Melali ke Dusun Tikar Pandan dan Keseruannya





Melali ke Desa Ngis! Saya perlu beri tanda seru karena saking antusiasnya saat melali ini direncanakan.

Kami, peserta melali yang sudah daftar membuat janji titik kumpul di Kertalangu. Ini searah ke bypass menuju Karangasem. Namanya janji, ada yang menepati dan ada yang telat. Untungnya telat tak sampai 30 menit. Kalau lebih dari itu, ditinggal lah yaw.

Semuanya naik motor. Biar hemat BBM, ada yang nebeng sekaligus biar ada temen perjalanan. Kan seru. Siapa tahu teman baru jadi bestie.

Selama perjalanan di bypass, kami berhenti melihat mega proyek pembangunan Pusat Kebudayaan Bali baru di bekas galian C Gunaksa, Klungkung. Ini areal rawan bencana karena jadi jalur lahar dingin erupsi Gunung Agung. Berita terakhir di web ini adalah penelusuran tanah urugan dari bebukitan sekitar untuk proyek ini.

Gak usah lama, cukup 5 menit, karena harus sudah sampai di Ngis jam 10 pagi. Kami juga melewati Pura Goa Lawah yang sedang sangat ramai, sedang musim ngaben massal. Ini pura yang kerap jadi semacam rest area sekaligus sembahyang di luar pura bagi pengendara yang lewat. Habis diperciki tirta, rasanya segar dan siap melanjutkan perjalanan.

Di dekat Pura Goa Lawah juga ada sentra pembuatan garam laut tradisional, salah satu petani pemasok BaleLaku, jaringan melali ini lho. Ini link videonya

Kalau punya banyak waktu, musti banget mampir ke dapur pembuatan garam laut ini ya. Kamu bisa beli garam juga, dan foto-foto indah di pantai, atau pose beraksi jadi petani garamnya. Bagus seh, karena alat-alatnya masih tradisional. Ehem…

Yuk lanjut tancap gas, sebentar lagi sampai. Sekitar 20 menit lagi. Dusun Pekarangan, Desa Ngis sebelum objek wisata Candidasa. Akan ada sebuah pertigaan setelah Dusun Buitan. Belok kiri, lalu masuk Desa Ngis. Lanjut terus ke arah utara, sekitar 5 menit sampai deh di Balai Banjar Pekarangan.

Nah di sini sudah ada pemandu lokal memandu tur setengah hari ini. Namanya Wawan, alumni Kelas Jurnalisme Warga (KJW) Desa Ngis. Wawan pekerja koperasi di kampung, dan dia sudah menyiapkan rute-rute seru.

Salah satunya ke pengerajin tikar pandan. Karena dusun ini terkenal sebagai sentra tikar pandan. Wahhh, padahal tikar plastik merajalela, kok mereka masih rajin buat ya?

Salah satu pengerajin dari 90% warga (menurut pengakuan Kelian/Kepala Banjar Adat) yang membuat tikar di rumah-rumahnya ini adalah Ni Wayan Walastri. Karena rumah dan kebunnya satu rute menuju Bukit Bayem, tempat makan siang melali ini.

Eh, syukurlah Walastri sangat ramah, suaminya petani peneres nira jadi tuak. Jadilah kita dapat tuak segar gratis. Suaminya, Sumerta, juga bisa menganyam tikar pandan. Kami juga disambut tiga sapi moo depan rumahnya yang sangat sederhana.

Dengan cekatan, Walastri mencontohkan cara panen daun pandan berduri yang ditanam di pinggir-pinggir jurang bukit ini. Karena dia bisa jaga tanah, akarnya tunggang dan kuat.

Kami haha hihi saat mencoba panen sendiri, saking serunya. Apalagi saat belajar membersihkan duri dengan pisau dan menggulungnya.

Jadi, singkatnya tahapan membuat selembar tikar pandan itu ternyata cukup panjang, memerlukan ketelatenan.

Proses membuat:
Mencari pandan— menghilangkan duri samping dan belakang —ngelulun (digulung)—dijemur (20-30 hari) bolak balik—direndam (1 jam)—dikeringkan—ngeretang (mengeratkan berbentuk lingkaran—ngulat (menganyam).

Beberapa hal menarik dari ekosistem tikar pandan ini di Pekarangan adalah:
– Barter tikar dengan sembako di warung-warung kampung
– Tanaman pandan berduri yang dipakai jenis aon, durinya dibilang lebih kuat dibanding pandan yang dipakai mekare-kare (perang pandan di Tenganan)
– Kalau malas mempersiapkan bahan baku, ada warga spesialis panen daun saja, dan spesialis menjual bahan baku siap dianyam. Bisa dipilih. Kalau Walastri melakukan semua dari nol.
– Tikar diambil pengepul dan dijual ke pasar-pasar desa, saat musim upacara agama permintaan tinggi.

Akhir acara, kami foto-foto dengan suvenir tikar mini dari Walastri. Bisa dipakai alas makan atau alas duduk.

The post Melali ke Dusun Tikar Pandan dan Keseruannya appeared first on BaleBengong.id.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *