Merekam Keriuhan dan Kepiluan Tajen

Teriakan bersahutan dan sorakan itu terdengar hingga ruang tamu.

Setelah aku keluar, ternyata puluhan laki-laki itu sedang main sabung ayam (tajen). Mereka saling bersorak memberikan dukungan pada ayam pilihan yang sedang bertarung sore itu.

Biasanya, tajen digelar di kalangan, tempat pertarungan serupa gelanggang tinju. Tapi, kali ini tak ada kalangan. Mereka hanya main di pertigaan gang, persis samping rumah mertua. Mau tak mau, aku turut serta dalam keriuhan itu untuk sekadar merasakan suasana.

Ini kali pertama aku berada di tengan para bebotoh, orang-orang penggemar tajen. Hampir 15 tahun tinggal di Bali, aku belum pernah sama sekali melihat langsung apalagi ikut tajen.

Maka, tak apalah. Ikut saja. Sayangnya sih aku tak bawa kamera kesayangan, EOS 50D. Maka, Android Galaxy S pun jadi alat percobaan. Jepret sana sini di antara beberapa mata yang agak sinis karena aku foto. Malah ada yang berseru, “Awas nanti wartawannya lapor polisi.”

Dengan kemampuan kamera Android yang terbatas, misalnya lambatnya kemampuan untuk menangkap momen dan rendahnya resolusi, aku harus main di sudut pandang. Dan, inilah hasilnya percobaan tersebut setelah diolah dulu dengan GIMP Image Editor Ubuntu.

Tajen dimulai dengan saling mengenalkan dua ayam jago. Jika keduanya saling menyerang, maka tajen akan dilanjutkan.

 

Para petaruh akan memilih ayam mana jagoannya. Jika pilihannya menang, dia juga menang.

Taji, pisau kecil, merupakan senjata pembunuh yang dipasang di kaki ayam yang diadu.

Setelah memilih, para penggemar tajen akan membayar sesuai tarif yang ditentukan.

Ayam terlebih dulu diberi persiapan. Begitu saling menyerang, ayam akan dilepaskan. Pertarungan pun mulai.

Begitu ayam dilepas dan bertarung, lingkaran pun segera terbuat. Mereka saling bersorak memberikan semangat.

Dalam waktu tak sampai lima menit, salah satu ayam langsung kena taji, sempoyongan, lalu… mati. Mengenaskan.

Usai pertarungan, yang tersisa hanya darah. Ayam yang mati akan dipotong untuk kemudian disajikan di meja makan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *