Pengabdian Diri Perupa Bali pada Tradisi

Ngaben di Bali pun bisa menjadi perayaan agama dan tradisi. Foto Santana Ja Dewa.

Ngaben di Bali pun bisa menjadi perayaan agama dan tradisi. Foto Santana Ja Dewa.

Bali sangat kental dengan keberagaman seni maupun tradisi. 

Mendengar namanya saja sudah tebersit seni tradisi, budaya dan agama telah bersenggama di tengah-tengah masyarakatnya. Ngaben, upacara kematian pun bisa menjadi semacam perayaan petualangan.

Ngaben atau pelebon merupakan rangkaian upacara kremasi mayat atau petulangan menuju alam nirwana. Masyarakat menyambut dengan suka cita setiap penyelenggaraan. Tidak ada raut wajah kesedihan, guratan semangat, sumringah larut dalam suasana.

Peran perupa dalam hal ini sangat dibutuhkan. Peran mereka dinanti masyarakat yang menyelenggarakan. Bade dan lembu adalah media mereka mengeksploitasi berkesenian. Medium selama ini yang mereka lakukan seperti biasa bergutat dengan kanvas, goresan mengolah imajinasi semaunya.

Beda media tidaklah sulit. Pakem-pakem seni tradisi lebih menonjol. Bagi perupa inilah waktu mengabdikan diri sepenuhnya pada masyarakat serta lelehurnya, kepuasan batin harga mati.

Hidup bermasyarakat, di situ ranah perupa beradaptasi tidak mengurung diri dalam kesunyian. Membaur, bercengkrama adalah pelipur lara menjalani dinamika kehidupan semakin abstrak.

Dengan begitu kepekaan dalam diri perupa teruji, tidak sebatas ruang lingkup komunitas perupa. Menerapkan seni mengajak masyarakat kembali mencintai seni tradisi yang sudah menjadi warisan leluhur.

Sebagai perupa putra daerah, beberapa perupa pun terpanggil dalam lubuk seni. Di antaranya Dewa Merta Nusa, Dewa Gede Mujana, Dewa Ketut Yojana Mancring serta perupa muda lainnya. Sebanyak sembilan perupa ikut terlibat sebuah garapan seni tradisi.

Komitmen, satu visi membangkitkan lagi seni tradisi yang terpenting bertarung melawan pengaruh globalisasi secara bersama-sama mendepankan kearifan lokal setempat. Memperdayakan olah pikir sepertinya pemeran bersama dengan satu medium dikerjakan riang gembira.

Obrolan pun seputar seni tradisi lengkap dengan seni tiga dimensi seperti patung karang gajah, karang bucu serta instalasi seni tradisi.

Adat, seni dan budaya memang harus seimbang dan berjalan berkesinambungan. Antara satu dan yang lain terjadi link and match. Jangan sampai terputus di persimpangan jalan.

Perlu digarisbawahi salah satu upaya untuk mewujudkannya kita harus berani memberi kepercayaan terhadap generasi muda mengembangkan serta menginplementasi dan eksploitasi ranah seni tradisi yang sulit dipisahkan dengan agama ibarat sayur dengan garam. Saling melengkapi sulit terpisah karena telah terjadi senggama.

Generasi muda harus mampu melaksanakan adat, seni dan budaya tersebut, sebagai alih generasi mampu dan bisa mewujudkan Bali yang santih dan Jagadita selamanya dengan mengedepankan konsep Tri Hita Karana, tiga komponen yang memberikan Kebahagiaan yaitu parahyangan, pawongan serta Palemahan.

Ketiga komponen tersebut harus disinergikan dan diharmoniskan sehingga pada akhirnya semua akan bisa merasakan kesempurnaan. Dalam upacara ngaben pun tidak bisa terlepas dari tatanan konsep tersebut karena sebagai pawongan di saat upacara ngaben tidak bisa terlepas dari palemahan, tempat melaksanakan upacara ngaben setra/tunon juga ada dalam lingkup palemahan.

Sebagai pawongan di saat ngaben pasti ngerastiti bakti terhadap leluhur. Dalam alih generasi para sesepuh tentunya kalangan perupa tentu tidak melepas begitu saja, tetap memberi perhatian dan dorongan moral terhadap perupa muda agar mereka siap melaksanakan mengabdikan diri pada masyarakat serta tanah kelahiran. [b]

The post Pengabdian Diri Perupa Bali pada Tradisi appeared first on BaleBengong.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *