Riuh Guyub Malam Minggu Makassar

Malam minggu di Makassar mengenalkan ramahnya wajah kota yang identik dengan kekerasan ini.

Keriuhan Makassar itu bermula dari Pantai Losari. Dengan tulisan PANTAI LOSARI di tepi pantai, tempat ini menjadi salah satu land mark kota. Beda dengan Denpasar yang, bagiku, tak cukup mengenalkan land marknya, Makassar lebih gesit mengenalkan penanda kota ini.

Penanda ini serupa Menara Eifel di Paris. Patung Liberty di New Yor. Monas di Jakarta. Atau Menara Petronas di Kuala Lumpur. Tak sah mengunjungi kota tanpa berfoto di depannya.

Begitu pula di Makassar. Sepertinya belum sah ke Makassar tanpa berfoto-foto di Losari dan papan namanya itu.

Maka, Sabtu sore kemarin, tempat ini pun dipenuhi ribuan pengunjung. Anak-anak sampai orang tua renta terlihat bergembira di sini. Ada yang duduk-duduk, naik perahu bebek, atau cuma melihat orang jalan-jalan.

Sayangnya, keriuhan agak terganggu dengan banyaknya pengamen. Kalau satu dua sih tak apa. Itu wajar. Lha ini hampir di setiap pojokan ada pengamennya. Mereka juga agak maksa kalau nyanyi. Lha mosok orang cuma duduk-duduk aja didekati terus dimintai duit.

Makin petang, ketika matahari makin tenggelam dan terlihat dari sini, Losari makin riuh. Lalu, makin malam makin penuh tempat ini dengan mereka yang berjalan-jalan.

Sekitar pukul 9 malam, kami -aku dan Saylow, pasangan setia selama di Makassar kali ini. :D – melanjutkan perjalanan ke arah utara dari Losari Beach, hotel tempat kami menginap.

Kami ingin menikmati Port Rotterdam, bekas benteng di kawasan pantai juga. Aku pikir di sini sepi. Lha dalah! Ternyata dugaanku salah.

Ratusan, atau bahkan ribuan anak muda Makassar ternyata justru menjadikan tempat ini untuk nongkrong. Tempat nongkrong ini berada di seberang jalan benteng yang berusia lebih dari 200 tahun tersebut.

Tempat untuk nongkrong itu lebih mirip pasar malam. Ada puluhan warung di sana. Ratusan ABG itu duduk berkelompok mengelilingi meja-meja. Mereka duduk di kursi, tidak lesehan. Jelas terlihat mereka berpakaian rapi. Maksudku, ini jelas bukan tempat nongkrong yang dianggap kelas dua.

Tidak harus makan. Hampir semuanya cuma duduk dengan segelas minuman di meja. Asik ngobrol dengan temannya. Ada pula yang main kartu.

Mereka terlihat asik di tempat agak remang-remang dan becek itu. Ini benar-benar wajah lain dari Makassar yang tak pernah aku bayangkan. Anak-anak muda itu terlihat sangat guyub di satu tempat tersebut.

Iri benar aku melihat tak ada tempat semacam ini di Denpasar. Atau, aku saja yang memang tak gaul ya di kota sendiri? :(

Dari tempat ini, aku dan Saylow berjalan lagi menyusuri jalanan Makassar. Tidak ada tujuan khusus. Pokoknya jalan saja sembarang.

Di beberapa bagian jalan, kami bertemu dengan rombongan kelompok pengendara sepeda motor sedang kongkow. Agak deg-degan juga pas lewat. Aku bayangkan mereka akan seperti geng sepeda motor di Bandung yang suka tawuran itu. Ternyata tidak juga. Aman.

Begitu juga ketika kami melewati sekitar lima kelompok pemilik motor lainnya.

Bahkan, ketika ada kelompok pengendara lain sedang lewat, mereka ternyata saling sapa. Yang lagi nongkrong kemudian berdiri menunjukkan jempolnya. Sementara kelompok yang lewat membunyikan belnya.

“Ah, keren sekali,” pikirku. Meski mereka membawa motor dan, bahkan, bendera berbeda, mereka ternyata guyub dalam persaudaraan.

Ini benar-benar wajah Makassar yang berbeda. Jauh dari yang aku bayangkan. Menyejukkan. Amat menyenangkan. Jauh benar dari wajah kasar yang sering aku lihat di layar kaca.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *