang mungkin merasa ini tidak penting dan sangat alay lebay TETAPI tidak bagi saya!) saya buka kembali postingan saya di Instagram sejak awal tahun. Foto-foto dan narasi yang membuat saya merasa betapa saya sangat diberkati, segalanya masih utuh tersimpan, lengkap, baik gambar maupun juga cerita serta kesan yang masih bisa saya rasakan ketika saya melihat dan membayangkannya.

***


Descartes bilang: Cogito Ergo Sum//Saya berpikir maka saya ada
Pramoedya bilang: Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pacar saya bilang: Hanya yang menang, yang meninggalkan jejak, Enu!
Dan saya bilang: Jika kamu berpikir dan menuliskannya, kamu akan meninggalkan jejak. Tentu dengan sendirinya kamu memberi pengaruh. :)

Hidup, sejatinya untuk mati tanpa alpa untuk memaknainya lalu meninggalkan jejakmu! Jejak saya! Jejak kita! Live Your Life! In this great future, you can’t forget your past, so write it down!

Epang Gawan, Terima Kasih banyak untuk semua yang sudah memberi dan berbagi dari kekurangan maupun juga kelebihannya (dan saya tidak pernah lupa hutang-hutang saya hihihi… tenang saja). Ama Pu Benjer, Jah Bless kita semua di Tahun yang Baru!

Resolusi tahun berikutnya? Hahaha hm.. Hajiar saja!

2017 dalam genggaman!

*Semoga ada golden-golden year selanjutnya


 Thankis buat Ge' untuk tangkapan keren ini ^^