PROPAGANDA, MUSIK, DAN AKTIVISME

Rudolf Dethu adalah sosok di balik panggung dalam kesuksesan band-band asal Bali. Mulai dari Superman Is Dead sampai The Hydrant merasakan tangan dinginnya. Ia tak genah memainkan instrumen musik, betapapun semesta irama adalah cinta sekaligus jalan hidup yang membesarkan namanya. Selera dan pengetahuan jadi senjatanya mengarungi blantika musik. “Sejak akhir 1980-an, aku bergaul dengan anak-anak musik di Denpasar. Aku orang yang enggak bisa main musik, tapi sering diminta berpendapat tentang musik,” kata Rudolf Dethu, yang namanya dikenal sebagai eks manajer Superman Is Dead (SID)–trio punk rock asal Bali. Pria ini kerap disebut sebagai propagandis musik. Propaganda Dethu–terutama lewat tulisan–adalah pintu gerbang yang mempertemukan skena (scene) musik Bali dengan pendengarnya. Hal itulah yang membuat namanya berada satu level bersama para pesohor skena musik Bali, macam SID, Navicula, dan The Hydrant. Tiada berlebihan, sebab Dethu adalah figur di balik panggung dalam kisah sukses band-band di muka. Belakangan, Dethu terlibat pula dalam dunia aktivisme. Ia berdiri di baris depan dalam puputan melawan reklamasi Teluk Benoa di Bali. Ia juga aktif mengampanyekan semangat kebinekaan dan antikorupsi. “Aku lebih suka disebut storyteller (pencerita). Wendi Putranto (eks Rolling Stone Indonesia) orang pertama yang menyebutku propagandis,” ujar pemilik nama resmi Putu Wirata Wismaya itu. Perbincangan kami berlangsung saat matahari Bali sedang panas-panasnya. Angin laut membawa aroma asin dari Pantai Sanur, yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat kami mengobrol: Rumah Sanur Creative Hub. Tempat itu merupakan satu titik pertemuan para seniman, pelaku industri kreatif, dan aktivis di Bali. Di sana ada kedai kopi, restoran, panggung musik, toko konsep, dan ruang kerja bersama. Siang itu (8/12/2017), Rumah Sanur sedang sibuk. Beberapa anak muda tengah menata panggung, mengatur instrumen musik, dan mengecek sistem pengeras suara. “Kami dipercaya jadi tuan rumah Festival Anti Korupsi oleh KPK. Ini sedang persiapan buat acaranya, sore nanti,” kata Dethu, yang bertanggung jawab mengurusi perihal musik dan konten di Rumah Sanur. Sebelum memulai percakapan, pria yang lahir 47 tahun silam itu memesan Gurita Bumbu Bali dan Jus Melon. Hari itu, ia mengenakan setelan sepatu bot, celana jin, kemeja berwarna merah, plus suspender yang melingkar dari pinggang ke bahu. Sesekali, ia membenarkan letak topi fedora di kepalanya, seolah memastikan penampilannya senantiasa klimis. Berewok dan kumis membuatnya terlihat sangar. Kesan itu hilang bila melihat senyum atau gelak yang kerap menutup perkataannya. Agaknya, gaya serta gestur Dethu adalah cerminan karakter skena musik Bali: sangar tanpa kehilangan keramahan dan kegembiraan. “Street punk susah berkembang di Bali yang punya beach culture–dengan suasana kegembiraan dan santai. Musik yang pas rockabilly, californian punk, atau surf punk,” katanya. Menanam pengaruh dari kapal pesiar Ketertarikan Dethu pada musik dimulai sejak dini. Kebetulan, orang tuanya bekerja di industri pariwisata dan kerap melawat. Billboard, majalah hiburan kenamaan asal Amerika Serikat, jadi buah tangan saban orang tuanya pulang lawatan. Bacaan itulah yang memperkaya referensi musiknya. “Sejak SD, aku jadi semacam ensiklopedia di antara teman-temanku, terutama soal musik,” ujar Dethu. Hal itu berlaku hingga dirinya berkuliah di Politeknik Pariwisata Udayana. Semasa kuliah, ia sempat pula membentuk band sebelum sadar kemampuannya dalam bermusik terbatas adanya. Dethu menambal kelemahan itu […]

Continue ReadingPROPAGANDA, MUSIK, DAN AKTIVISME

PESTA PELUNCURAN BIOGRAFI SUPERMAN IS DEAD

Superman Is Dead barangkali telah pantas digelari sebagai legenda hidup. 20 tahun sudah Bobby Kool, Jon Eka Rock, JRX, berkiprah di blantika musik Indonesia. Memulai karir profesional dengan ditonton hanya tiga orang (termasuk manajernya) hingga kini memiliki jutaan penggemar militan. Belakangan, trio asal Bali ini meraih hormat menjulang karena berada di garis depan—bukan sekadar simpatisan—dalam membela alam Bali, menolak keras rencana reklamasi Teluk Benoa. Semua pencapaian dan kisah perjalanan yang mengesankan tersebut nyatanya belum terpublikasikan dengan baik, runut, apalagi komperehensif. Hanya sebagian termunculkan, terutama momen-momen beberapa tahun terakhir. Masih berjubel kisah yang tercecer. Kejadian-kejadian menarik di masa silam pun hampir lapuk terkubur menjadi misteri.

Continue ReadingPESTA PELUNCURAN BIOGRAFI SUPERMAN IS DEAD

Belajar Menulis Musik yang Apik Bersama Dethu

Oleh Diah Dharmapatni Akhir pekan panjang patut diisi aktivitas ciamik, seperti kelas menulis musik. Kemarin, BaleBengong bekerja sama dengan Kumpul Coworking Space menggelar Kelas Menulis Musik. Rudolf Dethu didapuk menjadi pembicara untuk kelas ini. Dethu membagi pengalamannya dalam menulis rilis pers, profil band dan reportase konser. Menurut Dethu, tak perlu keahlian main musik untuk menulis tiga hal tadi. “Yang penting punya kesukaan kronis pada musik, itu sudah cukup,” katanya. Kemampuan menulis musik bisa diawali dengan mengumpulkan album musisi tertentu. Penulis musik dengan album sangat banyak dan lengkap berarti sudah punya kelebihan dibanding pendengar musik lainnya. Kelebihan itu akan mempengaruhi kedalaman tulisan.

Continue ReadingBelajar Menulis Musik yang Apik Bersama Dethu

Kelas Menulis Musik

KELAS MENULIS MUSIK BERSAMA RUDOLF DETHU Lokakarya ini meliputi materi tentang penulisan rilis pers, profil band, dan reportase konser. Sabtu, 4 April 2014, mulai pukul 14.00. Di Kumpul Coworking Space RUMAH SANUR - Creative Hub Jl. Danau Poso 51A, Sanur Investasi: Rp100.000 (sudah termasuk piranti lokakarya, makan sore, door prize). Pembelian tiket: Sloka Institute Jl. Noja Ayung (Gatsu Timur) no. 3---mulai pukul 14.00-17.00 Kontak: Diah 081916299442 | diah@balebengong.net

Continue ReadingKelas Menulis Musik

Imanez: Sunset & Sunrise

English version click here Sosok Imanez (almarhum) tidak banyak dikenal di masa sekarang. Ketika dilacak ke Google cuma sedikit sekali informasi yang bisa diserap. Pun di Wikipedia Indonesia, walau menyediakan keterangan tentang apa dan siapa Imanez, masih belum bisa dikategorikan komperehensif. Cukup tapi tidak cukup. Dan itu bukan sebuah fakta yang menggembirakan. Musisi berbakat ini semestinya disuguhi ekspos lebih besar oleh media massa serta diberi apresiasi lebih tinggi oleh masyarakat penyuka seni khususnya skena senandung dalam negeri. Sebab sumbangsihnya kepada blantika musik Indonesia terhitung signifikan. Yang paling bisa dicatat adalah jasanya dalam mempopulerkan genre reggae ke publik luas, ke seantero Nusantara. Ia merupakan salah satu sosok penting yang memberi warna berbeda terhadap musik Indonesia pada pertengahan 90an yang notabene monokrom, statis di sekitar tema asmara picisan dengan irama pop mendayu-dayu. Tak hanya sampai di sana, satu tembang yang membuat namanya menjulang, “Anak Pantai”, pula secara bawah sadar bak menegaskan bahwa identitas reggae Indonesia adalah menyukai pesta, berperangai santai, bukan kriminal—mendamba damai, serta dekat dengan pantai. Seperti deretan syair yang tertuang di lagunya, Gak kenal waktu / Party selalu / Yang ku suka hanyalah sunset dan sunrise… Ooo…Anak pantai / Ooo…Suka damai / Ooo…Anak pantai / Ooo…Hidup santai

Continue ReadingImanez: Sunset & Sunrise