Menjajal Liburan di Negara Kota Serba Mahal

Aaaah, lega rasanya sungguh tiada tara.

Rabu sekitar pukul 9 malam, pesawat KLM yang kami tumpangi mendarat di Bali. Dua setengah jam sebelumnya, kami deg-degan dalam ketidakpastian.

Ketika melapor (check in) di konter KLM di Bandara Changi, kami mendapat kabar tak enak, penerbangan ke Bali dibatalkan. “Definitely no flight to Bali today,” kata petugas di bagian pelaporan.

Modyar!

Kami tak menyangka sama sekali. Kirain penerbangan ke Bali tidak ada kendala, apalagi sampai dibatalkan. Selama di Bengkalis dan Singapura, kami tidak terlalu mengikuti berita tentang Gunung Raung yang sedang meletus. Maka, kami tidak tahu apakah sudah kalem atau kembali meraung dan membuat bandara-bandara sekitarnya ditutup.

Eh, ternyata kami kemudian kena juga. Bandara Ngurah Rai ditutup. Kami pun pasrah untuk tetap di Singapura sambil menunggu bandara di Bali kembali dibuka entah kapan.

Satu jam kemudian, kami kembali ke konter pelaporan sebagaimana disarankan petugas KLM. Taraaaaaaa! Ada kabar Bandara Ngurah Rai kembali dibuka. Kami pun bisa check in meskipun dengan catatan dari petugas, “Bisa saja penerbangan kembali dibatalkan karena kondisi di tujuan. Jika itu terjadi, kami juga tidak menanggung biaya penginapan.”

Yowis. Pasrah lagi saja. Check in. Menunggu penerbangan yang diundur hampir dua jam di bandara dengan perasaan galau takut tiba-tiba gagal terbang lagi.

Selebihnya, semua berjalan lancar. Setelah dua setengah jam penerbangan diiringi jantung dag dig dug takut balik atau dialihkan ke tempat lain, kami pun mendarat di Bali. Di rumah.

Tinggal sekarang mengenang perjalanan tiga hari selama di negara jiran tersebut. Inilah cerita kami.

 Perjalanan kami ke Singapura agak meleset dari rencana. Semula kami berniat masuk Singapura lewat Malaka, Malaysia. Apa daya tiket kapal cepat dari Bengkalis ke Malaka sudah habis. Maka, kami pun mengubah rencana. Langsung dari Bengkalis ke Singapura.

Perjalanan dari Bengkalis ke Singapura dengan kapal cepat via Tanjung Balai Karimun. Tiket kapal dari Bengkalis ke Tanjung Balai seharga Rp 260.000 per orang. Lama perjalanan sekitar 4 jam.

Di Tanjung Balai kami berganti kapal. Tiket per orang Rp 450.000. Lama perjalanan sekitar dua jam, membelah Selat Malaka.

Beda jalur kapal, beda pula kenyamanan dan pengalamannya. Menurutku sih perjalanan Bengkalis ke Tanjung Balai lebih nyaman meskipun lebih lama. Mungkin karena jalur yang dilalui hanya selat kecil seperti sungai. Jadi ombaknya tak terasa. Kapal pun relatif tenang.

Adapun perjalanan ke Singapura dari Tanjung Balai terasa lebih keras goyangannya. Sangat mungkin karena kami memang membelah selat besar dengan ombak dan sesekali gelombang yang lebih tinggi dan kencang.

Namun, di kedua jalur tersebut, ada hiburan film sepanjang perjalanan. Jadi tak terlalu membosankan.

Di jalur Selat Malaka bahkan ada bonus. Kapal-kapal besar lalu lalang di jalur ini. Selat Malaka memang salah satu jalur tersibuk dan berbahaya di pelayaran dunia. 

Kapal-kapal besar seperti tanker atau pengangkut kotak-kotak besar itu makin banyak ketika kami makin dekat pelabuhan Singapura. Makin dekat, makin terlihat pula gedung-gedung tinggi menjulang di negara kota ini. 

Mendung pekat diiringi gerimis memyambut ketika kami tiba di Negeri Singa. Sudah terlalu sore pula. Maka, cukuplah kami istirahat malam itu.

Cerita perjalanannya dilanjutkan besok saja.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *