SBY itu Siapa “sih”???

Saya anak Indonesia.
Saya cinta bangsa ini? Tidak dapat diukur, jelas!!!
Tapi saya P E D U L I
Dan Semua rakyat P A S T I P E D U L I

*Hari ini saya mengheningkan cipta dan mendengarkan berulang-ulang lagu “kegelisahan” dari Band Indie kesayangan saya #nosstress untuk mengenang gugurnya DEMOKRASI INDONESIA

Saya kenal presiden saya yang pertama, Soekarno. Karena belajar sejarah yang kurikulumnya disusun orang-orang orde baru. Meskipun begitu, Hebatnya Soekarno lho tidak bisa ditutupi dengan cerita-cerita yang bertebaran di buku-buku sejarah tersebut bahkan SUPERSEMAR pun disangsikan dan saya hidup lumayan lama dengan bertahan dijejali pengetahuan orde baru. Film sejarah Indonesia seperti G30S PKI yang jaman hitam putih itu plus lagu-lagu keroncong perjuangan dan segala ceritanya, saya makan bulat-bulat. Anak-anak seperti kami jaman itu bertahan demi bisa lulus SD, SMP dan SMA tanpa mempertanyakan isi pelajaran yang kami terima. Percaya aja!

Kadang saya masih terkenang-kenang Eyang Soeharto, karena di jaman dia meskipun saya makmur kenyang makan beras gaji PNS bapak-ibu tapi saya juga sering mendengarkan cerita-cerita misteri tentang penculikan orang atau terror diam-diam di perkampungan pelosok. Seru lho.

Nah kalo Habibie, awal kehadiran Beliau saya bertanya-tanya beneran Beliau bisa bikin pesawat, waktu itu mana saya tahu kalo ternyata banyak sekali orang Indonesia hebat berprestasi tapi lebih betah di luaran sana ketimbang di negerinya sendiri karena orang Indonesia sebenarnya krisis sekali akan identitas diri. Apa yang masuk, diserap habis-habisan sampai lupa dengan akar budaya sendiri. Saya sempat kesal juga dengan Habibie (apapun alasannya tetap saya kesal), gara-garanya saudara/I saya di Timor-timur akhirnya pensiun jadi propinsi paling bungsu Indonesia. Padahal jaman SD saya hafalin tuh 27 Propinsi di Indonesia demi nilai memuaskan karena kapasitas saya pada hafalan bukan hitungan dan saya ikutin selalu acara Pesona Budaya atau apa yah dulu yang selalu hadir di TVRI setiap hari minggu malam. Saya selalu senang dengan acara yang menayangkan budaya seluruh Indonesia tersebut khususnya TimTim karena ada inkulturasi budaya Portugal.

Tiba jaman Gus Dur, saya ikuti tayangan siaran langsung proses pemilihan Presiden ini oleh para Anggota DPR di TVRI yang masih juga hitam putih (bapak saya gak suka foya-foya demi TV berwarna). Waktu itu saya tidak menyangka “kok bisa tuh lho” karena lagi-lagi tanda kutip

“apakah sudah tidak ada lagi orang normal yang bisa memimpin Indonesia?”
“Apakah sekejam itu politik demi menyingkirkan seorang wanita?”

Dan akhirnya Megawati harus puas menduduki Wakil Presiden, saya pun makin simpatik pada Megawati (dan selain karena Ibu ini anak aseli Soekarno yang melegenda juga karena sejak dulu Partai yang beliau pimpin ini selalu fenomenal lah yah, dengan jari metal yang menunjukan angka tiga. Itu keren bos \m/ di Ende dulu begitu hahaha..maklum pikiran anak belasan tahun lebih mengutamakan yang tampak nyata)

Balik lagi ke Gus Dur, namun siapa sangka Gus Dur mampu menghilangkan sebagian besar doktrinisasi orde baru. Banyak anak muda yang terbuka pikirannya dan mulai mengakrabkan diri dengan pluralism, menjauhi radikalisme dengan sangat kentara.
Akan tetapi, lagi-lagi Politik Indonesia amburadul lagi. Gus Dur sang tokoh inspiratif itu harus lengser dan kebetulan sekali yah karena Ibu Megawati adalah wakil beliau maka naik tahta lah Beliau menjadi Presiden Indonesia saat itu bersandingkan Hamzah Haz. Dan tercapailah kepuasan saya yang dulunya sempat patah arang karena Megawati tidak bisa menduduki tampuk kepemimpinan Bangsa. Saya bangga lho saat itu karena “Wah Perempuan Indonesia Pertama yang akhirnya jadi orang Nomor Satu”. Bersamaan dengan itu saya lebih berani bermimpi meskipun saya perempuan di Indonesia. Saat itu.

Kemudian muncullah hiruk pikuk itu. Hedeuh yang saya ingat hanya sebagian karena saya masih buta huruf tentang perpolitikan dan pemerintahan. Saat itu banyak desas-desus dari Ibu Kota yang mengerikan. Juga di Ende saat itu terjadi sesuatu yang mengerikan terhadapa saudara-saudari saya yang hanya kebetulan bersuku bangsa Cina. Penjarahan disana-sini, toko-toko dibakar padahal orang-orang pribumi itu sebenarnya setiap hari hidup juga dari mereka yang adalah pengusaha dan pedagang. Tidak tau diri. Bertepatan dengan itu pula, mata pelajaran di sekolah ikutan amburadul, kurikulum makin aneh lalu buku-buku baru bermunculan. Kami pun harus giat menghafal peristiwa-peristiwa baru ini demi bisa lulus sekolah.

Kemudian, PEMILU Bapak ini tiba. Saya kebetulan masih SMA tapi jarang nonton tivi lagi karena lebih asik main dengan teman-teman atau melirik dan menghayalkan cowok-cowok baru akhil balig di sekolahan. Hahaha…dan buku-buku pengetahuan masih berisi hal sama, informasi dan berita pun tidak se-melesat saat ini. Jadi jujur saja, Jaman Bapak ini muncul dan mulai menjabat sebagai pimpinan Bangsa, saya samasekali gak ngeh. Tidak ada yang menarik atau luar biasa. Tidak ambil pusing meskipun Beliau menggantung Indah didepan kelas mengapiti Garuda Pancasila bersama figur wakil presiden saat itu. Setahun setelah Bapak itu menjabat, Eh saya punya KTP, tetap saja saya tidak menyesal karena kalau saja saya mendapatkan KTP setahun lebih awal mungkin saya sudah bisa ikut memilih.

Sampai akhirnya Bapak ini menjabat dua kali, dan saya sudah berusia lebih dari 17 tahun dengan KTP ditangan. Saya gak ambil pusing dan tetap tidak memilih. Huhu… Bapak ini sering sekali lalu lalang di tipi ya iyalah RI 1, dapat penghargaan dimana-mana, keliling Indonesia bikin macet lalu lintas, ciptakan lagu dan bikin album, buat program ini itu TETAPI TETAP SAJA SAYA TIDAK TERSENTUH atau bahkan SIMPATIK. Parahnya lagi saya merasa seperti “TIDAK PUNYA PRESIDEN”

Tetapi saya masih tetap biasa saja, saya mungkin kehilangan sensitifitas terhadap pemerintah karena saat itu saya beranjak dewasa dan akhirnya kuliah jadi sudah jauh dari sentuhan pelajaran atau pecutan rotan guru sejarah dan kewarganegaraan.
Awal-awal kuliah, baru sedikit yang saya terima dari lingkungan pergaulan, media informasi atau situasi. Dan saya masih cuek, namun lamat-lamat saya mulai perhatiin Bapak ini. Kok sering sekali di jaman pemerintahannya terjadi kontroversi. Masalah Bencana Alam, Masalah Ini-Itu dan makin parah masalah Korupsi gila-gilaan padahal itu JARGON lho dari Partai yang Ia pimpin. Suatu ketika saat saya menjadi Volunteer pada APEC 2013 yang diselenggarakan di Bali, saya sempat memupuk harapan agar bisa bertemu Bapak ini secar langsung. Melihat kantung matanya yang tebal dari dekat karena kebetulan stand saya bertugas tepat di pintu masuk. Akan tetapi sampai hari terakhir kegiatan, saya justru lebih sering menatap langsung kepala Negara-kepala Negara dari Negara lain ketimbang Negara sendiri. Apakah ironi? Kepala Negara Indonesia meningkatkan pengamanan saat berkegiatan di negaranya sendiri. WHO YOU ARE?!!! Saya makin merasa BELIAU ini BUKAN APA-APA.

Jaman Bapak ini memerintah, semuanya jadi terus terang titttt terang terus *Ngiklan hahaha
Indonesia jadi terlihat seperti bangunan raksasa tua yang sudah lama tak terpakai atau Roti basi yang telah lama tak terjamah, begitu bagus dan diperhatikan dari luar tapi bobrok didalam digerogoti rayap dan semut P E R L A H A N dan Bangsanya sendiri termasuk pemerintahnya membiarkan itu begitu saja.

Jaman Bapak ini memerintah, saya merasa tidak ada yang perlu diperjuangkan bahkan nilai di kelas seperti jaman dulu itu. Karena toh percuma, sekeras apapun saya berusaha atau kita orang berjuang, segala urusan di muka bumi ini pasti akan berhubungan dengan pemerintah dan labirin birokrasinya yang berbelit-belit. Bikin malas, pesimis dan putus asa di awal. Tidak ada bedanya dengan jaman orde baru, reformasi tai kucing! Kita hidup di Indonesia seperti simalakama, hanya karena kita terlanjur lahir di tanah ini. Ngeri yah?

Jaman Bapak ini memerintah, saya lebih kenal artis Indonesia yang suka umbar kasus cerai atau putus sama pacar ketimbang jajaran menterinya yang sering-sering diganti. Bikin penuh buku pelajaran saja, bikin susah hafal mata pelajaran buat bahan ujian saja. Kasihan anak sekolah jaman sekarang. Kalo tidak nonton televisi pasti susah naik kelas. Hahaha…

Tetapi karena jaman Bapak ini memerintah, saya akhirnya menemukan titik balik “Saya perlu belajar Politik, Praktis kalo perlu. Paling tidak saya mengerti dan bisa mengambil tindakan supaya orang-orang semacam Bapak ini TIDAK ADA LAGI atau kalopun masih ada masih sempat di karantina dan di rehabilitasi otak dan isi hatinya sehingga adik-adik saya, anak-anak dan cucu-cucu dari teman-teman maupun keluarga saya (karena saya gak niat nikah hahahah) tidak mengalami situasi politik se-na’as saya sekarang. Semoga!


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *