Mengenal Mahendradatta, Permaisuri Raja Udayana

Lukisan Pelataran Dalam Pura Pengukur karya Jro Mangku Jiwatman

Pernah mendengar nama Gunapriya Dharmmapatni? 

Jika terdengar asing, maka nama lainnya, Mahendradatta pasti lebih akrab di telinga. Nama permaisuri Raja Udayana itu menjadi nama salah satu jalan di Denpasar. Nama itu menjadi nama salah satu universitas swasta di Bali juga.

Bentara Budaya Bali (BBB) bekerja sama dengan Balai Arkeologi Bali menghadirkan pameran yang merujuk pada sosok Gunapriya Dharmmapatni. Pembukaan berlangsung Jumat ini di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No88A, Ketewel, Gianyar.

Pameran bertajuk “Mahendradatta: Jejak Arkeologis dan Sosok Historis” ini memamerkan sejumlah tinggalan arkeologi dari masa kerajaan Bali Kuno. Tinggalan-tinggalan itu banyak ditemukan di daerah dataran tinggi, sepanjang daerah aliran sungai Pakerisan dan Petanu, seputar Tampaksiring, Pejeng, Baduhulu, bahkan hingga Kintamani.

Dalam kegiatan ini kita bisa mengenal sejarah Gunapriya Dharmmapatni permaisuri Raja Udayana.

Selain menampilkan aneka tinggalan arkeologis berupa replika maupun foto serta benda-benda asli seputar prasasti, sarkopagus, arca, inskripsi, pameran yang berlangsung hingga 7 Mei 2016 ini juga direspon oleh tiga fotografer terpilih dan para perupa dari Komunitas Perupa Tampaksiring “Amarawati Art Community”.

Menurut Kepala Arkeologi Bali, Drs. I Gusti Made Suarbhawa, Mahendradatta, memiliki relasi penting dalam sejarah Bali dan Jawa Timur karena melalui perkawinannya dengan Raja Udayana, hubungan Bali dan Jawa Timur semakin erat. “Indikasinya dapat dilihat dari salah satu putranya yakni Airlangga yang memerintah di Jawa Timur dan Marakata dan Anak Wungsu yang memerintah di Bali,“ ungkapnya.

Pada beberapa prasasti, nama Gunapriya Dharmmapatni kerap disebut lebih dulu sebelum suaminya, Raja Udayana. Hal ini mencerminkan kedudukan terhormat Mahendradatta, keturunan wangsa yang kala itu berkuasa, yaitu Wangsa Isyana, yang pendahulunya adalah Mpu Sindok atau Maharaja Isyana.

Sosok Gunapriya Dharmmapatni banyak disebutkan pada prasasti Bali, antara lain prasasti Serahi tahun 993 M dan prasasti Buahan tahun 994 M, serta prasasti Pucangan tahun 1041. Sementara sosok Mahendradatta mengemuka dalam lontar, antara lain lontar Mpu Kuturan.

Tiga fotografer yang terlibat, Ida Bagus Darmasuta, Agus Wiryadhi Saidi dan Phalayasa, akan menampilkan foto-foto terpilih yang merangkum sosok perempuan dalam tinggalan historis dan arkeologis, serta figur-figur masa kini cerminan dinamika perubahan yang terjadi.

Sementara 25 seniman dari Komunitas Perupa Tampaksiring akan memamerkan sket-sket hasil berkarya on the spot di situs-situs sejarah tersebut. Mereka antara lain: I Made Suwisma, Jro Mangku Nyoman Sutrisna , I Wayan Gede Suwahyu, Jro Jiwatman, I Made Bayak Muliana, I Putu Edy Asmara Putra, I Made Sudarsa, Ngakan Ketut Parweka, Ida Bagus Sudana Astika, Ida Bagus Asmara Wirata(Gus Chenk), Ida Bagus Dewangkara(Gus Apeng), I Nyoman Suarnata (war), I Made Renaba, Pande Wayan Suputra, I Made Kartiyoga, I Wayan Arinata, Dewa Gede Suputra, I Made Adi Putra Sentana, Ngakan Putu Agus Artha Wijaya, I Wayan Gede Kesuma Dana, I Made Ardiana, Ni Komang Atmi Kristia Dewi, Ni Komang Kartika Tri Dewi, Damar Langit Timur, I Nyoman Kandika.

Susanta Dwitanaya, mewakili perupa Tampaksiring mengatakan, sebagai respon dari tematik pameran Mehendradatta ini meraka mengadakan proses berkarya on the spot, berupa sketsa, drawing, water colour painting, di situs-situs kawasan DAS Pakerisan, seperti Tirta Empul, Mangening, Gunung Kawi, yang diyakini merupakan peninggalan arkeologis dari dinasti Warmmadewa maupun Raja Udayana dan keturunannya, termasuk sosok Gunapriya Dharmmapatni atau Mahendradatta yang merupakan istri Raja Udayana.

Banyak tinggalan arkeologi di wilayah tersebut, mencerminkan kepercayaan masyarakat Bali yang menganut agama Hindu, pada beberapa teks lontar sering disebut sebagai Agama Tirtha, dimana air merupakan unsur penting dalam setiap ritual keagamaan. Sejumlah candi yang terdapat di sana, semisal: Candi Gunung Kawi, Candi Kerobokan, Candi Kelebutan, dan Candi Jukut Paku.

“Metode eksekusi visual yang dipilihpun beragam, mulai dari teknik dan medium yang dipakai hingga pendekatan genre kekaryaan masing-masing, misalnya pendekatan realistik dengan menghadirkan refleksi kebentukan dari objek -objek yang ada di situs-situs tersebut, stilirisasi hingga karya yang interpretatif.

Maka, situs-situs tersebut bukan lagi hadir secara realistik namun deformatif, dekoratif, bahkan imajinatif sesuai dengan karakteristik visual masing – masing” ungkap Susanta.

Sedangkan bagi Ida Bagus Darmasuta, pameran ini merupakan sebuah tantangan tersendiri. “Pameran yang melibatkan para arkeolog, perupa, dan fotografer ini tentu akan memberi ruang bagi ketiganya untuk “mengungkapkan” Mahendradatta dari sudut pandang masing-masing “ tuturnya.

Lebih lanjut ia menyebutkan, bersama dua fotografer lain, mereka telah melakukan hunting foto ke berbagai situs peninggalan kerajaan Bali Kuna yang ada di sepanjang DAS Pakerisan. “Interpretasi kami terhadap tinggalan historis-arkeologis kerajaan Bali Kuna, Mahendradatta, Udayana, dan situs DAS Pakerisan, melahirkan kesepakatan kami untuk setidaknya menghadirkan tiga hal, yaitu, situs, perempuan, dan air yang terangkum dalam frame foto,” sebutnya.

Eksibisi kali ini juga merupakan kelanjutan dari peristiwa serupa tahun lalu, yakni Pameran Arkeologi Situs Tambora – kerjasama Bentara Budaya dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, di Bentara Budaya Jakarta dan Bentara Budaya Bali.

Kegiatan ini selaras upaya penyebarluasan hasil penelitian dan kajian, utamanya Balai Arkeologi Denpasar sebagai transfer of knowledge, khususnya untuk generasi muda. Akan ada pula diskusi dan pemutaran film dokumenter. [b]

The post Mengenal Mahendradatta, Permaisuri Raja Udayana appeared first on BaleBengong.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *