Rumah sakit jiwa

Aku merapatkan kakiku, membungkukkan badan lalu sedikit menekuk lutut dan kemudian meloncat. Aku luruskan tanganku, menyatu dan bahu seperti menutup kedua telingaku. Sekejap kemudian tanganku, kepalaku, badanku lalu kaki mulai masuk ke dalam air. Meloncat ke dalam air membutuhkan sedikit teknik agar ketika mulai mendarat di air, bukan dada yang pertama kali kena. Kuncinya adalah pastikan kedua tangan tetap lurus ke depan dan rapat ke kepala lalu bahu menutupi telinga.

Aku tidak sedang ingin bercerita tentang bagaimana caranya berenang atau bagaimana caranya meloncat ke dalam kolam renang. Aku ingin bercerita tentang rumah sakit jiwa.

Momen ketika tangan, kepala, badan lalu kaki hingga seluruh tubuh masuk air adalah seperti ketika kita membuka pintu lalu masuk ke dunia baru yang berbeda. Dunia yang tadi penuh hiruk pikuk dengan suara. Dunia yang penuh oksigen yang kita hirup bebas hingga kita lupa betapa pentingnya oksigen. Dunia penuh cahaya dimana mata melihat warna-warna indah. Lalu tiba di dunia yang mendadak hanya ada kesunyian, dunia dengan  oksigen masih terikat erat dengan atom hidrogen. Dunia yang terasa sepi. Semua berbeda.

Aku selalu takjub dengan momen itu. Aku merasa ketika di dalam air, dengan kondisi oksigen yang  sebatas paru-paru kita bisa menyimpannya, ketika indra pendengaran tertutup rapat hingga kesunyian lebih banyak yang terdengar, ketika mata terbatas melihat dan semua tampak kabur, aku merasakan aku melihat diriku sendiri dengan cara yang berbeda. Aku bertemu dengan diriku dengan jujur.

Usai takjub, aku mulai memikirkan semua hal yang menggangu dan mencoba menemukan solusinya. Aku mulai bicara dengan diri sendiriku yang jujur. Menyingkirkan lapis-lapis kesombongan, ego dan berdamai dengan aku. Singkat kata, dalam dunia bawah air dimana kita mengalami keterbatasan, aku malah lebih mudah berkontemplasi. Merenungi apa yang semua telah terjadi dan apa yang akan terjadi.

Mungkin ini terdengar lucu, tapi dunia bawah air seperti menjadi rumah sakit bagi jiwaku. Tempat dimana aku mengobati jiwa yang terkadang terluka dan sedih. Tempat dimana aku bisa sejenak beristirahat dan lupa tentang dunia atas yang terlalu ramai. Tempat jiwa bisa bersyukur dengan semua hal indah yang sudah diterima. Tempat dimana jiwa seperti menemukannya rumahnya untuk pulang.

Aku tak bilang bahwa semua orang akan mengalami pengalaman yang sama. Aku percaya semua orang harus punya rumah sakit jiwanya masing-masing, dimanapun itu letaknya. Bahkan di tempat-tempat yang paling absurd sekalipun. Jiwa kita butuh istirahat, butuh disembuhkan, butuh tenang dan kita juga butuh bicara dengan diri kita yang paling jujur.

Jadi kamu, dimana rumah sakit jiwamu?


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *