Mencapai Maratua

Maratua. Sudah kudengar nama pulau ini sejak buku besutan Ahmad Yunus dan Farid Gaban berjudul Meraba Indonesia muncul. Dengan rakus aku membeli dan membacanya. Dengan rakus pula aku melahap gambar dan visual yang mereka sisipkan dalam buku itu. Aku mereguk mimpi-mimpi petualangan menyusuri Indonesia. Aku menyesap asinnya laut, putihnya pasir pantai, kenyal ikan tangkapan Nelayan, dan berbagai gerak gelisah yang mereka curahkan…. (eh, meskipun dalam buku itu sendiri Maratua malah tidak dijelaskan, yang mereka singgung hanya Kakaban dengan ubur-ubur tanpa sengatnya).

Dan aku akan tinggal di pulau itu selama delapan bulan.

Menerima kenyataan yang indah ini, aku berusaha mencari lebih banyak lagi informasi tentang Maratua selain yang kudapatkan di buku. Menelusuri Maratua mulai dari pasir pantainya, kehidupan masyarakatnya, ikan-ikannya yang setia menemani para turis berenang-renang lucu di permukaan, serta bening dan kecenya badan abang-abang hidung mancung yang lagi berjemur. Tapi di luar itu semua, aku akan hidup dengan satu orang laut lagi, yaitu masyarakat Bajau.

Senja di Maratua

Tahun lalu aku hidup di tengah masyarakat Mandar yang berada di perbukitan. Meski utama mereka adalah berkebun Coklat dan Cengkeh, tak dapat dipungkiri bahwa darah lautan ada dalam diri mereka. Mencapai Mandar biasa melewati Ujung Pandang, sehingga interaksiku dengan kawan-kawan Bugis dan Makassar tak dapat dihindari pula. Aku merasa beruntung karena bisa mengenal secuil hidup masyarakat laut beberapa tahun terakhir.

Nah kembali lagi ke Pulau Maratua, pulau yang terletak di daerah Berau, Kalimantan Timur ini sedang hangat-hangatnya dengan geliat pariwisata yang merambahi seantero pulau. Turis asing dan lokal memenuhi pulau saat libur akhir minggu tiba. Aku jelas bukan turis, karena aku bekerja. Karena itu aku ingin berbagi sedikit cara untuk mencapai Maratua.

Mencapai Maratua gampang-gampang susah, karena tidak ada angkutan reguler yang kesana. Ada dua alternatif pilihan mencapai pulau, keduanya harus mengarungi lautan (sudah jelas), yang berbeda adalah lokasi berangkatnya. Biasanya aku akan langsung berangkat dari Tanjung Redeb, dari bandara langsung ke dermaga mengambil speedboat yang akan berangkat ke Maratua. Tidak ada speedboat reguler yang berangkat, sehingga kalau beruntung, saat tiba di Berau, ada warga yang kebetulan sedang ke kabupaten, kita bisa ikut speedboatnya. Harga berkisar antara 250-500 ribu. Namun, kalau sedang tidak beruntung, kita harus merogoh kantong (agak dalam) untuk menginap dan makan di kabupaten menunggu speedboat warga yang akan berangkat. Kadang fase menunggu ini sedemikian lamanya tergantung cuaca, dan jadwal masyarakat. Namun bila agenda ke Maratua adalah untuk berlibur dan ramai-ramai, pilihan paling logis adalah menyewa sebuah speedboat dimana kita akan diantar ke Maratua bolak-balik serta menikmati pulau-pulau di sekitar Maratua. Untuk menyewa sebuah speedboat dari Tanjung Redeb, kita harus menyiapkan kurang lebih delapan juta rupiah. Perjalanan dengan speedboat dari Tanjung Redeb akan menghabiskan tiga jam di laut dan sungai.

Lokasi kedua adalah ke pelabuhan Tanjung Batu, dimana dari bandara kita langsung menyewa mobil untuk berangkat ke TKP. Menyewa mobil akan menghabiskan 650 ribu rupiah sampai di lokasi. Atau bila kita backpacker yang pura-pura atau memang bermodal pas-pasan, kita bisa mengambil angkutan mobil ke Tanjung Batu di pagi atau siang hari yang harganya hanya 100 ribu per kepala. Angkutan ini regular pergi ke Tanjung Batu dan dapat ditemui di sekitar tepian sungai Segah. Perjalanan ke Tanjung Batu lewat darat akan berlangsung selama tiga jam. Sepanjang jalan mata kita akan ditusuk-tusuk dengan pemandangan bopeng-bopeng hutan yang dibakar demi menanam Sawit atau pembukaan lahan tambang. Sampai di Tanjung Batu, kembali mengambil speedboat dengan harga yang relatif lebih murah daripada di Tanjung Redeb. Namun kembali, tidak ada speedboat reguler yang berangkat, sehingga pilihan paling logis adalah menyewa speedboat yang secara khusus mengantar kita pulang pergi Maratua, biayanya sekitar empat juta rupiah di luar berkeliling pulau, khusus menyebrang saja. Perjalanan laut dari Tanjung Batu hanya satu setengah jam.

Perjalanan akan berakhir atau dimulai kembali sesampainya kita di pulau Maratua. Kita akan merapat di dermaga kampung Bohe Bukut atau Teluk Harapan, dimana kalian tak perlu khawatir dengan homestay, penginapan, atau makanan, bahkan sinyal. Tentang pulau Maratua akan kutuliskan di postingan berikutnya.

Secara pribadi aku lebih suka mengambil speedboat dari Tanjung Redeb. Selain lebih cepat, hanya tiga jam perjalanan, kita bisa menyaksikan Sungai Segah, yang, lagi-lagi kalau beruntung kita bisa melihat Buaya di tepian dekat muara. Bayangkan betapa nikmatnya sang buaya menghabiskan waktu seharian membuka mulutnya leyeh-leyeh namun tetap mengukuhkan pesona buasnya dengan santai.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *