Tag Archives: About Me

PROPAGANDA, MUSIK, DAN AKTIVISME

Rudolf Dethu adalah sosok di balik panggung dalam kesuksesan band-band asal Bali. Mulai dari Superman Is Dead sampai The Hydrant merasakan tangan dinginnya.

Ia tak genah memainkan instrumen musik, betapapun semesta irama adalah cinta sekaligus jalan hidup yang membesarkan namanya. Selera dan pengetahuan jadi senjatanya mengarungi blantika musik.

“Sejak akhir 1980-an, aku bergaul dengan anak-anak musik di Denpasar. Aku orang yang enggak bisa main musik, tapi sering diminta berpendapat tentang musik,” kata Rudolf Dethu, yang namanya dikenal sebagai eks manajer Superman Is Dead (SID)–trio punk rock asal Bali.

Pria ini kerap disebut sebagai propagandis musik. Propaganda Dethu–terutama lewat tulisan–adalah pintu gerbang yang mempertemukan skena (scene) musik Bali dengan pendengarnya.

Hal itulah yang membuat namanya berada satu level bersama para pesohor skena musik Bali, macam SID, Navicula, dan The Hydrant. Tiada berlebihan, sebab Dethu adalah figur di balik panggung dalam kisah sukses band-band di muka.

Belakangan, Dethu terlibat pula dalam dunia aktivisme. Ia berdiri di baris depan dalam puputan melawan reklamasi Teluk Benoa di Bali. Ia juga aktif mengampanyekan semangat kebinekaan dan antikorupsi.

“Aku lebih suka disebut storyteller (pencerita). Wendi Putranto (eks Rolling Stone Indonesia) orang pertama yang menyebutku propagandis,” ujar pemilik nama resmi Putu Wirata Wismaya itu.

Perbincangan kami berlangsung saat matahari Bali sedang panas-panasnya. Angin laut membawa aroma asin dari Pantai Sanur, yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat kami mengobrol: Rumah Sanur Creative Hub.

Tempat itu merupakan satu titik pertemuan para seniman, pelaku industri kreatif, dan aktivis di Bali. Di sana ada kedai kopi, restoran, panggung musik, toko konsep, dan ruang kerja bersama.

Siang itu (8/12/2017), Rumah Sanur sedang sibuk. Beberapa anak muda tengah menata panggung, mengatur instrumen musik, dan mengecek sistem pengeras suara.

“Kami dipercaya jadi tuan rumah Festival Anti Korupsi oleh KPK. Ini sedang persiapan buat acaranya, sore nanti,” kata Dethu, yang bertanggung jawab mengurusi perihal musik dan konten di Rumah Sanur.

Sebelum memulai percakapan, pria yang lahir 47 tahun silam itu memesan Gurita Bumbu Bali dan Jus Melon.

Hari itu, ia mengenakan setelan sepatu bot, celana jin, kemeja berwarna merah, plus suspender yang melingkar dari pinggang ke bahu. Sesekali, ia membenarkan letak topi fedora di kepalanya, seolah memastikan penampilannya senantiasa klimis.

Berewok dan kumis membuatnya terlihat sangar. Kesan itu hilang bila melihat senyum atau gelak yang kerap menutup perkataannya. Agaknya, gaya serta gestur Dethu adalah cerminan karakter skena musik Bali: sangar tanpa kehilangan keramahan dan kegembiraan.

“Street punk susah berkembang di Bali yang punya beach culture–dengan suasana kegembiraan dan santai. Musik yang pas rockabilly, californian punk, atau surf punk,” katanya.

Rudolf Dethu saat ditemui Beritagar.id di Rumah Sanur – Creative Hub, Sanur, Bali; Senin (8/12/2017) | Syafiudin Vifick / Beritagar.id

Menanam pengaruh dari kapal pesiar

Ketertarikan Dethu pada musik dimulai sejak dini. Kebetulan, orang tuanya bekerja di industri pariwisata dan kerap melawat. Billboard, majalah hiburan kenamaan asal Amerika Serikat, jadi buah tangan saban orang tuanya pulang lawatan.

Bacaan itulah yang memperkaya referensi musiknya. “Sejak SD, aku jadi semacam ensiklopedia di antara teman-temanku, terutama soal musik,” ujar Dethu.

Hal itu berlaku hingga dirinya berkuliah di Politeknik Pariwisata Udayana. Semasa kuliah, ia sempat pula membentuk band sebelum sadar kemampuannya dalam bermusik terbatas adanya.

Dethu menambal kelemahan itu dengan pengetahuan, yang memberinya tempat khusus dalam skena musik Bali. Ia juga mulai mengasah kemampuan menulis lewat catatan musik di koran lokal.

Lembar baru petualangan Dethu terbuka saat dirinya menjadi pramusaji di kapal pesiar milik perusahaan pelayaran asal AS.

“Saat itu, aku punya duit lebih dan bisa mengoleksi apa-apa yang kusuka. Rilisan musik jadi item koleksiku,” katanya. “Aku jadi sering membuat album kompilasi–semacam mixtape–dari lagu atau album yang kudengarkan. Kompilasi itu kukirim ke teman-teman di Bali.”

Kumpulan lagu itu menjadi kanal propaganda Dethu. Ia memuat tembang pilihannya dalam cakram padat (CD). Tiap lagu pilihan juga diberi catatan yang memuat sejarah atau sekadar alasan personalnya memilih tembang termaksud. Bila punya waktu luang, Dethu akan membuat sampul kompilasi yang digambarnya sendiri.

Ia mengenang masa-masa itu sambil tersenyum, “Tiap kompilasi kubikin dua hingga tiga kopi. Teman-teman di Bali menggandakannya. Akhirnya, di Bali–terutama Denpasar–orang-orang mendengarkan lagu yang sama.”

Pada 1998, Dethu turun kapal pesiar. Hanya sebulan dirinya menganggur, tawaran pekerjaan datang.

“Ada teman yang kerja di Radio Cassanova, Bali. Ia minta aku jadi penyiar dan bikin program sendiri. Padahal, aku enggak punya pengalaman broadcasting,” kata Dethu.

Dengan naluri seorang propagandis, Dethu tak menyiakan-nyiakan tawaran itu. Ia membuat program mingguan bertajuk “Alternative Airplay” di Radio Cassanova.

“Program itu membahas musik alternatif secara mendalam. Misalnya, pekan ini bikin edisi khusus punk rock, aku akan membahas sejarahnya, pengaruhnya di Indonesia, hingga mewawancarai band lokal,” ujar Dethu

Kelak, karena kepopuleran program itu, Radio Cassanova jadi titik kumpul bagi band-band di Bali.

Pekerjaan cuap-cuap lewat frekuensi dilakoninya selama 14 tahun (1998-2012), dengan tiga kali ganti pemancar: Radio Cassanova, The Beat Radio Plus, dan OZ Radio.

Salah satu program radio Dethu nan legendaris adalah “The Block Rockin’ Beats” (The Beat Radio Plus), yang menyajikan daftar putar–berikut catatan singkat–dari orang-orang pilihannya.

Nama-nama kesohor pernah memutar lagu dalam program itu, macam Andre Opa (eks Pemimpin Redaksi Trax), Adib Hidayat (eks Pemimpin Redaksi Rolling Stone Indonesia), Philip Vermonte (peneliti), Jimi Multhazam (The Upstairs), dan Kill The DJ (Jogja Hip Hop Foundation).

“Publik ingin tahu, musik macam apa yang membentuk orang-orang keren itu,” kata Dethu perihal program termaksud.

“Hal-hal yang kulakukan selalu personal. Musik membuat kita mengenal seseorang lebih intim.”

Rudolf Dethu saat memperkenalkan salah satu band binaannya, Leonardo & His Impeccable Six, dalam sebuah pentas di Rumah Sanur – Creative Hub, Bali; pada medio 2015 | Syafudin Vifick / Beritagar.id

Propagandis musik

Radio membuka jalan bagi Dethu untuk menekuni bisnis musik. Tawaran menjadi manajer band pertama kali datang dari SID, yang memang sering menyambangi tempat Dethu bekerja.

“JRX (penabuh drum SID) yang menawarkan pertama kali. Aku belum mengiyakan, tapi merasa terhormat karena suka dengan mereka,” kenang Dethu. “Waktu itu, aku sedang merintis clothing, Suicide Glam. JRX juga bantu kasih tempat untuk toko.”

Petualangannya bersama SID dimulai pada 2001. Itu adalah era awal penetrasi internet di Indonesia, yang ditandai demam milis–grup diskusi berbasis surel.

Lewat milis–terutama Yahoo Groups, Suicide Glam–Dethu melancarkan propaganda guna memperkenalkan band binaannya. Pun, ketika blog mengetren, Dethu menyalakan laman pribadinya sebagai kanal propaganda: RudolfDethu.com.

Gaya promosi Dethu tak lazim, misal menyematkan kalimat frasa “beer drinker” pada tiap personel SID atau menyebut mereka tak pandai bermain musik.

“Secara administrasi, aku enggak cukup baik. Aku bahkan enggak pernah bikin proposal untuk menawarkan band. Hal yang paling aku tahu adalah mempropagandakan sesuatu dengan sudut pandang berbeda,” katanya.

Puncak sukses SID terjadi saat merilis album mayor label pertama, Kuta Rock City (2003) lewat Sony Music Entertainment Indonesia.

Semula, kata Dethu, tawaran merilis album mayor label jadi kontroversi di internal SID dan skena punk rock. “Waktu itu ada semacam anggapan band punk rock enggak boleh rekaman dengan mayor label. Di sisi lain, SID merasa mentok di jalur indie, sejak 1995.”

Menurut Dethu, SID tak pernah meminta belas kasih mayor label. “Kami ‘ditawarkan’ bukan ‘menawarkan’, jadi lebih setara, penuh kebebasan.”

Perihal kesetaraan dan kebebasan itu, Dethu mengenang momen ketika SID berkukuh memasukkan 70 persen lagu berlirik Bahasa Inggris dalam album pertama mereka.

“Waktu itu, Pak Jan Djuhana (Artist and Repertoire Sony Music Entertainment Indonesia) telepon aku dan memastikan permintaan kami diterima. Itu jadi titik balik, kami menerima tawaran Sony.”

Sebagai manajer, Dethu pula yang mengawal eksponen grunge Bali, Navicula saat merilis album dengan Sony-BMG (Alkemis, 2004). Ia juga ikut menginisiasi kelahiran Suicidal Sinatra, band psychobilly pertama di Indonesia.

Pengujung 2007, ketika SID berstatus band punk rock nomor wahid Indonesia, Dethu malah mengambil rehat dari aktivitas manajemen band. Konon, ia mundur karena ingin fokus pada bisnis clothing, Suicide Glam.

“Ada juga rasa jenuh. Awalnya, aku nonton band dengan fun, tapi ada satu titik lihat konser malah stres,” katanya.

Ia baru kembali ke dunia manajemen artis pada 2015, dengan mengusung bendera Rudolf Dethu Showbiz. Saat ini, bendera bisnis termaksud membawahi tujuh artis–termasuk gerombolan rockabilly andalan Bali, The Hydrant.

“Sekarang, kalau bandku main, aku bisa minum dan ngobrol sama orang-orang. Aku bilang sama road manager, ‘Kalau Megawati wafat, atau Gus Dur hidup lagi, baru panggil aku. Kalau enggak gawat, jangan panggil.’ Aku merasa fun lagi.”

Rudolf Dethu dalam acara peluncuran buku biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! di Rumah Sanur – Creative Hub, Sanur, Bali; Agustus 2015 | Syafudin Vifick / Beritagar.id

Kelindan budaya pop dalam aktivisme

Nyaris satu dekade terakhir, Dethu menaruh minat dan tenaga ke dunia aktivisme.

Saat gelombang reformasi 1998 menerpa Indonesia, Dethu sebenarnya sudah tertarik pada isu-isu sosial politik dan sesekali terlibat dalam demonstrasi menuntut pergantian rezim.

Namun, ia baru aktif benar dalam dunia aktivisme antara 2007-2008, ketika terlibat gerakan menentang Undang-Undang Pornografi. “Aku merasa UU Pornografi mengancam budaya Nusantara. Aku mulai mengajak musisi terlibat memberi solidaritas,” katanya.

Perlawanan itu kandas. UU Pornografi disahkan. Namun, Dethu belajar banyak dari kegagalan.

Tatkala isu reklamasi Teluk Benoa berdengung, Dethu terlibat dalam Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI).

Gerakan sipil itu adalah garda depan aksi-aksi anti-reklamasi Teluk Benoa. Mereka menganggap reklamasi Teluk Benoa mengancam lingkungan dan kebudayaan di Pulau Dewata.

“Saat melawan UU Pornografi, musisi hanya bersolidaritas di atas panggung. Sekarang, di ForBALI, musisi ikut demonstrasi, diskusi, dan mengorganisir,” kata pria yang kebagian tugas mengurusi Divisi Media sosial di ForBALI itu.

Dethu memberi kredit khusus kepada I Wayan Suardana alias Gendo, Koordinator ForBALI. Ia menyebut Gendo sebagai tokoh yang bisa memimpin dan menyuntikkan kesadaran anak-anak muda Bali perihal isu-isu sosial, politik, dan lingkungan.

“Sekarang, kalau demo ForBALI, ada SID, Navicula, The Hydrant, Nosstress, dan seterusnya. Anak-anak muda ramai ikut demo. Mereka sering selfie, enggak masalah, yang penting melawan dan fun,” ujar Dethu beriring gelak.

Sejak medio 2016, Dethu menjadi Koordinator Aliansi Kebinekaan. Aliansi itu dibentuk 23 organisasi non-pemerintah. Mereka kerap membuat forum-forum berbasis kampus guna menangkal radikalisme dan mengampanyekan kebinekaan.

Dalam dunia aktivisme, Dethu senantiasa membawa unsur-unsur budaya populer. Baginya, budaya populer merupakan pintu masuk untuk mendekati anak-anak muda.

“Kita sering berprasangka bahwa anak muda tak tertarik dengan isu berat, seperti social justice. Padahal, kalau ambil contoh ForBALI, yang banyak terlibat justru anak muda. Itu karena kampanye kami menjangkau mereka,” katanya.

Pendidikan:

  • Fakultas Ilmu Komunikasi Politik – Universitas Terbuka (semester akhir)
  • Community Development Komisi Pemberantasan Korupsi – The Hague Academy, Den Haag, Belanda (2017)
  • Diploma Perpustakaan – Sydney Institute, Sydney, Australia (2012-2013)
  • Front Office Departement – BPLP Bali (1990-1992)
  • Departemen Pariwisata – Politeknik Udayana (1988-1990)

Karier:

  • Koordinator Forum MBB (Muda Berbuat Bertanggung Jawab) & Aliansi Kebinekaan (2015-sekarang)
  • Rudolf Dethu Showbiz, memanajeri The Hydrant, Leanna Rachel, Athron, Rebecca Reijman, Leonardo & His Impeccable Six, dan Negative Lovers (2015-sekarang)
  • Penulis biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! (2015)
  • Communication Specialist – IMACS/USAID, Jakarta (2014-2015)
  • Publisis – film dokumenter JALANAN, Jakarta (2014)
  • Kolumnis, The Beat (2007-2014)
  • Night fill – Woolworths Ltd, Sydney, Australia
  • Penyiar dan produser program musik alternatif – Radio Cassanova, The Beat Radio Plus, OZ Radio (1998-2012)
  • Marketing Director & Co-founder – Suicide Glam clothing (1999-2010)
  • Glampunkabilly Inferno Band Management, memanajeri SID, Navicula, Postmen; menginisiasi Suicidal Sinatra (2001-2008)
  • Personal Assistant to Head Designers – CV Kecak, Denpasar, Bali (2000-2002)
  • Dining Room Steward – Holland America Line (kapal pesiar), Seattle, Amerika Serikat (1993-1997)

________

Artikel di atas dipinjampakai dari Beritagar.id bertajuk Rudolf Dethu: Propaganda, Musik, dan Aktivisme.

PESTA PELUNCURAN BIOGRAFI SUPERMAN IS DEAD

Superman Is Dead barangkali telah pantas digelari sebagai legenda hidup.

20 tahun sudah Bobby Kool, Jon Eka Rock, JRX, berkiprah di blantika musik Indonesia. Memulai karir profesional dengan ditonton hanya tiga orang (termasuk manajernya) hingga kini memiliki jutaan penggemar militan. Belakangan, trio asal Bali ini meraih hormat menjulang karena berada di garis depan—bukan sekadar simpatisan—dalam membela alam Bali, menolak keras rencana reklamasi Teluk Benoa.

Semua pencapaian dan kisah perjalanan yang mengesankan tersebut nyatanya belum terpublikasikan dengan baik, runut, apalagi komperehensif. Hanya sebagian termunculkan, terutama momen-momen beberapa tahun terakhir. Masih berjubel kisah yang tercecer. Kejadian-kejadian menarik di masa silam pun hampir lapuk terkubur menjadi misteri.

The book, the author, and the great rock-n-roll swindle. | Foto: Gus Wib.

The book, the author, and the great rock-n-roll swindle. | Foto: Gus Wib.

Rudolf Dethu kemudian berinisiatif mengungkap cerita-cerita mengenai tiga pria asal Bali yang penuh dikabuti mitos tersebut. Dethu bisa jadi adalah sosok paling pas untuk menuliskan serta mengisahkannya. Sekitar 7 tahun ia memanajeri Superman Is Dead. Sejak trio punk rocker itu masih menjadi pegiat kancah bawah tanah sampai bergabung dengan label rekaman raksasa. Dari sekadar pahlawan daerah hingga diakui sebagai band nasional dengan jumlah umat berlimpah.

Dethu mengajak para mantan partner kerjanya itu untuk merilis kumpulan pengalaman mereka selama berkarir di musik. Menerbitkan biografi, tepatnya. Dan dari hasil berdiskusi panjang lebar antara Dethu dengan SID tersembul ide untuk mengupas lika-liku perjalanan tersebut dengan cara membaginya menjadi beberapa bagian, bukan langsung digelontorkan kolosal dalam satu dokumen tebal. Kenapa kok why? Generasi muda terkini sudah kurang akrab dengan kebiasaan membaca tulisan panjang-panjang. Di era gilang-gemilang media sosial seperti sekarang segalanya cenderung serba ringkas, artikel isinya pendek-pendek, pesan tertulis disampaikan sering dengan cara menyingkat. Buku berat-tebal dipandang sebagai barang usang.

Ya sudah, Dethu dan SID memilih untuk mengakomodir kebiasaan mutakhir itu. Biografi dibelah menjadi beberapa biografi mini. Mirip serial The Lord of the Rings, terkesan terpisah walau sejatinya adalah satu kesatuan yang rapat. Setiap bio mini mengungkap satu atau beberapa topik khusus yang terjadi sepanjang perjalanan berkesenian SID.

Untuk seri bio mini perdana ini topiknya mengerucut pada tiga isu yang sempat brutal menghajar SID: vonis sebagai band rasis, tuduhan melacurkan diri, serta predikat sebagai musisi pendosa. Tajuk bio RASIS! PENGKHIANAT! MISKIN MORAL! (RPM) sengaja dipilih guna menegaskan secara kilat-padat kemana arah pembahasan bukunya.

Dalam RPM dikupas lugas sejarah semua titel miring itu bermula. Mengapa Bob, Eka, JRX, sampai dicurigai anti orang Jawa—apa iya ada grafiti “F**k Java” yang dibikin SID di sebuah tembok di Poppies. Bagaimana bisa grup musik bentukan 1995 ini dipojokkan sebagai musisi yang telah bermufakat jahat dengan kapitalisme. Pula cibiran soal kemerosotan akhlak mereka.

Oleh Dethu semuanya dibeberkan gamblang, baik lewat penjabaran ulang memori—sentimental journey!—dan pengungkapan sudut pandang pribadi, juga menanyai kembali para nara sumber yang memang betul-betul terlibat di peristiwa tersebut. Tentu pula ditampilkan foto-foto historikal SID yang dianggap mampu agresif berbicara tentang apa yang sejatinya terjadi di masa lalu. Di tiap sub-topik lalu ditutup dengan komentar dari masing-masing personel SID, dibandingkan antara saat dahulu peristiwa tersebut terjadi dengan konteksnya di hari ini.

Guna menyambut hadirnya bio ini maka haruslah dirayakan. Pesta peluncuran buku setebal lebih dari 250 halaman ini pun dicarikan momentum yang pas yaitu dengan dirgahayu SID yang ke-20 di bulan Agustus ini. Selebrasinya sendiri bakal dilaksanakan tiga kali di tiga tempat berbeda serta dengan tiga tema berlainan. Yang pertama pada 18 Agustus 2015 bertajuk PUNK ROCK BOAT – let’s sail ‘n read! Yang kedua, KOBIKU (Kongkow-kongkow Bicara Buku), pada 20 Agustus. Yang ketiga pada 28 Agustus, HOMETOWN RIOT – 20 years, 3 chords, and 1 more f**kin’ beer!
PunkRockBoat
PUNK ROCK BOAT akan diadakan di atas kapal pesiar Quicksilver dengan mengundang pers lokal dan nasional, undangan khusus serta publik. Sambil menonton SID tampil akustik hadirin bakal diajak berkeliling di sekitar Teluk Benoa. Ini memang disengaja, untuk mengingatkan serta memperlihatkan bahwa di tempat itulah rencana jahat reklamasi hendak dipaksakan oleh pengusaha yang dibekingi penguasa.

KOBIKU konsepnya lebih rileks: ngobrol santai dan dekat dengan saya serta trio SID di Rumah Sanur – Creative Hub yang akan ditutup dengan aksi nge-DJ oleh Jon Eka Rock.

Sementara HOMETOWN RIOT berupa konser memperingati ulang tahun SID yang ke-20 di Hard Rock Cafe Bali. Moshing, berdendang, seraya memperkenalkan bio SID paling perdana.

Segala gempuran bertubi-tubi yang diterima oleh tiga sekawan itu sepanjang perjalanan karir mereka telah membentuk Superman Is Dead seperti sekarang ini, menjadikannya sabar, bijak, lagi tahan banting.

Sebab kuat kita bersinar!

Circa 2002. SID ketika mulai moncer reputasinya., kerap muncul menjadi sampul majalah.

Circa 2002. SID ketika mulai moncer reputasinya., kerap muncul menjadi sampul majalah.

Circa 2003. SID menjalani sesi pemotretan untuk promo album perdana, Kuta Rock City. | Foto: courtesy of Tiga Grafis.

Circa 2003. SID menjalani sesi pemotretan untuk promo album perdana, Kuta Rock City. | Foto: courtesy of Tiga Grafis.

Penghujung 2002. SID menjadi salah satu grup paling dinanti di acara peringatan Bom Bali I.

Penghujung 2002. SID menjadi salah satu grup paling dinanti di acara peringatan Bom Bali I.

SID menjadi salah satu grup paling ditunggu di pensi legendaris, PL Fair.

SID menjadi salah satu grup paling ditunggu di pensi legendaris, PL Fair.

Usulan judul dan sub-judul buku di masa-masa awal.

Usulan judul dan sub-judul buku di masa-masa awal.

Opsi alternatif untuk sampul bio SID. Sama-sama karya sesepuh media dan komunikasi di negeri ini, Ayip Budiman.

Opsi alternatif untuk sampul bio SID. Sama-sama karya sesepuh media dan komunikasi di negeri ini, Ayip Budiman.

______________

RASIS! PENGKHIANAT! MISKIN MORAL!
Tiga Kontroversi Besar, Melelahkan, & Nyaris Mematikan Karir Bermusik Superman Is Dead

Tanggal terbit: 18 Agustus 2015
Penulis: Rudolf Dethu
Editor: Dani Satrio
Halaman: 266
Penerbit: CV Kuat Kita Bersinar

Kontak: limited@supermanisdead.net

Belajar Menulis Musik yang Apik Bersama Dethu

Foto: Ayip

Kelas menulis musik | Foto: Ayip

Ditulis oleh Diah Dharmapatni

Akhir pekan panjang patut diisi aktivitas ciamik, seperti kelas menulis musik.

Kemarin, BaleBengong bekerja sama dengan Kumpul Coworking Space menggelar Kelas Menulis Musik. Rudolf Dethu didapuk menjadi pembicara untuk kelas ini.

Dethu membagi pengalamannya dalam menulis rilis pers, profil band dan reportase konser. Menurut Dethu, tak perlu keahlian main musik untuk menulis tiga hal tadi. “Yang penting punya kesukaan kronis pada musik, itu sudah cukup,” katanya.

Kemampuan menulis musik bisa diawali dengan mengumpulkan album musisi tertentu. Penulis musik dengan album sangat banyak dan lengkap berarti sudah punya kelebihan dibanding pendengar musik lainnya. Kelebihan itu akan mempengaruhi kedalaman tulisan.

Foto: Ayip

“Jangan bikin awal profil yang negatif. Kalau soal kritik, biarkan orang lain yang menilai.” | Foto: Ayip

Banyak musisi mungkin merasa bingung menulis profilnya. Penulisannya bisa dimulai dengan 5W+1H untuk menuliskan awal mula terbentuknya band. Selain itu, sisi personal masing-masing personil juga penting dimasukan ke dalam profil band.

Dethu pun menceritakan pengalamannya saat menjadi manajer band Superman Is Dead. Dethu tidak menonjolkan kemampuan bermusik para personil Superman Is Dead di dalam profil band. Dethu justru mengungkap kebiasaan personil band sebagai beer drinker.

Saya pakai pendekatan personal sebagai beer drinker. Jadi Superman Is Dead adalah orang-orang yang suka minum bir dan juga main musik

Musisi juga perlu mencantumkan genre musik dalam profilnya. Apapun genre musiknya, musisi boleh menamakannya sendiri asal ada filosofinya. Profil juga harus berisi kontak yang lengkap, tapi sejarah terbentuknya band tidak perlu sangat lengkap. Apalagi bagi musisi baru, sejarah terbentuknya band tak perlu ditulis begitu panjang. Hal yang terpenting dalam menulis profil ialah sudut pandang positif untuk menggiring opini publik terhadap sang musisi.

Sesi tanya jawab. | Foto: Teddy Drew

Sesi tanya jawab. | Foto: Teddy Drew

Diskusi kelompok mengerjakan tugas menulis rilis pers. | Foto: Teddy Drew

Diskusi kelompok mengerjakan rilis pers. | Foto: Teddy Drew

Berbagi sudut pandang untuk hasil rilis pers yang mumpuni.

Berbagi sudut pandang untuk hasil rilis pers yang mumpuni.

“Jangan bikin awal profil yang negatif. Kalau soal kritik, biarkan orang lain yang menilai,” ujar Dethu.

Sesi terakhir, para peserta menonton video dokumenter Navicula saat memenangkan kompetisi internasional Rode Rockers. Peserta kelas diminta menuliskan rilis persnya. Para peserta dibagi menjadi 3 kelompok. Pada akhir kelas, peserta berhak membawa pulang album musik para musisi keren, yaitu Dialog Dini Hari, Emoni dan Made Mawut.

Serah terima kenang-kenangan dari Balebengong.net | Foto: Balebengong.net

Kenang-kenangan dari Balebengong.net | Foto: balebengong.net

Group photo! No neeus without u! | Foto: balebengong.net

Group photo! No neeus without u! | Foto: Balebengong.net

__________________

Artikel ini dipinjampakai dari Balebengong.net

Kelas Menulis Musik

horizontal-KelasMenulisMusik

Kelas Menulis Berkala BaleBengong.Net dan Kumpul Coworking Space mempersembahkan acara istimewa:

KELAS MENULIS MUSIK BERSAMA RUDOLF DETHU

Lokakarya ini meliputi materi tentang penulisan rilis pers, profil band, dan reportase konser.

Sabtu, 4 April 2014, mulai pukul 14.00.

Di Kumpul Coworking Space
RUMAH SANUR – Creative Hub
Jl. Danau Poso 51A, Sanur

Investasi: Rp100.000 (sudah termasuk piranti lokakarya, makan sore, door prize).
*diskon 20% untuk anggota Kumpul

Pembelian tiket: Sloka Institute
Jl. Noja Ayung (Gatsu Timur) no. 3—mulai pukul 14.00-17.00

Kontak:
Diah 081916299442 | diah@balebengong.net

Imanez: Sunset & Sunrise

For English version please scroll down
Imanez-premiere
IMANEZ: SUNSET & SUNRISE

Sosok Imanez (almarhum) tidak banyak dikenal di masa sekarang. Ketika dilacak ke Google cuma sedikit sekali informasi yang bisa diserap. Pun di Wikipedia Indonesia, walau menyediakan keterangan tentang apa dan siapa Imanez, masih belum bisa dikategorikan komperehensif. Cukup tapi tidak cukup. Dan itu bukan sebuah fakta yang menggembirakan.

Musisi berbakat ini semestinya disuguhi ekspos lebih besar oleh media massa serta diberi apresiasi lebih tinggi oleh masyarakat penyuka seni khususnya skena senandung dalam negeri. Sebab sumbangsihnya kepada blantika musik Indonesia terhitung signifikan. Yang paling bisa dicatat adalah jasanya dalam mempopulerkan genre reggae ke publik luas, ke seantero Nusantara. Ia merupakan salah satu sosok penting yang memberi warna berbeda terhadap musik Indonesia pada pertengahan 90an yang notabene monokrom, statis di sekitar tema asmara picisan dengan irama pop mendayu-dayu. Tak hanya sampai di sana, satu tembang yang membuat namanya menjulang, “Anak Pantai”, pula secara bawah sadar bak menegaskan bahwa identitas reggae Indonesia adalah menyukai pesta, berperangai santai, bukan kriminal—mendamba damai, serta dekat dengan pantai. Seperti deretan syair yang tertuang di lagunya,

Gak kenal waktu / Party selalu / Yang ku suka hanyalah sunset dan sunrise…
Ooo…Anak pantai / Ooo…Suka damai / Ooo…Anak pantai / Ooo…Hidup santai

Ungkapan sedemikian rupa kebetulan didukung oleh videoklip yang lumayan jitu menghidupkan lirik yang dinyanyikan. Berikutnya di kehidupan nyata, ajaibnya, disambut anak muda bagai sebuah tata tertib tak tertulis bahwa jika anda mengidolakan reggae maka anda wajib bergaya santai, menghindari konflik—lebih memilih damai, menggemari keriaan—bergitar bersama sambil menikmati ikan bakar, salah satunya; serta memilih pantai sebagai ajang berekspresi dan unjuk eksistensi.

Nah, atas dasar minimnya penghargaan yang pantas terhadap talenta istimewa macam Imanez inilah insan-insan penyelenggara Vision International Image Festival (Vimage Fest) merasa terpanggil untuk menempatkan Imanez di posisi yang lebih layak, pun secara kebetulan banyak dari karya Imanez klop dan kontekstual dengan tema Vimage Fest yaitu bahari. Sudah begitu, Vimage Fest lalu melakukan napak tilas ke masa silam Imanez—mewawancarai beberapa figur utama, mendatangi sejumlah tempat esensial, menelisik dokumen substansial, menggali informasi vital—lalu menuangkannya ke dalam karya visual berupa film dokumenter. Imanez: Sunset & Sunrise lalu dijadikan judul, yang dikutip dari potongan lirik lagunya yang paling tenar. Apalagi sunset dan sunrise erat terkait dengan kelautan, tema utama Vimage Fest. Selebihnya untuk menegaskan bahwa Imanez tidak seharusnya namanya tenggelam (dalam blantika musik Nusantara) tapi muncul dan bersinar.

Imanez terlahir dengan nama Abdul Firman Saad pada 22 Juni 1968 di Jakarta. Ia dibesarkan di keluarga berdarah seni. Kakeknya merupakan seorang penggesek biola serta sang ayah pemetik gitar. Ketika belia Imanez amat menggemari The Beatles serta sempat memiliki semacam band keluarga yang khusus membawakan tembang-tembang The Beatles, Speedy Beetle. Beranjak dewasa ia mulai lekat bergaul dengan komunitas Potlot karena kebetulan bertetangga serta sama-sama mengelola studio musik di rumah masing-masing. Interaksi intensnya dengan anak-anak Potlot kian mengasah bakat musiknya yang memang menonjol sejak kecil—Imanez piawai memainkan berbagai instrumen terutama gitar, bas, kibor dan drum. Selain nama panggung yang tadinya cuma Iman bertransformasi menjadi Imanez (Iman yang memainkan bas Ibanez), ia juga diajak bergabung di Slank, grup musik paling menonjol di komunitas Potlot, sebagai penanggungjawab gitar juga bas serta sesekali menyanyi (tergantung posisi yang sedang lowong). Di era ini pula Imanez mengokohkan keberadaannya di blantika musik Indonesia dengan merilis album perdananya, Anak Pantai (1994). Meledaknya single yang bertajuk serupa dengan album seketika saja membuat musik reggae terangkat pamornya di masyarakat luas, lengkap dengan gono-gini tak resmi bahwa reggae mengakrabi pantai serta bertabiat santai. Setelah menerbitkan karya keduanya setahun setelahnya, Sepontan, yang notabene kurang terdengar gaungnya, perlahan Imanez mulai jarang tampil di depan umum. Sampai kemudian pada 2004 publik mendengar namanya lagi justru karena kabar duka: ia meninggal dunia akibat gangguan lambung akut dan kanker hati. Musisi yang terlanjur dicap sebagai pengusung reggae—sejatinya di era tersebut ia lebih beredar di orbit alternative rock dan poros tengah macam Lenny Kravitz—ini meninggalkan seorang putri dan sepucuk album yang belum sempat diterbitkan.

RUDOLF DETHU
Penulis, Sutradara

Informal discussion before the film shooting; Satrio Prabotho (executive producer, 2nd from left), Oppie Andaresta (resource person, 3rd), Denny MR (resource person, 4th), Intan Anggita (assistant to the Director, 7th), Adib Hidayat (advisor, 8th), and me

English version

IMANEZ: SUNSET & SUNRISE

The late Imanez is not a well known figure at the moment. A Google search result does not yield much information. Indonesia’s Wikipedia has a brief profile about Imanez but without any comprehensive information. Enough but definitely not good enough. It is not a heartening fact.

This talented musician should have been widely exposed by the media and fully appreciated by the artistic communities, especially by those who are fans of Indonesian music. His contribution to our wealth of Indonesian music was significant. Among his vast contribution, popularizing the reggae throughout the archipelago must be noted. He managed to be a prolific figure who painted with a different color onto the canvas of Indonesia’s music scene during the mid-90s which was still remembered as a monochrome, static era when cheesy love ballads was reigning the chart. He did not stop there. One of his most popular songs, “Anak Pantai” (beach kids), unconsciously cemented Indonesian reggae identity as the music of the party, laid back and far from hard crime, it demands peace and an intimacy with the sea. Very much like the lyric of the song:

Couldn’t care less about time/ party all the time/ All I love are sunset and sunrise…
Ooo Beach Kids/Ooo… like peace/ Ooo… Beach kids/ Ooo… laid back life

That kind of lyric was supported by a spot-on video clip, bringing the words into life. In reality, magically all the fans took it as the unwritten rules: if you are a fan of reggae, you must be living a laid back kind of life, remove yourself from conflict—peace and happiness—strumming the guitar while grilling some fish, using beach as the place to express and showing up their existence.

Based on the lack of inappropriate appreciation for Imanez, Vision International Image Festival (Vimage Fest) feels obligated to put Imanez on his rightful throne. Accidentally, his songs are contextually matched with the theme of this festival: maritime.

A group of dedicated team from Vimage Fest then made a trip to the past of Imanez—starting from interviewing some of his closest family and friends, visiting some essential places where he lived and worked, flipping through substantial documents and digging through vital informations- then poured it all visually in one documentary film. Imanez: Sunset & Sunrise becomes the title, quoted from a piece of his famous song and an obvious tie with the maritime theme of Vimage Fest. Most importantly, this film is to highlight Imanez, whose name should never be drowning in the anonymity of Indonesian music history, but always there at the shining top.

Imanez was born Abdul Firman Saad on June 22nd, 1968 in Jakarta. He was raised in an artistic and musical family. His grandfather was a violinist and his father was a guitarist. He was a big fan of The Beatles, so much so he was part of a family tribute band, Speedy Beetle, who were specializing in performing The Beatles songs. He grew up with the Potlot community who happened to be his neighbour and each had a music studio. His intense interaction with the Potlot crew sharpens his musical talent which was clearly appeared ever since he was a kid. He was adept at playing various instruments such as guitar, bass, keyboard and drum. His old stage name, Iman, was transformed into Imanez (or Iman who played with Ibanez). He joined Slank, a leading band in Potlot community, as the person in charge for the guitar and bass, while singing once in a while, depending on available position. During this time, Imanez sealed his existence by releasing his first album, Anak Pantai (1994). His single—which title was the same with the album—successfully topped the chart and immediately raised the popularity of reggae, complete with the whole beach and laid back lifestyle. After the release of his less successful second album, Sepontan, two years later, Imanez slowly withdrawn from public life. Suddenly, the next thing public heard of him was the sad news of his death on 2004. He passed away because of an acute gastric ulcer sickness and liver cancer. This musician—who was known as the reggae legend—although it may be more fitting to put him in the center of alternative rock orbit like Lenny Kravitz, left one daughter and one album which have not been released.

RUDOLF DETHU
Writer, Director

_______________

Produced by Vision International Image Festival 2013
Executive Producer: Satrio Prabotho
Directed and written by Rudolf Dethu
Advisor: Adib Hidayat
Line Producer/Asst Director: Niken D. Rahayu
Assistant to Director: Intan Anggita
Director of Photography/Editor: Rio Simatupang
Camera Assistant: Farmaditya
Graphic Director: Panji Krishna
Graphic Design: Edy Saputra
English translation: Eve Tedja

Premiere: Sunday, October 20th, 2013, 6pm, Bentara Budaya – Denpasar

SEE ALSO
Gerakan Itu Bernama Bali Creative Festival